You are on page 1of 16

Makalah

Isu Lingkungan Hidup, Melelehnya


Kutub Utara dan Selatan

KATA PENGANTAR
Puji syukur Tuhan Yang Maha Kuasa karena dengan limpahan Rahmat-Nya maka
makalah bertemakan Isu Lingkungan Hidup khususnya berjudul Kehancuran Kutub
Utara dan Kutub Selatan ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Bagaimanapun dari bukti ilmiah, jelas bahwa Kutub Utara dan Seladan berada dibawah
ancaman perubahan iklim yang hebat.Dan kedua daerah ini sangat vital dalam menjaga
agar planet tetap dingin karena es di kutub menjadi perisai bumi dalam menangkis 90%
sinar matahari yang menimpa bumi, dan mengembalikannya ke angkasa luar.Tetapi kalau
es di kutub mencair maka 90% panas sinar matahari akan diserap lautan dan semakin
meningkatkan pemanasan global.Dengan tidak menghentikan tingkat emisi C02 saat ini,
diperkirakan es abadi di kutub akan musnah dalam waktu tidak lama lagi.Jika mengikuti
model yang sudah dirancang para ilmuwan, maka es abadi akan meleleh sepenuhnya
dalam waktu 40 tahun.Apakah manusia harus menunggu 40 tahun lagi sebelum menyadari
dampaknya bagi kehidupan di bumi?
Melalui makalah yang membahas mengenai Peristiwa Melelehnya Es di Kutub Utara dan
Kutub Selatan ini, penulis berupaya menyampaikan betapa pentingnya kedua daerah yang
merupakan ujung bagian Bumi tersebut. Merupakan tugas kita, manusia yang menjadi
penghuni Bumi untuk menjaga kedua daerah tersebut dari kehancuran.
Pada akhirnya, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat untuk semua pihak yang
membacanya.
Minahasa Utara, September 2011
Penulis
NWP. Rini Wedhayanti
NPP. 20.0898

DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab I (Pendahuluan)
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Sistematika Penulisan 2
BAB II
KUTUB UTARA DAN KUTUB SELATAN
A. Definisi 3
B. Masa Depan Kutub Utara dan Kutub Selatan 3

BAB III
DAMPAK DARI PENCAIRAN ES DI KUTUB UTARA DAN SELATAN 7
Bab IV (Penutup)
Kesimpulan 10
Saran 10
Penutup iii
Daftar Pustaka iv
Lampiran ...

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dari hari ke hari bulan ke bulan tahun ke tahun,membuat cuaca di bumi semakin
memanas. Efek rumah kaca yang berlebihan akibat ulah manusia itu sendiri.Salah satunya
adalah Melelehnya Es Di Kutub Utara yang mengakibatkan efek gangguan bagi
perlintasan jalur laut bagi kapal-kapal yang melintas.jika semakin di biarkan es kutub
utara mencair,maka banjir besar pun tak terelakan lagi. Semakin banyak es di Kutub
Utara dan Selatan yang mencair Walau terpencil dan tidak bersahabat, wilayah kutub
sejak lama menarik perhatian para ilmuwan. Jauh dibawah permukaannya yang beku,
kutub menyimpan rahasia kuno bumi, ketika es menutupi sebagian besar permukaan
bumi.Tetapi bersamaan dengan besarnya keinginan para ilmuwan untuk mempelajari
daerah ini, makin meningkat pula kekuatiran bahwa es di kedua kutub bumi mencair
dengan tingkat yang sangat cepat.Ini jelas terlihat di laut Artik, lautan yang sangat dingin,
yang mengitari Kutub Utara, yang menimpa es abadi.Seperti diketahui, di Kutub Utara
dan Selatan terdapat dua jenis, yaitu es musiman, yang terbentuk saat musim dingin tiba,
dan es abadi, yang tebal dan tidak mencair sepanjang tahun.Namun penelitian selama 10
tahun terakhir menunjukkan penurunan dramatis dalam es abadi. Akibatnya dapat
mengancam kehidupan manusia.Para ilmuwan mengatakan peningkatan suhu yang
disebabkan oleh peningkatan C02, karbon dioksida, di atmosfir bumi yang menjadi
penyebabnya.
Bagaimanapun dari bukti ilmiah, jelas bahwa Kutub Utara dan Seladan berada dibawah
ancaman perubahan iklim yang hebat.Dan kedua daerah ini sangat vital dalam menjaga
agar planet tetap dingin karena es di kutub menjadi perisai bumi dalam menangkis 90%
sinar matahari yang menimpa bumi, dan mengembalikannya ke angkasa luar.Tetapi kalau
es di kutub mencair maka 90% panas sinar matahari akan diserap lautan dan semakin
meningkatkan pemanasan global.Dengan tidak menghentikan tingkat emisi C02 saat ini,
diperkirakan es abadi di kutub akan musnah dalam waktu tidak lama lagi.Jika mengikuti
model yang sudah dirancang para ilmuwan, maka es abadi akan meleleh sepenuhnya
dalam waktu 40 tahun.Apakah manusia harus menunggu 40 tahun lagi sebelum menyadari

dampaknya bagi kehidupan di bumi?

B. Rumusan Masalah
Untuk memberikan arah, penulis bermaksud membuat suatu perumusan masalah sesuai
dengan arah yang menjadi tujuan dan sasaran penulisan dalam makalah ini. Perumusan
masalah menurut istilahnya terdiri atas dua kata yaitu rumusan yang berarti ringkasan
atau kependekan, dan masalah yang berarti pernyataan yang menunjukkan jarak antara
rencana dengan pelaksanaan, antara harapan dengan kenyataan. Perumusan masalah
dalam makalah ini berisikan antara lain :
1. Apa sajakah peran dari keberadaan Es di Kutub Utara dan Selatan?
2. Apakah yang terjadi jika Es di Kutub Utara dan Selatan mencair atau hancur?
3. Apa yang harus kita lakukan sebagai umat manusia?
C. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Makalah ini di bagi menjadi 4 bab, sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN, Pada bab ini yang merupakan pendahuluan, terdiri atas latar
belakang masalah, rumusan masalah, dan sistematika penulisan.
BAB II : KUTUB UTARA DAN KUTUB SELATAN, Pada bab ini diuraikan mengenai
gambaran umum mengenai Kutub Utara dan Kutub Selatan, peranannya dalam
kehidupan manusia serta ramalan masa depan mengenai dua daerah yang merupakan
ujung bagian Bumi ini.
BAB III : DAMPAK DARI PENCAIRAN ES DI KUTUB UTARA DAN KUTUB
SELATAN, Pada bab ini menguraikan tentang dampak dan efek buruk yang ditimbulkan
oleh mencairnya Es di Kutub Utara dan Kutub Selatan.
BAB IV : PENUTUP, Pada bab penutup ini berisikan tentang kesimpulan dari Makalah
berjudul Kehancuran Kutub Utara dan Kutub Selatan ini.

BAB II
KUTUB UTARA DAN KUTUB SELATAN
A. Definisi
Kutub Utara adalah titik paling utara dari bola bumi, merupakan satu-satunya titik yang
dilalui oleh garis khayal 90 derajat Lintang Utara. Kutub Utara adalah titik paling utara
Bumi, dapat didefinisikan dalam empat cara berbeda. Namun hanya dua cara pertama
yang umum digunakan. Namun begitu definisi yang paling luas adalah Kutub Utara
terletak di Samudra Arktik. Kutub Utara Geografis, juga dikenal dengan Utara Sejati,
adalah titik utara di mana poros rotasi Bumi bertemu permukaan. Kutub Utara Magnetik
adalah titik utara di mana medan geomagnetik vertikal, yaitu dip adalah 90. Kutub Utara
Geomagnetik adalah kutub utara dari momen dipole medan geomagnetik Bumi. Kutub
tidak terakses Utara adalah titik terjauh dari pesisir manapun, dan terletak di 8403 LU
17451 BB. Kutub sejenis terletak di Samudra Pasifik dan India.
Kutub Selatan ialah ujung selatan bumi (90 S), merupakan sumbu bumi. Penemu kutub
asal Norwegia Roald Amundsen ialah orang pertama yang menemukan Kutub Selatan
pada 14 Desember 1911. Hari ini terdapat banyak stasiun penelitian di Kutub Selatan.
Kutub Selatan magnetis ialah ujung medan magnet yang lurus menembus pusat bumi.
Karena adanya sumbu itulah bumi berputar. Pada 1985 diketahui Kutub Selatan magnetis
ada di 65S 140T. Kutub selatan disebut juga artik, dan kutub selatan merupakan wilayah
di dunia yang belum terjamah oleh manusia seutuhnya, karena kutub selatan tidak
semuanya tersinari oleh matahari, makhluk hidup yang banyak tinggal di sini adalah
pinguin.
B. Masa Depan Kutub Utara dan Kutub Selatan
a. Di Masa Depan Kutub Utara Bebas Es ?
Kawasan laut es di kutub utara mengalami penurunan yang tidak lazim pada September
2010 ini. Meski es di samudera Arktik mengalami siklus normal yakni meleleh di musim
panas dan kemudian membeku kembali di musim dingin, akan tetapi cakupan es menjadi
lebih tipis dan tidak sepadat biasanya. Kondisi es di kawasan kutub utara tersebut

merupakan yang ketiga terburuk sejak 30 tahun terakhir. Saat lapisan es mulai meluas
pada 10 September lalu, peneliti berasumsi bahwa musim mencair sudah berakhir. Akan
tetapi, mereka kemudian terkejut saat mengetahui bahwa lapisan es kembali menciut pada
19 September 2010.
Menurut beberapa peneliti perubahan ini mengindikasikan bahwa lapisan es yang
terbentuk saat ini tipis dan tidak padat. Hal ini membuat lapisan es ringkih terhadap
hembusan angin dan kemudian mencair. Es di perairan Arktik mencapai titik terendah,
yakni hanya seluas 4,6 juta kilometer persegi, pada 19 September. Ini membuat tahun 2010
memecahkan rekor di mana kawasan es mencapai titik terendah ketiga, baik untuk
bilangan harian ataupun bulanan. Lapisan es pada September 2010 berada di posisi ketiga
di belakang tahun 2007 dan 2008 lalu yang mencapai titik terendah pertama dan kedua.
Lapisan es tua dan tebal (berusia lima tahun atau lebih) telah hampir seluruhnya lenyap di
Arktik. Lapisan es tua yang padat, pada September lalu hanya tersisa kurang dari 60 ribu
kilometer persegi. Sebagai perbandingan, lapisan es yang berusia 5 tahun atau lebih di
kisaran waktu yang sama pada tahun 1980-an mencapai ukuran 2 juta kilometer persegi.
Seluruh petunjuk yang ada mengindikasikan bahwa kawasan es di Arktik akan terus
berkurang dalam beberapa dekade ke depan. Diperkirakan, dalam 20 sampai 30 tahun ke
depan, kemungkinan akan ada periode di mana di kutub utara tak akan lagi didapati es.
Bongkahan es seluas 251,2 km persegi terpecah dari suatu gletser (sungai es) utama di
kawasan dekat Kutub Utara jelang akhir pekan lalu. Bagi kalangan ilmuwan, pecahan es
ini merupakan yang terbesar dalam kurun waktu hampir setengah abad. Terpisahnya
bongkasan es itu direkam oleh satelit MODIS milik Badan Antariksa Amerika Serikat
(NASA). Bongkahan es itu berasal dari Gletser Petermann di Greenland. Wilayah otonomi
Denmark itu terletak di antara Kutub Utara dan Samudera Atlantik. Mengingat
ukurannya yang besar, bongkahan es itu membentuk pulau baru. Menurut Universitas
Delaware, itu merupakan bongkahan es terbesar yang berpisah dari induknya sejak 1962.
Ukurannya 40 persen lebih besar dari ibukota AS, Washington D.C. Pecahnya bongkahan
es di sekitar Kutub Utara bukanlah fenomena baru. Namun, berdasarkan ukurannya yang
besar, fenomena itu biasanya lebih sering terjadi di Kutub Selatan ketimbang yang di
utara. Peneliti dari Universitas Delaware, Andreas Muenchow, mengatakan bahwa
pecahan es itu tidak serta-merta dikaitkan dengan pemanasan global. Menurut dia,

penyebab pecahan itu bisa saja akibat derasnya arus laut di bawah gletser.
Berdasarkan analisa perubahan kondisi di daerah setempat dengan menggunakan model
komputer kompleks iklim dan cuaca, keadaan yang diramalkan terjadi pada akhir abad
ini nampaknya akan berlangsung lebih cepat. Perubahan jumlah massa es sangat penting
karena permukaan berwarna putih memantulkan cahaya Matahari ke Bumi. Ketika es
tergantikan dengan lautan gelap di mana cahaya matahari tak dapat diserap, akan terjadi
pemanasan air dan Bumi.
Kutub Utara sering disebut sebagai lemari es Bumi karena membantu mendinginkan
suhu di planet ini dengan memantulkan radiasi Matahari kembali ke Bumi. Jika masa es
berkurang, panas matahari akan diserap oleh lautan, hal ini akan berdampak pada
pemanasan suhu air dan udara, ujar Muyin Wang dari Joint Institute Study of
Atmosphere and Ocean, seperti dilansir Associated Press, Jumat (3/4/2009). Perubahan
cuaca juga dapat disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pemakaian bahan bakar fosil
dan lainnya. Masalah ini mendapat perhatian serius pada pemerintahan Obama sebagai
bagian dari kesepakatan G20 yang diselenggarakan di London.
Dengan hilangnya lautan es, temperatur pusat Kutub Utara pada musim dingin tahun
2005 hingga 2008 lebih besar dari lima derajat Celcius yaitu menjadi 9 derajat Fahrenheit
dan diperkirakan pada 2070 nanti, temperatur Kutub Utara akan semakin meningkat.
Para ilmuwan memperkirakan daerah musim panas yang tertutup es berkurang dari 2,8
juta mil kuadrat persegi menjadi 620.000 mil kuadrat dalam rentang waktu 30 tahun.
Berdasarkan keterangan dari National Snow and Ice Data Center, tahun lalu luas daerah
tersebut minimal 1,8 juta mil kuadrat pada September, luas area terendah kedua yaitu
pada 2007 dengan minimal luas area sebesar 1,65 juta mil.
Lautan Antartika mencapai titik musim dingin maksimum tahun ini yaitu 5,8 juta mil
pada 28 Februari. Artinya 278.000 mil kuadrat di bawah rata-rata selama tahun 1979
sampai 2000. yang merupakan titik terendah kelima. Sementara titik maksimal terendah
keenam terjadi pada enam tahun terakhir sejak 1979.
b. Kehancuran Kutub Selatan
Kutub Selatan mencair lebih cepat seperti yang diperkiraan sebagian peneliti selama ini.
Profesor Peter Barrett dari Antarctic Research Center, Victoria University mengatakan,

jumlah es yang hilang mencapai 75 persen sejak 1996, dan bertambah dengan cepat.
Hilangnya gletser di ujung Kutub Selatan mengakibatkan kenaikan permukaan air laut 0,4
Mm per tahun, tambahnya seperti dilaporkan kantor berita Xinhua. Hilangnya es global
dari Greenland, Antartika dan gletser lain menunjukkan permukaan air laut akan naik
antara 80 centimeter dan 2 meter sampai 2100, kata Barett. Direktur pusat penelitian
Profesor Tim Naish, yang memimpin satu tim peneliti yang membor jauh ke dalam batu di
Kutub Selatan dan menemukan catatan kuno dari yang terakhir bahwa CO2 atmosfir
mencapai tingkatnya sekarang.
Mereka mendapati, 3 juta sampai 5 juta tahun lalu, permukaan air laut cukup hangat
untuk mencairkan banyak bagian es Kutub Selatan ketika CO2 atmosfir hanya sedikit
lebih tinggi dibandingkan kondisinya hari ini. Naish mengatakan es di bagian barat
Antartika akan mencair sebelum lapisan es yang lebih besar di bagian timur Kutub
Selatan karena es itu berada di bawah permukaan air laut dan menghangat bersama
dengan air samudra. Namun, ia mengatakan penelitian tersebut mengangkat pertanyaan
yang tak terjawab mengenai berapa banyak CO2 atmosfir perlu naik untuk mencapai
temperatur sampai 2 derajat celsius atau lebih. Kondisi CO2 di atmosfir sekarang
berjumlah 387 bagian per juta, naik dari sebanyak 280 bagian per juta pada awal Revolusi
Industri.

