You are on page 1of 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sektor peternakan itik di Indonesia kini mulai menggeliat dan sedang naik
daun, baik ditingkat pengembangan peternakan (breeding), pembesaran maupun
sektor kuliner yang menawarkan segala keunggulan produk dari itik. Titik awal untuk
keberhasilan peternakan itik ini berasal dari breeding. Breeding yang kerap dilakukan
para peternak sendiri yaitu dengan cara penetasan.
Penetasan merupakan proses perkembangan embrio di dalam telur sampai
menetas. Penetasan telur itik dapat dilakukan secara alami atau buatan. Penetasan
buatan lebih praktis dan efisien dibandingkan penetasan alami, dengan kapasitasnya
yang lebih besar. Penetasan dengan mesin tetas juga dapat meningkatkan daya tetas
telur karena temperaturnya dapat diatur lebih stabil tetapi memerlukan biaya dan
perlakuan lebih tinggi dan intensif (Ningtyas, 2013). Sedangkan menurut meliyati
(2009) bahwa penetasan merupakan usaha yang dapat dilakukan untuk pengembangan
populasi itik, sehingga permintaan konsumen terhadap produk hasil itik dapat terpenuhi.
Penetasan dapat dilakukan secara alami dan buatan, atau dengan cara
mengkombinasikannya. Namun, berdasarkan keadaan lapang di peternakan rakyat,
metode penetasan yang kerap dilakukan ialah dengan penetasan menggunakan mesin
tetas yang dirasa lebih cepat dan lebih efektif dibandingkan dengan alami.
Penetasan telur unggas termasuk itik dengan menggunakan mesin tetas, selain
memiliki kelebihan yang efektif, murah, dan sangan intensif serta cepat menghasilkan
banyak anakan, penggunaan mesin tetas sendiri tidak jarang terjadi kegagalan penetasan
yaitu tidak menetasnya telur-telur itik yang dimasukkan kedalam mesin tetas setelah
selang waktu 28 hari. Banyak masalah yang dapat menyebabkan telur tidak dapat
menetas diantaranya : infertilitas (telur tidak fertile), Blood rings (kematian awal dari
embrio), Kematian tetasan dalam shell, Telur telah mulai retak (pipping) tapi tidak mau
menetas, Menetas terlalu cepat/lambat dan menempel, Hasil tetasan lemah, Hasil tetasan
kecil-kecil, dan masih banyak penyebab yang lainnya. Menurut Suryana (2011) bahwa
kendala yang sering dihadapi dalam penetasan telur itik, antara lain kematian
embriodan telur yang tidak bertunas atau infertil umumnya tinggi selama proses
penetasan. Setioko et al,. (2008) menyatakan bahwa faktor yang dapat mengakibatkan
kematian embrio atau embrio cacat adalah faktor biologis yang menyebabkan
spermatozoa tertinggal dalam oviduct dalam waktu lama dan kapasitas sperma yang
rendah fertilitasnya. Faktor lingkungan antara lain temperatur, kelembaban dan
konsentrasi gas yang terdapat di dalam telur. Kelembaban berpengaruh terhadap
1

kecepatan hilangnya air dari dalam telur selama inkubasi. Kehilangan air yang banyak
menyebabkan keringnya chario-allantoic untuk kemudian digantikan oleh gas-gas,
sehingga sering terjadi kematian embrio dan telur membusuk (Baruah et al., 2001). Hal
ini dapat terjadi dikarenakan kurangnya pengetahuan atau kurangnya keahlian dalam
melakukan penetasan. Untuk itu diperlukan pengetahuan yang mendalam dalam
melakukan penetasan menggunakan mesin tetas yang tepat dan baik. Selain itu juga
diperlukan pengetahuan dan penanganan untuk dapat mengetahui tanda-tanda atau ciriciri telur yang infertil atau telur yang terjadi kecacatan saat telah dalam masa penetasan.
Berdasarkan uraian penulis diatas, maka perlu dilakukan kajian mendalam
mengenai penetasan menggunakan mesin tetas dan kegagalan dalam penetasan telur.
Sehingga penulis tertarik untuk membuat makalah dengan judul : “Penetasan dengan
mesin tetas dan penyebab kegagalan-kegagalan dalam penetasan telur itik”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah yang perlu untuk dibahas
dalam makalah ini, yaitu :
1. Apa saja yang diperlukan dalam penetasan telur itik menggunakan mesin tetas?
2. Bagaimana tata cara penetasan telur itik menggunakan mesin tetas?
3. Apa saja kendala yang sering terjadi dalam penetasan telur itik menggunakan
mesin tetas?
4. Apa saja sebab-sebab yang mempengaruhi kegagalan dalam penetasan telur itik
menggunakan mesin tetas?
1.3 Tujuan
Berdasarkan uraian diatas, maka tujuan dalam pembuatan makalah ini, yaitu :
1. Dapat mengetahuai apa saja yang diperlukan dalam penetasan telur itik
menggunakan mesin tetas.
2. Dapat mengetahui bagaimana tata cara penetasan telur itik menggunakan mesin
tetas.
3. Dapat mengetahui apa saja kendala yang sering terjadi dalam penetasan telur itik
menggunakan mesin tetas.
4. Dapat mengetahui apa saja sebab-sebab yang mempengaruhi kegagalan dalam
penetasan telur itik menggunakan mesin tetas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2

2.1 Telur Itik
Itik merupakan salah satu jenis unggas air (Waterfolws) yang termasuk kelas
aves, ordo Anseriformes, family Anatidae, subfamily Anatinae, dan genus Anas
(Srigandono, 1997). Itik juga dikenal dengan nama ”Duck” atau bebek tergolong
unggas air dalam systematic zoonologi tersusun sebagai berikut ;
Kingdom
Phylum
Class
Ordo
Family
Genus
Species

:
:
:
:
:
:
:

Animalia
Chordata
Aves
Anseriformes
Anatidae
Anas
Anas plathyrynchos
Gambar 1. Itik

Telur tetas yang berkualitas dapat diperoleh dari induk yang berkualitas
baik, dengan perbandingan jantan dan betina (sex ratio) yang seimbang, sementara
untuk mengetahui telur yang fertil atau bertunas, terlebih dahulu harus dilakukan
penetasan. Keberhasilan usaha penetasan telur itik salah satunya ditentukan oleh
faktor-faktor seperti: kualitas telur, bobot telur, indeks telur, fertlitas dan daya tetas.
Fertilitas dan daya tetas telur itik memegang peranan penting dalam memproduksi
bibit anak itik, sehingga dihasilkan jumlah bibit sesuai yang diharapkan (Suryana, 2011).
Fertilitas diartikan sebagai persentase telur-telur yang memperlihatkan adanya
perkembangan embrio dari sejumlah telur yang ditetaskan tanpa memperhatikan
telur tersebut menetas atau tidak. Telur tetas itik yang fertil dihasilkan melalui
proses dari perkawinan antara itik jantan dengan itik betina dan memiliki benih
embrio. Tidak semua telur fertil bisa menetas. Hal ini dikarenakan kualitas fertilitas
telur tetas yang tidak sama (Sinabutar, 2009).
Semakin tinggi angka yang diperoleh maka semakin baik pula kemungkinan
daya tetasnya. Hal-hal yang mempengaruhi fertilitas antara lain asal telur (hasil dari
perkawinan atau tidak), ransum induk, umur induk, kesehatan induk, rasio jantan
dan betina, umur telur, dan kebersihan telur. Dalam usaha penetasan, telur yang fertil
dan yang tidak fertil dapat dilihat dengan cara peneropongan (candling) setelah telur
berusia 1 hari (1x24 jam) (Septiwan, 2007).
Faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas telur adalah rasio jantan dan
betina, pakan induk, umur pejantan yang digunakan dan umur telur, jumlah induk
yang dikawini oleh satu pejantan dan umur induk. Selain itu, hubungan temperatur
lingkungan yang semakin meningkat antara lain temperatur atmosfir disinyalir
3

2012). pembersihan telur tetas. Penetasan alami kurang efektif dalam menetaskan telur karena untuk satu induk unggas hanya bisa mengerami maksimal 10 butir telur. Selanjutnya faktor lainnya yang mempengaruhi keberhasilan penetasan adalah kualitas telur di antaranya bobot telur yang banyak dipengaruhi faktor genetik. fumigasi mesin tetas. tergantung kapasitas tampung dari mesin tetas yang kita miliki (Widyaningrum dkk. sehingga keseimbangan kebutuhan nutrien untuk perkembangan embrio normal tidak terpenuhi dengan baik (Suryana. dan mencegah agar embryotidak lengket pada salah satu sisi kerabang (Roni. hal ini bertujuan meratakan panas yang diterima telur selama periode penetasan. umur induk. berat. warna. pengaturan suhu dan kelembaban.dapat menyebabkan penurunan fertilitas telur atau sebaliknya. 4 . dan candling atau peneropongan serta turning atau pemutaran posisi telur.2 Penetasan Telur Penetasan telur unggas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penetasan alami dan penetasan buatan. tidak ada kerusakan cangkang. 2. hal ini ditujukan agar suhu dipastikan tidak mengalami perubahan lagi. Fumigasi pada mesin tetas biasanya menggunakan bahan kimia berupa KmnO4 dan formalin guna menseterilkan mesin dari mikroorganisme yang dimungkinkan dapat menurunkan daya tetas. musim dan pakan (Suryana dkk. 2012). Daya tetas sangat dipengaruhi oleh status nutrien pakan induk. bersih tanpa cuci. Sebelum mesin tetas digunakan. Ada beberapa tahapan dalam penetasan buatan. Setelah itu peneropongan dilakukan pada hari ke-7. Peneropongan dilakukan biasanya setelah 24 jam setelah telur dikeluarkan oleh induk.Pembalikan telur. 16 dan 24. antara lain adalah pemilihan telur tetas. dengan tujuan telur-telur yang infertil dapat dijual kembali. Penetasan alami yaitu menetaskan telur dengan menggunakan induknya atau jenis unggas lain dan penetasan buatan yaitu dengan menggunakan mesin tetas. Pembalikan telur tetas dilakukan sebanyak 3-5 kali sehari dengan interval waktu yang sama. Pemilihan telur tetas yang baik adalah telur tetas berasal dari hasil perkawinan induk jantan dan betina. 2012). dan bentuk harus normal. Cara penetasan tersebut di samping daya tetas yang dihasilkan lebih tinggi. juga kapasitas alat penetas lebih banyak sehingga dalam periode penetasan tertentu dapat menghasilkan DOD (Day Old Duck) dalam jumlah besar. 2011). Cara penetasan menggunakan sistem sekam atau gabah diakui peternak/penetas memiliki keunggulan dibanding dengan alat penetasan boks yang terbuat dari kayu atau tripleks. Berbeda pada penetasan buatan yang mampu menetaskan jumlah telur dalam jumlah ratusan bahkan ribuan. suhu dan kelembaban harus diatur dan distabilkan selama 2x24 jam.

Di dalam praktek. bentuknya (indeks bentuk telur). 2013). Tetapi hasil ini baru dapat diketahui setelah anak ayam menetas (Darmanto dkk. dan umur telur. 5 . kebersihan telur. Periode Penetasan Telur Unggas 2. Ada kecenderungan. 2012). Jangka waktu yang diperlukan untuk penetasan telur pada masing-masing spesies dapat dilihat pada Table 1. karena harus menunggu sampai telur ditetaskan. Daya tetas telur sangat ditentukan oleh berbagai faktor terutama nilai gizi dari induk. semakin besar ukuran tubuh dari masing-masing spesies semakin besar pula ukuran telurnya dan semakin lama jangka waktu yang diperlukan untuk menetaskan telurnya. Sementara itu alangkah baiknya telur tetas tidak disimpan dalam waktu yang lama.Pemeriksaan telur tetas yang terpenting adalah memilih telur terutama adalah berat telur. Jangka waktu lamanya penetasan yang diperlukan pada masing-masing spesies unggas berbeda satu sama lain. penentuan dan pemilihan telur yang mempunyai daya tetas tinggi tidaklah mudah. Lama penyimpanan telur tetas sebaiknya tidak lebih dari satu minggu (Pinau. berikut : Spesies Periode penetasan (hari) Ostrich 42 Angsa 35 Itik manila 35 Kalkun 35 Itik 28 Puyuh bobwhite 24 Ayam 21 Puyuh Jepang 17 Burung merpati 17 Table 1. Daya tetas telur merupakan salah satu indikator di dalam menentukan keberhasilan suatu penetasan. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat digunakan untuk menentukan daya tetas telur. Bentuk telur yang baik untuk ditetaskan adalah tidak terlalu bulat juga tidak terlalu lonjong dengan lama penyimpanan atau umur telur yang baik berkisar antara 7-10 hari.3 Daya Tetas Daya tetas merupakan persentase jumlah telur yang menetas dari jumlah telur yang fertil. keadaan kulit telur.

