You are on page 1of 14

No

Jenis Minyak

Hasil Pengamatan

1

Minyak Cengkeh

Cepat menyebar, warna bening

2

(Oleum Caryophilli)
Minyak Kayu Putih

Cepat menyebar, warna bening

3
4

(Cajuputi Oil)
Oleum Anisi
Minyak Mentha

Cepat menyebar, warna bening
Cepat menyebar, warna bening

(Oleum Menthae
Piperitae)
5
6
7

Minyak Goreng
Minyak Kedelai
Minyak Jagung

Agak cepat menyebar, warna bening,
menggumpal
Lambat menyebar, warna bening,
menggumpal
Lambat menyebar, warna bening,
menggumpal

IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI SECARA UMUM
a. Kelarutan minyak atsiri dan minyak lemak dalam air
Pembahasan :
Minyak atsiri pada umumnya tidak dapat bercampur dengan air, dapat larut
walaupun kelarutannya sangat kecil, tetapi sangat mudah larut dalam pelarut
organik (Gunawan dan Mulyani, 2004).

Pada pengamatan atau perlakuan pertama, yaitu pengamatan minyak dalam air, tujuh
jenis minyak yang digunakan yaitu minyak kayu putih, minyak cengkeh, minyak mentha, dan
minyak anisi yang termasuk minyak atsiri, minyak jagung, minyak kedelai, dan
minyak goreng yang termasuk minyak lemak diberi perlakuan yang sama, yaitu dicampurkan
atau dimasukkan dalam air. Pengamatan menunjukkan bahwa minyak atsiri lebih cepat
menyebar dalam air dengan tidak menunjukkan perubahan warna (warna
tetap bening). Hal berbeda ditunjukkan oleh minyak jagung, minyak kedelai, dan minyak
goreng lebih lambat menyebar, dan menunjukkan warna bening serta menunjukkan
pembentukan gumpalan cairan. Minyak atsiri tidak larut dalam air, akan tetapi menyebar
karena adanya sifat minyak atsiri yang mudah menguap (volatile). Minyak jagung lambat
menyebar dan membentuk gumpalan. Minyak lemak manunjukkan penyebaran pada air yang
lebih lambat lagi dan juga adanya gumpalan. Ha tersebut dipengaruhi oleh adanya perbedaan
kepolaran antara minyak dan air. Secara umum, minyak lemak bersifat tidak larut dalam
pelarut polar, contohnya air. Akan tetapi, minyak lemak bersifat dapat larut dalam pelarut
organik lain.

Hasil gambar :

Jenis Minyak
Minyak Cengkeh

Media

Minyak Atsiri
Kertas

(Oleum Caryophilli)
Minyak Kayu Putih

saring
Kertas

(Cajuputi Oil)

saring
Kertas

Oleum Anisi
Minyak Mentha
(Oleum Menthae
Piperitae)
Minyak Goreng
Minyak Kedelai
Minyak Jagung

Penguapan

saring
Kertas
saring

Noda
Transparan

-

-

-

-

Minyak Lemak
Kertas
saring
Kertas
saring
Kertas
saring



b. Penguapan minyak atsiri dan Minyak Lemak
Pembahasan :
Minyak atsiri adalah zat berbau atau biasa disebut dengan minyak
esential, minyak eteris karena pada suhu kamar mudah menguap di udara
terbuka tanpa mengalami penguraian.

Pada perlakuan selanjutnya, dilakukan pengujian minyak pada kertas saring, di mana
masing-masing minyak, baik minyak atsiri ataupun minyak lemak diteteskan pada kertas
saring atau tissue. Hasil pengamatan menunjukkan kertas saring atau tissue yang ditetesi
minyak atsiri lebih cepat menguap dan tidak meninggalkan bekas noda atau noda bening.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa minyak atsiri bersifat volatil atau mudah
menguap, utamanya pada suhu kamar. Sedangkan hasil yang ditunjukkan oleh minyak jagung
dan minyak kedelai yang pada kertas saring meninggalkan bekas dengan noda agak bening
dan minyak goreng yang meninggalkan noda berupa warna kuning. Hal tersebut disebabkan
karena minyak tersebut tidak mudah menguap pada suhu kamar.
Hasil Gambar :

Jenis Minyak
Minyak Cengkeh
(Oleum Caryophilli)
Minyak Kayu Putih
(Cajuputi Oil)
Oleum Anisi

