You are on page 1of 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Penyakit infeksi yang selalu menjadi penyebab utama kejadian kesakitan
dan kematian pada masyarakat mulai bergeser dan digantikan oleh penyakitpenyakit tidak menular, pergeseran utama dalam penyebab kematian dan
kesakitan saat ini beralih kepenyakit tidak menular salah satunya gagal ginjal
kronik.1
Penyakit Gagal Ginjal Kronik (GGK) atau Chronic Kidney Disease
merupakan suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam,
mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya
berakhir dengan keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal
yang irreversible. Komplikasi Gagal Ginjal Kronik adalah anemia, infeksi,
penyakit jantung, gangguan saraf, stroke, perdarahan lambung dan usus.
Komplikasi Gagal Ginjal Kronik bisa berakibat lebih fatal yaitu sindrome
uremic yang dapat berujung pada kematian.2
Penyakit Gagal Ginjal Kronik (PGGK) telah menjadi masalah kesehatan
serius terutama di negara berkembang dan menduduki peringkat ke-12
penyebab tertinggi angka kematian atau mortalitas di dunia, menurut World
Health Organization (WHO) tahun 2010 prevalensi PGGK diperkirakan
secara global lebih dari 500 juta orang, insidensi PGGK sebesar 40-60 juta
kasus per tahun dan telah menyebabkan kematian sebesar 850.000 orang

setiap tahunnya. Sebesar 40 60% pasien yang mengalami gagal ginjal kronik
harus menjalani hidup dengan bergantung pada cuci darah (hemodialisis).3
Survei Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) tahun 2013 Indonesia
termasuk dalam urutan ke-4 sebagai negara dengan penderita gagal ginjal
terbanyak di dunia, setiap tahunnya terdapat 200.000 kasus baru gagal ginjal
kronik dan pasien yang membutuhkan cuci darah atau hemodialisis setiap
tahun sekitar 100.000 orang. Prevalensi gagal ginjal kronik sebesar 12,5%
atau sebesar 25 juta penduduk di Indonesia yang mengalami penurunan fungsi
ginjal dan sebesar 16 juta orang mengalami gagal ginjal kronik yang sudah
pada tahap akhir dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 80%.4
Tingginya kematian akibat gagal ginjal kronik dipicu karena pada awalnya
penderita gagal ginjal kronik tidak menyadari bahwa mereka menderita
penyakit ini. Gagal ginjal kronik merupakan penyakit yang bersifat
asimptomatik (tidak menunjukkan gejala klinis) pada awal perjalanan
penyakit. Apabila tidak dideteksi sejak dini dan tidak ditangani dengan tepat,
maka penyakit gagal ginjal kronik dapat berkembang menjadi stadium akhir
dengan laju penyaringan glomerulus atau Glomerular Filtration Rate(GFR)
kurang dari 15 ml/menit/1.73m2 yang dapat berakibat kematian pada
penderita.5
Penyakit gagal ginjal kronik adalah suatu keadaan yang tidak akan bisa
kembali sembuh / baik, satu hal yang bisa dilakukan adalah memperlambat
perkembangan gagal ginjal kronik menjadi gagal ginjal terminal. Hal ini bisa
dilakukan dengan memperhambat laju penurunan fungsi ginjal, mencegah
kerusakan ginjal lebih lanjut dan pengelolaan berbagai masalah yang bisa

dirasakan penderita gagal ginjal kronik. Dalam penanganannya, sesuai


dengan kondisi yang diderita, dokter akan berusaha mengontrol tekanan darah
sebagai penyebab atau akibat dari penyakit gagal ginjal kronik juga akan
diatur konsumsi garam Natrium, Fosfor, Protein serta mengatur kadar lemak
darah agar tidak menimbulkan akibat yang lebih serius (komplikasi).6
Faktor faktor yang berkaitan dengan anemia pada penyakit ginjal
kronik termasuk kehilangan darah, pemendaka, masa hidup sel darah
merah,defisiensi vitamin Uremic Millieu defisiensi eritropoetin, defisiensi
besi dan inflamasi. Defisiensi eritropoetin merupakan penyebab utama
anemia pada pasien pasien hemodaliasis.8
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Anik Sugianti (2011) di ruang
laboratorium Rumkital Dr. Ramelan Surabaya, frekuensi

pasien gagal

ginjal kronik dari 40 responden didapat hasil penundaan waktu pemeriksaan


dapat menyebabkan perubahan bentuk sel yaitu pada sel monosit yang
mengalami vakuolisasi sebanyak 2 preparat (6,6%) pada kelompok ke-3 dan
sebanyak 6 preparat (20%) pada kelompok ke-4. Perubahan pada sel darah
merah ditemukan pada 1 preparat.9
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dan hasil presurvei diatas,
maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran
hematologi dan morfologi darah tepi pasien gagal ginjal kronik di
Laboratorium patologi klinik RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung
tahun 2013.

1.2 Rumusan masalah


Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas maka peneliti
merumuskan masalah dalam penelitian ini Bagaimanakah gambaran
hematologi dan morfologi darah tepi pasien gagal ginjal kronik di
laboratorium patologi klinik RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung tahun 2013.
1.3 Tujuan penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui gambaran hematologi dan morfologi darah tepi pasien
gagal ginjal kronik di laboratorium patologi klinik RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek Provinsi Lampung tahun 2013.
1.3.2 Tujuan khusus
1. Mengetahui distribusi frekuensi jumlah eritrosit pasien gagal ginjal
kronik di laboratorium patologi klinik RSUD Dr. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung tahun 2013.
2.

Mengetahui distribusi frekuensi morfologi darah tepi pasien gagal


ginjal kronik di laboratorium patologi klinik RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek Provinsi Lampung tahun 2013.

1.4 Manfaat penelitian


1.4.1

Bagi institusi Malahayati


Dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan kepustakaan khususnya
bagi

mahasiswa

Kedokteran

Universitas

Malahayati

tentang

gambaran hematologi dan morfologi darah tepi pasien gagal ginjal


kronik.
1.4.2

Bagi tempat penelitian


Sebagai informasi dan bahan evaluasi bagi petugas kesehatan Klinisi
di laboratorium patologi klinik RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung tentang gambaran hematologi dan morfologi darah tepi
pasien gagal ginjal kronik.

1.4.3

Bagi peneliti
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi penelitian tentang
gambaran hematologi dan morfologi darah tepi pasien gagal ginjal
kronik dan aplikasi metode penelitian.

1.4.4

Bagi peneliti selanjutnya


Dapat dijadikan data awal untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan
dengan gambaran hematologi dan morfologi darah tepi pasien gagal
ginjal kronik.

1.5 Ruang lingkup


Jenis penelitian adalah deskriptif, subyek dalam penelitian ini adalah
pasien gagal ginjal kronik, objek penelitian adalah gambaran hematologi dan
morfologi darah tepi pasien gagal ginjal kronik, lokasi penelitian akan
dilakukan di laboratorium patologi klinik RSUD Dr. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung pada bulan Desember 2013.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sundoyo, 2009. Ilmu penyakit dalam. Jakarta FKUI


2. Santoso, 2009. 6o Menitmenuju ginjal sehat. Jakarta Media Grafika
3. WHO, 2010. Prevalensi kejadian Penyakit Gagal Ginjal Kronik (PGGK).
Dalam www.repository.usu.ac.id diakses tanggal 18 November 2013.
4.Pernefri, 2013. Survei Perhimpunan Nefrologi Indonesia. Dalam
www.Indonesiaku.usu.ac.id diakses tanggal 18 November 2013.
5. Hartono,2008. Rawat ginjal cegah cuci darah. Jakarta Kanisius
6. Made, Bakta, 2012. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta. EGC
7.Indrawati, 2013. Awas darah kental penyebab 6 penyakit mematikan. Jakarta
cerdas sehat.
8.Mariana, 2005. morfologi darah tepi pasien gagal ginjal kronik. Dalam
www.indonesia.digitaljournals.org diakses tanggal 12 Oktober 2013
9. Anik Sugianti, 2011. Pasien gagal ginjal kronik di ruang laboratorium
Rumkital Dr. Ramelan Surabaya. Dalam www.saripediatri.idai.or.id
diakses tanggal 15 Oktober 2013