You are on page 1of 6

Acta Pharmaciae Indonesia

1(1) 16-21

Pengawet Alami Ekstrak Etanol Daun Ketepeng Cina (Cassia alata Linn) pada
Sediaan Sirup Herbal Tomat
Natural Preservation Ethanol Extract Ketepeng Cina Leaf (Cassia alata Linn) in
The Tomato Herbal Syrup
ABSTRAK

Deny Kurniawan,
Retno
Wahyuningrum,
Binar Asrining
Dhiani
Fakultas Farmasi
Universitas
Muhammadiyah
Purwokerto
e-mail:
binar_ad@yahoo.com

Kata kunci:
Ketepeng Cina
Pengawet Alami
Sirup Herbal Tomat
Keywords:
Ketepeng Cina
Natural
Preservative
Tomato Herbal Syrup

Penggunaan antimikroba atau pengawet sintetik secara terus menerus pada makanan, seperti
formalin, dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Berdasarkan fenomena tersebut di lingkungan
masyarakat mendorong manusia untuk mencari solusi yang terbaik bagi kesehatan. Solusi yang
dilakukan antara lain dengan mencari alternatif pengganti pengawet sintetis dengan menggunakan
pengawet alami yang dapat diperoleh dari tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan
kemampuan ekstrak etanol daun ketepeng cina dengan beberapa konsentrasi (FI: 0, FII: 5, FIII: 10,
dan FIV: 20 mg/ml) sebagai pengawet pada sediaan sirup herbal tomat. Jenis penelitian ini adalah
eksperimental yang dilakukan dengan menguji cemaran mikroba pada sirup herbal tomat yang
dinyatakan dengan Angka Lempeng Total (ALT) dan Angka Kapang/Khamir Total (AKT). Hasil
pengujian sirup sebelum dilakukan uji stabilitas dipercepat menunjukan adanya kontaminasi bakteri
dan kapang/khamir pada sirup FI yang melebihi standar batas kontaminasi yang disyaratkan oleh
Standar Nasional Indonesia (SNI). Setelah dilakukan uji stabilitas dipercepat pada sirup terlihat
penurunan kemampuan ekstrak etanol ketepeng cina dalam mengawetkan sirup dari cemaran
mikroba. Ekstrak etanol ketepeng cina mempunyai kemampuan sebagai bahan pengawet pada sirup
herbal tomat, namun mengalami penurunan aktivitas untuk mengawetkan sirup dari cemaran
mikroba setelah dilakukan uji stabilitas dipercepat. Perubahan bau terjadi setelah dilakukan uji
stabilitas pada siklus ke-10. Ektrak ketepeng cina hanya mampu mengawetkan sirup herbal tomat
untuk jangka waktu 1 bulan.
Consumption of synthetic antimicrobial and preservatives in foods continuously, such as formalin
can promote various diseases. Based on this phenomenon people is encouraged to find the best
solution for the health. Natural preservatives obtained from the plant are act as an alternative from
synthetic preservatives. This study was aimed to determine the ability of ethanolic extract of
ketepeng cina leaves in different concentration (FI: 0, FII: 5, FIII: 10, dan FIV: 20 mg/ml) as a
preservative in tomato herbal syrup. This research conducted by testing the microbial contamination
on tomato herbal syrup which was indicated by Total Plate Count (ALT) and Total Fungi / Yeast
Count (AKT). The results showed that the contamination of bacteria and fungi / yeast in the FI syrup
contamination prior to accelerated stability test exceeded the limit of standards required by the
Indonesian National Standard (SNI). After accelerated stability test, the syrup exhibited decreasing
ability of ethanolic extract of ketepeng cina leaves as preservative in natural syrup from microbial
contamination. Ethanolic extract of Cassia alata leaves could act as preservative in syrup herbal
tomato, however exhibited the decreasing ability after the stability test to preserve the syrup from
microbial contamination. A change in odor occurs after stability test on the cycle-10. Cassia alata
leaf extract ethanol was able to preserve tomatoes herbal syrup for a period of 1 month.