Reagen
NaCl Jenuh
NaCl Jenuh
NaCl Jenuh

Minyak Mentha
(Oleum Menthae
Piperitae)

NaCl Jenuh

Perubahan
Volume Air
Naik (Pengurangan
volume minyak atsiri)
Naik (Pengurangan
volume minyak atsiri)
Naik (Pengurangan
volume minyak atsiri)
Sama (tidak
naik/turun)

c. Percobaan Ketiga

Pembahasan :

Pada perlakuan di mana minyak atsiri yang ditambahkan dengan NaCl jenuh akan
mengakibatkan berkurangnya volume minyak atsiri, hal tersebut karena minyak atsiri tersebut
tereduksi oleh NaCl. Sama halnya ketika minyak atsiri ditambahkan dengan larutan NaOH,
akan terjadi juga pengurangan volume yang disebabkan oleh terseduksinya minyak atsiri oleh

senyawa NaOH tersebut. Namun, volume air pada minyak mentha tidak terjadi

kenaikan karena reduksi yang terjadi pada minyak mentha kurang sempurna
sehingga tidak terjadi perubahan volume air.
Hasil Gambar :

d. Kelarutan minyak atsiri dalam etanol, petroleum eter, dan
kloroform

Jenis Minyak
Minyak Cengkeh
(Oleum Caryophilli)
Minyak Kayu Putih
(Cajuputi Oil)
Oleum Anisi
Minyak Mentha
(Oleum Menthae

Etanol

Petroleum
eter

Kloroform

1 : 13

1:1

1:1

1 : 66

1:1

1:1

1 : 32

1:1

1:1

1 : 32

1:1

1:1

Piperitae)
Pembahasan :

Pada perlakuan selanjutnya, minyak atsiri diuji kelarutannya dalam pelarut alkohol
(etanol 96%), petroleum eter dan pelarut kloroform. Dari uraian hasil di atas menunjukkan
bahwa minyak atsiri lebih bersifat lebih mudah larut dalam kloroform dan petroleum eter
daripada dalam alkohol. Dapat pula dipengaruhi oleh kepolaran pelarut terhadap minyak
atsiri, di mana minyak atsiri yang bersifat nonpolar dapat lebih mudah larut dalam kloroform
yang bersifat semipolar dan petroleum eter yang non polar daripada alkohol yang bersifat
polar.
Hasil Gambar :

Jenis Minyak
Minyak Cengkeh
(Oleum Caryophilli)
Minyak Kayu Putih
(Cajuputi Oil)
Oleum Anisi
Minyak Mentha
(Oleum Menthae
Piperitae)

Reagen
FeCl3

Perubahan
Warna
Larutan jingga
kehitaman

FeCl3

Larutan kuning

FeCl3

Larutan jingga

FeCl3

e. Detek
si

Jingga Kehitaman
yang lebih pekat

adanya senyawa fenol dalam minyak atsiri

Pembahasan :
Minyak cengkeh merupakan minyak atsiri fenol, serta minyak mentha adalah
termasuk minyak atsiri alkohol. Sehingga dalam percobaan dengan penambahan
FeCl3 menghasilkan warna kehitaman, yang menunjukan adanya gugus OH
dalam minyak atsiri tersebut baik jenis fenol maupun jenis alkohol. Pada minyak
anisi tidak terjadi perubahan warna menjadi kehitaman, padahal seharusnya dia
berubah menjadi kehitaman karena senyawanya termasuk minyak atsiri eter
fenol. Hal ini bisa terjadi karena kandungan fenol hanya sedikit sehingga tidak
terdeteksi ataupun karena kesalahan praktikan dalam proses praktikum.
Sedangkan pada minyak atsiri kayu putih yang merupakan golongan minyak
atsiri oksida tidak menghasilkan warna kehitaman hanya warna jingga, hal ini
membuktikan bahwa minyak kayu putih tidak mengandung fenol.
Hasil Gambar :

Jenis Minyak
Minyak Cengkeh
(Oleum Caryophilli)
Minyak Kayu Putih
(Cajuputi Oil)
Oleum Anisi
Minyak Mentha
(Oleum Menthae

Reagen

Reduksi Volume

NaOH

(+) Reduksi volume

NaOH

(-) Reduksi volume

NaOH

(-) Reduksi volume

NaOH

(+) Reduksi volume

f. Detek
si

Piperitae)
Terjadinya Reduksi Volume Minyak Atsiri yang Mengandung Fenol

Pembahasan :
Minyak pipermin dihasilkan oleh daun tanaman poko atau Mentha piperita
Linn dan merupakan minyak atsiri alkohol. Daun poko segar mengandung
minyak atsiri sekitar 1%, juga mengandung resin. Sementara daun yang telah
dikeringkan mengandung 2% minyak permen. Sebagai penyusun utamanya
adalah mentol. Pada bidang farmasi digunakan sebagai anti gatal, bahan
pewangi dan pelega hidung tersumbat. Sementara pada industri digunakan
sebagai pewangi pasta gigi.
Minyak cengkeh merupakan minyak atsiri fenol. Minyak ini diperoleh
dari tanaman cengkeh yang memiliki nama latin yaitu Eugenia caryophyllata
atau Syzigium caryophyllum (famili Myrtaceae). Kegunaan minyak cengkeh
antara lain obat mulas, menghilangkan rasa mual dan muntah.
Minyak kayu putih merupakan minyak atsiri oksida. Diperoleh dari
isolasi daun Melaleuca leucadendon L (famili Myrtaceae). Komponen penyusun
minyak atsiri kayu putih paling utama adalah sineol (85%).
Minyak adas merupakan minyak atsiri eter fenol. Minyak adas berasal
dari hasil penyulingan buah Pimpinella anisum atau dari Foeniculum vulgare
(famili Apiaceae atau Umbelliferae). Minyak yang dihasilkan, terutama tersusun
oleh komponen-komponen terpenoid seperti anetol, sineol, pinena dan
felandrena. Dalam praktikum ini, yang digunakan adalah minyak adasmanis.
Biasanya digunakan dalam pelengkap sediaan obat batuk, sebagai korigen odoris
untuk menutup bau tidak enak pada sediaan farmasi dan bahan farfum.

Berdasarkan praktikum, hanya minyak cengkeh dan minyak mentha yang
menghasilkan reduksi volume terhadap NaOH. Yaitu, terjadi penurunan volume
minyak atsiri dan kenaikan volume NaOH. Sedangkan minyak anisi dan minyak
kayu putih tidak bisa direduksi dengan NaOH.

Hasil Gambar :

IDENTIFIKASI KOMPONEN KHUSUS DALAM MINYAK ATSIRI
1) Uji Terhadap Adanya Eugenol dalam Oleum Caryophylli (Minyak
Cengkeh)
Gambar Mikroskopik Kristal Natrium Eugenolat :

Pembahasan :
Minyak cengkeh, terutama tersusun oleh eugenol, yaitu sampai 95% dari
jumlah minyak atsiri keseluruhan. Selain eugenol, juga mengandung asetoneugenol, beberapa senyawa dari kelompok seskuiterpen, serta bahan-bahan
yang tidak mudah menguap seperti tanin, lilin, dan bahan serupa damar.
Kegunaan minyak cengkeh antara lain obat mulas, menghilangkan rasa mual dan
muntah (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Berdasarkan hasil praktikum, didapatkan kristal natrium eugenolat yang
berbentuk jarum, dan terdapat juga kristal brom yang berbentuk kotak. Kristal
brom dihasilkan karena ketika pengujian ditambahkan dengan kalium bromida.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa minyak cengkeh mengandung eugenol.

2) Uji Perbedaan Cubeba Fructus dan Piperis Nigri Fructus
Gambar Pembentukan Warna oleh Asam Sulfat :

Pembahasan :
Berdasarkan hasil praktikum, dihasilkan dua warna berbeda dari jenis
minyak atsiri setelah diberi reagen sama berupa asam sulfat. Yaitu cubeba
fructus dengan warna merah, dan piperis nigris fructus dengan warna kuning.
Perbedaan ini terjadi karena sumber dari kedua minyak tersebut juga berbeda
sehingga warna, bau dan rasa juga mengikuti sumber tanamnnya.

3) Uji Adanya Felandren
Gambar Kristal dari Serbuk Piperis Nigri Fructus :

Pembahasan :
Dari hasil praktikum menunjukkan bahwa piperis nigris mengandung
senyawa felandren dalam minyak atsirinya. Karena kandungan umum piperis
nigri fructus adalah minyak atsiri yang di dalamnya mengandung felandren,
dipenten, kariopilen, enthoksilin, limonen, alkaloida piperina, dan kavisina. Hasil
felandren ditunjukkan dengan adanya kristal

Daftar Pustaka
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33716/4/Chapter
%20II.pdf