You are on page 1of 36

PENGERTIAN, RUANG LINGKUP DAN MANFAAT ILMU JIWA

PERKEMBANGAN
Istilah Ilmu Jiwa Perkembangan
Dalam bahasa Inggris Developmental Psychology
Dalam bahasa Indonesia Ilmu Jiwa Perkembangan/Psikologi Perkembangan
Dalam bahasa Arab Tathawwur Nafsi
Pengertian Ilmu Jiwa Perkembangan
1. Ilmu jiwa perkembangan ialah ilmu yang membahas perkembangan jasamani dan rohani sejak
lahir sampai dengan usia lanjut.
2. Ditinjau dari ihtisar lapangan psikologi, Ilmu jiwa perkembangan masuk dalam psikologi teoritis
bagian psikologi khusus yang menguraikan dan menyelidiki segi-segi khusus dari kegitan psikis
manusia sejak kecil sampai dewasa dan selanjutnya.
3. Ilmu jiwa perkembangan ialah ilmu yang menguraikan perkembangan kegiatan jiwa manusia dari
sejak lahir sampai dengan usia lanjut.
4. Ilmu jiwa perkembangan ialah ilmu yang membicarakan perihal jiwa manusia, keadaan dan
tingkah laku manusia yang masing-masing berada dalam masa perkembangan.
5. Ilmu jiwa perkembangan adalah psikologi yang menyelidiki tingkah laku orang yang masih dalam
keadaan berkembang.
Ruang Lingkup Psikologi Perkembangan
1. Menurut Dr. W.A. Gerungan, sebagaimana tertuang dalam pengertian di atas,maka ruang lingkupnya
meliputi : psikologi anak, psikologi pemuda, psikologi orang dewasa/psikologi umum dan psikologi
orang tua.
2. Menurut Drs. Moh. Kasiram, M.Sc.
Ruang lingkup psikologi perkembangan meliputi : masa dalam kandungan, anak bayi, anak kecil,
anak sekolah, masa pueral, masa pra remaja dan masa dewasa.
3. Menurut Agus Suyanto :
Masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak masa pemuda dan masa dewasa.
Manfaat Psikologi Perkembangan dalam hubungannya dengan Pendidikan :
1. Bagi pendidikan keluarga :
a. Memahami hakekat tingkah laku anak yang sebenarnya
b. Sebagai bahan referensi/masukan bagi orang tua ketika menghadapi anaknya
yang sedang berkembang.
2. Bagi pendidikan sekolah :
a. Sebagai dasar pertimbangan dalam merumuskna tujuan pendidikan pada tiap jenjang
pendidikan sesuai dengan kondisi perkembangan jasmani dan rohani.
b. Sebagai bahan pertimbangan dalam menerjemahkan kurikulum ke dalam tujuan pengajaran
secara operasional dalam praktek pendidikan baik ditingkat kanak-kanak sampai dengan
perguruan tinggi.
c.
Sebagai bahan pertimbangan dan petunjuk dalam penyediaan sarana dan
prasarana sesuai dengan tingkat kebutuhan perkembangan peserta didik.
d.
Sebagai bahan pertimbangan untuk memilih metode yang tepat dalam
menyampaikan materi pendidikan bagi peserta didik.
3. Secara Umum :
a. Dalam mendeskripsikan, memahami dan meramalkan tingkah laku anak, remaja
dan dewasa sebagai bekal hidup sukses di masyarakat.
b. Memudahkan untuk dapat bergaul dengan sesama individu lain yang sesuai
dengan usia perkembangannya.

Pertemuan II
SEJARAH DAN METODE ILMU JIWA PERKEMBANGAN
1.

SEJARAH ILMU JIWA PERKEMBANGAN


Diawali adanya pandangan baru tentang anak-anak.
Sebelum tahun 1750 : Bahwa anak-anak adalah miniatur orang dewasa.
Sesudah tahun 1750 (awal ilmu jiwa perkembangan) : Bahwa anak-anak adalah individu yang
berbeda dengan orang dewasa. Mempunyai dunianya sendiri, dengan ciri dan sifat yang khas
(meliputi fisik, perasaan, pikiran dan lainnya) disebabkan keterbatasan perkembangan mereka.
Tahapan Perkembangan Ilmu Jiwa bisa ditelusuri dari perkembangan akan psikologi tentang anak
tersebut.
Tahap I : (1750 1800) lahir ilmu jiwa anak.
1. Tokohnya Johan Bernard Basedow dengan paham (aliran) Philanthropinisme sebuah
aliran (paham) yang menitikberatkan pada pelaksanaan pendidikan melalui penjernihan
akal (aufklarung) akan membentuk individu yang bahagia.
Pendapat Basedow yang dijadikan dasar pertimbangan dalam pendidikan anak :
1. Pendidikan harus dilaksanakan selaras dengan jalan perkembangan anak.
2. Pengajaran harus disertai dengan bendanya (meragakannya).
3. Pengajaran harus menarik dan menggembirakan.
2. Johan Heinrich Pestalozzi. aliran Developmantalism bahwa dalam melaksanakan
pendidikan, maka anak merupakan pusat perhatian (Child Centered Point of View).
Pendapat Pestalozzi.
1. Prinsip pendidikan anak-anak ialah : Pertolongan untuk dapat menolong dirinya
sendiri, dengan bersandar kepada kemungkinan yang ada pada diri anak.
2. Untuk dapat mengajar anak-anak secara baik harus mengetahui kemungkinankemungkinan yang ada pada diri anak, mengontrol jalan perkembangannya dan
bukan memasukkan nilai-nilai yang diinginkan menurut standar orang dewasa.

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN :


Pertumbuhan :
Berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur
biologis. (berat badan, tinggi badan, kekuatan, sistem jaringan yang semakin kompleks)
Perubahan secara fisiologis sebagai hasil proses (MATURITAS)/kematangan = BERFUNGSINYA
ORGAN2 TUBUH SECARA OPTIMAL pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara
normal pada individu/anak yang sehat, dalam perjalanan waktu tertentu.
*Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan :
1. Faktor-faktor yang terjadi sebelum lahir (pre-natal), misal : Kondisi kandungan, penyakit pada
saat ibu hamil dsb.
2. Faktor-faktor ketika atau saat kelahiran, misal : pendarahan pada kepala bayi pada saat melahirkan
karena tekanan dinding rahim, operasi caesar dsb.
3. Faktor-faktor yang dialami bayi setelah melahirkan, misal : infeksi selaput otak, kelainan fisik
(kembar siam) dsb.
4. Faktor-faktor psikologis yang dialami bayi setelah melahirkan, misal; ditinggal ayah-ibu (unwanted child), anak yang diserahkan kepada tempat penitipan bayi
Perkembangan :
Sejalan dengan prinsip orthogenetis, bahwa perkembangan berlangsung dari keadaan
global dan kurang terdeferensiasi sampai ke keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan
integrasi meningkat secara bertahap.
Pengertian dimna terdapat struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi-fungsi
tertentu, oleh karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun
dalam bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Perubahan progresif yang menunjukkan cara organisme bertingkah laku dan berinterasi
dengan lingkungan.
Proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi dari kematangan
dan interaksi dengan lingkungan.
Proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi
yang lebih tinggi, berdasarkan proses pertumbuhan, kematangan dan belajar.
Mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala-gejala psikologis yang menampak.

Perkembangan Manusia Selintas Kilas (LIFE SPAN rentang kehidupan) :


a. Periode dalam Kandungan (Prenatal)
b. Periode bayi (Infancy)
c. Periode kanak-kanak awal (Early Childhood)
d. Periode kanak-kanak akhir (Late Childhood)
e. Peride pubertas (akil baligh)
f. Periode remaja (Adolescence)
g. Periode dewasa awal (Early Adulthood)
h. Periode dewasa madya (Middle Adulthood/Middle age)
i. Periode usia lanjut (Late Adulthood/Old Age)

Faktor-faktor yang dominan mempengaruhi perkembangan :


a. Faktor Bawaan (Hereditas) - Nature
Bahwa perkembangan manusia sudah ditentukan oleh alam
Aliran NATIVISME Tokohnya : Scipenhauer . (Anak kecil adalah orang dewasa
dalam bentuknya yang masih kecil) Lingkungan atau pendidikan tidak dapat
mengubah arah perkembangan seseorang melahirkan gerakan Pesimisme
Pedagogis.
b. Faktor Lingkungan Nurture
Bahwa manusia lahir dalam kaeadaan putih bersih bagaikan kertas yang belum
ditulisi (teori Tabularasa), lingkunganlah yang membentuk seseorang menjadi
manusia seperti dia pada waktu dewasa.
Aliran EMPIRISME Tokohnya : John Locke. Lingkungan atau pendidikan
sangat mempengaruhi kemana arah perkembangan seseorang melahirkan
gerakan Optimisme Pedagogis.
c. Faktor Bawaan dan Lingkungan
Bahwa perkembangan manusia dipengaruhi baik faktor bawaan dan lingkungan.
Perkembangan adalah transaksi antara individu dengan dirinya sendiri dan
lingkungannya.
Aliran KONVERGENSI Tokohnya : William Stern. Bakat memamng masuk
peranan penting, tapi agar berkembang secara maksimal, bakat harus
menemukan lingkungan yang sesuai.
Kaidah kaidah dalam perkembangan :
1. Kaidah Cephalocoudal :
Pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. (bagian-bagian
pada kepala tumbuh lebih dahulu daripada bagian-bagian lain)
2. Kaidah Proximodistal
Pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke tepi. (alat
tubuh yang terdapat di pusat seperti jantung, hati dan alat-alat
pencernaan lebih dahulu berfungsi daripada anggota tubuh yang ad
di tepi)
3. Kaidah Perkembangan terjadi dari Umum ke Khusus
Proses perkembangan dimulai dari hal-hal yang umum, kemudian
secara sedikit demi sedikit meningkat hal-hal yang khusus (proses
diferensiasi)
4. Kaidah Perkembangan Berlangsung dalam Tahapan-tahapan
Perkembangan
Dalam perkembangan terjado penahapan yang terbagi-bagi dalam
masa-masa perekambangan. Pada setiap masa perkembangan
terdapat ciri-ciri perkembangan yang berbeda antara ciri-ciri yang
ada pada satu tahapan atau masa perkembangan dengan ciri pada
masa tahpan perkembangan yang lain.
5. Hukum Tempo dan Ritme Perkembangan
Tahapan perkembangan berlangsung secara berurutan, terus
menerus dan dalam tempo perkembangan yang relatif tetap serta
bisa berlaku umum.

Aliran konvergensi termasuk yang ikut menentang adanya pengaruh pendidikan dalam
pembentukan perilaku

SAAT-SAAT PERKEMBANGAN ANAK


1.5 Bulan. Kalender tumbuh kembang anak menyebut, pada usia ini bayi mulai bisa
tersenyum spontan. Kalau tidak, perlu diperiksa apakah ada kelainan pada
matanya, atau mungkin ada gangguan syaraf.
4 Bulan. Bayi mulai bisa tengkurap sambil mengangkat kepala.
7 Bulan. Bayi mulai bisa duduk tanpa bantuan.
10 Bulan. Kali ini, si bayi sudah bisa menjimpit manik-manik (benda bulat kecil) atau
kismis. Orang tua sebaiknya waspada bila anak masih saja menggenggam.
15 Bulan. Anak mulai bisa berjalan sendiri. Kalau belum, tentu perlu dicari tahu
kenapa. Orang tua kurang memberi rangsangan, atau adakah kelainan fisik.
18 Bulan. Anak bisa mengucapkan 4-6 kata. Orang tua perlu waspada bila anak belum
mengenal kata apa pun pada usia ini. Sebab mungkin aja itu akibat gangguan telinga,
apakah itu tuli atau sekadar banyak kotoran menutup lubang telinga. Atau, mungkin saja hal

itu terjadi karena si anak kurang stimulasi, kurang mendengar kata-kata. Ada pepatah
Inggris yang berbunyi bath children with words, mandikan anak-anak dengan kata-kata.
24 Bulan. Anak bisa menyebut nama sendiri, dan tahu itu namanya.
36 Bulan. Anak sudah bisa berpakaian sendiri tanpa bantuan orang lain.
42 Bulan. Anak bisa menggambar lingkaran dan bisa membedakan warna.
48 Bulan. Anak mulai bisa menggambar orang dengan benar, misalnya bermata dua.
54 Bulan. Sekarang anak mulai bisa menceritakan - tentu secara sederhana
pengalaman atau apa yang dilakukannya.
MENYIMAK TAHAPAN TUMBUH KEMBANG ANAK
TAK SESUAI JADWAL TAK BERARTI TERLAMBAT
Anak saya sudah berumur sembilan bulan, tapi kok belum bisa jalan ? Kok gigi anak saya
belum tumbuh-tumbuh ? Anak saya normal enggak sih ? Pertanyaan-pertanyaan begini
rasanya sering memenuhi benak para orang tua, terutama pasangan muda yang baru punya
anak pertama. Maklum, semua orang tua pasti ingin anaknya tumbuh normal. Siapa yang
tidak ?
Maka, mengetahui tahap-tahap tumbuh kembang normal anak tentu amat membantu. Paling
tidak, dengan begitu orang tua bisa segera mengetahui bila ada yang tidak beres pada
anaknya, sehingga upaya koreksi bisa segera dilakukan. Tapi, adakah patokan tumbuh
kembang normal seorang anak itu ?
Kalender Tumbuh Kembang Anak.
Dalam kalender tumbuh kembang ini tercatat tahap-tahap perkembangan anak Indonesia,
misalnya kapan mulai tengkurap, berjalan, bicara, dll sejak lahir hingga usia 60 bulan. Kalender
ini dikembangkan berdasarkan studi Satgas Instrument Komite Tumbuh Kembang Anak
Indonesia 1995/1996.
Bukan Terlambat. Apabila anak perkembangannya tak sesuai dengan kalender ini belum tentu
dia mempunyai kelainan. Kalender ini disusun dengan nilai kepastian 75 persen, yang berarti
bila dalam kalender ini disebutkan seorang anak mulai bisa tengkurap pada usia empat bulan,
itu berarti 75 persen bayi Indonesia bisa melakukannya pada usia tersebut. Artinya, masih ada
25 persen lainnya yang mungkin saja belum bisa melakukannya.
Pertanyaannya, tentu, kenapa 75 persen ? Pilihan ini, rupanya, berkaitan dengan kesempatan.
Dengan memilih nilai kepastian 75 persen, berarti anak yang belum mencapai kemampuan
seperti tercatat dalam kalender pada usia tertentu belum sepenuhnya terlambat. Orang tua
masih punya waktu untuk mencari tahu penyebabnya lalu mengoreksi dan mengejar.
2-3 bulan adalah waktu untuk mencari tahu penyebab dan mengejar ketinggalan tersebut. Ambil
contoh, anak mulai bisa tengkurap pada usia empat bulan. Itu berarti 75 anak Indonesia bisa
melakukan itu. Bagi yang belum ini, masih ada 2-3 bulan untuk mencari tahu kenapa, lalu
berusaha mengejar tahapan tersebut. Kalau kalender dibuat berdasarkan saat ketika 90 persen
anak bisa melakukan, kesempatan melakukan koreksi mungkin sudah terlambat.
Alami. Permasalahan yang muncul, adakah latihan tertentu yang mesti dilakukan orang tua
untuk mengusahakan agar perkembangan anak sesuai dengan kalender tersebut?
Perkembangan yang tercatat dalam kalender tumbuh kembang ini merupakan perkembangan
alamiah. Artinya, dalam lingkungan normal di Indonesia, seorang anak akan mencapai tahapantahapan ini pada usia-usia tertentu.
Kalau ada yang perlu dilakukan orang tua, itu tak lebih dari sekadar memantau apakah tumbuh
kembang anak sudah sesuai dengan usianya, dan segera mencari bantuan profesional bila
terjadi penyimpangan tumbuh kembang.

