You are on page 1of 4

Farmakoterapi

Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis)
yang sama pada dosis ekuivalen, perbedaan utama pada efek sekunder (efek
samping: sedasi, otonomik, ekstrapiramidal). Pemilihan jenis anti psikosis
mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat.
Pergantian disesuaikan dengan dosis ekuivalen.
Apabila obat antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis dalam
dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti dengan obat
anti psikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan dosis
ekuivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti psikosis sebelumnya
sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih
kembali untuk pemakaian sekarang.
Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat
anti psikosis atipikal. Sebaliknya bila gejala positif lebih menonjol dibandingkan
gejala negatif pilihannya adalah tipikal. Begitu juga pasien-pasien dengan efek
samping ekstrapiramidal pilihan kita adalah jenis atipikal. Obat antipsikotik yang
beredar di pasaran dapat di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu anti psikotik
generasi pertama (APG I) dan anti psikotik generasi ke dua (APG ll). APG I bekerja
dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoin
fundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama
dapat memberikan efek samping berupa: gangguan ekstrapiramidal, tardive
dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi
seksual/peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif.
Selain itu APG I menimbulkan efek samping anti kolinergik seperti mulut kering
pandangan kabur gangguan miksi, defekasi dan hipotensi. APG I dapat dibagi lagi
menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg di
antaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide. Obat-obat
ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis,
menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih
dan 50 mg di antaranya adalah chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada
penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur.
APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau anti
psikotik atipikal. Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat
jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal
dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. Obat yang tersedia untuk golongan ini

Sedangkan pasien skizofrenia berulang. Diturunkan setiap 2 minggu (dosis maintenance) lalu dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi drug holidaytapering off (dosis diturunkan 2-4 minggu) lalu dihentikan. cara bekerjanya elektrokonvulsi belum diketahui dengan jelas. Pada penghentian pemberian obat mendadak dapat timbul gejala cholinergic rebound gangguan lambung. dievaluasi setiap 2 minggu bila pertu dinaikkan sampai dosis optimal kemudian dipertahankan 8-12 minggu (stabilisasi). diare. olanzapine. Juga tersedia obat aripiprazol untuk golongan APG III atau sering disebut Dopamin System Stabilizers (DSS). Dapat dikatakan bahwa terapi konvulsi dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita. 3. dan untuk terapi pemeliharaan. Keadaan ini dapat diatasi dengan pemberian antikolinergikt seperti injeksi sulfas atropin 0. Berguna untuk pasien yang tidak/sulit minum obat.5 sampai 5 kali). mengganggu kualitas hidup penderita. Untuk pasien dengan serangan sindrom psikosis multi episode.25 mg (secara intra muskular). Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan: Onset efek primer (efek klinis): 2-4 minggu. samping): 2-6 jam. . quetiapine dan rispendon. Onset efek sekunder (efek 2. Terapi elektro-konvulsi (TEK) Seperti juga dengan terapi konvulsi yang lain. Waktu paruh: 12-24 jam (pemberian 1-2x per hari) Dosis pagi dan malam dapat berbeda (pagi kecil. lama pemberian obat minimal 5 tahun. Pasien skizofrenia dengan perilaku menyimpang yag berbahaya seperti piromania diperlukan pemberian obat seumur hidup.adalah clozapine. muntah. Mulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 23 hari sampai mencapai dosis efektif (sindrom psikosis reda). pusing dan gemetar. Pada umumnya pemberian obat anti psikosis sebaiknya dipertahankan selama minimal 2 tahun untuk pasien skizofrenia akut setelah semua gejala psikosis reda sama sekali. terapi pemeliharaan paling sedikit 5 tahun (ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2. tablet trihexyphenidyl 3x2 mg/hari. Akan tetapi terapi ini tidak dapat mencegah serangan yang akan datang. malam besar) sehingga tidak 4. mual. 1. IM untuk 2-4ininggu. Obat anti psikosis long acting: fluphenazine decanoate 25 mg/cc atau haloperidol decanoas 50 mg/cc.

Bila dibandingkan dengan terapi koma insulin. Akan tetapi TEK lebih mudah diberikan. Selain gejala yang biasa tampak pada pasien skizofrenia. - Psikoterapi individual . Kelompok dapat berorientasi perilaku. termasuk kontak mata yang buruk. bila gejala hanya ringan kemudian diberi TEK. ekspresi wajah yang aneh. keterlambatan respons yang tidak lazim. Pelatihan keterampilan perilaku diarahkan ke perilaku ini melalui penggunaan video tape berisi orang lain dan si pasien. - Terapi perilaku kognitif Terapi perilaku kognitif telah digunakan pada pasien skizofrenia untuk memperbaiki distorsi kognitif. dapat dilakukan secara ambulant. psikodinamis atau berorientasi tilikan. bahaya lebih kurang. maka dengan TEK lebih sering terjadi serangan ulangan. dan tugas pekerjaan rumah untuk keterampilan khusus yang dipraktekkan. mengurangi distraktibilitas. - Terapi kelompok Terapi kelompok untuk oragn dengan skizofrenia umumnya berfokus pada rencana. kurangnya spontanitas dalam situasi sosial. TEK baik hasilnya pada jenis katatonik terutama stupor. atau suportif. serta mengoreksi kesalahan daya nilai. dan tidak memerlukan tenaga yang khusus seperti pada terapi koma insulin. bermain drama dalam terapi. beberapa gejala yang paling jelas terlihat melibatkan hubungan orang tersebut dengan orang lain. Terapi Psikososial - Pelatihan keterampilan sosial Peatihan keterampilan sosial kadang-kadang disebut sebagai terapi keterampilan perilaku. Terhadap skizofrenia simplex efeknya mengecewakan. serta persepsi yang tidak akurat atau kurangnya persepsi emosi pada orang lain. lebih murah. kadang-kadang gejala menjadi lebih berat. Terapi ini secara langsung dapat mendukung dan berguna untuk pasien bersama dengan terapi farmakologis. masalah. Terdapat laporan adanya waham dan halusinasi yang membaik pada sejumlah pasien yang menggunakan metode ini. dan hubungan dalam kehidupan nyata. Pasien yang mungkin memperoleh manfaat dari terapi ini umumnya aalah yang memiliki tilikan terhadap penyakitnya.

semuanya mempengaruhi pengalaman terapeutik. amat penting untuk membangun hubungan terapeutik sehingga pasien merasa aman. serta ketulusan terapis sebagaimana yang diartikan oleh pasien. Beberapa klinisi dan peneliti menekankan bahwa kemampuan pasien skizofrenia utnuk membentuk aliansi terapeutik dengan terapis dapat meramalkan hasil akhir. atau bahakan tahun. refleksi diri. Tipe psikoterapi fleksibel yang disebut terapi personal merupakan bentuk penanganan individual untuk pasien skizofrenia yang baru-baru ini terbentuk. jarak emosional antaraterapis dengan pasien. terapi patuh pada pengobatan. bulan. serta eksplorasi kerentanan individu terhadap stress. Psikoterapi untuk pasien skizofrenia sebaiknya dipertimbangkan untuk dilakukan dalamm jangka waktu dekade. psikoedukasi. Pasien skizofrenia yang mampu membentuk aliansi terapeutik yang baik cenderung bertahan dalam psikoterapi. .Pada psikoterapi pada pasien skizofrenia. serta memiliki hasil akhir yang baik pada evaluasi tindak lanjut 2 tahun. Tujuannya adalah meningkatkan penyesuaian personal dan sosial serta mencegah terjadinya relaps. Reliabilitas terapis. dan bukannya beberapa sesi. kesadaran diri. Terapi ini merupakan metode pilihan menggunakan keterampilan sosial dan latihan relaksasi.