You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai negara pertanian sejak dahulu kala, dikarenakan
Indonesia memiliki tanah yang luas untuk ditanami berbagai jenis tanaman. Jenis
tanaman yang di tanam di Indonesia sangat beraneka ragam, mulai tanaman
kehutanan, perkebunan, pangan serta hortikultura. Didalam macam-macam
tanaman hortikultura di dalamnya terdapat tanaman buah-buahan, sayur-mayur,
rempah-rempah atau tanaman obat dan aromatik.
Pada tanaman sayur-mayur terdapat ribuan jenis tanaman, salah satunya adalah
tanaman wortel. Cara budidaya wortel dikenal cukup mudah, serta perawatan dan
pasca panennya pun cukup mudah. Wortel dapat digunakan sebagai sayuran, acar,
maupun bahan minuman. Oleh karena itu penulis ingin mengulas lebih dalam
tentang budidaya serta analisis kelayakan budidayanya.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana proses budidaya wortel ?
Bagaimana analisis kelayakan budidaya wortel ?
1.3 Tujuan
Mengetahui proses budidaya wortel
Mengetahui analisis kelayakan dilihat dari perhitungan Break Event Point
Mengetahui analisis kelayakan dilihat dari perhitungan Return of Investment
Mengetahui analisis kelayakan dilihat dari perhitungan Benefit Cost Ratio

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Wortel
2.1.1 Sejarah Singkat
Wortel/carrots (Daucus carota L.) bukan tanaman asli Indonesia, berasal dari negeri
yang beriklim sedang (sub-tropis) yaitu berasal dari Asia Timur dan Asia Tengah.
Ditemukan tumbuh liar sekitar 6.500 tahun yang lalu. Rintisan budidaya wortel pada
mulanya terjadi di daerah sekitar Laut Tengah, menyebar luas ke kawasan Eropa,
Afrika, Asia dan akhirnya ke seluruh bagian dunia yang telah terkenal daerah
pertaniannya.
2.1.2 Sentra Penanaman
Di Indonesia budidaya wortel pada mulanya hanya terkonsentrasi di Jawa Barat
yaitu daerah Lembang dan Cipanas. Namun dalam perkembangannya menyebar
luas ke daerah-daerah sentra sayuran di Jawa dan Luar Jawa. Berdasarkan hasil
survei pertanian produksi tanaman sayuran di Indonesia (BPS,1991) luas areal
panen wortel nasional mencapai 13.398 hektar yang tersebar di 16 propinsi yaitu;
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Sumatera Selatan, Lampung, Bali, NTT, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi
Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku dan Irian Jaya.
2.1.3 Jenis Tanaman
Dalam taksonomi tumbuhan, wortel diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub-Divisi : Angiospermae
Klas : DicotyledonaeOrdo : Umbelliferales
Famili : Umbelliferae (Apiaceae)
Genus : Daucus
Spesies : Daucus carrota L.
Tanaman wortel banyak ragamnya, tetapi bila dilihat bentuk umbinya dapat dipilih
menjadi 3 golongan, yakni :
a) Tipe Chantenay, berbentuk bulat panjang dengan ujung yang tumpul.
b) Tipe Imperator, berbentuk bulat panjang dengan ujung runcing.
c) Tipe Nantes, merupakan tipe gabungan antara imperator dan chantenay. Varietas
Tanaman Wortel (Daucus carota L.) termasuk dalam family Umbelliferae (Apiaceae).
Bentuk dan ukuran umbi wortel bermacam-macam, tergantung pada varietas,
kesuburan tanah, iklim, serta hama dan penyakit.

Varietas yang umum ditanam di Indonesia yaitu Chantenay dan Nantes.


1) Chantenay Red Cored
Berbentuk kerucut, bagian pangkal besar, garis tengah 4-5 cm, panjang 15 cm,
warna oranye tua, daging halus dan manis. Umur panen 70 hari.
2) Royal Chantenay
Berbentuk kerucut, bagian pangkal besar, garis tengah 4 cm-5 cm, panjang 18
cm, warna oranye tua,daging halus, dan rasa manis. Umur 70 hari.
3) Chantenay
Berbentuk kerucut, bagian pangkal besar, garis tengah 6 cm, dan warna oranye.
Umur 70 hari.
4) Nantes
Berbentuk silindris, garis tengah pangkal dan ujung hanya berbeda sedikit, ujung
tumpul, garis tengah 3-4 cm, panjang 16-19 cm, warna oranye, bentuk bagus,
rasa manis dan aroma enak, panen 2-3 bulan.
5) Yates Topweight
Bentuk ampir silindris, warna oranye, tahan retak, tahan lalat dan virus. Panjang
bisa lebih dari 20 cm. Umur 60 hari atau lebih.
6) Yates Manchester Table
Bentuk hampir silindris, tidak mudah berkayu, warna oranye tua, garis tengah 4-5
cm, panjang 18 cm, warna oranye tua, daging halus dan rasa manis. Umur 70
hari.
7) Redheart
Bentuk hampir silindris warnanya oranye tua, tahan aphis dan lalat karat, panjang
15-17 cm, daging halus dan manis. Umur panen sekitar 70 hari.
8) Midway
Bentuk kerucut langsing, warna oranye, ujung runcing, besar sedang, dan rasa
manis. Umur panen 60-70 hari.
9) Egmont Gold
Bentuk kerucut besar, diameter 6 cm, daging halus, panjang 20 cm, rasa manis,
dan aroma enak. Umur panen 60-70 hari.
10) Danves Half Long
Bentuk kerucut sedang, diameter 3-4 cm, panjang 15 cm, halus, aroma bagus,
manis, warna oranye. Umur panen 75 hari.
11) Flakkee
Bentuk hampir silindris, diameter pangkal 3-4 cm, panjang 15 cm, rasa manis,
aroma baik, daging halus, bagian tengah lunak, dan warna oranye. Umur panen
70 hari.
12) Burpees Goldinhart
Bentuk kerucut, diameter pangkal 5-6 cm, panjang 15 cm, enak, empuk, manis,
aroma bagus, dan warna oranye. Umur panen 70 hari.
2.1.4 Manfaat Tanaman
Wortel merupakan bahan pangan (sayuran) yang digemari dan dapat dijangkau oleh
seluruh lapisan masyarakat. Bahkan mengkonsumsi wortel sangat dianjurkan,

terutama untuk menghadapi masalah kekurangan vitamin A. Dalam setiap 100


gram bahan mengandung 12.000 S.I vitamin A. Merupakan bahan pangan bergizi
tinggi, harga murah dan mudah mendapatkannya.
Selain sebagai gudang vitamin A serta nutrisi, juga berkhasiat untuk penyakit dan
memelihara kecantikan. Wortel ini mengandung enzim pencernaan dan berfungsi
diuretik. Meminum segelas sari daun wortel segar ditambah garam dan sesendok
teh sari jeruk nipis berkhasiat untuk mengantisipasi pembentukkan endapan dalam
saluran kencing, memperkuat mata, paru-paru, jantung dan hati. Bahkan dengan
hanya mengunyah daun wortel dapat menyembuhkan luka-luka dalam mulut/nafas
bau, gusi berdarah dan sariawan.
2.2 Budidaya Tanaman Wortel
2.2.1 Syarat Pertumbuhan
Iklim
1. Tanaman wortel merupakan sayuran dataran tinggi. Tanaman wortel pada
permulaan tumbuh menghendaki cuaca dingin dan lembab. Tanaman ini bisa
ditanaman sepanjang tahun baik musim kemarau maupun musim hujan.
2. Tanaman wortel membutuhkan lingkungan tumbuh dengan suhu udara yang
dingin dan lembab. Untuk pertumbuhan dan produksi umbi dibutuhkan suhu udara
optimal antara 15,6 21,10C. Suhu udara yang terlalu tinggi (panas) seringkali
menyebabkan umbi kecil-kecil (abnormal) dan berwarna pucat/kusam. Bila suhu
udara terlalu rendah (sangat dingin), maka umbi yang terbentuk menjadi panjang
kecil.
3.Curah Hujan
Tanaman wortel membutuhkan air yang banyak dalam pertumbuhannya. Kebutuhan
air secara alami dapat dipenuhi dari air hujan. Air yang berlebih menyebabkan
tanaman mudah terserang penyakit dan sebaliknya kekurangan air menyebabkan
tanaman kering dan akhirnya mati.
Berdasarkan penggolongan Schmid-Ferguson, iklim yang cocok untuk pertumbuhan
tanaman wortel adalah iklim A (sangat basah), B (basah), dan C (agak basah).
Curah hujan di afdeling Jampit rata-rata 1857 mm/tahun dengan bulan basah
selama 10 bulan dan bulan kering selama 2 bulan. Kondisi tersebut termasuk iklim
B berdasarkan penggolongan Schmid-Ferguson.
4.Kelembaban
Tanaman wortel memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kelembaban. Semakin
tinggi letak tempat semakin tinggi pula kelembaban sehingga tanaman wortel tidak
terlalu banyak penguapan. Begitupun sebaliknya, semakin rendah letak tempat
semakin rendah pula kelembaban dan akan banyak sekali penguapan.
5.Sinar Matahari
Pada pertumbuhannya, tanaman wortel membutuhkan sinar matahari secara penuh
(tidak ternaungi) sebagai sumber energi untuk pembentukan gula melalui proses
fotosintesis dan pembentukan umbi tanaman. Tanaman yang kurang sinar matahari
pertumbuhannya akan terhambat dan memanjang.

6.Angin
Angin membantu tanaman dalam melakukan penyerbukan. Angin dengan kisaran
kecepatan 19-35 km/ jam dapat menerbangkan serbuk sari. Angin menjadi sangat
penting perannya bagi budidaya tanaman wortel yang diambil benihnya
Ketinggian Tempat
Di Indonesia wortel umunya ditanam di dataran tinggi pada ketinggian 1.000-1.200
m dpl. Tetapi dapat pula ditanam di dataran medium (ketinggian lebih dari 500 m
dpl.), produksi dan kualitas kurang memuaskan.
7.Media Tanam
Keadaan tanah yang cocok untuk tanaman wortel adalah subur, gembur, banyak
mengandung bahan organik (humus), tata udara dan tata airnya berjalan baik (tidak
menggenang). Jenis tanah yang paling baik adalah andosol. Jenis tanah ini pada
umumnya terdapat di daerah dataran tinggi (pegunungan). Tanaman ini dapat
tumbuh baik pada keasaman tanah (pH) antara 5,5-6,5 untuk hasil optimal
diperlukan pH 6,0-6,8. Pada tanah yang pH-nya kurang dari 5,0, tanaman wortel
akan sulit membentuk umbi. Demikian pula tanah yang mudah becek atau
mendapat perlakuan pupuk kandang yang berlebihan, sering menyebabkan umbi
wortel berserat, bercabang dan berambut.
2.2.2 Pedoman Teknis Budidaya
A. Pembibitan
1) Persyaratan Benih
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sumber benih yang menjadi bibit harus
memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Tanaman tumbuh subur dan kuat.
b) Bebas hama dan penyakit/sehat.
c) Bentuknya seragam.
d) Dari jenis yang berumur pendek.
e) Berproduksi tinggi.
Tatacara penyiapan benih wortel adalah sebagai berikut:
a) Pilih benih wortel yang baik, yakni berasal dari varietas unggul, murni, dan daya
kecambahnya tinggi (lebih dari 90%).
b) Gosok-gosokan benih wortel dengan kedua belah telapak tangan agar diantara
benih satu sama lain tidak berlekatan.
c) Rendam benih wortel dalam air dingin selama 12-24 jam atau dalam air hangat
suam-suam kuku (60 derajat C) selama 15 menit. Tujuan dari perendaman benih
adalah mempercepat proses perkecambahannya.
d) Tiriskan benih wortel dalam suatu wadah, misal tampah hingga menjadi cukup
kering. Benih wortel sudah siap ditanam (disebar) di lahan kebun
2) Teknik Penyemaian Benih
Biji wortel di taburkan langsung di tempat penanaman, dapat disebarkan merata di
bedengan atau dengan dicicir memanjang dalam barisan. Jarak barisan paling tidak

