You are on page 1of 19

Acara V

EKSTRAKSI KARAGENAN
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI HASIL LAUT

Disusun oleh:
Nama: Nita Silviani Arifin
NIM: 13.70.0069
Kelompok : C2

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2015

1. MATERI METODE

1.1.

Alat dan Bahan

1.1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan digital, mangkok, blender,
panci, kompor, pH meter, pipet tetes, beaker glass, kain saring, gelas ukur, corong,
pengaduk, wadah tahan panas (loyang), dan oven.

1.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah rumput laut (Eucheuma cottonii),
HCl 0,1 N, NaOH 0,1 N, NaCl 10%, isopropil alkohol (IPA), dan aquades.

1.2.

Metode

Rumput laut basah ditimbang sebanyak 40 gram.

Rumput laut dipotong kecil-kecil dan diblender dengan sedikit air.

Rumput laut direbus dalam 1 L air selama 1 jam dengan suhu 80-90oC.

Dengan melakukan penambahan HCl 0,1 N atau NaOH 0,1 N,


pH larutan diatur menjadi 8.

Hasil ekstraksi disaring dengan kain saring dan filtrat


ditampung dalam wadah.

Volume larutan diukur dan ditambahkan NaCl 10% sebanyak 5%


dari volume tersebut, lalu dipanaskan hingga suhu 60oC.

Filtrat dituang ke dalam wadah yang berisi cairan IPA sebanyak 2x volume
filtrat untuk diaduk dan diendapkan sampai terbentuk endapan karagenan.

Endapan karaenan ditiriskan dan direndam dalam IPA


sampai menjadi lebih kaku.

Serat karagenan dibentuk tipis-tipis, diletakkan dalam


loyang, dan dikeringkan selama 12 jam.

Serat karagenan kering ditimbang dan diblender menjadi


tepung karagenan.

Persentase rendemen dihitung dengan rumus sebagai berikut:


% Rendemen =

berat kering
100%
berat basah

2. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan karagenan pada masing-masing kelompok dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Karagenan
Kelompok
C1
C2
C3
C4
C5

Berat Basah (gram)


40
40
40
40
40

Berat Kering (gram)


3,14
3,04
0,28
3,50
2,86

% Rendemen
7,85
7,60
0,70
8,75
7,15

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa masing-masing kelompok mendapatkan


persentase rendemen yang berbeda-beda meskipun berat awalnya sama-sama sebesar 40
gram. Persentase rendemen pada umumnya berkisar antara 7,15% hingga 8,75%,
kecuali pada kelompok C3 di mana rendemen yang dihasilkan sangat sedikit, yaitu
hanya sebesar 0,70%.

3. PEMBAHASAN

Rumput laut atau seaweed merupakan salah satu jenis alga yang berbentuk tumbuhan
berklorofil yang hidup berkoloni. Habitatnya dapat menempel pada bagian dasar laut,
perairan dangkal, berpasir, maupun berlumpur, ataupun menempel pada karang mati.
Seaweed merupakan jenis makroalga multiseluler dan diklasifikasikan ke dalam divisi
Thalophyta. Divisi ini memiliki empat kelas besar, yaitu Rhodophyceae (alga merah),
Phaeophyceae (alga coklat), Chlorophyceae (alga hijau), dan Cyanophyceae (alga
hijau-biru). Seaweed yang banyak dikembangkan biasanya berasal dari kelompok alga
merah, karena alga merah dapat menghasilkan agar-agar, algin, maupun karagenan.
Seaweed yang banyak dimanfaatkan adalah jenis Eucheuma sp., Gracilaria sp., dan
Gelidium sp (Sediadi & Budiharjo, 2000).

Salah satu jenis seaweed yang paling banyak diaplikasikan di bidang pangan adalah
Eucheuma cottonii. Eucheuma cottonii hidup menempel pada karang dan termasuk ke
dalam jenis Rhodophyceae atau makroalga merah. Eucheuma cottonii memiliki
kandungan karagenan yang bersifat hidrokoloid, di mana penyusun utamanya terdiri
dari kalium, natrium, magnesium, dan kalsium sulfat, ester dari galaktosa dan kopolimer
3,6-anhidrogalaktosa (Anonim, 2004). Secara umum, rumput laut memang tidak
memproduksi karagenan murni, melainkan serangkaian struktur hibrida, di mana ketika
prekursor yang berupa mu dan nu dibuat menjadi kondisi alkali, mu dan nu akan
termodifikasi menjadi kappa dan iota, masing-masing melalui pembentukan jembatan
3,6-anhidrogalaktosa (Pereira et al., 2013). Eucheuma cottonii sendiri menghasilkan
kappa karagenan yang mempunyai sifat khas, yaitu dapat membentuk gel yang paling
kuat jika dikombinasikan dengan kehadiran ion kalium (K+). Tipe gel yang dibentuk
memang kuat, namun rapuh terhadap sineresis, serta memiliki sifat sinergis terhadap
beberapa gum. Struktur dari kappa karagenan ini dapat memungkinkan terjadinya
pembentukan double helix yang dapat mengikat molekul rantai pada bidang tiga
dimensi yang disebut gel (Anonim, 2004).

Menurut Campo et al. (2009), karagenan merupakan senyawa polimer yang terdiri dari
unit-unit disakarida. Galaktan tersulfatasi ini diklasifikasikan berdasarkan kehadiran

unit 3,6-anhydro galactose yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik -1,3 dan -1,4
secara bergantian, dan juga posisi gugus sulfat. Terdapat tiga jenis karagenan komersial
yang juga memiliki peranan penting dalam bidang pangan karena telah terbukti aman
untuk diolah menjadi produk pangan. Jenis-jenis karagenan tersebut adalah karagenan
iota, kappa, dan lambda. Karagenan kappa tersusun atas (1-3) D-galaktosa-4 sulfat dan
(1-4) 3,6-anhidro-D-galaktosa, sedangkan karagenan iota mengandung gugus 3,6anhidro-D-galaktosa, dan lambda karagenan memiliki sebuah residu disulfat (1-4) Dgalaktosa.

Gambar 1. Perbedaan Struktur Karagenan Kappa, Iota, & Lambda (Campo et al., 2009)

Secara alami, karagenan jenis iota dan kappa dibentuk melalui proses enzimatis dari
prekursornya, yaitu oleh enzim sulfohydrolase. Namun, secara komersial jenis ini
diproduksi melalui proses ekstraksi dengan alkali. Karagenan kappa didominasi oleh
rumput laut tropis Kappaphycus alvarezii, di mana di dunia perdagangan lebih dikenal
sebagai Eucheuma cottonii, sedangkan karagenan iota diperoleh dari Eucheuma
spinosum dam karagenan lambda diperoleh dari spesies Gigartina dan Condrus (Van
De Velde et al., 2002).

Kadi & Atmadja (1988) menambahkan bahwa karagenan kappa yang berikatan dengan
air akan menghasilkan gel yang bersifat kaku dan keras, yang juga dihasilkan dari
Kappaphycus alvarezii. Peran ion kalium sangat penting dalam pembentukan struktur
gel. Karagenan iota juga dapat berikatan dengan air, namun gel yang terbentuk relatif

lebih elastis dan lembut, terutama apabila terdapat garam kalsium. Sementara itu,
karagenan lambda memiliki kandungan gugus sulfat yang tinggi, sehingga nyaris tidak
dapat membentuk gel sama sekali. Karagenan lambda biasanya digunakan untuk
membentuk lapisan tipis atau mengubah tekstur makanan. Karagenan kappa, iota dan
lambda juga dapat dibedakan berdasarkan kelarutannya pada media yang berbeda.

Gambar 2. Daya Kelarutan Karagenan dalam Berbagai Pelarut (Glicksman, 1983)

Karakteristik

dari

masing-masing

karagenan

sangat

berpengaruh

terhadap

pemanfaatannya (Prasad et al., 2006). Seperti pada Gambar 2 di atas, secara umum
karagenan bersifat larut dalam air panas, air dingin, susu, maupun dalam larutan gula,
sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan penstabil atau pengental, serta sebagai
pembentuk struktur emulsi untuk produk makanan dan minuman. Selain itu, karagenan
juga dapat digunakan untuk kosmetik, cat, obat, tekstil, dan pakan ternak (Poncomulyo
et al., 2006). Proses pembentukan gel karagenan dimulai pada saat atom hidrogen pada
residu 3,6-anhidro-L-galaktosa menekan molekul untuk membentuk struktur heliks.
Kemudian keberadaan senyawa 3,6-anhidro-L-galaktosa dalam menggantikan senyawa
L-galaktosa sulfat menimbulkan kekakuan pada struktur heliks dan pada akhirnya
terjadi pembentukan gel (Glicksman, 1983).

Dari ketiga jenis karagenan tersebut, karagenan iota lebih baik untuk dimanfaatkan jika
dibandingkan dengan lambda dan kappa. Hal ini dikarenakan oleh sifatnya yang tidak

mudah rusak serta tidak mudah ditumbuhi oleh bakteri. Sebaliknya, karagenan kappa
termasuk sangat mudah ditumbuhi oleh bakteri (Bernadette, 2010). Winarno (1990)
menyatakan bahwa gel karagenan bersifat rapuh, mudah dibentuk, serta rigid atau kaku.
Kekuatan gel yang dihasilkan tersebut sangat ditentukan oleh perbandingan kandungan
agarosa dan agaropektin, di mana semakin besar kandungan agarosa dibandingkan
agaropektin, maka gel yang terbentuk semakin kuat.

Pada praktikum kali ini, untuk melakukan proses ekstraksi karagenan pertama-tama
rumput laut basah (Eucheuma cottonii) ditimbang sebanyak 40 gram, kemudian
dipotong kecil-kecil dan diblender terlebih dahulu. Arpah (1993) menyatakan bahwa
penghalusan rumput laut yang dilakukan dengan menggunakan blender ini bertujuan
untuk mempercepat proses ekstraksi. Hal ini disebabkan karena semakin kecil ukuran
sampel maka luas permukaan yang mengalami kontak dengan pereaksi atau pelarut juga
semakin besar, sehingga waktu ekstraksi akan menjadi lebih optimal.

Hancuran rumput laut tersebut kemudian direbus dalam 1 liter air selama 1 jam dengan
suhu 80-90oC sambil diaduk sesekali. Dari metode tersebut, dapat dikatakan bahwa
proses pembuatan karagenan ini dilakukan dengan menggunakan metode ekstraksi,
yaitu metode pemisahan suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan
pelarut, atau peristiwa perpindahan massa dari fase padat ke fase cair. Perpindahan
massa tersebut berlangsung melalui dua tahap utama, yaitu tahap difusi dari bagian
dalam padatan ke permukaan padatan, serta tahapan perpindahan massa dari permukaan
padatan ke dalam cairan (Treybal, 1981). Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
proses ekstraksi, seperti jenis pelarut yang digunakan, perbandingan antara jumlah
bahan dengan pelarut, cara dan waktu pengadukan (ekstraksi), suhu, dan ukuran padatan
(Distantina, et al., 2011). Dalam hal ini, pelarut yang digunakan adalah air, dan padatan
yang diekstrak tentunya adalah karagenan. Proses pengadukan dilakukan supaya
karagenan yang dihasilkan tidak menjadi gosong ataupun berbusa, serta dapat
menghasilkan produk karagenan dengan struktur gel yang lebih kental dan kuat
(Fachruddin, 1997).

Peningkatan viskositas yang terjadi juga menandakan adanya

peningkatan konsentrasi polimer (Sen & Erboz, 2010).

10

Anonim (2004) mengatakan bahwa proses pembentukan gel disebabkan oleh


terbentuknya ikatan double helix. Pada temperatur yang lebih tinggi dari titik leleh gel,
agitasi panas akan menyebabkan karagenan cenderung membentuk helix, kemudian
polimer akan muncul dalam larutan sebagai ikatan yang acak. Pada proses pendinginan,
jaringan tiga dimensi mengalami pembentukan ikatan silang melalui double helix
dengan sumbu yang sama, sehingga jaringan tersebut membentuk kelompok kecil yang
larut air, dengan kandungan sekitar 10 rantai tanpa menyebabkan pembentukan gel.
Selanjutnya, ikatan silang ini semakin jauh mengikat ke dalam struktur gel yang
menyatu dan dengan demikian membentuk titik pertemuan di dalam struktur gel.

Selanjutnya, dengan melakukan penambahan HCl 0,1 N atau NaOH 0,1 N, pH larutan
diatur menjadi 8. Dilakukannya proses netralisasi ini bertujuan supaya karagenan tidak
terhidrolisis, karena nilai pH di bawah 3,5 akan menyebabkan ikatan glikosidik pada
karagenan terhidrolisis dan rusak. Sementara itu, pada pH netral karagenan memiliki
stabilitas yang paling baik (Prasetyowati et al., 2008). Hal ini juga didukung oleh
Glicksman (1983) pada gambar di bawah ini.

Gambar 3. Stabilitas Karagenan di dalam Berbagai Tingkat pH

Menurut Winarno (1990), jika pH semakin rendah maka kekuatan gel akan semakin
menurun. Pada saat gel dipanaskan, terjadi proses pembentukan gel karena molekul
karagenan dan air dapat bergerak secara bebas. Sedangkan apabila gel didinginkan,
molekul gel satu dengan yang lain menjadi saling merapat dan memadat, sehingga air di
dalamnya terikat. Hal inilah yang menyebabkan terbentuknya sistem koloid padat-cair.

Selanjutnya hasil ekstraksi disaring dengan kain saring dan filtrat ditampung dalam
wadah. Penyaringan dengan kain saring ini bertujuan untuk memisahkan partikelpartikel yang terdapat di dalam cairan, di mana jumlah filtrat yang dihasilkan tergantung

11

pada sifat dan bentuk partikel, serta frekuensi pergerakan selama penyaringan (Earle,
1969). Setelah itu, volume larutan diukur dan ditambahkan NaCl 10% sebanyak 5% dari
volume tersebut, lalu dipanaskan hingga suhu 60oC. Penambahan larutan NaCl 10% di
sini bertujuan untuk mengendapkan karagenan yang terkandung dalam larutan ekstrak,
di mana NaCl termasuk pada jenis garam yang bersifat thermoreversible (Campo et al.
2009). Menurut Ciancia (1997), selain NaCl, hexadecyl-trimethylamonium juga dapat
digunakan untuk mengendapkan karagenan. Penggunaan pelarut yang berupa air akan
menghasilkan persentase rendemen yang tinggi, namun sifat gel yang didapatkan
kurang baik. Satuhu (1996) menambahkan bahwa penambahan NaCl dalam filtrat juga
dapat meningkatkan kekuatan gel, sehingga karagenan terbentuk dalam suasana basa di
mana perlakuan tersebut juga merupakan salah satu cara pengawetan secara kimia.

Setelah itu, filtrat dituang ke dalam wadah yang berisi cairan IPA sebanyak dua kali
volume filtrat untuk kemudian diaduk dan diendapkan sampai terbentuk endapan
karagenan. Larutan IPA (isopropil alkohol) adalah larutan yang digunakan untuk
memurnikan karagenan karena karagenan bersifat larut di dalam air, namun tidak dapat
larut dalam alkohol. Dengan demikian, karagenan akan terpresipitasi apabila
direaksikan dengan larutan IPA (Distantina et al., 2011). Isopropil alkohol merupakan
salah satu jenis pelarut yang sudah sering digunakan dalam skala industri. Apabila
dibandingkan dengan pelarut lainnya, hargamya relatif lebih mahal. Oleh karena itu,
diperlukan proses recovery dengan cara distilasi, sehingga larutan IPA dapat digunakan
kembali (Anggadireja et al., 2006).

Endapan karagenan yang dihasilkan lalu ditiriskan dan direndam lagi dalam IPA sampai
menjadi lebih kaku. Hal ini sesuai dengan pernyataan Angka & Suhartono (2000), yaitu
bahwa pengendapan karagenan dalam filtrat dapat dilakukan dengan cara penambahan
larutan isopropil alkohol, penambahan metanol, pembekuan, atau pengeringan. Produk
yang dihasilkan dengan metode pengeringan langsung biasanya kurang baik, karena
kandungan garamnya masih tinggi dan warnanya juga agak gelap. Sementara itu,
metode pengendapan dengan menggunakan alkohol menghasilkan karagenan dengan
kualitas yang terbaik. Alkohol yang digunakan adalah sebanyak 1,5 hingga 4 kali dan
berfungsi untuk menggumpalkan karagenan dengan cara mencuci koagulan yang

12

diperoleh. Spesifikasi mutu karagenan pada skala industri ditunjukkan oleh kandungan
beberapa senyawa, seperti senyawa volatil, sulfat, abu, termasuk abu yang tidak larut
asam, dan beberapa logam berat.

Selanjutnya, serat karagenan dibentuk tipis-tipis di dalam loyang, dan dikeringkan


selama 12 jam. Proses pengeringan ini bertujuan untuk menghilangkan kadar air yang
terdapat dalam serat karagenan (Aslan, 1998). Serat karagenan kering kemudian
ditimbang dan diblender menjadi tepung karagenan. Menurut Anisuzzaman (2014),
tepung karagenan yang dijual secara komersial memiliki warna kuning dan tidak berbau
sehingga meningkatkan penggunaannya pada bidang pangan, farmasi, dan kosmetik
sebagai bahan tambahan untuk meningkatkan tekstur, stabilitas gelasi, dan viskositas.
Persentase rendemen kemudian dihitung dengan rumus sebagai berikut:
% Rendemen =

berat kering
100%
berat basah

Berdasarkan hasil pengamatan, persentase rendemen pada umumnya berkisar antara


7,15% hingga 8,75%, kecuali pada kelompok C3 di mana rendemen yang dihasilkan
sangat sedikit, yaitu hanya sebesar 0,70%. Menurut Basmal et al. (2009) persentase
rendemen ini sangat dipengaruhi oleh faktor suhu dan waktu ekstraksi. Adapun
kesalahan yang terjadi pada kelompok C3 dapat disebabkan oleh beberapa
kemungkinan. Menurut Davidek et al. (1990), kesalahan dapat disebabkan oleh adanya
ketergantungan gum karagenan terhadap temperatur, konsentrasi, derajat polimerisasi,
serta keberadaan substansi lain.

Selain itu, Mochtar et al. (2013) menyatakan bahwa umur dari rumput laut (Eucheuma
cottonii) juga mempengaruhi yield dan kekuatan gel karagenan yang dihasilkan.
Semakin tua umur rumput laut, maka kekuatan gel yang dihasilkan lebih signifikan
dibandingkan dengan rumput laut yang berusia muda. Orbita (2013) menambahkan
bahwa ada sejumlah faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kualitas dari
karagenan, seperti suhu air, salinitas, aliran air, keberadaan fosfat dan nitrat anorganik.
Hal ini didukung oleh Treybal (1981) yang menyatakan bahwa hasil ekstraksi sangat
dipengaruhi oleh suhu, waktu ekstraksi, pengadukan, jenis pelarut dan perendaman.

13

Perbedaan perlakuan dalam setiap tahapan pengolahan karagenan akan sangat


mempengaruhi kualitas gel yang dihasilkan, terutama pada hasil rendemennya.

Menurut Imeson (1999), karagenan dapat bermanfaat sebagai bahan pengental,


pengelmusi, stabilisator, dan bahan pembentuk gel dalam industri pangan. Contohnya
adalah pada produk olahan ikan dan daging, di mana karagenan berfungsi untuk
mempertahankan tekstur dan mencegah keluarnya lemak dari jaringan ikan ataupun
daging. Lisdiana (2000) menambahkan bahwa karagenan juga dapat dimanfaatkan
dalam industri kosmetik serta pengontrol tekstur dan kelembaman. Contohnya adalah
dalam pembuatan susu coklat, es krim, krimer untuk kopi, daging atau ikan kalengan,
pengharum ruangan, dan pasta gigi. Karagenan merupakan hidrokoloid yang paling
bermanfaat di industri susu sehubungan dengan interaksi spesifiknya dengan protein
susu (Pintor & Totosaus, 2012). Sementara itu, dalam industri farmasi, karagenan
digunakan sebagai bahan pengisi pil dan tablet (Moses et al., 2015).

4. KESIMPULAN

Terdapat tiga jenis karagenan yaitu karagenan iota, kappa, dan lambda, di mana
perbedaan selain terletak pada struktur juga pada karakteristik dan kelarutannya.

Karagenan kappa dapat diperoleh dari ekstraksi rumput laut Eucheuma cottonii.

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses ekstraksi adalah jenis pelarut yang
digunakan, perbandingan antara jumlah bahan dengan pelarut, cara dan waktu
pengadukan (ekstraksi), suhu, dan ukuran padatan.

Proses netralisasi pada filtrat perlu dilakukan supaya karagenan tidak terhidrolisis.

Penambahan NaCl dalam filtrat dapat membantu pengendapan karagenan serta


meningkatkan kekuatan gel.

Cara pengendapan karagenan dalam filtrat yang paling baik dapat dilakukan dengan
penambahan larutan isopropil alkohol (IPA).

Endapan karagenan yang dihasilkan dapat dijadikan tepung karagenan dengan cara
dikeringkan.

Berdasarkan hasil pengamatan, persentase rendemen karagenan berkisar antara


7,15% hingga 8,75%.

Persentase rendemen karagenan yang dihasilkan dipengaruhi oleh faktor suhu dan
waktu ekstraksi, konsentrasi, derajat polimerisasi, keberadaan substansi lain, umur
rumput laut, kondisi lingkungan, pengadukan, jenis pelarut dan perendaman.

Karagenan dapat bermanfaat sebagai bahan pengental, pengelmusi, stabilisator,


bahan pembentuk gel, pengontrol tekstur, dan pengontrol kelembaman.

Semarang, 21 Oktober 2015


Praktikan,

Asisten Dosen:
- Ignatius Dicky A. W.

(Nita Silviani Arifin)


13.70.0069
Kelompok C2

14

5. DAFTAR PUSTAKA

Anggadiredja, T. Dkk. 2006. Rumput Laut. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.


Angka S. L. & Suhartono T. S. 2000. Bioteknoogi Hasil Laut. Pusat Kajian Sumber
Daya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor.
Anisuzzaman, S. M.; Awang Bono; Duduku Krishnaiah; Norazwinah Azreen Hussin.
2014. Decolorization of Low Molecular Compounds of Seaweed by Using
Activated Carbon. International Journal of Chemical Engineering and
Applications, Vol. 5, No. 2.
Anonim. 2004. Eucheuma cottonii for Carrageenan. http://www.extension.iastate.edu/.
Diakses pada tanggal 21 Oktober 2015.
Basmal, J.; B. S. B. Utomo; B. B. Sedayu. 2009. Mutu Semi Refined Carrageenan
(SRC) yang Diproses menggunakan Air Limbah Pengolahan SRC yang Didaur
Ulang. Jurnal Pasca Panen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol. 4,
No. 1:1-11.
Arpah, M. 1993. Pengawetan Mutu Pangan. Tarsito. Bandung.
Aslan, M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta.
Bernadette M. Henares; Erwin P. Enriquez; Fabian M. Dayrit; Nina Rosario L. Rojas.
2010. Iota-carrageenan hydrolysis by Pseudoalteromonas carrageenovora
IFO12985. Filipina.
Campo, V.L.; Kawano, D.F.; Silva Jnior, D.B.; Ivone Carvalho I.; 2009. Carrageenans:
Biological Properties, Chemical Modifications and Structural Analysis.
Carbohydrate Polymers, 77, 167-180.
Ciancia, M.,; Matulewicz, M.C.; Cerezo, A.S. 1997. Alkaline Modification of
Carrageenans. Part III. Use of mild alkaline media and high ionic strengths.
Carbohydrate Polymers, 32, 293-295.
Davidek, J.; J. Velisek; J. Pokorny. 1990. Chemical Changes during Food Processing.
Elsevier Science Publishing Company, Inc. New York.
Distantina, Sperisa; Fadilah; Endah R. Dyartanti; dan Enny K. Artati. (2007). Pengaruh
Rasio Berat Rumput Laut-Pelarut Terhadap Ekstraksi Karagenan-Karagenan.
Vol. 6 No. 2 Juli 2007: 53-58.
Earle, R.L. 1969. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. Penerjemah: Zein
Nasution. Sastra Hudaya, Bogor.
Fachruddin, L. 1997. Membuat Aneka Selai. Kanisius. Yogyakarta.
Glicksman, M. 1983. Food Hydrocolloid Vol II. CRC Press, Inc. Boca Raton. Florida.

15

16

Imeson, A., 1999. Thickening and Gelling Agents for Food. Aspen Pubhliser, Inc.
Maryland.
Kadi A. & Atmadja W. S. 1988, Rumput Laut Jenis Reproduksi, Budidaya dan Pasca
Panen. Seri Sumber Daya Alam No. 141. Jakarta.
Mochtar, Andi Hasizah; Ismaya Parawansa; M. Saleh Ali; Kamaruzaman Jusoff; Reta
Rezekie; Suhartin Dewi Astuti; Nasruddin Azis; Aminah Muchdar; Marliana S.
Palad; Hikma; Maimuna Nonci; Kasmawati and Nirwana. 2013. Harvest age of
seaweed on carragenan yield and gel strength. World Applied Sciences Journal.
26 : 13-16.
Moses, R. J.; R. Anandhakumar; M. Shanmugam. 2015. Effect of alkaline treatment on
the sulfate content and quality of semi-refined carrageenan prepared from
seaweed Kappaphycus alvarezii Doty (Doty) farmed in Indian waters. African
Journal of Biotechnology Vol. 14(18), pp. 1584-1589.
Orbita, Maria L. S. 2013. Growth rate and carrageenan yield of Kappapyhcus alvarezii
cultivated in Kolambugan, Lano del Norte, Mindanao, Philippine. AAB
Bioflux Journal. Vol 5. Issue 3.
Pereira, Leonel; Saly F. Gheda; Paulo J. A. Ribeiro-Claro. 2013. Analysis by
Vibrational Spectroscopy of Seaweed Polysaccharides with Potential Use in
Food, Pharmaceutical, and Cosmetic Industries. International Journal of
Carbohydrate Chemistry, Article ID 537202.
Pintor, A. & A. Totosaus. 2012. Ice cream properties affected by lambda-carrageenan or
iota-carrageenan interactions with locust bean gum/carboxymethylcellulose
mixtures. International Food Research Journal 19(4): 1409-1414.
Poncomulyo T, Maryani H, Kristiani L. 2006. Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut.
PT. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Prasad, K.; A. M. K Goswami; Ramavatar M.; B.K. Ramavat; Pushpito K. G; A.K.
Prasetyowati; Corrine Jasmine A.; Devy Agustiawan. 2008. Pembuatan
Tepung Karaginan Dari Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Berdasarkan
Metode Pengendapan.
Siddhanta. 2006. Characterizations of Fish Gelatin Films Added with Gellan and KKarrageenan Swiss Society of Food Science and Technology.
Satuhu, S. 1996. Penanganan dan Pengolahan Buah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sediadi, A. & U. Budihardjo. 2000. Rumput Laut Komoditas Unggulan. Grasindo.
Jakarta.
Sen, Murat & Erboz, E. N. 2010. Determination of critical gelation conditions of kappa
carrageenan by viscosimetric and FT-IR analyses. Food Research International
43 (2010) 1361-1364.

17

Treybal, R. E. 1981. Mass Transfer Operation, 3th ed., p.p. 34-37, 88. Mc Graw Hill
International Editions. Singapore.
Van de Velde,.F.,Knutsen, S.H., Usov, A.I., Romella, H.S., and Cerezo, A.S. 2002. 1H
and 13 C High Resolution NMR Spectoscopy of Carrageenans: Aplication in
Research and Industry. Trend in Food Science and Technology, 13, 73-92.
Winarno F.G. 1990. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Pustaka Sinar Harapan.
Jakarta.

6. LAMPIRAN

6.1.

Perhitungan

Rumus:
% Rendemen =

berat kering
100%
berat basah

Kelompok C1
% Rendemen =

3 14
100% = 7 85%
40

Kelompok C2
% Rendemen =

3 04
100% = 7 60%
40

Kelompok C3
% Rendemen =

0 28
100% = 0 70%
40

Kelompok C4
% Rendemen =

3 50
100% = 8 75%
40

Kelompok C5
% Rendemen =

2 86
100% = 7 15%
40

6.2.

Laporan Sementara

6.3.

Diagram Alir

6.4.

Abstrak Jurnal

18