You are on page 1of 11

TUGAS TERSTRUKTUR

TEKNOLOGI PENGOLAHAN NABATI II

ISOLASI DIOSKORIN DARI TEPUNG GADUNG (Dioscorea hispida


Dennst) DENGAN TEKNIK EKSTRAKSI BERBANTU GELOMBANG
MIKRO UNTUK MENGONTROL HIPERTENSI

Oleh:
Dewi Perceka Sari (125100100111038)
Kelas D

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
PENDAHULUAN

Tanaman gadung adalah tanaman umbi-umbian yang termasuk ke


dalam golongan sumber pangan dan belum banyak dikenal oleh
masyarakat luas. Masyarakat lebih mengenal gadung setelah diolah
dalam bentuk keripik, padahal gadung sebagai salah satu komoditas
mempunyai prospek cukup baik. Hal ini dikarenakan teknik budidaya
gadung tidak memerlukan pemeliharaan yang rumit dan dapat tumbuh di
mana saja.
Gadung (Dioscorea hispida Dennst.) mengandung karbohidrat yang
cukup tinggi. Oleh karenanya, gadung sering dimanfaatkan untuk diolah
menjadi tepung sebagai bahan dasar pembuatan kerupuk. Sebagai
sumber karbohidrat, produk olahan gadung sangat berpotensi untuk
dikembangkan dan dikonsumsi, meski kandungan karbohidratnya lebih
rendah dibanding beras.
Melihat besarnya potensi kandungan karbohidrat pada umbi
gadung, maka perlu dikembangkan teknologi baru untuk memproduksi
tepung gadung yang lebih baik. Produksi tepung gadung terkendala akan
kandungan senyawa toksik berupa senyawa alkaloid (dioscorin) yang
dapat menimbulkan keracunan pada manusia. Salah satu upaya
mereduksi senyawa dioscorin yang telah ada adalah metode rumphius.
Namun demikian, metode konvensional ini hanya mampu mereduksi
senyawa racun relatif rendah. Hal ini terjadi karena dioscorin merupakan
zat terlarut yang dikelilingi oleh matriks bahan yang tidak terlarut,
sehingga laju perpindahan massanya ke fasa pelarut relatif rendah. Selain
itu,

ekstraksi

dengan

pemanasan

konvensional

bergantung

pada

fenomena konveksi dan konduksi, akibatnya sebagian besar panas hilang


ke lingkungan (Hartati, 2010).
Setelah dilakukan pengkajian ulang, beberapa hasil penelitian
menunjukkan bahwa dioscorin memiliki beberapa fungsi penting, salah
satunya adalah dapat menghambat aktivitas ACE (Angiotensin Converting
Enzyme) yaitu enzim yang berperan dalam meningkatkan tekanan darah.
Dioscorin menunjukkan penghambatan non kompetitif terhadap ACE.
Diharapkan paper ini dapat menambah wawasan pembaca
mengenai

pemanfaatan

umbi

gadung

yang

tidak

terbatas

pada

pembuatan tepung gadung saja. Tetapi juga pemanfaatan senyawa


dioscorin

yang

diketahui

memiliki

senyawa

antihipertensi

melalui

penghambatan aktivitas ACE.

PEMBAHASAN

Umbi gadung
Gadung (Dioscorea hispida Dennst.) tergolong tanaman umbi-

umbian

yang

tumbuh

liar

di

hutan-hutan,

pekarangan,

maupun

perkebunan. Gadung merupakan perdu memanjat yang tingginya dapat


mencapai 5-10m. Batangnya bulat, berbulu, dan berduri yang tersebar
sepanjang batang dan tangkai daun. Umbinya bulat dliputi rambut akar
yang besar dan kaku, kulit umbi berwarna gading atau coklat muda,
daging umbinya berwarna putih gading atau kuning. Umbinya muncul
dekat permukaan tanah. Dapat dibedakan dari jenis-jenis dioscorea
lainnya karena daunnya merupakan daun majemuk terdiri dari 3 helai
daun. Bunga tersusun dalam ketiak daun, berbulu, dan jarang dijumpai.