15 cm, kemudian kalau sudah tumbuh dapat dilakukan penjarangan sehingga


tanaman wortel itu berjarak 3-5 cm satu sama lain.
Kebutuhan benih untuk penanaman setiap are antara 150-200 gram. Para petani
sayuran jarang menggunakan lebih dari 10 kg benih untuk tiap hektar. Biji wortel
akan mulai berkecambah setelah 8-12 hari.
Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Mula-mula tanah dicangkul sedalam 40 cm, dan diberi pupuk kandang atau kompos
sebanyak 15 ton setiap hektarnya. Tanah yang telah diolah itu diratakan dan dibuat
alur sedalam 1 cm dan jarak antara alur 15-20 cm.
Areal yang akan dijadikan kebun wortel, tanahnya diolah cukup dalam dan
sempurna, kemudian diberi pupuk kandang 10 ton/ha, baik dicampur maupun
menurut larikan sambil meratakan tanah. Idealnya dipersiapkan dalam bentuk
bedengan-bedengan selebar 100 cm dan langsung dibuat alur-alur/larikan jarak 20
cm, hingga siap ditanam.
2) Pembukaan Lahan
1. Membuka Lahan
Babat pohon-pohon atau semak-semak maupun tanaman lain yang tidak berguna.
Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar (gulma), batu kerikil dan sisa tanaman
lain.
2. Mengolah Tanah
Olah tanah sedalam 30-40 cm hingga strukturnya gembur dengan alat bantu
cangkul, bajak/traktor.
Biarkan tanah di kering anginkan selama minimal 15 hari, agar kelak keadaan
tanah benar-benar matang.
3. Pembentukan Bedengan
1. Olah tanah untuk kedua kalinya dengan cangkul hingga struktur tanah
bertambah gembur.
2. Buat bedengan-bedengan dengan ukuran lebar 120-150 cm, tinggi 30-40 cm,
jarak antar bedengan 50-60 cm dan panjang tergantung pada keadaan lahan.
4. Pengapuran
1. Lakukan pengapuran bila pH tanah asam di bawah 5 dengan cara menaburkan
bahan kapur seperti Calcit, Dolomit atau Zeagro 1 secara merata di permukaan
tanah. Dosis kapur yang diberikan berkisar antara 0,75-10,24 ton/ha.
2. Campurkan kapur dengan lapisan tanah atas (top soil) sambil dibalikan hingga
benar-benar merata. Bila tidak turun hujan, tanah yang telah dikapur sebaiknya
disiram (diairi) hingga cukup basah.
B. Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanaman
Tanah kebun dicangkul sedalam 30-40 cm dan digemburkan. Setelah itu di buat
bedengan tanaman selebar kurang lebih 100 cm dan dibuat guritan dengan jarak
kurang lebih 20 cm.

2) Pembuatan Lobang Tanam


Tanah diolah sedalam 30-40 cm hingga strukturnya gembur dengan menggunakan
traktor/bajak dan alat cangkul.
3) Cara Penanaman
Tata cara penanaman (penaburan) benih wortel melalui tahap-tahap sebagai
berikut:
1. Sebarkan (taburkan) benih wortel secara merata dalam alur alur/garitan-garitan
yang tersedia.
2. Tutup benih wortel dengan tanah tipis sedalam 0,5-1 cm.
3. Buat alur-alur dangkal sejauh 5 cm dari tempat benih arah barisan (memanjang)
untuk meletakkan pupuk dasar. Jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang
dengan jumlah 10 ton / hectare.
4. Sebarkan pupuk tersebut secara merata, kemudian tutup dengan tanah tipis.
5. Tutup tiap garitan (alur) dengan dedaunan kering atau pelepah daun pisang
selama 7-10 hari untuk mencegah hanyutnya benih wortel oleh percikan (guyuran)
air sekaligus berfungsi menjaga kestabilan kelembaban tanah. Setelah benih wortel
tumbuh di permukaan tanah, penutup tadi segera di buka kembali.
C. Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan tanaman wortel dilakukan pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah
tanam. Tujuan penjarangan adalah untuk memperoleh tanaman wortel cepat
tumbuh dan subur, sehingga hasil produksinya dapat tinggi.
2) Penyiangan
Rumput-rumput liar (gulma) yang tumbuh disekitar kebun merupakan pesaing
tanaman wortel dalam kebutuhan air, sinar matahari, unsur hara dan lain-lain,
sehingga harus disiangi. Waktu penyiangan biasanya saat tanaman wortel berumur
1 bulan, bersamaan dengan penjarangan tanaman dan pemupukan susulan.
Cara menyiangi yang baik adalah membersihkan rumput liar dengan alat bantu
kored/cangkul. Rumput liar yang tumbuh dalam parit dibersihkan agar tidak menjadi
sarang hama dan penyakit. Tanah di sekitar barisan tanaman wortel digemburkan,
kemudian ditimbunkan ke bagian pangkal batang wortel agar kelak umbinya
tertutup oleh tanah.
3) Pembubunan
Pendangiran dilakukan pada saat umur tanaman 1 bulan, yaitu pada saat tanaman
akan membentuk umbi, terutama sehabis hujan. Saat pendangiran ini dilakukan
juga pembubunan.
4) Pemupukan
Selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman memerlukan unsur hara yang
dapat diperoleh dari pupuk. Pemupukan pada tanaman wortel dapat dibedakan
menjadi 2 berdasarkan waktu pemberiannya yaitu pupuk dasar dan pupuk lanjutan.
Menurut Nur Berlian V.A dan Estu R. (2000) pupuk yang diberikan saat tanam
adalah pupuk kandang sebanyak 10 ton/ha. Untuk mendapatkan produksi umbi
yang sempurna tanaman diberi pupuk susulan/lanjutan. Pupuk lanjutan pertama

pada umur 2 minggu setelah tanam berupa pupuk kandang sebanyak 10 ton per
hektar. Pupuk diberikan dengan jalan ditabur membentuk larikan sepanjang
bedengan berjarak 5 cm dari tanaman dan ditutup dengan tanah. Dosis pemupukan
dapat berubah sesuai dengan kondisi tanah.
Jenis pupuk yang digunakan untuk pemupukan susulan adalah pupuk kandang
sebanyak 5 ton per hektar. Waktu pemberian pupuk susulan dilakukan bersamaan
dengan kegiatan penyiangan, yakni pada saat tanaman wortel berumur 1 bulan.
Cara pemupukan yang baik adalah dengan menyebarkan secara merata dalam aluralur atau garitan-garitan dangkal atau dimasukkan ke dalam lubang pupuk (tugal)
sejauh 5-10 cm dari batang wortel, kemudian segera ditutup dengan tanah dan
disiram atau diairi hingga cukup basah.
5) Pengairan dan Penyiraman
Tanaman membutuhkan air dalam proses prtumbuhannya termasuk wortel . Secara
alami kebutuhan air dapat dipenuhi dari air hujan, namun di musim kemarau
dimana ketersediaan air sangat terbatas maka diperlukan irigasi. Ketersediaan air
yang kurang dan tidak tersedia secara kontinyu menyebabkan kracking pada umbi
wortel terutama type nantes varietas nevis.
Menurut Larry G. James (TT) irigasi pertanian memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mendinginkan tanah dan tanaman
Pada saat panas terik, suhu lingkungan sekitar tanaman khususnya tanah
meningkat begitu pula dengan suhu tanaman. Akhir dari peningkatan suhu adalah
penguapan baik tanah maupun tanaman. Untuk menjaga suhu tanah maupun
tanaman stabil diperlukan irigasi.
b. Memacu pertumbuhan vegetatif menunda pembuahan
Pada tanaman sayur berbentuk buah misalnya paprika (Capsicum autuum)
tersedianya air yang melimpah mengakibatkan pertumbuhan vegetatif, sebaliknya
air yang tidak kontinyu mempercepat pertumbuhan generatif.
c. Mengendalikan erosi yang disebabkan oleh angin
Kecepatan angin mampu menerbangkan butiran-butiran tanah, dengan adanya
irigasi tanah menjadi basah dan lebih berat serta solid sehingga tidak mudah
terbawa angin.
d. Mempercepat perkecambahan benih
Benih akan berkecambah dengan cepat pada tanah yang lembab dan agak basah.
e. Media penerapan bahan kimia
Melalui irigasi dapat pula dilakukan pemberian fungisida maupun pemberian unsur
hara.
f. Pengendalian limbah cair
Melalui irigasi air tidak langsung menuju ke lahan melainkan melalui filter-filter
terlebih dahulu sehingga air terbebas dari limbah. Pada fase awal pertumbuhannya,
tanaman wortel memerlukan air yang memadai, sehingga perlu disiram (diairi)
secara kontinue 1-2 kali sehari, terutama pada musim kemarau. Bila tanaman
wortel sudah tumbuh besar, maka pengairan dapat dikurangi. Hal penting yang
harus diperhatikan adalah agar tanah tidak kekeringan. Sistem irigasi yang

digunakan dalam budidaya tanaman wortel dapat berupa irigasi tetes dimana air
melalui pipa berdiameter + 1,5 cm yang dipasang memanjang, sepanjang
bedengan. Air akan keluar dari lubang-lubang yang terdapat pada pipa/selang
dalam bentuk tetes-tetes air. Dalam satu bedengan terdapat 2 buah pipa/selang.
Menurut Yos Van Der Knaap, lahan seluas 1 ha membutuhkan 35 m3 air per hari
atau 3,5 liter air/m2 dalam 1 hari. Penyiraman dilakukan mulai benih di semai
sampai menjelang panen sedangkan waktunya dapat dilakukan pagi atau sore hari
tergantung dari sebagian besar kondisi tanah. Larry G. James (TT), terdapat tiga
indikasi perlunya dilakukan penyiraman yaitu indikator tanaman, indikator tanah,
dan teknik persediaan air. Indikator tanaman dapat dilihat dengan mudah misalnya
tanaman layu dan berwarna pucat. Indikator tanah dapat dilihat apabila tanah mulai
mongering dan tidak solid. Waktu Penyemprotan Pestisida organic. Pengendalian
secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida dari bawang putih
yang dihaluskan dan diberi tambahan air, pada konsentrasi yang dianjurkan. Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah caranya sehingga
tidak membahayakan jiwa. Selain itu penggunaan pestisida harus tepat waktu,
tepat dosis, dan tepat sasaran. Tepat waktu berarti pemberian pestisida pada waktu
yang tepat yaitu di pagi hari dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB atau
pada sore hari pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Waktu antara pukul 10.0015.00 WIB, suhu udara tinggi sehingga pestisida akan dengan mudah menguap
atau tidak dapat terserap olehta secara sempurna karena stomata mengecil untuk
mengurangi penguapan (untuk pestisida sistemik). Tepat waktu berati pula tepat
dengan cara kerja pestisida kuratif atau preventif dan kontak atau sistemik. Tepat
sasaran berarti pestisida tersebut harus efektif mengendalikan hama dan penyakit.
Tepat dosis berarti sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Dosis yang terlalu tinggi
dapat membahayakan keseimbangan ekosistem karena predator alami akan ikut
mati sedangkan dosis yang terlalu rendah menyebabkan pestisida kurang efektif
dan harus digunakan berulang kali. Keduanya merupakan suatu pemborosan biaya
dan tenaga. Hal terakhir yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida
adalah 2 minggu menjelang panen pestisida tidak boleh digunakan lagi untuk
menghindari keracunan pada konsumen. Pada musim penghujan penggunaan
pestisida ditambahkan perekat dan perata. Perekat dan perata yang biasa
digunakan adalah Agristick dengan dosis 0,25-0,5 ml/liter air.
Hama dan Penyakit
1) Hama
a. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)
Hama ini sering disebut uler lutung (Jawa) atau hileud taneuh (Sunda) dan
Cutworms (Inggris). Serangga dewasa berupa kupu-kupu berwarna coklat tua,
bagian sayap depannya bergaris-garis dan terdapat titik putih. Stadium hama yang
merugikan tanaman adalah ulat atau larva. Ciri: ulat tanah adalah berwarna coklat
sampai hitam, panjangnya antara 4-5 cm dan bersembunyi di dalam tanah. Gejala:
ulat tanah menyerang bagian pucuk atau titik tumbuh tanaman wortel yang masih

muda. Akibat serangan, tanaman layu atau terkulai, terutama pada bagian tanaman
yang dirusak hama. Pengendalian non kimiawi: dilakukan dengan mengumpulkan
ulat pada pagi atau siang hari, dari tempat yang dicurigai bekas serangannya untuk
segera dibunuh, menjaga kebersihan kebun dan pergiliran tanaman.
b. Kutu daun (Aphid, Aphis spp.)
Ciri: kutu daun dewasa berwarna hijau sampai hitam, hidup berkelompok di bawah
daun atau pada pucuk tanaman. Gejala: menyerang tanaman dengan cara
mengisap cairan selnya, sehingga menyebabkan daun keriting atau abnormal.
Pengendalian: mengatur waktu tanam secara serempak dalam satu hamparan
lahan untuk memutus siklus hidupnya.
c. Lalat atau magot (Psila rosae)
Gejala: stadium hama yang sering merusak tanaman wortel adalah larvanya. Larva
masuk ke dalam umbi dengan cara menggerek atau melubanginya. Pengendalian:
pergiliran tanaman dengan jenis yang tidak sefamili.
2) Penyakit
a. Bercak daun Cercospora
Penyebab: cendawan (jamur) Cercospora carotae (Pass.) Solheim. Gejala: pada
daun-daun yang sudah tua timbul bercak-bercak berwarna coklat muda atau putih
dengan pinggiran berwarna coklat tua sampai hitam. Pengendalian: (1) disinfeksi
benih dengan larutan fungisida yang mengandung tembaga klorida satu permil
selama 5 menit; (2) pergiliran tanaman dengan jenis lain yang tidak sefamili; (3)
pembersihan sisa-sisa tanaman dari sekitar kebun; (4) b. Nematoda bintil akar
Penyebab: mikro organisme nematoda Sista (Heterodera carotae). Gejala: umbi dan
akar tanaman wortel menjadi salah bentuk, berbenjol-benjol abnormal.
Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman dengan jenis lain yang tidak sefamili,
pemberaan lahan.
c. Busuk alternaria
Penyebab: cendawan Alternaria dauci Kuhn. Gejala: Pada daun terjadi bercak-bercak
kecil, berwarna coklat tua sampi hitam yang dikelilingi oleh jaringan berwarna hijaukuning (klorotik). Pada umbi ada gejala bercak-bercak tidak beraturan bentuknya,
kemudian membusuk berwarna hitam sampai hitam kelam. Pengendalian: sama
dengan cara yang dilakukan pada Cercospora.
E. Panen
1) Ciri dan Umur Panen
Ciri-ciri tanaman wortel sudah saatnya dipanen adalah sebagai berikut:
Tanaman wortel yang telah berumur 3 bulan sejak sebar benih atau tergantung
varietasnya. Varietas Ideal dipanen pada umur 100-120 hari setelah tanam (hst).
Varietas Caroline 95 hst., Varietas All Season Cross 120 hst., Varietas Royal Cross
110 hst., Kultivar lokal Lembang 100-110 hst.
Ukuran umbi telah maksimal dan tidak terlalu tua. Panen yang terlalu tua
(terlambat) dapat menyebabkan umbi menjadi keras dan berkatu, sehingga
kualitasnya rendah atau tidak laku dipasarkan. Demikian pula panen terlalu awal
hanya akan menghasilkan umbi berukuran kecil-kecil, sehingga produksinya

menurun (rendah).
Khusus bila dipanen umur muda atau Baby Carrot dapat dilakukan dengan
kriteria sebagai berikut:
Umur panen sekitar 50-60 hari setelah tanam.
Ukuran umbi sebesar ibu jari tangan, panjangnya antara 6-10 cm dan
diameternya sekitar 1-2 cm.
2) Cara Panen
Cara panen wortel relatif gampang, yaitu dengan mencabut seluruh tanaman
bersama umbinya. Tanaman yang baik dan dipelihara secara intensif dapat
menghasilkan umbi antara 20-30 ton/hektar.
F. Pascapanen
1) Pengumpulan
Kumpulkan seluruh rumpun (tanaman) wortel yang usai dipanen pada suatu tempat
yang strategis, misalnya di pinggir kebun yang teduh, atau di gudang penyimpanan
hasil.
2) Penyortiran dan Penggolongan
a) Pilih umbi yang baik sambil memisahkan umbi yang rusak, cacat, atau busuk
secara tersendiri.
b) Klasifikasikan umbi wortel yang baik berdasarkan ukuran dan bentuknya yang
seragam.
3) Penyimpanan
Simpan hasil panen wortel dalam wadah atau ruangan yang suhunya dingin dan
berventilasi baik.
4) Pengemasan dan Pengangkutan
a. Ikat umbi wortel menjadi ikatan-ikatan tertentu sehingga praktis dalam
pengangkutan dan penyimpanannya.
b. Potong sebagian tangkai daun untuk disisakan sekitar 15-20 cm.
c. Angkut hasil wortel ke pasar dengan menggunakan alat angkut yang tersedia di
daerah setempat.
Khusus untuk sasaran pasar Swalayan, Gelael, Hero, dan lain-lain di kota-kota besar,
umbi wortel biasanya dikemas dalam kantong plastik atau kontainer polietilin
bening.
G. Rotasi lahan
Rotasi lahan atau pergiliran lahan adalah pengaturan susunan urut-urutan lahan
dalam bentuk blok-blok yang sistematis pada suatu tempat dalam luasan areal
tertentu. Tujuan rotasi lahan yang dilakukan oleh adalah sebagai berikut:
a. Menjaga struktur dan kesuburan tanah
Suatu tanaman memrlukan unsure hara tertentu dalam jumlah lebih besar dan
menyisakan unsur hara lainnya yang diperlukan oleh tanaman lain. Adanya
pergiliran lahan, unsur hara pada tiap-tiap blok dapat terjaga keseimbangannya.
b. Menjaga keseimbangan ekosistem.
Budidaya satu jenis tanaman pada satu lahan secara terus menerus dapat

menyebabkan pertumbuhan hama dan penyakit tidak terkendali.


