Mar’atush Shalihah

Archive for October, 2007
« Older Entries

Biarkan Masa Depan Datang Sendiri
Friday, October 26th, 2007

Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah kita mau mengeluarkan kandungan sebelum waktunya dilahirkan, atau memetik buah-buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum berwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. Lalu, kenapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, meramalkan bencana-bencana yang akan ada di dalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita akan berwujud kesenangan atau kesedihan? Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam ghaib dan belum turun ke bumi. Maka tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai di atasnya. Sebab siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu? Bisa jadi kita akan terhenti jalan kita sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya. Dalam syari’at, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan membuka-buka alam ghaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru diduga darinya, adalah suatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya itu termasuk thulul amal (angan-angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan itu pun tak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia di dunia ini justru banyak yang termakan oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit, dan krisis ekonomi yang kabarmnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari kurikulum yang diajarkan di "sekolah-sekolah syetan". "Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia." (QS. Al-Baqarah (2) : 168). Mereka yang menangis sedih menatap masa depan, adalah yang menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di genggaman yang lain tentu tidak akan mengabaikannya untuk sesuatu yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak berwujud. Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya; jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya! Sebab, hari ini kita sudah

sangat sibuk. Jika kita heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit di dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah angan-angan yang berlebihan. "Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya." (QS. An-Nahl : 1). *) Dari Buku La Tahzan Posted in Uncategorized | No Comments »

AKU MALU MENJADI WANITA
Friday, October 26th, 2007

Oleh Meralda Nindyasti " Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. " Kata Ukhti Liana, mentor rohaniku ketika SMA. Ia melanjutkan ceritanya "Begini asosiasinya. . di suatu toko buku, banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjung memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarik untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yang berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu ia memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di kasirpun segera terjadi. " "iya, terus kak..?" kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya. "Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itu juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali, dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembeli sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lama kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang enggan untuk membelinya" Cerita ukhti Liana. "Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu tak hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah. .! Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allah siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani

dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan. Bedanya, Pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan free-sex. Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalah toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baik maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. " kata ukhti Liana. "wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. " celetuk salah satu temanku. "Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, kak? Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggung jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya juga dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yang baik-baik juga. Gitu ya, kak?" kata temanku. " Benar, Seperti janji Allah SWT, "Wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (An-Nur:26). Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. " penjelasan ukhti Liana. *** Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena dihatiku. Hingga pada suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah, "Pff, Ya Allah… Tahu begini, Aku malu jadi wanita. " bisikku. Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman. Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu. Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidak main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalah makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun. Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanita layak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena wanita bisa dibeli dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, maka justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. "aku malu menjadi wanita!"

Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya. Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadap titipan Allah ini. Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini aku sudah menjadi wanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan, kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku untuk mempertanggungjawab kan ini semua. Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, wanita itu makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, ia sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta. Dari kesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, ia sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada. Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Aku berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku Rabb, untuk tak lagi menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hingga kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya, wanita sholehah.." dari <http://www.eramusli m.com/atk/ oim/7a25132222- aku-malu- menjadi-wanita. htm> Posted in Uncategorized | No Comments »

MUDIK MENUJU ALLAH
Monday, October 22nd, 2007

Bila kita berasal dari Allah, maka pantas bila dalam alam bawah sadar kita atau dalam lubuk hati yang terdalam ada keinginan untuk kembali kepadanya. Karena itu, tanah air kita yang sebenarnya berada pada Allah. Maka tidak mengherankan apabila Allah SWT menyebut Diri-Nya sebagai Al-Mashir; Dzat tempat kita kembali. Manusia, sejak berada di alam rahim hingga memasuki liang lahat, selalu berada dalam proses perjalanan dan perjuangan menuju satu tujuan. Setiap satu tahapan, adalah titik tolak untuk menuju tahapan berikutnya yang dianggap lebih tinggi tingkatannya. Lahirnya kita ke dunia adalah tahap awal perjalanan. Setelah kelahiran itu, kita tumbuh menjadi seorang bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan akhirnya menjadi tua. Setelah itu

kematian segera menjelang. Fase-fase kehidupan kita di dunia, hakikatnya adalah masa petualangan; masa perantauan; dan masa perjuangan untuk mengumpulkan bekal. Sedangkan kematian adalah akhir perjalanan, masa berpulang ke tempat asal kita bermula. Kematian adalah mudik kita menuju Allah, Dzat Pencipta. Bila kita berasal dari Allah, maka pantas bila dalam alam bawah sadar kita atau dalam lubuk hati yang terdalam ada keinginan untuk kembali kepadanya. Jelaslah bahwa tanah air kita yang sebenarnya berada pada Allah. Tidak mengherankan pula bila Allah SWT menyebut Diri-Nya sebagai Al-Mashir; Dzat tempat kita kembali. Di akhir QS AlMaidah ayat 48, Allah Swt mengungkapkan, Kepada Allah lah tempat kembali kamu . Hanya saja, tumpukan dosa dan jelaga hitam kemaksiatan telah menutupi sebagain besar hati kita, sehingga keinginan untuk kembali pada Allah hanya sayup-sayup terdengar, bahkan lenyap entah ke mana. Walaupun demikian, seingkar apa pun manusia, dalam kondisi tertentuterancam bahaya, kesendirian, atau tatkala meregang nyawa ia pasti akan teringat akan tempat kembalinya. Dengan cara apa pun ia pasti kembali pada Penciptanya. IBNU ‘Arabi mengungkapkan bahwa manusia akan kembali pada Allah dengan cara yang berbeda. Ada yang kembali dengan cara terpaksa (ruju’ idhthirari). Setuju atau tidak setuju, mau atau tidak mau, kita akan kembali kepada Allah. Inilah yang disebut kematian. Ada pula yang kembali kepada Allah dengan tidak terpaksa; dengan cara sukarela (ruju’ ikhtiyari). Dibandingkan dengan mudik dengan terpaksa, maka mudik dengan sukarela lebih banyak jenisnya. Bahkan, boleh jadi kita telah melakukannya dengan berulang-ulang. Mudik dengan sukarela, hakikatnya adalah latihan atau persiapan menghadapi mudik secara terpaksa (kematian). Apa saja mudik (kepada Allah) yang dilakukan secara sukarela? Pertama, ibadah haji. Haji adalah perjalanan kita memenuhi panggilan Allah. Karena itu, Ka’bah disebut rumah Allah, karena ke sanalah para jamaah haji berangkat, meninggalkan segala urusan dunia demi melepas rindu bertemu Sang Kekasih. Perjalanan menuju Ka’bah adalah sebuah simbol dari akhir perjalanan. Ia adalah titik asal semua ciptaan Allah. Ka’bah adalah harapan dan cinta, sehingga ia senantiasa dirindukan orang-orang beriman. Benarlah apa yang dikatakan Jalaluddin Rumi bahwa Ka’bah yang fisiknya ada di Mekah, hakikatnya adalah perpanjangan dari Ka’bah yang berada di dalam hati manusia. Kedua, ‘Idul Fitri. Secara bahasa ‘id berarti kembali dan fithr berarti agama yang benar, kesucian, atau asal kejadian. Dengan demikian Idul Fitri dapat dimaknai dengan kembali pada kesucian atau fitrah atau kembali kepada Allah dengan kesucian jiwa, setelah sebelumnya jiwa kita jauh dari Allah karena dosa. Namun, sebelum mendapatkan Idul Fitri, kita diharuskan untuk melewati Ramadan selama satu bulan penuh. Dalam jangka waktu itu, kita ditarbiyah (dididik) untuk membersihkan diri dari segala perbuatan tercela, dan membiasakan diri melakukan halhal yang baik. Saat Ramadan, nafsu dalam diri kita tundukkan, perut kita laparkan, dan jiwa kita kenyangkan. Ramadan adalah ajang mencari bekal menuju Allah, dan Idul Fitri adalah pertemuan kita dengan Allah dalam kesucian.

Seorang sufi ternama, Abu Yazid Al-Busthami, bermunajat kepada Allah, Ya Allah bagaimana caranya berjalan menuju ke hadirat-Mu? Ketika itu jiwanya mendengar suatu bisikan: Ketahuilah bahwa nafsu adalah gunung yang tinggi dan besar. Dialah yang merintangi perjalanan menuju Allah dan tidak ada jalan lain yang dapat ditelusuri kecuali mendaki gunung itu terlebih dahulu. Di gunung itu terdapat beberapa lereng yang curam, belukar yang lebat, banyak duri dan banyak pula perampok lalu-lalang menakut-nakuti, menggangu dan menghambat para musafir. Di balik belukar ada pula iblis yang selalu merayu atau menakut-nakuti agar si musafir kembali. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat pula rayuan dan ancaman. Sehingga bila tekad tidak dibulatkan, niscaya si pejalan mundur teratur. Tetapi, jika perjalanan tetap dilanjutkan, maka sebentar lagi akan tampak cahaya benderang. Pada saat itu akan nampak bahwa ternyata sepanjang jalan ada rambu-rambu yang memberi petunjuk tentang tempat-tempat aman yang jauh dari ancaman dan bahaya. Ada pula tempat berteduh dan telaga-telaga air yang jernih untuk beristirahat dan melepaskan dahaga. Bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Al-Rahman yang akan mengantar sang musafir bertemu dengan Allah Swt guna menerima imbalan yang telah disiapkan-Nya. Karena itu, Idul Fitri mengandung pesan agar yang merayakannya mampu mewujudkan kedekatan dengan Allah dan juga dengan juga sesama manusia. Kedekatan tersebut diperoleh (antara lain) dengan kesadaran yang telah diperbuat, dengan saling memaafkan antar sesama, dan selalu menghadirkan Allah dalam setiap kesadaran. Ketiga, shalat. Lima kali dalam sehari kita diharuskan kembali pada Allah, setelah waktu-waktu sebelumnya kita habiskan untuk mencari dunia. Saat kita shalat, maka saat itu pula kita menghadap dan merendahkan diri pada Dzat yang menciptakan kita. Tak salah bila dikatakan bahwa shalat itu Mi’raj-nya orang-orang beriman. Shalat adalah mudik harian seorang Muslim. MUDIK, perjalanan, pergerakan manusia dari satu titik ke titik lainnya adalah sebuah keniscayaan. Ia akan menentukan kualitas kehidupan seorang manusia. Dengan diam (tak bergerak), manusia bukan apa-apa dan tak pernah menjadi apa-apa. Karena itu, tidak ada jalan bagi kita selain harus mudik, berjalan, dan bergerak sesuai dengan yang telah digariskan Allah dan Rasul-Nya. Imam Syafi’I bersyair: Berjalanlah, niscaya ‘kan kau dapatkan ganti orang yang kau tinggalkan, dan berbekallah, karena kenikmatan hidup ‘kan didapat dalam kelelahan. Aku lihat air yang beku berubah menjadi busuk. Jika ia bergerak tentu akan baik rasa dan rupanya. Harimau jika tidak meninggalkan sarangnya tentu tak ‘kan memangsa. Dan anak panah jika tidak meninggalkan busur tak ‘kan mengenai sasarannya. Serbuk emas itu, ketika masih di tempatnya, sama dengan tanah. Dan kayu gaharu dari negeri asalnya sama dengan kayu bakar. Wallahu a’lam bish-shawab Posted in Uncategorized | No Comments »

APA KABAR HARI-HARI DAKWAHMU,SAUDARIKU?
Wednesday, October 17th, 2007

Apa kabar hari-hari dakwahmu, saudariku? Mungkin hari-hari yang kau lalui penuh dengan ujian dan rintangan. Mungkin kau terpaksa mengorbankan waktu istirahatmu untuk merencanakan manuver-manuver dakwah. Atau kau terpaksa mengorbankan waktu kuliahmu karena tidak ada yang bersedia mengalah untuk mengorbankan waktu kuliahnya ketika koordinasi dakwah harus dilakukan segera. Dengan penuh keikhlasan, kau pun bersedia mengikuti jadwal rekan-rekanmu yang lain meski harus mengorbankan kepentingan dirimu. Betapa kau percaya bahwa Allah akan senantiasa memberikan pertolongan kepada mereka yang menolong diinNya. Apa kabar hari-hari dakwahmu, saudariku? Apakah pertanyaan-pertanyaan penuh nada curiga dari keluargamu masih kerap menemani setiap langkahmu? Betapa pun dalam setiap sujud panjangmu kau tak pernah lalai memohonkan hidayah untuk keluargamu, terkadang dengan deraian air mata. Tapi kau selalu tersenyum, ceria, dan penuh semangat di tengah saudarimu yang lain. Seolah tak pernah ada duka menghampiri kehidupanmu. Kau terlihat begitu tegar, bahkan kau kerap menghadiahkan taushiyah yang mampu menguatkan saudarimu yang lain. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan, janji Allah itu membuat engkau begitu kuat dan tegar. Apa kabar hari-hari dakwahmu, saudariku? Kulihat kau begitu bersahaja, sederhana, dan anggun dengan jilbab panjang tanpa motif dan gamis sederhana yang tak banyak kau miliki. Kau tak pernah iri melihat saudarimu mengenakan jilbab dan gamis beraneka model dan motif, bahkan selalu berganti setiap hari. Selalu rasa syukur yang tergambar dari teduh wajahmu, kau tidak ingin menggunakan pakaian hanya untuk terlihat modis. Sutera hijau nan indah menjadi impianmu kelak di surgaNya. Apa kabar hari-hari dakwahmu, saudariku? Hari-harimu terlewati penuh dengan kesahajaan. Tilawah Al-Qur’an nan syahdu selalu kau sempatkan sekalipun di kampus. Dzikirullah tak pernah terlepas dalam setiap harimu. Sering terdengar alunan ayat-ayat Al-Qur’an dari bibirmu ketika kau menghapalkan surat cinta dari Illahi. Ketika banyak saudarimu lebih semangat menyenandungkan bait-bait nasyid yang begitu banyak mereka hapal, kau tak pernah tergoda. Subhanallah, kudengar sudah lebih lima juz Al-Qur’an tersimpan di memorimu. Apa kabar hari-hari dakwahmu, saudariku? Sudahkah engkau menyempatkan diri membaca lara yang menimpa saudaramu di belahan bumi lain? Di Afghanistan, Palestina, Kashmir, Moro, Maluku, Poso, dan belahan bumi lainnya. Sudahkah kau membaca koran dan majalah hari ini? Ataukah kau masih suka membaca buku cerita, novel, dan serial cantik yang menjadi santapanmu ketika jahiliyah dulu? Pernahkah kau baca Tafsir AlQur’an di rumah ketika tilawah, menekuni buku Fiqh Dakwah, Petunjuk Jalan, dan bukubuku Islam lainnya. Ataukah kau masih menunggu ta’limat murabbiyah untuk sekedar membukanya? Apa kabar hari-hari dakwahmu, saudariku? Begitu banyak kewajiban dakwah yang belum tersentuh tanganmu, saudariku. Bagaimana kabar dakwah di kampusmu, di keluargamu, di lingkungan rumahmu, di tempat kerjamu? Sudahkah kau memberikan kontribusi berarti untuk membangun peradaban madani ataukah kau lebih suka menjadi penonton? Pasif, diam, tidak percaya diri, takut menghadapi dunia luar, dan sibuk dengan diri sendiri? Saatnya bangkit dan berjuang saudariku. Mari bersama berjuang

membangun peradaban madani. Jangan tunggu lagi! Posted in Uncategorized | No Comments »

JIKA RAMADHAN TAK PERNAH ADA
Tuesday, October 16th, 2007

Masjid terlihat penuh sejak hari pertama bulan Ramadhan, di malam hari saat shalat tarawih, bahkan di waktu subuh. Di waktu-waktu shalat lainnya, seperti dzuhur dan ashar, masjid pun disemuti orang-orang yang singgah untuk shalat kemudian melepaskan penat dan lelah usai bekerja. Sebagian tampak serius mendengarkan ceramah selepas dzuhur. Adakah suasana seperti itu bisa kita temui di bulan lain selain Ramadhan? Jika Allah tak menciptakan bulan Ramadhan untuk kehidupan kita, mungkinkah masjid kita dipenuhi jama’ah setiap malam dan waktu subuh? Di banyak tempat, hampir setiap saat bisa kita saksikan orang-orang, muda dan tua, khusyuk memegang mushaf Al-Qur’an. Seolah menjadi bacaan wajib yang tak boleh tertinggal untuk menghiasi hari dengan lantuan ayat suci, tak peduli di mana mereka berada. Di dalam bis, gerbong kereta, dalam kelas, kampus, di kantor, bahkan dalam kendaraan pribadi pun diperdengarkan suara yang semakin mendekatkan kita kepada Allah. Andai hari-hari terakhir yang kita saksikan saat ini bukan hari-hari Ramadhan, adakah orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an bacaan wajibnya setiap hari, bahkan setiap usai shalat lima waktu sebanyak saat ini? Orang-orang berlomba memperbanyak sedekah, infaq, dan zakat seolah esok hari kita akan mati, sehingga merasa punya cukup bekal untuk berhadapan dengan Allah. Jika Allah tak menjanjikan ganjaran berlipat ganda untuk setiap amal shalih, infaq, dan sedekah yang dilakukan di bulan Ramadhan, mungkinkah sama semangat kita untuk beramal shalih? Sebesar saat Ramadhan kan sedekah yang kita beri? Di waktu-waktu menjelang maghrib, para tetangga saling hantar penganan berbuka. Masjid-masjid membuka pintu lebar-lebar, kemudian mengundang fakir miskin dan orang-orang dalam perjalanan untuk berbuka puasa bersama, menikmati penganan seadanya. Begitu adzan berkumandang, keceriaan fakir miskin begitu jelas terlihat meski hanya segelas teh manis dan tiga buah kurma di tangan mereka. Jika tak pernah ada yang menjelaskan bahwasannya pahala memberi makanan berbuka bagi orang berpuasa sama dengan pahala berpuasa itu sendiri, akankah tetap tersedia makanan berbuka di berbagai masjid? Adakah saling hantar makanan oleh orang-orang bertetangga? Sejuk, nyaman, dan aman. Inilah suasana yang tercipta dan kita rasakan selama bulan Ramadhan. Semua orang di hadapan kita begitu mempesona, dan yang kita jumpai pun tampak baik, sabar, serta menahan amarah mereka. "Jangan marah, kan sedang berpuasa," itu nasihat yang sering kita dengar saat amarah memuncak, redalah hati. Senyum persaudaraan senantiasa kita dapatkan di mana pun kita berada. Akankah harihari penuh kesejukan seperti ini yang tetap bisa kita rasakan seandainya Ramadhan tak pernah ada? Kepedulian terhadap sesama begitu tinggi di bulan ini, mungkin pengaruh perut lapar kita yang ikut merasakan betapa banyak orang-orang yang tetap "berpuasa" meski bukan di

bulan Ramadhan. Saling berbagi, memberi dan empati amat ringan tercipta dari tangan dan hati kita. Tetap pedulikah kita di bulan selain Ramadhan? Masih adakah yang akan terus kita bagi kepada orang lain, meski tak lagi di bulan Ramadhan? Jika Ramadhan tak pernah ada, masihkah kita jumpai kebaikan, kepedulian, dan kesejukan dalam kehidupan sehari-hari? Akankah semua kenikmatan itu hanya seperti buah kurma, yang muncul khusus di bulan Ramadhan saja. Kemudian hilang entah ke mana sehari setelah hari raya, sehari setelah kita saling bermaafan, sehari setelah kita merayakan hari kemenangan. Beruntunglah kita, karena Allah menghadirkan Ramadhan untuk hambaNya. Akan sangat beruntunglah kita, jika kita mampu menghadirkan nuansa Ramadhan di lain bulan selain Ramadhan. Semoga. Posted in Uncategorized | No Comments »

YUK,BERJILBAB NYAR’I !
Thursday, October 11th, 2007

Fetri (28 tahun, bukan nama sebenarnya), alumnus salah satu Perguruan Tinggi itu, akhirakhir ini sering melamun di kamarnya. Soalnya kebijakan manajemen perusahaan seminggu lalu mengharuskan pakaian jilbab yang sesuai standar perusahaan adalah yang mini melilit leher, tidak menutup dada, dan berpakaian seperti laki-laki berupa kemeja dan celana panjang. Fetri yang alumnus pesantren dan berjilbab cukup rapi itu, tentunya tidak bisa menjalankan kebijakan baru perusahaan tempatnya bekerja, tapi dia juga malu kalau harus berpakaian muslimah seperti itu. Pilihannya tentu harus keluar kerja atau tetap bekerja dengan syarat mengubah penampilan. Wanita seringkali dijadikan objek dalam semua hal. Salah satu contoh misalnya dalam iklan media massa, produk yang diiklankan adalah sabun mandi. Namun yang lebih ditonjolkan justru badan dari si wanita yang menjadi modelnya atau yang kita sebut sebagai aurat. Apakah aurat itu? Aurat adalah bagian dari tubuh seseorang yang terbuka dan tidak boleh orang lain untuk melihatnya apalagi diperlihatkan secara sengaja kepada yang bukan muhrim. Allah SWT melarang kita untuk memperlihatkan atau mempertontonkan aurat kita terutama kaum perempuan karena Allah menyayangi dan menjunjung tinggi kehormatan kita. Seperti firmanNya dalam surat An-Nuur ayat 31, "Dan katakanlah kepada permpuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya)…" Dalam surat tersebut betapa Allah SWT memberikan jalan keluar yang terbaik bagi wanita pada khususnya untuk keselamatan dirinya baik di dunia maupun di akhirat. Keselamatan di dunia dimana dia akan terhindar dari pandangan buruk orang di sekitarnya. Sedangkan keselamatan di akhirat jika kita mengikuti perintahNya, maka kita akan diselamatkan dari siksa api neraka. Meski sudah banyak umat Islam (wanita) yang sudah menutup auratnya, namun tak jarang masih saja tetap dapat menimbulkan

pandangan buruk laki-laki hidung belang. Masih banyak kita lihat saudara kita yang berkerudung tapi telanjang, na’udzubillah. Hal ini mungkin dikarenakan saudara-saudara kita tersebut belum atau tidak mengetahui aturan dalam menutup aurat ini. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika berjilbab, di antaranya adalah warnanya tidak mencolok, tidak membentuk badan (pas di badan), juga tidak transparan. Meski kita sudah berkerudung tapi pakaian kita warnanya mencolok, kemudian membentuk badan, dan dari bahan yang transparan, itu sama artinya kita bertelanjang. Karena, yang namanya laki-laki apalagi yang tidak terjaga pandangannya, jangankan melihat yang seperti itu, ketika melihat wanita yang notabene pakaiannya tidak mencolok dan longgar saja, jika tersibak oleh angin dan terlihat hanya ‘kaos kakinya’ saja ini menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan. Dari begitu banyak model pakaian yang katanya menutup aurat masih ada yang tidak mengindahkan aturan yang seharusnya menjadi panduan dalam membuatnya. Desainer muslim mungkin sudah mengetahui kaidah-kaidah dalam membuat pakaian bagi wanita muslimah. Namun, ada beberapa desainer non muslim yang ternyata ikut pula berkecimpung membuatnya sehingga seringkali kita jumpai ada pakaian yang katanya ‘pakaian muslim’, namun ternyata tidak sesuai. Ini dapat kita lihat terutama ketika menjelang hari raya dimana begitu banyak pakaian yang dikhususkan untuk wanita muslimah yang tidak pantas untuk dipakai karena membentuk badan, bahkan transparan. Oleh karenanya, marilah kita sedikit demi sedikit memperbaiki cara berpakaian kita agar kita tidak selalu menjadi objek pandangan buruk yang seharusnya dapat kita hindari jika kita mengikuti apa yang telah diperintahkan Allah SWT dan RasulNya. Ini dapat kita lakukan dari cara kita dalam memilih pakaian yang akan kita beli. Pada akhirnya, memang patut untuk kita syukuri ternyata sekarang banyak muslimah yang sudah mau untuk berkerudung (bukan menutup aurat). Meminjam istilah salah seorang ustadz, "Dari pada tidak berkerudung sama sekali, hal itu jauh lebih baik dan sebaik-baiknya wanita muslimah adalah berkerudung dengan menutup aurat sesuai dengan yang telah diperintahkan." Dalam salah satu hadits shahih yang diriwatkan oleh Tirmidzi disebutkan bahwa, "Tubuh wanita itu aurat." Wallahu a’lam. Posted in Uncategorized | No Comments »

Yang Tertinggal dari Ramadhan
Thursday, October 11th, 2007

Usai sudah masa-masa yang dinanti setelah perjalanan panjang 11 bulan. Seribu do’a, sejuta harap akan pertemuan dengan Ramadhan sang bulan mulia pun kini tiba dalam masa perpisahan. Masa-masa indah akan segera berlalu, dan akan kita jelang kaki-kaki yang tertatih kembali tanpa pijak yang tegak di atas hamparan yang tidak lagi sesubur hamparan pahala disaat kita bercengkerama dengannya. Gemuruh nafas kesesakkan menahan tangis akan pedihnya perpisahan tak mampu lagi terbendung laku. Idul Fitri kini menjelang dan Ramadhan segera hilang. Hanya mereka yang pantas bergembira menyambut datangnya satu masa setelah satu bulan berada dalam balutan seribu cahaya surga, Ramadhan al-Mubarak. Mereka yang mampu menjalani hari-hari

berjuta ujian dengan nafas-nafas ibadah, mereka yang mampu menjalani hari-hari berjuta ujian dengan desah do’a, dan mereka yang mampu menjalani hari-hari berjuta ujian dengan ikhtiar dan tawakal atas segala usaha untuk dapat memaksimalkan Ramadhan sebagai moment perbaikan diri. Namun, pantaslah kita berurai air mata, bila ternyata kita bukanlah satu di antara mereka yang pantas berbahagia. Bila kita tak lebih hanya dari bagian yang merasakan Ramadhan berlalu dan tak berbekas dalam iman kita, bagai jejak yang begitu mudah terhapus oleh deburan ombak di pantai. Tak ada satu titik perubahan menuju kemuliaan akhlak dalam jiwa kita. Tak ada titik perubahan menuju keteguhan dalam iman kita. Yang ada hanyalah hari-hari yang kembali tanpa kita harus berkeluh kesah menahan nafsu dan amarah. Na’udzubillah… Memaksimalkan yang tersisa, semoga menjadi sebuah upaya nyata mendapatkan akhir yang sempurna dalam menggapai Ramadhan terindah kali ini, sehingga ia yang tertinggal dari Ramadhan bukanlah kecewa, namun satu harap menjadi bekal dalam menempuh dan memulai hari-hari di sebelas bulan ke depan lebih bermakna. Serta semoga Allah SWT perkenankan kembali kita menemui indahnya ibadah di Ramadhan tahun depan. Posted in Uncategorized | No Comments »

Chiffon Cake Kabocha
Monday, October 8th, 2007

Resep yang ini bisa dijadikan sebagai kue hantaran lebaran atau disajikan kepada tamu-tamu di hari Idul Fitri… Bahan A - 150 gr kabocha (labu kuning), kukus halus. - 5 bagian kuning telur. - 50 gr gula halus. - 80 ml minyak goreng/sayur. - 35 ml susu cair (atau air). - 120 gr tepung terigu. - 2/3 sdt baking powder. Bahan B - 6,5 bagian putih telur. - 80 gr gula halus atau sesuai selera. *** Cara Membuat 1. Timbang semua bahan. Ayak tepung terigu dan baking powder, sisihkan. 2. Kocok kuning telur dan gula halus hingga pucat dan kental. 3. Masukkan minyak sayur, labu kuning, dan susu cair hingga adonan tercampur rata. Kocok dengan kecepatan rendah.

4. Masukkan campuran tepung terigu dan baking powder sedikit demi sedikit dan aduk dengan sendok kayu/plastik hingga rata, sisihkan. 5. Kocok putih telur dengan kecepatan tinggi. Tambahkan gula pasir, kocok hingga adonan menjadi kaku (meringue). 6. Tuang 1/3 adonan putih telur ke dalam adonan kabocha, aduk merata. 7. Masukkan lagi adonan putih telur, aduk perlahan hingga adonan rata. 8. Tuang ke dalam loyang chiffon ukuran 21 cm. Aduk dengan lidi untuk meratakan, menghilangkan busa yang ada agar hasilnya tidak ada lubang-lubang. 9. Bakar dalam oven selama 40 menit pada suhu 180 derajat Celsius. 10. Bila sudah matang, segera keluarkan dari oven, posisikan terbalik. 11. Cake dikeluarkan dari cetakan bila sudah benar-benar dingin. Posted in Uncategorized | No Comments »

HIDANGAN SAHUR:OMELET SAYURAN
Monday, October 8th, 2007

Bahan Utama - 350 gr udang cincang. - 100 gr wortel, iris halus. - 100 gr daun kol, iris halus. - 2 btg daun bawang, iris halus. - 6 btr telur. - 1/2 sdt garam. - 1/2 sdt lada bubuk. - 3 sdm air. - 2 sdm tepung terigu. - 3 sdm minyak untuk menumis. Bahan Bumbu Halus - 5 bh bawang merah. - 2 siung bawang putih. - 3 bh cabai merah. *** Cara Membuat 1. Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus sampai harum, masukkan udang, aduk sampai udang berubah warna. 2. Masukkan wortel, kol, daun bawang, garam, lada, dan air, masak sambil sekali-sekali diaduk sampai kering. Angkat dan sisihkan.

3. Campur telur, tepung terigu, dan garam, aduk rata. Masukkan tumis sayuran, aduk sampai rata. Bagi adonan menjadi 4 bagian. 4. Panaskan wajan anti lengket diameter 12 cm. Tuang 1 bagian adonan. Masak dengan api kecil sampai pinggirnya kekuningan, balik sebentar, angkat. 5. Lakukan seterusnya sampai adonan habis. Porsi : Untuk 4 buah. Posted in Uncategorized | No Comments »

PISANG GORENG SAUS COKLAT
Monday, October 8th, 2007

Cocok untuk berbuka puasa nih…Mudah cara buatnya,dan rasanya maknyuus… Berikut resepnya,selamat mencoba… Bahan Utama - 10 buah pisang raja. - Minyak untuk menggoreng. Bahan Adonan - 250 ml susu cair. - 125 gram margarine. - 1 sdm gula pasir. - 100 gram tepung terigu. - 4 butir telur. Bahan Saus - 250 gram cokelat masak, lelehkan. - 200 ml krim kental. - 50 gram gula pasir. - 50 ml air. Bahan Hiasan - Buah stroberi segar. *** Cara Membuat 1. Didihkan air bersama margarine dan gula pasir. Setelah mendidih, masukkan tepung terigu, aduk rata, dan masak hingga menjadi pasta adonan yang kalis. Angkat. 2. Setelah agak dingin, masukkan telur satu persatu dan aduk rata hingga menjadi adonan yang kental. 3. Saus : Campur cokelat masak leleh, krim kental, gula pasir, dan air. Aduk rata, didihkan, angkat. 4. Pisang raja dipotong menurut selera dan panaskan minyak goreng.

5. Celupkan pisang ke dalam adonan dan goreng hingga berwarna kecoklatan. Angkat. 6. Sajikan hangat dengan saus cokelat dan hias dengan buah stroberi segar. Porsi : Untuk 30 potong.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful