Prof. Dr.

Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy Ahli Fiqih & Hadits Indonesia, Tokoh Muhammadiyah & Persis http://subhan-nurdin.blogspot.com

Fiqh Indonesia: Tema Pemikiran Hukum Islam Hasbi Ash Shiddieqy (1905-1975 M)

Ditinjau dari sejarah perkembangan pemikiran hukum Islam sebelum kemerdekaan, berbagai cara telah dilakukan oleh setiap pemikir Muslim Indonesia untuk memadukan antara budaya dan hukum Islam itu sendiri. Mereka telah mencoba untuk melakukan hal tersebut pada fase awal sejarah negara kita. Salah satu dari para pemikir Muslim tersebut adalah Hasbi Ash Shiddieqy, seorang pemikir besar di masanya, yang telah menyumbangkan gagasan yang mencerahkan dan kontroversial di kalangan umat Islam. Maka, dalam makalah ini akan dibahas biografi singkatnya dan pemikiran pembaruannya. Biografi Singkat Nama lengkapnya adalah Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Ia dilahirkan di Lhokseumawe, Aceh Utara, pada tanggal 10 Maret 1904 di tengah keluarga pejabat. Ada beberapa hal yang menarik pada dirinya. Pertama, ia adalah seorang otodidak. Pendidikan yang ditempuhnya dari dayah ke dayah. Dan hanya satu setengah tahun duduk di bangku sekolah Al Irsyad (1926). Kedua, ia mulai bergerak di Aceh, yang dikenal fanatik, bahkan ada yang menyangka “angker”. Namun, Hasbi pada awal perjuangannya berani menentang arus. Ia tidak gentar dan surut dari perjuangannya kendatipun karena itu, ia dimusuhi, ditawan, dan diasingkan oleh pihak yang tidak sepaham dengannya.

Ketiga, dalam berpendapat ia merasa dirinya bebas tidak terikat dengan pendapat kelompoknya. Ia berpolemik dengan orang-orang yang berasal dari organisasiorganisasi masyarakat lain seperti Muhammadiyah dan Persis, padahal ia adalah anggota dari kedua perserikatan itu. Keempat, ia adalah orang pertama di Indonesia yang sejak tahun 1940 dan dipertegas lagi sejak tahun 1960, menghimbau perlunya dibina fiqh (al-fiqh) yang berkepribadian Indonesia. Himbauan ini sempat mengundang sentakan dari sebagian ulama di Indonesia. Namun, ia tidak pernah menyerah untuk terus menuangkan pemikiran-pemikiran yang mencerahkan ke dalam karya-karyanya.[1] Pemikiran Pembaruan Hasbi Ash Shiddieqy Pada masa awal persiapan kemerdekaan Republik Indonesia, perbincangan tentang hukum Islam dari aspek fiqh semakin surut karena semua umat Islam disibukkan dengan pembentukkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, kesibukkan tersebut tidak pernah membuat Hasbi ikut terlena untuk melupakan agenda pembaruan hukum Islam di Indonesia kendatipun banyak para pembaru Muslim di masanya yang mendirikan organisasi-organisasi kemsyarakatan (Ormas). Berdasarkan hal tersebut, wacana yang dikembangkan dalam pemikiran keislaman menjadi kurang empiris dan mengakibatkan terbengkalainya sederet nomenklatur permasalahan sosial-politik yang terjadi di masyarakat, yang telah menggerakkan Soekarno untuk ikut memberikan kritik terhadap kerangka pikir yang selama ini dipakai oleh para ulama. Kungkungan pola pikir para ulama yang berpacu pada fahmu ‘l-‘ilm li ‘l-inqiyâd ketika memahami doktrin hukum Islam yang terdapat di dalam khazanah literatur klasik membuat eksistensi hukum Islam tampak resisten, tidak mampu mematrik diri, dan sebagai konsekuensinya ia menjadi panacea bagi persoalan sosial-politik. Para ulama secara umum telah melupakan sejarah dan menganggap bahwa mepelajari sejarah tidaklah begitu penting sehingga kritik atas dimensi ini menjadi tidak ada. Dengan semikian, pandangan mereka terhadap fiqh adalah sebagai kebenaran ortodoksi mutlak, yang absolutitasnya menegasikan kritik dan pengembangan, dan bukan sebagai pemikiran yang yang bersifat nisbi, yang membutuhkan kritik dan pengembangan. Maka, perlulah sebuah pemikiran dan pandangan baru yang dapat menggeser paradigma dari pola fahm-u ‘l-‘ilm li ‘linqiyâd ke pola fahm-u ‘ilm li ‘l-intiqâd.[2] Dari titik berangkat kenyataan sosial dan politik seperti itulah pemikiran fiqh Indonesia hadir, ia terus mengalir dan disosialisasikan oleh Hasbi. Menurutnya, hukum Islam harus mampu menjawab persoalan-persoalan baru, khususnya dalam segala cabang dari mu‘âmalah, yang belum ada ketetapan hukumnya. Ia harus mampu hadir dan bisa berpartisipasi dalam membentuk gerak langkah kehidupan masyarakat. Para ulama (lokal) dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap kebaikan (sense of mashlahah) yang tinggi dan kreatifitas yang penuh dengan tanggung jawab dalam upaya merumuskan alternatif fiqh baru yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang dihadapinya. Nalar pemikiran yang digunakan oleh Hasbi dengan gagasan fiqh Indonesia adalah satu keyakinan bahwa prinsip-prinsip hukum Islam sebenarnya memberikan ruang gerak yang lebar bagi pengembangan dan ijtihad-ijtihad baru.[3] Menurutnya, hingga

