You are on page 1of 16

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Cabai merupakan tanaman hortikultura semusim yang mempunyai nilai
ekonomi (Barany et al. 2001). Belakangan ini produksi cabai terus meningkat
terutama di negara-negara berkembang dan yang sedang berkembang baik di
benua Afrika maupun Asia (Deptan go.id, 2006).
Di Indonesia cabai termasuk komoditas hortikultura bernilai ekonomi yang
dapat dikonsumsi baik sebagai rempah maupun untuk sayuran. Permintaan cabai
di Indonesia diproyeksikan meningkat setiap tahunnya sehingga impor harus
dilakukan kalau produksi dalam negeri tidak dapat terpenuhi (BPS, 2000).
Salah satu varietas cabai yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah
cabai merah keriting. Perbaikan varietas cabai merah keriting seperti ketahanan
terhadap penyakit dapat dilakukan melalui aplikasi teknologi mutasi dan teknik
kultur jaringan sehingga akan memberikan nilai tambah untuk program
pemuliaan, terutama dalam usaha meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi
cabai secara optimal (Morrison dan Evans, 1988).
Salah satu metoda dalam kultur jaringan yang banyak digunakan untuk
menunjang kegiatan pemuliaan tanaman adalah kultur antera. Tanaman haploid
ganda yang dihasilkan dari kultur antera dapat mencapai homozigot pada generasi
kedua. Hal ini akan mempersingkat waktu seleksi jika dibandingkan dengan
pemuliaan secara konvesional disamping evaluasi karakter kuantitatif yang dapat
dipercepat

sehingga

lebih

(Kasha dan Maluszynski, 2003).

menghemat

waktu

dan

tempat

Keberhasilan aplikasi teknik kultur antera dalam mendapatkan tanaman


haploid ganda pada tanaman cabai masih sedikit yang dilaporkan (Wang et al,
1973., Novak FJ, 1974., serta Mityko et al.,1999; Dolcet-Sanjuan et al.,1997 dan
Gyulai et al., 2000 dalam Barany et al.,2001).
Rendahnya frekuensi regenerasi tanaman yang berasal dari kultur antera
disebabkan sulitnya memperoleh kalus embriogenik. Sibi et al (1979) telah
melakukan penelitian mengenai androgenesis dari haploid organ untuk
mendapatkan tanaman haploid ganda, tetapi belum berhasil mendapatkan tanaman
yang diinginkan. Rendahnya frekuensi pembentukan kalus embriogenik dari
kultur antera cabai merupakan salah satu kendala dalam menghasilkan tanaman
haploid ganda ( Sibi, 1979)
Untuk mengatasi hal tersebut mungkin perlu dilakukan suatu perlakuan
awal sebelum antera cabai di induksi pada media pembentukan kalus. Salah satu
perlakuan awal yang pernah dilakukan pada kultur antera padi adalah dengan
memberi perlakuan stres dingin selama 2-3 hari pada antera sebelum dikultur dan
hasilnya menunjukkan dapat memperbaiki frekuensi pembentukan kalus
embriogenik. Disamping itu respon dari masing-masing genotipe tanaman sangat
berbeda antara satu genotipe dengan genotipe lainnya. (Ishak dan Ita, 1997).

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk memaparkan dan
menjelaskan tentang mutasi fisik pada tanaman cabai (Capsicum annum L.)
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan dari penulisan ini adalah sebagai salah satu syarat
untuk memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Dasar Pemuliaan Tanaman
Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
Medan

