You are on page 1of 14

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jaringan pengangkut adalah jaringan yang berguna untuk transportasi hasil asimilasi dari
daun ke seuruh bagian tumbuhan dan pengangkutan air serta garam-garam mineral (Kimball,
1992). Jaringan pengangkut dibagi menjadi dua yaitu xilem dan floem, xilem merupakan
jaringan kompleks yang terdiri dari sel mati maupun hidup. Floem merupakan jaringan kompleks
yang tediri dari berbagai unsur dengan tipe berbeda yaitu pembuluh lapisan, parenkim serabut,
dan kloroid. Sel-sel terpenting di dalam floem adalah tabung tapis (Mulyani, 1980).
Xilem merupakan jaringan campuran yang terdiri atas beberapa sel yang mempunyai tipe
tertentu yang paling khas. Xilem mempunyai dinding sel yang tebal. Dindingnya menebal dalam
pola-pola berkas (Kimball, 1991). Xilem dan floem merupakan alat transportasi zat-zat pada
tumbuhan berpembuluh. Floem berfungsi sebagai alat transportasi bagi zat-zat hasil fotosintesis
dari daun ke seluruh tubuh tumbuhan (Kimball, 1991). Jaringan floem dibangun oleh beberapa
jenis sel yaitu pembuluh tapis, parenkim, dan serabut floem. Selnya berbentuk tabung dan bagian
ujung berlubang (Wilson, 1966).
Jaringan pengangkut pada tanaman sering disebut jaringan vascular. Disebut jaringan
vascular karena sarana transportasi atau pengangkutannya berupa pembuluh pembuluh
(vasculer). Pembuluh (vasculer) itu untuk membawa air dan larutan ke seluruh tanaman.
Pembuluh itu meliputi Xylem atau pembuluh kayu berfungsi untuk membawa air sedangkan
floem pembuluh lapis/pembuluh kulit kayu membawa hasil fotosintesis berupa larutan organik.
Baik xylem maupun floem terdiri dari beberapa tipe sel. Pada batang primer jaringan ini terletak
pada berkas pengangkut dimana floem di bagian luar dan xylem di bagian dalam. Floem dan
xylem dipisah oleh beberapa baris sel meristem berdinding tipis yang disebut kambium.
1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini sebagai berikut :
1. Mengetahui jaringan pembuluh pada tumbuhan
2. Mengetahui struktur dan fungsi dari xylem, floem dan kambium
3. Mengetahui letak dari xylem, floem dan kambium
1.3 Manfaat
Manfaat dari makalah ini agar menjadi sumber belajar dari struktur dan perkembangan
tumbuhan.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Jaringan Pembuluh
Jaringan pembuluh disebut juga jaringan angkut atau pengangkut ( transportasi ). Jaringan
pengangkut terdiri atas xilem (pembuluh kayu) dan floem (pembuluh tapis). Jaringan pembuluh
merupakan kompleks xylem-floem. Umumnya akar hanya mempunyai xylem, sedangkan batang
mempunyai keduanya (xylem dan floem).
B. Fungsi jaringan pembuluh
Jaringan yang berperan untuk mengangkut air dan unsur hara dari akar sampai daun, serta
mengangkut hasil fotosintesis dari daun keseluruh bagian tubuh tumbuhan.
1. XYLEM
Xylem disusun oleh sel dewasa yang telah mati dan kehilangan plasma membrannya serta
dinding selnya mengalami penebalan sekunder dan dilapisi lilin. Ujung dari dinding sel ini telah
terperforasi sempurna membentuk saluran yang sangat panjang. Saluran ini mempunyai
hubungan yang erat dengan parenkim xylem yang secara aktif mentransport cairan keluar-masuk
xylem.

Gambar 1. Susunan Xylem


2

Xylem memiliki 2 jenis, yaitu xylem primer dan xylem sekunder.


a. Xylem primer
Terdiri dari bagian yang berkembang di saat awal yakni protoxilem dan bagian yang
berkembang kemudian yakni metaxilem.
Promeristem apikal Prokambium (pd pertumbuhan primer) xylem primer elemen I
PRORTOXYLEM kemudian METAXYLEM
Pertumbuhan sekunder kambium vasikuler Xylem sekunder

Bagian-bagian xylem
a. trakea (vessel element)
Trakea merupakan lubang-lubang terdapat pada ujung-ujungnya sehingga transport air dan
mineral atau unsur hara lainnya dapat berlangsung antara sel yang satu dengan yang lain secra
bebas melalui perforasi.
Pd irisan dinding sekunder unsur berbeda-beda dalam bentuk dan strukturnya.
Protoxylem penebalan sekunder : dinding berbentuk cincin /spiral.
Metaxylem penebalan sekunder : dinding berbentuk jala / noktah

b. Trakeid
Trakeid tidak terdapat perforasi (lubang-lubang) sehingga transport air dan mineral
berlangsung lewat noktah antara sel-selnya.
Berasal dari sel tunggal, sel panjang dengan ujung runcing.
Dibedakan dari trakea tidak mengalami perforasi & hanya memiliki pasangan
noktah pada dindingnya.
Dewasa bersifat mati, tidak mengandung protoplasma

c. Serat xylem
Strukturnya serupa serabut sklerenkim. Meskipun asalnya dari trakeid yang
berdiferensiasi lebih lanjut dengan dinding yang tebal dan noktah sederhana. Serabut dan
trakeid saling melekat sehingga sulit dipisahkan tetapi pada umunya sel serabut lebih
panjang dari trakeid karena ujungnya yang runcing dapat masuk diantara sel sewaktu
memanjang.
Trakeid & serat unsur xylem yg tdk berperforasi (imperforate tracheary elements)
Ada dua macam serat, yaitu :
Serat trakeid (noktah kecil)
Serat libiform (noktah sempit, dinding tebal).
d. Parenkim xylem
Sel-sel ini merupakan sel hidup, terdapat baik pada xylem primer maupun sekunder. Pada
xylem sekunder parenkim tersebut berasal dari kambium yang membentuk sel jari-jari sehingga
diperoleh sel-sel yang sumbu panjangnya mengikuti arah jari-jari.
Terdiri dari dua macam, yaitu :
1. Parenkim aksial : parenkim xilem yang berarah tegak sejajar sumbu
2. Parenkim radial : parenkim jari-jari empulur
Pasangan noktah dgn unsur-2 xylem bhalaman, halaman, & noktah sederhana.
Mengandung cadangan makanan (tepung. lemak, tanin, kristal-2).
Fungsi Xylem
4

Fungsi dari xylem adalah membawa air dan ion terlarut (mineral/unsur hara) pada tumbuhan.

2. FLOEM
Floem disusun oleh sel hidup dewasa yang terinterkoneksi oleh perforasi pada ujung
dinding selnya yang terbentuk dari plasmodesmata yang membesar dan termodifikasi. Sel ini
tersusun membentuk tabung yang disebut pembuluh ayak. Sel-sel ini tetap mempunyai
membran plasma, tetapi sudah kehilangan nukleus dan banyak sitoplasma, sehingga mereka
bergantung pada sel pendamping untuk metabolismenya. Sel pendamping mempunyai fungsi
tambahan sebagai pengangkut molekul makanan terlarut keluar dan ke dalam pembuluh
melalui dinding pembuluh yang berpori.
Floem tersusun oleh parenkim floem, serabut floem, pembuluh tapis, sel pengiring
(hanya terdapat pada Angiospermae).

Gambar 2. Susunan Floem


a. Pembuluh
Unsurnya terdiri dari dua bentuk yaitu sel tapisan yaitu sel tunggal dan membentuk
memanjang dengan bidang tapisan yang terletak di samping atau ujung sel. Dan buluh
tapisan yang berupa berkas-berkas sel memanjang yang masing-masing merupakan bagian
dari buluh itu dan dihubungkan oleh satu atau lebih tapisan, biasanya terletak di ujung sel.
Dinding sel pembuluh adalah selulosa dan tidakj pernah dijumpai penebalan lignin.
5

b. Sel-sel pengiring dan Sel Albumin


Sel-sel pengiring adalah sel-sel pembuluh yang diikuti oleh sel parenkim khusus. Sel
pengiring tetap mempunyai nucleus pada waktu dewasa. Memiliki protoplas khas (sel dalam
metabolit aktif).
Tidak dijumpai pada Gymnospermae dan Pterydophyta. Pada Gymnosperamae, tidak
dijumpai sel pengiring, tetapi terdapat sel albumin, tidak ada tepung serta hubungan dgn
buluh tapis.
c. Parenkim floem
Secara fungsional sel parenkim ini berintegrasi dengan sel pengiring. Bentuk selnya
memanjang dan sumbu panjangnya sejajar dengan sumbu berkas pengangkut. Pada saat
floem aktif, sel parenkim tidak mengalami penebalan dinding. Kemudian bila floem tidak
berfungsi maka parenkim ini akan berubah menjadi skelrenkim atau felogen.
d. Serabut
Serabut ini membentuk dinding sekunder setelah selesai pertumbuhan memanjangnya.
Umumnya penebalan ini berupa lignin atau selulosa.
Fungsi Floem
Floem berfungsi mengangkut zat-zat asimilat (hasil fotosintesis) untuk kemudian
didistribusikan ke seluruh bagian tanaman yang membutuhkan.
LETAK JARINGAN PEMBULUH
Struktur Anatomi Akar
Pada akar sistem berkas pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang tersusun berselang-seling.
Struktur Anatomi Batang
Xilem dan floem tersusun melingkar.
Struktur Anatomi Daun
Sistem berkas pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang terdapat pada tulang daun.

Gambar 3. Struktur letak jaringan pembuluh pada daun, batang dan akar
1. Letak jaringan pembuluh pada akar monokotil

Xylem : letak antara Floem saling berdekatan di bagian tepi luar empulur.
Floem : Sama seperti halnya Xylem, hanya ukuran lebih kecil di banding xylem.

2. Letak jaringan pembuluh pada akar dikotil

Xylem : Di bagian tengah akar.


Floem : Diantara Jari-jari yang dibentuk oleh Xylem.
3. Perbandingan batang monokotil dan dikotil

Letak jaringan pembuluh pada batang monokotil


Xylem dan Floem : terletak pada meristem dasar dan tersebar tetapi berdekatn dalam satu
tempat, dengan perbandingan lebih besar ukuran xylem dan floem.
Letak jaringan pembuluh pada batang dikotil
Xylem : Terdapat pada bagian dalam kambium
Floem : Terdapat pada Bagian luar kambium
4. Perbandingan antara Xilem dan Floem
8

3. KAMBIUM
Kambium merupakan meristem lateral karena berada di daerah lateral akar dan batang.
Pada kebanyakan pohon dan semak, daerah kambium berupa silinder yang berlapis banyak dan
pada penampang melintang membentuk cincin yang kontinu. Pada saat aktif, kambium terdiri
dari banyak lapisan sel, namun pada saat istirahat (dorman) hanya ada satu lapisan sel. Lapisan
sel itu dianggap bermuka dua karena dapat membentuk turunan ke dua arah.

Setelah membelah secara perikrinal, sel yang ada di sebelah dalam berkembang menjadi sel
xylem dan sel yang berada di luar tetap aktif sebagai kambium atau sel luar berkembang menjadi
sel floem dan sel dalam tetap berlaku sebagai kambium. Inilah tafsiran yang dianut secara luas.
Bukti yang paling meyakinkan adalah bahwa floem sekunder dan xylem sekunder seakan-akan
merupakan gambar cermin dari sesamanya.
Pada saat-saat tertentu kambium membentuk jari-jari empulur baru yang kemudian di temukan
baik di xylem mapun di floem. Selanjutnya, sementara kambium terdorong ke luar seiring
dengan menebalnya silinder xylem di sebelah dalamnya kambium membelah dengan bidang
pembelahan antiklinal sehingga dapat menambah luas tangensial. Dengan demikian, luas
cambium mengimbang perluasan silinder xylem yang dikelilinginya.