Pendahuluan
Penggunaan antimikroba sintetik atau pengawet
sintetik secara terus menerus pada makanan seperti
formalin dapat menyebabkan timbulnya penyakit
(Hastuti, 2010). Berdasarkan fenomena yang sering
terjadi di lingkungan masyarakat tersebut mendorong
manusia untuk mencari solusi yang terbaik bagi

kesehatan. Solusi yang dilakukan adalah mencari
alternatif pengganti pengawet sintetis dengan
menggunakan pengawet alami yang dapat diperoleh
dari tanaman.
Salah satu tanaman yang banyak ditanam di
pekarangan dan dimanfaatkan oleh manusia dalam
kehidupan sehari-hari sebagai obat adalah ketepeng

16

Terakhir. (2005) ekstrak alkohol ketepeng cina mampu menghambat pertumbuhan mikroba Mucor sp.05%. Escherichia coli. Proses ekstraksi Sampel daun ketepeng cina yang sudah menjadi serbuk sebanyak 200 gram direndam menggunakan 2000 ml pelarut etanol 96% dalam maserator. dan antrakuinon yang berpotensi sebagai antibakteri dan antijamur.1% (pengenceran pertama= x 10-1). penelitian untuk menguji ekstrak etanol daun ketepeng cina sebagai pengawet alami sediaan obat telah dilakukan pada sediaan sirup herbal tomat. Rhizopus sp. Konsentrasi penghambatan minimum (MIC) juga dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa MIC ketepeng cina pada semua dermatofit diuji 5. 2010). di diamkan selama 5 hari dengan pengadukan selama 30 menit setiap hari. Sebanyak 50 ml perasan tomat dicampur dengan air sebanyak 50 ml dalam sebuah panci. pelarut etanol 96%. Konsentrasi hambat minimum (MIC) pada jamur sebesar 70 μg/ml.25% b/v (FV) dimasukan serta diaduk perlahan secara merata. Larutan pengencer pepton 0. akuades ditambahkan hingga volume 100 ml dan sirup disaring (Badan POM RI. Dhiani cina (Cassia alata L).1% dan Air Suling Agar 0. terpenoid. Pembuatan sirup tomat Sirup tomat dibuat dengan cara merebus menggunakan air. Sukrosa. yang dapat digunakan sebagai antikanker dan antioksidan (Chengaiah et al. Kemudian gula (sukrosa) sebanyak 65 gram dimasukkan ke dalam panci. (2010) dalam penelitiannya menyebutkan ekstrak etanol daun ketepeng cina memiliki efek antijamur pada Microsporum canis. Campuran tersebut dipanaskan di atas tangas air selama 30 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 oC sambil sekalisekali diaduk. (2010) menyatakan bahwa dalam daun ketepeng cina terdapat tanin. Sebanyak 1 ml sampel dilarutkan dalam 9 ml larutan pengencer ASA (pengenceran pertama = x 10-1). Campuran ini dibiarkan hingga mencapai suhu 30 oC. Berdasarkan uraian di atas.. Cawan petri selanjutnya diinkubasi pada temperatur 35 – 37 oC selama 24 – 48 jam dalam posisi terbalik. Sebanyak 1 ml suspensi hasil pengenceran sampel dituang ke dalam cawan petri.5 mg/100g (Tanti dan Sunarmani. R. Pseudomonas aeruginosa. A. flavonoid. Saccharomyces. Bahan dan Metode Bahan Daun ketepeng cina. Media untuk uji Nutrient Agar (NA) dan Potato Dextrose Agar (PDA). B. 2008). Aspergillus niger. 