You are on page 1of 6

Laporan Praktikum Cryptogamae ke-2, kelompok 1

MENGHITUNG JUMLAH SEL MIKROALGA JENIS Botryococcus Braunii


DAN PENGUKURAN KADAR KLOROFIL MIKROALGA
Rissa Rochimah1, Rizal Maulana Hasby2, Ferbi Fajar Ramadhan3
(Jurusan Biologi Fakultas Saintek UIN SGD)
rrochimah@gmail.com1, rizal.maulana@fst.uinsgd.ac.id2 , ferbi.ramadhan.1@yahoo.com3
ABSTRAK :
Botryococcus braunii, termasuk ke dalam kelompok alga hijau (Chlorophyceae). Mikroalga
Botryococcus braunii menghasilkan senyawa metabolit primer yang terdiri dari protein, karbohidrat dan
lipid, serta senyawa metabolit sekunder. Pada penelitian kali ini kami menghitung jumlah sel dan mengukur
kadar klorofil. Pada penghitungan jumlah sel kami menggunakan mikroalga air laut dan menggunakan
media F/2. Kultur mikroalga tersebut dihitung selama 1 minggu. Dapat diketahui bahwa dari 3 perlakuan
tersebut mempengaruhi jumlah sel mikroalga yang dihasilkan dan jumlah sel tersebut mempengaruhi kadar
klorofil.
Kata Kunci : Mikroalga, Botryococcus braunii, Jumlah Sel, Laju Pertumbuhan, Kadar Klorofi

1.

PENDAHULAN
1.1 Tujuan Penelitian
- Mengetahui pengaruh media
terhadap
jumlah
sel
Botryococcus Braunii
- Mengetahui struktur tubuh
(bentuk) Botryococcus Braunii
- Mahasiswa
memiliki
keterampilan
menghitung
jumlah sel mikroalga
- Mahasiswa
mengetahui
pengaruh
media
terhadap
kandungan klorofil mikroalga
1.2 Dasar Teori
Mikroalga adalah salah satu
jenis tumbuhan yang banyak
tersebar baik di perairan darat
maupun laut (Burlew, J.S. 2012).
Salah satu spesies mikroalga yang
berpotensi untuk dikembangkan
adalah Botryococcus braunii,

termasuk ke dalam kelompok alga


hijau (Chlorophyceae). Pigmen
yang terkandung dalam mikroalga
Botryococcus braunii antara lain
klorofil a yang berperan memberi
warna hijau, disamping itu terdapat
pigmen klorofil b dan karotenoid
yang juga berperan dalam proses
fotosintesis (Harbone, 1987).
Mikroalga
Botryococcus
braunii menghasilkan senyawa
metabolit primer yang terdiri dari
protein, karbohidrat dan lipid, serta
senyawa metabolit sekunder berupa
pigmen karotenoid yang berisi
antara lain violaxantin, lutein, karoten dan astaxanthin (Cohen, Z,
et al., 2011).
Kandungan astaxanthin dalam
sel mikroalga B. braunii sangat
dipengaruhi oleh ketersediaan nutrsi

di dalam media kulturnya, salah satu


unsur nutrisi tersebut adalah
nitrogen dan fosfor. Nitrogen
merupakan
unsur
pokok
pembentukan protein dan penyusun
utama protoplasma, kloroplas dan
enzim. Dalam kegiatan seharihari
peran nitrogen berhubungan dengan
aktivitas fotosistesis, sehingga
secara langsung atau tidak nitrogn
sangat penting dalam prose
metabolisme
dan
respirasi.
Sedangkan phosphor merupakan
untuk penting penyusun Adenosi
Triphosphat (ATP) yang secara
langsung berperan dalam proses
penyimpanan dan transfer energi
yang
terkait
dalam
proses
metabolisme (E.W. Becker., 2011).
Keterbatasan nitrat dan fosfat
pada media kultur Botryococcus
braunii
dapat
mempengaruhi
pertumbuhan mikroalga. Salah satu
cara
untuk
mengoptimalkan
kandungan astaxanthin dalam sel
yaitu dengan cara memodifikasi
kultur dengan penambahan kalium
nitrat dan kalium dihidrogen fosfat
pada jumlah yang tepat pada media
kultur akan menghasilkan jumlah
astaxanthin
yang
optimal
(Dwidjoseputro, 1994).
Alga masuk dalam kingdom
protista karena memiliki ciri-ciri
tubuh tersusun atas satu sel atau
banyak sel, sel-sel tubuhnya tidak
berdiferensiasi membentuk jaringan
khusus. Didalam sel alaga terdapat
berbagai plastida, yaitu organel sel
yang mengandung zat warna
(pigmen). Pigmen yang terdapat
pada alga terutama adalah kloroplas.
Kloropas mengandung pigmen
klorofil yang berperan penting