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Cabai merah diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Plantae; Divisio :
Spermatophyta; Sub divisi: Angiospermae; Kelas: Dicotyledonae; Ordo:
Tubiflorae (Solanales); Famili: Solanaceae; Genus : Capsicum; Spesies :
Capsicum annum L. (Novary, 1997),
Perakaran tanaman cabai merah merupakan akar tunggang yang terdiri atas
akar utama (primer) dan akar lateral (sekumder). Dari akar lateral keluar
serabutserabut akar yang disebut dengan akar tersier. Panjang akar primer berkisar
35- 50 cm, akar lateral menyebar sekitar 35 45 cm (Prajnanta, 1999). Batang
utama cabai merah tegak lurus dan kokoh,tinggi sekitar 30 38 cm dan diameter
batang sekitar 1,5 3 cm. Batang utama berkayu dan berwarna cokelat kehijauan.
Pembentukan kayu pada batang utama mulai terjadi umur 30 hari setelah tanam
(hst). Pada setiap ketiak daun akan tumbuh tunas baru yang dimulai umur 10 hari
setelah tanam. Namun tunas- tunas ini harus di hilangkan sampai batang utama
menghasilkan bunga pertama tepat di antara cabang primer. Cabang primer inilah
yang terus dipelihara dan tidak dirempel sehingga bentuk percabangan dari batang
utama ke cabang primer terbentuk huruf Y (Prajnanta, 1999).
Daun berbentuk sederhana, besarnya bervariasi, berbentuk bulat telur
memanjang ujungnya meruncing, panjang 5 12 cm dan lebar 1 1,5 cm, tangkai
daun 1 -2,5 (Pracaya,1994).
Bunga tumbuh tunggal atau kadang- kadang berkelompok pada setiap
ruas. Pada saat anhesis, tangkai bunga umunya merunduk. Setiap bunga
mempunyai helai daun bunga dan 5 -6 helai mahkota bunga yang berwarna putih

susu atau kadang- kadang ungu. Bunga cabai mempunyai satu kepala putik
(stigma), berbentuk bulat dengan benang sari yang berjumlah 6 buah
(Prajnanta, 1999).
Buah cabai merupakan buah sejati tunggal, terdiri dari satu bunga dan satu
bakal buah. Buah ini terdiri atas bagian tangkai buah, kelopak daun dan buah.
Bagian buah terdiri atas kulit buah berwarna hijau apabila masih dalam keadaan
muda dan berwarna merah apabila sudah tua/masak, daging buah, dan biji.
Permukaan buah rata dan licin, dan yang telah masak berwarna merah kilat.
Panjang buah berkisar antara 9 -15 cm, diameter 1 1, 75 cm, dan berat bervariasi
dari 7,5 15 g/buah. Panjang tangkai buah 3,5 4,5 cm berwarna hijau tua. Buah
menggantung terletak di percabangan/sekitar ketiak daun (Nawangsih dkk, 2001)
Syarat Tumbuh
Iklim
Faktor iklim termasuk memegang peranan penting dalam budidaya cabai
hibrida yaitu angin, curah hujan, cahaya matahari, kelembaban, suhu. Angin
berperan penting sebagai perantara penyerbukan (Prajnanta, 1999).
Curah hujan pada waktu pertumbuhan tanaman sampai akhir pertumbuhan
yang baik sekitar 600 -1250 mm/tahun. Bila curah hujan berlebihan dapat
menimbulkan penyakit, kekurangan hujan dan tidak ada pengairan juga dapat
membuat tanaman cabai menjadi kerdil. Kelembaban yang rendah dan temperatur
yang tinggi menyebabkan penguapan tinggi sehingga tanaman akan kekurangan
air, akibatnya kuncup bunga dan buah yang masih kecil akan banyak yang rontok
(Pracaya, 1994).

Cahaya matahari penting bagi tanaman untuk fotosintesis, pembentukan


bunga, serta pembentukan buah dan pemasakan buah cabai. Lama penyinaran
yang dibutuhkan tanaman cabai antara 10 -12 jam penyinaran sehari
(Prajnanta, 1999)
Suhu untuk perkecambahan benih paling baik antara 250 C- 300 C, suhu
optimal untuk pertumbuhan adalah 240 C 280 C. Pada suhu < 150 C dan > 320
C buah yang dihasilkan kurang baik. Suhu yang terlalu dingin menyebabkan
pertumbuhan tanaman terhambat, pembentukan bunga kurang sempurna). Cabai
memerlukan kelembaban relatif 80 % dan sirkulasi udara yang lancar untuk
pertumbuhannya. Suhu dan kelembaban yang tinggi akan meningkatkan intensitas
serangan bakteri Pseudomonas solanacearum penyebab layu akar (Pracaya, 1994).
Tanah
Tanah yang cocok untuk tanaman cabai merah adalah tanah yang subur
dan kaya bahan organik. Derajat keasaman tanahnya (pH tanah) antara 6,0 -7,0,
pH optimum 6,5. Tanah harus bertekstur remah/gembur. Tanaman cabai merah
dapat juga ditanam di tanah lempung, tanah agak liat, tanah merah, maupun tanah
hitam (Setiadi, 1996). Tanaman cabai merah baik pertumbuhannya jika ditanam
pada lahan datar dengan lereng kurang dari 5 %, drainase baik, tekstur tanah
lempung, lempung liat berpasir, debu, lempung berliat atau lempung berdebu
(Widodo, 2002).
Dosis iradiasi yang digunakan untuk menginduksi keragaman sangat
menentukan keberhasilan terbentuknya tanaman mutan. Broertjes dan Van
Harten (1988) melaporkan kisaran dosis radiasi sinar gamma pada berbagai
jenis tanaman hias, dan untuk tanaman anyelir kisaran yang telah dicobakan

berada pada selang yang masih cukup lebar, yaitu antara 25-120 gray. Jika
iradiasi dilakukan pada benih, pada umumnya kisaran dosis yang efektif lebih
tinggi dibandingkan jika dilakukan pada bagian tanaman lainnya. Semakin banyak
kadar oksigen dan molekul air (H2O) dalam materi yang diiradiasi, maka akan
semakin banyak pula radikal bebas yang terbentuk sehingga tanaman menjadi
lebih sensitif. Untuk itu maka perlu dicari dosis optimum yang dapat efektif
menghasilkan tanaman mutan yang pada umumnya terjadi pada atau sedikit
dibawah

nilai LD50

menyebabkan

50%

(Herison, et al., 2008).

(Lethal

Dose

kematian

50).
dari

LD50
populasi

adalah
yang

dosis

yang

diradiasi

PEMBAHASAN
Mutasi
Mutasi adalah perubahan materi genetik, yang merupakan sumber pokok
dari semua keragaman genetik dan merupakan bagian dari fenomena alam
(Aisyah, 2006). Mutasi dapat terjadi secara spontan di alam, namun peluang
kejadiannya sangat kecil, yaitu sekitar 10-6 (Aisyah, 2009). Induksi mutasi dapat
dilakukan dengan menggunakan mutagen kimia seperti EMS (ethylene methane
sulfonate), NMU (nitrosomethyl urea), NTG (nitrosoguanidine), dan lain-lain)
atau mutagen fisik (seperti sinar gamma, sinar X, sinar neutron dan lain-lain).
Akan

tetapi

mutasi

memperlihatkan hasil

dengan
yang

iradiasi

lebih

baik

pada

bagian

dibandingkan

vegetatif
perlakuan

tanaman
dengan

mutagen kimia (Aisyah, 2009).


Mutasi gen adalah perbahan yang terjadi pada susunan molekul DNA atau
gen. Mutasi gen terjadi pada susunan kimianya (DNA). Bila struktur kimia gen
berubah maka fungsinya pun akan berubah pula. Gen yang mengalami mutasi
terdapat pada sel-sel tubuh (sel somatis) maka perubahan diturunkan ke sel anakan
melalui pembelahan mitosis. Bila gen yang mengalami mutasi terdapat pada sel
kelamin (gamet) maka perubahan akan diwariskan pada keturunannya
(Herison, et al., 2008).
Aplikasi induksi mutasi dengan mutagen fisik dapat dilakukan melalui
beberapa teknik, yaitu (a) iradiasi tunggal (acute iradiation), (b) chronic
irradiation, (c) iradiasi terbagi (frationated irradiation), dan (d) iradiasi berulang
(Misniar, 2008). Iradiasi tunggal adalah iradiasi yang dilakukan hanya dengan satu
kali penembakan sekaligus. Chronic irradiation adalah iradiasi dengan

penembakan dosis rendah, namun dilakukan secara terus-menerus selama


beberapa bulan. Iradiasi terbagi adalah radiasi dengan penembakan yang
seharusnya dilakukan hanya satu kali, namun dilakukan dua kali penembakan
dengan dosis setengahnya sedangkan radiasi berulang adalah radiasi dengan
memberikan penembakan secara berulang dalam jarak dan waktu yang tidak
terlalu lama (Wiarnata, 2014)
Peristiwa mutasi merupakan proses acak (random), dan sukar diamati
karena ; jarang terjadi pada proses biasa dari replikasi DNA, tidak ada cara untuk
mengetahui manakah gen yang akan mengalami mutasi dalam suatu sel atau suatu
generasi, munculnya bebas apakah ia mampu atau tidak beradaptasi terhadap
lingkungan hidup organisme bersangkutan (Warianto,2011).
Radiasi Sinar Gamma
Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam
bentuk panas, partikel, atau gelombang elektromagnetik (foton) dari suatu sumber
energi (BATAN, 2008). Radiasi energi tinggi adalah bentuk-bentuk energi yang
melepaskan tenaga dalam jumlah yang besar dan kadang-kadang disebut juga
radiasi ionisasi (BATAN, 2008) karena ion-ion dihasilkan dalam bahan yang dapat
ditembus oleh energi tersebut (Crowder, 1986). Radiasi dapat menginduksi
terjadinya mutasi karena sel yang teradiasi akan dibebani oleh tenaga kinetik yang
tinggi, sehingga dapat mempengaruhi atau mengubah reaksi kimia sel tanaman
yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perubahan susunan kromosom
tanaman (Poespodarsono, 1988).
Sinar gamma (seringkali dinotasikan dengan huruf Yunani gamma,( )
adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi elektromagnetik yang diproduksi oleh

10

radioaktivitas atau proses nuklir atau subatomik lainnya seperti penghancuran


elektron-positron. Sinar ditemukan oleh ahli kimia dan fisika Perancis Paul
Ulrich Villard pada tahun 1900, ketika beliau sedang mengkaji uranium. Bekerja
di bidang kimia di Ecole Normale Superieure, Paris, dia menemukan bahwa sinar
tidak dapat dibelokkan oleh medan magnet (Tienkartina.ppt)
Mutasi Radiasi Sinar Gamma Pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L.)
Bahan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah: Benih cabai
dan media tanam jadi. Alat alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
Tray perkecambahan, label, alat tulis, alat ukur, dan Gamma chamber 4000A
Metode Pelaksanaan; masukkan benih cabai ke dalam plastic, aadiasi benih
benih tersebut ke dalam gamma chamber 4000A dengan sumber radiasi Co60,
kecambahkan benih dalam tray perkecambahan, amati daya tumbuh dan tinggi
tanaman dan bandingkan antar perlakuan, dan buat kurva respon LD50
(Wiranata, 2014).
Nilai LD50 dapat diperoleh dengan mengetahui pola respon daya tumbuh
tanaman terhadap berbagai dosis iradiasi. Bahwa semakin tingi dosis iradiasi,
dapat menurunkan daya tumbuh tanaman. Menurunnya daya hidup tanaman
disebatkan karena adanya efek deterministik akibat iradiasi sinar gamma. Efek
deterministik adalah efek yang disebabkan karena kematian sel akibat paparan
radiasi. Efek deterministik timbul bila dosis yang diterima tanaman di atas dosis
ambang (threshold dose) dan umumnya timbul beberapa saat setelah iradiasi.
Tingkat keparahan efek deterministik akan meningkat bila dosis yang diterima
lebih besar dari dosis ambang (PPIN BATAN, 2008).

