~EHF.NI\II.J.

\N

ESUS

AMONG OTHER GODS

(YESUS DI ANTARA ALLAH-ALLAH LAIN)

KLAIM-KLAIM ABSOLUT DARl IMAN KRISTEN

RAVI ZACHARIAS

Untuk mengenang dua sahabat rerkasih

Judul Asli:

Jesus Among Other Gods by Ravi Zacharias © 2000

Charles Kip Jordon dan

Robert Earl Fraley

Judul Terjemahan:

Jesus Among Other Gods (Yesus di antara allah-allah lain) oleh Ravi Zacharias

Keduanya turut mengambil bagian di dalam upaya ini; Kip sangat banyak mendorong saya untuk menulis buku ini.

Robert memastikan bahwa saya menyediakan waktu untuk menulisnya.

Pengalih bahasa: Grace P. Christian

Penyunting umum: Heru S. Winoto, Suryadi Wtiaya Pewajahan buku dan desain sampul: Sofian Gunawan Sumardi Kutipan Aikitab: ALKITAB, Lembaga Alkitab Indonesia

Tidak seorang pun di an tara kami yang mengetahui betapa cepatnya mereka kembali bersama dengan-Nya, Yang merupakan fokus karya ini.

Hak terjemahan bahasa Indonesia ada pada:

Penerbit Pionir Jaya

Jln. Jend. Sudirman 511 Bandung 40231 Telp: 022-6013120, Faks: 022-6072424 E-mail: pionirjaya@bdg.centrin.net.id Anggota IKAPI No. 042/1BA

ISBN: 979-542-176-X

Cetakan ke-I, September 2006 Indonesian edition © Pionir Jaya 2006

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seizin Penerbit.

Karya tulis ini diterbitkan untuk kalangan sendiri.

Untuk studi lebih mendalam disarankan untuk menelusuri catatan-catatan tambahan dati setiap babnya pada akhir buku ini.

DAFTAR lSI

UeAPAN TERIMA KASIH 6

PENDAHULUAN 7

1. MEMANJAT TEMBOK RAKSASA 13

2. MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI 41

3. ANATOMI lMAN DAN PENCARIAN RAsIo 73

4. KENIKMATAN BAGI JIWA 111

5. ALLAHKAH SUMBER DAR! PENDERITAANKU? 147

6. KETIKA ALLAH BERDIAM DIRI 199

7. AnAKAH SEORANG PENJAGA TAMAN? 231

CATATAN-CATATAN AKHIR 265

5

UCAPAN TERIMA KASIH

PENDAHULUAN

ATAS DUKUNGAN BANYAK orang, akhirnya buku ini dapat diselesaikan. Saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada mereka semua.

Danielle DuRant, seperti biasanya, menyediakan dukungan riset yang berharga dan melaksanakan tugas yang melelahkan dengan menelusuri sumber-sumber.

Para editor Jan Dennis dan Jennifer Stair, yang menghaluskan kata-kata saya secara signifikan.

Laura Kendall dan Word Publishing yang bersama-sama menyelesaikannya. Untuk kepimpinan di Word Publishing Group - David Moberg, Joey Paul, Rob Birkhead, dan yang lain-lainnya - ucapkan terima kasih saya yang setulus-tulusnya atas dukungan mereka yang sangat ramah.

Akhirnya dan yang terpenting, terima kasih saya kepada Margie, istri saya. Ia tekun membaca setiap halaman dengan kecermatan luar bias a, dan memberikan saran-sarannya untuk membuat buku ini lebih enak dibaca. Saya memujinya dengan senang hati.

Buku ini merupakan ungkapan rasa syukur hati saya kepada Allah atas segala sesuatu yang telah dikerjakan-Nya di dalam kehidupan saya sendiri.

KETlKA SAYA MULAl menulis buku ini, saya tidak pernah membayangkan betapa tugas ini merupakan sesuatu yang teramat sulit.

Kesulitannya tidak terletak pada apa yang harus dikatakan, melainkan pada memahami apa yang tidak seharusnya dikatakan. Kita hidup di suatu zaman tempat perkataan yang menusuk dan sensitif dapat meledak kapan pun. Secara filosofis, Anda boleh mempercayai apa pun, sepanjang Anda tidak mengakuinya sebagai kebenaran. Secara moral, Anda dapat mempraktikkan apa pun, sepanjang Anda tidak memandangnya sebagai cara yang "lebih baik." Secara religius, Anda dapat meyakini apa pun, sepanjang Kristus tidak Anda libatkan di dalamnya. Jikalau suatu gagasan spiritual berasal dari timur, gagasan itu diberi kekebalan (imunitas) untuk tidak diperlakukan kritis; sebaliknya gagasan rohani yang berasal dari barat, akan dikritisi habis-habisan. Dengan demikian, seorang wartawan dapat memasuki sebuah gereja dan mengolok-olok sesuatu yang sedang berlangsung di sana, tetapi ia tidak berani berbuat demikianterhadap suatu ritual dari timur. Begitulah suasana hati (mood*l) pada akhir abad kedua puluh.

Suatu suasana hati itu dapat membahayakan pemikiran, karena dapat menghancurkan pertimbangan dengan penekanannya pada perasaan. Tetapi menurut saya, itulah tepatnya yang mewakili ajaran postmodern - sebuah mood.

*1 Keadaan jiwa atau suasana hati.

6

7

JESUS AMONG OTHER GODS

PENDAHULUAN

Bagaimana mungkin seseorang yang memiliki suasana hati seperti itu dapat mengkomunikasikan pesan Yesus Kristus, yang di dalamnya kebenaran dan kemutlakan bukan sekadar diasumsikan, tetapijuga dipertahankan?

Sebagai pendahuluan, marilah kita tegaskan bahwa Yesus bukanlah orang Barat. Sebab faktanya, beberapa perumpamaan-Nya begitu kental ketimurannya sehingga menurut saya banyak orang Barat mungkin bel urn menyelami kekakuan dan kejenakaan dari perkataan-Nya. Oampak-Nya yang dialami dunia Barat telah begitu terasa sepanjang berabad-abad sehingga etos dan dorongan (impetus) moral dari pesan-Nya mengubah jalannya peradaban barat. Kaum natural is barat, dengan arogansi yang luar bias a, tidak menyadari hal ini. Kini, setelah kemajuan teknologi, kekayaan, dan pembukaan usaha (enterprise) telah sedemikian merangkai diri mereka di sekeliling pesan Yesus supaya model-model kekristenan populer tampak seperti tidak ada apa-apanya, maka diri sendiri dan ketamakan berada di pusatnya, dengan untaian pemikiran Kristen berada di tepi luarnya. Penyelewengan ini memang sepantasnya ditegur keras oleh sang kritikus. Meskipun demikian, kita sebaiknya mengingat perkataan Augustinus: Kita tidak pernah boleh menilai suatu filsafat berdasarkan penyelewengannya. Bahwa di samping cara berbicara Yesus, amsal-amsal dan kisah-kisah yang diceritakan-Nya, konteks dari isu-isu yang Ia tekankan itu sangat dibaluri dengan suatu idiom timur. Marilah kita tidak melupakan hal itu.

Namun jika dunia barat bersalah karena menyelewengkan berita-Nya sehingga tidak dapat dikenali lagi, dunia timur sering lupa akan kesalahannya: secara tidak bertanggungjawab, membiarkan banyak sekali kepercayaan religius yang terkadang ganjil, bebas dari kritik. Sebagai contoh, amatilah berbagai bentuk praktik dan penyembahan timur. Sepanjang penulisan buku ini, saya kebetulan berada di dekat beberapa tatacara seperti itu. Salah satunya, para pemeluknya memiliki sejumlah besar pengait yang ditusukkan ke tubuh mereka. Pisau-pisau ditusukkan ke wajah mereka dan tombaktombak kecil menembusi lidah-lidah mereka. Adegan-adegan seperti

ini menakutkan para pengunjung dan anak-anak. Orang seharusnya bertanya, mengapa para pemikir yang sarna, yang mengkritisi setiap bentuk spiritualitas barat, tidak melakukannya terhadap praktikpraktik ini?

Mendekati ke asalnya, kita melihat tulisan-tulisan Oeepak Chopra, yang mengajarkan suatu doktrin spiritualitas, sukses, dan kemakmuran dirangkai dengan pengajaran-pengajaran Kitab Weda, karma, dan pendewaan-diri sendiri. Secara kontras, kita melihat berjuta-juta orang yang mempercayai world-view*2 ini hidup di dalam kemiskinan hina-papa. Apakah mungkin mereka telah gagal mencapai sasaran itu? Apakah yang salah dengan gambaran ini? Orang dapat langsung melihat bahwa setiap agama harus bertanggungjawab untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Ada banyak isu lain yang dapat dimunculkan, tetapi intinya tetap sarna.

Sebagai akibat dari semuanya ini, penyelewengan-penyelewengan yang serius telah menjadi hal yang digemari. Beberapa pembela dari agama-agama lain berbicara tentang "mitos keunikan Kristen." Yang lainnya telah menuntut bahwa penyebaran iman sese orang itu salah dan bahwa "pertobatan" harus dilarang.

Mood yang demikian menciptakan tirani bagi dirinya sendiri. Realitasnya adalah bahwa jika agama ingin dihargai secara intelektual, maka agama itu harus lulus dari ujian kebenaran, apapun mood-nya. Buku ini merupakan suatu pembelaan terhadap keunikan berita Kristen.

Sebagai penutup, saya berharap saya dapat lebih banyak berbicara

dan berargumen, tetapi mood yang ada mungkin tidak dapat menampung lebih banyak lagi.

Saya berusaha menampilkan perbedaan yang jelas antara Yesus dengan pribadi lainnya yang mengklaim dirinya sebagai Allah atau

*2 Dalam pengertian yang paling sederhana, suatu worldview adalah serangkaian kepcrcayaan tentang isu-isu terpenting dalam kehidupan .... suatu skcma-konseptual yang mcndasari atau mcnata segal a scsuatu yang kita pcrcayai baik secara sadar maupun tidak dan yang kita gunakan untuk menafsirkan dan menilai realitas. [diterjemahkan dari buku Worldviews in Conflict karangan Ronald H.Nash, hIm. 16]

8

9

JESUS AMONG OTHER GODS

PENDAHULUAN

nabi .• Saya telah membahas enam pertanyaan yang dijawab oleh Yesus dengan cara yang tidak mungkin digunakan oleh tokoh lainnya. Seorang lawan mungkin tidak menyetujui jawaban-jawabanNya, tetapi ketika seluruh jawaban tersebut dirangkumkan, orangorang yang menentang Dia tidak akan mampu mempertanyakan keunikan-Nya. Saya percaya setiap jawaban-Nya mengagumkan, dan saya berharap saya dapat memaparkannya dengan lebih baik. Dengan demikian, pembahasan dalam bab-bab selanjutnya menjadi lebih panjang, karena topik-topik tersebut harus dibahas secara tuntas.

Kesulitan dalam membatasi lingkup pembahasan bertambah oleh kenyataan bahwa saya juga perlu mengkontraskan jawaban-jawaban tersebut dengan jawaban-jawaban dari agama-agama besar lainnya. Tentunya, bagian yang paling suI it adalah dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepada Yesus mengenai kesakitan dan penderitaan. Bab itu telah saya bagi ke dalam tiga bagian.

Bab terakhir bukanlah pertanyaan yang diajukan kepada Yesus, melainkan pertanyaan yang diajukan untuk mewakili Dia, kepada para pengikut-Nya dan orang-orang yang meragukan Dia. Hanya itulah cara yang tepat untuk mengakhirinya.

Seperti yang akan segera Anda temukan, saya tidak membandingkan jawaban-jawaban-Nya dengan setiap agama yang menawarkan jawaban untuk masalah-masalah seperti ini. Saya hanya membahas agama-agama yang masih menarik banyak pengikut di seluruh dunia-Islam, Hinduisme, dan Buddhisme.

Ada satu hal lagi yang harus saya ungkapkan. Saya telah menempuh jarak ribuan mil selama menulis buku ini, bukan hanya untuk kepentingan buku ini, melainkan juga melalui undanganundangan untuk berbicara di berbagai belahan bumi. Saya telah berbicara kepada para mahasiswa di dalam universitas-universitas dengan agama mayoritas non-Kristen. Selama waktu itu, saya telah bertemu dengan beberapa orang yang sangat baik dan ramah. Pada dasarnya, saya adalah orang yang suka bergaul. Saya menikmati percakapan-percakapan, khususnya pada waktu makan bersama

dengan orang-orang yang baru saya kenaI. Salah satunya adalah seorang Muslim, pelayan kamar di hotel yang saya tempati. Setiap hari ketika ia datang untuk membereskan kamar saya, ia akan membuatkan secangkir teh untuk saya, dan kami akan mengobrol. Pada saat ia libur, ia akan mengajak saya untuk berkeliling di kotanya, dan kami mengunjungi banyak tempat ibadah. Saya tidak akan pernah melupakannya. Saya berharap ada lebih banyak orang yang sebaik dan sesopan dirinya.

Dan inilah yang berusaha saya tegaskan. Kita dapat berbeda kepercayaan (world-view) tanpa kemarahan dan pertikaian. Apa yang saya percayai, sungguh-sungguh saya imani. Dan itulah sebabnya saya menulis buku ini. Sarna halnya, segala sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan saya, harus saya pertanyakan.

Saya sungguh-sungguh berdoa agar ketika Anda membaca buku ini, Anda dapat menilai berita Kristen berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan mood zaman kita. Mood berubah. Kebenaran tidak.

1 0

1 1

Bab t

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

SAYA MULAI DENGAN sebuah insiden dalam kehidupan saya yang memunculkan badai emosi yang hebat dalam diri saya. Beberapa kenangan mudah untuk dilupakan. Kenangan lainnya, bahkan setelah sekian lama, bila diingat kembali, menghujam bagaikan luka yang dibuka kembali. Itulah satu-satunya alasan yang membuat kenangan ini, di antara semua kenangan lainnya, sangat sulit untuk diceritakan kembali. N amun, karena selang waktu berikutnya telah membantu saya memahami makna di balik luka-luka lama itu, saya mampu untuk menceritakan kembali mom en yang telah lama berlalu itu, Tetapi lebih dari itu, peristiwa yang menyedihkan ini, beserta dengan banyak peristiwa lainnya, mungkin sekali telah memulai perjalanan saya untuk mencari Allah dengan menghentikan langkah saya secara mend adak dan memaksa saya untuk mengajukan beberapa pertanyaan sulit kepada diri saya.

Saat itu saya berusia enambelas tahun dan saya adalah seorang siswa di sebuah community college" yang menyediakan jalan pintas untuk menyelesaikan SMU. Suatu hari, seusai sekolah seperti biasa, saya sedang bersepeda menuju ke rumah, tanpa sedikitpun mencurigai apa yang akan terjadi selanjutnya. Hari itu telah menjadi hari yang rutin menurut pikiran saya, senormal hari lainnya. Tetapi hari itu akan berakhir secara berbeda.

*1 sebuah perguruan tinggi yang mengajarkan suatu kcahlian tcrtcntu atau mcmpersiapkan siswa memasuki universitas dalam waktu 2 tahun.

1 3

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

Ketika saya herbelok memasuki halaman belakang rumah kami, saya melihat pemandangan yang sangat janggal. Biasanya ayah saya pasti belum pulang, tetapi sekarang dia ada di sana, sedang berdiri di pintu dengan lengan yang terentang seakan-akan sedang menghadang saya. Saya menyapanya sambil mencuri pandang, tetapi ia tidak menjawab. Saya merasakan sorot matanya memperhatikan saya, dan hal itu menimbulkan teror dalam hati saya.

Relasi saya dengan ayah saya sungguh menyedihkan, dan kehidupan saya yang tanpa arah merupakan akibat dari frustrasi yang sangat mendalam terhadapnya. Saya dapat berterus terang mengatakan bahwa saya begitu takut kepadanya, sehingga bahkan sampai saat ini pun saya sulit memahami ketakutan tesebut. Ini merupakan momen yang tidak akan pernah saya lupakan.

"Bagaimana sekolahmu?" ia bertanya.

Itu merupakan pertanyaan yang tidak pernah ia tanyakan sebelumnya. Buku rapor saya biasanya menjawab pertanyaan itu, karena itulah pembicaraan selanjutnya menjadi semakin menegangkan. Seharusnya saya tahu bahwa ia mempunyai alas an untuk menanyakannya hari ini, tetapi tanpa curiga sedikitpun saya menjawab, "Baik."

Kata-katanya selanjutnya akan sulit untuk diulangi, tetapi luapan kemarahan yang disemburkannya kepada saya dan pukulan yang saya terima membuat saya gemetar dan terisak. Seandainya ibu saya tidak turun tangan, saya mungkin akan mengalami luka serius. Kebohongan saya berakhir. Permainan bodoh saya berakhir dengan pahit, tanpa ada pihak yang me nang.

Sebenarnya saya tidak pergi ke sekolah hari itu. Bahkan, saya telah membolos selama beberapa waktu. Selama beberapa hari, saya telah berkeliling dengan sepeda saya untuk mencari pertandingan cricket yang ingin saya tonton atau bahkan mungkin untuk ikut bertanding. Soal bagaimana saya berharap bisa lolos dari tipuan ini, saya tidak akan pernah tahu. Namun kejahatan benar-benar dapat membuat orang kehilangan akal sehat.

Apa penyebab utama dari semuanya ini? Orang mungkin berpikir seluruh peristiwa ini hanya mengindikasikan ketidaksukaan

yang mendalam terhadap sekolah. Tetapi ada alasan yang jauh lebih mendasar. Orang-orang yang mengenal saya tidak akan pernah mend uga bahwa saya merasakan kekosongan yang am at dalam di dalam diri saya. Saya adalah salah satu dari sekian banyak remaja yang memiliki banyak pergumulan di dalam jiwanya tetapi yang tidak memiliki tempat untuk bertanya. Pad a saat itu, saya tidak tahu apakah jawaban-jawaban untuk pencarian saya yang terdalam sungguhsungguh ada. Apakah setiap orang yang saya kenaI mengalami derajat keraguan yang sarna tetapi lebih mampu menutupinya? Atau apakah skeptisisme hanya melanda sebagian kecil orang yang rnalang? Secara sederhana, bagi saya hidup ini benar-benar tidak masuk akal. Seluruh penantian yang terpendam hanya semakin memperbesar has rat yang tidak mungkin terpenuhi. Deskripsi Jean Paul Sartre tentang kehidupan sebagai has rat yang sia-sia terasa sangat tepat. Konfrontasi dengan ayah saya itu mungkin merangkumkan segala sesuatu di dalam diri saya yang telah menghancurkan hidup saya.

Malam itu, saya menjalani hukuman sambil berdiri menghadap tembok. Itu mungkin merupakan metafora yang cocok dengan hidup saya. Pergumulan-pergumulan saya yang paling hebat telah memenjarakan saya, dan selama berjam-jam itu, hati saya dipenuhi penyesalan dan saya bertanya-tanya bagaimana saya akan pernah menerobos keluar untuk menghirup udara segar dari kehidupan yang tidak terbe1enggu.

Puisi Oscar Wilde "The Ballad of Reading Gaol", yang ditulis di dalam penjara, mengungkapkannya dengan tepat:

Tak pernah kulihat orang-orang yang sedih yang memandang dengan mata yang begitu sayu Kepada tenda biru kecil itu

Yang oleh kami, para tahanan, disebut langit Dan pada setiap awan

Yang berlalu dengan riang dalam kebebasan

Saya adalah salah satu dari "orang-orang yang sedih" itu, sekali-

1 4

1 5

JESUS AMONG OTHER GODS

pun saya tidak pernah menunjukkannya. Saya memiliki kerinduan yang sayu untuk bebas. Itulah sebabnya, malam yang suram itu telah menempatkan tembok-tembok yang seakan-akan tidak tergoyahkan dalam perspektif yang sebenarnya. Saya harus menghadapi realitas jika saya memang ingin menemukan jalan untuk memahaminya.

Pergumulan jiwa yang intens yang dimulai malam itu pada akhirnya membawa saya kepada pribadi Yesus Kristus. Bagaimana hal itu terjadi dalam suatu budaya yang sepenuhnya pantheistik*2 dan (setidaknya secara tertulis) sangat religius, merupakan sebuah mukjizat tersendiri. Saya ingin menelusuri kembali sebagian dari langkah-langkah itu untuk Anda.

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

MENINJAU KEMBALI PERISTIWA BERSEJARAH

Timur dan dunia Timur secara diam-diam sedang berusaha untuk meniru Barat, hal ini sangat diperlukan. Agama-agama sedang mengadakan kebangunan, tetapi seringkali sebagai hasil perkawinan silang antara teknik-teknik pemasaran Barat dengan mitologi timur - suatu kombinasi yang menghancurkan yang berisi bujukan melalui media dan mistisisme. Korban pertama dalam percampuran ini adalah kebenaran, dan selanjutnya, pribadi Allah.

N amun, jika roh manusia ingin selamat dan setiap disiplin (ilmu) yang sah ingin memberikanjawaban yang berarti, kebenaran tidak dapat dikorbankan di mezbah toleransi yang palsu. Jelaslah tidak mungkin bahwa semua agama itu benar. Ada beberapa kepercayaan yang salah, dan kita mengetahuinya. Jadi tidak ada gunanya mengagungkan gagasan tentang toleransi sehingga seakan-akan segala sesuatu itu mungkin saja sama benarnya. Mengganggap bahwa semua kepercayaan itu sama benarnya hanyalah omong kosong belaka, karena itu artinya sanggahan terhadap pernyataan itu juga akan menjadi benar. Tetapi jika sanggahan terhadap pernyataan itu juga benar, artinya semua agama tidak benar.

Di dalam kehidupan-nyata, pergumulan kita mengenai benar dan salah, adil dan tidak adil, hidup dan mati membuat kita menyadari bahwa kebenaran itu penting. Yesus Kristus berulang kali berbicara tentang nilai tertinggi dari kebenaran. Meskipun kehidupan-Nya telah diteliti secara saksama lebih daripada siapapun juga, sungguh mengagumkan bahwa bahkan kaum skeptik pun telah mengakui dan memuji kehidupan dan pengaruh-Nya yang tidak ada bandingannya. Di bawah ini, misalnya,terdapat opini seorang cendekiawan yang sangat dihormati, seorang sejarahwan terkemuka WE.H. Lecky:

Memilah-milah momen-momen yang menentukan tidaklah mudah. Oengan usaha yang sungguh-sungguh untuk bersikap adil dan realistis, saya telah mengamati beberapa rambu jalan yang telah saya lalui dan bermaksud membawa Anda ke titik awal pembahasan saya. Oari perspektif kronologis, orang bisa saja salah memahami urutan tersebut sebagai suatu pengalaman yang menghasilkan argumen. Tetapi ketika saya menengok kembali ke jalan itu bertahun-tahun kemudian, saya dapat melihat bahwa secara logis, argumennya mendahului, dan baru setelah itu ditopang oleh pengalaman. Karena itu, bab pembukaan ini dimulai dengan kisah saya, tetapi bab-bab selanjutnya akan memuat argumennya.

Tujuan buku ini adalah untuk memaparkan kepada Anda, para pembaca, mengapa saya sungguh-sungguh percaya bahwa klaim Yesus tentang diri-Nya adalah benar - bahwa la adalah Putra dari Allah yang hidup, Pribadi yang telah datang untuk mencari dan menyelamatkan umat manusia yang terhilang. Pada masa di dalam sejarah kebudayaan kita, ketika dunia Barat lebih menyerupai dunia

*2 pantheismc = ajaran yang mcnyamakan Tuhan dengan kckuatan-kekuatan dan hukumhukum alam; penyembahan kcpada dcwa-dewa

Karakter Yesus bukan sekedar menjadi pola kebajikan tertinggi, melainkan juga insentif terkuat dalam penerapannya. Karakter-Nya telah mengedepankan pengaruh yang begitu dalam, sehingga sungguh-sungguh dapat disimpulkan bahwa catatan sederhana mengenai kehidupan yang dijalani selama tiga tahun telah memberikan pengaruh yang lebih besar untuk memperbarui dan melembutkan umat manusia dibanding semua

1 6

1 7

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

diskuisisi? dari para filsuf dan semua wejangan dari kaum moralis.'

kn:llIgb India ini juga saling bertentangan. Buddha adalah penganut agama Hindu sebelum ia menolak beberapa doktrin fundauu-ntal Hinduisme dan menggantikannya dengan ajaran Buddhis. lsl.un secara radikal berbeda dengan Hinduisme.)

lronisnya, Tomas, yang mendengar kata-kata Yesus ini jugalah y.llIg membawa klairn-klaim eksklusif Kristus ke India dan mernbayar harga pemberitaan Injil itu dengan nyawanya.

Bcnarkah apa yang dikatakan Yesus tentang diri-Nya? Apakah k laim Kristen tentang keunikan merupakan sebuah mitos? Dapatkah .sl'scorang mempelajari kehidupan Kristus dan mendemonstrasikan sccara konklusif bahwa Ia pernah dan masih menjadi jalan, kebenaran, dan hidup? Itulah pertanyaan yang ingin saya jawab dalam huku ini. Saya percaya terdapat bukti yang lebih dari cukup untuk mcndukung klairn-klaim Yesus. Saya memulainya dengan kisah prihadi saya untuk menjelaskan bagaimana perjalanan pribadi saya dirnulai dan bagaimana saya sampai pada kesimpulan bahwa perkataan Yesus tentang diri-Nya itu benar.

Para sejarahwan, pujangga, filsuf - dan banyak kelompok lainnya - telah menganggap Dia sebagai tokoh terpenting di dalam sejarah. Ia sendiri memberikan pernyataan yang sangat dramatis dan berani ketika Ia berkata kepada Tomas, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yoh. 14:6). Setiap kata dalam pernyataan itu menantang kepercayaan-kepercayaan fundamental dari budaya India, yang merupakan budaya asal saya, dan dalam kenyataannya, sungguhsungguh menantang seluruh dunia saat ini.

Lihat saja klaim-klaim implisit dalam pernyataan itu. Pertarnatam a sekali, Ia menegaskan bahwa hanya ada satu jalan untuk datang kepada Allah. Itu menggoncangkan mood dan kerangka-pikir postmodern. Hinduisme dan Bahaisme'" telah lama menantang konsep jalan tunggal untuk mencapai Allah. Agama Hindu, dengan sistem kepercayaannya yang beragam, secara Ian tang menyerang eksklusivitas yang demikian.

Yesus juga dengan tegas menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta kehidupan dan bahwa makna kehidupan hanya ditemukan di dalam Dia. Penegasan ini akan sungguh-sungguh ditolak oleh Buddhisme, agama yang dapat dianggap nonteistik bila bukan ateistik.

Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Putra Allah yang menjadi jaIan menuju kepada Bapa. Islam menganggap klaim tersebut sebagai penghujatan. Bagaimana mungkin Allah memiliki seorang Putra?

Yesus mengklaim bahwa kita dapat mengenal Allah dan natur yang mutlak dari kebenaran-Nya secara pribadi. Kaum agnostik*5 me-nyangkal kemungkinan itu.

Orang dapat menelusuri daftar tersebut dan melihat bahwa setiap klaim Yesus tentang diri-Nya menantang asumsi-asumsi paling dasar dari budaya saya terhadap kehidupan dan makna. (Penting untuk diingat, tentunya, bahwa agama-agama dasar di dalam lingkup

SEKILAS BAHAYA

Wajar saja jika dalam gagasan-gagasan pendahuluan ini saya merasa tidak yakin. Bagaimana saya dapat mengatakan apa yang ingin saya katakan tanpa menyinggung siapapun atau budaya manapun yang terkait? Ini sulit. Keluarga dan budaya merupakan tempat pengasuhan yang berharga. Saya mengalami kebimbangan: antara kasih terhadap kebenaran dengan risiko dari keterbukaan.

Saya menyadari bahaya dari usaha semacam ini beberapa bulan yang lalu, ketika saya membaca buku yang hebat Into Thin Air karya Jon Krakauer. Penulisnya menceritakan kembali pendakian ke Gunung Everest oleh sebuah tim pendaki, yang salah satu anggotanya adalah dirinya. Saya dapat turut merasakan kesedihannya yang mendalam dalam permohonan maafnya di akhir buku tersebut kepada keluarga para korban pendakian, atas kesalahan-kesalahan dalam

1 8

1 9

JESUS AMONG OtHER GODS

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

beberapa kenangan tertulisnya edisi yang pertama. Karena ia menul is tidak lama setelah tragedi itu terjadi, ia telah salah mengingat rincian-rincian yang belakangan harus ditarik kembali atau dikoreksi. Ia mengakui bahwa seandainya ia telah menunda untuk menuliskan kisahnya, ia pasti akan lebih mampu untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan seperti ini.

Tetapi masih ada lagi, dan di sinilah letak kesulitannya. Sebagian dari perkataannya tidak hanya merefleksikan kelemahannya sendiri, tetapi juga kelemahan karakter dan usaha orang lain. Ia benar-benar meminta maaf atas hal itu. Kesalahan yang terakhir ini sangat serius, sebab orang boleh saja menceritakan kehidupannya secara blakblakan atas kemauannya sendiri, selama ia tidak mengorbankan kepercayaan yang tulus dari orang lain. Terhadap bahaya itu saya perIu sangat berhati-hati, dan seandainya saya telah gagal, itu hanya dikarenakan saya akan menyelewengkan kebenaran dari pergumulan saya seandainya saya menyembunyikan insiden-insiden tersebut.

Kini saya dapat menikmati manfaat dari pandangan jarak jauh melintasi waktu. Yesus yang saya kenaI dan saya kasihi saat ini, saya jumpai ketika saya berusia tujuhbelas tahun. Tetapi nama-Nya dan kuasa-Nya dalam hid up saya memiliki makna yangjauh lebih besar daripada ketika saya pertama kali menyerahkan hidup saya kepadaNya. Saya datang kepada-Nya karena saya tidak tahu lagi ke mana saya harus berpaling. Saya tetap bersama-Nya karena tidak ada arah lain yang ingin saya tuju. Saya datang kepada-Nya, dengan kerinduan akan sesuatu yang tidak saya miliki. Saya tetap bersama-Nya karena saya memiliki sesuatu yang tidak akan saya tukarkan. Saya datang kepada-Nya sebagai orang asing. Bersama-Nya, saya menikmati persahabatan yang paling intim. Saya datang kepada-Nya tanpa kepastian tentang masa depan. Bersama-Nya, saya memiliki kepastian ten tang nasib akhir saya. Saya datang tanpa mempedulikan teriakan dari suatu budaya yang memiliki tigaratus tigapuluh juta dewa. Saya tetap bersama-Nya dengan keyakinan bahwa kebenaran tidak mungkin mencakup seluruhnya. Kebenaran bersifat eksklusif.

Anda telah ribuan kali mendengar perkataan ini, terutama bila

Alida dibesarkan di Timur - "Kita semua menempuh jalan yang bcrbcda dan tiba di tempat yang sarna." Tetapi saya berkata kepada Alida, Allah bukanlah suatu tempat ataupun pengalaman atau perasaan, Budaya pluralistik diperdaya oleh gagasan kesopanan yang dipoles, bahwa ketulusan atau hak istimewa berdasarkan keturunan adalah yang terpenting dan bahwa kebenaran bergantung pada cara pandang seseorang. Tidak ada bidang ilmu lain dalam kehidupan yang membuat orang bersikap begitu naif, sehingga mengklaim kepercayaan yang diturunkan atau kepercayaan yang dipegang teguh sebagai satu-satunya penentu kebenaran. Lalu, mengapa kita melakukan kesalahan tragis dengan berpikir bahwa semua agama itu benar dan bahwa tidaklah penting apakah klaim-klaim yang dikemukakannya itu benar secara objektif?

Semua agama tidak sarna. Semua agama tidak mengacu kepada Allah. Semua agama tidak mengatakan bahwa semua agama sarna. Di jantung setiap agama terdapat suatu komitmen tanpa-kompromi terhadap suatu cara spesifik untuk mendefinisikan identitas Allah, dan sebagai hasilnya, mendefinisikan tujuan hid up.

Siapapun yang mengklaim bahwa semua agama sarna bukan hanya menunjukkan bahwa ia tidak mengenal semua agama, melainkan juga bahwa ia memiliki pandangan yang tidak utuh tentang agama-agama yang paling-dikenal sekalipun. Setiap agama, pada intinya, bersifat eksklusif.

Tetapi konsep ten tang "banyak jalan" telah terse rap secara tidak sadar dalam kehidupan saya sebagai seorang remaja. Saya dikondisikan ke dalam cara pikir yang seperti itu sebelum saya menemukan prasangka-prasangka tersembunyi di baliknya. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memahami bahwa seruan untuk bersikap terbuka tidak pernah memiliki makna harfiah. Yang dimaksud ketika seseorang berkata, "Kau harus bersikap terbuka terhadap segala sesuatu" sebenarnya adalah, "Kau harus bersikap terbuka terhadap segala sesuatu yang saya terima, dan segala sesuatu yang saya tolak, harus kau tolakjuga."

Budaya India memiliki pernis keterbukaan seperti itu, tetapi

20

21

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

sangat kritis terhadap segala hal yang menantangnya. Bukanlah kebetulan bila dalam budaya yang disebut toleran itu lahir sistemkasta. Filsafat-filsafat yang mencakup-semua hanya mungkin ada dengan mengorbankan kebenaran. Dan tidak ada agama yang menyangkali kepercayaan-kepercayaan intinya.

Di dalam sistem yang relatif ini, orang cenderung diombangambingkan oleh pasang-surut kultural dan sarna sekali tidak memikirkan natur realitas yang tidak mengenal kompromi. Seperti itulah jalannya kehidupan dalam budaya panteistik. Tidak heran, terdapat kekayaan pemikiran yang telah menghasilkan budaya yang mengesankan bagi lebih dari satu milyar orang, suatu budaya yang gagal menjelaskan kemelaratan ekonomi, kekacauan politik, dan permusuhan agama, yang oleh para rakyatnya dijuluki sebagai "Mother India".

Tidak ada orang yang bisa memilih tempat kelahirannya.

Namun, kata-kata sang penyair - ''Ada orang yang jiwanya begitu hampa, yang belum pernah berkata kepada dirinya, 'Inilah temp at kelahiranku"? - sungguh benar, dan menyedihkan. Dalam nafas budaya itulah, kehidupan saya, bahasa saya, dan nilai-nilai saya dibentuk dan diuji. Saya akan selalu bersyukur atas kehormatan itu dan atas karunia-karunia berharga yang saya terima. Saya berharap lagu, bahasa, dan imp ian yang telah ditanamkannya dalam hati saya tidak akan pernah sirna. Tetapi pencarian akan satu-satunya Allah yang benar di dalam suatu negri yang dipenuhi dengan dewa-dewa merupakan suatu tugas yang mematahkan semangat. Agama memiliki sejarah yang dipenuhi dengan kegagalan dan keberhasilan di masa lalu, dan sebagian di antaranya patut dicela.

Sebagai pewaris dari budaya yang kompleks ini, saya bertumbuh dengan tembok-tembok keputusasaan yang tersembunyi di dalam diri saya, yang perlahan-lahan bertumbuh di dalam diri saya sehingga sedikit demi sedikit saya tiba pada titik krisis pribadi. Saya telah mendengar pepatah bahwa setiap kelemahan di dalam diri orang yang cakap umumnya merupakan kekuatan yang disalahgunakan. Itu berlaku juga untuk kebudayaan. Dalam konteks di

mana saya dibesarkan, penyalahgunaan atas kekuatan budaya itu mengukuhkan pepatah tersebut.

KERAPUHAN DI DALAM KEKUATAN

Yang pertama dan terutama adalah kekuatan dari keluarga inti. Setahu saya, kebudayaan terse but bersifat kuat dan sangat menghormati keluarga kandung. Ikatan-ikatan kekeluargaan sangat kuat di India. Tetapi kekuatan itu mudah sekali disalahgunakan. Banyak orangtua tampaknya berusaha mengulangi kembali kehidupan mereka melalui anak-anak mereka, dan keberhasilan anak-anak secara sosial mengangkat martabat keluarga. Individualitas dite1an oleh marga. Setiap hari, ratusan iklan tentang pencarian jodoh dicetak di seluruh suratkabar daerah - para orangtua berusaha mencarikan jodoh bagi anak-anak mereka. Setiap calon mempelai wan ita dan pria disebutkan berasal dari "ke1uarga baik-baik" dan sedang mencari seseorang dari "keluarga baik-baik." "Putra saya adalah seorang insinyur." "Putri saya adalah seorang dokter." "Putra saya mendapat ranking tertinggi di kelasnya." "Putri saya memenangkan beasiswa ke luar negeri." Itu juga yang terdengar dalam acara-acara sosial. Segala sesuatunya dilakukan untuk mempertahankan kesatuan keluarga, dengan menghormati keinginan orangtua dalam segala hal dari pekerjaan sampai perkawinan.

Bagi saya, kekuatan keluargajuga menjadi tempat bertumbuhnya benih-benih kesendirian di dalam batin. Hal itu berpusat pada suatu fakta yang am at vital - seorang ayah yang luar biasa sukses dan berpengaruh, yang tidak dapat menerima putranya yang tidak disiplin, yang mengabaikan kegagalan dalam berbagai bidang. Sang ayah berhasil menjadi orang yang berpengaruh. Bagaimana nasib putranya?

Selain ikatan yang kuat dari keluarga, dimensi kedua adalah realitas sosial dari kompetisi akademis yang intens. Segala sesuatu yang menentukan harkat seseorang dan masa depannya dibentuk oleh prestasinya di sekolah. Setiap siswa ingin menjadi nomor satu

22

23

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

di dalam kelasnya. Tidak cukup hanya mendapatkan nilai yang baik. Anda harus menjadi yang terbaik atau hampir mendekatinya. Intelek diagungkan.

Ketika saya masih sekolah, nilai dan ranking setiap murid di dalam kelas dicetak dalam surat kabar terkemuka agar semua orang dapat melihatnya. Kesuksesan at au kegagalan menjadi alas an bagi kebanggaan atau kekecewaan masyarakat. Salah satu sahabat terdekat saya berencana untuk bunuh diri setelah ujian sekolah menengahnya karena ia tidak menduduki ranking pertama di seluruh kota New Delhi. Ternan sekelas saya yang lain di perguruan tinggi benar-benar membakar dirinya sampai mati karena ia tidak mendapatkan nilai terbaik.

Penyelewengan semacam ini, yang telah mencelakakan begitu banyak orang, masih menguasai banyak budaya. Hal itu jelas-jelas salah, tetapi tetap dipertahankan dengan gigih.

Kombinasi dari standar di rumah dengan standar dalam masyarakat ini membuat hidup saya menjadi tak menentu. Mulai tampak bahwa saya tidak akan menjadi kebanggaan dari seorang ayah yang berpengaruh. Ini tidak disengaja; melainkan entah disebabkan oleh kurangnya kapasitas atau oleh kapasitas yang belum menemukan tujuannya. Kehidupan berjalan dengan lambat sementara lengan tekanan sosial yang panjang perlahan-lahan merangkak mendekati saya, dan saya tahu saya tidak akan berhasiI.

Setiap pagi saat bangun, kami akan melihat para pria dan wanita yang berdiri di depan rumah kami, yang sedang berharap untuk bisa berbicara satu menit saja dengan ayah saya. Ia memegang kunci untuk banyak pekerjaan dan kontak. Dengan kedua tangan yang dirap atkan , mereka akan memohon agar diberi kesempatan untuk bekerja. Sambil melangkah ke mobil, ayah akan mengangguk kepada mereka, seakan-akan berkata, "Percayakan pada saya." Dan memang benar, ada banyak orang yang tertolong oleh koneksinya. Ada begitu banyak orang yang mengagungkan namanya karena kekuasaan semacam ini. Tidak adakah kemungkinan bagi saya untuk turut memetik manfaat dari pengaruhnya suatu hari nanti? Tetapi ada terlalu

h.ury.rk yang mengintai di balik layar sehingga penjeIasan seperti itu ,I~.III mcnjadi terlalu naif

SdJagai tambahan, ayah saya memiliki firasat buruk. Dengan po'.tsillya yang tinggi, ia bergumul dengan perangai yang tidak stabiI. l lidup saya yang kurang terfokus menghasilkan situasi yang akan nunuai krisis. Kombinasi itu akan membawa kami ke dalam relasi ymg saya sesali saat ini. Saya sangat bersyukur pada Allah bahwa rclasi itu tidak berakhir seperti permulaannya.

Sedemikian besar has rat ayah saya untuk mempersiapkan karir ya ng cemerlang bagi saya, sebesar itu juga hasrat saya untuk berkarir di dunia olahraga - sebuah kecintaan dalam hidup saya yang sarna xckali tidak diminatinya. Setiap remaja pria bercita-cita untuk menpdi seorang pemain cricket dan bermain untuk India, sarna seperti sctiap remaja di New York ingin bermain untuk kelompok Yankees. 'Ietapi kemampuan saya memang cukup menjanjikan. Saya bermain untuk banyak tim di perguruan tinggi - cricket, hoki, tenis, dan tenis mcja - tetapi ayah saya tidak pernah datang untuk menontonnya, tcrrnasuk dalam pertandingan besar. Kami sedang menuju ke arah yang berbeda.

Selama masa itu, saya tidak pernah berhenti menghormatinya.

Sampai detik ini, saya percaya ayah saya adalah seorang yang baik, bahkan seorang yang agung, tetapi ia tidak memahami cara untuk mendekati seorang anak yang sedang terluka dan bergumuI. Saya merenung seorang diri dan hidup dengan penderitaan pribadi saya. Selama bertahun-tahun saya akhirnya percaya bahwa hal-hal ini lebih penting daripada yang mungkin disadari oleh orang biasa, tetapi mungkin kurang penting dibandingkan dengan apa yang berusaha ditanamkan oleh kaum ekstrimis. Entah bagaimana, kita belajar untuk mengatasinya, hanya saja hal itu menempatkan kita di dekat tebing penolakan-diri dan membuat kita lebih rapuh ketika mimpi-rnimpi kita hancur.

Izinkan saya mengilustrasikan pengertian ini.

Beberapa tahun yang lalu, seorang mantan atlet Olimpiade datang mengunjungi saya. Ia sedang mencari petunjuk bagi hidupnya.

24

25

JESUS AMONG OTHER GODS

Ia adalah seorang yang kuat dan sangat kekar. Sungguh suatu kehormatan bisa berada di dekatnya - sekadar berharap bahwa otot

dapat ditularkan!

Ia bereerita pada saya ten tang saat ketika ia mewakili negaranya

di Olimpiade. Itu merupakan kisah tentang impian-impian yang telah berjuang melawan mimpi buruk potensial. Sejak usia duabelas tahun, ia hanya berjerih lelah untuk satu hal, Olimpiade. Ia telah menggunakan setiap sen yang dihasilkannya dan setiap harga yang dibayarnya untuk suatu hari nanti bisa merebut medali emas dalam pertandingan yang dieintainya. Ia benar-benar terfokus. Inilah yang diinginkannya. Tetapi ia memiliki relasi yang sangat kaeau dengan ayahnya, yang sarna sekali tidak tertarik pada impiannya, dan karenanya ia telah membayar segala sesuatunya dengan uangnya sendiri.

Ketika ia baru berusia tujuhbelas tahun, ia memfilmkan sang juara dunia dalam pertandingan yang diinearnya dan membedah setiap gerakannya, bagian demi bagian, untuk mempelajari tekniknya. Ia kemudian memfilmkan dirinya sendiri dalam jarak yang sarna dan berhasil menyamai setiap gerakannya. Dengan seeara persis menyambung potongan-potongan adegan ketika ia gagal menyamai waktu sang juara dunia, ia bertekad untuk menjembatani eelah tersebut. Dengan kemauan yang amat keras, disiplin, dan keberanian, ia hampir meneapai sasaran.

Ia berhasil masuk· dalam tim negaranya, dan hidupnya tiba-tiba seperti berada di awang-awang. Ia memenangkan setiap ronde dan muneul sebagai pemenang yang mengejutkan dan potensial pada babak final. Apakah ini sebuah mimpi ataukah kenyataan? Tidak, ini kenyataan, ia mengingatkan dirinya.

Ia sedang berada di titik start untuk babak final, dan bangsanya sedang menontonnya. Jutaan orang bersorak untuknya, dan hatinya berdebar-debar, berharap agar kisah "anak des a yang menuai sukses" ini dapat muneul dalam tajuk reneana keesokan harinya. Saya ingat bahwa saya pernah menonton pertandingan itu, Tembakan hampir dilepaskan, untuk menandai dimulainya pertandingan. Inilah saat yang telah dinanti-nantikannya selama hampir seumur hidupnya.

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

Tetapi pikiran dengan segala kegigihan dan keteguhannya juga merupakan gudang penyimpanan dari hasrat-hasrat yang tidak terueapkan.

"Entah dari mana datangnya," katanya, "sebuah pikiran yang tidak terduga tiba-tiba menguasai saya - saya bertanya-tanya apakah ayah saya sedang menonton saya."

Pikiran yang tidak terduga itu untuk sejenak menguasainya dan mungkin selama sepersekian detik telah memperlambat dua langkah pertamanya, sehingga ia gagal memperoleh medali emas. Dengan kebanggaan yang besar, ia masih memenangkan medali perunggu. Namun, baginya, kemenangan di lintasan itu kehilangan semaraknya bila dibandingkan dengan kerinduan yang lebih dalam di dalam hidupnya - persetujuan dari orang yang dikasihi. Atlet ini tidak tahu betapa hati saya berdebar selama mendengarkan kisahnya. Saya sangat memahaminya.

Impian-impian orang muda terkadang memang liar, tetapi impian itu tidak akan pernah bisa dikoreksi dengan eara mengolokoloknya. Impian itu harus diarahkan dengan suara yang penuh kasih, yang membuat suara itu patut untuk didengar, bukan dengan otoritas yang dipaksakan. Ini adalah pelajaran yang paling sulit dipelajari oleh para orangtua. Dan ketika kebudayaan kehilangan kekuatan pembatasnya, kasih dan rasa hormat yang bersifat timbalbalik an tara orangtua dengan anak akan menjadi lebih dibutuhkan, agar relasi yang didasarkan pada kepereayaan dapat terbangun, bukan relasi yang bergantung pada otoritas karena kedudukan.

Mungkin kata-kata yang paling mengena yang pernah diueapkan oleh ayah saya kepada saya adalah, "Kamu tidak akan pernah menghasilkan apapun dalam hidupmu!" Dan seeara jujur; sepertinya ia benar, Ia hanya berusaha untuk menyadarkan saya. Penghiburan dari ibu sayahanya berhasil membawa saya kepada pengertian itu. Dengan pengertian itu, hari yang menentukan ketika saya mengayuh sepeda saya ke rumah menjadi titik kritis yang seharusnya membuat kami mengambil waktu untuk berbieara. Tetapi saya rasa kebebasan untuk berbieara tidak muneul dalam sebuah kekosongan. Momen

26

27

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

KE MANAKAH SAYA HARUS MENeARI AGAR SAYA DAPAT MENEMUKAN?

lahir, dan sekarangjuga absen saat anak kedua kami lahir. Saya tclah menyimpulkan bahwa cricket penting bagi hid up saya, tctapi cricket bukan segalanya."

Tetapi hal itu memunculkan sebuah pertanyaan, benarkah dcmikian? Apa pengertian segalanya? Adakah sesuatu yang bisa mcnjadi segalanya? Mengapa kita begitu antusias untuk membuktikan kepada dunia bahwa kita adalah yang terbaik dalam pekerjaan kita dan tidak mempedulikan mengapa kita melakukannya atau siapa diri kita?

Betapa inginnya saya mendapatkan jawaban untuk pertanyaanpertanyaan seperti itu. Mungkin jawabannya memang ada, tetapi saya tidak dapat mengenalinya di tengah suara-suara yang berkecamuk di dalam negeri yang re1igius. Tujuan bagi kehidupan adalah bagaikan kerangka bagi tubuh. Otot mungkin memiliki kekuatan, tetapi otot perlu ditunjang dan diikat. Seluruh pengejaran saya tidak memiliki struktur yang menopangnya. Hidup mengalir dengan perasaan dan olahraga, tetapi tanpa arah yang pasti.

Coba renungkan alternatif-alternatif yang telah diberikan oleh budaya kita. Kesenangan, kekayaan, kekuasaan, kemasyhuran, kesempatan, kedermawanan, kedamaian, pendidikan, etnisitas - daftarnya tidak ada habisnya. Dan ketika tak satupun di antaranya mernbawa hasil, kita mencampurkan spiritualitas dan pragmatisme. Tetapi pengejaran-pengejaran ini tidak memberikanjawaban tentang keberadaan kita di dunia ini. Hal-hal ini bisa menjadi jalan untuk menata hid up seseorang, tetapi.haruskahkehidupan ditentukan oleh apa yang saya kejar, atau haruskah pengejaran saya ditentukan oleh makna kehidupan?

Dalam sebuah budaya di mana kemampuan akademik menjadi yang terutama dan hidup saya gagal mencapainya, sebuah budaya di mana filsafat melimpah ruah tetapi tujuan tidak pernah ditanamkan, ke manakah saya harus berpaling? Kehilangan yang terbesar adalah kehilangan muka ketika mengalami kegagalan. Apa yang kita sebut sebagai rasa malu ini sangat me1ekat di dalam bahasa India, begitu dalam sehingga ketika seseorang gagal, salah satu kecamannya adalah dicap sebagai seorang yang tidak tahu malu. Malam itu scpcrti-

kesempatan itu dibangun dengan persiapan selama berjam-jam.

Hubungan kami yang tegang itu hanya diperburuk dengan pemikiran mendasar yang terus berkecamuk di dalam diri saya'. Jika hidup tidak memiliki tujuan, apa gunanya diperjuangkan? Ketika saya berbicara tentang tujuan dan makna, yang saya maksud bukan hanya perasaan damai secara eksistensial. Maksud saya adalah suatu arah kehidupan yang menopang rasio dan emosi. Ini sangat penting untuk dipahami.

Kini sete1ah saya pindah ke Barat, saya mendapati bahwa sekalipun banyak pemuda di sini mengenali masalahnya, hal itu tetap diabaikan tanpa bisa dijelaskan dalam dunia orang dewasa. Mengapa saya mengatakan hal ini?

Dalam dunia bisnis, setiap perusahaan besar merumuskan misinya. Rumusan itu selanjutnya dipakai ketika mengukur prestasi dan kegagalan. Jika sebuah perusahaan tidak memahami tujuan pendiriannya, rnaka perusahaan itu tidak akan pernah dapat menilai keberhasilan atau kegagalannya. Dengan demikian, betapa bersalahnya kita semua, yang akan berjerih payah selama berjam-jam untuk merumuskan pernyataan tujuan bagi sebuah perusahaan yang menjual tusuk gigi atau batu nisan, tetapi tidak pernah berhenti cukup lama untuk menuliskan pernyataan tujuan bagi hidup kita sendiri.

Sementara menulis, saya telah membaca sebuah artikel hasil wawancara dengan seorang atlet cricket yang hebat di Australia. Ia sedang bertanding dalam kejuaraan piala dunia cricket untuk mewakili negaranya. Dengan linangan air mata yang menunjukkan kcputusasaannya terhadap hidupnya, ia menggumamkan sebuah peuvcsalan. Sementara ia bertanding, istrinya sedang menantikan dciik-dctik kelahiran anak kedua mereka, di tempat yang berjarak ribu.m mil jauhnya. "Saya tidak hadir ketika anak pertama kami

28

29

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

ORANG YANG MENCARI MENDAPATI BAHWA IA SEDANG DICARI

terbiasa menghadiri kebaktian seperti ini, saya mendapati diri saya berjalan sendirian ke depan ketika beliau menyampaikan undangan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Meskipun saya telah dibesarkan dalam sebuah gereja, saya tidak terlalu percaya bahwa apa yang diberitakan oleh gereja berlaku bagi kehidupan, sehingga saya hanya menangkap sebagian kecil dari perkataan beliau. Semuanya ini sarna sekali tidak berarti bagi saya. Saya sarna sekali tidak memahami hal ini. Saya hanya tahu bahwa hidup saya salah dan bahwa saya membutuhkan seseorang yang dapat membereskannya. Saya ingin memiliki kerinduan yang baru, penantian yang baru, disiplin yang baru, dan kasih yang baru. Saya tahu Allah pasti dapat menolong saya. Saya hanya tidak mengetahui bagaimana saya bisa menemukan Dia.

Malam itu saya pulang dengan suatu kesadaran bahwa apa yang diberitakan oleh beliau memang benar, sekalipun saya belum dapat memahami semuanya. Sekalipun saya masih bingung, saya menghadapi suatu konteks yang sangat penting. Setelah beberapa minggu, saya terus menghadiri semua festival Hindu yang populer dan menikmati presentasi-presentasi dramatis dari mitologi mereka. Saya memiliki seorang sahabat beragama Hindu yang bersemangat, yang berusaha sangat keras untuk membuat saya memeluk kepercayaan Hindu.

Kemudian terjadilah suatu peristiwa yang signifikan. Saya sedang bersepeda melewati sebuah tempat kremasi, dan saya berhenti untuk bertanya kepada sang pendeta Hindu, di manakah orang yang tubuhnya telah berubah menjadi tumpukan debu itu saat ini.

''Anak muda," katanya, "itu adalah sebuah pertanyaan yang akan kau tanyakan seumur hidupmu, dan engkau tidak akan pernah menemukanjawaban yang pasti."

Jika seorang pendeta hanya dapat memahami sejauh itu, pikir saya, apa lagi yang bisa diharapkan oleh orang biasa seperti saya?

Bulan demi bulan berlalu, tanpa adanya penjelasan lebih lanjut yang saya butuhkan, perasaan kehilangan makna telah membawa saya kepada sebuah momen yang tragis. Seandainya saya scm pat

nya saya telah kehilangan muka untuk selamanya, dan hukuman saya merupakan sebuah metafor sekaligus realitas.

Pada suatu saat di tengah segala kekacauan ini, Perburuan Surga menemukanjejak saya. Ketika saya menengok ke belakang sekarang ini, saya melihat jejak kaki-Nya ada di mana-mana. Sesungguhnya, Ia berada lebih dekat daripada yang saya duga. Kini dalam kilas balik, saya dapat melihat jejak yang jelas bahkan dalam saat-saat yang paling suram sekalipun. Jika Anda tinggal dalam sebuah rumah kecil dengan dua kamar tidur bersama dengan empat saudara kandung dan orangtua Anda, Anda tidak memiliki tempat persembunyian. N amun sungguh menakjubkan bagaimana orang dapat bersembunyi di dalam dirinya.

Tetapi karya Allah telah dimulai jauh sebelumnya. Secara tidak diduga, suatu hari kakak perempuan saya mengundang saya untuk menghadiri kebaktian remaja yang akan menampilkan acara musik dan khotbah. Ia mengundang saya untuk hadir dalam pertemuan itu bersamanya. Dalam kesempatan ini, pengkhotbah tamunya adalah seorang yang, sekalipun sarna sekali asing bagi saya, merupakan pemimpin Kristen internasional yang sangat dihorrnati.' Ingatan 'saya tentang peristiwa itu terlalu samar, sehingga saya sulit meng-

ingat dengan persis semua yang telah terjadi. Tetapi ada satu hal yang saya ingat. Ia berkhotbah dari sebuah teks yang mungkin merupakan teks yang paling terkenal dalam Alkitab: "Karena begitu bcsar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNy:1 tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh 3:16).

N:11l1I11l sikapnya memberi pengaruh yang lebih besar dibanding k.u.r-k.u.mva , dan isi hatinya tercermin lewat kata-katanya. Di da- 1.111I1ly.1 u-rd.rpat kclcmbutan dan juga kekuatan. Karena saya tidak

3 ()

3 1

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

membaca karya filsuf ateis, Jean Paul Sartre pada tahap seperti itu dalam hidup saya, kata-katanya pasti akan mengukuhkan setiap perasaan tersendiri yang saya rasakan. Dua dari buku-bukunya yang paling laris, Nausea dan No Exit, dengan tepat menggambarkan keadaan saya. Sartre bahkan mengatakan bahwa satu-satunya pertanyaan yang tidak mampu dijawabnya adalah mengapa ia tidak bunuh diri. Sungguh menakjubkan bukan, ketika hidup terasa tanpa arti, para penyair dan seniman tidak takut mengakui kesalahan mereka, semen tara kaum rasionalis mencela sikap itu dan menyemir kefasihan dengan sedikit alasan?

Keputusan saya tegas namun tenang. Sebuah kepergian yang diam-diam akan menghindarkan keluarga saya dan saya dari kegagalan berikutnya. Sebagai akibatnya, saya mendapati diri saya terbaring di rumah sakit, setelah dilarikan ke sana dalam keadaan sekarat, karena berusaha bunuh diri. Di dalam kamar rumah sakit itu, sebuah Alkitab diberikan kepada saya, dan di tengah kehancuran yang saya alami, suatu bagian Alkitab dibacakan untuk saya. Berita dari sang pengkhotbah dalam acara remaja itu masih terngiang di telinga saya. Saya membutuhkannya sebagai dasar untuk membangun. Beliau telah berkhotbah dari pasal ketiga Injil Yohanes tentang kasih Allah. Kini di rumah sakit, saya mendengar pembacaan dari pasal keempatbelas Injil Yohanes, tentang maksud Allah.

Kata-kata dalam pasal itu diucapkan kepada rasul Tomas, yang datang ke India, seperti yang telah saya je1askan. Monumennya masih ada sampai sekarang, hanya beberapa mil jaraknya dari tempat kelahiran saya. Ingatlah bahwa Yesus telah berkata kepadanya, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku." Tetapi perhatian saya tertuju pada beberapa kata selanjutnya, ketika Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Karena Aku hidup, kamupun akan hidup". Sekali lagi, saya tidak sepenuhnya memahaminya. Saya tahu yang dimaksud pastilah lebih dari sekadar kehidupan biologis. Dengan menyatukan potongan-potongan ini: kasih Allah di dalam Kristus,jalan yang telah Ia sediakan karena Kristus, dan janji tentang kehidupan

melalui Dia; di atas tempat tidur di rumah sakit itu saya membuat komitmen untuk menyerahkan hid up saya dan pengejaranpengejaran saya ke dalam tangan-Nya. Pergumulan-pergumulan tentang relasi saya, asal usul saya, dan tujuan akhir saya, semuanya terjawab dalam percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya dua ribu tahun yang lalu. Komitmen saya kini tetap merupakan interaksi terindah yang pernah saya buat. Saya menyerahkan hidup saya sepenuhnya kepada Yesus Kristus.

Dalam puisi yang sarna, yang saya kutip sebelumnya, Oscar Wilde berkata:

Dan semua cercaan yang begitu menyusahkan hatinya Yang membuat ia menangis tersedu-sedu,

Dan penyesalan-penyesalan yang dalam serta keringat bagai darah, Tidak ada orang yang lebih mengenalnya selain diriku:

Sebab orang yang menjalani lebih dari satu kehidupan

Yang kematiannya melebihi apa yang harus dial ami oleh seseorang ... Dan setiap hafi manusia yang hancur

Dalam sel-penjara atau kurungan,

Adalah bagaikan wadah yang hancur itu, yang menyerahkan Seluruh hartanya kepada Tuhan,

Dan memenuhi rumah si kusta yang najis itu Dengan semerbak narwastu yang termahal.

Ah! Betapa indahnya hari itu, bagi mereka yang hatinya dapat hancur Untuk memperoleh perdamaian dan pengampunan!

Bagaimana lagi orang dapat meluruskan rencananya

Dan membersihkanjiwanya dari Dosa?

Bagaimana lagi selain 'melalui hati yang hancur

Yang melaluinya Kristus Tuhan dapat mas uk?

Saya keluar dari rumah sakit sebagai pribadi yang baru. Tuhan Yesus sudah masuk ke dalam hati saya. Transformasi yang terjadi sangat dramatis. Tidak ada cara lain untuk menggambarkannya. Sejak saat itu, penantian saya, harapan saya, imp ian saya, dan setiap

32

33

J ES U S AMONG OTHER GODS

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

IIsaha saya ditujukan untuk hidup bagi Dia yang menyelamatkan saya, untuk belajar bagi Dia yang memberikan akal budi kepada saya, untuk melayani Dia yang menciptakan kehendak saya, dan untuk memberitakan Dia yang memberikan suara kepada saya.

Semangat untuk belajar, kesadaran ten tang pentingnya belajar, dan kebutuhan untuk memahami para pemikir agung dan pemikiran-pemikirannya - semuanya berangsur-angsur menempati posisi yang seharusnya. Intelek kita tidak dimaksudkan untuk menjadi tujuan akhir kita, melainkan hanya sebagai sarana bagi pikiran Allah sendiri. Buku, yang sebelumnya menjadi kutuk, berubah menjadi tambang emas.

Orang Ibrani memiliki motif yang melambangkan ideal tersebut:

"Setiap orang di bawah pohon aranya sendiri." Jika Tuhan mengizinkan saya membuat sebuah metafor saat ini, saya akan berkata, "Setiap orang di dalam perpustakaannya sendiri." Pengejaranpengejaran yang sebelumnya menghasilkan begitu banyak luka batin, kini menjadi kesukaan yang memerdekakan bagi saya. Saya tidak pernah membayangkan perjalanan panjang akademis yang menanti. Saya telah mencintainya.

Ada banyak sekali yang telah diubahkan sejak hari itu sehingga akan menjadi terlalu banyak bila dituliskan. Allah telah memberi saya kehormatan untuk memberitakan Dia di setiap benua dan dalam lusinan kota, untuk memaparkan pembelaan atas iman Kristen di beberapa institusi yang terbaik di dunia. Saya merasa mendapatkan kehormatan yang tiada taranya. Saya merasa sangat kerasan di New Delhi seperti halnya di Atlanta atau Toronto. Saya menyukai berbagai macam orang di dunia ini, masing-masing dengan aksen dan masakan dan keunikan tabiatnya. Saya telah benar-benar menikmati tantangan dan kehormatan yang telah dihasilkan oleh profesi saya sebagai seorang apologet Kristen. Apologetika Kristen adalah tugas memaparkan pembelaan tentang pribadi dan pemberitaan Yesus Kristus. Selama bertahun-tahun, saya telah menjadi sangat yakin bahwa klaim-Nya tentang diri-Nya sangat tepat - (Dia adalah) Allah yang berinkarnasi, yang telah datang untuk memberikan ke-

hidupan yang berkelimpahan kepada kita dan menuntun kita kepada kcbcnaran yang indah dan memerdekakan. Saya tidak bisa menyangkali getaran hati yang saya rasakan ketika menyaksikan ribuan jiwa diubahkan.

POLA YANG PERLAHAN-LAHAN TERLIHAT

Sebelum mengakhiri bab ini, saya ingin menceritakan bagaimana rancangan yang penuh arti muncul ketika Allah menenun sebuah pola dari sesuatu yang, bagi kita, seringkali tampak seperti benangbenang yang tidak berhubungan.

Beberapa tahun yang lalu, saya sedang mengunjungi sebuah ternpat pembuatan sari yang paling indah. Sari, tentunya adalah pakaian yang dipakai oleh para wanita India. Biasanya panjangnya enam yar. Sari pengantin adalah sebuah karya seni; sari itu kaya dengan benang emas dan perak, dengan susunan warna yang cemerlang.

Tempat yang saya kunjungi dikenal sebagai tempat yang memproduksi sari pengantin terbaik di dunia. Saya menduga akan menemukan mesin-mesin canggih dan desain-desain yang akan membuat saya merasa takjub. Tidak demikian! Setiap sari dibuat secara khusus oleh satu tim yang beranggotakan seorang ayah dan putranya. Sang ayah duduk di atas sebuah panggung yang tingginya dua atau tiga kaki di atas putranya, dikelilingi oleh gulungan-gulungan benang, sebagian berwarna gelap, sebagian lagi berwarna cerah. Sang putra hanya melakukan satu hal. Apabila ayahnya mengangguk, ia akan memindahkan pemintal benang dari satu sisi ke sisi yang lain dan kemudian mengembalikannya lagi. Sang ayah akan menggenggam sekumpulan benang dengan jari-jarinya, mengangguk sekali lagi, dan sang putra akan memindahkan pemintal itu lagi. Ini akan diulangi selama ratusan jam, sampai Anda dapat mulai melihat munculnya pola yang sangat indah.

Sang putra mendapat tugas yang mudah - hanya memindahkan pemintal apabila ayahnya mengangguk. Selama proses itu, sang bapa

34

35

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

memiliki rancangan dalam pikirannya dan menyatukan benangbenang yang tepat.

Semakin saya berusaha merenungkan kehidupan saya sendiri dan mempelajari kehidupan orang lain, saya sangat kagum melihat rancangan yang Allah miliki bagi setiap kita secara pribadi, sekiranya kita bersedia untuk berespon kepada Dia. Ada banyak hal dalam hidup saya yang menolong saya untuk melihat benang-benang yang telah ditenun-Nya ke dalam kehidupan ini. Kisah berikut ini menjadi penunjuk sederhana dari tujuan itu.

Hampir tigapuluh tahun setelah saya menyerahkan hidup saya kepada Kristus, istri saya dan saya mengunjungi India dan kami memutuskan untuk mengunjungi kuburan nenek saya. Saya hanya memiliki ingatan yang samar tentang upacara pemakamannya, up acara pemakaman pertama yang pernah saya ikuti. Saya mengalami kesulitan ketika berusaha memberitahukan tahun kematiannya kepada petugas pemakaman. Kami akhirnya menemukannya - ketika saya ingat bahwa saya mungkin berusia sembilan atau sepuluh tahun tatkala hal itu terjadi. Setelah mernbolak-balik catatan-catatan tua yang besarnya melebihi mejanya, kami akhirnya menemukan nama nenek saya. Dengan bantuan seorang tukang kebun, kami berjalan melintasi timbunan rumput liar dan kotoran dan puing-puing di dalam pekuburan itu sampai kami menemukan lempengan besar dari batu yang menandai makamnya.

Tak seorangpun pernah mengunjungi makamnya selama tigapuluh tahun. Dengan ember airnya yang kecil dan sikat kecilnya, sang tukang kebun membersihkan kotoran yang melekat di situ dan sccara tidak terduga, di bawah namanya sebuah ayat perlahan-lahan muncul. Istri saya memegang tangan saya dan berkata, "Lihat ayat itu!" Bunyinya, "Karena Aku hidup, kamupun akan hidup". Seperti yang saya katakan, Dia telah menemukan jejak saya, lama sebelum saya mcnyadarinya.

Hcrtahun-tahun sesudah itu, kami telah menyelidiki bagaimana 111111 pert.una kali masuk ke dalam keluarga kami. Dari pihak ibu II 1.11 IJIIII 1 ayah saya, lima dan enam generasi sebelumnya, para pe-

tobat pertama berasal dari kasta tertinggi dalam kepanditaan Hindu. Yang pertama kali percaya kepada Tuhan adalah seorang wanita. Ia sangat tertarik pada apa yang diberitakan oleh para misionari di desanya dan terus berusaha mencari mereka, meskipun keluarganya sangat menentangnya. Tetapi suatu hari, ketika ia baru saja ingin meninggalkan kompleks perumahan misionari untuk pulang ke rumah sebelum keluarganya tahu bahwa ia telah berada di situ, pintu-pintu di dalam kompleks itu ditutup karena wabah kolera telah menyebar di dalam desa itu. Ia harus tinggal bersama dengan para misionari selama beberapa minggu sampai masa karantina berakhir. Ketika saat itu tiba, ia telah menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Tembok-tembok dari kompleks perumahan yang tertutup itu menjadi sarana bagi perjumpaannya secara pribadi dengan Yesus Kristus.

Semua tembok bukanlah penghalang. Tembok-tembok itu mungkin hadir karena suatu tujuan. Ketika saya mengingat perjalanan itu, ada seorang tokoh dan dua penyair yang muncul dalam pikiran saya. Dalam Perjanjian Baru, kita membaca kisah pertobatan Saulus dari Tarsus. Ia tentu adalah seorang teroris bagi orang-orang Kristen. Allah dengan murah hati memburunya dengan kasih-Nya, untuk menjadikannya sebagai salah satu rasul utama-Nya. Orangorang yang pernah menjadi sahabatnya kini mengancam nyawanya. Murid-murid memasukkannya ke dalam sebuah keranjang dan menurunkannya dari atas tembok kota agar dia dapat melepaskan diri dari para penyiksanya.

Bagi saya, siksaan itu terjadi di dalam hati. Allah mengirimkan orang-orang yang mengangkat saya dalam sebuah keranjang kasih dan keyakinan dan menurunkan saya dari atas tembok yang tidak dapat saya panjat sendiri. Seperti itulah anugerah Kristus, yang mencari kita di manapun kita berada.

Para pembaca syair Inggris pasti ingat pada kehidupan Francis Thompson yang penuh gejolak. Ayahnya mengharapkan agar ia belajar di Oxford, tetapi Francis terjerat dalam obat terlarang dan berkali-kali gagal dalam ujian. Orang-orang yang mengenalnya tahu

36

37

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMANJAT TEMBOK RAKSASA

bahwa sesungguhnya ia adalah seorang jenius, seandainya saja hidupnya dapat diubahkan.

Ketika Francis Thompson akhirnya menyerah kepada Kristus yang mengejarnya, ia menuangkan karya abadinya "Hound if Heaven", yang menggambarkan tahun-tahun di balik momen interaksi itu:

kekuatan-Nya, membiarkan pe1ukan kasih-Nya melingkupi saya. Kata-kata dari sebuah pujian terkenal karya Charles Wesley merefleksikan kemenangan itu dan kisah saya:

Aku lari dari-Nya sepanjang malam dan sepanjang siang. Aku lari dari-Nya selama bertahun-tahun.

Aku lari dari-Nya di sepanjangjalan berliku

dari pikiranku sendiri: Dan dalam kabut air mata

Aku bersembunyi dari-Nya, dan di balik tawa yang mengalir Aku beriari mengejar pengharapan yang indah;

Muncullah ketakutan yang amat besar

Dari kaki-kaki yang kuat yang mengikuti, mengikuti di belakangku (Sebab sekalipun aku tahu kasih-Nya mengikuti

Namun aku sangat ketakutan

J angan-jangan setelah aku memiliki Dia, aku tidak akan memiliki apaapa lagi.)

Telah lamajiwaku terpenjara,

terbelenggu dalam dosa dan kegelapan dunia. Mata-Mu memancarkan sinar yang menghidupkan, Aku terjaga, sekelilingku terang benderang.

Rantai yang membelengguku teriepas, hatiku bebas, Aku bangkit, melangkah maju dan mengikut Engkau."

lit-tapa indahnya hari itu, ketika saya berhenti berlari dan dengan

Ada satu hal yang perlu ditambahkan. Saya berusia duapuluh tahun ketika ke1uarga saya pindah ke Kanada. Di sana, ibu dan ayah saya juga menerima Kristus. Hari itu menjadi hari yang baru bagi kami semua. Ayah saya berusaha keras untuk menebus tahun-tahun yang hilang. Pad a tahun 1974, ketika saya masih berusia duapuluhan dan baru mulai terjun dalam pelayanan, saya berada di Kamboja untuk berkhotbah di tengah keadaan yang sangat mencekam. Ayah saya menitipkan sepucuk surat pada saya, ia ingin agar saya membacanya setelah saya pergi. Di dalamnya ia mengenang kembali hari-hari ketika segalanya tampak membingungkan bagi saya dan bagi dirinya dalam relasi kami. Surat itu sungguh indah. Saya membacanya sambil berbaring di tempat tidur saya di Phnom Penh. Ada sebaris kalimat yang merangkumnya, ketika ia berkata, ''Ayah bersyukur pada Allah karena Ia memperhatikan keluarga kita dengan memanggil salah satu dari anak-anak ayah untuk menjadi hambaNya."

Beliau meninggal pada tahun 1979 dalam usia enampuluh tujuh tahun. Saya sangat merindukan beliau selama masa pelayanan saya yang indah ini. Ia pasti akan selalu memberikan dorongan yang saya perlukan. Anugerah Allah sungguh tidak terkatakan. Ia menurunkan kita semua dari atas tembok yang memenjarakan kita.

Sampai di sini kisah saya. Kini saya akan melanjutkan dcngan argumennya.

Semua yang telah Kuambil darimu, Bukan Kuambil untuk menyakitimu

Melainkan hanya agar engkau dapat mencarinya di dalam tangan-Ku. Semua kesalahan yang kekanak-kanakan,

Yang dianggap telah hilang, telah Kusimpan bagimu di rumah; "Bangunlah, peganglah tangan-Ku, dan mendekatlah." Kuhentikan langkahku:

Adakah kegelapan yang menyelimutiku sesungguhnya, Adalah bayangan dari tangan-Nya yang terulur penuh kasih, "Oh, yang paling bodoh, yang paling buta, yang paling lemah, Akulah yang kau cari!

(hang yang menjauhkan Aku menjauhkan kasih."

38

39

Bab2 MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

SALAH SATU KESEMPATAN terbesar yang pernah diterima oleh seorang anggota keluarga kami terjadi ketika Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip berkunjung ke India pad a tahun 50-an.

Adik laki-laki saya, yang saat itu berusia tujuh atau delapan tahun dan menjadi anggota termuda dari koor di Delhi Cathedral, akan diperkenalkan secara formal kepada sang ratu setelah kebaktian Minggu. Ia jelas tidak pernah kekurangan nasihat dalam persiapannya untuk menghadapi pertemuan yang luar biasa ini. Kami tanpa henti melatihnya, berulang kali mengingatkan dia untuk menyapa beliau dengan sebutan ''Yang Mulia" dan bukan "Auntie" [Tante - Pen.], sebutan yang kedua merupakan sebutan yang sopan di India. Saat itu tiba, dan ia melaluinya dengan keberhasilan yang gemilang.

Tanpa sepengetahuan kami, pertemuannya dengan sang ratu direkam dan disiarkan di televisi Inggris sebagai bagian dari cuplikan berita, sehingga ada banyak pemirsa yang menghubungi stasiun televisi untuk menanyakan apakah "anak lelaki yang menggemaskan itu" dapat diadopsi. Sejak hari itu, setiap kali ia mulai menunjukkan tanda-tanda kenakalan, kami saudara-saudaranya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengatakan bahwa kami seharusnya menerima tawaran orang Inggris itu! Empat dekade telah berlalu sejak kenangan tentang pertemuan dengan sang ratu itu, dan ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengingatkan kami bahwa ia mendapatkan kehormatan yang lebih besar.

41

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

JESUS AMONG OTHER GODS

Bertemu dengan tokoh historis merupakan pengalaman yang jarang terjadi. Melatih kalimat-kalimat yang akan diucapkan, memikirkan pertanyaan-pertanyaan, melatih protokol, dilakukan jauh sebelumnya. Saya sangat yakin bahwa semakin kompleks pernakpernik dan penampilan yang menyertai acara tersebut, semakin besar juga ketakutan akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.

Kita hanya dapat membayangkan percakapan dalam rumah Andreas dan Simon Petrus, para pengikut Yesus yang paling pertama, ketika Andreas pertama kali memberitahu keluarganya bahwa ia yakin telah bertemu dengan Mesias yang telah-Iama-dinantikan. Figur penebus ini menjadi satu-satunya harapan bagi suatu bangsa yang merana di bawah deraan suksesi para penguasa asing. Setiap orang Israel yang baik telah mendoakan kedatangan satu Pribadi yang akan membebaskan umat-Nya. Orang yang sinis pada saat makan malam itu mungkin akan tersedak ketika Andreas mengumumkan bahwa ia dan Simon baru saja bertemu dengan penyelamat yang dinubuatkan itu. Mereka mungkin menerima banyak cemooh saat berusaha meyakinkan keluarganya bahwa mereka masih waras. Mereka telah berbicara dengan Dia, ada bersama-Nya selama berjam-jam, dan Andreas telah diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan apapun yang ingin ditanyakannya.

Sekadar ingin tahu, salah seorang yang duduk di meja itu mungkin bergumam, "Lalu apa kira-kira yang kau tanyakan kepada-Nya?" ''Aku menanyakan di mana Ia tinggal," jawabnya dengan yakin. Tidakkah kita mendengarnya? Semua yang ada di meja itu terdiam.

"Itukah usaha terbaikmu, Andreas? Bertanya tentang di mana Ia tinggal?

Tidak adakah pertanyaan yang lebih baik, yang dapat menguji klairn Yesus tentang diri-Nya? Kira-kira seperti itulah komentar yang mungkin akan kita berikan saat ini. Mengapa saat bertemu langsung dengan Dia, yang mengklaim status yang demikian unik, Andreas tidak mengajukan pertanyaan yang lebih sulit daripada per-

tanyaan sederhana, "Di manakah Engkau tinggal?" Malcolm Muggeridge, sang wartawan Inggris, berkomentar dalam otobiografinya ten tang kesempatan-kesempatan yang dimilikinya untuk mewawancarai orang-orang terkenal yang memiliki jabatan penting di seluruh dunia. Sebagai seorang penentang pengkultusan (iconoclast*!) yang luar biasa sinis, dan hanya untuk menyenangkan para pembaca, ia akan mengajukan pertanyaan yang benar-benar tidak masuk akal dan melecehkan. Misalnya saja, ia bertanya pada seorang uskuppada momen yang paling menyentuh dan di hadapan penon ton yaqg sangat dihormati, "Apakah uskup benar-benar diperlukan?" Diakuinya, ia melakukan hal itu karena sebagai seorang wartawan, ia berusaha mengambil keuntungan dari hal yang mengejutkan atau menyinggung, dengan mengorbankan substansinya.

Apakah ini juga merupakan semacam pertanyaan yang "mengejutkan," sebuah ejekan yang merendahkan dari Andreas, yang ditujukan untuk mengetahui alamat rumah Sang Mesias dan kemudian mengolok-olok dia, yang telah mengajukan klaim tersebut? Apakah ia juga sedang berusaha menghibur para penonton? Semakin dalam saya merenungkannya, semakin besar keyakinan saya bahwa calonmurid ini memiliki alas an yang kuat untuk menanyakan hal itu. Penyelidikannya yang serius terhadap pribadi Yesus telah dimulai:

Benarkah orang ini adalah Kristus, Pribadi Yang Diurapi? Selama hampir dua ribu tahun, para nabi telah memberitakan kedatanganNya. Inikah penggenapannya? Mari kita mencermati bagaimana sebuah pertanyaan yang kelihatannya sangat sederhana sesungguhnya menghasilkan sebuah klaim yang sangat monumental.

PERKENALAN YANG PROVOKATIF

Setting dari pertanyaan sang murid dijelaskan oleh Injil Yohanes dalam pasal pertama. Orang langsung tersentuh dengan keseder-

*1 iconoclast = seorang yang menentang pemujaan terhadap berhala atau yang mcnghapuskan gambar dan patung dari ibadat suatu agama.

43

42

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RIJMAH SURGAWI

hanaan dalam kehadiran Yesus. Tidak ada tabuhan gendang, tidak ada kegemparan yang besar, tidak ada parade yang memberitakan kehadiran Dia, yang nama-Nya seharusnya menjadi buah bibir yang tidak ada bandingannya di kalangan umat manusia. Tidak ada kesempatan yang diberikan untuk gladi resik.

Yohanes Pembaptis diberi kehormatan untuk menyampaikan pengumuman yang sederhana itu. Yohanes, yang berpakaian aneh dan hidup dari makanan yang bahkan lebih aneh, sedang mendapatkan banyak sekali pengikut. Di mata para pengikutnya, ia adalah seorang nabi yang sangat disegani. Dan sesungguhnya, sebelum kelahirannya, malaikat telah memberitakan panggilan Allah yang sangat mulia dan istimewa bagi dirinya. Penugasannya di dalam sejarah adalah untuk menjadi seorang yang memperkenalkan Yesus kepada dunia. Di antara sekian banyak cara dramatis yang bisa dikerahkan untuk pemberitaannya, ia justru memilih gaya bicara yang sederhana. Pengungkapannya ini benar-benar mengesampingkan kemegahan sehingga tidak mungkin ada seorang "pembukajalan" yang akan membayangkan sesuatu yang begitu sederhana untuk menyampaikan pengumuman yang luar biasa penting, apalagi di dunia Timur.

Namun, pada hari dan saat yang telah ditetapkan Allah, Yesus datang untuk dibaptis oleh Yohanes. Terkesima oleh kehormatan yang diterimanya, Yohanes tergagap melontarkan ketidaklayakannya, dengan menyatakan bahwa ia bahkan tidak layak untuk melepaskan tali kasut Tuhannya. Bagaimana mungkin ia be rani untuk membaptis-Nya? Peristiwa ini diperingati sampai sekarang dengan burung merpati yang turun ke atas Yesus. Setelah afirmasi surgawi ini diberikan, Yohanes memandang pada kedua muridnya dan berkata, "Lihatlah Anak Domba Allah."

Sulit untuk menolak signifikansi yang sangat serius di balik sebutan itu. Rata-rata keluarga Yahudi tumbuh bersama dengan anak domba dan persembahan-persembahan korban. Bait suci mungkin berbau binatang yang disembelih, teristimewa pada Hari Pendamaian. Kemegahan eksterior bait suci hanya menaungi mezbah yang

agak suram dan tampak porak-poranda. Setiapanak domba yang dikorbankan berasal dari orang yang mempersembahkannya dan karenanya merupakan seekor anak domba milik manusia yang dipersembahkan kepada Allah. Sesungguhnya, anak domba itu bahkan bukanlah wakil yang sederajat dari antara man usia. Anak domba itu adalah milik manusia, seekor binatang yang kelu dan tidak berprasangka, yang dibawa ke dalam bait suci tanpa pernah kembali lagi.

Kini, pada saat yang ditentukan dalam sejarah, datanglah suatu persembahan yang berasal dari Allah sendiri, dan yang diberikan oleh Allah untuk kepentingan umat man usia. Yaitu Anak Domba Allah. Tetapi bagaimana mungkin ada persembahan yang seperti ini? Seseorang yang dilahirkan dengan tujuan untuk dikorbankan di atas mezbah suatu hari nanti? Tidakkah hal itu akan memunculkan pertanyaan yang berbeda dari antara mereka yang ingin menjadi muridmurid-Nya, terutama karena Yohanes telah memilih introduksi yang mengguncangkan?

Orang yang sangat mengenal Alkitab mungkin akan langsung menghubungkannya dengan kisah dalam Kejadian 22, ketika Abraham diperintahkan untuk mempersembahkan Ishak, putranya, yang menjadi tumpuan-harapannya. Sementara ayah dan anak berjalan menuju ke gunung itu, Ishak mengajukan pertanyaan yang jelas, ''Api dan kayu sudah ada di sini, tetapi di manakah anak dombanya?" Ketika kisah itu berlanjut, Ishak sendiri dibaringkan di atas mezbah dan dipersiapkan untuk menjadi korban.

Di saat terakhir, ketika tangan Abraham yang memegang pisau itu siap menyembelih Ishak, Allah berseru, "Berhenti! Aku akan menyediakan korban yang lain." Allah, yang selama ini telah merencanakan semuanya untuk menguji Abraham, membuat seekor domba jantan tersangkut dalam belukar untuk menjadi pengganti bagi Ishak; pada saat yang sarna, domba itu mewakili anak domba yang lain yang akan datang di kemudian hari.

Pemberitaan Yohanes sebenarnya menyatakan, "Inilah Dia - Anak Domba Allah yang telah lama dijanjikan." Saatnya akan tiba, ketika bukit dan mezbah.yang lain akan tersedia, dan kali ini, tangan

44

45

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

Sang Bapa tidak akan menghentikan penyembelihan itu.

Murid-murid Yohanes, yang mendengar pemberitahuan tentang Yesus sebagai Anak Dornba Allah, meninggalkan dirinya untuk mengikut Yesus. Pertanyaan pertama yang diajukan Yesus kepada mereka menunjukkan keterusterangan yang cermat dan logis: ''Apa yang kamu inginkan?" Pada saat itu, mereka belum sungguh-sungguh memahami bahwa mereka sedang mengikuti Dia, yang sedang menempuh perjalanan satu-arah yang pada akhirnya akan berakhir pada sebuah mezbah.

Saya bertanya-tanya, akankah salah satu dari kita mengajukan pertanyaan yang mereka tanyakan dalam perjumpaan yang sangat penting itu. Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, ''Apa maksud Yohanes ketika ia menyebut Engkau sebagai Anak Dornba Allah? Apakah Engkau ditetapkan untuk mengalami kematian yang mengerikan?" Sebaliknya, mereka justru tertarik kepada asal usulNya, sehingga mereka mengajukan pertanyaan yang mengejutkan, "Di mana Engkau tinggal?" Di bagian sebelumnya, saya menegaskan bahwa di Timur keluarga menjadi indikator budayayang menentukan. Segala sesuatu yang menentukan identitas dan masa depan Anda terkait dengan garis keturunan dan status sosial Anda. 'Mutlak segalanya.

.Pertama kali saya kembali untuk berkhotbah di India setelah absen selama sebelas-tahun, istri saya (yang berasal dari Kanada) menyaksikan langsung bagaimana asal usul keluarga menentukan harga diri seseorang. Pada suatu jamuan yang diadakan untuk kami di Bombay, di mana saya akan berkhotbah, istri saya terheran-heran mendengar cara mereka memperkenalkan saya. Introduksi yang sangat panjang dan formal tentang diri saya dipenuhi dengan sanjungan. Namun, secara keseluruhan, tidak ada sesua~u pun yang bcrkenaan dengan diri saya. Sebaliknya, sanjungan itu dengan panjallg lebar menjelaskan kualifikasi dan prestasi ayah saya. Di saat scpcrti itu, Anda seakan-akan ingin memandang berkeliling dan mcncari orang yang sedang dipuji itu. Kemudian, kalimat terakhir dit.uubahkan - "dan inilah putranya, yang akan berbicara kepada

kita." Itulah satu-satunya kalimat yang berbicara tentang saya.

Respon spontan saya adalah tertawa di dalam hati. Tetapi saya tiba-tiba sadar bahwa saya sedang mewakili seseorang yang lebih besar daripada saya - ayah saya. Karena beliaulah, saya diterima. Saya tahu saya sedang berada di Timur. Sebuah introduksi di Barat, khususnya di Amerika Utara, menceritakan ten tang apa yang telah atau bel urn saya capai. Kualifikasinya bersifat pribadi, sehingga seakan-akan asal-usul dari pribadi tersebut pun ditentukan oleh dirinya sendiri. Hanya ada sedikit atau sarna sekali tidak ada penjelasan tentang keluarga. Tetapi di India, negeri kelahiran ayah saya, kualifikasi ayah saya, asal-usul ibu saya, dan silsilah keluarga saya menjadi sangat penting bagi para pendengar.

Saya melihat perbedaan yang signifikan ini sampai sekarang. Di Barat, seorang asing dapat langsung menanyakan, "Di mana Anda bekerja?" atau "Bisnis apa yang Anda geluti?" Orang yang bertanya sedang berusaha menciptakan suatu gambaran untuk menentukan profil finansial Anda dan pengaruh bisnis Anda sehingga percakapan itu dapat berjalan dengan seharusnya. Di Timur, pertanyaan yang mengandung tujuan yang sarna adalah, "Dari kota apakah Anda berasal?" "Di kota bagian manakah Anda tinggal?" ''Apa pekerjaan ayah Anda?" Nama, alamat, dan latar belakang keluarga sangat menentukan. Timur atau Barat, sasarannya mungkin sarna, untuk menentukan status sosial Anda. Hanya rutenya saja yang berbeda.

Tahukah Anda, dalam suatu masyarakat yang memiliki banyak strata, alamat rumah Anda memberikan banyak informasi yang akurat tentang diri Anda. Asal-usul Anda dapat menyingkapkan banyak hal. Tidaklah mengejutkan bila jawaban Natanael ketika ia pertama kali mendengar tentang Yesus adalah, "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret? Beberapa ayat sesudahnya melanjutkan kalimat itu dengan, "Bukankah Dia ini anak Yusuf, tukang kayu itu?" Bagaimana mungkin jawaban bagi harapan dan imp ian Israel tentang seorang Mesias berasal dari sebuah kota yang begitu hina, dan dari sebuah keluarga yang memiliki status profcsional yang begitu sederhana? Cara terbaik bagi mereka untuk mcnguji

46

47

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

kebenaran dari penjelasan Yohanes tentang diri-Nya adalah dengan mengikuti Dia ke rumah-Nya - ke tempat tinggal duniawi dari Dia, yang mengklaim diri-Nya sebagai Putra Allah.

Jawaban Yesus menimbulkan teka-teki. Ia tidak memberikan sebuah nama jalan atau sebuah alamat rumah. Ia hanya berkata, "Mari dan lihatlah." Mereka ikut bersama-Nya untuk melihat di mana Ia tinggal dan bermalam di situ. Andreas pulang untuk memberitahu Simon saudaranya bahwa mereka telah menemukan Mesias, yaitu Kristus, dan mengundangnya untuk datang dan melihatjuga.

Keesokan harinya, Filipus, yang juga berasal dari kota yang sarna, mengundang Natanael untuk bergabung dengan mereka dengan mengatakan, "Kami telah bertemu dengan Dia, yang diberitakan oleh Musa dalam Taurat, dan yang juga diberitakan oleh para nabi _ Yesus dari Nazaret, putra Yusuf." Nah, ini dia - kota asal dan latar belakang keluarganya. Seperti yang telah diduga, Natanael bersikap sinis dan karenanya ia menerima tantangan yang sarna: "Marilah dan lihatlah."

PERJUMPAAN YANG TIDAK TERLUPAKAN

tidak mewariskan rumah apapun. Orang-orang terkenal mewariskan perpustakaan dan menuliskan catatan riwayat hidup mereka; Dia mewariskan sebuah kitab, yang ditulis oleh orang-orang biasa. Para penyelamat menceritakan tentang kemenangan yang diperoleh dengan kekuatan dan penaklukkan; Dia berbicara tentang suatu tempat di dalam hati.

Apakah terlalu sulit untuk mengabadikan secarik pakaian atau sepotong perabot supaya kita dapat menaruhnya dalam museum agar dunia dapat melihatnya? Kini orang dapat berkunjung ke kotakota kecil dan melihat ekskavasi rumah-rumah dari zaman Yesus. Mengapa rumah-Nya sendiri tidak diabadikan? Dalam sebuah museum di Turki, orang dapat melihat pedang Muhammad, dan apa yang diklaim sebagai helaian dari janggutnya. Baru-baru ini, kami mendapat kabar bahwa sebuah gigi dari Sang Buddha Gautama telah ditemukan. Kita dapat kembali ke masa lalu dan melihat koleksi-koleksi yang mengagumkan dari artefak yang berasal dari kerajaan-kerajaan dan pahlawan-pahlawan bahkan dari masa sebelum Kristus.

Dia yang empunya seluruh makhluk di bumi ini tidak meninggalkan informasi apapun. Kita hanya mendengar bahwa Kristus tidak memiliki temp at untuk meletakkan kepala-Nya. Penulis Injil yang sarna secara blak-blakan menyatakan hal ini: "Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah .... [Dan] Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita" (Yoh. 1:1, 14). Kata-kata Yohanes "pada mulanya" menunjukkan paralel yang mencolok dengan kata-kata pertama Alkitab, "Pada mulanya Allah .... "

Sebagaimana asal-usul Yesus di dunia itu penting, alamat rumahNya bukanlah alamat di bumi - sebab dalam pengertian yang sebenar-benarnya, Ia tidak memiliki permulaan. Di tengah pertanyaanpertanyaan "di mana" dan "mengapa" yang menyusahkan dalam keterbatasan kita, tidak ada rintangan seperti ini bagi Dia yang kekal dan tidak terbatas. Ketika Yesus berkata kepada mereka, "Marilah dan lihatlah," Ia selanjutnya bertanggungjawab untuk mengangkat mereka melampaui ruang dan waktu. Saya rasa itu akan menimbul-

Alkitab tidak memberikan penjelasan mengenai beberapa hal. Halhal yang akan sangat menarik bagi kita tidak dibahas. Seperti apakah rumah Yesus? Pekerjaan apakah yang Ia lakukan sebagai tukang kayu, jika ada? Seperti apakah perabot rumah-Nya? Apakah semuanya itu memberi kesan kaya atau miskin? Saya telah seringkali berpikir bahwa daripada memberikan catatan silsilah yang mernbosankan, mungkin rincian-rincian lain dari kehidupan Yesus akan lebih menarik bagi pembaca. Berapa penghasilan-Nya? Seperti apa pakaian-Nya? Seperti apa wajah-Nya?

Tetapi mungkin di sinilah visi Allah ten tang realitas berusaha mengangkat kita dari cara pandang kita yang telah diperbudak dan terdistorsi oleh keduniawian. Para tokoh historis mewariskan rumah yang dapat dikunjungi oleh keturunannya; Tuhan atas sejarah

48

49

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

kan goneangan dan kebutuhan akan penjelasan yang panjang lebar. Andreas memiliki alas an untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, dan Yesus sedang menawarkan sebuah proses pemikiran sebagai jawaban-Nya. Kita akan menjalani proses itu. Pad a saat ini, tempatkanlah diri Anda di posisi Andreas. Ia telah diundang ke rumah Dia, yang dikenal sebagai Anak Domba Allah oleh sang nabi yang terkenaI. Andreas menerima ajakan itu. Apa yang sedang ia harapkan? Akankah ia menjadi keeewa?

Billy Graham meneeritakan pengalaman ketika ia sedang mengadakan kebaktian penginjilan di Pittsburgh. Ia baru saja memasuki lobi hotel, temp at ia menginap selama minggu itu dan, bersama dengan dua anggota timnya, berjalan ke lift di mana sekelompok pengusaha sedang berbineang-bineang. Ketika lift itu mulai bergerak, salah satu dari pengusaha itu berkata, "Saya dengar Billy Graham ada di hotel ini." Salah satu rekannya yang mengenali Dr. Graham tersenyum, melihat kepada orang yang berkomentar, menunjuk kepada Billy Graham, dan berkata, "Itu dia." Pengusaha yang terperanjat itu terdiam sejenak, memandang Billy Graham sekali lagi, dan berkata, "Sungguh sebuah antiklimaks!" Dr. Graham yang rendah hati sangat memaklumi kekeeewaan ora~g tersebut dan mengakui keterbatasannya.

Apa yang sesungguhnya diharapkan oleh pria ini? Seorang tokoh yang dikelilingi oleh lingkaran eahaya (halo) dan memiliki sayap, yang tidak membutuhkan lift dan yang selalu akan didapati sedang berdoa dan melayang-layang? Dalam imajinasi manusiawi kita, begitu seringnya kita membayangkan pahlawan-pahlawan kita sebagai orang-orang yang melampaui manusia biasa. Kita meninggikan mereka dengan eara-eara yang merugikan mereka. Kita membuat mereka menjadi hampir tidak nyata dalam imajinasi kita. Dan ketika mereka meneueurkan darah atau menjadi tua atau tersandung, kita cntah menyingkirkan mereka atau menemukan suatu eara untuk melanjutkan mitos tersebut. Untuk menopang ilusi dalam pikiran kita ini, kita membangun patung-patung dan monumen-monumen pcringatan, dan para seniman melukis mereka dengan lingkaran

eahaya untuk meneiptakan kepribadian yang tidak nyata. Kita meyakinkan diri kita bahwa mereka adalah atau pernah menjadi seseorang yang berbeda hakikatnya dari kita semua.

Kali ini di dalam sejarah, pribadi ini sungguh-sungguh berbeda hakikatnya dari kita semua. Tetapi, dari Nazaret? Anak seorang tukang kayu? Bahkan bait suei yang didirikan sebagai tempat kediaman Allah memiliki keindahan dan kemewahan yang tiada taranya. Kini, sebagai Allah yang hadir di dalam daging, rumah-Nya betul-betul terlalu sederhana bila dibandingkan. Untuk membantu menjelaskannya, Natanael ditampilkan. Ia adalah salah satu pribadi yang sangat memegang teguh kebenaran sehingga ketika ia diundang untuk pergi menemui Yesus, ia setuju, mungkin dengan harapan untuk membuyarkan "penipuan" ini, yang telah menguasai pikiran sahabat-sahabatnya. Tetapi ketika ia sudah dekat dan dapat mendengar suara Yesus, Yesus mengueapkan kata-kata yang dipilih-Nya dengan hati-hati: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya."

Itulah kejutan yang pertama. Ada beberapa hal yang sangat menggelisahkan, seperti ketika apa yang ada dalam pikiran Anda ditelanjangi oleh kata-kata seorang asing.

Ia telah datang untuk "menyelidiki" orang ini dan sebagai gantinya, karakternya sendirilah yang terungkap. "Bagaimana Engkau mengenalku?" tanya Natanael. Dan Yesus menjawab, "AIm melihatmu di bawah pohon ara, sebelum Filipus memanggilmu."

Apa makna hal ini bagi Natanael?

Apakah ia sedang merenungkan sesuatu di bawah pohon ara?

Apakah ketika ia berada di situ ia memiliki firasat bahwa momen yang menentukan dalam hidupnya akan segera terjadi? Apakah momen itu bersifat pribadi sehingga ia berpikir bahwa tidak ada orang lain yang mengetahuinya? Ada sesuatu dalam pengungkapan Yesus yang membuat Natanael bereaksi seeara impulsif, hampir seeara tergesa-gesa, dan ia mengueapkan kata-kata yang mengubah hidupnya ini: "Rabi, Engkaulah Putra Allah; Engkaulah Raja Israel" (Yoh 1:49). Saya pereaya Yesus menggoyahkan skeptisisme Natanael

50

5 1

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

dengan penyingkapan yang lemah-lembut terhadap pikiran-pikiran dan maksud-maksud hati Natanael sendiri.

Tepat pada titik inilah pertanyaan Andreas - "Di manakah Engkau tinggal?" - menemukanjawaban yang luar biasa. Yesus telah melihat Natanael ketika Natanael tidak tahu bahwa ia sedang diamati. Iajelas-jelas telah memperhatikan dan mengenali kegigihan Natanael dalam mengejar realitas. Dalam salah satu mazmurnya, Raja Daud mengakui bahwa ia tidak dapat lari dari hadapan Tuhan, sebab Allah mengenal isi hatinya yang terdalam - "Ke manapun aku pergi, Engkau ada di sana" (lihat Mzm 139:7-10). Natanael baru saja menyadari kebenaran yang sarna.

Yesus juga tahu bahwa N atanael tidak terlalu menghargai N azaret. Karena mengetahui isi hatinya, Yesus mempertanyakan pernyataannnya yang impulsif dan berkata, "Engkau pereaya karena Aku berkata Aku melihat engkau di bawah pohon ara. Sesungguhnya engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu ... Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia" (Yoh 1:50-51).

Singkatnya, Yesus mengatakan, "Engkau tertegun karena Aku menyingkapkan isi hatimu sendiri? Tunggu sampai engkau melihat penyingkapan yang sempurna tentang siapa Aku dan dari mana asalKu." Ia membimbing Natanael untuk beralih dari penjelasan tentang teka-teki mengenai hal-hal yang lebih remeh menuju pengetahuan-pengetahuan yang mulia.

Gambaran yang Ia berikan tentang para malaikat yang naik dan turun kepada Anak Manusia tidak muneul seeara tiba-tiba. Gambaran itu menunjuk kepada "asal-usul" Yesus. Petrus, Andreas, dan Natanael mengenal kisah tentang bapa dari bangsa mereka, Yakub, yang benar-benar menyediakan latar belakang bagi jawaban Yesus.

Perjanjian Lama seeara eermat meneatat insiden tersebut. Ketika masih muda, Yakub telah menipu kakaknya, Esau, dan sedang mel.irikan diri dari murka Esau. Dalam perjalanannya menuju ke tl"lIlpat yang jauh, ia berpikir bahwa ia sendirian, jauh dari peng-

lihatan siapapun. Ia telah dibesarkan dalam sebuah keluarga di mana mezbah sebagai pusat ibadah keluarga kepada Allah memainkan peranan yang signifikan. Kakeknya yaitu Abraham dikenal sebagai "manusia tenda dan manusia mezbah." Abraham menganggap tempat tinggalnya bersifat sementara, sedangkan ibadahnya bersifat permanen. Kini, dalam pelarian, Yakub tidak memiliki tempat ting-

. gal ataupun mezbah. Ketika ia sampai di tempat yang bernama Luz, ia tidur dengan batu sebagai alas kepala. Bahkan bagi seorang yang tinggal di padang gurun, itu adalah sebuah penderitaan.

Dan sementara ia tidur, Tuhan datang kepadanya dalam sebuah mimpi, di dalam mimpinya ia melihat sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit. Malaikat turun naik di tangga itu. Dan di atasnya berdirilah Tuhan, yang berkata, ''Akulah TUHAN, Allah Abraham, ayahmu dan Allah Ishak" (Kej. 28:13). Ketika Yakub terbangun dari tidurnya, ia berkata pada dirinya, "Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya ... Alangkah dahsyatnya temp at ini! Ini tidak lain dari rumah Allah, ini adalah pinni gerbang surga" (ay. 16-17). Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan meninggalkannya sebagai tanda di tempat yang.kini akan disebutnya Betel- yang artinya, "rumah Allah."

Entah para murid memahaminya atau tidak, sebuah berita yang menggemparkan sedang disampaikan ketika Yesus mengueapkan kata-kata ini kepada Natanael. Ia sedang mempertaruhkan sebuah klaim. Sadarkah mereka bahwa Tuhan yang meneiptakan langit dan bumi sedang berdiri di samping mereka? Para malaikat berada di temp at kediaman-Nya (His abode). Kita bahkan berjuang untuk menemukan kata yang tepat untuk menjelaskannya. Kata abode (kediaman) langsung memuneulkan gambaran tentang tempat kediaman dan batasan-batasan, tak satu pun dari keduanya yang coeok untuk Dia, yang tidak memiliki permulaan dan bersifat mahahadir. Yakub mendapati bahwa kehadiran Allah untuk memberkati dapat mengubah lokasi manapun menjadi rumah Allah. Kini, para murid juga memahaminya. Mereka terdorong untuk mengukur nilai YCS\1S dari tempat asal-Nya, Nazaret. Ia menyingkapkan kepada mcrcka

52

53

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

SEKILAS TENTANG RUMAH YANG LAIN

pada tempat kediaman surgawi dan para malaikat yang naik turun untuk melayani Dia menunjuk kepada fakta bahwa Ia adalah Tuhan atas langit dan bumi, yang eksistensinya bersifat kekal dan mutlak.

Eksistensi-Nya mendahului setiap metafor spasial. Sarna seperti Ia tidak mungkin tidak ada, demikianlah Ia tidak mernbutuhkan tempat untuk hidup. Itulah tepatnya yang Ia katakan kepada Daud, yang ingin membangun sebuah bait suci di mana Allah dapat "berdiam" (2 Sam. 7:5). Adalah lebih masuk akal bila kita menanyakan di mana Ia telah berjanji untuk memberkati kita, daripada menanyakan di mana lokus eksistensi-Nya.

Kategori-kategori yang transenden ini tampak sangat jauh dari jangkauan kita, tetapi semuanya itu menentukan nasib akhir kita. Saat ini pun kita menyadari bahwa konsep-konsep seperti waktu, ruang, dan gerakan begitu melekat dalam dimensi-dimensi pemaham an kita yang terbatas ten tang natur realitas, sehingga bagi sebagian besar dari kita, semuanya itu tampaknya merupakan wilayah kaum genius. Namun semakin kita berusaha menyelami misterimisteri seperti ini, kita pasti semakin ditarik kepada penentu umum yang terendah yang menghasilkan kehidupan seperti sekarang ini. Kita mencari bagian terkecil dari realitas dalam dunia fisik agar kita bisa, seperti kata para ilmuwan, tiba pada teori tentang segala sesuatu.

Yesus membalikkan prosesnya. Ia memberitahu kita bahwa satusatunya cara untuk memahami siapa diri kita adalah dengan melemparkan pandangan kita bukan kepada persamaan yang mempersatukan semuanya, melainkan kepada relasi yang kita tuju dalam keseluruhan keberadaan kita. Kumpulan dari sebuah objeklah yang menentukan identitasnya, bukan reduksi dari objek tersebut. Seperti yang dikatakan Yesus kepada Natanael, kita akan merasakan kekaguman yang tiada taranya ketika kita memahami seluruh makna dari wilayah keberadaan Allah.

Tidak ada tokoh lain yang mengklaim status ilahi atau kenabian yang akan pernah menjawab pertanyaan tentang tempat tinggalnya dengan cara ini. Bahkan Yohanes Pembaptis sendiri berusaha kerns

kebenaran bahwa tempat manapun di dunia di mana Ia hadir menjadi pintu gerbang ke surga. Alangkah besarnya penghiburan yang mereka dapatkan.

Tetapi lebih dari itu, mereka dengan tepat menyimpulkan dari perkataan Yesus, bahwa Ia telah datang dari Bapa-Nya di Surga, yang adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Ia membawa mereka mundur jauh melampaui pemahaman mereka sendiri dan mengangkat mereka ke tempat yang lebih tinggi untuk menunjukkan pada mereka bahwa kata rumah (home) sesungguhnya hanyalah sebuah representasi analogis dari kehidupan bersama Allah. Para murid jelas-jelas ditaklukkan oleh perjumpaan yang pertama itu. Mereka tidak sepenuhnya memahami segala akibat dari perjumpaan itu bagi diri mereka. Hidup mereka akan berubah secara tidak terbayangkan, sehingga saatnya akan tiba ketika mereka akan meninggalkan rumah mereka sendiri untuk memberitakan Yesus dari Nazaret kepada dunia. "[ika engkau tercengang dengan apa yang telah kusingkapkan tentang dirimu, Natanael, ini baru merupakan permulaan dari apa yang akan terjadi ketika Aku menyatakan kemuliaan-Ku kepadamu." Saat itu, Ia rneyakinkan mereka, tidak akan menjadi sebuah antiklimaks.

Yesus rnernperkenalkan kebenaran-kebenaran yang amat signifikan dalam interaksi yang sederhana ini - kebenaran-kebenaran yang menguras pemikiran kita timbul dari percakapan pertama ini. Mari kita mengaitkan pemikiran-pemikiran ini satu per satu.

Indikator yang primer dan unik di sini, secara harfiah dan kiasan, adalah wahyu Yesus tentang wilayah eksistensi-Nya. Menanyakan tcntang "di mana" tempat tinggal Yesus sarna dengan menanyakan "kapan" Allah ada. Kategori-kategori seperti ini sangat diperlukan ha~i cksistensi kita yang terbatas, karena ada saat ketika kita belum ada" 'Ietapi Allah melampaui kategori seperti ini. Rujukan Yesus ke-

54

55

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

untuk mengingatkan para pengikutnya pada perbedaan ini: "Seseorang hanya dapat menerima apa yang dikaruniakan kepadanya dari surga ... Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian ten tang apa yang telah dilihat-Nya dan didengar-Nya" (Yoh 3:27, 31-32).

Meskipun mengajarkan kebenaran, semua pribadi lain yang telah mengklaim atau diberi status sebagai nabi tetap hanyalah manusia biasa yang telah menerima panggilan ini dari Allah. Tugas itu diberikan kepada mereka; mereka adalah manusia-manusia yang menerima tugas. Yesus, sebaliknya, adalah Sang Pemberi yang Tertinggi. Dia "berasal dari atas," kata para penulis Injil.

Dalam percakapan lainnya, Yesus menyatakan bahwa kenaikanNya ke surga didahului oleh turunnya Ia dari surga (lihat Yoh. 3: 13). Di dalam klaim itu tersirat penegasan bahwa pengetahuanNya ten tang segala sesuatu bersifat sempurna dan utuh. Itulah satusatunya yang membedakan diri-Nya. Visi-Nya ten tang realitas, penjelasan-Nya tentang kehidupan, kemampuan-Nya untuk menyingkapkan misteri-misteri, dan pengetahuan-Nya tentang hal-hal yang berarti dan yang tidak berarti berasal dari keberadaan-Nya yang kekal. Dan inilah yang ingin disampaikan. Kunjungan-Nya yang singkat ke dunia bukanlah permulaan-Nya melainkan sebuah persinggahan.

Setiap pribadi lain yang menjadi pusat dari agama apapun memiliki permulaan entah dalam khayalan atau fakta. Tetapi bagaimanapunjuga, tetap ada suatu permulaan. Kelahiran Yesus di Betlehem merupakan momen yang didahului oleh kekekalan. Keberadaan-Nya tidak dimulai di dalam waktu ataupun dihasilkan oleh kehendak manusia. Sang Pencipta waktu, yang hidup dalam kekckalan, berinkarnasi di dalam waktu agar kita dapat hidup dengan mcrnandang kekekalan. Berdasarkan pengertian itu, pemberitaan Kristus bukanlah sebuah introduksi mengenai suatu agama, melain- 1...111 sebuah introduksi dari kebenaran tentang realitas, karena hanya AII.lh sajalah yang mengetahuinya. Menyangkali pemberitaan Yesus

· .. uubil mengejar spiritualitas berarti menyulap suatu agama imajiner

dalam usaha untuk melihat surga melalui pandangan yang terbatas pada bumi. Itulah tepatnya yang disanggah oleh Yesus ketika Ia berkata, ''Aku telah datang agar [kamu] dapat beroleh hidup" (Yoh 10:10). Hidup-Nya menandakan kehidupan. Hidup Anda atau hidup saya, di luar Dia, menandakan maut.

KEDIAMAN YANG TIDAK TERBATAS

"Di manakah Engkau tinggal?" tanya sang murid yang penasaran.

"Bersama Bapa-Ku yang di Surga," jawab-Nya.

Bagi N atanael, panorama-panorama baru dari keberadaan dan waktu tiba-tiba menyentuh pikirannya. Tetapi timbul pertanyaan yangjelas: Bagaimana Yesus dapat menopang klaim yang demikian? Mengklaim bahwa Ia tidak memiliki permulaan adalah satu hal; membuat klaim terse but dapat diterima adalah hal yang berbeda. Jika surga adalah pokok acuan? bagi segala realitas, maka ada dua konsekuensi yang dihasilkan untuk para murid, dan karenanya, juga untuk kita. Yang pertama adalah konsekuensi posisi yang mengacu kepada Dia dan kedua, konsekuensi posisi yang mengacu kepada kita. Yang kedua secara logis dihasilkan oleh yang pertama.

Apa yang saya maksud dengan posisi? Maksud saya adalah sudut pandang yang membuat kita kini dapat memandang kehidupan karena Dia.

Pernahkah Anda mengalami kebingungan ketika melihat konfi-

gurasi yang tampaknya tidak berarti pada sebuah poster! yang ternyata merupakan bentuk-bentuk atau titik-titik yang disusun secara acak? Sementara Anda terus .memandanginya dan memiringkan kepala Anda ke berbagai arah, sebuah kata atau gambar tiba-tiba muncul dari pola yang tidak beraturan itu. Kita menyebutnya sebuah piktogram.

Ada hal menakjubkan yang terjadi sekali Anda telah melihat

*2 point of rtiference = sesuatu yang telah kita ketahui, yang menolong kita untuk mcmahami suatu situasi.

56

57

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

bahwa titik-titik atau bayangan-bayangan yang ada hanya menutupi pesan yang sesungguhnya. Anda mulai memiringkan kepala Anda dalam berbagai posisi untuk berusaha menghilangkan pola yang teratur dan mendapatkan kembali ketidakteraturan yang semula. Latihan yang terakhir dilakukan hanya karena Anda mulai bertanyatanya, bagaimana mungkin Anda gagal melihat kata itu pada awalnya. Ketika mata Anda telah menangkap gambarannya, mata itu menafsirkan pesan yang sesungguhnya. Ketika mata Anda kehilangan pesannya, kekacauan mendominasi.

Izinkan saya mengemukakan bahwa tantangan pelayanan Yesus di dunia adalah untuk memampukan kita melihat pesan tersebut sehingga gambarnya dapat dipahami. Ketika kita memandangi kriptogram kehidupan, kita entah melihat nama-Nya yang bersinar dengan sangat jelss atau kita melihat berbagai agama yang bercampur ad uk tanpa pesan apapun, hanya kepercayaan-kepercayaan yang kacau balau yang mengganggu eksistensi kita, masing-masing dibenarkan oleh suara budaya. Mungkin itulah tragedi dari sentimen yang menipu yang kita sebut toleransi, yang telah menjadi suatu eufemisme bagi kontradiksi. Hasilnya berbahaya.

Yesus Kristus datang untuk menantang setiap budaya di muka bumi agar kita bisa mendapatkan perspektif dari tempat yang lebih tinggi. Tetapi bagaimanakah seseorang dapat sampai ke tempat itu? Kita dapat melihat petunjuk tentang kegentingan kita bahkan dari posisi yang lebih rendah. Di luar keterbatasan-keterbatasan perspektif kita yang terlalu praktis, kita masih mengenali kejahatan. Kita masih mengatakan bahwa kita menyaksikan kejahatan. Mungkin, ada alasannya.

C.S. Lewis menjelaskannya kepada kita:

Surga memahami neraka dan neraka tidak memahami surga ... Untuk memerankan karakter yang jahat, kita hanya perlu berhenti melakukan sesuatu dan sesuatu yang sudah bosan kita lakukan; untuk memerankan karakter yang baik, kita harus melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan dan menjadi seseorang yang bukan diri kita.'

"Melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan dan menjadi seseorang yang bukan diri kita." Keterbatasan-keterbatasan itu memisahkan kemurnian dari kejahatan. Untuk mengubahnya, cara pandang surgawi harus ditanamkan dalam diri kita. Inilah yang ditawarkan Yesus kepada orang yang datang kepada-Nya - untuk mengalami perubahan yang tidak mungkin kita hasilkan sendiri dan untuk melakukan apa yang tidak mungkin kita lakukan sendiri.

Ketika masih remaja, saya teringat pernah membaca kisah tentang Sir Isaac Newton yang meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi saya. Beliau telah mengerjakan penelitian-penelitian ilmiahnya selama berjam-jam untuk menyelidiki bagian terpenting dari jagad raya, telah sangat lelah bekerja dengan diterangi cahaya lilin. Selama itu, anjing kesayangannya duduk di dekatnya.

Suatu kali, ketika Newton keluar sebentar dari ruangan itu, anjingnya melompat untuk mengikutinya dan tanpa sengaja menabrak tepi meja sehingga lilin itu terjatuh dan membakar kertas-kertas kerjanya. Seluruh hasil kerja yang sangat orisinal dan menetukan itu segera berubah menjadi tumpukan abu.

Ketika Newton kembali ke ruang belajarnya dan melihat sis a dari hasil kerjanya, hatinya hancur berkeping-keping. Sambil menyelamatkan sebagian kecil kertas yang masih tersisa di ruangan itu, ia duduk dan menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Sambil membelai anjingnya dengan lembut, ia berkata, "Kau tak akan pernah bisa memahami apa yang telah kau perbuat."

Meskipun anjing itu bisa saja memahami bahwa sesuatu yang tragis telah terjadi, mustahil baginya untuk memahamijenis tragedinya, bukan sekadar derajat dari perbuatannya.

Sarna halnya, jarak esensial yang seperti itulah yang menjadikan situasi kita tampak tidak berpengharapan. Hidup dalam dunia yang jahat membuat saya jauh lebih mudah memahami kejahatan saya sendiri daripada berpikir secara jernih ten tang kemurnian yang sempurna. Dalam biografinya ten tang Bunda Teresa, Christopher Hitchens menetapkan sasarannya untuk mencari sesuatu yang akan merusak karakter beliau. Ia menu lis tentang Bunda Teresa, "Beliau

58

59

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

adalah ikan paus putih besar bagi sifat ateis di dalam diri saya.'? Karena itulah ia (Christopher) harus berperan sebagai Ahab dan melukai beliau.

Betapa hal itu menyingkapkan tentang natur manusia. Kita merasa gusar pada tuduhan yang dilancarkan oleh kemurnian. Haruskah kit a merasa heran jika kita tidak dapat memahami Allah? Kesenjangan ini bukanlah kesenjangan moralitas; melainkan kesenjangan kapasitas. Lebih mudah bagi saya untuk berpikir tentang waktu ketimbang berpikir ten tang kekekalan. Bagaimana mungkin saya dapat menjelaskan tempat kediaman dari Allah yang sempurna dalam kekekalan semen tara saya sendiri sangat terikat pada ketidaksempurnaan dan waktu? Bagaimana saya dapat memahami alam supernaturaljika saya begitu dibatasi oleh alam natural?

Ada istilah dalam Bahasa Jerman yang memisahkan eksistensi dari kehidupan: dasein ohne leben - "eksistensi tanpa kehidupan". Yesus datang untuk mengingatkan bahwa kita, yang terikat pada kesementaraan, dapat bertahan tanpa blueprint kehidupan. Meskipun kita terus bereksistensi, kita kehilangan makna kehidupan yang sesungguhnya. Ia ingin kita melihat makna kehidupan dengan lens a kekekalan. Hal itu terjadi ketika Ia menjadikan hidup kita sebagai temp at tinggal-Nya. Di situ, Ia telah berjanji untuk memberkati kita.

Yesus pernah mengatakan hal ini kepada orang yang bertanya kepada-Nya, "Alm telah berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi dan kamu tidak percaya; bagaimana mungkin kamu akan percayajika Aku berkata-kata tentang hal-hal surgawi?" (Yoh. 3:12).

Apakah keunikan dari tempat kediaman surgawi Kristus ini menjadi faktor yang tidak ditemukan dalam agama-agama dunia? Tentu saja. Mungkin credential [autentisitas - Pen.] Yesus yang tiada bandingannya inilah yang menjadi pertimbangan para cendekiawan muslim ketika mereka berupaya menjelaskan perjalanan singkat Muhammad ke surga. Islam mengklaim bahwa suatu kali pada suatu malam, Muhammad diangkat ke surga seorang diri, untuk melihat sekilas keadaan surga.' Terlepas dari segala argumen yang membingungkan mengenai klaim ini, bila kita menerima klaim ini begitu

saja, tetap ada suatu kebenaran bahwa perjalanan satu malam ke surga itu diperlukan karena surga itu asing bagi Muhammad. Itulah perbedaan yang dimaksud.

Dengan perbedaan yang demikian unik, kaum skeptik bisa jadi mengajukan pertanyaan yang beralasan. Adakah bukti yang dapat diajukan untuk mendukung klaim Yesus tentang asal-usul-Nya?

PEMBUAHAN TANPA PERSETUBUHAN

Jika Yesus tidak memiliki permulaan, maka kelahiran-Nya benarbenar harus menjelaskan bagaimana Ia dapat "dilahirkan" namun tidak memiliki permulaan. Kelahiran Yesus dari seorang anak dara menjadijawaban mutlak untuk hal itu.

Dalam usaha mencari bukti untuk meneguhkan suatu klaim yang mengejutkan, penting untuk mencari sumber lain yang dapat membuktikan kebenarannya, sekalipun sumber itu sendiri tidak secara sukarela membuktikannya. Kelahiran dari anak darajelas berada pada wilayah itu, baik bagi mereka yang mengalaminya maupun bagi mereka yang menentang Injil. Bagi Maria sendiri, mengklaim pembuahan yang sangat janggal ini tidak hanya akan membahayakan nyawanya sendiri, tetapijuga akan membahayakan nyawa Yesus.

Sekalipun sebelumnya saya sudah mengutip hal ini berulang kali, saya ingin mengulanginya lagi di sini. Pemandu acara talk-show populer Larry King pernah ditanya, siapa yang akan dipilihnya seandainya ia diberi kesempatan untuk mewawancarai seseorang dari masa lampau. Larry King menjawab bahwa ia ingin mewawancarai Yesus Kristus dan bahwa ia akan mengajukan satu pertanyaan saja pada-Nya: ':Apakah Anda benar-benar dilahirkan dari seorang perawan?" "Jawaban atas pertanyaan tersebut," kata King, "akan menjelaskan sejarah bagi saya.?"

Larry King benar. Kelahiran dari seorang perawan setidaknya mengacu kepada dunia yang tidak dibatasi oleh naturalisme semata. Klaim itu sungguh menakjubkan, tetapi cobalah untuk merenung-

60

61

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

kannya khususnya dalam konteks aslinya yang mula-mula. Klaim tentang kelahiran Yesus dari seorang perawan itu diajukan sambil secara terang-terangan membuka kemungkinan untuk diverifikasi dengan banyak cara.

Bila Anda mengamati at au mempelajari kehidupan dari tokoh penting manapun, cobalah bertanya, mungkinkah orang ini dilahirkan dari seorang perawan dan memiliki eksistensi yang kekal, seandainya klaim seperti itu diajukan. Pertanyaan ini terutama akan menjadi signifikan bila dinubuatkan sebelum orang itu lahir. Bagaimana Anda dapat menyatukan secara sempurna, nubuat - bahkan ratusan nubuat - serta penggenapannya? Bagi para lawan Yesus, pastilah mudah untuk menilai dari generasi ke generasi apakah klaim ten tang identitas-Nya sebagai Mesias benar-benar dapat bertahan menghadapi penelitian yang cermat dari para cendekiawan dan ujian dari Alkitab. Itulah sebabnya silsilah jauh lebih penting bagi para murid yang mula-mula daripada perabot dalam rumah.

Selain Maria dan Yusuf, pertimbangkan kesaksian dari Zakharia sang imam dan Elizabet istrinya (orangtua Yohanes Pembaptis), wajar sajajika mereka tentunya tidak mengharapkan agar putra mereka menjadi "orang nomor dua" setelah sepupunya, apalagi sepupu yang lebih muda. Dalam suatu budaya yang dikuasai oleh kekuasaan dan posisi di mana keluarga mengindikasikan banyak hal, tidak akan ada orang yang bersedia dipermalukan. Seandainya kelahiran dari anak dara itu tidak benar, pembelaan terhadap kebenarannya akan mengakibatkan pengasingan budaya jika bukan tindakan bunuh diri bagi mereka semua. Bagi Elizabet, kematian putranya Yohanes karena pedang Herodes, dan bagi Maria yang mendengar berita dari sang malaikat bahwa sebuah pedang akan menembus hatinya sendiri tentunya tidak pernah mereka harapkan sebagai seorang ibu. Maria, Yusuf, Zakharia, Elizabet, Yohanes, dan kemudian para murid mempcrtaruhkan segala sesuatu bagi kebenaran ini.

Namun bahkan melebihi kecenderungan orang Ibrani dan klaim kcluarga, mungkin afirmasi yang paling menakjubkan tentang kclahiran dari anak dara berasal dari sebuah agama yang selama

berabad-abad telah berusaha untuk menentang injil Kristen."

Dengan demikian, inilah Dia, orang dari N azaret yang mengklaim bahwa la berasal dari surga dan bahwa Bapa-Nya tidak lain adalah Allah sendiri - seorang Putra yang tidak dilahirkan dari persetubuhan secara fisik ataupun dari kebutuhan akan persekutuan, melainkan merupakan perwujudan yang sempurna dari Allah di dalam daging, dalam persekutuan kekal dengan Sang Bapa.

Kelahiran-Nya tidak terjadi secara alamiah. Ini tidak ada dalam agama-agama lain. Ada agama yang sekalipun membela kelahiran dari anak dara, menyangkal bahwa Yesus adalah Putra Allah. Mereka menegaskan bahwa gagasan tentang Allah yang dapat memiliki seorang Putra merupakan sebuah penghujatan karena bagi mereka, persetubuhan diperlukan untuk melahirkan seorang anak, dan tentunya hal itu akan merendahkan martabat Allah. Jadi ada separuhkebenaran di sini, dengan pemutarbalikan yang ironis. Tetapi terlepas dari hal itu, jika mereka telah menerima kelahiran dari anak dara, maka mereka telah mengakui bahwa Allah, dalam kuasa-Nya yang tidak terbatas, dapat menciptakan kehidupan tanpa persetubuhan. Pada mulanya, persekutuan dan kuasa untuk memberi kehidupan berada dalam diri Allah sendiri. Dalam keberadaan-Nya yang tidak terbatas, relasi bersifat intrinsik tanpa prasyarat dari persetubuhan fisik yang bersifat jasmani. Allah, yang adalah Roh, sesungguhnya adalah Keberadaan-dalam-relasi. Dalam Kristus, Firman itu menjadi daging. Dialah satu-satunya, yang berdiam di dalam kekekalan, yang dapat menahbiskan daging sambil membedakan antara kuasa penciptaan yang inheren dan kuasa prokreasi yang dianugerahkan, itu berarti la tidak dibatasi oleh sarana-sarana yang mengikat kita.

KEHIDUPAN YANG TAK BERCACAT

Tetapi ada cara kedua yang digunakan oleh Yesus untuk membuktikan eksistensi-Nya yang absolut dan kekal. Kehidupan-Nya telah

62

63

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RU MAli S U I((;J\WI

selalu dianggap sebagai kehidupan yang paling murni yang pernah dijalani. Dalam beberapa kesempatan, para lawan-Nya ditantang untuk mengajukan bukti yang dapat memberatkan-Nya. Mereka tidak pernah berhasil menodai kehidupan-Nya yang bersih sempurna. Ia menantang para lawan-Nya untuk mengajukan tuntutan atas dosa apapun yang pernah dilakukan-Nya. Dalam bagian selanjutnya dari buku ini, kita akan melihat betapa kerasnya usaha mereka.

Sebaliknya, tidak pernah ada pribadi lain yang membangkitkan pujian dan pengakuan semacam ini. Para pemimpin agama lain secara pribadi mengakui hal itu, Kehidupan dan perjuangan mereka dicatat di dalam kitab suci mereka masing-masing. Di seluruh dunia saat ini, terdapat suatu kepercayaan bahwa semua nabi tidak berdosa. Doktrin ini mengherankan karena para nabi dalam Perjanjian Lama tidak pernah mengemukakan pandangan seperti itu, lagipula kitab suci mereka sendiri pun tidak menyatakannya. Kesalahan dari dua nabi yang paling dikenal dan dihormati, Abraham dan Musa, tertulis denganjelas di dalamnya.?

Ada berbagai penjelasan yang diberikan sebagai dalih untuk hal ini. Tetapi apa sebenarnya "kesalahan" yang perlu diampuni? Sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya? Suatu pikiran yang menyimpang?

Masih ada banyak hal yang dapat diceritakan tentang kontras antara kehidupan Yesus dengan pemimpin agama lainnya.? Tetapi jelas tidak pernah ada satu petunjuk pun dalam kehidupan Yesus yang menyatakan bahwa Ia pernah dikendalikan oleh sensualitas atau perlu meminta pengampunan atas apapun. Hanya Yesus yang tampil sebagai Pribadi yang tidak bercela, yang tidak ternoda oleh kesalahan apapun karena menghilangkan ataupun menambahkan sesuatu."

Penting juga untuk diperhatikan bahwa kontras ini tidak hanya terbukti dalam cara hidup, tetapijuga dalam cara mereka memahami panggilan mereka. Betapa berbedanya pemahaman ten tang asal-usul dan panggilan itu, sehingga ada catatan yang mengatakan bahwa saat sang nabi pertama kali mengklaim bahwa ia telah menerima wahyu, ia hingung dan tidak dapat memahaminya. Orang lainlah yang

memberitahunya bahwa ini mungkin merupakan suara Allah yang sedang berbicara kepadanya. Yesus, sebaliknya, tahu pcrsis siapa diri-Nya dan dari mana asal-Nya.

Yesus tidak memulai misi-Nya dengan meninggalkan lingkungan yang lebih nyaman untuk mendapatkan pencerahan agar Ia dapat menemukanjawaban bagi misteri-misteri kehidupan.

Ia tidak datang untuk memberikan nilai etnis kepada sekelompok bangsa, sehingga mereka juga dapat memiliki suatu identitas seperti yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di sekeliling mereka.?

Ia tidak memberikan dasar untuk bermegah kepada bangs a manapun berdasarkan hak istimewa tertentu karena usia budaya mereka atau kekuatan yang tampak dari kohesi masyarakatnya; hampir semua budaya panteistis membanggakan diri mereka karena usia peradaban mereka.

Ia tidak datang untuk mendukung suatu bangsa yang bermegah dalam kekuatan kuasa militer mereka, seperti yang dilakukan oleh para penduduk Roma, yang mengklaim kota mereka sebagai kota abadi.

Ia tidak datang untuk memuji orang Yunani karena kemahiran intelektual mereka.

Bahkan, Ia pun tidak datang untuk meninggikan suatu budaya yang menerima hukum moral Allah, suatu kebanggaan yang dinikmati oleh orang Ibrani.

Klaim-Nya yang kuat dan pasti adalah bahwa surga merupakan tempat kediaman-Nya dan bumi merupakan tumpuan kaki-Nya. Tidak pernah ada saat ketika Ia belum ada. Tidak akan pernah ada saat ketika Ia tidak ada. Klaim-Nya menampilkan kebenaran dari suatu perspektif kekekalan yang memposisikan diri-Nya secara unik.

MENGUBAH ALAMAT KAMI

Sebelumnya, saya menjelaskan bahwa bukan hanya cara pandang

64

65

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

kita yang terpengaruh, melainkan posisi kita di dalam kehidupan juga menerima makna yang baru. Jika keistimewaan posisi Yesus membuat kita memiliki cara pandang-Nya yang unik, yang ditopang oleh kelahiran supernatural-Nya, maka selanjutnya ada satu aplikasi yang sangat pentingjika kita ingin menerapkan kebenaran-Nya pada tempat tinggal kita.

Implikasi ini jelas-jelas mengejutkan bagi Natanael, karena baginya tidak ada sesuatu yang baik yang berasal dari N azaret. N azaret bahkan tidak ada dalam peta. Para cendekiawan bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukan lokasi Nazaret. Dari semua tempat yang ada di dunia, mengapa Tuhan atas langit dan bumi memilih Nazaret? Mungkin saja karena surga adalah tempat kediaman-Nya dan bumi adalah tumpuan kaki-Nya, Ia memilih telapak dari tumpuan kakinya agar kita semua yang membanggakan diri karena kelahiran kita dapat menyadari bahwa Bapa surgawi kita memiliki autentikasi-autentikasi yang lebih baik untuk kita daripada asal-usul duniawi kita.

Dunia kita telah menyimpang sangat jauh dari kehendak Allah bagi kita sehingga kita telah menyengsarakan diri kita dengan mengukur diri berdasarkan ras atau kekuasaan atau kemajuan atau pembelajaran. Berbagai mac am api prasangka telah berkobar selama duapuluh abad. Politisasi dan pemutlakan budaya kemungkinan besar menjadi penyebab berikutnya dari perang dunia. Segala keistimewaan dari silsilah dan kepemilikan menjadi destruktif bila dilepaskan dari tambatan Pencipta kita.

Kata-kata Yesus menjadi peringatan yang menggugah bagi kita semua bahwa kebanggaan yang ekstrim terhadap silsilah dapat menjadi suatu pusaran yang menghisap kita ke dalam cara berpikir dan cara hidup yang destruktif. Luapan seruan nasionalisme telah memuntahkan kengerian-kengerian yang terlalu banyak untuk disebutkan. Dalam perjalanan keliling saya selama bertahun-tahun, saya telah mengunjungi banyak tempat di dunia di mana orang-orangnya mcnganggap diri superior karena budaya mereka, tempat-tempat scpcrti Cina, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika. Bagaimanapun

juga, kita semua berpikir bahwa kita adalah pusat dari alam semesta karena kedudukan kita di dalam kehidupan. Kita sarna sekali tidak bisa menentukan temp at kelahiran kita. Yesus bisa, dan Ia memilih kota yang paling hina untuk menjadi rumah-Nya. Ia tidak terjerat dalam ikatan-ikatan nasionalisme yang lemah dan berubah-ubah.

Tetapi jika kebudayaan atau kelahiran tidak pernah boleh menimbulkan prasangka, maka kekayaan pun tidak pernah boleh menjadi alat pengukur bagi nilai esensial. Saya mendapati, tidak dibahasnya kondisi-kondisi ekonomi keluarga Yesus dalam Alkitab merupakan hal yang sangat mendidik. Dalam suatu budaya di mana lokasi dan kota sangat penting artinya, satu-satunya petunjuk yang kita terima . sehubungan dengan Yesus adalah bahwa Ia berasal dari peringkat ekonomi yang tidak diharapkan. Saya percaya hal itu menjadi peringatan serius agar kita tidak menjadikan pengejaran materi sebagai sasaran hidup kita. Daya tariknya [materi - Pen.] memang besar, dan kekecewaan-kekecewaannya pun sarna besarnya.

Saya ingat dalam salah satu koran terkemuka di New York, saya pernah membaca sebuah wawancara dengan istri seorang pemain baseball New York Yankees, yang baru saja menandatangani sebuah kontrak bernilai 89 juta dolar AS. Ia telah menundanya sekian lama sebelum menandatanganinya, sambil berharap agar pihak manajemen bersedia menyamakan nilainya dengan tawaran tim lain yang berjumlah 91 juta dolar. Pihak Yankees tetap kukuh. Di kemudian hari, istrinya berkata, "Ketika saya memperhatikan cara ia berjalan di dalam rumah, saya langsung tahu bahwa ia tidak berhasil membujuk mereka untuk menaikkan nilai kontraknya dari delapanpuluh sembilan menjadi sembilan puluh satu juta dolar. Ia merasa sangat tertolak. Hari itu menjadi salah satu hari yang paling menyedihkan dalam hidup kami."

Betapa anehnya pikiran manusia.

Sebagian besar dari kita tidak akan pernah patah hati karena menerima tawaran yang tidak berharga senilai delapanpuluh sembilan juta dolar sebagai ganti dari tawaran senilai sembilanpuluh satu juta dolar yang kita inginkan. Tetapi ada banyak di an tara kita yang

66

67

JESUS AMONG OTHER GODS

MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

benar-benar tenggelam dalam konteks materi kita sendiri. Bukan nilai eeknya yang menghaneurkan kita; melainkan prioritas-prioritas kita. Saya sama sekali tidak pereaya bahwa Alkitab menentang kekayaan. Tetapi peringatan yang diberikan untuk mereka yang mengejar kekayaan merupakan realitas yang tidak mengenal kompromi. Kekayaan harus diproses melalui filsafat kehidupan yang lebih agung daripada kekayaan itu sendiri. Jika tidak, kekayaan akan membentuk pikiran kita dan menghasilkan kekecewaan-kekecewaan yang pahit. Selama bertahun-tahun, Allah telah memberikan kehormatan kepada saya untuk mengenal beberapa orang yang memiliki bakat alami untuk melipatgandakan apa yang telah dipereayakan kepada mereka. Banyak yang telah mengakui bahwa belajar untuk hidup dengan kekayaan merupakan disiplin yang paling sulit.

Nikos Kazantzakis benar-benar salah menilai Yesus dalam bukunya The Last Temptation if Christ. Ia menampilkan ad egan ketika Setan menunjukkan kepada Yesus bayangan tentang apa yang dapat dimiliki-Nyajika Ia menolak salib - sebuah rumah di Betani, Maria atau Marta sebagai istri yang mempesona, atau bahkan keduanya! Kazantzakis keliru. Mutlak keliru. Ia tidak pernah mengambil waktu untuk merenungkan bahwa sebuah rumah di Betani tidak akan menjadi daya tarik bagi Dia yang merniliki tempat kediaman di surga.

Saya ingin mengakhiri bab ini dan pembahasannya dengan sebuah kenangan pribadi. Beberapa tahun yang lalu, kami sedang merayakan Natal di rumah orangtua istri saya. Hari itu bukanlah hari yang membahagiakan dalam keluarga itu. Ada banyak kejadian yang tidak diharapkan selama beberapa minggu sebelumnya, dan kesedihan yang dalam melanda keluarga itu. Namun, di tengah semuanya itu, ibu mertua saya tetap menjalankan kebiasaan rutinnya untuk meneari orang yang merayakan Natal sendirian dan mengundangnya menikmati makan malam Natal bersama kami.

Tahun itu beliau mengundang seorang pria yang, menurut penilaian semua orang, adalah seorang yang agak aneh, yang penampilannya eukup eksentrik. Tidak banyak yang diketahui tentang diri-

nya di gereja, keeuali bahwa ia datang seeara teratur, duduk sendirian, dan pulang tanpa banyak berbieara. Ia jelas-jelas hidup sendirian dan merupakan tipe penyendiri yang berwajah sedih. Ia adalah tamu Natal kami.

Berhubung ada peristiwa-peristiwa lain yang terjadi di dalam keluarga itu, salah satunya yang penting adalah saat saudara ipar saya dibawa ke rumah sakit untuk melahirkan anak pertamanya, sernuanya menjadi kaeau balau. Emosi kami bereampur aduk. Akhirnya, sayalah yang terpilih untuk mendampingi pria ini. Saya harus 'mengakui bahwa saya tidak menghargai kesempatan itu. Oleh karena pelayanan yang mengharuskan saya berkeliling sepanjang tahun, saya telah berusaha keras untuk menjaga agar Natal menjadi saat untuk berkumpul bersama keluarga saya. Ini tidak akan menjadi sebuah kehormatan, dan saya tidak merasa bahagia. Saat saya duduk di ruang tamu untuk mendampinginya sementara yang lain sedang sibuk, saya berkata dalam hati, Ini akan menjadi Natal yang paling menyengsarakan dalam hidup saya.

Tetapi entah bagaimana, kami berhasil me1ewati malam itu.

Tampak je1as ia menyukai hidangannya, api unggun di halaman belakang, salju di luar, Iagu-lagu Natal yang diputar, dan sebuah diskusi teologis yang eukup mendalam yang melibatkan kami berdua - atas inisiatif darinya, kalau boleh saya tambahkan. la adalah seorang yang sangat terpelajar dan, ternyata, senang menggeluti terna-tema teologis yang berat. Saya pun demikian, tetapi jujur saja, bukan pada malam yang telah saya khususkan untuk menikmati saat-saat yang tenang dalam hidup, bukan pikiran seseorang yang penuh polemik.

Di akhir jamuan itu, ketika ia berpamitan kepada kami, ia meraih tangan kami satu per satu, dan berkata, "Terima kasih untuk Natal terbaik dalam hidup saya. Saya tidak akan pernah melupakannya." Ia berjalan keluar menembus malam yang gelap dan bersalju, kembali ke dalam kesendiriannya.

Hati saya benar-benar terpukul mendengar kata-katanya yang lembut. Saya harus berusaha habis-habisan untuk menahan diri agar

68

69

JESUS AMONG 0'1'11101{ (;O[)S

'MEMPERKENALKAN RUMAH SURGAWI

tidak menangis. Hanya beberapa tahun scxud.rh itu, dalam usia yang relatif masih muda, sehingga kami pun tcrkejut, ia mcninggal dunia. Saya telah berulang kali mengenang Natal itu dalam ingatan saya.

Tuhan mengajarkan sebuah pelajaran kcpada saya. Tujuan utama sebuah keluarga adalah untuk menvalurkan kasih Kristus. Hal apapun yang merampas tujuan itu merupakan penvcmbahan berhala. Setelah mengangkat para murid melampaui prasangka budaya, Yesus menolong mereka untuk memposisikan-ulang kckayaan. Dampaknya sungguh mengagumkan sehingga bertahun-tahun sesudahnya, banyak di an tara mereka akan meninggalkan rumah mereka sendiri untuk pergi ke tempat-tempat yang jauh di dunia, untuk memproklamasikan berita-dari-surga yang mendefinisikan-ulang rumah mereka di dunia. Sebelas orang di antara murid-murid itu membayar pemberitaan tersebut dengan nyawa mereka.

Pertama kali saya menyusuri jalan-jalan yang bising di Betlehern dan menahan napas mencium baunya, saya mendapatkan pengertian yang sarna sekali baru mengenai perbedaan an tara lagu-Iagu Natal kita yang mengagungkan manisnya "kota kecil Bctlchern" dengan realitas yang kejam dari Allah yang menjadi manusia dan berdiam di tengah kita. Ah! Tetapi bukankah bagian dari keajaiban penyingkapan Allah mengenai realitas adalah bahwa Ia merujuk kepada keadaan yang kita terima untuk menunjukkan kepada kita tujuan dari kehidupan yang sejati?

. Bagi para murid, jawaban Yesus atas pertanyaan mereka yang sederhana - "Di manakah Engkau tinggal?" - bertujuan untuk mengangkat mereka melampaui ras dan kebudayaan, melampaui kekayaan dan kekuasaan, melampaui waktu dan jarak untuk menjadikan mereka para warga dunia yang sejati, yang memiliki pemahaman tentang dunia yang akan datang. Ia mernbawa mereka ke dalam cara hidup dan cara berpikir yang sama sekali berbeda dengan kebiasaan mereka. Ia menunjukkan kepada mereka inklusivitas kasih-Nya bagi seluruh dunia. Tetapi di dalamnya juga tersirat eksklusivitas dari kebenaran-Nya, yang membuat mereka bersedia mengorbankan nyawa mereka. Kita telah memutarbalikkan tatanan

dari Yesus. Kita telah menjadikan kebenaran bersifat relatif dan meninggikan kebudayaan di atas segalanya sehingga menghasilkan dunia yang diperintah oleh kejahatan.

Yesus menyingkapkan kebenaran dan dunia yang berbeda lewat pemberitaan-Nya. Di dalam Dia, hati saya mendapatkan tempat tinggal yang sesungguhnya.

G.K. Chesterton telah menangkap keajaiban dari cara tempat tinggal Yesus di dunia mengubah tempat tinggal kita, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Dia.

Seorang anak dalam palungan kumuh, Tempat kawanan ternak makan dan minum; Hanya di tempat Ia tidak bertempat tinggal Anda dan saya mendapatkan temp at tinggal:

Kita memiliki tangan yang cekatan dan kepala yang berpengetahuan, Tetapi hati kita telah terhilang - sudah lama sekali!

Di temp at yang tidak mungkin ditunjukkan oleh peta ataupun kapal Di bawah naungan langit.

Ke rumah yang terbuka di malam hari Manusia akan pulang,

Ke tempat yang lebih tua daripada Eden

Dan kota yang lebih tinggi daripada Roma. Ke ujung lintasan bintang yang mengembara,

Kepada segala sesuatu yang mustahil dan yang selalu ada, Ke tempat di mana Allah tidak bertempat tinggal

Dan semua manusia mendapatkan tempat tinggal.

Di manakah Yesus tinggal? Datanglah kepada Kristus dan temukan makna kehidupan.

70

71

Bab3

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

BERTRAND RUSSEL, SANG filsuf ateis yang terkenal suatu kali ditanya, "Jika Anda bertemu dengan Allah setelah Anda mati, apa yang akan Anda katakan kepada-Nya untuk membenarkan ketidakpercayaan Anda?"

"Saya akan mengatakan pada-Nya bahwa Ia tidak memberikan bukti yang cukup kepada saya," Russell membentak.

Bertrand Russell mungkin memang sangat memusuhi semua kepercayaan religius, dan khususnya Kekristenan, tetapi kehausan atau pun tuntutannya untuk memperoleh bukti bukanlah sesuatu yang unik.

Saya sendiri mengakui bahwa saya lebih merasa heran dengan mereka yang tidak mencari dasar dari hal-hal yang mereka percayai daripada mereka yang mencarinya. Ada ratusan bahkan ribuan orang yang telah saya temui dalam perjalanan saya, yang bukan saja "percaya secara teoretis" pada suatu entitas ilahi, melainkan juga telah membuat komitmen dengan pengabdian yang sepenuh hati. "Dewa-dewa" dan "dewi-dewi" dengan rupa dan atribut yang mengerikan disembah oleh jutaan orang, yang membawa persembahan mereka dan sujud untuk menyembah. Saya bingung menyaksikan komitmen yang begitu bulat, yang dijalankan karena suatu perasaan yang ditanamkan atau yang diwariskan oleh budaya mereka.

Sebaliknya, saya juga mengakui bahwa usaha untuk mencari pembenaran rasional yang tanpa-kompromi bagi kepercayaan dapat

73

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN HASH)

menjadi pengejaran yang melelahkan dan terkadang berbahaya. Tetapi, jika pencarian itu bermotifkan kebenaran serta dilakukan secara rasional, pencarian itu akan membuahkan hasil. Ada pepatah kuno yang berbunyi, "Lebih baik memikirkan sebuah pertanyaan sebelum menjawabnya daripada menjawab sebuah pertanyaan sebelum memikirkannya." Pergumulan intelektual saya sendiri benar-benar tidak terhindarkan di dalam sebuah negeri yang dipenuhi dengan "dewa-dewa" yang sarna banyaknya dengan manusia.

Sayangnya, karena alasan-alasan yang dapat atau tidak dapat dibenarkan, orang-orang yang menentang kepercayaan terhadap Allah seringkali mencemooh iman kepada Dia sebagai sesuatu yang menarik emosi untuk memeluk sebuah gagasan tanpa melibatkan pikiran. Mereka tidak percaya bahwa iman dapat menopang bobot emosi dan pikiran sekaligus.

Saya menyadari, kita semua diciptakan dengan kapasitas yang berbeda untuk mernikirkan perkara-perkara seperti ini. Meskipun demikian, hal itu tidak dapat menjadi alasan yang cukup untuk mempertahankan sebuah pandangan. Kita tidak dapat menghindari pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan oleh pihak lawan kepada mereka yang "hidup oleh iman." Keinginan mereka untuk mengetahui apa yang membedakan iman dari kebodohan atau irasionalitas dapat dibenarkan, tatkala tidak ada logika koheren yang pernah diajukan untuk menjelaskan "iman" seseorang.

Ibu saya, dengan sangat frustrasi, suatu kali pernah bertanya kepada saya, "Dari manakah kau mendapatkan semua pertanyaan ini? Haruskah adasuatu penjelasan untuk segal a sesuatu?" Saya iri pada kesederhanaan beliau. N amun, dengan mengesampingkan tabiat aneh kita, saya harus memberikan penjelasan yang setimpal di dalam dunia yang dijangkiti oleh cara-cara yang saling bertentangan dalam mcnjelaskan realitas tertinggi. Dari sudut pandang sang lawan, mcmpercayakan hidup, kebiasaan, pikiran, sasaran, prioritas kita - segala sesuatu - kepada suatu world-view tertentu tanpa mengajukan pcrtanyaan apapun sarna saja dengan membangun kehidupan kita di alas fondasi yang sangat rapuh.

Dalam perjumpaan berikut dengan Yesus, kita akan membahns pertanyaan sulit yang diajukan kepada-Nya, dan sebagai hasilnya kita akan melihat anatomi iman sekaligus pencarian rasio. Bahkan, Yesus memperingatkan para pencari tanda dengan istilah-istilah yang sangat serius. Tetapi Ia juga membenarkan klaim-klaim-Nya dengan cara-cara yang luar biasa. Ada suatu keseimbangan, dan kita harus menemukannya.

Beberapa tahun yang lalu, ketika berada di Filipina untuk berbicara dalam beberapa pertemuan, saya tinggal di sebuah hotel kecil yang dikelola oleh sebuah keluarga. Wanita yang menjalankan usaha penginapan itu memiliki gelar sarjana dalam bidang filsafat dan kami terlibat dalam perbincangan yang cukup serius mengenai rasionalitas dan irasionalitas dari kepercayaan terhadap Allah. Di dalam pembicaraan itu, ia menanyakan apakah saya telah bertemu dengan sebuah keluarga yang menginap di hotel itu. Mereka telah datang dari Australia untuk mengantar putra mereka yang terkena kanker berobat pada seorang "dukun" Akhirnya, pada suatu sore, saya mengunjungi kamar pasangan ini dan putra mereka yang masih kecil. Kini saya tidak dapat mengingat secara persis usia anak itu, tetapi saya yakin usianya adalah antara sepuluh sampai duabelas tahun. Ia terbaring di ranjangnya yang sempit, tampak kurus kering, tidak bergerak, dan memelas, seakan tak bernyawa. Wajahnya sangat pucat bagaikan mayat. Orangtuanya berbicara dengan saya dengan suara yang lembut dalam kamar yang kecil itu. Di samping anak itu terdapat sebuah meja kecil, di atasnya terdapat sebuah toples dengan cairan berwarna gelap dan gumpalan daging berwarna ungu yang tampak mengerikan, yang mengeluarkan akar yang berambut.

Ibu anak itu menunjuk toples itu dan bertanya pada saya, "Anda lihat isi toples itu?"

Saya mengangguk.

"Itulah kanker yang dikeluarkan oleh sang dukun tanpa operasi.

Hal itu bagaikan sebuah keajaiban. Kami yakin bahwa putra kami kini telah sembuh."

Saya hanya memandangi mereka dengan hati yang be rat, sambil

74

75

JESUS AMONG OTHER GODS

memikirkan betapa beratnya penderitaan mereka. Pada saat yang sarna, saya merasakan kesulitan yang luar biasa ketika berhadapan langsung dengan sikap mudah-percaya yang seperti ini, sementara saya menatap mata mereka yang bersedia mempertaruhkan nyawa anak mereka di tangan orang-orang yang mengklaim dapat melakukan mukjizat, padahal banyak di an tara mereka yang ternyata adalah penipu. Begitulah, tanpa mempedulikan tanda-tanda yang kelihatan, dua orang terpelajar yang kaya-raya membanggakan kesembuhan dari seseorang yang mengucapkan jampi-jampi, dan konon tanpa pembedahan sarna sekali, mengeluarkan gumpalan sebesar kepalan tangan yang "menjadi penyebab kanker" dalam diri putra mereka. Bagaimanakah orang dapat menjelaskan bentuk "iman" yang ekstrem ini? Kapasitas manusia untuk mempercayai hal-hal yang janggal, teristimewa dalam keadaan sangat terdesak, benar-benar tidak terbatas.

Saya tidak meragukan bahwa dalam Alkitab, Allah seringkali dan berulang kali campur tangan dalam kesembuhan tubuh, dan bahwa Ia tetap melakukannya sampai sekarang. Tetapi peristiwa ini sangat berbeda, karena di sinijelas sekali terlihat elemen-elemen komersial dan kultus.

Sebelum saya pergi, saya menjelaskan pada mereka bahwa pekerjaan saya membawa saya ke berbagai belahan dunia dan bahwa akan sangat bermanfaat jika saya dapat mengetahui apakah kuasa dari dukun tersebut benar-benar nyata atau tidak. "Saya akan sangat berterima kasih bila Anda bersedia menulis surat kepada saya setelah satu atau dua bulan dan memberi kabar apakah putra Anda telah benar-benar sembuh." Mereka menerima alamat saya dan berjanji akan menulis surat. Itu terjadi lebih dari satu dekade yang lalu. Saya tidak pernah mendapatkan kabar apapun dari mereka.

Jika peristiwa-peristiwa yang tidak saling berhubungan menuntut kita untuk tidak mempertaruhkan hidup kita pada klaim-klaim yang mustahil dari seorang penghasut yang mempromosikan dirinya sendiri, betapa lebih lagi kita seharusnya tidak mempertaruhkan nasib umat manusia pada seseorang yang bersikeras menyatakan bahwa

76

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

Dia adalah satu-satunya jawaban yang sesungguhnya bagi tujuan dan sasaran akhir kehidupan - kecuali klaim itu dapat sepenuhnya diuji dan dibenarkan. Yang cukup menarik, bagi orang-orang seperti Bertrand Russell yang berargumen bahwa hanya ada sedikit bukti, Alkitab memberikan jawaban yang mengejutkan. Kitab Suci secara tegas menyatakan bahwa masalah sesungguhnya bagi mereka bukanlah tidak adanya bukti; melainkan penindasan terhadap bukti. Katakata Yesus Kristus mengalihkan tuduhan terhadap volume bukti yang tidak memadai kepada maksud hati seseorang.

Apakah Yesus sedang menyiratkan bahwa kepercayaan hanyalah suatu komitmen dari kehendak yang tidak ada dasarnya? Saya rasa tidak. Tetapi sebenarnya Ia memang mengatakan bahwa jika Anda menguji klaim-klaim dari-Nya dengan ukuran yang sarna yang Anda gunakan untuk mengesahkan fakta-fakta lain, Anda akan mendapati Diri-Nya dan pengajaran-Nya dapat dipercayai sepenuhnya. Buktinya sudah jelas. Penyangkalan terhadap Kristus tidak terlalu berhubungan dengan fakta-fakta dan lebih banyak berhubungan dengan kecenderungan seseorang untuk menyimpulkan berdasarkan prasangkanya. Setelah bertahun-tahun bergulat dengan isu-isu semacam ini dalam dunia akademis, saya telah berulang kali membuktikan kebenarannya.

Perhatikan misalnya kata-kata Thomas Nagel, profesor filsafat di New York University. Berikut adalah penjelasannya ten tang antipatinya yang mendalam terhadap agama:

Berbicara tentang ketakutan terhadap agama, yang saya maksud bukanlah sikap memusuhi yang sepenuhnya rasional terhadap agamaagama tertentu yang sudah mapan ... yang disebabkan oleh doktrindoktrin moral, kebijakan-kebijakan sosial, dan pengaruh politik yang tidak menyenangkan dari agama-agama terse but. Saya juga bukan sedang merujuk kepada asosiasi dari banyak kepercayaan religius dengan takhayul dan penerimaan atas kebohongan-kebohongan empiris yang mencolok. Saya sedang membicarakan sesuatu yang lebih dalam - yaitu ketakutan terhadap agama itu sendiri ... Saya ingin agar ateisme itu benar

77

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

TIDAK AnA YANG BARU DALAM TUNTUTANNYA

pat itu, bergumam dan mendengung dengan suara-suara ketakutan yang kekal dan temporal. Orang yang berhalangan dan cacat secara fisik akan datang ke tempat yang diizinkan bagi mereka, dalam usaha mencari kesembuhan dan pemulihan. Para pelaku hukum moral, hukum seremonial, dan hukum-hukum mereka sendiri menganggap bait suci sebagai kese1amatan mereka.

Dari semua bisnis yang melibatkan hati manusia, tidak ada yang dapat menandingi penyimpangan dan manipulasi yang ditimbulkan oleh aktivitas-aktivitas keagamaan. Sebab di sini pengorbanan dan keserakahan dapat bertemu dalam konteks yang paling dipercaya dan paling menguras. Cendekiawan yang sangat dihormati dan pernah menjadi seorang misionaris, Stephen Neil, pernah berkata, "Saya terdorong untuk berpikir bahwa ambisi, daIam pengertian umum apapun dari istilah tersebut hampir selalu berdosa di dalam diri manusia secara umum. Saya yakin bahwa dalam diri orang Kristen, ambisi selalu berdosa, dan bahwa ambisi itu paling tidak terampuni dalam diri seorang pendeta." 2

Saya percaya Neill benar. Mulai dari Voltaire hingga Einstein, para pemikir te1ah menumpuk kecurigaan yang serius terhadap agarna institusional karena masa lalunya yang berubah-ubah. Adalah suatu tragedi bahwa sejarah agama, termasuk Kekristenan, dipenuhi dengan begitu banyak penyalahgunaan sehingga "penolakan rasional" kaum skeptik terhadap pemberitaannya sangat sering dibenarkan. Yesus menghadapi semburan kemarahan dari para penguasa religius ketika Ia mengingatkan mereka bahwa kecurangan mereka menjadi penyebab dari ketidakpercayaan orang banyak.

Di tengah konfrontasi semacam inilah, antara Yesus dan para pengawal bait suci, muncul tuntutan untuk meminta tanda. Pad a hari dan waktu yang ditetapkan, Yesus memasuki bait suci dan menunggangbalikkan meja-meja dari para penjaja perhiasan religius dan mengusir mereka dari situ. "Ke1uarkan semuanya ini dari sini! Berani sekali kalian mengubah rumah Bapa-Ku menjadi pasar!" (Yoh 2:16). Mereka te1ah mengubah tempat ibadah menjadi sarang penyamun.

dan saya diresahkan oleh kenyataan bahwa sebagian dari orang-orang yang paling cerdas dan terpelajar yang saya kenai adalah orang-orang percaya yang religius. Masalahnya bukan hanya saya tidak percaya pada Allah dan secara wajar berharap tidak ada Allah. Saya tidak ingin Allah ada; saya tidak ingin alam semesta menjadi seperti itu.'

Itulah ketidakpercayaan yang tidak tergoyahkan dan terangterangan. "Saya tidak ingin Allah ada." Meskipun skeptisisme Bertrand Russell boleh saja dipandang sebagai penyelidikan rasio yangjujur, namun kita sebaiknya yakin bahwa penyelidikan inte1ektual itu tidak menjadi tempat persembunyian dari ketidakpercayaan yang tidak terkendali dari Thomas Nagel. Skeptisisme semacam itu merupakan distorsi rasio yang menyamar sebagai kejujuran. Bagi disposisi semacam ini, tidak akan ada bukti yang cukup. Kita akan melihat bahwa ketika kita mempelajari tema rasio dan iman serta kepentingan dari tanda, ada jauh lebih banyak yang dikatakan oleh Allah daripada yang kita sadari.

Jauh sebelum kaum skeptis modern menuntut bukti, tokoh yang paling berpikiran-religius pada zaman para murid datang kepada Yesus dan bertanya, "Tanda mukjizat apakah yang dapat Engkau tunjukkan kepada kami untuk membuktikan otoritas-Mu untuk melakukan semuanya ini?" (Yoh 2:18).

Mereka bukanlah Russell dan Nagel zaman itu, yang sedang mengutuki Allah. Bahkan, mereka menjadi bagian vital dari kehidupan bait suci, yang secara bersamaan menjadi lautan re1igius dan perdagangan, tempat bermuaranya seluruh usaha mereka. Mejameja dipasang di dalamnya untuk berjualan dan menimba keuntungan dari kerinduan bangsa itu untuk berdamai dengan Allah. Dari anak-anak domba untuk korban hingga perhiasan, para pengeksploitasi dan para korbannya mempertahankan kesibukan di tem-

78

79

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

Di belahan dunia tertentu yang telah sering saya kunjungi, tepat di luar hotel terdapat sebuah temp at suei keeil. Saya telah mengamatinya setiap hari, sementara ribuan orang melewatinya. Kebanyakan dari mereka akan berhenti, menundukkan kepala, melipat tangan mereka, atau membuat tanda penghormatan tertentu untuk menyembah Tuhan dan kemudian melanjutkan perjalanan. Banyak di an tara mereka yang melaksanakan ritual seremonial itu selanjutnya akan berjalan beberapa langkah dan "berjaga-jaga" untuk melihat turis manakah yang dapat mereka tipu pagi itu. Dari menunjukkan gambar telanjang atau menawarkan pelayanan pelaeur, hingga menjual jam tangan Rolex palsu seharga duapuluh dolar, keseharian mereka dijalani seeara ilegal dan amoral. Mereka sangat gigih dan agresif dalam usaha mereka menyesatkan orang yang naif

Ketika saya merenungkan hal ini, saya telah berusaha menyatukan kebiasaan-kebiasaan ibadah mereka dan bisnis mereka yang penuh skandal. Saya telah meneapai kesimpulan bahwa kemunafikan merupakan kata yang sangat halus untuk menggambarkan kehidupan seperti ini. Aktivitas mereka, baik yang sakral maupun yang menyimpang, tidaklah tersembunyi - semuanya diakukan seeara terang-terangan. Saya pereaya yang sesungguhnya telah terjadi adalah pemutusan syaraf spiritualitas di bagian leher, sehingga syaraf tersebut tidak pernah menyaring sampai ke hati, tangan dan kaki. Kehidupan dijalani dalam ruangan terpisah yang tidak saling berhubungan. Kepala yang ditundukkan mengakui yang sakral. Eksploitasi mereka menghasilkan yang materi. Dalam hidupnya, mereka menajiskan orang lain tanpa sedikitpun menyadarinya. Namun siapapun yang menunjukkan sikap tidak menghormati tempat suei itu akan berada dalam bahaya. Hal seperti ini merupakan amputasi dari agama, yang menghormati Allah dan sekaligus akan menjadi paling terkejut jika Allah menampakkan diri.

Kepada kumpulan penjahat inilah Yesus datang. Itu merupakan sebuah konfrontasi yang tiada tandingannya. Bila meminjam jargon masa kini - "Menyimpang seeara politik" akan menjadi deskripsi yang menenangkan untuk tindakan yang menggentarkan. Bertindak

menentang para penguasa politik dan menyebut bait suei scbagai rumah Bapa-Nya? Baik perbuatan maupun kata-kata-Nya mcngguneangkan para pengamat. Peristiwa ini akan sangat mernbckas dalam ingatan para penonton dan memeteraikan tekad para lawanNya untuk menyingkirkan diri-Nya. Sementara para murid menyaksikan seluruh episode tersebut, mereka benar-benar gelisah. Tetapi kisah tersebut menyatakan kepada kita bahwa sebuah suara dari masa lalu menyadarkan mereka. Tiba-tiba mereka teringat pada suatu bagian dalam Kitab Suci yang ditulis oleh Raja Daud seribu tahun sebelumnya: "Aku telah menjadi orang luar bagi saudarasaudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku; sebab einta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang meneela Engkau telah menimpa aku" (Mzm 69:9-10). Yesus, di hadapan mereka, menghidupkan nubuat itu.

Para lawan-Nya tidak dapat menahan kegeraman mereka dan menuntut agar Yesus memberikan suatu tanda kepada mereka untuk membenarkan tindakan-Nya yang sangat berani. Ia hanya membuat mereka lebih gusar dengan menyanggah bahwa pertanyaan mereka sarna sekali bukanlah usaha untuk meneari kebenaran. Tetapi Ia tidak berhenti sampai di situ. Dalam jawaban-Nya, Ia menawarkan bukti yang belum pernah digenapi oleh pribadi lain yang mengklaim dirinya sebagai Mesias atau Allah. Untuk menghadapi tantangan sebesar itu, akan dibutuhkan demonstrasi kuasa yang tiada bandingannya.

RESPONS YANG BARU

"Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali" (Yoh. 2:19).

''Apa?'' mereka balas menjawab. "Dibutuhkan waktu empatpuluh enam tahun untuk membangun Bait Allah ini, dan Engkau akan membangunnya dalam tiga hari?" (ay. 20).

Penulis Injil menambahkan, "Bait Allah yang dimaksudkan-Nya

80

8 1

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

adalah tubuh-Nya. Setelah Ia dibangkitkan dari an tara orang mati, murid-murid-Nya mengingat apa yang telah dikatakan-Nya. Maka merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus" (ay. 21-22).

Ada begitu banyak cara lain yang dapat Ia gunakan untuk menunjukkan otoritas-Nya. Ia memilih satu titik pijakan yang spesifik - bait suci. Tetapi Ia menyatukan ke dalam metafora itu suatu makna yang akan menjadi jawaban bagi pribadi yang skeptis sekaligus religius. Sebab di dalam tubuh manusia terkandung kemungkinan yang saling berlawanan: kecenderungan kita kepada hal jasmani dan kerelaan kita bahkan untuk melukai tubuh kita demi hal spiritual. Yesus tidak mungkin memilih ilustrasi yang lebih baik untuk membenarkan otoritas-Nya selain rujukan-Nya kepada tubuh dalam kaitannya dengan bait suci.

Ada setidaknya tiga faset yang berbeda dalamjawaban-Nya. Untuk melihat faset yang pertama, kita perlu memperhatikan preteks/dalih yang diajukan oleh kaum skeptik dalam argumen verbal. "Tanda apakah yang dapat Engkau berikan untuk otoritasMu?" Dalam tantangan ini, kita akan melihat konflik antara iman dan rasio.

Yang kedua adalah teks yang menjadi jawaban Yesus: "Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Pada akhirnya, ini akan menjadi satu-satunya bukti terbesar bagi klaim-Nya. Tekad selama berabad-abad untuk berusaha membuktikan kebohongan-Nyajustru semakin memperkuat bukti-Nya.

Faset terakhir darijawaban Yesus adalah konteks yang membatasi pengertian terhadap implikasi dari berita-Nya. Ia menawarkan mukjizat terbesar dengan menggunakan sesuatu yang menampilkan ancaman terbesar bagi kecenderungan spiritual, dan mengubahnya menjadi pusat spiritualitas. Pada akhirnya, mereka akan menyadari bahwajawaban-Nya bersifat unik dan ditopang oleh sejarah.

DAYA PIKAT DAN PENARIKAN KESIMPULAN DARI SEBUAH TANDA

Mari kita pertama-tama membahas tentang preteks dari kaum skeptik.

Orang mungkin terkejut mendengar bahwa sejarah tidak memiliki daftar panjang berisi orang-orang yang secara serius mengklaim dirinya sebagai Allah. Namun demikian, hal itu telah mengakibatkan terciptanya ilah-ilah pilihan manusia secara berangsurangsur. Daftar itu penuh sesak.

Pada suatu kesempatan, saya berdiri di pinggir jalan, sambil menonton proses pemindahan patung emas suatu "dewa" dari satu kuil ke kuil lain. Ribuan orang berteriak-teriak untuk memberikan persembahan atau menerima berkat. Para pend eta yang mendampingi dewa itu memegang dupa dan abu di tangan mereka dan dengan penuh kemurahan membagikan berkah dari sang dewa ke atas buah atau kain apapun yang diletakkan di hadapan mereka. Pemandangannya sungguh-sungguh menakjubkan. Kaya, miskin, tua, dan muda menjulurkan tangan mereka sementara kereta itu berlalu dengan sangat lambat. Saya bertanya kepada seorang wanita yang baru saja menerima "berkat," apakah dewa ini benar-benar ada atau hanya merupakan suatu ungkapan dari kerinduan di dalam batin. Ia terlihat sangat bimbang dan kemudian berkata, "Jika Anda berpikir dalam hati Anda bahwa ia ada, maka ia ada."

"Bagaimana jika Anda percaya bahwa ia tidak ada?" tanya saya. "Maka ia tidak ada," jawabnya dengan lembut. Jawaban itu mungkin merangkumkan peranan utama Allah saat ini. Beberapa orang akan berusaha untuk membuktikan kepercayaan mereka; yang lainnya sekadar mempercayainya dalam hati mereka, dengan menciptakan ilah-ilah yang selanjutnya akan berusaha mereka puaskan.

Akal sehat menuntut agar dalam membela sebuah keyakinan atau kepercayaan, kita tidak sekadar menawarkan kerinduan hati atau memaparkan cuplikan-cuplikan terpisah dari mandat-mandat si

82

83

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

pengklaim untuk kemudian melompat kepada kesimpulan-kesimpulan yang mulia. Pembelaan yang benar terhadap klaim apapun harus juga membahas bukti-bukti yang menantang atau melawannya. Dengan kata lain, kebenaran bukan hanya bersifat of ens if, dalam pengertian bahwa kebenaran mengajukan klaim-klaim tertentu. Kebenaran juga bersifat defensif, dalam pengertian bahwa kebenaran harus mampu memberikan jawaban yang meyakinkan dan masuk akal terhadap keberatan-keberatan yang diajukan.

Dan di sini muneullah sesuatu yang sangat penting. Kadangkala, pilihannya bukanlah antara apa yangjelas-jelas bertentangan dengan apa yang seeara konsisten koheren. Mengkontraskan man tan pemimpin aliran sesat, Jim Jones dengan Yesus Kristus tidaklah sulit. Tantangan timbul ketika pribadi yang mengklaim dirinya sebagai Allah .merniliki beberapa eiri unik yang memiliki daya tarik, namun menyembunyikan begitu banyak pengajaran yang berkontradiksi atau gaya hidup yang berkontradiksi.

Orang-orang yang tidak menaruh euriga melakukan kesalahan fatal ketika mereka mengabdi pada suatu sis tern pemikiran dengan berfokus pada manfaatnya, tetapi mengabaikan kontradiksi-kontradiksi sistemiknya. Siapapun yang mengklaim dirinya sebagai nabi atau Allah harus dieermati seluruh hidupnya selaras dengan pengajaran yang diberikannya. Ada banyak perkara historis dan filosofis yang dilibatkan ketika orang mengevaluasi klaim-klaim seperti ini seeara senus.

Inilah tepatnya yang menjadikan Yesus begitu unik. Seluruh eakupan kehidupan dan pengajaran-Nya dapat diuji kebenarannya. Setiap aspek pengajaran-Nya menjadi mata rantai dalam kesatuan yang lebih besar. Setiap faset adalah bagaikan permukaan intan, yang berkilauan bila diputar perlahan-lahan.

Pad a saat ini dalam sejarah pemikiran, kita berasumsi bahwa manusia purbakala lebih naif dibanding kita, dan bahwa kita telah beranjak dewasa, padahal sebenarnya sebagian dari kenaifan yang telah kita tunjukkan akan benar-benar membuat mereka mengkerut. Jika ada orang yang menyangkal realitas itu, silakan bertanya pada

orang-orang dalam industri pemasaran, apakah yang laku adalah bentuk atau substansi. Beberapa kali dalam Kitab Injil, ada satu orang di antara para pendengar yang menantang Yesus untuk memberikan tanda guna membuktikan klaim-klaim-Nya. Mereka bukanlah sekumpulan orang naif. Hal itu menunjukkan bahwa hampir dalam setiap peristiwa, muneul tantangan segera setelah Yesus baru melakukan suatu mukjizat. Mereka tidak puas hanya menyaksikan mukjizat. Mereka menginginkan sesuatu yang lebih lagi.

Sebagai eontoh, dalam Yohanes 6:30, tuntutan meminta tanda muneul setelah Ia memberi makan lima ribu orang dengan setangkup roti dan ikan. Segera sesudah mukjizat itu terjadi, kaum skeptik dalam kelompok itu mengingatkan Yesus bahwa Musa telah mernberi makan orang banyak dengan manna. "Tanda ajaib apakah yang akan Engkau berikan supaya kami dapat melihatnya dan pereaya kepada-Mu?" (penekanan ditambahkan). Dalam Injil Matius, tuntutan meminta tanda muneul setelah peristiwa penyembuhan atas seorang pria yang buta dan bisu (12:22-45).

Peristiwa-peristiwa ini memberikan petunjuk mengenai perlawanan yang harus dihadapi oleh Yesus dan mengapa Ia berespon seperti itu. Ketika orang-orang Farisi dan para ahli taurat menuntut tanda dari-Nya dalam Matius 12, Ia menjawab dengan kata-kata yang eukup tajam:

Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus ... Orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya; sebab mereka bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sekarang yang ada di sini lebih dari pada Yunus. Ratu dari Selatan akan bangkit pada waktu penghakiman bersama angkatan ini dan menghukumnya; sebab ia datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sekarang yang ada di sini lebih dari pada Salomo. (ay. 39, 41-42)

Yesus sedang mendakwa bahwa motivasi sesungguhnya yang

84

85

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

mendorong mereka untuk meminta tanda bukan hanya menyingkapkan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh mencari kebenaran; perlawanan mereka terhadap kebenaran, sekalipun mereka religius, menjadikan orang-orang kafir yang mengeraskan hati tampak lebih baik daripada mereka. Dengan kata lain, bukan tidak adanya tanda yang merisaukan mereka. Pesan di balik tanda-tanda itulah yang memancing . ketidaknyamanan mereka. Yesus dapat membuktikan identitas-Nya, konsekuensi-konsekuensi dari hal itu membawa bencana bagi mereka. Segala sesuatu yang mereka kejar dan miliki, setiap jejak kekuasaan yang tidak terbatas yang mereka nikmati, bergantung pada peran mereka sebagai penentu nasib orang lain. Terkadang agama dapat menjadi penghalang terbesar bagi spiritualitas sejati.

Pahitnya kata-kata Yesus melukai perasaan mereka ketika Ia berkata bahwa bahkan para pembunuh seperti orang-orang Niniwe itu lebih jujur daripada mereka. Mengapa? Karena pemberitaan Yunus kepada orang-orang Niniwe menghasilkan pertobatan nasional dalam skala yang berhasil mencetak sejarah. Dan hikmat Salomo sangat dikenal luas sehingga orang-orang dari negeri-negeri yang jauh datang hanya untuk mendengarnya.

Singkatnya, Yesus sedang mengatakan bahwa berita itu sendiri memenangkan hati orang-orang kafir, tetapi mereka, yang mengklaim memiliki semangat spiritual, sedang lari dari implikasiimplikasi dalam apa yang telah mereka ketahui kebenarannya. Ia memperlihatkan tanda-tanda dan persuasi-persuasi yang lebih otentik dibanding Yunus, pemikiran yang lebih indah dan berhikmat dibanding Salomo. Yunus tidak dapat mengadakan mukjizat. Yesus bisa. Hikmat Salomo bukan berasal dari dirinya. Yesus adalah sumber hikmat. N amun perbedaan itu sama sekali tidak berarti bagi mereka.

Sejak saat itu, di sepanjang jalan menuju kematian-Nya di kayu atas salib di tangan mereka, Yesus membuktikan bahwa yang sedang mereka cari bukanlah bukti, melainkan kendali atas seluruh bisnis mereka, sekalipun dengan mengorbankan kebenaran.

Saya memberanikan diri untuk menunjukkan bahwa skeptisisme dari sebagian orang pada zaman kita kemungkinan besar berasal dari motivasi yang sama. Perbedaan utama yang khas antara orang pada zaman kita dengan konteks pada zaman Yesus adalah bahwa Ia sedang berusaha untuk membuktikan bahwa Diri-Nya adalah Mesias kepada pendengar yang setidaknya mempercayai eksistensi Allah. Pada zaman ini, kita harus pertama-tama membuktikan eksistensi Allah. Baru sesudah itu kita bisa menampilkan bukti bahwa Yesus adalah Allah yang berinkarnasi.

Bagi orang-orang yang berpikiran religius, tantangannya menjadi lebih kompleks. Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa Yesus adalah satu-satunyajalan kepada Allah? Di manakah kita dapat menemukan titik pijakan untuk memulainya?

IMAN DAN RASIO

Sebelumnya, iman tidak selalu menjadi sebuah kategori yang dicurigai seperti sekarang. Baik orang Ibrani maupun orang Yunani memiliki pengertian ten tang iman. Memang benar, terdapat beberapa perbedaan, tetapi iman masih diakui. Sekarang ini, seandainya iman masih diakui, iman itu dipandang sebagai iman untuk beriman. Iman dikotakkan sebagai urusan pribadi dan disingkirkan dari kredibilitas intelektual.

"Setiap orang pastilah memiliki semacam iman," kita menyindir. "Kalau bukan karena iman saya, saya tidak akan pernah bertahan di situ," kita mungkin mendengar yang lainnya berkata demikian.

Iman kepada apa, seseorang mungkin bertanya. Dalam iman seperti ini, fokusnya seringkali terletak pada apa saja selain kebenaran, dan pada segala sesuatu yang menandakan pragmatisme" - "Setidaknya hal itu bermanfaat bagi saya, terlepas dari benar atau tidaknya." Ucapan-ucapan spontan semacam ini telah menjadikan kita sebagai

*1 kepercayaan bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran bergantung pada pcncrapannya bagi kepentingan man usia.

86

87

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PEN CARlAN RASIO

sasaran empuk hagi para penjaja iman dalam zaman kita. Sudah waktunya kita melakukan "pentahiran bait suci' terhadap pikiran kita dan menghadapi realitas ini tanpa berkompromi.

Pertama, mari kita memahami dengan jelas apa yang bukan iman sebelurn menegaskan arti iman. Iman yang dibicarakan Alkitah bukanlah sebuah antitesis? dari rasio. Iman bukan sekadar kemauan untuk percaya, tanpa mempedulikan segala ketidakbenaran yang ada. Iman bukanlah suatu predisposisi*3 untuk mencocokkan secara paksa setiap hagian informasi ke dalam pola keinginan sese orang. Iman dalam pengertian Alkitah bersifat substantif, didasarkan pada pengetahuan bahwa Dia yang diimani telah membuktikan bahwa Diri-Nya patut dipercaya. Secara esensi, iman adalah keyakinan kepada pribadi Yesus Kristus dan kepada kuasa-Nya, sehingga sekalipun kuasaNya tidak melayani kepentingan saya, keyakinan saya kepada-Nya tidak goyah karena [iman saya didasarkan pada - Pen.] pribadi-Nya. Iman bagi orang Kristen merupakan respons kepercayaan yang didasarkan pada klaim Yesus Kristus tentang diri-Nya. Iman tersebut menghasilkan suatu kehidupan yang rnembawa pikiran dan hati ke dalam suatu komitmen kasih kepada-Nya. Apakah ini merupakan sebuah respons yang irasional atau tidak masuk akal, yang didasarkan pada segala sesuatu yang telah dinyatakan oleh Kristus tentang diri-Nya?

Setiap individu yang berhasil memiliki iman semacam ini kepada satu-satu-Nya Allah yang benar mengalami pergumulan yang herbeda-beda. Dalam Perjanjian Lama, Musa menjadi contoh klasik ten tang hagaimana iman telah berakar di dalam diri seseorang yang mengalami implikasi-implikasi iman yang tidak mudah. Berulang kali dan selama rentang waktu yang panjang, Allah terus mencari Musa sampai Musa memahami bahwa Allah yang dilayaninya menginginkan kepercayaannya, dan bahwa Ia akan mernbuktikan diri-Nya, baik sebelum maupun sesudah kepercayaan itu berlanjut. Allah mernberikan bukti yang cukup [kepada Musa - Pen.] di se-pa njang perjalanannya, untuk mendemonstrasikan siapa diri-Nya, te-'

tapi menahan bukti klimaksnya sampai akhir perjalanan iman Musa.

Sehaliknya, kita melihat bahwa Abraham adalah seorang yang sangat merindukan Allah sehingga ia bersedia, dengan bukti lahiriah yang minim, meninggalkan rumahnya dan memhangun suatu komunitas yang beriman kepada Allah yang hidup bagi keturunannya. Tetapi, bahkan dalam kasusnya, setiap langkah dalam proses pemhangunan-imannya dijalani dengan afirmasi dari Allah. Allah menanggapi dua macam pribadi di tengah kita, orang-orang yang menginginkan Iebih banyak bukti dan orang-orang yang cukup puas dengan sedikit bukti. Tetapi Ia selalu hekerja selaras dengan penyingkapan karakter-Nya.

Tetapi perhatikan dua sudut pandang yang sangat berhubungan di sini. Yang pertama adalah kepercayaan. Yesus mengklaim bahwa Ia adalah penyataan Allah yang sempurna. Orang percaya yang sejati mempercayai bahwa Ia sedang mengatakan kebenaran. Segala sesuatu yang diucapkan dan dilakukan-Nya membenarkan klaim itu dan sebaliknya, tidak ada perkataan atau perbuatan-Nya yang menggoyahkannya. Konon, natur manusia mernbenci kekosongan, dan hal itu seharusnya berlaku juga untuk iman kita. Tak seorangpun dari kita yang dapat hid up tentram dengan iman yang kosong. Harus ada substansi bagi iman kita sekaligus ohjek dari iman kita.

Tetapi ada kesalahpahaman kedua terhadap iman. Kita seringkali berasumsi bahwa iman adalah penopang hagi mereka yang sedang terluka atau sedang mernbutuhkan semacam intervensi supernatural dalam suatu situasi di mana mereka tidak berdaya menyelamatkan diri. Betapa seringnya kita mendengar kesaksian-kesaksian iman dari orang-orang yang sakit dan sekarat atau yang sedang terluka dan mencucurkan darah. Kita berasumsi, hal itu merupakan ekspresi teragung dari iman. Tanpa diragukan, iman yang tetap kuat di tengah badai kehidupan merupakan iman yang patut dikagumi.

Namun demikian, izinkan saya menjelaskan bahwa dalam realitas, situasi semacam ini lebih sering menjadi realisasi atau ujian bagi iman seseorang. Iman yang sarna-sarna kelihatan juga ditunjukkan tatkala ketergantungan kepada Allah ditunjukkan di tengah kesuk-

*2 pertentangan yang benar-benar.

*3 kecenderungan untuk menerima atau menolak sesuatu berdasarkan pengalamanlnorma-norma yang dimiliki.

88

89

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

JESUS AMONG OTHER GODS

sesan, ketika segala sesuatunya berjalan lancar. Iman semacam itu memahami bahwa setiap momen dan setiap kesuksesan dalam hidup merupakan karunia dari Allah.

Saya dapat mengilustrasikan hal itu dengan perbandingan ini.

Beberapa tahun yang lalu, saya mendapat kehormatan untuk bertemu dengan sepasang suami istri bernama Mark dan Gladys Bliss, yang selama empatbelas tahun menjadi misionaris di Iran. Kami sarna-sarna menghadiri acara pertemuan orang-orang Kristen Iran. Ketika malam semakin larut, tuan rumah kami, yang berkebangsaan Iran, menarik saya ke samping dan mulai menceritakan kisah pasangan Bliss.

Tahun 1969, ia berkata, Mark dan Gladys sedang mengendarai mobil bersama anak-anak mereka dan beberapa ternan untuk mengunjungi sebuah gereja baru, yang berjarak beberapa mil dari Teheran. Bahkan, menurut pria ini, "Ketika itu saya masih remaja, dan mereka telah datang ke rumah saya untuk menjemput saya. Tetapi saya tidak bisa ikut." Dalam perjalanan mereka saat larut malam, mereka mengalami kecelakaan parah yang mengakibatkan ketiga anak pasangan Bliss - Karen, yang berusia tigabelas tahun; Debbie, yang berusia sebelas tahun; dan Mark, yang berusia tiga tahun - tewas. Pasangan yang ikut dengan mereka dalam mobil itu kehilangan bayi mereka yang berusia enam bulan dalam tragedi yang mengerikan itu. (Sebagai catatan, ayah dari sang bayi yang berusia enam bulan itulah yang duapuluh lima tahun kemudian menjadi martir. Haik Hovsepian ditikam sampai mati karena kasih dan pelayanannya bagi Yesus Kristus. Ternyata, tragedi sebelumnya tidak melenyapkan imannya.)

Sementara saya mendengar kisah ini, saya memandang sekilas pada Mark dan Gladys Bliss, dan hati saya hancur. Bagaimana mungkin Anda dapat terlihat begitu damai setelah menguburkan tiga anak Anda di usia yang masih sangat belia dan membutuhkan perlindungan? Luka semacam itu tampaknya terlalu besar bagi hati mereka. "Kesaksian mereka menjadi terang yang bercahaya dalam komunitas kami," kata pria Iran ini. "Hanya iman mereka kepada

Allah yang membuat mereka bertahan."

Bandingkan hal ini dengan kesaksian berikut. Beberapa tahun yang lalu, saya diundang ke Orient oleh seorang pengusaha untuk berkhotbah pada sekelompok orang yang dinamakan para eksekutif "diamond-collared" ["kerah-berlian" - Pen.]. Bahkan, belakangan saya mengetahui bahwa ia termasuk dalam daftar sepuluh orang terkaya di dunia. Ketika saya tiba di situ, saya menanyakan padanya apa yang telah membuat ia beriman kepada Yesus Kristus.

"Oh," katanya, "sekitar delapan belas bulan yang lalu, saya berkata pada istri saya, 'Saya memiliki segalanya dalam hidup ini, tetapi saya masih merasa sangat kosong. Saya tidak tahu ke mana saya harus berpaling. Saya percaya saya membutuhkan Allah.''' Istrinya mendukung kerinduan tersebut. Dari situ mereka memulai pencarian mereka dan mengalami perjumpaan dengan Yesus Kristus. Tidak ada yang dramatis. Tidak ada kebaktian penginjilan besarbesaran. Hanya kehadiran secara teratur dalam kelompok pendalaman Alkitab setiap minggu, dan mereka kini menikmati kekayaan dari hubungan yang baru dengan Yesus Kristus.

Apakah iman yang satu melampaui iman yang lainnya? Mungkin memang benar bahwa yang satu telah mengalami ujian yang lebih berat dibanding yang lainnya. Tetapi yang pasti, berpaling kepada Allah di saat seluruh kebutuhan duniawi Anda telah terpenuhi berarti mengungkapkan dengan sangat jelas bahwa iman kepada Allah sarna dengan percaya kepada-Nya sekalipun sandaran-sandaran lainnya sudah dimiliki. Yesus berkata bahwa hampir mustahil bagi seorang yang kaya untuk membuat komitmen semacam itu. Tetapi syukurlah, Ia kemudian melanjutkan bahwa bagi Allah, hal itu mungkin.

Nah, seperti itulah Allah telah menciptakan kita. Salah satu aspek kehidupan yang paling mengherankan adalah bahwa kehidupan tidak dimulai dengan rasio dan berakhir dengan iman. Kehidupan dimulai pada masa kanak-kanak dengan iman dan ditopang entah dengan mencari bukti melalui iman itu, atau dengan meninggalkan rasio secara membabi-buta untuk iman yang tidak terjawab. Pikiran

90

9 1

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

seorang anak memiliki kapasitas yang sangat terbatas untuk mengutarakan alasan bagi kepercayaannya. Tetapi saat ia bersandar di bahu ibunya, menyusu pada ibunya, atau lari ke dalam pelukan ayahnya, ia melakukannya karena suatu kepercayaan yang implisit bahwa bahu ibunya akan menopangnya, air susu ibunya akan mengenyangkannya, dan bahwa lengan ayahnya akan memeluknya. Jika di kemudian hari kepercayaan itu diuji, karakter orangtuanyalah yang akan membuktikan apakah kepercayaan itu bijaksana atau bodoh. Iman tidak meniadakan rasio.

IMAN DAN lRASIONALITAS

dan peminum, sahabat pemungut cukai dan 'orang-orang berdosa.'" Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya. Dengan kata-kata ini, Yesus dengan sangat tegas membongkar

kebobrokan dari kehendak manusia. Ketika Yohanes memperingatkan mereka tentang ketatnya hukum taurat, mereka menyebutnya kerasukan setan karen a mereka ingin lebih bebas. Ketika Yesus datang dan berbaur dengan kelompok yang tersisih dalam masyarakat, mereka menyebut-Nya seorang hedonis karena mereka ingin lebih ketat menjalankan taurat. Tetapi Yesus memberitakan bahwa hikmat dibenarkan oleh apa yang dihasilkannya. Tidak dibutuhkan kecermatan untuk melihat betapa masyarakat kita sarna sekali tidak berhikmat, dan penyebabnya adalah karena kita tidak mengenal taurat ataupun anugerah. Bagi pola-pikir seperti ini, iman akan selalu dikarikaturkan sebagai simbol kenaifan.

Tetapi Ia menunggangbalikkan meja-meja mereka dan mengingatkan bahwa ketidakpercayaan mereka terhadap kebenaran yang sudah mereka pahami lebih banyak mengungkapkan ten tang karakter mereka sendiri, daripada ten tang bukti itu. Saya percaya, hal ini merupakan komponen esensial yang seringkali hilang dalam sebuah diskusi tentang iman. Memang benar, ada komponen isi yang membahas tentang kebenaran. Juga ada komponen kasih yang membahas tentang perpaduan dari emosi dan komitmen. Tetapi ada juga komponen kejujuran yang mengacu kepada kejujuran atau integritas dari sang individu. Di sinilah dimulai peperangan secara terbuka. Di sinilah kebenaran sesungguhnya mengenai rasio disingkapkan.

Ada aspek lainnya. Yesus mengingatkan para pengikut-Nya bahwa komitmen dari kehendak merupakan sesuatu yang sifatnya berubahubah bila diperhadapkan dengan undangan Allah. Hati manusia sangat condong kepada pemberontakan sehingga setiap generasi akan menemukan cara-cara untuk mempertanyakan apa yang dimaklumatkan oleh Allah. Penjelasan ini amat sangat penting untuk bisa memahami bahwa terhadap bukti apapun yang ditawarkan pada saat apapun di dalam sejarah, kita akan selalu menuntut sesuatu yang lain. Dalam Lukas 7:31-35, Yesus berkata:

Dengan apakah dapat Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini? Seperti apakah mereka itu? Mereka itu seumpama anak-anak yang sedang duduk di pasar dan yang sedang saling menyerukan:

"Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari,

kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis."

KONFLIK YANG SEBENARNYA

Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: "Ia kerasukan setan." Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata, "Lihatlah, Ia seorang pelahap

Baru-baru ini dalam majalah Times di Inggris, ada sebuah artikel berjudul "The Rage of Reason" [Amukan Rasio - Pen.] yang ditulis oleh Matthew Parris. Artikel ini menjadi contoh yang benar-benar khas dari seorang pemikir, yang mengklaim dirinya sebagai pecinta rasio yang menentang irasionalitas dari agama. Ia mendukung pcr-

92

93

JESUS AMONG OTHER GODS

nyataannya dengan berdoa agar para Bertrand Russell, Thomas Paine, dan David Hume dari masa lalu kembali dan menyelamatkan kita dari wabah "omong kosong agama" yang berjangkit. Saya tidak dapat membahas semua yang ia katakan dalam bagian ini, tetapi izinkan saya meresponi setidaknya salah satu mantranya.

Dengan menggemakan kata-kata Blake yang memanggil Milton - "Oh, Milton, bangkitlah saat ini juga, Inggris membutuhkan engkau!" - Parris memohon, "Oh, David Hume, bangkitlah saat ini juga, kami membutuhkan engkau."?

David Hume, yang hidup pada abad kedelapanbelas, adalah salah satu filsuf yang paling vokal yang memperjuangkan natur faktual dari sains untuk menentang apa yang dijulukinya sebagai irasionalitas agama. Ia adalah seorang yang luar biasa skeptik, dan serangan filosofisnya terhadap natur kepercayaan agama dikumandangkan dalam ruang-ruang kuliah sampai sekarang. Hume sepenuhnya menyangkali kemungkinan adanya mukjizat.

Penulis dari artikel di Times, Parris, mengutip pernyataan-pernyataan terkenal dari Hume berikut ini, yang telah berulang kali digunakan oleh banyak kaum skeptik tanpa benar-benar mencermatinya: "Agama Kristen bukan hanya pada mulanya hadir karena mukjizat, melainkan bahkan sampai saat ini tidak mungkin dipercaya oleh pribadi rasional manapun tanpa mukjizat." Begitulah kata Hume, dan sejauh ini tidak ada masalah.

Tetapi sekarang perhatikan perkataan Hume tentang apa yang seharusnya menjadi ujian untuk menentukan makna dari segala sesuatu:

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

Jika kita menyelidiki buku apapun: yang berhubungan dengan teologi atau dengan ilmu metafisika, misalnya; mari kita tanyakan, apakah di dalamnya terdapat penjelasan abstrak ten tang kuantitas atau jumlah? Tidak. Apakah di dalamnya terkandung penjelasan eksperimental tentang materi fakta dan eksistensi? Tidak. Jadi, lemparkan semuanya ke dalam api; Sebab isinya hanyalah tipuan dan ilusi."

Dengan mengutip kalimat-kalimat ini dengan nada kemenangan, Parris sepertinya berpikir bahwa sebuah pukulan telak yang menggoncangkan telah didaratkan kepada agama, sehingga sekarang ini agamajatuh pingsan di hadapan sosok sains yang kekar. Semua agama telah dipermalukan sebagai sesuatu yang hanya merupakan "tipuan dan ilusi" karena "kapasitas keilahiannya" gagal melewati ujian matematika ataupun sains. Kecuali sebuah pernyataan termasuk ke dalam salah satu dari kategori-kategori ini, pernyataan itu harus "dilemparkan ke dalam api."

Satu-satunya masalah yang terdapat pada ujian untuk makna, yang disodorkan oleh Tn. Parris dengan mengutip Hume adalah bahwa ujian itu sendiri tidak lulus ujian. Pernyataan terkenal dari David Hume tidak bersifat ilmiah ataupun matematis. Jika sebuah pernyataan yang bermakna harus benar secara matematis atau dapat diteguhkan secara ilmiah, maka pernyataan David Hume itu sendiri tidaklah bermakna. Pernyataan itu adalah sebuah pelarut filosofis yang melarutkan dirinya sendiri. Sang raja yang menyombongkan pakaian terbaiknya berada dalam keadaan telanjang.

Sungguh sebuah arogansi yang mencolok terhadap rasio yang sedemikian sempit, padahal sesungguhnya, irasionalitas itu sendiri telah gagal menilai dirinya! Alkitab bahkan menyebut ten tang orang semacam ini, yang melihat ke dalam cermin dan kemudian berlalu, tanpa mengingat seperti apa wajahnya. Sekarang ini ada banyak sekali penulis seperti Parris, yang membual bahwa mereka hidup dalam benderangnya sinar rasio dan sedang berusaha melepaskan dunia ini dari kegelapan kepercayaan religius apapun. Mereka sesungguhnya hanya sedikit lebih canggih daripada wanita yang berdiri di pinggir jalan yang berkata, "Jika Anda ingin agar ia ada, maka ia ada." Penjelasan mereka yang dangkal hanya membawa kerugian. Saya membahas kritik dari Hume ini di Oxford University baru-baru ini, dan seorang mahasiswa menghampiri saya di akhir pembahasan dan berkata, "OK, kami memang irasional, lalu kenapa!" Pembicaraan kami selanjutnya dapat berubah menjadi tragedi atau komedi, bergantung pada suasana hati sese orang.

94

95

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCAHIAN HASIO

Sungguh tragis, ada begitu banyak orang yang hidup dalam kegelapan irasionalitas, sambil berpegang teguh pada skeptisisme absolut mereka. Nubuat-nubuat, pribadi, dan karya Kristus, kebangkitan-Nya dari antara orang mati, dan sejumlah peneguhan lainnya sungguh-sungguh memiliki nilai-nilai verifikasi dalam sejarah. Apa yang diperbuat kaum naturalis terhadap semuanya itu? Tidak, iman Kristen bukanlah sebuah lompatan ke dalam kegelapan; melainkan sebuah kepercayaan yang diarahkan dengan tepat kepada terang itu - Sang Terang Dunia, yaitu Yesus.

Tetapi hal itu baru menyelesaikan separuh bagian dari masalah kaum naturalis. Beberapa tahun yang lalu, saya sedang menikmati makan malam dengan beberapa cendekiawan, kebanyakan di an tara mereka adalah para ilmuwan. Mereka adalah sekelompok orang yang luar biasa, dan saya merasa mendapat kehormatan bisa berada di tengah mereka. Pad a suatu saat, diskusi kami mengarah kepada konflik antara titik tolak naturalisme - alam dan hanya alam - dan

. titik tolak supernaturalisme, yaitu bahwa Allah adalah satu-satunya penjelasan yang memadai bagi asal usul keberadaan kita.

Saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka, "Jika Big Bang benar-benar menjadi permulaan dari segala sesuatu [pandangan ini diterima baik, setidaknya sejauh pemikiran sains saat ini], bolehkah saya bertanya, apa yang mendahului Big Bang?" Jawaban mereka, seperti yang telah saya duga, adalah bahwa alam semesta direduksi menjadi suatu SINGULARITAS*4.

Saya mencecar, "Tetapi bukankah singularitas seperti yang didefinisikan oleh sains merupakan suatu keadaan di mana semua hukum fisika tidak berlaku?"

"Itu benar," jawab mereka.

"Kalau begitu, secara teknis, titik tolak Anda pun tidak ilmiah." Tidak ada suara, dan ekspresi mereka menunjukkan usaha yang

tergesa-gesa untuk meloloskan diri. Tetapi saya masih memiliki pertanyaan lain.

Saya bertanya apakah mereka setuju bahwa ketika su.uu palldangan mekanistik tentang alam semesta telah menguasai, para pemikir seperti Hume telah mengecam para filsufyang mengambil prinsip kausalitas dan menerapkannya pada argumen filosofis untuk eksistensi Allah. Hume memperingatkan bahwa kausalitas tidak dapat diekstrapolasikan *5 dari sains kepada filsafat.

"Nah," saya menambahkan, "ketika teori kuantum menguasai, ketidakpastian dalam dunia subatomik menjadi dasar untuk kepastian dalam kehidupan. Bukankah Anda sendiri sedang melakukan ektrapolasi yang sebelumnya Anda kecam?"

Sekali lagi, semuanya terdiam dan kemudian satu orang berbicara dengan senyuman yang menunjukkan perasaan malu, "Kami, para ilmuwan tampaknya memang mempertahankan kedaulatan selektif atas apa yang menurut kami boleh dialihkan kepada filsafat dan apa yang tidak."

Itulah kebenaran yang benar-benar sulit diterima. Orang yang menuntut tanda dan pada saat yang sarna telah menetapkan bahwa segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah tidak bermakna, bukan hanya sedang bermain curang; ia sedang dikalahkan oleh pertandingan yang diciptakannya sendiri.

AKAL BUDI YANG MENOPANG 51 PENANYA

Masih ada satu hal lagi yang perlu diuraikan mengenai tuntutan akan sebuah tanda. Bukankah tuntutan itu sendiri merupakan suatu tanda? Bagaimanapun juga, alas an kita untuk menuntut suatu tanda adalah karena kita adalah makhluk yang berakal budi. Kita mencari bukti karena kita berpikir, dan pemikiran tidak lain adalah hasil dari sebuah pikiran. Tetapi akal budi kita tidak dapat menjadi alasan bagi kecenderungan rasio kita, jika tidak ada rasio tertinggi dan akal budi di balik eksistensi akal budi kita, karena pembingkaian dari akal

*4 singularity = nama lain dari BLACK HOLE, dipercaya menggambarkan keadaan alam semesta scbclurn terjadinya BIG BANG.

*5 extrapolate = memperkirakan nilai yang tidak diketahui dengan melanjutkan kurva yang didasarkan pada nilai-nilai yang sudah diketahui.

96

97

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASI(l

Eksistensi sel itu sendiri seharusnya menjadi salah satu hal yang paling menakjubkan di bumi. Manusia seharusnya berkeliling sepanjang hari, selama mereka terjaga, sambil menyatakan kekaguman yang tidak ada habisnya terhadap satu sarna lain, hanya memperbincangkan tentang sel itu ... Jika ada orang yang berhasil menjelaskannya, selama saya masih hidup, saya akan menyewa sebuah pesawat yang dapat menulis di langit'", mungkin seluruh armadanya, dan menyuruh pesawat-pesawat itu terbang tinggi untuk menuliskan satu demi satu kalimat pujian di seluruh penjuru langit, sampai seluruh uang saya habis."

tutan akan bukti dari Bertrand Russell memaksa sescorang 1111111" bertanya-tanya siapa yang harus memiliki iman yang lebih bexar. Apakah orang Kristen yang menggunakan akal budinya untuk mcmpercayai Allah, atau orang yang sarna sekali tidak berusaha untuk menjelaskan asal usul akal budinya, namun menggunakan akal budi itu untuk menuntut suatu tanda dan menolak untuk mempercayai Allah? Ketika Russell diminta untuk menjelaskan eksistensi alam semesta, ia berkata, "Semuanya ada dengan sendirinya." Itu bukan sebuah penjelasan. Itu adalah sebuah dalih. Dahulu kala, Raja Daud berkata dalam mazmur pujiannya kepada Allah, "AIm diciptakan secara dahsyat dan ajaib" (Mzm 139:14).

Bertahun-tahun yang lalu, saya membaca sebuah episode dari lembaran kartun "Born Loser". Brutus Thornapple tampak sedang bersantai di tepi pantai yang membentang dengan sangat luas. Ia berpaling kepada orang asing di sebelahnya dan menceritakan rahasianya, "Saya mampu membiayai perjalanan ini karena penggantian klaim asuransi sebesar sepuluh-ribu-dolar atas kebakaran yang terjadi di dalam rumah saya."

Pria itu menjawab, "Saya berada di sini karena penggantian klaim asuransi sebesar duapuluh-ribu-dolar untuk banjir yang menghancurkan rumah saya."

Brutus tampak kalah telak dan kemudian ia berpaling untuk menatap pria itu sambil berbisik, "Bagaimana caranya membuat banjir?"

Kebakaran kecil dan banjir kecil mudah diciptakan jika Anda memiliki korek api dan air. Bagaimana caranya sebuah alam semesta, yang tidak berasal dari apapun, menanamkan informasi spesifik yang cukup ke dalam setiap helaian DNA manusia untuk dapat mencakup enam ratus ribu halaman informasi dari kenihilan? Intelegensi merupakan bagian intrinsik dari keberadaan kita yang diciptakan. Yesus memperingatkan kita untuk tidak mengambil apa yang bersifat intrinsik dan memanipulasinya menjadi sebuah skenario yang mengesampingkan faset-faset lainnya, yang juga bersifat intrinsik, yang mengarahkan kita kepada Allah.

budi kita merupakan hasil dari informasi yang kompleks. Kita bukan hanya harus kagum pada apa yang diselidiki oleh akal budi kita, melainkan pada akal budi itu sendiri. Lewis Thomas memberikan komentar ini dalam Medusa and the Snail tentang blueprint yang kayainformasi dalam gen manusia.

Dalam tulisannya yang juga membahas tentang sel manusia ini, Chandra Wickramasinghe, profesor matematika terapan di U niversity of Cardiff, Wales, mengingatkan para pembacanya bahwa probabilitas statistik untuk membentuk satu enzim saja, yaitu blok yang menyusun gen yang akhirnya menjadi blok penyusun sel, adalah 1 banding 10 pangkat 40.000. Bila diterjemahkan, maksudnya adalah untuk membentuk satu enzim akan dibutuhkan usaha yang melebihi jumlah atom yang ada di seluruh bintang dari seluruh galaksi di dalam seluruh jagad raya yang kita kenaI. Meskipun ia adalah seorang Buddhis, Dr. Wickramasinghe menerima konsep supernatural ini."

Begitu "mustahilnya" peristiwa ini, sehingga Francis Crick, ilmuwan pemenang Hadiah Nobel yang membantu memecahkan kode DNA manusia berkata bahwa hal itu "hampir merupakan sebuah mukjizat."?

Singkatnya, baik ujian dari David Hume sendiri maupun tun-

*r, skywriting airplane = pesawat yang mengeluarkan asap untuk membentuk tulisan yang dapat tcr lihat di langit.

98

99

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

Karena itu, singkatnya, iman kepada Yesus Kristus merupakan sebuah komitmen kognitif, emosi dan moral kepada apa yang dapat bertahan melewati penyelidikan saksama dari akal budi, hati, dan hati nurani. Iman bukanlah pegangan di masa genting yang dapat menyelamatkan kita ketika kehidupan kita tidak terkendali. Iman berarti menata kembali setiap ancaman dan kemungkinan yang ada dalam hidup ini ke dalam rancangan Allah.

Itulah sebabnya Yesus mempertanyakan anggapan bahwa pertambahan bukti akan menghasilkan pertambahan iman. Bertahuntahun yang lalu, George Macdonald berkata bahwa memberikan kebenaran kepada orang yang tidak mencintai kebenaran hanya akan memberikan lebih banyak alasan bagi penafsiran yang keliru.

BUKTI YANG MENGALAHKAN SEMUA BUKTI LAIN

Mereka yakin bahwa perkataan-Nya hanyalah omong kosong. Penggenapan dari nubuat itu menyatakan keunikan Yesus yang mengalahkan semua pesaing.

Penting untuk diperhatikan bahwa Yesus tidak sekadar menubuatkan kebangkitan spiritual. Hal itu akan merupakan jalan keluar yang mudah. Ia menubuatkan kebangkitan fisik yang dapat dibuktikan. Setelah Ia dibaringkan di dalam kubur, para penguasa Bait Allah hanya perlu menunjukkan tubuh-Nya untuk menggagalkan klaim-Nya. Tetapi mereka tidak sanggup. Ia membuktikan persis apa yang telah dijanjikan-Nya.

Ia membawa pengharapan dengan menunjukkan bahwa kematian sudah ditaklukkan. Paulus, yang mengenal klaim Kristiani itu, berkata bahwa jika pengharapan yang berasal dari kebangkitan Kristus dari antara orang mati tidak benar, "kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia" (1 Kor. 15:19 KJV). Perjumpaan dengan Yesus yang sudah bangkit itulah yang mengubah pribadi yang keras kepala ini, seorang pembunuh bernama Saulus dari Tarsus, menjadi rasul Paulus.

Tetapi keunikan dari kebangkitan-Nya tidak dibiarkan menjadi sebuah pengharapan "futuristik." Keunikan itu dikaitkan dengan hak-hak istimewa dan tanggung jawab-tanggung jawab di masa sekarang. Di sinilah Yesus beralih melampaui preteks dan teks-Nya menuju kepada konteks yang lebih luas bagi kita semua.

Kini Yesus memberikan teks dari jawabannya untuk melawan ujian terbesar terhadap klaim-Nya: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."

Bukti apakah yang lebih penting yang dapat diberikan oleh Yesus selain kebangkitan-Nya dari antara orang mati? Naturalisme dipaksa untuk mempercayai bahwa kematian adalah terhentinya kehidupan, terhentinya aktivitas otak seseorang tanpa kemungkinan untuk bekerja kembali. Kematian mengandung pengertian tentang finalitas yang belum pernah mampu dihilangkan oleh diskusi selama berabad-abad. Sang filsuf, Albert Camus, berkata dengan nada ironis, "Kematian adalah satu-satunya masalah dalam filsafat." Seandainya saja kematian dapat ditaklukkan, kehidupan dapat didefinisikanulang.

Yesus memberikan bukti terpenting tentang otoritas-Nya dengan menubuatkan kematian-Nya dan saat kebangkitan tubuh-Nya secara akurat. Dari antara semua manusia, para penguasa Bait Allah scharusnya bersikap waspada terhadap janji-Nya, tetapi mereka tidak pernah bermimpi bahwa hal itu akan sungguh-sungguh terjadi.

KETIKA TUBUH MENJADI TIDAK BERARTI

Di awal bab ini, saya menyatakan bahwa Yesus menggunakan konsep ten tang tubuh untuk berbicara tentang bait Allah karena suatu alasan. Kata-kata-Nya sungguh-sungguh memiliki makna ganda yang ditujukan bagi kaum skeptik sekaligus bagi pribadi yang religius. Alkitab berkata bahwa orang-orang yang mendengar Ia mengucapkan kata-kata ini tidak tahu bahwa Ia sedang berbicara ten tang bait tubuh, yang disebut-Nya sebagai "bait Allah." Itulah konteks ba-

100

10 1

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

gijawaban-Nya. la mengangkat pandangan mereka melampaui batubatu dan mortar ke tempat yang ingin didiami-Nya - di dalam diri setiap manusia. Tubuh Anda dan tubuh saya adalah bait suci-Nya.

Ini merupakan sebuah penghargaan yang luar biasa terhadap kesakralan makna menjadi manusia. Artinya tubuh ini dianggap patut dihormati dan dihargai. Tidak hanya bukti dari otoritas Yesus yang berbeda dengan tokoh lainnya yang mengklaim dirinya sebagai Allah, aplikasi dan implikasinya juga menampilkan perbedaan yang sangat besar.

Sekarang, perhatikan baik-baik penjelasan saya ini. Dalam semua agama panteistik dan dalam pemikiran Zaman Baru, tubuh dipandang sebagai perpanjangan atau kelanjutan dari alam semesta. Pembicara populer dan penulis Deepak Chopra menjadi contoh klasik dari hal ini. la adalah eksponen dari tema-tema spiritualitas, kekayaan, dan keberhasilan, dan ia mewakili suatu world-view yang pada hakikatnya bersifat panteistik dan membanggakan perpaduan antara naturalisme dengan spiritualitas. Chopra memberikan argumen tentang kesamaan materi di dalam diri kita dengan setiap bagian alam semesta. la juga berargumen lebih lanjut bahwa, dalam ketidakpastiannya, dunia subatomik menyediakan dasar bagi semua kehidupan. Dari ketidakpastian dan kesatuan kosmis ini kita menemukan keberadaan kita, nilai-nilai umum kita, dan sasaransasaran spiritual kita. Beginilah penjelasannya dalam bukunya The Seven Spiritual Laws if Success:

Pada level rnateri, Anda dan [sebatang] pohon dijadikan dari elernenelernen yang sarna-sarna didaur-ulang: sebagian besar adalah karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan elernen-elernen lainnya dalarn jurnlah yang sangat kecil. Anda dapat rnernbeli elernen-elernen ini dalarn sebuah toko yang rnenjual barang-barang dari logarn dengan harga beberapa dolar.... Perbedaan sesungguhnya antara Anda dengan pohon tesebut terdapat dalarn energi dan inforrnasi .... Tubuh Anda tidaklah terpisah dari tubuh alarn sernesta, karen a pada level-level rnekanika kuanturn, tidak ada batasan-batasan yang jelas. Anda bagaikan sebuah

goyangan, sebuah gelornbang, sebuah fluktuasi, sebuah konvolusi, sebuah pusaran air, sebuah gangguan lokal dalarn bidang kuanturn yang lebih luas. Bidang kuanturn yang lebih luas - alarn sernesta - adalah perpanjangan tubuh Anda."

Seharusnya orang bertanya bagaimana pemikiran seperti ini dapat benar-benar mempertahankan integritas logika. Sebenarnya, pemikiran tersebut melanggar disiplin sains sekaligus agama. Pandangan itu mereduksi keberadaan saya menjadi materi belaka sekali gus merohanikannya dan meninggikan akal budi ke posisi supremasi spiritual sekaligus menaturalisasikannya. Membangun seluruh filosofi kehidupan di atas dunia subatomik yang impersonal, pada saat yang sama mendukung ketidakpastian dan kemutlakan adalah bagaikan us aha menciptakan keajaiban dengan kata-kata. Chopra menciptakan ekstrapolasi-ekstrapolasi filosifis yang pada intinya merupakan lompatan-Iompatan kuantum. Seseorang bisa saja berargumen bahwa seandainya deduksi-deduksinya benar, filosofisasinya tidak lebih dari sebuah goyangan at au sebuah gelombang at au sebuah gangguan lokal, yang diduga dilakukan dengan mengatasnamakan hikmat dan kesuksesan. Dunia esensi manusia dari Chopra dan uraian Yesus tentang nilai manusia saling bertolak belakang.

Sebuah kebenaran yang diakumulasikan dari karya Shakespeare The Merchant oj venice menyediakan sebuah ilustrasi untuk hal ini. Pada dasarnya kisah ini menceritakan tentang seorang pria yang telah meminjamkan sejumlah uang kepada teman dari temannya. Orang yang meminjamkan, Shylock, menuntut pertanggungjawaban temannya, Antonio, untuk mengembalikan uang itu sampai lunas. Jika hutang itu tidak dibayar, menu rut perjanjian, Shylock berhak mengambil satu pon daging dari tubuh Antonio". Seperti yang diduga, kapal-kapal Antonio hilang di lautan, dan ketika waktunya tiba untuk melunasi hutangnya, ia tidak memiliki uang untuk mem-

*7 getting a pound offlesh = orang yang meminjamkan uang boleh mengambil apa saja dari orang yang tidak dapat membayar hutangnya, sekalipun sebenarnya ia tidak mcrnbutuhkan hal iru dan apa yang diambilnya itu akan membuat pemiliknya mendcrita.

102

1 03

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

bayarnya. Dengan senang, Shylock menuntut bagiannya yang telah disepakati dalam perjanjian. Tetapi sang hakim, yang tidak bersedia mengalah, memutuskan, "Engkau dapat mengambil bagianmu, tetapi jika engkau menumpahkan satu tetes darah saja dalam prosesnya, kau harus membayarnya dengan darahmu sendiri." Tiba-tiba saja, Shylock telah kalah dalam permainannya sendiri.

Adalah tidak mungkin untuk mengambil satu pon daging dari tubuh orang yang hidup tanpa menumpahkan darah seperti halnya adalah mustahil untuk menjadikan tubuh itu sakral sekaligus mereduksinya menjadi materi belaka. Kaum natural is tidak mungkin mempertahankan pandanganrrya ten tang tubuh tanpa mengorbankan kehidupan di dalamnya. Melalui substansi tubuh manusia mengalir kehidupan. Hidup itu melebihi materi. Agama-agama yang berusaha mempertahankan kesakralan tubuh sekaligus menolak tangan Sang Pencipta sarna saja dengan kaum skeptik yang berusaha melindungi kehidupan sekaligus mengatakan bahwa kehidupan tidak lebih dari materi.

Seluruh desakralisasi yang telah menelan budaya kita berakar

pada perjuangan untuk memahami posisi dan kesakralan tubuh ini. Hak hidup dari setiap individu, bahkan individu yang masih berada di dalam rahim ibunya; kepuasan seksual dan persetubuhan, yang hanya boleh dinikmati dalam kekudusan pernikahan; larangan bunuh diri; perawatan dan perlindungan kesehatan; larangan untuk membunuh; dan perintah untuk lebih mengasihi orang lain daripada diri kita sendiri dan untuk mengusahakan kesejahteraan orang lain - semuanya ini mengalir dari fakta bahwa tubuh ini menjadi temp at kediaman Allah. Dunia kita akan berubah seandainya kita memahami hak istimewa yang serius ini.

Dengan hilangnya kebenaran ini, apa yang tersisa? Pornografi dan degradasi yang kejam dari pria, wanita, dan anak-anak; pembunuhan janin dalam rahim yang mengatasnamakan hak pribadi; perpecahan keluarga karena alasan-alasan yang tidak terhitung; pencemaran seks dalam industri hiburan kita; kekerasan dalam proporsi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Manusia hanya

dapat menangisi pertumpahan darah dan kerugian yang dialami. Ketika kita tidak menghargai nilai yang mulia, yang ditetapkan Allah atas tubuh kita, kita sedang mengalami kejatuhan yang sangat cepat dan tidak terkendali ke dalam ketamakan, kekejaman, dan nafsu.

Dalam perjalanan saya ke suatu belahan dunia, saya duduk di sebe1ah seorang wanita yang bekerja untuk sebuah lembaga perwakilan internasional yang menangani anak-anak. Ketika kami berbincang-bincang, ia mengaku pada saya bahwa setelah menyaksikan segala sesuatu yang terjadi di dalam pekerjaannya, ia merasa sulit untuk tetap bersikap optimistik terhadap masa depan dunia ini. Mengapa, tanya saya, ia telah menjadi begitu sinis? Ia terlihat ragu dan mulai menceritakan kisah-kisah yang menghancurkan hati. Ia menyebutkan sebuah kota yang baru dikunjunginya dan menguraikan kengerian yang terjadi di sana. Di suatu tempat di kota itu yang bernama "Snake Alley", para pria datang pada malam hari dan meminum campuran darah ular dan alkohol. Saat mereka berada dalam pengaruh minuman itu, mereka dibawa ke sebuah kamar di bagian belakang di mana telah disiapkan anak-anak untuk melayani nafsu seksual mereka. Wanita ini berkata pada saya bahwa anak termuda yang mereka selamatkan dari keadaan yang mengerikan ini baru berusia sebe1as bulan. Tentu saja ada banyak anak yang diperalat seperti ini dan kemudian tewas, seringkali pada saat kebejatan itu dilakukan. "Di manakah para ayah dari sebuah kota yang seperti itu?" Saya bertanya. "Merekalah yang telah menjerumuskan anakanaknya demi uang," jawabanya dengan sedih.

Bagaimana mungkin hal seperti itu dilindungi oleh huknm?

Ataukah lebih mudah bagi kita untuk berpura-pura bahwa hal itu tidak terjadi? Malapetaka kekerasan dan kekejaman adalah hasil dari pikiran yang telah kehilangan penghargaan terhadap tubuh dan tubuh yang telah kehilangan kekudusannya.

Di Amerika, meskipun kisahnya berbeda, prinsip dasarnya tetap sarna. Pada bulan Maret 1998, dua remaja putra berusia sebelas dan tiga be1as tahun mengamuk dan menembaki sekolah mereka di Jonesboro, Arkansas, menewaskan empat anak perempuan dan

104

1 05

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

JESUS AMONG OTHER GODS

memuaskan,' sebab jika tubuh kita adalah ternpat kcdiaman-Nya, ibadah tidak dibatasi oleh lokasi. Tidak ada world-view religius lain yang menghubungkan tubuh dengan bait suci. Bahkan, dalam setiap world-view lainnya, tubuh dipisahkan dari bait suci. Ada aturanaturan yang harus dipenuhi oleh tubuh sebelum mcmasuki bait suci. Tata cara untuk memasuki "tempat-tempat suci" untuk beribadah itu diatur dalam suatu litani berisi prasyarat-prasyarat.

Sementara menulis buku ini, saya mendapat kehorrnatan untuk menyaksikan festival Thaipusam di suatu negara. Semen tara saya berjalan di an tara kerumunan orang banyak dan melihat segala scsuatu yang terjadi karena kerinduan mereka untuk beribadah, pikiran saya berulang kali terguncang. Para pengikut yang terlibat dalam upacara ini tampak bersedia melakukan hal-hal yang mengerikan untuk dapat diterima oleh dewa mereka. Besi-besi tajam ditancapkan ke tubuh mereka, dan tusukan-tusukan besar ditusukkan dari satu sisi wajah mereka hingga menembus ke sisi yang lainnya. Tusukan lainnya menembus lidah mereka, dan mereka berpawai sejauh berrnil-mil dan selama berjam-jam dengan alat-alat yang menempel di tubuh mereka itu. Terlebih lagi, setiap pengikut diikuti oleh seorang penolong, yang mengendalikan besi-besi pengait itu dan menariknya ke arah yang berlawanan, memaksa sang pengikut untuk berjuang melawan kekuatan itu sementara mereka berjalan. Di akhir perjalanannya, ia meniti seratus anak tangga menuju ke kuil Lord Murugan, putra kedua dari sang dewa Hindu, Syiwa.

Orang terkejut menyaksikan bahwa tubuhnya tidak robek dan kalaupun ada yang robek, hanya sedikit darah yang keluar. Setiap pengikut itu sedang kesurupan. Kuil itu menjadi ramai saat masingmasing pengikut tiba dan dilepaskan dari beban yang telah dipikulnya, dan upacaranya diteruskan. Tanda abu di dahinya di penghujung hari itu berasal dari abu kotoran sapi yang sudah dibakar dan "disucikan". Semuanya ini dilakukan untuk mendapatkan berkat dari dewa yang disembahnya dalam "kekudusan" bait suci, temp at perjumpaannya dengan allahnya, dan agar ia diberkati oleh para

seorang guru serta melukai sepuluh orang lainnya. Tragedi di Westside Middle School ketika itu merupakan peristiwa pembantaian sekolah yang terbesar di Amerika. Pada malam setelah penembakan itu, ada banyak orang yang mendapatkan pelayanan konseling dalam kelompok-kelompok kecil di ruang tunggu rumah sakit. Para ternan dan kerabat menunggu berita dari para korban. Seluruh situasinya diwarnai oleh kehancuran dan ketakutan.

Di sebuah sudut duduklah seorang wanita seorang diri, ia tampak kebingungan dan tidak berdaya. Seorang konselor menghampirinya untuk menanyakan apakah ia membutuhkan bantuan, dan mendapati bahwa ia adalah ibu dari salah satu anak perempuan yang tewas. Ia tidak bersuami, tidak memiliki ternan ataupun sanak keluarga. "Saya hanya datang untuk menanyakan bagaimana saya bisa mendapatkan kembali jenazah anak perempuan saya," katanya. Tetapi jasad putrinya telah dibawa ke Little Rock yang berjarak seratus mil dari situ untuk diotopsi.?

"Saya hanya datang untuk mengambiljenazah putri saya."

Ia tidak datang untuk mengambil sebuah goyangan atau sebuah gelombang atau sebuah fluktuasi. Ia datang untuk mengambil tubuh putrinya, bukan sekadar suatu perpanjangan dari alam semesta. Sungguh sebuah peringatan yang mengejutkan bagi kita semua. Kita menyepelekan tubuh dalam kesenangan kita. Kita memperlakukannya sebagai alat untuk mencapai sasaran-sasaran yang lain. Tetapi ketika ajal menjemput, kita menyambarnya dan memegangnya eraterat karena hanya itulah yang tersisa.

Yesus menegaskan bahwa tubuh bukan hanya berbeda secara informasi dari kuantitas-kuantitas lainnya; tubuh memiliki tujuan yang berbeda. Itulah sebabnya inti kebangkitan terletak pada tubuh. Tubuh memiliki kepentingan yang kekal, bukan hanya temporal.

PUllAN YANG MENGAGUMKAN

Ramifikasi terakhir dari kata-kata Yesus kepada kita semua sungguh

107

106

JESUS AMONG OTHER GODS

ANATOMI IMAN DAN PENCARIAN RASIO

Imam. Dari manakah asal kepercayaan-kepercayaan yang aneh semacam ini?

Para pembaca tentunya ingat pada peristiwa pembunuhan terhadap perdana menteri India, Indira Gandhi. Pembunuhnya ingin membalas dendam karena Indira telah mengirim pasukan militer ke dalam Kuil Sikh, yang menjadi tempat penyimpanan senjata. Ia dibunuh untuk melestarikan sebuah bait suci. Yesus sudah akan memberitahu mereka bahwa mereka sesungguhnya telah menghancurkan apa yang seharusnya menjadi bait suci-Nya untuk mempertahankan suatu tempat.

Belum lama ini, ada dua kelompok agama yang terlibat dalam pengeboman dan pembunuhan karena pembangunan sebuah tempat ibadah di tempat keramat yang dipercaya sebagai tempat kelahiran salah satu dewa dari agama yang lain. Ironisnya, kemarahan ini merupakan tindakan pertahanan logis dari sebuah kepercayaan yang mengagungkan tempat sebagai lokasi eksklusif untuk bertemu dengan atau menghadap Allah.

Islam menganggap bahwa Kekristenan mencemarkan nama Allah dan menyebut inkarnasi Yesus sebagai penghujatan. Namun dalam inkarnasi-Nya, Ia meninggikan tubuh, pertama-tama dengan dikandung dalam rahim seorang perawan, kemudian dengan mengambil rupa seorang manusia dan menyatakan kemuliaan Allah di dalam daging.

Sejarah Kekristenan tidak bebas dari penyimpangan. Tetapi Yesus mengirimkan berita yang lantang dan jelas. Kitalah bait suci-Nya. Kita tidak perlu menghadap ke arah tertentu untuk berdoa. Kita tidak terikat oleh kewajiban untuk pergi ke suatu tempat agar kita dapat bersekutu dengan Allah. Tidak ada sikap tubuh dan waktu dan batasan-batasan khusus yang membatasi akses kita kepada Allah. Relasi saya dengan Allah bersifat intim dan personal. Orang Kristen tidak pergi ke bait suci untuk beribadah. Orang Kristen membawa bait suci itu di dalam dirinya. Yesus mengangkat kita melampaui bangunan dan memberikan kehormatan tertinggi kepada tubuh manusia dengan menjadikannya sebagai tempat kediaman-Nya, tempat

di mana Ia berjumpa dengan kita. Sekarang ini pun Ia akan membalikkan meja-meja dari mereka yang menjadikan bait suci sebagai tempat memperjual-belikan nafsu pribadi, ketamakan, dan kekayaan mereka.

Bukankah ini merupakan kebenaran yang sangat mengejutkan di balik ungkapan sang wanita yang menuangkan minyak dari bulibuli pualam ke kaki Yesus, seperti yang diceritakan dalam Lukas 7? Di satu sisi, itu adalah persiapan untuk kematian-Nya, tetapi di sisi lain ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi. Ia adalah seorang wanita yang memiliki reputasi buruk. Penghasilannya mungkin diperoleh melalui pelacuran. Kini Yesus menyambut dia dan memulihkan nilai tubuh manusia baginya. Dalam bait suci duniawinya yang kotor, ia datang untuk memberikan persembahan kepada Dia yang akan mendiami tubuhnya itu. Yesus berkata bahwa di manapun injil diberitakan, apa yang telah dilakukan oleh wanita ini untuk-Nyajuga akan diceritakan. Itulah perjumpaan yang paling agung antara kecemaran wanita itu dengan kemurnian-Nya. Hal itu mewakili perubahan relasi an tara tempat kediaman dan penghuninya. "Kristus di dalam kamu," kata rasul Paulus, adalah "pengharapan kemuliaan" (Kol. 1:27). Berita apakah yang lebih mulia selain berita yang menyatakan bahwa Dia berkenan tinggal di dalam Anda?

"Tanda apakah yang dapat Engkau berikan kepada kami?" seru mereka.

"Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali."

Mereka tidak mengerti bahwa Ia sedang berbicara tentang bait suci tubuh. Mengapa? Karena dalam ketamakan dan kecintaan mereka akan kekuasaan, mereka terpaku pada bait suci yang terbuat dari batu. Betapa besarnya kerugian mereka dalam mengeksploitasi orang lain, bait suci lain - dan sesungguhnya bahkan diri mereka sendiri - yang di dalamnya Allah ingin berdiam. Tidak ada tokoh lain yang akan memberikan jawaban seperti Yesus.

1 08

1 09

Bab4

KENIKMATAN BAGI ]IWA

KONON, "KEBENARAN ITU lebih aneh daripada fiksi."

G.K. Chesterton, dengan humornya yang segar, mengungkapkan alasannya: "Karena kita telah menerima fiksi sebagai bagian dari diri kita." Teknik-teknik zaman-modern hanya memperbesar kapasitas untuk menghasilkan kebohongan secara massal. Dengan kombinasi dari kecenderungan dan fasilitas, kita hidup dengan realitas yang menjadikan kebenaran itu terkadang mustahil untuk dipercaya.

Beberapa tahun yang lalu, saya dan keluarga sedang mengunjungi kota Bedford, England, yang terletak di bagian barat temp at tinggal kami di Cambridge. Di jantung kota Bedford menjulang patung raksasa penulis terkemuka abad ketujuh-belas, John Bunyan. Ternyata, ukuran patung itu begitu mengesankan sehingga ada orangorang iseng yang telah melukis jejak kaki raksasa berwarna putih di sepanjang jalan-jalan dari bangunan megah itu menuju ke WC umum. Pesan yang tersirat, secara sarkastis atau tidak, ialah bahwa Bunyan masih hidup.

Setiap pembaca kesusastraan mengetahui bahwa meskipun Bunyan telah lama tiada, karyanya yang cemerlang, Pilgrim's Progress, masih tetap hidup. Buku itu telah diterjemahkan ke dalam lebih banyak bahasa dibanding buku apapun di dalam sejarah, kecuali Alkitab. Kami berkeliling di dalam museum yang dibangun untuk mengenangnya, yang memamerkan salinan dari buku itu dalam setiap bahasa terjemahan yang sudah dicetak. Kami cukup terkesan

1 1 1

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

dengan orang-orang dari berbagai negara yang sedang asyik memperhatikan, sambil berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain untuk mencermati apa yang dipamerkan.

Dalam perjalanan pulang, saya berkomentar kepada wanita di meja penerimaan tamu, "Bukankah menakjubkan jikalau sebuah buku kecil yang begitu sederhana, yang ditulis oleh seorang pembuat panci dan wajan telah memenangkan pujian dari seluruh dunia?"

Ia terdiam dan berkata, "Mungkin memang begitu, tetapi saya harus mengakui bahwa saya belum membacanya."

Seandainya tidak ada lantai keras yang menopang saya, sudah pasti saya akan jatuh pingsan. Saking bingungnya, saya bertanya padanya, "Mengapa begitu?"

"Karena saya merasa buku itu terlalu sulit," jawabnya dingin. Seandainya keterkejutan saya bisa diukur dengan sebuah skala, maka pada saat itu, saya hampir melewati batas skala yang ada. Apa yang harus dikatakan kepada seseorang yang menjual tiket masuk ke suatu museum yang didirikan karena sebuah buku, jika ia sendiri belum membaca buku itu? Saya menyarankan setidaknya demi keingintahuan atau kewajaran belaka, agar dia setidaknya mencoba membaca versi untuk anak-anak sehingga dia dapat sedikit merasakan apa yang sedang digandrungi itu.

Sungguh sebuah ilustrasi yang mengagumkan tentang kemiskinan yang diciptakan-sendiri! Anda mungkin saja menggenggam sebuah hart a di tangan Anda tetapi kemudian mengabaikannya dan hanya menginginkan bungkusnya. Berada sangat dekat dengan kebenaran namun jauh dari nilainya sangat sering terjadi dalam hidup kita. Dalam kata-kata Chesterton, kita memegang debunya dan melepaskan emasnya.

Tidak ada seorangpun yang lebih sering menyaksikannya dibanding Yesus. Orang banyak seringkali datang kepada-Nya dan pergi dengan mendekap hal-hal yang lebih remeh sambil melepaskan harta sesungguhnya yang sedang ditawarkan-Nya. Ia seringkali tampak terkejut dengan kedangkalan mereka, ketidakmampuan mcreka untuk melihat lebih dalam.

Salah satu ilustrasi paling dramatis dari kegagalan ini diilustrasikan dalam perjumpaan mereka dengan sebuah kebenaran yang memukau sekaligus dramatis. Tragedi yang terus bertahan di sepanjang sejarah adalah bahwa ada jutaan orang yang telah melakukan kesalahan yang sarna dan membiarkan kata-kata Yesus ini entah tidak terbaca at au diselewengkan secara memalukan.

Saya pernah mengalami dampaknya dalam sebuah kesempatan tanya-jawab. Saya baru saja selesai berkhotbah di hadapan sekelompok pendengar yang kurang bersahabat di India. Selama waktu tanya-jawab, seorang pria mendadak berteriak dari bagian belakang tenda, "Orang Kristen adalah kanibal! Yesus mengajarkan kanibalisme!"

Sarna sekali tidak ada kaitan logis ataupun tematik antara apa yang telah disampaikan dengan semburan kata-katanya. Serangannya hanya mengungkapkan semangat perlawanannya terhadap berita iman Kristen. Berdasarkan pengalaman saya, meskipun saya tidak pernah terbiasa menghadapi serangan-serangan seperti ini, saya sudah belajar untuk mengantisipasinya. Kecenderungan alami saya adalah untuk balik menyerang dan berusaha memberikan balasan yang setimpal.

Tetapi itu bukanlah jawaban untuk seorang penanya yang marah.

Malah, respon seperti itu hanya akan menghilangkan efektivitas dari jawaban apapun. Sebenarnya sementara saya berdiri di sana, saya kira-kira dapat memahami mengapa pria ini menyindir seperti itu, meskipun sebagian besar hadirin me nahan napas mendengar tuduhannya.

Saya menjawab dengan sebuah sanggahan sederhana. "Mengapa Anda berkata demikian, dan apa dasarnya?"

Ia tidak dapat menjawabnya. Ia meyakinkan saya bahwa jika saya memberinya waktu untuk berlari pulang ke rumahnya dan memeriksa buku yang menuliskan hal itu, ia dapat mempertanggungjawabkan tuduhannya.

Sebenarnya ia tidak perlu pulang untuk mencari bukunya. Saya bisa saja menyebutkan nama filsuf yang dimaksudkannya dan pada

1 12

1 1 3

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

halaman berapa tuduhan itu tercantum. Para filsuf antiteistik tidak me nahan penghinaan mereka dalam kegigihan mereka untuk mengolok-olok perkataan ini di an tara semua perkataan Yesus. Jadi saya tahu persis apa yang ada dalam pikiran mahasiswa ini. Saya menawarkan kepadanya untuk maju ke podium dan memperdebatkan hal ini, tetapi ia menolak tawaran itu.

"Orang Kristen adalah kanibal!"

Apa gerangan yang sedang dibicarakannya? Pernahkah ia membaca Alkitab? Pernahkah ia mencari penjelasan untuk apa yang dibacanya? Atau apakah ia memang ingin memahaminya seperti ini?

Bagi mereka yang telah dibesarkan dalam keluarga Kristen atau telah dibesarkan dalam kehidupan gereja yang aktif, pemikiran aneh semacam ini mungkin tidak pernah muncul. Tetapi bagi orang yang datang kepada Kristus dari luar lingkungan Kristen, atau bagi kaum skeptik yang sedang mencari sebuah argumen, memang ada suatu bagian dalam Alkitab yang menimbulkan keresahan. Kata-kata ini diungkapkan tanpa tedeng aling-aling sehingga menyinggung sensitivitas.

"Inilah tubuh-Ku ... Ambillah dan makanlah." "Inilah darahKu ... Minumlah semuanya."

Kata-kata yang diucapkan Yesus ini begitu mengejutkan sehingga saya tidak dapat sepenuhnya menyalahkan reaksi mahasiswa itu. Saya ingat sekali ketika masih kecil saya mendengarkan kata-kata yang sangat menyentuh ini diucapkan dengan gaya khotbah, Minggu demi Minggu, di gereja yang dengan terpaksa saya hadiri. Tetapi yang paling saya ingat adalah saya takut kalau kebaktian itu akan berlangsung lama dan sarna sekali tidak memahami makna yang dilambangkan oleh kata-kata itu - bahkan, saya tidak pernah memikirkannya. Saya mernang melihat ada orang-orang yang berjalan ke altar, berlutut di altar dengan menengadahkan kedua telapak tangannya, menerima sesuatu yang akan mereka makan. Bagi saya, segala sesuatunya sudah diperhitungkan waktunya. Saya tahu bahwa ketika kata-kata itu diucapkan kebaktian akan berakhir sekitar duapuluh menit lagi, dan satu jam lagi saya akan berada di lapangan

cricket atau di dalam bioskop.

Saya berada begitu dekat dengan salah satu kebenaran dan interaksi yang paling agung yang pernah diajarkan dan didemonstrasikan oleh Yesus, namun saya tidak menyadari maknanya. Seperti pegawai di museum Bunyan, saya membiarkan kata-kata itu tidak terbaca. Kini saya tahu bahwa bagi seseorang yang sungguh-sungguh berusaha memahami makna dari semuanya ini, kedalaman maknanya sung-guh tidak terukur.

Sekali lagi, jika kita ingin menempuh jalan yang menuju kepada pemahaman, kita harus mengupas pernyataan Yesus secara berurutan. Dimulai dengan yang sederhana, dilanjutkan dengan yang mendalam. Saya percaya, ucapan-Nya menawarkan sebuah elemen injil yang menunjukkan kontras yang brilian dan tidak dapat disangkali keunikannya di antara kepercayaan-kepercayaan lainnya.

DIDORONG OLEH YANG SENSASIONAL

Bumi penuh sesak oleh surga,

Dan seluruh semak menyala karena Allah;

Tetapi hanya orang yang melihat yang menanggalkan sepatunya; Yang lain duduk mengelilinginya dan memetik beri hitarn'.

Begitulah bunyi syair Elizabeth Barrett Browning. Ratapannya membawa kita kern bali kepada perjumpaan yang mempesona, ketika Allah menampakkan diri kepada Musa dalam semak yang menyala dan mengutus dia untuk memimpin umat-Nya keluar dari perbudakan dan memasuki negeri yang melimpah dengan susu dan madu. Epifani*l tersebut, sebagaimana dilontarkan oleh Browning, bukan ditujukan untuk memenuhi selera kuliner dari Musa. Dapat saya tambahkan, begitu juga guntur dan kilat di Sinai bukan dimaksudkan agar umat itu menikmati keindahan datarannya.

*1 perjumpaan dengan Allah.

1 1 4

1 1 5

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

Hadirnya elemen-elemen yang menakjubkan dan hampir menakutkan itu dalam kedua momen yang menentukan bagi umatNya ini dimaksudkan untuk membuat mereka melihat Dia yang mengontrol elemen-elemen tersebut, bukan terpaku pada keajaibankeajaiban yang ada. Kehadiran Allah yang tidak terbatas menghiasi peristiwa-peristiwa ini dengan kemegahan yang menyilaukan dan tidak terkatakan. Betapa tidak terhitung kerugian yang dialami umat itu ketika tanda-tanda dijadikan sasaran akhir dan Dia yang dilambangkan oleh semuanya itu dijadikan sebagai alat untuk meneapainya. Efek-efek khusus menjadi atraksinya, sementara figur sentralnya tidak dikenali. Seluruh umat manusia telah hidup dalam kebutaan semaeam ini, dan kesalahannya telah diulangi dalam hampir setiap kehidupan.

Dan itulah yang terjadi, sehingga berabad-abad setelah peristiwa itu, orang masih terkungkung dalam kebutaan itu. Orang banyak dalam pelayanan Yesus mengikuti Dia dan hanya menghabiskan waktu-Nya. Mereka datang dengan mengajukan sebuah tantangan one-upmanship'? kepada-Nya untuk menandingi manna dari surga yang diberikan Musa kepada umat-Nya. Mereka tidak pernah menduga akan mendapatkan sebuah jawaban yang begitu keras seperti yang diberikan-Nya. Pembiearaan tentang roti merupakan bagian yang lebih mudah. Namun, apa yang diueapkan sesudah itu membuat mereka tereengang. Setelah Ia selesai berbieara, banyak orang meninggalkan Dia sambil bertanya, "Bagaimana mungkin kita dapat menerima perkataan yang keras ini?"

Kebenaran yang disampaikan dalam peristiwa ini sesungguhnya tidak dapat dipereaya karena pikiran mereka tidak bersedia untuk merenungkan persyaratan dan tentu saja implikasinya. Di antara harapan mereka dengan tawaran-Nya terbentang jurang yang amat lebar, dan mereka mulai pergi tanpa berusaha untuk meneari penjelasan. Yesus kemudian memandang murid-murid-Nya dan bertanya apakah mereka tidak mau pergi juga. Apakah semuanya ini terlalu sulit untuk mereka pahami?

Setelah kematian-Nya, mereka akan mengenang kembali saatsaat itu dan mengingat apa yang dikatakan-Nya. Seribu tahun sesudahnya, sementara Gereja mengulangi kata-kata itu dalam hampir setiap bahasa, banyak orang menganggap pengajaran itu terlalu sulit dan tetap membiarkan kata-kata itu tidak tersentuh.

KELIRU MEMBACA NASKAHNYA

*2 kcmampuan untuk membuktikan bahwa diri Anda lebih baik daripada lawan Anda.

Ketika Yesus berkata, '~mbillah dan makanlah; inilah tubuh-Ku ... Minumlah dari eawan ini, hai kamu semua. Inilah darah perjanjianKu" (Mat. 26:26-28), Ia tidak sedang berbieara dalam sebuah kekosongan kultural untuk menjerumuskan para pengikut-Nya kepada kanibalisme. Sebaliknya, kata-kata-Nya dimaksudkan untuk mengangkat para pendengar dari eksistensi mereka yang kosong dan didominasi oleh makanan kepada pengenalan akan kelaparan yang terpenting dalam kehidupan, yang hanya dapat dipuaskan oleh roti yang berbeda. Di dalam perjalanan yang dipimpin oleh Musa itulah Ia pertama kali memberitahukan kepada mereka bahwa roti jasmani memiliki kegunaan yang terbatas. Ia ingin memuaskan kelaparan yang lebih penting.

Bagi suatu budaya yang memiliki instruksi yang sangat spesifik tentang kebutuhan rohani mereka, belum lagi aturan-aturan ketat perihal makanan yang mereka miliki, tidak mungkin muneul pengertian bahwa Yesus sedang memberi penjelasan tentang konsumsi daging manusia keeuali jika mereka memang sengaja mengabaikannya. Tuduhan mereka bahwa "perkataan-Nya keras" menunjukkan adanya kesalahpahaman yang serius. Respon itulah yang meramp as makna kehidupan yang sesungguhnya bagi setiap manusia.

Semakin saya merenungkan kata-kata ini, semakin saya tergugah untuk menyadari mengapa kelaparan kita terhadap sesuatu yang transenden sangat melekat pada keberadaan kita, ya, bahkan dalam kelaparan fisik kita. Mungkin itulah sebabnya kita tidak dapat mengabaikannya, betapapun kerasnya kita berusaha.

1 1 6

1 1 7

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

Sungguh besar kerugian yang diderita ketika sebuah pengajaran yang begitu agung telah ditanggapi dengan pengertian yang begitu dangkal. Sayangnya, seperti mahasiswa yang bertanya di India, bukannya berusaha menyelidiki kebenaran yang sedang diwahyukan Yesus, banyak orang malah "duduk mengelilinginya," seperti para. filsuf dan para kritikus, dan "memakan beri hitam."

Sebe1um mencatat percakapan ini, Yohanes te1ah menceritakan beberapa mukjizat yang te1ah diadakan oleh Yesus. Yang pertama adalah air yang berubah menjadi anggur, di dalamnya Yesus mewahyukan kuasa-Nya atas elemen. Kemudian Yohanes mengisahkan dua episode penyembuhan, di dalamnya Yesus menunjukkan kuasa-Nya atas penyakit. Setelah itu, ia menceritakan bagaimana Yesus me1ipatgandakan bekal dari seorang anak untuk memberi makan kepada lima ribu orang - kuasa-Nya atas semua kebutuhan. Akhirnya, ia menuliskan kisah yang terkenal ten tang Yesus berjalan di atas air - kuasa-Nya atas hukum alam ..

Ada sebuah catatan yang luar biasa tentang respon terhadap kisah-kisah ini, dari yang berupa kekaguman hingga ejekan, dari yang bersifat artistik hingga filosofis. Karena kagum pada keindahan dalam perubahan air menjadi anggur, penyair Alexander Pope berkata, "The conscious water saw its Master and blushed. JJ (Air yang sadar itu me1ihat Tuannya dan memerah karena malu). Deskripsi yang menyentuh itu dapat dimodifikasi dan dipakai kembali untuk menjelaskan setiap mukjizat ini. Adakah perbedaan secara prinsip jika tubuh yang sakit disembuhkan kembali oleh perintah dari Sang Penciptanya? Apakah mustahil bagi Sang Pencipta alam semesta, yang menciptakan materi dari yang tidak ada, untuk melipatgandakan roti bagi orang banyak? Tidak sanggupkah Dia, yang menciptakan semua molekul dengan perkataan-Nya, menyatukan semua bagiannya sehingga semuanya itu dapat menopang jejak kaki-Nya? Mengapa mereka tidak dapat melihat kaitannya?

Tetapi bukankah ini secara spesifik menggambarkan sikap kurang ajar yang menyambar pemberiannya dan mengabaikan pemberinya? Naturalisme ? bertujuan untuk menggantikan mukjizat dengan

penjelasan-penjelasan yang menentang rasio. Mereka yang mener. tawakan tindakan-Nya berjalan di atas air telah melupakan mukjizat yang telah ditunjukkan-Nya dalam penciptaan air itu sendiri.

Renungkan sejenak hal ini. Dalam delapanbelas mililiter air (sekitar dua teguk penuh), terdapat 6 x 1023 molekul H20. Berapa hasil dari 6 x 1023? Sebuah komputer yang baik dapat menyelesaikan sepuluh juta hitungan per detik. Dibutuhkan waktu dua milyar tahun oleh komputer untuk menghitung hingga 6 x 1023•

Perhatikan cara lainnya. Setumpuk kertas yang berjumlah lima ratus lembar memiliki tinggi dua sampai tiga inci. Berapakah tingginyajikajumlahnya 6 x 1023 lembar? Tumpukan itu akan mencapai jarak antara bumi ke matahari, bukan satu kali, melainkan lebih dari satu juta kali.f

Namun, dalam sekitar dua teguk air, Allah telah mengemas molekul yang banyak itu. Mukjizat berjalan di atas air bukan apa-apa bagi Dia yang telah pertama-tama menciptakan air. Pelipatgandaan roti hanyalah sebuah perintah sederhana bagi Dia karena bumi sendiri pun diciptakan atas perintah-Nya. (C.S. Lewis berkomentar bahwa mukjizat yang lambat tidak lebih mudah diadakan daripada mukiizat yang instan.) Kaum skeptik tentunya akan mempertanyakan kepolosan dalam menerima se1uruh penjelasan seperti ini, tanpa menyadari bahwa apa yang mereka teguk dalam segelas air merupakan mukjizat itu sendiri!

Orang banyak dan para murid yang menyaksikan Yesus mengadakan mukjizat memberi makan orang banyak mengikuti Dia dengan maksud-maksud yang direncanakan. Mereka mencari kuasa yang mereka pikir akan menjadikan hidup mereka lebih nikmatmenjamin perut yang kenyang dan suplai roti yang tidak terbatas. Siapa yang dapat menyalahkan mereka? Baru-baru ini saya mendengar ten tang seorang pria yang telah memenangkan sejumlah besar uang dari lotere. "Perubahan terbesar apakah yang terjadi dalam hidup Anda?" tanya sang pewawancara. "Saya lebih sering pergi makan," jawabnya datar.

*3 Naturalisme = pandangan yang tidak mengakui adanya kekuatan lain selain alam,

1 1 8

1 1 9

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

Makanan dan kekuasaan membelokkan pikiran dari pemenuhan kebutuhan jiwa. Kemurahan hati Allah yang menyertai mukjizat menjadi batu sandungan karena para saksi mata gagal melihat tujuan dari perbuatan itu dan hanya mengharapkan pengulangan dari kapasitas yang ada di dalamnya. Mereka ingin tahu bagaimana bekal seorang anak kecil dapat memberi makan beberapa ribu orang dan bahkan masih tersisa berbakul-bakul penuh. Bagaimana seorang yang telah lumpuh selama hampir empat dekade tiba-tiba dapat berjalan lagi? Apakah kuasa ini dapat dialihkan? Mungkinkah kuasa itu dibeli?

Hal krusial yang perlu diperhatikan adalah bahwa respon Yesus terhadap tuntutan mereka benar-benar sangat kontras dengan pemuliaan-diri yang diidamkan oleh para calon mesias. Bukannya bersenang-senang dengan penghargaan dari orang banyak yang berpura-pura dan tenggelam dalam pujian mereka atau memperbanyak pengikut, Yesus menghilang di tengah teriakan mereka. Bahkan, la meratapi penipuan-diri mereka. Ia mengetahui motif-motif dan miskonsepsi-miskonsepsi yang mereka miliki. Dan ketika mereka akhirnya berhasil menemukanjejak-Nya, mereka meluapkan kemarahan mereka dengan sebuah pertanyaan, "N enek moyang kami makan manna di padang gurun .... Mengapa Engkau tidak memberikannyajuga kepada kami?"

Di sinilah Ia mulai memberikan jawaban yang akan menggiring mereka untuk melangkah lebih jauh daripada apa yang sudah pernah mereka rencanakan. Tetapi la pertama-tama berusaha untuk menjauhkan mereka dari kesalahan mereka sebelum la dapat membawa mereka kepada kebenaran-Nya.

MENGABAlKAN PENULISNYA

Setiap orang yang pernah mengunjungi negara-negara di mana kelaparan ditonjolkan secara publik sebagai alat untuk menarik belas kasihan dan bantuan dapat dengan mudah memahami daya tarik emosional dari pencobaan semacam ini. Saya sendiri dibesarkan dalam sebuah negara yang tidak pernah kekurangan orang-orang yang kelaparan. Bagaimana makanan dapat bertengger dengan nyaman di perut Anda sementara ada orang lain yang menderita karena tidak memilikinya? Karena itu, ini bukan merupakan pencobaan ringan yang disodorkan kepada Yesus. Si penggoda mengetahui dengan persis kekuatan dari godaannya. Bagaimana Allah dapat menjadi lebih relevan selain dengan menjadi pribadi yang menyediakan makanan bagi kehidupan? Apa gunanya agama jika agama itu tidak mampu mengenyangkan orang yang lapar? Secara berbahaya dan menyakitkan, Setan nyaris benar. Tetapi itu hanya merupakan separuh-kebenaran, dan separuh-kebenaran terjalin sangat erat dengan sebuah kebohongan sehingga campuran itu menjadikannya lebih mematikan.

Tanyakan hal ini pada diri Anda: Pengikut seperti apakah yang akan dihasilkan jika alas an utama dari afeksi terhadap sang pemimpin adalah karena ia menyediakan roti bagi para pengikutnya? Keduanya akan memiliki motif yang keliru - baik yang menyediakan maupun yang menerima. lni merupakan kondisi dari reward and punishment (hadiah dan hukuman) yang telah diracuni oleh upah dan menghasilkan akibat-akibat yang merugikan, yang paling banter menghasilkan ketundukan, tetapi bukan kasih. Pesona mereka pun segera pudar bila ditawarkan sebagai umpan atau bila tidak diberikan untuk menghasilkan rasa takut. Ketergantungan tanpa komitmen akan selalu mencarijalan untuk mematahkan belenggunya.

Pencobaan yang diajukan Setan kepada Yesus terus mengejar-Nya di sepanjang pelayanan-Nya, seiring dengan bertambahnya tuntutan orang banyak akan suplai roti yang tidak terbatas. Politik kekuasaan melalui kelimpahan bukanlah suatu penemuan baru. Itulah cara yang dipakai oleh para penghasut untuk mengendalikan massa. Yesus bersusah payah untuk menunjukkan pada mereka bahwa ke-

Tidaklah mengejutkan bila pencobaan pertama yang dialami Yesus di padang gurun adalah untuk mengubah batu-batu menjadi roti. "Lakukan ini," kata Setan, "dan dunia ini akan mengikut Engkau."

120

1 2 1

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

terpakuan mereka pada roti sebagai tujuan utama dan eskpresi dari kenikmatan hidup telah secara serius menyelewengkan fungsi roti yang seharusnya dan makna kehidupan yang seharusnya.

Dalam kehidupan kita yang serba-cepat, kebenaran ini tidak lebih mudah diterima dibanding pada zaman Palestina kuno. Dengan segala sesuatu yang kita serap dan konsumsi, kita tetap merasa lapar dan tidak puas. Tidakkah kita seharusnya memikirkannya? Bukankah keadaan itu sendiri merupakan sebuah indikator bahwa rasa lapar kita telah menyimpang?

Dalam dramanya, Our Town, Thornton Wilder menceritakan kisah kehidupan yang dijalani dalam rutinitas tanpa mempedulikan pergumulan-pergumulan hidup sehari-hari. Detailnya bersifat spesifik, tetapi pelajarannya bagaikan sebuah cermin yang diarahkan kepada kita semua. Kita melihat rutinitas dalam segala monotoninya - susu tiba, makan pagi, orang yang bekerja berangkat ke tempat kerja, orang yang tinggal di rumah membereskan rumah, para tukang bekerja di halaman - setiap hari merupakan pengulangan dari hari sebelumnya. Dalam kisah itu, titik baliknya terjadi saat Emily Gibbs, dalam usia puncak di masa mudanya, meninggal saat melahirkan bayinya sehingga rutinitas itu tiba-tiba terhenti.

Dari alam kematian, Emily diberi kesempatan untuk kembali ke bumi untuk memilih satu hari dan menikmatinya persis seperti yang sungguh-sungguh dijalaninya saat ia masih hidup. Hanya saja kini, dari eksistensinya di dunia lain, ia menilainya dari sudut pandang nostalgia. Ia memperhatikan aktivitas yang tergesa-gesa dan kesibukan saat merayakan ulang tahunnya yang keduabelas. Seperti yang sangat diingatnya, seluruh keluarga disibukkan dengan hadiahhadiah dan makanan dan obrolan. Pesta itu hiruk pikuk dengan aktivitas.

Namun kini, dalam keadaan yang tidak mungkin terulang, Emily melihat sarna sekali tidak ada perhatian pribadi, meskipun hatinya sangat merindukannya. Sebaliknya, fokusnya terdapat pada hal-hal yang perlu dilakukan, bukan pada orang-orang yang menerima perlakuan itu. Ia ngeri melihat betapa butanya mereka terhadap

kebutuhan-kebutuhan mereka yang sesungguhnya. Dari dunia yang tidak terlihat, ia memohon, "Hanya sekejap saja kita bahagia. Mari kita saling memandang." Tetapi tangisannya yang pedih itu tidak dihiraukan. Mereka tidak dapat mendengar suaranya karena mereka terjebak dalam hal-hal yang superfisial. Pesta itu harus terus berlangsung, ulang tahun berikutnya akan tiba, dan momen-momen itu larut dalam aktivitas. Saat ia mengucapkan selamat tinggal, ia menangis, "Oh, Dunia, engkau terlalu indah untuk dikenali oleh siapapun!"

Kemudian ia berpaling kepada manajer panggung yang bertindak sebagai narator, dan mengajukan pertanyaan yang sarat-penyesalan ini: "Pernahkah manusia memahami kehidupan sementara mereka menjalaninya - setiap saat?"

Jawabannya, "Tidak. Orang-orang suci dan para pujangga, mungkin - mereka memahami sebagian."

"Pernahkah manusia memahami kehidupan sementara mereka menjalaninya?" Satu-satunya cara untuk memahami kehidupan sementara kita menjalaninya adalah dengan menyadari bahwa kehidupan bukan me lulu soal makanan melainkan soal kelaparan yang lebih penting yang melampaui kata-kata dan makanan. Kita bukan hidup agar kita bisa makan, seperti juga kita bukan hanya makan agar kita bisa hidup. Hidup itu sendiri sungguh-sungguh bernilai untuk dijalani. Hidup tidak dapat dipuaskan jika dijalani sebagai suatu entitas yang menguras. Ketika hidup diisi dengan sesuatu yang memuaskan rasa lapar secara fisik maupun spiritual dalam timbal-balik yang saling menopang tanpa saling menghancurkan, saat itulah hidup dapat benar-benar memuaskan. Otentisitas dan kontinuitas merupakan hasil dari sesuatu yang bersifat sejati dan kekal. Bagi jutaan orang yang menjalani kehidupan mereka setiap hari dengan impian-impian dan tindakan-tindakan yang didominasi oleh pengejaran akan roti, tujuan kehidupan yang sesungguhnya terlewatkan begitu saja, dan kelaparan-kelaparan mereka yang tidak terpuaskan terus menjerit di dalam diri mereka.

"Orang-orang suci dan para pujangga, mungkin - mereka me-

122

1 23

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

mahami sebagian," karena mereka memperlambat langkah mereka dan merenung dan memandang melampaui aktivitas-aktivitas kepada penantian-penantian mereka dan dengan cara tertentu memunculkan kemungkinan makna yang melampaui tindakan-tindakan mereka. Singkatnya, jika kita ingin benar-benar memahami siapa diri kita, kita harus memahami apa yang bisa dan tidak bisa dihasilkan oleh roti.

Yesus memiliki sebuah pertanyaan yang sarna mengejutkannya bagi para pendengar-Nya, seperti halnya bagi kita semua. Adakah di antara kita yang menjalani setiap menit kehidupan dengan memahami nilai esensialnya? Untuk memahami betapa besarnya kesabaran Yesus terhadap mereka, kita harus ingat bahwa ini bukanlah pertama kalinya topik makanan dan kelaparan telah muncul dalam sebuah percakapan antara Yesus dengan para pengikut-Nya. Ia sebelumnya telah mencoba untuk menjelaskan topik ini dalam usahaNya untuk menghentikan pengejaran "agama-demi-roti" ini.

Diskusi yang paling panjang telah terjadi sesaat sebelumnya dalam sebuah peristiwa yang mengejutkan para murid-Nya -percakapan dengan seorang perempuan Samaria (lihat Yohanes 4: 1-42). Dalam dialog itu, Yesus telah berusaha untuk mencelikkan pengertian mereka akan apa yang membentuk kehidupan dan menyusun substansinya. Bahkan, Ia telah memberikan pendahuluan yang brilian, seandainya saja mereka telah menyimak. Ternyata para murid gagal menangkap maksud-Nya.

Mereka sedang memegang bekal makan siang dan karenanya sangat terpaku dengan hal itu. Ia sedang berbicara dengan seorang wan ita yang tersisih secara sosial dan putus asa, yang hidupnya telah diperalat dan dianiaya sampai ia tidak lagi memiliki harga-diri. Mereka menegur-Nya karena berbicara dengan sampah masyarakat ini. "Engkau pasti lapar," kata mereka. "Bukankah sekarang sudah waktu makan?"

"AIm mempunyai makanan yang sarna sekali tidak kau ketahui.

Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Bapa-Ku."

Inilah petunjuk pertama yang luar biasa. Jika saya ingin dike-

nyangkan, saya harus mengejar kehendak yang lebih besar daripada kehendak saya - hidup yang dipuaskan adalah hidup yang menjadikan kehendak Allah sebagai fokusnya, bukan nafsu kedagingan.

Ia meneruskan perkataan-Nya: "Bukalah matamu dan pandanglah ladang-Iadang yang sudah menguning dan siap untuk dituai" (Ii hat Yohanes 4:32-35).

Inilah petunjuk berikutnya. Dengan mempertahankan metafor tentang makanan, Ia menunjuk kepada suatu kelaparan universal yang melampaui roti dan air - suatu kelaparan yang berbeda yang memiliki proporsi universal. Setiap kalimat jawaban-Nya berhubungan dengan makanan, tetapi makanan yang berbeda. Ada kelaparan di mana-mana, kata-Nya, dan makanan yang tersedia cukup untuk semuanya. Tetapi makanan itu bukanlah gandum atau air. Melainkan Kristus sendiri, Roti Hidup dan mata air kehidupan. Wanita Samaria itu memahami maksud perkataan-Nya dengan semangat yang berasal dari kesadaran akan kebutuhannya yang sesungguhnya.

Interaksi yang terjadi sungguh menakjubkan. Wanita itu telah datang dengan sebuah timba. Yesus menyuruhnya pulang dengan mata air kehidupan.

Wanita itu telah datang sebagai orang yang tertolak. Yesus menyuruhnya pulang sebagai orang yang diterima oleh Allah sendiri.

Wanita itu datang dengan hati yang terluka. Yesus menyuruhnya pulang dengan hati yang dipulihkan.

Wanita itu datang dibebani dengan pertanyaan-pertanyaan. Yesus menyuruhnya pulang untuk menjadi sumber bagijawaban-jawaban.

Wanita itu datang dengan rnenjalani kehidupan yang penuh keputusasaan. Ia berlari pulang dengan harapan yang berlimpah.

Para murid melewatkan semuanya itu. Bagi mereka itu adalah waktu makan siang.

Yang cukup menarik, tidak lama setelah percakapan dengan perempuan Samaria ini, Yesus mengadakan mukjizat memberi makan ribuan orang. Jadi roti dan makanan tidak absen dari pikiran-Nya. Ia sedang mengalihkan mereka dari hal yang lebih suI it kepada hal

124

1 25

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

yang lebih mudah untuk diadakan; dari yang kekal kepada yang temporal; dari kebutuhan jiwa kepada kelaparan tubuh. Tetapi mereka terjebak pada keinginan mereka untuk mendapatkan lebih banyak makanan. Mereka tidak dapat memahaminya pada kesempatan yang pertama.

MENGAKAT TlRAINYA

Kita bukan hanya tidak akan pernah puas jika kita mengejar kelaparan-kelaparan ini, melainkan dalam setiap pengejaran itu sendiri terjadi suatu disorientasi yang memberikan gambaran serta pemahaman yang keliru mengenai sumber kepuasan yang sesungguhnya. lni amat sangat penting untuk dipahami.

Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya, buku Jon Krakauer Into Thin Air menceritakan kecelakaan yang menimpa para pendaki dalam ekspedisi mereka ke Puncak Everest selama musim semi tahun 1996. Pad a tahun itu, usaha untuk mencapai puncak berakhir dengan kematian yang mengerikan. Beberapa situasi berada di luar kendali mereka, tetapi kesalahan-kesalahan yang fundamental telah menimbulkan akibat yang fatal bagi mereka. Dan malangnya, beberapa di antara kesalahan-kesalahan itu dilakukan saat masih ada kemungkinan untuk memperbaikinya.

Salah satu pendaki yang tewas adalah Andy Harris, salah satu pemimpin ekspedisi. Harris telah bertahan di puncak melewati tenggat waktu yang telah ditetapkan oleh para pemimpin itu sendiri. Saat ia turun, ia hampir kehabisan oksigen. Harris menyampaikan kesulitannya melalui radio ke base camp, ia berbicara tentang kebutuhannya dan bahwa ia telah menemukan kaleng-kaleng persediaan oksigen yang telah ditinggalkan oleh para pendaki lainnya, semuanya kosong. Mereka yang telah melewati kaleng-kaleng itu dalam perjalanan pulang dari puncak tahu bahwa kaleng-kaleng itu tidak kosong, melainkan penuh. Sekalipun mereka memohon lewat radio agar ia menggunakan kaleng-kaleng itu, ia tidak menggubrisnya. Karena hampir kehabisan oksigen, Harris terus membantah dan mengatakan bahwa kaleng-kaleng itu kosong.'

Masalahnya adalah kebutuhannya telah begitu mengacaukan pikirannya sehingga meskipun ia dikelilingi oleh persediaan yang dapat menyelamatkannya, ia terus mengeluh bahwa ia tidak memilikinya. Apa yang dipegangnya dengan tangannya tidak ada dalam otaknya dan hal itu telah menghancurkan kapasitasnya untuk mengenali apa yang sedang digenggamnya.

Seperti halnya oksigen bagi tubuh, demikianlah Roti Hidup bagi

Jadi, hal itu diulangi lagi dalam Yohanes pasal keenam. Namun kali ini Yesus menambahkan sebuah elemen yang sangat dramatis. Kelaparan kini memiliki cakupan yang lebih luas, seperti yang pada akhirnya harus terjadi seandainya kelaparan dibiarkan menjadi penentu kehidupan.

Jika kita harus merinci semua kelaparan kita, kita mungkin terkejut mendapati betapa banyaknya jenis kelaparan yang dianggap sah. Kelaparan akan kebenaran, kelaparan akan kasih, kelaparan akan pengetahuan, kelaparan untuk diterima, kelaparan untuk berekspresi, kelaparan akan keadilan, kelaparan akan imajinasi, kelaparan pikiran, dan kelaparan akan signifikansi. Masih ada lagi yang dapat kita sebutkan. Teori-teori psikologi yang amat luas telah muncul dari pengenalan akan kelaparan-kelaparan atau kebutuhan-kebutuhan ini.

lntinya adalah seperti ini. Sebagian dari pengejaran pribadi kita mungkin dapat memuaskan kelaparan-kelaparan ini. Pendidikan dapat menghasilkan pengetahuan. Asmara dapat memunculkan perasaan dimiliki. Prestasi dapat menghasilkan signifikansi. Kekayaan memampukan kita untuk memiliki beberapa hal. Berita yang disampaikan Yesus menegaskan bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat memuaskan seluruh kelaparan ini. Dan terlebih lagi, tidak ada sesuatupun yang dapat menolong kita untuk memahami apakah cara kita untuk memuaskannya itu dibenarkan atau tidak, kecuali kita mcmakan roti hidup yang Yesus tawarkan. Makanan itulah yang rucncntukan sah atau tidaknya semua hal lain.

126

127

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

jiwa. Tanpa roti itu, semua kelaparan lainnya tidak akan berhasil dikenali dengan tepat. Bahkan, sarna halnya, ketiadaan roti itu untuk jangka waktu yang lama menjadikan roti itu sendiri tampak tidak bernilai. Hidup seharusnya dijalani dengan pemenuhan satu-satunya kebutuhan yang menentukan semua sarana pemenuhan kebutuhan lainnya, dan dengan pememuhan satu-satunya kasih yang menentukan semua kasih lainnya.

Dengan mukjizat-mukjizat-Nya, Yesus mendemonstrasikan pergeseran dari yang lebih penting kepada yang kurang penting. Dalam jawaban-jawaban-Nya, Ia mengalihkan mereka dari hal yang kurang penting kepada hal yang lebih penting. Ia mengingatkan mereka dalam perkataan-Nya tentang Perjamuan Kudus bahwa apa yang bersifat fisik dan apa yang bersifat spiritual menyatu. Di sini yang sementara dan yang kekal bertemu. Di sini, yang semen tara dan yang kekal bertemu. Di sini kehidupan dan kematian saling berdampingan. Tersirat dalam ayat-ayat ini adalah arah klimaks yang sedang dituju oleh Yesus dan yang akan dikunjungi-Nya kembali, yaitu saat-saat menjelang kematian-Nya.

Bangsa itu seharusnya dapat memahami lebih dalam lagi. Begini, bagi pola-pikir Timur Tengah, roti bukan sekadar sumber makanan. Roti mewakili begitu banyak hal lain. Makanan adalah sarana persekutuan. Yesus berkata dalam Wahyu 3:20, bahwa Ia berdiri di muka pintu dan mengetuk; jika ada orang yang membukakan pintu itu, Ia akan masuk dan makan bersama orang itu. Sungguh sebuah ungkapan yang indah tentang persahabatan. Makanan adalah sarana perayaan. Kembalinya anak yang hilang dirayakan dengan menyembelih anak lembu tambun, yang menandakan bahwa pesta perjamuan telah dimulai. Makananjuga merupakan media kenikmatan. Istana Salomo selalu dipenuhi dengan upeti-upeti seperti itu. Sampai hari ini, makanan adalah hal yang penting dalam budaya timur. Selain untuk disantap, makanan menjadi sarana persahabatan, perayaan, dan kenikmatan.

Kita tahu bahwa di dunia barat pun keadaannya tidak jauh berbeda. Namun, dengan segala kecukupan dan persahabatan kita,

perayaan-perayaan dan kenikmatan kita, tetap ada momen-momen persimpangan dalam hidup kita ketika tidak ada makanan yang dapat menopang kehidupan, tidak ada persahabatan yang dapat mencegah kemungkinan terjadinya persitiwa-peristiwa tertentu,· tidak ada perayaan yang tak pernah berakhir, dan tidak ada kenikmatan yang sempurna. Tubuh menjadi renta dan melemah, dan makanan pada akhirnya tidak berdaya untuk memulihkan kekuatan atau keremajaan yang hilang. Tubuh tanpa dapat dielakkan menuju kepada kemunduran. Singkatnya, ada dua keterbatasan yang melekat pada makanan. Yang pertama sudah jelas. Tubuh menjadi lemah dan suatu hari nanti akan mati.

Saya memiliki seorang sahabat yang kehidupannya telah memperkaya hidup saya selama bertahun-tahun. Suatu ketika, istrinya terserang kanker. Saya tidak akan pernah melupakan teladan yang ditunjukkannya. Satu kata yang muncul dalam pikiran saya adalah caranya menyayangi(cherish) istrinya. Pada dasarnya ia adalah orang yang sibuk dan sangat aktif Orang bisa menjadi lelah hanya dengan memperhatikan dirinya. Namun, ketika ia tahu bahwa istrinya sudah mendekati ajal, ia melepaskan segala sesuatunya untuk melayani kebutuhan istrinya.

Selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan, hidupnya hanya dijalani untuk satu tujuan, merawat orang yang dikasihinya. Ia duduk di samping istrinya, mencintainya di saat-saat terakhir hidupnya. Tidak ada makanan yang cukup baik untuk istrinya selain jus segar dari sayuran organik, yang diproses dengan juicer khusus. Tidak ada negeri yang terlalu jauh baginya untuk dikunjunginya demi mencari kesembuhan. Tidak ada biaya yang terlalu mahal baginya yang tidak bersedia dibayarnya demi mengembalikan kesehatan istrinya.

Tetapi akhirnya tiba saatnya ketika tubuh istrinya tidak sanggup lagi ditopang oleh makanan apapun. Tidak ada ikatan yang cukup kuat yang dapat terus menahannya. Masalahnya bukan terletak pada makanannya atau pada tidak adanya keinginan sang suami untuk memperpanjang hidup istrinya. Masalahnya adalah suatu sel yang

128

129

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

MENGINTIP KE BELAKANG LAYAR

nya. Muhammad, terhadap Qur'an. Buddha, terhadap Kebenaran Mulia. Krisna, terhadap filosofinya. Zoroaster, terhadap etikanya.

Apapun pandangan kita terhadap klaim-klaim mereka, ada satu realitas yang tidak terhindarkan. Mereka adalah guru-guru yang menunjuk kepada pengajaran mereka atau menunjukkan suatu jalan tertentu. Dalam semuanya ini, muncullah sebuah instruksi, cara hidup. Bukan Zoroaster yang Anda ikuti. Zoroasterlah yang Anda dengarkan. Bukan Buddha yang menyelamatkan Anda; Ajaran Mulianyalah yang mengajar Anda. Bukan Muhammad yang mengubah Anda; keindahan Qur'an-lah yang menggerakkan hati Anda.

Sebaliknya, Yesus tidak sekadar mengajar atau menguraikan ajaran-Nya secara terperinci. Ia identik dengan ajaran-Nya. "Di dalam Dia," kata Alkitab, "berdiam seluruh kepenuhan Allah secara fisik." Ia tidak sekadar memberitakan kebenaran. Ia berkata, "Aku adalah kebenaran." Ia tidak sekadar menunjukkan jalan. Ia berkata, ''Aku adalah Jalan." Ia tidak sekadar mengajarkan pandangan moral. Ia berkata, ''Aku adalah pintu." ''Aku adalah Gembala yang Baik." ''Aku adalah kebangkitan dan hidup." ''Aku adalah AKU."

Ia tidak hanya menawarkan roti kehidupan. Dialah roti itu. Itulah sebabnya menjadi seorang Kristen bukan hanya jalan untuk mendapatkan makanan dan kehidupan. Mengikut Kristus dimulai dengan jalan relasi dan keberadaan.

Mari kita menggunakan Buddhisme sebagai contoh spesifik.

Buddhisme adalah sebuah sistem yang sedang mendapatkan banyak pengikut di kalangan Hollywood. Seringkali sistem itu secara sangat sederhana didefinisikan sebagai agama belas kasihan dan etika. Sebenarnya mungkin tidak ada sistem kepercayaan yang lebih kompleks daripada Buddhisme. Meskipun sistem itu dimulai dengan empat kebenaran mulia tentang penderitaan dan kelepasannya, sistern itu dilanjutkan dengan delapan rangkaian jalan untuk mengakhiri penderitaan. Tetapi saat kita menempuh jalan beruas delapan itu, muncullah beratus-ratus aturan lainnya yang membahas tentang hal-hal yang tidak terduga yang mungkin terjadi.

Dari suatu dasar yang sederhana mengenai empat pelanggaran

destruktif telah begitu menggerogoti tubuh istrinya sehingga makanan apapun yang terbaik tidak sanggup menghidupkan kembali apa yang sedang menuju kepada kematian.

Perhentian itu akan dialami oleh kita semua, pada waktu dan dengan cara yang berbeda. Makanan yang menyehatkan, ikatan-ikatan persahabatan, saat-saat perayaan, dan kenikmatan-kenikmatan yang dibenarkan berakhir dalam sekejap bagi setiap kehidupan dan setiap relasi.

Terhadap kerapuhan hidup yang seperti inilah Yesus mengarahkan telunjuk-Nya. Sang penyair mengungkapkannya dengan kata-kata ini:

Hidup kita memiliki seribu sumber

dan berakhir jika salah satu sumber itu lenyap;

Sungguh aneh bila sebuah harp a yang memiliki seribu senar Dapat bertahan begitu lama.

Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan bahwa Anda dapat memberikan ikan kepada seorang yang lapar, atau lebih baik lagi, Anda dapat mengajarinya memancing. Yesus akan menambahkan bahwa Anda dapat mengajari seseorang memancing, tetapi nelayan yang paling sukses memiliki kelaparan-kelaparan yang tidak mungkin dipuaskan oleh ikan.

Ada kebenaran kedua yang tidak terlalu mencolok. ''Akulah Roti Hidup," kata Yesus. "Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi." Perhatikan kekuatan yang tersirat di dalam klaim itu.

Di jantung setiap agama besar terdapat suatu eksponen utama.

Saat eskposisinya dipelajari, muncullah sesuatu yang sangat signifikan. Terdapat suatu keterpisahan antara pribadinya dan pengajaran-

1 30

1 3 1

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

yang menjadikan orang kehilangan statusnya sebagai murid terciptalah suatu struktur yang luar biasa berisi cara-cara untuk mengadakan pemulihan. Mereka yang mengikuti ajaran Buddha diberi tigapuluh aturan tentang cara untuk terbebas dari jerat-jerat tersebut. Tetapi, bahkan sebe1um seseorang menjalankannya, ada sembilanpuluh-dua aturan yang berlaku hanya untuk salah satu dari pelanggaran-pelanggaran itu. Ada tujuhpuluh-lima aturan untuk mereka yang ingin menjadi pengikut. Ada aturan-aturan disiplin yang harus dijalankan - duaratus duapuluh tujuh aturan untuk pria, tiga ratus sebelas aturan untuk wanita. (Para pembaca Buddhisme mengetahui bahwa Buddha harus dibujuk sebelum mengizinkan wanita untuk menjadi murid. Setelah salah satu muridnya memohon dan membujuk berulang kali, ia akhirnya mengabulkan permintaan itu tetapi ia menetapkan aturan tambahan untuk para wanita.)

Apapun pandangan seseorang terhadap semuanya ini, kita harus memahami bahwa dalam sebuah sistem nonteistik, seperti halnya Buddhisme, etika bersifat sentral dan aturan-aturan ditambahkan ad infinitum (secara tak terhingga). Buddha dan para pengikutnyalah yang menciptakan aturan-aturan ini. Doa yang paling umum untuk meminta pengampunan dalam Buddhisme, dari Doa Umum Buddhis, mencerminkan angka-angka yang membingungkan ini:

bidang filsafat dan psikologi.

Sebaliknya, dengan cara yang sangat sederhana, Yesus meugarahkan kebutuhan yang sesungguhnya dari para pendengarnya kcpada kelaparan yang memiliki natur spiritual, suatu kelaparan yang dide rita oleh setiap manusia, sehingga kita bukanlah human livings (manusia yang hid up) atau human doings (manusia yang bertindak) melainkan human beings (manusia yang berada/eksis). Kita tidak sekadar membutuhkan etika yang superior, kita membutuhkan hati yang diubahkan dan kehendak yang rindu untuk melakukan kehendakAllah.

Yesus juga mengajar dan menyodorkan sebuah cermin, tetapi dengan pribadi-Nya Ia mengubahkan kehendak kita untuk menuruti kehendak-Nya. Keberadaan kitalah yang ingin dikenyangkan oleh Yesus. Kristus memperingatkan bahwa kita memiliki kelaparankelaparan yang terlalu dalam untuk dicapai oleh hal-hal fisik. Ada aspirasi-aspirasi eksistensial yang terlalu tinggi untuk dijangkau oleh aktivitas-aktivitas kita. Ada kebutuhan yang terlalu luas untuk diseberangi oleh hal natural.

Kesimpulannya, Ia mengingatkan kita bahwa roti tidak dapat mengenyangkan selama-Iamanya. Dialah Roti Hidup yang mengenyangkan secara kekal. Dan Ia melakukannya dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh siapapun.

Kumohon pergilah! Kumohon pergilah, Kumohon pergilah .... Kiranya aku dibebaskan senantiasa dari empat keadaan Celaka, Tiga Kutukan, Delapan Keadaan yang Salah, Lima Musuh, Empat Kekurangan, Lima Kemalangan, dan cepat mencapaiJalan itu, Kegenapan itu, dan Hukum Mulia dari Nirwana itu, ya Tuhan."

~ENJELASKANALURNYA

Pengajaran yang terbaik hanya mampu mengarahkan kita kepada moralitas, tetapi pengajaran itu sendiri tidak berdaya. Pengajaran bagaikan sebuah cermin yang dapat menunjukkan kepada Anda b.ihwa wajah Anda kotor, tetapi cermin itu tidak dapat membersihk.ui wajah Anda. Untuk sungguh-sungguh memahami teori yang rumit ini, orang mungkin perlu memiliki gelar pasca-sarjana dalam

Setelah menjelaskan ten tang keterbatasan roti dan keberadaan-Nya sebagai Roti Hidup, Yesus kini mengemukakan pemikiran yang perlu mereka pertimbangkan secara saksama. Tidak ada orang yang akan menyangkali keunikan dari pemikiran ini. Tidak ada sesuatupun dalam agama lain manapun yang dapat sedikitpun menyamai pengajaran yang mendalam ini.

Kelaparan kita yang terbesar, sebagaimana diuraikan oleh Yesus, adalah kelaparan akan relasi yang sempurna yang menggabungkan hal fisik dengan

1 32

133

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

hal spiritual, yang menghasilkan ketakjuban sekaligus kasih, dan yang diungkapkan dalam perayaan dan komitmen.

Dengan kata lain, ke1aparan yang dimaksud adalah ibadah. Tetapi ibadah tidak dapat dieapai hanya dengan suatu interaksi yang diutarakan dengan doa atau permohonan. Ibadah adalah postur kehidupan yang tujuan utamanya adalah untuk memahami makna sesungguhnya dari mengasihi dan menyembah Allah. Itulah keintiman yang paling sakral. Di sinilah potongan roti yang dipeeahkan menyediakan sarana ekspresi dan interaksi.

Dalam kunjungan pertama saya ke Yordania, ke1uarga saya dan saya dijamu dengan makanan yang sangat istimewa pada malam terakhir kami. Mereka menyebutnya Mensef Para tamu berdiri menge1ilingi sebuah nampan besar berisi nasi, yang dihiasi dengan indah oleh lauk-pauk yang empuk, yang dibumbui dengan rempahrempah yang harum dan disiram dengan kuah daging yang membuatnya terasa sangat lezat. Tetapi kemudian tibalah saat yang mengasyikkan. Kami semua menggulung lengan baju kami dan bersamasarna menikmati makanan itu langsung dari nampannya dengan tangan. Itu adalah makanan Timur Tengah dengan segala tujuan dan kehebatannya. Sebagai seorang yang berdarah India, saya merasa bagaikan sedang berada di negeri sendiri, dan bahkan lebih dari itu.

Ada simbolisme yang dilambangkan oleh eara makan tersebut.

Kenikmatan dari kombinasi makanan yang menggugah se1era, persekutuan satu dengan yang lain, sentuhan tangan di dalam nampan yang sarna, perayaan untuk kehidupan dan tujuannya - semuanya menandakan kepereayaan dan kedekatan dan kenangan-kenangan atas hari-hari yang te1ah kami lalui bersama. Setiap detailnya merupakan sebuah undangan yang mengatakan, "Se1amat datang di rumah kami dan jadilah bagian dari kami." Kami disambut dengan eiuman dan dihantar dengan eiuman. Kami telah berkumpul sebagai sahabat dan pulang dengan kepereayaan yang intim dalam persahabatan yang lebih dalam.

Hal itu, jika boleh saya tambahkan, hanyalah seke1umit dari apa yang sedang ditawarkan Yesus kepada para pengikut-Nya - perse-

kutuan yang akrab dengan Dia. Bahkan, sekalipun agama ateistik seperti Buddhisme dan agama panteistik seperti Hinduisme menolak Allah yang personal dan absolut, mereka tetap memasukkan eara-eara ibadah yang mengarah kepada suatu pribadi personal, hanya karena keterasingan di dalam batin mendorong diri seseorang kepada suatu pribadi lain yang transenden.

Alasan dari hal ini adalah karena kita bukan hanya sedang meneari ritual. Kita sesungguhnya telah haneur. Kita telah me1arikan diri dari Allah; kita telah haneur dalam hubungan kita dengan sesarna manusia. Dan realitas yang paling sulit diungkapkan adalah bahwa kita te1ah haneur bahkan di dalam diri kita sendiri. Kita tidak mengenali keeenderungan-keeenderungan kita sendiri. Hidup adalah kisah ten tang kehaneuran.

Inilah inti Injil. Kita telah haneur dari dalam. Dan bagi kehaneuran ini, Yesus membawa jawaban yang sebenarnya, bukan sekadar panggilan sederhana untuk "datang dan makan."

Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selamanya. Roti ini ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia ini .... Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. (Yohanes 6:51-53)

Sete1ah mendengar perkataan itu, banyak dari murid-murid-Nya berkata, "Perkataan ini keras. Siapa yang sanggup menerimanya?" Tetapi Yesus berkata kepada mereka, '~dakah perkataan itu menggoneangkan imanmu? Bagaimanajika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada! Roh memberi hidup; daging sarna sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang telah Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak pereaya" (Yohanes 6:60-64).

Seandainya hanya ini yang dikatakan Yesus mengenai topik tcrsebut, saya yakin sekali perkataan itu akan menjadi teka-teki yang

134

13 5

J ES U S AMONG OTHER GODS

paling sulit dalam pengajaran-Nya. Kegamblangan maknanya dalam bahasa kita mau tidak mau menjadikan para pembaea bertanyatanya. Tetapi seperti juga dalam banyak waeana Yesus, la memberitakannya sedikit demi sedikit hingga pada saat terakhir. Barulah kemudian para murid-Nya mengingat kembali saat Ia pertama kali mengemukakan kebenaran itu. Ini jelas-jelas merupakan petunjuknya. Penggenapannya akan menyusul hanya beberapa hari sebelum kematian-Nya dan pada akhirnya akan dimengerti sesudah ke-

matian-Nya.

Mari kita melaeak peristiwa yang menjelaskan teka-teki ini.

Pertama-tama, jelas sekali bahwa yang la maksud bukanlah memakan daging-Nya seeara harfiah dan meminum darah-Nya karena saat itu Ia hadir di dalam tubuh dan sedang memberikan

sepotong roti, bukan potongan tubuh-Nya.

Kedua, jika yang dimaksud-Nya adalah benar-benar daging dan

darah-Nya, itu sarna saja dengan mengatakan bahwa hanya sekelompok keeil orang yang dapat menikmati kehidupan yang la tawarkan. Jumlahnya akan terbatas pada jumlah potongan tubuh yang dapat

dihasilkan.

Ketiga, akan terdapat batasan kronologis. Tubuh itu akan segera

membusuk dan darah itu tidak akan mengalirkan kehidupan lagi. Hanya mereka yang hadir saat la mengalami kematian fisik yang

bisa turut menikmatinya.

Keempat, Ia telah mengatakan bahwa la akan membangkitkan

tubuh itu setelah tubuh itu dibinasakan, jadi tidak mungkin bila yang dimaksud adalah tubuh itu sendiri karena jika demikian maka seluruh proses itu tidak benar-benar terjadi.

Kelima, Ia memerintahkan kepada Gereja untuk mengulangi apa

yang dilakukan-Nya di sepanjang sejarah sebagai peringatan atas momen itu, lni mustahil dilakukan dengan rubuh-Nya seeara har-

fiah,

Keenam, la berkata bahwa kata-kata-Nya adalah Roh dan bukan

daging.

Dan akhirnya, ketika momen pengorbanan-Nya yang sesung-

KENIKMATAN BAGI JIWA

guhnya tiba seperti yang telah dinubuatkan-Nya, Ia menjelaskan maknanya. Ia duduk untuk menikmati jamuan Paskah bersarna murid-murid-Nya. Makanan yang mengenyangkan, persekutuan yang terjalin, perayaan yang ada di dalamnya, dan sukacita pemeliharaan Allah dinikmati. Hanya saja, kini hati mereka diliputi kesedihan. Manna saja tidak sanggup melenyapkan kesedihan itu. Inilah saat untuk menghadapi nilai tertinggi dari kehidupan. Sebuah tawaran yang sedemikian bernilai sedang diberikan. Anak Domba Allah yang berkorban sedang memberkati makanan sebelum Ia sendiri akan dikorbankan. la mengambil roti, mengueap syukur, dan memberikannya kepada murid-murid-Nya sambil berkata, "Ambillah dan makanlah. Inilah tubuh-Ku yang diberikan bagi kamu; perbuatlah ini untuk rnenjadi peringatan akan Aku." Ia mengambil eawan, mengueap syukur, dan berkata, "Cawan ini adalah perjanjian baru dalam darah-Ku, yang dieurahkan untuk orang banyak untuk pengampunan dosa." Mereka mencieipi, menyentuh, meneium,*4 mengenal dan merasakan dimensi-dimensi keselamatan mereka. Ia hadir seeara fisik saat Ia menawarkan elemen-elemen itu,

Kemudian Ia berkata, "AIm berkata kepadamu, Aku tidak akan minum dari hasil anggur ini lagi dari sekarang sampai hari Aku meminumnya lagi bersama kamu di dalam kerajaan Bapa-Ku."

Itu dia. Potongan roti yang dipeeahkan ini melambangkan apa yang akan terjadi. Ia akan diremukkan seeara fisik dan emosional dengan cara yang akan menarik perhatian sahabat maupun musuhNya. Namun, dalam kehaneuran yang aktual itu, suatu pemulihan akan menyusul, Bagi kita akan tersedia jalan untuk berhubungan kembali dengan Allah, dengan sesama kita dan dengan diri kita. Kita akan beroleh jalan mas uk kepada suatu relasi yang baru, yang merupakan bagian dari kesatuan yang lebih luas seeara pribadi dan kelompok, karena tubuh-Nya dipeeahkan bagi kita. Kita dapat menjadi bagian dari suatu persekutuan yang tidak terpisahkan karena Ia bersedia datang dan berdiam di dalam kita. Kita dapat mengambil bagian dalam suatu perayaan kekal ketika kita akan berada di hadirat *4 Smell

136

137

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

Allah untuk selamanya. Kita dapat menikmati sukacita di sebelah kanan-Nya karena ibadah akan menjadi ungkapan klimaksnya. Simbol-simbol dari tubuh-Nya yang dipecahkan bagi kita ini, pemulihan-Nya untuk kehancuran kita - semuanya ini diungkapkan secara konkrit dalam elemen-elemen yang ada saat kita berkumpul untuk beribadah.

Sekalipun dengan mengenang pengajaran Yesus sebelumnya para murid memahami sebagian dari apa yang sedang terjadi pada malam itu, mereka masih belum mengerti sepenuhnya. Kejelasan itu diperoleh dalam suatu momen yang signifikan setelah kebangkitan. Hari Kematian Kristus merupakan saat yang tidak dapat mereka pahami atau hargai. Mereka melihat tubuh-Nya terpecah, dan hidup mereka kandas. Mereka memiliki begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh siapapun.

Setelah penyaliban Yesus, beberapa dari murid-murid itu kembali ke rumah mereka, dan sementara mereka berjalan melintasi jalan menuju ke kota Emaus, seorang asing berjalan bersama mereka. Banyak hal telah terjadi selama beberapa hari itu, dan mereka sedang asyik berdiskusi, berusaha memahami semua peristiwa itu. Orang asing itu, yang mendengarkan pembicaraan mereka, bertanya mengapa mereka begitu putus asa. Mereka menceritakan kepadanya ten tang peristiwa-peristiwa tragis dalam kematian Yesus tiga hari sebelumnya dan menambahkan, ''Apakah engkau satu-satunya orang di Israel yang tidak mengetahui apa yang telah terjadi?"

Sesungguhnya Dialah satu-satunya orang di Israel yang mengetahui apa yang telah terjadi. Tetapi mereka tidak mengenali Dia. Ia mulai menguraikan se1uruh sejarah dan bagaimana kaitannya dengan hari itu dan peristiwa-peristiwa itu. Mereka tercengang menyadari betapa segala sesuatunya saling berhubungan. Mereka masih belum mengenali Dia dan memohon agar Ia tinggal dan makan bersama mereka.

Saat mereka duduk untuk makan, tibalah saat yang rnerierrtukan.

Ia memecahkan roti. Dan Alkitab berkata bahwa sementara Ia melakukannya, mata mereka tiba-tiba terbuka, dan mereka tahu bahwa

itu adalah Yesus sendiri. Tidak ada tindakan yang lebih sederhana dalam sejarah, yang dapat dihubungkan dengan kenangan transhistoris yang begitu mendalam. Betapa indahnya saat itu! Betapa indahnyajamuan itu! Betapa indahnya berita itu! Betapa ajaibnya!

Bahkan sampai saat ini, orang Kristen masih duduk bersama dengan saudara-saudara seimannya dan bersama-sama menikmati roti yang dipecahkan itu dan cawan itu. Dalam interaksi yang sederhana itu, seluruh sejarah menemukan maknanya di dalam pribadi Kristus. Kematian Yesus di masa lalu dikenang di masa kini dan menunjuk kepada masa depan ketika kita akan memecahkan roti bersama-Nya di dalam kekekalan. Setiap indera digunakan - peraba, pengecap, penciuman, pendengaran, dan penglihatan. Dalam setiap tindakan, setiap rintangan dihancurkan - rintangan dosa antara kita dengan Allah, rintangan antara tubuh dan jiwa sementara yang bersifat fisik d~.ngan yang bersifat rohani bertemu, rintangan antara kehidupan dan kematian, rintangan dari ras dan prasangka - sebab kita semua berdiri di hadapan-Nya dalam perjamuan yang sarna. Itu adalah "Mensef Allah." Adakah alasan yang lebih agung yang harus dirayakan? Kini kehidupan dapat dihayati dengan setiap momen yang dijalani.

Dalam bukunya Life 4fter God, Douglas Coupland menceritakan sebuah kisah yang menarik. Ia sedang berjalan-jalan di sebuah taman yang indah ketika ia berpapasan dengan sekelompok wanita tuna netra yang sedang berpiknik. Ketika mereka mendengar ia lewat, mereka memintanya untuk memotret mereka. Ia melakukannya dengan senang hati, dan mereka semua merapat agar dapat difoto. Tetapi sete1ah ia pergi, ia bertanya-tanya, ''Apa gerangan gunanya foto itu bagi sekelompok orang yang tidak dapat melihari""

Bolehkah saya mengingatkan bahwa saat Allah menjadikan kita, Ia memampukan kita untuk menikmati kapasitas orang lain sehingga kita dapat turut menikmati manfaatnya sekalipun kita tidak dapat mengalaminya. Foto-foto itu mungkin ditunjukkan pada mereka yang bisa melihat, yang dapat menambah pemahaman para wanita ini, yang dalam kenangan mereka dapat mengingat kembali peris-

138

139

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI JIWA

MENERJEMAHKAN KE DALAM KEHIDUPAN

yang mendasari filosofinya: "Kita hams berusaha menyadari bahwa di dalam diri kita terdapat suatu embrio dewa atau dewi yang ingin dilahirkan sehingga kita dapat mengekspresikan keilahian kita."?

Saya hams bertanya, Siapa yang dimaksud dengan kita? Siapakah dewa itu? Siapakah diri itu? Apakah semuanya ini merupakan entitas-entitas yang berbeda yang hadir dalam diri kita? Adakah suatu dewa yang membutuhkan diri saya (saya yang mana?) untuk melahirkannya (dia yang mana, jika sesungguhnya yang dimaksud adalah saya?) agar diri saya yang dibodohi tidak akan dibodohi lagi dan akan berubah menjadi allah, yaitu diri saya yang sesungguhnya? Mengapa dewa ini dapat berada dalam bentuk embrio sementara saya menjadi dewasa, sehingga saya dapat memberinya kehormatan untuk dilahirkan dan melepaskan kemanusiaan saya untuk menemukan keilahian saya? Tanpa maksud bergurau, inilah versi tertinggi dari "Who's on first" [Permainan untuk menebak siapa yang lebih dulu ada - Pen.]

Mendekati akhir buku ini, Chopra meminta kita untuk membuat komitmen terhadap kepercayaan-kepercayaan yang telah dianutnya dengan kata-kata ini:

tiwa itu setelah mereka tidak lagi mengalaminya.

Dalam momen sejarah yang unik ini, dengan menawarkan sebuah potongan roti yang dipecahkan, Allah menghadirkan penglihatan dan pengertian bagi orang yang menikmatinya melalui kehidupan Dia, yang tubuh-Nya dipecahkan dan yang karenanya dapat mengangkat orang tersebut kepada suatu kenangan yang sakral. Dan dalam tindakan yang sederhana itu, Ia membentuk kembali orang itu ke dalam suatu keutuhan yang bam. Roti yang terpecah itu menjembatani setiap celah dalam kehidupanjutaan manusia yang tidak terseberangi. Kita melihat dengan cara yang tidak mungkin diberikan oleh apapun - melalui mata-Nya, dengan kehadiran - N ya.

Dalam praktek iman Kristen, roti dan anggur yang dinikmati bersama ini telah biasa disebut komuni (Perjamuan Kudus). Allah telah datang ke tengah kita, dan kita menikmati kehadiran-Nya yang berdiam di dalam kita. Ini sangat kontras bila dibandingkan dengan sernua iman kepercayaan lainnya

Inti dan sasaran Hinduisme mengajarkan bahwa kita hams mengusahakan kesatuan dengan yang ilahi. Mengapa kesatuan? Karena Hindu mengklaim bahwa kita adalah bagian dan perwujudan dari ilah alam semesta ini. Sasaran seorang manusia karenanya adalah untuk menemukan keilahian itu dan merefleksikannya.

Dengarkan sekali lagi kata-kata Deepak Chopra mengenai tujuan hidup ini. Ia menegaskan hal ini dalam bagian awal bukunya: "Sesungguhnya, kita adalah allah yang menyamar, dan embrio-embrio dari para dewa dan dewi yang terkandung di dalam di~i kita berusaha untuk diwujudkan sepenuhnya. Keberhasilan sejati karenanya adalah mengalami keajaiban. Yaitu penyingkapan keilahian di dalam diri kita.:"

Selanjutnya dalam buku ini, Chopra menuliskan pernyataan

Hari ini saya akan merawat dengan penuh kasih embrio dewa atau dewi yang berada di dalamjiwa saya. Saya akan memperhatikan roh di dalam diri saya yang menghidupkan tubuh dan pikiran saya. Saya akan membangkitkan kesadaran diri saya terhadap keheningan yang tersembunyi di dalam hati saya. Saya akan membawa kesadaran akan Keberadaan yang tidak terbatas dan kekal di tengah pengalaman yang sernentara."

Inilah inti dari filsafat Hinduisme - pemujaan diri. Salah satu filsuf ternama India memberikan pernyataan yang luar biasa gamblang, "Manusia adalah Allah dalam keadaan lupa-diri yang sementara."

Bagaimana mungkin kita adalah perwujudan dari dunia kuantum tetapi pada saat yang samajuga adalah dewa-dewa? Inikah yang telah diajarkan oleh ribuan tahun sejarah manusia? Bahwa kita adalah

140

1 4 1

JESUS AMONG OTHER GODS

KENIKMATAN BAGI ]IWA

dewa-dewa yang kesepian dan kebingungan yang te1ah tersesat? Karena alas an inilah ''Anda'' hilang dalam Hinduisme dan proses meditatif menjadi keharusan, agar kita sebagai pribadi dapat melebur dengan yang mutlak yang bersifat impersonal - "AIm" yang tertinggi, karena tidak ada pribadi lain yang signifikan.?

Kesatuan dengan sang mutlak yang impersonal bertentangan dengan realitas-realitas bahasa, rasio dan eksistensial. Kesatuan itu tidak memuaskan kerinduan akan persekutuan yang akrab.

Meskipun ada orang yang mungkin sangat menghargai maksud dari pengajaran seperti ini, kita menipu diri kita jika kita percaya bahwa ajaran itu bersifat logis secara filosofis. ltu tidak benar. Itulah sebabnya beberapa dari filsuf dan pemikir Hindu yang paling dihormati telah mencapnya sebagai salah satu sistem tujuan hidup yang paling berkontradiksi yang pernah dianut.'? Bukan hanya itu, Hinduisme tidak dapat mempertahankan sterilitas dari pemujaan-diri semacam ini. Dewa-dewa diserbu oleh jutaan orang, dan kuil-kuil dipenuhi oleh orang-orang yang ingin beribadah. Tidak, gagasan tentang keilahian di dalam batin bersifat memenjarakan secara psikologis dan manusia meloloskan diri untuk mencari ilah yang lain."

Dalam berita Kristen, Allah yang terpisah dan jauh datang mendekat sehingga kita yang lemah dapat dikuatkan dan ditarik untuk mendekat dalam persekutuan yang akrab dengan Allah sendiri, meskipun identitas kita tetap dipertahankan sebagaimana adanya. Tindakan komuni yang sederhana itu merangkumkan tujuan kehidupan. Sang individu mempertahankan individualitasnya sekaligus berdiam dalam komunitas. Yang fisik mempertahankan sifat fisiknya tetapi dilampaui oleh yang spiritual. Elemen-elernen itu mempertahankan perbedaannya masing-masing tetapi menjadi lambang dari kebenaran yang menunjuk melampaui dirinya kepada suatu persekutuan spiritual yang dirindukan olehjiwa kita.

Sarna seperti ungkapan kasih yang paling sempurna antara seorang pria dengan istrinya secara konkrit mengungkapkan segala sesuatu yang tercakup di dalam relasi moral dan spiritual, demikian juga tindakan sederhana di dalam menerima roti yang dipecahkan

dan cawan itu mengandung realitas aktual dari kehadiran Allah yang terjalin sangat erat dalam kehidupan sang individu. Itu adalah suatu tindakan ibadah yang mewakili kehidupan yang penuh makna. Percabangan-percabangannya sangat luas.

REALITASNYA DIALAMI

Izinkan saya membawa Anda ke suatu tempat yang unik di ujung sebuah padang pasir. Saya pernah mengunjunginya, dan hati saya telah tersentuh begitu rupa sehingga sulit untuk melukiskannya. lkutilah sebuah ibadah pada hari Minggu pagi, dan inilah yang akan Anda jumpai. Di sana duduk dua misionari wanita, dikelilingi oleh sekelompok orang, yang bila tersenyum, tampak menyedihkan. Bila mereka mendekat, Anda merasa kerongkongan Anda tercekat. Tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat baik yang mengasihi Kristus. lni adalah sebuah panti untuk para penderita kusta. Di situ di dalam ruangan itu, sedang diadakan Perjamuan Kudus. Elernenelemennya diedarkan, dan pelajaran yang diterima sangat mengagumkan.

Di luar kengerian penyakit itu muncul sebuah pesan yang mulia tentang kesatuan dan pengharapan. Tubuh-Nya dipecahkan bagi kita semua agar makanan-Nya, persahabatan-Nya, perayaan-Nya, dan kegembiraan-Nya menyatukan kita bersama. Suatu hari, tubuhtubuh itu akan diperbarui semuanya ketika kita minum dari cawan itu dan makan dari roti itu bersama dengan Bapa surgawi kita.

lni membawa kita kepada suatu kesimpulan yang paling mengagumkan ten tang makna ibadah. Makanan dan kesehatan mungkin menjadi cabang yang relevan yang menjadi pegangan kita. Tetapi batang yang berakar di dalam panggilan sakral Allah untuk beribadah didasarkan pada pembalikan dari relevansi itu. Bukan Allah yang perlu menjadi relevan bagi kita. Dari perspektif Allah, kitalah yang dipanggil untuk menjadi relevan terhadap Dia. Apa yang saya maksudkan?

142

143

JESUS AMONG OTHER GODS Oh, kirimkanlah Roh-Mu, Tuhan Sekarang kepadaku,

Agar Ia dapat menyentuh mataku Dan mencelikkan aku;

Tunjukkan kepadaku kebenaran yang terselubung

Di dalam Firman-Mu,

Dan di dalam Kitab-Mu yang diwahyukan, Aku melihat Engkau Tuhan.

BabJ

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

SAYA INGIN MEMULAI bab ini dengan mengutip, dengan penuh rasa hormat, bagian-bagian dari salah satu surat yang paling memilukan yang pemah saya terima, atas seizin penulis. Saya benarbenar memuji keberanian, keterusterangan, dan kesediaan belajar dari penulisnya. Jelaslah tidak mudah untuk menyingkapkan pergumulan jiwa seseorang. Hati saya ikut terluka seperti halnya ia dan keluarganya dalam pengalaman yang amat sangat menyakitkan ini.

Surat ini, meskipun bersifat spesifik dan mendesak dalam konteks penulisnya, mewakili sebuah pertanyaan yang ditanyakan kepada Yesus dua ribu tahun yang lalu, dalam situasi serupa. Bahkan, bagi kita semua, jikalau kita jujur, di balik pertanyaan ini mungkin terdapat salah satu rintangan terbesar untuk mempercayai Allah.

Yang terhormat Tuan Zacharias,

Saya amat sangat membutuhkan bantuan Anda. Saya bukan ingin meminta uang atau hal semacam itu ... saya membutuhkan nasihat Anda.

Tolong bacalah surat ini. Surat ini bersifat sangat pribadi dan memilukan. Situasi saya serius, dan saya kini sudah memasuki tahun kedua yang menyiksa dan menakutkan. Saya berpikir saya akan mampu menemukan semua "jawaban" yang saya perlukan untuk mendapatkan kedamaian jiwa, tetapi saya telah terus-menerus menghadapi jalan buntu. Atau mungkin jawabannya selama ini sudah ada, hanya saja jawaban itu terlalu menyusahkan sehingga tidak bisa saya terima. Saya

146

147

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

tidak tahu. Singkatnya saya bingung dan takut. Dan saya membutuhkan bantu an Anda.

Pada tanggal 4 Agustus 1997, pukul 3.15 petang, putra saya, Adam Mark Triplett, tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Kecelakaan itu terjadi di kota New Richmond, Wisconsin. Adam adalah seorang instruktur penerbangan di sebuah sekolah penerbangan lokal di St. Paul, Minnesota. Adam adalah seorang siswa yang dihormati, musikus hebat, pilot profesional, sahabat setia, dan pria Kristen yang berdedikasi. Ia juga adalah seorang kakak, suami dan putra yang menyenangkan. Putra tunggal saya. Adam tewas dalam usia 23 tahun, hanya setelah tiga bulan menikah. Saya tidak bisa membayangkan hid up tanpa dirinya ....

Beberapa tahun yang lalu, istri saya dan saya membeli sebuah komputer baru. Saya tidak menyadari betapa besarnya bahaya yang akan ditimbulkan olehnya dalam hidup saya. Suatu hari, saat sedang menjelajahi Internet seperti biasa bersama sobat teknologi saya yang baru, saya terkejut menemukan sebuah pes an e-mail yang dikirim kepada saya tanpa nama pengirim. Dalam keadaan terguncang dan kaget, saya mendapati diri saya sedang memandangi sebuah gambar penyelewengan seksual dan pornografi yang mendetail.

Saya merasa marah karena gangguan yang vulgar ini dan mulai berusaha untuk menyelidiki asal usulnya. Saya melanjutkan penyelidikan saya, sambil berpikir saya bisa menjadi semacam pejuang yang membela moralitas. Tetapi saya malah menjadi korban dari tipu muslihat dan siasat iblis dan segera terjerat dalam pola "personal viewing. ,,*1

Jika saya mengalami "hari yang buruk" di kantor atau mobil saya mogok (apa saja bisa menjadi alasan), saya akan berusaha mengatasinya dengan melakukan sedikit "personal viewing". Saat ini saya sudah membenarkan "personal viewing" saya sebagai tindakan yang tidak berbahaya .... Saya tidak sedang mengganggu atau melukai siapapun. Saya tidak mempedulikan apa yang sedang saya lakukan terhadap diri saya.

Suatu hari di gereja saya mendapati diri saya sedang melakukan "personal viewing" dalam pikiran saya, sehingga saya tidak memperhatikan

khotbah yang disampaikan. Ketakutan menyergap saya, dan saya mulai berusaha melepaskan diri dari perbuatan yang berdosa ini. Tidak berhasil. Saya terus tersedot ke dalam pusaran itu, dan hal itu mempengaruhi bisnis dan relasi-relasi dalam keluarga saya, belum lagi tanggungjawab-tanggungjawab saya sebagai seorang pemimpin dalam gereja saya.

Pada tanggal 4 Agustus, saya menurunkan putra saya di bandara.

Muridnya sedang menunggunya. Sementara ia berjalan menjauhi mobil ia berbalik dan tersenyum dan mengacungkanjempolnya (tanda pribadi kami untuk menyatakan dukungan). Sementara mobil saya bergerak menjauhinya, sambil melihat ke kaca spion ... saya memiliki firasat aneh dan perasaan samar bahwa itu akan menjadi saat terakhir saya bisa melihatnya di dunia ini. Saya menepisnya sebagai sebuah kebetulan. Saya membuang pikiran itu. Benar-benar melupakannya. Saya kembali bekerja.

Di penghujung hari itu, saya mengamuk karena sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah ... [dan saya memutuskan bahwa] saya akan pulang saja dan melakukan sedikit "personal viewing". Setidaknya saya bisa mendapatkan kepuasan di dalamnya, pikir saya.

[Sementara menyetir,] dengan sangat lembut, hampir seperti nada berbisik, halus dan lembut, dengan suara yang memohon, saya merasa Allah sedang berbicara kepada saya, "Mark, ayolah, Aku tidak ingin kau melakukan hal itu."

Jawaban saya kasar dan berterus terang, "Oh, Kau tidak ingin saya melakukannya. Saya tidak peduli! Kau tidak ingin saya melakukan apapun, bukan? Saya harus selalu sempurna, benar kan? Pokoknya, tidak hari ini!" Tuhan kemudian berbicara dengan suara yang lebih keras dan lebih serius, "Aku memintamu untuk tidak bertingkah laku seperti ini." Sekali lagi saya menjawab dengan angkuh, "Dengan cara apa Engkau akan menghentikan saya? Apa yang akan Kau lakukan, membunuh putra saya?"

Ketiga kalinya Tuhan Allah berbicara kepada saya. Tetapi kaIi ini nadanya lebih mendesak, tegas, dan berwibawa, "Mark, kau tidak mengerti. Aku sedang memberitahumu bahwa Aku TIDAK ingin kau

*1 Menyalurkan dorongan seksual dengan melihat gambar-gambar porno di Internet atau menonton film porno.

148

149

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

bertingkah laku seperti ini."

Saat itu, ego saya sudah memuncak. Respon saya tenang dan terangterangan. Saya tidak mendengar apa-apa lagi dari Tuhan tentang hal ini.

Saya tiba di rumah sekitar pukul 5.30. Istri saya sedang memanggang makanan di halaman belakang. Ia bertanya apakah saya telah mendengar tentang kecelakaan pesawat hari itu. Saya menjawab tidak. Ia tampak bingung dan curiga dan takut. Saya "merasa" ada yang tidak beres ....

Kemudian sheriff tiba. Katrina (adik Adam) menjerit. Linda menangis tidak terkendali. Seluruh tubuh saya terasa kebas, tetapi saya merasakan hadirnya kekuatan yang menguasai tubuh dan pikiran saya. Saya percaya itu adalah Roh Kudus Allah ....

Dalam minggu-minggu selanjutnya setelah kematian Adam, saya mulai mengingat kembali kejadian-kejadian pada hari itu. Saya tenggelam dalam rasa bersalah atas dosa saya terhadap Allah pada hari itu. Saya menjadi sangat menyadari kehinaan saya dan kebutuhan untuk tersungkur di kaki-Nya dan mencari pengampunan .... Apakah saya bertanggung jawab atas malapetaka ini? Va, Allah, jauhkanlah kiranya hal itu.'

adalah Penyebab dari penderitaan?" ''Apakah penderitaan saya terjadi karena dosa saya?" - telah menggelisahkan orang yang skeptis maupun orang percaya. Setiap pribadi rasional yang sedang berusaha untuk memahami dunia yang dihiasi dengan kebaikan tetapi diguncangkan oleh kejahatan berusaha untuk merenungkan hal ini, namun tidak mendapatkan penyelesaian yang mudah, teristimewa ketika terjadi sesuatu yang sedramatis ini. Setelah perdebatan selama berabad-abad, usaha menemukan jawaban yang memadai tetap menjadi tugas yang menciutkan hati. Itu merupakan sebuah pertanyaan yang patut mendapatkan perhatian terbesar kita. Pada saat yang sarna, saya yakin bahwa tidak ada jawaban yang lebih komprehensif untuk masalah penderitaan dan kejahatan dibanding jawaban yang dapat diberikan oleh iman Kristen.

Alkitab tidak mengelak untuk memunculkan pergumulan ini.

Yesus menghadapi pertanyaan ini secara frontal. Kadangkala pertanyaan ini diajukan kepada-Nya dalam bentuk-bentuk yang terselubung, kadangkala secara langsung. Insiden yang paling mencolok yang di dalamnya Ia menghadapi tantangan ini dicatat dalam pasal kesembilan Injil Yohanes. Diskusi itu dicatat di akhir dari laporan terpanjang tentang salah satu mukjizat yang diadakan-Nya. Ada lebih dari sekadar dialog normal yang mendahului dan mengikuti peristiwa penyembuhan ini, dan alasannya adalah karen a ada usaha untuk mencari penjelasan tentang cacat fisik orang itu.

Ketika Yesus sedang berjalan bersama dengan murid-murid-Nya, mereka berpapasan dengan seorang yang terlahir buta. Muridmurid, dalam peristiwa ini, tidak puas untuk sekadar menyaksikan mukjizat kembalinya penglihatan orang tersebut. Mereka melancarkan serangan yang sangat kuat yang jelas-jelas ditujukan untuk mempertanyakan peran Allah dalam suatu situasi tragis. Salah seorang dari para murid tiba-tiba bertanya kepada Yesus, "Siapa yang berdosa, orang ini atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"

Apakah ia bertanggung jawab atas keadaannya yang menyedihkan, atau apakah ada orang lain yang menjadi penyebabnya?

Yesus benar-benar mengejutkan mereka dengan jawaban-Nya,

Seperti yang bisa Anda bayangkan, surat ini membuat hidup saya seakarr terhenti. Sementara saya membacanya, dengan setiap paragraf, kepedihan itu bertambah, bagaikan darah yang mengalir deras ke dalam arteri-arteri yang telah dikosongkan. Hati saya berdebardebar, membangkitkan kesadaran untuk memeriksa-diri. Semua hal lain teras a kurang penting. Saya menempatkan diri saya di posisi orang ini dan membayangkan kengeriannya.

Apa lagi yang bisa membuat hidup menjadi lebih menyakitkan selain beban rasa bersalah yang teramat besar, yang menekan dengan sangat berat dalam tragedi semacam ini? Ketika kata-katanya disederhanakan, yang tersisa adalah pertanyaan yang tajam, "Apakah· Allah mengambil nyawa putra saya? Apakah Ia sedang membuat saya menanggung akibat dari ketidaktaatan saya kepada kehendakNya?"

Pencarian jawaban yang bercabang dua ini - ''Apakah Allah

150

1 5 1

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKUI

bahwa bukan pemuda ini ataupun orangtuanya yang bertanggungjawab atas cacat pada tubuhnya. "lni terjadi agar pekerjaan Allah dapat dinyatakan dalam hidupnya. Selama masih siang, kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus AIm. Akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja. Selama Aku ada di dalam dunia, Akulah Terang Dunia."

Apa yang la maksudkan, "Agar pekerjaan Allah dapat dinyatakan dalam hidupnya"?

Saat la berusaha untuk menjelaskan jawabannya secara terperinci, ingatlah bahwa la sedang menghadapi empat kelompok orang, masing-masing memiliki alasan pribadi untuk bertanya kepadaNya. Yang pertama adalah para murid sendiri. Mereka ingin pertanyaanini dijawab karena mereka mencari penjelasan untuk penderitaan seseorang. Tetapi kemudian ada para tetangga. Mereka tahu sebuah mukjizat telah terjadi dan mereka terheran-heran pada "bagaimana" semuanya itu terjadi. Bagaimana la dapat mengembalikan penglihatan orang yang buta? Kaum skeptis dalam kelompok itu melihat secara persis efeknya tetapi tidak bersedia mengakui "Siapa" yang ada di belakangnya. Mereka tidak menyukai implikasi dari jawaban Yesus karena jawaban itu memaksa mereka untuk memutuskan apakah mereka memiliki kejujuran untuk menanggalkan keangkuhan mereka dan mengikut Dia. Dan akhirnya, ada orang buta itu sendiri. la telah mengalami transformasi itu secara pribadi dan cukup kewalahan dengan semua implikasinya - teristimewa, saat menghadapi para pengkritiknya. Sebuah percakapan pribadi dengan Yesus menghapuskan keraguannya bahwa la tidak hanya sanggup menyembuhkan mata; la sanggup mengubahkan hati.

Jelaslah bahwa jawaban Yesus dalam bagian ini melampaui kepedihan hati dari para orangtua yang telah kehilangan anak-anaknya atau mereka yang telah dengan rela menanggung banyak penderitaan. la langsung mengetahui bahwa ada sebuah pertanyaan di balik pertanyaan itu.

Jawabannya, karenanya, bersifat lebih dalam, bukan hanya untuk menyentuh kepedihan hati manusia tetapi juga untuk memahami

luasnya kejahatan, kepedihan, dan penderitaan. Jika kita ingill 111('nelusuri kedalaman itu, jawabannya mau tidak mau akan mernbawa kita untuk menempuh perjalanan yang panjang. Pertanyaan itu benar-benar tidak bisa dijawab dengan mengabaikan tantangantantangan yang mungkin dihadapi dalam setiap tahapannya. Mereka yang tetap bertahan akan melihat bahwa world-view Alkitab adalah satu-satunya yang menerima realitas kejahatan dan penderitaan, sekaligus memberi penjelasan tentang penyebab dan tujuannya, pada saat yang sarna juga menawarkan kekuatan dan penopang dari Allah untuk menghadapinya. Mereka yang menolak untuk menerirna kebenaran-kebenaran yang dipaparkan oleh Yesus akan terus melihat hal ini sebagai penghalang bagi Allah dan, saya berani mengatakan, penghalang bagi rasio itu sendiri.

Bertahun-tahun yang lalu, ada sebuah kisah jenaka yang beredar.

Kisah itu menceritakan ten tang kerusakan dalam sebuah pembangkit listrik yang telah mengacaukan seluruh kota. Setelah sekian lama, tidak didapati seorang teknisi pun yang dapat memperbaikinya. Akhirnya, datanglah seorang pria yang, dengan menekan sebuah tombol, dapat menyalakan kembali sistemnya. Ia mengenakan biaya sebesar satu juta satu dolar. Karena terkejut dengan jumlahnya, seseorang bertanya kepadanya, mengapa biayanya satu juta satu dolar, bukan hanya satu juta dolar. Jawabannya adalah yang satu dolar adalah untuk menekan tombol. Yang satu juta dolar adalah untuk mengetahui tombol mana yang harus ditekan.

Secara sekilas, respon Yesus terhadap pertanyaan mereka terasa kurang lengkap. J awaban itu terdiri dari beberapa kalimat sederhana. Tetapi kalimat-kalimat sederhana itu memuat pemahaman yang lebih luas. Itulah sebabnya kedalaman yang luar biasa dari jawaban Yesus hanya dapat dimengerti jika world-view di baliknya dipahami. Dengan hanya menggenggam beberapa kalimat pendek ini dan mengabaikan konteks dari keseluruhan berita-Nya sarna saja dengan merusak sebuah tema yang sangat penting. Untuk menghindari risiko itu, saya akan mengembalikan pertanyaan itu kepada tantangan yang mendasarinya dan menghadapi pergumulan dengan

152

153

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

kejahatan*2 dan penderitaan yang berat namun nyata di dalam dunia yang dinyatakan sebagai milik dari Allah yang pengasih. Setelah kita berhasil memahami perspektif Kristen yang lebih luas, kita akan mengerti bahwa Kristus dengan mudah menjawab pertanyaan yang mendesak itu berdasarkan pertanyaan yang lebih besar di baliknya.

SUATU PENDERITAAN UNIVERSAL

kan. Saya mendapati bahwa hal itu pada dasarnya bersifat instruktif, dan pendekatan ini memiliki sebuah pelajaran yang akan saya bahas nanti.

Tetapi kemudian muncullah komponen kedua, yaitu penentuan akan titik tolak. Ada banyak hal yang diasumsikan atau ditutupi sejak semula. Bagi orang skeptis, masalah itu langsung mengikatnya. Seharusnya mereka mendengarkan sang petani Irlandia, yang ketika diminta menunjukkan jalan oleh seorang turis yang tersesat, berkata, "Jika itu tempat yang Anda tuju, saya tidak akan mulai dari sini." Begini, sebagian besar kaum skeptis memulai tantangan mereka terhadap eksistensi Allah dengan masalah kejahatan atau setidaknya mencadangkan emosi terbesar mereka untuk diskusi itu. Tetapi dengan melakukannya, mereka sedang menggali suatu lubang yang lebih dalam daripada lubang yang sedang berusaha mereka panjat, sebab memunculkan masalah kejahatan tanpa Allah berarti menempuh risiko gagal membenarkan pertanyaan itu. Tetapi ada banyak orang yang benar-benar bertolak dari sini dan berlaku bodoh. Dalam pembahasan selanjutnya, saya akan memaparkan mengapa ini bukanlah titik tolak rasional yang tepat bagi orang yang berusaha membuktikan bahwa Allah itu tidak ada.

Pertama-tama, kita harus ingat bahwa setiap world-view - bukan hanya world-view Kristen - harus memberi penjelasan atau jawaban untuk kejahatan dan penderitaan. Entah kejahatan secara mentahmentah membuktikan bahwa Allah tidak ada, seperti yang diakui oleh kaum ateis, atau kejahatan "pada dasarnya bukan benar-benar kejahatan," seperti yang diklaim oleh kaum panteis, atau kejahatan secara paling koheren dijelaskan oleh pandangan Kristen tentang Allah dan tujuan-Nya dalam penciptaan. Singkatnya, masalah ini tidak hanya dihadapi oleh Kekristenan. Sang penantang tidak bisa sekadar mengajukan pertanyaan. Masalah kejahatan ini merupakan masalah yang harus dijawab oleh kita semua, apapun sistem kepercayaan yang kita anut.

Salah satu hal yang saya temukan saat mempelajari topik ini adalah bahwa setiap penulis yang berusaha untuk menjawab pertanyaan ini memiliki satu kesamaan dengan semua penulis lain serta satu asumsi fundamental. Faktor yang umum adalah bahwa masingmasing memulai dengan suatu litani tentang kengerian-kengerian dan kekejaman. Bukan sekadar seseorang yang terlahir buta, atau seorang bayi tak berdosa yang dibunuh. Daftarnya seakan tak ada habisnya. Seolah-olah kita sendiri membutuhkan hal-hal yang dapat mengingatkan kepada kita betapa kuatnya sisi emosional dalam masalah ini, yang menentang solusi rasional apapun. Kengeriankengerian dalam dimensi-dimensi yang tak terbayangkan didaftar-

MEMPOSISIKAN MASALAHNYA

*2 Istilah "kejahatan" dalam bab ini diteJjemahkan dari kata evil.

World-view Kristen mengungkapkan bahwa kejahatan lebih baik diposisikan sebagai suatu misteri daripada sebagai suatu masalah. Nah, sebelum pihak lawan melompat dan berseru, "Pelanggaran!" karena berpikir bahwa dengan menyebutnya sebagai suatu misteri saya sedang berusaha mengelak untuk memberikan solusi, izinkan saya meredam ketakutan itu. Menyebutnya sebagai suatu misteri tidak sarna dengan menghindari kepentingan untuk memberikan suatu solusi. Masalah-masalah membutuhkan jawaban-jawaban, tetapi misteri-misteri menuntut lebih dari itu - misteri patut mendapatkan penjelasan. Ini berarti bahwa akan diperlukan sekumpulan argumen,

154

1 55

JESUS AMONG OTHER GODS

bukan sekadar jawaban sederhana yang diberi tanda QED.*3

Tetapi ada alasan yang sangat penting untuk menyebutnya sebagai misteri. Gabriel Marcel mendefinisikan misteri sebagai suatu masalah yang menelan datanya sendiri. Maksudnya adalah sang penanya secara tidak sadar menjadi objek dari pertanyaannya. Kita bukan sekadar para pengamat dari realitas kejahatan. Kita terlibat di dalamnya melampaui sekadar diskusi akademis apapun. Peter Kreeft, profesor filsafat di Boston College, berujar, "Mencapai Mars adalah sebuah masalah. jatuh cinta adalah sebuah misteri,"> Kejahatan, seperti cinta, bukanlah suatu masalah. Melainkan sebuah misteri.

Orang tidak bisa membahas masalah kejahatan tanpa diperhitungkan sebagai fokus dari masalah itu. Kaum skeptis melangkahi realitas ini dan bersikap seakan-akan mereka adalah para penonton yang sedang mengamati sebuah fenomena, padahal dalam kenyataannya, mereka adalah bagian dari fenomena itu. Mari kita memp~si~ikan tantangan terhadap teisme Kristen dalam kata-kata pemikir terkenal David Hume, dan kita akan segera melihat bagaimana pertanyaan tersebut terkait erat dengan si penanya. Inilah yang dikatakannya:

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

Seandainya ada seorang asing yang tiba-tiba turun ke dunia ini, saya akan menunjukkan kepadanya, sebagai spesimen dari masalah-masalah dan kesulitan-kesulitan dunia, rumah sakit yang penuh dengan penyakit, penjara yang dipenuhi oleh para penjahat dan orang-orang yang berhutang, medan pertempuran dengan mayat-mayat yang bergelimpangan, armada perang yang bergelut di samudera, bangsa yang merana di bawah tirani, kelaparan, atau wabah. Untuk memperlihatkan sisi baik dari dunia ini kepadanya, dan memberikan pengertian kepadanya ten tang kesukaan-kesukannya; ke mana saya harus membawanya? Ke sebuah pesta, pertunjukan opera, ke pengadilan? Ia bisa jadi berpikir bahwa saya hanya sedang menunjukkan kepadanya campuran dari kesengsaraan dan penderitaan.3

Dalam tulisan lain, Hume mengeluh bahwa adalah mustalul untuk mencocokkan dunia yang seperti ini dengan kasih sebagai tujuan akhirnya. Ini mungkin justru mengungkapkan sesuatu yang lebih baik daripada yang ingin diungkapkan oleh Hume, karena ia mengisyaratkan sebuah penjelasan bahkan di dalam pertanyaannya. Tujuan dasar pertanyaannya sangat jelas. Masalah dukacita dan penderitaan bersifat riil dan dirasakan oleh setiap orang. Itulah sebabnya setiap kelompok memiliki keterlibatan dengan Yesus dalam perkara ini.

Masalah itu bukan hanya bersifat riil dan dirasakan, melainkan juga bersifat universal. Tidak ada usaha dari agama lain yang menandingi usaha Buddhisme untuk menjelaskannya. Seluruh perjalanan ziarah Buddha menuju "Pencerahan" dimulai karena perhatian penuhnya terhadap misteri kejahatan dan penderitaan. Universalitas masalah inilah yang telah mendorongnya untuk memulai perjalanannya.

Tetapi jika ada realitas dan universalitasnya, ada juga kompleksitasnya. Kejahatan dipertanyakan setidaknya dari tiga sisi: masalah metafisikal (Apa sumbernya?), masalah fisikal (Bagaimana bencanabencana alam, dsb, menjadi bagian dari pembahasannya?), dan masalah moral (Bagaimana hal itu dapat dibenarkan?).

Sisi yang ketiga menjadi jantung permasalahannya: Bagaimana Allah yang baik dapat mengizinkan terjadinya begitu banyak penderitaan? Mendadak kita memasuki dilema yang sangat serius. Bagaimana Anda meresponi sisi intelektual dari pertanyaan itu tanpa melewatkan sisi eksistensialnya? Bagaimana Anda menjawab para Mark Triplett dari dunia ini tanpa menenggelamkan semuanya itu dalam filsafat?

Mereka yang paling merasakan kepedihan dari pertanyaan itu, seringkali merinding mendengar betapa teoritisnya jawabanjawaban filsafat. Kita tidak suka memikirkan sisi intelektual dari pertanyaan itu karena kita tidak dapat memahami bagaimana logika dan filsafat dapat memainkan peranan dalam masalah penderitaan . Jika Anda baru saja menguburkan seorang anak lelaki atau seorang

• ) QED Quod Erat Demonstrandum, istilah dalam bahasa Latin yang berarti suatu fakta pcnsnwa, dsb. mcmbuktikan bahwa apa yangAnda katakan itu benar. '

156

157

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

anak perempuan, atau telah menyaksikan kebrutalan secara langsung, bagian argumen ini bisa menghasilkan lebih banyak kemarahan daripada penghiburan. Siapa yang menginginkan penjelasan logis di kala hatinya sedang hancur? Siapa yang menginginkan risalah fisiologis tentang komponen kalsium dalam tulang ketika bahunya telah keluar dari persendiannya? Pada saat seperti ini, kita sedang mencari kelegaan. Kita menginginkan penghilang rasa sakit.

Tetapijika kita hanya berfokus pada hasilnya tanpa memperhatikan prosesnya, kita bisa jadi hanya menghilangkan rasa sakit itu untuk sementara waktu, padahal tulang itu masih belum kembali ke tempatnya. Ada saatnya logika harus berdiri sendiri. Penghiburan akan datang kemudian jika terdapat alasan kuat yang menopangnya.

Dan kepada Anda, pembaca, saya mohon: Sekalipun bagian pertama ini terasa bertele-tele, bertahanlah, karena di sinilah kita mempelajari pertanyaannya, sebelum melangkah kepada jawabannya. Kita tidak boleh membiarkan kepedihan hati kita melangkahi penalaran pikiran. Penjelasannya harus memenuhi tuntutan-tuntutan intelektual dan emosional dari pertanyaannya. Menjawab pertanyaanpertanyaan dari pikiran dengan mengabaikan emosi-emosi yang hancur terasa kejam. Mengobati luka-luka emosional dengan mengabaikan pergumulan dari intelek teras a bodoh.

Lalu, apa yang menjadi titik tolaknya? Karena pokok permasalahannya pertama-tama dan terutama berhubungan dengan pertanyaan moral, bagaimana mungkin terdapat pembenaran moral untuk kejahatan? Sebuah analogi dari C.S. Lewis dapat membantu kita. Ia mengingatkan pada kita bahwa ketika sebuah kapal sedang berlayar di laut lepas, setidaknya ada tiga pertanyaan yang harus dijawab. Pertanyaan pertama, bagaimana kita mencegah agar kapal itu tidak tenggelam? Kedua, bagaimana kita mencegah kapal itu menabrak kapal-kapal lain? Kedua pertanyaan ini mungkin saja jelas tetapi di baliknya tersimpan pertanyaan yang paling penting, ketiga, sebenarnya, apa yang menyebabkan kapal itu berlayar di laut lepas? Pertanyaan pertama membahas tentang etika pribadi. Yang kedua membahas etika sosial. Yang ketiga berkenaan dengan etika normatif

Budaya kita hanya mampu menjawab pertanyaan yang pertama dan kedua. Mereka mengabaikan pembelaan rasional ten tang tujuan hidup yang sesungguhnya dan tidak mengetahui kepada siapa mereka harus meminta petunjuk. Kalau seseorang tidak mengetahui tujuan yang ingin dicapainya, ia bisa pergi ke mana saja. Dan ketika kapal itu mulai tenggelam atau menabrak kapal lainnya, bagaimana orang itu bisa sampai dengan selamat di dermaga tanpa alat bantu apapun?

Kita harus yakin bahwa tidak ada imperatif" etika yang dapat ditegakkan dan tidak ada keputusan-keputusan yang dapat dibuat tanpa terlebih dulu menegakkan imperatif kehidupan dan mengetahui cara untuk mengukur kemajuan. Untuk apa sebenarnya kita ada di dunia? Dan di sinilah orang yang skeptis bergelut di atas laut lepas kehidupan. Jika kita ada di sini sarna sekali karena kebetulan dan kita berlayar sarna sekali tanpa tujuan yang pasti, bagaimana seseorang dapat menentukan apakah perjalanan itu sedang menuju ke arah yang benar atau salah? Untuk apa berada di satu temp at dan bukan di tempat yang lain?

Kini kita akan melihat mengapa pertanyaan itu sendiri mengalahkan orang yang skeptis, yang pada saat yang sarna ingin menyangkali bahwa kehidupan sungguh-sungguh mempunyai tujuan.

HIDUP DENGAN KONTRADIKSI

Izinkan saya untuk menyebutkan dua pintu, yang melaluinya orang yang telah memunculkan pertanyaan tentang eksistensi Allah, berusaha melarikan diri dari jerat-jerat ketidakpercayaan dengan tampilan rasio. Namun demikian, saya kuatir bahwa pintu-pintu itu bertuliskan "TidakAdaJalan Keluar."

Rute pelarian pertama dalam masalah kejahatan diajukan oleh mereka yang memprotes bahwa Allah tidak mungkin ada karena ada

*4 suatu bentuk perintah.

158

1 59

JESUS AMONG OTHER GODS

terlalu banyak kejahatan yang nyata dalam kehidupan. Mereka tidak melihat adanya kontradiksi logika dalam sistem mereka karena mereka tidak perIu membuktikan bahwa kejahatan ada berdampingan dengan Pencipta yang baik. Kejahatan ada; karena itu, Pencipta tidak ada. Itu dinyatakan secara mutlak.

Tetapi di sini, Kekristenan menyediakan sebuah sanggahan untuk mengingatkan bahwa mereka belum keluar dari masalah kontradiksi. Jika kejahatan ada, maka seseorang harus berasumsi bahwa ada kebaikan sehingga perbedaannya dapat dikenali. Jika kebaikan ada, seseorang harus berasumsi bahwa ada suatu hukum moral yang berfungsi menilai kebaikan dan kejahatan. Tetapi jika ada suatu hukum moral, bukankah seseorang harus mengajukan hipotesa tentang keberadaan suatu sumber hukum moral yang tertinggi, atau setidaknya suatu dasar objektif untuk sebuah hukum moral? Yang saya maksud dengan dasar objektif yaitu sesuatu yang memiliki kebenaran yang tidak terbatas dan kekal, tanpa mempedulikan apakah saya mempercayainya atau tidak.

Argumen ini bersifat sangat mendesak dan harus sungguhsungguh dipertimbangkan oleh siapa saja yang menyangkal eksistensi Allah tetapi menerima keberadaan dari kejahatan. Bertentangan dengan keyakinan Kristen bahwa Allah harus ada untuk mengajukan hipotesa tentang pengertian-pengertian dari baik dan jahat, orang yang skeptis menjawab dengan, "Mengapa evolusi tidak bisa menjelaskan kesadaran moral kita? Mengapa kita membutuhkan Allah?"

lni adalah pendekatan terbaru dari para pemikir antiteistik yang berusaha menjelaskan tentang baik dan jahat di luar Allah. Selama bertahun-tahun, kaum natural is pertama-tama menolak kausalitas" sebagai argumen untuk membuktikan keberadaan Allah: Mengapa kita perIu memiliki penyebab? Mengapa alam semesta tidak bisa ada begitu saja? Kemudian mereka menyangkali rancangan sebagai argumen untuk eksistensi Allah: Mengapa kita membutuhkan seorang perancang? Mengapa semuanya itu tidak bisa ada begitu saja ber-

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

*5 pcrihal sebab akibat.

san:aan de.ngan mun.culnya hasil rancangan? Kini mereka menyangkali morahtas sebagai argumen untuk eksistensi Allah: Mengapa kita perlu mengajukan hipotesa tentang hukurn moral atau sumber hukurn moral? Mengapa hal itu tidak bisa hanya menjadi suatu realitas pragmatis? Bagi saya hal ini sungguh mengagumkan! Mereka mencari penyebab dari penderitaan atau rancangan untuk penderitaan tetapi mereka telah menyangkal bahwa keduanya sangat diper1uka~ untuk menilai setiap akibat.

. Usaha unt.uk ~enyangkal keberadaan Allah ini karena hadirnya keJ~hata~ begttu dipenuhi dengan penjelasan-penjelasan yang tidak IO~lS sehmgga sungguh mengherankan bila semuanya itu bisa di~enma. Tak satupun pendukung etika-etika evolusi yang te1ah menJelaskan bagaimana penyebab pertama yang impersonal dan amoral me1alui proses nonmoral telah menghasilkan dasar moral kehidupan, semen tara pada saat yang sama menyangkal dasar moral objektif apapun untuk kebaikan dan kejahatan. Tidakkah janggal bahwa dari semua permutasi dan kombinasi yang mungkin dihasilkan oleh a_Iam semesta yang tidak teratur, bisa dihasilkan pengertian-penger_ nan dalam diri kita ten tang apa yang benar, yang baik dan yang indah? Se~enarnya, untuk apa menyebut sesuatu itu baik ataujahat? Mengapa tidak menyebutnyajingga atau ungu? Dengan begitu, kita menetapkannya sebagai selera yang berbeda. Ngomong-ngomong, Bertrand Russell mencoba pendekatan yang terakhir itu dan hasilnya cukup menyedihkan.

Keben~rann~a adalah kita tidak dapat melepaskan diri dari pukulan ekslstenslal dengan melarikan diri dari hukum moral. Nilainilai moral objektif hanya ada jika ada Allah. Apakah boleh, rnisalnya, memutilasi bayi-bayi sebagai hiburan? Setiap orang yang waras akan menjawab tidak, Kita tahu bahwa nilai-nilai moral objektif memang ada. Karena itu Allah harus ada. Menelaah premis-premis tersebut dan validitasnya memberikan suatu argumen yang sangat kuat. Bahkan,]. L. Mackie, salah satu tokoh ateis yang paling vokal yang mer:npertanyakan eksistensi Allah berdasarkan realitas kejahatan, setidaknya mengakui hubungan logis ini ketika ia berkata:

160

1 6 1

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

Apakah Anda melihat apa yang telah terjadi? Kaum skeptis mulai

dengan memaparkan daftar panjang dari hal-hal yang mengerikan, dengan mengatakan, "Semuanya ini amoral, karena itu tidak ada Allah." Tetapi memunculkan isu-isu ini sebagai isu moral berarti mengasumsikan situasi-situasi yang tidak mungkin dihasilkan oleh evolusi. Tidak akan ada jalan untuk tiba pada kewajiban yang mendesak secara moral, berdasarkan asumsi-asumsi naturalisme. Lalu, apa yang dilakukan oleh si skeptis? Ia menyangkal nilai-nilai moral yang objektif karena menerima realitas semacam ini berarti membuka kemungkinan untuk eksistensi Allah. Maka, ia menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada yang disebut dengan kejahatan.

Inikah yang ingin dijadikan sebagai jawaban? Jika DNA tidak memiliki pengetahuan atau kepedulian, lalu dari mana asalnya pengetahuan dan kepedulian kita? Apakah kita hanyalah komputerkomputer hidup, yang menilai pikiran kita secara berIebihan? Jika perasaan-perasaan kita sarna sekali tidak berpengaruh pada realitas dari pertanyaan ini, maka mungkin kecerdasan kitalah yang bersifat artifisial dan kecerdasan komputerlah yang asli, karena komputer tidak memiliki perasaan; komputer hanya memiliki informasi. Komputer tidak "peduli" dan tidak "berdukacita karena kejahatan," dan karenanya, lebih mendekati realitas.

Inikah yang telah kita capai? Kita hams wasp ada karena tidak ada yang dapat menghentikan kita sekali kita menapak di jalanan licin yang menurun ini. Penyangkalan akan suatu hukum moral yang objektif, berdasarkan desakan untuk menyangkal eksistensi Allah, pada akhirnya menghasilkarr penyangkalan akan kejahatan itu sendiri. Dapatkah Anda membayangkan diri Anda berkata kepada seorang wanita yang diperkosa bahwa pemerkosanya hanya sedang berdansa mengikuti DNA-nya? Katakan pada ayah dari Adam Triplett yang masih muda bahwa ia hanya sedang berdansa mengikuti DNA-nya. Katakan pada para korban Auschwitz bahwa orangorang yang menyiksa mereka hanya sedang berdansa mengikuti DNA mereka, dan katakan pada sanak keluarga dari orang-orang yang dikanibal olehJeffrey Dahmer bahwa ia hanya sedang berdansa mengikuti DNA-nya. Kalau begitu, teruslah mengikutinya!

Kita sangat mungkin berargumen ... bahwa karakteristik-karakteristik objektif yang preskriptif'" secara intrinsik", yang muncul tanpa diharapkan pada hal-hal natural, menyusun sekelompok kualitas dan relasi yang begitu ganjil sehingga semuanya itu hampir tidak mungkin telah muncul dalam rangkaian peristiwa-peristiwa umum, tanpa

diciptakan oleh Allah yang maha-kuasa-"

Karena itu, hams disepakati kesimpulannya bahwa tidak ada sesuatupun yang baik secara intrinsik dan preskriptif kecual~ ada Alla~ yang telah membentuk alam semesta seperti itu. Tetapi J.ustru. Pnbadi itulah yang ingin ditolak oleh si skeptis karena eksistensi ke-

jahatan.

Pintu keluar pertama untuk lari dari Allah sudah terbuka, dan

pemandangannya sungguh menakutkan. Hanya tersisa satu pi~ihan, yaitu bemsaha mengubah bentuk pintunya. Setelah menyadan .ba~wa jika kejahatan diakui maka suatu hukum moral ya~g objektif mungkin perlu dihadirkan, si skeptis mencoba cara bertmdak yang baru. Dengarkanlah penjelasan yang luar biasa dari salah satu pem-

bela ateisme, Richard Dawkins, dari Oxford:

Dalam alam semesta dengan kekuatan-kekuatan fisik dan replikasi genetik yang buta, sebagian orang akan terluka, yang lainnya akan ber~ untung, dan Anda tidak akan menemukan penjelasan atau alasan di dalamnya, ataupun keadilan apapun. Alam semesta yang kita amati memiliki kualitas-kualitas natural yang sangat tepat yang bisa kita harapkanjika pada dasarnya tidak ada rancangan, tidak ada tujuan, tid~ ada kejahatan dan tidak ada kebaikan lain. Tidak ada apapun selain ketidakpedulian yang buta dan tanpa be1as kasihan. DNA tidak memiliki pengetahuan atau kepedulian. DNA semata-mata ada. Dan kita

berdansa mengikuti iramanya'

*6 bersifat memberi petunjukltata cara; tergantung pada ketentuan resmi yang berlaku. *7 sifat yang terkandung di dalamnya.

162

163

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

Sungguh menjijikkan! Ini bukan sebuah dansa! Ini adalah pencekikan terhadap batang leher logika yang dilakukan oleh orang yang hendak melarikan diri, yang dengan bersusah payah ingin menghirup rasionalitas sambil menyangkal keberadaan dasar-dasar pijakan logika. Akibatnya, dalam mencari jawaban untuk pertanyaan tentang kejahatan, ia pada akhirnya justru menyangkal pertanyaan itu. Bahkan, saya menguji teori ini pada beberapa mahasiswa di Oxford University. Saya bertanya pada sekelompok mahasiswa yang skeptis, jika saya mengambil seorang bayi dan memotong-motong tubuhnya di hadapan mereka, apakah itu berarti bahwa saya sudah melakukan hal yang salah? Mereka baru saja menyangkal eksistensi nilai-nilai moral yang objekti£ Mendengar pertanyaan saya, semuanya terdiam, dan kemudian pimpinan kelompok itu berkata, "Saya tidak akan menyukainya, tetapi tidak, saya tidak bisa berkata bahwa Anda telah melakukan sesuatu yang salah." Astaga! Dasar penipu. la tidak akan menyukainya. Astaga! Sungguh irasional - ia tidak bisa menyebut hal itu salah. Saya hanya perlu bertanya kepadanya, kalau begitu apa yang tersisa dari pertanyaan yang sesungguhnya, jika kejahatan tidak diakui?

Dawkins sesungguhnya bisa memberikan bantuan tambahan kepadanya. Dalam ceramah-ceramahnya di hadapan British Humanist Association, ia mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Setelah mendiskreditkan konsep ten tang Allah dalam berbagai tulisannya dan mengesampingkan kejahatan sebagai dorongan DNA, lalu bagaimana kita bisa memahami kesadaran akan moralitas yang kita dapati dalam pengalaman manusia? Terlebih lagi, mengapa kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan ten tang kebaikan dan kejahatan?

Dawkins memiliki jawabannya. Virus. Suatu virus mengacakacak data di dalam gen manusia dan mencetuskan kesalahan informasi ini. Seandainya saja kita bisa menghapus virus yang membuat kita berpikir seperti ini, kita akan dibersihkan dan dibebaskan dari konsep tentang Allah, kebaikan, dan kejahatan yang membingungkan ini."

Dalam bahasa-Dawkins, mereka yang telah bertanya kepada

Yesus membutuhkan suatu program antivirus. Bahkan, Yesus Sendiri pun perlu diprogram-ulang. Dan saya rasa, orang yang membicarakan tentang sisi moral dari Holocaust membutuhkan perlindungan antivirus yang baru. Dengan begitu, pertanyaan tentang kejahatan tidak akan muncul. Orang ingin bertanya kepada Dawkins apakah kita memiliki kewajiban moral untuk menghapus virus itu. Jangan sampai kita lupa bahwa ia sendiri, tentunya, terbebas dari virus itu dan karenanya bisa memasukkan data moral kita.

Masalah itu telah menelan dirinya sendiri. Dalam suatu usaha untuk melarikan diri dari apa yang mereka sebut sebagai kontradiksi antara Allah yang baik dengan dunia yangjahat, kaum skeptis menghal au pikiran tentang konsep-konsep teistik, hanya untuk diisi dan ditaklukkan oleh kontradiksi-kontradiksi yangjumlahnya tujuh kali lebih besar.

Meskipun saya sudah sering mengutip G.K. Chesterton dalam kritiknya terhadap pemikiran semacam ini, tidak ada orang lain yang mengungkapkannya dengan Iebih baik, jadi saya ingin mengutip ucapannya sekali lagi:

Seluruh celaan mengimplikasikan semacam doktrin moral dan orang skeptis modern meragukan bukan hanya institusi yang dicelanya, melainkan juga doktrin yang ia gunakan untuk menyampaikan celaannya. Akibatnya, ia menulis sebuah buku yang mengeluhkan bahwa penindasan imperial menghina kesucian para wanita, dan kemudian menulis buku lainnya, sebuah novel yang berisi penghinaan pribadinya terhadap hal itu. Sebagai seorang politisi ia akan menyerukan bahwa perang merupakan pemborosan kehidupan, dan kemudian sebagai seorang filsuf bahwa seluruh kehidupan adalah pemborosan waktu. Seorang Rusia yang pesimis akan mencela seorang polisi karena membunuh seorang petani kecil, dan kemudian membuktikan dengan prinsipprinsip filosofis tertinggi bahwa petani kecil itu seharusnya mengambil nyawanya sendiri. Seorang pria mencela pernikahan sebagai sebuah dusta dan kemudian mencela para aristokrat yang amoral karena memperlakukannya sebagai sebuah dusta.

164

165

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

Orang yang berpandangan seperti ini pertama-tama pergi ke sebuah pertemuan politik di mana ia mengeluh bahwa suku-suku primitif diperlakukan seperti binatang. Kemudian ia mengambil topinya dan payungnya dan melanjutkan perjalanannya ke sebuah pertemuan ilmiah di mana ia membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah binatang. Singkatnya, seorang revolusionis modern, dengan sikap skeptisnya yang tidak terbatas, selamanya terikat untuk menggali lubang-lubang bagi dirinya sendiri, dalam bukunya ten tang politik ia menyerang manusia karena menginjak-injak moralitas; dalam bukunya tentang etika ia menyerang moralitas karena menginjak-injak manusia. Karena itu, manusia modern yang memberontak menjadi benar-benar tidak berguna bagi segala tujuan pemberontakan. Dengan memberontak terhadap segal a sesuatu ia telah kehilangan haknya untuk memberontak terhadap apapun.?

Hal ini memunculkan pertanyaan berikutnya: "Apakah moralitas merupakan urusan absolut atau pribadi?" Respon terbanyak mengatakan bahwa moralitas adalah urusan pribadi.

Kedua pertanyaan ini menjadi be rita utama dalam warta berita CNN. Pertama-tama, bahwa kata-kara hanya mempunyai makna pribadi: Kedua, bahwa moralitas adalah urusan pribadi. lronisnya, hal ketiga pada berita itu adalah bahwa Amerika Serikat baru saja ~e~geluarkan peringatan keras kepada Saddam Hussein bahwa jika ~a tlda~ berhenti melakukan permainan kata-kata dengan tim-tim inspeksi nuklir, kami akan muIai mengebom Irak.

Tib.a-tiba saja, kata-kara menjadi penting. Kami tidak ingin membiarkan Saddam berdansa mengikuti DNA-nya. Kami tidak ingin membiarkan ia menulis kamus-nya sendiri. Kami tidak ingin membiarkan ia hidup dengan etika-nya sendiri, tetapi kami bisa membiarkan setiap warganegara kami menentukan makna dari katakata yang mereka gunakan dan bersikeras bahwa moralitas kami bukanlah urusan siapa-siapa.

Persis seperti inilah dunia yang dikendalikan oleh logika dari Dawkins dan orang-orang yang menganut filosofi serupa. Sebuah dunia yang mengalami kontradiksi sistemik. Jika moralitas tidak lebih dari sekadar kemajuan evolusi, tidak ada jalan untuk menilai ketika kita telah mencapai puncak. Dari pengakuan mereka sendiri tidak ada previsi (penglihatan sebelumnya) dalam kolokasi*9 acak dari ~t~~-atom: ~ada akhirnya, filosofi tentang kejahatan yang seperti mi menjadikan kehidupan mustahil untuk dijalani dalam sebuah komunitas. Dawkins tidak dapat menjelaskan kejahatan dengan menyangkal hukum moral objektif, dan ia tidak dapat menyangkal kejahatan tanpa mengalami kekalahan dalam usahanya mempertanyakan eksistensi Allah. Pintu bagi orang skeptis ini bertuliskan "Tidak Ada Jalan Keluar," bahkan sementara kapalnya tenggelam.

Izinkan saya mengilustrasikan maksud Chesterton dengan sesuatu yang lebih kontemporer. Dengan cara-cara yang menyedihkan, kita melihat contoh dari hal ini ketika Amerika menjadi gempar karena skandal Clinton-Lewinsky, Dalam kontradiksi moral kita, suatu mood kultural yang menakjubkan terungkap. Pernyataan terkenal dari sang Presiden bahwa "semuanya bergantung pada apa definisi dari 'is' ," menyebabkan para wartawan turun ke jalan-jalan untuk mengajukan pertanyaan yang mewakili abad ini: '~pakah kata-kata memiliki makna baku, atau bolehkah kita memberinya makna apa saja yang kita pilih?" (Apa yang dapat menelan dirinya sendiri melebihi para pemasok kata-kata yang sedang bertanya apakah kata-kata memiliki makna, sekaligus menggunakan kata-kata untuk bertanya?)

Yang "mengejutkan" para penyurvei, sebagian besar orang tampaknya setuju bahwa kata-kata terkadang bisa memiliki makna yang berbeda bagi orang yang berbeda, tentunya dengan berasumsi bahwa tidak ada ekuivokasi*8 dalam makna saat pertanyaan diajukan dan jawaban diberikan.

*8 penggunaan istilah atau kata yang sarna dalarn pengertian yang berlainan.

*9 proses penernpatan (penyusunan).

166

167

JESUS AMONG OTHER GODS MENUNTUT KONTRADIKSI DARI ALLAH

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

Pintu kedua mulanya tampak seperti jalan keluar yang pasti. Si skeptis bertanya mengapa Allah tidak bisa membuat kita selalu ~e~ milih yang baik. Para filsuf terkenal telah memunculkan hal mi sebagai senjata pamungkas mereka untuk menantang Kekristenan. Tetapi di sini pun tantangan mereka bertentangan dengan rasio.

Alvin Plantinga dari University of Notre Dame, yang oleh banyak orang dipandang sebagai filsufProtestan yang paling dihor~ati pada zaman ini, telah mengajukan argumen yang kuat dan tidak dapat dibantah untuk menghadapi tantangan si skeptis ini. Ia b~rargumen bahwa pilihan ini mencerminkan pandangan yang keliru tentang makna dari kemahakuasaan Allah. Kita harus sadar bahwa Allah tidak dapat melakukan hal-hal yang saling terpisah*10 dan mustahil secara legis"!'. Allah tidak bisa membuat square circles (lingkaranlingkaran bujursangkar). Kedua istilah itu (lingkaran dan bujursangkar) bersifat terpisah satu dengan yang lain.

Plantinga benar. Saya bisa menambahkan bahwa jika Allah memang bisa melakukan sesuatu, termasuk hal-hal yang saling terpisah, maka Ia juga bisa berkontradiksi dengan karakter-Nya, yang implikasinya adalah masalah kejahatan tidak mungkin diselesaikan, sehingga tidak membutuhkan pembelaan. Satu-satunya alasan mengapa kita memunculkan pertanyaan ini adalah karena kita ~en.cari koherensi. Dalam dunia di mana kasih menjadi etika tertmggi, kebebasan harus tercakup di dalamnya. Kasih yang diprogram atau dipaksa bukanlah kasih; itu hanyalah suatu respon yang terkondisi

atau sikap melayani-diri.

Sekali lagi, bahkan para pemikir yang memusuhi Kekristenan

tanpa sadar meneguhkan kebenaran-kebenaran yang sesuai deng.an pemikiran Kristen. Sebagai contoh, Jean Paul Sartre, dalam Being

and Nothingness, berkata:

Orang yang ingin dikasihi tidak ingin diperbudak oleh orang yang dikasihinya. Ia sarna sekali tidak bertekad untuk dijadikan sebagai objek dari nafsu yang rnengalir secara rnekanis. Ia tidak ingin rnerniliki sebuah robot, dan jika kita ingin rnerendahkan rnartabatnya, kita hanya perlu berusaha rneyakinkan dirnya bahwa has rat dari orang yang dikasihinya adalah hasil dari suatu deterrninisrne psikologis. Maka sang kekasih akan rnerasa bahwa baik cintanya rnaupun keberadaannya diinjakinjak .... Jika orang yang dikasihinya diubah rnenjadi robot, orang itu rnendapati bahwa ia sendirian."

* 1 0 mutually exclusive = dua hal yang tidak dapat dilakukan atau dimiliki secara bersamaan. * 11 logically impossible

Sungguh bijaksana! Cinta yang dipaksakan menjadi pertanda kesendirian. Memiliki kebebasan untuk mencintai ketika Anda boleh memilih untuk tidak mencintai, itulah makna cinta yang sesungguhnya. Inilah sebabnya pada bagian sebelumnya saya mengatakan bahwa David Hume memiliki jawaban yang tidak diketahuinya dalam pertanyaannya tentang masalah penderitaan. Bukankah tujuan tertinggi dari kasih menjadi satu-satunya cara untuk meluruskan masalah penderitaan? Meminta agar kita tidak diberi kebebasan dan hanya memilih kebaikan tidak sarna dengan meminta kasih, melainkan sarna dengan meminta paksaan dan sesuatu yang berada di luar kemanusiaan.

Kedua pintu keluar untuk si skeptis tertutup rapat. Anda tidak dapat menampilkan hipotesa tentang kejahatan tanpa suatu hukum moral yang tidak terbatas, yang tidak dapat ditopang oleh makroevolusi. Dan Anda tidak dapat memperoleh etika tertinggi tanpa kemungkinan bagi kebebasan. Yang pertama membuat kita menjalani kehidupan yang berkontradiksi. Yang kedua menuntut kontradiksi dari Allah.

Secara singkat, bagi orang natural is, orang yang terlahir buta sedang berdansa mengikuti DNA-nya. Berkenaan dengan pertanyaan di balik pertanyaannya, orang natural is tidak hanya gagal untuk menjawabnya, ia bahkan gagal untuk membenarkannya.

Bagaimana agama-agama lain akan menjawab pertanyaan muridmurid, dan pertanyaan di balik pertanyaan itu?

168

169

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

tipuan dan delusilkhayalan dari pikiran terhadap realitas materi. Keesokan harinya, sang raja melepaskan seekor gajah yang mengamuk, dan Shankara berlari memanjat pohon untuk menyelamatkan diri. Ketika sang raja bertanya kepadanya mengapa ia lari jika gajah itu tidak riil, Shankara, yang tidak mau kalah, berkata, ''Apa yang dilihat oleh raja sebenarnya adalah diri saya yang tidak riil, yang sedang memanjat pohon yang tidak riil!" Orang bisa menambahkan, "Itu adalah suatujawaban yang tidak riil."

Meskipun hal-hal ini dipandang sebagai fabel, Hinduisme klasik tidak mungkin bisa menyelesaikan masalah kejahatan. Menyangkal realitas kejahatan tidak menghilangkan kefasikan, ataupun memadamkan kerinduan hati untuk mencari kemurnian. Sebagian besar ibadah Hindu dipenuhi oleh ritual-ritual purifikasi. Itulah sebabnya seluruh korpus Hinduisme populer dipenuhi dengan berbagai bentuk penyembahan, ketakutan akan penghukuman, sarana-sarana untuk mendapatkan perkenan Allah, dsb.

Tetapi mengapa semua pencarian ini dianggap rim Bahkan, salah satu kritik terkuat dari Hinduisme terhadap Kekristenan dan alasan yang diberikan untuk menolak validitasnya adalah rujukan Hinduisme kepada masa penjajahan Inggris dan kepada kejahatan dari eksploitasi terhadap bangsa yang dijajah. Manusia tidak bisa memilih keduanya; kejahatan tidak mungkin bersifat ilusi sekaligus konkrit.

Hinduisme menjelaskan persepsi tentang kejahatan sebagai sesuatu yang diinduksi oleh ketidaktahuan. Tetapi hal itu justru memunculkan pertanyaan selanjutnya. Jika semuanya itu satu adanya, dan pluralitas adalah sebuah ilusi yang lahir dari ketidaktahuan, lalu siapa sumber dari ketidaktahuan 'itu selain yang satu itu? Dan jika yang satu itu menjadi sumber dari ketidaktahuan, maka kemutlakan impersonal di dalam diri yang satu itu merupakan kemutlakan yang tidak memiliki pengetahuan yang sejati. Tetapi di sini, kita menghadapi jawaban Hinduisme yang sebenarnya kepada pertanyaan tentang orang yang buta sejak lahir.

Reinkarnasi adalah karakteristik sentral dari filsafat Hindu.

Bahkan, beberapa pemikir timur telah menggunakan bagian spesifik

Seperti yang telah saya paparkan, agama-agama panteistik telah berusaha memberikan jawaban-jawaban yang luas, dan terkadang jawaban-jawaban itu luar biasa membingungkan. Bagi Hinduisme, kesulitannya adalah agama itu tidak memiliki jawaban monolitik*12 untuk masalah penderitaan. Dengan menyatakan bahwa segala sesuatu dalam dunia fisik bersifat nonriil, khayal, berubah-ubah, dan sementara, muncullah masalah-masalah filosofis yang tidak terhingga. Dan, tentunya, orang mau tidak mau bertanya, Dari mana munculnya "ilusi" tentang kejahatan ini, jika segala sesuatunya merupakan serpihan-serpihan dari realitas ilahi? Sebenarnya, mereka sudah berusaha untuk menjawabnya.

Ada suatu kisah klasik dalam Bhagawad-Gita, yang menceritakan tentang Krisna yang sedang menasihati Arjuna, yang sedang berada di medan pertempuran, dengan menghadapi kemungkinan bahwa ia akan membunuh saudara-saudara tirinya. Ia bergumul dan tidak bisa melakukannya. Krisna, yang menjelma sebagai kusirnya, berbicara kepadanya tentang tanggung jawabnya. Ia wajib menunaikan tanggungjawab kastanya sebagai seorang ksatria. Dengan cara inilah kehidupan dapat terus berjalan. Tetapi ia berkata bahwa Arjuna tidak perlu takut menjalankan tugasnya, sebab semua kebaikan dan kejahatan menyatu dalam satu realitas tertinggi, Brahman. Dalam Brahman, kata Krisna, perbedaan itu lenyap. Apa yang tampakjahat sebenarnya hanyalah realitas yang lebih rendah. Pada akhirnya, seluruh kehidupan, seluruh kebaikan, seluruh kejahatan, mengalir dari Allah dan kembali kepada Dia atau kepadanya. "Pergilah berperang dan lakukan tugasmu." Pertemuan dari segala sesuatu dalam satu realitas absolut menjadi inti jawaban untuk pertanyaan di balik pertanyaan. Orang dapat melihat bagaimana kesadaran tentang fatalisme mendominasi ketika semua realitas terungkap tanpa bisa dielakkan dan dihindarkan.

Ada sebuah kisah jenaka tentang filsuf terkemuka India, Shankara. Ia baru saja selesai berceramah di hadapan raja tentang

*12 mempunyai sifat atau menyerupai.

170

1 7 1

JESUS AMONG OTHER GODS

tentang orang buta ini sebagai bukti bahwa Alkitab mengajarkan reinkarnasi. Dengan cara bagaimana lagi orang bisa berdosa sebelum lahir? Kita harus yakin bahwa ini merupakan kesalahan penafsiran terhadap bagian itu sekaligus suatu usaha untuk menghindar dari apa yang sesungguhnya dibela oleh doktrin mereka tentang reinkarnasi.

Pertama-tama, bagian ini sarna sekali tidak "mengajarkan" tentang reinkarnasi. Itu hanya sebuah pertanyaan yang diajukan. Alkitab mengajarkan bahwa "manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi" (Ibr. 9:27). Bahkan, justru dalam konteks inilah Yesus menyatakan bahwa tidak ada kaitan langsung antara perbuatan apapun yang dilakukan sebelumnya dengan kondisi orang itu, dan bahwa kesempatan untuk memilih untuk mempercayai pemberitaan Allah itu singkat, setelah itu tidak ada lagi yang bisa menolong. Sebaliknya, reinkarnasi adalah siklus sebab akibat yang terus berulang, sampai seluruh pelanggaran telah ditebus dan kemutlakan tercapai. Yesus jelas-jelas menyangkal kemungkinan itu. "Akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja," kata-Nya. Kesempatan akan lenyap.

Daripada mendengarkan pemikiran-pemikiran saya ten tang makna reinkarnasi dalam Hinduisme, lebih baik dengarkanlah katakata dari Upanishads mengenai hal ini:

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

acuh. Di sini Hinduisme mengajarkan tentang diturunkannya suatu kesadaran tentang kesalahan, yang dijalani dalam kehidupan selanjutnya, dalam wujud sayuran, binatang, atau manusia. Doktrin ini tidak dapat ditawar dalam filsafat Hindu. Ada bagian-bagian dalam Upanishads yang agak mengguncangkan bila kita membacanya.

Buddhisme juga bergantung pada doktrin karma dan reinkarnasi.

Kata-kata pembukaan dari kitab suci Buddhis mengatakan bahwa setiap individu adalah keseluruhan dari apa yang dipikirkannya dalam kehidupannya yang lalu. Salah satu kumpulan dari wacana Buddha disebut Anguttara Nikaya. Sebagian dari pemikiranpemikirannya adalah sebagai berikut:

Kamma saya [tindakan-tindakan masa lalu dan sekarang] adalah satusatunya yang saya miliki, kamma adalah satu-satunya warisan saya, kamma adalah satu-satunya alasan keberadaan saya, kamma adalah satusatunya keluarga saya, satu-satunya perlindungan saya. Apapun yang saya lakukan, baik ataujahat, saya akan menjadi ahli warisnya.?

Oleh sebab itu, mereka yang berkelakuan baik di sini - prospeknya tentu adalah, bahwa mereka akan memasuki rahim yang baik, entah rahim dari seorang Brahman [kelas imam], atau rahim dari seorang Kshatriya (kelas pendekar atau raja), atau rahim seorang Vaisya [kelas pekerja atau profesional]. Tetapi mereka yang berkelakuan buruk di sini - prospeknya tentunya adalah bahwa mereka akan memasuki rahim yang buruk dari seekor anjing, rahim dari seekor babi, atau rahim dari seorang buangan. (Chandogya Upanishad, 5.10.8)

(Perhatikan bahwa bahasa Pali dari kitab suci Buddhis memiliki bunyi yang berbeda untuk beberapa kata yang telah menjadi istilah umum Hinduisme dalam bahasa Inggris. Kamma, misalnya, mengandung arti karma.

Jadi, bagi Buddhisme pun, jawaban untuk pertanyaan muridmurid ten tang kemalangan yang menimpa orang buta itu - "Siapa yang berdosa, orang ini atau orangtuanya?" - akan berbunyi, "Orang ini dan juga orangtuanya telah berdosa." Penderitaan orang buta itu adalah warisan dosa dari kehidupannya sebelumnya, dan orangtuanya ditakdirkan untuk menurunkan situasi ini.

Namun, tetap ada perbedaannya. Hinduisme membantah dengan mengatakan bahwa di balik dunia yang semen tara atau non-riil terdapat sesuatu yang pada dasarnya riil. Buddhisme membalik hal itu dengan mengatakan bahwa di balik dunia yang riil sebenarnya terdapat sesuatu yang tidak permanen. Dengan demikian, alasan untuk seluruh has rat kita adalah karena kita berpikir bahwa yang

Ada penjelasan-penjelasan di bagian lain yang lebih mendetail, gagasan-gagasan yang tidak mungkin dibaca dengan sikap acuh tak

172

173

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

*13 kata sangkalan; penyangkalan.

Bagaimana Anda bisa mulai melompat jika Anda tidak pernah menyentuh dasarnya? SebaIiknya, orang bisa saja bertanya, jika setiap kelahiran adalah sebuah kelahiran kembaIi, kamma apa yang dilunasi dalam kelahiran pertamanya? Orang juga mungkin bertanya bahwa jika padamnya keinginan merupakan nirvana yang tertinggi, amankah bila dikatakan bahwa dalam keadaan itu, bahkan tidak ada keinginan untuk melihat kejahatan berakhir? .

Aspek yang luar biasa dari pengajaran ini adalah bahwa semakin menyedihkan eksistensi seseorang, semakin pasti bahwa hutanghutang dari kehidupan sebelumnya sedang dilunasi dengan sukses. Jadi ketika seseorang mengangkat tubuh seorang anak kecil, yang cacat sejak lahir, kamma sedang berlaku. Orang mungkin tidak ingin mengakuinya, tetapi itulah realitas eksistensial dari pengajaran ini.

Beberapa tahun yang lalu, saya mendengar kisah ten tang sekelompok misionari dan keluarganya yang telah tewas dalam suatu kecelakaan bis di dekat sebuah perkampungan di negara Buddhis. Dalam beberapa menit, bis itu dirampok dan mayat-mayat itu dijarah. AIasannya - mereka yang tewas hanya sedang menerima kamma-nya, dan tidak ada salahnya mengambil apa yang ditinggalkan oleh orang yang sedang melunasi hutang-hutangnya.

Kalau setiap kehidupan merupakan pembayaran untuk kehidupan sebelumnya, orang juga bertanya-tanya mengapa Buddha begitu menentang untuk mengizinkan wanita bergabung dengan ordo itu dan memerintahkan agar peraturan-peraturan untuk mereka dibuat jauh lebih berat. Bahkan, sekalipun seorang wanita telah bergabung dalam ordo itu selama bertahun-tahun, statusnya tetap lebih rendah dibanding seorang pria yang baru masuk. Jika kamma sedang berlaku, mengapa peraturan-peraturan ini ditinggikan, dengan mengasumsikan kebajikan dari ordo yang lebih tinggi yang berlaku untuk sebagian orang? Kecuali tentunya, seorang wanita, karena keberadaannya sebagai seorang wanita, mewarisi kamma yang lebih besar.

Terbukti bahwa kapal panteistis hancur berkeping-keping di atas karang kejahatan. Orang tidak dapat mempercayai bahwa diri itu tidak ada dengan mengindividualisasikan nirvana, dan orang tidak

permanen itu ada, itulah sebabnya kita memiliki keinginan-keinginan yang kuat. Sekali kita mengetahui bahwa tidak ada sesuatu yang permanen, termasuk diri kita, maka kita berhenti mengingini. Dalam keadaan "Pencerahan," diri itu beserta semua keinginan dipadamkan, dan karenanya, penderitaan lenyap. Itulah sasaran dari Buddhisme.

Bagaimana kita dapat mengakhiri penderitaan? Menurut pengajaran Buddhis, jika kita dapat menghapuskan keinginan, kita akan menghapuskan kejahatan. Bahkan, kata nirvana itu sendiri berarti negasi*t3 dari rimba keinginan yang menjadi kutukan kita dalam kelahiran kembali.

Dapatkah seseorang me nahan diri untuk bertanya, bagaimana world-view yang menganggap segala sesuatu impermanen dapat menjelaskan asal usul impermanensi dan terpikatnya pikiran yang menganggap semuanya ini permanen? Lalu, apa sebenarnya diri yang dimaksud, jika diri itu sendiri tidak ada, dan hanya merupakan sebuah ilusi? Jawaban Buddha adalah bahwa ia sendiri hidup di bawah ilusi tentang permanensi sampai, melalui reinkarnasi yang terjadi berulang kali, ia menemukan impermanensi dari segala realitas. Kemudian ia mengumumkan bahwa ini akan menjadi eksistensi terakhirnya, karena ia telah sepenuhnya mematikan keinginannya. Dalam inkarnasi terakhir itulah, tentunya, ia mengoreksi pandangan-pandangan yang salah dari para muridnya. Ia mempertanyakan beberapa pengajaran Hindu.

Tetapi di atas segalanya, Buddhisme menghadapi masalah yang benar-benar tidak tertanggulangi. Jika kehidupan adalah sebuah siklus dan tidak ada permulaan bagi inkarnasi, mengapa ada suatu akhir? Bagaimana seseorang dapat mengalami pengulangan dari sebab-sebab secara tidak terbatas jika ada suatu inkarnasi final?

FilsufWilliam Lane Craig mengingatkan pada kita bahwa pengulangan dari sebab-sebab secara tidak terbatas adalah bagaikan berusaha untuk melompat keluar dari sebuah lubang yang tidak berdasar.

174

175

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

SANG PEMBER! HIDUP

Budaya kita lebih maju secara moral dibanding budaya orang lain, setidaknya kita berpikir begitu. Eksistensi Allah mengubah kategorikategori yang bermacam-macam itu dan menempatkan kita bukan dalam kategori-kategori perbandingan melainkan dalam presentasi dari esensi yang sesungguhnya yang mendasari kata kebaikan.

Allah itu kudus. Perbedaan inilah yang menjadikan argumen tersebut hampir mustahil untuk dipahami oleh orang skeptis. Kekudusan bukan semata-mata kebaikan. "Mengapa Allah tidak menciptakan kita untuk hanya memilih kebaikan?" "Mengapa hal-hal buruk terjadi pada orang-orang yang baik?" Realitasnya adalah bahwa lawan dari kejahatan, secara perbandingan, bisa jadi adalah kebaikan. Tetapi lawan dari kejahatan absolut, secara jenis, adalah kekudusan absolut. Dalam konteks Alkitabiah, gagasan tentang kekudusan adalah "otherness" (karakter lain) yang sangat agung dari Allah sendiri. Allah tidak hanya mewahyukan diri-Nya sebagai yang baik; la mewahyukan diri-Nya sebagai yang kudus.

Dalam drama Phantom of the Opera, ada sebuah lagu berjudul "The Music of the Night". Lagu itu dinyanyikan oleh tokoh Phantom (hantu) yang separuh-wajahnya mengerikan untuk merayu wanita yang dicintainya. Ia menenangkan wanita itu dengan suaranya dan memikatnya untuk masuk ke dalam dunianya, dengan mengatakan bahwa kegelapan malam menajamkan setiap sensasi dan meningkatkan imajinasi. la memohon agar wanita itu melepaskan pertahanannya dan menyerah kepada perasaannya, semen tara mal am menyelimuti mata kebenaran.

Kemudian muncullah syair ini: "Palingkanlah wajahmu dari cahaya siang yang menyilaukan," karena di dalam kegelapan, orang bisa mengubah "kewajiban-kewajiban" hati nurani menjadi kenikmatan nafsu. Melodinya menakutkan, kata-katanya menghanyutkan, dan keinginannya diperolok. Bagi cara berpikir yang seperti ini, terang memang menyilaukan karena terang itu menyingkapkan kejahatan yang diselubungi oleh kegelapan.

Kekudusan Allah adalah bagaikan terang di dalam dunia yang gelap. Sarna seperti datangnya fajar menelanjangi pemikiran-pemi-

bisa berbicara ten tang berakhirnya penderitaan tanpa ikut melahirkan pemikiran keliru yang pertama. Buddhisme memiliki serangkaian peraturan dan hukum yang berbelit-belit karena hal itu memang diperlukan. Sebagai sebuah jalur nonteistis, jalur itu dipenuhi dengan kamma. Buddhisme mengakui kejahatan dan selanjutnya, secara fatalistik, menutup mata terhadapnya, sambil berusaha untuk

melarikan diri.

Dalam kontras yang mencolok, be rita Kristen mengakui kenge-

rian kejahatan dan berusaha menawarkan alas an yang dibenarkan secara moral untuk menjawab pertanyaan mengapa Allah mengizinkan penderitaan. Mari kita beralih kepada respon Kristen, agar kita dapat melihat perbedaannya.

Jika kita merangkumkan seluruh perkataan Alkitab, terdapat enam elemen yang menyatu, yang memberikan penjelasan yang koheren dan unik. Tidak ada usaha apapun untuk melarikan diri, entah dengan menyangkal pertanyaan itu ataupun dengan implikasiimplikasi dari jawabannya.

Pertama, Allah dalam Alkitab mewahyukan diri-Nya sebagai the

Author of Life (Sumber kehidupan) dan sebagai Pribadi yang di dalamnya berdiam segala kebaikan. Jurang pemisah antara orang skeptis dengan orang Kristen terbentang lebar sejak permulaan. Allah tidak sekadar baik. Ini berarti bahwa dalam hubungannya dengan Allah, kita sedang membahas lebih dari sekadar isu-isu moral tentang baik dan jahat, kesenangan atau penderitaan. Kita sedang membahas tentang sumber kebaikan yang tidak terbatas, yang dipilih bukan karena kedudukannya "lebih baik" dalam hirarki pilihan, melainkan karena hal itu merupakan dasar yang sesungguhnya yang menghasilkan semua perbedaan yang ada. Kategori-kategori moral, bagi kita, seringkali bergeser dalam perbandingan dan hirarki. Kita berbicara tentang penilaian atau perasaan bahwa yang satu lebih baik daripada yang lain.

176

177

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

kiran atau perbuatan-perbuatan malam sebelumnya dan seringkali meninggalkan perasaan bersalah yang menjijikkan, demikian juga kekudusan menyingkapkan terang itu sendiri - sumber penemuan dan pembebasan bagi apa yang telah dijerat oleh kebohongan. Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama melukiskan keadaan yang begitu memukau ketika Allah menyatakan diri-Nya kepadanya. Yesaya, seorang yang baik seeara moral, tetap saja jatuh tersungkur dan langsung menyadari bahwa ia tidak layak untuk berada di hadapan Allah. Ia bukan hanya berada di hadapan seseorang yang lebih baik daripadanya. Ia sedang berada di hadapan Dia yang oleh-Nya dan karen aNya segala kemurnian bertumpu. Itulah sebabnya ia terpana.

Di sini, Islam dan Kekristenan memang menemukan perspektif yang sedikit mirip. Allah itu tidak terbatas, bukan hanya dalam keberadaan-Nya, melainkanjuga dalam natur-Nya.

Karenanya, kekudusan Allah, mengkomunikasikan kesakralan yang intrinsik bagi hidup kita. Kita adalah keturunan-Nya. Ini bukanlah suatu kesakrakalan yang dianugerahkan seeara kultural atau suatu kesakralan yang ditentukan seeara hukum. Setiap orang memiliki nilai intrinsik. Nilai itu ada dalam hak asasi seseorang yang memiliki Allah sebagai Bapa surgawinya. Bukankah pengakuan itu yang pertama-tama memuneulkan pertanyaan tersebut? Jika kelahiran saya itu sakral, lalu kesalahan apakah yang mengakibatkan kebutaan saya?

SUMBER KISAHNYA

dan memilih naskah-naskah yang berbeda. Kalimat-kalimat yang diberikan memberitahu kita bahwa ini bukanlah sebuah sandiwara, melainkan kehidupan nyata yang mengarahkan kisahnya dalam setiap tindakan dan pemikiran. Sub-alur pribadinya harus mendapatkan arahan dari kisah yang lebih luas tentang tujuan hidup Allah bagi hidup kita.

Orang buta, para murid, dan para tetangga, semuanya mengenal kisah itu. Pada mulanya, Allah meneiptakan langit dan bumi. Allah berdaulat atas setiap kehidupan. Di mana tempat orang buta ini dalam kisah tersebut? Yang spesifik sedang meneari penjelasan dalam konteks yang lebih luas. Jika plot yang lebih luas benar-benar dipahami, kisah yang lebih kecil akan dapat dimengerti.

Ada suatu eara yang sangat sederhana untuk mengilustrasikan hal ini. Sebelumnya, saya merujuk kepada sebuah lagu dari The Phantom of the Opera karya Andrew Lloyd Webber, yang telah menjadi salah satu drama musikal paling sukses di panggung Broadway. Musiknya sungguh istimewa, dan kata-kata dalam kisahnya mengesankan. Saya ingat ketika saya pertama kali mendengarkan sebagian dari musiknya di radio. Saya terkejut karena beberapa bagiannya terdengar sumbang, kadangkala bahkan melengking. Bagaimana mungkin komposer yang sarna itu menyatukan nada-nada yang merdu sekaligus sumbang? Saya tidak dapat memadukan keduanya sampai ketika saya akhirnya menonton dramanya. Barulah semuanya itu menyatu - yang mengagumkan dengan yang menyedihkan, yang harmonis dengan yang tidak harmonis, yang seram dan yang eantik. Mengapa? Karena ada naskah yang menjelaskannya.

Ketika seseorang memaharni kisah rene ana dan tujuan Allah yang bersumber dari kekudusan dan kemurnian karakter-Nya, kebaikan dan kejahatan berbieara di dalam konteksnya. Tanpa Allah, tidak ada kisah, dan tidak ada yang bisa dipahami.

Saya pernah mendapat kehormatan untuk mengikuti kuliah yang diberikan oleh Stephen Hawking di Cambridge University. Sasarannya adalah untuk menyelidiki pertanyaan "Apakah manusia dibatasi atau bebas?" Hawking memaparkan seluruh materinya de-

Kedua, dari autorship (sumber) ini mengalir suatu deduksi. Jika Allah adalah the Author of Life (Sumber kehidupan), pasti ada suatu naskah. Kita bukanlah, seperti dalam istilahJean Paul Sartre, gelembung-gelembung kosong yang mengapung di atas lautan kehampaan. Kita bukan sedang berlayar tanpa tujuan atau sasaran akhir atau instrumen-instrumen.

Dunia bukanlah sebuah panggung di mana kita dapat mengambil

178

179

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

ngan sangat teliti dan kemudian tibalah kesimpulannya yang sudah lama dinantikan: "Apakah manusia dibatasi? Va. Tetapi karena kita tidak mengetahui apa yang telah dibatasi, kita sarna saja bebas."

(Saya tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah ia sendiri telah berhasil melepaskan diri dari deterrninisme?" untuk dapat menyampaikan pernyataan seperti itu, atau apakah pernyataan itu adalah bagian dari determinisme yang dipegangnya? Apakah datanya telah menelan dirinya sendiri?)

Semua pendengarnya mengerang. Ada suara-suara kekecewaan yang benar-benar terdengar jelas. Anda lihat, tidak ada jalan untuk memahami rancangan tanpa suatu pola. Tidak ada cara yang benar untuk menjalani kehidupan jika tidak ada naskah. Bahkan, kita bukan hanya tidak mampu menemukan kisahnya, kita juga tidak mampu menemukan seluruh kesatuan rujukan untuk makna.

Selama Perang Dunia Pertama, sesuatu yang menakjubkan terjadi pada suatu Malam Natal. Di tengah keheningan yang mencekam tanpa suara senjata di malam hari, tiba-tiba sebuah suara mulai menyanyikan sebuah lagu Natal. Karena tersentuh, suara lainnya ikut terdengar, dan segera saja, ada gelombang musik karena Betlehem, yang mengalir menyeberangi garis-garis musuh, sementara kedua belah pihak bersama-sama mernbacanaskah yang sarna. Kisah bayidalam palungan, Sang Raja Damai, sanggup menyatukan kelompok-kelompok yang sedang bertikai, meskipun hanya untuk beberapa jam. Inilah yang dikisahkan oleh seorang penulis lagu. Sayangnya, saya hanya bisa mengutip beberapa stanza saja di sini:

Saya berperang untuk Raja dan negara yang sangat saya cintai.

'Saat itu Natal di dalam lubang perlindungan Dan salju yang amat dingin turun

Padang rumput yang beku di Perancis itu hening, Tidak ada suara perdamaian yang dinyanyikan, Keluarga kami nunjauh di Inggris

Sedang mendoakan kami hari itu,

Para pemuda mereka yang gagah berani di tempat yang amat jauh.

Saya sedang berbaring dengan rekan-rekan seperjuangan saya Di atas tanah yang dingin dan berbatu,

Ketika di seberang garis-garis pertempuranterdengar Sebuah suara yang palingjanggal.

Kata saya, "Sekarang dengarkan baik-baik, kalian semua," Setiap prajurit berusaha keras untuk mendengarkan Sementara suara seorang pemudaJerman berkumandang dengan amat jelas.

Oh, nama saya Francis Tolliver, Saya berasal dari Liverpool.

Dua tahun yang lalu perang sedang menanti Saat saya pulang dari sekolah

Dari Belgium dan ke Flanders,

Jerman ke sini,

"Kau tahu, ia bernyanyi dengan sangat merdu," Rekan saya berkata kepada saya.

Segera saja satu demi satu suara tentara Jerman ikut bernyanyi dengan merdu. Meriam-meriam berhenti berdentum.

Dan awan gas tidak lagi bergulir,

Sementara Natal menangguhkan perang di antara kami.

*14 paham yang menganggap setiap kejadianltindakan, baik yang menyan,gkut jasamani maupun rohani, merupakan konsekuensi dari kejadian-kejadian sebelumnya dan d, luar kemauan.

Segera setelah mereka selesai bernyanyi Dan terdapatjedah yang khusyuk, "God Rest ~ Merry Gentlemen"

mulai dinyanyikan oleh beberapa pemuda dari Kent.

Lagu berikutnya yang mereka nyanyikan adalah :'Stille Nacht", "Itu adalah 'Silent Night,'" kata saya,

Dan dalam dua bahasa sebuah lagu memenuhi angkasa.'?

180

1 8 1

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

Anda lihat, dua bahasa dapat memberitakan makna yang sarna ketika beritanya dikenal oleh kedua belah pihak. Ketika pemikiran ten tang kehadiran Allah saja dapat menghentikan pembunuhan pada malam itu, betapa jauh lebih besar dampak yang akan dihasilkan dari komitmen terhadap keseluruhan naskah-Nya? Kebaikan dapat bertahan selama beberapa saat; kekudusan menentukan seluruh hidup.

Allah memiliki sebuah naskah. Ia telah membicarakannya di dalam Kitab Suci. Menemukan naskah itu membawa kita semakin dekat kepada pemecahan misterinya.

MAKSUD DARI KISAHNYA

melainkan bergerak ke atas sampai mencapai klimaksnya dalam ibadah.

Apa hubungan dari semuanya ini dengan penderitaan? Banyak sekali. Begini, ketika orang skeptis bertanya mengapa Allah tidak menjadikan kita sehingga kita hanya akan memilih kebaikan, ia sepenuhnya melewatkan - secara drastis melewatkan - makna kebaikan di mata Allah. Kebaikan bukanlah sebuah akibat. Jika sebuah akibat menjadi yang terpenting, tentunya Allah bisa saja menjadikan kita seperti itu. Tidak ada sesuatupun yang berkontradiksi secara logika jika kita dijadikan sebagai robot. Tetapi jika kehidupan lahir dari kesakralan, maka kebaikan atau kasih saja bukanlah sasarannya. Sasarannya adalah reverence (penghormatan yang dalam), dan ini harus dipilih sekalipun itu adalah sesuatu yang sulit dan mahal. Kasih seperti ini berarti memilih untuk membiarkan kesakralan hidup mendikte komitmen kehendak. Kasih yang penuh penghormatan seperti ini dapat menanggapi penderitaan dan memandangnya melampaui cengkeraman waktu dan melalui kemenangan dari kekekalan.

Dr. J. Robertson Mcquilkin adalah man tan direktur dari Columbia Bible College and Seminary. Ia adalah salah satu orang yang paling mengagumkan dalam dunia kita. Ia adalah seorang pembicara konferensi dan seorang penulis yang penting. Tetapi tak satu pun dari semua prestasi ini yang melampaui kasihnya yang luar biasa dan sangat mengharukan kepada istrinya yang sakit, Muriel. Istrinya telah menjalani kehidupan yang suram dan sepi sebagai penderita penyakit Alzheimer selama duapuluh tahun terakhir. Dr. Mcquilkin meletakkan jabatannya sebagai direktur dan banyak sekali tanggung jawab lainnya untuk merawat istrinya dan mencintainya. Ia telah menuliskan perjalanan emosionalnya dalam salah satu buku kecil yang paling indah yang pernah ditulis. Pada suatu bagian dalam bukunya ia menceritakan insiden ini:

Ketiga, jika memang ada sebuah kisah, apa inti kisahnya? Allah bukan hanya kudus, tetapi Ia juga mewahyukan kepada kita natur kasih yang sakral, yang menarik kita kepada-Nya. Dan dari kesakralan kasih-Nya ini pasti mengalir semua kasih yang lain.

Aspek penting dari alur logika ini adalah bahwa kesakralan intrinsik menyediakan alasan sekaligus parameter bagi kasih. Ketidakmampuan untuk memahami misteri kejahatan menghasilkan ketidakmampuan untuk memahami kesakralan kasih. Saya yakin, kesalahan yang sangat berbahaya yang dilakukan oleh kultur kita dalam pengejaran makna adalah ilusi bahwa kasih tanpa kesakralan, kasih yang telanjang, adalah satu-satunya yang kita butuhkan untuk menyelamatkan kita dari ujian-ujian dan hasrat-hasrat kehidupan.

Kasih seperti ini tidak dapat menopang kita. Jutaan hidup dilukai setiap hari dengan mengatasnamakan kasih. Jutaan pengkhianatan dilakukan setiap hari karena kasih. Kasih mungkin saja membuat dunia berputar, tetapi kasih tidak bisa menjaga kehidupan itu tetap lurus. Bahkan, kasih tanpa apapun menjadikan kejahatan lebih menyakitkan. Kasih hanya dapat memenuhi panggilannya ketika kasih itu terlebih dulu dipersatukan dengan kesakralan. Kesakralan berarti pemisahan. Kekudusan bukan hanya menarik kita untuk mengasihi

Suatu kali, penerbangan kami tertunda di Atlanta, dan kami hams menunggu selama beberapa jam. Nah, itu adalah sebuah tantangan. Setiap

182

1 83

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

beberapa menit, pertanyaan-pertanyaan yang sarna, jawaban-jawaban yang sarna tentang apa yang sedang kami lakukan di sini, kapan kami akan pulang? Dan setiap beberapa menit kami akan berjalan cepat-cepat menyusuri terminal untuk dengan serius mencari - apa? Muriel memang selalu berjalan dengan cepat. Saya harus berlari-Iari kecil untuk dapat menyusulnya!

Seorang wanita yang menarik duduk berseberangan dengan kami, sambil bekerja dengan rajin dengan komputernya. Suatu kali, ketika kami kembali setelah berkeliling, ia mengucapkan sesuatu, tanpa mengalihkan pandangan dari kertas-kertasnya. Karena tidak ada seorang pun yang berbicara kepada saya atau setidaknya bergumam untuk memprotes aktivitas kami yang tak kenaI henti, "Maaf?" saya bertanya.

"Oh," katanya, "saya hanya sedang bertanya pada diri saya, 'Mungkinkah saya akan menemukan seorang pria yang mencintai saya seperti itu?'"lt

bukan dipanggil kepada kebaikan, melainkan kepada penyembahan. Yesus tidak hanya mengatakan, "Engkau harus mengasihi Thhan Allahmu." Ia melukiskannya sebagai suatu sikap yang menggabungkan pikiran dan hati dan jiwa. Ketika kasih yang seperti itu dinyatakan kepada Allah, semua kasih yang lain menemukan pedomannya.

Robertson Mcquilkin mengakhiri bukunya dengan kata-kata

ini:

Sungguh sebuah kesaksian yang hebat bagi kasih yang agung dan bagi kelaparan yang amat besar. Adakah di antara kita yang akan mendapatkan kasih, kasih yang mengorbankan-diri seperti itu? Kita semua mengenali kasih yang sakral ketika kita menyaksikannya, dan kita merindukannya. Kasih yang sakral bukannya tanpa batas. Ada batasan-batasan yang tidak akan dilanggar oleh komitmen, karena jika dilanggar, maka hal itu tidak bisa lagi disebut kasih.

Yang cukup menarik, dalam penggunaan kata-kata bahasa Inggris kuno dalam upacara pernikahan di Church of England, setiapmernpelai yang berdiri di hadapan altar berjanji kepada pasangannya, "Dengan tubuhku, aku mencintai engkau." Itu adalah sebuah janji yang mengagumkan. Itu berarti ada suatu eksklusivitas dan penghormatan yang diungkapkan secara fisik untuk menyatakan kasih itu. Sebelum kita memahami kasih yang seperti itu, kita tidak akan pernah memahami mengapa hal itu tidak bisa diprogram. Juga, dalam hal itu, kita tidak akan pernah memahami natur yang sesungguhnya dari kejahatan. Dari penyembahan mengalir kasih ini. Itulah sebabnya Allah tidak membuat kita memilih kebaikan. Kita

Namun, dalam dunianya yang sepi Muriel begitu puas, begitu menyenangkan, kadangkala saya berdoa, "Tolonglah ya Tuhan, bisakah Engkau membiarkan saya untuk menahannya lebih lama?" Jika Yesus membawanya pulang, betapa saya akan merindukan kehadirannya yang lembut dan manis. Oh ya, ada saat-saat ketika saya merasa kesal, tetapi tidak sering. Itu tidak masuk akal, Dan lagipula, saya suka sekali merawatnya. Ia adalah kesayangan saya.12

Buku itu diberijudul yang luar biasa indah, A Promise Kept (janji yang Ditepati). Anda lihat, naskah itu sungguh ada, dan hanya ketika naskah itu terpatri di dalam hati, barulah kehidupan itu benarbenar sanggup dijalani.

Douglas Coupland menuliskan sebuah perenungan yang serius ten tang suatu generasi, termasuk dirinya, yang mengembara di padang belantara kehidupan tanpa Allah. Ia memangkas ketenaran dan karpet beludru dari kebebasan absolut dan di akhir bukunya menulis bagian tambahan yang mengejutkan:

Sekarang, inilah rahasia saya: Saya menceritakan pada Anda dengan berterus terang bahwa saya ragu kalau saya akan bisa berprestasi lagi, jadi saya berdoa agar Anda berada di dalam ruangan yang tenang sementara Anda mendengar kata-kata ini. Rahasia saya adalah bahwa saya memerlukan Allah, bahwa saya sakit dan tidak sanggup lagi menjalaninya sendirian. Saya memerlukan Allah untuk menolong saya memberi, karena saya sepertinya tidak sanggup lagi memberi; untuk menolong

184

185

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

FOKUS KISAHNYA

Dengan memandang pada salib, kejahatan menjadi sebuah cermin dari realitas yang menakutkan. Tetapi dengan melihat seeara saksama ke dalam salib, kita menemukan bahwa salib itu tidak buram melainkan tembus pandang, dan kita dapat memandangsekilas kejahatan yang sebenarnya melaluinya. Penderitaan Yesus adalah sebuah studi ten tang anatomi penderitaan. Pada intinya, kejahatan merupakan suatu tantangan dari proporsi-proporsi moral terhadap Allah yang suci. Kejahatan bukan semata-mata suatu pergumulan dengan ketidaknyamanan kita. Di sini, muneul dua kebenaran yang mengguneangkan.

Ingatlah apa yang saya katakan di bagian permulaan, bahwa setiap eksponen*16 tampaknya mulai dengan daftar panjang tentang trageditragedi atau tindakan-tindakan kekerasan. Inilah simpul yang pertama. Semakin intens dilema moralnya, semakin berkurang kemampuan orang skeptis untuk membenarkannya sebagai kejahatan. Alvin Plantinga dengan sangat meyakinkan memaparkan hal ini kepada kita:

saya menjadi orang yang baik hati, karena saya sepertinya tidak lagi mampu menunjukkan kebaikan; untuk menolong saya mengasihi, karena saya sepertinya tidak memiliki kemampuan untuk mengasihi.13

Hanya ketika kekudusan dan penyembahan bertemu, kejahatan dapat ditaklukkan. Mengenai hal itu, hanya berita Kristen yang memiliki jawabannya.

Ini membawa kita kepada langkah keempat. Bagaimana mungkin sesuatu yang sakral dapat mengakui reaIitas kejahatan dan tetap menawarkan suatu penjelasan yang dibenarkan seearamoral?

Inti be rita Kristen mengedepankan suatu eara yang dari sudut padang manapun telah merupakan ungkapan yang unik dan tak tertandingi di tengah kejahatan. Yesus melukiskan perjalanan-Nya menuju salib sebagai tujuan sesungguhnya dari kedatangan-Nya. Kematian-Nya dengan eara itu membawa suatu be rita yang memiliki kekuatan ganda. Kematian-Nya mendemonstrasikan destruktifitas*15 dari kejahatan, yang menjadi penyebab penderitaan dan dalam teladan Yesus, [kematian-Nya menunjukkan - Pen.] kemampuan untuk menanggung penderitaan sekalipun hal itu tidak sepatutnya

la tanggung.

Penderitaan dan kepedihan bahkan tidak mengeeualikan Putra

Allah sendiri. Orang-orang yang menyaksikan penyaliban-Nya adalah orang-orang yang menyanyikan lagu-Iagu kesukaan pada hari kelahiran-Nya. Tentulah, bagi Maria, ini pasti merupakan momen yang benar-benar traumatis. Dia yang dikandung dari Allah kini tidak berdaya di tangan manusia. Tetapi saya menduga Maria tahu dalam hatinya bahwa ada sesuatu yang belum digenapi di dalam

naskahnya.

Yang sungguh-sungguh mengerikan bukanlah penderitaan melainkan kefasikan manusia (human wickedness). Tetapi mungkinkah ada yang bisa disebut sebagai kefasikan yang mengerikan seandainya naturalisme itu benar? Saya tidak melihat kemungkinannya. Hal semacam itu hanya mungkin adajika ada cara hid up yang seharusnya, yang diwajibkan bagi para makhluk rasional, dan kekuatan normativitas itu menjadi sedemikian rupa sehingga natur yang mengerikan dan menakutkan dari kefasikan yang asli menjadi kebalikannya. Naturalisme mungkin bisa bertanggung jawab atas keboddhan dan irasionalitas, bertindak bertentangan dengan apa yang menjadi minat-minat pribadi Anda. Namun tidak dapat menampung kefasikan yang mengerikan.l"

Semakin suram realitas yang kita hadapi, semakin jelas tongkat pengukurnya. Meskipun para pemikir sekuler tetap bersembunyi

*1~ ora~g yang rnenerangkan/menafsirkan suatu teori, yang dapat mewakili dan menjadi contoh dan teon tersebut atau orang yang menganut teori tersebut.

*15 sesuatu yang mempunyai sifat merusak.

186

187

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKl!'

dari kebenaran ini, kita tidak bisa menjelaskan kefasikan yang mengerikan tanpa berusaha menyelaminya untuk memahami keadaan yang sebenarnya.

Beberapa tahun yang lalu, sebuah ke1ompok rap merekam suatu lagu yang langsung menjadi hit. Seandainya saya mengutip katakatanya di sini, maka respon umum yang akan muncul adalah perasaan terguncang, jijik, dan ngeri. Kekejaman yang tidak manusiawi, sadisme yang berlebihan, dan pesta pora dalam pemerkosaan yang kejam membawa vulgaritas kepada kerusakan moral yang lebih dalam. Namun, dalam beberapa hari setelah pe1uncurannya, jutaan kopi telah dibeli oleh para fans yang bersemangat.

Bagaimana orang meresponi hal ini? Atau singkatnya, bagaimana orang menjelaskannya? Bukankah karena menyaksikan kesadisan penon ton dalam bioskop yang bersorak karena kekejaman, penyair William Auden tergerak untuk memulai pencariannya akan Allah? Kejahatan yang tidak ditutup-tutupi menampilkan refleksi yang menakutkan. Ia terdesak untuk mencari penjelasan bagi hal itu.

Di mana orang harus mencari penje1asan tersebut? Dengan kepentingan yang sangat mendesak, salib Yesus Kristus menyoroti serangan kejahatan terhadap ketidakbersalahan sehingga kita bisa melihat sebuah cermin dan sebuah jendela. Bagaimana hal ini bisa terjadi, usaha saya untuk menjelaskannya tidak akan terlalu berarti, sementara kita berusaha memberi penjelasan dengan terbata-bata. Di sinilah muncul kebenaran kedua yang mengguncangkan.

Eleonore Stump, profesor filsafat di University of St. Louis, telah menu lis sebuah esai yang terkenal yang berjudul, "The Mirror oj Evil". Saat mengungkapkan perjalanan pribadinya untuk mengenal Allah, ia telah mengemukakan sebuah argumen yang mengesankan. Mulanya, ia menceritakan pergumulan Philip Hallie terhadap isu yang sarna, seperti yang dipaparkannya dalam bukunya Lest Innocent Blood Be Shed. Hallie sedang bergumul untuk menyelami kerusakan moral manusia. Kefasikan yang mengerikan yang mengubah seluruh hidupnya adalah saat menghadapi brutalitas yang luar biasa mengerikan dalam kamp-kamp hukuman mati Nazi. Kepu-

tusasaannya mencapai puncaknya ketika ia menulis:

Usaha saya untuk mempelajari kejahatan telah menjadi sebuah penjara yang jeruji-jerujinya adalah kepahitan saya terhadap kekejaman, dan yang tembok-temboknya adalah sikap acuh tak acuh saya terhadap pembunuhan massal. Di antara jeruji-jeruji dan tembok-tembok itu saya berputar-putar seperti orang gila .... Seteiah bertahun-tahun saya telah menjebloskan diri saya ke dalam neraka.P

Saat ia tenggelam dalam neraka buatan-manusia ini, Hallie melihat bahwa hatinya sendiri mengeras. Ia tidak lagi merasa ngeri terhadap kejahatan. Tetapi sebagai tawanan dari sikap acuh tak acuhnya sendiri, sesuatu terjadi. Ia secara kebetulan membaca tentang pekerjaan dari orang-orang di sebuah desa kecil di Perancis, Le Chambon, dan mendapati dirinya meresponi tindakan-tindakan mereka yang tidak sewajarnya - tindakan-tindakan yang men unjukkan kebaikan hati yang luar biasa di tengah-tengah kejahatan. Meskipun kekejaman terjadi di sekeliling mereka, tanpa kenaI takut orang-orang Chambon mempertaruhkan nyawa mereka sendiri untuk menyelamatkan orang-orang yang paling menderita karena kekejaman Nazi dan untuk meringankan penderitaan mereka.

Saat Hallie membaca tentang perbuatan-perbuatan kasih mereka, ia mendapati dirinya hampir tanpa sadar menyeka setetes air matanya, kemudian dua tetes, kemudian tiga tetes, sampai wajahnya dibanjiri dengan air mata. Karena terkejut dengan emosi yang mengaIir deras dari hati yang diduganya te1ah mati karena rencana-rencana jahat manusia, ia menghentikan dirinya dan bertanya, "Mengapa saya menangis?"

Adakah sesuatu yang telah melepaskan dia dari balikjeruji kepahitan dan sikap acuh tak acuh? Apakah cermin kejahatan yang tembus pandang telah menyalurkan cukup cahaya dari sisi yang lain sehingga ia tidak sekadar bisa melihat wajah kefasikan, melainkan juga kemungkinan samar di balik cermin, yaitu sinar wajah Allah? Adakah semacam terang yang telah bersinar dari sudut yang paling

1 88

1 89

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

gelap di dunia dan menerangi jalan orang yang terjerat dalam ketakutan ini?

Saat ia hampir melihat dirinya kehilangan semua perasaannya di dalam lubang kefasikan, tindakan yang penuh belas kasihan telah membuatnya mengalirkan air mata. Orang-orang Chambon menjadi simbol dari semua yang bertentangan dengan neraka yang dilampiaskan oleh Third Reich. Tidak ada lagi kebingungan baginya. Hanya ada satu penangkal. Ia dapat menyelami kefasikan, dan Hallie menulis:

menerapkannya dengan caranya sendiri. Ia membuktikan pendapat Hallie dengan memberikan ilustrasi yang lain.

Kita sedang hidup dalam suatu masa, mungkin sama dengan mas a lainnya, ketika ada banyak orang yang, dalam kata-kata nabi Amos, "mengubah penghakiman menjadi ipuh." Ada banyak orang yang tidak puas hidup dengan kesederhanaan-kesederhanaan dari nabi yang memberikan tali pengukur tegak lurus untuk moralitas, Amos, ketika ia berkata dalam pasal kelima Kitabnya, "Carilah yang baik, danjangan yangjahat, supaya kamu hidup: dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu" .... Kita takut "tertipu," takut untuk menjadi mudah percaya, dan kita tidak takut kepada kegelapan dari ketidakpercayaan tentang perkara-perkara penting ....

Tetapi kebingungan adalah sebuah kemewahan yang tidak dapat saya nikmati .... Bagi saya, seperti juga bagi keluarga saya, ada urgensi yang serupa dalam hal membuat keputusan-keputusan moral seperti halnya bagi para penduduk Cham bon ketika mereka sedang membuat keputusan-keputusan moral mereka terhadap hukum-hukum dari kaum Vichy dan kaum Nazi .... Bagi saya kesadaran tentang standar kebaikan adalah kesadaran saya tentang Allah. Saya hid up dengan kalimat yang sama dalam pikiran saya seperti yang diucapkan oleh para korban di kamp-kamp konsentrasi sementara mereka berjalan menuju kepada kematian: "Shema Israel, Adonai Elohenu, Adonai Echod." "Dengarlah o Israel, Tuhan Allahmu itu satu."16

Seorang wanita yang dipenjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat karena membunuh suaminya secara tidak terduga mendapat keringanan dari sang gubernur, dan ia menangis ketika ia mendengar be rita itu. Mengapa ia menangis? Karena berita itu baik, dan ia telah begitu terbiasa hanya mendengar berita yang buruk. Tetapi untuk apa menangis saat mendengar berita yang baik? Mungkin karena jika sebagian besar be rita yang Anda terima itu buruk, Anda perlu mengeraskan hati Anda terhadapnya. J adi Anda menjadi terbiasa dengan berita buruk, dan sampai pada tahap tertentu, Anda belajar untuk melindungi diri Anda darinya, mungkin dengan tidak terlalu mempedulikannya. Dan kemudian be rita baik menghancurkan hati Anda. Berita itu membuat hati Anda sekali lagi merasakan dengan antusias segala kejahatan yang telah mengeraskannya. Berita itujuga membuka hati Anda kepada penantian dan pengharapan, dan pengharapan itu menyakitkan, karena apa yang diharapkan belum tiba ....

Jadi, dengan cara yang aneh, cermin kejahatan juga bisa membawa kita kepada Allah. Mengarahkan kebencian terhadap kejahatan-kejahatan di dunia kita dan dalam diri kita mempersiapkan kita untuk menjadi semakin tertegun oleh kecapan akan kebaikan sejati ketika kita menemukannya dan semakin bertekad untuk mengikuti pimpinannya. Dan itu memimpin kita kepada kebaikan yang paling benar dari semuanya - kebaikan Allah. 17

Dengan meminjam pelajaran itu dari Hallie, dan memikirkan air mata sebagai respon terhadap kebaikan, Eleanor Stump kemudian

Saya kagum melihat kebenaran hal ini dalam hidup saya sendiri.

Beberapa hari yang lalu, saya kebetulan berada di Calcutta, sebuah kota yang mayoritas penduduknya menderita. Diperkirakan terdapat hingga duajuta orang yang hidup dijalanan - yang tua, yang muda, bayi-bayi - berjuta-juta orang yang menderita. Penderitaan itu begitu nyata dan begitu merata sehingga efeknya adalah Anda menjadi kebal terhadapnya Kemudian, dengan beberapa ternan, kami mengunjungi sebuah panti asuhan yang dikelola oleh ordo yang di-

190

1 9 1

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

Bertentangan dengan apa yang mungkin diharapkan, saya mengenang pengalaman-pengalaman yang pada waktu itu terutama tampak menyusahkan dan menyakitkan, dengan kepuasan tertentu. Bahkan, saya dapat mengatakan dengan terus terang bahwa segala sesuatu yang telah saya pelajari selama tujuhpuluh lima tahun hidup saya di dalam dunia ini, segala sesuatu yang telah sungguh-sungguh mempertegas dan mencerahkan eksistensi saya, telah terjadi melalui kesengsaraan dan bukan melalui kebahagiaan, entah yang dicari ataupun yang diperoleh .... Inilah, tentunya yang dilambangkan oleh Salib. Dan Saliblah, lebih dari apapun juga, yang telah membawa saya tanpa bisa ditawar kepada Kristus."

dengan tajam melihat bahwa jawaban lain apapun akan merupakan pen~hujatan.

Adakah ilustrasi yang lebih konkrit daripada kematian Kristus yang dapat menyediakan bukti bagi kehadiran Allah, tepat di tengah penderitaan? Ia menanggung pukulan terberat dari penderitaan itu yang ditimbulkan oleh kefasikan dari para penganiaya-Nya - dan menunjukkan pada kita hati Allah. Dalam penderitaan-Nya sendiri Ia menampilkan makna sesungguhnya dari karya Allah yang mengubah hati kita dari kejahatan kepada kekudusan.

Bahkan, salah satu realitas yang paling dilupakan muncul dari Kitab Suci. Yesus bergumul dengan beban yang membuat Ia harus dipisahkan dari Bapa-Nya dalam peristiwa singkat penyaliban-Nya, saat Ia menanggung pukulan terberat dari kejahatan. Ia berseru, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Kebenaran yang luar biasa adalah bahwa tepat pada saat Bapa-Nya seakan berada paling jauh dari-Nya, fa justru sedang menjalankan kehendak Bapa-Nya. Inilah tepatnya yang menjadi pengertian dari salib. Hanya ketika seseorang datang ke salib dan melihat di dalamnya dan melampauinya, barulah kejahatan dapat ditempatkan dalam perspektifnya.

Yang dihasilkan dari semua pemikiran ini adalah bahwa Allah menyatakan kemenangan bukan di luar misteri kejahatan yang gelap, melainkan melaluinya.

Mahatma Gandhi berkomentar bahwa dari sernua kebenaran iman Kristen, kebenaran yang paling agung baginya adalah salib Yesus. Ia mengakui bahwa salib itu tidak tertandingi. Salib menyatakan bagaimana yang tidak bersalah mati untuk yang bersalah, yang murni menggantikan yang cemar. Kejahatan ini tidak bisa dimengerti dari sudut pandang orang-orang yang menyalibkan Dia, tetapi hanya bisa dimengerti dari sudut pandang Dia yang Tersalib. Wanita yang telah diperkosalah yang memahami arti pemerkosaan, bukan pemerkosanya. Orang yang pernah difitnahlah yang memahami apa itu fitnah, bukan orang yang memfitnah. Hanya Dia yang telah mati bagi dosa-dosa kita yang dapat menjelaskan kepada kita apa itu kejahatan, bukan orangorang skeptis. Salib menunjukkanjalan ke arah penjelasan yang utuh.

dirikan oleh Bunda Teresa. Saat kami memasukinya, anak-anak bangkit berdiri di dalam tempat tidur mereka yang kecil, dan seruan-seruan "Uncle" terdengar dari segala penjuru ruangan itu, sementara lengan-Iengan mungil diacungkan. Hati kami luluh, dan air mata membanjiri mata kami. Kebaikan di tengah-tengah kejahatan sangat indah, karena itu adalah lebih dari sekadar kebaikan; itu adalah sentuhan dari Allah.

Mungkinkah inilah yang dimaksud oleh Malcolm Muggeridge

ketika ia berkata:

Nobel Laureate Elie Wiesel mengisahkan dalam salah satu esainya sebuah pengalaman yang dialaminya ketika ia menjadi seorang tawanan di Auschwitz. Seorang tawanan Yahudi sedang dieksekusi sementara seluruh kamp dipaksa untuk menonton. Saat tawanan itu tergantung di atas tiang gantungan - menendang dan meronta dalam keadaan sekarat, berusaha untuk menyelamatkan diri - seorang penonton terdengar bergumam dengan suara rendah dengan keresahan yang semakin memuncak, "Di mana Allah? Di mana Dia?"

Entah dari mana, kata Wiesel, sebuah suara di dalam dirinya berbicara kepada hatinya sendiri, "Di sana itu di atas tiang gantungan; di mana lagi?"19

Teolog Jurgen Moltmann, yang mengomentari kisah Wiesel,

192

193

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

Ini membawa kita kepada penjelasan tentang "bagaimana" semuanya itu terjadi.

YANG MENGGUNCANGKAN DARI KISAH ITU

minal, kejahatan-kejahatan seperti apakah yang akan Anda lakukan?" atau, "Seandainya tidak akan ada orang yang tahu, kefasikan apakah yang akan Anda lakukan?" Singkatnya, itu merupakan suatu kegagalan untuk melihat bahwa hati yang tidak dijaga dcngan kewaspadaan sesungguhnya menciptakan penjara untuk sctiap orang - sebuah penjara di mana tidak ada aturan apapun.

Kejahatan bagi kehidupan adalah bagaikan kontradiksi bagi rasio.

Jika sebuah argumen berkontradiksi, rasio berhenti bekerja. Jika kehidupan dilalap oleh kejahatan, kehidupan menjadi tidak terkendali. Masalah kejahatan dimulai dari diri saya. Salah satu surat terpendek yang ditulis kepada seorang editor ditulis oleh G.K. Chesterton. Isinya, "Dear Sir: In response to your article, 'What's wrong with the world' - I am. Yours truly, G.K. Chesterton." ("Saudara yang terhormat:

Untuk meresponi artikel Anda, 'Apa yang salah dengan dunia ini' - Sayalah yang salah. Salam, G.K. Chesterton.")

Kelima, jika semua penjelasan sebelumnya benar, maka fokus kejahatan harus berubah secara dramatis. Kejahatan adalah lebih dari sekadar suatu realitas eksterior yang menghasilkan penderitaan universal; kejahatan adalah sebuah realitas internal yang berusaha kita jauhi.

Saya teringat pada pembicaraan saya dengan seorang usahawan yang sangat sukses dan sangat kaya yang di sepanjang pembicaraan kami berkali-kali mengajukan pertanyaan ini, "Tapi, bagaimana dengan semua kejahatan dalam dunia ini?" Akhirnya, seorang ternan yang duduk di sam ping saya berkata kepadanya, "Saya mendengar Anda terus-menerus menunjukkan keinginan untuk mendapatkan solusi bagi masalah kejahatan di sekeliling Anda. Apakah Anda juga sarna terganggunya dengan masalah kejahatan di dalam diri Anda?" Dalam keheningan yang luar biasa sesudah itu, wajah pria itu menunjukkan ketidaktulusannya.

Semakin lama saya telah menjumpai pertanyaan tentang kejahatan ini, saya semakin yakin pada ketidaktulusan dari banyak penanya. Dalam sebuah forum yang saya ikuti yang membahas tentang kejahatan dan penderitaan, seorang ateis bertanya pada saya, "Seandainya Anda mengetahui bahwa Allah sebenarnya tidak ada, apa yang akan langsung Anda lakukan yang saat ini tidak Anda lakukan karena Anda merasa takut pada-Nya?"

Itu saja sudah bisa mengungkapkan cara pikirnya. Ada semacam antinomianisme - suatu keadaan pikiran yang melawan-hukum. "Seandainya saja Allah bisa disingkirkan, saya dapat melakukan lebih banyak hal lagi." Seseorang bisa juga bertanya, "Seandainya tidak ada polisi yang mengawasi, dengan kecepatan berapakah Anda akan menyetir?" atau, "Seandainya tidak ada sistem-sistem peradilan kri-

MENGAKUI KEJUTANNYA

Ini membawa kita kepada pembahasan terakhir dalam proses mempertahankan world-view Kristen mengenai kejahatan. Bukti paling kokoh yang menunjukkan bahwa kejahatan bukanlah musuh dari makna adalah realitas yang tidak terelakkan ini: bahwa kesia-siaan bukan berasal dari kejemuan terhadap penderitaan melainkan dari kejemuan terhadap kenikmatan. Kebenaran yang mencolok ini jelas-jelas tidak ada dalam argumen-argurnen kaum skeptis. Bukan penderitaan yang telah menjerumuskan dunia Barat ke dalam kekosongan; melainkan tenggelamnya makna dalam samudera kenikmatan kita. Kenikmatan yang menyimpang merupakan kutukan yang lebih besar dibanding kebutaan fisiko Kebutaan terhadap hal sakral menjadi penyebab dari semua kejahatan.

Di sinilah jawaban Yesus untuk pertanyaan tentang orang buta itu menerobos dengan kuasa dan relevansi yang luar biasa. Ketika Ia berkata bahwa kebutaan orang itu bukan disebabkan oleh dosa

194

195

JESUS AMONG OTHER GODS

ALLAHKAH SUMBER DARI PENDERITAANKU?

orang tersebut ataupun dosa orangtuanya melainkan terjadi supaya kemuliaan Allah dapat dinyatakan, kata-kata-Nya memberikan pelajaran yang drastis karena beritanya sangat mendalam. Pemulihan terhadap penglihatan rohaninya tidak dapat dipisahkan dari pemahamannya tentang kebutaan dosa yang mengerikan. Kegelapan bersifat menghancurkan dan Yesus menawarkan terang dan kehidupan. Penyembuhan-Nya dimaksudkan untuk menolong mereka melihat kebutaan mereka yang sesungguhnya, namun mereka menolak untuk dicelikkan.

Masalah kejahatan pada akhirnya memiliki satu sumber. Yaitu perlawanan terhadap kekudusan Allah yang menyelimuti seluruh ciptaan. Kejahatan adalah sebuah misteri karena kita terkungkung di dalamnya - [inilah yang disebut - Pen.] kebutaan rohani. Dan pada akhirnya hanya ada satu penangkal, kemuliaan dari karya Allah dalam jiwa manusia, yang menghasilkan karya pemulihan-Nya. Transformasi itu melunakkan hati sehingga hati menjadi bagian dari solusinya bukan bagian dari masalahnya. Transformasi semacam ini dimulai dari salib.

Tetapi seperti halnya orang-orang skeptis pada zaman Yesus, ada sebagian orang yang ingin mencari alasan untuk menyangkal jati diri Kristus dan pemulihan yang dapat dihasilkan-Nya. Seperti para tetangga, massa yang penasaran ingin mengetahui bagaimana hal itu terjadi. Seperti kedua orangtuanya, mereka yang melihat dari dekat akan menyaksikan transformasi yang dihasilkan oleh Yesus. Dan seperti orang buta itu, mereka yang telah secara pribadi mengalami kuasa Kristus untuk mengubahkan hidup mereka akan memahami kebutaan yang lebih hebat, yang darinya mereka telah diselamatkan.

Hal ini mungkin menjadi ilustrasi kehidupan-nyata dalam pergumulan yang dituliskan oleh Mark Triplett dengan sangat terbuka. Kebenarannya bukanlah bahwa penderitaan dan kepedihan hatinya ditimbulkan oleh kematian putranya dan ketakutan bahwa ia telah menjadi penyebabnya. Sebagaimana ia sendiri menyadari, dari bencana yang mengerikan karena mencemari yang sakral, iatelah menciptakan keterpisahan dengan Allah dan penderitaan bagi jiwanya

sendiri. Ia menyadari akibat yang ditimbulkan oleh hal itu terhadap dirinya - ia telah mengkhianati istrinya, mengkhianati keluarganya, dan mengkhianati Allahnya. Para penjaja kenikmatan sensual tahu sekali bahwa keterlibatannya yang tidak dapat dihentikan dengan tawaran-tawaran mereka akan menggiringnya kepada pemborosan finansial dan potensi kehancuran pernikahannya. Dengan mengatasnamakan kenikmatan, mereka telah menimbulkan penderitaan yang sangat hebat. Semua yang berharga telah hilang.

Di sini, setidaknya ada satu orang yang dihentikan langkahnya untuk memahami sebab dan akibat dengan cara yang tampaknya tidak pernah dipahami oleh orang skeptis. Apakah dosa sang ayah telah mengakibatkan kematian sang putra bukanlah persoalan yang sesungguhnya. Bahkan, sebenarnya ketika Mark mengucapkan katakata itu kepada Allah untuk menyatakan kemarahannya, Adam sudah mati. Hal yang penting sekarang ini adalah bahwa melalui kematian putranya, sang ayah telah diperhadapkan langsung dengan apa yang sedang membunuhnya dari dalam. Tetapi di tengah tragedi itu, karya Allah dinyatakan. Ia mendapatkan kebahagiaan-kebahagiaan yang jauh lebih bernilai daripada kenikmatan-kenikmatan yang najis yang tidak bernilai dan tanpa komitmen. Pelukan seorang istri yang mengampuni, dampak permanen dari kematian seorang putra, komitmen baru terhadap kepercayaan-kepercayaan yang sakral dalam hidup - hal-hal ini merupakan harta yang sesungguhnya dalam kehidupan. Apa yang pernah menjeratnya tiba-tibamenjadi hal yang memuakkan dan menjijikkan bagirrya.iKini, setelah ia dilepaskan dari hal itu, ia dapat menceritakan kepada dunia bahwa nilai sesungguhnya dari kehidupan hanya dapat ditemukan di dalam

Allah. I ,

Ketika Allah memulihkan penglihatan rohani kita melalui misteri kejahatan, barulah kita mampu melihat karya Allah dinyatakan di dalam kerangka pertanyaan kita yang paling sulit. Dengan air

mata sukacita kita bertelut di hadapan-Nya. .

Sebagai kesimpulan, bagi orang Kristen, kejahatan itu nyata, dunia ini nyata, dan waktu itu nyata. Yesus mengenali ketiga realitas

196

197