2.

dalam proses fotosintesis (Istamar


dan Syamsuri, 2006).
Spektofometer sesuai dengan
namanya adalah alat yang terdiri dari
spectometer
dan
fotometer.
Spektrometer menghasilkan sinar
dari spektrum dengan panjang
gelombang dan fotometer adalah alat
pengukur intensitas cahaya yang
ditransmisikan atau yang diadsorpsi
(Rgmaisyah, 2008). Centrifuge
adalah alat untuk memutar sampel
pada kecepatan tinggi, memaksa
partikel yang lebih berat terkumpul
ke
dasar
tabung
centrifuge.
Pemakaian centrifuge yang paling
sering adalah untuk pemisahan
komponen sel darah dari cairannya
sehingga cairannya bisa dipakai
untuk pemeriksaan (Prihatini, 2007).
METODE
2.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk
menghitung jumlah sel mikroalga
jenis Botryococcus Braunii adalah
rak kultur, selang, aerator, lampu
TL, pipet tetes, hemacytometer,
pipet tetes, gelas ukur, labu
Erlenmeyer.
Sedangkan alat yang digunakan
untuk pengukuran kadar klorofil
mikroalga adalah spektrofotometer,
centrifuge, gelas ukur, kuvet, tabung
reaksi dan glass bead.
Bahan yang digunakan untung
menghitung jumlah sel mikroalga
adalah media F/2 yaitu NaNO3 5ml,
NaH2PO4 5ml, FeCl 1ml, air garam
Na2EDTA 1ml, MnCl 1 ml, ZnSO4
1ml, COCl2 1 ml , Na2NO3 ml 1, Vit
B1 1ml ,Vit H 1 ml, Vit B12 1 ml
dan isolat Botryococcus Baraunii.
Sedangkan bahan yang digunakan
untuk perhitungan kadar klorofil
mikroalaga
adalah
kultur
2

Botryococcus Braunii dan etanol


96%.
2.2 Prosedur kerja
2.2.1. Pembuatan media
Pertama yang harus dilakukan
adalah pembuatan media F/2. Air
laut dimasukkan ke dalam labu
Erlenmeyer lalu ditambahkan
aquades.Kemudian ditambahkan
NaNO3 5ml, NaH2PO4 5ml, FeCl
1ml, air garam Na2EDTA 1ml,
MnCl 1 ml, ZnSO4 1ml, COCl2 1
ml, Na2NO3 ml 1, Vit B1 1ml , Vit
H 1 ml, Vit B12 1 ml Erlenmeyer
ditutup dengan alumunium foil dan
plastic tahan panas. Lalu diikat dan
disterilisasi selama 15 menit dan
diamkan 1 minggu.
2.2.2. Perlakuan 0 jam
Mikroalga yang didiamkan
selam 1 minggu kemudian
ditambahkan 2 tetes vitamin ke
dalam kultur mikroalaga tersebut.
Kemudian dikocok dan didiamkan.
Setiap 5 jam kultur tersebut dikocok
dan pada setiap jam kita
mengkulturnya jumlah mikroalga
tersebut
dihitung
dengan
menggunakan
hemacytometer.
Perhitungan dilakukan selama 1
minggu.
2.2.3. Pengukuran Kadar Klorofil
Kultur mikroalga diambil 10 ml
dimasukkan ke dalam tabung
reaksi. Disentrifugasi dengan
kecepatan 3000 rpm selama 10
menit, lalu supernatan dibuang dan
endapannya diambil. Kemudian
dipindahkan ke dalam tabung
reaksi ditambahkan etanol 96%
dan glass bead dimasukkan, lalu
dikocok selama 10 menit setelah
itu disentrivugasi lagi. Larutan
tersebut dipindahkan ke dalam
kuvet, supernatan tersebut diukur

