You are on page 1of 16

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN GOUT

Konsep Dasar Lansia


Pengertian Lansia
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap ahir perkembangan pada daur kehidupan manusia ( Budi
Anna Keliat,1999). Sedangkan menurut pasal 1 ayat (2), (3),(4) No. 13 Tahun 1998 tentang
Kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60
tahun.
Klasifikasi Lansia
1. Pralansia
Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
2. Lansia
Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
3. Lansia resiko tinggi
Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih / seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan
masalah kesehatan ( Depkes RI, 2003)
4. Lansia potensial
Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan kegiatan yang dapat menghasilkan barang /
jasa ( Depkes RI, 2003)
5. Lansia tidak potensial
Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah,sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang
lain ( Depkes RI,2003)
Karakteristik Lansia
Menurut Anna Budi Keliat (1999), lansia memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Berusia lebih dari 60 tahun ( sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UU No.13 tentang kesehatan)
2. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuhan
biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi maladaptif.
3. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GOUT
A. Pengertian
Artritis pirai (Gout) adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal asam urat
pada jaringan sekitar sendi. gout terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang berlangsung
lama (asam urat serum meningkat) disebabkn karena penumpukan purin atau ekresi asam urat
yang kurang dari ginjal.
Artritis gout adalah suatu sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus,yaitu artritis akut.
Artritis akut disebabkan karena reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal
monosodium urat monohidrat.
B. Etiologi GOUT

Gejala artritis akut disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal
monosodium urat monohidrat. Karena itu,dilihat dari penyebabnya penyakit ini termasuk dalam
golongan kelainan metabolik. Kelainan ini berhubungan dengan gangguan kinetik asam urat
yang hiperurisemia. Hiperurisemia pada penyakit ini terjadi karena:
1. Pembentukan asam urat yang berlebih.
a. Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang bertambah.
b. Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebih karana penyakit lain,
seperti leukemia,terutama bila diobati dengan sitostatika,psoriasis,polisitemia vera dan
mielofibrosis.
2. Kurang asam urat melalui ginjal.
a. Gout primer renal terjadi karena ekskresi asam urat di tubuli distal ginjal yang sehat.
Penyabab tidak diketahui
b. Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal, misalnya glumeronefritis
kronik atau gagal ginjal kronik..
3. Perombakan dalam usus yang berkurang. Namun secara klinis hal ini tidak penting.
C. Patofisiologi
Banyak faktor yng berperan dalam mekanisme serangan gout. Salah satunya yang telah diketahui
peranannya adalah kosentrasi asam urat dalam darah. Mekanisme serangan gout akut
berlangsung melalui beberapa fase secara berurutan.
1. Presipitasi kristal monosodium urat.
Presipitasi monosodium urat dapat terjadi di jaringan bila kosentrasi dalam plasma lebih dari 9
mg/dl. Presipitasi ini terjadi di rawan, sonovium, jaringan para- artikuler misalnya bursa, tendon,
dan selaputnya. Kristal urat yang bermuatan negatif akan dibungkus (coate) oleh berbagai
macam protein. Pembungkusan dengan IgG akan merangsang netrofil untuk berespon terhadap
pembentukan kristal.
2. Respon leukosit polimorfonukuler (PMN)
Pembentukan kristal menghasilkan faktor kemotaksis yang menimbulkan respon leukosit PMN
dan selanjutnya akan terjadi fagositosis kristal oleh leukosit.
3. Fagositosis
Kristal difagositosis olah leukosit membentuk fagolisosom dan akhirnya membram vakuala
disekeliling kristal bersatu dan membram leukositik lisosom.
4. Kerusakan lisosom
Terjadi kerusakn lisosom, sesudah selaput protein dirusak, terjadi ikatan hidrogen antara
permukan kristal membram lisosom, peristiwa ini menyebabkan robekan membram dan
pelepasan enzim-enzim dan oksidase radikal kedalam sitoplasma.
5. Kerusakan sel

