GAMBARAN UMUM PSDM NAS Pendahuluan LATAR BELAKANG

“ Berikan aku sepuluh pemuda,maka kuguncangkan dunia…” (soekarno)

akan

Sebuah petikan kalimat dari sang proklamator diatas,menunjukkan bahwa pendidikan dan pengembangan SDM menjadi perhatian utama pemimpin kelas dunia sekaliber soekarno yang begitu disegani dan dihormati masyarakat dunia. Kaderisasi merupakan sebuah kebutuhan mendasar dalam sebuah proses pengembangan suatu organisasi. Untuk membahas sesuatu, kita harus memulainya dari garis definisi, karena definisi dapat secara tegas memberikan kita koridor bahasan tentang hal-hal yang seyogyanya harus dibahas. Secara terminologis, definisi kaderisasi adalah proses pencetakan kader. Sedangkan definisi kader itu sendiri adalah orang yang dipercaya mampu melanjutkan dan melaksanakan tugas-tugas yang ada dalam suatu organisasi (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dengan kata lain, kaderisasi adalah proses pencetakan manusia-manusia yang memiliki kompetensi yang mapan untuk menjalankan amanahnya dalam suatu organisasi. Tiga poin yang harus digarisbawahi untuk mendeskripsikan kaderisasi secara jelas adalah manusia, kompetensi, dan organisasi. MANUSIA Seperti yang disebutkan di atas, kaderisasi adalah pencetakan manusia, sehingga proses pencetakannya pun harus sesuai dengan nilai kemanusiaan: bersifat manusiawi. Manusia memiliki berbagai sisi yang membuatnya istimewa sebagai ciptaan Tuhan. Tidak seperti hewan yang tak terlalu mapan secara intelektual, manusia dikaruniai akal yang membuatnya bisa berfikir secara kritis dan mengembangkan kapasitas pikirannya. Juga tidak seperti malaikat yang (katanya) tidak memiliki nafsu, manusia diberikan emosi untuk dapat mengekspresikan keinginannya sebagai respon dari keadaan sekitar. Dan, lebih dari itu, manusia memiliki semangat (spirit) yang dengan sendirinya mampu menggerakkan sekujur tubuhnya untuk

melakukan sesuatu melebihi apa yang ia bayangkan. Dengan bahasa yang lebih sederhana, manusia adalah kesatuan dari tiga aspek potensial di atas: intelektual, emosional, dan spiritual. Oleh karena itu, metode dalam pengembangan tiga aspek manusiawi tadi haruslah tepat dan luas. Indoktrinasi kuno harus digantikan dengan stimulus kritis agar orang-orang yang mengikuti proses kaderisasi dapat menemukan sebuah alasan intelektualnya sendiri. Pengembangan emosi dapat dilakukan dengan menciptakan suasana yang secara tidak langsung mampu mengikat mereka secara emosional, baik terhadap organisasi maupun dengan orang-orang di dalamnya. Dan kualitas spiritual dapat ditingkatkan dengan memberikan jalan bagi mereka untuk mendapatkan spiritnya dalam melakukan tindakan ke depan. Intinya, proses penanaman nilai dalam kaderisasi harus menggunakan metode yang tepat agar mereka mampu menemukan alasan sendiri untuk bergerak; agar nilai yang mereka dapatkan adalah nilai-nilai yang mereka temukan, bukan nilai yang diberikan melalui doktrin-doktrin yang membosankan. Lalu, dimanakah tugas orang-orang yang meng-kader? Jelas: menunjukkan jalan. KOMPETENSI Nilai-nilai dasar dan visi ke depan tidaklah cukup untuk mencapai sebuah tujuan. Diperlukan instrumen lain untuk mampu mencapai hasil yang kita canangkan. Sebagai analogi, untuk menyeberangi hutan berduri, tidak cukup sekedar semangat dan tujuan, akan tetapi diperlukan sebilah golok untuk menebas batang-batang berduri yang menghalangi, sebuah pemantik untuk menyalakan api unggun, sebuah tenda untuk menginap, dan berbagai macam perlengkapan lainnya. Dalam konteks organisasi, perlengkapan-perlengkapan ini disebut juga kompetensi. Kompetensi berkaitan erat dengan keahlian teknis, atau disebut skill. Karenanya, jika kita berbicara dalam tatanan kompetensi, hal yang terkait hanyalah persoalan teknis dan kemampuan-kemampuan spesifik yang dibutuhkan untuk melaksanakan sebuah pekerjaan. Berbeda dengan penanaman nilai-nilai di atas, metode kaderisasi dalam tatanan kompetensi tidak harus bersifat self-discovery, namun bisa bersifat pelatihan dan pengajaran. Dalam sebuah organisasi, kompetensi yang diperlukan tentu saja kompetensi

organisasional. Dan kompetensi ini juga disesuaikan dengan kebutuhan dan aktivitas organisasi tersebut. Pada organisasi kemahasiswaan, beberapa kompetensi yang diperlukan antara lain kompetensi internal dan eksternal. Kompetensi internal berisi tentang keahlian-keahlian dalam mengelola organisasi agar dapat berjalan dengan lancar, seperti kesekretariatan, manajemen organisasi, teknik memimpin rapat, hingga manajemen konflik. Sedangkan kompetensi

eksternal berisi tentang kebutuhan teknis untuk menghubungkan organisasi tersebut dengan pihak luar, seperti teknik melobi, pengajuan surat, pendekatan dengan organisasi lain, dan lain sebagainya. Metode pemapanan kompetensi ini dapat dilakukan dengan simulasi-simulasi atau sebatas pembagian pengalaman. Yang jelas, pembekalan kompetensi yang tepat sangat penting untuk memberikan mereka gambaran ke depan, sekaligus kemampuan untuk melaksanakan tindakan eksekutif. ORGANISASI Variabel organisasi sengaja saya cantumkan karena proses kaderisasi yang dilakukan adalah untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan eksistensi sebuah organisasi. Masingmasing organisasi juga memiliki kekhasan tersendiri yang secara langsung harus diberikan dalam kaderisasi tersebut. Hal-hal istimewa yang memberikan jati diri serta karakter kuat bagi organisasi itu harus mampu dideskripsikan agar orang-orang yang dikaderisasi mendapatkan gambaran yang jelas tentang organisasi yang mereka ikuti. Beberapa hal yang saya rasa penting untuk diberikan dalam proses kaderisasi antara lain: sejarah, format struktural, deskripsi kerja tiap komponen, asas gerakan, alur koordinasi, kultur sosial, relasi eksternal, dan informasi kasuistik. Hal-hal yang saya sebutkan di atas akan memiliki perbedaan antara satu organisasi dengan organisasi lainnya, dan hal itulah yang justru membuat pemaparan tentang aspek organisasi ini menjadi sangat istimewa. Urgensi pemahaman terhadap sebuah organisasi, yang tidak hanya di tatanan asas namun juga deskripsi sistemik, akan mampu memberikan energi tersendiri untuk dapat menghayati setiap gerakan dalam organisasi tersebut.

POLA KOMUNIKASI NASIONAL-WILAYAH-INSTITUSI DALAM BINGKAI ISMKI ORGANISASI IKATAN

Permasalahan di tingkat Institusi

Walaupun dalam setiap Fakultas Kedokteran di masing-masing Universitas telah memiliki sebuah SENAT/ BEM/ PEMA/ LEM yang seharusnya menjadi sarana untuk mengakomodir apresiasi dan kebutuhan dari mahasiswa kedokteran pada masing-masing Institusi. Tapi ternyata apa, mahasiswa kedokteran Indonesia secara luas hanya beranggapan bahwa lembaga atau senat tersebut hanyalah milik kalangan tertentu saja. Hanya milik bagi mahasiswa-mahasiwa yang menjadi pengurus dalam organisasi tersebut. Sedangkan mahasiswa kedokteran yang lain yang tidak menjadi pengurus hanya sebagai penonton saja untuk apa terlibat langsung karena kami bukan pengurus atau kami tidak punya kepentingan dalam organisasi tersebut. Sehinnga kesan yang terlihat SENAT atau BEM adalah perkumpulan orang-orang yang eksklusif bukan sebagai fungsinya sebagai badan eksekutif. KETIKA paradigma mahasiswa mengkerucut bahwa Lembaga/Badan tingkat Eksekutif mahasiswa hanya milik para pengurus saja maka, permasalahan pengakaran ISMKI sendiri pun akan terhambat, karena itu diperlukan POLA KOMUNIKASI peran serta aktif dari ISMKI ke Institusi, karena itu perlu adanya SOSIALISASI DAN PEMAHAMAN bersama melalui Orientasi Pengenalan kampus local atau pelatihan kepemimpinan local. PERMASALAHAN DI ISMKI Awal berdirinya ISMKI berawal dari kebutuhan institusi untuk berkomunikasi dan berkoordinasi antara institusi satu dengan institusi yang laen. Karena itu kebutuhan akan kebersamaan dalam pergerakan mahasiswa kedokteran menuju Indonesia yang sehat dan sejahtera di perlukan sebuah wadah sehingga para kaum muda mahasiswa kedokteran era itu membentuk IMKI kemudian berubah menjadi ISMKI, namun kondisi sekarang telah berubah,sikap rasa membutuhkan antar institusi mulai luntur bahkan sikap individu lebih ditonjolkan baik ditingkat institusi maupun wilayah bahkan nasional. Pemahaman sinkronisasi pergerakan perlu ditingkatkan secara massif baik ditingkat institusi, local maupun nasional. sinkronisasi pergerakan bertujuan agar tidak lagi muncul istilah bahwa ISMKI terbagi menjadi 5 wilayah ; wilayah 1 hingga 4 dan nasional.

Dalam tataran Nasional masing-masing institusi Fakultas Kedokteran Indonesia di naungi dalam satu rumah besar yaitu Ikatan Senat

Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI). Sebagai penjabaran tentang alur komunikasi atau koordinasi dalam ISMKI.
ISMKI NASIONAL

ISMKI Wilayah

Seluruh BEM Lokal/

Dalam bagan diatas kita bisa melihat bahwa ISMKI beranggotan seluruh Senat atau BEM yang ada dalam setiap Fakultas Kedokteran di Indonesia dengan syarat dan kreteria tertentu. Padahal anggota dalam setiap Senat atau BEM itu sendiri adalah semua mahasiswa kedokteran yang ada dalam Institusinya masing-masing. Dari penjabaran seperti ini dapat kita tarik kesimpulan adalah setiap mahasiswa kedokteran adalah anggota ISMKI melalui BEM yang ada di masing-masing institusi tersebut. Jadi ketika mencul pertanyaan tentang apa dan siapa itu ISMKI maka jawaban untuk itu sangatlah latang dan tegas bahwa “ISMKI adalah Kita dan Kita adalah ISMKI”. POLA ALUR KERJA PSDM-NAS PRINSIP : KOLEKTIF KOLEGIAL  Mempunyai hak suara dan hak berpendapat sama serta berkewajiban sama. Kedudukan secara structural adalah setara yang berbeda adalah peran dan fungsinya. STRUKTURAL PSDMNAS

Koord Bidang

Keterangan : Koord Bidang Peran : sebagai penanggung jawab aktivitas PSDM ISMKI NAS. Fungsi : melakukan koordinasi ke koord komisi & anggotanya. Koord Komisi  Peran : Sebagai penanggung jawab tugas komisi masing-masing. Fungsi : melakukan koordinasi ke koord bidang dan anggotanya. Pengambilan Keputusan komisi pada RAPAT PLENO. RAPAT KOMISI  membahas , mengkaji , dan membuat prosedur/mekanisme terkait tugas wewenang komisi masing-masing. TUGAS & WEWENANG KOMISI I :
1. Mengkaji serta menganalisa permasalahan terkait program LKMM berjenjang

agar semakin sistematis , integral dan terarah. 2. Berwenang dalam melakukan koordinasi ke wilayah (PSDM wilayah) terkait Protap LKMM berjenjang terkait materi LKMM wilayah 3. Berwenang dalam melakukan koordinasi ke Institusi (PSDM institusi) terkait Protap LKMM berjenjang terkait materi LKMM institusi TUGAS & WEWENANG KOMISI II :
1. mengkaji serta menganalisa permasalahan terkait program SOP kaderisasi dan

magang agar semakin sempurna (prosedur baku Standardisasi Sistem Magang PHN)
2. Berwenang dalam melakukan koordinasi ke wilayah (PSDM wilayah) terkait

program SOP kaderisasi dan magang terkait Kaderisasi dan magang pasca LKMM wilayah.
3. Berwenang dalam melakukan pendampingan kader pada Youth PHN dan

berkoordinasi dengan institusi terkait pengumpulan SOP kaderisasi serta progress perkembangan kader di institusi.

TUGAS & WEWENANG KOMISI III :
1. mengkaji serta menganalisa dan menyempurnakan tolak ukur dalam penilaian

kinerja PHN di ISMKI AWARD . 2. mengkaji dan menganalisa proses pengakaran ISMKI ke ranah institusi
3. Berwenang dalam melakukan koordinasi ke wilayah (PSDM wilayah) terkait

program ISMKI AWARD dan PENGAKARAN ISMKI dan ke Institusi untuk menindak lanjuti progress pengakaran ISMKI. GAMBARAN UMUM BIDANG PSDMNAS ini SESUAI dengan GRAND DESIGN SEKJEN ISMKI GENERASI TRANSFORMASI. SALAM SUPER!!! BERSAMA KITA BISA!!! By :Koordinator PSDM NAS Muhammad Agung Nugroho