2010). Sule et al. Ekstrak yang diperoleh dipekatkan dengan menggunakan water bath. masing-masing dilakukan replikasi duplo. karbohidrat. Kemudian campuran diserkai selagi panas melalui kain flannel. FIII 10 mg/ml.17 D. Tomat.0 mg/ml yang merupakan standar. sedangkan konsentrasi hambat minimum (MIC) pada bakteri sebesar 890 μg/ml. Ekstrak air buah tomat dimasukan dalam panci. Senyawa likopen yang terkandung pada jus tomat sebesar 9. alkaloid. Bacillus subtilis. Pengujian angka kapang/khamir total dilakukan 3 kali pengambilan sampel. Ketepeng cina biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk obat panu. dipanaskan pada suhu 50 oC dan diaduk secara perlahan hingga homogen. dan FIV 20 mg/ml) dan natrium benzoat 0. Pengujian Angka Lempeng Total dilakukan tiga kali pengambilan sampel. saponin. Pengujian cemaran bakteri Pengujian cemaran bakteri dari sampel sirup herbal tomat dilakukan dengan uji angka lempeng total. masing-masing dilakukan . dan Epidermophyton jlorrcosum. Ekstrak etanol daun ketepeng cina (FI 0 mg/ml. Penghitungan jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada media dilakukan sesuai cara perhitungan yang ditetapkan oleh Badan POM. Pengujian cemaran kapang/khamir Pengujian cemaran kapang/khamir dari sampel sirup herbal tomat dilakukan dengan uji angka kapang/khamir total. Maulida dan Naufal (2010) menyatakan bahwa ekstrak buah tomat memiliki aktifitas sebagai antioksidan. Air. Candida albicans. Trichophyton verrucosum. kudis. Sebanyak 1 ml sampel dilarutkan dalam 9 ml larutan pengencer pepton 0. FII 5 mg/ml. kemudian disaring. Trichophyton mentagrophytes. Ke dalam setiap cawan petri tersebut dituangkan 12–15 ml media NA steril yang telah dicairkan dengan temperatur media berkisar pada 40 oC. Salmonella typhi.1% steril (pengenceran kedua= x10-2). Selanjutnya dari pengenceran tersebut dipipet 1 ml dan masukkan dalam 9 ml larutan pepton 0. steroid. Selanjutnya dari pengenceran tersebut dipipet 1 ml dan dimasukkan dalam 9 ml larutan ASA steril (pengenceran kedua = x10-2). Wahyuningrum. dan kurap. Sule et al. Kurniawan. Menurut Owoyale et al. Sebagai kontrol digunakan media NA dan larutan pengencer pepton. dan Staphylococcus aureus.

dengan menghitung koloni bakteri pada serial pengenceran formula sirup. FIII.5 x 102 koloni/ml. hampir menyerupai bakteri. dimana satu siklus mengalami perlakuan 12 jam disimpan dalam suhu 5 oC. 1989). Ekstrak kental yang dihasilkan dari 250 gram serbuk simplisia adalah 55. 2009). Standar batas kontaminasi bakteri yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada sediaan sirup yaitu sebesar 5 x 10-2 koloni/ml. Maka sirup FII. FIV yang mengandung bahan pengawet ekstrak ketepeng cina dan sirup FV yang mengandung pengawet natrium benzoat masih dianggap aman untuk di konsumsi. 18 . Metode yang digunakan adalah uji angka lempeng total. kemudian 12 jam disimpan dalam suhu 35 oC. Uji stabilitas sirup Stabilitas sirup dilakukan sampai siklus ke-10 menggunakan metode kondisi dipaksakan (stress condition). Hasil dan Pembahasan Pembuatan ekstrak etanol daun ketepeng cina Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi dengan menggunakan penyari etanol 96%. Pengujian terhadap larutan pepton sebagai bahan pengencer tidak menunjukkan adanya kontaminasi bakteri. Uji cemaran bakteri Pada pengujian ini diketahui seberapa besar cemaran bakteri pada sediaan sirup herbal tomat. Pembuatan sirup herbal tomat Pembuatan sirup dilakukan dengan cara pemanasan dan penelitian ini dirancang dengan membuat lima formula sirup dengan perbedaan penambahan ekstrak ketepeng cina sebagai bahan pengawet yaitu FI (0 mg/ml). sedangkan standar batas kontaminasi kapang dan khamir sebesar 1 x 10-2 koloni/ml (SNI.01 % (b/b).02 gram. Hasil pengujian ini dibandingkan dengan standar uji cemaran mikroba SNI 7388: 2009.25% b/v). FIII. Dari hasil perhitungan jumlah kontaminasi bakteri melalui uji angka lempeng total dari seluruh formula sirup tomat diketahui bahwa pada minggu kedua dan ketiga pada sampel sirup FI menunjukan jumlah angka kontaminasi bakteri melebihi standar batas kontaminasi bakteri yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada sirup yang disyaratkan oleh SNI 7388: 2009 yaitu sebesar <5 x 102 koloni/ml. Dari perhitungan didapat % rendemen ekstrak etanol daun ketepeng cina yaitu 22. dan FV selama tiga minggu pengujian tidak menunjukan adanya kontaminasi bakteri. Media PDA steril yang telah dicairkan dan didinginkan pada temperatur 400 C ditambahkan 4 ml kloramfenikol (1 g/100 ml). Cawan petri selanjutnya diinkubasi pada temperatur 20-25 oC selama 3-5 hari. permukaan kasar dan koloni khamir memiliki bentuk bulat kecil putih. FIII (10 mg/ml). yang mengandung kloramfenikol. Pada minggu ke-2 formula sirup FI diketahui bahwa jumlah kontaminasi bakteri 5.5 ml suspensi hasil pengenceran sampel dituang pada permukaan media PDA yang telah beku dalam piring petri. Penghitungan jumlah koloni kapang/khamir yang tumbuh pada media dilakukan sesuai cara perhitungan yang ditetapkan oleh Badan POM. Metode ini relatif lebih disukai untuk mengevaluasi kestabilan sirup karena waktu yang digunakan untuk pengamatan bisa lebih singkat dibandingkan dengan penyimpanan pada suhu kamar (Lachman et al. Analisis data Hasil penghitungan angka lempeng total dibandingkan dengan standar uji cemaran mikroba SNI 7388: 2009. Metode yang digunakan adalah uji angka kapang/khamir total. FIV. sirup ini juga mengandung gula yang merupakan media pertumbuhan yang baik bagi mikroba. Sedangkan pada sampel sirup FII.. FV (natrium benzoat 0. dan dituang ke dalam cawan petri hingga membeku. FIV (20 mg/ml).Acta Pharmaciae Indonesia 1(1) 16-21 replikasi duplo. Sebanyak 0. Sebagai kontrol digunakan media dan larutan pengencer (ASA). hal ini berarti bahwa larutan pepton tersebut bukan sumber penyebab kontaminasi terhadap sirup yang diujikan. Koloni kapang seperti kapas atau bulat dengan berbagai warna. Uji cemaran kapang/khamir Pada pengujian ini diketahui seberapa besar cemaran kapang/khamir pada sediaan sirup herbal tomat. FII (5 mg/ml). Karena selain menggunakan pembawa air. dan diratakan dengan bantuan spreader glass. dengan menghitung koloni kapang/khamir pada serial pengenceran formula sirup. Penggunaan ekstrak ketepeng cina dan natrium benzoat dimaksudkan sebagai pengawet untuk menjaga sirup dari kontaminasi mikroba.5 x 102 koloni/ml dan pada minggu ke-3 jumlah kontaminasi bakteri meningkat menjadi 17.

