You are on page 1of 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap individu dalam keadaan tertekan, cemas, stress ataupun konflik
akan berupaya untuk melawan keadaan tersebut dengan mekanisme pertahanan
diri yang dimilikinya. Mekanisme pertahanan ini tidak selalu patologis.
Mekanisme pertahanan diri (defence mechanisms) adalah proses asadar yang
digunakan oleh ego untuk mengurangi konflik antara id dan superego yang
menyebabkan kecemasan.
Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri untuk
menunjukkan proses asadar yang melindungi individu melalui pemutarbalikan
kenyataan. Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi obyektif
bahaya dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan
masalah itu. Jadi mekanisme pertahanan diri melibatkan unsur penipuan diri.
Seseorang memerlukan berbagai teknis psikologis dengan cara
berupaya untuk mempertahankan dirinya, membangun kompromi antara impulsimpuls konflik dan menghilangkan ketegangan dari dalam. Hal ini dilakukan
dengan cara membangun rencana pertahanan untuk menangani anxietas, impuls
agresif, permusuhan, kebencian dan frustasi. Dengan demikian, mekanisme
pertahanan didefinisikan sebagai suatu proses, mekanisme atau dinamisme mental
yang berfungsi melindungi seseorang terhadap bahaya yang berasal dari impuls
atau afeknya.

Teori psikoanalisis dan psikodinamika menjelaskan proses bagaimana


kita melindungi diri kita dari impuls yang mengancam dan yang tidak diinginkan.
Pada teori psikoanalitik, mekanisme defensi merupakan mediasi asadar ego antara
id dan super ego yang sedang konflik. Dengan mengubah kesadaran seseorang
terhadap impuls original, dapat membuat keadaan menjadi lebih ditolerir.
Kebutuhan dan dorongan merupakan faktor penting yang
mempengaruhi perilaku manusia. Kebutuhan psikologik, misalnya rasa aman,
kasih sayang, dan rasa harga diri. Tidak ada dorongan psikologik yang khas untuk
kebutuhan ini, akan tetapi emosi, rasa tegang, senang, puas, takut, dan cemas
berfungsi sebagai dorongan untuk mendapatkan kebutuhan psikologik ataupun
somatik. Makin besar usaha untuk mencapai kebutuhan dan tujuannya, makin
besar dorongannya.
Lingkungan manusia dibagi menjadi lingkungan fisik dan sosial.
Lingkungan sosial sangat berpengaruh dalam perkembangan manusia setelah
lahir. Kelompok sosial juga mempunyai kebutuhan, bila keseimbangan kelompok
terganggu, maka akan timbul dorongan untuk memulihkannya. Kalau dorongan
badaniah dan psikologik bekerja lebih banyak, misalnya perasaan puas, senang,
cemas, dan rasa salah (kontrol diri) maka dorongan sosial bekerja lebih banyak
dengan munculnya perasaan bangga atau malu, adanya pahala atau hukuman
melalui sistem norma dan adat istiadat (kontrol sosial).
Stress adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri sebagai
akibat adanya penghalang kesukaran, kebimbangan, aral melintang dalam usaha
mencapai tujuan sehingga menganggu keseimbangan. Bila tidak dapat diatasi

dengan baik, akan muncul gangguan badan ataupun jiwa. Sumber stres psikologik
antara lain frustasi, konflik, tekanan atau krisis. Frustasi timbul bila keinginan dan
tujuan yang akan dicapai terhalangi oleh sesuatu. Konflik terjadi bila seseorang
tidak dapat memilih antara dua atau lebih macam kebutuhan atau tujuan. Memilih
satu berarti frustasi terhadap yang lain.
Daya tahan stress atau nilai ambang frustasi pada tiap orang berbedabeda, tergantung keadaan somato-psikososial orang tersebut. Jika stress itu cukup
besar, lama, dan spesifik maka orang akan terganggu jiwanya. Penyesuaian diri
terhadap stress tergantung pada umur, seks, kepribadian, intelegensi, dan emosi.
Mekanisme tersebut menjadi patologis bila penggunaannya secara terus
menerus membuat seseorang berperilaku maladaptive/tidak mampu beradaptasi
dengan baik, sehingga kesehatan fisik dan / atau mental orang itu turut
terpengaruh. Kegunaan mekanisme pertahan ego adalah untuk melindungi
pikiran/diri/ego dari kecemasan, sanksisosial atau untuk menjadi tempat
mengungsi dari situasi yang tidak sanggup untuk dihadapi.
Mekanisme pertahanan dilakukan oleh ego sebagai salah satu bagian
dalam struktur kepribadian menurut psikoanalisis Freud selain id, dan super ego.
Mekanisme tersebut diperlukan saat impuls-impuls dari id mengalami konflik satu
sama lain, atau impuls itu mengalami konflik dengan nilai dan kepercayaan dalam
super ego, atau bila dirasakan ada ancaman dari luar yang dihadapi ego.
Faktor penyebab perlunya dilakukan mekanisme pertahanan adalah rasa
kecemasan. Bila kecemasan sudah membuat seseorang merasa sangat terganggu,

maka ego menganggap perlu menerapkan mekanisme pertahanan untuk


melindungi individu.
Rasa bersalah dan malu sering menyertai perasaan cemas. Kecemasan
dirasakan sebagai peningkatan ketegangan fisik dan mental. Perasaan demikian
akan terdorong untuk bertindak defensive/mempertahankan diri terhadap apa yang
dianggap membahayakan nya. Penggunaan mekanisme pertahanan dilakukan
dengan membelokan impuls id ke dalam bentuk yang bisa diterima, atau dengan
tanpa disadari menghambat impuls tersebut.
Di beberapa aliran psikologi (terutama dalam teori psikodinamik),
psikolog berbicara tentang mekanisme pertahanan, atau perilaku di mana kita
berperilaku atau berpikir dengan cara tertentu untuk lebih melindungi atau
membela diri kita sendiri.

Mekanisme pertahanan adalah salah satu cara

melihat bagaimana orang-orang menjauhkan diri dari kesadaran penuh yg tidak


menyenangkan perasaan dan perilaku.
Mekanisme pertahanan kadang kurang disadari yang berarti sebagian
besar dari kita tidak menyadari kita sedang menggunakan mereka pada saat itu.
Beberapa jenis psikoterapi dapat membantu seseorang menjadi lebih menyadari
mekanisme pertahanan apa yang mereka sedang gunakan, seberapa efektif hal itu
dan bagaimana menggunakan mekanisme yang lebih efektif untuk masa yang
akan dating (dikemudian hari).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Makhluk hidup dalam evolusinya mengembangkan dirinya dengan


berbagai cara dan mekanisme dalam upaya menyesuaikan diri dengan kondisi
kehidupan yang mungkin akan mengancamnya. Penyesuaian diri atau adaptasi
sangat penting bagi kehidupan manusia sebagai mahluk yang tertinggi tingkat
perkembangannya. Melalui proses perkembangan, seseorang memerlukan
berbagai teknik psikologis dengan cara berupaya guna mempertahankan dirinya.
Kita semua akan menggunakan mekanisme pertahanan secara terus menerus dan
hal ini tidak selalu patologis.
Ego merupakan inti kesatuan manusia, maka ancaman terhadap ego
merupakan ancaman pula terhadap tulang punggung eksistensi manusia. Manusia
secara bertahap belajar memahami mekanisme pembelaan egonya bila ada
ancaman terhadap keutuhan integritas pribadinya. Mekanisme ini penting untuk
memperlunak kegagalan, mengurangi kecemasan mengurangi perasaan yang
menyakitkan, mempertahankan perasaan layak dan harga diri. Namun demikian,
sebenarnya mekanisme pertahanan itu bersifat kurang realistic, tidak berorientasi
kepada tugas, mengandung penipuan diri, sebagian besar bekerja secara tidak
disadari sehingga sukar untuk dinilai dan dievaluasi secara sadar.