Setelah terjadi kerusakan sel, enzim-enzim lisosom dilepaskan kedalam cairan sinovial, yang
menyebabkan kenaikan intensitas inflamasi dan kerusakan jaringan.
D. Manifestasi Klinis
Secara klinis ditandai dengan adnya artritis,tofi dan batu ginjal. Yang penting diketahui bahwa
asm urat sendiri tidak akan mengakibatkan apa-apa. Yang menimbulkan rasa sakit adalah
terbentuk dan mengendapnya kristal monosodium urat. Pengendapannya dipengaruhi oleh suhu
dan tekanan. Oleh sebab itu, sering terbentuk tofi pada daerah-daerah telinga,siku,lutut,dorsum
pedis,dekat tendo Achilles pada metatarsofalangeal digiti 1 dan sebagainya.
Pada telinga misalnya karena permukaannya yang lebar dan tipis serta mudah tertiup
angin,kristal-kristal tersebut mudah mengendap dan menjadi tofi. Demikian pula di dorsum
pedis,kalkaneus karena sering tertekan oleh sepatu. Tofi itu sendiri terdiri dari kristal-kristal urat
yang dikelilingi oleh benda-benda asing yang meradang termasuk sel-sel raksasa.
Serangan sering kali terjadi pada malam hari. Biasanya sehari sebelumnya pasien tampak segar
bugar tanpa keluhan. Tiba-tiba tengah malam terbangun oleh rasa sakit yang hebat sekali.
Daerah khas yang sering mendapat serangan adalah pangkal ibu jari sebelah dalam,disebut
podagra. Bagian ini tampak membengkak, kemerahan dan nyeri ,nyeri sekali bila sentuh. Rasa
nyeri berlangsung beberapa hari sampai satu minggu,lalu menghilang. Sedangkan tofi itu sendiri
tidak sakit,tapi dapat merusak tulang. Sendi lutut juga merupakan tempat predileksi kedua untuk
serangan ini.
Tofi merupakan penimbunan asm urat yang dikelilingi reaksi radang pada sinovia,tulang
rawan,bursa dan jaringan lunak. Sering timbul ditulang rawan telinga sebagai benjolan keras.
Tofi ini merupakan manifestasi lanjut dari gout yang timbul 5-10 tahun setelah serangan artritis
akut pertama.
Pada ginjal akan timbul sebagai berikut:
1. Mikrotrofi dapat terjadi di tubuli ginjal dan menimbulkan nefrosis
2. Nefrolitiasis karena endapan asam urat
3. Pielonefritis kronis
4. Tanda-tanda aterosklerosis dan hipertensi
Tidak jarang ditemukan pasien dengan kadar asam urat tinggi dalam darah tanpa adanya riwayat
gout yang disebut hiperurisemia asimtomatik. Pasien demikian sebaiknya dianjurkan mengurangi
kadar asam uratnya karena menjadi faktor resiko dikemudian hari dan kemungkinan
terbentuknya batu urat diginjal.
E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan serangan akut
Obat yang diberikan pada serangan akut antara lain:
1. Kolkisin, merupakan obat pilihan utama dalam pengobatan serangan arthritis gout maupun
pencegahannya dengan dosis lebih rendah. Efek samping yang sering ditemui diantaranya sakit
perut , diare, mual atau muntah-muntah. Kolkisin bekerja pada peradangan terhadap Kristal urat
dengan menghambat kemotaksis sel radang. Dosis oral 0,5 0,6 mg per jam sampai nyeri, mual
atau diare hilang. Kontraindikasi pemberian oral jika terdapat inflamammatory bowel disease.
2. OAINS