Mendukung Anak
Sering orang tua kedapatan menghabiskan waktu untuk mengurus masalah tingkah laku anak yang tidak sesuai
(temper tantrums, mengeluh) mereka menjadi terlalu sibuk untuk memberi peringatan dan memberi perhatian pada
anak yang menunjukkan tingkah laku yang sesuai (main tidak ribut, meminjamkan mainan, menolong adik).
Kadang-kadang orang tua tidak senang 'mengganggu' anak-anak yang semula bisa bermain bersama kemudian ada
salah satu yang merusak permainan; mereka tidak mau merusak sesuatu yang sudah berjalan dengan baik.
Bagaimanapun, orang tua tidak menya-dari bagaimana pentingnya memberi dukungan seorang anak. Hal itu
memberikan kesempatan bagi anak untuk mengetahui apakah yang dikerjakannya itu benar, kemudian ia akan terus
bertingkah laku sama dengan cara itu.
Orang tua memberi dukungan anak ketika mereka memusatkan perhatian pada sesuatu yang positif di diri anak. Hal
ini membantu membangun rasa percaya diri pada anak dan mengajarkan anak untuk bertingkah laku sesuai dengan
apa yang diharapkan. Memberi dukungan akan menjadi cara yang jitu untuk menolong anak belajar.
TIPE MEMBERI DUKUNGAN ATAU HADIAH.
Orang tua ingin menentukan apa yang menjadi hadiah bagi anak. Kebanyakan anak-anak senangn menerima
perhatian dari orang tua seperti pujian, senyuman dan pelukan hangat. Beberapa menyukai hadiah non-sosial
(bintang emas atau nilai) yang dibayarkan, dapat ditukarkan dengan 'hak istimewa' yang khusus.

Penjabaran penghargaan menolong pembentukan kepercayaan diri anak dan rasa aman. Anak tidak pernah
menerima penjabaran penghargaan yang bertele-tele (mis : menggambarkan apa yang anak sudah kerjakan,
contohnya membuat penilaian seperti "anak baik", "kamu pintar sekali"). Hal itu tidak akan membuat anak menjadi
besar kepala, tetapi itu akan membantu mereka merasa berbahagia.
Pujian yang dapat digambarkan kepada anak :
- usaha - prestasi - perasaan
Hal itu harus digambarkan, bukan dinilai, apa yang anak lakukan dan rasakan.
Contoh penjabaran pujian.
"Terima kasih atas tatanan mejanya, bagus sekali."
"Saya senang gambaranmu. Warnanya bagus".
"Kamu pasti bangga bisa menyelesaikan puzzle ini. Hebat!"
"Kamar kamu kelihatan rapi sekali. Hasil kerja keras ya."
"Hari ini kamu dan Toni bisa akur ya."
Hadiah non-sosial, seperti bintang emas atau nilai yang diberikan kepada anak yang bisa bertingkah laku sesuai.
Orang tua dan anak menyimpan papan harian dan setiap waktu anak melakukan sesuatu (menata meja) ia diberi
bintang emas yang dapat mereka tempel di papan. Setiap anak yang sudah bisa mengumpulkan sejumlah bintang, ia
dapat menukarkannya dengan sesuatu 'hak istimewa' yang khusus (untuk 10 nilai dapat uang saku 500 rupiah, dapat
7 bintang ia mendapat ekstra waktu main selama 15 menit).
Ketika menggunakan metode ini, adalah penting untuk mengikuti petunjuk ini :
a) Orangtua dan anak harus memilih satu atau 2 tingkah laku khusus yang ingin dimunculkan. "Jadi yang baik"
adalah membin-gungkan; pilah-pilahlah menjadi beberapa bentuk tingkah laku yang jelas seperti pergi tidur jam
7.30; tidak mencubit adik; merusak mainan.
b) Anak harus dihadiahi segera setelah tingkah laku tersebut muncul (mis: jika Johnny membereskan tempat tidur
pagi-pagi, beri dia bintang emas langsung, jangan menunggu sampai waktu makan malam).
c) Harus konsisten. Hadiah sangat bergantung pada tingkah laku anak mis: walaupun orang tua sibuk dengan hal
yang lain, ia harus tetap berusaha untuk memberi hadiah apabila anak menunjukkan tingkah laku yang baik.
d) Ketika anak belajar tingkah laku yang baru, beri hadiah berulang-ulang. Hal ini membantu untuk mempercepat
proses belajar karena hal itu memberikan kesempatan pada sianak untuk melihat hubungan antara tingkah lakunya
dan hadiah. Belakangan ketika ia memperlihatkan tingkah lakunya ia akan tetap mempertahankan, teruskan untuk
menyediakan hadiah tapi tidak terlalu sering.
e) Sediakan berbagai macam hadiah.
f) Berikan hadiah yang adekuat misalnya memberikan hadiah yang cukup membuat anak tetap melakukan tingkah
laku tersebut.
Catatan :
Adalah penting untuk memilih hadiah yang diinginkan anak. Jangan gunakan hadiah es krim kalau anak tidak suka
es krim. Dengan demikian perlu orangtua dan anak berdiskusi mengenai hadiah yang mungkin diberikan. Beri
kesempatan anak mengemukakan apa yang diinginkan tapi yakinkan bahwa hadiah tersebut tidak merepotkan dan
dapat diterima oleh orang tua juga.
Contoh hadiah-hadiah :
Bisa santai-santai 15 lebih lama dari yang biasanya. Pergi jalan-jalan ke luar. Melihat acara TV yang khusus.
Mentraktir makanan seperti es krim. Memberi sejumlah uang. Membacakan cerita waktu mau tidur. Memilihkan
hidangan penutup untuk keluar. Membantu orang tua memasak untuk makan malam.
Semua hadiah itu akan memberikan hasil yang lebih baik apabila disertai juga pujian.
Contoh dari Papan Bintang.
-----------------------------------------------------Tingkah laku
Hari/tanggal
Senin .....Selasa .....Rabu......
-----------------------------------------------------1. Cepat ganti baju
waktu pagi.
-----------------------------------------------------2. Mengerjakan PR
-----------------------------------------------------3. Akur bermain sepulang sekolah
-----------------------------------------------------4. Tidur malam jam 8
-----------------------------------------------------Anak disuruh menempelkan tanda bintang di papan yang tersedia. Hal ini membantu anak untuk merasa terlibat
dan membuat mereka melihat kemajuan yang mereka capai. Hal ini secara tidak langsung memberikan hadiah
kepada anak. Satu tujuan penting adalah orang tua juga bergabung dalam kegiatan ini, dan membuat kegiatan ini
semenarik mungkin, cara ini mempermudah mengajar anak.
disadur dari brosur Departement of Children's services.

Sepuluh Perangkat Penting dalam Pengasuhan yang Positif


MENENTUKAN BATASAN.
Perlu diyakini bahwa setiap anak itu memerlukan batasan. Anak benar-benar membutuhkan aturan yang lentur dan ia akan
mengalami kebingungan tanpa peraturan. Dengan membuat batasan berarti kita telah menyediakan lingkungan fisik yang

memberikannya rasa aman dan dapat dijadikan tempat belajar. Setiap usia akan mempunyai batasan tersendiri, dengan
demikian kita sebagai orangtua juga harus siap untuk memperluas batasan kita sesuai dengan perkembangan usia anak.
Jika kita menentukan batasan tidak perlu banyak-banyak, paling banyak 5 atau 6 saja. Letakkan di tempat yang mudah dilihat
mereka, sepertinya di pintu kulkas adalah tempat yang tepat.
4 petunjuk tepat bagi keluarga mengenai bagaimana memperlakukan dan diperlakukan anggota keluarga dengan baik:
Pergunakan bahasa yang tepat dan sesuai untuk memberitahu bagaimana perasaan kita terhadap mereka. Kita
tidak mempergunakan bahasa yang kasar atau sebutan yang tidak menyenangkan bagi mereka.
Tidak akan melukai orang lain baik secara fisik maupun mental.
Tidak akan merusak barang orang lain maupun miliki kita sendiri.
Berusaha untuk menyelesaikan masalah yang melanda kita, bukan berkubang disana.
Jika masalah muncul, lihat kembali kepada petunjuk tadi, apakah ada yang tidak beres?
Anak-anak kadang-kadang akan mencoba mengetes batasan-batasan yang sudah diberikan, disini kita harus bersikap konsisten
untuk mendorong mereka melakukan apa yang sudah digariskan. Ada batasan yang bisa dinegosiasikan ada yang tidak.
Konsisten saja. Barangkali kita sering terlalu mudah untuk mengatakan tidak dan kemudian mengatakan ya. Oleh karena itu
jangan takut untuk mengatakan "Saya perlu pikirkan lagi tentang hal itu". Perlu diingat bahwa batasan itu akan membuat anak
kita merasa aman dan dapat menjadi orang yang penuh percaya diri. Terakhir yang harus diingat adalah penting orangtua
bekerjasama dan sama-sama menyetujui aturan yang dibuat, jangan sampai terjadi pertentangan.
TIME OUT dan PENDINGINAN.
Kombinasi ini berlaku untuk orangtua dan anak. Ketika anak berbuat tidak benar, dia merasa kecil hati dan seringkali tidak
bisa mengontrol diri. Time out akan memberikan tempat dimana dia bisa mengatur perasaannya dan mendinginkan suasana.
Anak usia di bawah 3 tahun memerlukan diri kita untuk menenangkan, berada didekatnya dan menentukan berapa lama anak
mengontrol dirinya. Anak di atas 3 tahun akan belajar berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk Time out dan akan belajar
menentukan kapan mereka siap untuk kembali. Sikap positif dari orangtua dan cara melaksanakan Time out akan menentukan
apakah hal itu merupakan hukuman atau cara positif untuk belajar mengontrol diri. Kitapun perlu mengenali kapan kitapun
memerlukan Time out. Semua orangtua dapat menggunakan waktu pendinginan untuk meredakan kemarahan dan
menghilangkan frustrasi akibat perbuatan anak. Ketika kita melakukan pendinginan maka kita akan menjaga diri dari berbicara
atau berbuat sesuatu yang menyakitkan anak yang kemudian akan disesali, dan kita dapat menjadi model bagaimana
mengontrol emosi diri sendiri bagi anak. Cara yang bisa kita lakukan adalah menarik nafas dalam-dalam dan menghitungkan
sampai seputuh, meninggalkan anak dengan orang yang bisa dipercaya atau jalan-jalan atau mengunci pintu sejenak untuk
memberikan ruang pribadi bagi kita. Biarkan anak tahu bahwa kita akan menemui mereka kembali setelah merasa reda atau
anak-anak mau tenang. Jangan sampai mengesankan cara ini adalah suatu bentuk penolakan kita terhadap anak.
BERWAJAH DINGIN (POKER FACE).
Banyak ahli menggunakan istilah ini untuk mendefinisikan sikap tenang, bahasa tubuh yang santai. Ketika kita menjaga wajah
kita lurus, hal itu memperlihatkan bahwa kita tidak terpengaruh dengan kekacauan yang terjadi dan tidak terpancing emosi.
Jaga alis kita ke atas dan anda tidak akan merengut. Jika kita bicara, jaga suara kita tenang dan dingin. Hal ini merupakan cara
yang sangat efektif ketika tidak ingin memberikan perhatian yang tidak pantas terhadap perilaku anak yang negatif tapi kita
ingin tetap terlibat. Contohnya ada seorang ibu yang ingin mengajak anaknya Doni usia 2 tahun untuk tidur tapi selalu bangun
lagi dan turun dari tempat tidur, dengan cara yang ramah dan tenang, dengan wajah dingin dan bicara beberapa patah kata.
Pada hari pertama saya tetap tenang dan ramah dan menyuruh Doni kembali ke tempat tidur berulang kali sampai 35 kali (hal
itu membantu saya untuk bisa menghitung apa yang saya lakukan). Akhirnya dia tertidur di tengah ruang di lantai. Pada hari
berikutnya saya perlu mengajaknya sampai 15 kali, dan kembali ia tertidur di lantai. Hari ketiga ia menangis untuk 5 menit dan
tidur di lantai dekat tempat tidurnya. Hari keempat ia menangis 5 menit dan tetap tinggal di tempat tidur. Setelah itu ia pergi
tidur dengan senang hati dan tanpa disuruh. Hal ini merupakan sesuatu yang berat untuk dilakukan, memerlukan kesabaran
yang sangat tinggi. Ketika Doni tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, tidak ada kata-kata manis, tidak ada teguran dan
peringatan, tingkah laku itu dihentikannya.
WAKTU UNTUK BERLATIH.
Banyak tingkah laku tidak sesuai yang kerap muncul dapat dicegah. Asalkan kita tahu cara menghindarinya. Kesalahan yang
kerap terjadi adalah kita punya harapan bahwa anak kita tahu semua yang kita tahu padahal dalam kenyataanya tidak begitu.
Dengan kita memberi kesempatan pada anak untuk belajar dan menjelaskan alasan-alasannya, anak dapat berbuat sesuatu
dengan lebih baik. Jika kita punya masalah, coba ingat apakah kita sudah pernah mengajarinya tentang hal itu. Jika kita punya
masalah dengan anak kita yang secara sembrono lari ke jalan raya, coba minta ia berdiri di pinggir jalan tentunya di awasi oleh
orang dewasa lainnya dan mengawasi anda mengendarai mobil sambil melindas mobil-mobilannya atau sepotong semangka.
Katakan "Coba lihat berat sekali mobil ini ya? Bisa menghancurkan sesuatu" Dari situ katakan mengapa kita harus berjalan di
pinggir jalan. Walaupun kita sudah memberitahu anak, tentunya kita harus terus mengawasi anak kalau berada di jalan. Dan
anakpun akan mempunyai pemahaman yang lain mengapa kita tetap mengawasi mereka. Alasan anda dekat dengan dia, bukan
semata-mata karena mengkhawatirkan dirinya tapi untuk menunjukkan bahwa kita tahu bahwa anak kita sudah mampu dan
bisa memahami aturan tersebut.
Kalau anak kita suka berbuat keonaran di toko mainan, luangkan waktu untuk mengajarinya dengan cara membuat 'perjalanan'
ke toko sebagai latihan. Anak kita tidak akan menyadari bahwa itu latihan. Katakan kepadanya sebelum kita pergi ke toko apa
yang akan kita lakukan jika ia menangis atau merengek. "Nina, kita akan pergi cari kado untuk adik Ari. Kita akan memilih
kado terus ke kasir untuk membayar dan langsung pulang. Kalau kamu merengek dan menangis kita akan langsung kembali ke
mobil tanpa beli kado". Lakukan seperti yang anda bicarakan. Latihan ini akan menghemat waktu anda di kemudian hari,
karena anak anda akan yakin bahwa anda akan melakukan apa yang anda katakan akan anda lakukan .
Jika berpakaian jadi masalah, ingat jangan pernah melakukan sesuatu pada anak mengenai hal yang bisa dikerjakan anak
sendiri. Kebanyakan anak usia 2,5 tahun bisa pakai baju sendiri asal dilatih. Luangkan waktu untuk membeli baju yang
gampang dipakai, ajarkan bagaimana mengenakannya dan biarkan mereka mengenakanya sendiri.
Coba buat papan latihan. Cara ini akan mengajarkan anak untuk belajar tentang perilaku yang baik dan bertanggung jawab. Hal
ini bukan sistem hadiah. Anda hanya membantu anak memvisualisasikan metode monitoring perilakunya sendiri. Coba kita
buat papan membereskan tempat tidur.
Senin
Selasa
Rabu Kamis Jumat
Sabtu
Minggu
Setelah menjalankan hal itu pada akhir minggu, kita rayakan keberhasilan tersebut dengan pergi bersama atau aktifitas lain
bersama yang menyenangkan.
BERBUAT TANPA BANYAK BICARA.
Anak-anak akan bosan dengan ceramah dan pengamatan yang terus menerus. Lama-lama anak akan 'menulikan' telinga
terhadap omelan kita. Seringkali anak akan menuruti orangtua setelah ia tahu apa sebenarnya yang dimaksud oleh orangtua
atau sampai melihat kita lepas kendali dan marah. Katakan apa yang ingin anda katakan 1 kali dengan pesan positif, dari pada

