You are on page 1of 2

Jember, 14 Maret 2002

No
Sifat
Perihal

:
:
:

200.353.4 - 719
Segera
Sumbang Pendapat tentang Pasal
32 ayat (2) Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 1997

-----------------------

Kepada Yth.
Bapak Kepala Badan
Pertanahan
Nasional
Di
JAKARTA

Setelah mempelajari Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24


tahun 1997 yang isinya sebagai berikut :
(2) Dalam hal atas suatu bidang tanah sudah diterbitkan secara sah atas nama orang atau
badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad baik dan secara nyata
menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak
dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun
sejak diterbitkannya sertipikat itu tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada
pemegang sertipikat dan Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak
mengajukan gugatan ke Pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan
sertipikat tersebut.

Perkenankanlah kami menyampaikan pendapat tentang isi dari Pasal 32


ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tersebut sebagai berikut :
1. Apabila kita kaji secara mendalam isi pasal tersebut telah
mengabaikan hak azasi manusia dan mengakibatkan kematian
perdata dan bertentangan dengan sebagaimana yang diatur Pasal 3
Kitab Undang-undang Hukum Perdata sebagai berikut:
3. Tiada suatu hukumanpun mengakibatkan kematian perdata, atau
kehilangan segala hak kewargaan.
2. Di negara yang menganut sistim pendaftaran tanah positifpun tidak
ada yang menghapus hak gugat atau hak keperdataan orang atau badan
hukum, sehingga apabila yang bersangkutan dalam gugatannya dapat
membuktikan sebagai pemilik sebenarnya akan diberi gantirugi oleh
Pemerintah (atau lembaga asuransi).
3. Lembaga rechtsverwerking dalam hukum adat umumnya berlaku
terhadap tanah pertanian dengan sistim ladang berpindah yang banyak
terjadi di luar Pulau Jawa dan Madura .
4.
Ketentuan di dalam UUPA yang menyatakan hapusnya hak atas
tanah karena diterlantarkan (Pasal 27, 34 dan 40) sekarang sudah
diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1998 tentang

Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar.


1

Sehubungan dengan uraian angka 1 sampai 4 di atas kami


mengusulkan, Pasal tersebut dihapus kalau Pemerintah belum
siap dengan lembaga ganti rugi atau merubah Pasal tersebut
menjadi sebagai berikut:
Dalam hal seseorang atau badan hukum terdaftar pada buku
tanah selama 20 (duapuluh) tahun tanpa ada gugatan atau selalu
dapat dipertahankan haknya di pengadilan dari gugatan pihak
lain dan hak tersebut diperoleh secara sah atas nama orang atau
badan hukum dengan itikad baik dan secara nyata menguasai
bidang tanah atau satuan rumah susun yang bersangkutan tidak
dapat diganggu gugat. Pemilik sebenarnya yang berhak dan
dapat dibuktikan haknya dengan Putusan Pengadilan dapat
memperoleh ganti kerugian dari Pemerintah.
Dengan demikian terdapat keseimbangan perlindungan hukum
kepada pembeli yang beritikad baik dan kepada pemilik sebenarnya.
Waktu 20 (dua puluh) tahun cukup untuk melindungi mereka yang
misalnya sedang menjalani hukuman, tugas belajar di luar negeri,
pelarian politik yang memperoleh warisan bidang tanah atau satuan
rumah susun.
Demikian untuk menjadi periksa.
KEPALA KANTOR PERTANAHAN
KABUPATEN JEMBER

Ir. TJAHJO ARIANTO, SH., M.Hum.


NIP. 010 164 211
Tembusan kepada Yth. :
Ibu Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional
Bapak Deputi Bidang Informasi Pertanahan
Bapak Deputi Bidang Pengkajian Hukum dan Perundang-undangan
Bapak Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Propinsi Jawa Timur.