Sigmund Freud adalah orang pertama yang mengembangkan teori


mekanisme pertahanan. Anaknya, Anna Freud menyempurnakannya. Dia
menggambarkan beberapa macam mekanisme pertahanan sebagai berikut:

1.Represi
Menurut Freud, represi merupakan mekanisme pertahanan yang
penting dalam terjadinya neurosis. Represi adalah mekanisme pertahanan dengan
cara secara tidak sadar menekan keluar pikiran yang mengganggu, memalukan
dan menyedihkan dari alam sadar ke alam tak sadar.
Seseorang yang bersama-sama mengalami suatu kecelakaan dan
saudaranya yang kemudian meninggal, merasa lupa akan kejadian tersebut.
Dengan cara hipnosis atau suntikan pentotal, pengalaman yang direpresi itu dapat
dipanggil dari alam tak sadar ke alam sadar. Represi kadang-kadang tidak
sempurna dan tidak jarang muncul ke dalam impian, angan-angan, lelucon keseleo
lidah.
Represi didefinisikan sebagai upaya individu untuk menyingkirkan
frustrasi, konflik batin, mimpi buruk, krisis keuangan, dan sejenisnya yang
menimbulkan kecemasan. Bila represi terjadi, hal-hal yang mencemaskan itu tidak
akan memasuki kesadaran walaupun masih tetap ada pengaruhnya terhadap
perilaku. Jenis-jenis amnesia tertentu dapat dipandang sebagai bukti akan adanya
represi. Tetapi represi juga dapat terjadi dalam situasi yang tidak telalu menekan.
Bahwa individu merepresikan mimpinya, karena mereka membuat keinginan tidak

sadar yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Sudah menjadi umum banyak
individu pada dasarnya menekankan aspek positif dari kehidupannya.
Individu cenderung untuk tidak berlama-lama untuk mengenali
sesuatu yang tidak menyenangkan, dibandingkan dengan hal-hal yang
menyenangkan
Berusaha sedapat mungkin untuk tidak melihat gambar kejadian yang
menyesakkan dada
Lebih sering mengkomunikasikan berita baik daripada berita buruk
Lebih mudah mengingat hal-hal positif daripada yang negatif
Lebih sering menekankan pada kejadian yang membahagiakan dan enggan
menekankan yang tidak membahagiakan.
Suatu gagasan atau perasaan dapat dibuang atau ditahan dari
kesadaran melalui represi. Represi primer adalah mengekang gagasan dan
perasaan sebelum mereka mencapai kesadaran; represi sekunder adalah
mengeluarkan dari kesadaran apa yang pernah dialami pada tingkat sadar. Hal
yang direpresi tidak benar-benar dilupakan, sehingga perilaku simbolik dapat
ditemukan. Represi adalah berbeda dari supresi dengan mempengaruhi inhibisi
impuls yang disadari sampai titik yang hilang dan tidak hanya menunda
penghargaan tujuan. Persepsi instink dan perasaan yang disadari adalah dihalangi.
Perasaan-perasaan dan impuls yang nyeri atau tidak dapat diterima
(memalukan, membangkitkan rasa bersalah, membahayakan) didorong keluar
kesadaran, tidak diingat, dilupakan. Ini dapat membentuk gejala karena materi
yang dilupakan itu mencari penyaluran dalam fungsi-fungsi sistem badaniah

tertentu (gejala-gejala seperti ini ditemukan dalam sindrom histeria), atau terjadi
lowongan dalam pola ingatan. Hal-hal yang diekspresikan dapat juga
bermanifestasi dalam ide-ide atau perasaan-perasan yang dipegang secara teguh
dan kaku tetapi tanpa alasan yang masuk akal.

2. Supresi
Yaitu apabila seseorang secara sadar menolak pikirannya ke luar alam
sadarnya dan memberikan hal yang lain. Dengan demikian pada supresi tidak
begitu berbahaya terhadap kesehatan jiwa karena terjadi dengan sengaja sehingga
ia mengetahui apa yang dibuatnya.
Supresi merupakan suatu proses pengendalian diri yang terangterangan ditujukan menjaga agar impuls-impuls dan dorongan-dorongan yang ada
tetap terjaga (mungkin dengan cara menahan perasaan itu secara pribadi tetapi
mengingkarinya secara umum). Individu sewaktu-waktu mengesampingkan
ingatan-ingatan yang menyakitkan agar dapat menitik beratkan kepada tugas, ia
sadar akan pikiran-pikiran yang ditindas (supresi) tetapi umumnya tidak
menyadari akan dorongan-dorongan atau ingatan yang ditekan (represi)

Keputusan yang disadari atau setengah disadari untuk menunda


perhatian pada terjadinya impuls atau konflik yang disadari. Masalah dapat
semata-mata dihalangi, tetapi tidak dihindari. Rasa tidak nyaman adalah dirasakan
tetapi ditekan.

3. Penyangkalan (denial)
Melindungi diri sendiri terhadap kenyataan yang tak menyenangkan
dengan menolak menghadapi hal tersebut, sering dilakukan dengan cara melarikan
diri dari kenyataan atau kesibukan dengan hal-hal lain. Sebagai contoh adalah
tidak mau menerima bahwa anaknya terbelakang, tidak mau mengerti bahwa
dirinya berpenyakit berbahaya dan seterusnya. Mekanisme pertahanan ini banyak
ditemukan oleh pasien-pasien dengan skizofrenia tipe katatonik.

4. Proyeksi
Dengan menyalahkan orang lain mengenai kegagalannya, kesulitannya
atau keinginannya yang tidak baik. Misalnya prestasi olah raga yang kurang baik
dengan alasan sedang sakit flu atau tidak naik kelas karena gurunya sentimen.
Mekanisme proyeksi ini digunakan oleh pasien yang menyebabkan gejala waham
atau pasien paranoid.

5. Sublimasi
Terjadi apabila dorongan kehendak atau cita-cita yang tidak dapat
diterima oleh norma-norma di masyarakat disalurkan menjadi bentuk lain yang
lebih dapat diterima. Misalnya orang yang mempunyai dorongan kuat untuk
berkelahi disalurkan dalam olahraga keras misalnya bertinju. Dokter yang agresif
disalurkan menjadi dokter ahli bedah.

6. Reaksi formasi
Mencegah keinginan yang berbahaya baik diekspresikan dengan cara
melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya
sebagai rintangan untuk dilakukannya. Misalnya seorang anak yang iri hati
terhadap adiknya, ia memperlihatkan sikap yang sebaliknya, yaitu sangat
menyayangi secara berlebihan. Contoh lain ialah orang yang secara fanatik
mengutuk perjudian dan kejahatan lain dengan tujuan agar dapat menekan
kecenderungan dirinya sendiri ke arah itu.

7. Rasionalisasi
Berupaya untuk membuktikan bahwa perilakunya itu masuk akal
(rasional) dan dapat dibenarkan sehingga dapat disetujui oleh diri sendiri dan
masyarakat. Misalnya membatalkan bertanding olah raga dengan alasan sakit dan
akan ada ujian, padahal ia takut kalah. Melakukan korupsi dengan alasan gaji
tidak cukup dan sebagainya.

8. Introyeksi
Terjadi apabila seseorang menerima dan memasukkan ke dalam
pendiriannya berbagai aspek keadaan yang mengancamnya. Hal ini dimulai sejak
kecil dan kemudian ia dapat mengendalikan perilakunya sehingga dapat mencegah

10

pelanggaran dan hukuman sebagai akibatnya. Dalam pemerintahan dan kekuasaan


yang otoriter maka banyak orang mengintroyeksikan nilai-nilai serta kepercayaan
baru sebagai perlindungan terhadap perilaku yang dapat menyusahkan mereka.

