You are on page 1of 4

Short List 4.

Penataan Lingkungan

4.12.(3)
Penanganan Permukiman Bantaran
Sungai Code

Yogyakarta

Tipe kegiatan:

Penataan permukiman kumuh


Inisiatip dalam manajemen perkotaan:
Keterlibatan pihak-pihak yang concerned dalam penataan lingkungan permukiman
Tempat dan skala kegiatan:
Seluruh bantaran Kali Code mendapatkan pembinaan, tetapi sebagai contoh kasus
difokuskan pada RT01/RW01 Kelurahan Kotabaru (sebagai kawasan binaan Romo
Mangun)
Pelaku utama:
Masyarakat, institusi/perorangan lainnya
Deskripsi kegiatan
Sebagai salah satu kawasan permukiman kota (yang berlokasi di pusat kota),
bantaran Sungai Code berperan sebagai penunjang kegiatan kota, khususnya kegiatan di
kawasan Malioboro. Namun di saat yang bersamaan, pada waktu itu bantaran Sungai Code
mempunyai kondisi sosial-ekonomi maupun fisik yang sangat buruk, karena penggunaan
kawasan tersebut sebagai tempat pembuangan sampah, tempat hunian masyarakat yang
mempunyai profesi hitam, tempat kaum migran yang tidak mempunyai pekerjaan tetap
(namun demikian mempunyai elastisitas yang tinggi dalam melaksanakan kehidupan
ekonominya), serta rawan terhadap banjir.
Sejak tahun 1990 masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Code (baik penduduk
asli maupun pendatang) berproses secara sosial-ekonomi, sehingga kemudian menyatu
menjadi suatu masyarakat dengan sifat-sifat :
Apriori, apatis, takut dan curiga terhadap lembaga-lembaga resmi
Mempunyai solidaritas tinggi terhadap sesama orang yang kurang beruntung
Relatif tidak peduli (mengabaikan) hukum dan peraturan
Kurang menghargai hak-hak pribadi
Sulit menghadapi perubahan-perubahan yang datangnya dari luar
Berorientasi terhadap kehidupan masa kini
Beberapa pihak menaruh perhatian terhadap kondisi tersebut. Konsep yang akan
digunakan disepakati tidak akan penggusuran karena diperhitungkan bahwa hal tersebut
tidak memecahkan masalah dalam penanganan kawasan Bantaran Code, karena meskipun
memperoleh penggantian, masyarakat di sana yang digusur akan tetap menjadi kelompok
marjinal di tempatnya yang baru. Untuk itu kemudian Pemerintah Daerah mengembangkan
visi dalam penanganannya yaitu (1) menjadikan kawasan bantaran Sungai Code, meskipun
berkepadatan tinggi tetapi tetap layak huni serta mempunyai sarana dan prasarana yang
memadai; (2) pola pemanfaatan tempat tinggal di kawasan tersebut sekaligus sebagai
tempat bekerja; serta (3) menjadikannya sebagai pendukung kawasan Malioboro.
Penanganan kawasan bantaran Sungai Code oleh Pemerintah Daerah dimulai pada tahun
1983, dengan menggunakan apa yang dinamakan konsep TRIBINA serta dengan
menerbitkan Perda No. 7 tahun 1986 tentang RIK untuk Kawasan Code yang ditetapkan
42

Short List 4. Penataan Lingkungan

sebagai kawasan khusus. Sementara itu program-program yang dijalankan adalah


penyuluhan masalah permukiman, peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat, rasionalisasi
sungai, KIP, sistem pembiayaan bergulir dan penyediaan air bersih. Di luar Pemerintah
Daerah, terdapat usaha penanganan yang sama yang dilakukan oleh LSM, swasta,
perguruan tinggi maupun perorangan, termasuk diantaranya yang dilakukan oleh Romo
Mangunwijaya.
Pelaksanaan kegiatan
Secara umum pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan penataan kawasan kumuh
di bantaran Sungai Code membentuk suatu kemitraan, yaitu :
Masyarakat baik sebagai kelompok sasaran (penerima program dan yang
memanfaatkannya) maupun sebagai pelaksana
LSM, swasta, perguruan tinggi serta perorangan sebagai fasilitator dan penyandang
dana
Pemerintah daerah sebagai pemberi legalitas dan mediator
Dari keseluruhan kegiatan yang terlibat dalam penanganan masalah bantaran
Sungai Code, kegiatan serta pendekatan yang dilakukan oleh Romo Mangunwijaya secara
khusus memperoleh banyak catatan dari berbagai pihak. Romo Mangun memulai
kegiatannya pada tahun 1983 dengan memperkenalkan konsep rumah panggung sebagai
antisipasi terhadap kemungkinan banjir yang dapat datang secara berkala maupun sewaktuwaktu. Beberapa hal lain yang dilakukan adalah :
Memperkenalkan nilai-nilai kehidupan baru, diantaranya adalah memperkenalkan
penggunaan intelektualitas dalam menyelesaikan permasalahan hidup. Pengembangan
intelektualitas masyarakat dapat dibangkitkan melalui pengenalan pada buku serta
melalui pendidikan yang terstruktur (misalnya sekolah). Untuk kepentingan tersebut
Romo Mangun kemudian membangun perpustakaan, sekolah, dll
Memperkuat struktur sosial masyarakat, dengan membangun struktur kelembagaan
maupun solidaritas di dalam masyarakat.
Secara fisik membentuk lingkungan yang baik dari sisi estetika, dengan menawarkan
konsep-konsep bangunan rumah yang mempunyai nilai arsitektural tinggi dan unik
Meskipun wilayah yang dibina oleh Romo
Mangun (RT01/RW01 Kelurahan Kotabaru)
merupakan bagian yang kecil dari keseluruhan
kawasan bantaran Sungai Code, namun cukup
signifikan untuk dapat ditampilkan sebagai wajah
penanganan permukiman kumuh di kawasan
tersebut. Dengan mengambil contoh penanganan di
RT01/RW01 Kelurahan Kotabaru, terlihat bahwa
kegiatan penanganan di kawasan Code dapat
menarik perhatian berbagai pihak, misalnya :
Beberapa bangunan artistik di wilayah

Kawasan bantaran Sungai Code sering dijadikan


studi: mengubah citra kumuh
ajang studi banding untuk dijadikan contoh
dalam melakukan peremajaan kota, khususnya yang berada di kawasan bantaran sungai
Secara khusus wilayah yang dibina oleh Romo Mangun memperoleh Aga Khan Award
atas prestasinya dalam bidang arsitektur kota. Hal ini merupakan pengakuan serta
penghargaan pihak yang berkompeten dalam bidang arsitektur atas apa yang dilakukan
Romo Mangun (beserta masyarakat setempat)

43

Short List 4. Penataan Lingkungan

Keterlibatan lebih banyak lagi pihak yang bersedia memberikan alih teknologi,
pendanaan maupun sumbangan pemikiran, misalnya perguruan tinggi, LSM, swasta, dll
Manfaat dan keuntungan kegiatan serta faktor-faktor pelaksanaannya
Secara keseluruhan kegiatan ini memberikan kehidupan yang lebih baik kepada
masyarakat di bantaran Sungai Code. Secara sosial terlihat bahwa masyarakat menjadi
lebih solid, yaitu (1) mempunyai kemampuan dalam mengidentifikasi permasalahan serta
merumuskan alternatif pemecahannya; (2) telah terbentuk berbagai struktur kelembagaan;
serta (3) terjadi perubahan perilaku dalam menghadapi pihak luar maupun perubahanperubahan yang mungkin terjadi. Selain itu, terlihat juga adanya perubahan fisik pada
kawasan bantaran Sungai Code, yang secara mencolok ditunjukkan oleh arsitektur
bangunan maupun kondisi sungai yang semakin bersih dan rapi.

Keunikan satu bangunan rumah :


membentuk lingkungan yang lebih
manusiawi

Kondisi S.Code dan


bantarannya :
relatif rapi dan bersih
untuk ukuran perkotaan

Perbaikan-perbaikan kondisi pada kawasan bantaran Sungai Code tersebut dapat


terjadi karena beberapa faktor, yaitu :
Terdapat figur perorangan yang memberikan waktu, tenaga maupun usahanya secara
intensif. Tokoh tersebut kemudian mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari
masyarakat setempat sehingga kemudian mempunyai pemahaman yang lebih baik
terhadap permasalahan maupun pola pikir mereka. Pada akhirnya pendekatanpendekatan yang dilakukan relatif lebih dapat diterima oleh warga setempat
Terdapat Pemerintah Daerah yang mempunyai konsep-konsep penanganan yang cukup
komprehensif, terutama dengan prinsipnya untuk tidak menggusur. Tanpa adanya
ancaman penggusuran ini membuat masyarakat bantaran Sungai Code menjadi tidak
apriori terhadap upaya penanganan tersebut
Permasalahan terbesar yang dihadapi dalam penanganan kawasan bantaran Sungai
Code adalah terus bertambahnya pendatang di sepanjang sungai tersebut, yang dapat
mengganggu ketercukupan sarana dan prasarana yang disediakan. Tidak berimbangnya
ketersediaan sarana dan prasarana dengan jumlah penduduk akan memunculkan kembali
kekumuhan sehingga merusak upaya penanganan yang telah dilakukan selama ini.
Sementara itu untuk keberlanjutan (sustainability) kegiatan, terutama pada penanganan
kawasan binaan Romo Mangun, harus dapat menjawab tantangan untuk dapat
menghilangkan ketergantungan pada satu figur.

44

Short List 4. Penataan Lingkungan

Hal-hal yang dapat dipelajari


Dari penanganan kawasan bantaran Sungai Code, khususnya yang merupakan
binaan Romo Mangun, dapat ditarik beberapa pelajaran, yaitu :
Dengan membangun masyarakat yang solid, akan membuat mereka sebagai kelompok
yang kokoh sekaligus fleksibel (namun kompak) dalam menyikapi perubahan dari luar.
Penanaman nilai-nilai intelektualitas dan budaya akan menambah bobot penyikapan
mereka terhadap berbagai permasalahan.
Pemberian citra baik yang secara mencolok diperlihatkan oleh arsitektur bangunan
maupin lansekap kawasan mampu menggugah keterlibatan masyarakat setempat
maupun pihak-pihak lain untuk lebih banyak lagi memberikan kontribusinya dalam
penanganan kawasan bantaran Sungai Code. Keindahan, ketertiban serta kebersihan
diharapkan mampu mengimbas kepada perubahan perilaku keseharian ke arah yang
lebik baik.
Kedua hal di atas dapat dilakukan oleh lembaga atau perorangan yang mengidentikkan
dirinya sebagai bagian dari masyarakat setempat.
Kemungkinan-kemungkinan Replikasi
Program ini menarik untuk direplikasi di tempat lain, mengingat saat ini di
Indonesia, salah satu permasalahan perkotaan adalah penataan lingkungan permukiman.
Bantaran Sungai Code dapat dijadikan contoh kasus yang mewakili sebagian besar wajah
permasalahan permukiman kota, yaitu kumuh, di pusat kota, di bantaran sungai serta
memiliki problem sosial-ekonomi yang kompleks. Namun demikian untuk replikasi
kegiatan ini, khususnya pembinaan kawasan bantaran Sungai Code oleh Romo Mangun,
tidak dapat dengan mudah dilakukan sebelum memperoleh pengganti figur tokoh tersebut,
dengan syarat kesamaan dedikasi, intregitas maupun kemampuan-kemampuan teknis
lainnya.
Nara sumber:
Ir. Eko Suryo
Bappeda Tingkat II Kotamadya Yogyakarta
Kompleks Balai Kota
Jl. Kenari Yogyakarta
Telp. 0274-515207
Adi Suprayitno
Ketua RT01/RW01 Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman
Kotamadya Yogyakarta
Referensi lainnya :

45