tahun 1961, salah satu faktor yang menjadi penghambat adalah adanya ikatan emosional yang begitu kuat (fanatik, ta‘ashshub) terhadap madzhab yang dianut oleh umat Islam. Dan untuk membentuk fiqh baru ala Indonesia, diperlukan kesadaran dan kearifan lokal yang tinggi dari banyak pihak, terutama ketika harus melewati langkah pertama, yaitu melakukan refleksi historis atas pemikiran hukum Islam pada masa awal perkembangannya. Perspektif ini mengajarkan bahwa hukum Islam baru bisa berjalan dengan baik jika ia sesuai dengan kesadaran hukum masyarakat. Yakni, hukum yang dibentuk oleh keadaan lingkungan atau dengan kebudayaan dan tradisi setempat (adat dan ‘urf), bukan dengan memaksakan format hukum Islam yang terbangun dari satu konteks tertentu kepada konteks ruang dan waktu baru.[4] Maka, kita dapat menyimpulkan bahwa ide fiqh Indonesia yang telah dirintis olehnya berlandaskan pada konsep bahwa hukum Islam (fiqh) yang diberlakukan untuk umat Islam Indonesia adalah hukum Islam yang sesuai dan memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia, selama itu tidak bertentangan syari’at. Dalam pandangan Hasbi, pemikiran hukum Islam harus berpijak pada prinsip mashlahah mursalah, keadilan, kemanfaatan, serta sadd-u ‘l-zarî‘ah. Semua prinsip itu, merupakan prinsip gabungan dari setiap madzhab. Maka, untuk memberikan pemahaman yang baik, ia menawarkan metode analogi-deduktif – satu model istinbâth hukum yang pernah dipakai oleh Imam Abû Hanîfah – untuk membahas satu permasalahan yang tidak ditemukan ketentuan hukumnya dalam khazanah pemikiran klasik. Dengan demikian, untuk memudahkan penerapan metode di atas, ia menggunakan pendekatan sosial-kultural-historis dalam segala proses pengkajian dan penemuan hukum Islam. Salah satu contoh kasus, adalah perdebatan Hasbi dengan A. Hasan tentang boleh tidaknya jabat tangan antara laki-laki dan perempuan. Terlepas dari tidak adanya dalil pasti dan alasan yang rasional tentang pengharaman jabatan tangan antara laki-laki dan perempuan maka ia berpendapat bahwa tradisi jabat tangan antara laki-laki dan perempuan bukan sesuatu yang berbahaya untuk dilakukan.[5] Penutup Pemikiran pembaruan yang telah digagas oleh Hasbi Ash Shiddieqy patut untuk kita renungkan dalam membina masa depan umat Islam di Indonesia. Gagasan fiqh Indonesia yang telah ditawarkannya adalah fiqh konteksual, tidak anakronistik, dan sesuai dengan tuntutan zaman. ____________ [1] Teungku Muhammad Hasbi Ash shiddieqy, Pengantar Ilmu Fiqh, Cetakan Kedua (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999), hlm. 241-2. [2] Mahsun Fuad, Hukum Islam Indonesia: Dari Nalar Partisipatoris Hingga Emansipatoris (Yogyakarta: LKIS, 2005), hlm. 63-4. [3] Ibid., hlm. 65-6. [4] Ibid., hlm. 67-8. [5] Ibid., hlm. 69-71. Posted by Dida at 8:01 PM

HASBI ASH-SHIDDIEQY

(Lahir di Lhokseumawe, 10 Maret 1904 – Wafat di Jakarta, 9 Desember 1975). Seorang ulama Indonesia, ahli ilmu fiqih dan usul fiqih, tafsir, dan ilmu kalam. Ayahnya, Teungku Qadli Chik Maharaja Mangkubumi Husein ibn Muhammad Su’ud, adalah seorang ulama terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pesantren (meunasah). Ibunya bernama Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz. Putri seorang Qadli Kesultanan Aceh Ketika itu. Menurut silsilah, Hasbi Ash- Shiddieqy adalah keturunan Abubakar ash- Shiddieq (573-13 H/634 M), khalifah pertama. Ia sebagai generasi ke- 37 dari khalifah tersebut meletakkan gelar ash- Shiddieqy di belakang namanya. Pendidikan Agamanya di awali di dayah ( pesentren)milik ayahnya. Kemudian selama 20 tahun ia mengunjungi berbagai dayah dari satu kota ke kota lain. Pengetahuan bahasa Arabnya diperoleh dari Syeh Muhammad Ibnu Salim Al Kalali, seorang ulama berkebangsaan Arab. Pada tahun 1926, ia berangkat ke Surabayadan melanjutkan pendidikan di Madrasah al- Irsyad, sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syekh Ahmad Soorkati ( 1874- 1943),ulama yang berasal dari Sudan yang mempunyai pemikiran moderen ketika itu. Di sini ia mengambil pelajaran Takhassus (spesialis)dalam bidang pendidikan dan bahasa. Pendidikan ini dilaluinya selama 2 tahun. Al- Irsyad dan Ahmad Soorkati inilah yang ikut berperan dalam membentuk pemikirannya yang moderen sehingga, setelah kembali ke Aceh. Hasbi ash- Shiddieqy langsung bergabung dalam keanggotaan organisasi Muhammadiyah. Pada Zaman demokrsi liberal ia terlibat secara aktif mewakili Partai Masyumi (Majelis Suryono Muslimin Indonesia) dalam perdebatan ideologi di Konstintuante. Pada tahun 1951 ia menetap di Yogyakarta dan mengkonsentrasikan diri dalam bidang pendidkan. Pada tahun 1960 ia diangkat menjadi dekan Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jabatannya ini di pegangnya hingga tahun1972. Kedalam pengetahuan keislamannya dan pengakuan ketokohannya sebagai ulama terlihat dari beberapa gelar doktor (Honoris Causa) yang diterimanya, seperti dari Universistas Islam Bandung pada 22 Maret 1975 dan dari IAIN Sunan Kalijaga pada

29 Oktober 1975. Sebelumnya, pada tahun 1960, ia diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu hadis pada IAIN Sunan Kalijaga. Hasbi Ash-Shiddieqy adalah ulama yang produktif menuliskan ide pemikiran keislamannya. Karya tulisnya mencakup berbagai disiplin ilmu keislaman. Menurut catatan, buku yang ditulisnya berjumlah 73 judul (142 jilid). Sebagian besar karyanya adalah tentangfiqih (36 judul). Bidang- bidang lainnya adalah hadis (8 judul), tafsir (6 judul), tauhid (ilmu kalam ; 5 judul). Sedangkan selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. Pemikiran Seperti halnya ulama lain, Hasbi Ash-Shiddieqy berpendirian bahwa syari’at Islam sifat dinamis dan eletis, sesuai dengan perkembangan masa dan tempat,. Ruang lingkupnya.mencakup segala aspek kehidupan manusia, baik dalam hubungannya dengan sesama maupun dengan Tuhannya. Syari’at Islam yang bersumber dari Wahyu Allah SWT., ini kemudian di pahami oleh umat islam melalui metode.ijtihad untuk dapat mengantisipasi setiap perkembangan yang timbul dalam masyarakat. Ijtihad inilah yang kemudian melahirkan fiqh. Banyak kitab fiqh. Yang ditulis oleh ulama mujtahid. Di antara mereka yang terkenal adalah imam-imam mujtahid pendiri mazhab yang empat: Abu Hanifah, Malik, asy- Syafi’I dan Ahmad Hanbal. Akan tetapi menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, banyak umat islam, kususnya di Indonesia, yang tidak membedakan antara syari’at yang berlangsung berasal dari Allah Swt, dan fiqih yang merupakan pemahaman ulama mujtahid terhadap syari’at tersebut. Selama ini terdapat kesan bahwa Islam Indonesia cenderung menganggap fiqih sebagai syari’at yang berlaku absolute. Akibatnya, kitab-kitab fiqih yang ditulis imam-imam mazhab dipandang sebagai sumber syari’at, walaupu terkadang relefansi pendapat imam mazhab tersebut ada yang perlu diteliti dan dikaji ulang dengan konteks kekinian., karma hasil ijtihat mereka tidak terlepas dari situasi dan kondisi sosial budaya serta lingkungan geografis mereka. Tentu saja hal ini berbeda dengan kondisi masyarakat kita sekarang. Menurutnya, hukum fiqih yang di anut oleh masyarakat Islam Indonesia banyak yang tidak sesuai dengan bangsa Indonesia. Mereka cenderung memeksakan keberlakuan fiqih imam-imam mazhab tersebut. Sebagai alternative terhadap sikap tersebut, ia mengajukan gagasan perumusan kembali fiqih Islam yang berkepribadian Indonesia. Menurutnya, umat islam harus dapat menciptakan hukum fiqih yang sesuai latar belakang susiokultur dan lerigi masyarakat Indonesia. Namun begitu , hasil ijtihat ulama masa lalu Bukan berarti harus dibuang sama sekali, melainkan harus diteliti dan di pelajari secara bebas, kritis dan terlepas dari sikap fanatic. Dengan demikian, pendapat ulama dari mazhab manapun, asal sesuai dan relefan dengan situasi masyarakat Indonesia, dapat diterima dan diterapkan. Untuk usaha ini, uluma harus mengembangkan dan menggalakkan ijtihat. Hasbi ashShiddieqy menolak pandangan bahwa pintu ijtihat telah tertutup, karna ijtihat adalah suatu kebutuhan yang tidak dapat dielakkan dari masa ke masa. Menurutnya, untuk