Semua jenis OAINS dapat diberikan yang paling sering digunakan adalah indometasin. Dosisi
awal indometasin 25-50 mg setiap 8 jam. Kontraindikasinya jika terdapat ulkus peptikus aktif,
gangguan fungsi ginjal, dan riwayat alergi terhadap OAINS.
3. Kortikosteroid
untuk pasien yang tidak dapat memakai OAINS oral, jika sendi yang terserang
monoartikular, pemberian intraartikular sangat efektif, contohnya triamsinolon 10-40
mg
intraartikular.
4. Analgesic diberikan bila rasa nyeri sangat berat. Jangan diberikan aspirin karena dalam dosis
rendah akan menghambat ekskresi asam urat dari ginjal dan memperberat hiperurisemia.
5. Tirah baring merupakan suatu keharusan dan diteruskan sampai 24 jam setelah serangan
menghilang.
B. Penatalaksanaan periode antara
1. Diet dianjurkan menurunkan berat badan pada pasien yang gemuk, serta diet rendah purin.
2. Hindari obat-obatan yang mengakibatkan hiperurisemia, seperti tiazid, deuretik, aspirin, dan
asam nikotinat yang menghambat ekskresi asam urat dari ginjal.
3. Kolkisin secara teratur
4. Penurunan kadar asam urat serum
a. Obat urikosurik, bekerja menghambat reabsorbsi tubulus terhadap asam urat yang telah difiltrasi
dan mengurangi peyimpanannya
b. Inhibitor xantin oksidase atau alopurinol, bekerja menurunkan produksi asam urat
dan meningkatkan pembentukan xantin serta hipoxantin dengan cara menghambat
enzim xantin oksidase.
E. Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah ( > 6mg%).
Kadar asam urat normal dalam serum pada pria 8mg% dan pada wanita 7mg%. pemeriksaan
kadar asam urat ini akan lebih tepatlagi bila dilakukan dengan cara enzimatik. Kadang-kadang
didapatkan leukositosis ringan dengan led meninggi sedikit. Kadar asam urat dalam urin juga
sering tinggi (500 mg%/liter per 24 jam).
Disamping ini pemeriksaan tersebut,pemeriksaan cairan tofi juga penting untuk menegakkan
diagnosis. Cairan tofi adalah cairan berwarna putih seperti susu dan kental sekali sehingga sukar
diaspirasi. Diagnosis dapat dipastikan bila ditemukan gambarankristal asam urat ( berbentuk lidi)
pada sediaan mikroskopik.
Kriteria diagnostik Artritis Gout ( ARA 1977)
A. Kristal urat dalam cairan sendi
B. Tofus yang mengandung kristal urat
C. Enam dari kriteria dibawah ini:
1. Lebih dari satu kali serangan ertritis akut
2. Inflamasi maksimal pada hari pertama
3. Artritis monoartikular
4. Kemerahan sekitar sendi

5. Nyeri atau bengkak sendi metatarsofalangeal 1


6. Serangan unilateral pada sendi metatarsofalangeal 1
7. Serangan unilateral pada sendi tarsal
8. Dugaan adanya tofus
9. Hiperurikemia
10. Pembengkakan asimetri sebuah sendi pada foto rontgen
11. Kista subkortikal tanpa erosi pada foto rontgen
12. Kultur mikroorganisme cairan sendi selama serangan inflamasi sendi negatif
Klasifikasi Gout
Gout primer
Merupkan akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebih atau akibat penurunan
ekresi asam urat
Gout sekunder
Disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebih atau ekresi asam urat yang bekurang
akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.
DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN
AKTIVITAS/ISTIRAHAT
Gejala: Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress pada sendi : kekakuan
pada pagi hari.
Tanda: Malaise
Keterbatasan rentang gerak ; atrofi otot, kulit : kontraktur atau kelainan pada sendi dan otot
KARDIOVASKULER
Gejala : Jantung cepat, tekanan darah menurun
INTEGRITAS EGO
Gejala: Faktor-faktor stress akut atau kronis : Misalnya finansial, pekerjaan, ketidakmampuan,
factor-faktor hubungan Keputusasaan dan ketidak berdayaan
Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi misalnya ketergantungan orang lain
MAKANAN ATAU CAIRAN
Gejala: Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat :
mual,anoreksia,kesulitan untuk mengunyah.
Tanda: Penurunan berat badan,kekeringan pada membran mukosa
HIGIENE
Gejala: Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas pribadi, ketergantungan pada orang
lain.
NEUROSENSORI
Gejala: Kebas/kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan
Tanda: Pembengkakan sendi
NYERI / KENYAMANAN
Gejala: Fase akut dari nyeri Terasa nyeri kronis dan kekakuan

