You are on page 1of 11

Bortezomib Menghambat Proteasome Menekan

Pengaktifan Nuklear Factor-Kappa B (NF-�B) dan
Memperbaiki Peradangan Mata Pada Percobaan Uveitis
Autoimmune (EAU)
Bortezomib adalah suatu penghambat proteasome yang digunakan untuk
perawatan kanker darah. Sejak dapat menekan pengaktifan NF-�B untuk proses
peradangan, bortezomib telah ditemukan proses aktivitas anti-radang. Dalam studi
ini, kami mengevaluasi efek bortezomib pada experimental autoimmune uveitis
(EAU) pada tikus dan menyelidiki potensi mekanisme NF-�B inaktif. Bortezomib
dosis tinggi (0.75Mg/Kg), Bortezomib dosis rendah (0.15Mg/Kg), atau larutan
garam fosfat yang diberikan setelah induksi EAU. Kita menemukan bahwa EAU
diperbaiki oleh terapi bortezomib dosis tinggi dikombinasi dengan bortezomib
dosis rendah atau terapi PBS. DNA mengikat aktivitas dari NF-�B yang menekan
dan memunculkan mediator radang yang mencakup TNF-�, IL-1�, IL-1�, IL-12,
IL-17 dan MCP-1 diturunkan pada kelompok terapi bortezomib dosis tinggi. Hasil
mendukung bahwa protease inhibitor adalah terapi yang menjanjikan untuk
uveitis autoimun.
1. Pendahuluan
Uveitis merupakan penyebab utama kebutaan dan melemahnya
penglihatan. Sekitar 15 -30% uveitis terjadi di koroid dan retina oleh
karena itu diklasifikasikan menjadi uveitis posterior atau uveoretinitis [1].
Uveitis posterior cenderung merusak photoreceptor sel dan menyebabkan
kebutaan permanen. Peradangan Intraocular sering dihubungkan dengan
respon autoimun untuk protein retina [2]. Dasar terapi uveitis adalah
terapi immunosuppressive mencakup kortikosteroid, antimetabolik, dan
alkylating agen. Berkaitan dengan pembatasan dosis dan efek samping
obat, hasil terapi autoimmunemediated uveitis tak memuaskan [3].
Pendekatan Novel untuk mengendalikan proses radang pada uveitis oleh
sedang teliti dikembangkan baik pada manusia dan binatang [ 4].
Experimental autoimmune uveitis (EAU), di mana mata yang
meradang dipengaruhi kekebalan aktif dari antigen retina, yang paling
sering digunakan adalah model rodent untuk studi uveitis autoimun [5].
Histologi khas pada EAU uveitis posterior, dengan infiltrasi sel radang ke
rongga vitreus, retina, dan koroid dan menyebabkan kerusakan pada
lapisan sel photoreceptor [3]. Nuclear Factor-Kappa B (NF-�B)
mempunyai peranan sangat penting dalam peradangan. Beberapa studi
1

seperti miastenia gravis.1.( TNF-) �. sdikit pengetahuan mengenai efektivitas penghambat proteasome pada uveitis autoimun.7].9]. Fundus okuli mata tikus diuji dengan slit lamp dua kali seminggu dari 7 hari setelah induksi sampai akhir eksperimen untuk tanda klinis EAU. Detroit.5 �g. dan autoimmune encephalomyelitis [10. singkatnya. and inducible nitric oxide synthase (iNOS) ditemukan meningkat pada binatang dengan EAU dan mungkin modulasi dengan terapi target NF-�B [3].Uk) dosis 5mg/kg dalam 0. Metode dan bahan 2. Betina C57Bl/6J (B6) Tikus-tikus (usia 8-12 minggu) telah diperoleh dari Laboratorium Binatang Pusat di Cheng-Kung Nasional Universitas dan digunakan untuk semua eksperimen. Di sini. EAU seperti yang diuraikan sebelumnya dengan modifikasi [14].(MCP-) 1.p) 1. Cambridge. injeksi dua kali dalam satu minggu mulai pada hari EAU. psoriasis.3 Skor klinis EAU. Tikus diterapi dengan PBS.sebelumnya sudah menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas NF-�B pada EAU. 26S penghambat proteasome. Beberapa mediator peradangan pengatur NF-�B.15mg/kg (kelompok Velcade (H) dan (L). Semua eksperimen telah dilakukan sesuai dengan protokol yang disetujui oleh Badan Kepedulian Binatang dan komite National Cheng-Kung University dan dengan pendapat ARVO untuk menggunakan binatang dalam riset mata. penghambat IRBP pada EAU.). Dilatasi pupil menggunakan tropicamide dan 2 . interferon.(IFN-) �. 2. monocyte chemoattractant protein.13].1mL i. 2.Hampshire. bortezomib (Millennium Pharmaceuticals. atau etanercept (Enbrel. Tikus menerima emulsi pada dua lokasi punggung bawah.p. yang diikuti injeksi intraperitoneal (i.MI. Tikus. pertusis toksin (PTX) sebagai tambahan terapi.75 atau 0. 2. tikus telah diimunisasi dengan 100 �L larutan emulsi phosphate saline (PBS) berisi 200 �g IRBP peptide1–20 (hIRBP1–20) (GPTHLFQPSLVLDMAKVLLD) dan complete Freund’s adjuvant (CFA) berisi 500 �g Mycobacterium tuberculosis inaktif H37RA (Difco Laboratories. Sementara itu. penghambat aktivasi NF-�B telah ditunjukkan pada penyakit autoimun dengan percobaan model binatang.Wyeth Pharmaceuticals. USA). kami menunjukkan efektivitas bortezomib. tumor necrosis faktor. termasuk Interleukin( IL-) 1. Penurunan I�B oleh proteasome penting untuk pengaktifan NF�B [8. IL-6.2 Induksi dan terapi EAU. Bagaimanapun. BU) dosis 0. dan menekan NF-�B dapat memperbaiki peradangan [6. radang sendi. resp.

Singkatnya. Newton.6 Analisa mediator peradangan pada retina oleh Luminex. 3 berarti infiltrasi sel sedang . IL-1�. infiltrasi leukosit ke rongga vitreus dan lipatan retina dikatakan uveitis posterior. ada tidaknya penyakit telah dievaluasi dalam blinded fashion oleh pengujian enam potongan bagian dari perbedaan level masing-masing mata. IFN-�. 2= linier vasculitis atau bercak eksudat < 50% retina. Ekstrak dari enam retina yang ditempatkan pada 300 �L of 0. Peradangan secara klinis dinilai dengan skala 1-5 seperti diuraikan sebelumnya [15]. neurosnsori retina adalah ekstraksi dari lapisan epitel pigmen retina. retinal lysate digunakan untuk Analisa Luminex.5 Preparat Retinal Lysate untuk Analisa Luminex. 0 tidak ada perubahan. CT). 0= tidak (ada) radang. Oleh karena itu. IL-17 dan MCP-1 pada jaringan retina menggunakan murine multiplexing bead immunoassays (Invitro gen.4. Enukleasi mata dari euthanize tikus. LLC. Peradangan dalam grade histologi dinilai dalam skala 1-4 seperti diuraikan sebelumnya [16]. 2. 1= focal vasculitis ≤ 5 bercak atau soft eksudat ≤ 5. 5= exudative retinal detasemen atau perdarahan subretina (atau vitreus). Qsonica. 2 berarti infiltrasi sel sedang dan retina melipat. Mata utuh dikumpulkan saat puncak respon klinis (21 hari setelah induksi pada EAU). Uveitis jika score klinis tertinggi dicapai oleh mata manapun seekor tikus.phenylephrine hydrochloride solutions. 4 berarti infiltrasi sel banyak dengan detasemen retina berhamburan. Perhitungan TNF-�. Singkatnya. 2. 4= perdarahan retina atau eksudat membandel dan vasculitis. Kemudian. Seekor tikus dipertimbangkan menderita uveitis jika sedikitnya salah satu matanya mempunyai skor dua atau lebih. Keringkan dan perbaiki jaringan tempelkan pada paraffin dan 3 �m potong jalur cornea-nervus optic dan kemudian stained dengan hematoxylin dan eosin ( H&E).banyak dan lipatan retina luas dengan detasemen. 