menuju fiqih Islam yang berwawasan ke Indonesia, ada tiga bentuk ijtihat yang perlu dilakukan. Pertama. Ijtihat dengan mengklasifikasikan hukum-hukum produk ulama masa lalu. Ini dimaksudkan agar dapat dipilih pendapat yang masih cocok untuk diterapkan dalam masyarakat kita. Kedua ijtihad dengan mengklasifikasikan hukum-hukum yang semata mata didasarkan pada adat kebiasaan dan suasana masyarakat dimana hukum itu berkembang.hukum ini, menurutnya, berubah sesuai dengan perubahan masa dan keadaan masyarakat. Ketiga ijtihad dengan mencari hukum-hukum terhadap dengan masalah kontemporer yang timbul sebagai akibat dari kemajuan ilmu dan teknologi, seperti transplatsi organ tubuh, bank, asuransi,bank, air susu ibu, dan inseminasi buatan. Karena kompleksnya permasalahan yang terjadi sebagai dampak kemajuan peradaban, maka pendekatan yang dilakukan untuk mengatasinya tidak bisa terpilahpilah pada bidang tertentu saja. Permasalahan ekonomi, umpamanya, akan berdampak pula pada aspek-aspek lain. Oleh karna itu menurutnya ijtihat tidak dapat terlaksana dengan efektif kalau dilakukan oleh pribadi-pribadi saja. Hasbi Ash-Shiddieqy menawarkan gagasan ijtihad jama’I (ijtihat kolektif).anggotanya tidak hanya dari kalangan ulama, tetapi juga dari berbagai kalangan muslim lainnya, seperti ekonom, dokter, budayawan, dan politikus, yang mempunyai fisi dan wawasan terhadap permasalahan umat Islam, masing-masing mereka yang duduk dalam lembaga ijtihad kolektif ini berusaha memberikan kontribusi pemikiran sesua dengan keahlian dan disiplin ilmunya. Dengan demikian rumusan ijtihad yang diputuskan oleh lembaga ini lebih mendekati kebenaran dan jauh lebih sesuai dengan tuntutan situasi dan kemaslahatan masyarakat. Dalam gagasan masyarakat ini ia memandang urgensi metodologi pengambilan dan penetapan hukum ( istinbath ) yang telah dirumuskan oleh ulama seperti Qias, Istihsan, maslahah mursalah (maslahat)dan urf. Lewat ijtihat kolektif ini umat Islam Indonesia dapat merumuskan sendiri fikih yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.rumusan fikih tersebut tidak harus terikat pada salah satu mazhab, merupakan penggabungan pendapat yang sesuai dengan keadaan masyarakat. Dan memang menurutnya hukum yang baik adalah yang mempertimbangkan dan memperhatikan kondisi sosial, ekonomi, budaya, adat istiadat, dan kecenderungan masyarakat yang bersangkutan. Hasbi Ash-Shiddieqy bahkan menegaskan bahwa dalam sejarahnya banyak kitab fiqih yang di tulis oleh ulama yang mengacu pada adat istiadat ( urf) suatu daerah. Contoh paling tepat dalam hal ini adalah pendapat imam Asy-Syafi’I yang berubah sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Pendapatnya ketika masih di Irak(Qaul Qadim/pendapat lama) sering berubah ketika dia berada di Mesir ( Qaul Jadid/pendapat baru) karna perbedaan lingkungan adat-istiadat kedua daerah. Selain pemikiran diatas, ia juga melakukan ijtihat untuk menjawab permasalahan hukum yang muncul dalam masyarakat. Dalam persoalan zakat, umpamanya, pemikiran ijtihat hasbi Ash- Shiddieqy tergolong dan maju.secara umum ia sependapat dengan jumhur ulama yang mengatakan bahwa yang menjadi objek zakat