11

Respon daya tumbuh benih cabai menghasilkan respon linear, Cabai y =


102.13376 0.126588x Linear Fit 457.285, bahwa benih Cabai menghasilkan
LD50 sebesar 457.285. LD50 pada benih di atas pada umunya tinggi, hal ini
mengindikasikan bahwa baenih tersebut memiliki radiosensitivitas yang rendah.
Hal ini diduga karena kandungan air pada benih tersebut sudah sangat rendah.
Semakin banyak kadar oksigen dan molekul air (H2O) dalam materi yang
diiradiasi, maka akan semakin banyak pula radikal bebas yang terbentuk sehingga
tanaman menjadi lebih sensitif (Herison, et al., 2008).
Bahwa semakin tinggi dosis iradiasi dapat menurunkan tinggi tanaman.
Wuryan (2009) mengemukakan bahwa iradiasi sinar gamma berpengaruh nyata
menurunkan rata-rata tinggi planlet beberapa genotipe krisan. juga menjelaskan
bahwa menurunnya tinggi kecambah adalah indikator yang paling umum
digunakan untuk melihat efek mutagen, baik fisik maupun kimia. Penurunan
tinggi tanaman tersebut dapat terjadi karena iradiasi dapat menyebabkan rusaknya
kromosom tanaman, sehingga mengakibatkan terganggunya tanaman tersebut.
Ionisasi akibat iradiasi dapat menyebabkan pengelompokan molekul molekul
sepanjang jalur ion yang tertinggal karena iradiasi yang dapat menyebabkan
mutasi gen atau kerukan kromosom (Aisyah, 2006).
Dampak Mutasi
Aplikasi mutasi buatan dalam memperoleh bibit tanaman yang diharapkan.
Mutan yang sudah dapat dibuat menjadi tanaman yang poliploid artinya
berkromosom banyak. Cara mendapatkan poliploid dengan menggunakan
kolkisin. Pengaruh positif mutasi buatan diantaranya tanaman poliploid biasanya
mempunyai ukuran yang lebih besar. Tindakan pembibitan dari mutasi buatan

12

harus diulang-ulang supaya di dapatkan sampai menjadi galur murni, yaitu


jenisnya sudah mantap. Apabila tidak diulang-ulang kemungkinan jenis itu
mengadakan perkawinan dengan jenis asal sebelum mutasi, maka akan ada
kecenerungan untuk menurunkan keturunan seperti semula. Seperti telah kita
ketahui bahwa mutasi juga ada yang menguntungkan bila dipandang darti
hidupnya suatu organisasi atau individu. Hal ini sebenarnya merupakan bahan
baku bagi terselenggaranya evolusi dari segala organisme. Sebagai contoh adanya
mutan (individu yang bermutasi) keturunan ini mengadakan mutasi-mutasi lagi
dan keturunan ini mampu mempertahankan hidup sampai beberapa generasi
kemudian. Maka mungkin dapat bergenotif maupun fenotifnya jauh berbeda
dengan nenek moyangnya, sehingga akan terjadi individu baru yang mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungannya (evolusi dari sini perlu diingat bahwa
mutasi itu tidak selalu menjadi species baru) (Wiarnata, 2014)
Pengaruh negatif mutasi buatan : poliploid umumnya gagal mengahasilkan
keturunan secara generative, menguntungkan bila diperbanyak secara vegetative.
Manfaat pengetahuan mutasi, Para ilmuwan biologi mengetahui bahwa sinar
gamma dapat menimbulkan ionisasi pada sel-sel pembentuk jaringan tubuh.
Ionisasi terjadi bila elektron terlepas dari suatu atom dan menggabung ke atom
lainnya. Molekul DNA yang banyak mengandung atom-atom yang terionisasi
dapat menjadikan gen labil dan akhirnya berubah. Gen yang berubah susunan
kimianya, fungsinya berubah pula. (Warianto,2011)
Bila gen ini sel-sel gamet, manifestasi perubahan ini dapat diamati pada
generasi berikutnya. Dengan dasar pengetahuan ini, para ilmuwan menggunakan
sinar gamma atau sinar-sinar lain yang berenergi tinggi sebagai mutagen buatan.

13

Dari eksperimen yang telah banyak dilakukan, diperoleh data bahwa mutasi pada
sel-sel generatif kebanyakan bersifat letal, yaitu membawa kernatian pada
keturunannya sebelum atau beberapa waktu setelah kelahiran. Karena itu,
pembuatan mutan dengan cara ini, misalnya biji-biji yang akan diunggulkan perlu
dilakukan pada jumlah yang amat besar dan intensitas radiasi yang optimal.
Masalahnya adalah bagaimana cara pengaturan intensitas ini. Hal ini memerlukan
riset berulang kali dan berjangka panjang untuk menemukan mutan yang
dikehendaki (Safitri dan Lenni, 2010)

14

KESIMPULAN
1. Mutasi adalah peristiwa perubahan sifat gen (susunan kimia gen) atau
kromosom yang menyebabkan perubahan sifat yang baka (diturunkan)
tetapi bukan sebagai akibat persilangan atau perkawinan.
2. Sinar gamma adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi elektromagnetik
yang diproduksi oleh radioaktivitas atau proses nuklir atau subatomik
lainnya seperti penghancuran elektron-positron
3. Aplikasi radiasi Sinar Gamma dilakukan untuk memperoleh bibit tanaman
yang diharapkan menjadi tanaman yang poliploid artinya berkromosom
banyak
4. Semakin tinggi radiasi Sinar Gamma akan menurunkan daya tumbuh
tanaman cabai.

