You are on page 1of 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Nyeri mempunyai sifat yang unik, karena di satu sisi nyeri menimbulkan derita
bagi yang bersangkutan, tetapi disisi lain nyeri juga menunjukkan suatu manfaat. Nyeri
sering dilukiskan sebagai suatu yang berbahaya (noksius, protofatik) atau yang tidak
berbahaya (nonnoksius, epikritik) misalnya sentuhan ringan, kehangatan, tekanan ringan.
Nyeri bukan hanya merupakan modalitas sensori tetapi juga merupakan suatu pengalaman.
Sebagai mana diketahui bahwa nyeri tidaklah selalu berhubungan dengan derajat
kerusakan jaringan yang dijumpai, tetapi

juga menyangkut kelainan transmiter yang

berfungsi dalam proses penghantaran impuls saraf. Namun nyeri bersifat individual yang
dipengaruhi oleh genetik, latar belakang kultural, umur dan jenis kelamin.1,2
Nyeri dapat dirasakan atau terjadi secara akut, dapat pula dirasakan secara kronik
oleh penderita. Nyeri akut akan disertai heperaktifitas saraf otonom dan umumnya mereda
dan hilang sesuai dengan laju proses penyembuhan. Nyeri akut merupakan sensibel nyeri
yang mempunyai manfaat, antara lain: mekanisme proteksi, mekanisme defensif, dan
membantu menegakkan diagnosis suatu penyakit. Bila tidak teratasi dengan baik nyeri
dapat mempengaruhi aspek psikologis dan aspek fisik dari penderita. Aspek psikologis
meliputi kecemasan, takut, perubahan kepribadian dan perilaku,gangguan tidur dan
gangguan kehidupan sosial. Sedangkan dari aspek fisik, nyeri mempengaruhi peningkatan
angka morbiditas dan mortalitas.3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Aksis II : sistem organ primer di tubuh yang berhubungan dengan timbulnya nyeri. Aksis IV : awitan terjadinya nyeri. . jaringan ikat. Aksis III : karekteristik nyeri atau pola timbulnya nyeri (tunggal. Klasifikasi yang dikembangkan oleh IASP didasarkan pada lima aksis yaitu: Aksis I : regio atau lokasi anatomi nyeri.2 Klasifikasi Nyeri Berdasarkan sumber nyeri. Berdasarkan definisi tersebut nyeri merupakan suatu gabungan dari komponen objektif (aspek fisiologi sensorik nyeri) dan komponen subjektif (aspek emosional dan psikologis).2. peritoneum). Nyeri somatik dalam Nyeri tumpul (dullness) dan tidak terlokalisasi dengan baik akibat rangsangan pada otot rangka. Nyeri biasanya dirasakan seperti terbakar. tulang. Nyeri somatik luar Nyeri yang stimulusnya berasal dari kulit. perikardium. b. nyeri alih viseral dan nyeri alih parietal. nyeri parietal terlokalisasi. kontinyu). jaringan subkutan dan membran mukosa. 2. reguler.1 Definisi Nyeri The International Association for the Study of Pain (IASP) mendefinisikan nyeri sebagai berikut nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan atau ancaman kerusakan jaringan. Nyeri tipe ini dibagi lagi menjadi nyeri viseral terlokalisasi. Nyeri viseral Nyeri karena perangsangan organ viseral atau membran yang menutupinya (pleura parietalis. jatam dan terlokalisasi. c. sendi. maka nyeri dibagi menjadi: a.

Berdasarkan jenisnya nyeri juga dapat diklasifikasikan menjadi: a. Hal ini disebabkan oleh cedera pada jalur serat saraf perifer. subkutis dan mukosa . Hal ini mungkin terjadi secara mekanik atau peningkatan sensitivitas dari noradrenalin yang kemudian menghasilkan sympathetically maintained pain (SMP). Nyeri akan hilang apabila keadaan kejiwaan pasien tenang. Nyeri tipe ini sering menunjukkan respon yang buruk pada pemberian analgetik konvensional. Stimulasi nosiseptor baik secara langsung maupun tidak langsung akan mengakibatkan pengeluaran mediator b. Nyeri neurogenik dapat menyebakan terjadinya allodynia. dan terpotongnya saraf perifer. Nyeri neurogenik Nyeri yang didahului atau disebabkan oleh lesi atau disfungsi primer pada sistem saraf perifer. Sensasi yang dirasakan adalah rasa panas dan seperti ditusuk-tusuk dan kadang disertai hilangnya rasa atau adanya sara tidak enak pada perabaan. pucat dan midriasis dan perubahan wajah : menyeringai atau menangis Bentuk nyeri akut dapat berupa: 1. Nyeri akut Nyeri yang timbul mendadak dan berlangsung sementara. Nyeri nosiseptif Karena kerusakan jaringan baik somatik maupun viseral. hiperhidrosis. c. Nyeri ini ditandai dengan adanya aktivitas saraf otonom seperti : takikardi. Berdasarkan timbulnya nyeri dapat diklasifikasikan menjadi: a. Nyeri somatik luar : nyeri tajam di kulit. hipertensi.Aksis V : etiologi nyeri. inflamasi dari jaringan. SMP merupakan komponen pada nyeri kronik. infiltrasi sel kanker pada serabut saraf. sel imun dan ujung saraf sensoris dan simpatik. Nyeri psikogenik Nyeri ini berhubungan dengan adanya gangguan jiwa misalnya cemas dan depresi.

Nyeri viseral : nyeri akibat disfungsi organ viseral b. Nyeri kronik Nyeri berkepanjangan dapat berbulan-bulan tanpa tanda2 aktivitas otonom kecuali serangan akut. b. 2. aktivitas terganggu yang hanya hilang bila penderita tidur. Nyeri ini disebabkan oleh : 1. Nyeri ringan adalah nyeri hilang timbul. Nyeri sedang nyeri terus menerus.2. Nyeri onkologik b.3 Anatomi dan Fisiologi Nyeri . Nyeri tersebut dapat berupa nyeri yang tetap bertahan sesudah penyembuhan luka (penyakit/operasi) atau awalnya berupa nyeri akut lalu menetap sampai melebihi 3 bulan. penderita tidak dapat tidur dan sering terjaga akibat nyeri. Nyeri non onkologik Berdasakan derajat nyeri dikelompokan menjadi: a. sendi dan jaringan ikat 3. non kanker akibat trauma. Nyeri berat adalah nyeri terus menerus sepanjang hari. c. Nyeri somatik dalam : nyeri tumpul pada otot rangka. kanker akibat tekanan atau rusaknya serabut saraf 2. terutama saat beraktivitas sehari hari dan menjelang tidur. proses degenerasi dll Berdasarkan penyebabnya nyeri dapat diklasifikasikan menjadi: a.