P. 1
hidrosefalus

hidrosefalus

|Views: 7,230|Likes:
Published by dr izzul

More info:

Published by: dr izzul on Mar 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2013

pdf

text

original

MODUL ORGAN TUMBUH KEMBANG

HIDROSEFALUS
KELOMPOK 4 MARIO SURJAWINATA NATHASHA ADJANI RIRIN RINANTI RONALDO SIMAMORA AMANDA PRAHASTIANTI ANINDITA JUWITA P ANISA DESTYA RAHMASARI DEWI SEYIOWATIWIDJOJO DIAH PERMATA KINANTI HANA HASNAN HABIB HENDIANTO HANISAH BINTI IDRIS IZNI NUR FATIHAH BT SALLE IZZUL AKMAL BIN KADARUSMAN 030.06.156 030.06.176 030.06.220 030.06.229 030.08.020 030.08.031 030.08.032 030.08.076 030.08.078 030.08.112 030.08.115 030.08.116 030.08.272 030.08.273 030.08.274

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA, 30 November 2009

1

I. PENDAHULUAN
Epilepsi didefinisikan sebagai suatu sindrom yang ditandai oleh gangguan fungsi otak yang bersifat sementara dan paroksismal, yang memberi manifestasi berupa gangguan, atau kehilangan kesadaran, gangguan motorik, sensorik, psikologik, dan sistem otonom, serta bersifat episodik. Defisit memori adalah masalah kognitif yang paling sering terjadi pada pederita epilepsy. Setiap orang punya resiko satu di dalam 50 untuk mendapat epilepsi. Pengguna narkotik dan peminum alkohol punya resiko lebih tinggi. Pengguna narkotik mungkin mendapat seizure pertama karena menggunakan narkotik, tapi selanjutnya mungkin akan terus mendapat seizure walaupun sudah lepas dari narkotik.Di Inggris, satu orang diantara 131 orang mengidap epilepsi. Epilepsi dapat menyerang anak-anak, orang dewasa, para orang tua bahkan bayi yang baru lahir. Angka kejadian epilepsi pada pria lebih tinggi dibandingkan pada wanita, yaitu 1-3% penduduk akan menderita epilepsi seumur hidup. Di Amerika Serikat, satu di antara 100 populasi (1%) penduduk terserang epilepsi, dan kurang lebih 2,5 juta di antaranya telah menjalani pengobatan pada lima tahun terakhir. Hidrosefalus adalah dimana terjadi penimbunan cairan selebropinalis pada ventrikel otak, sehingga kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun yang Penyumbatan sering terdapat pada bayi dan anak karena kelainan bawaan, infeksi, neoplasma, atau perdarahan.

Penyumbatan mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal yang tidak terabsorbsi sehingga menyebabkan kepala menjadi besar.Jumlah kasus hidrosefalus antara 0,2 - 4 persen setiap 1.000 kelahiran. Hidrosefalus dapat terjadi pada semua umur. Pada remaja dan dewasa lebih sering disebabkan oleh toksoplasmosis. Pada hidrosefalus infantil, 46% adalah akibat abnormalitas perkembangan otak, 50% karena perdarahan dan meningitis, serta kurang dari 4% akibat tumor fossa posterior. Apabila

2

dicermati, terlihat bahwa dari tahun ke tahun, insiden (kasus baru) maupun prevalensi antara kasus lama dan kasus baru relatif tidak bertambah. usat saraf yang vital.

II. TINJAUAN PUSTAKA
HIDROSEFALUS(1,2,5) Hidrosefalus adalah suatu keadaan dimana terjadi penambahan volume dari cairan serebrospinal (CSS) di dalam ruangan ventrikel dan ruangan sub arakhnoid. Keadaan ini disebabkan oleh karena terdapat produksi cairan serebrospinal yang berlebihan, obstruksi jalur cairan cerebrospinal maupun gangguan absorpsi cairan serebrospinal. Ada dua jenis hidrosefalus yaitu hidrosefalus nonkomunikans dan hidrosefalus komunikans. Hidrosefalus nonkomunikans/hidrosefalus obstruktif merupakan masalah bedah saraf pediatrik yang paling sering ditemukan dan biasanya mulai timbul segera setelah lahir, hidrosefalus obstruktif biasanya disebabkan oleh kelainan kongenital.Hidrosefalus komunikans dimana aliran cairan dari sistem ventrikel ke ruang sub arakhnoid tidak mengalami sumbatan, biasanya terjadi karena lebih banyak produksi CSS dibanding direabsorpsi. Embriologi Pada umur kehamilan 35 hari terlihat pleksus khoroidalis sebagai invaginasi mesenkhimal dari atap ventrikel IV, lateralis dan ventrikel III. Pada saat kehamilan 50 hari sudah mulai terjadi sirkulasi CSS secara normal, bersamaan dengan tiga peristiwa penting, yakni; perforasi atap ventrikel IV oleh proses aktif diferensiasi, berkembangnya fungsi sekresi pleksus khoroidalis dan terbentuknya ruang subarakhnoid.(3,4,6) Fisiologi Cairan Serebrospinal (CSS) Sebagian besar (80-90%) CSS dihasilkan oleh pleksus khoroidalis pada ventrikel lateralis sedangkan sisanya (10-20%) di ventrikel III, ventrikel IV, juga melalui 3

difusi pembuluh-pembuluh ependim dan piamater. Proses pembentukan CSS melalui dua tahap, yaitu: Tahap ke I; Pembentukan ultrafiltrat plasma oleh tekanan hidrostatika, melalui celah endotel kapiler koroid di dalam stroma jaringan ikat di bawah epitel vili. Tahap ke II; perubahan ultrafiltrat plasma ke dalam bentuk sekresi oleh proses metabolisme aktif di dalam epitel khoroid. Mekanisme dari proses ini belum diketahui secara pasti, tetapi diduga merupakan aktivasi pompa Na-K-ATPase dengan bantuan enzim karbonik anhidrase. Kecepatan pembentukan CSS 0,3-0,4 cc/menit atau antara 0,2-0,5% volume total per menit dan ada yang menyebut 14-38 cc/jam. Sekresi total CSS adalah 150 cc, berarti dalam 1 hari terjadi pertukaran atau pembaharuan dari CSS sebanyak 4-5 kali/hari. Pada neonatus jumlah total CSS berkisar 20-50 cc dan akan meningkat sesuai usia sampai mencapai 150 cc pada orang dewasa.(2,5,7) Pada hakekatnya susunan CSS sama seperti cairan interselular otak, ventrikel dan ruang subarakhnoid. CSS setelah diproduksi oleh pleksus khoroideus pada ventrikel lateralis akan mengalir ke ventrikel III melalui foramen Monroe. Selanjutnya melalui akuaduktus serebri (Sylvius) menuju ventrikel IV. Dari ventrikel IV sebagian besar CSS dialirkan melalui foramen Luschka dan Magendie menuju ruang subarakhnoid, setinggi medulla oblongata dan hanya sebagian kecil CSS yang menuju kanalis sentralis. Dalam ruang subarakhnoid CSS selanjutnya menyebar ke segala arah untuk mengisi ruang subarakhnoid, serebral maupun spinal. Absorpsi CSS dilakukan oleh vili-vili arakhnoid yang jumlahnya sangat banyak pada permukaan hemisferium serebri, basis serebri dan sekeliling radiks nervi spinalis.(4,5,6) Patofisiologi(13,14,15) Pada prinsipnya hidrosefalus terjadi sebagai akibat dari ketidak seimbangan antara 4

produksi, obstruksi dan absorpsi dari CSS. Adapun keadaan-keadaan yang dapat mengakibatkan terjadinya ketidak seimbangan tersebut adalah: 1. Disgenesis serebri 46% hidrosefalus pada anak akibat malformasi otak dan yang terbanyak adalah malformasi Arnold-Chiary. Berbagai malformasi serebral akibat kegagalan dalam proses pembentukan otak dapat menyebabkan penimbunan CSS sebagai kompensasi dari tidak terdapatnya jaringan otak. Salah satu contoh jelas adalah hidroanensefali yang terjadi akibat kegagalan pertumbuhan hemisferium serebri. 2. Produksi CSS yang berlebihan Ini merupakan penyebab hidrosefalus yang jarang terjadi. Penyebab tersering adalah papiloma pleksus khoroideus, hidrosefalus jenis ini dapat disembuhkan. 3. Obstruksi aliran CSS Sebagian besar kasus hidrosefalus termasuk dalam kategori ini. Obstruksi dapat terjadi di dalam atau di luar sistem ventrikel. Obstruksi dapat disebabkan beberapa kelainan seperti: perdarahan subarakhnoid post trauma atau meningitis, di mana pada kedua proses tersebut terjadi inflamasi dan eksudasi yang mengakibatkan sumbatan pada akuaduktus Sylvius atau foramina pada ventrikel IV. Sisterna basalis juga dapat tersumbat oleh proses arakhnoiditis yang mengakibatkan hambatan dari aliran CSS. Tumor fossa posterior juga dapat menekan dari arah belakang yang mengakibatkan arteri basiliaris dapat menimbulkan obstruksi secara intermiten, di mana obstruksi tersebut berhubungan dengan pulsasi arteri yang bersangkutan. 4. Absorpsi CSS berkurang Kerusakan vili arakhnoidalis dapat mengakibatkan gangguan absorpsi CSS, selanjutnya terjadi penimbunan CSS. Keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan kejadian tersebut adalah: Post meningitis Post perdarahan subarakhnoid Kadar protein CSS yang sangat tinggi 5. Akibat atrofi serebri Bila karena sesuatu sebab terjadinya atrofi serebri, maka akan timbul penimbunan CSS yang merupakan kompensasi ruang terhadap proses atrofi tersebut. Terdapat beberapa tempat yang merupakan predileksi terjadinya hambatan aliran 5

CSS : 1. Foramen Interventrikularis Monroe Apabila sumbatan terjadi unilateral maka akan menimbulkan pelebaran ventrikel lateralis ipsilateral. 2. Akuaduktus Serebri (Sylvius) Sumbatan pada tempat ini akan menimbulkan pelebaran kedua ventrikel lateralis dan ventrikel III. 3. Ventrikel IV Sumbatan pad aventrikel IV akan menyebabkan pelebaran kedua ventrikel lateralis, dan ventrikel III dan akuaduktus serebri. 4. Foramen Mediana Magendie dan Foramina Lateralis Luschka Sumbatan pada tempat-tempat ini akan menyebabkan pelebaran pada kedua ventrikel lateralis, ventrikel III, akuaduktus serebri dan ventrikel IV. Keadaan ini dikenal sebagai sindrom Dandy-Walker. 5. Ruang Sub Arakhnoid di sekitar medulla-oblongata, pons, dan mesensefalon Penyumbatan pada tempat ini akan menyebabkan pelebaran dari seluruh sistem ventrikel. Akan tetapi apabila obstruksinya pada tingkat mesensefalon maka pelebaran ventrikel otak tidak selebar seperti jika obstruksi terjadi di tempat lainnya. Hal ini terjadi karena penimbunan CSS di sekitar batang otak akan menekan ventrikel otak dari luar. Gambaran klinis Gejala yang menonjol pada hidrosefalus adalah bertambah besarnya ukuran lingkar kepala anak dibanding ukuran normal. Di mana ukuran lingkar kepala terus bertambah besar, sutura-sutura melebar demikian juga fontanela mayor dan minor melebar dan menonjol atau tegang. Beberapa penderita hidrosefalus kongenital dengan ukuran kepala yang besar saat dilahirkan sehingga sering mempersulit proses persalinan, bahkan beberapa kasus memerlukan operasi seksio sesaria. Tetapi sebagian besar anak-anak dengan hidrosefalus tipe ini dilahirkan dengan ukuran kepala yang normal. Baru pada saat perkembangan secara cepat terjadi perubahan proporsi ukuran kepalanya. Akibat penonjolan lobus frontalis, bentuk kepala cenderung menjadi brakhisefalik, kecuali pada sindrom Dandy-Walker di 6

mana kepala cenderung berbentuk dolikhosefalik, karena desakan dari lobus oksipitalis akibat pembesaran fossa posterior. Sering dijumpai adanya “Setting Sun Appearance / Sign”, yaitu adanya retraksi dari kelopak mata dan sklera menonjol keluar karena adanya penekanan ke depan bawah dari isi ruang orbita, serta gangguan gerak bola mata ke atas, sehingga bola mata nampak seperti matahari terbenam.(1,3,4,5,6,15) Kulit kepala tampak tipis dan dijumpai adanya pelebaran vena-vena subkutan. Pada perkusi kepala anak akan terdengar suara “cracked pot”, berupa seperti suara kaca retak. Selain itu juga dijumpai gejala-gejala lain seperti gangguan tingkat kesadaran, muntah-muntah, retardasi mental, kegagalan untuk tumbuh secara optimal.(1,3,5,6,14,15) Pada pasien-pasien tipe ini biasanya tidak dijumpai adanya papil edema, tapi pada tahap akhir diskus optikus tampak pucat dan penglihatan kabur. Secara pelan sikap tubuh anak menjadi fleksi pada lengan dan fleksi atau ekstensi pada tungkai. Gerakan anak menjadi lemah, dan kadang-kadang lengan jadi gemetar.(2,4)

KEJANG(3,4,5) Bangkitan kejang merupakan satu manifestasi klinis daripada lepas muatan listrik yang berlebihan di sel neuron saraf pusat. Keadaan ini merupakan gejala terganggunya fungsi otak. Gangguan ini dapat disebabkan oleh factor fisiologis, biokimiawi, anatomis atau gabungan factor tersebut. Tiap-tiap penyakit atau kelainan yang dapat menganggu fungsi otak, dapat menyebabkan timbulnya bangkitan kejang. Dengan demikian dapatlah difahami bahwa bangkitan kejang dapat disebabkan oleh banyak penyakit atau kelainan di antaranya adalah trauma lahir, trauma kapitis, radang otak, tumor otak, perdarahan otak, gangguan peredaran darah, hipoksia, anomaly congenital otak. Manifestasi bangkitan kejang dapat bermacam-macam, dari yang ringan sampai rasa tidak enak di perut sampai kepada yang berat(kesadaran menghilang disertai kejang tonikklonik). Semua ini bergantung kepada sel-sel neuron mana dalam otak yang teransang dan sampai berapa luas rangsangan ini menjalar. Patofisiologi 7

Bahan baku untuk metabolism otak adalah glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dimana oksigen disediakan dengan peantaraan fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui system kardiovaskuler. Jadi sumber energy otak adalah glokusa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh suatu membrane yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionic. Dalam keadaan normal membrane sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion Kalium (K+) dan sangat sulit dilakukan oleh ion Natrium (Na+) dan electron lainnya, kecuali ion Klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terda[at keadaan sebaliknya. Kerana perbedaan jenis dan konsentrasi ion di salam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membrane dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membrane ini diperlukan energy dan bantuan enzim Na-K-ATPaseyang terdapat pada permukaan sel.(7,10,15) Manifestasi klinis Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakannyabersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tnggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsillitis, otitis media okuta, bronchitis, furunkolosis dan lain-lain. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak member reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf.(8,9,12)

8

III.

LAPORAN KASUS
Sesi 1 Lembar 1 Seorang anak laki-laki 2 tahun dibawa oleh ibunya ke puskesmas karena kejangkejang. Sesi 1 Lembar 2

Pasien adalah anak terkecil dari 5 bersaudara, ayahnya bekerja sebagai supir angkot. Pasien lahir di bidan setelah kehamilan 8 bulan, berat lahir 2100 gram, tidak langsung menangis, menolak dirujuk ke rumah sakit. Anak jarang dibawa ke Posyandu. Sejak usia 6 bulan anak mengalami mengalami kejang bila sakit demam. Kejang sekali 10 menit pada saat suhu tubuh mulai demam. Perkembangan anak dikatakan normal, sudah bias berjalan, sampai saat umur 13 bulan, saaat anak mengalami panas tinggi, kejang-kejang sampai lama dan tidak sedar. Pasien dirawat di rumah 10 hari, setelah pulang tampak lemah, tidak bias berdiri dan berjalan, sering kejang seluruh tubuh tanpa disertai demam. Ibunya menyatakan anaknya semakin kurus tapi bertambah berat dan kepalanya makin membesar. Sesi 2

9

10

IV. PEMBAHASAN

 Identitas pasien Nama Umur Alamat Pekerjaan  Anamnesis Keluhan utama Keluhan tambahan : Sering mengalami kejang tanpa disertai demam : tampak lemah, tubuh semakin kurus tetapi berat : : : : Anak X 13 bulan laki-laki (perlu ditanyakan ventilasi keadaan lingkungan) tidak bekerja

Jenis kelamin :

bertamah,kepala semakin membesar  Anamnesis tambahan o Riwayat penyakit sekarang : Kejang seluruh tubuh tanpa demam Tidak bisa berdiri dan berjalan Semakin kurus tetapi berat bertambah Kepala makin membesar

o Riwayat Keluarga : o Riwayat penyakit dahulu : Demam disertai kejang sejak berumur 6 bulan Kejang sekali kira-kira 10 menit Saat berumur 13 bulan : Demam panas tinggi,kejang-kejang sampai lama dan tidak sadar Dirawat di rumah sakit selama 10 hari

o Riwayat perinatal : Lahir premature( usia kehamilan 8 bulan ) BBLR(berat badan lahir rendah): 2100 gram Tidak langsung menangis 11

o Riwayat tumbuh kembang : Perkembangan normal sampai umur 13 bulan Setelah dirawat di rumah sakit selama 10 hari, tubuh semakin kurus tetapi berat badan bertambah  Pemeriksaan Fisik o Keadaan Umum: normal o Tanda vital: normal o Inspeksi: 1. 2. 3. 4. 5. besarnya ukuran lingkar kepala anak dibanding ukuran normal sutura-sutura melebar fontanela mayor dan minor melebar dan menonjol atau tegang bentuk kepala brakhisefalik (akibat penonjolan lobus frontalis) “Setting Sun Appearance / Sign”, yaitu adanya retraksi dari kelopak mata dan sklera menonjol keluar karena adanya penekanan ke depan bawah dari isi ruang orbita 6. gangguan gerak bola mata ke atas, sehingga bola mata nampak seperti matahari terbenam 7. Kulit kepala tampak tipis dan dijumpai adanya pelebaran vena-vena subkutan.

o Palpasi o Perkusi: Pada perkusi kepala anak akan terdengar suara “cracked pot”, berupa seperti suara kaca retak. o Auskultasi o Pemeriksaan neurologi: tubuh anak menjadi fleksi pada lengan dan fleksi atau ekstensi pada tungkai. Gerakan anak menjadi lemah, dan kadang-kadang lengan jadi gemetar  Pemeriksaan penunjang(7,9,10) o Rontgen foto kepala Dengan prosedur ini dapat diketahui: a. Hidrosefalus tipe kongenital/infantile, yaitu: ukuran kepala, adanya pelebaran sutura, tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial kronik berupa imopressio digitate dan erosi prosessus klionidalis posterior. 12

o Transimulasi Syarat untuk transimulasi adalah fontanela masih terbuka, pemeriksaan ini dilakukan dalam ruangan yang gelap setelah pemeriksa beradaptasi selama 3 menit. Alat yang dipakai lampu senter yang dilengkapi dengan rubber adaptor. Pada hidrosefalus, lebar halo dari tepi sinar akan terlihat lebih lebar 1-2 cm.

o

Lingkaran kepala Diagnosis hidrosefalus pada bayi dapat dicurigai, jika penambahan lingkar kepala melampaui satu atau lebih garis-garis kisi pada chart (jarak antara dua garis kisi 1 cm) dalam kurun waktu 2-4 minggu. Pada anak yang besar lingkaran kepala dapat normal hal ini disebabkan oleh karena hidrosefalus terjadi setelah penutupan suturan secara fungsional. Tetapi jika hidrosefalus telah ada sebelum penutupan suturan kranialis maka penutupan sutura tidak akan terjadi secara menyeluruh.

o

Ventrikulografi Yaitu dengan memasukkan konras berupa O2 murni atau kontras lainnya dengan alat tertentu menembus melalui fontanela anterior langsung masuk ke dalam ventrikel. Setelah kontras masuk langsung difoto, maka akan terlihat kontras mengisi ruang ventrikel yang melebar. Pada anak yang besar karena fontanela telah menutup untuk memasukkan kontras dibuatkan lubang dengan bor pada kranium bagian frontal atau oksipitalis. Ventrikulografi ini sangat sulit, dan mempunyai risiko yang tinggi. Di rumah sakit yang telah memiliki fasilitas CT Scan, prosedur ini telah ditinggalkan.

o

Ultrasonografi Dilakukan melalui fontanela anterior yang masih terbuka. Dengan USG diharapkan dapat menunjukkan system ventrikel yang melebar. Pendapat lain mengatakan pemeriksaan USG pada penderita hidrosefalus ternyata tidak mempunyai nilai di dalam menentukan keadaan sistem ventrikel hal ini disebabkan oleh karena USG tidak dapat menggambarkan anatomi sistem ventrikel secara jelas, seperti halnya pada pemeriksaan CT Scan.

13

o CT Scan kepala Pada hidrosefalus obstruktif CT Scan sering menunjukkan adanya pelebaran dari ventrikel lateralis dan ventrikel III. Dapat terjadi di atas ventrikel lebih besar dari occipital horns pada anak yang besar. Ventrikel IV sering ukurannya normal dan adanya penurunan densitas oleh karena terjadi reabsorpsi transependimal dari CSS. Pada hidrosefalus komunikans gambaran CT Scan menunjukkan dilatasi ringan dari semua sistem ventrikel termasuk ruang subarakhnoid di proksimal dari daerah sumbatan.

Diagnosis kerja dari kasus ini adalah hidrosefalus dengan gejala klinis yang mendukung diagnosis adalah: kepala membesar,kejang seluruh tubuh tanpa demam Penatalaksanaan(6,11) Informasi, edukasi yang harus diberikan o Diberikan pengarahan dan edukasi tentang pelaksanaan apa yang dapat dilakukan pada anak dan pilihan apa sahaja yang dapat dipilih oleh orang tua. o Rawatan susulan kepada anak setelah menjalankan terapi operatif untuk mencegah berlaku komplikasi.Contohnya seperti infeksi. o Gejala kejang hendaklah ditangani dengan secepatnya agar anak tidak mengalami kecederaan neurologis yang parah. o Obat- obatan yang perlu diambil dan efek samping yang terdapat pada obat tersebut diedukasikan kepada orang tua. Pentalaksaan gizi o Pasien diberi asupan makanan yang tinggi kalori dan tinggi protein karena pasien masih lagi sedang bertumbuh kembang pada kadar yang cepat. Terapi medikamentosa : o Asetazolamid- dosis: 2mg/kgbb/hr,diberikan 3 kali dosis Obat ini diberikan untuk mengurangi cairan. 14

o Furosemid – 1 mg/kgbb/hr,diberikan 3 hingga 4 kali dosis Fungsi : Memobilasi cairan ekstrasel dengan menghambat reabsorbsi Na dan air Efek samping : lemah,haus,konstipasi,pandangan kabur o Diazepam (per oral) – 0,3mg/kg BB/kali Fungsi :Menghambat gejala kejang pada tubuh Efek samping diazepam – mengantuk, hipotensi, penekana pusat pernapasan, laringospasme dan henti jantung. Terapi Operatif o Ventikuloperitoneal,ventikulosisternotomi Operasi pintas bertujuan membuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavitas drainase. Pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah rongga peritoneum. Biasanya cairan serebrospinalis didrainase dari ventrikel, namun kadang pada hidrosefalus komunikans ada yang didrain ke rongga subarakhnoid lumbar. Rehabilitasi medis o Pada masalah kejang dilakukan untuk mengatasi masalah nyeri dan kejang otot, di samping untuk memperluas lingkup gerak sendi

PROGNOSIS Keberhasilan tindakan operatif serta prognosis hidrosefalus ditentukan ada atau tidaknya anomali yang menyertai, mempunyai prognosis lebih baik dari hidrosefalus yang bersama dengan malformasi lain (hidrosefalus komplikata). Prognosis pada kasus ini dubia ad bonam jika anak harus diberikan tindak lanjut dengan kelompok multidisipliner supaya anak ini dapat meneruskan kehidupan dengan baik walaupun mungkin disertai gangguan perkembangan kognitif dan fisik akibat komplikasi sakit kejang dan hidrosefalus.

15

V. KESIMPULAN
Anak ini lahir secara prematur dan BBLR( berat badan lahir rendah). Anak ini juga jarang dibawa ke posyandu. Berdasarkan riwayat perinatal dan imunisasi, pasien ini mungkin memiliki daya tahan tubuh badan yang rendah karena pasien ini sering mengalami kejang apabila demam walaupun perkembangan anak ini normal. Pada umur 13 bulan, karena demam tinggi yang tidak ditangani mungkin telah menyebabkan berlakunya infeksi pada tubuh anak ini menyebabkan kejang sampai lama dan hilang kesadaran lalu infeksi ini mengarah kepada komplikasi hidrosefalus. Komplikasi hidrosefalus berdasarkan kepala anak yang semakin membesar dan tubuh yang semakin kurus tetapi bertambah berat. Hidrosefalus dikonformasikan dengan menjalankan pemeriksaan penunjang hidrosefalus lalu ini. penatalaksanaan kejang dan hidrosefalus diberikan berdasarkan etiologi penyakit anak

Anak ini perlu menerima terapi rehabilitasi karena tidak bisa berjalan dan berdiri serta untuk mencegah masalah perkembangan fisik dan mental anak ini pada masa hadapan sesudah operasi dijalankan.

16

VI.

DAFTAR PUSTAKA

1. Manuaba, I.B.G. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan. Buku kedokteran EGC, Jakarta. 2. Ilmu Kesehatan Anak, Edisi I, Jakarta 3. Haws, paulette s. 2008.”Asuhan neonatal rujukan cepat”.Jakarta: EGC 4. Subekti, nike budhi. 2007. “Buku saku managemen masalah BBL”. Jakarta : EGC 5. Surasmi, asriningsih dkk. 2003. “Perawatan bayi resiko tinggi”. Jakarta : EGC 6. Kapita Selekta Kedokteran. 2001. Jakarta : Media Aesculapius FKUI 7. Hasan, Rupseno, 1985, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak II, Jakarta, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI. 8. Nelhaus, G. Stumpf, D.A. Moe, P.G.,1999, Neurological and Neuromusculer Disorder, Current Pediatric Diagnosis, Hinth ed. 9. Price, S.A., 1998, Patofisiologi Konsep Klimik Prose-proses Penyakit, Bag. II Terjemahan Adji Dharma, Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 10. Sherwood L. Human Physiology: From Cells To Systems 2/E. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1996 11. Gan S, Suharto B, dkk. Farmakologi Dan Terapi. Jakarta: Bagiam Farmakologi Kedokteran – UI; 1980 12. Anatole, D.M. 2000 Neurology of Early Childhood, The William and Willins Co., Baltimore, pp: 202-6 13. Anonim, 1985 Hidrosefalus dalam Hassan, R., Alatas, H. (editor) Kumpulan Kuliah Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, cetakan ke IV, Jakarta. Hal : 874-8 14. Anonim, 1999, Kelainan Neurologi Hidrosefalus dalam Harsono (editor) Buku Ajar Neurologi Klinis dan Kapita Selekta, Gadjah Mada University Press, Bulaksumur, Yogyakarta. Hal 45-8 15. Ceddia A, Di Rocco C, Tanelli A, Lauretti L. 2000 Non Tumoral Neonatal Hydrocephalus, Result of Surgical Treatment in Firs Month of Live in MinervaPediatrics. 49(9) : 445-50

17

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->