You are on page 1of 25

BAB I PENDAHULUAN

I.

Latar belakang
Nyeri kepala merupakan salah satu gangguan sistem saraf yang paling umum
dialami oleh masyarakat, dalam 1 tahun, 90% dari populasi dunia mengalami
paling sedikit 1 kali nyeri kepala. Menurut data WHO dalam banyak kasus
nyeri kepala dirasakan berulang kali oleh penderita sepanjang hidupnya 1,2

Penelitian internasional menemukan bahwa prevalensi nyeri
kepala pada anak-anak dan remaja terus meningkat, selain itu diperkirakan
nyeri kepala menetap pada saat usia dewasa (sekitar 50%) dari kasus.
Survei epidemiologi pada remaja menemukan dari 9.000 anak-anak
sekolah,frekuensi kejadian nyeri kepala dilaporkan 2.5% setelah berumur
tujuh tahun dan 15% setelah berumur 15 tahun.2,3
Berdasarkan hasil penelitian multisenter pada 5 rumah sakit di
Indonesia, didapatkan prevalensi penderita nyeri kepala sebagai berikut :
migren tanpa aura 10%, migren dengan aura 1,8%, Episodic Tension type
Headache 31%, Chronic Tension type Headache (CTTH) 24%, Cluster
Headache 0.5%, Mixed Headache 14%4-6
Nyeri kepala diklasifikasikan oleh International Headache Society,
menjadi nyeri kepala primer dan sekunder. Yang termasuk ke dalam nyeri
kepala primer antara lain adalah: nyeri kepala tipe tegang (TTH - Tension
Type Headache), migrain, nyeri kepala cluster dan nyeri kepala primer lain
contohnya hemicrania continua. Nyeri kepala primer merupakan 90 % dari
semua keluhan nyeri kepala. Nyeri kepala juga dapat terjadi sekunder,
yang berarti disebabkan kondisi kesehatan lain, seperti nyeri karena
infeksi, vaskuler, neoplastik, pemakaian obat-obatan, dan juga paska
trauma kepala.1,4,6
Dari ketiga tipe nyeri yang sering dikeluhkan, nyeri kepala tipe
tegang (TTH-Tension Type Headache) adalah nyeri kepala yang paling
umum diseluruh dunia dan memiliki prevalensi yang cukup tinggi,
penelitian di denmark menunjukan bahwa 78% manusia sepanjang
hidupnya pernah mengalami nyeri kepala tipe seperti ini.6

1

Nyeri kepala merupakan masalah umum di kalangan anak-anak
remaja. Hal ini merupakan suatu masalah kesehatan yang serius, karena
nyeri kepala yang berulang merupakan faktor risiko untuk menjadi nyeri
kepala yang kronis di masa yang akan datang. Nyeri kepala juga dapat
membatasi kualitas hidup anak remaja dan merupakan penyebab utama
ketidakhadiran di sekolah. beberapa penelitia melaporkan bahwa
prevalensi nyeri kepala pada anak remaja wanita lebih tinggi dibanding
pada anak remaja pria.7,8
Berikut ini merupakan laporan kasus tentang sefalgia kronik pada
seorang anak yang dirawat di ruang Irina E sub divisi bagian neurologi,
RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.

2

S Jenis kelamin : Perempuan Tanggal Lahir/Umur : 23 april 2001 / 13 tahun Berat badan lahir : 43Kg Kebangsaan / suku : Indonesia / Minahasa Agama : Kristen Protestan Alamat : Tanawangko lingkungan 7 Tanggal Masuk RS : 11 september 2014 Jam Masuk RS : 10.30 wita Nama ibu / umur : Yuke Pondaag / 40 tahun Pendidikan ibu : Sekolah Dasar Pekerjaan ibu : Ibu Rumah Tangga (IRT) Tahun perkawinan : Pertama Nama ayah : Tomis Newa / 59 tahun Pendidikan ayah : Sekolah Menengah Pertama Pekerjaan ayah : Petani Tahun perkawinan : Pertama 3 .BAB II LAPORAN KASUS IDENTITAS : Nama : J.

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Perempuan Perempuan Umur 33 tahun 32 tahun 20 tahun 13 tahun Keterangan Sehat Sehat Sehat Penderita Family Tree Keterangan : Laki-laki Perempuan Penderita Keluhan Utama : Penderita datang dengan keluhan utama nyeri kepala yang dialami sejak ± 1 minggu sebelum masuk Rumah Sakit. 2. 3.Anamnesa Anak ke 4 dari 4 bersaudara No. nyeri menghebat sekitar 15-30 menit sebelum masuk Rumah Sakit. nyeri sudah dirasakan sejak 7 tahun yang lalu sampai sekarang. 1. nyeri kepala bersifat hilang timbul dengan pemberian obat anti nyeri. Riwayat Penyakit Sekarang 4 . 4.

selama hamil kondisi ibu dalam keadaan sehat Penyakit yang sudah dialami Morbili : Pernah Varicella : Pernah Pertusis : Belum pernah Diarrhea : Pernah Cacing : Belum pernah Batuk / Pilek : Belum pernah Lain-lain :- Kepandaian / Kemajuan Bayi 5 . imunisasi TT tidak ada. Nyeri juga dirasakan penderita bila sedang upacara bendera disekolah. Penderita juga mengalami demam sejak ± 3 hari sebelum masuk Rumah Sakit. penderita pernah terjatuh dari pohon ± 7 tahun lalu.Nyeri kepala di alami penderita sejak ± 1 minggu sebelum masuk Rumah Sakit yang bersifat hilang timbul dengan pemberian obat penghilang nyeri. Saat jatuh penderita tidak sadarkan diri beberapa menit hingga akhirnya dipercik air dan terbangun. nafsu makan / minum biasa. Penglihatan kabur juga dialami penderita sejak ± 2 hari sebelum masuk Rumah Sakit. nyeri dirasakan seperti terikat/tertekan tetapi tidak berdenyut. setelah kejadian tersebut penderita sering mengeluh nyeri kepala yang sifatnya hilang timbul. namun saat ini demam sudah tidak lagi.. nyeri menghebat ± 15 menit sejak masuk Rumah Sakit. BAB/BAK biasa Anamnesa Antenatal Antenatal care secara teratur dipuskesmas sebanyak 9 kali. Dua tahun lalu penderita juga merasakan nyeri kepala yang sama seperti saat ini hanya saja saat ini lebih nyeri. mual dan muntah tidak ada.

Pertama kali membalik : 5 bulan Pertama kali tengkurap : 5 bulan Pertama kali duduk : 8 bulan Pertama kali merangkak : 8 bulan Pertama kali berdiri : 1 tahun Pertama kali berjalan : 1 tahun Pertama kali tertawa : 8 bulan Pertama kali berceloteh : 7 bulan Pertama kali memanggil mama : 7 bulan Pertama kali memanggil papa : 1 tahun Anamnesis Makanan Terperinci Asi : 0 – 2 tahun Pasi :- Bubur susu :- Bubur siang : 2 bulan (selama 1 bulan) Bubur halus :- Nasi Lembek : - Imunisasi : BCG POLIO DPT CAMPAK HEPATITIS I + + + + + DASAR II III + + + + + + Riwayat Keluarga Hanya penderita yang sakir seperti ini dalam keluarga 6 I ULANGAN II III .

Sumber air minum : Sumur Sumber penerangan listrik : PLN Penanganan sampah : Dibakar dan dibuang Pemeriksaan Fisik Berat badan : 40 Kg Panjang badan :165 cm Keadaan umum : Cukup Keadaan mental : Compos Mentis Gizi : baik Sianosis :- Anemia Ikterus :- Kejang :- Tensi : 120 / 70 mmHg Nadi : 84 x/m Respirasi : 24 x/m Suhu tubuh : 36.Keadaan social. ekonomi. ayah penderita seorang petani sedangkan ibu penderita hanya ibu rumah tangga. WC/KM diluar rumah. dinding beton dan lantai tehel. penderita tinggal di daerah tanawangko lingkungan 7. beratap seng. jumlah kamar tidur 2. 2 orang dewasa. dan 3 orang anakanak. dihuni oleh 5 orang.5 oc Kulit : Warna : Sawo matang Efloresensi :- 7 . kebiasaan dan lingkungan Penderita tinggal di rumah permanen.

isokor.Pigmentasi :- Lapisan lemak :- Jaringan parut :- Tonus : Normal Oedema :- Lain-lain :- Kepala : Bentuk : Mesochepal Rambut : Hitam. sukar dicabut Ubun-ubun Besar : datar Mata : Exophthalmus/Enophthalmus : Tekanan bola mata : Normal Conjungtiva : Anemis (-) Sclera : Ikterik (-) Cornea Reflex : Normal Pupil : bulat. RC +/+ Lensa : Jernih Fundus : tidak dievaluasi Visus : tidak dievaluasi Gerakan : Normal Telinga : secret (-) Hidung : secret (-) 8 .

Mulut : Bibir : Sianosis (-) Lidah : Beslag (-) Gigi : Caries (-) Selaput Mulut : Mukosa Gusi : perdarahan (-) Bau pernafasan : Foetor (-) Tenggorokan : Tonsil : T-T Hiperemis (-) Faring : Hiperemis (-) Leher : Trachea : Letak tengah Kelenjar : pembesaran KGB (-) Kaku kuduk : (-) Lain-lain : (-) Thorax : Bentuk : Normal Rachitic Rosary : (-) Ruang Intercostal : (-) Precordial Bulging : (-) Xiphosternum : (-) Harrisone groove : (-) Retraksi : (-) Lain-lain : (-) 9 .

retraksi (-) Palpasi : stem fremitus kiri sama dengan kanan Perkusi : sonor kiri sama dengan kanan Auskultasi : Sp. CRT ≤ 2” 10 . Rh -/-. Wh -/- Jantung : Detak jantung : 84 x/m Iktus cordis : cordis tidak tampak Batas kiri : Linea midclavicularis sinistra Batas kanan : Linea Parasternal Dextra Batas atas : ICS II-III Batas jantung Apex : M1 > M2 Batas apex Aorta : A1 > A2 Batas jantung pulmo : P1 > P2 Bising : (-) Abdomen : Bentuk : Datar. bising usus (+) Hepar : tidak teraba Lien : tidak teraba Lain-lain : Genitalia : Perempuan (Normal) Kelenjar : Pembesaran KGB (-) Anggota gerak : Akral hangat.Paru-paru : Inspeksi : Simetris. Bronkovesikuler.

VI) Selama pemeriksaan berlangsung dapat diamati bahwa pasien memiliki gerakan bola mata yang wajar (pasien mampu melirikkan bola matanya ke kiri dan ke kanan). dan Nervus Abducens (N. Nervus Trigeminus (N.I) Tidak dilakukan evaluasi b. RP -/-. pasien mampu untuk menjawab pertanyaan dengan tepat. hal ini menandakan bahwa fungsi Nervus Aksesorius pasien dalam keadaan normal j.spastic (-). bola mata pasien dapat mengikuti penlight kirikanan dan atas-bawah d. Nervus Vagus (N. Saat berjalan pasien terlihat stabil dan tidak terjatuh  Tes Romberg memberi kesan pasien dapat membuka mata dan tidak terjatuh  Tes Heel-to-toe-walking memberi kesan pasien tidak terjatuh ke salah satu sisi  Tes Jari hidung memberi kesan pasien dapat melakukan dengan baik dan lancar g.VIII) Selama pemeriksaan berlangsung. Nervus Hipoglosus (N.X) Tidak dilakukan evaluasi i. Nervus Olfaktorius (N. Hal ini memberi kesan bahwa pendengaran pasien normal. Selain itu. Nervus Vestibulokoklearis (N. Nervus Optikus (N.IV).IX) Tidak dilakukan evaluasi h. Nervus Facialis (N.II) Tidak dilakukan evaluasi c. Nervus Troklearis (N.Klonus (-) Pemeriksaan Nervur Kranialis a. Nervus Glossofaringeus (N.V) Selama pemeriksaan berlangsung terlihat wajah pasien simetris.XI) Selama pemeriksaan berlangsung terlihat bahwa pasien dapat menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan.III). Nervus Okulomotoris (N.VII) Selama pemeriksaan berlangsung terlihat wajah pasien simetris f.Tulang belulang : deformitas (-) Otot-otot : atrofi (-) Reflek-reflek : RF +/+. e. Nervus Aksesorius (N.XII) 11 .

9motorik fl Hb : 11.6 g/dl Eritrosit : 4.4 g/dl Fungsi MCV : 80.000 ul/mm3 : Hemihipestesi Eosinofil : 4 %(-) Basofil :0% : Kekuatan otot Batang :4% Segmen : 42 % Lymposit : 40 % Monosit : 16 % : N N N N Refleks fisiologis : (+) normal Refleks patologis : (-) Laboratoirum Tanggal 12 september 2014 12 Creatinin Ureum 5 SGOT 5 SGPT 5 Natrium 5 Kalium Clorida : 0.Tidak dilakukan evaluasi Fungsi sensorik MCH : 27 pg MCHC : 33.96 mmol/L : 102.5 mg/dl : 17 mg/dl : 16 U/L : 6 U/L : 142 mmol/L : 3.29 jt/ml Leukosit : 10.000 mm3/ul Trombosit Tonusotot : 323.5 mmol/L .

penderita memiliki riwayat jatuh dari pohon ( 7 tahun lalu). nyeri bersifat hilang timbul. 13 .30 pagi dengan keluhan nyeri kepala yang dialami sejak ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Keadaan umum : Tampak sakit Kesadaran : Compos mentis Tekanan darah : 120/70 mmHg. Semenjak jatuh penderita sering mengalami nyeri kepala hilang timbul.Resume Masuk Pasien perempuan usia 13 tahun dengan berat badan 40 Kg. tinggi badan 154 cm masuk rumah sakit pada tanggal 11 september 2014 jam 10.

C/P dalam batas normal : Datar. spastic (-).5oc Kepala : conjungtiva anemis (-). CRT ≤ 2”. sclera ikterik (-).Nadi : 84 x/m. Respirasi : 24 x/m Suhu tubuh : 36. RF +/+. klonus (-). retraksi (-). pernafasan cuping hidung (-) Thorax Abdomen : Simetris. lemas. RP -/- Diagnosis kerja : Sefalgia kronik tipe tension headache ec post trauma kepala Usulan pengobatan/perawatan :  Ibuprofen 3 x 400 mg tab Anjuran Pemeriksaan :    CT-Scan Kepala + Kontras Konsul ke bagian Mata Konsul ke bagian THT 14 . bising usus (+) Normal. Hepar/Lien tidak teraba Extremitas : Akral hangat.

Follow Up Hari 1 / Tanggal 12-09-2014 S : Nyeri kepala menurun. 15 . Respirasi : 28 x/m. Nadi : 80 x/m. muntah tidak ada O : KU : Tampak sakit Kes : Compos Mentis Tensi : 110 / 60 mmHg.

pupil bulat iskor Ø 3 mm-3 mm Thorax : simetris. Hepar/lien tidak teraba Extremitas : akral hangat. lemas. Respirasi : 24 x/m. klonus (-). Nadi : 80 x/m. muntah tidak ada O : KU : Tampak sakit Kes : Compos Mentis Tensi : 100 / 70 mmHg. C/P dalam batas normal Abdomen : datar. Refleks fisiologis (+).PCH (-).Suhu : 36. BU (+) normal.5oc Kepala : Conjungtiva anemis (-). retraksi (-).sclera ikterik (-). Suhu : 36. Intake (+). Refleks Patologis -/- Motorik 5 5 5 5 Sensorik + + + + A : Sefalgia kronis tiper tension headache ec post trauma kepala P : Ibuprofen 3 x 400 mg tab Anjuran : CT-Scan Kepala + Kontras Konsul Mata Konsul THT Hari 2 / Tanggal 13-09-2014 S : Nyeri kepala menurun.5oc 16 . CRT ≤ 2” Spastic (-).

klonus (-). retraksi (-). Suhu : 36. Nadi : 88 x/m. Refleks Patologis -/- Motorik 5 5 5 5 Sensorik + + + + A : Sefalgia kronis tiper tension headache ec post trauma kepala P : Ibuprofen 3 x 400 mg tab Jawaban Konsul : 1. Respirasi : 28 x/m. Refleks fisiologis (+). Dari bagian THT menyimpulkan tidak terdapat kelainan di bidang THT 2.2oc 17 . CRT ≤ 2” Spastic (-). pupil bulat iskor Ø 3 mm-3 mm Thorax : simetris. penderita menolak untuk dilakukan pemeriksaan Hari 3 / Tanggal 14-09-2014 S : Nyeri kepala berkurang. BU (+) normal.Kepala : Conjungtiva anemis (-).sclera ikterik (-). muntah tidak ada O : KU : Tampak sakit Kes : Compos Mentis Tensi : 110 / 60 mmHg. Dari bagian Mata. lemas.PCH (-). Hepar/lien tidak teraba Extremitas : akral hangat. C/P dalam batas normal Abdomen : datar.

Suhu : 36. Respirasi : 24 x/m.sclera ikterik (-). muntah tidak ada O : KU : Tampak sakit Kes : Compos Mentis Tensi : 110 / 70 mmHg. BU (+) normal.PCH (-). lemas. pupil bulat iskor Ø 3 mm-3 mm Thorax : simetris. Refleks Patologis -/- Motorik 5 5 5 5 Sensorik + + + + A : Sefalgia kronis tiper tension headache ec post trauma kepala P : Ibuprofen 3 x 400 mg (K/p) Hari 4 / Tanggal 15-09-2014 S : Nyeri kepala (-). klonus (-). Nadi : 80 x/m.5oc 18 .Kepala : Conjungtiva anemis (-). Hepar/lien tidak teraba Extremitas : akral hangat. retraksi (-). C/P dalam batas normal Abdomen : datar. Refleks fisiologis (+). CRT ≤ 2” Spastic (-).

7 19 .5. klonus (-). Refleks Patologis -/- Motorik 5 5 5 5 Sensorik + + + + A : Sefalgia kronis tiper tension headache ec post trauma kepala P : Ibuprofen 3 x 400 mg (K/p) Pro : Rawat Jalan Jawaban Hasil / Ekspertisi CT-Scan Tidak ditemukan adanya kelainan BAB III PEMBAHASAN Kasus yang diperoleh adalah suatu bentuk sefalgia yang bersifat kronik post trauma kepala dengan tipe tension headache. retraksi (-). lemas.4. dan sebagainya. rasa terikat. C/P dalam batas normal Abdomen : datar. tertusuk-tusuk. pupil bulat iskor Ø 3 mm-3 mm Thorax : simetris. Refleks fisiologis (+). Sefalgia merupakan rasa nyeri atau rasa tidak mengenakkan pada seluruh daerah kepala dengan batas bawah dari dagu sampai kedaerah belakang kepala ( daerah oksipital dan sebagian daerah tengkuk) dengan sensasi nyeri berupa sensasi berdenyut. BU (+) normal.Kepala : Conjungtiva anemis (-).sclera ikterik (-).PCH (-). Dorland’s Pocket Medical Dictionary menyatakan bahwa nyeri kepala adalah nyeri di kepala yang ditandai dengan nyeri unilateral dan bilateral disertai dengan flushing serta mata dan hidung yang berair. CRT ≤ 2” Spastic (-). Hepar/lien tidak teraba Extremitas : akral hangat.

sinus.7. gigi. pasien juga mengeluhkan demam dan penglihatan yang kabur kurang lebih 3 hari sebelum masuk rumah sakit. neuralgia glossofaringeal dan hipertensi.Sefalgia berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi 2 yaitu sefalgia primer dan sekunder. Selain itu. sefalgia primer adalah nyeri kepala yang tidak jelas terdapat kelainan anatomi atau kelainan struktur atau sejenisnya. mulut atau struktur facial atau kranial lainnya. kelainan metabolik. setelah kejadian tersebut pasien sering mengeluhkan nyeri di daerah kepala hingga saat ini. subakut. nyeri kepala subakut biasa timbul karena giant cell arteritis. Sedangkan untuk nyeri kepala kronik biasa disebabkan karena migren.6-8 Sefalgia berdasarkan onsetnya dapat dibagi menjadi 3 kelompok nyeri yaitu nyeri kepala akut. kelainan non vaskuler intrakranial. 20 . penyakit serebrovaskular. diantaranya kelainan vaskular. mata. massa intrakranial. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. nyeri bersifat hilang timbul dengan pemberian obat penghilang nyeri. pasien terbangun setelah 15 menit kemudian. Dari anamnesa di dapatkan bahwa pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri kepala sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu. pasien memiliki riwayat terjatuh dari pohon sejak 7 tahun yang lalu. hidung. tetapi saat ini demam dan penglihatan kabur sudah tidak dikeluhan lagi. cervical spine disease. sinusitis. saat terjatuh pasien tidak sadarkan diri. nyeri kepala tipe tegang. dental disease dan oleh karena trauma kepala. Nyeri kepala akut biasanya disebabkan oleh subarachnoid haemorrhage. telinga. nyeri kepala klaster. neuralgia trigeminal. leher. nyeri kepala kluster. nyeri kepala akut dan kronik post trauma kepala. nyeri kepala ini juga bisa timbul disebabkan kejang. lumbal punksi dan karena hipertensi ensefalopati. meningitis atau encephalitis dan juga ocular disease.8 Pada kasus ini di diagnosa dengan sefalgia kronik tipe tension headache berdasarkan dari anamnesa. dan kronik. sedangkan sefalgia sekunder adalah nyeri kepala yang jelas terdapat kelainan anatomi atau kelainan struktur dan atau sejenisnya. nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan kranium. diantaranya migran. tension tipe headache.

Pada pemeriksaan Telinga Hidung Tenggorok (THT) juga tidak ditemukan adanya kelainan. tidak disertai mual dan muntah.2%. bersifat ringan hingga sedang. Rata-rata prevalensi TTH 93%.14 TTH dibedakan menjadi tiga subklasifikasi yaitu 1).11.12 TTH episodik adalah nyeri kepala primer yang paling umum terjadi. TTH (Tension Type Headache) merupakan nyeri kepala bilateral yang menekan (pressing/squeezing). bersifat fotofobia atau fonofobia. di Jerman sebanyak 38. di Kanada sekitar 36%.13. dengan prevalensi 1-tahun sekitar 38–74%.11. TTH adalah bentuk paling umum nyeri kepala primer yang mempengaruhi hingga dua pertiga populasi. di Brazil hanya 13%.5 Satu studi menyebutkan prevalensi TTH sebesar 87%.9. Suatu survei populasi di USA menemukan prevalensi tahunan TTH episodik sebesar 38.8%. tidak dipengaruhi dan diperburuk oleh aktivitas fisik.TTH episodik yang jarang (Infrequent episodic) / 1 serangan per bulan atau kurang dari 12 sakit kepala per tahun.2% sampai 30.3%.4. TTH dan nyeri kepala servikogenik adalah dua tipe nyeri kepala yang paling sering dijumpai.11 Sekitar 93% laki-laki dan 99% perempuan pernah mengalami nyeri kepala. begitu juga dengan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan dimana pada pemeriksaan computerized tomography scanner (CTScan) tidak ditemukan adanya kelainan seperti perdarahan ataupun adanya massa (Tumor).2 per 1000 orang per tahun.3% dan TTH kronis sebesar 2. mengikat.Pemeriksaan fisik yang telah dilakukan pada pasien ini tidak didapatkan kelainan-kelainan neurologis. Prevalensi TTH di Korea sebesar 16. Insiden di Denmark sebesar 14. 4. Sekitar 78% orang dewasa pernah mengalami TTH setidaknya sekali dalam hidupnya.4. Pada kasus ini di diagnosis dengan sefalgia kronik tipe tension headache (TTH-Tension Type Headache). Pasien sempat mengeluh adanya pandangan yang kabur sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit dan direncanakan untuk dilakukan pemeriksaan mata akan tetapi pasien menolak untuk dilakukan pemeriksaan tersebut.9.4. tidak berdenyut. 2). TTH episodik yang sering (frequent episodic) 1-14 serangan 21 .

Pencetus TTH antara lain: kelaparan. misalnya: lelah. sedangkan ketegangan mental dan stres adalah faktor-faktor tersering penyebab TTH.4. anemia.per bulan atau antara 12 dan 180 hari per tahun. intoksikasi. nyeri saat sedang melaksanakan upacara bendera. obesitas. 44% TTH kronis mengalami perbaikan signifikan. Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah ibuprofen 400 mg tablet. 90% ibuporen terikat dalam protein plasma. Buruknya upaya kesehatan diri sendiri (poorself-related health). gangguan tidur. Efek anti-inflamasinya terlihat dengan dosis 1200-2400 mg perhari. Gangguan emosional berimplikasi sebagai faktor risiko TTH. Absropsi ibuprofen cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. tidak berdenyut. gout. Ibuprofen merupakan golongan obat anti inflamasi non steroid (NSAID) dengan derivat asam propionat yang bersifat analgesik dengan daya anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Asosiasi positif antara nyeri kepala dan stres terbuktinyata pada penderita TTH.9.12 Berdasarkan etiopatofisiologi TTH secara umum diklasifikasikan sebagai bentuk organik.10. dan usia muda adalah faktor risiko TTH. dan fl uktuasi hormonal wanita.4. dehidrasi.15 Serupa dengan anamnesis diatas bahwa nyeri kepala yang di keluhkan oleh penderita bersifat hilang timbul. sedangkan 29% TTH episodik berubah menjadi TTH kronis. seperti tertekan/terikat. 3). ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap. TTH menahun (chronic). dan sifilis dan gangguan fungsional. ketidaknormalan endokrin. seperti: tumor serebral. Ibuprofen memiliki efek samping saluran cerna yang lebih ringan dibandingkan dengan aspirin.lebih dari 15 serangan atau sekurangnya 180 hari per tahun. caffeine withdrawal. tidur beberapa jam setiap malam.11 Pada penderita TTH dewasa berobat jalan yang diikuti selama lebih dari 10 tahun. pekerjaan/beban yang terlalu berat (overexertion). tidak didapatkan mual dan muntah dan tidak dipengaruhi oleh aktivitas fisik. hidrosefalus.13. dan nyeri yang direfleksikan. tidak mampu relaks setelah bekerja. Studi populasi potong lintang Denmark yang ditindaklanjuti selama 2 tahun mengungkapkan rata-rata remisi 45% di 22 . perubahan pola tidur. bekerja tak kenal waktu. efek analgesiknya sama dengan aspirin. Stres dan konflik emosional adalah pemicu tersering TTH. meningitis. idnometason atau naproksen.

Seorang anak perempuan usia 13 tahun masuk Rumah Sakit pada tanggal 11 september 2014 jam jam 10. Penderita merupakan anak ke-4 dari 4 orang bersaudara. nyeri bersifat hilang timbul.14. Secara umum. penderita tinggal di daerah tanawangko lingkungan 7 3. nyeri dirasakan sejak 7 tahun yang lalu sampai sekarang. ayah penderita adalah seorang petani. sedangkan ibu penderita adalah ibu rumah tangga. pemeriksaan laboratorium. 2.12.30 pagi dengan keluhan nyeri kepala yang dialami sejak ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. dan pemeriksaan penunjang (CT-Scan + Kontras) tidak menemukan adanya kelainan 23 .15 BAB IV KESIMPULAN 1. Pemeriksaan fisik neurologis.antara penderita TTH episodik frekuen atau TTH kronis. 39% berlanjut menjadi TTH episodik dan 16% TTH kronis.4. dapat dikatakan prognosis TTH baik.

Hasil konsultasi ke bagian Telinga Hidung dan Tenggorok (THT) menyimpulkan bahwa tidak terdapat kelainan di bidang tersebut 5.41 no. tidak dipengaruhi dan diperburuk oleh aktivitas fisik. jakarta 2014. Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah obat golongan anti inflamasi non-steroid (NSAID). Hasil konsultasi ke bagian mata menyimpulkan bahwa penderita menolak dilakukan pemeriksaan mata 6. Sefalgia berdasarkan onsetnya dapat dibagi menjadi 3 kelompok nyeri yaitu nyeri kepala akut. Prognosis pada pasien ini secara keseluruhan adalah dubia ad bonam DAFTAR PUSTAKA 1. yaitu ibuprofen 400 mg tablet 12. subakut. tertusuk-tusuk. Susanto A. bersifat fotofobia atau fonofobia 11.vol. mengikat. Finkel AG. Wang SJ. Charateristic and treatment of headache after traumatic brain injury. American headache sosiety 2010 4.3 5. Sefalgia merupakan rasa nyeri atau rasa tidak mengenakkan pada seluruh daerah kepala dengan batas bawah dari dagu sampai kedaerah belakang kepala ( daerah oksipital dan sebagian daerah tengkuk) dengan sensasi nyeri berupa sensasi berdenyut. Concussion and post-traumatic headache. American journal of physical medicine and rehabilitation. Neurosciense Departement. serta pemeriksaan penunjang di simpulkan bahwa kasus ini merupakan kasus sefalgia kronik tipe tension headache (TTH) 7. tidak berdenyut. dan sebagainya 8. Post trauma ic headache and brain injury. tidak disertai mual dan muntah. Sefalgia berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi 2 yaitu sefalgia primer dan sekunder 9. Fakultas kedokteran universitas katolik atmajaya. dan kronik 10. Clark DJ Walker WC. Fuh JL.hal:619-27 3. Berdasarkan hasil anamnesis. pemeriksaan neurologis.vol. Peranan CT Scan kepala dalam diagnosis nyeri kepala kronis. pemeriksaan fisik.41 no. Brain injury Association of America. Indonesia 2014. 2006. Lew LH. rasa terikat. Lin PH.3 2. Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII) Surya University. bersifat ringan hingga sedang. 2001 24 . Tension ype headache.4. Zasler N. Anurogo D. TTH (Tension Type Headache) merupakan nyeri kepala bilateral yang menekan (pressing/squeezing).

Sjahrir H. Bendtsen L. Edisi ke-5.hal: 147-50 15. Derrent Neuropsychol. Nafriadi RS. The 9. Pfaffenrath V. Crumbley K. Analgesik-antipiretik analgesik anti-inflamasi nonsteroid dan obat gangguan sendi lainnya. Mitsikostas DD.hal:116 8. The Oshner Journal 2011.6(1). International Headache Society. Denmark 2009.hal53-8 7. May A. International Headache Society 2013 11. depression and anxiety symptoms in chronic post traumatic headache after mild brain injury. jakarta 2007. Headache Classification Committee of the International Headache Society (IHS). 2004. Frese A. Schoenen J. Martins BBM. Elysabeth. May A dkk. EFNS guidline on the treatment of tension-type headache. Afra J. Evers S.6. Vennemann M. 526-35 13. hal:347-354 10. dkk. Initial experience with implanted peripheral nerve stimulation for the treatment of refractory cephalgia. hal.hal: 179-87 25 . university of Copenhagen. The International Classification of Headache Disorders.3rd edition (beta version). Goadsby PJ. Mekanisme terjadinya nyeri kepala primer dan prospek pengobatannya. European Handbook of Neurological Management 2011. Linde M.dkk.11:147-150 Fendrich K. Royster EI. Evers S. Farmakologi dan Terapi. 2010. Maret 2012. Silva LC.Report of EFNS task force.hal: 1318-25 14. Evers S. Jensen R. Oliveira DAO. vol 1. Bendtsen L. Sandrini G. Headache prevalence among adolescents – the German DMKG headache study. 2007. Crumbley K. Bernardino SN. Gunawan SG. Ribas VR. Ochsner Journal 2011. Tension-Type Headache.hal 230-46 12. Fakultas kedokteran universitas sumatra utara.2nd edition. Royster EI. Linde M. Departement of Neurology. Martins HADL. Initial Experience With Implanted Peripheral Nerve Stimulation for the Treatment of Refractory Cephalgia. Life quality. European Journal of Neurology. Cluster headache and other trigemino-autonomic cephalgias.