You are on page 1of 18

Gregory dari Nissa

Ketunggalan Keberadaan dan implikasinya terhadap makna menjadi


Manusia Sejati dalam konteks karya Saint Gregory dari Nyssa
Oleh Edward Hallinan

Paparan ini disampaikan kepada para siswa, staf, dan pengunjung Beshara School
sebagai bagian dari program dosen tamu dalam kursus enam bulan pada bulan
Maret 2011.

Pengantar
Saint Gregory dari Nyssa (c.335-390) adalah salah seorang Cappadocian Fathers,
yang terdiri dari Saint Gregory dari Nyssa, kakaknya Saint Basil the Great
(c.329/300-1 Januari 379) dan sahabat mereka, Saint Gregory Nazianzos
(c.328/329-389/390). Ketiganya disebut the Cappadocians karena mereka tinggal di
Cappadocia, yang kini dikenal sebagai Turki tengah. Namun, seperti yang pernah
dikemukakan oleh Dom Sylvester1, sebenarnya, ada Cappadocian Father ke-empat,
Saint Amphilochios (c.345-395). Saint Amphilochios, sepupu Saint Gregory
Nazianzos dan anak spiritual dari Saint Basil the Great, adalah uskup Iconium (kini
Konya) sejak tahun 373. Mereka termasuk dalam jajaran penulis mistikus terdepan
dalam tradisi mana pun. Mereka menulis dari Hati mereka; esensi terdalam dari
agama Kristiani, yang tak lain juga merupakan Hati, Esensi, dari semua Tradisi.
Dengan demikian, secara maknawi, karya mereka bersifat universal.
Seperti yang berulang kali diutarakan oleh Dom Sylvester, Teologi memiliki
kesamaan dengan apa yang disampaikan Ibn Arabi, yaitu terkait makna dan
maksud (keberadaan) kita, serta tanggung jawab yang termaktub dalam makna dan
maksud tersebut. Karena tema besar yang diangkat oleh semua paparan (selama
program enam bulan) ini adalah Apa maknanya menjadi Manusia, paparan ini pun
meninjau hal tersebut dari sudut pandang karya Saint Gregory. Ini berarti tema-
tema besar lain dalam karya-karya Saint Gregory tidak akan dibahas, seperti
paparan tentang makna dan pentingnya kehidupan mistikus dari paradoks
Kegelapan yang Terang, Kemabukan yang Sadar, dan 'Stasis dan Kinesis', yaitu
Epectasy, dimana tak hanya geming dan gerak mengada secara bersamaan, namun
bahkan yang satu tak akan ada tanpa yang lain dan merupakan dalam kegemingan
dalam ketetapan menghadap Tuhan gerak maju yang konstan dalam kewalian
yang disebut oleh Saint Paul: 'melupakan apa yang telah lalu dan merengkuh hal-hal
yang ada di hadapan' (Philippians 3.13) dan yangmerupakan gerak dari suatu
kemuliaan ke kemuliaan, oleh Ruh Tuhan' (II Corinthians 3.18).
Tulisan-tulisan dari the Cappadocians berkisar pada makna mendalam, spiritual,
esoterik dari Kitab-kitab Suci serta implikasinya bagi tiap-tiap manusia. Penekanan
terjadi bukan pada makna literal dan historis, namun pada makna yang terkandung
dan tersembunyi di dalamnya; yaitu, apa makna kata-kata serta kejadian-kejadian

tersebut bagi kita. Pentingnya Kelahiran (Kristus) dan Penyaliban, misalnya,


terletak pada makna esoterik luhur dari Kelahiran Spiritual (Kelahiran Kristus) dari
Tuhan ke dalam jiwa dan dari jiwa kembal ke dalam Tuhan. Yang terakhir ini terjadi
melalui Penyaliban Spiritual, saat kita disalib, kita mati, dari pengukuhan
keberadaan diri kita; karena pengukuhan ini merupakan tindakan sirik dan sama
dengan pemahamam mati sebelum mati dari Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini,
mereka adalah pewaris Philo of Alexandria (c.20-25 BCE to 50-51 ACE), yang sangat
berpengaruh terhadap Spiritualitas secara keseluruhan, dan dari Saint Clement of
Alexandria (c.150-215), yang meneruskannya kepada murid dan temannya, Origen
(c.185-254), dan dari Origen ke murid dan temannya, Saint Gregory Thaumaturgos
(c.213-270), yang kemudian meneruskannya ke Saint Macrina the Elder (wafat
340), nenek dari pihak bapak dari Saint Basil Agung dan Saint Gregory dari Nyssa,
dan dari Saint Macrina ke the Cappadocians, yang pewarisnya termasuk Saint
Benedict, Saint Dionysius the Areopagite, Meister Eckhart dan Dom Sylvester.
The Cappadocians berasal dari dua di antara keluarga-keluarga luar biasa dalam
sejarah Spiritualitas secara keseluruhan, empat belas di antaranya ditasbihkan
sebagai Saint. Di antaranya ada sebuah kelompok yang terdiri dari lima perempuan
luar biasa, tiga dari keluarga Saint Gregory dari Nyssa dan dua dari keluarga Saint
Gregory Nazianzos. Kelima perempuan tersebut adalah: Saint Macrina the Elder,
Saint Emmelia, Saint Macrina the Younger, Saint Nonna, dan Saint Gorgonia. Saint
Emmelia menikah dengan putra Saint Macrina the Elder, Saint Basil the Elder. Saint
Emmelia dan Saint Basil memiliki 10 anak, salah satunya meninggal ketika masih
bayi. Dari sembilan yang hidup, lima di antaranya ditasbihkan sebagai Saint (Saint
Macrina the Younger, Saint Basil the Great, Saint Gregory of Nyssa, Saint Naucratios
dan Saint Peter of Sebaste). Karenanya, Saint Emmelia dikenal sebagai Ibunda dari
para Saints. Anak tertuanya adalah Saint Macrina the Younger (c.327/328-379).
Saint Gregory selalu menyebut Saint Macrina the Younger sebagai Sang Guru.
Dari keluarga Saint Gregory Nazianzos ada ibunya, Saint Nonna (c.274/275-5th
August 374), dan kakak perempuannya, Saint Gorgonia. Saint Nonna menikah
dengan Saint Gregory the Elder (c.275/275-1 Januari 374); ketiga anak mereka
ditasbihkan sebagai Saint (ketiga dan termuda adalah Saint Caesarios dari
Nazianzos). Saint Gorgonia menikah dan tinggal bersama suaminya, Alypios, di
Iconium (Konya).
Karena para perempuan ini hidup di tempat yang sama pada waktu yang sama pula,
dan baik karena mereka memang perempuan-perempuan luar biasa dan karena
pengaruh hebatnya terhadap the Cappadocian Fathers, mereka merupakan salah
satu kelompok perempuan Saint terhebat, bahkan mungkin yang terhebat, dalam
sejarah Spiritualitas. Sedemikian hebatnya pengaruh mereka, boleh dikata kita
bicara tentang bukan tiga, bukan empat, tapi sembilan Cappadocians.
Saint Gregory dari Nyssa diperingati di Gereja-gereja Timur pada tanggal 10 Januari
dan di Gereja-gereja Barat tanggal 9 Maret. Saat ini, lokasi tepatnya Nyssa tidak
diketahui. Sementara beberapa narasumber di Turki mengidentifikasi Nevshehir
sebagai Nyssa, kemungkinan lokasi itu terlalu ke selatan untuk menjadi Nyssa.

