You are on page 1of 43

CASE

PRESENTATION
TYPHOID FEVER

Presentan : Pu t ri Su km arani, dr.


Kel om pok 1 :
Juan Ca rso n R. N. Ma rbun, dr.
Andyan Yuga tam a, dr.
Merry D ha ma yan t i, dr.
Syara h Am rin a, dr.
Da nny K h awa ri tsm i, dr.
Ca rm ell ia Suh a rsa, dr.
RSU D Gun un g Ja ti Kota Ci rebon

PENDAHULUAN
Kasus rekaan atau asli
Alasan mengapa kasus ini diajukan
Yang menarik dari kasus ini
Fokus pembicaraan
Masalah pada kasus ini
Tujuan presentasi ini

DATA ADMINISTRASI PASIEN


Nama

Tn. YN

Nomor Rekam
Medis

862709

Pekerjaan

Karyawan

Status Sosial Pasien


Tanggal masuk RS
Tanggal
pemeriksaan

BPJS
15 Maret 2015
16 Maret 2015

DATA DEMOGRAFIS
Jenis kelamin
: Laki-laki
Usia
: 22 tahun
Alamat
: Pamijahan
Pekerjaan
: Karyawan
Status Marital : Belum Menikah
Agama
: Islam
Suku
: Sunda
Bahasa ibu
: Sunda - Indonesia

DATA BIOLOGIK
Tinggi Badan
: 169 cm
Berat Badan : 58 kg
BMI
: 20,3
Habitus

ANAMNESIS (AUTOANAMNESIS)
Keluhan utama : panas badan
Riwayat Penyakit Sekarang :
Sejak 5 hari SMRS, os mengeluh panas badan.
Panas yang muncul tiba-tiba dan dirasa naik turun,
os merasa panas lebih meningkat pada sore dan
malam hari dan menggigil. Os tidak pernah
mengukur suhu badannya.
Keluhan disertai mual, muntah, dan penurunan
nafsu makan. Os juga merasa sakit di bagian perut.
Os mengeluh juga mengeluh batuk dan merasa
sakit kepala di bagian dahi. Os sudah 2 hari sulit
BAB. BAB menjadi jarang, hanya keluar dalam
jumlah sedikit sekali dan keras, namun tidak ada
darah.

Tidak ada riwayat batuk lama, riwayat bintik


merah, gusi perdarahan, mimisan, ataupun
riwayat kekuningan pada kulit. Tidak ada
gangguan pada BAK.
Os sering membeli makanan di luar. Terdapat
riwayat keluhan yang sama pada keluarga yaitu
ibu dan adik.
Os sudah berobat ke dokter sebelumnya,
diberi penurun panas dan antibiotik, namun
keluhan belum membaik. Os belum pernah
dirawat di RS sebelumnya. Riwayat bepergian ke
pantai ataupun ke luar Jawa tidak ada.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Pasien tampak sakit sedang
Gizi : cukup
Kesadaran : composmentis
Tanda-tanda vital
TD : 110/80 mmHg
Suhu : 38,6C
Nadi : 80x/menit (bradikardia relatif)
Pernafasan : 20x/menit

10/22/15

Kepala
Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
Pupil bulat isokor
Refl eks cahaya +/+
Bibir dan mukosa mulut kering
Lidah : kotor dan tepi hiperemis, tremor (-)
Leher
Tidak ada deviasi trakea
Tidak terlihat pembesaran tiroid
JVP tidak meningkat
KGB tidak teraba
10/22/15

Thoraks
Bentuk thoraks datar
Rose spot (-)
Cor
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Punctum maximum teraba
Perkusi :
Batas jantung kanan : linea sternalis dextra
Batas jantung kiri : linea midclavicularis sinistra
Batas atas : ICS III sinistra

Auskultasi : Bunyi jantung : murni, reguler,


murmur (-)
10/22/15

Pulmo
Inspeksi :
Pergerakan simetris
Batas paru hepar ICS V dextra, peranjakan 2 cm

Palpasi : Vokal fremitus normal ki=ka


Perkusi : sonor
Auskultasi : VBS ki=ka, Ronki -/-, Wheezing -/-

10/22/15

Abdomen
Inspeksi : Bentuk datar, supel
Palpasi :
lembut, NT (+) di epigastrium
Hepar dan lien tidak teraba
Ginjal tidak teraba

Perkusi : timpani, Ruang traube kosong


Auskultasi : BU (+) normal
Ekstremitas
Edema -/ Acral hangat, CRT < 2 detik
Refl eks biceps, triceps, brachioradialis, patella, dan
achilles +/+ normal
10/22/15

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah rutin :
Hb, Hct, Eritrosit, Leukosit, Trombosit

Diff count
ADT
Laju Endap Darah
Faal hati : SGOT / SGPT
Faal Ginjal : ureum kreatinin
Apus darah tebal
Pemeriksaan Urin dan Tinja
Widal Tes
IgM dan IgG anti-Dengue
Kultur darah
Gaal Culture
10/22/15

HASIL PEMERIKSAAN
Darah Rutin :

Hb : 15,8 g/dl
Leukosit : 5.050 sel/UI
Eritrosit : 4,94 juta sel/UI
Hct : 51,7%
Trombosit : 181.000 sel/UI

Fungsi Hati :
SGOT : 46
SGPT : 56

Fungsi Ginjal:
Ureum : 30,0 mg/dl
Kreatinin : 1,19

GDS : 112
10/22/15

HASIL PEMERIKSAAN
Widal
Anti S. Typhi

O
1/320

Normal

< 180

Anti S. Paratyphi A

< 180

Anti S. Paratyphi B

< 180

Anti S. Paratyphi C

< 180

HASIL PEMERIKSAAN (URIN)


Makroskopis

Hasil

Kimiawi

Hasil

Warna

Kuning

Berat Jenis

1,010

Bau

PH

Kekeruhan

Jernih

Leukosit

Nitrit

Mikroskopis
Eritrosit

0-1

Protein

Leukosit

1-2

Reduksi

Epitel

6-8

Keton

Silinder

Urobilinogen

Kristal

Bilirubin

Bakteri

Darah

Parasit

Hemoglobin

DIAGNOSIS

TYPHOID FEVER
Anamnesis

Demam 5 hari terutama sore hari,


gangguan pencernaan (+), riwayat
keluarga (+), jajan (+)

Pemeriksaan Fisik
Febris, Bradikardia relatif, lidah kotor,
NT (+)

Pemeriksaan Penunjang
Widal Anti S. Typhi 1/320
10/22/15

TERAPI
Bed rest
Infus RL 20 tetes/menit
Diet lunak
Cotrimoksazol 2x480 mg mg hingga 7 hari bebas
demam
Antipiretik : parasetamol 3 x 500 mg
Ondasetron 2x4 mg IV

10/22/15

KONSULTASI
Sesuai dengan SOP RS

EDUKASI
Demam tifoid merupakan infeksi demam sistemik akut yang
disebabkan oleh bakteri gram negatif patogen enterik
Genus Salmonella yaitu Salmonella typhi dan Salmonella
paratyphi A, B, dan C.
Carrier adalah orang yang sembuh dari demam tifoid dan
masih terus mengekskresi Salmonella typhi dalam feces
dan urine selama lebih dari satu tahun.
Komplikasi
Perdarahan usus, perforasi usus, ileus paralitik

Perawatan :
Bedrest 7-14 hari untuk mencegah terjadi komplikasi perdarahan
atau perforasi usus.
Posisi tubuh diubah-ubah untuk mencegah dekubitus

Diet : diet lunak rendah serat


Pentingnya memperhatikan kualitas makanan dan minuman.

PROGNOSIS

Quo ad vitam : ad bonam


Quo ad functionam : ad bonam

10/22/15

Typhoid Fever

10/22/15

DEFINISI
Demam tifoid merupakan infeksi demam sistemik
akut yang disebabkan oleh bakteri gram negatif
patogen enterik Genus Salmonella yaitu
Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi A, B,
dan C.

10/22/15

EPIDEMIOLOGI
Masalah kesehatan global terutama di negara
beriklim tropis.
Sebagian besar kasus terjadi di negara-negara
berkembang seperti di Asia, Amerika Selatan,
Amerika Tengah, dan Amerika Timur.
Berkaitan dengan pertambahan populasi
penduduk yang sangat cepat, meningkatnya
urbanisasi, sanitasi lingkungan yang buruk
terutama yang berhubungan dengan pembuangan
kotoran manusia, suplai air bersih, tingkat
pendidikan dan sosial ekonomi rendah, dan
sistem pelayanan kesehatan yang kurang
memadai.
10/22/15

TRANSMISI
Ada beberapa cara penyebaran / transmisi infeksi S.Typhi,
yaitu :
1.Water borne disease karena sanitasi lingkungan yang
buruk, misalnya sumber air berdekatan dengan MCK
(mandi, cuci, kakus).
2.Kontaminasi makanan (fecal-oral) karena higiene pribadi
yang buruk.
3.Infeksi transplasental (bakteriemi ibu ke fetus).
4.Transmisi intrapartum (fecal-oral dari ibu karier)
.C arrier adalah orang yang sembuh dari demam tifoid
dan masih terus mengekskresi Salmonella typhi dalam
feces dan urine selama lebih dari satu tahun.
.D isfungsi kandung empedu merupakan predisposisi
untuk terjadinya carrier.
.S typhi berada di dalam batu empedu atau dalam
dinding kandung empedu yang mengandung jaringan
ikat, akibat radang menahun
10/22/15