DAFTAR FUSTAKA

15

Aisyah, S. I. 2006. Mutasi induksi, hal. 159 178. Dalam S. Sastrosumarjo (Ed.)
Sitogenetika Tanaman. IPB Press. Bogor.
____________., H. Aswidinoor, A. Saefuddin, B. MArwoto, dan S.
Sastrosumarjo. 2009. Induksi mutasi pada stek pucuk anyelir (Dianthus
caryophyllus Linn.) nelalui iradiasi sinar gamma. J. Agron. Indonesia. 37
(1) : 62 70.
Azri Kusuma Dewi 1) dan Ita Dwimahyani 2) (PDF File didownload dari
Google.com - MEMPELAJARI-KULTUR.pdf)
Barany. 2001. Radiosensitivity studies in Basmati rice. Pak. J. Bot. 35 (2) : 197
207.
Biro Pusat Statistik. 185-199.
BPS. 2002. Survei pertanian produksi tanaman pangan dan sayuran di Indonesia.
DEPTAN.2006.Radiasi.http://www.batan.go.id/organisasi/kerjasama.php.
19Desember 2006.
Hadioetomo,dkk (2006), Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press
Herison, C., Rustikawati, Sujono H. S., Syarifah I. A. 2008. Induksi mutasi
melalui sinar gamma terhadap benih untuk meningkatkan keragaman
populasi dasar jagung (Zea mays L.). Akta Agrosia 11(1):57-62.
Ishak, Dwimahyuni I. Mutagenesis. Hal 322 356. Dalam Soetarso (Ed).
Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.
Kesha and Maluszynski. 2003. Effect of gamma rays and EMS on two varieties of
soybean. Asian Journal of Plant Sciences. 5 (4) : 721 724.
Morrison and Evans. 1988. Sorghum breeding for improved drought tolerance
using induced mutation wiyh gamma irradiation. J. Agron. Indonesia. 38
(2) : 95 99
Poespodarsono, S. 1988. Dasar-Dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. PAU IPB dan
LSI-IPB. Bogor. 168 hal.
Qu, J. M., and Chen. 1983. Breeding Field Crops. Iowa State University Press.
Ames. 432 p.
Safitri, R., F. Lenni. 2010. STUDY OF GAMMA RAY IRRADIATION ON
FOOD,PRESERVETION (Case Study on Chili Powder). Jurusan Biologi.
FMIPA Universitas Syiah Kuala
Sanjaya, L., G. A. Wattimena, E. Guharja, M. Yusuf, H. Aswidinnoor, dan P. Stam.
2002. Keragaman ketahanan aksesi Capsicum terhadap antraknose

16

(Colletotrichum capsici) berdasarkan penanda RAPD. Jurnal Bioteknologi


Pertanian. 7 (2) : 37 42.Susanto, U., A. A. Daradjat, dan B. Suprihatno.
2003. Perkembangan pemuliaan padi sawah di Indonesia. Jurnal Litbang
Pertanian. 22(3):125-131
Sibi, S. 1979. Aplikasi mutasi induksi dan variasi somaklonal dalam pemuliaan
tanaman. Jurnal Litbang Pertanian. 22(2) : 70-78.
Suharsono, M. Alwi, A. Purwito. 2009. Pembentukkan tanaman cabai haploid
melalui induksi ginogenesis dengan menggunakan serbuk sari yang
diiradiasi sinar gamma. J. Agron. Indonesia. 37 (2) : 123 129.
Warianto, C. 2011. Mutasi.19-05-2011 Publish Author
Wiarnata, I. M. A. 2014. Induksi Variasi Cabai Merah (Capsicum annum L.)
Dengan Ethyl Methanesulfonate Pada Berbagai Tingkat Waktu
Perendaman. Universitas Udayana. Denpasar