You are on page 1of 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Definisi
Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan dibagian
korteks kelenjar adrenal sebagai tanggapan atas hormon adrenokortikotropik (ACTH)
yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis. Hormon ini berperan pada banyak sistem
fisiologi pada tubuh, misalnya tanggapan terhadap stress, tanggapan sistem kekebalan
tubuh, dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat, pemecahan protein, kadar
elektrolit darah, serta tingkah laku. 2

II.2

Biosintesis dan Kimia


Korteks adrenal mengubah asetat menjadi kolesterol, yang kemudian dengan
bantuan enzim di ubah lebih lanjut menjadi kortikosteroid dengan 21 atom karbon dan
androgen lemah dengan 19 atom karbon. Androgen ini juga merupakan sumber
estradiol. Sebagian besar kolesterol yang digunakan untuk steroidogenesis ini berasal
dari luar (eksogen), baik pada keadaan basal maupun setelah pemberian ACTH.
Sedangkan sumber steroid farmaseutik biasanya disintesis dari cholic acid (diperoleh
dari hewan ternak) atau steroid sapogenin dalam diosgenin dan hecopenin tertentu yang
ditemukan dalam tumbuhan.3
Dalam korteks adrenal kortikosteroid tidak disimpan sehingga harus disintesis
terus menerus. Bila biosintesis terhenti, meskipun hanya untuk beberapa menit saja,
jumlah yang tersedia dalam kelenjar adrenal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
normal. Oleh karenanya kecepatan biosintesisnya disesuaikan dengan kecepatan
sekresinya.4

II.3

Mekanisme Kerja
Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul
hormon memasuki sel melewati membran plasma secara difusi pasif. Hanya di jaringan
target hormon ini bereaksi dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel
dan membentuk kompleks reseptor-steroid. Kompleks ini mengalami perubahan
konfirmasi, lalu bergerak menuju nucleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini
menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi sintesis protein ini
yang akan menghasilkan efek fisiologik steroid.

Pada beberapa jaringan, misalnya hepar, hormone steroid merangsang transkripsi


dan sintesis protein spesifik; pada jaringan lain, misalnya sel limfoid dan fibroblast
hormon steroid merangsang sintesis protein yang sifatnya menghambat atau toksik
terhadap sel-sel limfoid, hal ini menimbulkan efek katabolic.3
II.4

Farmakokinetik
Metabolisme kortikosteroid sintetis sama dengan kortosteroid alami. Kortisol
(juga disebut hydrocortisone) memiliki berbagai efek fisiologis, termasuk regulasi
metabolisme perantara, fungsi kardiovaskuler, pertumbuhan dan imunitas, sintesis dan
sekresinya diregulasi secara ketat oleh sistem saraf pusat yang sangat sensitif terhadap
umpan balik negatif yang ditimbulkan oleh kortisol dalam sirkulasi dan glukokortikoid
eksogen (sintesis). Pada orang dewasa normal, disekresi 10-20 mg kortisol setiap hari
tanpa adanya stress. Pada plasma, kortisol terikat pada protein dalam sirkulasi. Dalam
kondisi normal sekitar 90% berikatan dengan globulin-a2 (CBG/ corticosteroid-binding
globulin), sedangkan sisanya sekitar 5-10% terikat lemah atau bebas dan tersedia untuk
digunakan efeknya pada sel target. Jika kadar plasma kortisol melebihi 20-30%, CBG
menjadi jenuh dan konsenrasi kortisol bebas bertambah dengan cepat. Kortikosteroid
sintesis seperti dexamethason terikat dengan albumin dalam jumlah besar dibandingkan
CBG.3
Waktu paruh kotisol dalam sirkulasi, normalnya sekitar 60-90 menit, waktu paruh
dapat meningkat apabila hydrocortison (prefarat farmasi kortisol) diberikan dalam
jumlah besar, atau pada saat terjadi stress, hipotiroidsme atau penyakit hati. Hanya 1%
kortisol diekresi tanpa perubahan di urine sebagai kortisol bebas, sekitar 20% kortisol
dapat diubah menjadi kortison di ginjal dan jaringan lain dengan reseptor
mineralkortikoid sebelum mencapai hati.
Perubahan struktur kimia sangat mempengaruhi kecepatan absorbsi, mula kerja
dan lama kerja juga mempengaruhi afinitas terhadap reseptor, dan ikatan protein.
Predisone adalah produg yang dengan cepat diubah menjadi prednisolon bentuk
aktifnya dalam tubuh.
Glukokortikoid dapat diabsorpsi melalui kulit, sakus konjungtiva, dan ruang
synovial. Penggunaan jangka panjang atau pada daerah kulit yang luas dapat
menyebabkan efek sistemik, antara lain supresi korteks adrenal.4,6

II.5

Farmakodinamik
Kortikosteroid mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak; dan
mempengaruhi juga fungsi sistem kardiovaskular, ginjal, otot lurik, sistem saraf, dan
organ lain. Korteks adrenal berfungsi homeostastik, artinya pentik bagi organisme
untuk dapat mempertahankan diri dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Efek kortikosteroid kebanyakan berhubungan dengan besarnya dosis, makin besar
dosis terapi maka makin besar efek yang didapat. Tetapi disamping itu juga ada
keterkaitan kerja kortikosteroid dengan hormon-hormon lain.peran kortikosteroid
dalam kerjasama ini disebut permissive effect, yaitu kortikosteroid diperlukan supaya
terjadi suatu efek hormon lain, diduga mekanismenya melalui pengaruh steroid
terhadap pembentukan protein yang mengubah respon jaringan terhadap hormon lain.
Misalnya otot polos bronkus tidak akan berespon terhadap katekolamin bila tidak ada
kortikosteroid, dan pemberian kortikosteroid dosis fisiologis akan mengembalikan
respon tersebut.3
Suatu dosis kortikosteroid

II.6

Evaluasi Sebelum Pemberian


Untuk mengurangi kesalahan, evaluasi sebelum pemberian kortikosteroid perlu
dilakukan terutama perhatian khusus terhadap penderita diabetes, hipertensi,
hiperlipidemia, glaucoma, dan penyakit lain yang bisa dipengaruhi oleh kortikosteroid.
Pengukuran tekanan darah dan berat badan sebaiknya dilakukan.6
Sebelum memilih kortikosteroid, perlu diperhatikan 4 hal agar bisa memilih jenis
kortikosteroid yang tepat bagi pasien dengan efek terbaik dan efek samping seminimal
mungkin, sebagai berikut :
1. Sebaiknya memilih kortikosteroid dengan efek mineralkortikoid minimal untuk
mengurangi terjadinya retensi natrium,
2. Penggunaan jangka panjang untuk prednison atau obat sejenisnya, yang memiliki
waktu paruh intermediate dan afinitas terhadap reseptor steroid yang lemah dapat
mengurangi efek samping daripada penggunaan obat seperti dexamethasone yang
memiliki waktu paruh panjang dan afinitas terhadap reseptor steroid yang kuat,
bahkan dengan efek terapeutik yang sama.
3. Bila pasien tidak memberikan respon terhadap kortison maupun prednison, maka
dilakukan terapi substitusi dengan obat yang memiliki bentuk biologi aktif yang
sama yaitu kortisol dan prednisolon

4. Metilprednisolon digunakan untuk pulse therapy karena obat ini memiliki potensi
yang kuat dengan efek retensi natrium minimal.6
II.7

Indikasi dan Dosis pada Kasus Dermatologi


Kortikosteroid banyak dipakai dalam bidang dermatologi untuk kasus :
Penyakit berlepuh yang serius (pemfigus, pemfigoid, pemfigoid sikatrikal,
dermatosis bula linear immunoglobulin A, epidermolisis bulosa akuisita, herpes
gestationis, eritema multiforme, dan toksik epidermal nekrolisis)
Penyakit jaringan ikat (dermatomiositis, SLE, mixed connective tissue disease,
eosinophilic faciitis, polychondritis relaps)
Vasculitis
Neutrophilic dermatoses (pyoderma gangrenosum, dermatosis akut febril

neutrofilik, Behcet disease).


Sarcoidosis
Type I reactive leprosy
Problematic hemagioma pada bayi
Kasabach-Merrit Syndrome
Panniculitis
Urticaria/angioderma.6
Selain itu, terapi singkat kortikosteroid dapat digunakan untuk kasus seperti

dermatitis kontak, dermatitis atopic, fotodermatitis, dermatitis ekfoliatif dan


eritroderma. Kortikosteroid rendah pada malam hari digunakan untuk pengobatan akne
dan hirstism konsekuen dengan sindrom adrenogenital bila penyakit ini tidak berespon
terhadap terapi konservatif lainnya. Penggunaan kortikosteroid masih controversial
untuk kasus eritema nodusum, liken planus, limfoma kutaneus T-Cell dan lupus
eritematosus discoid.
Berikut berbagai penyakit kulit yang dapat diobati dengan kortikosteroid berserta
dosisnya :
II.8

Jalur Pemberian

II.9

Monitoring

II.10 Efek Samping


II.11

Perhatian Khusus

II.12 Penatalaksanaan Komplikasi