Ketunggalan keberadaan dan implikasinya terhadap makna menjadi


Manusia Sejati dalam konteks karya Saint Gregory dari Nyssa

Ketunggalan Keberadaan merupakan jantung dari kehidupan dan karya Muhyiddin
Ibn 'Arabi karya-karya yang memaktub paparan terindah yang pernah tertuang
dalam tulisan. Ketunggalan Keberadaan juga merupakan jantung kehidupan dan
karya para Cappadocians, seperti halnya jantung kehidupan dan karya dari para
mistikus agung dari Tradisi mana pun, yang Sumbernya satu. Seperti yang pernah
diutarakan oleh Meister Eckhart, keturunan para Cappadocians, bahwa dia
sebenarnya hanya pernah menyampaikan satu kutbah, karena semua kutbahnya
hanya mengupas satu hal, demikian dengan Muhyiddin Ibn 'Arabi dan para
Cappadocians yang hanya mengutarakan satu hal yang sama; bahasanya boleh jadi
berbeda, tapi mengutip Mevlana Jalalu'ddin Rumi cawannya (bahasa) mungkin
berbeda, namun anggurnya sama.
Anggur itu, menurut Dom Sylvester, adalah Tuhan sebagai Asal Muasal, Sumber,
Kesejatian, dan Kebenaran dari diri kita dan dari semesta ciptaan. Karenanya,
Kebenaran, dari diri kita dan dari semesta ciptaan, adalah Tuhan sebagai Asal,
Sumber, dan Kesejatian kita dan semesta ciptaan. Kita maupun semesta ciptaan
hadir bukan sebagai suatu Keberadaan, karena Keberadaan hanyalah milik Tuhan;
namun sebagai Pengejawantahan. Pengejewantahan berarti Keberadaan yang
dipinjamkan dan terwujud dalam gerak Penghadiahan terhadap Diri, yang tak lain
adalah Tuhan Sendiri dan yang dalam Spiritulitas Kristiani disebut Roh Kudus.
Saint John mengatakan, Tuhan adalah Cinta (I John 4.8), dan Cinta yang tak lain
adalah Tuhan, Agape dalam bahasa Yunani, adalah penghadiahan Diri kepada Diri
Sendiri. Dalam, dan sebagai Cinta, karena, menurut Saint Gregory, Tuhan 'tidak
memiliki keperluan untuk mengejawantah'2, Tuhan memberikan Dirinya kepada
Dirinya sebagai Dirinya. Dalam gerak Penghadiahan-Diri-kepada-Diri ini kita
tercipta dan dibentuk sesuai dengan kondisi ciptaan Asal kita dalam imaji dan
keserupaan dengan Tuhan (Genesis 1.26), yang dikenal sebagai Kelahiran Pertama,
Kelahiran Tuhan ke dalam Jiwa.
Bulent Rauf berujar, Cinta adalah gerak Keindahan', karenanya, gerak
Penghadiahan-Diri-kepada-Diri adalah Penghadiahan Diri Tuhan kepada Dirinya
Sendiri sebagai Dirinya sendiri sebagai Keindahan Mutlak dan Murni. Karenanya,
kondisi penciptaan Asal kita sesuai dengan imaji dan keserupaan dengan Tuhan
adalah penciptaan kita sesuai dengan imaji paripurna Tuhan dari Tuhan, karena
Dia Sendiri senantiasa berada dalam Dirinya, sebagai Keindahan Mutlak yang Murni.
Muhyiddin Ibn 'Arabi menyampaikan tentang kondisi penciptaan Asal kita:
Manusia sempurna adalah sebuah cermin absolut, jernih, murni, sedemikian
hingga Tuhan yang merupakan Keindahan Mutlak melihat Dzatnya dalam
cermin tersebut tanpa terkecuali.3
Lebih lanjut, Saint Gregory mengatakan:

Dia tak menciptakan surga-surga dalam imaji-Nya, tak pula rembulan,


matahari, keindahan bintang, atau hal lain mana pun di dunia ciptaan-Nya ini.
Hanya kau sendirilah yang dicipta menurut keserupaan melebihi segala
pemahaman; hanya kau sendiri yang merupa suatu kemiripan dari keindahan
abadi, suatu wadah penerima kebahagiaan, suatu imaji Terang Sejati; dan bila
kau menghadapkan diri dengan segala keberadaanmu kepada-Nya, kau akan
menjadi layaknya Dia, meniru Dia yang terang dalam dirimu, yang
keagungannya tercermin dalam kemurnianmu. Tak ada lain dalam ciptaan-
Nya yang setara dengan kebesaranmu. Semua surga dapat tergenggam dalam
telapak tangan Tuhan; bumi dan laut tertakar dalam celah tangannya (Isaiah
40.12). Dan Walaupun Dia demikian besar sehingga Dia dapat menggenggam
semua ciptaan dalam telapak tangan-Nya, Kau dapat sepenuhnya merengkuh-
Nya; Dia bersemayam dalam dirimu, tanpa terkungkung, karena Dia
melingkupi seluruh keberadaanmu, sabda-Nya: Aku bersemayam di dalam
mereka dan berjalan di antara mereka.' [II Corinthians 6.16.]4
Sekali lagi, terkait Tuhan sebagai Kesejatian dari diri kita dan seluruh ciptaan, Saint
Gregory mengatakan:
Bagiku, tampaknya Injil tidaklah berbicara tentang keberadaan surga di langit
sebagai suatu tempat tinggal Tuhan yang berjarak ketika Dia menasihati kita
agar menyempurnakan diri sebagaimana sempurnanya Bapa kita yang ada di
surga. Karena keilahian hadir dalam segala hal; dan, dengan demikian,
melingkupi semua ciptaan dan tidak hadir terpisah dari keberadaan; namun
sifat keilahian menyentuh setiap elemen keberadaan dengan rasa hormat yang
setara, melingkupi semua hal dengan Dirinya. Dan Nabi mengajarkan hal ini,
bahkan ketika aku berada di surga dalam pikiranku, bahkan ketika aku
menelaah apa yang berada di bawah permukaan bumi dalam penghitunganku,
Kau hadir; bahkan ketika aku merentangkan kecerdasan jiwaku hingga
melampaui batasan keberadaan, aku menyaksikan semua benda dalam
kekuatan genggamanmu, seperti tertuang dalam Injil: Jika aku naik ke surga-
surga, Kau hadir di sana; Jika aku tenggelam dalam alam bawah dunia, Kau
hadir di sana. Jika aku mengenakan sayap-sayap subuh, atau menetap di batas
terjauh samudera, bahkan di sana pun tangan-Mu akan menuntunku, dan
tangan kanan-Mu menggenggamku erat.' [Psalm 139 8-11.] Dari untaian kata
ini, kita bisa menarik makna bahwa memilih untuk tidak terpisahkan dari
Tuhan sama dengan menetap di surga.5
'Memilih untuk tidak terpisahkan dari Tuhan sama dengan menetap di surga.' Di
sinilah letak inti segalanya. Kita diciptakan dalam Gerak Penghadiahan-Diri-Kepada-
Diri-Sendiri, dan Tuhan adalah hadiah Dirinya dari Dirinya kepada Dirinya. Gerakan
ini terjadi seperti yang dikatakan oleh Saint John dan Bulent Rauf dalam Cinta,
karena Tuhan adalah Cinta (I John 4.8). Cinta Tuhan benar-benar terbebas dari
segala bentuk keharusan. Karenanya, kita pun bebas (seperti yang disampaikan oleh
Saint Gregory di sini, dan Dom Sylvester) untuk mengingkari sifat Alami Sejati kita;
untuk menolak kenyataan bahwa baik kita maupun ciptaan secara keseluruhan ada
bukan sebagai suatu keberadaan, tetapi sebagai suatu pengejawantahan yang

teraktualisasi melalui, dan dalam, Gerak Penghadiahan-Diri, dan untuk memilih


melalui kemauan kita sendiri mengukuhkan diri kita ketimbang Tuhan. Dengan
melakukan ini, kita telah mengatur Tuhan dengan memaksa-Nya hadir dalam diri
kita dan untuk berlaku dalam diri kita sebagai diri kita sendiri dalam diri kita
sekadar sebagai imaji sempurna-Nya. Karena, dengan mengukuhkan diri kita
ketimbang Dia (dan inilah yang dimaksud dengan kata dosa atau kuasa buruk
dalam karya-karya Saint Gregory), sementara kita tetap mempertahankan imaji
tersebut, yang memang tak mungkin dihilangkan, dan yang, dengan demikian, tetap
tersembunyi, tak diketahui dan tak terakui dalam diri kita, kita kehilangan
keserupaan yang tak lain adalah kesadaran terus-menerus, dan menelurkan
kekosongan diri dari imaji yang sejatinya bersemayam dalam diri. Karenanya,
keserupaan sama dengan 'memilih untuk tidak terpisahkan dari Tuhan dan sama
dengan dengan menetap di dalam surga karena dengan mengukuhkan Tuhan, dan
dengan demikian mengosongkan diri, kita kembali, dalam pemulihan keserupaan
yang telah hilang kembali ke imaji, ke kondisi penciptaan Asal kita, sesuai dengan
imaji dan keserupaan Tuhan. Inilah Kelahiran Kedua, Kelahiran jiwa kembali ke
dalam Tuhan.
Saint Gregory menjelaskan proses ini dalam paparannya tentang makna Spiritual
dari cerita amsal potongan perak yang hilang (yang disebut Saint Gregory sebagai
drachma yang hilang). Ceritanya sebagai berikut:
Bagaimana seorang perempuan yang memiliki sepuluh potong perak, apabila
dia kehilangan satu potong,
tidak menyalakan lilin, dan menyapu seluruh rumah,
dan dengan teliti mencarinya hingga dia menemukannya?
Kemudian ketika dia telah menemukannya,
dia memanggil teman-teman dan tetangganya untuk berkumpul, ujarnya
Bergembiralah bersamaku;
Karena aku telah menemukan potongan yang tadi hilang dariku. (Luke 15.8-9)
Saint Gregory mengatakan:
Upaya manusia hanyalah sejauh ini: menghilangkan kotoran yang telah
menumpuk akibat kuasa buruk dan menampakkan kembali dalam terang
keindahan dalam jiwa yang telah kita tutupi. Dogma ini sedemikian hingga
saya rasa Tuhan telah mengajarkan melalui Injil bagi mereka yang dapat
mendengar kearifan ketika ia tertutur secara tersirat: Kerajaan Tuhan ada di
dalam dirimu' [Luke 17.21.] Kata-kata ini menunjukkan, menurut saya, bahwa
kebajikan Tuhan tidak terpisahkan dari sifat alamiah kita, ataupun berada
jauh dari mereka yang memilih untuk mencarinya, melainkan kebajikan Tuhan
selalu hadir di tiap-tiap individu, tak dikenali dan terlupakan ketika seorang
masih tercekik oleh kenyamanan dan kenikmatan hidup, namun terungkap
kembali ketika kita kembali mengalihkan perhatian kepadanya Menurut
saya, inilah yang dimaksud oleh Tuhan dalam pencarian drachma yang hilang.

Nilai-nilai lain yang Tuhan sebut sebagai drachma tidaklah berguna, bahkan
ketika semua itu hadir dalam jiwa, jika sang jiwa tidak memiliki satu drachma
yang hilang tersebut Kemudian Dia mengatakan kepada kita untuk mencari
drachma yang hilang di dalam rumah kita sendiri, yang berarti di dalam diri
kita. Melalui kisah ini, Tuhan menyiratkan bahwa imaji Sang Raja tidak benar-
benar hilang, namun tersembunyi di bawah tumpukan debu Begitu debu
telah disapu bersih apa yang tengah dicari pun menjadi tampak imaji
agung dari Sang Raja yang telah ditanamkan oleh Sang Pencipta dalam hati-
hati kita semenjak awal akan terungkap dan kembali hadir dalam terang,
kemudian hal-hal ini akan mengarah pada sukacita dan kebahagiaan ilahiah,
menatap tak henti ke arah keindahan dari hal yang telah terungkap dan tak
mungkin terlukiskan melalui kata mereka yang [kini] menyaksikan
keindahan dan kebajikan serta melakukan segalanya untuk kebesaran Tuhan
Dengan demikian, upaya untuk menemukan kembali apa yang telah hilang
adalah pemulihan kondisi Asal dari imaji keilahian yang kini masih tertutupi.6
Karenanya, ujar Saint Gregory, kita kehilangan keserupaan tersebut akibat
keserakahan kita; kita secara sukarela telah memenuhi diri kita dengan hal yang
berkebalikan, maksud saya, kita telah mencicipi ketidakpatuhan terhadap Firman
Tuhan'.7 Di sini, Saint Gregory membahas makna Spiritual dari keserakahan, yaitu
pengukuhan diri kita, ketimbang Tuhan; yang mengakibatkan kita kehilangan
keserupaan dengan mengambil asupan dari diri kita sendiri ketimbang dari Tuhan.
Dengan kata lain, kita mengatur Tuhan dengan memilih untuk mengizinkan Dia
mewujud dalam diri kita dan memberikan asupan bagi kita hanya sebagai diri kita
dalam imaji sempurna-Nya, ketimbang sebagai Dirinya dalam diri kita dalam Imaji
sempurna dan keserupaan-Nya; karena sebagaimana yang dikemukakan Saint
Gregory, Kristus mengatakan 'tubuhku [hadir] untuk melakukan kehendak Bapa'
(John 4.34). Saint Gregory juga mengatakan, bersama Saint Paul, apa yang 'baik dan
dapat diterima di mata Tuhan Sang Penyelamat adalah Dia berkehendak bahwa
semua manusia terselamatkan, dan tiba pada pengetahuan akan kebenaran' (I
Timothy 2.3-4). 8 Dengan demikian, dengan mengukuhkan diri kita sendiri, kita
mengingkari kehendak Tuhan bahwa semua manusia terselamatkan dan tiba pada
pengetahuan akan kebenaran'.
Dengan kehilangan keserupaan melalui pembangkangan, maka kembalinya kita ke
kondisi penciptaan asal kita sesuai dengan imaji dan keserupaan kita dengan
Tuhan melalui pemulihan keserupaan yang hilang menjadi imaji-Nya
ditempuh lewat jalan yang berkebalikan dengan pembangkangan, yaitu melalui
jalan kepatuhan. Dan seperti yang berulang kali dikemukakan Dom Sylvester,
kepatuhan sama dengan keberserahan, serta keberserahan dan kepatuhan adalah
sama, dan adalah apa yang dimaksud dengan, Islam. Dengan kata lain, keberserahan
adalah kepatuhan, adalah Islam.
Semua Tradisi mengukuhkan bahwa kecuali kita berserah kepada Tuhan, kepada
Sang Ilahi, melalui kepatuhan, tidaklah mungkin bagi kita untuk memulihkan apa
yang telah hilang dari diri kita, keserupaan. Kelahiran Kedua, kelahiran jiwa
kembali ke dalam Tuhan, dapat terjadi, dan hanya dapat terjadi, melalui

keberserahan/kepatuhan/Islam. Prinsip keberserahan menyeluruh dan sempurna


kepada Tuhan menjelma pada seorang perempuan yang Tuhan sebut dalam Al
Quran sebagai dia yang terpilih, tersucikan dan terpilih di antara semua
perempuan di semesta (Surah III, Ali Imran) dan dia yang disapa oleh Jibril dengan
kata-kata, Salam, kau yang demikian terpilih, Tuhan bersamamu: terpujilah kau di
antara kaum perempuan' (Luke 1.28), Bunda Maria yang Terberkati, yang melalui
kata-katanya pada Pemberitaan, Prinsip ini mencapai suatu ekspresi yang demikian
luhur:
Saksikanlah seorang hamba Tuhan:
Terjadilah padaku sesuai dengan Sabda-Mu. (Luke 1.38)
Seperti
halnya
tanpa
persetujuan
dan
kerelaan
Maria,
keberserahan/kepatuhan/Islam, kejadian selanjutnya, yaitu ditiupkannya Ruh serta
kelahiran yang mengikutinya, tak akan bisa terjadi, maka kecuali dan sampai kita
berserah dengan keberserahan dan kepatuhan/Islam Maria saat Pemberitaan,
Pemberitaan dari Kelahiran jiwa kembali ke dalam Tuhan tak akan dapat terjadi
dalam diri kita, begitupun kelahiran yang mengikuti Pemberitaan tersebut;
Pemberitaan yang merupakan Pemberitaan kepada kita baik tentang Kelahiran
Tuhan ke dalam jiwa dan jiwa kembali ke dalam Tuhan. Karena inilah Maria disebut
sebagai 'Platytera ton Ouranon' ('lebih luas, lebih lapang dari surga-surga'), dan,
dengan demikian, 'Hunian bagi Yang Tak Terbendung'. Hal ini merupakan
Kebenaran bagi setiap manusia sesuai dengan kondisi penciptaan asal kita baik
dalam imaji dan keserupaan dengan Tuhan, namun selama kita kehilangan
keserupaan, hal ini hanya berupa potensi. Dia dapat juga menjadi Kebenaran
terejawantah bagi, dan dari, kita, seperti yang disampaikan melalui kalimat Saint
Gregory yang dikutip di awal paparan ini. Namun ketika, dan hanya ketika, kita pun
berserah dan patuh dengan keberserahan dan kepatuhan Maria, maka Tuhan yang
Tak Terbendung akan terwadahi, tapi hanya oleh Dirinya Sendiri dan, melalui
Penghadiahan-Diri, oleh-Nya dalam diri kita kini dalam imaji dan keserupaan
paripurna dari-Nya.
Karena itu, Maria adalah universal dalam makna yang disimbolkannya dan
merupakan milik mereka tanpa memandang ras, kepercayaan, kebangsaan atau
apa pun yang mengatakan kepada Tuhan bersamanya:9
Saksikanlah seorang hamba Tuhan:
Terjadilah padaku sesuai dengan Sabda-Mu.
Selain itu, karena Maria adalah Kediaman Suci tempat Tuhan yang Tak Terbendung
bersemayam dalam Dirinya, dengan imaji dan keserupaan sempurna-Nya, Maria
adalah jiwa dalam kondisi Sejatinya, dan jiwa tersucikan yang telah kembali ke
kondisi tersebut, sekaligus jalan agar jiwa dapat kembali ke kondisi tersebut dengan
memulihkan keserupaan yang telah hilang ke imaji tersebut. Dari sudut pandang
ini, Maria adalah milik semua kalangan.
Dengan demikian, Maria merupakan perwujudan dari dan suatu contoh nyata yang
demikian luhur bagi setiap manusia berkenaan dengan Prinsip dan Makna

Keperawanan Spiritual dan, karenanya, Kemurnian Spiritual dan Kesucian Spiritual,


yang, menurut Saint Gregory, tak ada kaitannya dengan menahan diri dari
perbuatan seksual. Jiwa yang Perawan/Murni/Suci adalah jiwa yang bersih dari
kehadiran diri/ego tanpa memandang apakah manusia tersebut terlibat dalam
hubungan seksual atau tidak. Topik ini tentu merupakan suatu tema tersendiri,
yang, karena keterbatasan waktu, hanya dapat disinggung sedikit. Namun, dalam
Risalah tentang Keperawanan (sebuah paparan indah tentang Keperawanan
Spiritual) yang ditulisnya, Saint Gregory menyampaikan:
Janganlah di antara kalian berpikir bahwa keperawanan itu hal yang
demikian remeh dan murah sehingga dapat dicapai sekadar melalui sedikit
kendali terhadap tubuh. Karena setiap manusia yang melakukan dosa adalah
budak dari dosa, [John 8.34]; Dengan perkataan lain, membiarkan diri untuk
berbuat kebatilan dalam hal atau situasi apapun sesungguhnya akan
memperbudak manusia tersebut mereka yang ingin mengarah kepada
tujuan agung keperawanan seyogianya menjaga keluhuran budinya dan
mewujudkan kesucian secara nyata dalam setiap aspek kehidupannya.10
Dalam hal ini, Saint Gregory selaras dengan rekan-rekan sejawat dan pendahulu
Spiritualnya, di Gereja Timur; karena, seperti yang disampaikan Saint Gregory,
'tujuan dari jiwa yang menjunjung tinggi keperawanan adalah untuk terpenuhi oleh
Tuhan.'11 Manusia-manusia ini, menurut Saint Gregory, telah mengejawantah dan
memenuhi dirinya dengan makna sejati Keindahan terberkatilah mereka yang
berhati bersih, karena mereka akan melihat Tuhan' (Matthew 5.8) karena,
sesungguhnya, mereka telah mengejawantah dan memenuhi dirinya dengan makna
sabda Kristus 'Kau, karenanya, adalah sempurna, sebagaimana Bapa di surga adalah
sempurna' (Matthew 5.48), karena mereka pun telah mengatakan bersama Nabi
Daud: 'Ciptakanlah sebuah hati yang jernih bagiku, ya Tuhan, begitupun sebuah jiwa
kokoh tertegakkan kembali dalam diriku, dan tetapkan aku dengan jiwa yang
menuntun' (Cf. Psalm 51.10-11).12
Namun, sebagaimana Maria, baik secara Spiritual maupun literal, adalah Perawan
dan Ibu, Keperawanannya tak terusik oleh perannya sebagai Ibu. Bahkan
sebaliknya, hal yang satu membutuhkan yang lain guna mencapai penyempurnaan,
pencapaian, and perwujudan, serta menjadi seorang Perawan dan Istri/Ibu.
Kesadaran sebagai Perawan dan Istri/Ibu mengacu kepada persepsi yang murni
(Kesadaran sebagai Perawan) dan transmisi yang murni (Kesadaran sebagai Istri
dan Ibu) dari Pengungkapan Ilahiah pada setiap saat tanpa dibumbui oleh
interferensi apa pun. Karena jika dan hanya jika kita bersih dari kehadiran diri/ego,
kita mengizinkan Tuhan untuk mewujud dalam diri (Kesadaran sebagai Perawan)
dan bertindak dalam diri kita (Kesadaran sebagai Istri dan Ibu) sebagai Dirinya
Sendiri dalam diri kita sekarang sebagai imaji dan keserupaan-Nya yang
sempurna, sebagaimana kesempurnaan Tuhan. Dengan izin Tuhan, kita akan
kembali ke topik ini segera.
Dalam kutbahnya tentang Doa Tuhan, sebuah paparan tentang kata-kata pembuka
doa, 'Bapa Kami yang Ada di Surga', Saint Gregory mengacu kepada kisah amsal
tentang Anak yang Hilang (Luke 15.11-32), yang maknanya, menurut Saint Gregory,

pada intinya sama dengan potongan perak yang hilang. Apa yang Saint Gregory
sampaikan tentang kisah amsal ini sangatlah penting, baik terkait makna menjadi
manusia, berikut tanggung jawab yang menyertainya:
Kata-kata [Bapa Kami yang Ada di Surga] bagi saya tampaknya menuntun
kita ke makna yang lebih dalam, karena kata-kata tersebut mengingatkan kita
akan tanah Asal kita yang telah kita tinggalkan dan hak lahir kita yang luhur
namun telah hilang dari kita. Dalam kisah tentang seorang anak muda yang
meninggalkan rumah bapaknya dan pergi untuk hidup seperti binatang, Sabda
(Tuhan) menuturkan kesengsaraan manusia dalam bentuk kisah amsal dan
dia tidak dapat kembali berbahagia seperti sebelumnya sampai dia menyadari
kesulitan yang saat itu tengah dia hadapi dan kemudian masuk ke dalam diri,
mengucap kata-kata pertobatan. Kata-kata ini selaras dengan kata-kata
dalam doa tersebut, karena dia berucap, 'Bapa, saya telah berdosa terhadap
Surga dan Dirimu'. (Luke 15.21). Dia tak akan menambahkan pengakuan dosa
terhadap Surga, jika dia tidak yakin kalau negeri yang telah dia tinggalkan
ketika dia berbuat dosa adalah Surga itu sendiri. Karenanya, pengakuan ini
memberikan dia jalan yang mudah ke Sang Bapa yang berlari ke arahnya serta
memeluk dan menciumnya Dan Sang Bapa pun mengenakan pada sang anak
jubah, bukan jubah yang lain, tetapi jubah yang awal, yang direnggut darinya
akibat ketidakpatuhannya Cincin di jarinya, karena ukiran batu yang ada,
menunjukkan Imaji yang kembali dimilikinya Maka dari itu, kembalinya si
anak muda ke rumah Sang Bapa menjadi saat ketika dia merasakan kasih
Sang Bapa; karena rumah orangtua ini adalah Surga yang seperti yang dia
katakan kepada Sang Bapa telah ia dustai. Senada dengan hal ini,
tampaknya bila Tuhan mengajarkan kepada kita untuk berseru kepada Bapa
yang ada di Surga, Dia bermaksud mengingatkan kita tentang tanah Asal kita
yang demikian indah. Dan dengan memperkuat tekad akan hal-hal baik ini
dalam kesadaran kita, Dia mengarahkan kita pada jalan yang akan
mengembalikan kita ke negeri Asal kita.13
Sang pemuda tersebut tidak menyadari kesulitan yang tengah dia hadapi karena dia
telah kehilangan keserupaan-nya dan, dengan demikian, dia telah menyimpang
dari dirinya, yaitu diri Sejatinya, dan hanya ketika dia mulai menyadari
kesulitannya, dia akan kembali menjadi dirinya, menjadi diri Sejatinya, dalam
pemulihan keserupaan yang telah hilang menjadi imaji-Nya, seperti yang
disampaikan Saint Gregory pada kesempatan lain:
Apa yang terjadi secara jasmaniah pada kejadian Maria yang tak tercela,
ketika keilahian sepenuhnya menyinari Kristus melalui keperawanannya,
terjadi pula pada setiap jiwa yang secara spiritual melahirkan Kristus,
walaupun Tuhan tidak lagi mengakibatkan suatu kehadiran secara fisik.
Karena, Injil menyatakan: Kita tidak lagi mengetahui Kristus secara badaniah,'
[Cf. II Corinthians 5.16] namun, seperti yang dikatakan dalam Injil, Dia
bersemayam bersama kita secara spiritual begitupun Bapa bersama-Nya. [Cf.
John 14.23]14
Dengan demikian, dia kembali ke Tanah Asal Sejatinya, Tanah Airnya, negeri Asal

Sejatinya, yaitu tanah Bapa Kami/Kita yang Ada di Surga dan yang merupakan
Tanah mereka yang Hidup. Doa ini, kisah amsal ini, paparan ini benar-benar
universal, karena Tuhan adalah Bapa Kita karena Dia adalah kesejatian dan
karenanya Kebenaran dari diri kita dan semesta ciptaan; yang berarti Dia adalah
Bapa dari tiap-tiap manusia, tanpa memandang ras, kepercayaan, warna kulit,
negara, atau apapun, seperti halnya Dia adalah Bapa dari setiap makhluk dan
seluruh ciptaan. Karenanya, tiap-tiap manusia, tiap-tiap makhluk, dan seluruh
ciptaan adalah kerabat sebangsa kita, sesama patriot, dan mungkin inilah makna
sesungguhnya dari patriotisme, karena apapun kebangsaan seseorang, tanah air
sejatinya adalah sama dengan kita: Tanah Bapa Kami/Kita yang Ada di Surga.
Saint Gregory mengingatkan bahwa kita diperintah, oleh Bapa Kami/Kita, untuk
mendengar bahwa Tuhan adalah satu dan untuk mencintai Tuhan dengan sepenuh
hati, dengan sepenuh jiwa, dan sepenuh tenaga (Deuteronomy 6.5, 10.12 and 30.6)
dan kedua, setelah itu, untuk mencintai tetangga kita sebagai diri kita sendiri
(Leviticus 19.18). Kedua perintah ini diulang oleh Kristus (Matthew 22.37-40, Mark
12. 29-31, Luke 10.27), dan yang dinyatakan Kristus sebagai: pada kedua perintah
ini semua hukum dan nabi bergantung' (Matthew 22.40), dan tak ada perintah lain
yang lebih agung daripadanya (Mark 12.31). Saint Gregory mengatakan:
Bila yang pertama tak hadir, maka yang kedua pun tak akan hadir. Karena,
bila seseorang tidak mencintai Tuhan sepenuh hati dan jiwa, bagaimana dia
bisa sepenuhnya dan setulusnya mewujudkan kasih bagi saudara-saudaranya,
sebab dia tidak memenuhi cinta bagi Sang Maha Esa yang melandasi
pewujudan kasih kepada para saudaranya?15
Bapa Kami/Kita yang memerintahkan kita untuk melakukan hal ini, adalah Bapa
dari tetangga kita, saudara kita, saudara setanah air kita. Dengan demikian, karena
hal yang sama secara Esensial berlaku bagi setiap manusia dan, karenanya, kita
secara Esensial satu jiwa, mungkin kita bisa juga berkata bersama Mevlana
Jalalu'ddin Rumi kepada Tuhan, dan mungkin juga kepada saudara kita, tetangga
kita, saudara setanah air kita (juga kepada dan tentang setiap makhluk dan
semesta ciptaan) yang lain yang sejatinya bukan yang lain:
Kau telah merancang saya dan kita untuk memainkan permainan
penyembahan dengan Dirimu sendiri,
Sehingga semua saya dan kau dapat menjadi satu jiwa tunggal dan akhirnya
tenggelam dalam Kekasih Tercinta.16
Anak yang hilang adalah setiap manusia yang belum menemukan kembali
keserupaan dan untuk setiap kejadian ini Bapa Kami/Kita merindu, karena
bukankah Dia telah mengatakan, Kerinduanku pada mereka jauh melampaui
kerinduan mereka pada-Ku' (dan Bulent Rauf mengatakan terserah kita
bagaimana kita bisa menunjukkan bahwa hal itu tidak benar), untuk
bersegera ke setiap manusia, setiap anak yang Hilang, untuk merengkuh dan
menciumnya, dan memakaikan jubah yang pertama kembali, dan untuk
mengenakan cincin di tangan, dan mengatakan kepada setiap manusia bahwa

anakku telah meninggal, dan kembali hidup; dia telah hilang, dan kini
ditemukan kembali.' (Luke 15.24)
Bagi Saint Gregory, seperti halnya bagi Muhyiddin Ibn 'Arabi, tanggung jawab utama
kita adalah untuk menyadari dan mewujudkan Sejatinya diri kita, dan karenanya,
Sejatinya tetangga kita, dan dengan demikian mengetahui ciptaan sebagaimana
sejatinya. Hal ini bukan saja tanggung jawab utama kita; inilah satu-satunya
tanggung jawab kita, seperti yang disampaikan Lois Lang-Sims dengan begitu indah.
Mengutip dari Republik oleh Plato: 'Marilah masing-masing dari kita meninggalkan
pengetahuan lain, dan mencari serta mengikuti satu hal saja'17, ujar Lois Lang-Sims:
Jalan ini dapat ditemui dalam ajaran-ajaran esensial yang telah diturunkan
kepada kita melalui tradisi-tradisi agama besar. Dapat ditemui dalam
pernyataan para mistikus sejati dari tradisi-tradisi tersebut. Pengetahuan para
mistikus ini, yang didapat dengan segala kerendahan hati, melintasi semua
perbedaan yang tampak antara berbagai sistem ritual, simbolisme, dan mitos.
Ditemui, pada dasarnya, tergantung sejauh mana kita memperhatikan suara
yang berbicara tegas dalam hati kita pesan esensial dari tradisi agama, yang
senantiasa sama di mana pun dia berada: kehidupan kita, masyarakat kita,
dunia kita dimaksudkan untuk Satu Hal Saja untuk kembali, sesegera dan
seyakin mungkin, kepada Tuhan.18
Dalam sebuah seri tiga Risalah yang ditulis dalam rentang beberapa tahun, Tentang
Apa Makna Menjuluki Seseorang Kristiani, Tentang Kesempurnaan,Tentang Cara
Hidup Kristiani, yang terakhir dipercayai telah ditulis pada tahun-tahun terakhir
hidupnya, 19 Saint Gregory melontarkan dan menjawab pertanyaan 'Apa makna
menjuluki seseorang Kristiani dan menjadi seorang Kristiani?' Jawabannya teramat
luar biasa, karena, menurutnya, untuk benar-benar menjadi seorang Kristiani, orang
itu harus bisa mengatakan bersama Saint Paul Saya hidup, namun bukan saya, tapi
Kristus hidup di dalam diri saya' (Galatians 2.20)20, dan seluruh hidup kita, dalam
setiap pikiran, ucapan, dan tindakan, dalam setiap detik, seyogianya merupakan
kesaksian21 dari hal ini, karena, menurut Saint Gregory Disebut sebagai sesuatu
tidak lantas mengakibatkan menjadi sesuatu tersebut.'22
Karenanya, jika,' ujar Saint Gregory:
Seseorang mengenakan nama Kristus, namun dalam kehidupannya tidak
menunjukkan apa yang diindikasikan oleh nama tersebut, orang tersebut telah
mengingkari nama itu dan mengenakan topeng yang tidak hidup ... Karena tidaklah
mungkin bagi Kristus untuk tidak menjadi keadilan dan kesucian dan kebenaran
dan jauh dari kejahilan, dan tidaklah mungkin bagi seseorang menjadi Kristiani
(benar-benar Kristiani) tanpa menunjukkan dalam dirinya penerapan nilai-nilai
tersebut.23
Sejalan dengan hal ini, Saint Gregory mengatakan, jika seseorang benar-benar
disebut sebagai seorang Kristiani maka setiap kata, tindakan, dan pikirannya harus
mengacu pada Kristus'. Dan bila tidak, maka orang tersebut tidak bisa dinyatakan
sebagai benar-benar Kristiani, karena orang ini telah menolak Kristus melalui apa
yang dia pikirkan, lakukan, atau katakan.'24

Saint Paul mengatakan:


Aku disalib bersama Kristus:
Namun aku hidup; walau bukan aku, tapi
Kristus yang hidup di dalamku
Aku tidak mengingkari karunia
Tuhan. (Galatians 2.20-21)
Dengan mengatakan, 'Aku disalib bersama Kristus', Saint Paul, dan Saint Gregory
bersamanya, tengah mengacu kepada makna spiritual dari Penyaliban, seperti
halnya Penyaliban kita, yaitu ketika kita mati terhadap diri kita, yang berakibat pada
Kelahiran Kedua: Kelahiran jiwa kembali ke dalam Tuhan. Dengan demikian, kita
juga tidak mengingkari karunia Tuhan, karena kita tidak lagi mengingkari
Kehendak Tuhan untuk menyapa kita sebagaimana Dia menyapa Anak yang Hilang.
Jadi, untuk benar-benar menjadi seorang Kristiani, menurut definisi Saint Gregory,
kita perlu kembali ke kondisi penciptaan Asal kita. Untuk kembali, seperti yang
disampaikan oleh Saint Gregory secara tepat, ke berkah asal kita.' 25 Tidaklah
mungkin bagi kita untuk mewujudkan dan memenuhi makna ini dalam diri kita
tanpa juga menjadi seorang Muslim, dalam konteks penggunaan kata tersebut oleh
Muhyiddin Ibn 'Arabi, dan menurut makna dari kata ini. Karena, seperti yang telah
berulang kali disampaikan oleh Dom Sylvester, keberserahan diri adalah kepatuhan
dan keberserahan/kepatuhan adalah sama dengan dan apa yang dimaksud dengan,
Islam. Dalam pemahaman selaras, J.G. Bennett menulis:
Aku benar-benar percaya bahwa, pada pertemuan kita terakhir, saya telah berhasil
menyampaikan kepada Emin Bey bahwa tujuan dan harapan saya adalah menjadi
seorang layaknya seorang Muslim yang baik, dan bagi saya hal ini sama dengan
menjadi seorang Kristiani yang baik atau seorang Buddhist yang baik.26
Kita bisa juga, mungkin, menambahkan seorang Hindu yang baik, seorang Taoist
yang baik, karena tidaklah mungkin menjadi seorang Muslim, Kristiani, Buddhist,
Hindu, Taoist yang baik tanpa mengada dalam keberserahan/kepatuhan/Islam yang
menyeluruh dan paripurna kepada Tuhan. Mungkin, jika demikian, kita bisa kembali
menyadari bahwa, apapun kepercayaan kita, kita telah minum dari sumber yang
sama. Karena, walaupun botolnya tampak berbeda, seperti yang disampaikan
Mevlana Jalalu'ddin Rumi dengan demikian indah, anggur yang ada di dalamnya
adalah sama. Seperti yang juga dikatakan Lois Lang-Sims (dan kata-katanya juga
berlaku bagi Saint Gregory of Nyssa):
St. Paul menulis dalam Corinthians, 'jika seseorang berada dalam Kristus, dia
adalah makhluk yang baru: hal-hal yang lama telah mati: saksikanlah betapa
semua hal menjadi baru.' [II Corinthians 5.17.] Kata-kata ini menggunakan
rumus Kristiani untuk mendeskripsikan suatu kondisi mengada yang dapat
digambarkan melalui beragam cara sebanyak jumlah tradisi luhur yang
menyampaikan jalan-jalan tersebut. Rumus ini mengandung kebenaran,
namun tidak membatasi kebenaran tersebut Kata-kata yang telah kita kutip

adalah suatu gambaran kelahiran Tuhan ke dalam jiwa dan jiwa ke dalam
Tuhan'.27
Dalam ulasannya tentang Lagu dari Lagu-lagu, Saint Gregory mengacu kepada kisah
amsal Samaria yang Baik (Luke 10. 29-37). Saint Gregory mengatakan bahwa
seorang manusia yang terjerumus di kalangan pencuri dan perampok, lagi-lagi,
adalah kita; bahwa Samaria yang Baik adalah Wahyu, penginapan tempat orang
tersebut (kita) dimasukkan adalah penginapan curahan Kasih-Nya dan bahwa
semua yang masuk ke dalamnya menerima dalam dirinya apa yang menerima
mereka, seperti Wahyu sendiri bersabda: 'Dia bersemayam dalam diriku, dan aku di
dalam-Nya' (John 6.57). Dengan demikian, Manusia, kemudian, menerima dalam
dirinya Tuhan yang sejatinya tak terbendung. Saint Gregory kemudian berkata
bahwa dua koin yang diberikan kepada penjaga penginapan adalah dua Perintah
yang telah disebutkan di atas, yang, menurutnya:
Kita tidak boleh sekadar menerima dua koin tersebut (maksud saya, iman kita
kepada Tuhan dan kesadaran yang baik terhadap sesama umat), tapi kita
harus kita bekerja sama melalui perbuatan baik untuk memenuhi kedua
perintah tersebut.28
Kristus bersabda dan Dia mengatakan hal ini kepada setiap manusia menanggapi
jawaban bahwa tetangga dari orang yang terjerumus di kalangan pencuri adalah
orang yang menunjukkan kasih: Pergi, dan berlakulah serupa.' (Luke 10.37.) Di
sinilah, menurut Saint Gregory, letak tanggung jawab kita.
Semua ini menggiring kita kembali ke Kesadaran sebagai Perawan dan sebagai Istri.
Jika, dan hanya jika, kita telah memulihkan keserupaan yang hilang dan telah
dikenakan kembali jubah yang pertama maka kita telah pula diselubungi oleh apa
yang Saint Gregory sebut dengan Kebajikan dan kadang Energi Tuhan. Bagaimana
pun, apa yang yang Saint Gregory sebut sebagai Kebajikan atau Energi Ilahiah
sama dengan Nama-nama Tuhan yang diacu oleh Muhyiddin Ibn 'Arabi. Dikenakan
Kebajikan/Energi sama dengan dikenakan Nama-nama Tuhan, dan yang, dengan
demikian, hanya diterima melalui dan hanya melalui Penghadiahan-Diri, oleh
Kesadaran Perawan dan disampaikan kepada tetangga-tetangga kita, teman
sebangsa, dan semesta ciptaan oleh Kesadaran dalam kapasitasnya sebagai Istri dan
Ibu, seperti yang disampaikan Saint Gregory:
Semua orang tahu bahwa fungsi dari menyatunya tubuh adalah penciptaan
jasmani yang tidak abadi, namun, bukan anak, melainkan kehidupan dan
kemurnian yang terlahir dari mereka yang menyatu dalam kesertaan mereka
di dalam Ruh. Demikian luar biasa apa yang telah disampaikan oleh Nabi
tentang ini, bahwa ibu yang dikaruniai anak-anak ini akan terselamatkan
melalui kehamilannya,' [I Timothy 2.15] seperti halnya yang disampaikan
melalui hymne ilahiah para psalmist: Dia menjadikan dalam rumahnya istri
yang mandul sebagai ibu yang berbahagia baik anak-anaknya.'[Psalm 113.9]
Ibu yang perawan yang melahirkan anak-anak abadi melalui Sang Ruh
bergembira dan dia disebut mandul karena kesederhanaannya.29

Dan kembali, Saint Gregory mengatakan:


Kelahiran terjadi, bukan dari darah, atau keinginan jasmaniah, atau kehendak
manusia, melainkan berkat Tuhan ' [John 1.13] semata. Hal ini terjadi ketika
seseorang melalui kualitas penghadiahan-kehidupan dari hati menyandang
kemurnian dari Sang Ruh dan melahirkan kebijakan dan keadilan dan
kesucian dan penebusan. Setiap orang dimungkinkan untuk menjadi seorang
ibu secara realita dalam sudut pandang ini, seperti sabda Tuhan: 'Mereka yang
melakukan kehendak-Ku adalah saudara laki-laki-Ku, saudara perempuan-Ku
dan ibu-Ku.' (Cf. Matthew 12.50; Mark 3.35)30
Karena jika, dan hanya jika, kita telah kembali ke kondisi penciptaan Asal kita, yang
mengalir melalui kita dan ke tetangga kita, rekan sebangsa kita serta ke seluruh
semesta ciptaan, adalah, tegas Saint Gregory, Cinta Ilahiah, Kasih Ilahiah, Keadilan
Ilahiah; yang berarti tidak hanya memberi kepada setiap manusia apa yang benar-
benar dia butuhkan, tetapi juga memberikan kepada setiap saat apa yang dia
butuhkan, dan demkian dengan semua Kebajikan, Energi, Kualitas-kualitas dan
Nama-nama Tuhan.
Sebagai contoh, dalam Kutbahnya tentang Keindahan Terberkatilah mereka yang
penuh kasih, karena mereka akan mendapatkan kasih', Saint Gregory mengatakan
bahwa mereka yang penuh kasih dari Keindahan adalah, utamanya, mereka yang
menunjukkan kasih kepada diri mereka sendiri ketika sang jiwa menyadari apa
yang pernah dia miliki, dan dari tataran mana mereka telah jatuh' 31 dengan
berupaya memulihkan keserupaan yang hilang. Jadi, tiap-tiap manusia yang
berupaya untuk mengetahui dirinya untuk mengetahui Tuhan', adalah mereka yang
penuh kasih dan dijuluki oleh Sang Maha Indah sebagai Terberkati. Lebih lanjut,
Saint Gregory mengatakan, bahwa tidak saja kita mendapatkan kasih ketika
keinginan kita terpenuhi, namun 'buah dari kasih tersebut menjadi milik dari Sang
Maha Kasih' 32 , melalui, dan hanya melalui, Penghadiahan-Diri, yang mengalir
melalui dan keluar dari kita, adalah Kasih Ilahiah, Cinta Ilahiah. Karena, menurut
Saint Gregory, kecuali bila kasih telah melembutkan jiwanya, manusia tak akan
mampu mewujudkan kesembuhan bagi penyakit tetangganya.'33
Hal yang sama bagi 'yang penuh kasih' juga terterapkan bagi semua
Kebajikan/Energi/Nama'. Satu lagi contoh, dalam Kutbah tentang Keindahan
Terberkatilah mereka yang menebar kedamaian, Saint Gregory mengatakan
bahwa penebar kedamaian yang paripurna adalah mereka yang telah benar-benar
meredam perselisihan di dalam dirinya antara apa yang di dalam dan di luar,
spiritual dan material, ilahiah dan manusiawi. Sehingga keduanya berfungsi secara
sempurna sebagai suatu kesatuan, seraya tetap menjaga integritas masing-masing.
Apabila tabir diri telah terungkap, maka yang lebih rendah akan berada dalam
keberserahan/kepatuhan sepenuhnya kepada yang lebih tinggi. Dengan demikian,
apa yang tampak sama dengan apa yang tersembunyi, dan apa yang tersembunyi
sama dengan apa yang tampak.'34
Karenanya, hal-hal yang tadinya terlihat sebagai sesuatu yang lain, yang menjadi
sumber perselisihan, kini telah diketahui dan disaksikan, baik dalam diri kita

maupun dalam semesta ciptaan, sebagaimana sejatinya kita dan semesta, yaitu
sebagai bukan yang lain. Hal ini mengakibatkan lenyapnya perselisihan dan
hadirnya Keselarasan, Perdamaian. Karena, seperti yang disampaikan Saint Gregory,
perdamaian adalah keselarasan dari bagian-bagian yang berbeda'35 dan kita kini
menyaksikan, seperti yang dikatakan Joseph Campbell, 'bahwa terdapat damai dari
keberadaan abadi dalam setiap aspek medan pewujudan temporal' 36 , dan
Kedamaian inilah, Kedamaian Ilahiah, yang, menurut Saint Gregory, kini mengalir ke
dalam kita, melalui kita, dan keluar ke tetangga kita dan semesta ciptaan.
Kedamaian sesungguhnya adalah pemberi sukacita yang utama, dan Dia
menginginkan agar hal ini dimiliki oleh tiap-tiap kita. Sedemikian hingga tidak
hanya hal itu kita simpan untuk diri kita, tapi kita mampu menyebarkannya
dari keluapan keberlimpahan kita kepada yang lain. Karena Dia telah
bersabda, Terberkatilah para penebar kedamaian. Seorang penebar
kedamaian adalah mereka yang memberi damai kepada yang lain; namun
seseorang tidak dapat memberikan kepada yang lain apa-apa yang tidak dia
miliki. Karena itu, Tuhan ingin agar kau terpenuhi dengan karunia damai, dan
kemudian menyampaikannya kepada mereka yang membutuhkan.37
Dan, Saint Gregory melanjutkan:
Karenanya Dia ingin karunia damai benar-benar bersemayam dalam dirimu
layaknya harum rempah wangi memenuhi ruang di sekitarnya dengan
aromanya, sehingga hidupmu bisa menyembuhkan sakit orang lain.38
Saint Gregory kerap berbicara, misalnya, melalui Kutbah tentang Keindahan,
mengenai perbedaan mendalam yang diakibatkan oleh hal tersebut, tidak saja
terhadap hidup kita, namun juga terhadap cara kita menanggapi tetangga
dan semesta ciptaan. Saint Gregory akan bersepakat dengan Dom Sylvester
ketika Dom mengatakan (berulang kali) seorang Suci tidak perlu menjadi
seorang ilmuwan, namun seorang ilmuwan perlu menjadi seorang Suci. Tentu
kita bisa mengganti kata ilmuwan dengan profesi atau pekerjaan lain.
Saya akan mengakhiri dengan satu kutipan lain dari Saint Gregory. Namun
sebelumnya, saya ingin mengingatkan kita akan kata-kata Saint Gregory dalam kisah
amsal Drachma yang hilang tentang apa yang terjadi jika kita menemukan apa yang
sebelumnya hilang. Karena pada saat itu, menurutnya, kita memandang keindahan
yang tak terlukiskan dari apa yang terungkap. Bulent Rauf pernah ditanya, 'apa
yang dilihat oleh seorang Suci?' Jawabannya hanya satu kata: Keindahan. Jadi baik
Saint Gregory maupun Bulent Rauf mengatakan, untuk menjadi Manusia Sejati
berarti menyaksikan Keindahan, yang sangat terkait dengan kutipan yang baru
disampaikan. Walau singkat, jawaban ini merupakan jantung dari kehidupan dan
karya Saint Gregory, dan, menurut hemat saya, mengacu ke jantung kehidupan dan
karya Muhyiddin Ibn 'Arabi. Ini adalah pernyataan luar biasa dari makna menjadi
Sejatinya Manusia serta tanggung jawab yang terkandung di dalamnya. Saint
Gregory mengatakan kepada-Nya, kepada Tuhan:

Kau sungguh luar bisa indah. Kau terkandung selama-lamanya dalam esensi
Keindahan, senantiasa menjadi Dirimu Kau ulurkan Keindahanmu ke
seluruh keabadian keberadaan-Mu. Inilah Kasih-Mu kepada manusia.39

Catatan

1 Dom Sylvester Houdard, O.S.B. (1925-1992). Dom Sylvester, seorang pastur Benedictine dari

Prinknash Abbey di Gloucestershire serta merupakan kawan dari Bulent Rauf dan
Chisholme, adalah sosok terpelajar yang luar biasa, sehingga ada saat kekita dia tengah
berjalan, Dr. Ralph Austin, (mantan dosen Bahasa Arab di Universitas Durham, dan seorang
terkemuka dalam mistis Islam) berkata dengan segala rasa hormat Baru saja lewat
keseluruhan Kekristianian abad pertengahan'. Pemahamannya yang begitu tinggi
dikombinasikan dengan, seperti disampaikan Bulent Rauf, kerendahan hati yang sama luar
biasanya. Setiap dia berkata atau apa pun yang dia tulis, dia akan bergerak dari Saint
Benedict, ke Muhyiddin Ibn 'Arabi; dari the Cappadocians ke Meister Eckhart; dari Saint
Augustine ke Saint Thomas Aquinas; dari Philo of Alexandria ke Para Pemuka Buddhist
tanpa masalah sama sekali dan secara alamiah' (seperti dalam the Twelfth Degree of
Humility in the Rule of Saint Benedict) karena baginya tak ada perbedaan antara semua itu
terkait dengan makna yang disampaikan. Dom Sylvester pernah memberikan seminar
tentang kutbah Meister Eckhart yang dia penuhi dengan acuan kepada Muhyiddin Ibn 'Arabi
disertai ilustrasi dari ikon-ikon Buddhist.
Saat mengunjungi peristirahatan terakhir Mevlana Jalalu'ddin Rumi di Konya, seseorang
pernah mengatakan kepada Bulent Rauf Kau pasti demikian mencintai Rumi hingga mau
datang setiap tahun, dan Bulent Rauf menjawab 'Tidak juga'. Orang tersebut terkejut,
kemudian Bulent Rauf melanjutkan, 'Kami mencintai apa yang dicintai Rumi, dan apa yang
dicintai Rumi, mencintai Rumi '. Baik Bulent Rauf maupun Dom Sylvester mencintai apa
yang Muhyiddin Ibn 'Arabi cintai dan apa yang Muhyiddin Ibn 'Arabi cintai, mencintai
Muhyiddin Ibn 'Arabi, mencintai Bulent Rauf, mencintai Dom Sylvester. Dengan demikian,
baik Bulent Rauf maupun Dom Sylvester adalah, dalam makna yang tertinggi dari ekspresi
ini, adalah Manusia-manusia Tuhan hamba-hamba Tuhan. Muhyiddin Ibn 'Arabi menulis:
Oh marvel! a garden amidst fires!
My heart has become capable of every form:
it is a pasture for gazelles and a convent for Christian monks,
And a temple for idols and the pilgrim's Ka'ba
and the tables of the Tora and the book of the Koran.
I follow the religion of Love: whatever way Love's camels take,
that is my religion and my faith.
[The Tarjumn Al-Ashwq. A collection of Mystical Odes by Muhyiddin Ibn 'Arabi, trans. by
Reynold A. Nicholson, (London: Theosophical Publishing House Ltd, 1978 repr.), p 67.]
Bulent Rauf dan Dom Sylvester Houdard: dua orang yang benar-benar menyadari
keajaiban suatu taman di tengah-tengah api, yang hati-hatinya benar-benar mampu
menerima setiap bentuk dan benar-benar padang bagi rusa-rusa dan gereja bagi para
pendeta Kristiani, kuil bagi para idol, dan tablet bagi Taurat dan kitab Al Quran; yang
benar-benar mengikuti agama Cinta; yang agama dan kepercayaannya benar-benar
mengikuti unta milik Cinta ke mana pun mereka berjalan dan yang, dalam makna yang
tertinggi, wali Tuhan dan sahabat Tuhan.
2 Saint Gregory of Nyssa, The Beatitudes. Tercantum dalam Saint Gregory of Nyssa, The
Lord's Prayer, The Beatitudes, Trans. Dengan anotasi dari Hilda C. Graef, Ancient Christian