KEAMANAN
Gejala: Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga,kekeringan pada mata
dan membran mukosa
INTERAKSI SOSIAL
Gejala: Kerusakan interaksi dan keluarga / orang lsin : perubahan peran: isolasi
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa 1: Gangguan nyaman nyeri berhubungan dengan penurunan fungsi tulang
Kriteria hasil: Nyeri hilang atau terkontrol
INTERVENSI
Mandiri
1. Kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0 10). Catat factor-faktor yang
mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal
2. Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan
3. Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi.
Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi
4. Dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong
sendi yang sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan yang menyentak.
5. Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun. Sediakan
waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air
kompres, air mandi
6. Berikan masase yang lembut
Kolaborasi
1. Beri obat sebelum aktivitas atau latihan yang direncanakan sesuai petunjuk seperti asetil
salisilat (aspirin)
RASIONAL
1. Membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program
2. Matras yang lembut/empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh
yang tepat, menempatkan setres pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur
menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi / nyeri
3. Pada penyakit berat, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi nyeri atau cedera
sendi.
4. Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi
gerakan/rasa sakit pada sendi
5. Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan
kekakuan di pagi hari. Sensitifitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat
disembuhkan

6. Meningkatkan elaksasi/mengurangi tegangan otot,relaksasi, mengurangi tegangan otot,


memudahkan untuk ikut serta dalam terapi
Diagnosa 2: intoleransi aktivitas berhubungan dengan perubahan otao
Kriteria hasil: Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan
INTERVENSI
Mandiri
1. Perahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan.
2. Bantu bergerak dengan bantuan seminimal mungkin.
3. Dorong klien mempertahankan postur tegak, duduk tinggi, berdiri dan berjalan.
Kolaborasi
1. Berikan lingkungan yang aman dan menganjurkan untuk menggunakan alat bantu. Berikan
obat-obatan sesuai indikasi seperti steroid
RASIONAL
1. Untuk mencegah kelelahan dan mempertahankan kekuatan.
2. Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum.
3. Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas.
4. Untuk menekan inflamasi sistemik akut
Diagnosa 3: Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan fungsi tulang
Kriteria hasil: Klien dapat mempertahankan keselamatan fisik
INTERVENSI
1. Kendalikan lingkungan dengan : Menyingkirkan bahaya yang tampak jelas, mengurangi
potensial cedera akibat jatuh ketika tidur misalnya menggunakan penyanggah tempat tidur,
usahakan posisi tempat tidur rendah, gunakan pencahayaan malam siapkan lampu panggil
2. Memantau regimen medikasi
3. Izinkan kemandirian dan kebebasan maksimum dengan memberikan kebebasan dalam
lingkungan yang aman, hindari penggunaan restrain, ketika pasien melamun alihkan
perhatiannya
RASIONAL
1. Lingkungan yang bebas bahaya akan mengurangi resiko cedera dan membebaskan keluarga
dari kekhawatiran yang konstan
2. Hal ini akan memberikan pasien merasa otonomi, restrain dapat meningkatkan
agitasi,mengagetkan
pasien
akan
meningkatkan
ansietas

DAFTAR
Doenges
Kalim,

PUSTAKA
E

Marilynn.

Handono,

1996.,

2000.

Rencana

Ilmu

Penyakit

Asuhan
Dalam,

Keperawatan,
Balai

Penerbit

EGC,

Jakarta

FKUI

Jakarta

Mansjoer , Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke 3. Jakarta : Media Aeusculapius
Nugroho
,
wahjudi.
2002.
Keperawatan
Gerontik.
EGC
:
Jakarta
Pranarka, kris. 2010. Buku Ajar Geriatri ( Ilmu Kesehatan Usia Lanjut ) Edisi ke 4. Balai
penerbit
fakultas
kedokteran
universitas
Indonesia:
Jakarta
Prof .dr.H.M. Noer, Sjaifoellah. 2000. Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi ke 3. Balai penerbit
FKUI:
Jakarta
R. Maryam,S, Fatma, M.dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut Dan Perawatannya. Salemba
medika : Jakarta
http://oktaviakepgerontik.blogspot.com/

BAB I
PENDAHULUAN
A. Definisi
Artritis pirai (Gout) adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal
asam urat pada jaringan sekitar sendi. gout terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang
berlangsung lama (asam urat serum meningkat) disebabkn karena penumpukan purin atau ekresi
asam urat yang kurang dari ginjal. Gout mungkin primer atau sekunder.
Pirai atau gout adalah suatu penyakit yang ditandai dengan serangan mendadak dan
berulang dari artritis yang terasa sangat nyeri karena adanya endapan kristal monosodium urat,
yang terkumpul di dalam sendi sebagai akibat dari tingginya kadar asam urat di dalam
darah(hiperurisemia).
Adapun klasifikasi gout yakni terbagi atas :
- Gout primer
Merupakan akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebih atau akibat penurunan
ekresi asam urat.
- Gout sekunder
Disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebih atau ekresi asam urat yang berkurang
akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.
B. Etiologi
Gout disebabkan oleh adanya kelainan metabolik dalam pembentukan purin atau ekresi
asam urat yang kurang dari ginjal yang menyebakan hyperuricemia. Hyperuricemia pada

penyakit ini disebabkan oleh :


Pembentukan asam urat yang berlebih.
Gout primer metabolik disebabkan sintesis langsung yang bertambah.
Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebih karana penyakit lain,

seperti leukemia.
Kurang asam urat melalui ginjal.
Gout primer renal terjadi karena ekresi asam urat di tubulus distal ginjal yang sehat. Penyebab

tidak diketahui.
Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal, misalnya glumeronefritis kronik

atau gagal ginjal kronik.


C. Patofisiologi

Hiperuresemia (konsentrasi asam urat dalam serum lebih besar dari 7,0 mg/dl ) dapat
(tetapi tidak selalu) menyebabkan penumpukan Kristal monosodium urat. Serangan gout
tampaknya berhubungan dengan peningkatan atau penurunan mendadak kadar asam urat serum.
Kalau Kristal urat mengendap dalam sebuah sendi, respon inflamasi akan terjadi dan serangan
gout dimulai. Dengan serangan yang berulang-ulang, penumpukan kristal natrium urat yang
dinamakan tofus akan mengendap dibagian perifer tubuh seperti ibu jari kaki, tangan dan telinga.
Nefrolitiasis urat (batu ginjal) dengan penyakit renal kronis yang terjadi sekunder akibat
penumpukan urat dapat timbul.
Gambaran Kristal urat dalam cairan sinovial sendi yang asimtomatik menunjukkan bahwa
factor-faktor non Kristal mungkin berhubungan dengan reaksi inflamasi. Kristal monosodium
urat yang ditemukan tersebut dengan immunoglobulin yang terutama berupa Ig G. Ig G akan
meningkatkan fagositosis Kristal dan dengan demikian memperlihatkan aktifitas imunologik.
D. Tanda dan gejala
Fase akut
Biasanya timbul tiba-tiba, tanda-tanda awitan serangan gout adalah rasa sakit yang hebat dan
peradangan lokal. Kulit diatasnya mengkilat dengan reaksi sistemik berupa demam, menggigil,
malaise dan sakit kepala. Yang paling sering terserang mula-mula adalah ibu jari kaki (sendi
metatarsofalangeal) tapi sendi lainnya juga dapat terserang. Serangan ini cenderung sembuh
spontan dalam waktu 10-14 hari meskipun tanpa terapi.
Fase kronis
Timbul dalam jangka waktu beberapa tahun dan ditandai dengan rasa nyeri, kaku, dan pegal.
Akidat adanya kristal-kristal urat maka terjadi peradangan kronik. Sendi yang bengkak akibai
gout kronik sering besar dan berbentuk noduler. Tanda yang mungkin muncul :
- Tampak deformitas dan tofus subkutan.
- Terjadi pemimbunan kristal urat pada sendi-sendi dan juga pada ginjal.
- Terjadi uremi akibat penimbunan urat pada ginjal
- Mikroskofik tanpak kristal-kristal urat disekitar daerah nekrosisi.
E. Pemeriksaan diagnostic/ penunjang
- Kadar asam urat serum meningkat.
- Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat.
- Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat.
Analisis cairan sinovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat monosodium
F.
-

yang membuat diagnosis.


