You are on page 1of 9

TEKNIK

DRAINASE

DOSEN : Dr. Ir. USSY ANDAWAYANTI, MS.

20

DEBIT PEMBUANG PADA LAHAN PERTANIAN


A. Drainase Lahan Pertanian
Bagi kepentingan pertanian, drainase atau pembuangan kelebihan air sangat penting,
tujuannya untuk mengatur tata air dalam tanah terutama di daerah/zona perakaran tanaman,
agar dengan demikian perkembangan akar tanaman berada dalam keadaan yang
menguntungkan.
Pembuangan kelebihan air (air irigasi, air hujan, genangan-genangan) perlu dilakukan,
karena dengan tindakan atau perlakuan demikian banyak diharapkan terjadinya perbaikan
aerasi tanah, yang akan menjadikan lingkungan kehidupan mikro-organisme tanah lebih
baik. Lingkungan kehidupan mikroorganisme yang baik dapat membantu kesuburan tanah,
karena mikroba dalam kegiatan-kegiatannya akan membentuk senyawa-senyawa yang
diperlukan oleh tanaman. Sebaliknya tanaman membantu menambah bahan-bahan organik
yang diperlukan untuk kegiatan hidup mikroorganisme tanah tadi. Dengan berlangsungnya
proses kimia dan fisika tanah, maka kesuburan kimia dan fisika tanah akan bertambah baik
(Kartasapoetra dkk., 1994).
Kelebihan air atau genangan di sawah disebabkan oleh: hujan lebat, limpasan air irgasi
atau drainase, rembesan dari saluran irigasi (Kalsim, 1995).
Pada daerah pertanian yang basah, drainase dilakukan untuk meniadakan pengaruh
jelek kelebihan air hujan pada tanah pertanian. Sedangkan pada lahan pertanian yang
kering, dilakukan untuk membuang air irigasi yang sudah tidak dipergunakan atau mencuci
garam yang dikandung oleh tanah yang tidak disukai tanaman.
Tujuan Drainase pertanian adalah reklamasi (pembukaan) lahan dan pengawetan tanah
untuk pertanian, menaikkan produktivitas tanaman dan produktivitas lahan (menaikkan
intensitas tanam dan memungkinkan diversifikasi tanamanan) serta mengurangi biaya
produksi tanaman akibat tanah tergenang air.
Tujuan tersebut terpenuhi melalui dua pengaruh langsung dan sejumlah pengaruh tidak
langsung.
Pengaruh langsung pelaksanaan sistem drainase pada tanah yang tergenang air antara
lain:
-

Pengurangan jumlah air yang disimpan pada atau di dalam tanah, merangsang kondisi

tanah kering dan mengurangi air yang tergenang;


Pengaturan debit air yang keluar melalui sistem drainase.
PROGRAM MAGISTER TEKNIK PENGAIRAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

TEKNIK

DRAINASE

DOSEN : Dr. Ir. USSY ANDAWAYANTI, MS.

20

Pengaruh langsung drainase lahan pertanian utamanya ditentukan oleh kondisi


hidrologi, sifat hidrolik tanah, dan karakteristik fisik dari sistem drainase. Sedangkan
pengaruh pengaruh tidak langsung tergantung oleh iklim, tanah, tanaman, teknik pertanian,
dan kondisi sosial, ekonomi, serta lingkungan.
Pengaruh tidak langsung drainase lahan pertanian dapat berupa fisik, kimia, biologi,
dan atau hidrologi, yang dapat bersifat positif atau negatif.
Pengaruh tidak langsung dari pembuangan air :
a. Pengaruh positif :
- Pencucian garam atau bahan-bahan berbahaya dari profil tanah
- Pemanfaatan kembali air drainase
b. Pengaruh negatif :
- Kerusakan lingkungan di sebelah hilir karena tercemari oleh garam
- Gangguan terhadap infrastruktur karena adanya saluran-saluran
Pengaruh tak-langsung pengurangan jumlah air yang disimpan pada atau di dalam
tanah :
a. Pengaruh positif :
- Mempertinggi aerasi tanah
- Memperbaiki struktur tanah
- Memperbaiki ketersediaan Nitrogen dalam tanah
- Menambah variasi tanaman yang dapat ditanam
- Menambah kemudahan kerja alat dan mesin pertanian (workability)
- Mempertinggi kapasitas tanah untuk menyimpan air
b. Pengaruh negatif :
- Dekomposisi tanah gambut (peat soil)
- Penurunan permukaan tanah (land subsidence)
- Pengasaman tanah
- Peningkatan resiko kekeringan
- Kerusakan ekologi
Pengaruh positif dan negatif akibat system drainase harus dipertimbanghkan terhadap
evaluasi ekonomi seperti tergambar dalam diagram berikut ini.

PROGRAM MAGISTER TEKNIK PENGAIRAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

TEKNIK

DRAINASE

DOSEN : Dr. Ir. USSY ANDAWAYANTI, MS.

20

Gambar 1. Diagram Pengaruh Drainase Pada Lahan Pertanian dan Evaluasi Ekonomi
Maksud drainase ditinjau dari bidang pertanian, yaitu untuk mengalirkan kelebihan air
hujan, air pengairan (irigasi) atau genangan air lain dari suatu lahan pertanian. Jumlah
kelebihan air yang harus dialirkan/disalurkan dalam waktu tertentu dikenal sebagai
koefisien drainase atau modulus drainase, yang dinyatakan dalam suatu tinggi air selama
kurun waktu 24 jam, dan kapasitas saluran drainase dirancang dan diperhitungkan
berdasarkan besarnya koefisien drainase (Kartasapoetra dkk., 1994).
B. Debit Pembuang
Jaringan Pembuang
Pada umumnya jaringan pembuang direncanakan untuk mengalirkan kelebihan air
secara gravitasi. Pembuangan kelebihan air dengan pompa biasanya tidak layak dari segi
ekonomi. Pembuangan air di daerah datar dan daerah pasang-surut yang dipengaruhi oleh
fluktuasi muka air di laut, sangat tergantung pada muka air sungai, saluran atau laut yang
merupakan outlet dari pembuang. Muka air di outlet ini sangat penting dalam perencanaan
bangunan-bangunan khususnya di lokasi ujung saluran pembuang, misalnya pintu klep
otomatis (flape gate) yang menutup selama muka air tinggi untuk mencegah air masuk ke
areal drainase dan membuka kembali pada waktu muka air rendah.

C. Modulus Pembuang (Drain Module)


PROGRAM MAGISTER TEKNIK PENGAIRAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

TEKNIK

DRAINASE

DOSEN : Dr. Ir. USSY ANDAWAYANTI, MS.

20

Modulus pembuang atau koefisien pembuang adalah jumlah kelebihan air yang harus
dibuang per satuan luas per satuan waktu. Modulus pembuang tergantung pada:
-

curah hujan selama periode tertentu


pemberian air irigasi pada waktu itu
kebutuhan air untuk tanaman
perkolasi tanah
genangan di sawah-sawah selama atau pada akhir periode yang bersangkutan
luasnya daerah
sumber-sumber kelebihan air yang lain.
Perhitungan modulus pembuang pada lahan pertanian dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Modulus Drainase untuk Lahan Pertanian Padi (Daerah Datar)
b. Modulus Drainase untuk Lahan Pertanian Non Padi (Daerah Berbukit)
C.1. Modulus Drainase untuk Lahan Pertanian Padi (Daerah Datar)
Lahan yang ditanami padi umumnya datar atau berteras. Besarnya penurunan hasil
yang diakibatkan oleh kelebihan air tergantung pada :
-

Ketinggian genangan
Lamanya genangan tersebut berlangsung
Tahap pertumbuhan tanaman
Varietas padi.
Tahapan pertumbuhan tanaman yang paling peka terhadap kelebihan genangan adalah

di persemaian, selama tanam (pemindahan bibit dari pesemaian ke lahan) dan permulaan
masa berbunga (panicle). Secara umum dapat dikatakan apabila tanaman padi tergenang
melebihi saparoh tinggi tanaman selama lebih dari 3 hari berturutan maka akan
mengurangi produksi secara nyata. Apabila kurang dari 3 hari maka pengurangan hasil
tidak begitu nyata.
Sebagai standar untuk perencanaan drainase tanaman padi:
1. Tinggi genangan yang diijinkan di petakan sawah harus kurang dari 30 cm dan lama
genangan tidak lebih dari 3 hari
2. Tinggi genangan lebih dari 30 cm harus tidak lebih dari 24 jam (1 hari)
Kelebihan genangan di petakan sawah disebabkan oleh: hujan lebat, limpasan air
irigasi atau drainase, rembesan dari saluran irigasi. Untuk keperluan drainase tanaman
lainnya yakni nanas dan singkong berdasarkan pengalaman petani di Anjir Basarang
(Kalimantan Tengah) menunjukkan bahwa tanaman singkong akan mati apabila terendam
1 hari, sedangkan nenas masih bertahan walaupun tergenang selama 2 - 3 hari berturutan.
Dalam penentuan nilai modulus drainase ada tiga metode yang biasa digunakan yaitu:
1. Memplotkan curah hujan maksimum harian
2. Simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian di petakan sawah

PROGRAM MAGISTER TEKNIK PENGAIRAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

TEKNIK

DRAINASE

DOSEN : Dr. Ir. USSY ANDAWAYANTI, MS.

20

3. Rumus dari Departemen Pekerjaan Umum.


Penggunaan masing-masing metode tersebut tergantung dari kondisi tempat dan data
yang bisa digunakan.
1. Memplotkan curah hujan maksimum harian
Dilakukan untuk beberapa hari berturutan pada berbagai periode ulang dan penentuan
tinggi genangan maksimum yang masih diijinkan seperti pada gambar:

Gambar 1.
Kedalaman, lama hujan dan frekwensi dalam penentuan Modulus Drainase untuk padi
sawah
2. Simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian di petakan sawah
WLi = WLi-1 + Ri + IRi + Qini - Pi - ETi - Qoi
dimana:
WLi

: Tinggi genangan air di petakan sawah pada hari ke i (mm/hari)

WLi-1

: Tinggi genangan air di petakan sawah pada hari sebelumnya (mm/hari)

Ri

: Hujan harian ke i (mm/hari)

IRi

: Air irigasi yang diberikan pada hari ke - i (mm/hari)

Qini

: Limpasan dari petakan lain pada hari ke -i (mm/hari)

Pi

: Perkolasi pada hari ke - i mm/hari) ETi : Evapotranspirasi pada hari ke i


(mm/hari)

Qoi

: Drainase yang dilakukan pada hari ke i (mm/hari)


PROGRAM MAGISTER TEKNIK PENGAIRAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

TEKNIK

DRAINASE

DOSEN : Dr. Ir. USSY ANDAWAYANTI, MS.

20

Kriteria yang dilakukan dalam perhitungan tinggi genangan :


-

Untuk WLi WLMAX :


Jika (WLi - WLMAX) Qo, selanjutnya dipakai WLi = (WLi - Qo)
Jika (WLi - WLMAX) < Qo, selanjutnya dipakai WLi = WLMAX

Untuk WLMIN < WLi < WLMAX, selanjutnya dipakai WLi = WLi
Pada sawah tadah hujan :
Jika WLi < 0, selanjutnya dipakai WLi = 0

Pada sawah beririgasi :


Jika WLi < WLMIN, selanjutnya dipakai WLi = WLOP
Dimana :
WLMAX : tinggi genangan maksimum
WLMIN

: tinggi genangan minimum

WLOP : tinggi genangan optimum setelah pemberian air irigasi


Kemudian modulus pembuang tersebut adalah:
Dm = Qoi / n
Dimana :
Dm

: Modulus draianse (mm/hari)

Qoi

: Drainase yang dilakukan pada hari ke i (mm//hari)

: jumlah hari berurutan (Kalsim, 1995)

3. Penggunaan Rumus Departemen Pekerjaan Umum


D(n) = R(n)T + n (IR - ET - P) S
dimana:
n

: Jumlah hari berturut-turut

D(n) : pengaliran air permukaan selama n hari, mm


R(n)T : curah hujan dalam n hari berturut-turut dengan periode ulang T tahun, mm
IR

: pemberian air irigasi, mm/hari

ET

: evapotranspirasi, mm.hari
PROGRAM MAGISTER TEKNIK PENGAIRAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

TEKNIK

DRAINASE

DOSEN : Dr. Ir. USSY ANDAWAYANTI, MS.

20

: perkolasi, mm/han

: tambahan genangan, mm.

Untuk areal seluas 400 ha, debit pembuang rencana dapat diambil konstan (l/det/ha).
Apabila luas areal lebih besar dari 400 ha, maka debit rencana akan berkurang akibat dari
menurunnya curah hujan rata-rata dan adanya tampungan sementara yang relatif lebih
besar. Di Indonesia secara empirik pengaruh luas areal tersebut dinyatakan dengan
persamaan :
Qd = f . Dm . A
Dimana :
Qd

= debit pembuang rencana (l/det)

Dm

= modulus drainase (l/det/ha)

= Luas areal (ha)

= faktor reduksi luas :

untuk luas areal 400 ha, f = 1.0


untuk luas areal > 400 ha , f = 1.62 A-0,08

Modulus pembuang rencana dipilih berdasarkan curah hujan 3 harian dengan periode
ulang 5 tahun (R(3)5) sehingga rumusnya adalah:

Dm

D3
3 x8,64

dimana:
Dm = Drainase modul/modulus pembuang (l/dt/ha)
D3 = limpasan pembuang permukaan selama 3 hari dengan periode ulang 5 tahun (mm)
Dimana 1 mm/hari =1/8,64 l/dt/ha
Untuk perhitungan Modulus Drainase harus memperhatikan komponen sebagai
berikut:

Pada dataran rendah


- Perkolasi P = 0.
- Pemberian air irigasi IR = 0 jika irigasi dihentikan.
- Pemberian air irigasi IR = ET jika irigasi diteruskan.
- Tampungan tambahan (S) di sawah pada 15 cm lapisan air maksimal, sehingga S
diambil maksimum 50 mm.
Pada dataran terjal
PROGRAM MAGISTER TEKNIK PENGAIRAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

TEKNIK

DRAINASE

DOSEN : Dr. Ir. USSY ANDAWAYANTI, MS.