1 berarti infiltrasi sel sedikit dan fokal retina melipat. Bola mata dipotong tengah antara ora serat. kemudian menyimpannya sampai diproses. IL-6.Carlsbad.4 Evaluasi histopatologi. 2. CA) sesuai instruksi pembuatan. yang direndam formaldehida 10%. IL. 3 . Dari kutub posterior. IL-12. kutub posterior mata dipisahkan dari kutub anterior dan lensa. konsentrasi protein dari ekstrak retina terukur 280 dalam ND-1000 Spektrofotometer. 3= linier vasculitis atau bercak exudates ≥ 50% retina. IL-1�.5%NP-40 (Abcam) dalam es (satu menit) dan sonicated singkat lima kali dalam 10 menit dalam intensitas pemeriksaan 7 (MicrosonTM XL2000 Ultrasonic liquid processor. Setelah membersihkan material tak larut oleh sentrifugasi (200 x g untuk 5 min).

000 g pada suhu 4∘C selama 30 menit.8 Ekstrak protein inti dan mobilitas Electrophoretic Shift Assay (EMSA) pada NF-�B.Singkatnya.0mM DTT dan 1.000 g pada 4oC selama 10 menit. biotinylate pendeteksi antibody ditambahkan dalam beads dan reaksi campuran dideteksi oleh penambahan streptavidinphycoerythrin. SucLlvy-Glo Substrate (untuk aktivitas chymotrypsin) atau Z-Lrr-Glo Substrate (untuk aktivitas trypsin) telah ditambahkan campuran Proteasome-Glo buffer dan reagen reaksi luciferin dan diinkubasi pada suhu kamar selama1 jam. Spesifikasi DNA protein ditentukan dengan menambahkan 100 kali kelebihan tidak diberi label NF-�B 4 . IL). 0.5 mL lysis buffer (10mMHEPES.pengikat system pendeteksi protein (Pierce Biotechnology) sesuai instruksi pembuatan. Supernatant berisi protein inti dikumpulkan dan disimpan pada suhu 70oC sampai dipergunakan. EMSA dilakukan dengan NF-�B DNA. 1. Jaringan retina yang dipotong 100 �L dalam es dingin PBS berisi 5mM EDTA diikuti sentrifugasi 12. 1.5mM PMSF dan 4 �M leupeptin). Rockford. 2. Set bead dianalisa menggunakan flow-based Luminex 200 suspension array system (Luminex Korporasi. 420mM NaCl. 10mM MgCl2.2mMEDTA. Konsentrasi Protein telah ditentukan dengan asam bicinchoninic (Pierce Biotechnology. 50 �L sampel retina ditambah volume sama dari campuran reagen dan diinkubasi selama 90 beberapa menit.5mM DTT.0mM PMSF).5mM MgCl2. 0. 0. 10 �g protein inti diinkubasi dengan diberi label biotin NF-�B konsensus oligonucleotide (5�-AGTTGAGGGGACTTTCCCAGGC-3�) selama 30 menit dalam pengikat buffer. Aktivitas chymotrypsin dan trypsin padaproteasome retina dalam bortezomib atau terapi PBS tikus-tikus yang sacrificed 21 hari setelah induksi EAU ditentukan menggunakan kotak pengujian kadar proteasome (Proteasome-Glo menguji kadar Promega) sesuai instruksi pembuatan. AS). retina diiris 0. Endapan suspense 200 �L dari ekstraksi buffer (20mM HEPES. 2. serta suspense dari inkubasi di es selama 30 menit. TX. Setelah urutan dicuci.000 g pada suhu 4∘C selama 10 menit. Sampel kemudian disentrifugasi pada 12.7 Pengukuran Aktivitas Proteasome di Retina. 1. Akhirnya luminesensi sampel retina dideteksi oleh suatu microplate luminometer (Promega). Jaringan yang homogeny di sentrifugasi 5. 25% glycerol. 25 �L sampel retina pada PBS yang diinkubasi dengan antibody-coupled beads. Austin. Singkatnya.5mMKCl. Ekstrak protein inti seperti yang telah dibahas sebelumnya [17]. Singkatnya.

