You are on page 1of 36

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Penyakit batu saluran kemih yang selanjutnya disingkat BSK
adalah terbentuknya batu yang disebabkan oleh pengendapan substansi
yang terdapat dalam air kemih yang jumlahnya berlebihan atau karena
faktor lain yang mempengaruhi daya larut substansi. BSK sudah diderita
manusia sejak zaman dahulu, hal ini dibuktikan dengan diketahui adanya
batu saluran kemih pada mummi Mesir yang berasal dari 4800 tahun
sebelum Masehi. Hippocrates yang merupakan bapak ilmu Kedokteran
menulis 4 abad sebelum Masehi tentang penyakit batu ginjal disertai
abses ginjal dan penyakit Gout.
Batu saluran kemih (BSK) merupakan masalah kesehatan yang
besar yang sudah lama dikenal, dan menempati urutan ketiga di bidang
urologi setelah penyakit infeksi saluran kemih (ISK) dan kelainan prostat.
Distribusi

penyakit

batu

saluran

kemih

sangat

bervariasi

dan

penyebarannya merata di seluruh dunia, hampir 15% dari jumlah populasi


di negara-negara barat. Negara dengan insidensi tertinggi untuk penyakit
batu saluran kemih dikenal dengan istilah stone belt, yang termasuk
negara stone belt adalah Myanmar, Sudan, Thailand, Filipina, Saudi
Arabia, Uni Emirat Arab, Pakistan, India, dan termasuk juga Indonesia.
Batu saluran kemih saat ini merupakan fenomena yang sangat
kompleks dan belum diketahui sepenuhnya. Tidak hanya satu faktor yang

berkontribusi terhadap terbentuknya batu tetapi ada banyak faktor,


misalnya infeksi, pengaruh hormon, gangguan metabolik, faktor genetik,
faktor lingkungan, faktor diet atau obstruksi dari sistem saluran kemih atau
meningkatnya ekskresi dari komponen-komponen kimia seperti oksalat,
kalsium, karbonat, magnesium, fosfat, dan sistin, serta bisa diakibatkan
karena menurunnya konsentrasi penghambat batu pada urin, seperti
sitrat, fosfat, dan klorida.
Komponen kimia yang paling sering membentuk batu saluran
kemih adalah kalsium (75-80%) termasuk kalsium oksalat dan kalsium
fosfat. 10-15% terdiri dari struvit, magnesium, amonium dan fosfat. Untuk
asam urat sekitar 6% dan hanya 1-2% yang mengandung sistin.
Batu Saluran Kemih pada laki-laki 3-4 kali lebih banyak daripada
wanita. Hal ini mungkin karena kadar kalsium air kemih sebagai bahan
utama pembentuk batu pada wanita lebih rendah daripada laki-laki dan
kadar sitrat air kemih sebagai bahan penghambat terjadinya batu
(inhibitor) pada wanita lebih tinggi daripada laki-laki. Batu saluran kemih
banyak dijumpai pada orang dewasa antara umur 30-60. Umur terbanyak
penderita batu di negara-negara Barat 20-50 tahun dan di Indonesia
antara 30-60 tahun. Kemungkinan keadaan ini disebabkan adanya
perbedaan faktor sosial ekonomi, budaya dan diet.
Angka kekambuhan BSK dalam satu tahun 15-17%, 4-5 tahun
50%, 10 tahun 75% dan 95-100% dalam 20-25 tahun. Apabila BSK
kambuh maka dapat terjadi peningkatan mortalitas dan peningkatan biaya

pengobatan. Manifestasi BSK dapat berbentuk rasa sakit yang ringan


sampai berat dan komplikasi seperti urosepsis dan gagal ginjal.
Di Indonesia sendiri, penderita batu saluran kemih masih banyak,
tetapi data lengkap kejadian penyakit ini masih belum banyak dilaporkan.
Menurut Departemen Kesehatan RI (2004), jumlah pasien rawat inap
penderita BSK di rumah sakit seluruh Indonesia yaitu 17.059 penderita,
dengan Case Fatality Rate (CFR) 0,97%. Menurut DepKes RI (2006),
jumlah pasien rawat inap penderita BSK di Rumah Sakit seluruh Indonesia
yaitu 16.251 penderita dengan CFR 0,94%. Hardjoeno dkk di Makassar
(2002-2004) menemukan 297 kasus, Rahardjo dkk (2001-2003) 245
penderita BSK, Puji Rahardjo dari RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo
menyatakan penyakit BSK yang diderita penduduk Indonesia sekitar
0,5%, bahkan di RS PGI Cikini menemukan sekitar 530 orang penderita
BSK pertahun. Di Jakarta dilaporkan 34,9% kasus urologi adalah batu
saluran kemih. Data rekam medis RS Dr. Kariadi Semarang, diketahui
bahwa kasus batu saluran kemih menunjukkan peningkatan dari 32,8%
dari kasus urologi pada tahun 2003 menjadi 35,4% dari kasus urologi
pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 39,1% pada tahun 2005.
Peningkatan ini sebagian besar disebabkan mulai tersedianya alat
pemecah batu ginjal non-invasif Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy
(ESWL) yang secara total mencakup 86% dari seluruh tindakan bidang
urologi. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013
menunjukkan prevalensi BSK sebesar 0,6%. Prevalensi tertinggi di DI

Yogyakarta (1,2%), diikuti aceh (0,9%), Jawa Barat, Jawa Tengah dan
Sulawesi Tengah masing-masing sebesar 0,8%. Sedangkan berdasarkan
usia, prevalensi BSK meningkat seiring dengan bertambahnya usia,
tertinggi pada kelompok umur 55-64 tahun (1,3%), menurun sedikit pada
kelompok umur 65-74 tahun (1,2%) dan umur > 75 tahun (1,1%).
Prevalensi lebih tinggi pada laki-laki (0,8%) dibanding perempuan (0,4%).
Prevalensi tertinggi pada masyarakat tidak bersekolah dan tidak tamat SD
(0,8%) serta masyarakat wiraswasta (0,8%) dan status ekonomi hampir
sama mulai kuintil indeks kepemilikan menengah ke bawah sampai
menengah ke atas (0,6%). Prevalensi di pedesaan sama tinggi dengan
perkotaan (0,6%).
Salah satu komplikasi batu saluran kemih yaitu terjadinya
gangguan fungsi ginjal yang ditandai kenaikan kadar ureum dan kreatinin
darah, gangguan tersebut bervariasi dari stadium ringan sampai timbulnya
sindroma uremia dan gagal ginjal, bila keadaan sudah stadium lanjut
bahkan bisa mengakibatkan kematian.

BAB II
Pembahasan

II.1. Definisi
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan
adanya massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran
kemih baik saluran kemih atas (ginjal dan ureter) dan saluran kemih
bawah (kandung kemih dan uretra), yang dapat menyebabkan nyeri,
perdarahan, penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk
di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu
kandung kemih). Batu ini terbentuk dari pengendapan garam kalsium,
magnesium, asam urat, atau sistin.
BSK dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar buah
anggur. Batu yang berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan
biasanya dapat keluar bersama dengan urine ketika berkemih. Batu yang
berada di saluran kemih atas (ginjal dan ureter) menimbulkan kolik dan
jika batu berada di saluran kemih bagian bawah (kandung kemih dan
uretra) dapat menghambat buang air kecil. Batu yang menyumbat ureter,
pelvis renalis maupun tubulus renalis dapat menyebabkan nyeri punggung
atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat di daerah antara tulang rusuk dan
tulang pinggang yang menjalar ke perut juga daerah kemaluan dan paha
sebelah dalam). Hal ini disebabkan karena adanya respon ureter terhadap
batu tersebut, dimana ureter akan berkontraksi yang dapat menimbulkan
rasa nyeri kram yang hebat.

II.2. Epidemiologi
Pembentukan batu primer dan pembentukan batu berulang adalah
tantangan terbesar yang dihadapi urologis sekarang ini dan tetap menjadi
sumber utama morbiditas pada manusia. Puncak usia terjadinya
pembentukan batu ialah pada dekade ketiga, dan prevalensinya
meningkat sampai usia 70 tahun. Selama beberapa dekade terakhir,
prevalensi BSK pada pria dan wanita meningkat di negara-negara industri.
Hal ini disebabkan karena adanya perubahan gaya hidup dan pola makan
pada negara-negara tersebut. Peningkatan insidensi BSK di dunia industri
dikaitkan dengan peningkatan standar hidup (termasuk konsumsi protein
dan mineral yang tinggi). Insidensi BSK bervariasi di seluruh dunia,
insidensi tertinggi pada negara Skandinavia, negara Mediterania, Inggris,
Australia bagian Utara, Eropa Tengah, beberapa bagian Semenanju
Malaya, Cina, Pakistan, dan India bagian Utara sedangkan kejadian
pembentukan BSK lebih rendah di area seperti Amerika Tengah dan
Selatan, dan beberapa bagian Afrika. Di Asia pembentukan BSK
dilaporkan semakin meluas ke seleruh Sudan, Arab Saudi, Uni Emirat
Arab, Iran, Pakistan, India, Myanmar, Thailand, Indonesia, dan Filipina. Di
India, isitilah stone belt digunakan untuk beberapa daerah seperti
Maharashtra, Gujarat, Punjab, Haryana, Delhi, dan Rajasthan. Pengaruh
geografi pada kejadian BSK bisa jadi secara langsung, melalui pengaruh
suhu;

suhu

yang

tinggi

meningkatkan

perspirasi,

yang

dapat

mengakibatkan

urin

terkonsentrasi,

yang

akhirnya

meningkatkan

kristalisasi urin.
Secara umum, BSK mempengaruhi semua kelompok umur dari
usia kurang 1 tahun sampai usia lebih 70 tahun, dengan rasio pria
dibanding wanita yaitu 2:1. Usia puncak pembentukan batu kalsium
oksalat yaitu pada usia 50-60 tahun. Resiko pembentukan batu secara
umum lebih tinggi pada pria; namun hal ini lebih sering terjadi pada wanita
muda. Pria berada pada risiko terbesar terkena BSK dengan tingkat
insiden dan prevalensi antara 2-4 kali lipat dari wanita, yang bisa
disebabkan oleh massa otot yang lebih besar pada laki-laki dibandingkan
perempuan. Angka kejadian BSK lebih tinggi pada pria dibandingkan pada
wanita juga dapat disebabkan oleh peningkatan kapasitas testosteron dan
kapasitas penghambat estrogen dalam pembentukan batu. Juga,
peningkatan kerusakan harian jaringan pada pria dapat mengakibatkan
peningkatan sisa metabolisme dan kecenderungan untuk pembentukan
batu. Penyebab lain yang lebih signifikan mungkin karena saluran kemih
laki-laki lebih rumit daripada saluran kemih wanita. Estrogen juga dapat
membantu mencegah pembentukan batu kalsium dengan menjaga alkali
urin dan meningkatkan jumlah sitrat pelindung. Namun, baru-baru ini ada
laporan dari peningkatan dramatis selama periode 1997-2002 dalam
prevalensi BSK antara perempuan dan perubahan rasio pria dibandingkan
wanita dari 1,7: 1 menjadi 1.3: 1. Meningkatnya kejadian BSK pada wanita
mungkin disebabkan karena gaya hidup yang terkait faktor risiko, seperti

obesitas. Beberapa laporan telah menggambarkan bahwa vegetarian


memiliki risiko lebih rendah untuk pembentukan batu dibandingkan
dengan non-vegetarian.
Di Indonesia, prevalensi penderita batu ginjal yang terdiagnosis
dokter sebesar 0,6 persen. Prevalensi tertinggi di DI Yogyakarta (1,2%),
diikuti Aceh (0,9%), Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah
masingmasing sebesar 0,8%.
Prevalensi

penyakit

batu

ginjal

meningkat

seiring

dengan

bertambahnya umur, tertinggi pada kelompok umur 55-64 tahun (1,3%),


menurun sedikit pada kelompok umur 65-74 tahun (1,2%) dan umur 75
tahun (1,1%). Prevalensi lebih tinggi pada laki-laki (0,8%) dibanding
perempuan (0,4%). Prevalensi tertinggi pada masyarakat tidak bersekolah
dan tidak tamat SD (0,8%) serta masyarakat wiraswasta (0,8%) dan status
ekonomi hampir sama mulai kuintil indeks kepemilikan menengah bawah
sampai menengah atas (0,6%). Prevalensi di perdesaan sama tinggi
dengan perkotaan (0,6%).

II.3. Penyebab Pembentukan Batu Saluran Kemih


Penyebab pasti pembentukan BSK belum diketahui, oleh karena
banyak faktor yang dilibatkannya, sampai sekarang banyak teori dan
faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan BSK yaitu:
II.3.1. Teori Fisiko Kimiawi

Prinsip dari teori ini adalah terbentuknya BSK karena adanya proses
kimia, fisika maupun gabungan fisiko kimiawi. Dari hal tersebut diketahui
bahwa terjadinya batu sangat dipengaruhi oleh konsentrasi bahan
pembentuk batu di saluran kemih. Berdasarkan faktor fisiko kimiawi
dikenal teori pembentukan batu, yaitu:
II.3.1.1. Teori Supersaturasi
Supersaturasi air kemih dengan garam-garam pembentuk batu
merupakan

dasar

terpenting

dan

merupakan

syarat

terjadinya

pengendapan. Apabila kelarutan suatu produk tinggi dibandingkan titik


endapannya

maka

terjadi

supersaturasi

sehingga

menimbulkan

terbentuknya kristal dan pada akhirnya akan terbentuk batu. Supersaturasi


dan kristalisasi dapat terjadi apabila ada penambahan suatu bahan yang
dapat mengkristal di dalam air dengan pH dan suhu tertentu yang suatu
saat akan terjadi kejenuhan dan terbentuklah kristal. Tingkat saturasi
dalam air kemih tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah bahan pembentuk
BSK yang larut, tetapi juga oleh kekuatan ion, pembentukan kompleks dan
pH air kemih.
II.3.1.2. Teori Matrik
Di dalam air kemih terdapat protein yang berasal dari pemecahan
mitokondria sel tubulus renalis yang berbentuk laba-laba. Kristal batu
oksalat maupun kalsium fosfat akan menempel pada anyaman tersebut
dan berada di sela-sela anyaman sehingga terbentuk batu. Benang
seperti laba-laba terdiri dari protein 65%, heksana 10%, heksosamin 2-5%

sisanya air. Pada benang menempel kristal batu yang seiring waktu batu
akan semakin membesar. Matriks tersebut merupakan bahan yang
merangsang timbulnya batu.
II.3.1.3. Teori Tidak Adanya Inhibitor
Dikenal 2 jenis inhibitor yaitu organik dan anorganik. Pada inhibitor
organik terdapat bahan yang sering terdapat dalam proses penghambat
terjadinya batu yaitu asam sitrat, nefrokalsin, dan tamma-horsefall
glikoprotein sedangkan yang jarang terdapat adalah gliko-samin glikans
dan uropontin. Pada inhibitor anorganik terdapat bahan pirofosfat dan
Zinc. Inhibitor yang paling kuat adalah sitrat, karena sitrat akan bereaksi
dengan kalsium membentuk kalsium sitrat yang dapat larut dalam air.
Inhibitor mencegah terbentuknya kristal kalsium oksalat dan mencegah
perlengketan kristal kalsium oksalat pada membaran tubulus. Sitrat
terdapat pada hampir semua buah-buahan tetapi kadar tertinggi pada
jeruk. Hal tersebut yang dapat menjelaskan mengapa pada sebagian
individu terjadi pembentukan BSK, sedangkan pada individu lain tidak,
meskipun sama-sama terjadi supersanturasi.
II.3.1.4. Teori Epitaksi
Pada teori ini dikatakan bahwa kristal dapat menempel pada kristal
lain yang berbeda sehingga akan cepat membesar dan menjadi batu
campuran. Keadaan ini disebut nukleasi heterogen dan merupakan kasus
yang paling sering yaitu kristal kalsium oksalat yang menempel pada
kristal asam urat yang ada.

10

II.3.1.5. Teori Infeksi


Teori terbentuknya BSK juga dapat terjadi karena adanya infeksi
dari kuman tertentu. Pengaruh infeksi pada pembentukan BSK adalah
teori terbentuknya batu survit dipengaruhi oleh pH air kemih > 7 dan
terjadinya reaksi sintesis amonium dengan molekul magnesium dan fosfat
sehingga terbentuk magnesium ammonium fosfat (batu survit) misalnya
saja pada bakteri pemecah urea yang menghasilkan urease. Bakteri yang
menghasilkan urease yaitu Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter,
Pseudomonas, dan Staphiloccocus.
Teori pengaruh infeksi lainnya adalah teori nano bakteria dimana
penyebab pembentukan BSK adalah bakteri berukuran kecil dengan
diameter 50-200 nanometer yang hidup dalam darah, ginjal dan air kemih.
Bakteri ini tergolong gram negatif dan sensitif terhadap tetrasiklin. Dimana
dinding pada bakteri tersebut dapat mengeras membentuk cangkang
kalsium kristal karbonat apatit dan membentuk inti batu, kemudian kristal
kalsium oksalat akan menempel yang lama kelamaan akan membesar.
Dilaporkan bahwa 90% penderita BSK mengandung nano bakteria.
II.3.1.6. Teori Kombinasi
Banyak ahli berpendapat bahwa BSK terbentuk berdasarkan
campuran dari beberapa teori yang ada.
II.3.2. Teori Vaskuler

11

Pada penderita BSK sering didapat penyakit hipertensi dan kadar


kolesterol darah yang tinggi, maka Stoller mengajukan teori vaskuler untuk
terjadinya BSK, yaitu:
II.3.2.1. Hipertensi
Pada penderita hipertensi 83% mempunyai perkapuran ginjal
sedangkan pada orang yang tidak hipertensi yang mempunyai perkapuran
ginjal sebanyak 52%. Hal ini disebabkan aliran darah pada papilla ginjal
berbelok 180 dan aliran darah berubah dari aliran laminer menjadi
turbulensi. Pada penderita hipertensi aliran turbulen tersebut berakibat
terjadinya pengendapan ion-ion kalsium papilla (Ranalls plaque) disebut
juga perkapuran ginjal yang dapat berubah menjadi batu.
II.3.2.2. Kolesterol
Adanya kadar kolesterol yang tinggi dalam darah akan disekresi
melalui glomerulus ginjal dan tercampur didalam air kemih. Adanya butiran
kolesterol tersebut akan merangsang agregasi dengan kristal kalsium
oksalat dan kalsium fosfat sehingga terbentuk batu yang bermanifestasi
klinis (teori epitaksi).
Menurut Hardjoeno (2006), diduga dua proses yang terlibat dalam
BSK yakni supersaturasi dan nukleasi. Supersaturasi terjadi jika substansi
yang menyusun batu terdapat dalam jumlah yang besar dalam urine, yaitu
ketika volume urine dan kimia urine yang menekan pembentukan
menurun. Pada proses nukleasi, natrium hidrogen urat, asam urat dan
kristal hidroksipatit membentuk inti. Ion kalsium dan oksalat kemudian

12

merekat (adhesi) di inti untuk membentuk campuran batu. Proses ini


dinamakan nukleasi heterogen. Analisis batu yang memadai akan
membantu memahami mekanisme patogenesis BSK dan merupakan
tahap awal dalam penilaian dan awal terapi pada penderita BSK.
II.4. Determinan
Secara

epidemiologis

terdapat

beberapa

faktor

yang

mempermudah terjadinya BSK pada seseorang. Faktor-faktor tersebut


adalah faktor intrinsik, yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang
dan faktor ekstrinsik, yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan
disekitarnya.
II.4.1. Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam individu
sendiri. Yang termasuk faktor intrinsik adalah umur, jenis kelamin,
keturunan, riwayat keluarga.
II.4.1.1. Umur
Umur terbanyak penderita BSK di negara-negara Barat adalah 2050 tahun, sedangkan di Indonesia terdapat pada golongan umur 30-60
tahun. Penyebab pastinya belum diketahui, kemungkinan disebabkan
karena adanya perbedaan faktor sosial ekonomi, budaya, dan diet.
Berdasarkan penelitian Latvan, dkk (2005) di RS. Sydney Australia,
proporsi BSK 69% pada kelompok umur 20-49 tahun. Menurut Basuki
(2011), penyakit BSK paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.
II.4.1.2. Jenis kelamin

13

Kejadian BSK berbeda antara laki-laki dan wanita. Jumlah pasien


laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan.
Tingginya kejadian BSK pada laki-laki disebabkan oleh anatomis saluran
kemih pada laki-laki yang lebih panjang dibandingkan perempuan, secara
alamiah di dalam air kemih laki-laki kadar kalsium lebih tinggi
dibandingkan perempuan, dan pada air kemih perempuan kadar sitrat
(inhibitor) lebih tinggi, laki-laki memiliki hormon testosterone yang dapat
meningkatkan produksi oksalat endogen di hati, serta adanya hormon
estrogen pada perempuan yang mampu mencegah agregasi garam
kalsium. Insiden BSK di Australia pada tahun 2005 pada laki-laki 100-300
per 100.000 populasi sedangkan pada perempuan 50-100 per 100.000
populasi.
II.4.1.3. Heriditer/ Keturunan
Faktor keturunan dianggap mempunyai peranan dalam terjadinya
penyakit BSK. Walaupun demikian, bagaimana peranan faktor keturunan
tersebut sampai sekarang belum diketahui secara jelas. Berdasarkan
penelitian Latvan, dkk (2005) di RS. Sydney Australia berdasarkan
keturunan proporsi BSK pada laki-laki 16,8% dan pada perempuan 22,7%.
II.4.2. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari lingkungan luar
individu seperti geografi, iklim, serta gaya hidup seseorang.
II.4.2.1. Geografi

14

Prevalensi BSK banyak diderita oleh masyarakat yang tinggal di


daerah pegunungan. Hal tersebut disebabkan oleh sumber air bersih yang
dikonsumsi oleh masyarakat dimana sumber air bersih tersebut banyak
mengandung

mineral

seperti

phospor,

kalsium,

magnesium,

dan

sebagainya. Letak geografi menyebabkan perbedaan insiden BSK di


suatu tempat dengan tempat lainnya. Faktor geografi mewakili salah satu
aspek lingkungan dan sosial budaya seperti kebiasaan makanannya,
temperatur, dan kelembaban udara yang dapat menjadi predoposisi
kejadian BSK.
II.4.2.2. Faktor Iklim dan Cuaca
Faktor iklim dan cuaca tidak berpengaruh langsung, namun
kejadiannya banyak ditemukan di daerah yang bersuhu tinggi. Temperatur
yang tinggi akan meningkatkan jumlah keringat dan meningkatkan
konsentrasi air kemih. Konsentrasi air kemih yang meningkat dapat
menyebabkan

pembentukan kristal air kemih. Pada orang

yang

mempunyai kadar asam urat tinggi akan lebih berisiko menderita penyakit
BSK.
II.4.2.3. Jumlah Air yang di Minum
Dua faktor yang berhubungan dengan kejadian BSK adalah jumlah
air yang diminum dan kandungan mineral yang berada di dalam air minum
tersebut. Pembentukan batu juga dipengaruhi oleh faktor hidrasi. Pada
orang dengan dehidrasi kronik dan asupan cairan kurang memiliki risiko
tinggi terkena BSK. Dehidrasi kronik menaikkan gravitasi air kemih dan

15

saturasi asam urat sehingga terjadi penurunan pH air kemih. Pengenceran


air kemih dengan banyak minum menyebabkan peningkatan koefisien ion
aktif setara dengan proses kristalisasi air kemih. Banyaknya air yang
diminum akan mengurangi rata-rata umur kristal pembentuk batu saluran
kemih dan mengeluarkan komponen tersebut dalam air kemih.
Kandungan mineral dalam air salah satu penyebab BSK. Air yang
mengandung sodium karbonat seperti pada soft drink penyebab terbesar
timbulnya batu saluran kemih. Air sangat penting dalam proses
pembentukan BSK. Apabila seseorang kekurangan air minum maka dapat
terjadi supersaturasi bahan pembentuk BSK. Hal ini dapat menyebabkan
terjadinya BSK. Pada penderita dehidrasi kronik pH air kemih cenderung
turun, berat jenis air kemih naik, saturasi asam urat naik dan
menyebabkan penempelan kristal asam urat.
Dianjurkan minum 2500 ml air per hari atau minum 250 ml tiap 4
jam ditambah 250 ml tiap kali makan sehingga diharapkan tubuh
menghasilkan 2000 ml air kemih yang cukup untuk mengurangi terjadinya
BSK. Banyak ahli berpendapat bahwa yang dimaksud minum banyak
untuk memperkecil kambuh yaitu bila air kemih yang dihasilkan minimal 2
liter per 24 jam39. Berbagai jenis minuman berpengaruh berbeda dalam
mengurangi atau menambah risiko terbentuknya batu saluran kemih.
Alkohol banyak mengandung kalsium oksalat dan guanosin yang
pada metabolisme diubah menjadi asam urat. Peminum alkohol kronis

16

biasanya menderita hiperkalsiuria dan hiperurikosuria akan meningkatkan


kemungkinan terkena batu kalsium oksalat.
II.4.2.4. Diet/Pola makan
Diperkirakan diet sebagai faktor penyebab terbesar terjadinya batu
saluran kemih. Diet berbagai makanan dan minuman mempengaruhi
tinggi rendahnya jumlah air kemih dan substansi pembentukan batu yang
berefek signifikan dalam terjadinya BSK. Bila dikonsumsi berlebihan maka
kadar kalsium dalam air kemih akan naik, pH air kemih turun, dan kadar
sitrat air kemih juga turun. Diet yang dimodifikasi terbukti dapat mengubah
komposisi air kemih dan risiko pembentukan batu.
Kebutuhan protein untuk hidup normal per hari 600 mg/kg BB, bila
berlebihan maka risiko terbentuk batu saluran kemih akan meningkat.
Protein hewani akan menurunkan keasaman (pH) air kemih sehingga
bersifat asam, maka protein hewani tergolong acid ash food, Akibat
reabsorbsi kalsium dalam tubulus berkurang sehingga kadar kalsium air
kemih

naik.

Selain

itu

hasil

metabolisme

protein

hewani

akan

menyebabkan kadar sitrat air kemih turun, kadar asam urat dalam darah
dan air kemih naik. Konsumsi protein hewani berlebihan dapat juga
menimbulkan kenaikan kadar kolesterol dan memicu terjadinya hipertensi,
maka berdasarkan hal tersebut diatas maka konsumsi protein hewani
berlebihan memudahkan timbulnya batu saluran kemih.
Karbohidrat tidak mempengaruhi terbentuknya

batu kalsium

oksalat, sebagian besar buah adalah alkali ash food (Cranberry dan

17

kismis). Alkasi ash food

akan menyebabkan pH air kemih naik sehingga

timbul batu kalsium oksalat.


Sayur bayam, sawi, daun singkong menyebabkan hiperkalsiuria.
Sayuran yang mengandung oksalat adalah sawi, bayam, kedelai, brokoli,
asparagus, menyebabkan hiperkalsiuria dan resorbsi kalsium sehingga
menyebabkan hiperkalsium yang dapat menimbulkan batu kalsium
oksalat. Sebagian besar sayuran menyebabkan pH air kemih naik (alkali
ash food) sehingga menguntungkan, karena tidak memicu terjadinya batu
kalsium oksalat. Sayuran mengandung banyak serat yang dapat
mengurangi penyerapan kalsium dalam usus, sehingga mengurangi kadar
kalsium air kemih yang berakibat menurunkan terjadinya BSK.
Pada orang dengan konsumsi serat sedikit maka kemungkinan
timbulnya batu kalsium oksalat meningkat. Serat akan mengikat kalsium
dalam usus sehingga yang diserap akan berkurang dan menyebabkan
kadar kalsium dalam air kemih berkurang. Sebagian besar buah
merupakan alkali ash food yang penting untuk mencegah timbulnya batu
saluran kemih. Hanya sedikit buah yang bersifat acid ash food seperti
kismis dan cranberi. Banyak buah yang mengandung sitrat terutama jeruk
yang penting sekali untuk mencegah timbulnya batu saluran kemih,
karena sitrat merupakan inhibitor yang paling kuat. Karena itu konsumsi
buah akan memperkecil kemungkinan terjadinya batu saluran kemih.

18

Beberapa studi telah dilakukan untuk mengetahui hubungan antara


tingginya asupan makanan dengan ekskresi kalsium dalam air kemih.
Pengaruh diet tinggi kalsium hanya 6% pada kenaikan kalsium air kemih.
II.4.2.5. Jenis Pekerjaan
Kejadian BSK lebih banyak terjadi pada orang-orang yang banyak
duduk dalam melakukan pekerjaannya.
II.4.2.6. Kebiasaan Menahan Buang Air Kemih
Kebiasaan menahan buang air kemih akan menimbulakan statis air
kemih yang dapat berakibat timbulnya Infeksi Saluran Kemih (ISK). ISK
yang disebabkan oleh kuman pemecah urea dapat menyebabkan
terbentuknya jenis batu struvit.
II.4.2.7. Stres
Diketahui pada orang-orang yang menderita stres jangka panjang,
dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya batu saluran kemih. Secara
pasti mengapa stres dapat menimbulkan batu saluran kemih belum dapat
ditentukan secara pasti. Tetapi, diketahui bahwa orang-orang yang stres
dapat mengalami hipertensi, daya tahan tubuh rendah, dan kekacauan
metabolisme yang memungkinkan kenaikan terjadinya BSK.
II.4.2.8. Olah raga
Secara khusus penelitian untuk mengetahui hubungan antara olah
raga dan kemungkinan timbul batu belum ada, tetapi memang telah
terbukti BSK jarang terjadi pada orang yang bekerja secara fisik dibanding
orang yang bekerja di kantor dengan banyak duduk.

19

II.4.2.9. Obesitas (kegemukan)


Obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan peningkatan lemak
tubuh baik diseluruh tubuh maupun di bagian tertentu. Obesitas dapat
ditentukan dengan pengukuran antropometri seperti IMT, distribusi lemak
tubuh/ persen lemak tubuh melalui pengukuran tebal lemak bawah kulit.
Dikatakan obese jika IMT 25 kg/m2. Pada penelitian kasus batu kalsium
oksalat yang idiopatik didapatkan 59,2% terkena kegemukan. Hal ini
disebabkan pada orang yang gemuk pH air kemih turun, kadar asam urat,
oksalat dan kalsium naik.

II.5. Gejala Batu Saluran Kemih


Manisfestasi klinik adanya batu dalam saluran kemih bergantung
pada adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat
aliran urine, terjadi obstruksi yang dapat mengakibatkan terjadinya
peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter
proksimal. Infeksi biasanya disertai gejala demam, menggigil, dan dysuria.
Namun, beberapa batu jika ada gejala tetapi hanya sedikit dan secara
perlahan akan merusak unit fungsional (nefron) ginjal, dan gejala lainnya
adalah nyeri yang luar biasa (kolik).

Gejala klinis yang dapat dirasakan yaitu:


a. Rasa Nyeri

20

Lokasi nyeri tergantung dari letak batu. Rasa nyeri yang berulang
(kolik) tergantung dari lokasi batu. Bila nyeri mendadak menjadi akut,
disertai nyeri tekan diseluruh area kostovertebratal, tidak jarang disertai
mual dan muntah, maka pasien tersebut sedang mengalami kolik ginjal.
Batu yang berada di ureter dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa,
akut, dan kolik yang menyebar ke paha dan genitalia. Pasien sering ingin
merasa berkemih, namun hanya sedikit urine yang keluar, dan biasanya
air kemih disertai dengan darah, maka pasien tersebut mengalami kolik
ureter.
b. Demam
Demam terjadi karena adanya kuman yang beredar di dalam darah
sehingga menyebabkan suhu badan meningkat melebihi batas normal.
Gejala ini disertai jantung berdebar, tekanan darah rendah, dan pelebaran
pembuluh darah di kulit.
c. Infeksi
BSK jenis apapun seringkali berhubungan dengan infeksi sekunder
akibat obstruksi dan statis di proksimal dari sumbatan. Infeksi yang terjadi
di saluran kemih karena kuman Proteus spp, Klebsiella, Serratia,
Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus.
d. Hematuria dan kristaluria
Terdapatnya sel darah merah bersama dengan air kemih
(hematuria) dan air kemih yang berpasir (kristaluria) dapat membantu
diagnosis adanya penyakit BSK.

21

e. Mual dan muntah


Obstruksi saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter) seringkali
menyebabkan mual dan muntah.

II.6. Klasifikasi Batu Saluran Kemih


Komposisi kimia yang terkandung dalam batu ginjal dan saluran kemih
dapat diketahui dengan menggunakan analisis kimia khusus untuk
mengetahui adanya kalsium, magnesium, amonium, karbonat, fosfat,
asam urat oksalat, dan sistin.
II.6.1. Batu kalsium
Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak menyebabkan BSK
yaitu sekitar 70%-80% dari seluruh kasus BSK. Batu ini kadang-kadang di
jumpai dalam bentuk murni atau juga bisa dalam bentuk campuran,
misalnya dengan batu kalsium oksalat, batu kalsium fosfat atau campuran
dari kedua unsur tersebut. Terbentuknya batu tersebut diperkirakan terkait
dengan kadar kalsium yang tinggi di dalam urine atau darah dan akibat
dari dehidrasi. Batu kalsium terdiri dari dua tipe yang berbeda, yaitu:
Whewellite (monohidrat) yaitu, batu berbentuk padat, warna cokelat/hitam
dengan konsentrasi asam oksalat yang tinggi pada air kemih dan
kombinasi kalsium dan magnesium menjadi weddllite (dehidrat) yaitu batu
berwarna kuning, mudah hancur daripada whewellite.
II.6.2. Batu asam urat

22

Lebih kurang 5-10% penderita BSK dengan komposisi asam urat.


Pasien biasanya berusia > 60 tahun. Batu asam urat dibentuk hanya oleh
asam urat. Kegemukan, peminum alkohol, dan diet tinggi protein
mempunyai peluang lebih besar menderita penyakit BSK, karena keadaan
tersebut dapat meningkatkan ekskresi asam urat sehingga pH air kemih
menjadi rendah. Ukuran batu asam urat bervariasi mulai dari ukuran kecil
sampai ukuran besar sehingga membentuk staghorn (tanduk rusa). Batu
asam urat ini adalah tipe batu yang dapat dipecah dengan obat-obatan.
Sebanyak 90% akan berhasil dengan terapi kemolisis.
II.6.3. Batu struvit (magnesium-amonium fosfat)
Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi
ini adalah golongan kuman pemecah urea atau urea splitter yang dapat
menghasilkan enzim urease dan merubah urine menjadi bersuasana basa
melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Kuman yang termasuk pemecah
urea di antaranya adalah: Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter,
Pseudomonas, dan Staphiloccocus. Ditemukan sekitar 15-20% pada
penderita BSK. Batu struvit lebih sering terjadi pada wanita daripada lakilaki. Infeksi saluran kemih terjadi karena tingginya konsentrasi ammonium
dan pH air kemih >7. Pada batu struvit volume air kemih yang banyak
sangat penting untuk membilas bakteri dan menurunkan supersaturasi
dari fosfat.
II.6.4. Batu sistin

23

Batu sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena


gangguan ginjal. Merupakan batu yang paling jarang dijumpai dengan
frekuensi kejadian 1-2%. Reabsorbsi asam amino, sistin, arginin, lysin dan
ornithine berkurang, pembentukan batu terjadi saat bayi. Disebabkan
faktor keturunan dan pH urine yang asam. Selain karena urine yang
sangat jenuh, pembentukan batu dapat juga terjadi pada individu yang
memiliki riwayat batu sebelumnya atau pada individu yang statis karena
imobilitas.

Memerlukan

pengobatan

seumur

hidup,

diet

mungkin

menyebabkan pembentukan batu, pengenceran air kemih yang rendah


dan asupan protein hewani yang tinggi menaikkan ekskresi sistin dalam
air kemih.

II.7. Penatalaksanaan Batu Saluran Kemih


Tujuan

dasar

penatalaksanaan

medis

BSK

adalah

untuk

menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan


nefron, mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi.
Batu dapat dikeluarkan dengan cara konservatif, pengobatan medik
selektif dengan pemberian obat-obatan, tanpa operasi, dan pembedahan
terbuka.

II.7.1. Konservatif
Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang berukuran lebih
kecil yaitu dengan diameter kurang dari 5 mm, karena diharapkan batu

24

dapat keluar tanpa intervensi medis. Dengan cara mempertahankan


keenceran urine dan diet makanan tertentu yang dapat merupakan bahan
utama pembentuk batu (misalnya kalsium) yang efektif mencegah
pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan ukuran batu yang telah
ada. Setiap pasien BSK harus minum paling sedikit 8 gelas air sehari.
II.7.2. Medikamentosa
Analgesia

dapat

diberikan

untuk

meredakan

nyeri

dan

mengusahakan agar batu dapat keluar sendiri secara spontan. Opioid


seperti injeksi morfin sulfat yaitu petidin hidroklorida atau obat anti
inflamasi nonsteroid seperti ketorolac dan naproxen dapat diberikan
tergantung pada intensitas nyeri. Propantelin dapat digunakan untuk
mengatasi spasme ureter. Pemberian antibiotik apabila terdapat infeksi
saluran kemih atau pada pengangkatan batu untuk mencegah infeksi
sekunder. Setelah batu dikeluarkan, BSK dapat dianalisis untuk
mengetahui komposisi dan obat tertentu dapat diresepkan untuk
mencegah atau menghambat pembentukan batu berikutnya.
II.7.3. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)
Merupakan tindakan non-invasif dan tanpa pembiusan, pada
tindakan ini digunakan gelombang kejut eksternal yang dialirkan melalui
tubuh untuk memecah batu. Alat ESWL adalah pemecah batu yang
diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat
memecah batu ginjal, batu ureter proximal, atau menjadi fragmen-fragmen
kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. ESWL dapat

25

mengurangi keharusan melakukan prosedur invasif dan terbukti dapat


menurunkan lama rawat inap di rumah sakit.
II.7.4. Endourologi
Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk
mengeluarkan BSK yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian
mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukan
langsung kedalam saluran kemih. Alat tersebut dimasukan melalui uretra
atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Beberapa tindakan
endourologi tersebut adalah:
a.

