You are on page 1of 3

Sifat pelarut

Pemilihan suatu pelarut yang akan digunakan dalam proses ekstraksi harus
berdasakan dari kemampuan pelarut pada saat melarutkan zat aktif dalam jumlah yang
maksimal dan juga seminimal mungkin bagi unsur yang tidak diinginkan. Berdasarkan
konstanta dielektriknya, pelarut organik dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu pelarut
polar dan pelarut non polar. Semakin tinggi konstanta dielektrik pelarut maka pelarut akan
semakin polar. Berdasarkan konstanta dielektrik suatu pelarut dapat ditunjukkan pada tabel
dibawah ini.

Pelarut
heksana
Petroleum eter
n-oktan
n-dekan
n-toluen
Etil asetat
Etanol
Metanol
Asam formiat
Air

Konstanta dielektrik (r)


1,89
1,90
1,95
1,99
2,38
6,08
24,30
33,60
58,50
80,40

Selain dari konstanta dielektrik, kepolaran suatu pelarut dapat tentukan dengan
menggunakan kepolaran dari suatu pelarut. Berdasarkan kepolarannya, dapat dilihat pada
tabel kepolaran pelarut dibawah ini.
Pelarut
Heksana
Toluena
Dietileter
Butanol
Kloroform
Etil asetat
Aseton
Metanol
Etanol
Air

Indeks Polaritas (P)


0
2,4
2,8
3,1
3,9
4,1
5,1
5,1
5,2
9,0

Adapaun beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih jenis pelarut yang akan
digunakan yaitu pelarut yang digunakan harus mempunyai daya larut yang tinggi, pelarut
tidak berbahaya dan beracun. Beberapa contoh pelarut yang sering digunakan dalam proses
ekstraksi adalah aseton, etil asetat, etanol, n-heksan, metanol. Penelitian ini menggunakan
tiga jenis pelarut yang berbeda dalam melakukan proses isolasi pelarut yang digunakan yaitu
pelarut non-polar (hekasana), semi polar (etil asetat), polar (metanol). Pemilihan pelarut ini
berdasarkan tingkat kepolaran yang berbeda yang dapat mempengaruhi hasil dari senyawa
yang akan didapatkan.
Heksana merupakan senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C6H14 (isomer
utama n-heksana memiliki rumus CH3(CH3)4CH3) dan tergolong dari jenis pelarut non-polar.
Heksana adalah jenis pelarut organik yang tingkat paparanya hanya menyebabkan iritasi
dengan luka residual kecil, akan tetapi jika terkena paparan dalam jumlah banyak dapat
mengakibatkan terjadinya efek tumorigenik (pembentukan sel tumor), efek teratogenik
(pertumbuhan sel kangker), efek reproduksi (pembentukan kesuburan sperma) dan efek
mutagenetik.
Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, atau spiritus, adalah senyawa kimia
dengan rumus kimia CH3OH selain itu, merupakan bentuk alkohol paling sederhana. Pada
"keadaan atmosfer", metanol berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna,
mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol).
Sedikit paparan dapat mengakibatkan luka sementara atau luka residual sedang ayang serius.
Paparan dalam udara secara berulang-ulang dalam kisaran 200 untuk 375 ppm akan
mengakibatkan rasa sakit pada kepala, kisaran 1200 untuk 830 ppm akan mengakibatkan
kerusakan neurologis yang akan menimbulkan keracunan. Kontak secara berulang pada kulit
akan mengakibatkan defatting dermatitis dengan ciri-ciri kekeringan dan retak pada kulit.
Adapun beberapa tindakan pencegahan secara normal yang dapat dilakukan sehingga dapat
menghindari hal-hal yang tidak dinginkan. Salah satunya yaitu, selalu menggunakan
perlengkapan yang dapat dapat melindungi tubuh dari paparan, memastikan ventilasi yang
cukup, menghindari adanya kontak dengan kulit, mata, dan pakaian.
Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH 3CH2OC(O)CH3. Senyawa ini
berwujud cairan tak berwarna, memiliki aroma khas. Etil asetat merupakan pelarut polar

menengah yang volatil (mudah menguap), tidak beracun, dan tidak higroskopis. Paparan yang
terjadi hanya akan menyebabkan iritasi dengan luka residual kecil. Adapun beberapa bentuk
iritasi yang dapat ditimbulkan antara lain yaitu, iritasi pada mata disebabkan terkena uap
secara langsung pada mata. Paparan pada kulit secara berkepanjangan dapat mengakibatkan
kekeringan pada kulit dan akan terjadi iritasi pada salauran pernafasan jika terhirup secara
langsung dalam jangka panjang.