PATOGENESIS DAN
PATOFISIOLOGI

S. Typhi masuk tubuh manusia (fecal oral)


Usus halus
musnah oleh asam lambung

Jar ingan limfoid plaque Peyeri di


ileum terminalis
sirkulasi portal

Menembus lamina propia


hepar

Aliran limfe

Kelenjar limfe mesenterial

Aliran darah via ductus thoracicus


(bakteremia I )
10/22/15

CONTINUE

Ditangkap oleh RES dari limpa, hati, dan organ lain

bakteri kembali masuk ke sirkulasi (bakterimia II)

Menyebar ke seluruh tubuh

Kandung empedu
lumen usus (ileum distal)

Aliran empedu
plaque Peyeri

10/22/15

CONTINUE
S. typhi bersarang di Plaque Peyeri, limpa, hati,
dan bagian lain RES
Endotoksin S. typhi berperan pada patogenesis
demam tifoid dengan cara merangsang sintesis
dan pelepasan zat pirogen endogen oleh leukosit,
sel-sel limpa, sel Kuppfer hati, makrofag, PMN,
dan monosit

10/22/15

MANIFESTASI KLINIK
Pada minggu pertama penyakit, keluhan dan
gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada
umumnya, al :

10/22/15

Demam (PD : suhu badan meningkat)


Nyeri kepala
Pusing
Nyeri otot
Anoreksia
Mual dan muntah
Obstipasi atau diare
Rasa tidak enak perut

CONTINUE
Pada minggu ke dua gejala semakin jelas,al :
Demam
Bradikardia relatif
Lidah tifoid (kotor di tengah, tepi dan ujung merah,
dan tremor)
Hepatospleenomegali
Perut distensi dengan nyeri tekan perut
Meterorismus
Gangguan mental : somnolen, stupor, koma, delirium,
psikosis
Roseolae (makulopapular berdiameter 2-5 mm
terdapat pada kulit perut bagian atas dan dada
bagian bawah, jarang ditemukan pada orang
Indonesia)
10/22/15

CONTINUE
Gejala klinik yang pertama timbul disebabkan oleh
bakteri yang mengakibatkan gejala toksik umum,
seperti letargi, sakit kepala, demam, dan bradikardi.
Demam ini khas karena gejala peningkatan suhu
setiap hari menyerupai stepladder sampai dengan
40 atau 41 0 C, yang dikaitkan dengan nyeri kepala,
malaise, dan menggigil.
Pada minggu pertama terdapat demam remitten yang
berangsur makin tinggi dan hampir selalu disertai
dengan nyeri kepala.
Pada minggu kedua, demam umumnya tetap tinggi
(demam continous) dan penderita tampak sakit berat.

Ciri utama demam tifoid adalah


demam menetap yang persisten (4
sampai 8 minggu pada pasien yang
tidak diobati).
10/22/15

CONTINUE
Pada kondisi lanjut, dapat terjadi :

Perdarahan usus sering muncul anemia.


Pada pendarahan hebat mungkin terjadi
syok hipovolemik.
Kadang terdapat darah segar
(perdarahan SMBB).
Bila telah ada peritonitis difusa akibat perforasi
usus, perut tampak distensi, defense muscular
+, bising usus hilang, pekak hati hilang, dan
perkusi daerah hati menjadi timpani.
Selain itu, pada colok dubur terasa spincter yang lemah dan
ampulanya kosong.
Pemeriksaan radiologi menunjukkan adanya udara bebas di
bawah diafragma, sering disertai gambaran ileus paralitik.
10/22/15

LABORATORIUM
Pemeriksaan darah rutin
Hb
Leukosit

Pemeriksaan Apus Darah :


Anemia normokromik,
Leukopenia dengan hilangnya sel eosinofil
(aneosinofilia).
Leukopenia (< 2000 sel per mikroliter)
dapat terjadi tetapi jarang sekali.
Penurunan jumlah sel polimorfonuklear.
Pada sebagian besar penderita, jumlah sel
darah putih normal.
10/22/15

CONTINUE
Pemeriksaan urin dan tinja
Adanya albuminuria meskipun sangat jarang dapat,
ditemukan pada penyulit Nephro typhoid.
Albuminuria terjadi pada fase demam.
Pada pasien typhoid, pemeriksaan tinja biasanya
ditemukan dalam batas normal.
Kelainan yang mungkin ditemukan:
Tinja lunak/cair (pea soup diarrhea)
Adanya darah ( pada penyulit perdarahan usus).
Uji benzidin pada tinja biasanya positif pada minggu
ke tiga dan ke empat.

10/22/15

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Serologi Darah (Uji Widal)
Adalah suatu reaksi aglutinasi antigen dan antibodi
Tujuan uji Widal adalah menentukan adanya antibodi/
aglutinin dalam serum pasien yang disangka menderita
demam tifoid
Akibat infeksi oleh S. typhi, pasien membuat aglutinin:
Aglutinin O : dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari
tubuh bakteri)
Aglutinin H : dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari
fl agela bakteri)
Aglutinin Vi : dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari
simpai bakteri)

Hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk


diagnosis. Makin tinggi titer, makin besar kemungkinan
pasien menderita demam tifoid
Pada infeksi aktif, titer uji Widal akan meningkat pada
pemeriksaan ulang yang dilakukan selang paling sedikit 5 hari
Peninggian antibodi 4x lipat pada sediaan berpasangan
adalah kriteria yang baik,
10/22/15

CONTINUE
Kultur darah, tergantung pada :
Teknik pemeriksaan lab :

5-10 ml pada dewasa dan 2-5 ml pada anak


Darah harus langsung ditanam pada media biakan
Waktu pengambilan darah adalah saat demam tinggi pada waktu bakterimia
berlangsung

S. typhi terutama + pada minggu pertama, dan


berkurang pada minggu berikutnya
Vaksinasi di masa lampau
Pengobatan dengan antimikroba
Gaal Culture (paling baik pada bakteriemi, minggu 12)
Biakan tinja
Biakan sumsum tulang (minggu ketiga, dan pada
pasien yang sudah dibri antibiotik)
Ureum kreatinin
SGOT/SGPT
10/22/15

KOMPLIKASI
Intestinal
Perdarahan usus, perforasi usus, ileus paralitik

Ekstraintestinal
Kardiovskular : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan
sepsis), miokarditis, sepsis, trombofl ebitis
Darah : anemia hemolitik, DIC, trombositopenia
Paru : pneumonia, empiema, pleuritis
Hepar dan kandung empedu : hepatitis dan kolesistitis
Ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis,
Tulang : periostitis, spondilitis, artritis
Neuropsikiatrik : delirium (typhoid toxic), meningitis,
polineuritis perifer

10/22/15

PENATALAKSANAAN
Perawatan :
Bedrest 7-14 hari untuk mencegah terjadi komplikasi
perdarahan atau perforasi usus.
Posisi tubuh diubah-ubah untuk mencegah dekubitus

Diet : diet lunak rendah serat


Medikamentosa :
Kloramfenikol : 4 x 500 mg/hari per oral atau IV
selama 7 hari
Tiamfenikol : 3x500 mg/ hari per oral atau IV selam 7
hari
Ko-trimoksazol
(kombinasi
Trimetoprim
dan
Sulfametoksazol) :
2 x 2tablet / hari selama 7 hari
1 tablet = 80 mg trimetropim dan 400 mg Sulfametoksazol

10/22/15

CONTINUE
Ampisilin dan Amoksisilin
Indikasi mutlak : pasien demam tifoid dengan leukopenia
75-150 mg/KgBB/hari selama 7 hari

Sefalosporin Generasi Ke tiga


Sefoperazon
Seftriakson
sefotaksim

dosis belum diketahui

Fluorokinolon

Obat-obat Simtomatik
Antipiretik
Kortikosteroid : tapering off selama 5 hari

10/22/15

CONTINUE
Catatan :
Kloramfenikol kontraindikaksi pada trimester 3
kehamilan karena menyebabkan partus prematur,
kematian intrauterin, grey syndrome pada neonatus
Tiamfenikol kontraindikasi pada trimester I kehamilan
karena efek teratogenik
Ampisilin, amoksisilin, dan sefalosporin generasi ke
tiga aman untuk kehamilan kecuali jika pasien
hipersensitif
Kotrimoksazol dan fl uorokinolon kontraindikasi pada
kehamilan, hati2 pada pasien alergi sulfa.

10/22/15

PENCEGAHAN
Memperhatikan kualitas makanan dan
minuman.
Salmonella typhi di dalam air dan
makanan akan mati apabila dipanaskan
57 0 C selama beberapa menit atau
dengan proses iodinisasi/klorinasi.
Baik buruknya pengadaan sarana air
dan pengaturan pembuangan sampah
serta tingkat kesadaran individu
terhadap higiene pribadi.
Imunisasi aktif.
10/22/15

PROGNOSIS
Tegantung pada :

10/22/15

umur, keadaan umum,


derajat kekebalan tubuh,
jumlah dan virulensi Salmonella
Cepat dan tepatnya pengobatan

Mari budayakan hidup bersih


menuju Indonesia Sehat 2010

10/22/15