You are on page 1of 16

Malpraktik

Dr. Gatot Soeryo K, MM, PFK
Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI)
Majelis Syuro Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI)

ahli terapi fisik.  Dapat dikenai hukum kriminal dan hukum sipil .MALPRAKTIK  Tindakan profesional yang tidak benar atau kegagalan untuk menerapkan keterampilan profesional yang tepat oleh profesional kesehatan seperti dokter. atau rumah sakit.  Praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur operasional.

MALPRAKTIK (Cont. dan  Tanggung jawab publik .)  Malpraktek kedokteran kini terdiri dari 4 hal :  Tanggung jawab kriminal.  Malpraktik secara etik.  Tanggung jawab sipil.

teori tentang kelalaian melibatkan lima elemen :  tugas yang mestinya dikerjakan. .  tugas yang dilalaikan.)  Malpraktek secara Umum.MALPRAKTIK (Cont.  Penyebabnya.  kerugian yang ditimbulkan. dan  Antisipasi yang dilakukan. seperti disebutkan di atas.

pelanggaran dalam sumpah dokter. kesalahan dalam rekam medis.Malpraktek Kriminal  Terjadi ketika seorang dokter yang menangani sebuah kasus telah melanggar undang-undang hukum pidana  Perbuatan ini termasuk ketidakjujuran. perawatan yang lalai. dan tindakan pelecehan seksual pada pasien yang sakit secara mental maupun pasien yang dirawat di bangsal psikiatri atau pasien yang tidak sadar karena efek obat anestesi . penggunaan ilegal obat – obat narkotika.

 Kelalaian dalam menjalani panduan dan standar etika yang ada akan mempengaruhi keputusan dokter dalam memberikan tata laksana yang baik  Melalaikan standar etika yang ada dapat menghasilkan reaksi yang kontroversial dan menimbulkan kerugian baik kepada dokter. maupun kepada pasien .Malpraktik Secara Etik  Panduan dan standar etika yang ada terkait dengan profesi yang dijalaninya itu sendiri.

Smith tindakan malpraktek meliputi 4D :  duty  adanya penyimpangan dalam pelaksanaan tugas (dereliction)  penyimpangan akan mengakibatkan kerusakan (direct caution)  sang dokter akan menyebabkan kerusakan (damage) .)  Menurut Hubert W.MALPRAKTIK (Cont.

. dokter haruslah bertindak berdasarkan:  Adanya indikasi medis  Bertindak secara hati-hati dan teliti  Bekerja sesuai standar profesi  Sudah ada informed consent.Duty (kewajiban)  Dalam hubungan perjanjian dokter dengan pasien.

 tujuan tindakan medis yang dilakukan.  alternatif tindakan lain dan risikonya. dan  prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. .Duty (kewajiban)  Sesuai dengan Undang-Undang Praktek Kedokteran Pasal 45 ayat (1)  Sebelum memberikan persetujuan pasien harus diberi penjelasan yang lengkap akan tindakan yang akan dilakukan oleh dokter :  diagnosis dan tata cara tindakan medis.  risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi.

maka sang dokter atau perawat rumah sakit harus bertindak sesuai dengan standar profesi yang berlaku .Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban)  Apabila sudah ada kewajiban (duty).

Direct Causation (penyebab langsung)  Penyebab langsung yang dimaksudkan dimana suatu tindakan langsung yang terjadi. yang mengakibatkan kecacatan pada pasien akibat kealpaan seorang dokter pada diagnosis dan perawatan terhadap pasien. .

Damage (kerugian)  Damage yang dimaksud adalah cedera atau kerugian yang diakibatkan kepada pasien .

)  Dokter dikatakan melakukan malpraktek jika:  Dokter kurang menguasai iptek kedokteran yang sudah berlaku umum dikalangan profesi kedokteran  Memberikan pelayanan kedokteran dibawah standar profesi (tidak lege artis)  Melakukan kelalaian yang berat atau memberikan pelayanan dengan tidak hati-hati  Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum Jika dokter hanya melakukan tindakan yang bertentangan dengan etik kedokteran. maka ia hanya telah melakukan malpraktek etik .MALPRAKTIK (Cont.

MEDIKOLEGAL  mediko-legal adalah tata-cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum.  Secara garis besar prosedur mediko-legal mengacu kepada peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia. dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran .

Ruang Lingkup Medikolegal  pengadaan visum et repertum.  tentang fitness / kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik. .  tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik .  tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka.  kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran.  pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan ahli di dalam persidangan.

Penutup  CIRI SIKAP PROFESIONAL  KEBEBASAN PROFESI  OBYEKTIF  ILMIAH  IMPARTIAL/Kesetaraan Hak .