Writers, The Works Of The Fathers In Translation, No. 18 (New York, N.Y./ Ramsey N.J.:
Newman Press, Paulist Press, 1954) Sermon 3, 'Blessed are they that mourn, for they shall
be comforted', p.112.
3 Muhyiddin Ibn 'Arabi, Kernel Of The Kernel, in Ismail Hakki Bursevi's Translation [into
Ottoman Turkish] of Kernel Of The Kernel, translated into English by Bulent Rauf,
(Sherborne House, Sherborne, Cheltenham: Published on behalf of the Beshara Trust by
Beshara Publications, n.d.), p.46.
4 Saint Gregory of Nyssa, tercantum dalam From Glory to Glory: Texts From Gregory of
Nyssa's Mystical Writings. Selected and with an Introduction by Jan Danilou, S.J. Trans.
and ed. by Herbert Musurillo, S.J. (Crestwood, N.Y.: St. Vladimir's Seminary Press, 1979),
pp.162-163.
5 Saint Gregory of Nyssa, To Call Oneself A Christian, tercantum dalam The Fathers Of The
Church, A New Translation, vol. 58, St Gregory Of Nyssa Ascetical Works. Trans. by Virginia
Woods Callahan (Washington D.C.: The Catholic University Of America Press, 1999 reprint),
p.87.
6 Saint Gregory of Nyssa, On Virginity, tercantum dalam The Fathers Of The Church, chapter
12, pp.44-45. Also included in Nicene And Post Nicene Fathers, vol. v, Saint Gregory Of Nyssa
Dogmatic Treatises, etc. Trans. with Prolegomena, Notes and Indices by William More and
Henry Austin Wilson, (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company,
1979 reprint), chapter XII, p.358. Also included in From Glory to Glory, pp.114-115.
7 Saint Gregory of Nyssa, The Beatitudes, op.cit. p.116.
8 ibid. p.124.
9 Simak juga apa yang seorang pastur Benedictine, 'seorang suci', katakan kepada J.G.
Bennett: bahwa dia tak memandang aneh sama sekali pernyataan yang harus dibuat
Maria untuk menyatukan semua yang menyembah Tuhan dalam kesucian hati', setelah
Bennett diberitakan oleh Kristus, melalui sebuah visi, bahwa 'Kehendak-Ku-lah bahwa
Gerejaku dan Islam harus bersatu'. Ketika Bennett bertanya siapa yang mampu
menuntaskan ini? Jawabannya adalah 'Maria'. Witness: The Autobiography of John G.
Bennett, (London: Turnstone Books, 1975 edition), p.347.
10 Saint Gregory of Nyssa, On Virginity, tercantum dalam The Fathers Of The Church, chapter
18, p.59. Also included in Nicene Fathers, (XVIII), p.364.
11 Saint Gregory of Nyssa, On The Christian Mode Of Life, tercantum dalam the Fathers Of The
Church, p.133.
12 ibid, pp.132-133.
13 Saint Gregory of Nyssa, The Lord's Prayer, Sermon 1, in The Lord's Prayer, The Beatitudes,
pp.41-42.
14 Saint Gregory of Nyssa, On Virginity, chapter 2, p.11. Juga tercantum dalam Nicene Fathers,
pp.344-345 dengan terjemahan yang sedikit berbeda: Apa yang terjadi dalam Maria yang
Suci ketika kesempurnaan Tuhan yang bersemayam dalam Kristus menyinari melaluinya,
terjadi di setiap jiwa yang memimpin menggunakan aturan kehidupan perawan. Tak lagi
Sang Tuan datang dalam wujud badaniah; kita mengetahui Kristus tak lagi berdasarkan
badaniah [II Corinthians 5.16]; namun, secara spiritual, Dia bersemayam dalam diri kita
dan membawa Bapa-Nya dengan-Nya, seperti yang disebutkan oleh Injil.' [John 14.23]
15 Saint Gregory of Nyssa, On The Christian Mode Of Life, p.148.
16 Jalalu'ddin Rumi dari the Mathnawi, Book I, ll. 1776 et seq. dikutip oleh R.A. Nicholson
dalam Rumi Poet and Mystic. Translations, Introduction and Notes by Reynold A. Nicholson,
(London: Mandala Books, Unwin Paperbacks, 1978), p.34.
17 Lois Lang-Sims, One Thing Only, A Christian Guide to the Universal Quest for God, (New
York, N.Y: Paragon House, First Edition, 1988), p.7.


18 ibid. pp.1 & 2.
19 Ketiga Risalah tercantum dalam Fathers Of The Church: On What It Means To Call Oneself

A Christian, pp.79-89, On Perfection, pp.93-122, On The Christian Mode Of Life, pp.125-158.


For the dating of the latter, see Virginia Woods Callahan in her Introduction to On The
Christian Mode Of Life, p.126 where she says that it is believed to have been written after
390.
20 Saint Gregory of Nyssa, On Perfection, tercantum dalam The Fathers Of The Church, p.96.
21 ibid.p.98.
22 ibid.p.98.
23 Saint Gregory of Nyssa, To Call Oneself A Christian, p.85.
24 Saint Gregory of Nyssa, On Perfection, p.120.
25 Saint Gregory of Nyssa, To Call Oneself A Christian, p.85.
26 J.G. Bennett, Journeys in Islamic Countries, (Santa Fe, New Mexico: Bennett Books, First
Bennett books Edition, 2000), p.233.
27 Lois Lang-Sims, One Thing Only, p.134.
28 Saint Gregory of Nyssa, dari the Commentary on the Canticle, Sermon 14, tercantum dalam,
From Glory to Glory, pp.279-281.
29 Saint Gregory of Nyssa, On Virginity, p.48. Juga terdapat di, Nicene Fathers, XIII, p.359.
30 Saint Gregory of Nyssa, ibid. p.50. Juga tercantum dalam Nicene Fathers, XIII, p.360.
31 Saint Gregory of Nyssa, The Beatitudes, Sermon 5, 'Blessed are the merciful', pp.138ff.
32 ibid. p.139.
33 ibid. p.132.
34 Saint Gregory of Nyssa, The Beatitudes, Sermon 7, 'Blessed are the peacemakers', p.165.
35 Saint Gregory of Nyssa, On Perfection, p.103.
36 Joseph Campbell, The Masks Of God, IV vols., (London: This edition first published by
Souvenir Press (Educational & Academic) Ltd., 2000), vol. II, Oriental Mythology, p.82.
37 Saint Gregory of Nyssa, The Beatitudes, Sermon 7, 'Blessed are the peacemakers' pp.158-
159.
38 ibid. p.160. Lihat juga On Perfection, pp.102-103.
39 Saint Gregory of Nyssa, Commentary on the Canticle, Sermon 4, tercantum dalam From
Glory to Glory, p.173.







Catatan kaki: Diterjemahkan oleh Eva Muchtar untuk bahan refleksi pribadi.