BAB III
DAMPAK DARI PENCAIRAN ES DI KUTUB UTARA DAN SELATAN
Peneliti di Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat, NASA dan National Snow and Ice
Data Center di Colorado, menipisnya lapisan es di Kutub Utara, melansir temuan yang
membuat kita was-was. Lapisan es di Kukub Utara yang tadinya setebal 680.400 kilometer
persegi menyusut drastis 43 persen dibanding tahun lalu. Tahun lalu jumlah es dengan
struktur bentukan kategori muda berkisar 70 persen, saat ini telah mencapai 90 persen,
kata peneliti Ice Data Center, Walt Meier. Padahal, masih menurut para peneliti ahli, pada
musim dingin bertambah 15 juta meliputi 150.000 kilometer persegi. Atau sekitar 720.000
kilometer persegi lebih kecil dibandingkan dengan kondisi rata-rata daratan es di wilayah
Kutub utara pada tahun 1979 dengan tahun 2000.
Kondisi semacam itu, papar Meier dalam makalahnya, menyebabkan air laut meninggi
dan akan menyapu hampir sebagian luas daratan pantai di belahan bumi. Bisa
dibayangkan bila ketebalan es tiga meter atau lebih yang berada di Kutub Utara tiba-tiba
mencair bersamaan akibat pemanasan global, berapa meter persegi luas daratan
terendam. Kita tidak siap menghadapi hal-hal terburuk ketika bencana itu datang pada
musim panas tahun depan. Kita benar-benar dalam situasi yang sangat genting saat ini,
ujarnya. Peringatan bernada mengancam dari para ilmuwan itu bukanlah mengada-ada.
Sebab mereka memiliki data akurat tentang proses melelehnya es di belahan Kutub Utara.
Kecerobohan para pemilik modal di negara-negara industrialis dituding menjadi salah
satu penyebab utama melelehnya lapisan es di Kutub Utara maupun Selatan.
Mereka dituduh menjadi salah satu pelaku perusakan ekosistem global yang
mengakibatkan temperatur planet bumi semakin bertambah panas setiap tahun. Mestinya,
papar peneliti dan sekaligus Manager Program Wilayah Kutub NASA Tom Wagner,
mereka menyadari fungsi bongkahan es di dua Kutub Utara-Selatan sebagai pemantul
sinar matahari dari Bumi.
Mestinya mereka menyadari kalau bongkahan daratan es, yang menyerupai lautan,
sebenarnya berfungsi sebagai pemantul alami sinar matahari dari Bumi. Kalau esnya
mencair,sinar matahari tidak akan terpantulkan kembali ke udara. Dengan demikian
panas matahari akan langsung terserap oleh lautan dan menambah panas temperatur

planet, tandas Tom.


