You are on page 1of 20

BAB I

STATUS PASIEN
I. IDENTITAS
Nama
Usia
Jenis Kelamin
Alamat
Agama
Suku
Pekerjaan
No. RM
Tanggal Masuk RS

: Tn.P
: 26 tahun
: Laki-laki
: Ngaliyan, Semarang
: Islam
: Jawa
: Karyawan
: 21.30.64
: 25-09-2015

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 25 September 2015
pukul 10.00 WIB
A. Keluhan utama
B. Riwayat Penyakit Sekarang

: Terdapat benjolan kemerahan di atas bibir
:

Penderita datang ke poli Kulit RSUD Tugurejo dengan keluhan
terdapat benjolan kemerahan di atas bibir disertai gatal pada daerah bawah
hidung sejak 7 hari yang lalu. Gatal tidak dirasakan semakin gatal saat
terkena keringat, namun kulit terasa panas, kemerahan dan perih.
Awalnya berupa benjolan kecil menyerupai jerawat, terasa sakit
saat dipencet. Sebagian benjolan ada yang pecah dan mengeluarkan nanah
bercampur darah. Sejak tadi malam keluar nanah dari benjolan berwarna
kuning terus menerus. 4 hari SMRS pasien merasakan demam nglemeng
kemudian 1 hari kemudian membaik tanpa diberi obat.
Riwayat Pengobatan

: Keluhan penderita sudah pernah diobati dengan

metronidazol 500 mg 3x1, amoxicillin 500 mg 3x1, prednison 16 mg 1x1
pada hari kedua gejala dan sedikit mengurangi gejala. Pasien juga membeli
sendiri salep di apotek dan belum ada perbaikan pada benjolan.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
 Keluhan serupa
: Disangkal
 Alergi
: Disangkal
1

 Asma
: Disangkal
 Diabetes Melitus
: Disangkal
 Jantung
: Disangkal
D. Riwayat Penyakit Keluarga
 Keluhan serupa
: Disangkal
 Alergi
: Disangkal
 Asma
: Disangkal
 Diabetes mellitus
: Disangkal
 Hipertensi
: Disangkal
 Jantung
: Disangkal
E. Riwayat Pribadi dan Sosial
 Penderita tinggal dengan istrinya dan satu orang anaknya dalam satu

III.

rumah.
Memelihara binatang (-)
Pemakaian handuk atau pakaian secara bersamaan (-)

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 25 September 2015 pukul 10.10
WIB
Status Generalis
a. Keadaan Umum
b. Kesadaran
GCS
c. Vital Sign

d. Status gizi
e. Kulit
Warna

: Tampak sakit ringan
: Komposmentis
: 15 (E4, V5, M6)
: TD : 110/70 mmHg
N : 82 x/m, irama reguler, isi cukup
R : 20 x/m
S : 36,70C (aksila)
: Kesan gizi cukup
: Sawo matang
2

mukosa tidak hiperemis Lidah : Tidak pucat. i. lebat. suara tambahan (+). h. tidak kotor. rambut warna hitam.Sianosis Ptekie f. warna merah muda Tonsil : Tidak ada pembesaran Faring : Tidak hiperemis Leher : Tidak ada pembesaran KGB Thorak Cor : Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V LMCS. gallop (-) Pulmo : Dextra Sinistra Simetris statis & Simetris dinamis. tidak mudah dicabut. PCH (-). j. tak kuat angkat Perkusi : Batas atas jantung : ICS II Linea parasternal sinistra Pinggang jantung : ICS III Linea parasternal sinistra Batas kiri bawah jantung : ICS V 1cm medial Linea mid clavicula sinistra Batas kanan bawah jantung: ICS IV Linea sternalis dextra Auskultasi : Bunyi jantung I & II normal & murni. bising (-). o. sekret minimal. k. retraksi (-) dinamis. Rc (+/+) (+/+) isokor 3mm/3mm Telinga : Bentuk normal. l. n. sekret (-) Mulut : Bentuk normal. retraksi (-) Stem Stem Depan Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi fremitus statis & fremitus normal kanan = kiri normal kanan = kiri Sonor Sonor seluruh seluruh lapang paru lapang paru SD paru vesikuler SD paru vesikuler (+). tambahanparu: suara 3 . Mata : CA -/-. m. : Tidak ada : Tidak ada : bentuk normocepal. SI -/-. Kepala g. simetris. Hidung : Simetris. distribusi merata. paru: wheezing (-). inflamasi (-).

