You are on page 1of 8

1.

Px Fisik :

a. Defans muskular (-) : rangsangan m.Rektus abdominis.


Poitif bila nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan adanya
inflamasi di daerah peritoneale.

b. Abdomen distended : proses peningkatan tekanan abdominal yang


menghasilkan peningkatan tekanan dalam perut dan menekan dinding
perut.

c. Pekak hepar (+)


Perkusi hepar : Lakukan perkusi pada linea midklavikularis kanan, mulailah setinggi
bawah umbilikus (area tympani) bergerak kearah atas ke hepar ( area pekak, pinggir
bawah hepar). Selanjutnya lakukan perkusi dari arah paru pada linea midklavikularis
kanan kearah bawah ke hepar ( pekak ) untuk menidentifikasi pinggir atas hepar.
Normal liver span : 6-12 cm di lineamidclavicula dext dan 4-8cm di linea
midsternal.
Note : Hilangnya pekak hepar merupakan tanda dari adanya perforasi intestinal, hal
ini menandakan adanya udara bebas dalam cavum peritoneum yang berasal dari
intestinal yang mengalami perforasi. Biasanya ini merupakan tanda awal dari
peritonitis

d. Undulasi (-) dan pekak beralih (+)


Cairan bebas dalam rongga abdomen

Adanya cairan bebas dalam rongga abdomen (asites) akan menimbulkan suara
perkusi timpani di bagian atas dan dullness dibagian samping atau dullness dominant. Karena
cairan itu bebas dalam rongga abdomen, maka bila pasien dimiringkan akan terjadi perpindahan
cairan ke sisi terendah.
Pemeriksaan gelombang cairan
Undulating fluid wave
Teknik ini dipakai bila cairan asites cukup banyak. Prinsipnya
adalah ketukan pada satu sisi dinding abdomen akan menimbulkan gelombang cairan yang
akan diteruskan ke sisi yang lain. Pasien tidur terlentang, pemeriksa meletakkan telapak tangan
kiripada satu sisi abdomen dan tangan kanan melakukan ketukan berulang-ulang pada dinding
abdomen sisi yang lain. Tangan kiri kan merasakanadanya tekanan gelombang.
Pemeriksaan pekak alih (shifting dullness)
Prinsipnya cairan bebas akan berpindah ke bagian abdomen terendah. Pasien tidur
terlentang, lakukan perkusi dan tandai peralihan suara timpani ke redup pada kedua sisi. Lalu

pasien diminta tidur miring pada satu sisi, lakukan perkusi lagi. Tandai tempat peralihan suara
timpani ke redup maka akan tampak adnya peralihan suara redup.
Ket : adanya shifting dullness menandakan adanya acites. (pada scenario
oleh karena perdarahan intraabdominal pasca trauma abdomen. Perlu
diselidiki lebih lanjut daerah pekak hepar dan VU). Pekak menetap
menandakan adanya masa.
1. Konsep Luka
Luka adalah kerusakan kontinuitas jaringan atau kulit, mukosa mambran dan
tulang atau organ tubuh lainnya.

Etiologi.
Luka dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu:
1) Trauma mekanis yang disebabkan karena tergesek, terpotong, terbentur dan terjepit.
2) Trauma elektris dan penyebab cidera karena listrik dan petir.
3) Trauma termis, disebabkan oleh panas dan dingin.
4) Truma kimia, disebabkan oleh zat kimia yang bersifat asam dan basa serta zat iritif dan
berbagai korosif lainnya.
A. Berdasarkan derajat kontaminasi :
a. Luka bersih: luka yang tidak terdapat inflamasi dan infeksi, merupakan luka
sayat elektif dan steril dimana luka tersebut berpotensi untuk
terinfeksi.Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
b. Luka bersih terkontaminasi : luka pembedahan dimana saluran
pernafasan, saluran pencernaan dan saluran perkemihan dalam kondisi
terkontrol. Proses penyembuhan luka akan lebih lama namun luka tidak
menunjukkan tanda infeksi. Kemungkinan timbulnya infeksi luka sekitar 3% 11%
c. Luka terkontaminasi : luka yang berpotensi terinfeksi spillage saluran
pernafasan, saluran pencernaan dan saluran kemih. Luka menunjukan tanda
infeksi. Luka ini dapat ditemukan pada luka terbuka karena trauma atau
kecelakaan (luka laserasi), fraktur terbuka maupun luka penetrasi.
Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.
d. Luka kotor : luka lama, luka kecelakaan yang mengandung jaringan mati dan
luka dengan tanda infeksi seperti cairan purulen. Luka ini bisa sebagai akibat
pembedahan yang sangat terkontaminasi. Bentuk luka seperti perforasi
visera, abses dan trauma lama.
B. Berdasarkan Penyebab
a. Vulnus ekskoriasi atau luka lecet/gores : cedera pada permukaan
epidermis akibat bersentuhan dengan benda berpermukaan kasar atau
runcing. Luka ini banyak dijumpai pada kejadian traumatik.
b. Vulnus scissum