PNL

(Percutaneous

Nephro

Litholapaxy)

adalah

usaha

mengeluarkan batu yang berada di dalam saluran ginjal dengan cara


memasukan alat endoskopi ke sistem kalies melalui insisi pada kulit. Batu
kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmenfragmen kecil.
b. Litotripsi adalah memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan
memasukan alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli.
c. Ureteroskopi atau uretero-renoskopi adalah dengan memasukan
alat ureteroskopi per-uretram. Dengan memakai energi tertentu,
batu yang berada di dalam ureter maupun sistem pelvikalises dapat
dipecah melalui tuntunan ureteroskopi/ureterorenoskopi ini.
d. Ekstrasi

Dormia

adalah

mengeluarkan

menjaringnya melalui alat keranjang Dormia.


II.7.5. Tindakan Operasi

26

batu

ureter dengan

Penanganan BSK, biasanya terlebih dahulu diusahakan untuk


mengeluarkan batu secara spontan tanpa pembedahan/operasi. Tindakan
bedah dilakukan jika batu tidak merespon terhadap bentuk penanganan
lainnya. Ada beberapa jenis tindakan pembedahan, nama dari tindakan
pembedahan tersebut tergantung dari lokasi dimana batu berada, yaitu:
a.

Nefrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu


yang berada di dalam ginjal

b.

Ureterolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu


yang berada di ureter

c.

Vesikolitomi merupakan operasi tebuka untuk mengambil batu yang


berada di vesica urinearia

d.

Uretrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu


yang berada di uretra

II.8. Pencegahan Batu Saluran Kemih


Pencegahan BSK terdiri dari pencegahan primer atau pencegahan
tingkat pertama, pencegahan sekunder atau pencegahan tingkat kedua,
dan pencegahan tersier atau pencegahan tingkat ketiga. Tindakan
pencegahan tersebut antara lain:
II.8.1. Pencegahan Primer
Tujuan dari pencegahan primer adalah untuk mencegah agar tidak
terjadinya penyakit BSK dengan cara mengendalikan faktor penyebab dari

27

penyakit BSK. Sasarannya ditujukan kepada orang-orang yang masih


sehat, belum pernah menderita penyakit BSK. Kegiatan yang dilakukan
meliputi promosi kesehatan, pendidikan kesehatan, dan perlindungan
kesehatan. Contohnya adalah untuk menghindari terjadinya penyakit BSK,
dianjurkan minum 2500 ml air per hari atau minum 250 ml tiap 4 jam
ditambah

250

ml

tiap

kali

makan

sehingga

diharapkan

tubuh

menghasilkan 2000 ml air kemih yang cukup untuk mengurangi terjadinya


BSK. Banyak ahli berpendapat bahwa yang dimaksud minum banyak
untuk memperkecil kambuh yaitu bila air kemih yang dihasilkan minimal 2
liter per 24 jam.
Serta

olahraga

yang

cukup

terutama

bagi

individu

yang

pekerjaannya lebih banyak duduk atau statis.


II.8.2. Pencegahan Sekunder
Tujuan dari pencegahan sekunder adalah untuk menghentikan
perkembangan penyakit agar tidak menyebar dan mencegah terjadinya
komplikasi. Sasarannya ditujukan kepada orang yang telah menderita
penyakit

BSK.

Kegiatan

yang

dilakukan

dengan

diagnosis

dan

pengobatan sejak dini. Diagnosis batu saluran kemih dapat dilakukan


dengan cara pemeriksaan fisik, laboraturium, dan radiologis. Urinalisis
dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi infeksi yaitu peningkatan
jumlah leukosit dalam darah, hematuria dan bakteriuria, dengan adanya
kandungan nitrit dalam urine. Selain itu, nilai pH urine harus diuji karena
batu sistin dan asam urat dapat terbentuk jika nilai pH kurang dari 6,0,

28

sementara batu fosfat dan struvit lebih mudah terbentuk pada pH urine
lebih dari 7,2.
II.8.3. Pencegahan Tersier
Tujuan dari pencegahan tersier adalah untuk mencegah agar tidak
terjadi komplikasi sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang
membutuhkan perawatan intensif. Sasarannya ditujukan kepada orang
yang sudah menderita penyakit BSK agar penyakitnya tidak bertambah
berat. Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan rehabilitasi seperti
konseling kesehatan agar orang tersebut lebih memahami tentang cara
menjaga fungsi saluran kemih terutama ginjal yang telah rusak akibat dari
BSK sehingga fungsi organ tersebut dapat maksimal kembali dan tidak
terjadi kekambuhan penyakit BSK, dan dapat memberikan kualitas hidup
sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.

II.9. Indikator
Penyakit batu saluran kemih termasuk Penyakit Tidak Menular
(PTM), jadi secara umum untuk mengetahui sampai seberapa jauh
keberhasilan pelaksanaan strategi penanggulangan PTM, ada beberapa
patokan yang dapat dipergunakan untuk monitoring dan evaluasi melalui
sistem

pencatatan

dan

pelaporan

kegiatan

pencegahan

dan

penanggulangan PTM. Indikator keberhasilan strategi promosi dan


pencegahan PTM yaitu:

29

II.9.1. Indikator Umum

Menurunnya angka kematian (mortalitas) penderita PTM

Menurunnya angka kesakitan (morbiditas) penderita PTM

Menurunnya angka kecacatan (disabilitas) penderita PTM

Menurunnya angka faktor risiko bersama PTM

II.9.2. Indikator Khusus

Penurunan 3 faktor risiko utama PTM (merokok, kurang aktifitas


fisik dan konsumsi rendah serat)

Penurunan

proporsi

penduduk

yang

mengalami

obesitas,

penyalahgunaan alkohol dan BBLR

Peningkatan kebijakan dan regulasi lintas sektor yang mendukung


penanggulangan PTM

Peningkatan bina suasana melalui kemitraan dalam pemberdayaan


potensi masyarakat

Tersedianya model-model intervensi yang efektif dalam promosi


dan pencegahan PTM

Peningkatan pelaksanaan promosi dan pencegahan di institusi


pelayanan

Pemantauan

Rencana

Operasional

Promosi

Kesehatan

dalam

Pengendalian PTM dilakukan secara berjenjang dan berkesinambungan


setiap tahun dalam kurun waktu 5 tahun (2010-2014). Pemantauan
merupakan upaya untuk mengamati seberapa jauh kegiatan yang

30

direncanakan sudah dilaksanakan. Evaluasi dilaksanakan untuk melihat


kemajuan dan keberhasilan pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan
dalam Pengendalian PTM. Pemantauan rencana dan pelaksanaan
kegiatan promosi kesehatan untuk pengendalian PTM dilaksanakan oleh
pengelola program pengendalian PTM, pengelola program promosi
kesehatan dan mitra terkait pada masing-masing jenjang administrasi
mulai dari pusat, provinsi sampai kabupaten/kota. Melalui lingkup Promosi
Kesehatan secara menyeluruh mulai dari kegiatan advokasi, bina
suasana, pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan kemitraan,
maka upaya Pengendalian PTM akan memberikan hasil yang optimal.

II.10. Kebijakan
Promosi dan pencegahan PTM dilakukan pada seluruh fase
kehidupan, melalui pemberdayaan berbagai komponen di masyarakat
seperti organisasi profesi, LSM, media massa, dunia usaha/swasta.
Upaya promosi dan pencegahan PTM tersebut ditekankan pada
masyarakat yang masih sehat (well being) dan masyarakat yang berisiko
(at risk) dengan tidak melupakan masyarakat yang berpenyakit (deseased
population) dan masyarakat yang menderita kecacatan dan memerlukan
rehabilitasi (rehabilitated population).

Penanggulangan PTM mengutamakan pencegahan timbulnya


faktor risiko utama dengan meningkatkan aktivitas fisik, menu
makanan seimbang dan tidak merokok

31

Promosi dan pencegahan PTM juga dikembangkan melalui upaya


upaya yang mendorong/memfasilitasi diterbitkannya kebijakan
publik yang mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan
PTM

Promosi dan pencegahan PTM dilakukan melaui pengembangan


kemitraan

antara

pemerintah,

masyarakat,

organisasi

kemasyarakatan, organisasi profesi termasuk dunia usaha dan


swasta

Promosi dan pencegahan PTM merupakan bagian yang tidak


terpisahkan dalam semua pelayanan kesehatan yang terkait
dengan penanggulangan PTM

Promosi dan pencegahan PTM perlu didukung oleh tenaga


profesional melalui peningkatan kemampuan secara terus menerus
(capacity building)

Promosi

dan

pencegahan

PTM

dikembangkan

dengan

menggunakan teknologi tepat guna sesuai dengan masalah,


potensi dan social budaya untuk meningkatkan efektifitas intervensi
yang dilakukan di bidang penanggulangan PTM

32

BAB III
Kesimpulan
Dari bebrapa jurnal yang membahas tentang batu saluran kemih,
maka dapat disimpulkan bahwa;
1. Prevalensi penderita batu saluran kemih terbanyak adalah pria. Hal
ini dibuktikan dimana didapatkan bahwa prevalensi penderita pria
lebih tinggi daripada penderita wanita. (P 4.53% dan W 3.78%) di
Italia,di Amerika Serikat sendiri prevalensi BSK 10.6% pada pria
lebih tinggi dibandingkan dengan 7.1% pada wanita. Dan di
Indonesia prevalensi lebih tinggi pada laki-laki (0,8%) dibanding
perempuan (0,4%). Prevalensi berdasarkan usia menunjukkan
bahwa angka kejadian batu saluran kemih meningkat seiring
dengan pertambahan usia. Usia tengah pasien adalah 71.66.3
tahun. Rentang usia antara 75-84 tahun dan lebih dari 85 tahun,
masing masing 73,5% (n = 133), 21% (n = 38) dan 5,5% (n = 10).
2. Faktor yang mempengaruhi pembentukan batu saluran kemih
terbagi

dua yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Yang

termasuk di dalam faktor intrinsik ialah umur, jenis kelamin, serta


keturunan. Sedangkan yang termasuk faktor ekstrinsik ialah
geografi, iklim dan cuaca, jumlah air yang diminum, diet/pola
makan, jenis pekerjaan, kebiasaan menahan buang air kemih,
stres, olah raga, dan obesitas.

33

3. Pencegahan pembentukan batu saluran kemih terbagi menjadi tiga,


yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan
primer bertujuan untuk mencegah agar tidak terjadinya penyakit
batu saluran kemih dengan cara mengendalikan faktor penyebab
dari penyakit tersebut. Pencegahan sekunder bertujuan untuk
menghentikan perkembangan penyakit agar tidak menyebar dan
mencegah terjadinya komplikasi. Sedangkan pencegahan tersier
bertujuan untuk mencegah agar tidak terjadi komplikasi sehingga
tidak berkembang ke tahap lanjut yang membutuhkan perawatan
intensif.

34

DAFTAR PUSTAKA
1. Altaf J, Adeel H, Nand L, Shafique R, 2013, Chemical Analysis of
Urinary Stones and its Locations Associated to Urinary Tract,
[online]. (www.lumhs.edu.pk/jlumhs/Vol12No03/pdfs/15.pdf, diakses
tanggal 20 Oktober 2015)
2. Singh KB, Sailo S, 2013, Understanding Epidemiology and
Etiologic

Factors

of

Urolithiasis:

An

Overview,

[online],

(http://oaji.net/articles/1315-1413290226.pdf, diakses tanggal 20


Oktober 2015)
3. Krisna D, 2012, Faktor Risiko Penyakit Batu Ginjal, [online],
(http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas/article/view/1793,
diakses tanggal 20 Oktober 2015)
4. Dewi D, Subawa A, 2012, Profil Analisis Batu Saluran Kemih di
Instalasi Laboratorium Klinik RSUP Sanglah Denpasar, [online],
(http://ojs.unud.ac.id/index.php/jim/article/viewFile/3835/2831,
diakses tanggal 20 Oktober 2015)
5.

Risi A, Ali N, Ahuja A, 2014, Study on Prevalence and


Management of Renal Stones among Omani in-Patients at Sohar
Hospital,

[online],

(http://saspublisher.com/wp-

content/uploads/2014/03/SJAMS-21A22-33.pdf, diakses tanggal 4


Desember 2014)
6.

Rahman E, 2012, Gambaran Bakteri pada Infeksi Saluran Kemih


Pasien

dengan

35

Batu

Ginjal

di

RSUP

Sardjito,

[online],

(http://fkunlam.ac.id/modules/download/file/The%20Bacterial
%20Pattern%20in%20UTI%20at%20Kidney%20stone(jurnal).pdf,
diakses tanggal 4 Desember 2014)
7.

Lina N, 2012, Faktor Faktor Risiko Kejadian Batu Saluran Kemih


pada

Laki-Laki,

[online],

(http://eprints.undip.ac.id/18458/1/Nur_Lina.pdf, diakses tanggal 4


Desember 2014)

36