Sinar X sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubahan sendi
Komplikasi
Tekanan darah tinggi
Batu kandung kemih
Obesitas

- Impotensi
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan non medik.
a. Diet rendah purin.
Hindarkan alkohol dan makanan tinggi purin (hati, ginjal, ikan sarden, daging kambing) serta
banyak minum.
b. Tirah baring.
Merupakan suatu keharusan dan di teruskan sampai 24 jam setelah serangan menghilang. Gout
dapat kambuh bila terlalu cepat bergerak.
Penatalaksanaan medik.
a. Fase akut.
Obat yang digunakan :
1. Colchicine (0,6 mg)
2. Indometasin ( 50 mg 3 X sehari selama 4-7 hari)
3. Fenilbutazon.
b. Pengobatan jangka panjang terhadap hyperuricemia untuk mencegah komplikasi.
1. Golongan urikosurik
- Probenasid, adalah jenis obat yang berfungsi menurunkan asam urat dalam serum.
- Sulfinpirazon, merupakan dirivat pirazolon dosis 200-400 mg perhari.
- Azapropazon, dosisi sehari 4 X 300 mg.
- Benzbromaron.
2. Inhibitor xantin (alopurinol).
Adalah suatu inhibitor oksidase poten, bekerja mencegah konversi hipoxantin menjadi xantin,
dan konversi xantin menjadi asam urat.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian.
a. Identitas pasien.
b. Keluhan utama.
Nyeri pada daerah persendian.
c. Riwayat kesehatan
Riwayat adanya faktor resiko :
- Peningkatan kadar asam urat serum.
- Riwayat keluarga positif.
B. Diagnosa keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan peningkatan aktivitas penyakit, keterbatasan mobilitas
atau tingkat toleransi rendah
Tujuan : mengurangi nyeri yang dialami klien
Kriteria evaluasi : nyeri berkurang
Intervensi :
1.
a.
b.
c.

Laksanakan sejumlah tindakan yang memberikan kenyamanan


Kompres panas atau dingin
Masase, perubahan posisi istirahat
Teknik relaksasi , aktivitas yang mengalihkan perhatian nyeri.
Rasional : rasa nyeri dapat responsif terhadap intervensi bukan obat-obatan seperti

perlindungan sendi, latihan fisik, teknik relaksasi dan bentuk terapi suhu.
2. Berikan preparat antiinflamasi, analgesic sepert yang dianjurjkan.
Rasional :nyeri responsive terhadap terhadap pemberian obat satu macam saja atau kombinasi.
3. Dorong pasien untuk mngutarakan perasaannya tentang rasa nyeri serta sifat kronik penyakitnya.
Rasional : pengungkapan dengan kata-kata merupakan tahap penting dalam koping.
4. Lakukan penilaian terhadap perubahan subjektif pada nyeri.
Rasional : penjelasan seseorang mengenai nyeri yang dirasakannya merupakan indicator yang
lebih dapat diandalkan dibandingkan hasil pengukuran yang objektif. Seperti perubahan TTV,
gerakan tubuh dan ekspresi wajah.
2. Keletihan berhubungan dengan peningkatan aktifitas penyakit, rasa nyeri dan istirahat tidur tidak
memadai.
Tujuan : menangani keletihan
Kriteria hasil : keletihan berkurang
Intervensi :
1. berikan penjelasan mengenai keletihan
rasional : pemahaman tentang keletihan akan mempengaruhi tindakannya.
2. Dorong kepatuhan pasien terhadap program terapinya
Rasional : pengendalian yang menyeluruh terhadap aktifitas penyakit dapat mengurangi tingkat
keletihan.
3. Fasilitasi pengembangan jadwal istirahat yang tepat.
Rasional : istirahat akan menghemat tenaga dan membantu dalam proses penyembuhan penyakit.
4. Dorong nutrisi adekuat termasuk suber zat besi dan makanan serta suplemen.
Rasional : diet yang bergizi dapat membantu melawan keletihan.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan terbatasnya gerakan sekunder akibat nyeri pada
persendian.
Tujuan: meningkatkan/ mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
Kriteria hasil : hambatan mobilitas fisik berkurang
Intervensi:
a. Kaji kebutuhan akan konsultasi terapi fisioterapi

Rasional : latihan yang bersifat terapi, pemakaian alas kaki yang tepat dan/atau alat bantu yang
dapat memperbaiki mobilitas.
b. Dorong verbalisasi yang berkenaan dengan keterbatasan dalam mobilitas.
Rasional : mobilitas tidak harus berhubungan dengan deformitas. Rasa nyeri, kaku dan keletihan
c.

dapat membatasi mobilitas untuk sementara waktu.