kita bilang "jangan lari" Coba katakan "coba jalan dengan tenang" dan kemudian lakukan. Hentikan mengingatkan terus
menerus. Jika anak tidak mau berhenti berlari, hentikan secara halus dan tegas.
PILIHAN.
Kalau ingin mendorong tumbuhnya tanggung jawab, tawarkan pilihan-pilihan yang masuk akal jangan menuntut.
Memberdayakan pilihan memberikan rasa pada anak untuk mengontrol apa yang terjadi pada dirinya, hal ini penting untuk
penghargaan terhadap diri sendiri. Ketika kita memberikan pilihan bukan untuk dinegosiasikan tapi untuk membawa kan
wawasan anak dan menjadikan anak yang bertanggungjawab, mengembangkan kerjasama. Harus diingat pilihan yang
diberikan harus dapat diterima anak.
WAKTU KHUSUS.
Anak kita membutuhkan waktu khusus dengan kita atau pengasuhnya dalam keseharian hidupnya. Kita tidak perlu
memanjakan dengan aktivitas yang mahal. Kita bisa lakukan sesuatu yang murah tapi menyenangkan. Hanya main-main
dirumah atau jalan-jalan keliling komplek ini juga bisa dilakukan. Waktu itu benar-benar khusus untuk anak tidak boleh
diselingi kegiatan lain. Yang paling penting dalam kegiatan ini adalah anak tahu kapan hal ini akan diadakan. Selain itu adalah
kita melakukan apa yang dipilih dan disukai anak. Hal ini akan terus diingat anak, merasa dicintai dan tidak akan mencari
perhatian lewat perilaku buruk.
MEMBESARKAN HATI.
Merupakan sesuatu yang kita pergunakan untuk membuat perubahan yang positif, membantu anak untuk mengembangkan
kepercayaan dirinya. Belajar memisahkan antara apa yang dilakukan anak dengan jati diri anak. Jangan menggunakan kata
anak baik dan anak nakal. Berbuat kesalahan itu wajar karena itu merupakan proses belajar. Cinta itu tidak bersyarat. Berikan
pesan positif dengan antusiasme secara tiba-tiba ketika anak tidak mengharapkan. Perhatikan pada perbuatan anak yang positif
daripada perbuatan negatif. Temukan kebaikannya. Fokuskan pada proses yang terjadi bukan pada hasilnya. Pertahankan sikap
yang positif dengan cara "melihat gelas separuh sebagai gelas penuh dari pada kosong" Coba melucu, hidup ini jangan
terlalu serius. Dari pada menyalahkan, coba untuk mencari cara penyelesaikan masalah. Buat harapan yang sesuai dengan
tingkat usia. Terlalu over protektif dan selalu menolong itu akan mengecilkan arti anak. Dari pada terus menerus memaksa,
lebih baik memberdayakan mereka dengan meninggalkannya, misalnya: "Sita, ibu tinggalkan kamu di kamar mandi ya. Kalau
kamu cepat sikat gigi saya akan ajak kamu membaca buku". Bersabarlah dan tunjukan minat akan proses dari diri anak.
Gunakan "ya" daripada "tidak". Katakan "letakan kaki kamu dilantai" lebih baik daripada "jangan taruh kaki disofa, kotor!".
Gunakan pertanyaan "apakah" "mengapa" atau "bagaimana" untuk melihat apakah persepsi anak kita sama dengan persepsi
kita. Gunakan kata "tolong" dan "terima kasih".
PERTEMUAN KELUARGA.
Pertemuan keluarga merupakan pendekatan kelompok dan langsung antara orangtua dan anak untuk menghubungkan dan
melatih ketrampilan yang dimiliki. Dan pertemuan keluarga anak bisa merasakan bahwa kontribusinya itu diperlukan.
MENYELESAIKAN MASALAH. Dengan berbicara dan mendengarkan anak akan membantu anak untuk mengembangkan
ketrampilan membuat keputusan yang baik dan mendorong kerjasamanya. Sebelum anak mau mendengarkan kita, ia ingin kita
mau mendengarkan mereka dahulu . Hal ini tidak akan berfungsi pada saat kita marah. Agar poses ini berhasil beberapa hal
yang bisa dilakukan :
Sebutkan perasaannya. Tunjukan perhatian yang sungguh-sungguh, misalnya: "Susi, sepertinya kamu sedih sekali
karena Tuti pindah rumah". Beri jeda dan dengarkan dan refleksikan.
Berempati
Ekspresikan perasaan anda
Solusi sumbang saran
Laksanakan, buat evaluasi
Kalau anda merasakan terlalu banyak chaos dan anda ingin anak menunjukan tanggung jawab. Coba buat batasan, pergunakan
time out dan pendinginan dengan wajah dingin dan atau beraksi dangan menggunakan beberapa kata atau mungkin waktu
untuk berlatih. Kalau anak mengabaikan kita, coba buat pertemuan keluarga dan selesaikan masalah dan ketika kita ingin
membangun kepercayaan diri anak buat kegiatan khusus dan memberikan banyak dorongan. Peralatan ini harus
dikombinasikan dengan kesabaran, konsistensi dan rasa cinta akan membantu anda menjadi orangtua yang positif.
(sumber, Positive Parenting from A to Z, karen Renshaw Joslin, 1994)

Disiplin
Disiplin adalah suatu hal yang mengkhawatirkan setiap orang. Sebagian orang merasa bahwa
disiplin merupakan hal yang sepele. Sedangkan sebagian lagi merasakan disiplin sebagai suatu hal
yang besar.
Beberapa orang berfikir bahwa disiplin sebagai suatu hukuman, sedangkan yang lainnya melihatnya
sebagai kontrol diri. Tetapi kita tentu mengetahui bahwa dunia ini merujuk pada disiplin, dimana
harus ditaati oleh setiap orang yang berada didalamnya.
Orang harus belajar untuk mengetahui bagaimana hidup dan bekerja dengan orang lain. Untuk
menjadi bahagia mereka mau bergaul dengan berbagai jenis orang yang ada di sekelilingnya. Setiap
anak dalam hatinya menginginkan untuk dicintai. Jika Anda peduli terhadap anak-anak, Anda tentu
percaya pada disiplin. Jika anda percaya pada disiplin, Anda harus peduli pada anak-anak.
Perasaan yang kuat terhadap penghargaan diri (self esteem) merupakan salah satu yang terpenting
dari orang dewasa yang dapat diberikan pada diri seorang anak.
Disiplin dapat membantu seorang anak tumbuh dengan kepercayaan diri dan kontrol diri yang baik,
yang dituntut oleh kesadaran yang baik dari dirinya dan tingkah laku yang positif terhadap orangorang dan pengalaman hidupnya, perasaan yang baik tentang dirinya dan perasaan tanggung jawab,
serta kepedulian terhadap lingkungannya.
Walaupun kata "disiplin" tidak asing bagi kita, tetapi bagi kebanyakan orang disiplin merupakan
suatu teka-teki yang sulit dipahami. Disiplin sangat berkaitan dengan usia dan tahapan
perkembangan pada anak-anak, karena setiap usia mempunyai kealamiahan dan karakteristik pola
tingkah laku tersendiri. Tidak semua dari disiplin membuat hidup terasa nyaman dan mudah untuk
yang lainnya. Belajar sebanyak mungkin mengenai perkembangan dan pertumbuhan akan
mencegah kita dari harapan yang bertentangan terhadap tingkah laku anak. Karena hal ini akan
menjadikan kita sabar, mudah menerima dan toleran ketika tingkah laku mereka (anak-anak) tidak
sesuai dengan yang kita inginkan.

Agar disiplin dapat dilakukan dengan baik, kita harus dapat menjaga personality anak, penegesan
yang kuat dan kesadaran diri dari tingkat usia yang berbeda, dalam hal ini dapat digunakan "Teknik
Perkembangan" untuk dapat mengendalikan anak sebaik mungkin setiap harinya.
Hal tersebut dapat kita lihat pada beberapa contoh berikut ini :
Usia 18 bulan, kata yang menjadi favorit anak adalah "Tidak!" dan yang menjadi
hubungan favorit anak adalah yang bertentangan dengan kita. Sebaiknya,hindari perintah
langsung seperti,"Cepat kemari!" Dorong dan bawalah Dia. Akan lebih baik jika kita
menjadikan lingkunganngya sederhana dengan menggunakan objek-objek yang berharga
untuk anda.
Usia 1,5 - 2 tahun, merupakan usia yang berlawanan yang ekstrem. Hindari
memberikan anak pilihan, karena akan menginginkan keduanya. Anak tidak dapat berbagi
dengan temannya ketika temannya tersebut menginginkan mainannya. Untuk mengatasi hal
tersebut, pergunakan kalimat pembuka seperti "Mari kita" dan "Bagaimana mengenai "
Anak seringkali merespon dengan tingkah yang berulang, misalnya jawabannya
seperti,"Tidak, tidak, tidak!" dengan "Ya, ya, ya!"
Usia 3 tahun, dapat meespon hubungan yang positif, seperti,"Duduklah di kursi!" tidak
menggunakan kalimat,"Jangan duduk di kursi!" Deskripsikan kata seperti "besar", "baru",
"berbeda", "kejutan", untuk memotivasi anak usia 3 tahun seperti,"Kamu seharusnya " dan
"Mungkin kita harus " Mereka dapat mendengar dan merespon suatu alasan. Mereka
merespon permainan tebak-tebakan, seperti menebak warna kaus kakinya ketika ia berganti
pakaian.
Usia 4 tahun, anak sudah mampu dibatasi dan diberi peraturan. Tetapi kita dapat
menjadikan modal rasa kasih sayang kita yang berlebihan terhadapnya,"Mari berloncatloncatan di tempat tidur!" dan ketertarikan ia terhadap anka-angka,"Dapatkan kamu berada
di bak mandi dalam hitungan ke 10!" Perintah yang dibisikkan sering mungkin dapat
mempnyai pengaruh yang dahsyat.
Sampai disini, yang dibutuhkan adalah serangkaian batasan dari tingkah laku, batasan yang
berhubungan dengan keamanan, kesehatan, dan kebenaran dari orang lain, dan pad masa yang
akan datang akan berguna bagi perkembangan anak.
Batasan ini akan mendorong dan melindungi anak dalam perkembangannya. Jika ditangani dengan
kasih sayang dan rasa hormat untuk perasaan anak, mereka akan memperoleh serangkaian
kebebasan untuk memperoleh kepercayaan dan keamanan dari orang dewasa yang berada
disekitarnya. Cara yang efektif untuk menerapkan disiplin pada anak adalah lakukanlah disiplin
tersebut secara konsisten dan yakin dengan tindakan yang kita lakukan.
Hak Cipta oleh 1999 Indonesia Interactive.
Penyelenggara Web Site Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia

Putri saya lincah & sehat sekarang 2,6th, 92cm, berat 11,5kg (lahir 2.400 gr & 47cm).Keluhan saya mengapa dari
waktu kecil dia tidak ngoceh, tengkurap umur 7bl, duduk 1th kurang seminggu, bisa jalan 18 bl. Sampai usia 2 th
hanya bisa bicara mama, ayah,apa,apak (maksudnya bapak),aa,aong,mbah). Dan sekarangpun dia baru bisa
bicara mama,ayah,kakak,uang,da da,buang,dedek,bawah dll. DAri membaca saya ketahui bahwa keterlambatan
anak saya, berarti ada masalah diotak kirinya, maka saya jadi risau, apakah anak saya kelak waktu sekolah
kecerdasannya setara dengan anak-anak seumurnya ? Saya selalu memberikan makanan yang bergizi kepada
anak saya(tapi makannya suka di emut & lama). Kalau saya tanyakan kedokter anak, selalu dijawab"bu perjalanan
mengasah kecerdasan anak ini masih panjang, jangan khawatir bu". Padahal saya tahu perkembangan anak saya
dari awal kok serba terlambat TErima kasih
Dikirim Tgl: 2002-06-26 11:39:12

Dear Rusma,
Setiap anak tumbuh dan berkembang sesuai keunikannya sendiri. Tidak ada yg sama dalam proses kembangnya.
Namun secara umum anak sudah mampu melakukan pengontrolan gerak kepala pada usia 6 bulan, dan mulai
menegakkan kepala pd usia 3 bln tengkurap dan berguling pada usia 5 bulan, duduk sekitar usia 4 - 6 bulan,
berdiri 7-9bulan, sedangkan berjalan 12-16 bulan. Pada usia 2 thn, anak sudah bisa melakukan percakapan duatiga kalimat, dan mulai bisa menggunakan kata2 sambung di,ke,dari. Jadi untuk mengoptimalkan kemapuan
kognitif anak anda dapat dilakukan dgn cara;
* membantu sikecil meningkatkan daya ingat dgn membacakan buku cerita dan memintanya membantu anda
menceritakan kembali isi crita.
* mengajak sikecil memperluas cakrawala berpikirnya dgn mengajaknya mengeksplorasi lingkungan disekitar
rumah, misalnya ke kebun lalu tanyakan apa saja yg ada dikebun dan tanyakan artinya.
* mengasah wawasan berpikir anak dgn menantangnya utk menemukan sebanyak mungkin fungsi dari benda2 yg
ada disekitarnya melalui sudut pandang yg berbeda, misalnya : buku selain untuk dibaca juga dapat utk kipas2, dll.
Untuk kemampuan bahasanya, bisa dgn mendorong anak agar mau mengekspresikan pikirannya secara verbal,
hal ini dapat membuat anak menjadi terbuka hingga dewasa, sebagai orang tua juga harus biasa menggunakan
tata bahasa yg baik dgn pengucapan yg benar sehingga anak yg memang belajar secara imitasi mampu
mengembangkan kemampuan bahasanya dengan baik, hati2 dgn pengaruh media elektronik yg bisa 'mengajarkan'
bahasa yg kurang baik bagi anak, jadi dampingi anak ketika menonton tv.
Baik sekali tetap memberikan makanan yg bergizi pada anak, diemut juga tdk apa2 asalkan asupannya tetap baik.
Namun anak harus dibiasakan makan dengan dikunyah, anda dapat mengajarkan dengan pura2 mengunyah
sesuatu. Yang terpenting adalaha kesabaran dan keikhlasan anda dalam membantu anak melalui proses tumbuh
kembangnya.
Semoga dapat membantu,
Klinik Anakku Erwina Yulianingsih
Dikirim Tgl: 2002-07-02 14:07:25

Rama, anak saya 7.5 Bl saat ini sudah bisa duduk dan mulai belajar maju dengan menggunakan lutut sambil
tengkurap bila ingin meraih sesuatu, pertanyaan saya : 1. Bagaimana mengajarkan dia merangkak dengan benar
dan usia berapa dia mulai bisa duduk sendiri (mengingat dia aktif sekali, tegak dan kuat bila duduk. 2. Mengapa
kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya sejak 2 minggu lalu adalah " papa, papa, iya, ngga " dan mengapa
bukan mama ? Tks a lot and waiting your early reply.
Dikirim Tgl: 2002-07-04 10:02:55

Dear Erwina,
Tahap anak mulai merangkak ditandai dgn kuatnya anak menyanggah lehernya.
Normalnya anak mulai belajar duduk bersamaan dgn keterampilanya berguling dan menegakkan kepala. Biasanya
terjadi diusia sekitar 6 bln. Sekalipun kematangan kemampuan duduk setiap anak berbada, para ahli berpendapat
hampir 90% anak dapat duduk tanpa ditopang setelah berusia diatas 8 bln. Ajaklah anak bermain sambil melatih
gerakan lehernya ke atas dan kebawah, yaitu dgn menggerakkan mainan kesayangannya. kegiatan ini dpt
memperkuat kekuatan lehernya yg berperan besar dalam menunjang perkembangan keseimbangan tubuh anak.
Setelah anak dpt duduk, jangan hentikan rangsangan anda. letakkan mainan atau benda yg menarik sedikit
berjarak didepannya. hal ini akan memotivasi anak utk meraihnya. Shingga anak akan mulai merangkak.
Diusia anak anda, perkembangan bahasanya sudah mulai meningkat. seringkali anak mengguanakan kata2 "papa"
atau "mama" tanpa bermaksud menunjukkan kata2 tsb ke anda atau ayahnya. Kemampuan bahasanya dimulai
ketika dia sudah mulai memahami/menengok ketika namanya dipanggil. dia akan mencari arah suara tsb.
biasakanlah menyebut diri anda dan suami dgn sebutan mama atau papa, krn dgn begitu anak mulai mengerti
bahwa papa itu ayahnya atau mama itu ibunya. Memang, anak lebih cepat memanggil papa daripada
mamanya...ini sudah umum sekali etrjadi dan masih dalam penelitian mengapa mama yg lebih intens bersama
anak, malah ayahnya yg dipanggil duluan. Tentunya anda merasa sedikit dicuekin yah Bu....Tapi, jangan kesal
dulu, kata orang2 tua dulu itu "sudah dari sananya".
Jadi, bukan karena anak lebih memperhatikan papanya dan mengabaikan anda....anak juga belum memahami
bahwa papa itu ditunjukkan utk ayahnya, terkadang panggilan itu dia anggap utk semua org dewasa
disekitarnya....Jadi, bersabar yah Bu...Nanti juga dia akan membuat anda terkagum2 ketika anda dipanggil 'mama'
dgn arti yg sebenarnya...... :-) dan jangan bosan memberi rangsangan untuk meningkatkan kemampuan anak ibu.
Salam hangat,
Klinik Anakku
yth. dokter, anak saya skr usia 2.5 th, pr. sebenarnya anaknya aktif, cuman kalau dengan orang baru dia jadi
pemalu dan membutuhkan waktu lama (4-5 jam) untuk berinteraksi. apakah dengan memasukkan dia ke play
group bisa mengubah perilaku dia ? dan apakah usia dia cukup untuk menerima pendidikan formal ? berapakah
usia ideal untuk tk/sd ? terima kasih
Dikirim Tgl: 2002-07-04 10:00:38

Dear Anis,
Pada usia 2-3 thn, anak sudah dapat berinteraksi dgn lingkungan di sekitarnya, namun reaksinya masih individual.
Jadi ada yg butuh waktu lama untuk beradaptasi atau bahkan ada yg sangat mudah. Biasanya anak pemalu
cenderung menghindari kontak sosial, menunjukkan sikap segan, ragu2, takut,tdk mudah percaya, dan kurang
berani mengambil resiko. Penyebab pemalu banyak sekali, salah satunya adalah perasaan tdk aman, kurang
percaya diri, dan sikap ortu yg over protective, terlalu sering dikritik,pola asuh yg tdk konsisten yaitu sebentar ketat,
sebentar longgar, atau anak yg sering mendapatkan hukuman dari ortunya. Sifat ini juga dapat ditiru dari orang
tuanya. anak adalah peniru yg baik lho Bu....Selama sifat pemalu ini masih dlm taraf wajar, tdk perlu cemas.
Namun bila sudah terlihat mencemaskan, anda dapat memberi bimbingan pada anak agar bisa keluar dari sifat
pemalunya. Untuk itu anda perlu memberikan pujian yg tulus atas perilaku anak, anda juga bisa mengajak anak
berkunjung kerumah saudara atau tetangga yg memiliki anak hampir seumuran dgn anak anda, atau ke mall
dimana anda bisa menunjukkan dan mengatakan bahwa ada byk anak seumuran dia yg sangat menyenangkan
bila diajak bermain bersama. Pada dasrnya kendala terbesar adl konsep dirinya yg sdh terlanjur negatif, oleh krn
itu anda harus menanamkan pemikiran positif ttg dirinya dan lingkungan sekitarnya. Bila sudah tdk dpt
ditanggulangi, maka anda sebaiknya berkonsultasi ke Psikolog utk melihat sejauh mana bantuan yg bisa diberikan
kpd anak anda.
Memasukkan anak ke play group sebenarnya baik2 saja, selama anak tdk merasa terpaksa menjalaninya. Usia 3 5 thn adl usia ideal prasekolah. Dgn memasuki pre school,anak belajar berinteraksi dgn org lain.
Namun, bila anak belum terlihat memilki hasrat utk sekolah formal sebaiknya jgn, karena anak akan merasa
terpaksa dan menganggap bhw sekolah adalah hal yg tdk menyenangkan. karena, pada usia 2,5 thn, anak masih
dalam fase bermain, jadi bila dimasukkan kedalam sekolah formal yg mengharuskan dia duduk, diam, dan
memperhatikan guru, tentunya ia akan merasa tdk nyaman. Jadi lebih baik anak dimasukkan ke taman bermain, yg
metodenya tidak terlalu formal dan lebih banyak mengajari anak dgn sarana permainan. setelah usia 5 thn barulah
anak ideal memasuki SD, krn pada usia ini kematangan kognitif anak mulai berkembang baik, dan anak sudah
mudah mengerti petunjuk dari org lain (guru). Untuk mengguagah minatnya terhadap belajar, anda bisa dgn
mengajari anak pengenalan huruf2, dgn membacakan cerita atau mengajak anak mengeksploarasi lingkungan
sekitarnya. Semoga ini dapat membantu yah Bu...............
Salam,
Klinik Anakku
redaksi yth..anak Saya berusia 13 bulan..udah bisa jalan..udah bisa mengeluarkan satu dua buah kata..Saya ingin
tau,berapa usia yang wajar untuk anak sudah bisa merangkai kalimat dengan baik, apa yang harus Saya lakukan
agar perbendaharaan katanya bisa cepat bertambah,trim buat jawabanya
Dikirim Tgl: 2002-07-02 14:08:16

Ibu Risma....
Perkembangan pemahaman anak nampak pesat ketika ia berusia kira2 12 bln,saat ia mulai memahami pernyataan
sederhana, seperti "tidak" atau "jangan", setelah berusia sekitar 24 bln barulah anak dapat diberi instruksi ganda.

Misalnya, "coba kamu kekamar ibu dan ambil sepatumu". Kesiapan belajar mengucapkan kata pertama yg
bermakna, terjadi di usia 12 s/d 14 bulan. meskipun ucapannya tepat dan jelas, namun ketika ia mengucapkan
kata 'papa' tak selalu 'ayah' yg dimaksudkannya. Seringkali kata itu mengacu kpd laki-laki dewasa. Yang dapat
dilakukan orang tua untuk mengoptimalkan perkembangan bahasa anak :
Doronglah si kecil agar mau mengekspresikan apa yg ada dalam pikirannya secara verbal. Pembiasaan ini bisa
saja membuat si kecil terbuka pada anda hingga dewasa. Biasakanlah berkomunikasi dirumah dgn bahasa yg baik,
dengan tata bahasa yg baik, alur yg runtun dan gaya bicara yg pas.
Hati-hati pada pengaruh media, dampingi anak dalam menonton televisi dan batasi tayangan yg dapat memberi
pengaruh buruk.
Biasakanlah membacakan cerita ke pada anak, dan mintalah anak untuk menceritakan kembali isi cerita dgn
gayanya. bila ada kata2 yg salah arti dan tempat, berilah petunjuk jgn langsung mengejeknya.
Biasakan anak untuk mengeksplorasi semua yg ada sekelilingnya, misalnya ke kebun, dan ajarilah makna dari
benda2 yg ada dikebun dgn bahasa yg mudah dimengerti anak.
Usia Kemampuan + 1thn Perbendaharaan bahasanya 10 kata
+ 15bln - 26 bln Perbendaharaan bahasanya 50 kata, menyebutkan hal2 yg berhubungan dgn bagian tubuh, mis :
sakit perut, dll.
+ 2 thn Melakukan percakapan dgn dua-tiga kalimat.
Masuk 3 thn Mulai dapat menggabungkan 2 kalimat berbeda, misalnya : "aku ambil boneka dan maun main diluar"
> 3 thn Perbendaharaan bahasa 1000 kata dan 80% dari kata tsb dapat dipahami dgn baik.
Semoga dapat membantu
Klinik Anakku
Saya seorang ibu dengan putra berumur 11 bulan. Anak saya tersebut sangat aktif. Setiap hari bermain ke sana
kemari tanpa henti. Terus terang, saya jada khawatir kalau anak saya hiperaktif. Sebenarnya, bagaimana ciri2 anak
hiperaktif? Apakah kalau dibiarkan saja anak saya bisa menjadi hiperaktif? karena ayahnya cenderung untuk
membiarkan anak saya untuk bereksplorasi dengan dunia sekitar. Apakah ada tips2 untuk menghadapi anak yang
sangat aktif dalam bermain atau memberikan mainan terhadap sang anak? Terima kasih.
Dikirim Tgl: 2002-06-18 10:17:21

Dear Lisa,
Anak hiperaktif sebenarnya bisa dikenali sejak bayi. (bandingkan anak / bayi anda dengan bayi lain yang
seusianya) Bayi yang hiperaktif biasanya mempunyai tanda-tanda sebagai berikut :
-Banyak bergerak (Menendang-nendang,melonjak-lonjak dan meronta), dibandingkan anak seusianya.
-Baru tidur larut malam.
-Apabila sudah terlelap, anak / bayi juga banyak bergerak, sehingga mungkin saja sering terjatuh dari tempat tidur.
Sering kali gerakan yang banyak ini juga sudah dirasakan sejak di dalam kandungan.
Ibunya akan bercerita bahwa janinnya banyak bergerak dan menendang atau menyikut.
Apabila anak sudah dapat berjalan, maka ia akan berlari-lari, tak dapat duduk tenang di kursi, sulit berkonsentrasi,
cepat teralih perhatiannya, orang tua menyatakan bahwa anaknya pemberani, tak ada orang yang ditakuti dan juga
tak takut bahaya.
Gejala utama hiperaktif adalah :
1. Inatensi : pemusatan perhatian yg kurang dan minim sekali. dapat dilihat dari kegagalannya memberikan
perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tdk mampu mempetahankan konsentrasinya.
2. Hiperaktif : perilaku tdk bisa diam, banyak bicara dan menimbulkan kegaduhan dan suara berisik
3. impulsif : kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan kuat utk mengatakan atau melakukan
sesuatu secara tak terkendali. sisi lain dari impulsif adalah anak berpotensi tinggi utk melakukan aktivitas yg
membahayakan diri dan orang lain. sangat pemberani. Gangguan diatas sudah ada dan menetap menjadi ciri2nya
minimal 6 bulan dan terjadi sebelum anak berusia 7 thn.
Jadi, bila anak ibu memiliki ciri2 seperti diatas, sebaiknya konsultasikan kpd psikiater/psikolog, karena bila perilaku
ini dibiarkan maka akan sangat mengganggu dikehidupannya mendatang.
Memang tepat seperti yg dikatakan suami ibu, bahwa anak anda berada pada fase eksplorasi dan pegembangan
kognitifnya.
jadi, rasa ingin tahu yg dimiliki anak sangat besar. untuk mengimbanginya, anda tentunya harus memiliki energi
ekstra, karena selain anak akan byk bergerak, tentunya anak akan memiliki suatu perasaan penasaran terhadap
sesuatu. Anda dapat mebantunya dgn mendampinginya bermain, menjawab semua pertanyaan2nya dgn logis,
memberikan larangan bila anak mulai main dgn hal yg berbahaya, namun dgn alasan yg dimengerti anak. Anak
dapat diberikan mainan yg membutuhkan konsentrasinya, misalnya menyusun balok, membuat rumah2an,
menyususun puzzle, dan usahakan anak menyelesaikan permainannya sampai selesai.
Semoga keterangan singkat ini dapat membantu ibu.
Salam,
Klinik Anakku
Anak saya 18 bulan 2 mgg, sejak berumur 14 bulan, mulai tidak mau makan. Sebelumnya dia sangat suka makan.
Pada usia 13 bln B = 12,8 kg. Sekarang bBB = 11 kg. Saya perhatikan dia kalau makan apapun selalu di"lepeh".
Dia suka sekali biskuit Regal, tapi itupun tdk pernah ditelan. Saya sdh coba banyak vitamin, memvariasikan jenis
makanan, menciptakan suasana makan yg menyenangkan tapi tetap saja dia tdk mau makan. Sdh ditest paru-paru
& pencernaannya, hasilnya tdk ada masalah. Saya sampai pernah mencoba memasukkan makanannya ke dlm
botol susu yg lubang dotnya sdh dibesarkan, tapi setelah makanan itu masuk ke mulut langsung didorong keluar
oleh lidahnya. Tapi untuk susu dan sari buah dia tidak ada masalah. Dia sehari minum 880 cc susu. Dia juga masih
saya sediakan bubur tim saring. Krn saya pernah coba beri tim cincang, nasi lembek sampai nasi keras, semuanya
di"lepeh" juga. Mungkinkah dia pernah mengalami trauma di tenggorokannya, shg dia tdk mau ada makanan
apapun selain susu & sari buah ?? Tolong saya ibu/bapak psikiater/psikolog yg baik.
Dikirim Tgl: 2002-06-08 10:14:00

Dear Lysta,
Ada beberapa alasan penting kenapa anak malas makan, yaitu sariawan, radang tenggorokan, diare yg dpt
menghambat nafsu makan, serta rasa mual. Hal pertama yg bisa diperhatikan adalah masalah fisik yg menyangkut
kesehatan anak yg dapat segera ditanggulangi. Bisa jadi anak anda pernah mengalami trauma ketika menelan
sesuatu, jadi dia memiliki pengalaman yg tidak menyenangkan ketika harus menelan makanan yg agak keras.
Repot juga yah Bu bila semua makanan yg diberikan dilepehnya, tapi jgn berkecil hati. Pada usia 1 sampai 2 thn
anak mulai menunjukkan kekeras kepalaannya, mulai membangkang dan senang sekali mengucapkan tidak atau
melakukan hal2 yg berlawanan dengan anda atau pengasuhnya. dengan membangkang anak sedang melatih
kemandiriannya serta menguji otoritas anda. hal ini dilakukan krn anak ingin menunjukkan bahwa ia kini menjadi
individu yg terpisah dari orang tuanya. kedengarannya aneh yah Bu....kok anak sekecil itu sudah tau konsep
individu yah ? namun begitulah kenyataannya. Namun yg perlu anda ingat bahwa penolakan yg dilakukan adalah
bukan penolakan terhadap anda namun anak sedang berasa pada fase negativistik, fase ini adalh fase penting
dalam pembentukan ekspresi diri dan merupakan dasar bagi pembentukan ego (keakuan) serta langkah penting
dalam membentuk kepribadiannya. Selain fase negativistik tadi, anak yg tertekan juga akan sulit makan, jadi
curahkanlah perhatian anda kpdnya sehiungga anak merasa dicintai Hal pertama yg dpt anda lakukanketika anak
menolak makan adl, bersikap rileks dan peka menghadapi penolakan anak. fokuskan perhatian pada masalahnya
terlebih dahulu, masalah gangguan fisik atau emosional (trauma). lalu cari solusi pemecahannya. anda tdk perlu
tergesa2 memberinya makan, sikap sabar sangat membantu, krn bila anda memaksa anak akan semakin keras
menolaknya krn egonya merasa terganggu. Cobalah sajikan makanan dalam bentuk kecil, sehingga anak tidak
merasa 'ngeri'. berikanlah peralatan makanannya sendiri, sambil anda mendukung dan mengakrabkannya klembali
dgn makanan. jika masalah makan ini diiringi muntah dan penurunan berat badan, segera hubungi dokter.
Salam hangat,
Klinik Anakku

Topik: Belajar Rini Siska Yanti


Dikirim Tgl: 2002-05-30 14:57:57

Putri saya (4,9 th) saat ini di TK A. Sejak umur 3 th sudah di Play Group. Tapi sampai saat ini anak saya belum bisa
menulis angka 1-10 dan belum hapal semua abjad (hanya bisa beberapa angka & huruf saja). Padahal selain
sekolah, dia juga ikut les privat. Yang ingin saya tanyakan : 1. Termasuk anak yang terlambatkah perkembangan
anak saya? 2. Pola belajar yang bagaimana yang harus saya ajarkan supaya anak saya pintar? 3. Anak saya
termasuk anak yang cepat lupa dan tidak bisa berkonsentrasi. Thanks atas jawabannya.
Dikirim Tgl: 2002-06-08 10:14:50

Dear Rini,
Kesiapana anak dalam melalui tingkat pendidikannya bisa dilihat dari kematangan usia dan kematangan
intelektualnya, dan juga hasratnya dalam menerima pelajaran.Bila anak belum memiliki keinginan untuk belajar
tentunya sulit memberikan pelajaran kepadanya. Hasrat anak dalam belajar bisa dilihat dari ketertarikan anak pada
buku baik hanya melihat gambar atau keinginannya untuk atau apa yg tertulis pada buku itu. Atau ketika anak
dimasukkan kesekolah, anak tidak terlihat tertekan dan merasa senang. Usia 4-5 tahun dikenal dgn usia
prasekolah. ditandai dengan perluasan pergaulan dan kegiatan bermain. anak mulai mengembangkan
kemampuan intelektualnya dengan kegiatan bermain. Jadi bila anak dipaksa untuk selalu tetap belajar dgn
memberikan byk les privat kpdnya tentunya anak akan merasa tertekan dan akhirnya apa yg diajarkan oleh guru
tdk dapat ditangkap dengan baik.Perkembangan anak anda sepertinya tidak terlalu terlambat, tp memang ada
beberapa anak yg mudah menerima pelajaran ada yg sulit. Tugas anda adalah memberikan dorongan dan
semangat pada anak untuk mempelajari pelajarannya, berilah dia pujian bila dia berhasil mengahfal 10 abjad
misalnya. kemudia dilanjutkan dgn pengenalan abjad lainnya. Jangan menggantungkan semua keberhasilan anak
kpd gurunya, namun anda juga harus bisa menjadikan suasana belajar dirumah menyenangkan. anda bisa
memberikan mainan berupa bentuk2 abjad atau angka dengan warna2 menarik. atau ketika anda jalan2, anda bisa
memperkenalkan nama benda dengan mengeja hurufnya. ciptakan suasana seenak mungkin, sehingga anak
merasa tidak mendapat tekanan dalam belajar. Untuk angka pada usia 4 thn anak sudah akan mampu menghitung
sampai 39, namun anak baru melihat angka sebagai objek bukan konsep angkanya. Untuk melatih konsentrasinya,
anak dapat dilatih dengan membacakannya sebuah cerita dan menanyakan kembali isi cerita yg anda bacakan.
bila ia tidak ingat, bantulah anak mengingat, jgn dimarahi. atau ajaklah anak anda bermain puzzle dan jgn biarkan
anak anda meninggalkan puzzlenya bila ia belum selesai. atau untuk pastinya anda bisa membawa anak anda ke
psikolog anak untuk melihat IQ, kesiapan anak dalam belajar, bakat dan minatnya. dengan begini anda dapat
mengambil tindakan selanjutnya.
Salam,
Klinik Anakku
Anak Kurang Bergaul dan Jahil
Di sekolah, si kecil enggan bergaul dan memonopoli permainan. Ia juga seringkali jahil, mengganggu teman.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang sulit, karena pada masa inilah nilainilai mulai ditanamkan. Beberapa ahli mengatakan, pada usia ini masa egosentris sedang dialami oleh anak. Pada
masa ini, mereka menjadi pusat bagi lingkunagnnya. Bila mempunyai benda-benda, mereka secara tgas
memisahkan miliknya sengan milik orang lain. Misalnya saja, ini buku si A, itu kucing si B, dan sebagainya. Hal ini
dapat berlanjut ke usia selanjutnya bila mereka tidak diajarkan untuk berbagi atau bertnggang rasa.
Memonopoli setiap permainan, bukanlah masalah besar, bila usia anak baru 4 tahun. Karena pada usia ini, masih
tersisa masa egosentrisnya. Sayangnya, lingkungan seringkali kurang memberi peluaang bagi anak untuk belajar
berbagi rasa atau bersosialisasi dengan teman sebayanya, sehingga sifat egosentris si kecil makin menjadi. Hal ini
sering dialami oleh cucu pertama dan anak bungsu. Mereka sering menjadi pusat pemanjaan.

Perbedaan penerapan disiplin antara orangtua dan kakaek atau anggota keluarga lainnya, misalnya, tentu saja
berpengaruh buruk pada anak.
Anak berusia 4 tahun belum memahami nilai benar atau salah. Pengetahuan tentang mana yang benar dan yang
salah merupkan suatu proses yang berlangsung terus menerus. Pada orang dewasa saja, kekeliruan dapat terjadi,
terutama dalam lingkungan yang berbeda. Bagi anak, taman kanak-kanan merupakan masyarakat baru. Aturanaturan yang berlaku di TK berbeda dengan di rumah. Karena itu, ia perlu memahami tata cara atau norma yang
berlaku di TK. Tentu saja ini perlu waktu.
Perilaku jahil yang sering ia lakukan anak memang tidak selalu menimbulkan protes dari orang tua murid lain. Hal
itu mungkin saja terjadi, karena mereka mengerti bahwa sikap jahil yang dilakukan anak masih dalam taraf wajar.
Karena, jahil kadang-kadang juga merupakan bentuk komunikasi di antara anak. Mereka melakukan kontak
hubungan dengan cara jahil, karena komunikasi memang tidak harus dalam bentuk sikap bermanis-manis dengan
yang lain. Berdebat dan saling berteriak, misalnya, merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi. Yang perlu
dicegah adalah perkelahian atau beradu fisik.
Selalu memantau dan was-was tentang apa yang akan dilakukan oleh anak, tentu melelahkan. Dibutuhkan sikap
santai dalam menghadapi anak, meski bukan berarti melepaskan tanggung jawab pada keselamatan dan
perkembangan fisik dan mental anak. Dalam hal ini, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orangtua.
Energi anak sangat besar, sehingga mereka lebih cnderung bergerak. Usahakan agar anak
membuang energinya untuk hal-hal yang positif, seperti berenang. Buatkan ajdwal kapan ia harus
berenang sehingga dapat bertemu dengan teman sebaya. Pertemuan dengan teman sebaya akan
membuat anak belajar bergaul dan disiplin. Ia dapat belajar bahwa masyarakat mempunyai aturannya
masing-masing.
Jika anak berminat di bidang seni, ikut sertakan ia belajar bersosialisasi karena ia harus mengikuti
tata cara kelompoknya.
Kesibukan di rumah seperti membereskan kamarnya sendiri, meletakkan alat-alat permainan, alat
sekolahnya sendiri, merupakan aktivitas yang mengajarkan disiplin dan tata tertib. Hal ini perlu
dilakukan dengan perjanjian bersama antara orang tua dengan anggota keluarga lainnya. Ajarkan
pula membedakan barang miliknya dan barang orang lain. Jangan mengambil atau meminjam barang
yang bukan miliknya tanpa persetujuan yang punya.
Ajak anak untuk membantu atau terlibat dengan kegiataan yang berhubungan dengan saudaranya
seperti membantu mengambilkan atau memilihkan baju adik setiap adik selesai mandi, dan bermain
dengan adik dengan pengawasan. Ini juga untuk melatih sosialisasi dan tenggang rasa terhadap anak
yang lebih kecil.
Ajarkan pada anak untuk meminta maaf apabila ia berbuat salah. Tetapi jangan lupa menjelaskan
letak kesalahannya. Ini juga berlaku untuk kesalahan yang tidak disengaja. Sikap seperti ini harus
dicontohkan oleh orang tua. Bila orang tua melakukan kesalahan terhadap orang tua. Bila orang tua
melakukan kesalahan terhadap anak, ia juga harus meminta maaf kepad anak. Dengan demikian
anak terbiasa menghargai perasaan orang lain.
Sediakan buku bacan anak-anak yang berisi ajaran moral dan kebahagiaan. Bila anak belum dapat
membaca, orang tua dapat membacakan untuk anak.
Dari Berbagai Sumber
Masa-Masa Penting Pertumbuhan Anak
oleh: Emmy Soekresno, S.Pd.
Anak adalah aset bagi orang tua dan di tangan orangtualah anak-anak tumbuh dan
menemukan jalan-jalannya. Saat si kecil tumbuh dan berkembang, ia begitu lincah
dan memikat. Anda begitu mencintai dan bangga kepadanya. Namun mungkin
banyak dari kita para orangtua yang belum menyadari bahwa sesungguhnya dalam
diri si kecil terjadi perkembangan potensi yang kelak akan berharga sebagai sumber
daya manusia.<O:P
Dalam lima tahun pertama yang disebut eThe Golden Years f , seorang anak
mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang. Pada usia ini 90% dari fisik
otak anak sudah terbentuk. Karena itu, di masa-masa inilah anak-anak seyogyanya
mulai diarahkan. Karena saat-saat keemasan ini tidak akan terjadi dua kali, sebagai
orang tua yang proaktif kita harus memperhatikan benar hal-hal yang berkenaan
dengan perkembangan sang buah hati, amanah Allah.<O:P
Urgensi mendidik anak sejak dini juga banyak disebutkan dalam Al Qur'an dan Al
Hadits antara lain :<O:P

@
1. Terjemahan QS. At Tahrim (66) ayat 6<O:P</O:P
"Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang..."<O:P</O:P
Memelihara, menurut sayyidina Ali: didik dan ajarilah, sedangkan menurut sayyidina
Umar: melarang mereka dari apa yang dilarang Allah dan memerintahkan mereka
apayang diperintahkan Allah.<O:P
</O:P
2. Terjemahan Al Hadits<O:P</O:P
"Setiap yang dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya yang
menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi".<O:P</O:P
Hadits: seorang bayi mengencingi Rasulullah.<O:P</O:P
Di dalam buku "Pendidikan Anak Dalam Islam" karangan Abdullah Nashih Ulwan
disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan tentang 7 (tujuh) segi
dalam mendidik anak, yaitu :<O:P
</O:P

1. Segi Keimanan<O:P</O:P
- menanamkan prinsip ketauhidan, mengokohkan fondasiiman ;<O:P</O:P
- mencari teman yang baik ;<O:P</O:P
- memperhatikan kegiatan anak.<O:P</O:P
2. Segi Moral<O:P</O:P
- kejujuran, tidak munafik ;
- menjaga lisan dan berakhlak mulia<O:P</O:P
3. Segi Mental dan Intelektual<O:P</O:P
- mempelajari fardhu 'ain dan fardhu kifayah ;<O:P</O:P
- mempelajari sejarah Islam ;<O:P</O:P
- menyenangi bacaan bermutu yang dapat meningkatkan kualitas diri ;<O:P</O:P
- menjaga diri dari hal-hal yang merusak jiwa dan akal<O:P</O:P
4. Segi Jasmani<O:P</O:P
- diberi nafkah wajib, kebutuhan dasar anak seperti makanan, tempat tinggal,
kesehatan, pakaian danpendidikan ;<O:P</O:P
- latihan jasmani, berolahraga, menunggang kuda, berenang, memanah, dll
;<O:P</O:P
- menghindarkan dari kebiasaan yang merusak jasmani<O:P</O:P
5. Segi Psikologis<O:P</O:P
- gejala malu, takut, minder, manja, egois dan pemarah<O:P</O:P
6. Segi Sosial
- menunaikan hak orang lain dan setiap yang berhak dalam kehidupan ;
- etika sosial anak
7. Segi Spiritual
- Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraan, melihat setiap gerakgeriknya dan mengetahui apa yang dirahasiakan ;
- memperhatikan khusu', taqwa dan ibadah
Jika begitu banyak yang harus kita ajarkan pada anak, kapan waktu terbaik untuk
memulai pendidikan kepadabuah hati ?
Simaklah beberapa hasil penelitian baru berikut ini :
1. Fakta tentang otak :
a. Saat lahir, bayi punya 100 miliar sel otak yang belum tersambung. Pada usia 0-3
tahun terdapat 1000 triliun koneksi (sambungan antarsel). Pada saat inilah anak-anak
bisa mulai diperkenalkan berbagai hal dengan cara mengulang-ulang :
- memperdengarkan bacaan Al Qur' an ;
- Bahasa Asing seperti bahasa Inggris ;
- memperkenalkan nama-nama benda dengan cara bermaindan menunjukkan gambar
;
- memperkenalkan warna dengan menunjukkan kepadanya dalam bentuk benda yang
dia kenal, warna-warna cerah di kamarnya dan gambar ;
- memperkenalkan aroma buah melalui buku ;
- membacakan cerita atau dongeng
Pada usia 6 tahun, koneksi yang terus diulang (mengalami pengulangan pengulangan) akan
Menjadi permanen. Sedangkan koneksi yang tidak digunakan akan dipangkas alias
dibuang.
Oleh karenanya, usia sebelum 6 tahun adalah saat yang tepat untuk mengoptimalkan
daya
Serap otak anak agar tidak terpangkas percuma.
b. Otak yang belum matang rentan terhadap trauma, baik terhadap ucapan yang
keras maupun tindakan yang menyakitkan. Susunan otak terbentuk dari pengalaman.
Jika pengalaman anak takut dan stress, maka respons otak terhadap dua hal itulah
yang akan menjadi arsitek otak sehingga dapat merubah struktur fisik otak. Itulah
mengapa kita harus menghindarkan diri dari memarahi anak atau memukulnya. Jika
anak kita melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak sopan,
sebaiknyalah kita mulai mengajarkannya mana yang betul dan sopan santun dengan
cara yang arif serta penuh kesabaran. Kita dapat mencontoh bagaimana Rasulullah
saw. Bersikap sangat penuh kasih sayang terhadap anak-anak.
c. Otak terdiri dari dua belahan yaitu kanan dan kiri yang memiliki fungsi yang
berbeda namun saling mendukung.
- Pekerjaan otak kiri berhubungan dengan fungsi verbal, temporal, logis, analitis,
rasional serta kegiatan berpola.
- Pekerjaan otak kanan berhubungan dengan fungsi kreatif dan kemampuan bekerja
dengan gambaran (visual) dan berfikir intuitif, abstrak dan non-verbal serta
kemampuan taktil/motorik halus pada tangan, termasuk pembentukan akhlak dan
moral.
Sistem pendidikan kita maupun ilmu pengetahuan pada umumnya cenderung kurang
memperhatikan kepandaian yang tak terucapkan. Jadi, masyarakat modern
cenderung menganaktirikan belahan otak kanan.
Menurut Bob Eberle, seorang ahli pendidikan, "prestasi pikiran manusia memerlukan
kerja yang terpadu antara belahan kiri dan otak kanan". Kalau tujuan kita adalah
mengembangkan pribadi yang sehat dan jika kita ingin menumbuhkan kreativitas
secara penuh, maka diperlukan pengajaran untuk menuju keseimbangan antara
fungsi kedua belahan otak itu.
2. Fakta tentang stress
a. Anak yang mengalami stress pada usia kritis 0-3 tahun akan menjadi anak yang
hiperaktif, cemas danbertingkah laku seenaknya.

b. Anak dari lingkungan stress tinggi mengalami kesulitan konsentrasi dan kendali diri.
c. Cara orang tua berinteraksi dengan anak di awal kehidupan akan membuat dampak
pada perkembangan emosional, kemampuan belajar dan bagaimana berfungsi di
kehidupan yang akan datang.
3. Ciri-ciri anak pada milenium kedua :
- mampu berpikir cepat ;
- mampu beradaptasi dengan cepat dan benar ;
- memiliki keimanan kuat sebagai filter ;
- menguasai bahasa dunia ;
- mampu menyelesaikan masalah dengan cepat ;
- orang tua mempunyai 7 kebiasaan efektif.
Dilihat dari berbagai hasil penelitian di atas dapat diperoleh gambaran tentang waktu
terbaik dalam memulai mendidik anak yaitu sedini mungkin. Juga bagaimana
seharusnya sikap kita dalam menghadapi anak agar otaknya tidak mengalami
trauma, serta dapat lebih meyakinkan kita lagi sebagai orang tua untuk terus
menerus menambah ilmu agar dapat membantu anak mengembangkan potensi
dirinya secara maksimal.
Satu pesan sederhana dalam mendidik anak, yang mungkin belum kita sadari
sepenuhnya. Betapa banyak yang dapat kita ajarkan kepada anak kita tiap hari,
hanya dengan berada di dekatnya. Dengan mengasuh, bermain dan bercakap-cakap
dengan bayi kita yang mungil, kita bisa menjadi guru pertama bagi si kecil. Jangan
lupa anak tumbuh dan berkembang sangat pesat, pakailah prinsip e it's now or
never e (kalau tidak sekarang berarti tidak sama sekali) dalam mendidik anak.
Wallahu a'lam bi showwab.
Ya Allah berikanlah berkat dan kemampuan kepada kami untuk mendidik, merawat
dan mengasuh anak-anak kami. Amiin.
Disampaikan pada
SEMINAR HARI ANAK NASIONAL
Jumat 28 Juli 2000
Auditorium Gedung B Lantai 2, Departemen Keuangan.
Jalan DR. Wahidin, Jakarta Pusat.

Meningkatkan Kecerdasan Anak Balita dengan Cepat dan Pasti !


