You are on page 1of 18

Aplikasi Stoikiometri

Rifky Augusto (41615110088)


Budi Kusnadi (41615110054)

Pengertian Stoikiometri
Stoikiometri berasal dari dua suku kata bahasa Yunani yaitu
Stoicheion yang berarti "unsur" dan Metron yang berarti
"pengukuran".
Stoikiometri merupakan pokok bahasan dalam ilmu kimia yang
mempelajari tentang kuantitas zat dalam suatu reaksi kimia.

Stoikiometri reaksi

Sudah diketahui bahwa jumlah persamaan kimia


menyatakan jumlah atom atau molekul yang terlibat dalam
reaksi. Banyaknya atom yang terlibat dapat diungkapkan
dalam persamaan kimia, yakni ditunjukan pada koefisien.
Contoh :

2H2 + O2

H2O

Persamaan kimia di atas mengandung makna :


2 molekul H2 + 1 molekul O2

2 molekul H2O

Atau

2 n molekul H2 + n molekul O2

2 n molekul H2O

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa koefisien reaksi pada


persamaan kimia menunjukkan oerbandinganjumlah mol zat-zat
yang bereaksi dan zat hasil reaksi.
Pereksi pembatas dan reaksi berlebihan
Pereaksi pembatas adalah zat pereaksi yang habis bereaksi, dan
karenanya menjadi pembatas bagi dikatakan berlebih, karen tidak
habis bereaksi atau bersisa.

Stoikiometri Larutan

Beberapa ungkapan untuk menyatakan konsentrasi suatu


larutan telah dibahas dalam Bab 1 seperti % massa dan %
volume berdasarkan massa zat, sedangkan untuk
menyatakan konsentrasi atau kepekaan suatu larutan pada
umumnya menggunakan konsep mol.

A. Molaritas (M)

Molaritas adalah satuan konsentrasi larutan untuk


menyatakan jumlah mol zat terlarut perliter larutan,
dilambangkan dengan huruf M. Secra sistematis dapat
diungkapkan dengan persamaan :

Konsentrasi molar (M) = n

B. Pengenceran larutan

Untuk tujuan ini perlu mengetahui hubungan molaritas


larutan sebelum dan sesudah pengenceran. Untuk
memperoleh hubungan tersebut pertama menulis ulang
molaritas :
Konsentrasi molar (M) = n
V
Rumus tersebut dapat disusun ulang menjadi :

Mol zat terlarut = molaritas x liter larutan

Rumus pengenceran:

M1 x V1 = M2 x V2

Stoikiometri gas

Terdapat dua alasan untuk mempelajari materi berwujud


Gas. Pertama, perilaku gas mudah dikarakterisasi karena
hampir semua sifat-sifat gas tidak bergantung pada jati diri
gas.

Terdapat beberapa hukum dasar yang dapat menerapkan


perilaku gas berdasarkan eksperimen
laboratorium,diantaranya adalah hukum :

1. Bunyi Hukum Boyle


Hukum Boyle berbunyi:
Tekanan gas berbanding terbalik dengan volumenya asalkan
suhunya tetap. Dalam bentuk persamaan, hukum Boyle
dapat dirumuskan dengan:

pV = konstan atau p1V1 = p2V2


Keterangan: p = Tekanan dan V = Volume gas.

Dalam suhu dan ruang tetap, jika tekanan naik maka volume
akan turun, dan sebaliknya, jika tekanan turun maka volume
akan naik.

Perhatikan gambar dibawah ini

Gambar pompa sepeda, jika volume dikecilkan


maka tekanan akan naik

Jika volume dikecilkan


maka tekanan akan naik
dalam suhu dan ruang
tetap, jika tekanan naik
maka volume akan turun,
dan sebaliknya, jika
tekanan turun maka
volume akan naik. Hal ini
bisa dilihat pada pompa
sepeda,jika kita
mendorong pompa ke
bawah, maka volume
udara dalam pompa akan
mengecil dan tekanan
udara dalam pompa akan
naik sehingga mampu
meniupkan udara ke
dalam ban sepeda.

2. Bunyi Hukum Gay Lussac

Hukum Gay Lussac berbunyi:


Volume gas sebanding dengan suhunya asalkan
tekanannya tetap.

Dalam bentuk persamaan, hukum Gay Lussac dirumuskan


sebagai berikut:

V/T = konstan atau V1/T1 = V2/T2

Keterangan: V = Volume dan T = Suhu.

Perhatikan gambar dibawah ini

Pada tekanan tetap, udara yang


dipanaskan akan mengembang, dan
sebaliknya,
udara yang didinginkan
akan menyusut. Hal ini
dapat dilihat
pada balon udara. Udara pada balon
udara dibuat panas supaya udaranya
mengembang sehingga lebih ringan dari udara sekitar, oleh
karena itu balon udara bisa terbang.

Description: gas ideal pada balon udara jika suhu naik maka
maka volume bertambah

C. Hukum Boyle-Gay Lussac

Hukum Boyle-Gay Lussac merupakan sintesis dari Hukum Boyle


dan Hukum Gay Lussac, sehingga kedua rumus tersebut dapat
disatungan menjadi:

P.V/T = konstan, atau P1.V1/T1 = P2.V2/T2

Sedangkan dalam kondisi ideal, rumus persaamaan gas ideal


menurut Hukum Boyle-Gay Lussac adalah:

p.V = N.k.T
Keterangan:
k = Konstanta Boltzmann (1,38 . 10-23 J.K-1)
N = jumlah partikel gas

Persamaan Umum Gas Ideal

Berdasarkan Hukum gas yang disampaikan dalam Hukum Boyle dan


Hukum Gay Lussac, maka didapatkan persamaan umum gas ideal sebagai
berikut:

p.V = n.R.T

Dimana :
p = tekanan gas V = volume gas
n = jumlah mol gas R = tetapan gas = 8,314 kJ.mol-1.K-1
=0,08205 liter.atm.mol-1.K-1
T = suhu gas (K)

Sedangkan jumlah mol dapat dicari dengan rumus:

N = m/M = gr/Mr
Dimana: n = jumlah mol
m = massa total gas
M = massa molekul relatif partikel

Perhitungan Kimia

Banyak permasalahkan stoikiometri yang harus dipahami


terutaa bagi mereka yang bekerja sebagai analisis kimia di
indrustri atau laboratorium.stoikiometri merupakan dasar
dalam perhitungan kimia, sehingga perlu pemahaman yang
benar utuh dan menyeluruh.

1. Perubahan Massa dan Mol

Jumlah Mol sutu zat A dari massa zat A dapat ditentukan


dengan menggunakan massa molar.

Mol zat A = massa A x 1 mol A / Massa molar A

Penyusunan ulang persamaan di atas dapat digunakan


untuk menentukan massa zat A yang sama dengan jumlah
zat A dalam satuan Mol.

2. Pengubahan Volume dan Massa Melalui


Kerapatan

Kerapatan atau massa jenis didefinisikan sebagai massa per


volum yang diketahui atau mencari volume massa dan
kerapatan diketahui :

Massa = kerapatan x volume atau volume = massa /


kerapatan

TERIMAKASIH