You are on page 1of 28

A.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Jumat, 17 Agustus 1945 Tahun Masehi, atau
17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang dibacakan oleh Ir. Soekarno yang didampingi
oleh Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.

Latar belakang

Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima
Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang
di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia BPUPKI, atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", berganti nama menjadi PPKI
(Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritu Junbi Inkai
dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai
kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di
atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan
sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan
kemerdekaannya.

Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai
mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon,
Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan
Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada
Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 14 Agustus 1945, Sutan Syahrir
telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para
pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak
bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.

Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam,
mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan
segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan
dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI. Meskipun
demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.

Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari
Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan
kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat
Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi
menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang.
Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum
yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat
itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat
fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa
Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI
adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya
merupakan 'hadiah' dari Jepang (sic).

Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan
Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan

1
mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana,
Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah
mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak
golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun
golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya
pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk
rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah
sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas
usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.
Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh
konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut
kosong.

Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana
Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1).
Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan
mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih
menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera
mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada
pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna
membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi
Kemerdekaan.
Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan
oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan.
Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan
Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.

Peristiwa Rengasdengklok

Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana --yang konon
kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk
Tan Malaka --yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan
pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang
anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati
dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian
terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan
Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan
Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan
Jepang, apa pun risikonya.

Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo
melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar
Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs.
Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para
pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di
Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes
(sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan
setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan

2
rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat
rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.
[sunting] Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Mayor Nishimura dan
Laksamana Muda Maeda
Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro
Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala
pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima
Sukarno-Hatta yang diantar oleh Maeda Tadashi dan memerintahkan agar Mayor
Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer
Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan
bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokio
bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi ijin untuk
mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan
oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan
itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat
Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta meminta
agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura
tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan
ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokio
dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah
Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.

Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini
Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk
menyiapkan teks Proklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan
berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya.
Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo
dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshi
yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks
tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut
mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan
kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno
menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti "transfer of power". Bung
Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang
membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih
didengungkan.

Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut
menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik
Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.[2] Pada awalnya pembacaan proklamasi akan
dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke
kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56[3] (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).
etik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi

Naskah asli proklamasi yang ditempatkan di Monumen Nasional
Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks
proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda jln Imam Bonjol No
1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr.

3
Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang
depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar
yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta
atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti melik.
Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56
telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti.
Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan
disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah
dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil
walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.
Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan
alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu
ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk
tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi
bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa
hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia
Raya.[4]. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu
Monumen Nasional.
Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor
yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui
perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno
mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan
amanat singkat kepada mereka.[5]

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD)
sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45.
Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang
berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan
sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk
kemudian.
Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan
persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang
pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.

Isi Teks Proklamasi
Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini adalah:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Di sini ditulis tahun 05 karena ini sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah
tahun 2605.
Naskah Otentik
Teks diatas merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah
seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.

4
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal² jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-45
Wakil2 bangsa Indonesia.

B. Pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda

Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 sesuai dengan
proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pengakuan ini baru dilakukan pada 16 Agustus
2005, sehari sebelum peringatan 60 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, oleh
Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot dalam pidato resminya di Gedung Deplu. Pada
kesempatan itu, Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menlu Hassan Wirajuda.
Keesokan harinya, Bot juga menghadiri Upacara Kenegaraan Peringatan Hari Ulang
Tahun ke-60 Kemerdekaan RI di Istana Negara, Jakarta. Langkah Bot ini mendobrak
tabu dan merupakan yang pertama kali dalam sejarah.

Pada 4 September 2008, juga untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang Perdana
Menteri Belanda, Jan Peter Balkenende, menghadiri Peringatan HUT Kemerdekaan
RI. Balkenende menghadiri resepsi diplomatik HUT Kemerdekaan RI ke-63 yang
digelar oleh KBRI Belanda di Wisma Duta, Den Haag. Kehadirannya didampingi
oleh para menteri utama Kabinet Balkenende IV, antara lain Menteri Luar Negeri
Maxime Jacques Marcel Verhagen, Menteri Yustisi Ernst Maurits Henricus Hirsch
Ballin, Menteri Pertahanan Eimert van Middelkoop, dan para pejabat tinggi
kementerian luar negeri, parlemen, serta para mantan Duta Besar Belanda untuk
Indonesia.

Selama hampir 60 tahun, Belanda tidak bersedia mengakui kemerdekaan Indonesia
pada tanggal 17 Agustus 1945. Belanda menganggap kemerdekaan Indonesia baru
terjadi pada 27 Desember 1949, yaitu ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan
kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. Di Belanda selama ini juga
ada kekhawatiran bahwa mengakui Indonesia merdeka pada tahun 1945 sama saja
mengakui tindakan politionele acties (agresi militer) pada 1945-1949 adalah ilegal.
Sebelumnya, pada tahun 1995, Ratu Beatrix sempat ingin menghadiri Peringatan Hari
Ulang Tahun RI ke-50. Tapi keinginan ini ditentang PM Wim Kok. Akhirnya Beatrix
terpaksa mampir di Singapura dan baru memasuki Indonesia beberapa hari setelah
peringatan proklamasi.

Pernyataan Pemerintah Belanda di Den Haag

Menlu Bot menegaskan, kehadirannya pada upacara Hari Ulang Tahun RI ke-60 dapat
dilihat sebagai penerimaan politik dan moral bahwa Indonesia merdeka pada 17-8-
1945. Atas nama Belanda, ia juga meminta maaf.

Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot menyampaikan hal itu dalam upacara peringatan
berakhirnya pendudukan Jepang di Hindia Belanda, hari Senin 15 Agustus 2005 di

5
kompleks Monumen Hindia Belanda, Den Haag. Pernyataan Bot itu juga disaksikan
Ratu Beatrix, yang hadir meletakkan karangan bunga.

Bot secara eksplisit mengungkapkan bahwa sikap dan langkahnya tersebut telah
mendapat dukungan kabinet. "Saya dengan dukungan kabinet akan menjelaskan
kepada rakyat Indonesia bahwa di Belanda ada kesadaran bahwa kemerdekaan
Indonesia de facto telah dimulai 17-8-1945 dan bahwa kita 60 tahun setelah itu, dalam
pengertian politik dan moral, telah menerima dengan lapang dada," demikian Bot.
Pengakuan secara resmi soal kemerdekaan Indonesia pada 17-8-1945 selama ini sulit
diterima para veteran, sebab mereka ketika itu setelah tanggal tersebut dikerahkan
untuk melakukan Agresi Militer. Baru kemudian pada 27 Desember 1949 penyerahan
kedaulatan dari Belanda ke Indonesia secara resmi diteken.

Menurut menteri yang lahir pada 21 November 1937 di Batavia (kini Jakarta), itu
sikap menerima tanggal kemerdekaan Indonesia pada 17-8-1945 dalam pengertian
moral juga berarti bahwa dirinya ikut mendukung ungkapan penyesalan mengenai
perpisahan Indonesia-Belanda yang menyakitkan dan penuh kekerasan. "Hampir
6.000 militer Belanda gugur dalam pertempuran, banyak yang cacat atau menjadi
korban trauma psikologis. Akibat pengerahan militer skala besar-besaran, negeri kita
juga sepertinya berdiri pada sisi sejarah yang salah. Ini sungguh kurang mengenakkan
bagi pihak-pihak yang terlibat," tandas Bot.

Doktor hukum lulusan Harvard Law School itu melukiskan berlikunya pengakuan
seputar tanggal kemerdekaan dan hubungan Belanda-Indonesia itu seperti orang
mendaki gunung. "Baru setelah seseorang berdiri di puncak gunung, orang dapat
melihat mana jalan tersederhana dan tersingkat untuk menuju ke puncak. Hal seperti
itu juga berlaku bagi mereka yang terlibat pengambilan keputusan pada tahun 40-an.
Baru belakangan terlihat bahwa perpisahan Indonesia-Belanda terlalu berlarut-larut
dan dengan diiringi banyak kekerasan militer melebihi seharusnya. Untuk itu saya
atas nama pemerintah Belanda akan menyampaikan permohonan maaf di Jakarta,"
tekad Bot.

"Dalam hal ini saya mengharapkan pengertian dan dukungan dari masyarakat Hindia
(angkatan Hindia Belanda), masyarakat Maluku di Belanda dan para veteran Aksi
Polisionil," demikian Bot.

Pernyataan Pemerintah Belanda di Jakarta

Selain itu Belanda sesalkan siksa Rakyat Indonesia pasca 17-8-1945, akhirnya
mengakui Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Belanda pun mengakui
tentaranya telah melakukan penyiksaan terhadap rakyat Indonesia melalui agresi
militernya pasca proklamasi.

"Atas nama pemerintah Belanda, saya ingin menyatakan penyesalan sedalam-
dalamnya atas terjadinya semuanya ini," begitulah kata Menlu Bernard Bot dalam
pidato resminya kepada pemerintah Indonesia yang diwakili Menlu Hassan Wirajuda,
di ruang Nusantara, Gedung Deplu, Jl Pejambon, Jakarta Pusat. "Fakta adanya aksi
militer merupakan kenyataan sangat pahit bagi rakyat Indonesia. Atas nama
pemerintah Belanda saya ingin menyatakan penyesalan sedalam-dalamnya atas semua

6
penderitaan ini," kata Menlu Belanda Bernard Bot kepada wartawan dalam pidato
kenegaraan tersebut, hari Selasa 16 Agustus 2005.

Bot tidak menyampaikan permintaan maaf secara langsung, hanya berupa bentuk
penyesalan. Ketika ditanya mengenai hal ini, Bot menjawab diplomatis. "Ini masalah
sensitif bagi kedua negara. Pernyataan ini merupakan bentuk penyesalan yang
mendalam. Kami yakin pemerintah Indonesia dapat memahami artinya," kilah Bot.
Bot mengakui, kehadiran dirinya merupakan pertama kali sejak 60 tahun lalu di mana
seorang kabinet Belanda hadir dalam perayaan kemerdekaan. "Dengan kehadiran saya
ini, pemerintah Belanda secara politik dan moral telah menerima proklamasi yaitu
tanggal RI menyatakan kemerdekaannya," tukas pria kelahiran Batavia (Jakarta) ini.
Pasca proklamasi, lanjut Bot, agresi militer Belanda telah menghilangkan nyawa
rakyat Indonesia dalam jumlah sangat besar. Bot berharap, meski kenangan tersebut
tidak pernah hilang dari ingatan rakyat Indonesia, jangan sampai hal tersebut menjadi
penghalang rekonsiliasi antara Indonesia dan Belanda.

Meski menyesali penjajahan itu, Belanda tidak secara resmi menyatakan permintaan
maaf. Indonesia pun tidak secara resmi menyatakan memaafkan Belanda atas tiga
setengah abad penjajahannya.

Pidato ini dilakukan dalam rangka pesan dari pemerintah Belanda terkait peringatan
Hari Ulang Tahun ke-60 RI. Turut hadir Menlu Hassan Wirajuda, Jubir Deplu Marty
Natalegawa, dan sejumlah mantan Menlu. Dari pihak Belanda, hadir Dubes Belanda
untuk Indonesia dan disaksikan para Dubes dari negara-negara sahabat.
Sikap Pemerintah Indonesia

Menlu Hassan pun hanya mengatakan,"Kami menerima pernyataan penyesalan dari
pemerintah Belanda". Saat ditanya apakah dengan menerima penyesalan dari
pemerintah Belanda berarti Indonesia memaafkan kejahatan Belanda semasa
penjajahan dulu, Hassan tidak membenarkan dan tidak membantahnya. "Kita sudah
dengar sendiri dari Menlu Bot. Ini adalah pernyataan yang sensitif. Di Belanda pun
untuk menyatakan penyesalan ini menjadi perdebatan sejumlah pihak. Kita harus
menghargai sikap Belanda," tutur Hassan.

Acara yang dimulai pukul 19.30 ini berakhir pada pukul 20.15 WIB. Usai
menyampaikan pidatonya, kedua Menlu ini saling memotong tumpengan nasi kuning
sebagai tanda dimulainya babak baru hubungan Indonesia dan Belanda

C. Sejarah Indonesia (1945-1949)
Indonesia: Era 1945-1949 dimulai dengan masuknya Sekutu diboncengi oleh Belanda
(NICA) ke berbagai wilayah Indonesia setelah kekalahan Jepang, dan diakhiri dengan
penyerahan kedaulatan kepada Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949. Terdapat
banyak sekali peristiwa sejarah pada masa itu, pergantian berbagai posisi kabinet,
Aksi Polisionil oleh Belanda, berbagai perundingan, dan peristiwa-peristiwa sejarah
lainnya.

7
1945

Kembalinya Belanda bersama Sekutu
Latar belakang

Sesuai dengan perjanjian Wina pada tahun 1942, bahwa negara-negara sekutu
bersepakat untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang kini diduduki Jepang pada
pemilik koloninya masing-masing bila Jepang berhasil diusir dari daerah
pendudukannya.

Menjelang akhir perang, tahun 1945, sebagian wilayah Indonesia telah dikuasai oleh
tentara sekutu. Satuan tentara Australia telah mendaratkan pasukannya di Makasar
dan Banjarmasin, sedangkan Balikpapan telah diduduki oleh Australia sebelum
Jepang menyatakan menyerah kalah. Sementara Pulau Morotai dan Irian Barat
bersama-sama dikuasai oleh satuan tentara Australia dan Amerika Serikat di bawah
pimpinan Jenderal Douglas MacArthur, Panglima Komando Kawasan Asia Barat
Daya (South West Pacific Area Command/SWPAC).

Setelah perang usai, tentara Australia bertanggung jawab terhadap Kalimantan dan
Indonesia bagian Timur, Amerika Serikat menguasai Filipina dan tentara Inggris
dalam bentuk komando SEAC (South East Asia Command) bertanggung jawab atas
India, Burma, Srilanka, Malaya, Sumatra, Jawa dan Indocina. SEAC dengan panglima
Lord Mountbatten sebagai Komando Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara bertugas
melucuti bala tentera Jepang dan mengurus pengembalian tawanan perang dan
tawanan warga sipil sekutu (Recovered Allied Prisoners of War and
Internees/RAPWI).

Mendaratnya Belanda diwakili NICA

Berdasarkan Civil Affairs Agreement, pada 23 Agustus 1945 Inggris bersama tentara
Belanda mendarat di Sabang, Aceh. 15 September 1945, tentara Inggris selaku wakil
Sekutu tiba di Jakarta, dengan didampingi Dr. Charles van der Plas, wakil Belanda
pada Sekutu. Kehadiran tentara Sekutu ini, diboncengi NICA (Netherland Indies Civil
Administration - pemerintahan sipil Hindia Belanda) yang dipimpin oleh Dr.
Hubertus J van Mook, ia dipersiapkan untuk membuka perundingan atas dasar pidato
siaran radio Ratu Wilhelmina tahun 1942 (statkundige concepti atau konsepsi
kenegaraan), tetapi ia mengumumkan bahwa ia tidak akan berbicara dengan Soekarno
yang dianggapnya telah bekerja sama dengan Jepang. Pidato Ratu Wilhemina itu
menegaskan bahwa di kemudian hari akan dibentuk sebuah persemakmuran yang di
antara anggotanya ialah Kerajaan Belanda dan Hindia Belanda, di bawah pimpinan
Ratu Belanda.

Pertempuran melawan Sekutu dan NICA
Terdapat berbagai pertempuran yang terjadi pada saat masuknya Sekutu dan NICA ke
Indonesia, yang saat itu baru menyatakan kemerdekaannya. Pertempuran yang terjadi
di antaranya adalah:
Peristiwa 10 November, di daerah Surabaya dan sekitarnya.
Palagan Ambarawa, di daerah Ambarawa, Semarang dan sekitarnya.
Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman, meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur

8
Bandung Lautan Api, di daerah Bandung dan sekitarnya.

Ibukota pindah ke Yogyakarta

Karena situasi keamanan ibukota Jakarta (Batavia saat itu) yang makin memburuk,
maka pada tanggal 4 Januari 1946, Soekarno dan Hatta dengan menggunakan kereta
api, pindah ke Yogyakarta sekaligus pula memindahkan ibukota. Meninggalkan
Sjahrir dan kelompok yang pro-negosiasi dengan Belanda di Jakarta.

Pemindahan ke Yogyakarta dilakukan dengan menggunakan kereta api, yang disebut
dengan singkatan KLB (Kereta Luar Biasa). Orang lantas berasumsi bahwa rangkaian
kereta api yang digunakan adalah rangkaian yang terdiri dari gerbong-gerbong luar
biasa. Padahal yang luar biasa adalah jadwal perjalanannya, yang diselenggarakan
diluar jadwal yang ada, karena kereta dengan perjalanan luar biasa ini, mengangkut
Presiden beserta Wakil Presiden, dengan keluarga dan staf, gerbong-gerbongnya
dipilihkan yang istimewa, yang disediakan oleh Djawatan Kereta Api (DKA) untuk
VVIP

1946

Perubahan sistem pemerintahan

Pernyataan van Mook untuk tidak berunding dengan Soekarno adalah salah satu
faktor yang memicu perubahan sistem pemerintahan dari presidensiil menjadi
parlementer. Gelagat ini sudah terbaca oleh pihak Republik Indonesia, karena itu
sehari sebelum kedatangan Sekutu, tanggal 14 November 1945, Soekarno sebagai
kepala pemerintahan republik diganti oleh Sutan Sjahrir yang seorang sosialis
dianggap sebagai figur yang tepat untuk dijadikan ujung tombak diplomatik,
bertepatan dengan naik daunnya partai sosialis di Belanda.

Terjadinya perubahan besar dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia (dari
sistem Presidensiil menjadi sistem Parlementer) memungkinkan perundingan antara
pihak RI dan Belanda. Dalam pandangan Inggris dan Belanda, Sutan Sjahrir dinilai
sebagai seorang moderat, seorang intelek, dan seorang yang telah berperang selama
pemerintahan Jepang.

Diplomasi Syahrir

Ketika Syahrir mengumumkan kabinetnya, 15 November 1945, Letnan Gubernur
Jendral van Mook mengirim kawat kepada Menteri Urusan Tanah Jajahan (Minister
of Overseas Territories, Overzeese Gebiedsdelen), J.H.A. Logemann, yang berkantor
di Den Haag: "Mereka sendiri [Sjahrir dan Kabinetnya] dan bukan Soekarno yang
bertanggung jawab atas jalannya keadaan". Logemann sendiri berbicara pada siaran
radio BBC tanggal 28 November 1945, "Mereka bukan kolaborator seperti Soekarno,
presiden mereka, kita tidak akan pernah dapat berurusan dengan Dr Soekarno, kita
akan berunding dengan Sjahrir". Tanggal 6 Maret 1946 kepada van Mook, Logemann
bahkan menulis bahwa Soekarno adalah persona non grata.
Pihak Republik Indonesia memiliki alasan politis untuk mengubah sistem
pemerintahan dari Presidensiil menjadi Parlementer, karena seminggu sebelum
perubahan pemerintahan itu, Den Haag mengumumkan dasar rencananya. Ir Soekarno

9
menolak hal ini, sebaliknya Sjahrir mengumumkan pada tanggal 4 Desember 1945
bahwa pemerintahnya menerima tawaran ini dengan syarat pengakuan Belanda atas
Republik Indonesia.

Tanggal 10 Februari 1946, pemerintah Belanda membuat pernyataan memperinci
tentang politiknya dan menawarkan mendiskusikannya dengan wakil-wakil Republik
yang diberi kuasa. Tujuannya hendak mendirikan persemakmuran Indonesia, yang
terdiri dari daerah-daerah dengan bermacam-macam tingkat pemerintahan sendiri, dan
untuk menciptakan warga negara Indonesia bagi semua orang yang dilahirkan di sana.
Masalah dalam negeri akan dihadapi dengan suatu parlemen yang dipilih secara
demokratis dan orang-orang Indonesia akan merupakan mayoritas. Kementerian akan
disesuaikan dengan parlemen tetapi akan dikepalai oleh wakil kerajaan. Daerah-
daerah yang bermacam-macam di Indonesia yang dihubungkan bersama-sama dalam
suatu susunan federasi dan persemakmuran akan menjadi rekan (partner) dalam
Kerajaan Belanda, serta akan mendukung permohonan keanggotaan Indonesia dalam
organisasi PBB.

Pada bulan April dan Mei 1946, Sjahrir mengepalai delegasi kecil Indonesia yang
pergi berunding dengan pemerintah Belanda di Hoge Veluwe. Lagi, ia menjelaskan
bahwa titik tolak perundingan haruslah berupa pengakuan atas Republik sebagai
negara berdaulat. Atas dasar itu Indonesia baru mau berhubungan erat dengan
Kerajaan Belanda dan akan bekerja sama dalam segala bidang. Karena itu Pemerintah
Belanda menawarkan suatu kompromi yaitu: "mau mengakui Republik sebagai salah
satu unit negara federasi yang akan dibentuk sesuai dengan Deklarasi 10 Februari".
Sebagai tambahan ditawarkan untuk mengakui pemerintahan de facto Republik atas
bagian Jawa dan Madura yang belum berada di bawah perlindungan pasukan Sekutu.
Karena Sjahrir tidak dapat menerima syarat-syarat ini, konferensi itu bubar dan ia
bersama teman-temannya kembali pulang.

Tanggal 17 Juni 1946, Sjahrir mengirimkan surat rahasia kepada van Mook,
menganjurkan bahwa mungkin perundingan yang sungguh-sungguh dapat dimulai
kembali. Dalam surat Sjahrir yang khusus ini, ada penerimaan yang samar-samar
tentang gagasan van Mook mengenai masa peralihan sebelum kemerdekaan penuh
diberikan kepada Indonesia; ada pula nada yang lebih samar-samar lagi tentang
kemungkinan Indonenesia menyetujui federasi Indonesia - bekas Hindia Belanda
dibagi menjadi berbagai negara merdeka dengan kemungkinan hanya Republik
sebagai bagian paling penting. Sebagai kemungkinan dasar untuk kompromi, hal ini
dibahas beberapa kali sebelumnya, dan semua tokoh politik utama Republik
mengetahui hal ini.

Tanggal 17 Juni 1946, sesudah Sjahrir mengirimkan surat rahasianya kepada van
Mook, surat itu dibocorkan kepada pers oleh surat kabar di Negeri Belanda. Pada
tanggal 24 Juni 1946, van Mook mengirim kawat ke Den Haag: "menurut sumber-
sumber yang dapat dipercaya, usul balasan (yakni surat Sjahrir) tidak disetujui oleh
Soekarno dan ketika dia bertemu dengannya, dia marah. Tidak jelas, apa arah yang
akan diambil oleh amarah itu". Pada waktu yang sama, surat kabar Indonesia
menuntut dijelaskan desas-desus tentang Sjahrir bersedia menerima pengakuan de
facto Republik Indonesia terbatas pada Jawa dan Sumatra.

10
1946-1947
Peristiwa Westerling

Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat
sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda Depot Speciale
Troepen pimpinan Westerling. Peristiwa ini terjadi pada Desember 1946-Februari
1947 selama operasi militer Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan).
Perjanjian Linggarjati

Bulan Agustus pemerintah Belanda melakukan usaha lain untuk memecah halangan
dengan menunjuk tiga orang Komisi Jendral datang ke Jawa dan membantu Van
Mook dalam perundingan baru dengan wakil-wakil republik itu. Konferensi antara
dua belah pihak diadakan di bulan Oktober dan November di bawah pimpinan yang
netral seorang komisi khusus Inggris, Lord Killearn. Bertempat di bukit Linggarjati
dekat Cirebon. Setelah mengalami tekanan berat -terutama Inggris- dari luar negeri,
dicapailah suatu persetujuan tanggal 15 November 1946 yang pokok pokoknya
sebagai berikut :
Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan
yang meliputi Sumatra, Jawa dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayah de
facto paling lambat 1 Januari 1949,
Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara
Indonesia Serikat, dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu
bagiannya adalah Republik Indonesia
Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda
dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.

Untuk ini Kalimantan dan Timur Raya akan menjadi komponennya. Sebuah Majelis
Konstituante didirikan, yang terdiri dari wakil-wakil yang dipilih secara demokratis
dan bagian-bagian komponen lain. Indonesia Serikat pada gilirannya menjadi bagian
Uni Indonesia-Belanda bersama dengan Belanda, Suriname dan Curasao. Hal ini akan
memajukan kepentingan bersama dalam hubungan luar negeri, pertahanan, keuangan
dan masalah ekonomi serta kebudayaan. Indonesia Serikat akan mengajukan diri
sebagai anggota PBB. Akhirnya setiap perselisihan yang timbul dari persetujuan ini
akan diselesaikan lewat arbitrase.

Kedua delegasi pulang ke Jakarta, dan Soekarno-Hatta kembali ke pedalaman dua hari
kemudian, pada tanggal 15 November 1946, di rumah Sjahrir di Jakarta, berlangsung
pemarafan secara resmi Perundingan Linggarjati. Sebenarnya Soekarno yang tampil
sebagai kekuasaan yang memungkinkan tercapainya persetujuan, namun, Sjahrir yang
diidentifikasikan dengan rancangan, dan yang bertanggung jawab bila ada yang tidak
beres.

Proklamasi Negara Pasundan

Usaha Belanda tidak berakhir sampai di NIT. Dua bulan setelah itu, Belanda berhasil
membujuk Ketua Partai Rakyat Pasundan, Soeria Kartalegawa, memproklamasikan
Negara Pasundan pada tanggal 4 Mei 1947. Secara militer negara baru ini sangat
lemah, ia benar benar sangat tergantung pada Belanda, tebukti ia baru eksis ketika
Belanda melakukan Agresi dan kekuatan RI hengkang dari Jawa Barat.

11
Di awal bulan Mei 1947 pihak Belanda yang memprakarsai berdirinya Negara
Pasundan itu memang sudah merencanakan bahwa mereka harus menyerang Republik
secara langsung. Kalangan militer Belanda merasa yakin bahwa kota-kota yang
dikuasai pihak Republik dapat ditaklukkan dalam waktu dua minggu dan untuk
menguasai seluruh wilayah Republik dalam waktu enam bulan. Namun mereka pun
menyadari begitu besarnya biaya yang ditanggung untuk pemeliharaan suatu pasukan
bersenjata sekitar 100.000 serdadu di Jawa, yang sebagian besar dari pasukan itu tidak
aktif, merupakan pemborosan keuangan yang serius yang tidak mungkin dipikul oleh
perekonomian negeri Belanda yang hancur diakibatkan perang. Oleh karena itu untuk
mempertahankan pasukan ini maka pihak Belanda memerlukan komoditi dari Jawa
(khususnya gula) dan Sumatera (khususnya minyak dan karet).

Agresi Militer I

Pada tanggal 27 Mei 1947, Belanda mengirimkan Nota Ultimatum, yang harus
dijawab dalam 14 hari, yang berisi:
Membentuk pemerintahan ad interim bersama;
Mengeluarkan uang bersama dan mendirikan lembaga devisa bersama;
Republik Indonesia harus mengirimkan beras untuk rakyat di daerahdaerah yang
diduduki Belanda;
Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban bersama, termasuk daerah daerah
Republik yang memerlukan bantuan Belanda (gendarmerie bersama); dan
Menyelenggarakan penilikan bersama atas impor dan ekspor
Perdana Menteri Sjahrir menyatakan kesediaan untuk mengakui kedaulatan Belanda
selama masa peralihan, tetapi menolak gendarmerie bersama. Jawaban ini
mendapatkan reaksi keras dari kalangan parpol-parpol di Republik.
Ketika jawaban yang memuaskan tidak kunjung tiba, Belanda terus "mengembalikan
ketertiban" dengan "tindakan kepolisian". Pada tanggal 20 Juli 1947 tengah malam
(tepatnya 21 Juli 1947) mulailah pihak Belanda melancarkan 'aksi polisionil' mereka
yang pertama.

Aksi Belanda ini sudah sangat diperhitungkan sekali dimana mereka telah
menempatkan pasukan-pasukannya di tempat yang strategis. Pasukan yang bergerak
dari Jakarta dan Bandung untuk menduduki Jawa Barat (tidak termasuk Banten), dan
dari Surabaya untuk menduduki Madura dan Ujung Timur. Gerakan-gerakan pasukan
yang lebih kecil mengamankan wilayah Semarang. Dengan demikian, Belanda
menguasai semua pelabuhan perairan-dalam di Jawa Di Sumatera, perkebunan-
perkebunan di sekitar Medan, instalasi- instalasi minyak dan batubara di sekitar
Palembang, dan daerah Padang diamankan. Melihat aksi Belanda yang tidak
mematuhi perjanjian Linggarjati membuat Sjahrir bingung dan putus asa, maka pada
bulan Juli 1947 dengan terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana
Menteri, karena sebelumnya dia sangat menyetujui tuntutan Belanda dalam
menyelesaikan konflik antara pemerintah RI dengan Belanda.

Menghadapi aksi Belanda ini, bagi pasukan Republik hanya bisa bergerak mundur
dalam kebingungan dan hanya menghancurkan apa yang dapat mereka hancurkan.
Dan bagi Belanda, setelah melihat keberhasilan dalam aksi ini menimbulkan
keinginan untuk melanjutkan aksinya kembali. Beberapa orang Belanda, termasuk
van Mook, berkeinginan merebut Yogyakarta dan membentuk suatu pemerintahan
Republik yang lebih lunak, tetapi pihak Amerika dan Inggris yang menjadi sekutunya

12
tidak menyukai 'aksi polisional' tersebut serta menggiring Belanda untuk segera
menghentikan penaklukan sepenuhnya terhadap Republik.

Naiknya Amir Syarifudin sebagai Perdana Menteri

Setelah terjadinya Agresi Militer Belanda I pada bulan Juli, pengganti Sjahrir adalah
Amir Syarifudin yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Dalam
kapasitasnya sebagai Perdana Menteri, dia menggaet anggota PSII yang dulu untuk
duduk dalam Kabinetnya. Termasuk menawarkan kepada S.M. Kartosoewirjo untuk
turut serta duduk dalam kabinetnya menjadi Wakil Menteri Pertahanan kedua. Seperti
yang dijelaskan dalam sepucuk suratnya kepada Soekarno dan Amir Syarifudin, dia
menolak kursi menteri karena "ia belum terlibat dalam PSII dan masih merasa terikat
kepada Masyumi".

S.M. Kartosoewirjo menolak tawaran itu bukan semata-mata karena loyalitasnya
kepada Masyumi. Penolakan itu juga ditimbulkan oleh keinginannya untuk menarik
diri dari gelanggang politik pusat. Akibat menyaksikan kondisi politik yang tidak
menguntungkan bagi Indonesia disebabkan berbagai perjanjian yang diadakan
pemerintah RI dengan Belanda. Di samping itu Kartosoewirjo tidak menyukai arah
politik Amir Syarifudin yang kekiri-kirian. Kalau dilihat dari sepak terjang Amir
Syarifudin selama manggung di percaturan politik nasional dengan menjadi Perdana
Menteri merangkap Menteri Pertahanan sangat jelas terlihat bahwa Amir Syarifudin
ingin membawa politik Indonesia ke arah Komunis.

1948

Perjanjian Renville
Sementara peperangan sedang berlangsung, Dewan Keamanan PBB, atas desakan
Australia dan India, mengeluarkan perintah peletakan senjata tanggal 1 Agustus 1947,
dan segera setelah itu mendirikan suatu Komisi Jasa-Jasa Baik, yang terdiri dari
wakil-wakil Australia, Belgia dan Amerika Serikat, untuk menengahi perselisihan itu .
Tanggal 17 Januari 1948 berlangsung konferensi di atas kapal perang Amerika
Serikat, Renville, ternyata menghasilkan persetujuan lain, yang bisa diterima oleh
yang kedua belah pihak yang berselisih. Akan terjadi perdamaian yang
mempersiapkan berdirinya zone demiliterisasi Indonesia Serikat akan didirikan, tetapi
atas garis yang berbeda dari persetujuan Linggarjati, karena plebisit akan diadakan
untuk menentukan apakah berbagai kelompok di pulau-pulau besar ingin bergabung
dengan Republik atau beberapa bagian dari federasi yang direncanakan Kedaulatan
Belanda akan tetap atas Indonesia sampai diserahkan pada Indonesia Serikat.

Pada tanggal 19 Januari ditandatangani persetujuan Renville Wilayah Republik
selama masa peralihan sampai penyelesaian akhir dicapai, bahkan lebih terbatas lagi
ketimbang persetujuan Linggarjati : hanya meliputi sebagian kecil Jawa Tengah
(Jogja dan delapan Keresidenan) dan ujung barat pulau Jawa -Banten tetap daerah
Republik Plebisit akan diselenggarakan untuk menentukan masa depan wilayah yang
baru diperoleh Belanda lewat aksi militer. Perdana menteri Belanda menjelaskan
mengapa persetujuan itu ditandatangani agar Belanda tidak "menimbulkan rasa benci
Amerika".

13
Sedikit banyak, ini merupakan ulangan dari apa yang terjadi selama dan sesudah
perundingan Linggarjati. Seperti melalui persetujuan Linggarjati, melalui perundingan
Renville, Soekarno dan Hatta dijadikan lambang kemerdekaan Indonesia dan
persatuan Yogyakarta hidup lebih lama, jantung Republik terus berdenyut. Ini
kembali merupakan inti keuntungan Seperti sesudah persetujuan Linggarjati, pribadi
lain yang jauh dari pusat kembali diidentifikasi dengan persetujuan -dulu Perdana
Menteri Sjahrir, kini Perdana Menteri Amir- yang dianggap langsung bertanggung
jawab jika sesuatu salah atau dianggap salah.

Runtuhnya Kabinet Amir dan naiknya Hatta sebagai Perdana Menteri
Dari adanya Agresi Militer I dengan hasil diadakannya Perjanjian Renville
menyebabkan jatuhnya Kabinet Amir. Seluruh anggota yang tergabung dalam
kabinetnya yang terdiri dari anggota PNI dan Masyumi meletakkan jabatan ketika
Perjanjian Renville ditandatangani, disusul kemudian Amir sendiri meletakkan
jabatannya sebagai Perdana Menteri pada tanggal 23 Januari 1948. Dengan
pengunduran dirinya ini dia mungkin mengharapkan akan tampilnya kabinet baru
yang beraliran komunis untuk menggantikan posisinya. Harapan itu menjadi buyar
ketika Soekarno berpaling ke arah lain dengan menunjuk Hatta untuk memimpin
suatu 'kabinet presidentil' darurat (1948-1949), dimana seluruh
pertanggungjawabannya dilaporkan kepada Soekarno sebagai Presiden.

Dengan terpilihnya Hatta, dia menunjuk para anggota yang duduk dalam kabinetnya
mengambil dari golongan tengah, terutama orang-orang PNI, Masyumi, dan tokoh-
tokoh yang tidak berpartai. Amir dan kelompoknya dari sayap kiri kini menjadi pihak
oposisi. Dengan mengambil sikap sebagai oposisi tersebut membuat para pengikut
Sjahrir mempertegas perpecahan mereka dengan pengikut-pengikut Amir dengan
membentuk partai tersendiri yaitu Partai Sosialis Indonesia (PSI), pada bulan Februari
1948, dan sekaligus memberikan dukungannya kepada pemerintah Hatta.

Memang runtuhnya Amir datang bahkan lebih cepat ketimbang Sjahrir, enam bulan
lebih dulu Amir segera dituduh -kembali khususnya oleh Masyumi dan kemudian
Partai Nasional Indonesia- terlalu banyak memenuhi keinginan pihak asing. Hanya
empat hari sesudah Perjanjian Renville ditandatangani, pada tanggal 23 Januari 1948,
Amir Syarifudin dan seluruh kabinetnya berhenti. Kabinet baru dibentuk dan
susunannya diumumkan tanggal 29 Januari 1948. Hatta menjadi Perdana Menteri
sekaligus tetap memangku jabatan sebagai Wakil Presiden.

Tampaknya kini lebih sedikit jalan keluar bagi Amir dibanding dengan Sjahrir
sesudah Perundingan Linggarjati; dan lebih banyak penghinaan. Beberapa hari
sesudah Amir berhenti, di awal Februari 1948, Hatta membawa Amir dan beberapa
pejabat Republik lainnya mengelilingi Provinsi. Amir diharapkan menjelaskan
Perjanjian Renville. Pada rapat raksasa di Bukittinggi, Sumatra Barat, di kota
kelahiran Hatta -dan rupanya diatur sebagai tempat berhenti terpenting selama
perjalanan- Hatta berbicara tentang kegigihan Republik, dan pidatonya disambut
dengan hangat sekali.

Kemudian Amir naik mimbar, dan seperti diuraikan Hatta kemudian: "Dia tampak
bingung, seolah-olah nyaris tidak mengetahui apa ayang harus dikatakannya. Dia
merasa bahwa orang rakyat Bukittinggi tidak menyenanginya, khususnya dalam

14
hubungan persetujuan dengan Belanda. Ketika dia meninggalkan mimbar, hampir
tidak ada yang bertepuk tangan"

Menurut peserta lain: "Wajah Amir kelihatannya seperti orang yang sudah tidak
berarti". Sjahrir juga diundang ke rapat Bukittinggi ini; dia datang dari Singapura dan
berpidato. Menurut Leon Salim -kader lama Sjahrir- "Sjahrir juga kelihatan capai
dan jarang tersenyum". Menurut kata-kata saksi lain, "Seolah-olah ada yang
membeku dalam wajah Sjahrir" dan ketika gilirannya berbicara "Dia hanya
mengangkat tangannya dengan memberi salam Merdeka dan mundur". Hatta
kemudian juga menulis dengan singkat tentang pidato Sjahrir: "Pidatonya pendek".
Dipermalukan seperti ini, secara psikologis amat mungkin menjadi bara dendam yang
menyulut Amir untuk memberontak di kemudian hari.

Perjanjian Renville tidak lebih baik daripada perundingan di Linggarjati. Kedua belah
pihak menuduh masing-masing melanggar perdamaian, dan Indonesia menuduh
Belanda mendirikan blokade dengan maksud memaksanya menyerah. Bulan Juli
1948, Komisi Jasa-jasa Baik, yang masih ada di tempat mengawasi pelaksanaan
persetujuan itu, melaporkan bahwa Indonesia mengeluh akan gencatan senjata yang
berulang-ulang.

1948-1949

Agresi Militer II

Agresi Militer II terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan
terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno,
Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini
menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang
dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Perjanjian Roem Royen

Akibat dari Agresi Militer tersebut, pihak internasional melakukan tekanan kepada
Belanda, terutama dari pihak Amerika Serikat yang mengancam akan menghentikan
bantuannya kepada Belanda, akhirnya dengan terpaksa Belanda bersedia untuk
kembali berunding dengan RI. Pada tanggal 7 Mei 1949, Republik Indonesia dan
Belanda menyepakati Perjanjian Roem Royen.

Serangan Umum 1 Maret 1949 atas Yogyakarta
Serangan Umum 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta dipimpin oleh Letnan
Kolonel Soeharto dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda
serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI)
masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan.

Konferensi Meja Bundar
Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik
Indonesia dan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus
hingga 2 November 1949. Yang menghasilkan kesepakatan:
Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat.
Irian Barat akan diselesaikan setahun setelah pengakuan kedaulatan.

15
Penyerahan kedaulatan oleh Belanda

Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949, selang empat
tahun setelah proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Pengakuan ini
dilakukan ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di
Istana Dam, Amsterdam. Di Belanda selama ini juga ada kekhawatiran bahwa
mengakui Indonesia merdeka pada tahun 1945 sama saja mengakui tindakan
politionele acties (Aksi Polisionil) pada 1945-1949 adalah ilegal.

Kembali Ke NKRI (Negara kesatuan Republik Indonesia )
Hasi persetujuan dalam KMB berakhir pada tanggal 2 November 1949 adalah
dibentuknya satu negara federal Indonesia yaitu Republik Indonesia Serikat (RIS).
RIS terdiri dari Negara-negara bagian diantaranya Republik Indonesia, Negara
Sumatera Timur, Negara Sumatera Selatan, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur,
Negara Madura, Negara Indonesia Timurdan 9 satuan kenegaraan yang berdiri sendiri
yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Bangka, Belitung, Riau, Jawa Tengah.
Namun, dalam Kabinet RIS hanya dua orang yang mendukung sistem federal di
Indonesia (yaitu Sultan Hamid II dan Anak Agung Gede Agung), sisanya (seperti Sri
Sultan Hamengkubuwono IX, Arnold Manuhutu, dan lain-lain) lebih mendukung
sistem NKRI. Dengan demian, maka keinginan untuk membubarkan RIS dan
membentuk NKRI semakin kuat

Dasar pembentukan negara federal di Indonesia sangat lemah dan tidak didukung oleh
suatu ikatan ideology yang kuat, dengan tujuan kenegaraan yang tidak jelas dan tanpa
dukungan rakyat banyak. Eksistensinya sangat tergantung pada kekuatan militer
Belanda yang terdiri dari Koninklijk Leger (KL) atau tentara Kerajaan Belanda dan
Koninklijk Nederland Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
Pada tanggal 19 Mei 1950, diadakan persetujuan antara RIS dengan RI untuk
mempersiapkan prosedur pembentukan negara kesatuan. Pihak RIS diwakili oleh
pPerdana Menteri Moh. Hatta dan pihak RI diwakili oleh dr. Abdul Halim. Menurut
persetujuan itu, Negar Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan dibentuk oleh RIS
bersama-sama dengan RI di Yogyakrta. Untuk pelaksanaan dibentuk panitia gabungan
RIS dan RI yang bertugas merancang Undang-Undang Negara Kesatuan yang
dipimpin oleh Prof. Soepomo dan pada tanggal 20 Juli 1950 berhasil menyelesaikan
tugasnya. Rancangan Undang-Undang Negara Kesatuan diserahkan kepada dewan-
dewan perwakilan negar bagian untuk disempurnakan. Undang-Undang Negara
Kesatuan Republik Indonesia mengandung unsur-unsur dari UUD 1945 dan UUD
RIS. Akhirnya pada tanggal 14 Agustus 1950, rancangan Undang-Undang Dasar
Negar Kesatuan Republik Indonesia diterima dengan baik oleh senat dan parlemen
RIS serta KNIP.

Pada tanggal 15 Agustus 1950, Presiden Soekarno menandatangani Rancangan
Undang-Undang Dasar menjadi Undang-Undang Dasar Sementara dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia kemudian dikenal dengan UUDS 1950. pada tanggal 17
Agustus 1950, dengan resmi RIS dibubarkan dan dibentuk Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan menggunakan UUDS 1950 sebagai konstitusinya. Namun demikian,
sebagain besar rakyat Indonesia percaya bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia
Serikat ini merupakan kelanjutan dari Negara Republik Indonesia yang
diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.

16
D. Pemilihan Umum Anggota DPR dan Konstituante Indonesia 1955

Pemilihan Umum Indonesia 1955 adalah pemilihan umum pertama di Indonesia dan
diadakan pada tahun 1955. Pemilu ini sering dikatakan sebagai pemilu Indonesia yang
paling demokratis.

Pemilu tahun 1955 ini dilaksanakan saat keamanan negara masih kurang kondusif;
beberapa daerah dirundung kekacauan oleh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam
Indonesia) khususnya pimpinan Kartosuwiryo. Dalam keadaan seperti ini, anggota
angkatan bersenjata dan polisi juga memilih. Mereka yang bertugas di daerah rawan
digilir datang ke tempat pemilihan. Pemilu akhirnya pun berlangsung aman.
Pemilu ini bertujuan untuk memilih anggota-anggota DPR dan Konstituante. Jumlah
kursi DPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante berjumlah
520 (dua kali lipat kursi DPR) ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat
pemerintah.

Pemilu ini dipersiapkan di bawah pemerintahan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo.
Namun, Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan pada saat pemungutan suara,
kepala pemerintahan telah dipegang oleh Perdana Menteri Burhanuddin Harahap.
Tahapan

Sesuai tujuannya, Pemilu 1955 ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu:
Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR. Tahap ini
diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, dan diikuti oleh 29 partai politik
dan individu,
Tahap kedua adalah Pemilu untuk memilih anggota Konstituante. Tahap ini
diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955.

Hasil

Lima besar dalam Pemilu ini adalah Partai Nasional Indonesia mendapatkan 57 kursi
DPR dan 119 kursi Konstituante (22,3 persen), Masyumi 57 kursi DPR dan 112 kursi
Konstituante (20,9 persen), Nahdlatul Ulama 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante
(18,4 persen), Partai Komunis Indonesia 39 kursi DPR dan 80 kursi Konstituante
(16,4 persen), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (2,89 persen).
Partai-partai lainnya, mendapat kursi di bawah 10. Seperti PSII (8), Parkindo (8),
Partai Katolik (6), Partai Sosialis Indonesia (5). Dua partai mendapat 4 kursi (IPKI
dan Perti). Enam partai mendapat 2 kursi (PRN, Partai Buruh, GPPS, PRI, PPPRI, dan
Murba). Sisanya, 12 partai, mendapat 1 kursi (Baperki, PIR Wongsonegoro, PIR
Hazairin, Gerina, Permai, Partai Persatuan Dayak, PPTI, AKUI, PRD (bukan PRD
modern), ACOMA dan R. Soedjono Prawirosoedarso).

17
DPR
No. Jumlah Persentase Jumlah
Partai
Suara Kursi
Partai Nasional Indonesia
1. 8.434.653 22,32 57
(PNI)
2. Masyumi 7.903.886 20,92 57
3. Nahdlatul Ulama (NU) 6.955.141 18,41 45
Partai Komunis Indonesia
4. 6.179.914 16,36 39
(PKI)
Partai Syarikat Islam
5. 1.091.160 2,89 8
Indonesia (PSII)
Partai Kristen Indonesia
6. 1.003.326 2,66 8
(Parkindo)
7. Partai Katolik 770.740 2,04 6
8. Partai Sosialis Indonesia (PSI) 753.191 1,99 5
Ikatan Pendukung
9. Kemerdekaan Indonesia 541.306 1,43 4
(IPKI)
Pergerakan Tarbiyah
10. 483.014 1,28 4
Islamiyah (Perti)
11. Partai Rakyat Nasional (PRN) 242.125 0,64 2
12. Partai Buruh 224.167 0,59 2
Gerakan Pembela Panca Sila
13. 219.985 0,58 2
(GPPS)
14. Partai Rakyat Indonesia (PRI) 206.161 0,55 2
Persatuan Pegawai Polisi RI
15. 200.419 0,53 2
(P3RI)
16. Murba 199.588 0,53 2
17. Baperki 178.887 0,47 1
Persatuan Indonesia Raya
18. 178.481 0,47 1
(PIR) Wongsonegoro
19. Grinda 154.792 0,41 1
Persatuan Rakyat Marhaen
20. 149.287 0,40 1
Indonesia (Permai)
21. Persatuan Daya (PD) 146.054 0,39 1
22. PIR Hazairin 114.644 0,30 1
Partai Politik Tarikat Islam
23. 85.131 0,22 1
(PPTI)
24. AKUI 81.454 0,21 1
25. Persatuan Rakyat Desa (PRD) 77.919 0,21 1
Partai Republik Indonesis
26. 72.523 0,19 1
Merdeka (PRIM)
Angkatan Comunis Muda
27. 64.514 0,17 1
(Acoma)
28. R.Soedjono Prawirisoedarso 53.306 0,14 1
29. Lain-lain 1.022.433 2,71 -

18
Jumlah 37.785.299 100,00 257

Konstituante
No. Jumlah Persentase Jumlah
Partai/Nama Daftar
Suara Kursi
Partai Nasional Indonesia
1. 9.070.218 23,97 119
(PNI)
2. Masyumi 7.789.619 20,59 112
3. Nahdlatul Ulama (NU) 6.989.333 18,47 91
Partai Komunis Indonesia
4. 6.232.512 16,47 80
(PKI)
Partai Syarikat Islam
5. 1.059.922 2,80 16
Indonesia (PSII)
Partai Kristen Indonesia
6. 988.810 2,61 16
(Parkindo)
7. Partai Katolik 748.591 1,99 10
8. Partai Sosialis Indonesia (PSI) 695.932 1,84 10
Ikatan Pendukung
9. Kemerdekaan Indonesia 544.803 1,44 8
(IPKI)
Pergerakan Tarbiyah
10. 465.359 1,23 7
Islamiyah (Perti)
11. Partai Rakyat Nasional (PRN) 220.652 0,58 3
12. Partai Buruh 332.047 0,88 5
Gerakan Pembela Panca Sila
13. 152.892 0,40 2
(GPPS)
14. Partai Rakyat Indonesia (PRI) 134.011 0,35 2
Persatuan Pegawai Polisi RI
15. 179.346 0,47 3
(P3RI)
16. Murba 248.633 0,66 4
17. Baperki 160.456 0,42 2
Persatuan Indonesia Raya
18. 162.420 0,43 2
(PIR) Wongsonegoro
19. Grinda 157.976 0,42 2
Persatuan Rakyat Marhaen
20. 164.386 0,43 2
Indonesia (Permai)
21. Persatuan Daya (PD) 169.222 0,45 3
22. PIR Hazairin 101.509 0,27 2
Partai Politik Tarikat Islam
23. 74.913 0,20 1
(PPTI)
24. AKUI 84.862 0,22 1
25. Persatuan Rakyat Desa (PRD) 39.278 0,10 1
Partai Republik Indonesis
26. 143.907 0,38 2
Merdeka (PRIM)
Angkatan Comunis Muda
27. 55.844 0,15 1
(Acoma)

19
28. R.Soedjono Prawirisoedarso 38.356 0,10 1
29. Gerakan Pilihan Sunda 35.035 0,09 1
30. Partai Tani Indonesia 30.060 0,08 1
31. Radja Keprabonan 33.660 0,09 1
Gerakan Banteng Republik
32. 39.874 0,11
Indonesis (GBRI)
33. PIR NTB 33.823 0,09 1
34. L.M.Idrus Effendi 31.988 0,08 1
35. Lain-lain 426.856 1,13
Jumlah 37.837.105 514

E. Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah dekrit yang dikeluarkan oleh Presiden Indonesia
yang pertama, Soekarno pada 5 Juli 1959. Isi dekrit ini adalah pembubaran Badan
Konstituante hasil Pemilu 1955 dan penggantian undang-undang dasar dari UUD
Sementara 1950 ke UUD '45.

Latar Belakang

Dekrit Presiden 1959 dilatarbelakangi oleh kegagalan Badan Konstituante untuk
menetapkan UUD baru sebagai pengganti UUDS 1950. Anggota konstituante mulai
bersidang pada 10 November 1956. Namun pada kenyataannya sampai tahun 1958
belum berhasil merumuskan UUD yang diharapkan. Sementara, di kalangan
masyarakat pendapat-pendapat untuk kembali kepada UUD '45 semakin kuat. Dalam
menanggapi hal itu, Presiden Soekarno lantas menyampaikan amanat di depan sidang
Konstituante pada 22 April 1959 yang isinya menganjurkan untuk kembali ke UUD
'45. Pada 30 Mei 1959 Konstituante melaksanakan pemungutan suara. Hasilnya 269
suara menyetujui UUD 1945 dan 199 suara tidak setuju. Meskipun yang menyatakan
setuju lebih banyak tetapi pemungutan suara ini harus diulang, karena jumlah suara
tidak memenuhi kuorum. Pemungutan suara kembali dilakukan pada tanggal 1 dan 2
Juni 1959. Dari pemungutan suara ini Konstituante juga gagal mencapai kuorum.
Untuk meredam kemacetan, Konstituante memutuskan reses yang ternyata merupkan
akhir dari upaya penyusunan UUD.

Pengeluaran Dekrit Presiden 1959

Pada 5 Juli 1959 pukul 17.00, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang
diumumkan dalam upacara resmi di Istana Merdeka.
Isi dari Dekrit tersebut antara lain :
1) Pembubaran Konstituante
2) Pemberlakuan kembali UUD '45 dan tidak berlakunya UUDS 1950
3) Pembentukan MPRS dan DPAS dalam waktu yang sesingkat-singkatnya

F. Surat Perintah Sebelas Maret

20
Surat Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret yang disingkat
menjadi Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden
Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.
Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando
Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala
tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat
itu.

Isi Supersemar

Berikut adalah cuplikan Supersemar:
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SURAT PERINTAH
I. Mengingat:
1.1. Tingkatan Revolusi sekarang ini, serta keadaan politik baik nasional maupun
Internasional
1.2. Perintah Harian Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata/Presiden/Panglima
Besar Revolusi pada tanggal 8 Maret 1966
II. Menimbang:
2.1. Perlu adanja ketenangan dan kestabilan Pemerintahan dan djalannja Revolusi.
2.2. Perlu adanja djaminan keutuhan Pemimpin Besar Revolusi, ABRI dan Rakjat
untuk memelihara kepemimpinan dan kewibawaan Presiden/Panglima
Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi serta segala adjaran-adjarannja
III. Memutuskan/Memerintahkan:
Kepada: LETNAN DJENDERAL SOEHARTO, MENTERI PANGLIMA
ANGKATAN DARAT
Untuk: Atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi:
1. Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan dan
ketenangan serta kestabilan djalannja Pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta
mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima
Tertinggi/Pemimin Besar revolusi/mandataris M.P.R.S. demi untuk keutuhan Bangsa
dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala adjaran
Pemimpin Besar Revolusi.
2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-Panglima
Angkatan-Angkatan lain dengan sebaik-baiknja.
3. Supaya melaporkan segala sesuatu jang bersangkuta-paut dalam tugas dan
tanggung-djawabnja seperti tersebut diatas.
IV. Selesai.
Djakarta, 11 Maret 1966
PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR
REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S.
SOEKARNO

Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar
Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan
sejarawan Indonesia mengatakan bahwa terdapat berbagai versi Supersemar sehingga
masih ditelusuri naskah supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di
Istana Bogor.

Keluarnya Supersemar

21
Menurut versi resmi, awalnya keluarnya supersemar terjadi ketika pada tanggal 11
Maret 1966, Presiden Soekarno mengadakan sidang pelantikan Kabinet Dwikora yang
disempurnakan yang dikenal dengan nama "kabinet 100 menteri". Pada saat sidang
dimulai, Brigadir Jendral Sabur sebagai panglima pasukan pengawal presiden'
Tjakrabirawa melaporkan bahwa banyak "pasukan liar" atau "pasukan tak dikenal"
yang belakangan diketahui adalah Pasukan Kostrad dibawah pimpinan Mayor Jendral
Kemal Idris yang bertugas menahan orang-orang yang berada di Kabinet yang diduga
terlibat G-30-S di antaranya adalah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio.

Berdasarkan laporan tersebut, Presiden bersama Wakil perdana Menteri I Soebandrio
dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh berangkat ke Bogor dengan helikopter
yang sudah disiapkan. Sementara Sidang akhirnya ditutup oleh Wakil Perdana
Menteri II Dr.J. Leimena yang kemudian menyusul ke Bogor.

Situasi ini dilaporkan kepada Mayor Jendral Soeharto (yang kemudian menjadi
Presiden menggantikan Soekarno) yang pada saat itu selaku Panglima Angkatan Darat
menggantikan Letnan Jendral Ahmad Yani yang gugur akibat peristiwa G-30-S/PKI
itu. Mayor Jendral (Mayjend) Soeharto saat itu tidak menghadiri sidang kabinet
karena sakit. (Sebagian kalangan menilai ketidakhadiran Soeharto dalam sidang
kabinet dianggap sebagai sekenario Soeharto untuk menunggu situasi. Sebab
dianggap sebagai sebuah kejanggalan).

Mayor Jendral Soeharto mengutus tiga orang perwira tinggi (AD) ke Bogor untuk
menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor yakni Brigadir Jendral M. Jusuf,
Brigadir Jendral Amirmachmud dan Brigadir Jendral Basuki Rahmat. Setibanya di
Istana Bogor, pada malam hari, terjadi pembicaraan antara tiga perwira tinggi AD
dengan Presiden Soekarno mengenai situasi yang terjadi dan ketiga perwira tersebut
menyatakan bahwa Mayjend Soeharto mampu menendalikan situasi dan memulihkan
keamanan bila diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan kewenangan
kepadanya untuk mengambil tindakan. Menurut Jendral (purn) M Jusuf, pembicaraan
dengan Presiden Soekarno hingga pukul 20.30 malam.

Presiden Soekarno setuju untuk itu dan dibuatlah surat perintah yang dikenal sebagai
Surat Perintah Sebelas Maret yang populer dikenal sebagai Supersemar yang
ditujukan kepada Mayjend Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk
mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.
Surat Supersemar tersebut tiba di Jakarta pada tanggal 12 Maret 1966 pukul pukul
01.00 waktu setempat yang dibawa oleh Sekretaris Markas Besar AD Brigjen
Budiono. Hal tersebut berdasarkan penuturan Sudharmono, dimana saat itu ia
menerima telpon dari Mayjend Sutjipto, Ketua G-5 KOTI, 11 Maret 1966 sekitar
pukul 10 malam. Sutjipto meminta agar konsep tentang pembubaran PKI disiapkan
dan harus selesai malam itu juga. Permintaan itu atas perintah Pangkopkamtib yang
dijabat oleh Mayjend Soeharto. Bahkan Sudharmono sempat berdebat dengan
Moerdiono mengenai dasar hukum teks tersebut sampai surat Supersemar itu tiba.
Beberapa Kontroversi tentang Supersemar

Menurut penuturan salah satu dari ketiga perwira tinggi AD yang akhirnya menerima
surat itu, ketika mereka membaca kembali surat itu dalam perjalanan kembali ke
Jakarta, salah seorang perwira tinggi yang kemudian membacanya berkomentar "Lho

22
ini khan perpindahan kekuasaan". Tidak jelas kemudian naskah asli Supersemar
karena beberapa tahun kemudian naskah asli surat ini dinyatakan hilang dan tidak
jelas hilangnya surat ini oleh siapa dan dimana karena pelaku sejarah peristiwa
"lahirnya Supersemar" ini sudah meninggal dunia. Belakangan, keluarga M. Jusuf
mengatakan bahwa naskah Supersemar itu ada pada dokumen pribadi M. Jusuf yang
disimpan dalam sebuah bank.

Menurut kesaksian salah satu pengawal kepresidenan di Istana Bogor, Letnan Satu
(lettu) Sukardjo Wilardjito, ketika pengakuannya ditulis di berbagai media massa
setelah Reformasi 1998 yang juga menandakan berakhirnya Orde Baru dan
pemerintahan Presiden Soeharto. Dia menyatakan bahwa perwira tinggi yang hadir ke
Istana Bogor pada malam hari tanggal 11 Maret 1966 pukul 01.00 dinihari waktu
setempat bukan tiga perwira melainkan empat orang perwira yakni ikutnya Brigadir
jendral (Brigjen) M. Panggabean. Bahkan pada saat peristiwa Supersemar Brigjen M.
Jusuf membawa map berlogo Markas Besar AD berwarna merah jambu serta Brigjen
M. Pangabean dan Brigjen Basuki Rahmat menodongkan pistol kearah Presiden
Soekarno dan memaksa agar Presiden Soekarno menandatangani surat itu yang
menurutnya itulah Surat Perintah Sebelas Maret yang tidak jelas apa isinya. Lettu
Sukardjo yang saat itu bertugas mengawal presiden, juga membalas menodongkan
pistol ke arah para jenderal namun Presiden Soekarno memerintahkan Soekardjo
untuk menurunkan pistolnya dan menyarungkannya. Menurutnya, Presiden kemudian
menandatangani surat itu, dan setelah menandatangani, Presiden Soekarno berpesan
kalau situasi sudah pulih, mandat itu harus segera dikembalikan. Pertemuan bubar dan
ketika keempat perwira tinggi itu kembali ke Jakarta. Presiden Soekarno mengatakan
kepada Soekardjo bahwa ia harus keluar dari istana. “Saya harus keluar dari istana,
dan kamu harus hati-hati,” ujarnya menirukan pesan Presiden Soekarno. Tidak lama
kemudian (sekitar berselang 30 menit) Istana Bogor sudah diduduki pasukan dari
RPKAD dan Kostrad, Lettu Sukardjo dan rekan-rekan pengawalnya dilucuti
kemudian ditangkap dan ditahan di sebuah Rumah Tahanan Militer dan diberhentikan
dari dinas militer. Beberapa kalangan meragukan kesaksian Soekardjo Wilardjito itu,
bahkan salah satu pelaku sejarah supersemar itu, Jendral (Purn) M. Jusuf, serta
Jendral (purn) M Panggabean membantah peristiwa itu.

Menurut Kesaksian A.M. Hanafi dalam bukunya "A.M Hanafi Menggugat Kudeta
Soeharto", seorang mantan duta besar Indonesia di Kuba yang dipecat secara tidak
konstitusional oleh Soeharto. Dia membantah kesaksian Letnan Satu Sukardjo
Wilardjito yang mengatakan bahwa adanya kehadiran Jendral M. Panggabean ke
Istana Bogor bersama tiga jendral lainnya (Amirmachmud, M. Jusuf dan Basuki
Rahmat) pada tanggal 11 Maret 1966 dinihari yang menodongkan senjata terhadap
Presiden Soekarno. Menurutnya, pada saat itu, Presiden Soekarno menginap di Istana
Merdeka, Jakarta untuk keperluan sidang kabinet pada pagi harinya. Demikian pula
semua menteri-menteri atau sebagian besar dari menteri sudah menginap diistana
untuk menghindari kalau datang baru besoknya, demonstrasi-demonstrasi yang sudah
berjubel di Jakarta. A.M Hanafi Sendiri hadir pada sidang itu bersama Wakil Perdana
Menteri (Waperdam) Chaerul Saleh. Menurut tulisannya dalam bukunya tersebut,
ketiga jendral itu tadi mereka inilah yang pergi ke Istana Bogor, menemui Presiden
Soekarno yang berangkat kesana terlebih dahulu. Dan menurutnya mereka bertolak
dari istana yang sebelumnya, dari istana merdeka Amir Machmud menelepon kepada
Komisaris Besar Soemirat, pengawal pribadi Presiden Soekarno di Bogor, minta ijin
untuk datang ke Bogor. Dan semua itu ada saksinya-saksinya. Ketiga jendral ini

23
rupanya sudah membawa satu teks, yang disebut sekarang Supersemar. Di sanalah
Bung Karno, tetapi tidak ditodong, sebab mereka datang baik-baik. Tetapi di luar
istana sudah di kelilingi demonstrasi-demonstrasi dan tank-tank ada di luar jalanan
istana. Mengingat situasi yang sedemikian rupa, rupanya Bung Karno
menandatangani surat itu. Jadi A.M Hanafi menyatakan, sepengetahuan dia, sebab dia
tidak hadir di Bogor tetapi berada di Istana Merdeka bersama dengan menteri-menteri
lain. Jadi yangdatang ke Istana Bogor tidak ada Jendral Panggabean. Bapak
Panggabean, yang pada waktu itu menjabat sebagai Menhankam, tidak hadir.

Tentang pengetik Supersemar. Siapa sebenarnya yang mengetik surat tersebut, masih
tidak jelas. Ada beberapa orang yang mengaku mengetik surat itu, antara lain Letkol
(Purn) TNI-AD Ali Ebram, saat itu sebagai staf Asisten I Intelijen Resimen
Tjakrabirawa.

Kesaksian yang disampaikan kepada sejarawan asing, Ben Anderson, oleh seorang
tentara yang pernah bertugas di Istana Bogor. Tentara tersebut mengemukakan bahwa
Supersemar diketik di atas surat yang berkop Markas besar Angkatan Darat, bukan di
atas kertas berkop kepresidenan. Inilah yang menurut Ben menjadi alasan mengapa
Supersemar hilang atau sengaja dihilangkan.

Berbagai usaha pernah dilakukan Arsip Nasional untuk mendapatkan kejelasan
mengenai surat ini. Bahkan, lembaga ini berkali-kali meminta kepada Jendral (purn)
M. Jusuf saksi terakhir hingga akhir hayatnya ( 8 September 2004, agar bersedia
menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun selalu gagal. Lembaga ini juga
sempat meminta bantuan Muladi yang ketika itu menjabat Mensesneg, Jusuf Kalla,
M. Saelan, bahkan meminta DPR untuk memanggil M. Jusuf. Sampai sekarang, usaha
Arsip Nasional itu tidak pernah terwujud. Saksi kunci lainnya, adalah mantan
presiden Soeharto. Namun dengan wafatnya mantan Presiden Soeharto pada
tanggal27 Januari 2008 membuat sejarah Supersemar semakin sulit untuk diungkap.
Dengan kesimpangsiuran Supersemar itu, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia
mengatakan bahwa peristiwa G-30-S/PKI dan Supersemar adalah salah satu dari
sekian sejarah Indonesia yang masih gelap

G. Sejarah Indonesia (1968-1998)
Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia.
Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan
Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang
dilakukan Orde Lama Soekarno.

Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut,
ekonomi Indonesia berkembang pesat meski hal ini dibarengi praktek korupsi yang
merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin
juga semakin melebar.

Masa Jabatan Suharto

Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5 tahun sebagai
presiden, dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun 1973,
1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.

24
Politik

Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan secara
dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh
Soekarno pada akhir masa jabatannya.

Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia
menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966
mengumumkan bahwa Indonesia "bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan
PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB", dan menjadi anggota
PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia
diterima pertama kalinya.

Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Orde Lama atau Orde
Baru. Pengucilan politik - di Eropa Timur sering disebut lustrasi - dilakukan terhadap
orang-orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal
dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak
yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian
dari mereka yang terlibat "dibuang" ke Pulau Buru.

Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan
administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan
lama ikut dalam gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks tapol).

Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya
dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer
namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat. DPR dan MPR tidak
berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer,
khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat
sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari
PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan
jurang pembangunan antara pusat dan daerah.

Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II
1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo. Soeharto
merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainya stabilitas
politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang
kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional,
Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang
tinggi.

Eksploitasi sumber daya

Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan ini, dan pengeksploitasian
sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang
besar namun tidak merata di Indonesia. Contohnya, jumlah orang yang kelaparan
dikurangi dengan besar pada tahun 1970-an dan 1980-an.

Warga Tionghoa

25
Warga keturunan Tionghoa juga dilarang berekspresi. Sejak tahun 1967, warga
keturunan dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya
berada di bawah warga pribumi, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak
asasi mereka. Kesenian barongsai secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, dan
pemakaian Bahasa Mandarin dilarang, meski kemudian hal ini diperjuangkan oleh
komunitas Tionghoa Indonesia terutama dari komunitas pengobatan Tionghoa
tradisional karena pelarangan sama sekali akan berdampak pada resep obat yang
mereka buat yang hanya bisa ditulis dengan bahasa Mandarin. Mereka pergi hingga
ke Mahkamah Agung dan akhirnya Jaksa Agung Indonesia waktu itu memberi izin
dengan catatan bahwa Tionghoa Indonesia berjanji tidak menghimpun kekuatan untuk
memberontak dan menggulingkan pemerintahan Indonesia.

Satu-satunya surat kabar berbahasa Mandarin yang diizinkan terbit adalah Harian
Indonesia yang sebagian artikelnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Harian ini
dikelola dan diawasi oleh militer Indonesia dalam hal ini adalah ABRI meski
beberapa orang Tionghoa Indonesia bekerja juga di sana. Agama tradisional Tionghoa
dilarang. Akibatnya agama Konghucu kehilangan pengakuan pemerintah.

Pemerintah Orde Baru berdalih bahwa warga Tionghoa yang populasinya ketika itu
mencapai kurang lebih 5 juta dari keseluruhan rakyat Indonesia dikhawatirkan akan
menyebarkan pengaruh komunisme di Tanah Air. Padahal, kenyataan berkata bahwa
kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang, yang tentu bertolak belakang
dengan apa yang diajarkan oleh komunisme, yang sangat mengharamkan perdagangan
dilakukan

Orang Tionghoa dijauhkan dari kehidupan politik praktis. Sebagian lagi memilih
untuk menghindari dunia politik karena khawatir akan keselamatan dirinya.

Perpecahan bangsa

Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa Indonesia.
Setiap hari media massa seperti radio dan televisi mendengungkan slogan "persatuan
dan kesatuan bangsa". Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah
meningkatkan transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali
dan Madura ke luar Jawa, terutama ke Kalimantan, Sulawesi, Timor Timur, dan Irian
Jaya. Namun dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari program ini adalah
terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan kecemburuan terhadap
penduduk pendatang yang banyak mendapatkan bantuan pemerintah. Muncul tuduhan
bahwa program transmigrasi sama dengan jawanisasi yang sentimen anti-Jawa di
berbagai daerah, meskipun tidak semua transmigran itu orang Jawa.
Pada awal Era Reformasi konflik laten ini meledak menjadi terbuka antara lain dalam
bentuk konflik Ambon dan konflik Madura-Dayak di Kalimantan. Sementara itu
gejolak di Papua yang dipicu oleh rasa diperlakukan tidak adil dalam pembagian
keuntungan pengelolaan sumber alamnya, juga diperkuat oleh ketidaksukaan terhadap
para transmigran.

Kelebihan sistem Pemerintahan Orde Baru

26
• perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS$70
dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000
• sukses transmigrasi
• sukses KB
• sukses memerangi buta huruf
• sukses swasembada pangan
• pengangguran minimum
• sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
• sukses Gerakan Wajib Belajar
• sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
• sukses keamanan dalam negeri
• Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia
• sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri
Kekurangan Sistem Pemerintahan Orde Baru
• semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme
• pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan
pembangunan antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan
daerah sebagian besar disedot ke pusat
• munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan
pembangunan, terutama di Aceh dan Papua
• kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang
memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun
pertamanya
• bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata
bagi si kaya dan si miskin)
• kritik dibungkam dan oposisi diharamkan
• kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang
dibreidel
• penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan
program "Penembakan Misterius" (petrus)
• tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden
selanjutnya)

Krisis finansial Asia

Pada pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan dan ekonomi Asia (untuk
lebih jelas lihat: Krisis finansial Asia), disertai kemarau terburuk dalam 50 tahun
terakhir dan harga minyak, gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh.
Rupiah jatuh, inflasi meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat. Para
demonstran, yang awalnya dipimpin para mahasiswa, meminta pengunduran diri
Soeharto. Di tengah gejolak kemarahan massa yang meluas, Soeharto mengundurkan
diri pada 21 Mei 1998, tiga bulan setelah MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh.
Soeharto kemudian memilih sang Wakil Presiden, B. J. Habibie, untuk menjadi
presiden ketiga Indonesia.

Pasca-Orde Baru

27
Mundurnya Soeharto dari jabatannya pada tahun 1998 dapat dikatakan sebagai tanda
akhirnya Orde Baru, untuk kemudian digantikan "Era Reformasi".
Masih adanya tokoh-tokoh penting pada masa Orde Baru di jajaran pemerintahan
pada masa Reformasi ini sering membuat beberapa orang mengatakan bahwa Orde
Baru masih belum berakhir. Oleh karena itu Era Reformasi atau Orde Reformasi
sering disebut sebagai "Era Pasca Orde Baru".

28