9. Pengelakan atau salah pindah (displacement)


Terjadi apabila kebencian terhadap seseorang dicurahkan atau
dielakkan kepada orang atau obyek lain yang kurang membahayakan. Misalnya
seorang pegawai yang dimarahi oleh atasannya dielakkan dan dicurahkan kepada
isteri, anaknya atau pembantunya. Kritik yang destruktif dan desas-desus (gossip)
sebagai pembalasan dendam merupakan cara yang terselubung dalam menyatakan
perasaan permusuhan.

10. Simbolisasi
Adalah suatu mekanisme apabila suatu ide atau obyek digunakan untuk
mewakili ide atau obyek lain, sehingga sering dikatakan bahwa simbolisme adalah
bahasa dari alam tak sadar. Misalnya menulis dengan tinta merah merupakan
simbol dari kemarahan. Demikian pula warna pakaian, cara berbicara, cara
berjalan, tulisan dan sebagainya merupakan simbol-simbol yang tak disadari oleh
orang yang bersangkutan.

11

11. Kompensasi
Adalah menutupi kelemahan dengan menonjolkan sifat yang
diinginkan atau pemuasan secara berlebihan dalam satu bidang karena mengalami
frustasi dalam bidang lain. Kompensasi ini sangat dalam bagi masyarakat yang
bersaing, karena sering membandingkan dengan orang lain. Misalnya kurang
mampu dalam pelajaran di sekolah dikompensasikan dalam juara olah raga atau
sering berkelahi agar ditakuti.

12. Identifikasi
Digunakan untuk menambah rasa percaya diri dengan menyamakan
diri dengan orang lain atau institusi yang mempunyai nama. Misalnya seseorang
yang meniru gaya orang yang tekenal atau mengidentifikasikan dirinya dengan
jawatannya atau daerahnya yang maju.

13. Konversi
Adalah suatu proses psikologis dengan menggunakan mekanisme
represi, identifikasi, penyangkalan, pengelakan dan simbolisme. Suatu konflik
yang berakibat penderitaan afek dikonversikan menjadi terhambatnya fungsi
motorik atau sensorik untuk menetralisasikan pelepasan afek. Dengan paralisis
atau gangguan sensorik, konflik dielakkan dan afek ditekan dan hambatan fungsi

12

merupakan simbol dari keinginan yang ditekan. Seringkali konversi memiliki


gejala atas dasar identifikasi.

14. Regresi
Adalah mundur ke tingkat perkembangan yang lebih rendah dengan
respons yang kurang matang dan bisanya dengan aspirasi yang kurang. Misalnya
anak yang sudah besar mengompol atau menghisap jarinya, atau marah-marah
seperti anak kecil agar keinginannya dipenuhi. Mekanisme ini banyak digunakan
pada pasien-pasien dengan skizofrenia tipe terdisorganisasi.

15. Undoing
Adalah menebus sehingga dengan demikian meniadakan keinginan
atau tindakan yang tidak bermoral. Misalnya seorang pedagang yang kurang
sesuai dengan etika dalam berdagang akan memberikan sumbangan-sumbangan
besar untuk usaha sosial.

16. Penyekatan emosional


Terjadi apabila seseorang mempunyai tingkat keterlibatan
emosionalnya dalam keadaan yang dapat menimbulkan kekecewaan atau yang
menyakitkan. Misalnya melindungi diri terhadap kekecewaan dan penderitaan

13

dengan cara menyerah dan menjadi orang yang menerima secara pasif apa saja
yang terjadi dalam kehidupan.

17. Isolasi (intelektualisasi dan disosiasi)


Merupakan bentuk penyekatan emosional. Misalnya orang yang
kematian keluarganya dikurangi dengan mengatakan sudah nasibnya atau
sekarang sudah tidak menderita lagi dan sambil tersenyum.

