You are on page 1of 5

REVIEW JURNAL INTERNASIONAL

Judul
Peneliti

Sumber

: Reconceptualising word problems as exercises in mathematical modelling
: 1. Lieven Verschaffel,
2. Wim Van Dooren,
3. Brian Greer,
4. Swapna Mukhopadhyay,
:
http://link.springer.com/article/10.1007%2Fs13138-010-0007-/Journal für
Mathematik-Didaktik/March 2010, Volume 31, Issue 1, pp 9-29

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya kesulitan yang dihadapi oleh guru yang
mencoba untuk menerapkan perspektif baru ke dalam kelas mereka sehari-hari. Kesulitan yang
dialami berupa penyampaian kata yang tepat untuk siswa. Selain itu banyaknya peneliti yang
berpendapat dalam berbagai tulisannya, yang menyatakan bahwa adanya permasalahan
penyampaian kata dalam pembelajaran matematika secara tradisional yang mengakibatka tidak
mendorong siswa untuk terus belajar, bisa dikatakan menghambat, kata yang digunakan guru
susah untuk diterima siswa dan diterapkan pada pemodelan matematika dan pemecahan masalah
matematika. Tujuan penelitian ini adalah untu membahas sejumlah implikasi pendidikan dari
penelitian yang dilakukan sejauh ini dan beberapa tantangan bagi masa depan mengajar
pemodelan matematika .
A. Gambaran singkat mengenai penelitian pada masalah kata
Hasil penelitian dari Studi di berbagai negara yang telah melihat masalah kata dalam
buku teks tradisional telah mengungkapkan bahwa, terutama di kelas-kelas awal sekolah
dasar, masalah kata yang palingsering muncul yaitu:
1. Kata yang diungkapkan sangat sedikit;
2. Mengandung kata-kata kunci pada petunjuk yang membantu untuk mengidentifikasi
operasi yang ditunjukan secara berpola;
3. Masalah diselesaiakan hanya dengan kriteria yang berlaku;
4. Memuat informasi yang tidak relevan;
5. Tidak memerlukan dan bahkan tidak memungkinkan untukmencari refrensi di luar
pernyataan masalah sebagai informasi tambahan;
6. Hanya meminta jawaban tunggal yang paling tepat;
7. Memerlukan sedikit waktu untuk dipecahkan
8. Terkadang melibatkan pengandaian yang bertentangan dengan pengetahuan dunia nyata
anak-anak tentang fenomena yang ditimbulkan oleh kata laporan masalah.

dan mengevaluasi program-program eksperimental yang ditujukan untuk peningkatan model matematika siswa dan pemecahan masalah di sepanjang baris yang disebutkan di atas. misalnya. 2009b. Pertama. kedua atas guru SD menangani masalah kata dalam praktek pembelajaran mereka. dimana pemecahan masalah matematika adalah berlabuh dalam konteks realistis dengan menggunakan teknologi informasi baru. Meskipun secara umum diterima bahwa kebutuhan yang tinggi ini memakai pendekatan pemodelan guru adalah salah satu alasan utama mengapa perspektif pemodelan asli tidak mendapatkan secara luas dan berhasil diterapkan dalam praktek pembelajaran (lihat Niss 2001).Peneliti telah menyiapkan studi desain dimana mereka mengembangkan. Kaiser dan Maaß 2007). Gainsburg 2009. Beberapa studi intervensi yang ditujukan untuk peningkatan "Mathematisches Modellieren" di tingkat SD atau lebih rendah SMA oleh peneliti Jerman (lihat. Depaepe et al 2009a. 4. 5. Verschaffel De Corte dan (1997) eksperimen pengajaran skala kecil di mana mereka menggunakan banyak P-item untuk mengubah konsepsi siswa SD atas 'tentang peran pengetahuan dunia nyata dalam model matematika dan pemecahan masalah. Maaß 2004). diikuti dengan ulangan dan / atau elaborasi. Untuk menyebutkan hanya beberapa: 1. Baru-baru ini beberapa peneliti telah mulai menangani pertanyaan bagaimana guru matematika mengandung dan pendekatan tradisional dan / atau realistis masalah kata dalam pengaturan yang sebenarnya mereka mengajar sehari-hari (lihat Chapman 2006. 3. Bonotto's serangkaian eksperimen mengajar di sekolah dasar atas bertujuan untuk mengadopsi pendekatan yang sadar terhadap pemodelan matematika realistis (Bonotto 2009). Blum dan Leiß 2007. 2. Studi-studi Jasper dari Kognisi dan Technology Group di Vanderbilt (1997). Ide dasar dari kerangka nya terletak pada gagasan simulasi: Masalah kata dianggap realistis jika aspek-aspek penting dari masalah kata diperhitungkan dengan mewakili kondisi luar situasi sekolah. melaksanakan. mereka tertarik apakah tugas-tugas yang guru-guru ini dipilih. Lehrer dan (2000) kurikulum eksperimental Schäuble untuk mengajar matematika dan sains pada anak-anak dibangun di atas pendekatan pemodelan.. Aspek ini diteliti melalui . Mereka menggunakan suatu kerangka kerja konseptual yang mantap yang dikembangkan oleh Palm (2002) untuk menganalisis sifat realistis masalah kata.

B. Penerapan matematika untuk memecahkan masalah dalam situasi di dunia dinyatakan sebagai pemodelan matematika yang dianggap bisa bermanfaat sebagai suatu proses yang kompleks dan melibatkan siklus fase. berfokus pada explications konteks-sensitif dan tertentu. dan struktur. beberapa karakteristik berulang meliputi: 1. Kemudian yang kedua adalah pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) . Penggunaan tugas yang lebih realistis dan menantang daripada masalah buku teks tradisional. kompleksitas tugas pemodelan yang nyata. Adapun fase yang dilaui adalah 1.analisis mendalam tentang pelajaran direkam. 2. yang tidak melibatkan beberapa. dengan demikian. isi. Penciptaan iklim kelas secara lebih khusus lagi dan penggunaan seperangkat normanorma sosial dan sociomathematical dan praktek yang kondusif bagi perkembangan pandangan yang lebih tepat model matematika. kedua. temuan-temuan mereka disorot. Memahami elemen-elemen kunci dalam situasi masalah dalam memahami situasi masalah kita harus memperhatikan beberapa elemen yaitu yang pertama pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge). berhubungan dengan niat manusia atau mirip manusia dan tindakan dan. Modus narasi mengetahui. jika tidak sebagian besar. sebaliknya. Solusi yang ditawarkan Guru sebaiknya membuat program-program eksperimental sangat berbeda dalam hal tujuan dasar dan ruang lingkup. Analisis ini didasarkan pada (2006) Chapman pembedaan antara "paradigmatis berorientasi" dan "narasi yang berorientasi" perlakuan pembelajaran sebuah bahasa sekolah. Modus paradigmatik mengetahui didasarkan pada kategorisasi atau konseptualisasi dan berfokus pada konteks penjelasan bebas dan universal. bahwa masalah kata dua guru pelajaran pemecahan lebih dicirikan oleh paradigma dari pendekatan naratif dan. Secara keseluruhan. pertama. bahwa intervensi instruksional sangat langka di mana hubungan yang kompleks antara masalah yang akan dimodelkan dan model matematika yang sebenarnya benar-benar berpengalaman dan realistis. Penggunaan berbagai metode pengajaran dan kegiatan peserta didik 3.

hal ini dikarenakan evaluasi dapat mencerminkan seberapa jauh perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan. selain itu jika evaluasi tidak dilakukan maka tidak akan ada perubahan kea rah yang lebih baik. sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validisasi) dan atas dasar tanggapan itu konsep tersebut direvisi dan dikembangkan. 3. b. Model adalah dasar tentang maksud gambaran. 2. Pembentukan model luas membatasi situasi penyelesaian masalah dengan struktur matematika. Bekerja melalui model matematis untuk memperoleh hasil matematik. seberapa jauh keberhasilan siswa tidak dapat diketahui. Elemen yang ketiga pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) yang dilakukan dengan cara menyusun konsep sementara (hipotesis).dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu. atau matematika umum). Mengevaluasi jika hasil matematika ditafsirkan sesuai dan wajar Evaluasi merupakan subsistem terpenting dan selalu butuhkan dalam setiap sistem pendidikan. Menurut Lesh dan Sriraman (2005) yang berisikan tentang matematika dan sains: a. apabila berdasar data mengevaluasi itu tujuan . kemudian memperhatikan detailnya. dimensional. Sebaliknya. Tanpa evaluasi. koordinasi. model matematika sebagai proses penyelesaian masalah dari situasi yang ada menganalisis hasil melalui komputasi 4. Model untuk desain atau seni dari sistem yang kompleks dari dalam diri sendiri. Membangun model matematika dari unsur-unsur yang relevan dan hubungan tertanam dalam situasi Model matematika yang dibangun dari unsur-unsur yang relevan dan hubungan tertanam dalam situasi merupakan suatu langkah yang diambil untuk mengatasi masalah kebosanan siswa terhadap pembelajaran matematika dan kurang dipahaminya pelajaran matematika. komputasi dan deduksi yang berkaitan. keterangan atau konsep proses (kuantifikasi. Selanjutnya mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) dan melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut. Evaluasi yang dilaksanakan secara berkesinambungan akan membuka peluang bagi evaluator untuk membuat perkiraan (estimasi). mengevaluasi hasil matematika ditafsirkan sesuai dan wajar jika tujuan yang telah dirumuskan dapat dicapai pada waktu yang telah ditentukan. Jadi secara umum evaluasi adalah suatu proses sistemik untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program.

table atau diagram untuk memperjelas keadaan atau masalah serta pemecahannya merupakan suatu ketrampilan dalam pelajaran matematika. Mengkomunikasikan gagasan dengan symbol. Mengerjakan matematika di sini tidak berarti mengerjakan barisan dan barisan dari masalah komputasional. grafik. maka evaluator harus berusaha untuk untuk mencari dan menemukan factor-faktor penyebabnya 5. Agar terciptanya suatu komunikasi dari hasil yang diperoleh sebagai solusi masalah di dunia. 1993: 1-3). maka kegiatan mengkomunikasikan hasil proses belajar dan menemukan ide-ide matematika akan menjadi sangat penting karena akan tetap digunakan oleh para siswa baik ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dan universitas. ataupun ketika mereka sdah meninggalkan bangku sekolah untuk bekerja. Mengkomunikasikan hasil yang diperoleh sebagai solusi masalah di dunia.tidak dapat dicapai sesuai dengan rencana. Hal ini membutuhkan: (1) menyelesdaikan tantangan masalah (2) menyelidiki pola-pola (3) memfokuskan perkiraan terarah dan mengcekna (4) menggambarkan konklusi (penalaran) dan (5) mengomunikasikan (Baroody. .