Instruksikan pasien untuk/ bantu dalam rentang gerak pasien/ aktif pada ekstremitas yang sakit
dan yang tidak sakit
Rasional : postur tubuh dan pengaturan posisi yang benar diperlukan untuk mempertahankan

mobilitas yang optimal.


d. Dorong kemandirian dalam mobilitas dan membantu jika diperlukan.
Rasional :perubahan mobilitas dapat membawa penurunan pada keamanan personal.
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fisik diakibatkan proses penyakit
Tujuan : memperbaiki konsep diri mengenai citra tubuh
Kriteria hasil : gangguan citra tubuh berkurang
Intervensi :
a.

Bantu pasien mengenali unsure-unsur pengendalian gejala penyakit dan penanganannya.


Rasional : konsep diri seseorang dapat diubah oleh penyakit atau penanganannya.
b. Dorong verbalisasi perasaan, persepsi dan rasa takut.
Rasional : strategi koping seseorang menunjukkan kekuatan konsep dirinya.
5. koping tidak efektif berhubungan dengan gaya hidup actual atau yang dirasakan dan perubahan
peranan pasien
Tujuan : koping efektif dalam menghadapi keterbatasan actual atau yang dirasakan dan
perubahan peranan.
Kriteria hasil : koping tidak efektif teratasi
Intervensi :
a. kenali bagian-bagian kehidupan yang dipengaruhi oleh penyakit.
Rasional : dampak penyakit kurang lebih dapat ditangani setelah penyakit diidentifikasi dan
dieksplorasi secara masuk akal.
b. Buatlah rencana untuk penatalaksanaan gejala dan membuat daftar dukungan keluarga dan
teman-teman untuk meningkatkan fungsi haria.
Rasional : dengan mengambil tindakan dan melibatkan orang lain secara tepat , pasien dapat
mengembangkan atau mengetahui tentang keterampilan mengatasi masalah dan dukungan
6.

masyarakat.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, kondisi, dan rencana tindakan,
koping tidak efektif pada kondisi kronis,
Kriteria evaluasi : mengungkapkan pemahaman tentang instruksi perawatan diri dan rencana
perawatan dan pengobatan.

Intervensi :
1. Berikan informasi tentang kondisi, proses penyakit dan rencana pengobatan.
Rasional : membantu meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit klien
2. Ajarkan pasien apa yang harus dilakukan selama serangan, instruksi meliputi :
- Mengistirahatkan sendi yang nyeri.
- Tinggikan eksrtemitas dan berikan kantung es atau panas basah.
- Hindarkan aktivitas yang meningkatkan ketidak nyamanan.
Rasional : berguna dalam tindakan mandiri saat pasien pulang dari rumah sakit
3. Ajarkan pasien bagaimana mengontrol serangan gout, instruksi harus meliputi :
- Menghidarkan faktor pencetus.
- Mengunakan obat anti gout sesuai resep.
Rasional : gejala penyakit dapat teratasi sehingga mempercepat proses penyembuhan.

LAMPIRAN
menghambat ekskresi asam urat
di tubulus
nyeri
gangguan mobilitas fisik
Kurang pengetahuan

Alcohol

gangguan citra tubuh


Koping tidak efektif
keletihan
makanan
penyakit dan obat-obatan
(seafood, kepiting dll)
Pe kadar protein

Sekresi asam urat

produksi asam urat>>

GOUT
Pe> sirkulasi daerah radang pembentukan tukak

proses penyakit

Pada sendi
Vasodilatasi kapiler

perubahan fisik
Kekakuan pada sendi

Eritema, panas

kurang informasi
Membatasi pergerakan sendi

Perubahan bentuk tulang dan sendi


masalah personal diri
metabolisme meningkat

kehilangan banyak energy

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & suddath. Buku Ajar Bedah Medikal Bedah. Vol 3. Penerbit Buku Kedokteran. EGC.
Jakarta. 2001
Mansjoer, Arief. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. Penerbit media Aesculapius FKUI. Jakarta .
2001.
Anonim. http://pirang.wordpress.com/2009/07/19/askep-gouty-artritis/. Diakses tanggal 26 Juni
2012
Gayuh. http. www.gayuhswett. blogspot.com/2008/08/01/hjhk. Diakses pada tanggal 26 Juni
2012
http://itoners09uinalauddinmks.blogspot.com/2012/07/asuhan-keperawatan-kasus-gout.html