25 sementara tikus yang menerima perawatan bortemozib berdosis-tinggi memiliki nilai mean klinis keparahan 0. Student’s �-test. Tikus yang menerima imunisasi IBRP1–20 ditambah dengan terapi bortemozib berdosis-tinggi menunjukkan penundaan yang signifikan pada awal penyakit dan nilai puncak EAU yang secara signifikan lebih rendah dari waktu ke waktu (Gambar 1(a). resp.15 mg/kg) disuntikkan secara intraperitoneal pada tikus dan lalu dua kali seminggu hingga akhir eksperimen.).5 μg toksin Pertussis (PTX) secara intraperitoneal seperti yang dijelaskan dalam Bagian 2. Tikus yang menerima perawatan saline memiliki nilai keparahan 2. Tidak ada kematian atau 5 . dalam semua tes.75 mg/kg) dan berdosis rendah (0.05 merupakan pertimbangan statistic yang penting. 2.05) (Tabel 1).9 Analisa statistic. P < 0.18 (P < 0. Pada waktu yang sama. � values < 0. Fakta bahwa mayoritas tikus yang diberikan bortemozib berdosis tinggi memiliki nilai puncak 1 atau lebih rendah (yaitu. or Chi-square test menggunakan software prisma 5. Sekelompok tikus yang menerima PBS bukan bortemozib bertindak sebagai kontrol.oligonucleotide untuk kompetitif dibungkus 10 menit sebelum menambahkan biotin diberi label pemeriksaan. kami mengamati bahwa tikus dengan perlakuan-bortemozib berdosis tinggi memiliki insiden EAU yang secara signifikan lebih rendah (3 dari 19.58 ± 0. data sudah dianalisis oleh Wilcoxon signedrank test. Tikus yang menerima perawatan bortemozib dosis-rendah menunjukkan nilai mean klinis keparahan 2. bortemozib berdosis tinggi (0. ringan atau tidak ada penyakit) mengindikasikan aktivitas menekan dari bortemozib pada EAU. penyakit menunjukkan tanda inflamasi 9-15 hari kemudian dan berkembang selama 4-5 hari saat mencapai puncak. yang mana tidak berbeda secara signifikan dari kelompok kontrol perlakuansaline. Tabel 1).0.00 ± 0.23. Sebagai tambahan.1 Bortemozib Dosis Tinggi secara Signifikan Menurunkan Uveoretinitis pada Tikus EAU. 3 Hasil 3.05) (Tabel 1). Nilai ditunjukkan sebagai rata-rata ±SD. pemeriksaan H&E slide parafin berwarna tetap menunjukkan bagian retina dari tikus EAU yang menerima bortemozib berdosis-tinggi memiliki infiltrasi sel yang berkurang dalam rongga vireous dan struktur layer retina kekurangan lipatan retina yang diamati dalam tikus perlakuan-saline (Gambar 1(b)–1(e)). Untuk perbandingan statistic. Sementara kedua tikus perlakuan-saline dan perlakuan bortemozib berdosis rendah memiliki insiden penyakit yang lebih tinggi (14 dari 19 dan 10 dari 17. EAU diinduksi pada tikus dengan menyuntikkan emulsi 200 μg of IRBP1–20 dengan CFA secara subkutan dan 1. Dalam kelompok perlakuan-PBS.16 ± 0.

Akan tetapi perbedaan antara kelompok perlakuan saline.2 Terapi Bortemozib Menekan EAU lebih dari Terapi Antagonis TNF-Alpha. IL-4.1 mL/tikus) bertindak sebagai kontrol. pertumbuhan tumor. Saat membandingkan kelompok perlakuan dengan bortezomib berdosis-tinggi dan berdosis-rendah. sementara tingkat cytokine tidak berbeda secara signifikan (Gambar 2(a)-2(i)). 2(e).3 Pengaruh Bortezomib pada Tingkat Mediator Inflamasi pada Retina Tikus EAU. Berat badan dan tingkat haemoglobin tikus tidak berbeda secara signifikan antara kelompok perlakuan saline dan bortemozib pada akhir eksperimen (data tidak ditunjukkan). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa antagonis TNF-α dapat menekan uveits pada manusia dan tikus [18. IL-12. Tidak ada kematian. Akan tetapi. 2(h). kami menemukan bahwa tingkat TNF-α. Kami lalu mengukur tingkat cytokine pada retina tikus EAU dengan terapi yang berbeda. Tabel 2).06). and 2(i)). tidak terdapat perbedaan signifikan yang tercatat pada IFN-γ. Bortemozib (0.19]. 2(b).ekstraocular morbiditas yang berhubungan dengan perawatan bortemozib pada eksperimen hewan. IL-1β. karenanya. IL-17. P = 0.75 mg/kg) atau etanercept (5 mg/kg) disuntikkan pada tikus EAU dua kali seminggu dari hari induksi EAU. 3. dan MCP-1 pada retina secara signifikan lebih rendah pada tikus EAU yang diperlakukan dengan bortezomib dosis tinggi saat dibandingkan dengan tikus yang diberi prlakuan-saline (P < 0. Tikus yang menerima imunisasi IRPB1-20 ditambah perawatan dengan menunjukkan penundaan dalam onset penyakit dan memiliki nilai puncak EAU yang lebih rendah dari waktu ke waktu (Gambar 1(f). IL-12. dan MCP-1 rendah pada 6 . Maka kami membandingkan efek penekanan EAU dengan bortemozib atau antagonis etanercept TNF-α. Saat membandingkan kelompok terapi-saline dengan kelompok terapi-bortezomib dosis rendah. IL-1α. 3. Juga tidak terdapat pertumbuhan tumor atau infeksi setelah perawatan bortemozib pada penelitian kami. terapi dengan bortemozib menekan perkembangan dan parahnya EAU lebih efektif dari antagonis etanercept TNF-α. morbiditas. Tikus yang menerima terapi etanercept juga memiliki insiden dan nilai mean puncak yang lebih rendah. dan IL-6 antara penerapanbortezomib berdosis-tinggi dan penerapan-saline pada tikus EAU (Gambar 2(d). atau infeksi yang berhubungan dengan perawatan bortemozib atau etanercept pada tikus EAU pada akhir eksperimen.05 pada semua pembanding berpasangan) (Gambar 2(a). IL-1α. IL-17. Sekelompok tikus yang menerima PBS (0. 2(f). tingkat TNF-α.dan etanercept tidak mencapai signifikansi statistik (Tabel 2. Sementara. 2(c). dan 2(g)). IL-1β.

aktif dalam menekan pengaktifan NF-κBdan efektif dalam menghambat peradangan mata dan menurunkan produksi mediator inflamatory pada EAU. Hasil dari inhibisi protease (Gambar 3) dan pengikatan DNA NF-κB mengimplikasikan bahwaaktivasidariNFκBsecara efektif ditekan olehpenghambatanproteasome. pergeseran Na ve dan Saline).05 pada semua pembanding berpasangan) (Gambar 2(a). 2(c). 2(h). Pergeseran Vel (L) dan Vel (H)). Bukti baru-baru ini mengindikasikan bahwa NF-κB memiliki peran penting dalam EAU dan inhibisi dari pengaktifan NF-κB dapat mengurangi 7 . 4 Pembahasan Hasil demonstrasi penelitian kami menunjukkan bahwa bortezomib. Keterlibatan jalur NF-κB saat terapi bortemozib pada EAU dianalisa dengan EMSA. 3. pengikatan DNA NF-κB meningkat secara signifikan setelah induksi EAU (Gambar 4. 2(f). bortemozib menurunkan pengikatan dari DNA NF-κB secara dosis-responsif.kelompok bortezomib berdosis-tinggi dengan kelompok bottezomib berdosis-rendah (P < 0.5 Peningkatan Pengikat dari NF-κB dan DNA pada tikus EAU Terhambar oleh perlakuan Bortemozib. Dibandingkan dengan kelompok Na ve. sebuah proteasom inhibitor 26S. Sinyal luminescence mengindikasikan aktivitas seperti-kimotripsin atau seperti-trypsin pada jaringan retina dari tikus EAU.4 Penerapan Bortezomib secara Signifikan Menurunkan Aktivitas Proteasome tikus EAU. Pengangkatan 100X). Kami lalu melakukan aktivitas pengujian kadar proteasome protease untuk mengevaluasi efek menekan dari penerapan bortezomib pada jaringan retina. 2(b).05) (Gambar 3(a) dan 3(b)). Menambahkan molar NF-κB tak berlabel 100 kali lipat penyelidikan seluruhnya memblok pengikatan dari penyelidikan berlabel pada DNA NF-κB kompleks (Gambar 4. dan 2(i)). Juga terdapat perbedaan signifikan pada luminescence sinyal antara bortezomib berdosis-rendah dan kelompok perlakuan-saline (Gambar 3(a) dan 3(b)). karenanya. Terapi bortemozib berdosis-tinggi lebih jauh menekan pengikatan DNA NF-κB (Gambar 4. Peningkatan aktivitas dari pengikatan DNA NF-κB setelah induksi EAU dengan nyata terhambat oleh terapi bortemozib berdosis-rendah. Sinyalny secara signifikan lebih rendah pada kelompok perlakuan-bortezomib berdosis-tinggi (P < 0. Hasil kami mengindikasikan bahwa inhibisi dari proteasome mungkin adalah pendekatan yang menjanjikan untuk terapi autoimun uveitis. 3.

Inhibitor proteasome bortezomib. Untuk pengetahuan kita. yang mana dapat menekan banyak inflamator cytokines melalui penghambatan aktivasi NF-κB. dan autoimmune encephalomyelitis [10–13]. Kami menemukan bahwa perawatan bortemozib pada EAU tikus dapat menekan tidak hanya TNF-α namun juga banyak mediator inflamator lain seperti as IL-1α. Lebih lagi. Dalam penelitian kami. Karena degradasi proteasomal dari faktor inhibitor IκB penting bagi aktivasi NF-κB. EAU memiliki inflamasi yang didominasi oleh respon inflamatory akut cytokine [3]. sebuah protein chimeric dari reseptor TNF-α manusia dan bagian Fc dari rantai berat G immunoglobulin. 8 . 24]. IL-12. psoriasis. arthritis.tingkat inflamasi jaringan dengan menurunkan mediator inflamator dan infiltrasisel keuvea. kami memilih bortemozib berdasarkan pada kemanjuran tingginya pada konsentrasi minimal dan dapat diterima dan dapat terkelolanya efek merugikan dalam merawat penyakit hematologi manusia [21]. Chan et al. inhibisi dari proteasome mempertahankan NF-κB dapa keadaan tidak aktif dalam cytosol dan mencegah translokasi nucleus. Karenanya. AntagonisTNF-α telah digunakan secara klinis untuk terapi gangguan ocular inflamatory dengan sukses [19. telah menunjukkan efek anti-inflamatory pada inhibitor proteasone pada induksiendotoksin uveits pada tikus [17]. dan MCP-1 secara signifikan meningkat pada perlakuan-saline tikus EAU saat dibandingkan dengan mereka pada tikus na ve (Gambar 3). dalam penelitian ini kami membandingkan efek anti-inflamatory antara inhibitor proteasine bortemozib dan antagonis TNF-α. Inhibisi proteasome ditemukan efektif dalam terapi beberapa hewan model dari penyakit autoimun seperti myasthenia gravis. IL-17. tampaknya menjadi agen anti-inflamatory yang lebih baik dalam perawatan dari autoimmune uveitis dibanding antagonis TNF-α. Pada penelitian ini.22]. IL-1α. disebabkan karena aktivitasnya untuk menekan degradasi protein nonlysosomal. IL-12. TNF-α adalah cytokine proinflamasi utama dan memainkan peran utama dalam uveitis autoimmune [3]. 23. etanercept. penelitian kami adalah yang pertama mendemonstrasikan efek anti-inflamatorynya pada EAU. IL-1β. telah digunakan pada perawatan kanker hematologis pda pengaturan klinis [20]. IL-1β. dapat menetralisir TNF-α dan menghalangi aktivitas proinflamatorynya baik pada manusia dan tikus [18. Menjadi sebuah kondisi induksi-autoantigen autoimmune. Bortemozib. pada EAU. kami menemukan bahwa tingkat dari mediator inflamatory termasuk di dalamnya TNF-α. dan MCP-1 pada retina jadi autoimmune uveitis dapat lebih efektif menekan dengan bortemozib dibanding dengan antagonis etanercept TNF-α (Gambar 1(f)). IL-17. Etanercept.

Representatif photomicrographs slide berwarna paraffin-tetap H&E dari (b): tikus na¨ıve 9 . karena itu inhibitor proteasome dapat menekan beberapa langkah kunci yang diperlukan dalam pengaktivasian respn autoimun pada EAU. dan (e): photomicrographs dari jaringan retina H&E berwarna. (d). ∗�< 0. pertumbuhan tumor. � = 19) dalam 0. � = 17).75mg/kg) (garis merah. karena proteasome dan distribusinya yang tersebar mengatur jangkauan luas dari fungsi biologis. (a) Perbandingan nilai klinis dari tikus EAU yang diperlakukan dengan bortemozib berdosis-tinggi (0. (c).1 mL. yang mana adalah komponen penting dari pemrosesan antigen. bortemozib berdosis-rendah (0. atau PBS (garis biru. Pada akhir percobaan setelah pengobatan bortezomib atau etanercept. efeksamping sistemikyang berhubungan dengan inhibitor proteasome layak untuk dipertimbangandengan cermat. Sebagai kesimpulan. Saat induksi EAU kiranya melibatkan keberadaan antigen dari antigen immunogenic molekul kompleks kelas I dan kelas II oleh histocompatibility utama. tikus yang diperlakukan bortezomib dari hari yang sama saat diinduksi EAU untuk memastikan awal efek obat selama tahap awal pada perkembangan penyakit.15mg/kg) (garis hitam. kami mendemostrasikan pengujian perbaikan EAU pada tikus tergantung pada dosis. juga mempengaruhi proses pengenalan autoimun pada tahap kekebalan dan stimulasi [25–29].Mekanisme dari efek antri-peradangan dari bortezomib. Namun. inhibisi proteasome. Gambar 1: Efek dari bortemozib pada EAU diinduksi dengan IRBP. tidak ada kematian. yang biasanya adalah kasus pada pengaturan klinis. atau infeksi berat yang tercata. Dalam penelitian kami. Kami tidak mengevaluasi kemanjuran obat saat diperlakukan setelah EAU berkembang sepenuhnya. sebagai tambahan..05. data menunjukkan bahwa nilai mean klinis (ordinate) dari tiap kelompok eksperimen dari waktu ke waktu (abscissca) dan jumlah dari tiga eksperimen independen. Mengurangi peradangan intraocular berhubungan dengan penekan pengaktifan NF-κB dan menurunkan peningkatan dari banyak mediator peradangan. (b). � = 19). bagaimanapun mungkin lebih kompleks dibanding inhibisi dari pengaktivan NF-κB. Hasil kami mengindikasikan bahwa obat yang menargetkan proteasom mungkin adalah strategi pengobatan yang efektif untuk autoimun uveitis di masa depan. Perbandingan dari tikus EAU dengan perlakuanbortemozib berdosis-tinggi (jalur gejala klinis) (bergaris biru) dengan tikus perlakuan-saline (garis merah) menunjukkan perbedaan yang signifikan dan diindikasikan sebagai (∗). Perbandingan dari perlakuan-bortemozib berdosis tinggi (garis biru) dengan perlakuan-bortemozib berdosis-rendah (garis hitam) pada tikus EAU juga menunjukkan perbedaan signifikan dan diindikasikan sebagai (∗). melalui Wilcoxon signedrank test.

etanercept (5mg/kg) (garis hitam. Garis 4: EAU tikus dengan terapi garam. vmelalui -test siswa. Garis 6: EAU tikus diterapi dengan bortezomib dosis tinggi (Vel [H]). dan IL-6 (g) pada retina antara tikus bortezomib dan perlakuan-saline. tidak ada perbedaan signifikan pada ekspresi IFN-�(d). Gambar 4. IL1�(b).15mg/kg). Gambar 2: Evaluasi dari ekspresi protein dari mediator inflamatory pada retina tikus EAU pada analisis Luminex. IL-4 (e).� = 7). melalui signed-rank test. ONL: layer atom luar.001. Dibandingkan dengan kelompok EAU perlakuan-saline. Penurunan ekspresi dari TNF-�(a). ∗ �< 0. Data menunjukan nilai mean klinis (ordinate) dari tiap kelompok eksperimen (abscissa) dan jumlah dari dua eksperimen independen.C57BL/6 tanpa induksi EAU. EMSA untuk mengevaluasi NF-�B pengikat aktivitas DNA pada tikus dan perbedaan kelompok pada EAU tikus. IL-12 (h). Garis 7: 100 kali molar NF-�B pmeriksaan 10 .75mg/kg) (garis biru.05. via Student’s �-test.1 mL/tikus) (garis merah. atau perawatan saline (0. Data diekspresikan sebagai mean ± SD dari mean pada 5 tikus untuk tiap kelompok (grafik batang).05. dan MCP-1 (i) relatif pada ekspresi dalam kelompok perlakuan-saline tercatat dalam kelompok bortezomib berdosis tinggi (Vel [H]) tapi tidak dalam kelompok bortezomib berdosis rendah (Vel [L]) kecuali untuk TNF-�.001. INL: layer atom dalam. Data yang diekspresikan sebagai mean SD dari tiga eksperimen independen (grafik batang). Garis 1: p50 subunit NF-�B.� = 6). ∗�< 0. ∗∗�< 0. ∗�< 0.1mL (∗ mengindikasikan leukocytes dalam rongga vitreous. CGL: layer sel ganglion. (c): tikus EAU yang menerima perawatan PBS 0. Garis 3: tikus C57BL/6. IL-1�(c). Aktivitas juga ditandai secara rendah pada kelompok perlakuan-bortezomib berdosis-tinggi dibanding dengan kelompok bortezomibtreated berdosisrendah. Gambar 3: Evaluasi aktivitas seperti-chymotrypsin dan seperti-trypsin dari proteasome. terdapat penurunan aktivitas signifikan seperti-chymotrypsin (a) dan aktivitas sepertitrypsin (b) pada kelompok bortezomib [Vel (L)] dan dosis-tinggi [Vel (H)].05. dan ∗∗∗ �< 0. Sebagai tambahan. Garis 2: pemeriksaan Cuma-Cuma/free probe (FP). (d): tikus EAU yang menerima perawatan bortezomib dosis-rendah (0. ∗∗ mengindikasikan lipatan retina).� = 9). (f) nilai klinis rata-rata dari waktu ke waktu pada tikus EAY dengan bortezomib berdosis-tinggi (0. ekperimen diulangi tiga kali dengan hasil yang serupa.01. dan ∗∗∗�< 0.01. ∗∗ �< 0. Garis 5: EAU tikus diterapi dengan bortezomib dosis rendah (Vel [L]). IL-17 (f).

11 .yang tidak diberi label. Garis 8: anti-p65 subunit NF-�B. Sampel adalah kedua mata dari lima tikus pada masing-masing kelompok. Data merupakan hasil dari tiga eksperimen.