Umbi gadung merupakan sumber pangan yang memiliki karbohidrat


tinggi, meskipun tidak setinggi beras (Tabel 1). Gadung dapat memenuhi
kebutuhan energi tubuh. Karbohidrat dalam gadung didominasi oleh pati.
Selain memiliki kandungan karbohidrat, gadung juga memiliki zat alkaloid
yang disebut dioskorin (C13H19O2N), yang dapat menyebabkan pusing
apabila dikonsumsi.

Dioscorin
Dioscorin (C13H19O2N) adalah protein yang terdapat dalam umbi

tanaman tropis dari keluarga Dioscorea spp. Dioscorin merupakan


cadangan protein dalam umbi dan digunakan untuk pertumbuhan.
Dioscorin memiliki ciri berupa padatan berwarna kuning kehijauan dengan
titik leleh 54-55OC. Pada umbi-umbian yang termasuk ke dalam keluarga
Dioscorea, kandungan dioscorin pada umbi segar belum dapat terdeteksi.
Dioscorin

sebagai

protein

masih

berikatan

dengan

polisakarida.

Polisakarida Larut Air (PLA) yang terdapat pada umbi-umbian keluarga


Dioscorea merupakan glikoprotein yang sangat kental (Kurniawati dkk,
2015).
Dioscorin memiliki beberapa fungsi penting. Dioscorin berfungsi
sebagai cadangan protein pada umbi yam. Dioscorin juga menunjukkan
adanya aktivitas penghambatan tripsin dan carbonic anhydrase. Dioscorin
yang telah dimurnikan memperlihatkan aktivitas antioksidan terhadap
penangkapan radikal bebas. Dioskorin juga berfungsi sebagai suatu
senyawa immunomodulatory.
Beberapa penelitian

menunjukkan

bahwa

dioscorin

dapat

menghambat angiotensin converting enzyme (ACE) yang menyebabkan

peningkatan tekanan darah. Dalam penelitian yang dilakukan, dioscorin


menunjukkan aktivitas antihipertensi secara in vivo. Selain itu, dioscorin
memperlihatkan aktivitas penghambat ACE secara in vitro. Dalam dosis
tertentu efektifitas dioscorin dalam menghambat ACE mencapai 50% jika
dibandingkan dengan katropil yang merupakan obat standar untuk
hipertensi. Dioscorin menunjukkan penghambatan non kompetitif terhadap
ACE. Dioscorin yang telah mengalami hidrolisis oleh pepsin mengalami
peningkatan aktivitas penghambatan ACE hingga 75%. Oleh karena itu,
dioscorin dan hidrolisatnya diduga berpotensi untuk mengontrol hipertensi
(Sumunar dkk, 2015).

Ekstraksi gelombang mikro (Microwave Assited Extraction)


Ekstraksi gelombang mikro merupakan teknik untuk mengekstraksi

bahan-bahan terlarut di dalam bahan tanaman dengan bantuan


gelombang mikro (Hartati, 2010). Dengan menggunakan teknik ini,
diharapkan dioscorin yang terdapat pada umbi gadung dapat diekstrak
secara maksimal. Jika tujuannya untuk pembuatan tepung gadung, maka
ekstraksi ini dapat mereduksi dioscorin secara maksimal sehingga tepung
gadung yang dihasilkan aman digunakan dalam produk pangan. Jika
tujuannya untuk isolasi senyawa dioscorin, maka ekstraksi gelombang
mikro ini cocok karena akan menghasilkan dioscorin dalam jumlah yang
besar.
Keuntungan proses ekstraksi gelombang mikro antara lain: waktu
ekstraksi relatif cepat, kebutuhan pelarut minimal, yield ekstraksi
meningkat, lebih akurat dan presisi (Hartati, 2010). Hal ini terjadi karena
pemanasan menggunakan gelombang mikro berdasarkan tumbukan
langsung dengan material polar atau pelarut dan diatur oleh dua
fenomena yaitu konduksi ionik dan rotasi dipol yang berlangsung secara
simultan.
Kondisi ionik mengacu pada migrasi elektroforetik ion dalam
pengaruh perubahan medan listrik. Resistansi yang ditimbulkan oleh
larutan terhadap proses migrasi ion menghasilkan friksi yang akan
memanaskan larutan. Rotasi dipol merupakan pengaturan kembali dipol-

