Dilema Pangan Beras Indonesia

Oleh : Herlina Tarigan Belakangan ini, masalah perberasan Indonesia menghadapi dilema antara upaya mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri dengan cara peningkatan produktivitas dan impor beras, dengan upaya menjaga kestabilan harga beras agar tetap terjangkau oleh semua pihak. Apa dampaknya jika keduanya dicapai secara bersamaan? Harus diakui bahwa pembangunan yang bersifat hegemoni pada masa yang lampau telah meninggalkan banyak dampak negatif. Salah satu kebijakan yang telah menciptakan dampak kompleks adalah hegemoni dalam bidang pangan, yaitu menyeragamkan jenis makanan pokok rakyat dengan komoditi beras. Misi itu diimplementasikan saat produksi padi Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Selain itu ada keyakinan yang besar bahwa usahatani padi masih mempunyai potensi untuk terus dikembangkan. Berbagai teknologi mulai dari benih, pupuk, pestisida hingga alsintan diteliti dan diintroduksikan ke pedesaan dengan tujuan agar petani bisa menangani proses produksi secara intensif. Pembangunan yang mempunyai ideologi identik dengan revolusi hijau diorientasikan pada tingkat pertumbuhan dengan landasan efisiensi. Indikator utamanya adalah produktivitas. Selain itu, perluasan lahan melalui percetakan sawah, pemanfaatan lahan rawa dan pasang surut, hingga intensifikasi usahatani padi pada lahan kering, menjadi program pembangunan yang mendapat prioritas. Sebagian besar dana, energi, dan perhatian Departemen Pertanian tercurah untuk komoditas beras. Kedudukan beras sebagai komoditi publik sekaligus komoditas politis “seakan-akan” menghilangkan rasionalitas untuk memikirkan bahwa tujuan sejati pembangunan pertanian adalah kesejahteraan masyarakat, termasuk petani padi. Faktanya, tahun 1984 kita sempat swasembada beras. Status ini merupakan kehormatan dan kebanggaan negara di tingkat dunia. Persoalannya adalah seberapa besar kebanggaan tingkat negara ini menjadi kebanggaan di tingkat petani, karena ternyata hingga tahun 2001 sekitar 70 persen petani padi (termasuk petani kecil dan buruh tani) termasuk golongan masyarakat miskin (Suryana, 2001). Beberapa masalah yang diperkirakan menjadi pembatas peningkatan produksi adalah 1). Keterbatasan sumberdaya lahan sebagai akibat konversi menjadi pabrik, jalan, perkantoran maupun pemukiman, 2). Pemilikan lahan yang relatif kecil-kecil sehingga sulit berproduksi secara optimal, 3). Kualitas agroekosistem yang kian miskin bahkan jenuh input; dan 4). Sebaran produksi yang sebagian besar masih bertumpu di Pulau Jawa. Dari segi konsumen, hegemoni pembangunan masa lalu telah menyebabkan banyak wilayah atau komunitas yang mengalami proses perubahan sosial budaya yang sangat mendasar. Masyarakat yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi bahan pokok seperti jagung, sagu atau singkong, kini merata mengkonsumsi beras. Masyarakat yang tinggal

di daerah dengan agroekosistem yang tidak cocok untuk padi, sudah beralih konsumsi beras sebagai pangan pokok. Benturan-benturan yang tejadi pada tahap awal, secara perlahan menjadi harmoni karena dibingkai dalam nuansa kebijakan dan sarana yang kondusif. Kebanggan sebagai negara swasembada beras di tengah masyarakat yang sudah terlanjur memiliki budaya mengkonsumsi beras, melahirkan dilema pembangunan yang cukup sulit untuk dipecahkan. Saat seluruh rakyat di pelosok negeri ini sudah tergantung pada beras, ketersediaan beras dalam negeri kerap tidak memadai. Belum lagi pertumbuhan penduduk yang mengalami peningkatan, terutama semenjak terjadi krisis ekonomi yang lalu. Ini berarti ada peningkatan jumlah konsumsi beras dalam negeri. Sementara pola produksi yang fluktuasi memberi indikasi bahwa berbagai upaya peningkatan produksi belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Realitas ini mendesak pemerintah khususnya Departemen Pertanian untuk berfikir dan bertindak secara cepat dan bijaksana. Berpijak pada kerangka berfikir klasik dari Wolf (1985), dilema di atas berpeluang ditanggulangi melalui dua cara yang “bertentangan” yaitu memperbesar produksi dan mengurangi konsumsi. Di tingkat negara, cara pertama layak untuk diupayakan. Namun kapasitas petani perlu mendapat perhatian. Menggerakkan petani untuk terus meningkatkan produksi, saat sensitifitas beras terhadap harga sangat rendah, sama dengan menggiring petani memasuki dunia kemiskinan dan bertahan di sana sampai muncul kesadaran bahwa padi tidak lagi sumber rejeki yang menciptakan rasa aman dan nyaman. Hal yang penting justru membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan petani padi yang tidak selalu berimpit atau identik dengan kepentingan negara. Good governance harus menunjukkan bahwa pada saat sangat mendesak sekalipun, Negara adalah perlindungan masyarakat, terutama masyarakat miskin. Secara transparan, kegundahan mengenai beras telah menciptakan situasi yang menundukkan instansi-instansi yang menangani tanaman pangan khususnya padi, terkesan lebih penting dan prioritas dibanding yang lainnya. Kekhawatiran yang besar juga yang menginisiasi adanya institusi seperti ketahanan pangan dengan programprogram seperti lumbung padi modern. Sekiranya perlu diperhatikan, selain memperhatikan proses produksi, ada beberapa yang perlu mendapat perhatian yaitu: 1). Menentukan tarif dan membatasi jumlah impor beras yang mampu mangatasi banjirnya beras impor di dalam negeri. Kebijakan ini hanya efektif jika didukung peraturan dan kontrol hukum yang tegas. 2). Melepaskan penggunaan indikator inflasi dalam mengendalikan harga beras dengan alasan apapun. 3). Menangani masalah kehilangan hasil pada proses panen dan pasca panen dengan teknologi dan sistem kerja yang lebih baik. Kehilangan hasil yang diperkirakan mencapai 30 persen merupakan kebocoran besar. Dengan memakai contoh produksi padi tahun 2001 yang mencapai 50.5 juta ton, berarti terjadi kehilangan hasil sekitar 21.64 juta ton. Itu artinya, kita kehilangan hampir separuh dari jumlah padi yang kita miliki, suatu jumlah yang cukup besar dan berarti bagi kecukupan pangan dalam negeri yang bisa menekan kebutuhan untuk mengimpor beras. Mengurangi konsumsi sebagai cara kedua dalam mengatasi masalah pangan beras merupakan cara yang lebih rumit karena menyangkut dua hal yaitu: 1). Pertumbuhan penduduk yang sulit ditekan. Selama masa krisis terjadi kenaikan angka pertumbuhan

penduduk yang cukup signifikan. 2). Karena jenis makanan pokok keluarga merupakan bentuk konkrit dari sebuah budaya, maka proses perubahannya hanya bisa berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Ada indikasi bahwa beras dikonstruksikan sebagai makanan yang enak dan melambangkan status sosial yang lebih baik. Ini bisa dilihat pada masyarakat pedesaan di Jawa, yang mengkonsumsi gaplek atau jagung jika dan hanya jika ketersediaan beras terbatas (tidak tersedia di wilayah atau rumah tangga tidak mampu membelinya). Hal yang sama terjadi di Maluku, hampir tidak ditemukan rumah tangga yang mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Sarapan pagi dengan papeda menjadi momen yang langka. Padahal agroekosistem yang memungkinkan untuk ditanami padi sangat terbatas. Artinya, ketergantungan terhadap komoditas luar sangat tinggi. Berdasarkan kedua faktor penghambat pengurangan-pengurangan konsumsi di atas dapat dipastikan Departemen Pertanian akan kesulitan jika dibebani penyelesaian masalah pangan tanpa ada dukungan dan solidaritas dari pihak lain. Upaya mengurangi konsumsi memerlukan beberapa kondisi pendukung seperti 1). Program kependudukan yang lebih terencana, termasuk menekan tingkat pertumbuhan. Penyuluhan KB, alat kontrasepsi dan pelayanan kesehatan yang murah dan mudah, sangat mendesak mengingat kemampuan beli/bayar penduduk yang semakin rendah. 2). Menggerakkan program diversifikasi pangan yang disertai peningkatan pengetahuan ilmu gizi pangan yang benar. Mengenali kelebihan kandungan gizi pada bahan pangan selain beras berfungsi merubah persepsi yang berlebihan tentang komoditas beras. 3). Meningkatkan penelitian, pengetahuan dan pelatihan keterampilan mengolah bahan pangan selain beras hingga dikenal keragaman makanan pengolahan yang enak dan bergengsi. Kegencaran teknik promosi diperlukan untuk merubah pandangan masyarakat tentang makanan yang bergengsi dan modern. 4). Mengurangi program beras murah yang memelihara ketergantungan masyarakat untuk mengkonsumsi beras. Selama masih memungkinkan untuk memperoleh beras, masyarakat sulit untuk merubah jenis pangan pokoknya. Jika dahulu perubahan pangan masyarakat dari non beras bisa dibuat menjadi seragam beras, tentu ada peluang untuk merubah atau mengembalikannya pada posisi semula. Perlu menciptakan kondisi yang kondusif untuk itu, meskipun perubahannya sangat evolutif. Harus diakui pula bahwa program beras murah mempunyai kontribusi dalam “merusak” harga gabah petani padi. Kelompok petani kecilpun akhirnya mensiasati keadaan dengan menjual gabahnya sendiri dan membeli beras murah pemberian pemerintah. Ironisnya, pendapatan hasil gabah tersebut seringkali digunakan untuk keperluan konsumtif hasil produksi industri perkotaan yang kerap tidak berhubungan dengan usahataninya sendiri. Akhirnya, masalah pangan ditingkat negara maupun tingkat petani tetap merupakan dilematis. Namun sikap berstrategi tetap perlu diambil agar tidak terkesan mendua. Pemerintah berupaya mencukupi pangan nasional dengan alasan stabilitas dan integrasi, tapi secara bersamaan memiskinkan atau membiarkan miskin mereka yang memproduksi pangan bagi mereka yang tidak miskin . Lalu di mana peran negara sebagai pelindung mereka yang miskin?
Herlina Tarigan

Penulis adalah Staf Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian (Dimuat pada Tabloid Sinar Tani, 23 April 2003)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful