You are on page 1of 20

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

DOKTRIN ALLAH TRITUNGGAL
Pdt. Budi Asali, M.Div.

Perlu diketahui bahwa tidak ada satu ayatpun dalam Kitab Suci yang menyatakan
doktrin Allah Tritunggal secara keseluruhan. Doktrin Allah Tritunggal didapatkan
dari banyak ayat Kitab Suci. Sebagian ayat-ayat Kitab Suci menyatakan ketunggalan
Allah, tetapi sebagian yang lain menyatakan adanya kejamakan tertentu dalam diri
Allah.

I) Kitab Suci menunjukkan ketunggalan Allah.
1) Ayat-ayat Kitab Suci yang secara explicit menyatakan bahwa Allah itu satu
(Ul 6:4 Mark 12:32 Yoh 17:3 1Kor 8:4 1Tim 2:5 Yak 2:19).
2) Penggunaan kata-kata bentuk tunggal untuk Allah atau dalam hubungannya
dengan Allah:
a) Penggunaan kata ganti orang bentuk tunggal.
Contoh:
• kalau Allah berbicara tentang diriNya sendiri, maka pada umumnya Ia
menggunakan kata ‘Aku’ (bahasa Inggris: ‘I’).
• kalau orang lain berbicara tentang Allah, maka pada umumnya
digunakan kata ‘Dia’ (bahasa Inggris: ‘He’).
• kalau orang berbicara kepada Allah, maka pada umumnya digunakan
kata ‘Engkau’ (bahasa Inggris: ‘You’). Dalam bahasa Yunani maupun
Ibraninya terlihat bahwa yang digunakan adalah ‘You’ dalam bentuk
tunggal.
b) Penggunaan kata kerja bentuk tunggal.
Contoh: dalam bahasa Ibraninya, kata ‘menciptakan’ dalam Kej 1:1 adalah
kata kerja bentuk tunggal.
c) Penggunaan kata sifat bentuk tunggal.
Contoh: dalam bahasa Ibraninya, kata-kata ‘baik’ dan ‘benar’ dalam
Maz 25:8 adalah kata sifat bentuk tunggal.
Maz 25:8 - “TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan
jalan kepada orang yang sesat”.
1

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

3) Allah mempunyai sifat self-existent, dan sifat ini tidak memungkinkan adanya
lebih dari satu makhluk seperti Dia.
a) Sifat self-existent (= ada dengan sendirinya / ada dari dirinya sendiri) dari
Allah, jelas merupakan ajaran dalam Kitab Suci, karena Kitab Suci
menunjukkan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah (Kej 1:1-31
Yoh 1:3,10), tetapi Kitab Suci tidak pernah menceritakan tentang terjadinya
Allah, dan ini menunjukkan bahwa Allah sendiri tidak pernah diciptakan /
dijadikan oleh siapapun / apapun juga.
b) Sifat self-existent ini mempunyai 2 perwujudan:
1. Allah adalah makhluk yang independent (= bebas / tak tergantung)
secara mutlak.
• diriNya / keberadaanNya / hidupNya independent.
Yoh 5:26 - “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam
diriNya sendiri, demikian juga diberikanNya Anak mempunyai
hidup dalam diriNya sendiri”.
• pikiranNya / rencanaNya / kehendakNya / tindakanNya independent.
Ro 11:33-34 - “(33) O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan
pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusankeputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya! (34)
Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah
yang pernah menjadi penasihatNya?”.
Ro 9:10-21 - “(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi
ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak,
bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum
dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan
berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12)
dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba
anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi
Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang
hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15)
Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas
kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku
akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’ (16)
Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha
orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. (17) Sebab Kitab
Suci berkata kepada Firaun: ‘Itulah sebabnya Aku
membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan
kuasaKu di dalam engkau, dan supaya namaKu dimasyhurkan
di seluruh bumi.’ (18) Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada
siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hati siapa yang
2

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

dikehendakiNya. (19) Sekarang kamu akan berkata kepadaku:
‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa
yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai
manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang
dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah
engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk
tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari
gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang
mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang
biasa?”.
Daniel 4:35 - “Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia
berbuat menurut kehendakNya terhadap bala tentara langit dan
penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak
tanganNya dengan berkata kepadaNya: ‘Apa yang Kaubuat?’”.
Ef 1:5 - “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh
Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan
kerelaan kehendakNya”.
Maz 115:3 - “Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang
dikehendakiNya!”.
2. Segala sesuatu ada hanya melalui Dia, dan segala sesuatu tergantung
kepada Dia.
Neh 9:6 - “‘Hanya Engkau adalah TUHAN! Engkau telah
menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala
tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut
dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup
kepada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah
kepadaMu”.
Maz 104:27-30 - “(27) Semuanya menantikan Engkau, supaya
diberikan makanan pada waktunya. (28) Apabila Engkau
memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka
tanganMu, mereka kenyang oleh kebaikan. (29) Apabila Engkau
menyembunyikan wajahMu, mereka terkejut; apabila Engkau
mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi
debu. (30) Apabila Engkau mengirim rohMu, mereka tercipta, dan
Engkau membaharui muka bumi”.
Yoh 1:3 - “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak
ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”.
Kis 17:28a - “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada,
...”.

3

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

Ibr 1:3a - “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud
Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang
penuh kekuasaan”.
1Tim 6:13a - “Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada
segala sesuatu ...”.
c) Dari semua ini bisa disimpulkan bahwa tidak mungkin ada lebih dari satu
makhluk yang seperti itu! Karena tidak mungkin bisa ada 2 makhluk yang
sama-sama tidak tergantung apapun / siapapun, dan yang membuat segala
sesuatu tergantung dirinya.
Jadi kita tetap mempercayai bahwa Allah itu satu.

II) Kitab Suci menunjukkan adanya ‘kejamakan dalam diri Allah’.
Perhatikan bahwa saya tidak menyebut adanya ‘banyak Allah’, tetapi adanya
‘kejamakan dalam diri Allah’. Jadi, saya tetap percaya pada ketunggalan / keesaan
Allah, tetapi dalam keesaanNya itu terdapat ‘suatu kejamakan tertentu’. Allah itu
mempunyai hanya satu hakekat, dalam 3 pribadi!

Keilahian Yesus dan Roh Kudus.
Adanya kejamakan dalam diri Allah terlihat dari keilahian Yesus dan Roh Kudus.
Bahwa Yesus dan Roh Kudus juga adalah Allah, sebagaimana Bapa adalah Allah,
jelas menunjukkan adanya kejamakan dalam diri Allah.
Philip Schaff: “Under the condition of monotheism, this doctrine followed of
necessity from the doctrine of the divinity of Christ and of the Holy Spirit” (= Di
bawah kondisi dari monotheisme, doktrin ini mengikuti sebagai suatu
keharusan dari doktrin tentang keilahian dari Kristus dan dari Roh Kudus) ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 566.
Tetapi saya masih ingin menambahkan bukti-bukti adanya kejamakan dalam diri
Allah, dalam Perjanjian Lama dan dalam Perjanjian Baru.

4

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

Dalam Perjanjian Lama.
1) Penggunaan kata ‘ELOHIM’ untuk Allah (Kej 1:1 dll) yang merupakan kata
bentuk jamak / plural.
Kata ‘ELOHIM’ mempunyai bentuk tunggal / singular yaitu ‘ELOAH’ yang
digunakan antara lain dalam Ul 32:15-17 dan Hab 3:3.
Tetapi dalam Perjanjian Lama kata ‘ELOAH’ hanya digunakan sebanyak
250 x, sedangkan kata ‘ELOHIM’ sekitar 2500 x. Penggunaan kata bentuk
jamak / plural yang jauh lebih banyak ini menunjukkan adanya ‘kejamakan
dalam diri Allah’.
Memang harus diakui bahwa ELOHIM sering dianggap sebagai bentuk
tunggal, tetapi yang perlu dipertanyakan adalah: kalau memang Allah itu
tunggal secara mutlak, mengapa tidak digunakan ELOAH saja terus menerus?
Mengapa digunakan ELOHIM, dan lebih lagi, mengapa digunakan ELOHIM
jauh lebih banyak dari ELOAH?
Dalam persoalan ini, buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’
memberikan suatu serangan yang bagus, yang saya kutip di bawah ini:
“‘ELOHIM’ bukan berarti ‘pribadi-pribadi’, melainkan ‘allah-allah’.
Jadi mereka yang berkukuh bahwa kata ini menyatakan suatu Tritunggal
menjadikan diri sendiri politeis, penyembah lebih dari satu Allah.
Mengapa? Karena ini berarti ada tiga allah dalam Tritunggal” (hal 13).
Tanggapan / Bantahan:
Untuk menjawab serangan ini kita bisa menjelaskan sebagai berikut:
a) ELOHIM tidak boleh diartikan ‘Allah-Allah’, karena ini akan bertentangan
dengan ayat-ayat yang menggunakan ELOAH. Sedangkan ELOAH tidak
boleh diartikan ‘Allah yang satu secara mutlak’, karena akan
bertentangan dengan ayat-ayat yang menggunakan ELOHIM. Jadi untuk
mengharmoniskan ayat-ayat yang menggunakan ELOAH dengan ayat-ayat
yang menggunakan ELOHIM, haruslah diartikan bahwa Allah itu tunggal
dalam hakekatNya, tetapi jamak dalam pribadiNya.
b) Allah itu begitu besar, ajaib, dan ada diluar jangkauan akal manusia. Karena
itu jelaslah bahwa tidak ada bahasa manusia (termasuk bahasa Ibrani), yang
bisa menggambarkan Allah dengan sempurna. Tata bahasa dan kata-kata
dari bahasa Ibrani (atau bahasa lain apapun) tidak bisa menggambarkan
bahwa Allah itu satu hakekat tetapi tiga pribadi. Disamping itu, Kitab Suci
bukanlah suatu buku Systematic Theology, dan karena itu tidak menuliskan
doktrin-doktrin yang ada di dalamnya dengan rumus-rumus theologia, tetapi
5

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

sebaliknya, mengajar dengan menggunakan cerita sejarah, syair, surat-surat,
dan sebagainya. Kalau Kitab Suci selalu menggunakan kata bentuk tunggal
ELOAH, maka akan menunjuk kepada Allah yang tunggal secara mutlak.
Sedangkan kalau Kitab Suci selalu menggunakan kata bentuk jamak
ELOHIM, maka akan menunjuk kepada banyak Allah. Karena itu maka
dalam ayat-ayat tertentu Kitab Suci menggunakan ELOAH dan dalam ayatayat lain Kitab Suci menggunakan ELOHIM.
Dalam buku ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 403, SaksiSaksi Yehuwa menunjuk kepada Hak 16:23 dimana untuk dewa Dagon dari
orang-orang Filistin, juga digunakan kata ELOHIM yang lalu diikuti dengan
kata kerja bentuk tunggal.
Hak 16:23 - “Sesudah itu berkumpullah raja-raja kota orang Filistin
untuk mengadakan perayaan korban sembelihan yang besar kepada
Dagon, allah mereka, dan untuk bersukaria; kata mereka: Telah
diserahkan oleh allah kita ke dalam tangan kita Simson, musuh kita.’”.
Catatan: kata ‘telah diserahkan’ adalah kata kerja bentuk tunggal.
Dan Saksi-Saksi Yehuwa itu lalu menyimpulkan tentang kata ELOHIM:
“Bentuk jamak dari kata-kata ini dalam bahasa Ibrani adalah untuk
menunjukkan keagungan atau kemuliaan. ... Jadi itu tidak menunjukkan
banyaknya pribadi-pribadi dalam ketuhanan” - ‘Bertukar Pikiran
Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 403.
Tanggapan / Bantahan:
Memang kata ELOHIM bisa digunakan untuk dewa / allah kafir, dan sekalipun
kata ELOHIM itu kata bentuk jamak, tetapi lalu diikuti kata kerja bentuk
tunggal. Ini juga terjadi dalam kasus Allah sendiri. Tetapi dalam kasus Allah
sendiri, kadang-kadang digunakan kata kerja bentuk jamak, seperti yang
nanti akan kita lihat di bawah, dan setahu saya hal seperti ini tidak pernah
terjadi dengan dewa / allah kafir.

2) Penggunaan kata bentuk jamak untuk Allah atau dalam hubungannya dengan
Allah:
a) Kata ganti orang bentuk jamak.
Contoh:
Mungkin dalam persoalan ini, contoh ayat yang terpenting adalah Yes 6:8b,
karena dalam ayat ini kata ganti orang bentuk tunggal dan jamak untuk
menyatakan Allah, keluar sekaligus dalam satu ayat.
Tetapi dalam Yes 6:8b ini, Kitab Suci bahasa Indonesia (baik terjemahan
lama maupun baru) salah terjemahan!
6

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

Yes 6:8b - “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ‘Siapakah yang
akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’”.
KJV/RSV/NIV/NASB: “Whom shall I send and who will go for Us?” (=
Siapa yang akan Kuutus dan siapa yang mau pergi untuk Kami?).
Kej 3:22a - “Berfirmanlah TUHAN Allah: ‘Sesungguhnya manusia itu
telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan
yang jahat; ...”.
Kej 11:7 - “Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa
mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.’”.
Yes 41:22 - “Biarlah mereka maju dan memberitahukan kepada kami
apa yang akan terjadi! Nubuat yang dahulu, beritahukanlah apa
artinya, supaya kami memperhatikannya, atau hal-hal yang akan
datang, kabarkanlah kepada kami, supaya kami mengetahui
kesudahannya!”.
Kej 1:26 - “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia
menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikanikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas
seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di
bumi.’”.
Ada yang mengatakan bahwa pada waktu Allah menggunakan ‘Kita’ dalam
Kej 1:26, maka saat itu Ia berbicara kepada para malaikat. Jadi itu tidak
menunjukkan ‘kejamakan dalam diri Allah’. Tetapi ini tidak mungkin,
sebab kalau dalam Kej 1:26 diartikan bahwa ‘Kita’ itu menunjuk kepada
‘Allah dan para malaikat’, maka haruslah disimpulkan bahwa:
• manusia juga diciptakan menurut gambar dan rupa malaikat.
• Allah mengajak para malaikat untuk bersama-sama menciptakan
manusia, sehingga kalau Allah adalah pencipta / creator, maka malaikat
adalah co-creator (= rekan pencipta).
Pandangan Kristen menganggap bahwa kata ‘Kita’ menunjukkan bahwa
pribadi-pribadi dalam Allah Tritunggal itu berbicara satu dengan yang lain,
dan ini menunjukkan adanya ‘kejamakan tertentu dalam diri Allah’.
b) Kata kerja dalam bentuk jamak.
Contoh:
• Kej 20:13a - “Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari
rumah ayahku, berkatalah aku kepada isteriku: ...”.
Kata-kata ‘menyuruh aku mengembara’ dalam bahasa Ibraninya
adalah kata kerja bentuk jamak.

7

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

• Kej 35:7 - “Didirikannyalah mezbah di situ, dan dinamainyalah
tempat itu El-Betel, karena Allah telah menyatakan diri kepadanya
di situ, ketika ia lari terhadap kakaknya”.
Kata ‘menyatakan’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk
jamak.
• 2Sam 7:23a - “Dan bangsa manakah di bumi seperti umatMu Israel,
yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umatNya, ...”.
Kata ‘pergi’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk jamak.
• Maz 58:12 - “Dan orang akan berkata: ‘Sesungguhnya ada pahala
bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan
di bumi.’”.
Kata ‘memberi keadilan’ dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk
jamak (sebetulnya ini bukan kata kerja tetapi participle).
Padahal dalam ayat-ayat di atas ini, subyeknya adalah kata ‘ELOHIM’ yang
digunakan untuk menyatakan Allah yang esa.
c)

Kata-kata bentuk jamak lainnya seperti dalam:
Pkh 12:1 - “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum
tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang
kaukatakan: ‘Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!’”.
Kata ‘pencipta’ (creator), dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk
jamak, sehingga seharusnya terjemahannya adalah ‘creators’ (=
pencipta-pencipta).
Maz 149:2 - “Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya,
biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka!”.
Kata-kata ‘Yang menjadikannya’, dalam bahasa Ibraninya ada dalam
bentuk jamak.
Amsal 9:10 - “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan
mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian”.
Kata-kata ‘Yang Mahakudus’, dalam bahasa Ibraninya ada dalam
bentuk jamak.
Hos 12:1 - “Dengan kebohongan Aku telah dikepung oleh Efraim,
dengan tipu oleh kaum Israel; sedang Yehuda menghilang dari
dekat Allah, dari dekat Yang Mahakudus yang setia”.
Kata-kata ‘Yang Mahakudus’, dalam bahasa Ibraninya ada dalam
bentuk jamak.
Ayub 35:10 - “tetapi orang tidak bertanya: Di mana Allah, yang
membuat aku, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu
malam”.
Kata-kata ‘yang membuat aku’, dalam bahasa Ibraninya ada dalam
bentuk jamak.
Yes 54:5 - “Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang
menjadikan engkau, TUHAN semesta alam namaNya; yang menjadi
8

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah
seluruh bumi”.
Kata ‘yang menjadikan engkau’, dalam bahasa Ibraninya ada dalam
bentuk jamak.
• Yos 24:19 - “Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: ‘Tidaklah
kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang
kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni
kesalahan dan dosamu”.
Dalam bahasa Ibraninya, kata ‘kudus’ ada dalam bentuk jamak, tetapi
kata ‘cemburu’ ada dalam bentuk tunggal. Jadi, kalau dalam Yes 6:8a
digunakan kata ganti orang bentuk tunggal dan jamak untuk menunjuk
kepada Allah dalam 1 ayat, maka dalam Yoh 24:19 digunakan kata sifat
bentuk tunggal dan jamak terhadap diri Allah dalam 1 ayat.
3) Beberapa ayat dalam Kitab Suci membedakan Allah yang satu dengan Allah
yang lain (seakan-akan ada lebih dari satu Allah).
• Maz 45:7-8.
Karena dalam ayat ini Kitab Suci Indonesia kurang tepat terjemahannya,
mari kita lihat terjemahan NASB di bawah ini.
Psalm 45:6-7 (NASB): “Thy throne, O God, is forever and ever ...
Therefore God, Thy God has anointed Thee” (= TahtaMu, Ya Allah, kekal
selama-lamanya. ... Karena itu, Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau).
Bandingkan dengan Ibr 1:8-9 yang mengutip ayat ini.
• Maz 110:1.
Juga untuk ayat ini perhatikan terjemahan NASB di bawah ini.
Psalm 110:1 (NASB): “The LORD says to my Lord ...” (= TUHAN berkata
kepada Tuhanku ...). Bandingkan dengan Mat 22:44-45 yang mengutip ayat
ini.
• Hos 1:7 - “Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan
menyelamatkan mereka demi TUHAN, Allah mereka. Aku akan
menyelamatkan mereka bukan dengan panah atau pedang, dengan alat
perang atau dengan kuda dan orang-orang berkuda.’”.
Hos 1:7 (NASB): “But I will have compassion on the house of Judah and
deliver them by the LORD their God, and will not deliver them by bow,
sword, battle, horses, or horseman” (= Tetapi Aku akan berbelaskasihan
kepada kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka dengan / oleh TUHAN
Allah mereka, dan tidak akan menyelamatkan mereka oleh / dengan busur,
pedang, pertempuran, kuda-kuda, atau penunggang-penunggang kuda).
• Kej 19:24 - “Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api
atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit”.
9

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

TUHAN (YHWH), yang saat itu ada di bumi, menurunkan hujan belerang
dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN (YHWH), dari
langit. Jadi kelihatannya ada 2 TUHAN (YHWH), satu di bumi, satu di
langit.
• Amsal 8 berbicara tentang ‘hikmat Allah’.
Kalau dilihat dari istilahnya, yaitu ‘hikmat Allah’ [the wisdom of God (=
hikmat dari / milik Allah)], maka jelas bahwa ‘hikmat Allah’ ini tidak
sama dengan Allah.
Tetapi Amsal 8 ini lalu mempersonifikasikan ‘hikmat Allah’ itu dan
menunjukkannya sebagai seorang pribadi yang bersifat kekal (Yesus).
Dengan kata lain, hikmat Allah itu juga adalah Allah (bdk. 1Kor 1:24 “Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah”).
• Penampilan dari Malaikat TUHAN (Kej 16:2-13 22:11,16 31:11,13
48:15,16 Kel 3:2,4,5 Hak 13:20-22).
Sama seperti istilah ‘hikmat Allah’ di atas, maka istilah ‘Malaikat
TUHAN’ ini juga menunjukkan bahwa ‘Malaikat TUHAN’ (the Angel of
the LORD) ini tidak sama dengan Allah.
Tetapi, sekalipun dalam bagian-bagian tertentu Malaikat TUHAN itu
disebut sebagai Malaikat TUHAN, dalam bagian-bagian lain Ia juga disebut
sebagai Allah / TUHAN sendiri.
Contoh:
∗ Dalam Kej 16:7,9,10,11 - disebut sebagai Malaikat TUHAN; tetapi
dalam Kej 16:13 disebut sebagai TUHAN sendiri.
Kej 16:7-13 - “(7) Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat
suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke
Syur. (8) Katanya: ‘Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu
dan ke manakah pergimu?’ Jawabnya: ‘Aku lari meninggalkan
Sarai, nyonyaku.’ (9) Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya:
‘Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di
bawah kekuasaannya.’ (10) Lagi kata Malaikat TUHAN itu
kepadanya: ‘Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu,
sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya.’ (11) Selanjutnya
kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: ‘Engkau mengandung dan
akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya
Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu
itu. (12) Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar,
demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap
orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat
kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.’ (13)
Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman
10

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

kepadanya itu dengan sebutan: ‘Engkaulah El-Roi.’ Sebab katanya:
‘Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?’”.
∗ Dalam Kej 22:11a - disebut sebagai ‘Malaikat TUHAN’; tetapi dalam
Kej 22:11b-12 - disebut sebagai ‘Tuhan’ / ‘Allah’ sendiri.
Kej 22:11-16 - “(11) Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit
kepadanya: ‘Abraham, Abraham.’ Sahutnya: ‘Ya, Tuhan.’ (12)
Lalu Ia berfirman: ‘Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapaapakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut
akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan
anakmu yang tunggal kepadaKu.’ (13) Lalu Abraham menoleh dan
melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya
tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu
mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. (14)
Dan Abraham menamai tempat itu: ‘TUHAN menyediakan’; sebab
itu sampai sekarang dikatakan orang: ‘Di atas gunung TUHAN,
akan disediakan.’ (15) Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat
TUHAN dari langit kepada Abraham, (16) kataNya: ‘Aku
bersumpah demi diriKu sendiri - demikianlah firman TUHAN -:
Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segansegan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu, ...”.
Sekalipun dalam ay 11 disebut sebagai ‘Malaikat TUHAN’, tetapi
dalam ay 11b disebut ‘Tuhan’ oleh Abraham. Dan dalam ay 15,
‘Malaikat TUHAN’ itu berseru, tetapi dalam ay 16 dikatakan ‘firman
TUHAN’.
Lalu dalam ay 16 Malaikat TUHAN itu bersumpah demi diriNya sendiri.
Bdk. Ibr 6:13,16,17 - “(13) Sebab ketika Allah memberikan janjiNya
kepada Abraham, Ia bersumpah demi diriNya sendiri, karena tidak
ada orang yang lebih tinggi dari padaNya, ... (16) Sebab manusia
bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi
suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. (17)
Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima
janji itu akan kepastian putusanNya, Allah telah mengikat diriNya
dengan sumpah,”.
Hanya Allah yang bersumpah demi diriNya sendiri, karena tidak ada
yang lebih tinggi dari Dia. Bdk. Kel 32:13 Yer 22:5 44:26 49:13 51:14
Amos 6:8.
Seorang malaikat biasa akan bersumpah demi nama Tuhan, bukan demi
dirinya sendiri / namanya sendiri (bdk. Daniel 12:7 Wah 10:5-6).
Jadi jelas bahwa Malaikat TUHAN itu adalah Tuhan / Allah sendiri.
Juga, dalam Kel 23:20-23, malaikat TUHAN ini mempunyai kuasa untuk
mengampuni dosa.
Kel 23:20-23 - “(20) ‘Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat
berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk
11

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan. (21) Jagalah
dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah
engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu tidak akan
diampuninya, sebab namaKu ada di dalam dia. (22) Tetapi jika engkau
sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala
yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan
melawan lawanmu. (23) Sebab malaikatKu akan berjalan di depanmu
dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris,
orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan
melenyapkan mereka”.
Ada 2 hal yang perlu dipersoalkan:
♦ Dari kata-kata ‘namaKu ada di dalam dia’, Adam Clarke menganggap
bahwa malaikat ini adalah Malaikat Perjanjian, yaitu Yesus Kristus
sendiri.
Semua ini menunjukkan bahwa Malaikat TUHAN itu adalah Allah /
TUHAN sendiri.
♦ Tentang kata-kata ‘pelanggaranmu tidak akan diampuninya’, Adam
Clarke memberikan komentar sebagai berikut:
Adam Clarke: “‘He will not pardon your transgressions.’He is not like
a man, with whom ye may think that ye may trifle, were he either man
or angel, in the common acceptation of the term, it need not be said,
He will not pardon your transgressions, for neither man nor angel
could do it” (= ‘Ia tidak akan mengampuni pelanggaranmu’ Ia
bukan seperti seorang manusia, dengan siapa engkau bisa berpikir /
menganggap bahwa engkau boleh menyepelekan; seandainya Ia
adalah manusia atau malaikat, dalam arti yang biasa diterima,
tidak perlu
dikatakan,
‘Ia
tidak akan
mengampuni
pelanggaranmu’, karena baik manusia maupun malaikat tidak bisa
melakukannya).
4) Penggunaan nama ‘TUHAN’ (YAHWEH / YEHOVAH) 3 x berturut-turut
dalam Bil 6:24-26 dan sebutan ‘kudus’ bagi Allah 3 x berturut-turut dalam
Yes 6:3 (bdk. Wah 4:8).
Bil 6:24-26 - “(24) TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
(25) TUHAN menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau
kasih karunia; (26) TUHAN menghadapkan wajahNya kepadamu dan
memberi engkau damai sejahtera”.
Yes 6:3 - “Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: ‘Kudus,
kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh
kemuliaanNya!’”.
Bdk. Wah 4:8 - “Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam,
sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan
tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: ‘Kudus, kudus,
12

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada
dan yang akan datang.’”.
Tidak anehkah bahwa ayat-ayat itu menyebutkan ‘TUHAN’ dan ‘kudus’
sebanyak 3 kali? Mengapa tidak 2 kali, atau 5 kali, atau 7 kali? Jelas karena
ada hubungannya dengan Allah Tritunggal!
5) Kata ‘esa’ / ‘satu’ dalam Ul 6:4.
Ul 6:4 - “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (YHWH) itu Allah kita
(ELOHEYNU), TUHAN (YHWH) itu esa!”.
Kata ‘esa / satu’ yang digunakan dalam Ul 6:4, dalam bahasa Ibraninya adalah
EKHAD.
Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan bahwa kata EKHAD ini berarti ‘satu yang
mutlak’ dan tidak mengandung kejamakan.
Untuk itu perhatikan kutipan dari buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’ di bawah ini:
“Kata-kata tersebut terdapat dalam Ulangan 6:4. New Jerusalem Bible
(NJB) Katolik berbunyi: ‘Dengarlah Israel: Yahweh Allah kita adalah esa,
satu-satunya Yahweh’. Dalam tatabahasa dari ayat itu kata ‘esa’ tidak
mengandung sifat jamak untuk menyatakan bahwa kata itu mempunyai
arti yang lain, yaitu bukan satu pribadi” (hal 13).
Tanggapan / Bantahan:
a) Pandangan / pernyataan Saksi Yehuwa bahwa kata EKHAD / ‘esa’ ini tidak
mengandung sifat jamak ini justru salah!
Kata EKHAD ini sering berarti ‘satu gabungan / a compound one’, bukan
‘satu yang mutlak / an absolute one’, dan itu akan saya buktikan dari
contoh-contoh di bawah ini:
• Kej 1:5 - “Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam.
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama (YOM
EKHAD)”.
Gabungan dari petang dan pagi membentuk satu (EKHAD) hari.
• Kej 2:24 - Adam dan Hawa menjadi satu (EKHAD) daging.
Kej 2:24 - “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya
dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya
menjadi satu daging”.
• Bil 13:23 - “Ketika mereka sampai ke lembah Eskol, dipotong
merekalah di sana suatu cabang dengan setandan buah anggurnya,
lalu berdualah mereka menggandarnya; juga mereka membawa
beberapa buah delima dan buah ara”.
13

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

‘Setandan buah anggur’, atau ‘satu (EKHAD) tandan buah anggur’.
Satu tandan buah anggur pasti terdiri dari banyak buah anggur.
• Hak 20:1,8,11 - “(1) Lalu majulah semua orang Israel; dari Dan
sampai Bersyeba dan juga dari tanah Gilead berkumpullah umat
itu secara serentak menghadap TUHAN di Mizpa. ... (8) Kemudian
bangunlah seluruh bangsa itu dengan serentak, sambil berkata:
‘Seorangpun dari pada kita takkan pergi ke kemahnya, seorangpun
dari pada kita takkan pulang ke rumahnya. ... (11) Demikianlah
orang Israel berkumpul melawan kota itu, semuanya bersekutu
dengan serentak”.
Semua kata-kata ‘dengan serentak’ terjemahan hurufiahnya adalah ‘as
one man’ (= seperti / sebagai satu orang), seperti dalam KJV, dan kata
‘satu’ menggunakan kata Ibrani EKHAD.
• Ezr 2:64 - “Seluruh jemaah itu bersama-sama ada empat puluh dua
ribu tiga ratus enam puluh orang”.
Seluruh jemaat itu satu (EKHAD) tetapi terdiri dari banyak orang.
(Catatan: kata ‘satu’ ini hanya bisa terlihat dalam bahasa Ibraninya).
• Yeh 37:17 - “Gabungkanlah keduanya menjadi satu papan, sehingga
keduanya menjadi satu dalam tanganmu”.
Dua papan digabung menjadi satu (EKHAD) papan.
b) Sebetulnya ada sebuah kata lain dalam bahasa Ibrani yang berarti ‘satu
yang mutlak’ atau ‘satu-satunya’. Kata itu adalah YAKHID.
Contoh:
Kej 22:2,16 - “(2) FirmanNya: ‘Ambillah anakmu yang tunggal itu,
yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan
persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu
gunung yang akan Kukatakan kepadamu.’ ... (16) kataNya: ‘Aku
bersumpah demi diriKu sendiri - demikianlah firman TUHAN - :
Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan
untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu”.
Kalau Musa memang mau menekankan tentang ‘kesatuan yang mutlak’
dari Allah dan bukannya ‘kesatuan gabungan’ (a compound unity), maka
dalam Ul 6:4 itu ia pasti menggunakan kata YAKHID dan bukannya
EKHAD. Tetapi ternyata Musa menggunakan kata EKHAD, dan ini
menunjukkan bahwa Allah itu tidak satu secara mutlak, tetapi ada
kejamakan dalam diri Allah.

Dalam Perjanjian Baru.
Perjanjian Baru memberikan pernyataan yang lebih jelas tentang pribadi-pribadi
yang berbeda dalam diri Allah.
14

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

1) Perjanjian Baru menunjukkan ketiga pribadi Allah itu dengan lebih jelas, dan
juga menyetarakan Mereka.
Yoh 5:31,32,37 - “(31) Kalau Aku bersaksi tentang diriKu sendiri, maka
kesaksianKu itu tidak benar; (32) ada YANG LAIN yang bersaksi tentang
Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikanNya tentang Aku
adalah benar. ... (37) Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi
tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suaraNya, rupaNyapun
tidak pernah kamu lihat”.
Yoh 5:31 menunjukkan Yesus sebagai saksi, dan Yoh 5:32,37a menunjukkan
Bapa sebagai ‘saksi yang lain’, dimana untuk kata-kata ‘yang lain’ digunakan
kata bahasa Yunani ALLOS.
Ada 2 kata bahasa Yunani yang berarti ‘yang lain (= another)’, yaitu ALLOS
dan HETEROS. Tetapi kedua kata ini ada bedanya.
W. E. Vine: “ALLOS ... denotes another of the same sort; HETEROS ...
denotes another of a different sort” (= ALLOS ... menunjuk pada ‘yang
lain’ dari jenis yang sama; HETEROS ... menunjuk pada ‘yang lain’ dari
jenis yang berbeda) - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’,
hal 52.
Illustrasi: Saya mempunyai satu gelas Aqua. Kalau saya menginginkan satu
gelas Aqua ‘yang lain’, yang sama dengan yang ada pada saya ini, maka saya
akan menggunakan ALLOS. Tetapi kalau saya menghendaki minuman ‘yang
lain’, misalnya Coca Cola, maka saya harus menggunakan HETEROS, bukan
ALLOS.
Jadi pada waktu Yesus disebut sebagai saksi, dan Bapa sebagai Saksi yang
lain, dan kata ‘yang lain’ itub menggunakan ALLOS, maka itu menunjukkan
bahwa Yesus mempunyai kwalitet / jenis yang sama dengan Bapa, dan ini
membuktikan bahwa Yesus adalah Allah!
Hal yang sama terjadi antara Yesus dan Roh Kudus. Yesus disebut
PARAKLETOS (1Yoh 2:1 - diterjemahkan ‘pengantara’), dan Roh Kudus
disebut PARAKLETOS yang lain (Yoh 14:16 - diterjemahkan ‘Penolong’). Di
sini untuk kata-kata ‘yang lain’ juga digunakan ALLOS, yang menunjukkan
bahwa Yesus dan Roh Kudus mempunyai jenis / kwalitet yang sama. Dengan
demikian Bapa, Anak, dan Roh Kudus mempunyai jenis / kwalitet yang sama,
dan semua ini bisa digunakan untuk mendukung doktrin Allah Tritunggal.
Memang di sini tidak terlihat kesatuan dari pribadi-pribadi itu, tetapi ini
dengan mudah bisa didapatkan dari ayat-ayat yang menunjukkan ketunggalan
Allah, seperti Ul 6:4 Mark 12:32 Yoh 17:3 1Tim 2:5 Yak 2:19 1Kor 8:4,
dsb, yang telah saya bahas di depan.
15

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

2) Kalau dalam Perjanjian Lama YAHWEH / YEHOVAH disebut sebagai
Penebus dan Juruselamat (Maz 19:15 78:35 Yes 43:3,11,14 47:4 49:7,26
60:16), maka dalam Perjanjian Baru, Anak Allah / Yesuslah yang disebut
demikian (Mat 1:21 Luk 1:76-79 Luk 2:11 Yoh 4:42 Gal 3:13 4:5 Tit 2:13).
3) Kalau dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa YAHWEH / YEHOVAH
tinggal di antara bangsa Israel dan di dalam hati orang-orang yang takut akan
Dia (Maz 74:2 Maz 135:21 Yes 8:18 Yes 57:15 Yeh 43:7,9 Yoel 3:17,21
Zakh 2:10-11), maka dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa Roh Kuduslah
yang mendiami Gereja / orang percaya (Kis 2:4 Ro 8:9,11 1Kor 3:16 Gal 4:6
Ef 2:22 Yak 4:5).
4) Perjanjian Baru memberikan pernyataan yang jelas tentang Allah yang
mengutus AnakNya ke dalam dunia (Yoh 3:16 Gal 4:4 Ibr 1:6 1Yoh 4:9),
dan tentang Bapa dan Anak yang mengutus Roh Kudus (Yoh 14:26 15:26
16:7 Gal 4:6).
5) Dalam Perjanjian Baru kita melihat Bapa berbicara kepada Anak (Mark 1:11)
dan Anak berbicara kepada Bapa (Mat 11:25-26 26:39 Yoh 11:41 12:27) dan
Roh Kudus berdoa kepada Allah dalam hati orang percaya (Ro 8:26).
6) Dalam Perjanjian Baru kita melihat ketiga pribadi Allah itu disebut dalam satu
bagian Kitab Suci.
• Mat 3:16-17 - “(16) Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan
pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti
burung merpati turun ke atasNya, (17) lalu terdengarlah suara dari
sorga yang mengatakan: ‘Inilah AnakKu yang Kukasihi,
kepadaNyalah Aku berkenan.’”.
• Mat 28:19 - “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu
dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.
• 1Kor 12:4-6 - “(4) Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. (5) Dan ada
rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. (6) Dan ada berbagai-bagai
perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya
dalam semua orang”.
• 2Kor 13:13 - “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah,
dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”. Dalam Kitab
Suci Inggris 2Cor 13:14.
• Ef 4:4-6 - “(4) satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah
dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam
panggilanmu, (5) satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, (6) satu Allah
dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di
dalam semua”.
16

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

• 1Pet 1:2a - “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana
Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada
Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya”.
• Wah 1:4-5 - “(4) Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia
Kecil: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia,
yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh
roh yang ada di hadapan takhtaNya, (5) dan dari Yesus Kristus, Saksi
yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang
berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan
yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darahNya”.
Catatan: satu hal yang perlu diperhatikan dalam ayat-ayat di atas ini adalah
bahwa urut-urutannya tidak selalu Bapa sebagai yang pertama, Anak / Yesus
sebagai yang kedua, dan Roh Kudus sebagai yang ketiga. Urut-urutan dbolakbalik, dan ini menunjukkan kesetaraan Mereka. Kalau Bapa memang lebih
tinggi dari Anak, maka adalah mustahil bahwa Yesus kadang-kadang ditulis
lebih dulu dari Bapa, dan kalau Roh Kudus hanya sekedar merupakan ‘tenaga
aktif Allah’, maka juga merupakan sesuatu yang mustahil bahwa ‘tenaga aktif
Allah’ itu ditulis lebih dulu dari Allahnya sendiri.
Untuk ini ada komentar / serangan dari Saksi Yehuwa dalam buku ‘Haruskah
anda percaya kepada Tritunggal?’:
♦ “Apakah ayat-ayat ini menyatakan bahwa Allah, Kristus, dan roh
kudus membentuk suatu Keilahian Tritunggal, bahwa ketiganya sama
dalam bentuk, kekuasaan, dan kekekalan? Tidak, tidak demikian,
sama halnya menyebutkan tiga orang, seperti Amir, Budi dan Bambang, tidak berarti bahwa mereka tiga dalam satu” (hal 23).
♦ “Ketika Yesus dibaptis, Allah, Yesus, dan roh kudus juga disebutkan
dalam konteks yang sama. Yesus ‘melihat roh Allah seperti burung
merpati turun ke atasNya’ (Matius 3:16). Tetapi, ini tidak berarti
bahwa ketiganya adalah satu. Abraham, Ishak, dan Yakub banyak kali
disebutkan bersama-sama, tetapi hal itu tidak membuat mereka
menjadi satu. Petrus, Yakobus dan Yohanes disebutkan bersama-sama,
tetapi itu tidak membuat mereka menjadi satu juga” (hal 23).
Dan dalam buku mereka yang lain mereka juga mengatakan: “Bandingkan
1Timotius 5:21, yang menyebut Allah, Kristus dan malaikat-malaikat
bersama-sama” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 403.
1Tim 5:21 - “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat
pilihanNya kupesankan dengan sungguh kepadamu: camkanlah petunjuk
ini tanpa prasangka dan bertindaklah dalam segala sesuatu tanpa
memihak”.

17

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

Tanggapan / Bantahan:
Kita bisa menjawab serangan ini dengan berkata:
a) Jelas bahwa doktrin Allah Tritunggal tidak bisa didapatkan seluruhnya dari
ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat itu hanyalah salah satu dasar dari doktrin
Allah Tritunggal, sehingga kalau kita hanya menyoroti ayat-ayat itu saja,
maka mungkin sekali memang tidak bisa dihasilkan doktrin Allah
Tritunggal!
b) Memang adanya tiga nama yang disebutkan bersama-sama tidak
membuktikan bahwa mereka itu satu. Bahkan tidak selalu membuktikan /
menunjukkan bahwa mereka setingkat. Tetapi dalam kasus-kasus tertentu, 3
nama yang diletakkan berjajar bisa menunjukkan bahwa mereka setingkat.
Misalnya kalau dikatakan ada konperensi tingkat tinggi 3 negara, maka
kalau negara yang satu mengirimkan kepala negara, maka pasti kedua
negara yang lain juga demikian. Kalau negara yang satu mengirim menteri
luar negeri, maka pasti kedua negara yang lain juga demikian. Jadi, kadangkadang penyejajaran tiga nama memang bisa menunjukkan bahwa tiga
orang itu setingkat. Itu tergantung dari kontexnya; dan karena itu harus
dipertanyakan: dalam situasi dan keadaan apa ketiga pribadi itu disebutkan
bersama-sama?
Dalam ayat-ayat di atas, Bapa, Anak, dan Roh Kudus disebutkan dalam
kontext yang sakral, seperti formula baptisan (Mat 28:19), berkat kepada
gereja Korintus (2Kor 13:13), baptisan Yesus (Mat 3:16-17), dsb. Karena
itu ayat-ayat itu bisa dipakai sebagai dasar untuk menunjukkan bahwa
Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu setingkat.
c) Dalam Mat 28:19 dikatakan ‘dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh
Kudus’.
Sesuatu yang menarik adalah: sekalipun di sini disebutkan 3 buah nama,
tetapi kata ‘nama’ itu ada dalam bentuk tunggal, bukan bentuk jamak!
Dalam bahasa Inggris diterjemahkan name (bentuk tunggal), bukan names
(bentuk jamak). Karena itu ayat ini bukan hanya menunjukkan bahwa
ketiga Pribadi itu setingkat, tetapi juga menunjukkan bahwa ketiga Pribadi
itu adalah satu!
7) Kontroversi tentang 1Yoh 5:7-8.
Ada satu ayat Kitab Suci / Perjanjian Baru yang berbicara tentang kesatuan
dari tiga pribadi Allah itu, yaitu 1Yoh 5:7-8 yang berbunyi: “Sebab ada tiga
yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus;
dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di
bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu”.

18

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

Tetapi perlu diketahui bahwa ayat ini, pada bagian yang ada dalam tanda
kurung tegak, sangat diragukan keasliannya, dan dianggap sebagai suatu
penambahan pada text asli Kitab Suci. Persoalannya, ada banyak manuscript
yang tidak mempunyai bagian ini. Dan manuscript-manuscript yang
mempunyai bagian ini hanyalah manuscript-manuscript yang kurang bisa
dipercaya. Karena itu, dalam beberapa Kitab Suci bahasa Inggris, seperti NIV
dan NASB, bagian ini bahkan dihapuskan dari text Kitab Suci dan hanya
diletakkan pada footnote (= catatan kaki).
Dalam berdebat / berdiskusi dengan Saksi-Saksi Yehuwa tentang Allah
Tritunggal, jangan menggunakan bagian ini sebagai dasar dari Allah
Tritunggal, karena:
• Pada umumnya Saksi-Saksi Yehuwa, yang terkenal ‘ahli’ dalam hal
menyerang doktrin Allah Tritunggal, mengetahui bahwa ayat itu sangat
diragukan keasliannya. Jadi kalau saudara menggunakan ayat itu, itu bisa
justru menjadi bumerang bagi saudara!
• Tidak fair bagi kita untuk menggunakan ayat yang kita tahu ketidakorisinilannya.
• Dalam perang melawan setan, Firman Tuhan adalah senjata (pedang Roh)
bagi kita (Ef 6:17). Kalau bagian ini sebetulnya tidak termasuk dalam Kitab
Suci, maka itu berarti bahwa bagian itu juga bukan merupakan Firman
Tuhan, dan karenanya tidak cocok untuk kita gunakan sebagai senjata.
• Ada cukup banyak dasar Kitab Suci yang lain yang mendukung doktrin
Allah Tritunggal, yang bisa kita gunakan, untuk menegaskan dan membela
doktrin ini.

Kesimpulan:
Dalam Kitab Suci ada ayat-ayat yang menunjukkan ketunggalan Allah dan juga
ada ayat-ayat yang menunjukkan ‘kejamakan Allah’. Ada 2 sikap extrim yang
salah dalam persoalan ini:
1) Terlalu menekankan ‘kejamakan dalam diri Allah’ dan mengabaikan
‘kesatuanNya’.
Ini menjadi Tritheisme (= kepercayaan kepada tiga Allah). Ini salah, karena
mengabaikan ketunggalan Allah, berarti mengabaikan sebagian dari Kitab
Suci.
2) Menekankan ‘kesatuan Allah’ dan membuang / mengabaikan ‘kejamakan
dalam diri Allah’.
Kita tidak bisa hanya menyoroti ayat-ayat yang menunjukkan ketunggalan
Allah, dan lalu mengatakan bahwa Allah itu tunggal secara mutlak. Karena
19

Doktrin Allah Tritunggal – Pdt. Budi Asali, M.Div.

kalau kita melakukan hal itu, lalu apa yang akan kita lakukan dengan ayat-ayat
yang menunjukkan adanya kejamakan dalam diri Allah? Membuangnya?
Mengabaikannya? Ini tentu tidak mungkin dilakukan oleh orang yang
mempercayai Kitab Suci sebagai Firman Tuhan!
Orang-orang yang sungguh-sungguh percaya pada Kitab Suci harus
memperhatikan kedua kelompok ayat ini, dan doktrin Allah Tritunggal merupakan
satu-satunya jalan untuk mengharmoniskan kedua grup ayat tersebut. Kalau kita
mau menerima doktrin Allah Tritunggal, maka kita bisa mengharmoniskan kedua
golongan ayat tersebut. Kalau kita menolak doktrin Allah Tritunggal, ini berarti
kita harus menghadapi kontradiksi yang tidak mungkin bisa diharmoniskan dalam
Kitab Suci! Yang mana yang menjadi pilihan saudara?

-o0oPengutipan dari artikel ini harus mencantumkan:
Dikutip dari
http://www.geocities.com/thisisreformedfaith/artikel/allahtritunggal.html

20