dan panjang gelombangnya diukur


dengan
menggunakan
spektrofotometer.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan
yang kami dapatkan dari kultur
Botryococcus Braunii jumlah
selnya yaitu :
3.1 Jumlah Sel
Dapat diketahui bahwa jumlah
sel pada mikroalga dari 3
perlakuan tersebut adalah

3.

Hari

Sampel
1(0 jam)
sel

Sampel
2(12jam)
sel

2950000
3700000
4100000
4150000
4950000
4650000

1
2
3
4
5
6

1250000
2450000
5000000
7350000
7200000
4650000

Sample
3(24jam)
sel
6200000
7000000
10100000
10250000
10250000
9150000

Gambar 3.1 Tabel Laju Pertumbuhan

Jumlah Sel
12000000
10000000
8000000
6000000
4000000
2000000
0
0

2
T=0

T=12

T=24

Gambar 3.2 Grafik Laju pertumbuhan

Pada praktikum kali ini kami


melakukan perhitungan terhadap sel
mikroalga jenis Botryococcus Braunii
yaitu dengan cara control atau 0 jam,
yaitu kultur yang digunakan tidak
menggunakan aerator dan cahaya. Pada
kultur dengan cara control pengocokan
secara manual dilakukan oleh kami
sendri selama 5 jam sekali dalam waktu
satu minggu.
3

Dapat dilihat pada grafik diatas


bahwa pada hari pertama terjadi fase
adaptasi yaitu fase dimana mikroalga
menyesuaikan diri terhadap kultur atau
lingkungannya. Pada hari kedua terjadi
fase ekesponensial yaitu fase dimana
mikroalga tersebut aktif membelah, jadi
terjadi peningkatan sel pada fase ini.
Pada hari ke lima terjadi fase stasioner
yaitu fase dimana selnya konstan dan
ada beberapa sel yang mati karena
mikroalga sebagai faktor pembatas dan
kecepatan
pertumbuhan
bersifat
setimbang karena jumlah sel yang
membelah dan yang mati sama. Pada
hari ke-enam terjadi fase kematian
yaitu fase dimana sel mikroalga mati
atau tidak mampu lagi mengalami
pembelahan.
Fase-fase yang terjadi pada
mikroalga selama satu minggu itu
dipengaruhi oleh beberapa factor
diantaranya suhu atau temperature
ruangan, nutrisi yang didapat di dalam
kultur dan cahaya matahari.
Mikroalga
Botryococcus
braunii
menghasilkan
senyawa
metabolit primer yang terdiri dari
protein, karbohidrat dan lipid, serta
senyawa metabolit sekunder berupa
pigmen karotenoid yang berisi antara
lain violaxantin, lutein, -karoten dan
astaxanthin ().
Kandungan astaxanthin dalam
sel mikroalga B. braunii sangat
dipengaruhi oleh ketersediaan nutrsi di
dalam media kulturnya, salah satu
unsur nutrisi tersebut adalah nitrogen
dan fosfor. Nitrogen merupakan unsur
pokok pembentukan protein dan
penyusun
utama
protoplasma,
kloroplas dan enzim ().