ronki (-) Belakang Palpasi Stem fremitus kanan = kiri Perkusi Auskultasi p. suara tambahan (+).ronki (-) wheezing (-). suara tambahan paru : wheezing (-). paru : wheezing (-). inflamasi (-) Massa (-). : Bising usus (+) 15x/menit : Timpani seluruh lapang perut Hepar: 1 jari bawah arcus costa Lien : tidak ada pembesaran : Nyeri tekan (-). : hangat : < 2 detik : tidak ada 4 . ronki (-) ronki (-) : : Bentuk : Datar Umbilicus : Ditengah. distensi (-) Hepar : hepatomegali (-) Lien : splenomegali (-) Ginjal : tidak teraba. Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi q. Ekstremitas Akral CRT Sianosis Sonor Stem fremitus kanan = kiri seluruh Sonor seluruh lapang paru lapang paru SD paru vesikuler SD paru vesikuler (+).

d. b. Dijumpai pula ruam sekunder berupa erosi. f. dan ekskoriasi dengan krusta dan skuama ± 1. c.5 cm Palpasi : a. e.5 cm. RESUME Anamnesis 5 . terdapat pustul ditengahnya. Nyeri (+) IV. Diameter : lesi dengan pustul ±1 cm. ekskoriasi. Lokasi Jumlah Distribusi Konfigurasi Morfologi : Nasolabial :3 : regional : konfluens : ruam primer berupa nodus eritematosa. krusta dan skuama. Suhu : lebih tinggi dari kulit sekitar b. Permukaan : tidak rata c. erosi ± 0.Edema : (-/-) Status Venerologi : Tidak dilakukan Status Dermatologi Inspeksi : a.

prednison 16 mg 1x1 pada hari kedua gejala dan sedikit mengurangi gejala. amoxicillin 500 mg 3x1. Pada pemeriksaan perabaan/palpasi suhu lesi lebih tinggi dari sekitarnya. DIAGNOSIS BANDING Furunkelosis Hidradenitis suppurativa Sikosis Barbe VI.5 cm. pustul ±1 cm. krusta dan skuama ± 1.Penderita datang ke poli Kulit RSUD Tugurejo dengan keluhan terdapat benjolan di atas bibir disertai gatal pada daerah bawah hidung sejak 7 hari yang lalu kemerahan dan perih. Status Dermatologi Terdapat 3 buah lesi di nasolabial dengan distribusi konfluens bentuk bulat dengan ruam primer berupa nodus eritematosa. V. Sejak tadi malam keluar nanah dari benjolan berwarna kuning terus menerus. ekskoriasi. DIAGNOSIS KERJA Furunkelosis 6 . Riwayat Pengobatan : Keluhan penderita sudah pernah diobati dengan metronidazol 500 mg 3x1. terasa sakit saat dipencet. Sebagian benjolan ada yang pecah dan mengeluarkan nanah bercampur darah. 4 hari SMRS pasien merasakan demam nglemeng kemudian 1 hari kemudian membaik tanpa diberi obat.5 cm. Pasien juga membeli sendiri salep di apotek dan belum ada perbaikan pada benjolan. Awalnya berupa benjolan kecil menyerupai jerawat. Dijumpai pula ruam sekunder berupa erosi ± 0. permukaannya tidak rata dan terasa nyeri saat disentuh. USULAN PEMERIKSAAN Pemeriksaan histopatologik Pemeriksaan mikrobiologik VII.