20

Sama seperti kondisi dataran rendah, dengan Perkolasi sebesar 3 mm/hari.

C.2. Modulus Drainase untuk Lahan Pertanian Non Padi (Daerah Berbukit)
Untuk lahan pertanian yang ditanami selain padi, yang perlu diperhatikan yakni :
1. Daerah aliran sungai berhutan.
2. Daerah dengan tanaman ladang.
3. Daerah permukiman.
Untuk areal yang berbukit di mana umumnya tanaman yang diusahakan bukan padi
sawah, maka untuk perencanaan saluran pembuang ada dua macam debit yang perlu
dipertimbangkan yakni :
a. Debit puncak maksimum dalam jangka waktu pendek
b. Debit rencana yang dipakai untuk perencanaan saluran pembuang.
C.2.1. Debit Puncak
Di Indonesia umumnya digunakan Metoda Rasional der Weduwen untuk areal kurang
dari 100 km2 dan Melchior untuk areal lebih besar dari 100 km2.
Debit puncak akan dipakai untuk menghitung muka air tertinggi di saluran pembuang.
Muka air ini akan digunakan untuk merencanakan pengendalian banjir (misalnya tanggul
banjir) dan bangunan-bangunan air lainnya (misalnya jembatan, gorong-gorong).
Selama terjadi debit puncak, terhambatnya pembuangan air dari petakan sawah masih
dapat diterima karena hanya berlangsung beberapa jam saja. Elevasi muka air pada debit
puncak sering melebihi elevasi lahan sehingga diperlukan sarana pengendalian banjir
dengan membuat tanggul sepanjang saluran pembuang.
Periode ulang untuk debit puncak biasanya diambil sebesar 5 tahun untuk saluran
pembuang kecil di daerah irigasi atau 25 tahun atau lebih untuk saluran pembuang besar
tergantung dari nilai ekonomis sarana yang dilindungi (misalnya di daerah perkotaan).
Pada pertemuan dua saluran pembuang di mana debit puncak bertemu, maka debit
puncak yang tergabung dihitung sebagai berikut :
1. Apabila dua daerah yang akan dibuang airnya luasnya kurang lebih sama (40%-50%
dari luas total), maka debit puncak gabungan dihitung sebagai 0,8 kali jumlah kedua
debit puncak.
2. Jika luas daerah yang satu lebih kecil dari yang lainnya (kurang dari 20% dari luas
total), maka gabungan kedua debit puncak dihitung sebagai luas total.
3. Bila persentase luas areal antara 20%-40% dari luas total, maka gabungan debit puncak
dihitung dengan interpolasi antara nilai yang didapat dari kasus 1 dan kasus 2.
C.2.1.1. Metode Melchior
PROGRAM MAGISTER TEKNIK PENGAIRAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

TEKNIK

DRAINASE

DOSEN : Dr. Ir. USSY ANDAWAYANTI, MS.

20

C.2.2. Debit Rencana


Debit rencana didefinisikan sebagai volume limpasan air hujan dalam waktu sehari
dari suatu daerah yang akan dibuang airnya yang disebabkan oleh curah hujan sehari yang
terjadi di daerah tersebut. Debit rencana akan dipakai untuk merencanakan kapasitas
saluran pembuang dan elevasi muka air rencana. Periode ulang debit rencana biasanya
digunakan 5 tahun.
Volume limpasan tersebut harus dapat dibuang dalam waktu sehari, sehingga akan
dihasilkan debit rencana yang konstan. Rumus yang digunakan adalah USBR 1977 berikut
ini :
Qd = 0,166 . a . f . R(1)5 . A
Dimana :
Qd

: debit rencana (l.det-1)

: koefisien limpasan

R(1)5 : hujan sehari maksimum dengan periode ulang 5 tahun (mm.hari-1)


A

: luas areal drainase (ha).

: faktor reduksi luas :

untuk luas areal < 400 ha, f = 1.0


untuk luas areal 400 ha , f = 1.62 A-0,08

Untuk menghitung debit rencana pada pertemuan dua saluran pembuang, maka debit
rencana gabungan dihitung sebagai jumlah debit rencana dari masing-masing saluran
pembuang.

PROGRAM MAGISTER TEKNIK PENGAIRAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG