You are on page 1of 28

SUMBANGAN ISLAM TERHADAP SAINS

DAN PERADABAN DUNIA

Makalah

Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Muslih Shabir, MA.

Disusun Oleh :

Muh. Asroruddin A.J.
NIM : 095112032

PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) WALISONGO
2009
1
MAKALAH
SEJARAH PERADABAN ISLAM :
Sumbangan Islam Kepada Sains dan Peradaban Dunia
Disusun Oleh : Muh. Asroruddin / 095112032

A. PENDAHULUAN
Pada saat seluruh dunia Arab tenggelam dalam arus kebodohan, kedangkalan
iman, jauh dari sinaran tauhid, dan keadaan sosial, politik, ekonomi, budaya dan
agama, masyarakat Arab sangat rapuh dan memperihatinkan, muncul seorang tokoh
besar yang dikemudian hari akan menjadi sosok yang memiliki pengaruh dan
dikagumi yang membawa ajaran baru seperti yang kita kenal hingga saat ini. Beliau
adalah Rasulullah saw sebagai pembawa risalah Islam yang sampai saat ini masih
eksis dan mendarah daging di sebagian besar masyarakat dunia.
Semenjak munculnya, ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw. telah
banyak memberikan sumbangan kepada dunia Arab khususnya dan seluruh dunia
pada umumnya, baik semenjak zaman Rasulullah saw sendiri hingga zaman modern
saat ini. Dari sejak munculnya hingga saat ini banyak tokoh-tokoh dan ilmuan
muslim yang lahir dan memberikan pengaruh besar terhadap khazanah keilmuan
dan peradaban dunia, terlebih lagi ketika zaman keemasan Islam.
Saat ini banyak hal yang telah dapat dinikmati dan kita gunakan dari hasil
pemikiran para tokoh-tokoh muslim terdahulu, baik di bidang kesehatan, politik,
sosial, budaya, keilmuan dan lain sebagainya. Hasil pemikiran mereka tidak kalah
dengan apa yang dihasilkan oleh para pemikir-pemikir barat, bahkan banyak
ilmuan-ilmuan barat yang justru mengambil hasil fikiran para pemikir-pemikir
muslim dan dianggap menjadi hasil produk pemikiran mereka.
Pada pembahasan selanjutnya, penulis akan mencoba membahas lebih lanjut
tentang sumbangan besar Islam kepada perkembangan sains dan peradaban dunia.

B. PEMBAHASAN
1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Rasulullah Dan Setelah
Beliau Wafat
Ilmu pengetahuan dalam dunia Islam dimulai sejak diutusnya Rasulullah
untuk menyampaikan risalah dan ajaran Islam kepada umat manusia. Seiring
berjalannya waktu, para sahabat dan tabi’in mulai muncul dan dikenal

2
masyarakat luas karena keilmuannya. Terlebih lagi ketika munculnya dinasti
Umayyah dan Abbasiyah begitu pesatnya ilmu pengetahuan yang berkembang
saat itu, hingga banyak sekali ilmuan dan tokoh muslim yang menghasilkan
produk-produk pemikiran yang brilian.
Berikut ini akan dijabarkan secara singkat perkembangan ilmu
pengetahuan sejak diutusnya Rasulullah sebagai sang penyampai risalah, hingga
dinasti Abbasiyah yang telah menelurkan begitu banyak pemikir dan ilmuan
muslim.

a. Ilmu Pengetahuan Pada Masa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin
Pada masa Rasulullah, ilmu pengetahuan lebih banyak berkembang
dibidang ilmu-ilmu pokok tentang agama (ushuluddin), dan ilmu akhlak
(moral). Akan tetapi ilmu – ilmu lainnya tetap berkembang walaupun tidak
sepesat ilmu agama dan akhlak. Saat itu pun mulai terjadi proses pengkajian
ilmu yang lebih sistematis, diantaranya dasar-dasar ilmu tafsir yang
dikembangkan oleh para sahabat Rasulullah.
Jika kita flashback, pada waktu sebelum Islam diturunkan, bangsa
Arab dikenal dengan sebutan kaum jahiliyah. Hal ini disebabkan karena
bangsa Arab sedikit sekali mengenal ilmu pengetahuan dan kepandaian yang
lain. Keistimewaan mereka hanyalah ketinggian dalam bidang syair-syair
jahili yang disebarkan secara hafalan (Bernard Lewis, 1996: 25). Dengan
kenyataan itu, maka diutuslah nabi Muhammad SAW dengan tujuan untuk
memperbaiki akhlak, baik akhlak untuk berhubungan dengan Tuhan maupun
dengan sesama manusia. Demikian pula dalam masalah ilmu pengetahuan,
perhatian Rasul sangat besar. Rasulullah SAW memberi contoh revolusioner
bagaimana seharusnya mengembangkan ilmu.
Diantara gerakan yang dilakukan Rasulullah SAW adalah dengan
menggiatkan budaya membaca, yang merupakan pencanangan dan
pemberantasan buta huruf, suatu tindakan awal yang membebaskan manusia
dari ketidaktahuan. Membaca merupakan pintu bagi pengembangan ilmu.
Rasulullah SAW juga memerintahkan kepada para sahabatnya untuk
menghafal ayat-ayat al-Qur’an. Dengan cara ini dapat menjaga kemurnian
dan juga media memahami ayat-ayat al-Qur’an. Disamping dengan hafalan,

3
juga membuat tradisi menulis/ mencatat wahyu pada kulit, tulang, pelepah
kurma dan lain-lain.(Sunanto, 2003:14-16)
Dengan bimbingan Nabi Muhammad SAW, telah mendorong
semangat belajar membaca, menulis dan menghafal sehingga umat Islam
menjadi umat yang memasyarakatkan kepandaian tulis-baca. Dengan
semangat itulah, maka terbangun jiwa umat Islam untuk tidak hanya beriman
tetapi juga berilmu, sehingga nantinya lahir sarjana-sarjana Islam yang ahli
dibidangnya masing-masing.
Dengan demikian dapat dimengerti , salah satu aspek dari peradaban
adalah mengembangkan ilmu pengetahuan. Kalau pada masa Nabi dan
Khulafau ar-Rasyidin perhatian terpusat pada usaha untuk memahami Al-
Qur’an dan Hadits Nabi, untuk memperdalam pengajaran akidah, akhlak,
ibadah, mu’amalah dan kisah-kisah dalam Al-Qur’an, maka perhatian
sesudah itu disesuaikan dengan kebutuahn zaman, tertuju pada ilmu-ilmu
yang diperoleh dari bangsa-bangsa sebelum munculnya Islam.
(Sunanto,2003:38)
Peradaban Islam memiliki tiga pengertian yang berbeda. Pertama,
kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang dihasilkan dalam suatu periode
kekuasaan Islam, mulai dari periode Nabi Muhammad Saw. sampai
perkembangan peradaban Islam masa setelahnya. Kedua, hasil-hasil yang
dicapai oleh umat Islam dalam lapangan kesusasteraan, ilmu pengetahuan
dan kesenian. Ketiga, kemajuan politik atau kekuasaan Islam yang berperan
melindungi pandangan hidup Islam, terutama dalam hubungannya dengan
ibadah-ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup kemasyarakatan.
(Munthoha, 1998:14)
Pertumbuhan ilmu pengetahuan telah terjadi sejak Rasulullah
mendakwahkan agama islam, wahyu pertamanya yaitu surat Al – alaq ayat
1-5 bercerita tentang dasar – dasar ilmu pengetahuan, didalam wahyu
tersebut terdapat perintah untuk membaca, Allah pun menegaskan bahwa
hakikat ilmu datangnya dari Allah dan awalnya manusia tidak mengetahui
apa – apa. Kata Iqra’ pada ayat ke-1 surat Al- alaq memiliki makna yang
beragam, seperti menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu,
membaca baik teks maupun bukan teks.

4
Selanjutnya pada zaman khulafaurrasyidin, pada masa ini sering
disebut dengan masa klasik awal (650 – 690 M). Pada masa klasik awal ini,
merupakan peletakan dasar-dasar peradaban Islam yang berjalan selama 40
tahun. Seperti yang telah dijelaskan diawal, bahwa diantara kemajuan yang
dicapai dibidang ilmu pengetahuan dan sains pada masa ini adalah terpusat
pada usaha untuk memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi, untuk
memperdalam pengajaran akidah, akhlak, ibadah, mu’amalah dan kisah-
kisah dalam Al-Qur’an. Akan tetapi yang perlu dicatat bahwa, pada masa ini
telah ditanamkan budaya tulis dan baca. Dengan budaya baca tulis maka
lahirlah orang pandai dari para sahabat rasul, diantaranya Umar bin Khatab
yang mempunyai keahlian dibidang hukum dan jenius pada ilmu
pemerintahan, Ali bin Abi Thalib yang mempunyai keahlian dibidang
hukum dan tafsir.
Diantara ahli tafsir dimasa itu adalah khalifah yang empat (Abu
Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay Ibnu
Ka’ab, Zaid Ibnu Tsabit, Abu Musa Al-’Asy’ari dan Abdullah bin Zubair.
Dan dari kalangan khalifah empat yang paling banyak dikenal riwayatnya
tentang tafsir adalah Ali bin Abi Thalib r.a.
Ibnu Abbas adalah anak paman Rasulullah SAW, sekaligus murid
dari Rasulullah. Ia dikenal sebagai ahli bahasa/penterjemah Al-Qur’an. Dia
adalah sahabat yang paling pandai/tahu tentang tafsir Al-Qur’an. Dia
mempunyai biografi yang menunjukkan kebolehan ilmunya dan
kedudukannya yang tinggi dalam hal penggalian secara mendalam tentang
rahasia-rahasia Al-Qur’an.

b. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Daulah Bani
Umayyah
Bani Umayyah atau Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan
Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661
sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya; serta dari 756 sampai 1031 di
Kordoba, Spanyol. Nama dinasti ini diambil dari nama tokoh Umayyah bin
'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu
Muawiyah I.

5
Masa ini sebagai masa perkembangan peradaban Islam, yang
meliputi tiga benua yaitu, Asia, Afrika, dan Eropa. Masa ini berlangsung
selama 90 tahun (661 – 750 M) dan berpusat di Damaskus. Pada masa ini
perhatian pemerintah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sangat
besar. Penyusunan ilmu pengetahuan lebih sistematis dan dilakukan
pembidangan ilmu pengetahuan (Sunanto,2003 : 42) sebagai berikut;
1. Ilmu pengetahuan bidang agama yaitu, segala ilmu yang
bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.
2. Ilmu pengetahuan bidang sejarah yaitu, segala ilmu yang
membahas tentang perjalanan hidup, kisah dan riwayat.
3. Ilmu pengetahuan bidang bahasa yaitu, segala ilmu yang
mempelajari bahasa, nahwu, sharaf dan lain-lain.
4. Ilmu pengetahuan bidang filsafat yaitu, segala ilmu yang
pada umumnya berasal dari bangsa asing, seperti ilmu mantiq,
kedokteran, kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu lain yang
berhubungan dengan ilmu itu.
Penggolongan ilmu tersebut dimaksudkan untuk meng-klasifikasi-
kan ilmu sesuai dengan karakteristiknya, kesemuanya saling bahu-membahu
satu dengan yang lainnya, karena satu ilmu tidak bisa berdiri sendiri.
Sehingga ilmu pengetahuan sudah menjadi satu keahlian, masuk kedalam
bidang pemahaman dan pemikiran yang memerlukan sitematika dan
penyusunan.
Akan tetapi, golongan yang sudah biasa dengan keahlian ini adalah
golongan non-Arab yang disebut Mawali. Sedangkan bangsa Arab
disibukkan dalam pimpinan pemerintahan. Maka dapat kita ketahui tokoh-
tokoh ilmu nahwu seperti Sibawaihi, Al-Farisy dan Al-Zujaj yang
kesemuanya mawali. Demikian juga tokoh Hadits, seperti Al-Zuhry, Abu
Zubair Muhammad bin Muslim bin Idris, Bukhary dan Muslim.
(Supriyadi,2008 :109)
Hal itu dapat dikatakan bahwa peradaban Islam pada masa itu
sudah bersifat internasional. Penduduknya meliputi puluhan bangsa,
menganut bermacam-macam agama, yang kesemuanya disatukan dengan
bahasa Arab.

6
c. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Daulah Bani
Abbasiyah
Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah adalah kekhalifahan
kedua Islam yang berkuasa di Bagdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan
ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat
pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan
Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini naik kekuasaan setelah mengalahkan
Bani Umayyah dari semua kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dibentuk oleh
keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, Abbas. Berkuasa
mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad.
Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya
bangsa tentara-tentara Turki yang mereka bentuk, Mamluk. Selama 150
tahun mengambil kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk
menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut
amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Umayyah yang
melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabid dan Fatimiyah.
Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol
yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Bagdad dan tak
menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan
Bagdad. (Http://id.wikipedia.org/wiki/bani_abbasiyah, dikutip tanggal 1
Desember 2009)
Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, Islam mencapai puncak
kejayaan (ke-emasan) yang ditandai dengan masa ekspansi kedaerah-daerah
yang sangat luas, integrasi dan kemajuan dibidang ilmu dan sains. Ilmu
pengetahuan dipandang sesuatu yang sangat penting dan mulia. Para
khalifah dan para pembesar pemerintahan membuka kesempatan seluas-
luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Hasilnya
ilmu pengetahuan daulah Islamiyah pada masa ini lebih tinggi kemajuannya
dibanding masa sebelumnya.
Gerakan membangun ilmu secara besar-besaran dirintis oleh khalifah
Ja’far al-Mansur, setelah mendirikan kota Baghdad dan menjadikannya
sebagai ibu kota negara, Ia merangsang usaha pembukuan ilmu agama,
seperti fiqh, tauhid, hadits, tafsir dan ilmu lain seperti bahasa dan sejarah.
Adapun ahli tafsir yang termasyhur saat itu diantaranya ibnu Jarir Ath-

7
Thabari dengan model tafsir bil ma’tsur sebanyak 30 juz, dan Abu Muslim
Muhammad bin Nashr al-Isfahany dengan model tafsir bir Ra’yi sebanyak
14 jilid.(as-Shiddiqie,2000 : 245)
Pada masa itu juga lahir para fuqaha (ahli fiqh) yang hingga sekarang
masih dianut oleh masyarakat Islam, (Ensiklopedi Islam, 2002 : 134) yaitu;
1) Imam Abu Hanifah, yaitu Nu’man bin Tsabit bin Zauthi,
dilahirkan di Kufah tahun 80 H. Diantara kitab madzab Imam Abu
Hanifah, Fiqhul Akbar, Musnad Abu Hanifah, Washiyyatuhu Ii Binihi,
dan Washiyyatuhu Ii Ashhabihi.
2) Imam Malik, yaitu Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir, lahir
di Madinah tahun 93 H. Kitab-kitab madzab Imam Malik diantaranya,
Al-Muwatta’, Risalah Fil Wa’dhi, Kitabul Masail.
3) Imam Syafi’i, yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin
Abbas bin Usman bin Syafi’i. Lahir 150 H di Ghaza provinsi Askalan,
Palestina dan pernah berguru pada Imam Malik. Diantara kitab-kitab
madzab Imam Syafi’i adalah Kitabul Um, As-Sunnah al-Ma’tsur, Ushul
Fiqh, dan Musnad Asy-Syafi’i.
4) Imam Ahmad, yaitu Ahmad bin Hambal bin Hilal az-Zahly asy-
Syaibany. Lahir tahun 164 H. Kitab-kitab madzab Imam Ahmad bin
Hambal antara lain, al-Musnad fil Hadits, Kitab as-Sunnah, kitab Zuhud.
Pada perkembangannya, Ke-empat ahli fiqh tersebut disebut sebagai
Imam Madzab Empat (al-Mazahib al-Arba’ah) atau madzab fiqh sebagai
aliran pemikiran tentang hukum Islam yang penetapannya merujuk kepada
Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.

2. Sumbangan Islam Terhadap Sains dan Peradaban Dunia
Perlu diketahui bersama, sisi gelap dalam pola pendidikan yang
dirumuskan oleh Amerika dan Eropa yaitu tidak adanya muatan nilai ruhiyah,
dan lebih mengedepankan logika materialisme serta memisahkan antara agama
dengan kehidupan yang dalam hal ini sering disebut paham Sekulerisme.
Implikasi yang bisa dirasakan namun jarang disadari adalah adanya degradasi
moral yang dialami oleh anak bangsa. Banyak kasus buruk dunia pendidikan
yang mencuat di permukaan dimuat oleh beberapa media massa cukup

8
meresahkan semua pihak yang peduli terhadap masa depan pendidikan bangsa
yang lebih baik.
Sebut saja tokoh Ibnu Sina sebagai sosok yang dikenal peletak dasar
ilmu kedokteran dunia namun beliau juga faqih ad-diin terutama dalam hal ushul
fiqh. Masih ada tokoh-tokoh dunia dengan perannya yang penting dan masih
menjadi acuan perkembangan sains dan teknologi berasal dari kaum muslimin
yaitu Ibnu Khaldun(bapak ekonomi), Ibnu Khawarizm (bapak matematika), Ibnu
Batutah (bapak geografi), Al-Khazini dan Al-Biruni (Bapak Fisika), Al-Battani
(Bapak Astronomi), Jabir bin Hayyan (Bapak Kimia), Ibnu Al-Bairar al-Nabati
(bapak Biologi) dan masih banyak lagi lainnya. Mereka dikenal tidak sekadar
paham terhadap sains dan teknologi namun diakui kepakarannya pula di bidang
ilmu diniyyah.

Dalam buku milik Mehdi Nakosteen (2003, hal.85) disebutkan beberapa
kontribusi muslim terhadap dunia pendidikan sebagai berikut :
1. Melalui abad keduabelas dan sebagian abad ke tiga belas, karya-karya
Muslim tentang sains, filsafat, dan bidang-bidang lain telah diterjemahkan ke
dalam bahasa latin, terutama dari bahasa Spanyol dan memperkaya
kurikulum barat, khususnya Eropa barat laut
2. Orang-orang Muslim, telah memberi kepada Barat metode
eksperimental, sekalipun masih kurang sempurna.
3. Sistem notasi dan desimal Arab telah diperkenalkan kepada Arab
4. Karya-karya terjemahan mereka, terutama dari orang-orang seperti
Avicenna dalam ilmu kedokteran, sudah digunakan sebagai teks (kuliah) di
dalam kelas-kelas sekolah tinggi, jauh ke dalam pertengahan abad ke tujuh
belas.
5. Mereka merangsang pemikiran orang-orang Eropa, dipelajari kembali
hal itu dengan kebudayaan-kebudayaan klasik dan lainnya, sehingga
membantu menghasilkan (abad) Renaisance.
6. Mereka adalah perintis universitas-universitas Eropa, mereka telah
mendirikan ratusan sekolah tinggi sebelum Eropa
7. Mereka memelihara pemikiran Greco-Persian ketika Eropa bersikap
tidak toleran terhadap kebudayaan-kebudayaan Pagan

9
8. Mahasiswa-mahasiswa Eropa di dalam Universitas Muslim membawa
kembali (ke negaranya) metode-metode baru tentang pengajaran
9. Mereka telah memberi kontribusi tentang pengetahuan rumahsakit—
rumah sakit, sanitasi dan makanan kepada Eropa.
(Nakosteen, Kontribusi Islam Terhadap Dunia Barat, 2003, hal. 85)

3. Sarjana-Sarjana Muslim dan Karya Ilmiahnya
Sejak sekitar abad ke-8 M hingga abad ke-20 M, Islam telah melahirkan
ribuan ilmuwan, baik dalam bidang ilmu filsafat, kalam, tasawuf maupun sains,
tekhnologi, dan seni. Apa-pun bidangnya, mereka adalah tokoh-tokoh langka
yang telah memperkaya dunia ilmu pengetahuan bahkan secara khusus menjadi
simbol kemajuan peradaban Islam. Berikut diantara sarjana-sarjana Muslim
terkenal beserta karyanya yang penulis kutip dari berbagai sumber.
a. Ibnu Musa Al-Khawarizmi (Astronom, Penemu Algoritma dan
Aljabar).
Tak banyak anak didik yang tahu, siapa yang orang yang dikenal
sebagai bapak dan penemu dua cabang ilmu matematika, yaitu Algoritma
dan Aljabar. Dialah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khawirzmi,
ilmuan Muslim penemu Algoritma dan Aljabar. Nama Algoritma sendiri
diambil dari nama penemunya, yaitu Al-Khawarizmi. Di kalangan ilmuan
Barat ia lebih dikenal dengan nama Algorizm.
Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi (770-840 M.)
ilmuan yang berjasa besar dalam memajukan ilmu pengetahuan ini lahir di
Khawarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (kini Uzbekistan) pada
tahun 770 M. kedua orang tuanya kemudian pindah ke sebuah tempat di
selatan kota Baghdad (Irak), ketika ia masih kecil. Al-Khawarizmi hidup di
masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, yakni Al-Makmun, yang memerintah
pada 813-833 M. (Sucipto, The Great Muslim Scientist, 2008, hal: 16).
Sejarah mencatat, Al-Khawarizmi dikenal sebagai orang yang
memperkenalkan konsep Al-Goritma dalam Matematika. Ia adalah penemu
beberapa cabang ilmu dan konsep matematikayang dikenal sebagai astronom
geografer. Selain Algoritma, teori Aljabar juga merupakan buah fikirnya.

10
Nama Aljabar sendiri diambil dari bukunya yang terkenal, yakni Al-
Jabr wa-al-Muqabilah. Ia mengembangkan tabel rincian trigonometri yang
memuat fungsi sinus, kosinus, tangen dan kotangen serta konsep diferensiasi.
Tak hanya itu, di bidang ilmu ukur, Al-Khawarizmi juga dikenal
sebagai peletak rumus ilmu ukur dan penyusun daftar logaritma serta
hitungan desimal. Sayangnya beberapa sarjana Barat seperti John Napier
(1550-1620 M.) dan Simon Stevin (1548-1620 M.) mengklaim bahwa
penemuan tersebut merupakan hasil pemikiran meraka.
Masih berkaitan dengan masalah perhitungan, ternyata Al-
Khawarizmi juga seorang ahli ilmu bumi. Bukunya Kitab Surat Al-ard,
menjadi dasar ilmu bumi Arab. Naskah itu hingga kini masih disimpan di
Strassburg, Jerman oleh Abdul Fida, seorang ahli ilmu bumi terkenal
(Sucipto, hal. 17-18).
Petualangan dan pengabdian panjangnya itu baru berakhir pada tahun
840 M. ketika Sang Khaliq memanggilnya. Al-Khawarizmi meninggalkan
warisan khazanah dalam ilmu pengetahuan dunia.

b. Ibnu Khaldun (Bapak Ilmu Sosiologi Politik).
Sejatinya pemikir dan ulama peletak dasar ilmu sosiologi dan politik
melalui karya magnum opus-nya, Al Muqaddimah. Ia lahir di Tunisia pada 1
Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 dengan nama Abdurrahman bin Muhammad
bin Muhammad bin Muhammad bin Al Hasan bin Jabir bin Muhammad bin
Ibrahim bin Abdurrahman bin Ibnu Khaldun. Moyangnya berasal dari
Hadramaut, Yaman yang bermigrasi ke Sevilla, Andlusia (Spanyol). Namun
keluarganya harus pindah ketika Sevilla dikuasai Kristen (Sucipto, hal. 47).
Pendidikannya dimulai di Tunisia dan di Fez (Maroko) dengan
mempelajari berbagai bidang ilmu: menghafal Al-Qur’an, mempelajari tata
bahasa, hukum Islam (syari’ah), hadis, retorika, filologi dan puisi. Selain itu
ia mempelajari sastra Arab, filsafat, matematika dan astronomi. Khaldun
sangat terlibat dengan politik.
Kariernya di bidang politik membawanya keluar masuk istana, ia
sebagai pemenang maupun pecundang. Usia mudanya dihabiskan sebagai
pendamping, penasihat sultan serta menduduki beraneka jabatan.

11
Kariernya menanjak saat ia membantu Sultan Abu Salem dalam
menjatuhkan Al-Mansyur, musuh politiknya. Ia diberi jabatan sekretaris
selama lebih dari dua tahun, lalu ditugaskan sebagai qadi (hakim). Sultan
Abu Salim tak lama kemudian dijatuhkan oleh Wazir Omar. Gagal
mendapatkan kedudukan di pemerintahan yang baru, Ibnu Khaldun
meninggalkan Fez dan pergi ke Andalusia.
Salah satu di antara karya Ibnu Khaldun bahwa ia memetakan
masyarakat dengan interaksi sosial, politik, ekonomi dan geografi yang
melingkupinya. Pendekatan ini dianggap menjadi terobosan yang sangat
signifikan. Menurutnya, organisme dapat tumbuh dan matang karena sebab-
sebab nyata yang mempengaruhinya.
Formasi masyarakat, fikiran yang dituangkan dalam karya besarnya,
Muqaddimah, misalnya, dikatakan sebagai hasrat manusia untuk berkumpul,
bersaing, lalu memperebutkan kepemimpinan. Mereka diikat dengan
solidaritas ashabiyah (ungkapan pra-Islam) yang diarahkan oleh para
pimpinannya. Ia memperkirakan bahwa solidaritas itu berlangsung empat
generasi.
Model ini menempatkan Ibnu Khaldun sebagai penganut teori siklus
sejarah. Masyarakat lahir, tumbuh, berkembang, lalu mati untuk diganti
dengan yang lain, demikian seterusnya (Sucipto, hal. 49).
Kontribusi Ibnu Khaldun dalam Ilmu pengetahuan memang tidak
sedikit. Setidaknya berkatnyalah dasar-dasar ilmu sosiologi politik dan
filsafat dibangun, tak heran jika warisannya itu banyak diterjemahkan ke
dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Seorang sejarawan Barat, Dr Boer, menulis “Ibnu Khaldun tak pelak
lagi, adalah orang pertama yang mencoba menerangkan dengan lengkap
evolusi dan kemajuan suatu kemasyarakatan, dengan alasan adanya sebab-
sebab dan faktor-faktor tertentu, iklim, alat, produksi, dan lain sebagainya,
serta akibat-akibatnya pada pembentukan cara berfikir manusia, dan
pembentukan masyarakatnya. Dalam derap majunya peradaban ia
mendapatkan keharmonisan yang terorganisasikan dalam dirinya sendiri.”

c. Jabir Ibnu Hayyan (Bapak Kimia)

12
Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa embrio persenjataan
nuklir yang banyak digunakan oleh negara-negara maju, entah mereka
gunakan untuk hal-hal positif maupun negatif, semua itu bermula dari ilmu
kimia. Sebenarnya ilmu kimia sudah ada sejak puluhan abad silam. Memang
belum pada bentuk modern seperti sekarang yang telah diadopsi sedemikian
canggihnya.
Ilmu kimia di kemudian hari berkembang sangat pesat dan dikenal
banyak orang. Tapi, hanya sedikit yang mengetahui siapa sejatinya orang
pertama yang menemukan ilmu eksakta tersebut. Ia adalah Abu Musa Jabir
Ibnu Hayyan (721-815 H.) ilmuan muslim pertama yang menemukan dan
mengenalkan disiplin ilmu kimia tadi.

d. Ibnu Sina
Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat
adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang
sudah menjadi bagian Uzbekistan). Ia juga seorang penulis yang produktif
dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan.
Bagi banyak orang, beliau adalah "Bapak Pengobatan Modern" dan masih
banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-
karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah
Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama
berabad-abad.
Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin
Sīnā (Persia ‫ ابوعلى سينا‬Abu Ali Sina atau dalam tulisan arab : ‫أبو علي الحسين بن‬
‫)عبد ال بن سينا‬. Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara,
sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan
Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).
Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan
besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia
dianggap oleh banyak orang sebagai "bapak kedokteran modern." George
Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah
satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu."
pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The
Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-

13
Qanun fi At Tibb). (http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Sina, dikutip tanggal
2-10-2009)

e. Ibnu Majid
Ibnu Majid adalah seorang navigator Arab terbesar yang bergelar
“singa laut”. Pada usianya yang ke-15, Ibnu Majid sudah memimpin sebuah
pelayaran. Navigator yang lahir di Julfar, Mesir, tahun 1421 M ini memiliki
nama lengkap Shihabud Din Ahmad bin Majid bin Muhammmad bin Amir
bin Duwayk bin Yusuf bin Husain bin Abi Ma’lak as-Sa’di bin Abi ar-
Raka’ib an-Najdi.
Sifat yang patut kita teladani dari Ibnu Majid adalah ketekunannnya
dalam mempelajari ilmu navigator yang ia dapatkan dari ayah dan kakeknya
dengan cara menjalankan kapal laut atau kapal teerbang. Selain itu, ia juga
menguasai ilmu geografi dan astronomi sebagai syarat utama untuk menjadi
navigator ulung.
Diantara buku-buku karya Ibnu Majid berjudul al-Hijaziah (sejarah
negei hijaz), Urjuza (melagukan syair dengan prosa raja-raja ) terdiri dari 3
jilid, Hawiyatul-Ikhtisar fi Ushul Ilmil-Bihar ( ringkasan ilmu navigator)
yang ia tulis pada tahun 1490 M. Buku ini berisi tentang rute-rute laut
sepanjang pantai India hingga Sumatera, Cina, Taiwan dan sepanjang pantai
Samudra Hindia, serta tanda-tanda dekatnya daratan.
(http://frahasti.wordpress.com/2009/01/31/ibnu-majid, dikutip tanggal 2-10-
2009)

f. Ibnu Rusyd
Ibnu Rusyd (Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid, 1126 - Marrakesh, Maroko,
10 Desember 1198) dalam bahasa Arab ‫ ابن رشششد‬dan dalam bahasa Latin
Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia).
Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada
tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah
hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah
seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami
banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu
Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja.

14
Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia
dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan
untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu
Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat
Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan,
termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi
Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah
hukum.
Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan
fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua
karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani
(Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.
Di antara karyanya adalah : Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih),
Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran), Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat
Wa Asy-Syari’at (filsafat dalam Islam dan menolak segala paham yang
bertentangan dengan filsafat).
Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang
dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd
tentang akidah dan sikap keberagamaannya.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Rusyd, dikutip tanggal 2-10-2009)

g. Daftar Ilmuan Muslim
Ilmu pengetahuan di dunia Islam telah memainkan peran penting
dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dari semenjak Islam muncul, zaman
keemasan, hingga zaman modern saat ini, telah banyak para pemikir-pemikir
Muslim dengan karya-karya yang dihasilkannya telah memberikan
sumbangan atau masukan tehadap pendidikan, sains dan peradaban. Berikut
ini adalah daftar lengkap para ilmuwan muslim terkemuka.
1. Para astronom dan astrofisikawan
• Khalid bin Yazid (Calid)
• Ja'far ash-Shadiq
• Tariq bin Yaqūb
• Ibrahim al-Fazari
• Muhammad al-Fazari

15
• Naubakht
• Al-Khawarizmi, yang juga seorang matematikawan
• Ja'far bin Muhammad Abu Ma'shar al-Balkhi (Albumasar)
• Al-Farghani
• Banu Musa (Ben Mousa)
o Ja'far Muhammad bin Musa bin Shakir
o Ahmad bin Musa bin Shakir
o Al-Hasan bin Musa ibn Shakir
• Tsabit bin Qurra (Thebit)
o Sinan bin Tsabit
o Ibrahim bin Sinan
• Al-Majriti
• Muhammad bin Jabir al-Harrānī Al-Battani (Albatenius)
• Al-Farabi (Abunaser)
• Abd Al-Rahman Al Sufi
• Abu Sa'id Gorgani
• Kushyar bin Labban
• Abu Ja'far Al-Khāzin
• Al-Mahani
• Al-Marwazi
• Al-Nayrizi
• Al-Saghani
• Al-Farghani
• Abu Nashr Mansur
• Abu Sahl al-Qūhī (Kuhi)
• Abu-Mahmud al-Khujandi
• Abū al-Wafā 'al-Būzjānī
• Ibn Yunus
• Ibn al-Haytham (Alhacen)
• Abu Rayhan al-Biruni
• Ibn Sina (Avicenna)
• Abu Ishaq al-Zarqālī Ibrāhīm (Arzachel)
• Omar Khayyām
• Al-Khazini
• Ibnu Bajjah (Avempace)
• Ibnu Tufail (Abubacer)
• Nur Ed-Din Al Betrugi (Alpetragius)
• Ibnu Rusyd (Averroes)
• Al-Jazari

16
• Sharaf al-Din al-Tusi
• Anvari
• Mo'ayyeduddin Urdi
• Nasir al-Din Tusi
• Quthb al-Din al-Syirazi
• Ibn al-Shatir
• Syams al-Dīn al-Samarqandi
• Jamshid al-Kashi
• Ulugh Beg, juga seorang matematikawan
• Jawad al-Din, Ottoman astronom
• Ahmad Nahavandi
• Haly Abenragel
• Abolfadl Harawi
• Karim Kerimov, seorang pendiri program luar angkasa Uni
Soviet, yang memimpin pertama arsitek di belakang spaceflight
manusia (Vostok 1), dan arsitek memimpin pertama stasiun ruang
angkasa (Salyut dan Mir)
• Farouk El-Baz, ilmuwan NASA pertama yang terlibat dalam
pendaratan Bulan dengan Program Apollo
• Abdul Kalam
• Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al Saud
• Muhammad Faris
• Abdul Ahad Mohmand
• Talgat Musabayev
• Anousheh Ansari
• Amir Ansari
• Essam Heggy, seorang ilmuan planet yang terlibat dalam NASA
Mars Exploration Program
• Ahmed Salem
• Mohamed Sultan
• Habbal Shadia spesialis dalam fisika matahari.
• Sultana Nurun Nahar spesialis dalam astrofisika dan spektroskopi
atom.
• Ahmed Noor
• Arif Babul , Distinguished Professor and Director, Canadian
Computational Cosmology Collaboration, Dept of Physics and
Astronomy, University of Victoria - Astrophysiscist terlibat dalam
sebuah penelitian yang berkaitan dengan Pembentukan dan Evolusi
Galaksi dan Kelompok-kelompok Galaksi ...
2. Kimiawan dan alkemis
17
• Khalid bin Yazid (Calid)
• Ja'far ash-Shadiq
• Jabir bin Hayyan (Geber), bapak kimia
• Abbas Ibnu Firnas (Armen Firman)
• Al-Kindi (Alkindus)
• Al-Majriti
• Ibnu Miskawaih
• Abu Rayhan al-Biruni
• Ibnu Sina (Avicenna)
• Al-Khazini
• Nasir al-Din Tusi
• Hasan Al-Rammah
• Ibn Khaldun
• Sake Dean Mahomet
• Salimuzzaman Siddiqui
• Al-Khwarizmi Bapa dari Al-Gabra, (Matematika)
• Ahmed H. Zewail, Mendapatkan penghargaan Nobel Kimia,
1999
• Ali Eftekhari
3. Para ekonom dan Sosial Ilmuwan
• Abu Hanifah an-Nu'man (699-767), ekonom
• Abu Yusuf (731-798), ekonom
• Ishaq bin Ali al-Rahwi (854-931), ekonom
• Al-Farabi (Alpharabius) (873-950), ekonom
• Al-Saghani (w. 990), salah satu yang paling awal ilmu
pengetahuan sejarah
• Syams al-Mo'ali Abol- hasan Ghaboos ibn Wushmgir (Qabus)
(w. 1012), ekonom
• Abu Rayhan al-Biruni (973-1048), yang dianggap sebagai "
antropolog pertama " dan bapak Indologi
• Ibnu Sina (Ibnu Sina) (980-1037), ekonom
• Ibnu Miskawaih (l. 1030), ekonom
• Al-Ghazali (Algazel) (1058-1111), ekonom
• Al-Mawardi (1075-1158), ekonom
• Nasir al-Din al-Tusi (Tusi) (1201-1274), ekonom
• Ibn al-Nafis (1213-1288), sosiolog
• Ibnu Taimiyah (1263-1328), ekonom

• Ibn Khaldun (1332-1406), pelopor ilmu-ilmu sosial seperti
demografi, sejarah budaya, historiografi, filsafat sejarah, Sosiologi
dan ekonomi
• Al-Maqrizi (1364-1442), ekonom

18
• Akhtar Hameed Khan, ilmuwan sosialPakistan; perintis kredit
mikro
• Mahbub ul Haq, ekonom Pakistan; pengembang Indeks
Pembangunan Manusia dan pendiri Human Development Report
(Abdullahi Anshur Jimale) Ctizen Inggris asal Somalia, ekonom;
sukses Komputer pengguna Accountance & Payroll
4. Geografer dan Bumi Ilmuwan
• Al-Masudi, yang "Herodotus bangsa Arab", dan pelopor sejarah
geografi
• Al-Kindi, pelopor ilmu lingkungan
• Qusta bin Luqa
• Bin Al-Jazzar
• Al-Tamimi
• Al-Masihi
• Ibnu Sina (Avicenna)
• Ali bin Ridwan
• Muhammad al-Idrisi, yang juga seorang pembuat peta
• Ahmad bin Fadlan
• Abu Rayhan al-Biruni, bapak geodesi, dianggap pertama ahli
dalam bidang geologi dan " antropolog pertama "
• Ibnu Jumay
• Abd-el-latif
• Ibnu Rusyd (Averroes)
• Ibn al-Nafis
• Ibn al-Quff
• Ibn Battuta
• Ibn Khaldun
• Piri Reis
• Evliya Çelebi
• Zaghloul El-Naggar
• Abdullahi Anshur Jimale
5. Matematikawan
• Al-Hajjaj bin Yusuf bin Matar
• Khalid bin Yazid (Calid)

19
• Muhammad bin Musa al-Khwarizmi (Algorismi) - Bapak Aljabar
dan algoritma
• 'Abd al-Hamid bin Turki
• Abu al-Hasan bin Ali al-Qalasādī (1412-1482), perintis simbolik
aljabar
• Abu Kamil Shujā ibn Aslam
• Al-Abbas ibn Said al-Jawharī
• Al-Kindi (Alkindus)
• Banu Musa (Ben Mousa)
o Ja'far Muhammad bin Musa bin Shakir
o Al-Hasan bin Musa ibn Shakir
• Al-Mahani
• Ahmad ibnu Yusuf
• Tsabit bin Qurra (Thebit)
o Sinan bin Tsabit
o Ibrahim bin Sinan
• Al-Majriti
• Muhammad bin Jabir al-Harrānī Al-Battani (Albatenius)
• Al-Farabi (Abunaser)
• Al-Khalili
• Al-Nayrizi
• Abu Ja'far Al-Khāzin
• Brethren of Purity
• Abu'l-Hasan al-Uqlidisi
• Al-Saghani
• Abu Sahl al-Qūhī
• Abu-Mahmud al-Khujandi
• Abū al-Wafā 'al-Būzjānī
• Ibn Sahal
• Al-Sijzi
• Bin Yunus
• Abu Nashr Mansur
• Kushyar ibn Labban
• Al-Karaji
20
• Ibn al-Haytham (Alhacen / Alhazen)
• Abu Rayhan al-Biruni
• Ibn Tahir
• Al-Nasawi
• Al-Jayyani
• Abu Ishaq al-Zarqālī Ibrāhīm (Arzachel)
• Al-Mu'taman ibn Hud
• Omar Khayyām
• Al-Khazini
• Ibnu Bajjah (Avempace)
• Al-Ghazali (Algazel)
• Al-Marrakushi
• Al-Samawal
• Ibnu Rusyd (Averroes)
• Ibnu Sina (Avicenna)
• Hunain bin Ishaq
• Ibn al-Banna'
• Ibn al-Shatir
• Ja'far ibn Muhammad Abu Ma'shar al-Balkhi (Albumasar)
• Jamshid al-Kashi
• Kamal al-Dīn al-Farisi
• Muḥyi al-Dīn al-Maghribi
• Maryam Mirzakhani
• Mo'ayyeduddin Urdi
• Muhammad Baqir Yazdi
• Nasir al-Din al-Tusi, matematikawan dan filsuf Persia abad ke-13
• Qāḍī Zāda al-Rūmī
• Quthb al-Din al-Syirazi
• Syams al-Dīn al-Samarqandi
• Sharaf al-Din al-Tusi
• Taqi al-Din
• Ulugh Beg
• Lotfi Asker Zadeh , ilmuwan komputer Iran; pendiri Matematika
Fuzzy dan himpunan teori fuzzy

21
• Cumrun Vafa
• Jeffrey Lang, Seorang Profesor di University of Kansas memeluk
Islam dari ateisme
6. Para ahli biologi, ahli syaraf dan Psikolog
• Ibnu Sirin (654-728), bekerja pada mimpi dan mimpi interpretasi
• Al-Kindi (Alkindus), perintis psikoterapi dan terapi musik
• Ali bin Sahl Rabban al-Tabari, perintis psikiatri, psikiatri klinis
dan psikologi klinis
• Ahmed bin Sahl Al-Balkhi, perintis kesehatan mental, psikologi
medis, psikologi kognitif, terapi kognitif, psikofisiologi dan obat
psikosomatik
• Najab ud-din Muhammad, perintis klasifikasi gangguan mental
• Al-Farabi (Alpharabius), perintis psikologi sosial dan studi
kesadaran
• Ali ibn Abbas al-Majusi (Haly Abbas), perintis neuroanatomy,
neurobiologi dan neurofisiologi
• Abu Al-Qasim Al-Zahrawi (Abulcasis), perintis bedah saraf
• Ibn al-Haytham (Alhazen), pendiri psikologi eksperimental,
psychophysics, fenomenologi dan persepsi visual
• Abu Rayhan al-Biruni, perintis waktu reaksi
• Avicenna (Ibn Sina), perintis psikologi fisiologis,
neuropsychiatry, percobaan berpikir, kesadaran diri
• Ibnu Zuhr (Avenzoar), perintis neurologi dan neuropharmacology
• Averroes, penemu penyakit Parkinson
• Ibnu Tufail, perintis tabula rasa dan alam versus pemeliharaan [43]
• Teepu Siddique, neurolog dan pelopor dalam neurogenetics dan
ALS.
• Pardis Sabeti
7. Dokter dan Ahli Bedah
• Khalid ibn Yazid (Calid)
• Ja'far ash-Shadiq
• Shapur bin Sahal (w. 869), perintis farmasi dan farmakope
• Al-Kindi (Alkindus) (801-873), perintis farmakologi
• Abbas Ibn Firnas (Armen Firman) (810-887)

22
• Al-Jahiz, penemu seleksi alam
• Ali bin Sahl Rabban al-Tabari, perintis medis bebas
• Ahmed bin Sahl Al-Balkhi
• Ishaq bin Ali al-Rahwi (854-931), perintis peer review dan medis
peer review
• Al-Farabi (Alpharabius)
• Ibn Al-Jazzar (circa 898-980)
• Abul Hasan al-Tabari - dokter
• Ali bin Sahl Rabban al-Tabari - dokter
• Ali bin Abbas al-Majusi (w. 994), perintis kebidanan dan
Perinatology
• Abu Gaafar Amed bin Ibrahim bin abi al-Gazzar Halid (abad ke-
10), pelopor restorasi gigi
• Abu Al-Qasim Al-Zahrawi (Abulcasis) - bapak modern bedah,
dan perintis bedah saraf, craniotomy, hematologi dan operasi gigi
• Ibn al-Haytham (Alhacen), perintis operasi mata, sistem visual
dan persepsi visual
• Abu Rayhan al-Biruni
• Avicenna (Ibn Sina) (980-1037) - bapak ilmu kedokteran modern,
pendiri Unani kedokteran, perintis obat eksperimental, kedokteran
berbasis bukti, ilmu farmasi, farmakologi klinis, aromaterapi,
pulsology dan sphygmology, dan juga seorang filsuf
• Ibnu Miskawaih
• Ibnu Zuhr (Avenzoar) - bapak operasi eksperimental , dan
perintis anatomi eksperimental , eksperimental fisiologi, pembedahan
manusia, otopsi dan tracheotomy
• Ibnu Bajjah (Avempace)
• Ibnu Tufail (Abubacer)
• Ibnu Rusyd (Averroes)
• Ibn al-Baitar
• Ibnu Jazla
• Nasir al-Din Tusi

23
• Ibnu al-Nafis (1213-1288), ayah dari fisiologi peredaran darah,
anatomi peredaran darah perintis , dan pendiri Nafisian anatomi,
fisiologi, pulsology dan sphygmology
• Ibn al-Quff (1233-1305), perintis embriologimodern
• Kamal al-Dīn al-Farisi
• Ibnu Khatima (abad ke-14), penemu bakteriologi dan
mikrobiologi
• Ibn al-Khatib (1313-1374)
• Mansur bin Ilyas
• Saghir Akhtar - apoteker
• Toffy Musivand
• Samuel Rahbar
• Muhammad B. Yunus, "bapak dari pandangan fibromyalgia
modern kita "
• Sheikh Muszaphar Shukor, perintis penelitian biomedis di
angkasa
• Hulusi Behçet, dikenal untuk penemuan penyakit Behçet
• Ibrahim B. Syed - radiolog
• Mehmet Oz, dokter bedah kardiotoraks
8. Fisikawan & Engineers
• Ja'far ash-Shadiq, abad ke-8
• Banu Musa (Ben Mousa), abad ke-9
o Ja'far Muhammad ibn Mūsā ibn Shākir
o Ahmad ibn Mūsā ibn Shākir
o Al-Hasan ibn Mūsā ibn Shākir
• Abbas Ibn Firnas (Armen Firman), abad ke-9
• Thābit ibn Qurra (Thebit), abad ke-9
• Al-Saghani, Abad ke-10
• Abu Sahl al-Qūhī (Kuhi), abad ke-10
• Ibn Sahl , Abad ke-10
• Ibn Yunus , Abad ke-10
• Al-Karaji, Abad ke-10

24
• Ibn al-Haytham (Alhacen), ilmuwan Irak abad ke-11, bapak
optik, pelopor metode ilmiah dan eksperimen fisika, dianggap
sebagai "ilmuwan pertama"
• Abū Rayhān al-Bīrūnī , abad ke-11, pelopor mekanika
eksperimental
• Ibnu Sina, abad ke-11
• Al-Khazini, abad ke-12
• Ibnu Bajjah (Avempace), abad ke-12
• Hibat Allah Abu'l-Barakat al-Baghdaadi (Nathanel), abad ke-12
• Averroes, abad ke-12 matematik Andalusia, filsuf dan ahli medis
• Al-Jazari, insinyur sipil abad ke-13, ayah dari robot, bapak
rekayasa modern
• Nasir al-Din Tusi, abad ke-13
• Quthb al-Din al-Syirazi, abad ke-13
• Kamal al-Dīn al-Farisi, abad ke-13
• Hasan Al-Rammah, abad ke-13
• Ibn al-Shatir, abad ke-14
• Taqi al-Din , abad ke-16
• Hezarfen Ahmet Celebi, abad ke-17
• Lagari Hasan Çelebi, abad ke-17
• Sake Dean Mahomet, abad ke-18
• Tipu Sultan , abad ke-18 pembikin mesin India
• Fazlur Khan, abad ke-20 pembikin mesinBangladesh
• Mahmoud Hessaby, abad ke-20 fisikawanIran
• Ali Javan, abad ke-20 fisikawan Iran
• Bacharuddin Jusuf Habibie, abad ke-20 Mantan Presiden
Indonesia dan presiden insinyur penerbangan
• Abdul Kalam, insinyur penerbangan India dan ilmuwan nuklir
• Mehran Kardar, fisikawan Iran
• Cumrun Vafa, Iran fisikawan matematis
• Nima Arkani-Hamed, fisikawan Amerika kelahiran Iran
• Abdel Nasser Tawfik, Mesir, Particle Physisist kelahiran Jerman
• Munir Nayfeh Palestina-Amerika Particle Physicist

25
• Abdus Salam, fisikawan teoretisPakistan - Penghargaan Nobel
dalam Fisika 1979
• Riazuddin, fisikawan teoretis Pakistan
• Abdul Qadeer Khan, ilmuwan nuklir Pakistan
• Munir Ahmad Khan, insinyur nuklir Pakistan
• Pervez Hoodbhoy, ahli fisika nuklir Pakistan
9. Politik Ilmuwan
• Syed Qutb
• Abul Ala Maududi
• Hasan al-Turabi
• Hassan al-Banna
• Mohamed Hassanein Heikal
• Shoaib ur Rehman Mughal
(http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Muslim_scientists, dikutip tanggal 1-
10-2009)

C. KESIMPULAN
Menggagas kebangkitan Peradaban Islam; jika umat Islam ingin membangun

kembali peradabannya, mereka harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tanpa ini, kebangkitan Islam hanya akan menjadi utopia belaka. Karena wujud

suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting yaitu,

kemampuan manusia untuk berfikir, yang menghasilkan sains dan teknologi,

kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer, serta

kesanggupan berjuang untuk hidup.

Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen mendasar (asasi) bagi suatu

peradaban. Suatu bangsa akan beradab (ber-peradaban) apabila bangsa itu telah

mencapai tingkat kemapuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia

ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban akan bisa terwujud jika

manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi, sehingga mampu

26
meningkatkan taraf kehidupannya. Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja

tanpa sarana dan prasarana ataupun supra-struktur dan infra-struktur yang tersedia.

Dalam hal ini, pendidikan merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran,

namun yang lebih mendasar lagi dari pemikiran adalah struktur ilmu pengetahuan

yang berasal dari pandangan hidup (agama).

Maka dari itu, pembangunan kembali peradaban Islam harus dimulai dari

pembangunan ilmu pengetahuan Islam. Orang mungkin memprioritaskan

pembangunan ekonomi dari pada ilmu, dan hal itu tidak sepenuhnya salah, sebab

ekonomi akan berperan meningkatkan taraf kehidupan, namun sejatinya faktor

materi dan ekonomi menentukan setting kehidupan manusia, sedangkan yang

mengarahkan seseorang untuk memberi respon terhadap situasi yang sedang

dihadapinya adalah faktor ilmu pengetahuan. Sebagaimana ungkapan Albert Enstien

”science without religion is blind, religion without science is lame”. Dari sini dapat

kita lihat peranan penting pendidikan dan agama sebagai jalan kebangkitan

peradaban Islam.

D. PENUTUP
Demikian makalah ini penulis susun, mudahan ada manfaatnya bagi
pembaca, khususnya bagi penulis sendiri.
Saran dan kritik yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan untuk
melengkapi makalah ini.

E. DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shidieqy, Tengku Muhammad Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an
dan Tafsir, Semarang, Putra Rizki Putra, 2000.

Amin, Husayn Ahmad, Seratus Tokoh Islam, _________________

Bernard Lewis, the Arab In History, Harper London, Colophons Books, 1996.

27
Dewan Pimpinan Penerbit, Ensiklopedi Islam, (Perpustakaan Nasional RI), Jakarta.
PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Muslim_scientists

http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Sina

http://frahasti.wordpress.com/2009/01/31/ibnu-majid

http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Rusyd

Masood, Ehsan, Ilmuan-Ilmuan Muslim Pelopoor Hebat di Bidang Sains Modern,
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009.

Munthoha, Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet. 1, Yogyakarta, UII Press , 1998

Nakosteen, Mehdi, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat, Cet.2, Surabaya:
Risalah Gusti, 2003.

Sucipto, Hery, The Great Moslem Scientist, Cet.1, Jakarta; Grafindo Khazanah
Ilmu, 2008.

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, Cet.2, Jakarta; Prenada Media, 2004.

Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam,Bandung, Pustaka Setia, 2008.

28