4 Kegagalan Penetasan Telur Faktor lain yang menyebabkan rendahnya hasil tetas pada suhu 36°C dikarenakan kematian embrio yang tinggi dan pada minggu terakhir penetasan banyak telur yang mengeluarkan busa karena busuk.Banyak faktor yang mempengaruhi daya tetas telur antara lain. 2013). keutuhan kulit telur. tetapi menunjukkan karakteristik paruh yang pipih dan lentur dengan oedema serta pendarahan pada otot penetasan bagian belakang kepala. Kematian pada kategori ini disebabkan karena kesalahan posisi selama berkembang sehingga menghambat embrio tersebut untuk keluar dari kerabang. Kategori pertama. Penyimpanan yang terlalu lama menyebabkan kualitas dan daya tetas menurun sehingga telur sebaiknya disimpan tidak lebih dari 7 hari (Darmanto dkk. Daya tetas atau hatchability adalah persentase DOD yang menetas dari sekolompok telur fertil yang ditetaskan. nutrisi. Kategori kedua mati pada hari yang sama. dan penyakit. 2013). Kelembaban udara berfungsi untuk mengurangi atau menjaga cairan dalam telur dan merapuhkan kerabang telur. lama penyimpanan. hal tersebut diduga karena pada penelitian kelembaban mesin tetas pada akhir masa inkubasi adalah 80%. tetapi tidak memiliki upaya untuk menerobos kerabang. kualitas kulit telur. Kejadian tersebut merupakan dampak berkelanjutan dari usaha embrio memecah kerabang yang gagal. Kategori ketiga mati antara hari ke-22 sampai hari ke-28. embrio tidak mampu memecahkan kerabang yang terlalu keras(Ningtyas dkk. Kebanyakan embrio yang ditetaskan ditemukan mati antara hari ke-22 sampai ke27 selama inkubasi. suhu mesin tetas. Kelembaban mesin tetas yang terlalu rendah akan mempercepat penguapan air dari telur. fertilitas. persediaan air didalam bak penampung harus selalu tersedia dan cukup (Wineland. bentuk telur. Daya tetas dan kualitas telur tetas dipengaruhi oleh cara penyimpanan. Kategori seperti ini biasanya mati pada hari ke-28. Untuk mempertahankan kelembaban yang stabil. dengan rumus daya tetas adalah : (Susila. 6 . Jika kelembaban tidak optimal. berat telur. suhu lingkungan. tempat penyimpanan. 1997) Daya Tetas : Jumlah telur yang menetas Jumlah telur yang fertil x 100% 2. embrio tumbuh dan berkembang secara normal. pembalikan selama penetasan. dan kebersihan kulit telur. Faktor lain yang mempengaruhi daya tetas yaitu genetik. 2000). sehingga embrio akan kekeringan. Hal ini biasa disebut dead-in-shell dan terbagi menjadi tiga kategori.

7 .

Pembahasan ini meliputi cara melakukan penetasan telur itik. Dimana dbagi menjadi beberapa kelompok hingga 54 kelompok. Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah metode percobaan faktorial dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh dari praktikum ini akan dibandngkan antar kelompok dan dilihat hasil tetasan yang diperoleh oleh beberapa kelompok praktikum. buku-buku pemandu usaha penetasan telur. 8 . Praktikum ini menggunakan telur tetas itik sebanyak 20 butir pada setiap kelompok yang dihasilkan dari perkawinan antara itik jantan Peking dengan itik betina Khaki cambell yang telah terseleksi. dimana berakhir pada tangga1 11 Desember 2014.BAB III MATERI DAN METODE Pelaksanaan praktikum penetasan telur itik ini dilaksanakan di laboratorium ilmu produksi ternak unggas gedung 1 lantai 3 fakultas peternakan universitas brawijaya. Dari hasil dan cara-cara tersebut akan dibahas dalam pembahasan sesuai dengan apa yang telah di praktikumkan. Praktikum ini dilakukan selama kurun waktu kurang lebih satu bulan hingga telur itik menetas semua. Pembahasan ini pun dilakukan dengan cara dibandingkan dengan cara studi literarur yang diperoleh dari jurnal-jurnal nasional maupun internasional. langkah-langkah yang dilalui. Mulai pada tanggal 13 November 2014 yang dilaksanakan selama 28 hari. dari artikel-artikel dan juga ada sebagian yang melakukan kunjungan ke peternak langsung pada peternak penetasan telur itik di daerah batu. hasil dari penetasan itu sendiri dan juga kendala-kendala apasaja yang dilalui pada saat melakukan praktikum penetasan telur itik ini.

2000) 5. 220C) dan akan berhenti berkembang jika suhu dibawah 800F (26. Menurut Nuryati. Sedangkan penetasan buatan yaitu penetasan telur calon anakan menggunakan sebuah mesin yang disebut mesin tetas. Perlu diperhatikan bahwa suhu ruang penetasan harus 9 . Penetasan alami yaitu penetasan yang dilakukan dengan menggunakan indukan langsung yang artinya telur dierami oleh induk telur asli atau menggunakan induk yang lain yang biasanya dibantu mengunakan jerami sebagai tempat pengeraman. dkk (2000) yang menyatakan bahwa suhu yang terlalu tinggi dan kelembaban ruang yang terlalu rendah bias menyebabkan bobot tetas yang dihasilkan menurun karena mengalami dehidrasi selama penetasan. lebih diminati dari pada penetasan secara alami. Suhu dan kelembaban yang digunakan dalam penelitian ini masih dalam kisaran normal yaitu 38-39 oC dan 60-70%. Hal ini dikarenakan dengan menggunakan mesin tetas dapat dihasilkan calon anakan yang lebih banyak dibandingkan dengan menggunkan penetasan alami yang hanya berkisaran 10 telur yang dapat dierami dan tidak semua telur yang dapat menetas. Selain itu menggunakan mesin tetas dirasa lebih efektif dan lebih murah. Penetasan menggunakan mesin tetas.1 Suhu dan perkembangan embrio Embrio akan berkembang cepat selama suhu telur tetap di atas 90 0F (32. pembelahan sel segera berlangsung dan embrio akan terus berkembang sempurna dan menetas. maka telur yang ditetaskan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : (Paimin. dimana mesin ini dibuat dengan berprinsipkan penetasan alami yang menyesaikan dengan suhu tubuh induk yaitu 38-39 oC dan dengan kelembaban 60-70%.1 Syarat – Syarat Penetasan Telur Agar mencapai hasil yang diinginkan.BAB IV PEMBAHASAN Penetasan merupakan suatu upaya yang dilakukan peternak untuk mengembangkan usahanya dalam bidang peternakan unggas.660C). sesudah telur diletakan dalam alat penetasan atau mesin tetas. 4. Penetasan sendiri dapat dilakukan dengan menggunakan 2 cara yaitu penetasan alami dan penetasan buatan.