3.2 Pengukuran Kadar Klorofil


Pada
hasil
pengamatan
didapatkan bahwa kadar klorofil dari
mikroalga jenis Botryococcus Braunii.
Kadar klorofil dari 3 jenis perlakuan
yaitu :
a. Perlakuan control :
Klorofil a = (12,7 x 0,89) (27 x 0,40)
= 0,503 Jt/ml
Klorofil b = (22,9 x 0,40) (4.7 x 0,89)
= 4,977 Jt/ml
Klorofil total = (20,2 x 0,40) + (8,0 x 0,89)
= 15.2 Jt/ml
b. Perlakuan 12 jam
Klorofil a = (12,7 x 0,202) (27 x 0,105)
= 0,2696 Jt/ml
Klorofil b = (22,9 x 0,105) (4.7 x 202)
= 1,4551 Jt/ml
Klorofil total = (20,2 x 0,105) + (8,0 x 0,202)
= 3,737 Jt/ml
c. Perlakuan 24 jam
Klorofil a = (12,7 x 0,170) (27 x 0,840)
= 20,521 Jt/ml
Klorofil b = (22,9 x 0,840) (4.7 x 0,170)
= 18,437 Jt/ml
Klorofil total = (20,2 x0,840) + (8,0 x 0,170)
= 15,608 Jt/ml
Klorofil Sampel
Sampel
Sampel
1(0 jam) 2(12jam) 3(24jam)
Jt/ml
Jt/ml
jt/ml
Klorofil
0.503
0.2696
20.521
a
Klorofil
b

4.977

1.4551

18.437

Klorofil
a+b

15.2

3.737

15.608

Gambar 3.3 Tabel Kadar Klorofil

Pengukuran Kadar Klorofil


25

20
15
10
5
0
A

B
T=0

T=12

A+B
T=24

Gambar 3.4 Grafik Kadar Klorofil

Setelah dilakukan penghitungan jumlah sel,


selanjutnya yaitu pengukuran kadar klorofil.
Mikroalga adalah tumbuhan tingkat rendah
yang memiliki klorofil, yang dapat digunakan
untuk melakukan proses fotosintesis. Dalam
proses fotosintesis ini terdapat 3 fungsi utama
dari klorofil yaitu memanfaatkan energi
matahari, memicu fiksasi CO2 menjadi
karbohidrat dan menyediakan dasar energetik
bagi
ekosistem
secara
keseluruhan.
Pengukuran klorofil ini berfungsi untuk
mengetahui
ukuran
kelimpahan
atau
ketersediaan mikroalga dan ukuran fotosintesis
suatu perairan.
Berdasarkaan hasil pengukuran diperoleh hasil
untuk masing-masing- yaitu kontrol, diperoleh
0,40 pada panjang gelombang cahaya 645 dan
0,89 pada panjang gelombang 663. Aerator 1
dengan perlakuan 12 jam diperoleh hasil 0,105
pada gelombang cahaya 645 dan 0,202 pada
gelombang cahaya 663. Sedangkan untuk
aerator 2 yaitu perlakuan 24 jam diperoleh
dengan hasil 0,840 pada gelombang cahaya
645 dan 0,170 pada gelombang cahaya 663.
Dari ke-3 sampel diatas dihitung masingmasing
kadar
klorofilnya
dengan
menggunakan rumus untuk klorofil A, klorofil
B dan total (A dan B). Hasil yang didapat
dirata-ratakan sesuai dengan jenis klorofilnya,
sehingga diperoleh hasil rata-rata dari masingmasing klorofil untuk ketiga perlakuan yaitu
kontrol, aerator 1 dengan perlakuan 12 jam,
dan aerator 2 dengan perlakuan 24 jam.

