You are on page 1of 20

PENGERTIAN

PERLINDUNGAN HUTAN

Pengertian dan Definisi dari Perlindungan Hutan adalah usaha, kegiatan, dan tindakan untuk
mencegah terjadinya kerusakan hutan dan hasil hutan oleh karena perbuatan manusia maupun
alam. Penyebab kerusakan hutan dapat berupa kebakaran hutan, hama, penyakit,
penggembalaan, pencurian dan penyebab faktor lindungan. Salah satu prinsip dari
perlindungan hutan ialah bahwa pencegahan terhadap awal terjadinya atau perkembangan
suatu penyebab kerusakan hutan, akan lebih efektif daripada kegiatan pengendalian setelah
kerusakan terjadi.
Asas perlindungan hutan mengutamakan pencegahan awal terjadinya atau perkembangan
suatu kerusakan hutan melalui perencanaan silvikultur dan pengelolaan yang baik.
Dalam hubungannya dengan tindakan pengelolaan, pencegahan dalam konsep perlindungan
hutan didekati melalui cara :
pengambilan keputusan terhadap langkah atau tindakan untuk mencegah agar
penyebab kerusakan hutan tidak berkembang dan tidak menimbulkan kerusakan hutan
yang serius.
pengembangan suatu bentuk pengelolaan hutan yang hati-hati dan berwawasan masa
depan.
Ilmu perlindungan hutan pada umumnya dipelajari juga sebagai bagian dari Ilmu Silvikultur.
Cabang Ilmu Perlindungan Hutan yang telah berkembang menjadi ilmu yang lebih spesifik
diantaranya ilmu Penyakit Hutan, Ilmu Hama Hutan, dan Kebakaran Hutan.

STRATEGI PERLINDUNGAN HUTAN

Beberapa strategi perlindungan hutan yang dapat digunakan untuk mewujudkan pengelolaan
hutan yang lestari adalah :
1. memahami interaksi hutan dengan agens perusak sehingga :
o dapat mengenali faktor-faktor yang menyebabkan masalah dalam
perlindungan hutan
o

dapat mengenali penyebab kerusakan primer

2. dapat menganalisis dan mengambil keputusan secara menyeluruh dan tidak hanya
terbatas pada penyebab kerusakan yang paling serius
3. selalu melihat perlindungan hutan sebagai tindakan yang tidak terpisah dari silvikultur
4. sadar bahwa perlindungan hutan semakin penting dan pendekatannya tidak hanya
terbatas pada bidang tanaman tapi termasuk hasil hutan.
Strategi perlindungan hutan selain menjamin kelestarian pengelolaan juga dapat menjamin
pengelolaan hutan beresiko rendah.

PERLINDUNGAN HAMA DAN PENYAKIT HUTAN

Gambar. Hama Hutan

Kerusakan hutan bukan saja terjadi karena ulah manusia, salah satu faktor
penyebab lain dari kerusakan hutan adalah penyebaran hama dan penyakit.
Hama dan penyakit hutan menyerang hutan tanaman maupun hutan alam,
namun pengaruh dan dampak tingkat kerusakan pada hutan tanaman yang
monokultur akan jauh lebih besar. Ada dua bidang ilmu yang mempelajari
tentang kerusakan hutan akibat hama dan penyakit, yaitu Ilmu Hama Hutan dan
Ilmu Penyakit Hutan.
Pengertian dan definisi Ilmu Hama Hutan adalah ilmu yang mempelajari hal
ikhwal semua binatang yang menimbulkan kerusakan pada pohon atau tegakan
hutan dan hasil hutan. Misalnya: kerusakan-kerusakan hutan yang disebabkan
oleh serangga, bajing, tikus, babi, cacing, dan binatang-binatang lainnya.
Pengertian dan definisi Ilmu Penyakit Hutan adalah ilmu yang mempelajari hal
ikhwal virus, bakteri, cendawan, dan tanaman tingkat tinggi yang dapat
menimbulkan kerusakan pada pohon atau tegakan hutan dan hasil hutan.
Banyak ahli yang memberikan definisi atau rumusan pengertian mengenai
tumbuh-tumbuhan yang dalam keadaan bagaimana yang disebut sakit. Dari
definisi dan pengertian yang telah diberikan para ahli dapatlah disimpulkan
mengenai rumusan pengertian tentang pohon yang disebut sakit sebagai berikut:
Suatu pohon disebut berpenyakit apabila pada pohon itu terjadi perubahan
proses fisiologis yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab penyakit
sehingga jelas ditunjukan adanya gejala (simptom). Gejala yang dimaksud disini
dalah kelainanatau penyimpangan dari keadaan normal yang ditunjukan oleh
pohon atau tanaman.

Hama Tanaman

Pengertian dari hama tanaman ialah gangguan atau kerugian-kerugian pada


tanaman yang disebabkan oleh binatang seperti serangga, cacing, binatang
menyusui (rusa, babi hutan, dan lain-lain) binatang mengerat (tikus, tupai, dan
lain-lain)
Di persemaian kerusakan semai karena hama sering terjadi, cara
memberantasnya dapat dilakukan beberapa jalan, antara lain adalah secara
kemiawi, bahan-bahan kimia yang dipakai untuk membunuh serangga disebut
insektisida, sedangkan yang dipakai untuk membunuh cacing disebut
Nematosida, dan yang dipakai untuk membunuh binatang pengerat disebut
rodentisida.

AKIBAT KERUSAKAN HUTAN


Kerusakan hutan yang terjadi memberikan akibat yang nyata bagi kehidupan manusia.
Sekarang orang merasakan betapa pentingnya menjaga dan memelihara hutan karena begitu
banyak bencana yang terjadi akibat kelalaian dan keserakahan manusia. Hutan diperlakukan
semena-mena tanpa memikirkan dampak dan akibatnya ketika hutan menjadi rusak. Menjaga
dan memelihara hutan dampaknya bukan saja untuk saat ini tetapi untuk masa depan anak
dan cucu. Kerusakan hutan yang terjadi memberikan dampak langsung maupun tidak
langsung terhadap lingkungan sekitar.

Gambar Banjir Bandang Akibat Kerusakan Hutan

Banyak penyuluhan telah dilakukan untuk menyadarkan masyarakat akan arti pentingnya
manfaat hutan. Berbagai media dipergunakan untuk membuat iklan-iklan tentang
penyelamatan hutan, kampanye lingkungan dilakukan dimana-mana, ditambah lagi artikel,
makalah, paper maupun hasil penelitian oleh para ahli yang mengulas mengenai dampak dan
akibat kerusakan hutan, namun semua itu belum juga sepenuhnya dapat menyadarkan
masyarakat.
Akibat dan dampak dari kerusakan hutan dapat dijelaskan sebagai berikut :
Terganggunya sistem hidro-orologis
Banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau merupakan salah satu contoh
dari tidak berfungsinya hutan untuk menjaga tata air. Air hujan yang jatuh tidak dapat diserap
dengan baik oleh tanah, laju aliran permukaan atau runoff begitu besar. Air Hujan yang jatuh
langsung mengalir ke laut membawa berbagai sedimen dan partikel hasil dari erosi
permukaan.
Terjadinya banjir bandang dimana-mana yang menimbulkan kerugian harta maupun nyawa.
Masyarakat yang terkena dampaknya kehilangan harta benda dan rumah tempat mereka
berteduh akibat terbawa banjir bandang, bahkan ditambah kerugian jiwa yang tak ternilai
harganya.

Hilangnya Biodiversitas

Hutan Indonesia memiliki beranekaragam spesies flora dan fauna, penebangan dan
pengrusakan hutan menyebabkan spesies-spesies langka akan punah. Bahkan spesies yang
belum diketahui nama dan manfaatnya hilang dari permukaan bumi. Hutan Indonesia yang
termasuk hutan hujan tropis memiliki 3000 jenis tumbuhan di dalam satu hektar ditambah
lagi jenis satwa yang ada di dalamnya. Jika laju deforestasi yang mencapai 1-2 juta hektar per
tahun tidak dapat dicegah maka hutan-hutan tropis ini akan hilang.
Kemiskinan dan Kerugian secara ekonomis
Masyarakat Indonesia akan bertambah miskin jika kita tidak mempunyai hutan, itulah yang
dikatakan Presiden Bambang Yudhoyono. Departemen Kehutanan mengemukakan bahwa
kerugian negara per hari mencapai Rp. 83 milyar, itu hanya dari kerusakan hutan akibat
penebangan liar. Berapakah kerugian jika semua faktor dan penyebabkan kerugian kita
hitung?
Perubahan Iklim dan Pemanasan Global
Hutan sebagai paru-paru dunia penghasil oksigen bagi semua mahluk di bumi tidak bisa
menjalankan fungsinya mendaur ulang karbondioksida. Karbondioksida di udara semakin
tinggi menyebabkan efek gas rumah kaca.
Kerusakan Ekosistem Darat maupun Laut
Pengertian dan definisi hutan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi
sumberdaya alam hayati yang didominasi jenis pepohonan dalam persekutuan dengan
lingkungannya, yang satu dengan lain tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu komponen hutan
di rusak, akan berpengaruh terhadap komponen ekosistem yang lain. Hubungan keterkaitan
antara struktur dan fungsi di dalam ekosistem berjalan dalam keseimbangan yang harmonis,
tetapi bila struktur hutan menjadi rusak, akibat dan dampaknya akan mempengaruhi fungsi
hutan
itu
sendiri.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada ekosistem hutan di darat, namun berdampak pada
kerusakan ekosistem di laut juga. Akibat kerusakan hutan terjadi erosi dan banjir membawa
sedimen ke laut yang merusakan ekosistem laut. Ikan dan Terumbu karang sebagai mahluk
hidup diperairan mendapat akibat dari aktivitas pengrusakan di darat. Kerusakan seperti ini
sangat dirasakan oleh pulau-pulau kecil di Indonesia, dengan ciri daerah das yang pendek dan
topografi yang curam sangat cepat pengaruhnya terhadap lingkungan laut.
Abrasi Pantai
Bila pohon-pohon di pesisir pantai ditebang maka tidak ada lagi perlindungan bagi kawasan
pantai. Salah satu fungsi hutan mangrove maupun hutan pantai adalah menjaga daerah pantai
dari hempasan ombak laut. Ombak laut yang menerjang pesisir pantai, dapat menyebabkan
abrasi pantai.

Intrusi dari Laut

Air laut dapat meresap sampai ke darat jika hutan-hutan pesisir seperti hutan mangrove dan
hutan pantai dirusakan. Ditambah penambangan air sebagai kebutuhan hidup rumah tangga
yang menyedot terus persediaan air tanah tanpa adanya keseimbangan infiltrasi dari air hujan
yang jatuh.
Hilangnya budaya masyarakat

Dirasakan sangat nyata bahwa hutan menjadi sumber penghidupan dan inspirasi dari
kehidupan masyarakat. Berbagai ragam budaya yang terkait dengan hutan seperti simbolsimbol dan maskot yang diambil dari hutan, misalnya Harimau sebagai maskot dari Reog,
pencak silat sebagai seni bela diri Indonesia, Bekantan sebagai maskot dari Kalimantan, dan
sebagainya. Jika semua ini punah maka hilanglah sumber inspirasi dan kebanggaan dari
masyarakat setempat.

PENYEBAB KERUSAKAN HUTAN ::


Siapa yang harus disalahkan ? :
Apa penyebab kerusakan hutan di Indonesia? Siapa yang harus disalahkan? Tidak tahukah
anda bahwa Hutan di Indonesia sangat rentan terhadap Kerusakan Hutan. Mengapa
demikian? Beberapa penyebab kerusakan hutan dapat dijelaskan sebagai berikut.

Hutan-hutan di Indonesia termasuk dalam kategori hutan hujan tropis, ciri khas dari hutan ini
mempunyai mekanisme siklus hara tertutup. Penampilan hutan hujan tropis yang begitu
megah sebenarnya hanya tampakan luarnya saja, namun tanah-tanah di daerah ini adalah
miskin hara. Sebagian besar unsur hara terkandung di dalam vegetasi yaitu pohon-pohon
yang hidup di areal tersebut. Lebih dari 70 % unsur hara itu berada di dalam tegakan hutan
sedangkan
hanya
kira-kira
30
%
yang
berada
di
dalam
tanah.
Hal ini terjadi karena daerah tropis mempunyai curah hujan yang tinggi, sehingga proses
leaching atau pencucian unsur hara berjalan dengan cepat. Selain itu jenis tanahnya
sebagian besar tersusun dari partikel lempung kaolinite dan illite dengan kapasitas tukar
kation
yang
rendah.
Bila terjadi penebangan, perambahan dan pembukaan lahan hutan, vegetasi diatasnya akan
hilang sehingga tidak bisa menjamin kesuburan areal tersebut. Walaupun hutan termasuk
sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, namun sampai batas tertentu melebihi daya
lenting hutan akan sulit memperbaharui diri, perlu waktu ratusan tahun untuk kembali
kepada kondisi semula. Kegiatan penebangan hutan dengan intensitas yang tinggi akan
merusak hutan dan menghilangkan biodiversitas didalamnya. Beragam flora dan fauna akan
punah karena habitatnya dirusak dan dimanfaatkan untuk kepentingan lain.

Selain dari kondisi alam yang menyebabkan rentannya hutan terhadap kerusakan, Indonesia
tergolong dalam negara berkembang yang mempunyai angka kemiskinan yang cukup besar.
Masyarakat miskin yang berjumlah sekitar 30 juta jiwa banyak menggantungkan hidupnya
kepada alam terutama masyarakat miskin yang hidup di daerah sekitar hutan. Hutan menjadi
sasaran eksploitasi masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Mereka terpaksa
merambah hutan untuk mencari makanan dan meningkatkan pendapatannya.
Selain hal-hal yang disebutkan di atas, ada beberapa faktor-faktor yang dianggap sebagai
penyebab
kerusakan
hutan.
A. Kerusakan hutan akibat ulah manusia (human destructions)

1. Illegal logging (Penebangan liar).


Penebangan liar bukan saja dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan
sebagai tindakan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan dan memenuhi kebutuhan
keluarga. Kegiatan ini juga dilakukan oleh para pengusaha, bahkan pengusaha yang
mendapat ijin HPH/IUPHHK juga melakukan penebangan liar di luar areal yang telah
ditentukan. Penebangan liar yang terjadi dilakukan pada lahan hutan produksi, hutan
lindung, sampai ke dalam kawasan konservasi termasuk di dalamnya kawasan Taman
Nasional, Suaka Margasatwa, dan Suaka alam pun ikut ditebang. Untuk masalah
penebangan liar ini harus dipikirkan dan dicari jalan keluarnya secara serius cara
penanggulangan, agar hutan tidak dibabat sampai habis.
2. Pembakaran hutan yang disengaja.
Masyarakat membuka lahan dengan cara membakar, bila kebakaran ini tidak
terkendali dapat meluas dan menyebabkan kebakaran hutan yang lebih besar. Dengan
cara membakar dianggap pembukaan dan pembersihan lahan lebih mudah dan murah.
Untuk menciptakan kondisi areal pertumbuhan yang baik pohon kayu putih pada
hutan alam sering dilakukan pembakaran untuk mempermudah tumbuhan tersebut
memperbaharui diri memunculkan tunas-tunas baru.
3. Perambahan hutan.
Perambahan hutan oleh masyarakat untuk membuka lahan pertanian dan perkebunan
dengan membabat dan menebang pohon merusak kondisi hutan alam. Masyarakat
mengambil hasil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari hutan dengan cara
merusak. Ada juga perambahan hutan dilakukan karena diperalat oleh para cukong
untuk mengincar kayu dan membuka lahan kelapa sawit.
4. Perladangan berpindah.
Pengertian dan definisi dari Perladangan berpindah adalah suatu sistem bercocok
tanam yang dilakukan oleh masyarakat secara berpindah-pindah dari satu tempat ke
tempat lain dengan cara membuka lahan hutan primer maupun sekunder.
Perladangan berpindah dilakukan oleh masyarakat tradisional dalam pengolahan lahan
untuk menghasilkan bahan pangan. Bercocok tanam secara tradisional dilakukan
dengan membuka lahan baru ketika hasil panen dari suatu lahan mulai menurun.
Perladangan berpindah adalah warisan turun-temurun karena sudah menjadi tradisi
dalam bercocok tanam.
Perladangan berpindah memberikan kontribusi yang nyata terhadap kerusakan
ekosistem hutan terutama pada pulau-pulau yang berukuran kecil. Selain itu
perladangan berpindah dan kebakaran memiliki korelasi yang positif, karena musim
berladang umumnya pada musim kemarau. Hasil penelitian menunjukan pada setiap
musim kemarau terjadi kebakaran hutan karena faktor pembukaan lahan dengan cara
membakar.

5. Pertambangan.
Usaha pertambangan yang dilakukan berbentuk pertambangan tertutup dan
pertambangan terbuka. Pertambangan terbuka adalah pertambangan yang dilakukan di
atas permukaan tanah. Bentuk Pertambangan ini dapat mengubah bentuk topografi
dan keadaan muka tanah (land impact), sehingga dapat mengubah keseimbangan
sistem ekologi bagi daerah sekitarnya; termasuk pertambangan yang dilakukan di
areal hutan. Pertambangan terbuka menghilangkan semua vegetasi yang berada di

permukaan karena tanah akan dieksploitasi dan diangkut untuk mengambil mineral
tambang yang terkandung didalamnya.
6. Transmigrasi.
Tujuan utama program transmigrasi adalah untuk mengurangi kemiskinan dan
kepadatan penduduk di pulau Jawa, memberikan kesempatan bagi orang yang mau
bekerja, dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja untuk mengolah sumber daya di
pulau-pulau lain seperti Papua, Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi.
Namun Kebijakan pemerintah untuk meratakan penduduk ke seluruh pelosok tanah
air dengan program ini membawa dampak terhadap kerusakan hutan. Hutan dibuka
untuk dibuat pemukiman transmigrasi, dan tiap transmigran mendapatkan lahan
garapan seluas 2 hektar. Hutan primer maupun sekunder dibuka untuk kegiatan
program pemerintah transmigrasi ini.
7. Pemukiman penduduk.
Dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan dasar akan perumahan semakin
meningkat. Terbatasnya daerah yang dapat digunakan sebagai daerah pemukiman
membuat kegiatan ini dilakukan pada areal-areal yang ditetapkan sebagai kawasan
lindung. Daerah-daerah yang tidak sesuai dengan peruntukkannya, dipaksakan untuk
dibuat pemukiman. Daerah berlereng terjal yang berbahaya juga ikut menjadi lokasi
sasaran pembuatan rumah-rumah penduduk.
8. Pembangunan perkantoran.
Areal perkantoran tidak hanya terdapat pada daerah perkotaan yang ramai. Komplek
perkantoran juga dibangun pada lahan-lahan hutan, terutama kabupaten yang baru
dimerkarkan dari kabupaten induk. Kabupatenatau perangkat pemerintahan baru
mencari dan membuka lahan hutan untuk membuat kawasan pemukiman, kawasan
industri, kawasan perdagangan dan juga untuk areal perkantoran. Pembangunan yang
terjadi ini akhirnya perlu dilakukan alih fungsi lahan.
9. Pembangunan infrakstruktur perhubungan seperti jalan, lapangan udara,
pelabuhan kapal, dan lain-lain.
Salah satu penyebab masih banyaknya masyarakat Indonesia yang hidup dibawah
garis kemiskinan karena sulitnya jangkauan transportasi. Indonesia dikenal dengan
negara kepulauan dengan jumlah pulau lebih dari 17.500 pulau, pulau besar maupun
kecil. Masih banyak daerah-daerah yang terisolasi dan terbelakang karena belum
adanya infrastruktur transportasi yang memadai.
Pembangunan infrastruktur perhubungan merupakan hal mendesak yang perlu
dilakukan. Namun pembangunan tersebut dapat menimbulkan dampak negatif
terhadap lingkungan hidup. Seperti pembangunan infrastruktur jalan, adakalanya
harus memotong hutan pada kawasan lindung maupun kawasan konservasi. Cukup
banyak contoh pembuatan jalan yang melewati daerah Hutan lindung, Kawasan
Konservasi, Taman Nasional dan kawasan lainnya yang sebenarnya tidak boleh
diadakan penebangan dan pembukaan hutan. Kerusakan hutan lain juga terjadi dalam
pembangunan infrastruktur lapangan udara, pelabuhan kapal dan lain-lain.
Pembangunan pelabuhan kapal yang dilakukan di pesisir pantai yang memiliki hutan
pantai atau hutan mangrove sering merusakan keberadaan hutan-hutan tersebut. Dan
banyak contoh lain yang dapat dilihat di sekitar kita, mengenai kerusakan lingkungan
akibat pembangunan infrastruktur perhubungan.
10. Perkebunan monokultur.
Pembangunan perkebunan monokultur maupun hutan monokultur termasuk di

dalamnya Hutan Tanaman yang dilakukan pada areal yang masih berhutan sering
terjadi. Beberapa pengusaha yang hanya mencari keuntungan mengurus ijin konversi
lahan menjadi perkebunan atau hutan tanaman, dengan sasaran tegakan tinggal yang
ada pada areal tersebut dapat diambil dan dijual sebagai keuntungan. Kemudian
mereka melakukan land clearing dan menanam tanaman-tanaman sejenis dengan
pertimbangan ekonomis. Areal hutan yang terdapat beragam jenis dirubah menjadi
tanaman sejenis atau monokultur. Tanaman monokultur ini sangat rentan terhadap
bahaya erosi, penyebaran hama dan penyakit, dan penurunan biodiversitas.
11. Perkebunan kelapa sawit.
Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit telah dilakukan pada beberapa
daerah di Indonesia. Investasi perkebunan kelapa sawit dilakukan oleh pengusaha dari
dalam negeri maupun luar negeri terutama dari Malaysia. Dalam pertimbangan
ekonomis dianggap sebagai sumber keuntungan yang besar. Beberapa pihak yang
pernah terlibat dan merasakan akibat pembangunan perkebunan kelapa sawit menjadi
sadar akan dampak negatif dari kegiatan tersebut terhadap lingkungan. Keseimbangan
ekosistem menjadi terganggu akibat penurunan biodiversitas, pencemaran lingkungan
dari input peptisida yang berlebihan, sulitnya seresah kelapa sawit terdekomposisi dan
pemulihan lahan kepada kondisi semula memerlukan waktu yang sangat panjang.
12. Konversi lahan gambut menjadi sawah.
Proyek pembangunan satu juta hektar lahan gambut menjadi sawah pernah dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan pangan mempertahankan swasembada beras. Akibatnya
lahan hutan gambut menjadi berkurang dan dampak negatif yang ditimbulkan seperti
meningkatnya bahaya kebakaran hutan, memberikan sumbangan terhadap pemanasan
global, berkurangnya keanekaragaman hayati dan dampak negatif lainnya.
13. Penggembalaan Ternak dalam hutan.
Walaupun tergolong kecil bila dibandingkan dengan penyebab kerusakan hutan yang
lain, namun penggembalaan ternak di anggap sebagai salah satu penyebab kerusakan.
Kerusakan hutan akibat penggembalaan ternak dengan cara, ternak tersebut
mengkonsumsi daun-daun dan semai-semai yang merupakan tumbuhan permudaan
sebagai regenerasi dari hutan tersebut. Kerusakan lain yang terjadi juga seperti
kerusakan batang akibat gigitan dan gesekan tanduk ternak. Pengembalaan ternak di
dalam hutan menyebabkan pemadatan tanah hutan karena diinjak-injak oleh ternak.
Hal ini akan mempengaruhi proses infiltrasi atau menyerapnya air ke dalam tanah
menjadi berkurang sehingga proses runoff meningkat yang menyebabkan erosi di
permukaan tanah.
14. Kebijakan pengelolaan hutan yang salah.
Kerusakan hutan juga dapat terjadi karena kebijakan yang dibuat lebih
memperhatikan dampak ekonomis dibandingkan dengan dampak ekologis. Selain itu
juga perbedaan persepsi tentang kelestarian hutan kadang terjadi karena dasar
pemahaman yang berbeda. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa kebijakan
pengelolaan hutan yang salah dari pemerintah sebagai suatu pengrusakan hutan yang
terstruktur karena kerusakan tersebut didukung oleh perundang-undangan dan
ketentuan yang berlaku.
Persepsi dan pemahaman masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam terutama
mengolah lahan-lahan milik mereka dengan menanam tanaman semusim yang lebih
cepat menghasilkan dibanding dengan tanaman berumur panjang termasuk tanaman
kehutanan.