c. Mengendalikan hama dan penyakit secara alami.
Budidaya satu jenis tanaman pada satu lahan secara terus menerus dapat
menyebabkan pertumbuhan hama dan penyakit tidak terkendali, dengan rotasi
lahan populasi hama dan penyakit akan terkontrol secara alami karena tumbuhan
yang tumbuh berganti atau hama dan penyakit tersebut kehilangan inangnya.
2.3 Gambaran Peluang Agribisnis Budidaya Wortel
Prospek pengembangan budidaya wortel di Indonesia amat cerah. Selain keadaan
agroklimatologis wilayah nusantara cocok untuk wortel, juga akan berdampak
positif terhadap peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat,
perluasan kesempatan kerja, pengembangan agribisnis, pengurangan impor dan
peningkatan ekspor.
Produktivitas wortel di Indonesia masih rendah. Pada tahun 1985 hasil rata-rata
nasional baru mencapai 9,43 ton/hektar, kemudian tahun 1986 hanya 8,90
ton/hektar, dan tahun 1991 sekitar 12,89 ton/hektar. Rendahnya hasil rata-rata
tersebut antara lain dikarenakan masih terbatasnya varietas wortel unggul dan
tehnik budidaya yang belum intensif. Disamping itu, paket teknologi budidaya hasil
penelitian komoditas wortel relatif masih terbatas.
Usaha tani wortel secara intensif sistem agribisnis memberikan keuntungan yang
memadai. Potensi daya hasil wortel varietas unggul dapat mencapai antara 20-25
ton/ha. Bila harga jual rata-rata Rp 1.500,-/kg keuntungan bersih usahatani wortel
selama 3 bulan dapat mencapai lebih dari Rp 15 juta/hektar. Bahkan akhir-akhir
ini peluang pasar wortel makin luas dan beragam, diantaranya adalah bentuk umbi
segar, umbi beku segar dan umbi muda segar.
2.4 Standar Produksi
A. Ruang Lingkup
Standar mutu: Jenis dan standar mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat
penandaan dan pengemasan.
B. Diskripsi
Standar mutu wortel tercantum dalam standar Nasional Indonesia SNI 01-31631992.

C. Klasifikasi dan Standar Mutu


Wortel segar digolongkan dalam dua jenis mutu yaitu mutu I dan mutu II
diantaranya :
a) Keasaman sifat varietas : mutu I= seragam; mutu II= seragam; cara pengujian=
organoleptik.

b) Kekerasan : mutu I= keras; mutu II= keras; cara pengujian= organoleptik.


c) Warna : mutu I : normal; mutu II= normal; cara pengujian= organoleptik.
d) Kerataan permukaan : mutu I= cukup rata; mutu II= cukup rata.
Tekstur : mutu I = tidak mengayu; mutu II= tidak mengayu; cara pengujian=
organoleptik.
e) Tekstur : mutu I = tidak mengayu; mutu II= tidak mengayu; cara pengujian=
organoleptik.
f) Kerusakan (% ): mutu I= 5; mutu II= 10; cara pengujian =SP-SMP-301-1981.
g) Busuk (%) : mutu I = 2; mutu II= 2.
D. Pengambilan Contoh
Cara pengambilan contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat
pada daftar dibawah ini. Dari setiap kemasan diambil contoh sebanyak 20 umbi dari
bagian atas tengah dan bawah. Khusus untuk pengujian kerusakan dan yang busuk,
jumlah contoh akhir yang diuji adalah 100 umbi. Pelaksanaan dapat dilakukan di
lapangan. Jumlah kemasan yang diambil dalam pengambilan contoh dalam lot
adalah:
a) Jumlah kemasan 1 sampai 100, contoh yang diambil=5.
b) Jumlah kemasan 101 sampai 300, contoh yang diambil=7.
c) Jumlah kemasan 301 sampai 500, contoh yang diambil=9.
d) Jumlah kemasan 501 sampai 1000, contoh yang diambil=10.
e) Jumlah kemasan lebih dari 1000, contoh yang diambil=minimum 15.
E. Pengemasan
Cara pengemasan wortel disajikan dalam bentuk utuh dan segar, dikemas dengan
keranjang atau bahan lainnya yang berat bersih maksimum 65 Kg, di tutup dengan
anyaman bambu atau bahan lain kemudian diikat dengan tali rotan. Isi tidak
melebihi permukaan kemasan.
Untuk pemberian merek di bagian luar keranjang diberi label yang dituliskan antara
lain:
a) Nama barang.
b) Jenis mutu.
c) Nama/kode perusahaan/ eksportir.
d) Berat bersih.
e) Produksi Indonesia.
f) Negara/tempat tujuan.
2.5 Pemasaran dan Ekspor Impor
F. Manajemen Pemasaran
Menurut Kotler (2000), pemasaran adalah suatu proses social yang didalamnya
individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan
dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk

yang bernilai dengan pihak lain.


Manajemen pemasaran dari komoditas wortel yaitu sebagai berikut :
Wortel yang dikirim menggunakan kendaraan yang dilengkapi cold box di timbang
ulang kemudian dimasukkan cold storage dengan suhu 6-7 0C. Proses penimbangan
ulang yang dilakukan hanya sebagai cara untuk memeriksa ulang berat sayuran
yang bersangkutan. Pengemasan baru dilakukan saat menerima order dari
konsumen.
G. Pengemasan
Pengemasan dilakukan pagi hari setelah order diterima pada hari sebelumnya.
Pengemasan wortel dapat dibedakan menjadi 2 bentuk. Bentuk pertama dikemas
dalam plastik dan di press yang dikenal dengan kemasan pepito berisi 1 kg
wortel. Bentuk kedua menggunakan styrofoam yang dibungkus dengan plastik film
atau wraping, berisi 1 kg wortel pula. Pengemasan ini bertujuan memperindah
penampilan dan mengurangi transpirasi.
Menurut Agrobis (2000), terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pembuatan kemasan yaitu:
a.Desain harus menarik, informative, dan memberikan image yang baik, kuat,
namun mudah di buka.
b.Informasi dan pelabelan, jelas berisi perihal perusahaan, macam produk, cara
penyimpanan, dll.
Menurut Nur Berlian V.A dan Estu R. (2000), pengemasan merupakan suatu cara
untuk melindungi atau mengawetkan wortel,juga memperlancar transportasi dan
distribusi ke konsumen. Kemasan yang biasa digunakan dibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Kemasan karung plastik untuk tujuan ke pasar induk atau grosir.
b. Kemasan film plastik sehingga tampil baik, rapi, dan menarik untuk keperluan
dijual di supermarket.
Perkembangan Ekspor Wortel
Jepang merupakan target pasar yang baik untuk komoditas sayur-sayuran di masa
yang akan datang. Hal ini terlihat dari tingginya impor komoditas tersebut selama
25 tahun terakhir. Wortel dan lobak misalnya, walaupun produksi dalam negerinya
cukup baik, tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Pada tahun 1993, produksi wortel dan lobak adalah sebesar 709.000 ton akan tetapi
Jepang masih mengimpor komoditi tersebut sebesar 9.266 ton, dengan nilai 677
million. Pada tahun 1994, volume impor malah meningkat menjadi 18.212 ton,
dengan nilai 1.2 billion.
Pada saat ini negara pengekspor wortel dan lobak ke Jepang adalah Taiwan, China,
USA, New Zealand and Australia. Indonesia belum berpartisipasi banyak dalam
mensuplai komodtitas tersebut ke Jepang. Pada tahun 1993, volume ekspor
Indonesia terhadap komoditi tersebut hanya 7 ton, dengan nilai 1.3 million, tetapi
pada tahun 1994 ekspor Indonesia tidak ada sama sekali. Hal ini merupakan
fenomena yang kurang baik bagi perdagangan wortel kita mengingat produksi
wortel Indonesia sangat baik.

Produksi Dalam Negeri


Luas areal tanam untuk wortel di Jepang terus berkurang dari tahun ke
tahun.berkurang dari tahun ke tahun. Kalau pada tahun 1987 luas arealnya adalah
23.000 ha maka pada tahun 1992 luas arealnya hanya 2.300 ha. Namun demikian
produksi wortel dalam negeri tidak mengalami penurunan bahkan, sebaliknya.
Pada tahun 1987 produksi wortel dalam negeri sebesar 669.300 ton, sedangkan
pada tahun 1992 produksinya naik menjadi 690.300 Mts. Ini berarti bahwa ada
peningkatan produksi untuk wortel. Bahkan pada tahun 1993 produksi dalam
negerinya meningkat menjadi 709.000 ton.
Berbeda dengan lobak, luas areal tanam untuk komoditi ini mengalami penurunan
tetapi tidak sedrastis pada tanaman wortel. Demikian juga produksinya mengalami
penu-runan dari tahun ke tahun selama periode 1987-1992. Total produksi lobak
pada tahun 1992 (197.700 ton) turun sebesar 8,7 % dibandingkan dengan total
produksi dalam negeri tahun 1987.
H. Konsumsi Dalam Negeri
Konsumsi dalam negeri dihitung dengan mengurangi total volume ekspor dari
produksi dalam negeri dan impor. Dari data statistik perdagangan pertanian Jepang
terlihat bahwa ekspor wortel dan lobak dimulai pada tahun 1994. Oleh karena data
produksi pada tahun tersebut tidak tersedia maka angka konsumsi dalam negeri
akan dihitung berdasarkan data pada tahun 1992.
Pada tahun 1992 produksi dalam negeri wortel dan lobak adalah 888.000 ton.
Sedangkan total import untuk komoditas tersebut pada tahun yang sama adalah
2.967 ton. Karena kegiatan ekspor untuk komoditas tesebut pada tahun 19 pada
tahun 1992 belum ada, maka konsumsi domestik untuk wortel dan lobak adalah
890.967,4 ton. Jika jumlah penduduk jepang pada tahun tersebut sebanyak
124.452.000 orang, maka konsumsi per kapita untuk komoditas tersebut adalah 7.2
kg.
I. Musim Impor
Musim sangat penting diperhatikan bila ingin terjun dalam bisnis sayur-sayuran di
pasar Jepang karena hal ini sangat berpengaruh terhadap produksi dan konsumsi
dalam negeri negara Sakura tersebut. Walaupun dari statistik perdagangan terlihat
bahwa kegiatan impor wortel dan lobak ini berjalan sepanjang tahun namun ada
bulan-bulan tertentu dimana kegiatan impornya sangat intensif sehingga volume
impornya pada periode tersebut lebih tinggi dari bulan lainnya.
Pada tahun 1994, total volume impor dari wortel dan lobak adalah 18,212 ton. Dari
jumlah tersebut, sebanyak 23.6 % nya disupplai pada bulan Desember. Hal ini
disebabkan karena musim dingin pada bulan tersebut yang menyebabkan produksi
sayur-sayuran di Jepang terhenti sama sekali. Pada bulan Februari volume impornya
sangat rendah, yaitu hanya sebesar 0.01 % dari total impor pada tahun1994
tersebut. USA, Taiwan, Australia and New Zealand adalah negara yang paling

konsisten melakukan kegiatan ekspor selama tahun 1994 . USA (kecuali Januari) dan
Taiwan (kecuali Februari) mengeskpor wortel dan lobak sepanjang tahun. New
Zealand absen pada bulan Januari dan Oktober dan Australia absen pada bulan
Januari dan Februari. Korea Selatan mengekspor wortel dan lobak ke Jepang hanya
pada bulan Desember.
J. Sistem Distribusi
Umumnya semua produk-produk pertanian yang di impor ke Jepang (termasuk
wortel dan lobak) melalui sistem pasar induk. Salah satu perusahaan yang bergerak
dalam hal ini adalah Seiko yang biasanya membeli produk-produk pertanian melalui
importir dan kemudian menjualnya lagi ke pasar induk yang lebih kecil. Dari sini
kemudian produk tersebut masuk ke distributor, supermarket dan ke
retailer.Beberapa importer menjual produknya langsung ke supermarket.
K. Prospek Ekspor Dari Indonesia
Mengingat produksi wortel di Indonesia sangat baik dan petani kita sudah
berpengalaman dalam budidaya wortel, maka terbuka kemungkinan untuk
mengarahkan ekspor wortel kita ke Jepang. Untuk itu memang harus dilakukan
penelitian akan kriteria/karakteristik yang dikehendaki oleh konsumen Jepang.
Khususnya pada saat ini, wortel dan lobak belum termasuk daftar sayuran yang
dilarang untuk diimp sayuran yang dilarang untuk diimpor dari Indonesia, sehingga
lebih mempermudah proses ekspor komoditi tersebut ke Jepang.
Pada tahun 1993, luas areal pertanaman wortel adalah 15.558 ha dimana hampir
separuhnya ada di Jawa, dengan total produksi wortel segar sebesar 201.332 ton.
Dari jumlah tersebut yang diekspor baru sejumlah 3.034 ton dengan nilai US$
402.825. Daerah penghasil utama wortel adalah Jawa Barat, Sumatera Utara,
Bengkulu, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

BAB III
ANALISIS USAHA TANI WORTEL
Berikut ini merupakan contoh analisis usaha wortel dengan pedoman harga yang
berlaku di Jawa Timur pada tahun 2009. Modal usaha diperoleh dari pinjaman
dengan bunga 2% per bulan. Analisis usaha monokultur wortel
3.1. Biaya produksi
Biaya Tetap ( investasi )
No Barang Harga Satuan Jumlah Barang Total
1 Gembor Rp 40.000 15 Rp 600.000
2 Pacul Rp 20.000 10 Rp 200.000
3 Pembuatan Tempat Istirahat
4 x 2 m Rp 1.000.000 1 Rp 1.000.000
TOTAL Rp 1.800.000
Biaya Tidak Tetap ( variabel )
No Barang Harga Satuan Jumlah Barang Total
1 Sewa Lahan Rp 700.000/Ha/4 bulan 1 Rp 700.000
2 Benih wortel Rp 750/gram 2000 Rp 1.500.000
3 Pupuk Kompos Rp 2.500/sak 300 Rp 750.000
4 Pestisida Organik Rp 30.000/ karung 17 Rp 510.000
5 Tenaga Kerja 10 orang Rp 200.000 10 Rp 2.000.000
6 Plastik jaring panen Rp 10.000/karung 250 Rp 2.500.000
7 Jasa transportasi panen Rp 200.000 1 Rp 200.000
8 Pinjaman selama 4 bulan
2 %x Rp 9.910.000x4bulan Rp 198.200 4 Rp 792.800
TOTAL Rp 8.902.800
Biaya produksi = 1.800.000 + 8.902.800
= 10.702.800

3.2. Hasil penjualan


Dalam 1 ha, dapat ditanami sekitar 500.000 tanaman wortel. Apabila setiap
tanaman menghasilkan sekitar 50 g umbi dengan harga Rp. 1.500 per kg maka
hasil penjualan yang dapat diperoleh adalah 500.000 tanaman x 0,05 kg x Rp.
1.500,00 = Rp. 37.500.000
3.3. Keuntungan
Keuntungan kotor = hasil penjualan biaya produksi
= Rp. 37.500.000 Rp. 10.702.800
= Rp. 26.797.200
Keuntungan bersih = keuntungan kotor hutang
= Rp. 26.797.200 Rp. 9.910.000
= Rp. 16.887.200
3.4. Kelayakan usaha
1) Break even point (BEP)
BEP produksi = Rp. 10.702.800 = 7.135
Rp. 1500
Usaha menanam wortel akan mencapai titik impas pada produksi 7.135 kg per
hektar atau 14,27 g per tanaman.
BEP harga = Rp. 10.702.800 = Rp. 428,112
25.000 kg
Dari segi harga, usaha tani wortel akan mencapai titik impas saat harga jualnya Rp.
428,112 per kg
2) Return of investment (ROI)
ROI = Rp.37.500.000 x 100% = 3,50%
Rp. 10.702.800
Hasil tersebut menandakan bahwa dari modal sebesar Rp 100 akan diperoleh
pendapatan sebesar Rp. 350.
3) Benefit cost ratio (B/C)
B/C = Rp. 16.887.200 = 1,57
Rp. 10.702.800
Dengan hasil 1,57 berarti bahwa dari modal yang dikeluarkan diperoleh keuntungan
sebesar 157%

BAB IV
KESIMPULAN
Budidaya tanaman wortel tidak sesulit dari tanaman sayuran yang lain, proses
budidaya hanya diperhatikan ketinggian tempat.
Agar tidak mudah terserang hama dan penyakit tanaman akibat dari budidaya
monokultur secara terus menerus maka dilakukan upaya rotasi lahan tanam.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.2014.http://www.amarta.net/amarta/successstory/ID/AMARTA
%20success%20story%20Sept%2008-%20Carrot%20FINAL%20Indon.pdf .Diakses
pada tanggal 12 Mei 2014
Anonymous.2014.http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/wortel-daucuscarrota-l-i.html.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2014.http://ayobertani.wordpress.com/2009/04/27/budidaya-wortel/.
Diakses pada tanggal 12 Mei 2014
Anonymous.2014.http://www.biotama.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=55&Itemid=1.Diakses pada tanggal 12 Mei
2014