Diperoleh hasil akhir untuk kontrol yaitu


klorofil A = 0,503, klorofil B = 4,977, dan
klorofil total (A dan B) = 15,2 . Sedangkan
untuk kontrol 1 dengan perlakuan 12 jam
diperoleh klorofil A = 0,2696, klorofil B =
1,4551, dan klorofil total = 3,737. Yang
terakhir yaitu aerator 2 dengan perlakuan 24
jam diperoleh klorofil A = 20,521, klorofil B =
18,437, dan klorofil total = 15,608.
Grafik pada gambar 3.4 menunjukkan
bahwa pada perlakuan dengan aerator
diperoleh jumlah klorofil yang lebih banyak
dibandingkan dengan kontrol, baik itu klorofil
A, klorofil B, maupun klorofil total. Hal ini
juga menunjukkan bahwa semakin banyak
jumlah sel maka kandungan klorofil dalam
kultur tersebut akan semakin meningkat.
Menurut Cohen (2011) bahwa seiring dengan
kenaikan jumlah sel maka akan meningkatkan
aktivitas fotosintesis sehingga menyebabkan
meningkatnya kandungan klorofil dalam sel.
Sedangkan klorofil jenis A selalu diperoleh
jumlah terbanyak dari ketiga jenis perlakuan
tersebut. Hal ini berarti klorofil A
mendominasi sel Botryococcus Braunii .
Sampel kultur mikroalga disentrifugasi
terlebih dahulu bertujuan untuk memisahkan
komponen klorofil dari cairannya, sehingga
cairannya bisa dipakai untuk pemeriksaan.
Prinsip metode untuk pengukuran klorofil
secara spektrofotometri didasarkan pada
penyerapan maksimum oleh ekstrak klorofil
dalam aceton di daerah spektrum cahaya.
Penyerapan maksimum untuk klorofil a dan
klorofil b terjadi pada gelombang 663 dan 645.
Klorofil (total) yang terdapat pada
kultur mikroalga yang menggunakan aerator
jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang
kontrol. Kultur mikroalga yang menggunakan
aerator menghasilkan kadar klorofil yang
tinggi, karena salah satu unsur yang
mempengaruhi pembentukan klorofil (O2)
tersedia dalam jumlah yang lebih banyak
dibandingkan dengan control yang jauh lebih
sedikit.
5

4.
KESIMPULAN
Pengaruh media terhadap kultur
tersebut adalah perlakuan yang 0
jam
menghasilkan
sedikit
mikroalga, sedangkan 12 dan 34
jam menghasilkan mikroalga yang
benyak.
Botryococcus braunii berbentuk
bulat berwarna hijau karena
didalamnya terdapat klorofil yg
berfungsi
sebagai
tempat
fotosintesis.

Hasil dari laju pertumbuhan


mikroalga adalah
Sampel
Sampel
Sample
1(0 jam)
2(12jam)
3(24jam)
sel
sel
sel

Hari

2950000
3700000
4100000
4150000
4950000
4650000

1
2
3
4
5
6
-

1250000
2450000
5000000
7350000
7200000
4650000

6200000
7000000
10100000
10250000
10250000
9150000

Dwidjoseputro.1994.Pengantar Fisiologi
Tumbuhan.
Jakarta:
PT.
Gramedia.
E.W, Becker. 2011. Biotechnology and
Microbiology. New York:
Cambridge.
Harborne J.B. 1987. Metode fitokimia:
penuntun
dari
modern
menganalisis tumbuhan.
Bandung : ITB.
Istamar dan Syamsyuri. 2006. Fisiologi
Tumbuhan. Jakarta : Erlangga.
Prihatini,
Nining
Betawati.2007.
Pengaruh Konsentarasi Medium
Ekstrak Tauge (MET) Terhadap
Pertumbuhan.Departemen
Biologi
FMIPA
Universitas
Indonesia.11(1):1-9.
Rgmaisyah. 2008. Mikroalga. Bandung :
PT Gramedia.

Pengaruhnya media terhadap kadar


klorfil mikroalga tersebut adalah
bahwa seiring dengan kenaikan
jumlah
sel
maka
akan
meningkatkan aktivitas fotosintesis
sehingga
menyebabkan
meningkatnya kandungan klorofil
dalam sel.
DAFTAR PUSTAKA

Burlew, J.S. 2012. Algal Culture from


Laboratories to Pilot Plant.
Washington: Carnegie Institution
of Washington.
Cohen

Z, Taylor Francis. 2011.


Chemicals From Microalgae.
Israel : Ben Gurion of The
Negrev.