luka sayat atau iris yang di tandai dengan tepi luka berupa garis lurus dan
beraturan. Vulnus scissum biasanya dijumpai pada aktifitas sehari-hari
seperti terkena pisau dapur, sayatan benda tajam dimana bentuk luka
teratur,
c. Vulnus laseratum atau luka robek
luka dengan tepi yang tidak beraturan atau compang camping biasanya
karena tarikan atau goresan benda tumpul. Kedalaman luka bisa
menembus lapisan mukosa hingga lapisan otot.
d. Vulnus punctum (ictum) atau luka tusuk
luka akibat tusukan benda runcing yang biasanya kedalaman luka lebih
dari pada lebarnya. Misalnya tusukan pisau yang menembus lapisan otot,
tusukan paku dan benda-benda tajam lainnya.
e. Vulnus morsum
luka karena gigitan binatang. Luka gigitan hewan memiliki bentuk
permukaan luka yang mengikuti gigi hewan yang menggigit. Dengan
kedalaman luka juga menyesuaikan gigitan hewan tersebut.
f.
Vulnus combutio
luka karena terbakar oleh api atau cairan panas maupun sengatan arus
listrik. Vulnus combutio memiliki bentuk luka yang tidak beraturan dengan
permukaan luka yang lebar dan warna kulit yang menghitam. Biasanya
juga disertai bula karena kerusakan epitel kulit dan mukosa.

g. Luka Tembak (vulnus sclopectorum)


h. Luka Memar (contusion)
Klasifikasi baru

Klasiffikasi
lama
Derajat I

Kedalaman Luka

Bentuk Klinis

Lapisan Epidermis

Erythema, Rasa sakit seperti


tersengat, blisters(Gelembung
cairan )

Partial thicknesssuperficial

Derajat II

Epidermis
superficial, Papilary
dermis

Blisters, Cairan bening ketika


gelembung dipecah, dan rasa
sakit nyeri

Partial thickness deep

Derajat III

Epidermis Reticular Dermis

Sampai pada lapisan


berwarna putih, Tidak terlalu
sakit seperti superficial
derajat II. sulit dibedakan dari
full thickness

Full tickness

Derajat III dan


IV

Dermis dan struktuir


tubuh dibawah
dermis Fascia,
Tulang, dan Otot

Berat, adanya eschar seperti


kulit yang melelh, cairan
berwarna , tidak didapatkan
sensasi rasa sakit

Superficial thickness

C. Klasifikasi berdasarkan penyembuhan :

a. Akut :

Luka akut akan sembuh dalam waktu cepat antara 6-12 minggu, kecuali jika
sudah terinfeksi. Luka akut terbagi atas luka mekanis dan luka bakar/ luka terkena
bahan kimia.
b. Kronik
Luka kronik merupakan luka akut yang terlambat di obati atau lama dalam
melakukan penangan pertama. Luka kronik antara lain: Luka ganas, Ulkus pada
kaki, Terdapat tekanan pada daerah ulkus, Ulkus pada penderita Diabetes
Mellitus.
Trauma arteri umumnya dapat disebabkan oleh trauma benda tajam ( 50 % ) misalnya
karena tembakan, luka-luka tusuk, trauma kecelakaan kerja atau kecelakaan lalu lintas.
Trauma arteri dibedakan berdasarkan beratnya cidera :

Derajat I: robekan adviticia dan media, tanpa menembus dinding.


Derajat II : robekan varsial sehingga dinding arteri juga terluka dan biasanya menimbulkan

pendarahan yang hebat.


Derajat III adalah pembuluh darah putus total, gambaran klinis menunjukan pendarahan
yang tidak besar, arteri akan mengalami vasokontriksi dan retraksi sehingga masuk ke
jaringan karen elastisitasnya.

Efusi pleura :
Cairan Pleura Cairan pleura mengandung 1.500 4.500 sel/ mL, terdiri dari makrofag
(75%), limfosit (23%), sel darah merah dan mesotel bebas. Cairan pleura normal mengandung
protein 1 2 g/100 mL. Elektroforesis protein cairan pleura menunjukkan bahwa kadar protein
cairan pleura setara dengan kadar protein serum (berat molekul rendah seperti albumin, lebih
tinggi dalam cairan pleura) Kadar molekul bikarbonat cairan pleura 20 25% lebih tinggi
dibandingkan kadar bikarbonat plasma, sedangkan kadar ion natrium lebih rendah 3 5% dan
kadar ion klorida lebih rendah 6 9% sehingga pH cairan pleura lebih tinggi dibandingkan pH
plasma. Keseimbangan ionik ini diatur melalui transpor aktif mesotel. Kadar glukosa dan ion
kalium cairan pleura setara dengan plasma. Jumlah cairan pleura tergantung mekanisme
gaya Starling (laju filtrasi kapiler di pleura parietal) dan sistem penyaliran limfatik
melalui stoma di pleura parietal.
Akumulasi berlebih cairan pleura hingga 300 mL di cavum pleura disebut sebagai efusi pleura.
Penyebab efusi pleura :

1. Peningkatan pembentukan cairan pleura


- Peningkatan cairan interstitial paru : Gagal jantung kiri, pneumonia, emboli paru
- Peningkatan tekanan intravaskular pleura : Gagal jantung kanan atau kiri, sindrom
vena kava superior
- Peningkatan permeabilitas kapiler pleura : Inflamasi pleura, peningkatan kadar VEGF
- Peningkatan kadar protein cairan pleura
- Penurunan tekanan pleura : Atelektasis, peningkatan rekoil elastik paru
- Peningkatan akumulasi cairan peritoneum : Asites, dialisis peritoneum
- Disrupsi duktus torasikus
- Disrupsi pembuluh darah rongga dada
B. Penurunan Eliminasi Cairan Pleura
- Obstruksi penyaliran limfatik pleura parietal
- Peningkatan tekanan vaskular sistemik : Sindrom vena kava superior, gagal jantung kanan
Menurut jenis cairannya, efusi pleura dibedakan menjadi Eksudatif dan Transudatif.

Penyebab

Warna Cairan
Uji Rivalta
Protein
Berat Jenis
LDH
LDH cp/plasma
Protein cp/plasma
Leukosit
Hitung Jenis
PH
Glukosa
Amilase
Alkali fostafase

Transudat
Gagal Jantung Kongestif Kiri
Sindroma nefrotik
Sindrom Meig
Sindroma V.Cava Superior
Acites (o/k serosis hepar)
Hipoproteinemia
Pneumonia Bakterial
Perikarditis Konstriktif
Pankreatitis
Serosa Jernih
(-)
< 3,0 gr %
< 1,016 (rendah)
< 200 /
< 0,6
< 0,5
<1000
<50% Limfosit
> 7,3
plasma
= plasma
< 75

Eksudat
- TB
- Pleuritis
- Infeksi paru
- Keganasan
- Infeksi sub- diafragma
- Tumor pleura primer
- Infrakparu
- Radiasi
- Penyakit kolagen
Keruh
+2
>3,0 gr %
>1,016
>200 /
>0,6
> 0,5
>1000
>50% Limfosit
< 7,3
<plasma
>plasma
> 75

Beberapa sumber menambahkan jenis efusi pleura Hemorragis, yang disebabkan oleh : Tumor,
Trauma , Infrak Paru dan Tuberkulosis

Manifestasi Klinis
- Nyeri dada
- Sesak nafas
- Letih
- Sulit bernafas
- Batuk
- Peningkatan
suhu tubuh
(infeksi)

Diagnosis Fisik
Palpasi
Fremitus melemah, Trakhea deviasi,
ICS melebar
Auskultasi
Suara nafas melemah/ menghilang
bronkial dan egofoni
Perkusi
redup/pekak (Garis Ellis Domessau)
Inspeksi
Pengembangan rongga torak yang
asimetris sehingga sisi yang
mengalami efusi terjadi ketinggalan
bernafas (Hoover sign)
Pergeseran mediastinum
hanya terlihat pada efusi yang
masif (>1000 mL)

Radiologis
- > 75 ml : sinus
kostofrenikus tumpul
- > 300 ml : gambaran efusi
pleura,
Garis Ellis Domessau
(pemeriksaan lateral
dekubitus)
-

pergesaran trakea dan


mediastinum ke arah
kontra lateral lesi efusi.

WSD
WSD merupakan pipa khusus yang dimasukkan ke rongga pleura dengan perantaraan trokar atau
klem penjepit bedah.
Pada trauma toraks WSD dapat berarti:
1. Diagnostik : menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga
dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam
shok.
2. Terapi : Mengeluarkan darah,cairan atau udara yang terkumpul di rongga pleura.
Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga "mechanic of breathing", dapat kembali
seperti yang seharusnya.
3. Preventive : Mengeluarkan udara atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga
"mechanic of breathing" tetap baik
Penyulit pemasangan WSD adalah : perdarahan dan infeksi atau super infeksi.
Indikasi pemasangan WSD :
1. Hematotoraks

2.
3.
4.
5.

Efusi Pelura Ganas


Bedah Paru
Reaksi Segmental missal pada ttumor dan TB paru
Pneumotoraks

Indikasi pemasangan WSD pada pneumotoraks karena trauma tajam atau trauma
tembus toraks :
1. sesak nafas atau gangguan nafas
2. bila gambaran udara pada foto toraks lebih dari seperempat rongga torak sebelah luar
3. bila ada pneumotorak bilateral
4. bila ada tension pneumotorak setelah dipunksi
5. bila ada haemotoraks setelah dipunksi
6. bila pneumotoraks yang tadinya konservatif pada pemantauan selanjutnya ada
perburukan
Tempat insersi slang WSD :
untuk pengeluaran udara dilakukan pada intercostals 2-3 garis midclavicula
untuk pengeluaran cairan dilakukan pada intercostals 7-8-9 mid aksilaris
line/dorsal axillar line
Teknik Pemassangan :
Teknik pemasangan :
1. Bila mungkin penderita dalam posisi duduk. Bila tidak mungkin setengah duduk, bila
tidak mungkin dapat juga penderita tiduran dengan sedikit miring ke sisi yang sehat.
2. Ditentukan tempat untuk pemasangan WSD. Bila kanan sela iga (s.i) VII atau VIII, kalau
kiri di s.i VIII atau IX linea aksilaris posterior atau kira-kira sama tinggi dengan sela iga
dari angulus inferius skapulae. Bila di dada bagian depan dipilih s.i II di garis
midklavikuler kanan atau kiri.
3. Ditentukan kira-kira tebal dinding toraks.
4. Secara steril diberi tanda pada slang WSD dari lobang terakhir slang WSD tebal dinding
toraks (misalnya dengan ikatan benang).
5. Cuci tempat yang akan dipasang WSD dan sekitarnya dengan cairan antiseptik.
6. Tutup dengan duk steril
7. Daerah tempat masuk slang WSD dan sekitarnya dianestesi setempat secara infiltrate dan
"block".
8. Insisi kulit subkutis dan otot dada ditengah s.i.
9. irisan diteruskan secara tajam (tusukan) menembus pleura.
10. Dengan klem arteri lurus lobang diperlebar secara tumpul.
11. Slang WSD diklem dengan arteri klem dan didorong masuk ke rongga pleura (sedikit
dengan tekanan).
12. Fiksasi slang WSD sesuai dengan tanda pada slang WSD.
13. Daerah luka dibersihkan dan diberi zalf steril agar kedap udara.
14. Slang WSD disambung dengan botol SD steril.

15. Bila mungkin dengan continous suction dengan tekanan -24 sampai -32 cmH20.
Perawatan WSD
Paru
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Dengan WSD diharapkan paru mengembang


Kontrol pengembangan paru dengan pemeriksaan fisik dan radiologik.
Latihan nafas ekpirasi dan inspirasi yang dalam.
Latihan batuk yang efisien.
Pemberian antibiotika
Expectorant: cukup obat batuk hitam (OBH)

Dinyatakan berhasil, bila:


1. Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik atau radiologik.
2. Darah cairan tidak keluar dari WSD.
3. Tidak ada pus dari slang WSD (tidak ada empyema).
Dikatakan baik dan dapat dipulangkan:
1. Keadaan umum memungkinkan
2. Pada kontrol 1 -2 hari pasca pengangkatan WSD paru tetap mengembang penuh
3. Tanda-tanda infeksi/empiema tidak ada
Pasca pemasangan WSD selalu dimintakan fisioterapi :
Untuk batuk efektif dan penderita harus latihan membatuk-batukkan Untuk nafas dalam
(inspirasi dan ekspirasi) Untuk nafas dada terutama bagian atas
Komplikasi Pemasangan WSD
a. Komplikasi primer : perdarahan, edema paru, tension pneumothoraks, atrial aritmia
b. Komplikasi sekunder : infeksi, emfiema