Umum  Menjaga higiene tubuh  Menghindari garukan . Khusus Topikal :  Bila banyak pus atau krusta Kompres rivanol 1% selama 15 menit  setiap 4 jam Bila tidak tertutup pus atau krusta :Asam Fusidat (Fuson) krim yang  dioleskan 3x sehari Bila terdapat krusta: dilepaskan Sistemik :  IX.VIII. dan tekanan terhadap kulit 2. Amoxicillin (Amoxsan) tab 3 x 250 mg PROGNOSIS Umumnya baik jika faktor pencetus dihindari Quo ad vitam : ad bonam Quo ad fungsionam : ad bonam Quo ad sanationam : ad bonam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 .gesekan . PENATALAKSANAAN 1.

keras. aksila. Pada karbunkel. wajah.2 Ciri furunkel yaitu bulat.4 Gambar 1. biasanya pada daerah yang sering mengalami pergesekan. berbatas tegas yang berakhir dengan supurasi di tengah. Jika lebih dari satu disebut furunkulosis. dan daerah lembab seperti pada leher. edema kemudian meluas dan menjadi nyeri dan berfluktuasi setelah beberapa hari. penyumbatan. Apabila nodul tersebut pecah maka akan menghasilkan pus dan terkadang disertai jaringan nekrotik. dan bokong. furunkel tersebut hanya dibatasi oleh trabekula fibrosa yang berasal dari jaringan subkutan yang padat.4 8 . nyeri disekitar lesi berkurang dan eritem serta edema juga akan berkurang setelah beberapa hari hingga beberapa minggu.3 Furunkel merupakan proses lanjutan dari folikulitis yang tidak membaik.FURUNKULOSIS I DEFINISI Furunkel merupakan penyakit infeksi yang menyebabkan peradangan pada folikel rambut dan jaringan subkutan sekitarnya. eritem.1. Selanjutnya. Klasifikasi infeksi bakteri pada folikel rambut Pada awal furunkel muncul yaitu berupa nodul berbatas tegas.2 Furunkel muncul di tempat tumbuhnya rambut. nyeri. Beberapa furunkel yang bergabung menjadi satu akan membentuk karbunkel.

dan sejumlah 70-90% merupakan pembawa sementara bakteri tersebut. dalam waktu singkat membesar membentuk nodula eritematosa berbentuk kerucut. Infeksi tersebut menimbulkan terjadinya respon inflamasi yaitu bengkak dan memerah. Jaringan nekrotik akan keluar sebagai pus dan terbentuk fistel.3.2.II ETIOPATOGENESIS Furunkulosis adalah salah satu bentuk pioderma. Bakteri penyebab furunkulosis yang tersering adalah Staphylococcus aureus. Apabila infeksi berlanjut maka akan terjadi 9 . Hal ini akan menyebabkan rambut menjadi rontok / terlepas.1. Kemudian pada tempat rambut keluar tampak bintik-bintik putih sebagai mata bisul.6 Gambar 2. aureus dengan tipe bakteri Methicillin-susceptible Staphylococcus aureus. kemudian diikuti bertambahnya jumlah PMN.5 Sebagian pasien yang tidak memiliki faktor risiko MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus) terjangkit furunkel karena infeksi bakteri S.1-2 Infeksi diawali ketika virulensi stafilokokus melekat pada sel-sel dari folikel rambut. Bentuk mikroskopis Staphylococcus aureus7 Lesi mula-mula berupa infiltrat kecil. Nodus tersebut akan melunak menjadi abses yang akan memecah melalui lokus minoris resistensie yaitu muara folikel.5 Sedikitnya 10% dari orang normal adalah sabagai pembawa tetap stafilokokus patogen pada hidung dan perineum. yaitu penyakit infeksi yang terutama disebabkan oleh bakteri gram positif. kemudian berkembangbiak dan menyebar turun ke dalam folikel dan kelenjar sebasea.

sumbatan folikel dan terbentuk jaringan nekrosis yang akan menjadi abses kecil. Proses infeksi menyebar lebih dalam lagi hingga ke lapisan subkutis dimana pada lokasi ini abses yang lebih besar akan terbentuk. Patogenesis Furunkel8 Faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya furunkulosis yaitu sebagai berikut:  Faktor kebersihan 10 .8 Gambar 3. Abses pada subkutis inilah yang menyebabkan timbunya nyeri pada furunkel.

10 Namun.Bisul muncul karena adanya kuman.10 III EPIDEMIOLOGI Berdasarkan penelitian. namun kulit yang lembab juga dapat menjadi tempat untuk kolonisasi bakteri. hiperhidrosis. Stafilokokus dapat bertahan dengan baik pada lingkungan dan dapat menular ke orang lain. Udara Udara panas salah satu penyebab terjadinya bisul. hampir setiap orang terpapar oleh bakteri Staphylococcus aureus dimana bakteri tersebut banyak ditemukan pada cuping hidung dengan jumlah sekitar 108 bakteri. dan sementara itu lebih dari 60% bakteri tersebut telah mengalami kolonisasi. atau berdekatan dengan pasien yang memiliki luka pascabedah maupun dengan pasien sakit kronis. Bayi sangat mudah berkeringat terutama pada daerah yang panas. Sekitar 20% orang dewasa yang sehat memiliki hasil positif dari pemeriksaan kultur dalam jangka waktu setahun atau lebih. Lain-lain Seperti penyakit diabetes. dan stres emosional akan mempengaruhi angka kejadian.9. anemia. furunkel lebih sering didapatkan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Meskipun cuping hidung merupakan habitat utama dari Staphylococcus aureus. aureus dapat menetap di tempat- 11 . Bayi dengan ASI eksklusif lebih terjaga dari serangan  kuman dari pada bayi dengan susu formula. Bakteri menyebar ke organ tubuh lain dan juga ke lingkungan lewat perantara tangan. sangat dianjurkan untuk selalu  mengelap keringat juga keringat bayi berlebihan. terutama bisul yang terjadi pada kelenjar /keringat. Sejak S. Kebersihan lingkungan juga sangat mempengaruhi. karena lingkungan yang tidak terjaga  kebersihannya kuman akan mudah berkembang biak. obesitas atau malnutrisi.2. Menurunnya daya tahan tubuh Menurunnya daya tahan tubuh juga mempengaruhi masuknya kuman ke dalam tubuh. Orang yang sedang sakit bisul maupun yang sedang terinfeksi Staphylococcus aureus tidak diperkenankan bekerja pada pekerjaan yang berkaitan dengan bahan pangan.

tempat umum dan ada banyak perbedaan strain pada populasi. dan plasmid.2-3 Gambar 4. Keseluruhan cara tersebut memiliki keterbatasan.8 IV GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN A Bentuk Klinis Mula-mula berupa makula eritematosa lentikularnumular setempat. tipe bakteriofag. maka epidemi penyakit stafilokokus dapat dicari asalnya hanya boleh dengan cara identifikasi yang tepat. Metode yang lebih akurat yaitu dengan membandingkan pola-pola elektroforesis fragmen DNA dengan pemanfaatan enzim restriksi. kemudian menjadi nodula lentikularnumular berbentuk kerucut. Selanjutnya melunak menjadi abses berisi pus dan jaringan nekrotik dan memecah. Furunkel pada kulit abdomen10 12 Gambar 6. Furunkel10 Gambar 5. Cara untuk membagi strain tersebut termasuk dalam menentukan pola kepekaan terhadap multipel antibiotik. ditengahnya terdapat pustul. Furunkel pada nasolabial 4 .

maupun otak. trombosis. tulang. Pada bagian bawah folikel rambut (dalam jaringan sub kutis). bahkan bakterimia.8 Infeksi dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui pembuluh getah bening dan pembuluh darah.2 Pada kasus yang sudah lama terdapat sel plasma dan sel datia benda asing (giant cell). sehingga terjadi peradangan pada vena. Pengecatan gram S.Gambar 7. Bakterimia dapat menyebabkan 13 .aureus4 VI KOMPLIKASI Komplikasi dapat terjadi apabila bakteri masuk ke pembuluh darah.3 C Mikrobiologi Pemeriksaan bakteriologi dari sekret dengan pewarnaan gram akan didapatkan bakteri gram positif. abses dapat pula mengandung stafilokok. Folikulitis dan furunkulosis4 V PEMERIKSAAN PENUNJANG B Histopatologi Berupa abses yang dibentuk oleh limfosit dan leukosit PMN.1 Gambar 8. dan akan menginvasi organ tubuh lain seperti jantung. mula-mula pada folikel rambut.

Kadang-kadang hidradenitis suppurativa terjadi dengan penyakit lain. osteomielitis akut hematogen. selangkangan dan daerah anus. Bakteri kemudian dapat memicu infeksi dan peradangan. benjolan lembut (lesi). meningitis atau infeksi paru-paru. Lesi sering membesar. Papul eritem 14 .terjadinya endokarditis. Jaringan parut dapat terjadi sebagai hasil setelah beberapa kali kambuh. membuka dan mengeluarkan nanah. seperti paha bagian dalam. Hal ini juga dapat terjadi di daerah dimana kulit sering tergosok.semua dapat memainkan peran. Hidradenitis suppurativa dapat mempengaruhi area tunggal atau beberapa area tubuh. seperti penyakit  Crohn atau penyakit Graves.4  Etiologi Hidradenitis suppurativa terjadi ketika kelenjar minyak (sebaceous) dan bukan kelenjar folikel rambut diblokir dengan cairan. Hidradenitis Supurativa  Definisi Hidradenitis suppurativa adalah peradangan kulit kronis yang ditandai oleh adanya komedo dan satu atau lebih merah. Ketika zat-zat ini bercampur dengan minyak dari kelenjar sebaceous. tetapi sejumlah faktor termasuk hormon. atau di bawah payudara. Komedo 2. Tanda dan gejala Hidradenitis suppurativa meliputi 1. Tidak diketahui mengapa terjadi penyumbatan. sel-sel kulit mati dan bahan lain yang dikeluarkan dari sekitar kelenjar keringat apokrin.2.7 VII DIAGNOSIS BANDING A. seperti ketiak.4 Gejala Hidradenitis suppurativa biasanya terjadi di sekitar folikel rambut dimana minyak dan kelenjar keringat ditemukan. maka dapat menjadi terjebak dan terdorong ke jaringan sekitarnya. merokok dan kelebihan berat badan . genetika.

Obat tersebut dapat termasuk: 1. Bagi sebagian orang. termasuk kompres hangat dan mencuci secara teratur dengan sabun antibakteri. Kasus ringan dapat diobati dengan langkah-langkah perawatan diri. Sedangkan orang lain hanya mengalami gejala ringan. perubahan hormon. Sedang kasus mungkin membutuhkan obat. Nodul eritem 4.10 15 .2. Tetapi pengobatan dini dapat membantu mengelola gejala dan mencegah berkembanganya lesi baru. Kelebihan berat badan. Obat retinoid oral 3. penyakit ini semakin memburuk dan mempengaruhi beberapa daerah tubuh mereka. stres.3. pembedahan mungkin akan diperlukan. Obat anti inflamasi 4. Kortikosteroid atau obat imunosupresan 5. seperti yang dioleskan pada daerah yang terkena (obat topikal) atau yang dikonsumsi melalui mulut (obat oral).4 Pengobatan Tidak ada obat untuk hidradenitis suppurativa. Pengobatan tergantung pada luasnya daerah yang terkena dan apakah luka terinfeksi.10   Pemeriksaan Penunjang Pada pemeriksaan kultur dari bagian kulit yang dalam dapat ditemukan bakter/jamur. Antibiotik 2. Tumor necrosis factor (TNF) alpha inhibitors Untuk kasus yang parah atau berkelanjutan atau untuk lesi yang dalam.4. panas atau keringat yang berlebihan dapat memperburuk gejala. Pustul Hidradenitis suppurativa sering dimulai pada masa pubertas dengan benjolan tunggal menyakitkan yang berlangsung selama beberapa minggu atau bulan.

Tempat predileksi penyakit ini yang paling sering terjadi pada kulit kepala anak-anak.2 16 . Pityrosporum.aureus. dan Candida sp. Folikulitis virus disebabkan oleh virus Molluscum contangiosum dan virus Herpes simplex. Sikosis Barbe (Folikulitis Profunda) Gambar 9. daerah janggut. merupakan folikulitis piogenik dengn infeksi yang meluas kedalam folikel rambut sampai  subkutan.aeruginosa).1. Penyebab folikulitis yang paling umum menyebabkan folikulitis adalah S. 2 Pemeriksaan Penunjang Pada pemeriksaan kultur dari bagian kulit yang dalam dapat ditemukan  bakter/jamur. Biasanya berlokasi di bibir atas dan dagu bilateral. Cari faktor predisposisi.B.4 Terapi Antibitotik sistemik/topikal. Pseudomonos aeruginosa (P.aureus).2 Etiologi Folikulitis bakteri dapat disebabkan oleh Staphylococcus aureus (S.2 Gambaran Klinis Pustul perifolikular kronik yang di tandai dengan adanya papul. pustul dan sering terjadi rekurensi.  aksila. dan bakteri gram negarif. Folikulitis fungal disebabkan oleh Dermatophyta.Hidradenitis Supurativa4  Definisi Sikosis barbe adalah adalah kelainan akibat reaksi benda asing  terhadap rambut sehingga menimbulkan reaksi inflamasi. ekstremitas dan bokong pada dewasa. leher.1.

 anak-anak 25 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis. Medikamentosa: 1 Topikal:  Bila banyak pus atau krusta: kompres terbuka dengan permanganas kalikulus 1/5000. misalnya infeksi parasit atau dermatitis atopik. rivanol 1%. dilanjutkan 1 x 250 mg (hari II-V).  dilakukan 3 kali sehari masing-masing 1 jam selama keadaan akut. Sistemik: minimal selama 7 hari. Bila tidak tertutup pus atau krusta: salep/krim asam fusidat 2%.10 10. Dioleskan 2-3 kali sehari 2 selama 7-10 hari. neomisin atau basitrasin. anak-anak 50  mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 dosis. selama 5-7 hari. selama 5-7 hari. Sikosis Barbe4 PENATALAKSANAANGambar Non medikamentosa:  Higiene kulit harus ditingkatkan. Sefaklor: 20 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis. Second line:  Azitromisin 1 x 500 mg/hari (hari I). larutan povidon dilarutkan 10 kali.  Bila terdapat krusta: dilepaskan. mupirosin 2%. 17 .VIII 1. Amoksisilin dan asam klavulanat: dewasa 3 x 250-500 mg/hari. Sefaleksin: 40-50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 dosis. First line:  Kloksasiklin: dewasa 4 x 250-500 mg/hari per oral. Mengatasi faktor predisposisi dan keadaan komorbid. Hindari menggunakan pakaian  maupun handuk yang sama. selama 5-7  hari.

Apabila lesi besar. Pada kasus yang berat atau infeksi di daerah berbahaya seperti 4 maksila. selama 10  hari. dan prognosis menjado kurang baik jika terjadi rekurensi.2 18 . antibiotic diberikan secara parenteral. Kasus rekuren. anak-anak 20-50 3 mg/kgBB/hari terbagi 4 dosis. nyeri. Apabila terdapat MRSA pada infeksi berat: vankomisin 1-2 gram/hari 5 dalam dosis terbagi. XI EVALUASI DAN PROGNOSIS Prognosis baik selama faktor penyebab teratasi. Klindamisin 15 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis. intravena. dilakukan insisi dan 6 drainase. diberikan antibiotik berdasarkan hasil kultur dan resistensi. Eritromisin: dewasa 4 x 250-500 mg/hari. disertai fluktuasi. selama 5-7 hari. selama 7 hari.

aureus dapat menetap di tempat-tempat umum dan ada banyak perbedaan strain pada populasi.BAB III KESIMPULAN Furunkulosis adalah salah satu bentuk pioderma. Bakteri penyebab furunkulosis yang tersering adalah Staphylococcus aureus. punggung. Penatalaksanaan secara khusus meliputi pengobatan secara topikal dan sistemik.gesekan . Sejak S. Pada permulaan penderita merasa gatal. dan wajah. Penatalaksanaan pada furunkulosis terdiri dari penatalaksanaan secara umum dan khusus. Cara untuk membagi strain tersebut termasuk dalam menentukan pola kepekaan terhadap multipel antibiotik. dan alas kasur yang telah terkena lesi dengan air panas. yaitu penyakit infeksi yang terutama disebabkan oleh bakteri gram positif. Penatalaksanan secara umum . handuk. tipe bakteriofag. Stafilokokus dapat bertahan dengan baik pada lingkungan dan dapat menular ke orang lain. 19 . Prognosis furunkulosis umumnya baik. Serta mencuci pakaian . bokong. selama penderita mendapatkan penanganan yang adekuat dan faktor penyebab dapat dihilangkan . leher. Furunkulosis sering terjadi pada ketiak. maka epidemi penyakit stafilokokus dapat dicari asalnya hanya boleh dengan cara identifikasi yang tepat. yaitu menjaga higiene tubuh . dan tekanan terhadap kulit. lesi menjadi nyeri bila ditekan atau diusap Dijumpai lesi berupa nodus eritematosa berbentuk kerucut dan terdapat pustul ditengahnya yang kemudian melunak menjadi abses yang berisi pus dan jaringan nekrotik lalu memecah membentuk fistel. dan prognosis menjadi kurang baik bila terjadi komplikasi. menghindari garukan . dan plasmid.

et al. Lee PK. Pearsall NN. Asuhan kebidanan neonatus. Pioderma. 7th Ed. Skin and soft tissue infections in older adults. p: 120-1. Goldsmith LA. Roberts CE. Ed 4 3.DAFTAR PUSTAKA 1 Perdoski. 2000. Purwati. Kaushik S. Craft N. Kusuma SAF. Atlas berwarna saripati penyakit kulit. [Makalah] bandung: Fakultas Farmasi 8 Universitas Padjajaran. Nester EW. 2010. Swartz MN. Microbiology: A human perspective. 10 Hagewoning. 2004. Singh K. Gilchrest BA. Skin diseases among schoolchildren in Africa. Panduan pelayanan medis dokter spesialis kulit dan kelamin. Staphylococcus aureus. p: 1-2. 2 Jakarta: FK UI. Furunkel dan karbunkel. Johnson RA. p: 5 1699. 2012. Ed 2. A Prospective Multicenter Observational Study to evolve the usefulness of the nine predefined homoeopathic medicines in Furunculosis. Anderson DJ. Nayak C. Jakarta: 3 EGC. The McGraw-Hill Companies. P: 79-80. Leffell DJ (2008). Washington. Suprohaita. et al. bayi. Inc. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. USA. 2009. Katz SI. p:83-4. Setiowulan A. Jakarta: Media Aesculapius FK UI. 4th Ed. Wardhani WI. Weinberg AN. Africa: Leiden University. Siregar RS. Furuncle. 2012. Nester MT. Singh V. Arjan. dan balita. 2005. p: 99. p: 9 536-8. Zipoli MT. 2008. Wicaksono A. 2011. Kaye KS. [Diktat Ajar] Purwokerto: FIK Universitas Muhammadiyah Purwokerto. p: 52-4. Singh H. 4(1): 31. Paller AS. 20 . Chakravorty PS. Roja V. In Wolff K. Bacterial skin disease. Indian Journal 6 of Research in Homoeopathy. Rukmawati A. Kapita selekta kedokteran. Superficial Cutaneous Infections and Pyodermas. Hamsah A. Clin 7 Geriatr Med (23):599. Anderson DG. Mansjoer A.