You are on page 1of 12

MAKALAH

AGAMA DAN KEHIDUPAN MANUSIA

Disusun oleh :
NADYA REFISARI
NIM :
G1A115086

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015

BAB I
LATAR BELAKANG

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan
istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan
sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah
spesies primatadari

golongan mamalia yang

dilengkapi otak berkemampuan

tinggi.

Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsepjiwa yang bervariasi di


mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan
atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain.
Dalam antropologi kebudayaan,

mereka

penggunaan bahasanya,

mereka

organisasi

perkembangan teknologinya,

dan

terutama

dijelaskan
dalam

berdasarkan

masyarakat majemuk serta

berdasarkan

kemampuannya

untuk

membentuk kelompok, dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya.
Secara

alamiah,

jenis

kelamin

seorang

anak

yang

baru

lahir

entah laki-

laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa
sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa
sebagai wanita.
Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anakanak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua.
Selain itu masih banyak penggolongan-penggolongan yang lainnya, berdasarkan ciriciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung; tinggi badan), afiliasi sosio-politikagama (penganut agama/kepercayaan XYZ, warga negara XYZ, anggota partai XYZ),
hubungan kekerabatan (keluarga: keluarga dekat, keluarga jauh, keluarga tiri, keluarga
angkat, keluarga asuh; teman; musuh) dan lain sebagainya.
Tokoh adalah istilah untuk orang yang tenar, misalnya 'tokoh politik', 'tokoh yang tampil
dalam film', 'tokoh yang menerima penghargaan' dan lain-lain.

BAB II
ISI

2.1 Pengertian Manusia


Secara bahasa manusia berasal dari kata manu (Sansekerta), mens (Latin), yang
berarti berpikir, berakal budi atau makhluk ang berakal budi (mampu menguasai
makhluk lain).
Secara umum manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang
lain, oleh karena itu manusia senantiasa membutuhkan interaksi dengan manusia yang
lain.
Seorang Antropologi Indonesia yaitu Koentjaraningrat menyatakan bahwa masyarakat
adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat
tertentu yang bersifat terus menerus, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas
bersama. Pandangan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat tersebut menegaskan
bahwa di dalam masyarakat terdapat berbagai komponen yang saling berinteraksi
secara terus menerus sesuai dengan sistem nilai dan sistem norma yang di anutnya.
Interaksi antar komponen tersebut dapat terjadi antara individu dengna individu, antara
lain individu dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok.
Pengertian Manusia Menurut Para Ahli
Berikut ini adalah pengertian dan definisi manusia menurut beberapa ahli:

NICOLAUS D. & A. SUDIARJA


Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan
rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang.

ABINENO J. I
Manusia adalah tubuh yang berjiwa dan bukan jiwa abadi yang berada atau
yang terbungkus dalam tubuh yang fana.

UPANISADS
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana
atau badan fisik.

SOKRATES
Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar
dan lebar.

KEES BERTENS
Manusia adalah suatu mahluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya tidak
dinyatakan.

I WAYAN WATRA
Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa
dan karsa.

OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY


Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir,
dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh),
manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan.

ERBE SENTANU
Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang
manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan
mahluk yang lain.

PAULA J. C & JANET W. K


Manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi,
mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta
turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai
kemungkinan.

2.2 Eksistensi dan Tujuan Kehidupan Manusia


Dalam filsafat eksistensi, istilah existensi di artikan sebagai gerak hidup manusia
kongkrit. Kata eksistensi berasal dari bahasa latin ex-sistere ( ex berarti keluar dan tere
berarti berdiri, tampil ) kata eksistensi diartikan manusia berdiri sendiri dengan keluar
dari dirinya. Dalam pengertian inilah eksistensi mengandung corak yang dinamis.
Dalam filsafat eksistensi, pengertian eksistensi digunakan untuk menunjukkan cara
benda yang unik dan has dari manusia yang berbeda dengan benda-benda lainnya,
karna hanya manusialah yang dapat berada dalam arti yang sebenaranya di banding
mahluk-mahluk atau benda-benda lain di dunia ini lebih sepisik lagi eksistensi lebih
merujuk atau menunjuk pada manusia secara individual artinya individu yang ini atau
individu yang itu dan bersifat kongkrit, kongkrit dalam arti bahwa manusia tidak
dipormulasikan berdasar rekayasa ide apstrak sfekulatif seseorang untuk menyatakan
depenisi manusia secara umum. Eksistensi bukanlah suatu yang sudah selesai, tapi
suatu proses terus menerus melalui tiga tahap, yaitu : dari tahap eksistensi estetis
kemudian ke tahap etis, dan selanjutnya melakukan lompatan ke tahap eksistensi
religius sebagai tujuan akhir.
Berdasarkan Al-Quran sebagai sumber utama ajaran Islam bahwa motif dari
penciptaan manusia adalah untuk menjadi khalifatullah fil ardhi, hal ini dijelaskan dalam
surat Al-Baqarah ayat 30. Kedudukan sebagai khalifatullah fil ardhi merupakan predikat
yang luar biasa dan menempatkan manusia pada posisi yang lebih tinggi dari makhluk
lain.khalifatullah fil ardhi adalah subjek yang mampu membaca dan menafsirkan
kehendak dan aturan-aturan Tuhan untuk kemudian dijelmakan menjadi perilaku konkrit
dalam rangka menjaga kemaslahatan di bumi.
Manusia yang berdimensi basyar (organis biologis) harus menjadi berdimensi insan
(psikologis intelektual), untuk menjadi khalifatullah fil ardhi. Karena Khalifah is being.
Manusia yang berdimensi Insan itu harus mempunyai sifat yang pertama samianyaitu
kemampuan mendengar deskriftif), mendengar dalam arti terbuka dari setiap informasi
yang ada untuk mencari kebenaran. Dan yang ke dua sifat Basyriron yaitu kemampuan

melihat

(kompratif),

meliahat

dalam

arti

bagaimana

dia

bisa

meneliti

dan

membandingkan informasi yang ia dengarkan untuk mencari kebenaran.


Menjadi khalifatullah fil ardhi membutuhkan proses. Proses tersebut akan membentuk
pribadi insan tersebut seperti proses pencarian jati diri dan proses mencari ilmu
pengetahuan. Maka tidak semua manusia mampu menjadi khalifatullah fil ardhi.
Untukkhalifatullah fil ardhi yang sesungguhnya dibutuhkan syarat-syarat tertentu, untuk
menjadi khalifatullah fil ardhi seseorang harus taat dengan aturan-aturan Tuhan dan
harus mampu mengendalikan diri, dengan dua kondisi itu, kekhalifahan Tuhan dapat
dijalankan, dan eksistensi manusia sebagai khalifatullah fil ardhi diteguhkan.
Proses yang terjadi dalam pembentukan khalifatullah fil ardhi akan mengahasilkan
insan yang syukur, yaitu bersyukur atas tugasnya menjadi khalifatullah fil ardhi. Dalam
menjalini tugasnya manusia harus tahu apa hakikat dan fungsinya sebagai khalifatullah
fil ardhi. Hakikat manusia sebagai eksisten berdasarkan Al-quran surat Al-Mukminuun
ayat 115 adalah ciptaan yang mempunyai fungsi dan bertanggung

jawab atas

fungsinya itu. Manusia itu ciptaan Tuhan sebagaimana makhluk lainnya. Kelebihan
manusia dibandingkan dengan makhluk yang lain adalah terletak pada fungsi, yakni
kemampuan melaksanakan dan mempertanggungjawabkan fungsinya. Fungsi utama
manusia sebagai eksisten secara eksplisit dijelaskan dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56,
yakni untuk mengabdi kepada Tuhan. Segala aktivitas kemanusiaan mesti dimaknai
sebagai suatu pengabdian.