Tips Ampuh untuk Orangtua yang Keduanya Bekerja
oleh : Taufan Surana
Jika anda masih ingat dengan hasil penelitian terbaru yang dimuat
di website www.balitacerdas.com, disitu ditulis :
"TIGA TAHUN PERTAMA dalam kehidupan anak merupakan
masa yang paling sensitif, yang akan SANGAT MENENTUKAN
perkembangan otak dan kehidupannya di masa mendatang."
Mengapa begitu ?
Bagian TERPENTING tubuh kita, yaitu OTAK, tumbuh dengan
sangat pesat pada awal kehidupan, dan akan mencapai 70-80%
pada 3 TAHUN PERTAMA !
Bayangkan ! Otak yang begitu penting ini ternyata sebagian besar
ditentukan pada awal kehidupan kita.
Saya sempat SHOCK membaca hasil penelitian ini !
Artinya, jika anda menginginkan anak anda tumbuh dengan kondisi
yang TERBAIK, maka anda harus menginvestasikan waktu dan
apapun pada 3 tahun pertama ini, lebih dari waktu yang lain.
Jika anda mengabaikan begitu saja rentang waktu 3 tahun pertama
ini, maka anak anda tidak akan berkembang dengan maksimal,
dan anak anda akan menjadi anak yang biasa-biasa saja.
Apakah itu yang anda inginkan ? Tentu saja tidak !
Jika kita sebagai orangtua bisa melakukan yang terbaik bagi anak,
maka itulah KEWAJIBAN kita untuk memberikan HAK anak kita.
Di buku berbahasa Jepang yang berjudul "Anak Cerdas dengan
IQ 200 Ditentukan oleh IBUNYA", dicantumkan hasil interview
terhadap banyak sekali ibu yang berhasil mendidik anaknya
menjadi sangat cerdas sekali.
Intinya, peran ibu yang BENAR pada 3 TAHUN PERTAMA akan
sangat menentukan kecerdasan anaknya.
Maksud kata yang "BENAR" disini, tidak ada hubungannya apakah
sang ibu tersebut bekerja ataukah sebagai ibu rumah tangga
secara full-time.
Disini saya akan sampaikan TIPS yang sangat AMPUH yang
HARUS dilakukan oleh ibu, terutama ibu yang bekerja karena
waktu bersama dengan anak sangat terbatas.
Tetapi sebenarnya juga perlu diperhatikan oleh ibu rumah tangga
yang full-time, karena biasanya, karena merasa punya waktu
banyak dengan anak, tetapi justru tidak segera dilakukan
dengan konsisten.
Apa saja tips tersebut ?
PERTAMA,
Berikan waktu 1 JAM KHUSUS setiap harinya, tanpa boleh
diganggu gugat oleh kegiatan lain, untuk anak anda untuk
berinteraksi dengan kegiatan yang efektif bagi perkembangan
kecerdasannya.
Untuk memberikan gambaran yang nyata, saya terjemahkan
saja garis besar salah satu hasil wawancara di buku yang
saya sebutkan diatas tadi.
Seorang ibu yang sekaligus wanita karir yang bernama Sakane
berhasil mendidik anaknya, Akio (3 th 5 bln) mencapai IQ 198.
(catatan : IQ rata-rata anak pada umumnya adalah 90 s.d. 109).
Sebagai seorang wanita karir, Ms. Sakane terpaksa harus menitipkan
Akio di TPA (Tempat Penitipan Anak) sejak usia 3 bulan, dari pagi
dan dijemput jam 5:30 sore. Tiba di rumah biasanya sekitar jam 6 lebih.
Setelah itu, sebelum menyiapkan makan malam pada jam 7:30,

Ms. Sakane memberikan WAKTU KHUSUS selama 1 JAM kepada


Akio untuk melakukan program pendidikan anak.
Ms. Sakane bercerita :
----------"Karena saya bekerja, waktu 30 MENIT sebelum membawa Akio ke
TPA dan 1 JAM setelah pulang ke rumah merupakan waktu yang
SANGAT BERHARGA. Waktu 1 jam ini, jika saya melakukan hal-hal
lain yang bermacam-macam akan menjadi waktu yang hilang begitu
saja. Tetapi waktu 1 jam ini saya tentukan khusus untuk Akio, tanpa
melakukan hal lain apapun juga.
Saya gunting gambar-gambar binatang dan gambar yang menarik
lainnya dari buku/majalah, kemudian saya buat kartu bergambar
dan saya tunjukkan kepada Akio satu-per-satu.
Pada awalnya saya berpikir, apakah ada artinya saya mengajarkan
hal-hal kecil ini. Tapi, karena saya pernah mendengar bahwa hal ini
sangat baik untuk "olah raga" otak, maka saya teruskan juga.
Anak saya sepertinya sangat senang sekali melihat gambar yang
berubah dengan cepat dan terus-menerus, dia melihatnya dengan
sungguh-sungguh. Pada awalnya saya khawatir apakah hal ini ada
hasilnya, tetapi begitu Akio mulai bisa bicara, saya menjadi yakin
dan berpikir, " Oo.. ternyata dia mengerti !".
Setelah itu saya perkenalkan dengan "DOTS CARD" (kartu untuk
belajar berhitung), dan menjadi mahir berhitung tambah-kurang-kali-bagi.
Sekarang Akio sudah mulai bisa perhitungan "akar" dan persamaan
tingkat tinggi. Sayapun menjadi bangga kepada diri saya sendiri.
Sekarang, jika saya pulang, dia langsung membawa dots card dan
berkata, "Mainan ini yoook...."
---------Dari situ kita bisa melihat bahwa jika waktu yang sebentar itu hanya
untuk bermain yang tidak jelas, maka waktu tersebut akan hilang
begitu saja. Dengan hal-hal seperti diatas, akan besar sekali manfaat
yang diperoleh oleh anak kita.
Pengalaman saya sendiri, setelah beberapa bulan menerapkan hal
yg sama kepada kedua anak saya, Rihan (4 th) dan Afi (1 th 4 bln),
hasilnya cukup mulai kelihatan.
Rihan sudah sangat lancar membaca Bahasa Jepang (huruf Hiragana
dan Katakana) sejak usia 3 tahun. Untuk Bahasa Indonesia, dan
Bahasa Inggris, kelihatan berkembang dengan lebih baik berkat
penerapan kartu bergambar tersebut (istilah populer dalam pendidikan
anak adalah FLASH CARD).
Sedangkan Afi, walaupun belum bisa berbicara, sudah kelihatan
sekali senang dengan huruf dan buku. Bangun tidur pagi, dia
biasanya langsung mengambil bukunya untuk minta dibacakan
ataupun dia lihat-lihat sendiri. Kelihatan sangat lucu sekali melihat
anak seusia Afi "membaca" buku sendiri sambil kadang-kadang
mengeluarkan suara yang bermacam-macam :)
Jadi, jika anda belum melakukan hal yang sama,
SEGERA anda lakukan permainan ini kepada anak anda. Cukup
HANYA 1 JAM sehari, tetapi pengaruhnya sangat luar biasa.....
dan ini sudah TERBUKTI !
Di buku yg saya sebutkan di atas dikatakan bahwa saat ini di
Jepang sedang terjadi "REVOLUSI SECARA DIAM-DIAM" dalam
pembelajaran anak usia dini ( 0 s.d. 3 Tahun ).
Dan sayapun merasakannya dengan melihat semakin banyaknya
masalah pembelajaran usia dini dibahas di media massa.
Selain itu, di grup 4 tahun 'sekolah'-nya Rihan (selevel TK A di
Indonesia (?)), semuanya sudah lancar membaca.
Jika kita tidak segera melakukan hal yang sama kepada anak-anak
kita, akan semakin tertinggallah bangsa kita ini !
Marilah kita ikut mencerdaskan generasi masa depan kita dengan
dimulai dari keluarga kita sendiri.
Tips yang KEDUA,
Untuk para orangtua yang bekerja, anda perlu MEMONITOR dan

memberikan PENGARAHAN yang benar kepada babysitter atau


siapa saja yang mengasuh anak anda tentang kegiatan yang perlu
dilakukan oleh anak anda selama anda tidak di rumah.
Buatlah DAFTAR KEGIATAN anak anda dengan jelas, sehingga
babysitter anda tahu apa yang harus dilakukan setiap harinya
dalam hal kegiatan yang mampu memberikan stimulasi pada
perkembangan kecerdasan anak, baik kecerdasan intelektual,
emosi maupun perkembangan fisik dan sosialnya.
Jangan sampai babysitter anda hanya bertugas menjaga SAJA,
tanpa memberikan stimulasi-stimulasi yang sangat diperlukan
oleh anak anda.
Akan sangat kasihan sekali anak anda nantinya, jika
lingkungannya di masa yang sangat haus akan stimulasi ini
ternyata tidak memberikan HAK-nya yang akan menjadi HARTA
yang PALING BERHARGA di masa depan.
Cara yang pernah kami lakukan ternyata SANGAT EFEKTIF dan
MUDAH diikuti oleh babysitter kami dulu. Sayangnya, cara
pembuatan daftar tersebut tidak bisa dijelaskan dengan baik
melalui newsletter ini, karena diperlukan gambar tabel kegiatan.
Jika anda mempunyai eBook "3 Tahun Pertama yang Menentukan",
saya anjurkan sekali untuk segera menerapkan cara kami tersebut,
seperti yang dijelaskan di bagian "Memilih Pengasuh Anak yang
Berkualitas", yang merupakan salah satu dari "10 Tindakan
Penting untuk Merangsang Perkembangan Otak Anak".
Jika anda belum punya eBook "3 Tahun Pertama yang Menentukan",
saya anjurkan sekali untuk SEGERA mendapatkannya, karena
informasi yang tersedia SANGAT PENTING untuk diterapkan demi
masa depan anak anda.
Ingatlah selalu, waktu terpenting dalam kehidupan anak anda terus
berjalan dengan cepat.
IT'S NOW OR NEVER !
Selamat menerapkan tips diatas dengan KONSISTEN setiap harinya.

Anak Anda Agresif ?

oleh : Taufan Surana

@
Jika anda mempunyai buah hati berusia 2 s.d. 3 tahun, anda mungkin
sering dibikin pusing karena anak anda agresif, suka memukul,
menggigit atau jenis kekerasan yang lain.
@
Anda mungkin sedikit shock jika saya katakan bahwa perilaku agresif
anak anda itu adalah perilaku NORMAL dalam perkembangan anak.
@
Mengapa ?

Usia 2 s.d. 3 tahunan bisa dikatakan sebagai usia transisi awal pada
perkembangan anak, dimana anak sedang mengalami keinginan yang
sangat besar untuk menjadi mandiri.

@
Dilain pihak, kemampuan bahasa anak masih belum mencapai tahap
yang cukup untuk bisa berkomunikasi dengan sempurna.
@
Gap terhadap kedua kemampuan yang sedang berkembang ini akan
'dilepaskan' oleh anak dalam bentuk tindakan fisik seperti bertindak
agresif dan sejenisnya. Memang hanya itulah cara yang paling mudah
dilakukan oleh anak untuk mengungkapkan emosinya.
@
Untuk itu, sebagai orangtua kita HARUS memahami bahwa sikap
agresif seperti memukul atau menggigit pada level tertentu adalah
sangat normal, karena anak masih terfokus pada pemikiran 'SAYA'
atau 'MILIK SAYA'.
@
Dengan mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri anak anda ini,
andapun menjadi lebih tenang dan tidak perlu terlalu khawatir melihat
perilaku agresif anak anda (tentunya perilaku agresif yang tidak terlalu
kelewatan).
@
Jadi, jangan sampai perilaku agresif anak anda membuat anda menjadi
panik, yang berakibat pada perlakuan kekerasan anda terhadap anak.

@
INGAT !
Kemampuan anda untuk mengendalikan emosi/rasa marah anda
merupakan LANGKAH PERTAMA yang akan menentukan apakah anda
akan bisa mengendalikan anak anda atau tidak.
@
Bagaimana mungkin anda meminta anak anda tidak boleh memukul
dengan cara anda memukulnya. Padahal anak seusia ini melakukan
segala sesuatunya dengan cara MENIRU lingkungannya.
Iya 'kan... ?
@
Yang penting dan harus selalu diingat, anda harus selalu menasehati anak
anda bahwa perilaku agresif tersebut tidak baik dan tidak dapat anda
terima. Selain itu, anda harus membantu anak anda dengan menunjukkan
cara lain untuk mengungkapkan perasaan atau emosi anak.
@
Anda setuju dengan saya tentang hal diatas ?

Saya tahu, anda masih memendam sebuah pertanyaan besar, yaitu :


gLangkah kongkret seperti apa yang bisa saya lakukan untuk menasehati
ataupun menunjukkan cara pengungkapan emosi anak ?h

@
Ada beberapa hal yang telah kami terapkan dengan hasil yang cukup efektif.<O:P</O:P
<O:P</O:P
1. Peringatan Awal/Dini dan Batasan yang Jelas<O:P</O:P
<O:P</O:P
gHhmmm c itu lagi !h. Mungkin begitu komentar langsung dari anda yang telah membaca eBook g3 Tahun
Pertama yang Menentukan h.<O:P</O:P
<O:P</O:P
BETUL !<O:P</O:P
Dari pengalaman saya, cara inilah yang PALING EFEKTIF untuk mengendalikan dan mencegah perilaku anak sebelum dia
terlanjur melakukan tindakan agresif.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Dengan peringatan awal ini, anak menjadi tahu dan siap secara mental terhadap apa yang akan terjadi jika dia berbuat sesuatu
yang diluar batasan yang telah anda tetapkan.<O:P</O:P
<O:P</O:P

--------<O:P</O:P
Catatan :<O:P</O:P
Keterangan lebih detail tentang Peringatan Awal ini dapat anda baca di eBook 3 Tahun Pertama yg Menentukan.<O:P</O:P
--------<O:P</O:P
<O:P</O:P
Anda harus dengan JELAS dan SINGKAT menyampaikan kepada anak anda hal apa saja yang boleh dan tidak boleh
dilakukannya di setiap kegiatan/permainan bersama dengan orang lain.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Dan yang penting, anda harus secara KONSISTEN menjalankan apa yang telah anda sampaikan kepada anak anda.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Misalnya, jika anak anda senang bermain mandi bola di taman bermain, sebelum anak anda mulai bermain, anda bisa
mengatakan bahwa dia boleh bermain dengan teman-temannya, tetapi jika melemparkan bolanya ke anak lain, maka dia akan
segera diminta berhenti.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Jika ternyata anak anda kelihatan agresif dengan melemparkan bola ke anak lain, maka anda harus SEGERA membawa anak
anda keluar dari tempat mandi bola tersebut.<O:P</O:P
<O:P</O:P
JANGAN ditunggu sampai dia melakukannya 2 atau 3 kali, baru anda bereaksi !<O:P</O:P
<O:P</O:P
Anak anda perlu tahu SEGERA bahwa tindakannya tidak bisa anda terima, dan apa yang anda katakan sebelumnya memang
berlaku.<O:P</O:P
<O:P</O:P
2. Cooling-Down<O:P</O:P
<O:P</O:P
Cooling-down disini pada dasarnya hampir sama dengan time-out yang telah dibahas di edisi beberapa bulan yang
lalu.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Untuk contoh mandi bola diatas, begitu anak anda bersikap agresif, anda SEGERA membawa anak anda keluar dari tempat
mandi bola, kemudian ajaklah dia duduk bersama anda untuk melihat anak lain bermain mandi bola. Kemudian jelaskan bahwa
dia boleh bermain lagi jika dia berjanji tidak akan mengulangi tindakan agresifnya.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Cara ini jauh lebih efektif daripada anda berteriak-teriak atau bahkan memukul anak anda.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Ini merupakan sebuah time-out sekaligus cooling-down bagi anak anda. Dengan cara ini, anak anda akan menyadari bahwa
tindakannya berhubungan dengan konsekuensi yang akan dihadapinya.<O:P</O:P
<O:P</O:P
3. Mengajarkan Tindakan Alternatif<O:P</O:P
<O:P</O:P
Setelah anak anda sudah tenang, anda bisa membicarakan secara baik-baik dengan anak anda apa yang telah membuat dia
marah. TEKANKAN bahwa dia BOLEH marah, tetapi TIDAK BOLEH melampiaskannya dengan melempar, memukul
ataupun menggigit.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Anda bisa mengajarkan alternatif lain seperti misalnya dengan berteriak, menendang bola, atau yang lain.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Anak saya, Rihan, lebih senang berteriak jika sedang marah. Kalau di rumah, Rihan kami belikan bola khusus bergambar

gpower ranger h yang bisa ditendang dan dipukul tapi bolanya tidak mental jauh (ada pemberatnya). Bola tersebut yang
akan menjadi sasaran ungkapan kemarahannya.<O:P</O:P
<O:P</O:P
4. Memberikan Pujian<O:P</O:P
<O:P</O:P
Ini merupakan cara yang sangat EFEKTIF pula untuk MENCEGAH anak bertindak agresif.<O:P</O:P
<O:P</O:P
JANGANLAH kita hanya memperhatikan perilaku anak yang tidak baik saja, tetapi HARUS memperhatikan tindakannya
yang baik dan dengan tulus memberikan pujian.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Contohnya, jika dia sedang bermain gperosotan h dengan teman-temannya dan anak anda tidak mendorong temannya
tetapi bisa sabar menunggu giliran, maka pujilah bahwa tindakannya itu sangat bagus.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Dengan begitu dia merasa mendapatkan perhatian lebih baik dengan emosi yang positif daripada merasa diperhatikan setelah
berbuat kesalahan.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Hal ini kelihatan sepele, tetapi saya perhatikan jarang sekali orangtua yang dengan aktif dan sungguh-sungguh
melakukannya.<O:P</O:P
<O:P</O:P
<O:P</O:P
Masih banyak hal-hal lain yang bisa dilakukan, tetapi 4 hal diatas merupakan tindakan terpenting yang cukup efektif untuk
mencegah dan mengatasi anak bertindak agresif.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Tetapi yang HARUS selalu diingat adalah bahwa<O:P</O:P
<O:P</O:P

gTIDAK ADA resep khusus yang 100% bisa diterapkan kepada semua anak !h<O:P</O:P
<O:P</O:P
Setiap anak mempunyai ciri khasnya masing-masing. Anda bisa mencoba cara yang telah saya lakukan, tetapi belum tentu
cocok diterapkan ke anak anda.<O:P</O:P
<O:P</O:P
Selamat Mencoba !<O:P</O:P

Arti perubahan dlm perkembangan


Faktor yg mempengaruhi sikap thd perubahan dlm perkembangan
= Panampilan diri
= Perilaku
= Stereotip budaya
= Nilai budaya
= Perubahan peranan
= Pengalaman pribadi
Bahaya umum dlm membentuk kebiasan fisiologis
= Kebiasan tidur ; makan
Perkembangan moral
Pelanggaran yang umum pada masa kanak-kanak
Perubahan Dalam Perkembangan
Artinya perubahan yang terjadi dalam diri individu secara kualitatif . Ini berarti bahwa perubahan dalam
perkembangan bukan hanya sekedar penambahan beberapa sentimeter atau kilogram pada tinggi dan
berat badan seseorang atau peningkatan kemampuan pada segi tertentu, akantetapi melainkan sutau proses
integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang rumit.