adalah harta, bukan orang. Oleh karn aitu, dari harta anak kecil yang belum mukallaf yang telah sampai nisabnya wajib di keluarkan zakatnya oleh walinya. Hasbi Ash-shiddieqy memandang bahwa zakat adalah ibadah sosial yang bertujuan untuk menjembatani jurang antara yang kaya dan yang miskin. Oleh sebab itu ia berpendapat bahwa zakat dapat dipungut dari non muslim( kafir kitabi) untuk diserahkan kembali demi kepentingan mereka sendiri. Ia mendasarkan pendapatnya pada keputusan Umar ibn Al-Khaththab (581-544 M. ), Khalifah kedua setelah nabi Muhammad saw. Wafat, untuk memberikan zakat kepada kaum zimmi atau ahluzzimmah (orang-orang non muslim yang bertempat tinggal di wilayah Negara Islam) yang sudah tua dan miskin. Umar juga memungut zakat dari Nasrani Bani Tughlab. Pendapat ini dilandasi oleh prinsip pembinaan kesejahteraan bersama dalam suatu Negara tanpa memandang agama dan golongannya. Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, karna fungsi sosial zakat adalah untuk mengentaskan kemiskinan, maka prinsip keadilan haruslah di utamakan dalam pemungutan zakat. Ia berpendapat bahwa standarisasi ukuran nisab sebagai syarat wajib perlu ditinjau ulang. Ia memahami ukuran nisab tidak secara tektual, yaitu sebagai symbol-simbol bilangan yang kaku.ia mendasarkan bahwa nisab zakatmemang telah diatur dan tidak dapat diubah menurut perkembangan zaman. Akan tetapi, standar nisab ini harus di ukur dengan emas, yaitu 20 miskal atau 90 gram emas. Menurutnya, emas dijadikan standar nisab karena nilanya stabil dengan alat tukar. Sejalan dengan tujuannya untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat, ia memandang bahwa pemerintah sebagai ulil-amri ( penguasa pemerintahan di Negara Islam) dapat mengambil zakat secara paksa terhadap orang yang enggan membayarnya.Ia juga berpendapat bahwa pemerintah hendaknya membentuk sebuah dewan zakat ( baitul mal) untuk mengkoordinasi dan mengatur pengeloalaan zakat. Dewan ini haruslah berdiri sendiri, tidak dimasukkan Departemen Keuangan atau perbendaharaan Negara. Karna pentingnya masalah zakat ini, ia mengusulkan agar pengaturannya dituang dalam bentuk undang-undang yang mempunyai kekuatan hukum. Karya Diantara karya-karya unggulan almarhum adalah : Tafsir dan ilmu Al Quran: 1. Tafsir Al-Qur’anul Majid An-nuur 2. Ilmu-ilmu Al-Qur’an 3. Sejarah dan pengantar Ilmu Al-Qur’an / Tafsir 4. Tafsir Al Bayan Hadist : 1. Mutiara Hadist ( jilid I-VIII)

2. Sejarah dan pengantar ilmu hadist 3. pokok-pokok ilmu dirayah hadist (I-II) 4. koleksi hadist-hadist hukum (I-IX) Fiqh : 1. Hukum-hukum fiqih islam 2. Pengantar ilmu fiqih 3. pengantar hukum islam 4. pengantar fiqih muamalah 5. fiqih mawaris 6. pedoman shalat 7. pedoman zakat 8. pedoman puasa 9. pedoman haji 10. peradilan dan hukum acara islam 11. interaksi fiqih islam dengan syari’at agama lain ( hukum antar golongan) 12. Kuliah ibadah 13. pidana mati dalam syari’at islam Umum : 1. Al Islam ( Jilid I-II) Created Ridwan Yayasan Tgk. M. Hasbi Ash Shiddieqy di 22:05

APAKAH SHALAT ‘IED HUKUMNYA "SUNNAT"

Dalam merayakan ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha tahun 1428 H, muncul pendapat yang mengatakan bahwa Shalat ‘Ied hukumnya Sunnah serta Indonesia tidak perlu mengikuti rukyah Arab Saudi karena berbeda mathla’. Untuk kedua peristiwa keagamaan ini, penetapan 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah, Pemerintah menetapkan tanggal yang berbeda dengan penetapan Pemerintah Arab Saudi. Untuk meyakinkan sebagian masyarakat yang merayakan ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha yang lebih memilih merayakannya bersama umat Islam di Arab Saudi Pemerintah menghimbau agar umat Islam di Indonesia menyelenggarakan shalat .Ied pada hari yang sesuai dengan Keputusan sidang Isbat yang diselenggarakan di Departemen Agama. Terhadap pendapat diatas, kami punya pandangan yang berbeda. 1. Shalar ‘Ied hukumnya “wajib”, bukan sunnat.. Shalat ‘Ied hukumnya “wajib”, jika kita mencontoh amalan Nabi saw, Shalat ini diwajibkan (difardhukan) juga terhadap kaum perempuan. Para ulama berselisih paham dalam menetapkan hukum tentang shalat ‘Ied. Namun pendapat yang haq dalam hal ini adalah bahwasanya shalat ‘Ied hukumnya “wajib”. Mari kita kaji mengapa shalat ‘Ied dihukum “wajib”. a) Shalat ‘Ied adalah syiar Islam yang paling semarak Rasulullah saw dan para sahabatnya tidak pernah meninggalkannya, b) Jika shalat ‘Ied ini adalah shalat sunnat, tentulah Rasulullah pernah meninggalkannya barang sekali saja. Sebagaimana Rasulullah pernah meninggalkan shalat malam dibulan Ramadhan, dan beliau pernah meninggalkan wudhu bagi tiap – tiap shalat. Hal ini menunjukkan bahwa shalat malam dibulan Ramadhan, bukan wajib - hanya sunnah dan wudhu itu tidak wajib untuk setiap shalat. Kita boleh mengerjakan shalat sebanyak-banyaknya dengan sekali wudhu saja, jika wudhu itu belum batal. c) Selain itu, shalat ‘Iedain diperintahkan Allah, sebagaimana perintah terhadap shalat Jum’at.

Firman Allah swt.:” Maka bershalatlah engkau untuk Tuhanmu dan sembelihlah qurban” (Q. Al Kautsar, 108) d)Rasulullah memerintahkan para sahabatnya pergi ke Tanah Lapang (Mushalla) untuk bershalat bersama beliau, setelah pasti diketahui terlihat bulan. d. Rasulullah memerintahkan para gadis, dan perempuan-perempuan pingitan bahkan perempuan yang berhaid pun untuk pergi kemajlis ‘Ied ini (Walaupun perempuan berhaid berada ditempat terpisah) e. Rasulullah tidak memerintahkan perempuan haid hadir di shalat Jum’at. Sabda Rasulullah:“Lima Shalat telah difardhukan Allah swt atas seseorang hamba dalam sehari semalam”, tidak meniadakan kefardhuan shalat ‘Ied, karena shalat lima waktu itu adalah wadhifah (tugas) harian, sedang shalat ‘Ied adalah wadhifah tahunan. Karena itu tak ada halangan bagi sebagian ulama mewajibkan dua rakaat shalat thawaf karena thawaf bukanlah wadhifah sehari-hari yang dikerjakan berulang-ulang. Juga tak ada halangan mewajibkan shalat jenazah, mewajibkan sujud tilawah, mewajibkan shalat khusuf, sahalat kusuf dan sebagainya. f. Dan diantara dalil yang menguatkan bahwa shalat ‘Ied merupakan shalat wajib, adalah bahwa shalat ‘Ied dapat menggugurkan shalat Jum’at apabila jatuh pada hari yang sama. Andaikata shalat ‘Ied itu hukumnya sunnat, tentulah tidak dapat menggugurkan shalat fardhu. g. Menurut Asy Syafi’i dalam al Mukhtasar: “Barangsiapa wajib atasnya menghadiri Jum’at, wajiblah atasnya menghadiri shalat ‘Ied”. 2. Rukyah Mekkah yang harus dijadikan pegangan bersama Al Allamah Asy Syeikh Muhammad Abu Zahrah dalam salah satu tulisannya berpendapat: “Dengan tidak ragu-ragu kami memilih pendapat Jumhur yang tidak menempatkan ikhtilaful mathali sebagai titik tolak puasa, yaitu pendapat yang ingin mewujudkan persatuan dan kesatuan ummat Islam dalam menghadapi ibadah dan penentuan hari bulan. Beliau juga menandaskan bahwa membiarkan rukyah Kepada Negara (Pemerintah) yang lebih awal mathla’nya, padahal ada kemungkinan Negara itu pada suatu ketika tidak dapat melihat bulan, karena mendung yang sangat tebal, menyebabkan hukum Islam tidak mempunyai fondasi yang kokoh dan tetap. Karena itu wajiblah kita jadikan mathla’ negara Islam yang mempunyai kedudukan yang tinggi dimata seluruh dunia Islam, mathla’ yang harus dipegang bersama. Allah dalam menentukan negeri ini, tidak menyerahkan kepada pilihan dan pertimbangan kita masing-masing. Agar tidak menimbulkan perselisihan dan perbedaan pendapat syara’ telah mengisyaratkan pada yang demikian itu dan menjadikan tumpuan manusia semua. Disini diletakkan kiblat mereka yaitu Mekah.

Disitu terletak Ka’bah, al Baitul Haram, disekitarnya terletak Arafah. Disana terletak Shafa dan Marwah, disitulah Muhammad saw. diangkat menjadi Rasul dan diberikan risalah.. Dialah Al Baladul Haram. Dialah tumpuan umat Islam seuruhnya dalam bershalat. Disanalah para haji berkumpul setiap tahun. Kalau demikian, layaklah mathla’nya kita jadikan mathla’ pemersatu umat Islam dalam melaksanakan ibadah yang dipautkan dengan bulan, bukan dengan matahari. Tuhan swt. telah memilihnya untuk kita. Sangatlah buruk apabila masing-masing daerah bertahan pada mathla’nya karena hal itu mengakibatkan ada penduduk daerah yang merayakan hari Arafah (wuquf) sebelum penduduk Mekkah berwuquf, Begitu pula sebaliknya. Demikian juga menyembelih hadyu dan qurban, walaupun ada ulama yang membolehkannya. Fatwa ulama ini, walaupun sesuai dengan qiyas fiqh namun telalu jauh dari pengertian keagamaan dalam merayakan hari-hari yang mulia. Jubair ibn Muth’im meriwayatkan dari Rasulullah, sabdanya: “Arrafatu kulluha wa ayyamut tasyriqi kulluha dzibhun= padang Arafah semuanya menjadi tempat wuquf, dan segala hari tasyrik, adalah hari menyembeli hadyu (qurban).” Nabi menetapkan dengan sabdanya ini bahwa hari-hari tasyrik, haruslah beriringan dengan hari wuquf. Hal ini meliputi semua umat Islam. Maka perayaan hari tasyrik tidaklah mengenai para haji saja. Menetapkan hari tasyrik di setiap daerah. haruslah didasarkan pada hari wuquf di Arafah.. Dengan demikian , tidaklah pada tempatnya, sesuatu daerah Islam menjadikan tasyrik sebelum hari tasyrik di Mekah atau sesudahnya. Diriwayatkan oleh Al Bukhary, bahwasanya Ibnu Abbas menafsirkan ayyaman ma’dudat dengan hari tasyrik. Ayat ini diturunkan sesudah selesai mengerjakan haji. Hal itu memberi pengertian bahwa hari tasyrik haruslah mengiringi dengan hari wuquf yang sebenarnya terjadi di Mekkah. Dengan demikian, perayaan hari Arafah, hari nahar, hari tasyrik, haruslah didasarkan kepada mathla’ Mekkah. Mathla’ nyalah yang harus menjadi satu-satunya mathla’ untuk menetapkan hari-hari ibadah yang berpautan dengan bulan dan mathla’nya. . oleh :.H.Z Fuad Hasbi Direktur Pusat Studi Islam dan Perpustakaan Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy Created Ridwan Yayasan Tgk. M. Hasbi Ash Shiddieqy di 01:22 SUNNAH & BID’AH (ke-2) 1. Contoh As-Sunnah menjadi bayan tafshil Al-Qur’an menyebutkan :

77 :‫و اقيموا الصلوة. النساء‬ َ ّ ُ َِْ َ Dan dirikanlah shalat. [QS. An-Nisaa’ : 77] Maka As-Sunnah menjelaskan waktu-waktunya shalat fardlu, bilangan rekaatnya, dan cara-caranya. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda : 155 :1 ‫صلوا كما رأيتمونى اصلى. البخارى‬ َّ ُ ِ ْ ُ ُ ْ ََ َ َ ْ َّ Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. [HR. Bukhari juz 1, hal. 155] Al-Qur’an menyebutkan : 77 :‫و اتوا الزكوة. النساء‬ َ ّ ُ َ Dan tunaikanlah zakat. [QS. An-Nisaa’ : 77] Maka As-Sunnah menjelaskan ukuran zakat, waktu mengeluarkan, macammacamnya, dsb. Al-Qur’an menyebutkan : 97 :‫وِل على الناس حج البيت من استطاع اليه سبيل. آل عمران‬ ً ْ ِ َ ِ ْ َِ َ َ َ ْ ِ َ ِ ْ َ ْ ّ ِ ِ ّ ََ ِ َ Mengerjakan hajji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu memgadakan perjalanan ke Baitullah. [QS. Ali ‘Imraan : 97] 196 :‫و اتموا الحج و العمرةِل. البقرة‬ ِ َ َ ْ ُ ْ َ ّ َ ْ ّ َِ َ Dan sempurnakanlah hajji dan ‘umrah karena Allah. [QS. Al-Baqarah : 196] Maka As-Sunnah menjelaskan cara-caranya. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda : 943 :2 ‫لتأخذوا مناسككم. مسلم‬ ْ ُ َ ِ ََ ْ ُ ُ ْ َِ Hendaklah kalian mengambil (dariku) cara-cara ibadah hajji kalian. [HR. Muslim juz 2, hal. 943] 125 :5 ‫خذوا عنى مناسككم. البيهقى‬ ْ ُ َ ِ َ َ َّ ْ ُ ُ Ambillah dariku cara-cara manasik hajji kalian. [HR. Baihaqi juz 5, hal. 125] 2. Contoh As-Sunnah menjadi bayan takhshish Al-Qur’an menyebutkan : 82 :‫الذين امنوا و لم يلبسوآ ايمانهم بظلم. النعام‬ ٍ ْ ُ ِ ْ ُ َ َ ْ ِ ْ ُ َْ َ ْ َ َ ْ َُ َ ْ ِ ّ orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedhaliman. [QS. Al-An’aam : 82] Setelah mendengar ayat tersebut sebagian shahabat Nabi SAW terasa berat, karena memahami bahwa dhalim dalam ayat tersebut adalah dhalim secara umum, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah SAW : 114 :1 ‫يا رسول ال، و اينا لم يظلم نفسه؟ مسلم‬ ُ َ ْ َ ْ ِْ َ ْ َ َ ّ َ َ ِ َ ْ ُ َ َ Ya Rasulullah, siapa diantara kita yang tidak berbuat dhalim kepada dirinya .?. [HR. Muslim juz 1, hal 114] Kemudian Nabi SAW menjawab, “Bukan begitu yang dimaksud, (tetapi dhalim dalam ayat itu ialah perbuatan syirik). Sebagaimana perkataan Luqman kepada anaknya : 13 :‫يبني ل تشرك بال، ان الشرك لظلم عظيم. لقمان‬ ٌ ْ ِ َ ٌ ُْ َ َ ْ ّ ّ ِ ِ ِ ْ ِ ْ ُ َ ّ َُ Wahai anakku, janganlah kamu syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik itu kedhaliman yang besar. [QS. Luqman : 13]”. 3. Contoh As-Sunnah menjadi bayan ta’yin Al-Qur’an menyebutkan : 38 :‫السارق و السارقة فاقطعوا ايديهما. المائدة‬ َ ُ َِ ْ َ ْ ُ َ ْ َ ُ َ ِ ّ َ ُ ِ ّ َ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, maka potonglah tangan keduanya. [QS. Al-Maaidah : 38] As-Sunnah menentukan bahwa yang dipotong adalah tangan kanannya. 6669 :‫ان امراة سرقت على عهد رسول ال ص فق ِعت يدها اليمنى. احمد 2: 295، رقم‬ َ ْ ُ ْ َ ُ َ ْ َ ‫َ ُط‬ ِ ِ ْ ُ َ ِ ْ َ ََ ْ َ َ َ ً ََ ْ ّ ِ Sesungguhnya pada zaman Rasulullah SAW ada seorang wanita mencuri, lalu ia dipotong tangan kanannya. [HR. Ahmad juz 2, hal. 592, no. 6669] Al-Qur’an menyebutkan :

7 :‫غير المغضوب عليهم و ل الضالين. الفاتحة‬ َ ْ ّ ّ َ َ ْ ِ ْ ََ ِ ْ ُ ْ َ ْ ِ ْ َ bukan jalannya orang-orang yang dimurkai atas mereka, dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat. [QS. Al-Faatihah : 7] As-Sunnah menentukan ma’nanya yang dimaksud Al-Maghdluubi ‘alaihim adalah orang-orang Yahudi, dan yang dimaksud Adl-Dloolliin adalah orang-orang Nashrani. 369 :6 ‫ان المغضوب عليهم اليهود و الضالين النصارى. ابن حبان‬ َ َ ّ َ ْ ّ ّ َ ُ ْ ُ َ ْ ُ ِ ْ ََ َ ْ ُ ْ َ ْ ّ ِ Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai itu ialah orang-orang Yahudi, dan orangorang yang sesat itu adalah orang-orang Nashrani. [HR Ibnu Hibban juz 6, hal. 369] 4. Contoh As-Sunnah mendatangkan hukum yang tidak didapati pokoknya dalam AlQur’an, seperti adanya hukum rajam. Rasulullah SAW bersabda kepada para shahabat mengenai seorang laki-laki yang berzina dan ia seorang muhshan (pernah nikah) : 1318 :3 ‫اذهبوا به فارجموه. مسلم‬ ُ ْ ُ ُ ْ َ ِ ِ ْ َُ ْ ِ Bawalah ia pergi dan rajamlah. [HR. Muslim juz 3, hal 1318] Dan juga haramnya mengumpulkan dalam perkawinan seorang istri dengan bibinya. 1028 :2 ‫قال رسول ال ص: ل يجمع بين المرأة و ع ّتها و ل بين المرأ ِ و خالتها. مسلم‬ َ ِ َ َ َ ‫َ ُ ْ َ ُ َ ْ َ ْ َ َْ ِ َ َم ِ َ َ َ َ ْ َ ْ َ َْة‬ ِ َُُْ َ َ Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh dikumpulkan (dimadu) antara seorang wanita dengan saudara perempuan ayahnya, dan tidak boleh pula antara seorang wanita dengan saudara perempuan ibunya”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1028] 5. Contoh As-Sunnah dapat dijadikan dalil untuk Nasikh mansukh Al-Qur’an menyebutkan : .‫كتب عليكم اذا حضر احدكم الموت ان ترك خيرا الوصية للواِدين و القربين بالمعروف، حقا على المتقين‬ َ ْ ِ ّ ُ ْ ََ ّ َ ِ ْ ُ ْ َ ْ ِ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ِ ْ َ ‫ُ ِ َ ََ ْ ُ ْ ِ َ َ َ َ َ َ َ ُ ُ ْ َ ْ ُ ِ ْ َ َ َ َ ْ ً ْ َ ِ ّ ُ ِ ْ َ ل‬ 180 :‫البقرة‬ Diwajibkan atas kalian apabila seorang diantara kalian kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwashiyat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. [QS. Al-Baqarah : 180] Al-Qur’an juga menyebutkan ayat-ayat mawaarits dalam surat An-Nisaa’ : 11-12. Sedangkan As-Sunnah menyebutkan : 2204 :‫ل وصية لوارث. الترمذى 3: 492، رقم‬ ٍ ِ َ ِ َ ِّ َ َ Tidak ada washiyat untuk ahli waris. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 294, no. 2204] Maka dengan demikian bisa difahami bahwa ayat-ayat mawaarits tersebut menasakh (menghapuskan hukum) yang ada pada ayat 180 Al-Baqarah tersebut, walaupun ayat tersebut tetap dibaca (tidak dihapus). Adapun contoh As-Sunnah “membatasi kemuthlaqannya, sebagai berikut : Al-Qur’an menyebutkan : 38 :‫السارق و السارقة فاقطعوا ايديهما. المائدة‬ َ ُ َِ ْ َ ْ ُ َ ْ َ ُ َ ِ ّ َ ُ ِ ّ َ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, maka potonglah tangan keduanya. [QS. Al-Maaidah : 38] Ayat tersebut menerangkan (secara muthlaq) bahwa pencuri laki-laki atau perempuan supaya dipotong tangannya, tanpa menerangkan batas minimal yang menyebabkan pencuri dipotong tangannya. Maka As-Sunnah menerangkan batas minimal barang yang dicuri tersebut. Nabi SAW bersabda : 1313 :3 ‫ل تقطع يد السار ِ ال فى ربع دينار فصاعدا. مسلم‬ ً ِ َ َ ٍ َ ْ ِ ِ ْ ُ ِ ّ ِ ‫َ ُ ْ َ ُ َ ُ ّ ِق‬ Tidak dipotong tangan pencuri kecuali dia mencuri senilai seperempat dinar atau lebih. [HR, Muslim juz 3, hal. 1313] Dan juga hadits dari Ibnu ‘Umar : 1313 :3 ‫ان رسول ال ص قطع سارقا فى مجن قيمته ثلثة دراهم. مسلم‬ َ ِ َ َ ُ ََ َ ُ َُ ْ ِ ّ َ ِ ِ ً ِ َ َ َ َ ِ ََُْ ِّ Bahwasanya Rasulullah SAW pernah memotong tangan pencuri yang mencuri perisai

seharga tiga dirham. [HR. Muslim juz 3, hal. 1313] Keterangan : Dinar adalah uang emas, sedangkan dirham adalah uang perak. 1 dinar nilainya antara 10 - 12 dirham. Dan juga As-Sunnah dapat menjadi takhshish bagi Al-Qur’an Al-Qur’an menyebutkan : 11 :‫يوصيكم ال فيْ اولدكم للذكر مثل حظ النثيين. النساء‬ ِ ْ ََْ ُ ْ ّ َ ُ ْ ِ ِ َ ّ ِ ْ ُ ِ َ ْ َ ِ ُ ُ ُ ِ ْ ُ Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. [QS. AnNisaa’ : 11] Dalam ayat itu disebutkan anak-anakmu. Kalimat ini masih umum, maka As-Sunnah mengkhususkan dari keumuman ayat tersebut. Nabi SAW bersabda : 1233 :3 ‫ل يرث المسلم الكافر و ل يرث الكافر المسلم. مسلم‬ َ ِْ ُ ْ ُ ِ َ ْ ُ ِ َ َ َ َ ِ َ ْ ُ ِْ ُ ْ ُ ِ َ َ Orang Islam itu tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak pula mewarisi orang Islam. [HR. Muslim juz 3, hal. 1233] Wajib mengikuti sunnah dan menjauhi bid’ah ّ َ َ ٍ ّ َ ُ ُ ْ َ ِ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ ِ ُ َ ِ ‫ِ ّ َ ْ َ َ ْ َ ِ ْث‬ ‫عن جابر بن عبد ال قال: قال رسول ال ص: ان اصدق الحدي ِ كتاب ال و احسن الهدي هدي محمد و شر‬ ِ ُ ْ ُ َ َ َ َ َ ِ ِ َْ ِ ْ ِ ِ َ ْ َ 188 :3 ‫المور محدثاتها و كل محدثة بدعة و كل بدعة ضللة و كل ضللة في النار. النسائى‬ ِ ّ ِ ٍ ََ َ ّ ُ َ ٌ ََ َ ٍ َ ْ ِ ّ ُ َ ٌ َ ْ ِ ٍ َ َ ْ ُ ّ ُ َ َ ُ َ َ ْ ُ ِ ْ ُ ُ ْ Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sebenar-benar perkataan ialah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad, dan sejelek-jelek perkara itu yang diada-adakan, dan tiap-tiap yang diada-adakan itu bid’ah, dan tiap-tiap bid’ah itu sesat, dan tiap-tiap kesesatan itu di neraka”. [HR. Nasai juz 3, hal. 188] ٍ ّ َ ُ َ ُ َ ُ ْ ُ ْ َ َ ِ ُ َِ ِ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ّ َِ ُ ْ َ ّ َ ُ ْ ُ َ ‫عن جابر بن عبد ال قال: كان رسول ال ص يقول: اما بعد فان خير الحديث كتاب ال و خير الهدى هدى محمد‬ ِ ُ ْ ُ َ َ َ َ َ ِ ِ َْ ِ ْ ِ ِ َ ْ َ 592 :2 ‫و شر المور محدثاتها و كل بدعة ضللة. مسلم‬ ٌ ََ َ ٍ َ ْ ِ ّ ُ َ َ ُ َ َ ْ ُ ِ ْ ُ ُ ْ ّ َ َ Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW bersabda, “Adapun sesudah itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diadaadakan, dan setiap bid’ah adalah sesat. [HR. Muslim juz 2, hal. 592] ‫عن العرباض بن سارية رض قال: قال رسول ال ص: اوصيكم بتقوى ال و السمع و الطاعة و ان كان عبدا‬ ً َْ َ َ ْ ِ َ ِ َ ّ َ ِ ْ ّ َ ِ َ ْ َِ ْ ُ ْ ِ ْ ُ ِ َُُْ َ َ َ َ َ َِ َ ِ ْ ِ َْ ِ ْ ِ َ ‫حبشيا فانه من يعش منكم بعدى فسيرى اختلفا كثيرا، فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين، فتمسكوا‬ ْ ُ ّ َ َ َ َ ْ ّ ِ ْ َ ْ َ ْ ِ ِ ّ ِ َ َُ ْ ِ ّ ُ َ ْ ِ ّ ُ ِ ْ ُ ْ ََ َ ً ْ ِ َ ً َ ِ ْ ِ َ َ َ َ ِ ْ َ ْ ُ ْ ِ ْ ِ َ ْ َ ُ ّ ِ َ ّ ِ َ َ ،83 :6 ‫بها و عضوا عليها بالنواجذ، و اياكم و محدثات المور، فان كل محدثة بدعة و كل بدعة ضللة. احمد‬ ٌ ََ َ ٍ َ ْ ِ ّ ُ َ ٌ َ ْ ِ ٍ َ َ ْ ُ ّ ُ ّ َِ ِ ْ ُ ُ ْ ِ َ َ ْ ُ َ ْ ُ ّ ِ َ ِ ِ َ ّ ِ َ ْ ََ ْ ّ َ َ َ ِ 17145 :‫رقم‬ Dari ‘Irbadl bin Sariyah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Saya berpesan kepada kamu sekalian, hendaklah kamu sekalian bertaqwa kepada Allah, mendengar dan thaat, sekalipun (yang menjadi pemimpin) budak Habsyiy, karena sesungguhnya orang yang hidup diantara kamu sekalian sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka dari itu hendaklah kamu sekalian (berpegang) pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi menetapi petunjuk yang benar, berpegang teguhlah padanya dan gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhkanlah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya tiap-tiap perkara yang diada-adakan itu bid’ah, dan tiap-tiap bid’ah itu sesat”. [HR. Ahmad juz 6, hal. 83, no. 17145] ُ َ ْ َ َ ِ ُ َ َ ِ َ َ ْ ُ َ ْ َ َ ُ ْ َ ْ َ ُ َ َ ْ ِ َ َ ْ َ ُ َ ِّ َ َ ‫عن عبد ال بن مسعود ان رسول ال ص قال: انما هما اثنتان الكلم و الهدي فاحسن الكلم كلم ال و احسن‬ ِ َ ْ ُ َ ّ َ ٍ ْ ُ ْ َ ِ ْ ِ ِ َْ ْ َ .‫الهدي هدي محمد. ال و اياكم و محدثات المور فان شر المور محدثاتها و كل محدثة بدعة و كل بدعة ضللة‬ ٌ ََ َ ٍ َ ْ ِ ّ ُ َ ٌ َ ْ ِ ٍ َ َ ْ ُ ّ ُ َ َ ُ َ َ ْ ُ ِ ْ ُ ُ ْ ّ َ ّ ِ َ ِ ْ ُ ُ ْ ِ َ َ ْ ُ َ ْ ُ ّ ِ َ َ َ ٍ ّ َ ُ ُ ْ َ ِ ْ َ ْ 46 :‫ابن ماجه 1: 81، رقم‬ Dari ‘Abdullah bin Mas’ud bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Hanyasanya ada dua perkara (yang penting), perkataan dan petunjuk. Maka sebaik-baik perkataan ialah firman Allah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad. Ketahuilah,

jauhkanlah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya sejelek-jelek perkara itu yang diada-adakan, dan tiap-tiap yang diada-adakan itu bid’ah, dan tiaptiap bid’ah itu sesat”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 18, no. 46] Hadits-hadits tersebut menerangkan bahwa sebenar-benar perkataan itu ialah yang tersebut dalam kitab Allah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Nabi Muhammad SAW, dan sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan, dan tiap-tiap perkara yang diada-adakan dalam urusan agama itu bid’ah, dan tiap-tiap bid’ah itu sesat”. Dengan hadits-hadits tersebut cukuplah menunjukkan bahwa kita (ummat Islam) dalam mengerjakan agama haruslah mengikuti sunnah Nabi SAW dan menjauhi perbuatan-perbuatan bid’ah. Bersambung…….. Akibat meninggalkan sunnah Rasul ‫عن عائشة ستة لعنتهم‬ Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Enam (macam orang) yang saya mengutuk kepada mereka dan Allah juga mengutuk mereka, pdahal tiap-tiap Nabi itu diperkenankan (permohonannya), yaitu orang yang menambahi kitab Allah, orang yang mendustakan ketentuan Allah, orang yang mengalah kepada penguasa yang sombong lagi kejam lalu dengan itu ia memuliakan orang yang direndahkan Allah dan merendahkan orang-orang yang dimuliakan Allah, dan orang yang menghalalkan larangan Allah, orang yang menghalalkan keturunan daripada keturunan saya yang Allah telah haramkan, dan orang yang meninggalkan sunnah saya”. [HR. Tirmidzi dan Hakim] Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Imam Ibnu Hibban dan Ath-Thabariy, dan oleh Imam Hakim dinyatakan shahih isnadnya. Hadits tersebut mengandung keterangan, bahwa orang yang meninggalkan sunnah Nabi SAW itu orang yang dikutuk atau dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya SAW. ‫من اخذ سنتى‬ Dari ‘Umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengambil (memegang) sunnahku, maka ia termasuk ummatku, dan barangsiapa yang benci kepada sunnahku, maka ia bukan ummatku”. [HR. Ibnu ‘Asaakir] ‫من رغب عن سنتى‬ Dari Anas RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang benci (berpaling) dari sunnahku, maka ia bukan dari ummatku”. [HR. Muslim] Hadits tersebut menjelaskan bahwa orang yang sengaja berpaling, tidak suka mengikut sunnah Nabi SAW itu bukanlah dari golongan ummat beliau. ‫مل امتى يدخلون الجنة‬ Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya semua ummatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan”. Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Barangsiapa yang menthaatiku, ia pasti masuk surg, dan barangsiapa yang mendurhkaiku, maka sungguh ia telah enggan”. [HR. Bukhari juz , hal. ] Hadits tersebut menjelaskan bahwa segenap ummat Nabi Muhammad AW yang menthaati pimpinan beliau tentu masuk surga. Adapun ummat beliau yang enggan atau tidak mengikuti pimpinan beliau, berarti mendurhakai beliau. Dan orang yang menurhakai beliau, maka dia tidak akan masuk surga. Hukum Rasulullah SAW berarti hukum Allah ‫عن العرباض‬ Dari ‘Irbadl RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apakah salah seorang

diantara kalian menyangka dengan duduk di tempat duduknya sambil berkata, “Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi tidaklah mengharamkan sesuatu melainkan apa-apa yang (ada) di dalam Al-Qur’an ini”. Ingatlah, sesungguhnya demi Allah, sesungguhnya aku telah memerintahkan, dan aku telah memperingatkan dan aku telah melarang beberapa perkara, sesungguhnya semuanya itu seperti Al-Qur’an atau lebih banyak”. [HR. Abu Dawud] Hadits tersebut, oleh Imam As-Suyuthi dinyatakan shahih, dan oleh Imam AlBaghawiy dinyatakan hasan. Hadits itu mengandung keterangan adanya orang yang berkelakuan, “tidak mau mengikut selain Al-Qur’an”, dan menolak keterangan-keterangan dari Nabi SAW. Oleh sebab itu Nabi SAW memberi peringatan, bahwa perintah, larangan dan peringatan dari beliau itu seperti Al-Qur’an. ‫عن جابر يوشك باحدكم‬ Dari Jabir RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Hampir-hampir salah seorang diantara kalian berkata, “Ini kitab Allah, apa-apa yang ada di dalamnya yang halal, kami menghalalkannya, dan apa-apa yang ada di dalamnya yang haram kami mengharamkannya”. Ingatlah, barangsiapa yang sampai kepadanya suatu hadits dariku, lalu ia mendustakan rasul-Nya, maka ia telah mendustakan Allah dan Rasulnya dan orang yang menceritakannya”. [HR. Ibnu ‘Abdil Barr] Hadits tersebut menerangkan bahwa orang yang menolak atau mendustakan hadits yang terang dari Nabi Muhammad SAW dengan lasan hanya akan mengikut AlQur’an saja, maka ia berarti mendutakan Allah, mendustakan Rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW), dan mendustakan orang yang menyampaikan hadits itu kepadanya. Dengan hadits-hadits tersebut maka jelaslah bagi kita bahwa keterangan yang berisi hukum-hukum dari Allah juga. Kita harus ingat firman Allah SWT yang berbunyai : 7 :‫و مآ اتيكم الرسول فخذوه، و ما نهيكم عنه فانتهوا. الحشر‬ ْ ُ َْ َ ُ ْ َ ْ ُ َ َ َ ُ ْ ُ ُ َ ُ ْ ُ ّ ُ ُ َ َ Dan apa-apa yang disampaikan Rasul kepadamu, peganglah. Dan apa-apa yang dilarang kamu dari padanya, hentikanlah. [QS. AL-Hasyr : 7]