Kesadaran diri sebagai khalifah dan fungsi pengabdian sebenarnya identik. Pengabdian
merupakan jalan untuk meneguhkan eksistensi manusia sebagai khalifatullah fil ardhi.
Kesadaran diri sebagai khalifah merupakan motif pengabdian yang total. Pengabdian
yang seutuhnya untuk mengharap ridho Allah. Kerja nyata dari khalifatullah fil
ardhiadalah amal sholih, sholih dalam arti perbaikan. Perbaikan menuju yang lebih baik
lagi.

Identitas terukurnya hasil dari kerja nyata sebagai khalifatullah fil ardhi yaitu pertama
dari skala prioritas, dimana perbaikan yang mana yang lebih diperlukan/diutamakan
untuk menciptakan kemakmuran di bumi ini. Ke dua yaitu sistematik (terorganisir), yaitu
yang dilakukan secara bersama-sama dan sistematik sehingga hasil yang diperoleh
akan lebih baik.
Kebaikan yang tidak sistematik akan dikalahkan kebatilan yang tidak sistematik.
Sebagai makhluk yang paling sempurna yang telah diciptakan oleh Allah didunia,
peranan manusia dalam kehidupan di bumi tentulah sangat vital. oleh karena itu dalam
hidup manusia memiliki tujuan. Kalau dilihat dari arahnya, maka tujuan manusia
dibedakan menjadi :

Tujuan Hidup vertikal : Mencari ridho Allah (QS Al- Baqoroh 207)

Tujuan hidupo horizontal :bahagia di dunia dan akhirat dan rahmat bagi semua
manusia dan seluruh alam ( Al anbiya : 107)

Sebagai makhluk yang dibekali dengan berbagai kelebihan jika dibandingan dengan
makhluk lain, sudah sepatutnya manusia mensyukuri anugrah tersebut dengan
berbagai cara, diantaranya dengan memaksimalkan semua potensi yang ada pada diri
kita. kita juga dituntut untuk terus mengembangkan potensi tersebut dalam rangka
mewujudkan tugas dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk dan khalifatullah fil
ardhi. Sebagaikhalifatullah fil ardhi diharapkan aktivitasnya menjadi aktivitas Rahmatan
lil alamin.

2.3 Fungsi Kekhalifahan dan Kehambaan Manusia

Manusia Sebagai Khalifah


Seperti makhluk lainnya, manusia adalah makhluk ciptaan Allah, ia diciptakan secara
alamiah karena Allah menciptakan Adam dari tanah. (QS. al-Hijr, 15:26)
Ayat ini menunjukkan bahwa jika diorganisir kedalam diri manusia akan menghasilkan
ekstrak sullah (air mani), dan jika masuk kedalam rahim air mani akan mengalami
sebuah proses kreatif, seperti dinyatakan dalam (QS. al-muminun, 23:12-14). Tetapi
manusia berbeda dari makhluk ciptaan Allah lainnya, karena ia diberi ruh serta potensipotensi yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Oleh sebab itu, dengan ciri-ciri khususnya
seperti badan, akal, dan ruhyang membedakan manusia dari makhluk lainnya dan
menjadikan manusia sebagai makhluk termulia, dan dengan segenap kemampuannya
manusia menerima amanah Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. (QS. AlBaqarah, 1:30)
Dalam al-Quran terdapat kata khalifah dalam bentuk tunggal sebanyak dua kali, yaitu
dalam surat al-baqarah: 30 dan surat shad: 26. Dan dalam bentuk jamak yaitu khalif
dan khulafa, bentuk khulif yang diulang sebanyak empat kali dalam QS. alAnam:165, Yunus:14 dan 72, fathir:39). Adapun bentuk khulafadiulang sebanyak tiga
kali, seperti dalam QS. al-Araf:69 dan 74, an-Naml:62)
Seluruh kata tersebut berakar pada kata khulafa yang pada mulanya mempunyai arti
dibelakang. Dari sini kata khalifah sering diartikan sebagai pengganti karena yang
menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
Namun kata khalifah yang ditujukan kepada Nabi Daud (QS. Shad: 26) menunjukkan
arti penguasa.
Dari penjelasan di atas, dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwa kata khalifahbaik
berarti pengganti atau penguasa, keduanya mengacu pada tugas manusia di muka
bumi, oleh kaena itu manusia berkewajiban untuk memelihara dan menjaga alam

semesta beserta isinya. Maka sebagai khalifah ia bertanggung jawab terhadap sesama
makhluk dan sebagai hamba ia bertanggung jawab terhadap Tuhannya, karena
manusia sebagai makhluk yang lebih dimuliakan maka ia juga berkewajiban untuk
menjaga dan memelihara keselamatan, harta, kehormatan, nyawa, kebebasan dan
nama baik.
Kemulian yang diberikan Allah kepada manusia, sebelumnya telah ditawarkan kepada
gunung, langit dan bumi dimana semuanya menolak tawaran tersebut (QS. alAhzab:72) karena amanah tersebut teramat berat untuk dilaksanakan. Namun dengan
ketakwaan dan kemulyaan akal manusia dan kesediannnya untuk menimba ilmu
pengetahuan yang berbagai jenis dan karena keahliannya mampu melaksanakan kerjakerja akal dalam berbagai bidang, maka manusia menerima tugas berat tersebut. Jadi,
kemulian manusia itu merupakan karunia tak terkira yang diberikan Allah termasuk
ketika Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud menghormati manusia.
Namun satu hal yang harus diingat bahwa, kekuasaan seorang khalifah pada dasarnya
tidaklah mutlak, karena kekuasaannya dibatasi oleh pemberi mandat kekhalifahan yaitu
Allah swt. Dan sebagai pemegang mandat Tuhan, seorang khalifah tidak diperbolehkan
melawan hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan.
Selanjutnya, al-Quran selain menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan manusia, ia
juga menjelaskan tentang kelemahan-kelemahan manusia yang paling dasar. Disini
harus diingat, bahwa setan menghadang manusia dari setiap arah, namun tipu
dayanya tidak mempan terhadap manusia yang benar-benar shaleh. Sesungguhnya
tidak ada manusia yang kebal dari godaan setan, termasuk para Nabi (QS. alHajj:52, al-Isra:53). Namun setiap orang yang benar-benar beriman dan memiliki
kemauan, apalagi para Nabi, dapat mengatasi godaan tersebut. Hal ini karena di dalam
menghadapi godaan-godaan setan tersebut mereka terus berpegang teguh pada
fitrah mereka yang tidak dapat dirubah, walaupun untuk sementara waktu dapat
terganggu (QS. ar-Rum:30).
Menurut Fazlur Rahman, manusia-manusia seperti inilah yang merupakan puncak
ciptaan Tuhan, mereka ini melampaui para malaikat baik dalam pengetahuan maupun

kesalehan. Adapun fitrah yang dimaksud disini adalah kecenderungan manusia untuk
kembali kepada agama, yaitu Allah. Dan kecenderungan ini akan selalu ada dalam diri
setiap

manusia, meskipun

terkadang

manusia

memiliki

kecenderungan

pada

kemaksiatan karena pengaruh lingkungan. Namun hal itu pun yang merupakan ciri dari
kemuliaan kompleksitas manusia yang membedakannya dari makhluk lain termasuk
malaikat, karena malaikat hanya mampu untuk tunduk dan patuh pada Allah namun
tidak memiliki kebebasan untuk berfikir dan berekspresi dalam pelaksanaan amalnya.
Manusia Sebagai Hamba Allah
Manusia selain berperan sebagai khalifah di bumi memiliki kedudukan lainnya di alam
ini, yaitu sebagai hamba yang harus beribadah kepada Allah swt. (QS. Adz-Zariat,
51:56). Al-Maraghi menjelaskan bahwa Allah menciptakan jin dan manusia agar mereka
dapat mengetahui atau mengenal Tuhannya, mereka tidak hanya mengenal wujud
Tuhannya

saja,

namun

mereka

juga

dapat

meyakini

keberadaannya.

Itulah

konsekwensi logis dari kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang selalu
bergantung dan berlindung kepada-Nya.
Esensi dari abd adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan yang semuanya itu
hanya layak diberikan kepada Tuhan. Ketaatan dan ketundukan kepada Tuhan akan
senantiasa berlaku pada manusia dan makhluk ciptaan lainnya, oleh karena itu
manusia terikat oleh hukum-hukum Tuhan yang telah menjadi kodrat pada setiap
makhluk ciptaannya. Namun sebagai makhluk yang memiliki kemuliaan dan kelebihan
dibanding yang lainnya, manusia tidak sepenuhnya terikat pada hukum alamiah saja,
karena dengan kemampuan akalnya ia mampu untuk mengolah potensi alam menjadi
sesuatu yang baru yang diperlukan bagi kehidupannya, sehingga kemudian manusia
terikat oleh hukum-hkum berfikir dalam upaya mengembangkan dan mewujudkan
pemikirannya.
Jika pengertian ibadah dihubungkan dengan pengertian khalifah maka dapat dijelaskan
bahwa manusia sebagai khalifah yang berarti penguasa alam semesta memiliki
kekuasaan dan kebebasan untuk berfikir dan menggunakan akalnya, sedangkan
manusia

sebagai abd adalah

seorang

yang

tidak

memiliki

wewenang

untuk

menentukan pilihan, tidak memiliki kebebasan untuk berkehendak. Jadi dapat


disimpulkan bahwa esensi seorang khalifah adalah kebebasan dan kreatifitas,
sedangkan sebagai abd adalah ketaatan dan kepatuhan.
Dengan demikian manusia selain sebagai khalifah yang mengelola dan memelihara
alam

semesta

ini

dengan

segala

potensi-potensi

yang

dimilikinya,

juga

sebagaiabd yang seluruh aktifitasnya harus berdasarkan ibadah kepada Allah. Jika hal
ini terlaksana dengan baik, maka manusia sebagai khalifah tidak akan berbuat
kemungkaran, korupsi dan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Untuk dapat melaksanakan fungsi ke-khalifahan dan ibadah dengan baik, maka
manusia perlu diberikan pendidikan, pengajaran, pelatihan, keterampilan, teknologi dan
sarana pendukung lainnya. Dengan demikian secara tersirat menunjukan bahwa
konsep kekhalifahan dan ibadah dalam al-Quran erat kaitannya dengan pendidikan.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Jadi manusia merupakan makhluk yang luar biasa kompleks. Sedemikian sempurna
manusia diciptakan oleh Sang Pencipta dan manusia tidak selalu diam karena dalam
setiap kehidupan manusia selalu ambil bagian. Kita sebagai manusia harus menjadi
individu yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain.
Manusia itu tidak sepenuhnya sempurna, dalam kehidupan yang kita jalani pasti selalu
ada masalah yang tidak bisa kita selesaikan, oleh karena itu juga membutuhkan
bantuan dari orang lain, karena manusia adalah makhluk sosial sama seperti yang lain
karena manusia tidak bisa berdiri sendiri, dalam hal agama kita juga mempunyai
banyak maka dari itu kita harus saling menghargai dan mengasihi karena kita samasama makhluk yang diciptakan tidak ada bedanya, selain itu dalam hidup manusia juga
terdapat banyak aturan yang harus kita patuhi sebagai umat manusia.

DAFTAR PUSTAKA

1. https://abdulaziz96.wordpress.com/2015/03/17/pengertian-manusia/
2. Wikipedia
3. http://auliarahmansinaga.blogspot.co.id/2011/11/eksistensi-manusia-dalamkehidupan.html
4. http://www.tugasku4u.com/2013/05/makalah-hakikat-manusia-menurut-islam.html