Kecepatan melelehnya bongkahan es di Kutub Utara juga dialami di belahan Kutub
Selatan. Bahkan tidak sampai puluhan tahun, bongkahan cadas es yang kokoh di kutub
ini telah lenyap disapu panas. Cadas es yang dulunya merupakan tonggak keperkasaan
Kutub Selatan di ujung bumi wilayah Selatan tampaknya tidak tahan terhadap gempuran
sinar matahari. Tidak hanya itu, gletser di daerah tebing pegunungan es Kutub Selatan
pun juga ikut-ikutan mencair terimbas pemanasan global. Kondisi semacam, ujar peneliti
kawasan kutub dari Inggris, tentu sangat memprihatinkan. Apalagi daerah Wordie Ice
Shelf yang rontok sejak tahun 1960-an, juga telah lenyap dari pandangan mata. Selain itu
ditemukan di bagian Utara Larsen Ice Shelf juga telah raib. Sementara itu luas daratan
es sekitar 8.300 kilo meter persegu, kini mulai terpisah dari induknya Larsen Shelf
sejak tahun 1986 lalu, tulis laporan ilmiah US Global Survey (USGS) dan British Antartic
Survey.
Keadaan mencemaskan itu tak urung mengundang kecemasan kalangan pemerintah
Amerika Serikat, Australia dan Ingris sebagai negara industrialis perusak lingkungan
terbesar dunia. Menteri Dalam Negeri AS Ken Salazar dalam suatu kesempatan dalam
pertemuan kepala pemerintahan negara-negara maju di London baru-baru ini, ia
mengungkapkan kecemasannya mengenai pemanasan global. "Berkurangnya gletser di
dua kutub yang sangat cepat, memperlihatkan ancaman nyata yang sedang dialami planet
kita. Kita tidak memperkirakan perubahan ekosistem global lebih cepat dari yang
diperkirakan sebelumnya. Salah satu solusi mengerem dampak yang jauh lebih besar, kita
harus segera menghentikan efek rumah kaca, kata Ken Salazar. Imbauan Ken Salazar,
sebagai Menteri Dalam Negeri AS, tentunya tidak ngawur begitu saja. Sebab jauh-jauh
hari, peneliti gletser ternama dari US Global Survey (USGS) telah mewanti-wanti tidak
lama lagi gletser akan segera mencair dengan kecepatan tak terpikirkan oleh manusia
sebelumnya. Kecepatan gletser mencair akibat pemanasan global jauh dari perkiraan
para ahli. Bahkan jauh lebih besar dari perhitungan kami, ujar Jane Ferrigno.
Itulah sebabnya dalam pertemuan para pemimpin negara-negara maju dunia baru-baru
ini sepakat untuk menekan emisi buangan yang dapat memperparah efek rumah kaca.
Sebab bila tidak dilakukan, efek yang jauh lebih besar tentu akan melanda benua
Australia dan dataran lain di kawasan Asia. Kalau ini terjadi, Australia dan dataran lain

negara-negara di kawasan Asia akan tersapu air pasang laut yang sangat dahsyat, kata
Mc Kahin peneliti senior kawasan Antartika.
Laporan lain yang menguatkan efek mencairnya lapisan es di dua kutub Utara-Selatan
dalam waktu dekat datang dari National Oceanic and Atmospheric Administration
(NOAA) yang dilansir di jurnal Geophysical Letters. Para ahli yang tergabung dalam
NOAA memperkirakan es di Kutub Utara diperkirakan akan mencair seluruhnya dalam
waktu tidak terlalu lama lagi. Kalau tidak ada upaya pencegahan pemanasan global, es di
Kutub Utara dapat dipastikan akan meleleh lebih cepat dari waktu yang diperkirakan
sebelumnya. Tidak akan lama lagi akan terjadi, ujar peneliti kepala Ekspedisi Kutub
Utara Jane Ferrigno.
Dalam pertemuan UN Climate Panel memproyeksikan temperatur atmosfer dunia akan
naik 1,8 sampai 4,0 deratjat celsius akibat buangan gas rumah kaca. Bila hal ini dibiarkan
terus, ujar Jane Ferrigno, akibat yang lebih dahsyat akan terjadi melibihi bencana badai
Tsunami beberapa waktu lalu. Bila tidak dicegah, bisa jadi badai Tsunami akan kalah
dahsyat dengan efek yang ditumbulkan mencairnya lapisan es di dua kutub. Selain banjir,
kemarau menyengat dan gelombang arus panas disertai badai akan menyapu dataran
rendah di beberapa belahan dunia. Sementara itu gletser dan lapisan es mencair, keadaan
itu dapat menaikkan seluruh permukaan air samudra dan merendam daerah dataran
rendah, tandasnya.
Mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan juga berdampak langsung pada naiknya
level permukaan air laut (grafik di samping menunjukkan hasil pengukuran level
permukaan air laut selama beberapa tahun terakhir). Para ahli memperkirakan apabila
seluruh Greenland mencair. Level permukaan laut akan naik sampai dengan 7 meter!
Cukup untuk menenggelamkan seluruh pantai, pelabuhan, dan dataran rendah di seluruh
dunia. Menurut laporan Greenpeace, diperkirakan pada tahun 2100 mendatang akan
terjadi peningkatan air laut setinggi 19-95 cm. Peningkatan air laut setinggi 1 meter akan
mengakibatkan hilangnya pulau atau daratan di dunia;
Peningkatan Level Permukaan Laut yang diukur oleh satelit TOPEX/Poseidon dan Jason1 (Sumber: NASA)
Hilangnya daratan Mesir 1%, Belanda 6%, Bangladesh 17,5% dan 80%atol di kepulauan
Marshall