18. Pemeranan (acting out)


Dapat mengurangi kecemasan yang dibangkitkan oleh berbagai
keinginan yang terlarang dengan membiarkan ekspresinya dan melakukannya.
Dalam keadaan biasa hal ini tidak dilakukan, kecuali bila orang tersebut lemah
dalam pengendalian kesusilaannya. Dengan melakukan perbuatan tersebut, maka
akan dirasakan sebagai meringankan agar hal tersebut cepat selesai.

19. Afliasi
Individu yang berhadapan dengan konflik emosional, atau stresor
internal atau eksternal dengan mencari orang lain untuk bantuan dan dukungan.
Melibatkan berbagi masalah dengan orang lain namun tidak menuntut orang lain
untuk bertanggung jawab untuk mereka.

14

20. Inhibisi Tujuan


Meletakkan batas pada keinginan instingtual; menerima sebagian atau
memodifikasi keinginan untuk pemenuhan. Sebagai contoh, seseorang dengan
hasrat seksual tinggi memutuskan bahwa yang dibutuhkan dalam sebuah
hubungan adalah kebersamaan. Mekanisme pertahanan ini tidak termasuk baik
atau buruk, diharapkan maupun tidak diharapkan, tapi lebih baik ada sedikit
daripada tidak sama sekali, namun inhibisi tujuan yang sebenarnya tidak perlu
dapat merampas kepuasan yang sebenarnya dapat dicapai.

21. Alturisme
Individu yang berhadapan dengan konflik emosional, atau stresor
internal atau eksternal dengan berdedikasi memenuhi kebutuhan orang lain. Tidak
seperti pengorbanan diri yang kadang-kadang merupakan karakteristik dari
pembentukan reaksi, disini individu tersebut menerima penghargaan baik secara
nyata maupun melalui respons orang lain.

22. Antisipasi
Individu yang berhadapan dengan konflik emosional, atau stresor
internal atau eksternal dengan manghayati reaksi emosional terlebih dahulu atau

15

mengantisipasi konsekuensi dari kejadian yang memungkinkan di masa depan dan


mempertimbangkan respons dan solusi yang realistik.

23. Fantasi Autistik


Individu yang berhadapan dengan konflik emosional, atau stresor
internal atau eksternal dengan melamun berlebihan sebagai pengganti hubungan
manusia, tindakan yang lebih efektif, maupun pemecahan masalah.

24. Avoidance
Mekanisme pertahanan terdiri dari penolakan untuk menghadapi
situasi, obyek, atau aktivitas karena menggambarkan impuls seksual bawah sadar
dan/atau hukuman untuk impuls tersebut. Avoidance merupakan mekanisme
pertahanan pada fobia.

25. Devaluasi
Individu yang berhadapan dengan konflik emosional, atau stresor
internal atau eksternal dengan cara memberikan kualitas negatif berlebihan kepada
diri sendiri maupun orang lain.

16

26. Incorporasi
Asimilasi suatu obyek kepada ego dan/atau superego seseorang. Ini
adalah salah satu mekanisme pertahanan yang paling dulu digunakan. Orang tua
menjadi bagian dari anaknya.

27. Penolakan Bantuan


Individu yang berhadapan dengan konflik emosional, atau stresor
internal atau eksternal dengan cara berkeluh kesah atau membuat permintaan
bantuan berulang atau terus menerus yang menutupi perasaan atau kekesalan
kepada orang lain, yang diekspresikan dengan menolak saran, anjuran atau
bantuan yang ditawarkan. Dapat melibatkan hal fisik maupun psikologik.

28. Idealisasi
Perkiraan yang berlebihan untuk kualitas yang diinginkan dan
meremehkan keterbatasan dari obyek yang diinginkan. Sebagai contoh, seseorang
yang membicarakan betapa cantik dan pintar pacarnya yang sebenarnya tidak
terlalu cantik maupun pintar.

17

29. Omnipoten
Individu yang berhadapan dengan konflik emosional, atau stresor
internal atau eksternal dengan cara merasakan atau bertindak seperti kerasukan
kekuatan atau kemampuan khusus dan merasa lebih superior dari orang lain.

30. Pasif Agresif


Individu yang berhadapan dengan konflik emosional, atau stresor
internal atau eksternal dengan cara mengekspresikan agresi secara tidak langsung
kepada orang lain. Sering kali muncul sebagai respons pada tuntutan untuk
tindakan atau penampilan yang independent atau kurang penghargaan atas
keinginan dependen namun dapat menyesuaikan pada posisi subordinat yang tidak
dapat mengekspresikan dengan baik.

31. Resistensi
Mekanisme pertahanan ini menimbulkan oposisi pada perhatian yang
ditekan. Individu tersebut cenderung menghindari ingatan atau pandangan yang
dapat memicu kecemasan.

18

32. Somatisasi
Konflik ditampilkan sebagai gejala fisik melibatkan bagian tubuh
yang dipersarafi saraf simpatis dan parasimpatis. Sebagai contoh, orang yang
sangat kompetitif atau agresif, yang situasi hidupnya membutuhkan perilaku yang
restriktif, mengakibatkan hipertensi.

33. Self-Assertion
Individu yang berhadapan dengan konflik emosional, atau stresor
internal atau eksternal dengan cara mengekspresikan perasaannya dan langsung
berpikiran yang tidak bersifat manipulatif.

34. Restitusi
Mekanisme ini menampakkan pikiran bersalah dengan berbaikan atau
memperbaiki (membayar beserta bunganya).

35. Substitusi
Dengan mekanisme pertahanan ini, individu mengamankan alternatif
atau penghargaan dibandingkan mereka yang mungkin sudah bekerja dengan
frustasi yang tidak muncul.

19

BAB III
KESIMPULAN
Setiap individu dalam keadaan tertekan, cemas, stress ataupun konflik
akan berupaya untuk melawan keadaan tersebut dengan mekanisme pertahanan
diri yang dimilikinya. Mekanisme pertahanan ini tidak selalu patologis.
Mekanisme pertahanan diri (defence mechanisms) adalah proses asadar yang
digunakan oleh ego untuk mengurangi konflik antara id dan superego yang
menyebabkan kecemasan.

Mekanisme pertahanan diantaranya :


Represi
Supresi
Penyangkalan (denial)
Proyeksi
Sublimasi
Reaksi formasi
Rasionalisasi
Introyeksi
Pengelakan atau salah pindah (displacement)
Simbolisasi
Undoing
Kompensasi
Regresi

20

Identifikasi
Konversi
Penyekatan emosional
Isolasi (intelektualisasi dan disosiasi)
Pemeranan (acting out)
Afliasi
Inhibisi Tujuan
Alturisme
Antisipasi
Fantasi Autistik
Avoidance
Devaluasi
Incorporasi
Penolakan Bantuan
Idealisasi
Omnipoten
Pasif Agresif
Resistensi
Somatisasi
Self-Assertion
Restitusi
Substitusi

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Ibrahim, A.S : Pemeriksaan Psikiatri, Wawancara Psikiatri, Psikopatologi,
Farmakoterapi, Gangguan Kepribadian dan Mekanisme Pertahanan, PT.
Dua As-As, 2002. Hal. 242-252.
2. Kaplan and Sadock: Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku edisi
ke-7., Jilid I, 1997. Hal. 369-378.
3. Maramis, W.F. : Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University
Press, 2005, hal. 72-89
4. Santrock, John W.2008. Psikologi Pendidikan. Alih Bahasa Tri Wibowo.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group
5. Suryabrata, Sumardi. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Garfindo
Persada
6. Syah, Muhibbin. 2000. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda
7. Maramis, W.F. 2005. Catatan ilmu kedokteran Jiwa. Airlangga University
Press: Surabaya.

REFERAT PSIKIATRI
MENTAL MEKANISME

22

SUPERVISIOR
dr. Kartidjo, Sp.KJ

Oleh :
Dioba Ficha Putri Utami S.ked
NPM. 10310307

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA


RSUD DR. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
TAHUN 2015

23