15. Serangan hama dan penyakit.


Penyebaran hama secara luas dalam suatu hutan dapat terjadi diakibatkan oleh
penggunaan peptisida yang berlebihan. Hama dan penyakit menjadi resisten dan tidak
dapat dibasmi malah berkembang dengan pesat kemudian menyerang tumbuhtumbuhan dan pohon di dalam suatu areal hutan.
B. Kerusakan hutan akibat alam (natural disasters).
1. Kebakaran hutan
Kebakaran hutan merupakan penyebab kerusakan hutan yang setiap tahun terjadi di
Indonesia, bila musim kemarau berkepanjangan pada suatu daerah. Indonesia
ditunding sebagai negara pengekspor asap kebakaran hutan ke negara-negara
tetangga. Selain dapat memusnahkan tumbuh-tumbuhan dan kehidupan fauna di
sekitarnya, kebakaran hutan menghasilkan asap yang berdampak negatif terhadap
kesehatan manusia dan keselamatan penerbangan.
Api yang timbul pada kebakaran hutan terjadi akibat gesekan batang atau cabang
pohon. Dari penginderaan jauh lewat satelit dapat dilihat "hot spot" yang muncul di
dalam areal hutan bila terjadi suatu kebakaran hutan.
Selain musim kemarau yang berkepanjangan sebagai salah satu faktor penyebab
terjadi kebakaran hutan, ada juga beberapa faktor pemicu terjadi kebakaran hutan
yaitu pembukaan lahan gambut sehingga sinar matahari masuk ke lantai hutan dan
menyebabkan areal gambut menjadi kering dan mudah terbakar.
2. Letusan Gunung Berapi.
Bencana alam gunung meletus merupakan suatu daya alam yang dapat merusak hutan
dan habitat satwa liar bahkan memusnakan kehidupan yang ada di wilayah tersebut.
Gunung meletus adalah gejala vulkanis yaitu peristiwa yang berhubungan dengan
naiknya magma dari dalam perut bumi. Magma adalah campuran batu-batuan dalam
keadaan cair, liat serta sangat panas yang berada dalam perut bumi. Aktifitas magma
disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di
dalamnya sehingga dapat terjadi retakan-retakan dan pergeseran lempeng kulit bumi.
Peristiwa vulkanik yang terdapat pada gunung berapi setelah meletus (post vulkanik),
antara lain: terdapatnya sumber gas H2 S, H2O,dan CO2 dan Sumber air panas atau
geiser. Sumber gas ini ada yang sangat berbahaya bagi kehidupan.
3. Naiknya air permukaan laut dan tsunami
Permukaan air laut yang naik termasuk didalamnya bencana tsunami dapat
mengakibatkan kerusakan hutan. Hutan-hutan di bagian pesisir menjadi rusak karena
aktivitas alam ini. Walaupun hutan-hutan di pesisir dianggap suatu cara untuk
mengurangi dampak kerusakan dari tsunami tetapi hutan tersebut juga ikut terkena
dampaknya.

PENGERTIAN DAN DEFINISI KEBAKARAN HUTAN

Kebakaran Hutan merupakan suatu faktor lingkungan dari api yang memberikan pengaruh
terhadap hutan, menimbulkan dampak negatif maupun positif. Kebakaran Hutan yang terjadi
adalah akibat ulah manusia maupun faktor alam. Penyebab Kebakaran Hutan yang terbanyak
karena tindakan dan kelalaian manusia. Ada yang menyebutkan hampir 90% Kebakaran
Hutan disebabkan oleh manusia sedangkan hanya 10% yang disebabkan oleh alam.
Pengertian dan definisi lain yang diberikan untuk Kebakaran Hutan adalah suatu keadaan
dimana hutan dilanda api sehingga berakibat timbulnya kerugian ekosistem dan terancamnya
kelestarian lingkungan. Upaya pencegahan Kebakaran Hutan merupakan suatu usaha
Perlindungan Hutan agar kebakaran hutan yang berdampak negatif tidak meluas.
Menurut Kamus Kehutanan, Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Kebakaran Hutan
(Wild Fire Free Burning, Forest Fire) didefinisikan sebagai :
1. Kebakaran yang tidak disebabkan oleh unsur kesengajaan yang mengakibatkan
kerugian. Kebakaran terjadi karena faktor-faktor:
o alam (misalnya musim kemarau yang terlalu lama)
o

manusia (misalnya karena kelalaian manusia membuat api di tengah-tengah


hutan di musim kemarau atau di hutan-hutan yang mudah terbakar.

2. Bentuk Kerusakan Hutan yang disebabkan oleh api di dalam areal hutan negara.
Istilah Kebakaran hutan di dalam Ensiklopedia Kehutanan Indonesia disebut juga Api Hutan.
Selanjutnya dijelaskan bahwa Kebakaran Hutan atau Api Hutan adalah Api Liar yang terjadi
di dalam hutan, yang membakar sebagian atau seluruh komponen hutan. Dikenal ada 3
macam kebakaran hutan, Jenis-jenis kebakaran hutan tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Api Permukaan atau Kebakaran Permukaan yaitu kebakaran yang terjadi pada lantai
hutan dan membakar seresah, kayu-kayu kering dan tanaman bawah. Sifat api
permukaan cepat merambat, nyalanya besar dan panas, namun cepat padam. Dalam
kenyataannya semua tipe kebakaran berasal dari api permukaan.

2. Api Tajuk atau Kebakaran Tajuk yaitu kebakaran yang membakar seluruh tajuk

tanaman pokok terutama pada jenis-jenis hutan yang daunnya mudah terbakar.
Apabila tajuk hutan cukup rapat, maka api yang terjadi cepat merambat dari satu tajuk
ke tajuk yang lain. Hal ini tidak terjadi apabila tajuk-tajuk pohon penyusun tidak
saling bersentuhan.
3. Api Tanah adalah api yang membakar lapisan organik yang dibawah lantai hutan.

Oleh karena sedikit udara dan bahan organik ini, kebakaran yang terjadi tidak ditandai
dengan adanya nyala api. Penyebaran api juga sangat lambat, bahan api tertahan
dalam waktu yang lama pada suatu tempat.

PENGERTIAN REBOISASI DAN PENGHIJAUAN

Pengertian dan definisi reboisasi


dan penghijauan ditinjau dari aspek rehabilitasi atau pemulihan lahan kritis, sebenarnya
istilah dan arti kata ini hampir sama. Perbedaan arti kedua istilah tersebut pada "sasaran
lokasi" dan "kesesuaian jenis tanaman" yang ditanam pada masing-masing lokasi kegiatan.

Reboisasi merupakan kegiatan penghutanan kembali kawasan hutan bekas tebangan maupun
lahan-lahan kosong yang terdapat di dalam kawasan hutan (Manan 1978). Reboisasi meliputi
kegiatan permudaan pohon, penanaman jenis pohon lainnya di area hutan negara dan area
lain sesuai rencana tata guna lahan yang diperuntukkan sebagai hutan. Dengan demikian,
membangun hutan baru pada area bekas tebang habis, bekas tebang pilih, atau pada lahan
kosong lain yang terdapat di dalam kawasan hutan termasuk reboisasi (Kadri dkk, 1992).

Penghijauan merupakan kegiatan penanaman pada lahan kosong di luar kawasan hutan,
terutama pada tanah milik rakyat dengan tanaman keras, misalnya jenis-jenis pohon hutan,
pohon buah, tanaman perkebunan, tanaman penguat teras, tanaman pupuk hijau, dan rumput
pekan ternak. Tujuan penanaman agar lahan tersebut dapat dipulihkan, dipertahankan, dan
ditingkatkan kembali kesuburannya. (Manan 1976; Supriyanto,1984). Menurut (Kadri dkk,
1992) upaya yang termasuk dalam rangkaian kegiatan penghijauan, yang sudah disebutkan
berupa pembuatan bangunan pencegah erosi tanah, misalnya pembuatan sengkedan (teras)
dan bendungan (check dam) yang dilakukan pada area di luar kawasan hutan.