Tenggelamnya pulau-pulau di, Fiji, Samoa, Vanutu, Jepang, Filipina, serta Indonesia. Hal
ini berarti puluhan juta orang yang hidup di pesisir pantai harus mengungsi ke daerah
yang lebih tinggi.
Naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan kurangnya daya tahan pesisir pantai
sehingga rentan tehadap erosi. Hal ini juga mengakibatkan rusaknya berbagai
infrastruktur dan pemukiman di tepi pantai. Fenomena ini bisa menimbulkan
pengungsian.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Kecepatan melelehnya bongkahan es di Kutub Utara juga dialami di belahan Kutub
Selatan. Bahkan tidak sampai puluhan tahun, bongkahan cadas es yang kokoh di kutub
ini telah lenyap disapu panas. Es di Kutub Selatan tidak mengapung di air, melainkan
bertengger di atas sebuah daratan benua yang bernama Antarctica. Jika meleleh, maka air
di permukaan laut akan naik dan dalam jangka waktu mendatang bisa saja dunia ini akan
tenggelam.
2. Saran
Apa yang terjadi belakangan pada es di Kutub Utara dan Selatan merupakan ancaman
bagi cara hidup masyarakat yang telah bertahan ribuan tahun. Memang persoalan Artik
pada akhirnya bukan persoalan keilmuan saja, melainkan juga persoalan kepentingan
ekonomi dan teritorial dari beberapa negara seperti Kanada, Rusia, Amerika Serikat, dan
Norwegia. Manusialah yang akan menciptakan kepunahan dirinya sendiri.Apa lagi yang
kita tunggu? inilah saatnya bagi kita untuk turut andil menjadi pahlawan dalam bumi
yang kita diami ini. Segala cara untuk mengatasi global warming telah dicanangkan oleh
penduduk bumi dari seluruh belahan dunia.
Sebelum semuanya terlambat, mari kita peduli Tanamlah pohon sebanyak-banyaknya,
kurangi pemakaian kertas atau tissue, hematlah terhadap energi.jangan biasakan
menggunakan kendaraan saat bepergian dengan jaak yang dekat.Siapa lagi yang akan
menyelamatkan bumi selain kita yang menghuninya, demi masa sekarang dan masa yang
akan datang, masa dimana anak-anak kita akan tumbuh.Karena melestarikan lingkungan
pun tergantung dari manusianya itu sendiri.Yang terpenting adalah mempunyai kesadaran
untuk melindungi bumi. Namun jika kita tidak mulai dari diri kita sendiri, siapa lagi yang
akan menyelamatkan bumi kita yang hampir tenggelam karena kepanasan ini? untuk
itu marilah kita menjadi HIJAU demi bumi kita tercinta. kurangin penggunaan plastik.
pisahkan sampah organik dan anorganik. gunakan produk yang ramah lingkungan.
Tanam 1 pohon dirumah kalian. Lakukan hal-hal kecil ini. dan bumi akan bertahan.Oleh

karena itu mari kita gerakan Lingkungan hijau untuk sekarang,nanti dan seterusnya bagi
penerus anak cucu kita.

DAFTAR PUSTAKA
Http://www.nasa.gov
Http://www.google.com
Http://www.wikipedia.com
Http://dillamylovely.blogspot.com
Http://www.independent.co.uk/environment/climate-change/sinking-without-traceaustralias-climate-change-victims-821136.html
Http://southasia.oneworld.net/article/view/160270/1
Http://www.dw-world.de/dw/article/0,2144,2977544,00.html