5x102 koloni/ml dan pada sirup FII diketahui jumlah kontaminasi kapang/khamir adalah sebesar 5x102 koloni/ml. Evaluasi yang dilakukan setelah dilakukan uji stabilitas pada sirup herbal tomat adalah uji cemaran bakteri dan uji cemaran kapang/khamir. Pengujian terhadap larutan ASA sebagai bahan pengencer tidak menunjukkan adanya kontaminasi kapang/khamir. Sedangkan pada sampel sirup FII. dan FV Kemampuan daun ketepeng cina dalam mengawetkan ini disebabkan karena kandungan senyawa dalam daun ketepeng cina yang masih stabil dalam kurun waktu tertentu.5 x102 koloni/ml. Kurniawan.5x102. yaitu sebesar <1 x 10 2 koloni/ml. Jumlah kontaminasi kapang/khamir pada sirup FI adalah sebesar 1. terpenoid. Pengujian terhadap larutan ASA sebagai bahan pengencer tidak menjukan adanya kontaminasi kapang/khamir. dan antrakuinon yang berpotensi sebagai antibakteri dan antijamur (Sule et al. begitu juga dengan pengawet natrium benzoat pada sirup FV. steroid. Pada pengujian minggu ke-3 diketahui untuk sirup FI menunjukan jumlah angka kontaminasi kapang/khamir melebihi standar batas kontaminasi pada sirup yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi yang disyaratkan oleh Standar Nasional Indonesia 7333: 2009.. FIII. saponin. Maka ekstrak ketepeng cina dan natrium benzoat sebagai bahan pengawet pada sirup tidak stabil sebagai pengawet terhadap bakteri setelah dilakukan uji stabilitas. FIV yang mengandung bahan pengawet ekstrak ketepeng cina dan sirup FV yang mengandung pengawet natrium benzoat masih dianggap aman untuk di konsumsi. Jumlah angka kontaminasi bakteri pada masing-masing sirup FI. FII. FIV. Pada pengujian terhadap larutan pepton sebagai bahan pengencer tidak menunjukkan adanya kontaminasi bakteri. A. hal ini berarti bahwa larutan ASA tersebut bukan sumber penyebab kontaminasi terhadap sirup yang diujikan. Tetapi ekstrak ketepeng cina yang terdapat pada sirup FIII dan FIV dengan konsentrasi masing-masing sebesar 10 dan 20 mg/ml ekstrak masih stabil untuk digunakan sebagai pengawet terhadap kapang/khamir setelah dilakukan uji stabilitas. FIV. 2010) masih dapat stabil dalam kurun waktu tertantu dalam sediaan sirup herbal tomat. hal ini berarti bahwa larutan pepton tersebut bukan sumber penyebab kontaminasi terhadap sirup yang diujikan. karbohidrat. Maka sirup FII. dan FV) menunjukkan jumlah angka kontaminasi bakteri melebihi standar batas kontaminasi yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada sirup yang disyaratkan oleh SNI 7388: 2009 sebesar <5x102 koloni/ml. Berdasarkan hasil uji cemaran bakteri Tabel 3 diketahui bahwa pada semua sampel sirup tomat (FI. B. dan FV selama tiga minggu pengujian tidak menunjukan adanya kontaminasi kapang/khamir. Uji stabilitas sirup . 100.5x102. 74x102. Pada sampel sirup tomat FI diketahui bahwa kontaminasi kapang/khamir sebesar 7. Senyawa tanin. FIII. yaitu sebesar 1x102 koloni/ml. FII. Berdasarkan hasil uji cemaran kapang/khamir Tabel 4 diketahui bahwa sirup FI dan FII menunjukan jumlah angka kontaminasi kapang/khamir melebihi standar batas kontaminasi yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada sirup yang disyaratkan oleh SNI 7388: 2009. Wahyuningrum. hal ini berarti bahwa larutan ASA tersebut bukan sumber penyebab kontaminasi terhadap sirup yang diujikan. Untuk pengamatan stabilitas sirup dilakukan sesudah perlakuan siklus ke-10. Dari hasil perhitungan jumlah kontaminasi kapang/khamir melalui uji angka kapang/khamir dari seluruh formula sirup herbal tomat diketahui bahwa pada minggu ke-1 dan minggu ke-2 seluruh formula sirup tidak menunjukan adanya kontaminasi dari kapang/khamir. FIII. Dari hasil tersebut diketahui bahwa ekstrak ketepeng cina pada sirup FII dengan konsentrasi 5 mg/ml ekstrak tidak stabil sebagai pengawet terhadap kapang/khamir setelah dilakukan uji stabilitas. 194. R.19 D. adalah sebesar 215x102. FIII. flavonoid. alkaloid. FIV. Dhiani Hasil pengujian ini dibandingkan dengan standar uji cemaran mikroba SNI 7388: 2009. dan 47x102 koloni/ml.

Alagusundaram. Semarang. Antifungal and Antibacterial 20 . Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Formaldehid pada Ikan Asin di Madura. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta.. J. Hastuti S. G. D.. Aseton. I. B.Acta Pharmaciae Indonesia 1(1) 16-21 Tabel 1 Jumlah Koloni Bakteri pada Uji Cemaran Bakteri Waktu Uji Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Keterangan * koloni/ml.O. Deputi II. Skripsi. Angka Lempeng Total (CFU) / ml Pengencer Pepton FI FII FIII FIV FV 0 0 0 0 0 0 550* 0 0 0 0 0 1750* 0 0 0 0 0 = melebihi ambang batas kontaminasi bakteri standar SNI 7388: 2009 sebesar 5x10 2 Tabel 2 Jumlah Koloni Kapang/Khamir pada Uji Cemaran Kapang/Khamir Waktu Uji Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Keterangan * koloni/ml. Chengaiah. Ed ke-2.. S. Chetty. Vo 5.. J.. Jakarta.M. Maulida. dan Etanol. Ed ke-1. 2005. Ekstrak ketepeng cina hanya mampu mengawetkan sirup herbal tomat untuk jangka waktu 1 sampai 2 bulan. Direktorat Obat Asli Indonesia. M. . Owoyale. C.L. Badan POM RI. Olatunji. N-Heksana. Tabel 4 Angka Cemaran Kapang/Khamir Setelah Uji Stabilitas Waktu Uji FI Angka Kapang/Khamir Total (CFU) / ml FII FIII FIV FV Pengencer ASA Setelah Uji 750* 500* 0 0 0 0 Stabilitas * Keterangan = melebihi ambang batas kontaminasi kapang/khamir standar SNI 7388: 2009 sebesar 1x10 2 koloni/ml... Agrointek 4:132-137..M. 2010. Kumar. 2010. Angka Kapang/Khamir Total (CFU) / ml Pengencer ASA FI FII FIII FIV FV 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 150* 0 0 0 0 0 = melebihi ambang batas kontaminasi kapang/khamir standar SNI 7388: 2009 sebesar 1x10 2 Tabel 3 Angka Lempeng Total Setelah Uji Stabilitas Waktu Uji FI Angka Lempeng Total (CFU) / ml FII FIII FIV FV Pengencer Pepton Setelah Uji 21500* 19450* 10050* 7400* 4700* 0 Stabilitas Keterangan * = melebihi ambang batas kontaminasi bakteri standar SNI 7388: 2009 sebesar 5x10 2 koloni/ml. Diterjemahkan Suyatmi S. Liberman HA. Universitas Diponegoro. Rao K. Aisyah. UI Press. Naufal. Ekstraksi Antioksidan (Likopen) dari Buah Tomat Dengan Menggunakan Solven Campuran. 2010. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik.1989. Oguntoye. Kanig. Lachman L. Z. namun setelah dilakukan uji stabilitas mengalami penurunan aktivitas untuk mengawetkan sirup dari cemaran mikroba dan kapang/khamir. Simpulan Ekstrak etanol ketepeng cina mempunyai kemampuan sebagai bahan pengawet pada sirup herbal tomat. Medicinal Importance of Natural Dyesa Review..T. International Journal of PharmTech Research 2(1):144-154. Daftar Pustaka BPOM RI....A.A.. 2010.M. K. Acuan Sediaan Herbal.

D. SNI. J. Penelitian pada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Kun. Alli.. Badan Standardisasi Nasional.. Okonko. et al. R. 1(2): 14-26. Dhiani Activities of an Alcoholic Extract of Senna alata Leaves. Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dalam Pangan. Ojezele. Tanti. Parameter Likopen Dalam Standarisasi Konsentrat Buah Tomat. M. Pelagia Research Library..O.. Sunarmani. W. In-vitro antifungal activity of Senna alata Linn. 1-8. Sule. JASEM 9(3):105-107. 2009.. 2010... J.A. T. ..F. Crude leaf extract. 2008.O. Bogor.A.C. B. Kurniawan. I. 17.21 D. Nwanze. Joseph. Wahyuningrum. A. Puslitbang BSN.