dipol molekul akibat medan listrik yang terus berubah dengan cepat.
Gelombang mikro bekerja dengan melewatkan radiasi gelombang mikro
pada molekul air, lemak, maupun gula yang sering terdapat pada bahan
makanan. Molekul-molekul ini akan menyerap energi elektromagnetik
tersebut. Proses penyerapan energi ini disebut sebagai pemanasan
dielektrik. Molekul-molekul pada makanan bersifat dipol elektrik, artinya
molekul tersebut memiliki muatan negatif pada satu sisi dan muatan positif
pada sisi yang lain. Akibatnya, dengan kehadiran medan elektrik yang
berubah-ubah yang diinduksikan melalui gelombang mikro, masingmasing sisi akan berputar untuk saling mensejajarkan diri satu sama lain.
Pergerakan molekul ini akan menciptakan panas seiring dengan timbulnya
gesekan antar molekul. Energi panas yang dihasilkan oleh peristiwa inilah
yang berfungsi sebagai agen pemanasan (Mandal dkk, 2007).

Gambar 1. Profil suhu pemanasan konvensional dan gelombang mikro

Pemanasan gelombang mikro melibatkan tiga konversi, yaitu


konversi

energi

listrik

menjadi

energi

elektromagnetik,

energi

elektromagnetik menjadi energi kinetik, dan energi kinetik menjadi energi


panas. Yang membedakan dengan pemanasan konvensional adalah:
pada pemanasan konvensional, pemanasan terjadi melalui gradien suhu,
sedangkan pada pemanasan gelombang mikro, pemanasan terjadi
melalui interaksi langsung antara material dengan gelombang mikro. Hal
tersebut mengakibatkan transfer energi berlangsung lebih cepat, dan
berpotensi meningkatkan kualitas produk (Bagherian dkk., 2011).
Perbedaan profil suhu pemanasan konvensional dan gelombang mikro
disajikan pada gambar 1.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ekstraksi berbantu gelombang


mikro adalah:
1. Jenis pelarut
Penggunaan pelarut yang tepat akan mengoptimalkan proses
ekstraksi. Pelarut dipilih berdasarkan pada kelarutan senyawa target,
interaksi antara pelarut dengan matriks bahan serta kemampuan
pelarut dalam menyerap energi gelombang mikro (Mandal dkk., 2007).
2. Volume pelarut
Secara umum, volume pelarut harus cukup guna meyakinkan bahwa
bahan yang diekstrak terendam seluruhnya di dalam pelarut. Volume
pelarut yang lebih banyak dapat meningkatkan perolehan ekstrak
dalam ekstraksi konvensional, namun dalam ekstraksi berbantu
gelombang

mikro,

volume

pelarut

yang

lebih

banyak

dapat

menghasilkan rendemen yang lebih rendah (Mandal dkk., 2009).


3. Waktu ekstraksi
Secara umum, semakin meningkat waktu ekstraksi, maka jumlah
analit terekstrak akan semakin tinggi. Namun bila dibandingkan
dengan metode yang lain, ekstraksi dengan pemanasan gelombang
mikro membutuhkan waktu yang jauh lebih singkat. Seringkali waktu
ekstraksi 15-20 menit memberikan hasil yang baik. Bahkan pada
ekstraksi pektin dari apel hanya membutuhkan waktu 40 detik untuk
memperoleh hasil ekstraksi yang optimum (Wang dkk., 2007).
4. Daya
Daya microwave dan waktu merupakan dua faktor yang saling
mempengaruhi. Kombinasi daya yang rendah dan waktu ekstraksi
yang panjang merupakan pilihan yang bijak mengingat kombinasi
tersebut dapat menghindari terjadinya degradasi termal produk.
Secara umum, efisiensi ekstraksi dengan waktu ekstraksi yang singkat
akan meningkat seiring dengan meningkatnya daya microwave dari
30-150 W Namun demikian pada daya yang lebih tinggi (400-1200 W),
variasi daya tidak memberikan pengaruh yang nyata pada rendemen
ekstraksi.

Hipertensi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan kondisi medis di

mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka

waktu lama). Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka,
yaitu angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi
(sistolik) dan angka yang lebih rendah diperoleh saat jantung berelaksasi
(diastolik). Tekanan darah tinggi biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik
dan diastolic. Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk
tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik
mencapai 90 mmHg atau lebih, diukur di kedua lengan tiga kali dalam
jangka waktu beberapa minggu.
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya
angiotensin II dari angiotensin I oleh ACE (Angiotensin Converting
Enzyme). Proses perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II tidak
saja terjadi di paru-paru, namun ACE ditemukan pula di sepanjang
jaringan epitel pembuluh darah (Kurniawati, 2015).

Prosedur pembuatan tepung gadung


Umbi gadung

Dibersihkan

Dikupas

Dirajang

Dikeringkan
200 gram tepung gadung

Digiling

Prosedur ekstraksi dioscorin dengan gelombang mikro


Diayak
Tepung gadung
Dimasukkan dalam labu MAE

Diekstraksi pada daya dan suhu tertentu

Solven diuapkan

Analisa kadar dioscorin

600 ml etanol

Pembuatan kapsul dioscorin


Selama ini pembuatan dioscorin dalam bentuk kapsul (obat) belum

terealisasikan. Hal ini mungkin disebabkan oleh penggunaan katropil yang


lebih dulu dikenal. Kemungkinan proses pembuatan kapsul dari ekstrak
dioscorin sama dengan pembuatan kapsul dari ekstrak bahan aktif
berkhasiat obat lainnya, yaitu dengan cara dibuat serbuk dan dimasukkan
dalam kapsul. Tidak menutup kemungkinan nantinya akan ada inovasi
pangan yang mengunggulkan dioscorin sebagai bahan bakunya, sehingga
dapat digunakan sebagai pangan fungsional, yang tidak hanya enak tapi
juga bermanfaat.

KESIMPULAN
Gadung merupakan jenis umbi yang masuk dalam keluarga
Dioscorea. Dalam gadung terdapat senyawa alkaloid berupa dioscorin
yang

diduga dapat menghambat konversi angiotensin I menjadi

angiotensin II oleh enzim ACE.


Proses ekstraksi dioscorin menggunakan gelombang mikro, yang
memiliki beberapa keunggulan dibandingkan ekstraksi konvensional
antara lain: waktu yang relatif cepat, kebutuhan pelarut minimal, yield
ekstraksi meningkat, lebih akurat dan presisi.
Diharapkan nantinya muncul inovasi baru dalam bidang pangan
yang menjadikan dioscorin sebagai bahan baku utama produknya.
Sehingga dapat digunakan sebagai pangan fungsional, yang tidak hanya
enak tapi juga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA
Bagherian dkk. 2011. Comparisons between conventional, microwave and
ultrasound assisted methods for extraction of pectin from grapefruit.
Journal of ScienceDirect Volume 50, Issues 11-12, Pages 12371243
Hartati dkk. 2010. Reduksi Dioscorin dari Umbi Gadung melalui Ekstraksi
Gelombang

Mikro.

Prosiding

Seminar

Nasional

UNIMUS:

Semarang
Kurniawati dkk. 2015. Efek Antihipertensi Senyawa Bioaktif Dioscorin
pada Umbi-Umbian Keluarga Dioscorea : Kajian Pustaka. Jurnal
Pangan dan Agroindustri Vol 3
Mandal, V., Dewanje, S., Mandal, S.C. 2009. Microwave Assisted
Extraction of Total Bioactive Saponin Fraction from Gymnema
sylvestre

with

Reference

to

Gymnemagenin,

Phytochemical

Analysis, 491-497
Mandal, V; Mohan Y. 2007. Microwave assisted extraction an innovative
and promising extraction tool for medicinal plant research.
Pharmacognosy Reviews Vol 1
Sumunar dkk. 2015. Umbi Gadung (Dioscorea hispida Dennst) sebagai
Bahan Pangan Mengandung Senyawa Bioaktif : Kajian Pustaka.
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol 3

Wang, F dkk. 2007. Optimization of pectin extraction assisted by


microwave

from

apple

pomance

using

methodology. J. Food Eng. Article in press.

response

surface