Kambium Fasikuler (Kambium Primer).

Kambium ini terdapat di antara Xilem dan Floem pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae.
Khusus pada tumbuhan monokotil, kambium hanya terdapat pada batang tumbuhan Agave dan
Pleomele. Kambium fasikuler ke arah dalam membentuk Xilem dan ke arah luar membentuk
floem. Sementara ke samping membentuk jaringan meristematis yang berfungsi memperluas
cambium. Pertumbuhan oleh kambium ini disebut pertumbuhan sekunder.

Kambium Sekunder (Kambium gabus/ Kambium Felogen)

Kambium ini terdapat pada permukaan batang atau akar yang pecah akibat pertumbuhan
sekunder. Kambium gabus ke arah luar membentuk sel gabus pengganti epidermis dan ke arah
dalam membentuk sel feloderm hidup. Kambium inilah yang menyebabkan terjadinya lingkar
tahun pada tumbuhan.
A. Jenis Sel Kambium
Dari segi morfologi dapat dibedakan dua macam pemula sebagai berikut: (1) Pemula yang
meruncing di kedua ujungnya sehingga berbantuk kumparan, disebut pemula kumparan atau
pemula fusiform, menghasilkan unsurbyang memanjang atau aksial (vertical)npada kayu (xylem)
dan bagian dalam kayu (floem); (2) pemula jari-jari empulur yang tumbuh kea rah radial.
1. Pemula Fusiform
Sel yang berbentuk kumparan ini panjangnya berkisar 140 462 m pada dikotil dan 700 4500
m pada pinus. Panjang sel dapat beragam dalam setahun, bergantung pada keseimbangan antara
pembelahan sel dan ekspansi sel. Pada sayatan radial, dindig ujung tampak datar, namun pada
sayatan tangensial berbentuk lancip, atau meruncing secara bertahap atau langsung. Pada sayatan
melintang sel ini tampak seperti segi empat atau agak pipih.

10

Panjang pemula fusiform adalah penting karena sedikit banyak mempengaruhi panjang
turunannya. Namun, pengukuran xylem tidak menunjukan panjang yang sama dengan cambium
karena terjadi pemanjangan sel sewaktu xylem tumbuh menjadi dewasa.

ray initial

Inisial jejari
(tidak bertingkat)

Inisial fusiform
( bertingkat)

2. Pemula Jari-jari Empulur


Pemula jari-jari empulur lebih kecil daripada pemula fusirorm, yakni pendek dan isodiametris,
atau 2 3 kali lebih tinggi dri pada lebarnya. Pada coniferae, pemula jari-jari empulur senantiasa
tersusun sebagai deretan sel kea rah vertical yang terdiri dari satu baris sel, dinamakan berseri
satu atau unisertiat. Kelompok pemula jari-jari empulur dapat menjadi lebih panjang dengan
hilangnya pemula fusiform diantara dua kelompok pemula jari-jari empulur, sehingga keduanya
dapat menyatu. Atau pemula fusiform mengubah dirinya dengan membelah melintang beberapa
kali menjadi sederetan pemula jari-jari empulur. Jika salah satu mekanisme tersebut
mengakibatkan jari-jari empulur menjadi berseri banyak atau multiseriat, maka pemula segera
hilang sehingga kondisi uniseriat diperoleh kembali. Pada dikotil sering terdapat jari-jari
empuluruniseriat maupun multiseriat dan hal itu tercermin dalam pemula jari-jari empulurnya.
Pada setiap jenis, kelompok pemula dapat hanya mengandung pemula panjang saja, isodiametris
saja, atau campuran keduanya. Jika keduanya ditemukan, maka pemula panjang hamper selalu
bertempat di bagian paling atas atau paling bawah jari-jari empulur atau di kedua tempat itu;
selebihnya terdiri dari pemula berbentuk isodiametris.
3. Perkembangan Kambium Pembuluh
Pada tumbuhan monokotil dan sejumlah dikotil basah, prokambium akan habis terdiferensiasi
menjadi jaringan pembuluh. Pada tumbuhan berkayu, sebagian prokambium dalam setiap ikatan
pembuluh akan berkembang menjadi cambium fasikuler. Perubahan antara pertumbuhan primer
dan sekunder tidaklah tajam karena jaringan primer diperoleh akibat pembelahan pada daerah
subapikal dan seluruh pertumbuhan lateral merupakan proses yang sinambung dari mulai apeks
sampai batang yang dewasa. Pada umumnya dianggap bahwa transisi terjadi secara bertahap dan
11

biasanya lambat, meskipun kadang-kadang cepat, dan baik prokambium maupun kambium
merupakan dua stadium perkembangan dari satu macam meristem. Kambium dapat pula terjadi
pada beberapa tempat yang sebelumnya tidak menampakkan kambium, seperti pada kambium
interfasikuler.
Pada sejumlah tumbuhan hanya cambium fasikuler yang berperan dan setiap ikatan pembuluh
membesar, diiringi oleh sedikit pertumbuhan sekunder. Pembelan difus (tersebar) dan proliferasi
sel pada jari-jari empulur medulla sudah cukup mengimbangi produksi kayu yang sedikit itu.
Kerangka kayu tumbuhan seperti itu menunjukkan pola kerangka berkas ikatan pembuluh asal.
Pada pohon dan semak yang banyak membentuk kayu, cambium interfasikuler berdiferensiasi
pada jari-jari empulur medulla baik secara serentak bersama dengan cambium fasikuler atau
beberapa saat sesudahnya. Kambium interfasikuler berdiferensiasi sebagai panel yang meluas
dari tepi cambium fasikuler. Kedua panel dari tepi dua ikatan pembuluh yang berdampingan akan
bertemu sehingga membentuk kambium interfasikuler yang sinambung. Dengan demikian, pula
terjadi kesinambungan dari seluruh kambium. Setelah beberapa bulan atau tahun, kedua macam
cambium tak dapat dibedakan dan seluruh dinamakan kambium pembuluh saja.

12

BAB 3 PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Jaringan pengangkut adalah jaringan yang berguna untuk transportasi hasil asimilasi
dari daun ke seuruh bagian tumbuhan dan pengangkutan air serta garam-garam
mineral.
2. Xylem disusun oleh sel dewasa yang telah mati dan kehilangan plasma membrannya
serta dinding selnya mengalami penebalan sekunder dan dilapisi lilin.
3. Floem disusun oleh sel hidup dewasa yang terinterkoneksi oleh perforasi pada ujung
dinding selnya yang terbentuk dari plasmodesmata yang membesar dan termodifikasi.
4. Kambium merupakan meristem lateral karena berada di daerah lateral akar dan
batang.
B. Saran
Semoga apa yang kita pelajari tentang pembuluh angkut ini dapat menjadikan kita untuk
lebih mengetahui tentang susunan dan fungsi dari floem, xylem dan kambium.

13

DAFTAR PUSTAKA
Estiti, B. H. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: Penerbit ITB
Kimball, J.W. 1983. Biology. Addison-Wesley Publishing Company Inc. Alih Bahasa Sutarmi,
S.T. dan Sugiri, N. 1992. Jakarta: Erlangga.
Mader, S.S, 1987. Biology: Evolution, Diversity and the Environtment. Iowa: Wm.C.Brown
Publisher. Alih Bahasa Indonesia (Purnomo, B.S.) 1995. Penerbit Kucica.
Mulyani, sri E.s. 2006. Anatomi tumbuhan. Yogyakarta: Kanisus Yogyakarta
Soerodikoesoemo, Wibisono, dkk. 1993. Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Penerbit Universitas
Terbuka. Depdikbud Jakarta.
Sutrian, Y. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan. Jakarta: Rineka Cipta

14