Kelembaban nisbi yang umum untuk penetasan telur ayam sekitar 60 – 70 %. sedangkan untuk hari – hari berikutnya diperlukan 70%.5%. Dala keadaan yang demikian kadar karbondioksida akan meningkat sekitar 0. Sedangkan 10 . Adapun suhu yang umum untuk penetasan telur ayam adalah sekitar 101 – 105 0F (38. 5. kelembaban dapat diatur dengan memberikan air kedalam mesin tetas dengan cara meletakannya dalam wadah ceper.110C). Mulai hari pertama hingga hari kedelapan belas diperlukan suhu ruang penetasan antara99 – 1000F (35 – 41. sebaiknya suhu diturunkan sekitar 2 – 3 0F (0.110C).55 – 1. Saat kelembaban nisbi terlalutinggi.sedikit diatas suhu telur yang dibutuhkan.2 Kelembapan dalam induk buatan Selama penetasan berlangsung diperlukan kelembapan yang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan embrio. Cara ini bertujuan untuk mendapatkan suhu telur tetas yang diinginkan.33 – 40. pertukaran gas oksigen dan karbondioksida akan mengalami gangguan. Sedangkan pertumbuhan embrio optimum akan diperoleh pada kelembaban nisbi mendekati 60%. Jika kerabang tertutup oleh kotoran. perpindahan Ca dari kerabang ketulang – tulang dalamperkembangan embrio lebih banyak. Peningkatan kadar karbondioksida yang terlalu tinggi dapat menyebabkan berkurangnya daya teteas telur. Kelembaban juga mempengaruhi proses metabolisme kalsium (Ca) pada embrio. sedangkan kadar oksigen menurun sekitar 0. sedangkan pada hari kesembilan belas hingga menetas.40F.550C) atau rata – rata sekitar 100.5%. maka kematian embrio dapat meningkat. Sehingga suhu yang diperlakukan untuk penetasan telur ayam menurut kondisi buatan dapat sedikit berbeda dengan suhu optimum telur untuk mendapatkan hasil yang terbaik.Mulai hari pertama hingga hari kedelapan belas kelembaban nisbi yang diperlukan sebesar 60%. Biasanya. 5.3 Ventilasi Perkembangan normal embrio membutuhkan oksigen (O 2) dan mengeluarkan karbondioksida (CO2) melalui pori – pori kerabang telur. Untuk itulah didalam mesin tetas harus cukup tersedia oksigen. Pertumbuhan embrio dapat diperlambat oleh keadaan kelembaban udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Jika kadar karbondioksida meningkat 1%.

dengan kadar optimum 0. Pada praktikum yang telah dilakukan. Kuman dan bakteri akan mengganggu daya tetas telur. sehingga aman bagi kelangsungan hidup embrio itik dalam telur. Persiapan Tempat Salah satu hal yang perlu dan harus dipersiapkan sebelum memulai penetasan mengunakan mesin tetas adalah tempat penetasan.5%. Persiapan-persiapan yang perlu dilakukan yaitu sebagai berikut : 1. Persiapan mesin Tetas Selain tempat penetasan.jika peningkatan sebesar 5%.2 Persiapan Penetasan Menggunakan Mesin Tetas Penetasan telur itik menggunakan mesin tetas memanglah sangat menguntungkan seperti yang dijelaskan diatas. Perimbangan udara dalam mesin tetas selama periode penetasan adalah 0. Penigkatan kadar karbondioksida yang masih diperbolehkan adalah sebesar 0. lingkungan dan mesin tetas disemprot terlebih dahulu menggunakan disinfectan. mesin tetas memiliki peranan yang cukup penting dalam kesuksesan penetasan telur itik ini. Fumigasi pada mesin tetas biasanya menggunakan bahan kimia berupa 11 . Mesin tetas diupayakan memiliki lingkungan dan kondisi yang mirip dengan induk itik.8%. Fumigasi mesin tetas harus dilakukan satu hari sebelum mesin tetas dipakai. Tempat untuk penempatan mesin tetas diusahakan tidak terkena matahari secara langsung dan tidak terkena angin secara langsung. beroperasi dengan baik. Pastikan tempat dan mesin tetas dalam kondisi yang higienis dan steril dari kuman dan bakteri. sebelum melakukan penetasan dengan mesin tetas diperlukan persiapan.5 – 0. suhu. dan memiliki termostat sebagai pengatur suhu. 4. Penyemprotan mengunakan disinfektan pada tempat dan mesin penetas membuat bakteri dan kuman-kuman mati. 2. misalnya suhu ruangan bisa mencapai sudu ideal 38-39oC. kelembaban dan lain-lain. Mesin tetas ini bisa dilihat pada Gambar 2.5% gas CO 2 dan 21% O2. Hal ini untuk menghindari perubahan suhu yang cukup ekstrim. dan 3. Setelah mesin disiapkan maka dilakukan fumigasi. embrio akan mati sebelum menetas. Mesin tetas yang harus dalam keadaan rapat tetapi cukup memiliki ventilasi udara yang baik. yang berkakibat kurang baiknya daya tetas telur. Biasanya sebelum telur-telur itik dimasukkan ke dalam mesin penetas.

2013). Gambar 2. Mesin Tetas Manual 12 . Hygrometer yang dihugunakan kelembaban udara di dalam ruang mesin tetas (incubator) yang harus dijaga pada kisaran 60-70% selama masa penetasan. Setelah fumigasi dilakukan maka dilengkapilah perlengkapan di dalam mesin tetas seperti thermometer yang berfungsi sebagai alat pengukur suhu untuk memonitor suhu dalam ruang mesin tetas.KmnO4 dan formalin guna menseterilkan mesin dari mikroorganisme yang dimungkinkan dapat menurunkan daya tetas (Darmanto dkk.

Mesin Tetas Otomatis 3. Menurut Dormanto. dengan rasio Jantan : Betina 1 : 5 sampai dengan 1 : 8. Telur yang akan digunakan diukur dengan menggunakan jangka sorong. dkk (2013) menyatakan bahwa Pemilihan telur tetas yang baik adalah telur tetas berasal dari hasil perkawinan induk jantan dan betina. karena bentuk oval merupakan bentuk yang sempurna. berat. Cangkang telur dipilih yang tidak terlalu tebal karena akan sulit untuk pecah saat akan menetas. 13 .Gambar 3. Pemilihan Telur sebagai Bibit Dalam penetasan telur itik pemilihan telur sangat menentukan daya tetas telur itik. Cangkang yang terlalu tipis juga tidak layak untuk dipilih. Sebelumya telur yang akan dipilih dibersihkan dari kotoran-kotoran yang ada di permukaan cangkang. bulat dan lonjong. warna. bersih tanpa cuci. Agar tidak mengganggu dalam proses penetasan karena kotoran terdapat bakteri yang akan tumbuh. tidak ada kerusakan cangkang. telur yang bersih terllihat pada Gambar 3. Telur itik dipilih dari indukan yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. dan bentuk harus normal. ini dilakukan agar dapat diketahui indeks bentuk telur yang terdiri dari oval. Pada penetasan telur digunakan bentuk telur yang dalam kategori oval.

jika di dalam mesin tetas tidak terdapat tatakan telur. agar kotoran dan bakteri yang menempel pada telur hilang. telur diamkan dalam mesin tetas dan tidak perlu dibuka. Namun harus dilakukan pengecekan atau pengamatan suhu dan kelembaban pada ruang mesin tetas untuk mengontrol dan segera 14 . hal ini dinamakan masa krisis 1. penetasan dilakukan dengan menggunakan telur itik sebanyak 20 butir yang dimasukkan dalam mesin tetas. Telur Itik Setelah persiapan-persiapan telah dilakukan maka selanjutnya dilakukan penetasan. bisa dibuat sekat-sekat dengan kayu atau bilahan bambu agar telur tidak menggelinding dan mudah diatur dalam mesin penetas. akan sulit dikontrol telur yang sudah dibalik atau belum. Sebelum dimasukkan kedalam mesin penetas telur dicuci dengan air hangat suam-suam kuku. Jika telur mudah bergerak dan menggelinding bebas di dalam mesin penetas. Selama 3 hari pertama.Gambar 3. Dengan urutan proses penetasa seperti berikut : 1. dimana sebelumnya telah dilakukan fumigasi dan telah diukur suhu dan kelembaban di dalam ruang mesin tetas yang sesui dengan standar yang sebelumnya telah dihubungkan dengan sumber listrik untuk menyalakan lampu untuk penstabil suhu. Pemasukan Telur Pemasukan Telur ke dalam mesin tetas dilakukan pada mesin tetas yang benar-benar siap untuk dipergunakan. Letakkan bagian yang runcing di bagian bawah. bagian yang mengandung rongga udara di posisi atas. Selain itu telur yang bersih memudahkan dalam mengamati perkembangan anakan itik dalam telur. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan.

00 WIB. yaitu pada waktu 6. dan 18.mengambil tindakan jika suhu dan kelembaban tidak memenuhi standar sehingga tidak mengganggu pertumbuhan embrio. Setelah itu 8 telur yang fertile di inkubasi di dalam mesin tetas dan di lakukan pembalikan telur 45o sebanyak 3 kali dalam sehari. seperti terlihat pada Gambar 4.30 WIB di sore hari. Menurut Meliyati (2009) menyatakan bahwa pengontrolan harian dilakukan terhadap suhu. selain itu terlihat adanya benang kalaza di dalamnya. dengan tujuan telur-telur yang infertil dapat dijual kembali. dkk (2013) bahwa Peneropongan dilakukan biasanya setelah 24 jam setelah telur dikeluarkan oleh induk. seperti dalam praktikum sisi bawah diberi tanda O sisi atas diberi tanda X. kelembaban dan pemutaran telur. Untuk memudahkan mengontrol telur sudah dibalik atau belum. Suhu mesin tetas pada hari ke-10 sampai dengan telur menetas berkisar antara 38-39oC dengan kelembaban berkisaran antara 60-70% pemutaran telur dilakukan 3 kali sehari pada pukul 8. 11. Sehingga 12 telur yang tidak fertile disisihkan.00 WIB dipagi hari.00 WIB di siang hari dan 15. pada hari ke 4 bisa dilakukan candling yang berfungsi untuk mengetahui telur memiliki benih atau tidak. atau biasa disebut dengan telur fertile atau infertile. 16 dan 24. Pada 20 telur dari kelompok A1 dinyatakan bahwa fertililas telur yang fertile hanya 8 butir. 13. Dalam masa pengeraman ini yang perlu diperhatikan selain itu suhu juga harus dijaga supaya tetap konstan dan juga kelembaban udaranya.00 WIB. Menurut Darmanto. Jika kelembapan dirasa kurang maka perlu di perhatikan air yang terdapat di dalam ruang mesin tetas tepetnya di bawah telur diletakkan. dan 6. maka akan dipisahkan (dikeluarkan dari mesin tetas) untuk dijual atau diolah karena telur ini tidak akan tumbuh menjadi embrio. 15 . beri tanda dengan spidol pada tiap-tiap sisi telur. 2.00 WIB sampai hari ke-25 proses penetasan. Pengeraman Telur Setelah 3 hari masa krisis telur. dan perbedaan telur fertile dan infertile dapat dilihat pada Gambar 5. Setelah itu peneropongan dilakukan pada hari ke-7. Pada telur fertile saat dilakukan candling maka akan terlihat ada titik tumbuh antara kuning dan putih telur. Telur yang telah dilakukan candling dan dinyatakan infertile tidak fertile.

Gambar 4. Peneropongan Pada Telur Fertile 16 . Perbedaan Telur Fertile Dan Infertile Gambar 6. Struktur Telur Fertile Gambar 5.

Pada hari ke 28 telur dalam mesin penetas yang normal sudah akan menetas semuanya. telur itik yang telah menetas pada sebelum ataupun sesudah hari ke 28 akan dipindahkan pada mesin penetasan yang dikhususkan untuk mengumpulkan itik-itik atau DOD yang telah berhasil keluar dari kulit telur. perlu dibantu mengelupas dengan tangan tetapi harus hati-hati. jika ada telur yang susah pecah.3. Gambar 7. pada hari ke 26 sudah mulai terdengar suara dan cangkang yang terbuka pada bagian paruhnya. Perlu dicermati. Terjadi Pipping Pada Telur Pada prakikum penetasan telur itik. Cangkang yang mulai membuka ini dinamakan dengan pipping pada penetasan. asisten menjelaskan bahwa sebelum menetas akan terdengar suara anak itik dan cangkang mulai membuka sedikit demi ssedikit. Selain itu perlu 17 . Ruang yang digunakan untuk mengumpukan ini harus memiliki suhu yang sama dengan suhu penetasan. Biasanya karena cangkang terlalu tebal. hal ini berguna untuk menstabilkan suhu tubuh DOD dan juga mencegah terjangkitnya penyakit dari bakteri-bakteri karena pada DOD sangat rentan terhadap penyakit dan memerlukan suhu yang hangat. Menurut kurniawan (2012) menyataakan bahwa Telur itik akan mulai pecah sedikit demi sedikit. Telur yang telah menetas pada Gambar 8. bisa dilihat pada Gambar 7. Masa Menetas Berdasarkan penjelasan asisten pada saat melakukan pengecekan suhu dan kelembaban dalam ruang penetasan.

