You are on page 1of 4

Metode penyimpanan obat di rumah sakit Blora disusun secara alfabetis, hal

ini dapat mempermudah terjadinya kesalahan pengambilan obat bila terdapat nama
obat yang mirip. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mencegah terjadi
kesalahan pengambilan obat pada NORUM adalah dengan penulisan metode Tall
Man. Penelitian yang dilakukan oleh de Vreede et.al 2008, mengatakan bahwa
pengenalan penulisan Tall Man dan implementasinya dapat mengurangi kesalahan
pemilihan obat.
Penyimpanan obat high alert belum sesuai dengan standar yang seharusnya.
Semua tempat penyimpanan harus diberi label yang jelas dan dipisahkan dengan obat
obatan rutin lainnya. Jika high alert medicine harus disimpan di area perawatan pasien
maka tempat penyimpanan harus dikunci dan diberikan label peringatan high alert
medication pada tutup luar tempat penyimpanan. Kepala instalasi farmasi mengetahui
bahwa penyimpanan obat high alert seharusnya dipisahkan dengan obat yang lainnya,
namun hal ini belum dilakukan karena masih keterbatasan tempat untuk penyimpanan.
Selain itu untuk kemudahan dari petugas farmasi dalam pengambilan obat, sehingga
penyimpanan ini belum dipisahkan. Hal ini karena belum adanya kebijakan atau
prosedur khusus mengenai obat high alert. Penyimpanan obat high alert masih
digabung dengan vaksin dan serum di lemari pendingin.
. Penyimpanan elektrolit konsentrat tidak hanya di farmasi saja tetapi juga di
unit pelayanan pasien seperti di IGD, ICU, OK dan VK. Penyimpanan elektrolit
konsentrat di farmasi tidak disimpan pada area sendiri tetapi diletakkan di rak paling
bawah. Menurut kepala instalasi farmasi, penyimpanan ini bertujuan untuk
mempemudah mobilitas dari petugas farmasi dalam pelayanan. Bila penyimpanan
elektrolit konsentrat disimpan pada tempat tersendiri ini akan memperlama pelayanan.
Penyimpanan elektrolit di unit pelayanan pasien tidak disimpan pada tempat yang
terkunci, sehingga masih bisa ada kemungkinan terjadinya salah pengambilan
elektrolit oleh petugas yang baru. Penyimpanannya digabung dengan obat yang lain,
hanya diberi label saja untuk setiap obatnya. Seperti pada gambar 1 dibawah ini
terlihat penyimpanan elektrolit untuk KCL dan MgSO4 hanya diberi label saja, dan
digabung dengan obat lainnya. Hal ini karena belum adanya kebijakan atau prosedur
mengenai high alert medicine secara khusus dan belum pernah dilakukan evaluasi.
Dalam penggunaan elektrolit konsentrat seperti KCL sebaiknya rumah sakit
memiliki protokol atau checklist yang meliputi cara menghitung, kecepatan cairan dan

jalur pemberian vena yang tepat. Hal ini diperlukan karena penggunaan elektrolit
konsentrat melalui intravena harus secara hati hati dan selalu dipantau.

Obat-obat yang mirip ini, biasa disebut dengan LASA, singkatan dari lookalike sound-alike drugs. Ada juga yang mengistilahkan SALAD, sound-alike lookalike drugs. Versi Indonesianya adalah NORUM, nama obat rupa dan ucapan mirip,
istilah ini ada di permenkes. Obat-obatan lasa nih bisa bikin liyer-liyer keblingerconfuse, dan bisa bahaya. Kenapa bahaya? Ini dikarenakan bentuknya yang mirip atau
namanya yang mirip jika dituliskan atau diucapkan. Kalo mirip jika dituliskan
(orthographic) -> interpretasi resep bisa keliru, kalo bunyinya mirip (phonetic) ->
order obat via lisan -> keliru juga. Apalagi jika kemasannya mirip dan kembar. Dalam
keadaan emergensi bisa gawat. Nah, jika mirip-mirip begini, bisa salah tafsir dan bisa
salah obat. Fatal dan bahaya akibatnya.
Menurut Permenkes RI No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 Tentang Keselamatan
Pasien Rumah Sakit, lasa masuk ke dalam obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert
medications), yaitu obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius
(sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan
(adverse outcome).
Beberapa faktor yang berkontribusi bikin binun:
Tulisan tangan yang tidak jelas
Nama obat tidak lengkap
Produk baru, masih gress, gak banyak yang tau
Kemasan atau label yang mirip
Penggunaan klinis yang sama
Kekuatan obat, dosis, dan frekuensi pemberian sama
Penggunaan huruf kapital bisa membantu untuk menghindari terjadinya
kesalahan.

Metode Tall man digunakan untuk membedakan huruf yang tampaknya sama dengan

obat yang mirip. Dengan memberi huruf kapital, maka petugas akan lebih berhati-hati
dengan obat yang lasa. Di US, beberapa studi menunjukkan penggunaan huruf kapital
ini terbukti mengurangi error akibat nama obat yang look-alike.
contohnya: metFORmin dan metRONIdaZOL, ePINEFrin dan efeDRIN. Seminimal
mungkin kesalahan sampai 0%.
Sebenarnya, rumah sakit punya kebijakan untuk menetapkan standar
penggunaan metode tall man ini. Seperti gambar di samping, punya salah satu rumah
sakit di negeri sebrang, yang memberlakukan standar penulisan untuk obat lasa. Hurufnya
ditebalkan, dan diberi warna yang berbeda. Kemudian, komite keselamatan mediknya
akan mereview setahun sekali dan memberikan feedback.
Strategi Komunikasi untuk mencegah terjadinya kesalahan karena lasa:
Permintaan Tertulis
1. Tambahkan merk dagang dan nama generiknya pada resep, terutama untuk obat yang
'langganan' bermasalah.
2. Tulis secara jelas, pake huruf tegak kapital.
3. Hindari singkatan-singkatan, bikin bingung. Hanya yang menulis dan Tuhan yang
tau :s
4. Tambahkan bentuk sediaan juga di resep. Misalnya metronidazol 500 mg, sediaan
tablet dan infusnya sama2 500 mg.
5. Sertakan kekuatan obat.
6. Sertakan petunjuk penggunaan.
7. Tambahkan juga tujuan/indikasi pengobatan, biar makin jelas
8. Gunakan resep preprinted, ato electronic prescribing, paperless, go green :D

Permintaan Lisan:

1. Batasi permintaan verbal, hanya untuk obat tertentu, misalnya hanya dalam keadaan
emergency.
2. Hindari permintaan via telepon, kecuali benar-benar penting, ada form permintaan via
telepon yang akan ditandatangani.
3. Diperlukan teknik mengulangi permintaan, dibacakan lagi permintaannya, jadi ada
kroscek.

Strategi buat tenaga kesehatan untuk mencegah eror karena lasa:

1. Tidak menyimpan obat lasa secara alfabet. Letakkan di tempat terpisah, misalnya
tempat obat fast moving.
2. Resep harus menyertakan semua elemen yang diperlukan, misalnya nama obat,
kekuatan dosis, bentuk sediaan, frekuensi, dll.
3. Cocokkan indikasi resep dengan kondisi medis pasien sebelum dispensing ato
administering.
4. Membuat strategi pada obat tertentu yang penyebab errornya diketahui, misalnya pada
obat yang kekuatannya beda-beda, atau pada obat yang kemasannya mirip-mirip.
5. Laporkan eror yang aktual dan potensial (berpeluang terjadi error).
6. Diskusikan penyebab terjadinya eror dan strategi ke depannya.
7. Sewaktu penyerahan, tunjukkan obat sambil diberikan informasi, supaya pasien
mengetahui wujud obatnya dan untuk mereview indikasinya.