1. Aliran konvergensi termasuk yang ikut menentang adanya pengaruh pendidikan dalam
pembentukan perilaku
S
2. Anak-anak usia SD, oleh Elizabeth Hurlaock (dalam life span) dimasukkan dalam
periode Early Childhood
S
3. Bagian-bagian kepala, umumnya tumbuh lebih dahulu daripada bagian lain. Inilah
prinsip Proximodistal dalam kaidah perkembangan.
S
4. Alat-alat tubuh yang berpusat di jantung, hati biasanya tumbuh dan berkembang lebih
dahulu. Hal ini termasuk dalam kaidah Proximodistal
B
5. Suatu perubahan yang berupa pertumbuhan (growth) pada umumnya mudah untuk
diukur.
B
6. Pubertas terjadi pada usia yang sama, yakni pada usia 12 tahun
S
7. Faham konvergensi berpendapat bahwa bagaimanaupun juga lingkungan yang
menentukan pengaruh perkembangan individu, walaupun secara keturunan dia mempunyai
bakat. Tapi bakat itu tidak ada artinya.
S
8. Bakat memang penting tapi agar berkembang dia butuh lingkungan yang mendukung,
demikianlah paham dalam aliran Empirisme.
S
9. Suatu perubahan yang berupa perkembangan (development) pada umumnya sulit
untuk diukur.
B
10. Dengan ilmu jiwa perkembangan kita bisa meramalkan secara pasti masa depan
perkembangan individu dilihat dari pemenuhan tugas perkembangannya
S
11. Tugas perkembangan membuat individu mengalami hambatan dalam proses tumbuh
kembangnya
S
12. Dalam menyusun kurikulum pengajaran anak usia TK/SD sebenarnya ilmu jiwa
perkembangan tidak banyak membantu, yang terpenting adalah jelas tujuan
instruksionalnya.
S
13. Kajian Psikologi Anak sebenarnya adalah cabang dari kajian ilmu jiwa perkembangan.
B

14. Tidak ada individu yang sama persis, walaupun sepasang kembar identik (Kak Seto
dan Kak Kresno), inilah prinsip yang disebut Individual Prefferences
S
15. Perkembangan individu bisa berhenti , sehingga dia mungkin akan mengalami
kesulitan pada thap perkembangan berikutnya.
B

1. Aliran konvergensi termasuk yang ikut menentang adanya pengaruh pendidikan dalam
pembentukan perilaku

2. Faham konvergensi berpendapat bahwa bagaimanaupun juga lingkungan yang


menentukan pengaruh perkembangan individu, walaupun secara keturunan dia mempunyai
bakat. Tapi bakat itu tidak ada artinya.

3.Bakat memang penting tapi agar berkembang dia butuh lingkungan yang mendukung,
demikianlah paham dalam aliran Empirisme.

4.

Scipenhauer adalah tokoh empirisme yang menyatakan bahwa anak kecil adalah
orangdewasa dalam bentuknya yang masih kecil.

5. Jhon Locke tidak sependapat dengan William Stern, bahwa lingkunganlah yang
mempengaruhi perilaku manusia.

9. Suatu perubahan yang berupa perkembangan (development) pada umumnya sulit


untuk diukur.
10. Dengan ilmu jiwa perkembangan kita bisa meramalkan secara pasti masa depan
perkembangan individu dilihat dari pemenuhan tugas perkembangannya
11. Tugas perkembangan membuat individu mengalami hambatan dalam proses tumbuh
kembangnya
12. Dalam menyusun kurikulum pengajaran anak usia TK/SD sebenarnya ilmu jiwa
perkembangan tidak banyak membantu, yang terpenting adalah jelas tujuan
instruksionalnya.
13. Kajian Psikologi Anak sebenarnya adalah cabang dari kajian ilmu jiwa perkembangan.
14. Tidak ada individu yang sama persis, walaupun sepasang kembar identik (Kak Seto
dan Kak Kresno), inilah prinsip yang disebut Individual Prefferences
15. Perkembangan individu bisa berhenti , sehingga dia mungkin akan mengalami
kesulitan pada tahap perkembangan berikutnya.
Motor Development in Infancy and Childhood
Most infants develop motor abilities in the same order and at approximately the same age. In this sense, most
agree that these abilities are genetically preprogrammed within all infants. The environment does play a role in the
development, with an enriched environment often reducing the learning time and an impoverished one doing the
opposite.
The following chart delineates the development of infants in sequential order. The ages shown are averages and it
is normal for these to vary by a month or two in either direction.
2 months able to lift head up on his own
3 months can roll over
4 months can sit propped up without falling over
6 months is able to sit up without support
7 months begins to stand while holding on to things for support
9 months can begin to walk, still using support
10 months is able to momentarily stand on her own without support
11 months can stand alone with more confidence
12 months begin walking alone without support
14 months can walk backward without support
17 months can walk up steps with little or no support
18 months able to manipulate objects with feet while walking, such as kicking a ball

Cognitive Development in Children


Probably the most cited theory in the cognitive development in children is Jean Piaget (18961980). As with all stage theories, Piagets Theory of Cognitive Development maintains that
children go through specific stages as their intellect and ability to see relationships matures.
These stages are completed in a fixed order with all children, even those in other countries. The
age range, however can vary from child to child.
Sensorimotor Stage. This stage occurs between the ages of birth and two years of age, as
infants begin to understand the information entering their sense and their ability to interact with
the world. During this stage, the child learns to manipulate objects although they fail to
understand the permanency of these objects if they are not within their current sensory
perception. In other words, once an object is removed from the childs view, he or she is unable
to understand that the object still exists.

The major achievement during this stage is that of Object Permanency, or the ability to
understand that these objects do in fact continue to exist. This includes his ability to understand
that when mom leaves the room, she will eventually return, resulting in an increased sense of
safety and security. Object Permanency occurs during the end of this stage and represents the
childs ability to maintain a mental image of the object (or person) without the actual perception.
Preoperational Stage. The second stage begins after Object Permanency is achieved and
occurs between the ages of two to seven years of age. During this stage, the development of
language occurs at a rapid pace. Children learn how to interact with their environment in a more
complex manner through the use of words and images. This stage is marked by Egocentrism, or
the childs belief that everyone sees the world the same way that she does. The fail to
understand the differences in perception and believe that inanimate objects have the same
perceptions they do, such as seeing things, feeling, hearing and their sense of touch.

A second important factor in this stage is that of Conservation, which is the ability to understand
that quantity does not change if the shape changes. In other words, if a short and wide glass of
water is poured into a tall and thin glass. Children in this stage will perceive the taller glass as
having more water due only because of its height. This is due to the childrens inability to
understand reversibility and to focus on only one aspect of a stimulus (called centration), such
as height, as opposed to understanding other aspects, such as glass width.

Concrete Operations Stage. Occurring between ages 7 and about 12, the third stage of
cognitive development is marked by a gradual decrease in centristic thought and the increased
ability to focus on more than one aspect of a stimulus. They can understand the concept of
grouping, knowing that a small dog and a large dog are still both dogs, or that pennies, quarters,
and dollar bills are part of the bigger concept of money.

They can only apply this new understanding to concrete objects ( those they have actually
experienced). In other words, imagined objects or those they have not seen, heard, or touched,
continue to remain somewhat mystical to these children, and abstract thinking has yet to
develop.
Formal Operations Stage. The final stage of cognitive development (from age 12 and beyond),
children begin to develop a more abstract view of the world. They are able to apply reversibility
and conservation to both real and imagined situations. They also develop an increased
understanding of the world and the idea of cause and effect. By the teenage years, they are
able to develop their own theories about the world. This stage is achieved by most children,
although failure to do so has been associated with lower intelligence.

TUGAS KELOMPOK
1. Uraikan Tahapan Perkembangan Kognitif menurut Jean Piaget dengan
penjelasan dan contoh secukupnya
2. Apakah tahapan perkembangan kognitif yang dipaparkan oleh Jean Piaget
bersifat universal ? Jika ya, apa pertimbangannya dan jika tidak, mengapa
demikian ?
3. Pada tahapan perkembangan koginitif yang mana mana, anak mulai belajar dan
menguasai bahasa, mengapa demikian jelaskan !
4. Pada tahapan perkembangan kognitif yang mana , anak mulai memahami sebab
akibat ?. Apa yang menyebabkan jika ternyata pada tahapan perkembangan
tersebut anak masih belum bisa memahami sebab akibat

Fase-fase Psikoseksual dari Anak hingga Remaja


Oleh M. Ninik Handayanni, S. Psi.

Ada fase-fase psikologis yang harus dilalui tiap individu. Antara lain fase psikoseksual yaitu tahap-tahap
pertumbuhan dan perkembangan fungsi seksual yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologis individu
tersebut. Tiap individu akan mengalami fase/tahap psikoseksual dalam tiap tahap perkembangan umurnya (0-18
tahun). Bila individu tersebut gagal melewati suatu masa yang harus dilaluinya sesuai dengan tahap
perkembangannya maka akan terjadi gangguan pada diri orang tersebut.
Pada kesempatan ini kita akan melihat fase-fase psikoseksual yang pasti dilalui setiap individu sesuai dengan
tahap perkembangannya. Fase-fase tersebut adalah:
1. Fase oral/mulut (0-18 bulan)
Yaitu fase pertama yang harus dilalui oleh seorang anak sejak dilahirkan. Pada bulan-bulan pertama kehidupan,
bayi manusia lebih tidak berdaya dibandingkan dengan bayi binatang menyusui lainnya, dan ketidakberdayaan ini
berlangsung lebih lama daripada spesies lain.
Pada mulanya bayi tidak dapat membedakan antara bibirnya dengan puting susu ibunya, yaitu asosiasi antara rasa
kenyang dengan pemberian asi. Bayi hanya sadar akan kebutuhannya sendiri dan pada waktu menunggu
terpenuhi kebutuhannya, bayi menjadi frustasi dan baru sadar akan adanya obyek pemuas pada waktu
kebutuhannya terpenuhi. Inilah pengalaman pertama kesadaran akan adanya obyek diluar dirinya. Jadi kelaparan
menuntutnya untuk mengenal dunia luar.
Reaksi primitif pertama terhadap obyek yaitu bayi berusaha memasukkan semua benda yang dipegangnya ke
mulut. Bayi merasa bahwa mulut adalah tempat pemuasan (oral gratification). Rasa lapar dan haus terpenuhi
dengan menghisap puting susu ibunya. Kebutuhan-kebutuhan, persepsi-persepsi dan cara ekspresi bayi secara
primer dipusatkan di mulut, bibir, lidah dan organ lain yang berhubungan dengan daerah mulut.
Dorongan oral terdiri dari 2 komponen yaitu dorongan libido dan dorongan agresif. Dorongan libido yaitu
dorongan seksual pada anak, yang berbeda dengan libido pada orang dewasa. Dorongan libido merupakan
dorongan primer dalam kehidupan yang merupakan suber energi dari ego dalam mengadakan hubungan dengan
lingkungan, sehingga memungkinkan pertumbuhan ego. Ketegangan oral akan membawa pada pencarian
kepuasan oral yang ditandai dengan diamnya bayi pada akhir menyusui. Sedangkan dorongan agresif dapat
terlihat dalam perilaku menggigit, mengunyah, meludah, dan menangis.

Pada fase oral ini, peran Ibu penting untuk memberikan kasih sayang dengan memenuhi kebutuhan bayi
secepatnya. Jika semua kebutuhannya terpenuhi, bayi akan merasa aman, percaya pada dunia luar. Hal ini
merupakan dasar perkembangan selanjutnya dalam berhubungan dengan dunia luar.
Jika pada fase oral ini bayi merasakan kekecewaan yang mendalam, hal ini akan mempengaruhi perkembangan
selanjutnya. Pada waktu dewasa akan mengalami gangguan tingkah laku seksual misalnya kepribadian oral
sadistik yang dimanifestasikan dalam penyimpangan seksual sadisme, yaitu kepuasan seks yang dicapai bila
didahului atau disertai tindakan yang menyakitkan. Sebaliknya, bila bayi mendapat kepuasan yang berlebihan
maka dalam perkembangan selanjutnya dapat menjadi sangat optimis, narcistik (cinta diri sendiri), dan selalu
menuntut.
2. Fase Anal (1 1/2 - 3 tahun)
Fase ini ditandai dengan matangnya syaraf-syaraf otot sfingter anus sehingga anak mulai dapat mengendalikan
beraknya.
Pada fase ini kepuasan dan kenikmatan anak terletak pada anus. Kenikmatan didapatkan pada waktu menahan
berak. Kenikmatan lenyap setelah berak selesai.
Jika kenikmatan yang sebenarnya diperoleh anak dalam fase ini ternyata diganggu oleh orangtuanya dengan
mengatakan bahwa hasil produksinya kotor, jijik dan sebagainya, bahkan jika disertai dengan kemarahan atau
bahkan ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan, maka hal ini dapat mengganggu perkembangan
kepribadian anak. Dimana pada perkembangan seksualitas deawasa anak merasa jijik (kotor) terhadap alat
kelaminnya sendiri dan tidak dapat menikmati hubungan seksual dengan partnernya.
Oleh karena itu sikap orangtua yang benar yaitu mengusahakan agar anak merasa bahwa alat kelamin dan anus
serta kotoran yang dikeluarkannya adalah sesuatu yang biasa (wajar) dan bukan sesuatu yang menjijikkan. Hal ini
penting, karena akan mempengaruhi pandangannya terhadap seks nantinya.
Jika terjadi hambatan pada fase anal, anak dapat mengembangkan sifat-sifat tidak konsisten, kerapian, keras
kepala, kesengajaan, kekikiran yang merupakan karakter anal yang berasal dari sisa-sisa fungsi anal.
Jika pertahanan terhadap sifat-sifat anal kurang efektif, karakter anal menjadi ambivalensi (ragu-ragu) berlebihan,
kurang rapi, suka menentang, kasar dan cenderung sadomsokistik (dorongan untuk menyakiti dan disakiti).
Karakter anal yang khas terlihat pada penderita obsesif kompulsif.
Penyelesaian fase anal yang berhasil, menyiapkan dasar untuk perkembangan kemandirian, kebebasan,
kemampuan untuk menentukan perilaku sendiri tanpa rasa malu dan ragu-ragu, kemampuan untuk menginginkan
kerjasama yang baik tanpa perasaan rendah diri.
3. Fase Uretral
Pada fase ini merupakan perpindahan dari fase anal ke fase phallus. Erotik uretral mengacu pada kenikmatan
dalam pengeluaran dan penahanan air seni seperti pada fase anal.
Jika fase uretral tidak dapat diselesaikan dengan baik, anak akan mengembangkan sifat uretral yang menonjol
yaitu persaingan dan ambisi sebagai akibat timbulnya rasa malu karena kehilangan kontrol terhadap uretra.
Jika fase ini dapat diselesaikan dengan baik, maka anak akan mengembangkan persaingan sehat, yang
menimbulkan rasa bangga akan kemampuan diri. Anak laki-laki meniru dan membandingkan dengan ayahnya.
Penyelesaian konflik uretra merupakan awal dari identitas gender dan identifikasi selanjutnya.
4. Fase Phallus (3-5 tahun)
Pada fase ini anak mula mengerti bahwa kelaminnya berbeda dengan kakak, adik atau temannya. Anak mulai
merasakan bahwa kelaminnya merupakan tempat yang memberikan kenikmatan ketika ia mempermainkan bagian
tersebut. Tetapi orangtua sering marah bahkan mengeluarkan ancaman bila melihat anaknya memegang atau
mempermainkan kelaminnya.
Pada fase ini, anak laki-laki dapat timbul rasa takut bahwa penisnya akan dipotong (dikebiri). Ketakutan yang
berlebihan tersebut dapat menjadi dasar penyebab gangguan seksual seperti impotensi primer dan homoseksual.
Pada fase ini muncul rasa erotik anak terhadap orangtua dari jenis kelamin yang berbeda. Rasa ingin tahu
terhadap hal-hal yang berhubungan dengan seks tampak dalam tingkah laku anak, misalnya membuka rok ibunya,
meraba buah dada atau alat kelamin orangtuanya.
Daya erotik anak laki-laki terhadap ibunya, disertai rasa cemburu terhadap ayahnya, dan keinginan untuk
mengganti posisi ayah disamping ibu, disebut kompleks Oedipus. Untuk anak wanita disebut kompleks Elektra.
Kompleks elektra biasanya disertai rasa rendah diri karena tidak mempunyai kelamin seperti anak laki-laki dan
merasa takut jika terjadi kerusakan pada alat kelaminnya.
Bila kompleks oedipus/elektra tidak dapat diselesaikan dengan baik, dapat menyebabkan gangguan emosi pada
kemudian hari.

5. Fase Latensi (5/6 tahun-11/13 tahun)


Pada fase ini semua aktifitas dan fantasi seksual seakan-akan tertekan, karena perhatian anak lebih tertuju pada
hal-hal di luar rumah. Tetapi keingin-tahuan tentang seksualitas tetap berlanjut. Dari teman-teman sejenisnya anakanak juga menerima informasi tentang seksualitas yang sering menyesatkan.
Keterbukaan dengan orangtua dapat meluruskan informasi yang salah dan menyesatkan itu. Pada fase ini dapat
terjadi gangguan hubungan homoseksual pada laki-laki maupun wanita.
Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kurang berkembangnya kontrol diri sehingga anak gagal mengalihkan
energinya secara efisien pada minat belajar dan pengembangan ketrampilan.
6. Fase genital (11/13 tahun-18 tahun)
Pada fase ini, proses perkembangan psikoseksual mencapai "titik akhir". Organ-organ seksual mulai aktif sejalan
denga mulai berfungsinya hormon-hormon seksual, sehingga pada saat ini terjadi perubahan fisik dan psikis.
Secara fisik, perubahan yang paling nyata adalah pertumbuhan tulang dan perkembangan organ seks serta tandatanda seks sekunder.
Remaja putri mencapai kecepatan pertumbuhan maksimal pada usia sekitar 12-13 tahun, sedangkan remaja putra
sekitar 14-15 tahun. Akibat perbedaan waktu ini, biasanya para gadis tampak lebih tinggi daripada anak laki-laki
seusia pada periode umur 11-14 tahun
Perkembangan tanda seksual sekunder pada gadis adalah pertumbuhan payudara, tumbuhnya rambut pubes dan
terjadinya menstruasi, pantat mulai membesar, pinggang ramping dan suara feminin. Sedangkan pada anak lakilaki terlihat buah pelir dan penis mulai membesar, tumbuhnya rambut pubes, rambut kumis, suara mulai
membesar. Terjadi mimpi basah, yaitu keluarnya air mani ketika tidur (mimpi basah).
Bersamaan dengan perkembangan itu, muncullah gelombang nafsu birahi baik pada laki-laki maupun wanita.
Secara psikis, remaja mulai mengalami rasa cinta dan tertarik pada lawan jenisnya.
Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kekacauan identitas.
Itulah fase-fase psikoseksesual yang harus dialami oleh tiap-tiap individu. Dengan mengetahui akibat-akibat yang
ditimbulkan bila gagal ataupun berhasil dalam melewati tiap fase, maka hendaknya orangtua dan para pendidik
dapat mengambil manfaatnya, sehingga kita dapat memberikan kesehatan mental putra-putri kita sedini mungkin.

Freuds Stages of Psychosexual Development


Sigmund Freud (1856-1939) is probably the most well known theorist when it comes to the development of
personality. Freuds Stages of Psychosexual Development are, like other stage theories, completed in a
predetermined sequence and can result in either successful completion or a healthy personality or can result in
failure, leading to an unhealthy personality. This theory is probably the most well known as well as the most
controversial, as Freud believed that we develop through stages based upon a particular erogenous zone. During
each stage, an unsuccessful completion means that a child becomes fixated on that particular erogenous zone and
either over or under-indulges once he or she becomes an adult.
Oral Stage (Birth to 18 months). During the oral stage, the child if focused on oral pleasures (sucking). Too much
or too little gratification can result in an Oral Fixation or Oral Personality which is evidenced by a preoccupation with
oral activities. This type of personality may have a stronger tendency to smoke, drink alcohol, over eat, or bite his
or her nails. Personality wise, these individuals may become overly dependent upon others, gullible, and perpetual
followers. On the other hand, they may also fight these urges and develop pessimism and aggression toward
others.
Anal Stage (18 months to three years). The childs focus of pleasure in this stage is on eliminating and retaining
feces. Through societys pressure, mainly via parents, the child has to learn to control anal stimulation. In terms of
personality, after effects of an anal fixation during this stage can result in an obsession with cleanliness, perfection,
and control (anal retentive). On the opposite end of the spectrum, they may become messy and disorganized (anal
expulsive).
Phallic Stage (ages three to six). The pleasure zone switches to the genitals. Freud believed that during this stage
boy develop unconscious sexual desires for their mother. Because of this, he becomes rivals with his father and
sees him as competition for the mothers affection. During this time, boys also develop a fear that their father will
punish them for these feelings, such as by castrating them. This group of feelings is known as Oedipus Complex
( after the Greek Mythology figure who accidentally killed his father and married his mother).

Later it was added that girls go through a similar situation, developing unconscious sexual attraction to their father.
Although Freud Strongly disagreed with this, it has been termed the Electra Complex by more recent
psychoanalysts.
According to Freud, out of fear of castration and due to the strong competition of his father, boys eventually decide
to identify with him rather than fight him. By identifying with his father, the boy develops masculine characteristics
and identifies himself as a male, and represses his sexual feelings toward his mother. A fixation at this stage could
result in sexual deviancies (both overindulging and avoidance) and weak or confused sexual identity according to
psychoanalysts.
Latency Stage (age six to puberty). Its during this stage that sexual urges remain repressed and children interact
and play mostly with same sex peers.
Genital Stage (puberty on). The final stage of psychosexual development begins at the start of puberty when
sexual urges are once again awakened. Through the lessons learned during the previous stages, adolescents
direct their sexual urges onto opposite sex peers, with the primary focus of pleasure is the genitals.

Kohlbergs Stages of Moral Development


Although it has been questioned as to whether it applied equally to different genders and different cultures,
Kohlbergs (1973) stages of moral development is the most widely cited. It breaks our development of morality into
three levels, each of which is divided further into two stages:
Preconventional Level (up to age nine):
~Self Focused Morality~
1. Morality is defined as obeying rules and avoiding negative consequences. Children in this stage see rules set,
typically by parents, as defining moral law.
2. That which satisfies the childs needs is seen as good and moral.
Conventional Level (age nine to adolescence):
~Other Focused Morality~
3. Children begin to understand what is expected of them by their parents, teacher, etc. Morality is seen as
achieving these expectations.
4. Fulfilling obligations as well as following expectations are seen as moral law for children in this stage.
Postconventional Level (adulthood):
~~Higher Focused Morality~
5. As adults, we begin to understand that people have different opinions about morality and that rules and
laws vary from group to group and culture to culture. Morality is seen as upholding the values of your
group or culture.

6. Understanding your own personal beliefs allow adults to judge themselves and others based upon
higher levels of morality. In this stage what is right and wrong is based upon the circumstances
surrounding an action. Basics of morality are the foundation with independent thought playing an
important role.

Eriksons Stages of Psychosocial Development


Like Piaget, Erik Erikson (1902-1994) maintained that children develop in a predetermined order. Instead
of focusing on cognitive development, however, he was interested in the how children socialize and how
this affects their sense of self. Eriksons Theory of Psychosocial Development has eight distinct stage,
each with two possible outcomes. According to the theory, successful completion of each stage results in
a healthy personality and successful interactions with others. Failure to successfully complete a stage can
result in a reduced ability to complete further stages and therefore a more unhealthy personality and sense
of self. These stages, however, can be resolved successfully at a later time.
Trust Versus Mistrust. From ages birth to one year, children begin to learn the ability to trust others
based upon the consistency of their caregiver(s). If trust develops successfully, the child gains confidence
and security in the world around him and is able to feel secure even when threatened. Unsuccessful
completion of this stage can result in an inability to trust, and therefore an sense of fear about the
inconsistent world. It may result in anxiety, heightened insecurities, and an over feeling of mistrust in the
world around them.
Autonomy vs. Shame and Doubt. Between the ages of one and three, children begin to assert their
independence, by walking away from their mother, picking which toy to play with, and making choices
about what they like to wear, to eat, etc. If children in this stage are encouraged and supported in their
increased independence, they become more confident and secure in their own ability to survive in the
world. If children are criticized, overly controlled, or not given the opportunity to assert themselves, they
begin to feel inadequate in their ability to survive, and may then become overly dependent upon others,
lack self-esteem, and feel a sense of shame or doubt in their own abilities.

Initiative vs. Guilt. Around age three and continuing to age six, children assert themselves more
frequently. They begin to plan activities, make up games, and initiate activities with others. If given this
opportunity, children develop a sense of initiative, and feel secure in their ability to lead others and make
decisions. Conversely, if this tendency is squelched, either through criticism or control, children develop a
sense of guilt. They may feel like a nuisance to others and will therefore remain followers, lacking in selfinitiative.
Industry vs. Inferiority. From age six years to puberty, children begin to develop a sense of pride in their
accomplishments. They initiate projects, see them through to completion, and feel good about what they
have achieved. During this time, teachers play an increased role in the childs development. If children are
encouraged and reinforced for their initiative, they begin to feel industrious and feel confident in their
ability to achieve goals. If this initiative is not encouraged, if it is restricted by parents or teacher, then the
child begins to feel inferior, doubting his own abilities and therefore may not reach his potential.
Identity vs. Role Confusion. During adolescence, the transition from childhood to adulthood is most
important. Children are becoming more independent, and begin to look at the future in terms of career,
relationships, families, housing, etc. During this period, they explore possibilities and begin to form their
own identity based upon the outcome of their explorations. This sense of who they are can be hindered,
which results in a sense of confusion ("I dont know what I want to be when I grow up") about themselves
and their role in the world.
Intimacy vs. Isolation. Occurring in Young adulthood, we begin to share ourselves more intimately with
others. We explore relationships leading toward longer term commitments with someone other than a
family member. Successful completion can lead to comfortable relationships and a sense of commitment,
safety, and care within a relationship. Avoiding intimacy, fearing commitment and relationships can lead
to isolation, loneliness, and sometimes depression.
Generativity vs. Stagnation. During middle adulthood, we establish our careers, settle down within a
relationship, begin our own families and develop a sense of being a part of the bigger picture. We give
back to society through raising our children, being productive at work, and becoming involved in

community activities and organizations. By failing to achieve these objectives, we become stagnant and
feel unproductive.
Ego Integrity vs. Despair. As we grow older and become senior citizens, we tend to slow down our
productivity, and explore life as a retired person. It is during this time that we contemplate our
accomplishments and are able to develop integrity if we see ourselves as leading a successful life. If we
see our lives as unproductive, feel guilt about our pasts, or feel that we did not accomplish our life goals,
we become dissatisfied with life and develop despair, often leading to depression and hopelessness.

A SUMMARY OF LAWRENCE KOHLBERG'S


STAGES OF MORAL DEVELOPMENT
Lawrence Kohlberg was, for many years, a professor at Harvard University. He became famous for his
work there beginning in the early 1970s. He started as a developmental psychologist and then moved to
the field of moral education. He was particularly well-known for his theory of moral development which
he popularized through research studies conducted at Harvard's Center for Moral Education.
His theory of moral development was dependent on the thinking of the Swiss psychologist Jean Piaget
and the American philosopher John Dewey. He was also inspired by James Mark Baldwin. These men had
emphasized that human beings develop philosophically and psychologically in a progressive fashion.
Kohlberg believed...and was able to demonstrate through studies...that people progressed in their moral
reasoning (i.e., in their bases for ethical behavior) through a series of stages. He believed that there were
six identifiable stages which could be more generally classified into three levels.
Kohlberg's classification can be outlined in the following manner:
LEVEL
Pre-conventional

Conventional

Post-conventional

STAGE

SOCIAL ORIENTATION

Obedience and Punishment

Individualism, Instrumentalism,
and Exchange

"Good boy/girl"

Law and Order

Social Contract

Principled Conscience

The first level of moral thinking is that generally found at the elementary school level. In the first stage of
this level, people behave according to socially acceptable norms because they are told to do so by some
authority figure (e.g., parent or teacher). This obedience is compelled by the threat or application of
punishment. The second stage of this level is characterized by a view that right behavior means acting in
one's own best interests.
The second level of moral thinking is that generally found in society, hence the name "conventional." The
first stage of this level (stage 3) is characterized by an attitude which seeks to do what will gain the
approval of others. The second stage is one oriented to abiding by the law and responding to the
obligations of duty.
The third level of moral thinking is one that Kohlberg felt is not reached by the majority of adults. Its first
stage (stage 5) is an understanding of social mutuality and a genuine interest in the welfare of others. The
last stage (stage 6) is based on respect for universal principle and the demands of individual conscience.
While Kohlberg always believed in the existence of Stage 6 and had some nominees for it, he could never
get enough subjects to define it, much less observe their longitudinal movement to it.
Kohlberg believed that individuals could only progress through these stages one stage at a time. That is,
they could not "jump" stages. They could not, for example, move from an orientation of selfishness to the
law and order stage without passing through the good boy/girl stage. They could only come to a
comprehension of a moral rationale one stage above their own. Thus, according to Kohlberg, it was
important to present them with moral dilemmas for discussion which would help them to see the
reasonableness of a "higher stage" morality and encourage their development in that direction. The last
comment refers to Kohlberg's moral discussion approach. He saw this as one of the ways in which moral
development can be promoted through formal education. Note that Kohlberg believed, as did Piaget, that
most moral development occurs through social interaction. The discussion approach is based on the
insight that individuals develop as a result of cognitive conflicts at their current stage.

A.
Responlah pernyataan-pernyataan berikut dengan mendiskusikan dalam kelompok, apakah
pernyataan ini BENAR ATAU SALAH dan beri alasan mengapa benar atau salah.
1. Suatu perubahan yang berupa pertumbuhan (growth) pada suatu organisme pada

umumnya mudah untuk diukur.


2. Suatu perubahan yang berupa perkembangan (development) pada suatu organisme

pada umumnya sulit untuk diukur.

A.
Responlah pernyataan-pernyataan berikut dengan mendiskusikan dalam kelompok, apakah
pernyataan ini BENAR ATAU SALAH dan beri alasan mengapa benar atau salah.
1. Suatu perubahan yang berupa pertumbuhan (growth) pada suatu organisme pada
umumnya mudah untuk diukur.
2. Suatu perubahan yang berupa perkembangan (development) pada suatu organisme
pada umumnya sulit untuk diukur.

B.
Responlah pernyataan-pernyataan berikut dengan mendiskusikan dalam kelompok, apakah
pernyataan ini BENAR ATAU SALAH dan beri alasan mengapa benar atau salah.
1. Lingkunganlah yang menentukan pengaruh perkembangan individu, walaupun

secara keturunan dia mempunyai bakat. Tapi bakat itu tidak ada artinya.
2. Perkembangan individu lebih dipengaruhi oleh faktor keturunan. Lingkungan tidak

bisa merubah arah perkembangan individu, kalau sudah dari keturunan individu
mempunyai karakter tertentu.

B.
Responlah pernyataan-pernyataan berikut dengan mendiskusikan dalam kelompok, apakah
pernyataan ini BENAR ATAU SALAH dan beri alasan mengapa benar atau salah.
1. Lingkunganlah yang menentukan pengaruh perkembangan individu, walaupun
secara keturunan dia mempunyai bakat. Tapi bakat itu tidak ada artinya.
2. Perkembangan individu lebih dipengaruhi oleh faktor keturunan. Lingkungan tidak
bisa merubah arah perkembangan individu, kalau sudah dari keturunan individu
mempunyai karakter tertentu.