Seleksi DOD Pada penetasan seharusnya anakan itik yang berusia 1 sampai 4 hari lebih mudah dibedakan jenis kelaminnya dibandingkan dengan anakan itik berusia satu minggu. Namun hal ini tidak dilakukan dalam praktikum penetasan telur itik. Cara lain adalah dengan melihat melalui anus dengan cara menekannya. Warna itik betina lebih terang dan bersih. DOD Keluar Dari Cangkang 4.dibersihkan ruang mesin penetas dari cangkang bekas tetasan dan kotoran-kotoran lainnya agar tidak menggangu telur yang belum menetas. meski cara ini cukup membuat itik tersiksa tapi cukup efektif. Jika diperhatikan suara anak itik betina lebih melengking. Pada DOD yang telah dipindahkan maka akan diberikan makanan yaitu berupa air gula untuk memebrikan energy bagi DOD. Untuk membedakan anakan itik jantan dan betina bisa dilihat dari warna paruhnya. Gambar 8. Itik jantan terlihat memiliki alat kelamin yang menonjol. Penetasan yang dilakukan hanya sampai tahap telur menetas saja dan tidak dilanjutkan 18 . Itik Jantan cenderung lebih berwarna gelap sedang itik betina berwarna terang. sedangkan itik jantan lebih gelap. Jika DOD ini sudah sekitar 2 hari setelah menetas maka bias diberi pakan berupa camble atau pellet.

jika pada itik mulai hari pertama hingga hari ke-28.  Hari ke 4 : Dilakukan candling dan pemisahan telur yang fertil atau infertil.Ventilasi ditutup rapat. Mekanisme pertumbuhan embrio ini dapat dijelaskan sebagai berikut :  Hari ke 1 : Masukkan telur ke dalam mesin tetas setelah langkah-langkah persiapan sudah siap.30 dengan cara membalik sebesar 45 o.  Hari ke 7 : Putar 3 kali . Hari ke 10 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. Hari ke 11 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. Hari ke 15 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. Dan jangan lupa dicatat suhu dan kelembapan sebagai kontroling. Hari ke 18 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. Mulai dilakukan pemutaran telur.00.3 Mekanisme Perlakuan Dalam Penetasan Penetasan telur marupakan proses dimana telur yang fertile dimulai dari titik tumbuh embrio hingga berkembang menjadi embrio dan menjadi anakan hingga menetas menjadi DOD.. Hari ke 13 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. catat posisi telur pada kartu kontrol. suhu 38-39oC. tidak lupa dicatat suhu        dan kelembaban. siang jam 11. yang dimulai dari hari ke-1 hingga ke-4  Hari ke 2 : Mesin tetas dibiarkan tertutup rapat. Hari ke 14 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. dilakukan pemeriksaan     telur kembali. Hari ke 12 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. malam jam 15. 19 .dengan penjelasan seleksi DOD yang merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses penetasan telur. Suhu 38-39oC. pemutaran telur dilakukan sehari 3 kali yakni pagi jam 06. Hari ke 16 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban.00. 4.  Hari ke 3 : Mesin tetas dibiarkan tertutup rapat. dilakukan pemeriksaan telur (candling) dan hanya telur yang embrionya hidup yang dimasukkan kembali kedalam mesin tetas. Ini masuk masa krisis ke 1. Hari ke 17 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. Proses perkembangan ini dapat dilihat dari hari kehari. Hari ke 9 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. Suhu 38-39oC. Hari ke 8 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban.  Hari ke 5 :  Hari ke 6 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban.

       Hari ke 19 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. Hari ke 21 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. Jika suhu di dalam mesin tetas di bawah normal maka telur akan menetas lebih lama dari waktu yang ditentukan dan apabila suhu di atas normal. Bukan hanya karena kesalahan itu saja. Kegagalan sendiri sering disebabkan Karena suhu yang terlalu tinggi atau kelembaban yang yang terlalu renfah sehingga mengalami dehidrasi. 4. sedangkan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan telur mengalami dehidrasi atau kekeringan. ini memasuki masa krisis ke 2. Namun kualitas telur pun juga merupakan factor penyebab rendahnya tingkat telur yang menetas. Hari ke 20 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban.  Hari ke 29 : Pada hari ini biasanya telur sudah menetas. Hari ke 24 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. maka waktu menetas lebih awal dari waktu yang ditentukan. Hal ini mungkin terjadi karena kesalahan penetas yang tidak cermat dalam mengontrol keadaan suhu dan kelembaban pada ruang mesin penetasan. Menurut Ningtiyas dkk (2013) bahwa Suhu atau temperatur memegang peranan yang sangat penting dalam penetasan telur karena mempengaruhi perkembangan embrio di dalam telur. Hari ke 25 sampai ke-27: Tidak dilakukan pemutaran tetapi tetap dikontrol suhu dan kelembaban. anak itik yang sudah kering dikeluarkan dari mesin tetas. sehingga DOD yang dihasilkan akan lemah. Hal diatas ini merupakan hasil dari rangkaian praktikum penetasan telur itik yang dimulai dari hari pertama hingga hari ke 28 dan hingga telur dapat menetas. akibatnya DOD akan mengalami kekerdilan dan mortalitas yang tinggi. Hari ke 23 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. Apabila suhu terlalu rendah umumnya menyebabkan kesulitan menetas dan pertumbuhan embrio tidak normal karena sumber pemanas yang dibutuhkan tidak mencukupi. Faktor lain yang mempengaruhi tinggi rendahnya daya tetas yaitu 20 .4 Kegagalan Dalam Penetasan Telur Penetasan telur itik menggunakan mesin tetas tidak selalu mengalami keberhasilan. Jika suhu terlalu rendah maka perkembangan organ-organ embrio tidak berkembang secara proporsional.  Hari ke 28 : Pada hari ini biasanya telur sudah mulai retak kadang pada hari ke 26 atau 27 juga sudah mulai retak yang disebut dengan pipping. Hari ke 22 : Putar 3 kali dan pencatatan suhu dan kelembaban. Tidak jarang pada penetasan menggunakan mesin tetas ini mengalami kegagalan.

dan saluran pernafasan yang lengkap.berat telur. tungkai sayap. Dan apabila bisa bertahan. Telur Infertil Telur infertile adalah telur yang tidak dapat menghasilkan anakan itik. pembentukan organ dalam seperti jantung. embrio ini secara bertahap akan berkembang. sistem peredaran darah. Suhu di ruang inkubasi tidak boleh lebih panas atau lebih dingin 2°C dari kisaran suhu standar. hati. 21 . Hodgtts (2000) menyatakan bahwa embrio muda sangat sensitif terhadap perubahan suhu penetasan. Sedangkan telur fertile memiliki harapan besar untuk menetas karena memiliki titik tumbuh yang dapat berkembang menjadi sebuah embrio. karena tidak memiliki titik tumbuh di dalamnya. embrio tidak mampu memecahkan kerabang yang terlalu keras. hingga akhirnya akan menetas dengan sempurna yang memiliki organ tubuh. Suhu standar untuk penetasan berkisar antara 36°C-39°C. Jika terjadi penurunan suhu terlalu lama biasanya telur akan menetas lebih lambat dari 21 hari dan kalau terjadi kenaikan suhu melebihi dari suhu normal maka embrio akan mengalami dehidrasi dan akan mati Adapun beberapa faktor yang sering kali dijumpai peternak dalam proses penetasan dengan menggunakan alat penetas buatan. Telur yang tidak menetas karena kekeringan disebabkan oleh kelembaban mesin tetas yang terlalu rendah dan suhu mesin yang tinggi pada masa akhir pengeraman. mulai dari pembentukan pembuluh darah. kaki. sel benih atau discus germinalis akan mengalami perkembangan pesat menjadi embrio muda. pembentukan paruh. Berat telur yang digunakan pada perlakuan ini berkisar 55 -75 gram. seperti pada Gambar . dan ginjal. Peningkatan dan penurunan suhu yang tidak konstan selama penetasan dapat menyebabkan kematian embrio. Kelembaban udara berfungsi untuk mengurangi atau menjaga cairan dalam telur dan merapuhkan kerabang telur. lama penyimpanan telur dan fertilitas. peningkatan suhu penetasan pada saat hari ke-16 akan mengurangi telur fertil yang menetas. Sehingga saat ditetaskan melalui mesin tetas. dan seterusnya. saluran pencernaan. Jika kelembaban tidak optimal. antara lain seperti berikut : 1.

B. Perkembangan embrio pada penetasan telur 2. ada beberapa faktor yang menyebabkan telur infertil atau tidak tertunasi.Dari yang dijelaskan diatas.C atau E dan  Parent stock mengalami sakit/stres. Gambar 9. diantaranya adalah :  Perbandingan induk jantan dan betina tidak memenuhi persyaratan  Induk jantan/betina sudah terlalu tua  Induk betina terlalu gemuk  Kebersihan kerabang telur tetas  Telur tetas disimpan terlalu lama pada kondisi yang tidak sesuai sebelum dimasukan ke dalam mesin tetas  Pakan induk parent stock kekurangan vitamin A. Embrio mati awal 22 .

Faktor genetik parent stock 3. 2013). penetasan dapat dilanjutkan inkubasi selama 28 hari. penyimpanan telur lebih dari tujuh hari.Setelah telur dinyatakan fertile. telur dalam kondisi kotor sehingga mudah terkontaminasi oleh bakteri yang masuk melaluli pori-pori. sehingga metabolisme dan perkembangan embrio menjadi tidak optimal (Dermanto dkk. Hal ini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor yaitu. Temperatur mesin tetas yang terlalu tinggi atau terlalu rendah 2. Kematian embrio dapat terjadi karena pakan induk mengalami defisiensi zat gizi seperti vitamin dan mineral. Kesalahan pada pemutaran telur 5. kemungkinan penyebabnya adalah : 1. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya hasil tetas pada suhu 36°C dikarenakan kematian embrio yang tinggi dan pada minggu terakhir penetasan banyak telur 23 . Kesalahan dalam proses fumigasi (pengasapan) 4. Stres/penyakit pada parent stock 3. Embrio banyak yang mati di mesin penetasan Kematian embrio merupakan kematian yang terjadi pada embrio saat didalam cangkang atau belum menatas. Namun tidak menutup kemungkinan embrio akan mati sebelum menetas. agar sel benih (discus germinalis) bisa berkembang menjadi embrio.  Pada periode ini diperlukan konsistensi suhu pengeraman. Apabila embrio banyak yang mati awal. Kematian embrio di dalam telur umumnya terjadi dalam periode awal penetasan dengan rincian sebagai berikut : Periode awal penetasan  Periode ini mencakup 3 hari pertama sejak telur ditetaskan.

Kategori ketiga mati antara hari ke-22 sampai hari ke-28. Kematian pada kategori ini disebabkan karena kesalahan posisi selama berkembang sehingga menghambat embrio tersebut untuk keluar dari kerabang. 3. embrio tidak mampu memecahkan kerabang yang terlalu keras. Untuk mempertahankan kelembaban yang stabil. Faktor generik parent stock. sehingga embrio akan kekeringan. tetapi menunjukkan karakteristik paruh yang pipih dan lentur dengan oedema serta pendarahan pada otot penetasan bagian belakang kepala. 2. 5. Jika kelembaban tidak optimal. tetapi tidak memiliki upaya untuk menerobos kerabang. Bila embrio banyak yang mati. Kategori pertama. sesaat sebelum kulit telur retak. Kelembaban mesin tetas yang terlalu rendah akan mempercepat penguapan air dari telur. Rusandih (2001) menyatakan Kebanyakan embrio yang ditetaskan ditemukan mati antara hari ke22 sampai ke-27 selama inkubasi. Sirkulasi udara yang tidak baik 24 . Kategori seperti ini biasanya mati pada hari ke-28. maka kemungkinan penyebabnya adalah : 1. Pemutaran telur yang tidak benar. Peletakan telur pada tray yang tidak benar arahnya. 2013). Kejadian tersebut merupakan dampak berkelanjutan dari usaha embrio memecah kerabang yang gagal. Temperatur dan kelembapan mesin tetas yang tidak tepat.yang mengeluarkan busa karena busuk. Kelembaban udara berfungsi untuk mengurangi atau menjaga cairan dalam telur dan merapuhkan kerabang telur. hal tersebut diduga karena pada penelitian kelembaban mesin tetas pada akhir masa inkubasi adalah 80%. seharusnya yang bulat di atas dan runcing di bawah. embrio tumbuh dan berkembang secara normal. 4. Hal ini biasa disebut dead-in-shell dan terbagi menjadi tiga kategori. Kategori kedua mati pada hari yang sama. persediaan air didalam bak penampung harus selalu tersedia dan cukup (Ningtyas dkk.

suhu yang terlalu tinggi atau rendah dan kelembaban yang tidak tepat. Menetas terlalu cepat/lambat dan menempel Analisa kegagalan : 1. Udara juga memepengaruhi. Telur telah mulai retak (pipping) tapi tidak mau menetas Bila embrio banyak yang mati sesudah kulit telur retak. 2004). ransum induk tidak memenuhi syarat 6. Kematian embrio dapat terjadi karena pakan induk mengalami defisiensi zat gizi seperti vitamin dan mineral. sehingga metabolisme dan perkembangan embrio menjadi tidak optimal. pada ransum induk perlu ditambahkan suplemen vitamin dan mineral yang banyak dijual dipasaran (Supriyanto.4. Ventilasi atau aliran udara yang tidak baik menjadi faktor utama terjadinya penumpukan zat asam arang ini. Untuk itu penghangatan telur secara 25 . jumlah CO2 yang terlalu banyak dapat menyebabkan anak ayam yang berhasil menetas menjadi lemas dan lemah. menurut putri (2009) Kandungan CO2 terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kematian embrio. kelembaban kurang 2. Selain dapat menyebabkan kematian embrio. Analisa kegagalan : 1. Untuk mengatasi hal ini. Seperti yang diketahui daya tetas menurun dengan semakin lamanya telur disimpan sebelum ditetaskan. maka kemungkinan penyebabnya adalah kelembapan di mesin hatcher (penetasan) terlalu rendah dan terjadi fluktuasi temperatur di mesin setter. Hal ini dikarenakan suhu dapat mempengaruhi kualitas telur tetas baik dari fisiologi dalam telur itu sendri maupun dari lingkungan. Suhu penyimpanan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam kegiatan penetasan telur. Namun demikian perkembangan embrio pada saat penyimpanan telur sangat penting dalam menentukan kualitas embrio dan daya hidupnya. Aktifnya metabolisme embrio menyebabkan akumulasi CO2 didalam ruang penetasan. kelembaban terlalu tinggi pada tahap awal penetasan 3.

Kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas Mesin tetas memang memudahkan penangkar dalam menetaskan telur-telur indukan burung yang ditangkarkan. Gambar hasil tetas lemah 8. pada seharusnya dapat berjalan dan sehat. Jarang sekali kekeliruan dalam mengoperasikan mesin tetas hanya akan mengakibatkan sebagian telur menetas dan sebagian lagi tidak menetas. Hasil tetasan lemah Telur yang telah berhasil menetas. Bibit kurang bagus. 7. yang diantaranya adalah : 1. Selain bisa menampung telur dalam jumlah banyak. Hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam penggunaan mesin tetas antara lain : 26 . semua telur juga bisa menetas dalam waktu bersamaan. 2013). misalnya seluruh telur gagal menetas.Tetapi kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas dapat berakibat fatal.periodik selama penyimpanan untuk menjaga pertumbuhan embrio menjadi penting (Darmanto dkk. Suhu terlalu tinggi 2. artinya anak itik yang telah berhasil menetas dapat dibilang lemah. Namun tidak semua telur yang telah berhasil menetas dapat berjalan normal dan sehat. Ada 2 yang menyebabkan hasil tetasan pada anakan itik ini lemah.

antara lain:  Telur terkontaminasi virus atau bakteri dari tangan orang yang memegangnya. kapsul thermostat rusak atau bocor 9. Banyak penangkar yang begitu senang melihat telur-telurnya menetas. terminal atau micro switch 2. Kelembaban penetasan 3.1. micro switch rusak 2.  Mesin tetas jarang dibersihkan setelah digunakan. Hal ini bisa terjadi ketika saat melakukan peneropongan atau pada saat pemutaran dengan menggunakan tangan yang tidak mencuci atau memakai densifektan. micro switch rusak Mesin mati di tengah-tengah waktu penetasan berlangsung Analisa kegagalan : 1. hubungan kabel pada steker. 27 . tapi lupa membersihkan mesin tetas. bagian dalam mesin tetas disemprot dengan cairan desinfektan. Suhu penetasan 2. micro switch rusak atau terbakar Lampu menyala terus. Frekuensi pemutaran telur Selain kesalahan dalam pengoperasian mesin tetas. namun juga ada analisa kerusakan mesin penetas yang otomatis diantara nya : Lampu tidak menyala Analisa kegagalan : 1. Telur terinfeksi bakteri atau virus Ada beberapa hal yang membuat telur terinfeksi bakteri atau virus. Kadar oksigen dalam mesin tetas 4. Karena itu. tidak mau padam 1. biasakan setelah telur menetas.

Telur telah mulai retak (pipping) tapi tidak mau menetas 6. Kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas 9. Penyebab Kegagalan Dalam Penetasan Telur 1. dan parasit lainnya. Persiapan Penetasan Menggunakan Mesin Tetas 3. Telur terinfeksi bakteri atau virus 28 .6 Ventilasi 3.4 Suhu dan perkembangan embrio 5. Misalnya semut. 2. kebersihan kandang harus selalu dijaga. Penetasan telur marupakan proses dimana telur yang fertile dimulai dari titik tumbuh embrio hingga berkembang menjadi embrio dan menjadi anakan hingga menetas menjadi DOD. tungau. Proses perkembangan ini dapat dilihat dari hari kehari. Syarat – Syarat Penetasan Telur 5.5 Kelembapan dalam induk buatan 5. Biasakan kandang selalu dalam keadaan kering.1 Kesimpulan 1. Hasil tetasan lemah 8. Proses urutan dalam penetasan telur 1. nyamuk. Pemilihan Telur sebagai Bibit 6. Kandang terkontaminasi bakteri atau virus yang dibawa vektor tertentu yang masuk ke dalam kandang. Embrio mati awal 4. Menetas terlalu cepat/lambat dan menempel 7. Persiapan Tempat 4. Pemasukan Telur 2. Telur fertile atau infertile 3. Embrio banyak yang mati di mesin penetasan 5. jika pada itik mulai hari pertama hingga hari ke-28. Seleksi DOD 5. Untuk mencegah hal ini. Masa Menetas 4. Pengeraman Telur 3. kutu. Suhu dan kelembaban 2. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Persiapan mesin Tetas 5.

pelaku harus cermat dan teliti dalam melakukan pengontrolan suhu dan kelembaban dalam ruang mesin tetas. Selain itu. sehingga tidak salah dalam menentukan telur yang fertile.5. sehingga tidak ada cacat atau pun terjadi hasil tetas yang lemah yang mengekibatkan kematian pada DOD tinggi. kemampuan dalam candling juga harus sudah pernah mempunyai pengalaman. Selain itu dalam melakukan penetasan harus memilih telur yang di produksi oleh bibit unggul. infertile dan embrio yang telah mati. Karena suhu dan kemebaban merupakan factor terpenting dan sangan berpengaruh akan keberhasilan dari penetasan itu sendiri.2 Saran Dalam pelaksanaan penetasan telur itik. 29 .

Paimin. Sharma dan N. 2007. Pengaruh Frekwensi Pemutaran Telur dan Berat Telur Terhadap Fertilitas. Bora. 14. A. Dasar Ternak Unggas.R. 1997. Maisture Loss In Hatching Eggs. Pengaruh Frekuensi Inseminasi Buatan Terhadap Daya Tetas Telur Itik Lokal Yang Diinseminasi Buatan Dengan Semen Entok. 2000. Fertility. J.K. 1999. 30 . Abor Acres. dan Berat DOD itik Tegal. Penebar Swadaya. M. Respon Produktivitas Dan Reproduktivitas Ayam Kampong Dengan Umur Induk Yang Berbeda. Sinabutar.[skripsi].K. Wineland. 2008. Service Bulletin No. Jakarta. dkk. Mortalitas. Wartazoa Bull Ilmu Peternakan Indonesia 18 (2):68-77. Medan. 2001.N. 2000. Baruah. Fakultas pertanian universitas sumatra utara.DAFTAR PUSTAKA Septiwan. Setioko. A. July 15. Sukardi. IndianVeteterinary 78:529-530. Fakultas Peternakan : Institut Pertanian Bogor. Konservasi Plasma Nutfah Unggas Melalui Kriopreservasi Primordial Germ Cells (PGCs). FP-USU : Medan. Membuat Dan Mengelola Mesin Tetas.B. Farry. P. Fakultas Peternakan UNSOED : Purwokerto. 2009. K. Hatchability And Embryonic Mortality In Ducks. Susila. Daya Tetas.