You are on page 1of 46

Tinjauan Program Diklat

Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil (UTPTK)

I
lmu peternakan adalah ilmu yang mempelajari segala yang bersangkutan dengan usaha
manusia untuk beternak atau mengusahakan peternakan dari berbagai jenis ternak untuk
memperoleh manfaat daripadanya. Dengan kata beternak disini digunakan dalam arti
yang luas, mengandung maksud memelihara, merawat, mengatur kehidupan, perkawinan
kelahiran, penjagaan kesehatannya serta pula penggunaan hasil dari ternak yang diusahakan,
yang biasa disebut dalam bahasa Inggris dengan Istilah “Animal Husbandry”. Sedangkan
beternak dalam arti sempit (khusus) lebih menitik beratkan pada usaha manusia untuk
mengatur perkembang-biakan ternak, yaitu diantara lain mengatur perkawinannya, memilih
bibit ternak yang digunakan, penjagaan terhadap kemandulan dan terhadap ternak yang sedang
bunting. Beternak dalan arti khusus disebut juga dengan istilah pemulia-biakan atau dalam
bahasa Inggris “Animal Breeding”.
Dari uraian tersebut diatas dapatlah dikatakan, bahwa memelihara ternak domba hanya
dengan memberikan tempat (kandang), memberikan makanan dan minumnya saja belum dapat
dikatakan beternak domba, demikian pula memelihara ternak domba hanya dengan jalan
melepaskan saja dipadang pengembalaan belum dapat dikatakan beternak domba atau seorang
peternak.
Ternak domba dengan sifat alaminya sangat cocok dibudidayakan di daerah pedesaan
yang sebagian besar penduduknya adalah petani berpenghasilan rendah. Sebab ternak domba
sendiri memiliki sifat dapat beranak kembar dan fasilitas serta pengelolaannya lebih sederhana
dibandingkan dengan ternak ruminansia besar. Bagi petani yang berdomisili dipedesaan,
usaha ternak domba berfungsi sebagai tabungan yang dapat dimanfaatkan setiap saat.
Dalam hal tatalaksana pemeliharaan ternak domba, pemeliharaan domba yang masih
kecil atau muda dengan pemeliharaan domba dewasa, haruslah berbeda atau dibedakan.
Sebagai contoh “pemberian makanan hijauan bagi ternak muda akan berbeda dengan
pemberian hijauan yang diberikan kepada ternak domba dewasa”, demikian pula halnya
dengan tatalaksana pemeliharaan domba yang sedang bunting akan berbeda dengan tatalaksana
pemeliharaannya dengan domba muda maupun domba dewasa.
Untuk lebih membantu siswa dalam memfokuskan perhatian pada saat membahas
Tatalaksana Pemeliharaan ternak domba, maka disusun Paket Satuan Keterampilan (RPS)
yang tersusun secara sistematis dari mulai semester tiga dan empat. Mudah-mudahan setelah
membaca dan mempelajari PSK ini siswa kelas 2 (dua) semester tiga dan empat akan memiliki
kompetensi, yaitu Mengetahui dan memahami Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil
komoditas ternak domba.

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 1
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 01/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Mengenal Ternak Domba
3. Satuan Pembelajaran : Bangsa dan Tipe ternak domba
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan akan terampil :
- Mengetahui bangsa-bangsa ternak domba
- Tipe-tipe ternak domba
5. Bahan dan Alat : Ternak Domba

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :


D
omba seperti halnya kambing, kerbau dan sapi, tergolong dalam famili Bovidae. Domba dan
kambing pada hakekatnya merupakan dua genus dari Bavidae yang berdekatan. Meskipun
demikian ada perbedaan yang menyolok yakni domba dan kambing tidak dapat
dikawinsilangkan, selain itu perbedaan domba dan kambing adalah :
- Ternak domba hidup berkelompok, sedangkan kambing hewan individu.
- Domba memiliki wool atau berbulu tebal, sedangkan kambing berbulu tipis.
- Penampang tanduk domba berbentuk segitiga, membelit atau berbentuk spiral,
sedangkan tanduk kambing pipih dan tumbuh kurang subur.
- Ternak domba memiliki Glandula suborbitalis atau kelenjar yang mengeluarkan cairan di
mata bagian bawah, dan Glandula intergigitalis dicelah kuku yang sering mengeluarkan
sekresi semacam minyak yang berbau khas, sehingga apabila domba itu terpisah dengan
kelompoknya, dengan mudah akan menemukan kembali kelompoknya.

A. Definisi Jenis pada ternak domba ;


Jenis pada ternak domba dipergunakan untuk memberi nama sekelompok ternak
domba yang mempunyai persamaan tanda-tanda dari bagian tubuh tertentu, misalnya sama
sama mempunyai tanduk atau sama-sama mempunyai ambing dan puting, dan sebagainya,
dimana kelompok ternak domba tersebut yang jantan dan betina satu sama lain bila
dikawinkan dapat terjadi pertunasan atau dapat menghasilkan keturunan.

B. Definisi Bangsa pada ternak domba ;


Bangsa pada ternak domba adalah kelompok ternak yang merupakan bagian dari
kelompok jenis, yang memiliki sifat-sifat morfologis dan fisiologis yang sama atau hampir
sama dan sifat-sifat tersebut dapat diturunkan kepada keturunannya.

Domba yang kita kenal sekarang merupakan hasil domestikasi yang menurut
sejarahnya diturunkan dari tiga jenis / species domba liar ( Ovis Aries), yakni :
1. Muoflon (Ovis musimon), merupakan jenis domba liar yang berasal dari Eropa
Selatan dan Asia Kecil.
2. Argali (Ovis ammon), merupakan jenis domba liar yang berasal dari Asia
Tengah dan memiliki tubuh besar yang mencapai tinggi 1,20 m.
3. Urial (Ovis vignei), merupakan jenis domba liar yang berasal dari Asia

Dari ketiga jenis domba liar tersebut, kita mengenal beberapa bangsa domba yang
tersebar diseluruh dunia, misalnya ;
1). Domba asli Indonesia, domba ini sangat kecil, lambat dewasa, disebut pula domba
kampung. Baik warna maupun tanda-tanda lainnya tidak seragam dan hasil dagingnya
sedikit.
2). Domba Ekor Gemuk (DEG), berasal dari Indonesia Bagian Timur (Madura, Sulawesi,
Lombok). Bentuk badan sedikit lebih besar dari domba asli, yang jantan bertanduk dan
betina tidak bertanduk. Tanda khas ialah ekornya yang panjang dan lebar dan menjadi

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 2
sangat besar, tetapi semakin keujung ekornya mengecil karena tidak terdapat
penimbunan lemak.
3). Domba Priangan, terkenal dengan nama domba garut, diperkirakan berasal dari
persilangan segitiga antara domba lokal/asli Indonesia, domba merino dan domba ekor
gemuk dari Afrika selatan (Kaapstad). Yang jantan bertanduk besar, melengkung ke
belakang berbentuk spiral, pangkal tanduk kanan kiri hampir bersatu sedangkan yang
betina tidak bertanduk. Biasanya domba ini yang jantan dijadikan tipe aduan.
4) Domba Merino, asal dari Asia kecil, besarnya sedang, yang jantan bertanduk besar dan
berbelit, betina tidak bertanduk. Seluruh badannya tertutup bulu wool sampai ke muka.
5) Domba Rambouillet, yakni domba merino yang telah lama diternakan di Perancis,
sehingga mengalami beberapa perubahan bentuk karena adaptasi. Badan lebar, dalam
dan padat tulang-tulangnya kuat. Kepala diangkat agak keatas, gerak geriknya cepat.
Yang jantan bertanduk besar, yang betina tidak bertanduk.
6) Domba Soutdown, berasal dari Inggris, tubuh padat, lebar dan dalam dengan
perdagingan yang padat. Leher pendek dan tebal, garis punggung lurus, kaki pendek,
tidak bertanduk.
7) Dll. (tugas saudara untuk mencari bangsa domba lainnya)

C. Definisi Tipe pada ternak domba ;


Tipe adalah kemampuan seekor ternak dalam hal memproduksi sesuatu hasil atau
jasa. Selain tipe dapat dilihat dari hasil produksinya, tipe juga dapat dilihat dari segi atau
bentuk anatomis dari pada tubuh dan bagian-bagian tubuh dari ternak yang bersangkutan.

Tipe-tipe ternak domba ;


- Tipe pedaging, cirinya bentuk badan besar, kaki pendek, karkas tinggi, contohnya domba
lokal, domba ekor gemuk (DEG), rambouillet, soutdown dan hamshire.
- Tipe Wool, cirinya kaki pendek bulu / wool lebat, contohnya domba merino, rambouillet,
dorset dan domba karakul.
- Aduan, cirinya badan besar, padat, leher pendek, tanduk membentuk spiral, gerakannya
lincah, contohnya domba priangan atau domba garut dan domba rambouillet.

7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K, 1978, Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta


A A K, 1980, Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Sosroamidjojo. Samad & Soradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.

8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

Latihan :
Pilih salah satu jawaban yang paling benar !
1. Domba mempunyai kelenjar yang khas dan berguna untuk :
a. mengetahui jalan ke kandang c. mencari jejak kelompoknya
b. merangsang nafsu makan d. merangsang berahi
2. Domba termasuk kedalam family :
a. bovidae c. capra hircus
b. ovis aries d. ovis aries dan capra hircus
3. Domba termasuk kedalam species :
a. mamalia c. ovis aries
b. mouflon d. capra hisrcus
4. Domba garut adalah hasil persilangan dari :
a. lokal, dorset dan karakul c. hamshire, merino dan domba lokal
b. ekor gemuk, kraf steal dam merino d. kraf sreal, lokal dan merino

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 3
5. Jumlah puting susu domba pada ternak yang normal adalah :
a. 1 buah c. 3 buah
b. 2 buah d. 4 buah
6. Domba mempunyai kelenjar sekresi yang khas, dengan fungsi untuk mencari jejak
kelompoknya yang disebut :
a. Glandula suborbitalis c. Fossa loerimatis
b. Glandula interdigitalis d. Glandula mandibullaris
7. Ternak kambing dan domba mempunyai sifat-sifat yang berbeda, misalnya :
a. Kambing dan Domba mempunyai sifat berkelompok
b. Kambing dan Domba mempunyai sifat berpencar
c. Domba suka berpencar dan kambing berkelompok
d. Meningkatkan produktifitas ternak

ESSEY !
1). Sebutkan yang menjadi perbedaan antara ternak Domba dengan Kambing ?
2). Definisi Jenis pada ternak adalah ?
3). Definisi dari Bangsa adalah ?
4). Definisi Tipe yaitu ?
5). Ciri ciri ternak domba asli Indonesia, salah satunya adalah :
6). Ciri-ciri dari ternak Ekor gemuk adalah, kecuali ...... :
7). Ciri-ciri dari ternak Domba priangan adalah !
8). Ciri-ciri ternak domba bertipe pedaging yaitu !

Penugasan dan Pengamatan :

- Tulis 10 Bangsa ternak domba selain yang sudah ada di paket, uraikan setiap bangsa dimulai
dari asal-usul keturunan atau persilangan, ciri-cirinya dan Tipenya. !
- Perhatikan ternak-ternak yang ada di wilayah saudara, serta cermati dan simpulkan masuk
kedalam tipe apakah domba tersebut ! ( setiap siswa minimal mencermati 10 ekor ternak )

9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 4
psk-utptk/kls.2/snakma/ram 5
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 02/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknolog Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Mengenal Keunggulan / Prospek usaha ternak domba
3. Satuan Pembelajaran : Keunggulan Beternak domba
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan mengetahui :
- Keunggulan Ternak domba
- Prospek Usaha Ternak domba
5. Bahan dan Alat : Ternak Domba

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :


B
eternak domba merupakan salah satu usaha yang dapat diandalkan untuk meningkatkan
kehidupan peternak karena keunggulannya. Ternak domba di Indonesia kebanyakan
diusahakan oleh petani ternak di daerah pedesaan. Domba yang diusahakan umumnya dalam
jumlah kecil 3 – 5 ekor per keluarga. Dipelihara secara tradisional dan merupakan bagian dari
usaha tani sehingga tingkat pendapatan yang diperolehnyapun sangat kecil. Kebanyakan
petani-ternak memelihara domba dengan sistem sederhana, perkandangan sederhana,
penyediaan pakan terbatas dan hanya mengandalakan alam sekitar atau sekadar digembalakan,
tanpa ada pemilihan bibit secara terarah, kesemuanya ini merupakan ciri-ciri sistem
pemeliharaan tradisional, disamping petani ternak tersebut hanya mengandalkan ilmu ternak
yang turun temurun dari orangtuanya.
Dengan pemeliharaan yang sangat sederhana pertambahan bobot badan domba hanya
20-30 gram/hari, namun bila dipelihara secara intensif ternak domba akan bertambah bobot
badannya rata-rata 50-150 gram perhari. Hal ini membuktikan bahwa sistem pemeliharaan
berpengaruh terhadap produktifitas dan pengembangan usaha ternak domba.
Keuntungan dan pospek ternak domba dibandingkan dengan ternak lainnya
sebagai berikut :
a. Domba mudah beradaptasi terhadap berbagai lingkungan.
b. Daging domba seperti halnya daging ayam, dapat diterima oleh
berbagai lapisan masyarakat, agama, dan kepercayaan di Indonesia. Berbeda dengan
daging sapi dan babi.
c. Domba memiliki sifat suka hidup berkelompok sehingga pada saat
digembalakan tidak akan saling terpisah jauh dari kelompoknya.
d. Domba cepat berkembang-biak, karena dalam kurun waktu 2 tahun
dapat beranak 3 kali dan sekali beranak dapat sampai 2-3 ekor.
e. Hasil ikutannya berupa pupuk sangat membantu usaha pertanian.
f. Modal usaha sangat kecil.
g. Ternak domba juga dapat digunakan sebagai tabungan.
h. Dagingnya merupakan sumber protein hewani yang sangat penting
untuk pemenuhan gizi manusia dan cukup disukai oleh konsumen.
i. Kulit domba merupakan nilai tambah karena dapat dijual dengan harga
tinggi
j. Domba lebih tahan haus daripada kambing karena domba memiliki
bulu yang tebal sehingga membantu untuk menahan penguapan air dari tubuhnya.
k. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan pendapatan yang cukup akan
mendorong penduduk untuk memenuhi gizi, khususnya protein hewani.

Semua keuntungan tersebut dapat diperoleh apabila semua tatalaksana beternak domba
dijalankan secara intensif. Berdasarkan hal tersebut maka peternak bisa tetap optimis karena
peluang pasar semakin meningkat. Dengan demikian usaha ternak domba memiliki hari depan
yang lebih baik.

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 6
7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K, 1978, Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta.


A A K, 1980, Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Sosroamidjojo. Samad & Soradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.

8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

Latihan dan Penugasan :


1). Apa yang disebut dengan peternakkan tradisional !
2). Apa yang disebutkan dengan peternak secara Intensif !
3). Berapa gram peningkatan bobot badan ternak bila diusahakan secara tradisional dan secara
intensif ?
4). Pahami dan simpulkan kenbali keuntungan dan prospek beternak domba !
5). Jelaskan dan cari oleh saudara Keunggulan, keuntungan dan prospek ternak domba yang
lainnya selain yang sudah dijelaskan pada Paket !

9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 7
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 03/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Menjual dan membeli ternak domba
3. Satuan Pembelajaran : Cara menjual dan membeli ternak domba
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan akan terampil :
- Membeli ternak domba
- Menjual ternak domba
5. Bahan dan Alat : Ternak Domba

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :


B
eberapa hal yang biasa dilaksanakan oleh peternak pada waktu penjualan ternak domba
diantaranya :
1). Menjual langsung kepada petani ternak (Pembeli). Cara ini merupakan yang paling baik,
karena seluruh nilai jual akan diterima petani-ternak.
2). Menjual melalui pasar ternak. Cara ini harus memperhitungkan biaya transportasi.
3). Menjual melalui pedagang perantara. Cara ini harus menyisihkan sebagian penerimaan
harga jual ternak untuk pedagang perantara.
4). Menjual ternak karena kebutuhan mendesak. Cara ini yang paling merugikan bagi penjual,
karena harga jual jauh dibawah harga pasaran umum.

Untuk memberikan taksiran harga jual atau beli ternak domba, dapat digunakan rumus
sebagai berikut :

X Hd Harga domba = ( Bt x 45)


100
Keterangan :

Bt = berat hidup ternak domba


Hd = harga daging domba eceran di pasar
45 = patokan nilai jual kulit, kepala, jeroan dan kaki.

Contoh kasus :

Seorang petani-ternak akan membeli ternak domba untuk dipelihara. Domba yang
diinginkan seberat 20 kg untuk bibit, dan informasi pasar harga daging domba eceran di pasar
adalah Rp. 50.000.-
Berapa patokan harga beli yang layak ?

X Rp. 50.000. Harga domba = ( 20 x 45)


100

= Rp. 450.000

Catatan : 1). Bagi siswa yang akan membeli, patokan harga dianjurkan tidak lebih dari
Rp. 450.000.-
2). Bagi siswa yang akan menjual ternak domba, patokan harga diusahakan lebih
tinggi dari Rp. 450.000.-

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 8
7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K, 1978, Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta.


A A K, 1980, Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Sosroamidjojo. Samad & Suradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.
Sumoprastowo, R.M. 1993. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Bharata – Jakarta

8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

1). Menjual Ternak Domba bisa ke beberapa konsumen dan yang paling baik dijual kepada ?
2). Pelajari cara-cara menentukan berat badan domba, selanjutnya seringlah berlatih untuk
menentukan harga ternak domba !
3). Survai ke pasar berapa harga eceran ternak domba per kgnya !
4). Bila diketahui berat badan domba 20 kg dengan harga eceran daging dipasar Rp. 27 kg,
maka berapa taksiran bila kita sebagai penjual !

9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 9
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 04/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Tatalaksana Pemeliharaan ternak domba
3. Satuan Pembelajaran : Pemeliharaan anak domba (Cempe/Lamb)
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan akan terampil :
- memelihara cempe/Lamb
- memelihara cempe pasca sapih.
5. Bahan dan Alat : Ternak (anak domba)

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :

D omba muda atau istilahnya Cempe dan Lamb adalah anak domba yang berumur baru
lahir sampai dengan umur 3 bulan sedangkan istilah Cempe Pasca Sapih adalah anak
domba yang berumur 3 sampai 6 bulan. Selanjutnya ternak usia 6 – 12 bulan, sudah
digolongkan domba muda.

A. Pemeliharaan Cempe / Lamb.


Cempe yang sudah dilahirkan, untuk kondisi cempe yang normal akan dapat berdiri
setelah sekitar 30 menit dilahirkan. Apabila sanggup berdiri, bisa langsung dibawa ke
induknya untuk memperoleh susu pertama (colostrum). Jika cempe sulit mencari putting
induknya maka dapat dibantu oleh kita.
Colostrum biasanya dikeluarkan oleh induk domba mulai induk melahirkan dan
berlangsung selama 1 minggu. Colostrum sangat penting artinya bagi cempe, karena
mengandung banyak protein daripada air susu biasa dan sangat essensial untuk mengawali
pertumbuhan cempe. Selain itu colostrum mengandung antibody yang dapat mencegah adanya
infeksi dan bekerja sebagai laxantia yang membantu percernaan dan mengeluarkan muconium
(tahi gagak).
Selama cempe masih berada dikandungan induknya, didalam ususnya tertimbun
kotoran yang berwarna hitam, yaitu yang disebut dengan Muconium. Muconium ini
merupakan tempat yang subur bagi perkembangan bermacam-macam bakteri. Pada umumnya
kotoran hitam (muconium) dikeluarkan selang 2 jam setelah cempe untuk pertama kalinya
menyusu pada induknya.
Meskipun cempe bersama induknya cukup terjaga, pengawasan terhadap kesehatan
cempe juga perlu diperhatikan sebab cempe sangat peka terhadap infeksi. Infeksi atau
penyakit dapat dicegah dengan perawatan yang baik dan makanan yang terseleksi. Penyebab
penyakit ini adalah infeksi dari protozoa, cacing dan kuman. Jika tidak disebabkan oleh infeksi
dari protozoa, cacing atau kuman, mencret bisa disebabkan oleh :
- makan hijauan pakan yang berlebihan
- air susu induk terlalu tinggi kadar lemaknya
- ambing/putting susu yang kotor
- pemberian makanan yang tidak teratur
- akibat perubahan iklim.

Kondisi cempe yang baru lahir masih lemah dan masih mengalami krisis. Oleh karena
itu cempe harus dirawat secara intensif. Selama masa krisis ini, cempe sangat peka terhadap
keadaan lingkungan luar yang kurang menguntungkan. Perawatan yang harus dilakukan
adalah sbb :
1). Cempe ditempatkan dalam kandang yang bersih, berventilasi baik, sinar matahari pagi
dapat masuk kandang sehingga cukup hangat.
2). Lantai kandang diberi beeding dari jerami atau sisa-sisa rumput kering dan setiap hari
diganti agar lantai tetap kering dan hangat.
3). Ukuran kandang harus cukup luas agar cempe dapat bermain dengan leluasa.

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 10
4). Apabila terjadi hujan terus menerus, kandang diberi lampu atau sekeliling kandang ditutup
dengan karung/kain agar cempe tidak kedinginan.
5). Apabila cempe sulit menyusu, cepat beri bantuan agar dapat menyusu pada induknya.
6). Apabila induknya mati, cempe harus diberi susu buatan dengan susunan sebagai berikut :
- susu sapi 0,25 liter dicampur dengan minyak ikan sebanyak 1 sendok teh, telur ayam 1
butir, gula pasir 0,5 sendok makan.
- aduk secara merata dan berikan secara langsung dengan menggunakan botol dot.
- susu buatan ini diberikan 3 sampai 4 kali dalam sehari
7). Cempe harus diberi makanan tambahan berupa dedak atau hampas tahu.

Cempe yang telah berumur 3 bulan, sebaiknya disapih atau dipisah dan tidak menyusu
lagi pada induknya. Dengan demikian induk domba dapat dipersiapkan lagi untuk dikawinkan.
Penyapihan cempe dapat diawali pada usia 2,5 bulan, dengan cara sehari diberi susu dan
sehari diliburkan. Selanjutnya sehari menyusu, dua hari diliburkan, dan seterusnya. Dengan
cara demikian tepat pada usia 3 bulan, cempe sudah tidak lagi menyusu dan dipisah dari
induknya serta dikandangkan bersama kelompoknya.
Anak domba (cempe) sebelum disapih terlebih dulu darus diberikan indentifikasi ternak
dengan cara dipasang ear-tagging atau tattoo dsb untuk kepentingan seleksi selanjutnya.

B. Pemeliharaan Cempe Pasca Sapih


Setelah cempe mencapai usia 3–6 bulan memerlukan tatalaksana pemeliharaan cempe
pasca sapih. Caranya adalah dengan memberikan sedikit demi sedikit hijauan pakan kualitas
baik. Pemberian rumput jangan lebih dari 4 kg, dan diberikan secara bertahap. Makanan
penguat diberikan dalam bentuk bubur atau yang dicampur air panas, dalam jumlah tidak lebih
dari 0,20 kg dan diberikan sekali dalam sehari. Atau sebagai patokan pemberian pakan yaitu
10-12 % untuk hijauan dan 1-2 % untuk makanan penguat.
Bila ada cempe pasca sapih lebih dari seekor, sebaiknya dipelihara dalam kandang
tersendiri, yakni kandang khusus untuk cempe usia pasca sapih sampai usia 6 bulan. Hal ini
akan memudahkan pengelolaan dan pengawasan kesehatan cempe pasca sapih.
Penimbangan cempe sebetulnya dari mulai lahir sudah dapat dilakukan, baik itu
seminggu sekali ataupun sebulan sekali. Penimbangan biasanya dilakukan sampai ternak
dewasa yang bermanfaat untuk mengetahui perkembangan atau pertumbuhan dari anak
tersebut. Sebagai patokan untuk mengetahui Pertambahan Berat Badan atau Pertambahan
Bobot Badan (PBB), dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

P B B = Berat Akhir ( B.Ak) - Berat Awal (B.Aw)


Lama pemeliharaan (hari)

Contoh :

- Berat lahir 3 kg
- Sesudah 7 hari, bobot badan menjadi 4 kg
Berapa PBB ternak perhari ?

Jawab :
PBB = B.Ak - B.Aw .
Lama Pemeliharaan

PBB = 4 - 3 = 1 kg .
7 hari 7 hari
PBB = 0,14 kg / hari

Makin besar angka yang diperoleh makin produktif atau pertumbuhan anak makin cepat.

Dengan kata lain bahwa pertumbuhan adalah pertambahan bobot hidup dari sejak awal
sampai pada tingkat dewasa sebagai akibat peningkatan masa tubuh dalam jangka / selang
waktu tertentu dan terus berlangsung sampai tercapai bentuk tubuh akhir. Selanjutnya
pertumbuhan dinilai / diukur berdasarkan pertambahan BB perselang waktu tertentu.

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 11
7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K., 1978., Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta.


A A K., 1980., Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Cahyono.B., 1998., Beternak Domba dan Kambing., Kanisius., Yogyakarta
Sosroamidjojo. Samad., 1982., Ternak Potong dan Kerja., CV. Yasaguna., Jakarta
Sosroamidjojo. Samad & Suradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sugeng, B., 1991., beternak Domba., Penebar Swadaya., Jakarta
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.
Sumoprastowo, R.M. 1993. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Bharata – Jakarta

8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

Latihan :

1. Pada anak yang baru dilahirkan perlu diberikan kolostrum dengan tujuan :
a. untuk kekebalan tubuh aktif c. sebagai antibody
b. untuk ketahanan tubuh d. semua jawaban benar.
2. Anak domba disapih sekitar umur ………….
a. 2 bulan c. 3 bulan
b. 4-6 bulan d. langsung disapih supaya terbiasa
3. Colostrum biasanya dikeluarkan oleh induk selama :
a. 1 minggu c. 3 minggu
b. 2 minggu d. 4 minggu
4. Cempe yang normal, akan dapat berdiri sekitar ……….. menit setelah dilahirkan.
a. 20 menit c. 30 menit
b. 40 menit d. 50 menit
5. Selama cempe masih dalam kandungan induknya, maka didalam ususnya tertimbun
kotoran berwarna hitam, yaitu yang disebut dengan :
a. colostrum c. bakteri
b. laxantia d. muconium

Jawablah dengan singkat !


1). Cempe atau lamb adalah anak domba yang berumur ………
2). Colostrum adalah …….….
3). Yang sangat essensial untuk mengawali pertumbuhan cempe dan mencegah adanya infeksi
dan bekerja sebagai laxantia yaitu …………
4). Perawatan-perawatan apa saja yang harus dilakukan terhadap cempe yang masih kritis !
5). Jelaskan bagaimana cara bila akan menyapih anak domba !

Penugasan / Langkah kerja :


- buatlah air susu buatan untuk cempe yang induknya mati !

9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 12
psk-utptk/kls.2/snakma/ram 13
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 05/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Tatalaksana Pemeliharaan ternak domba
3. Satuan Pembelajaran : Pemeliharaan Domba muda.
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan akan terampil :
- Memelihara dan merawat ternak Domba Muda
5. Bahan dan Alat : Ternak Domba Muda

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :

Pemeliharaan Domba Muda

M ulai usia 6 sampai 12 bulan, domba sudah digolongkan domba muda yang memerlukan
pemeliharaan tersendiri. Domba muda jantan dan betina harus dipisahkan dalam
kandang kelompoknya masing-masing, karena pada usia 6-8 bulan domba muda baik jantan
maupun betina sudah mencapai dewasa kelamin (Baliq).
Agar dapat melatih otot-otot tubuh, domba muda jangan dikandangkan terus menerus,
seminggu sekali atau dua kali sebaiknya domba-domba tersebut dikeluarkan untuk belajar
merumput sendiri dipadang pengembalaan.
Selama domba muda tidak dikeluarkan atau berada dalam kandang, kebutuhan pokok
akan hijauan adalah 10 – 12 % dan konsentrat 1 – 2 % dari berat badan. Pada pelaksanaan
di lapangan pemberian hijauan haruslah 2 kali lipatnya, dengan maksud agar ternak dapat
memakan sesuai dengan kebutuhan pokoknya dengan cara memilih pakan hijauan yang kita
sediakan.
Domba muda jantan yang dikandangkan terpisah, sudah mulai dapat disiapkan untuk
calon pejantan dengan cara seleksi. Pilih calon pejantan yang memiliki pertumbuhan tubuh
paling baik dalam kelompoknya, mempunyai dada yang dalam dan lebar, badan panjang,
perdagingan baik, punggung lurus dan merata, serta kakinya kuat. Selain itu pula libido
sexnya harus tinggi dan scrotum harus simetris.
Untuk domba calon induk (betina) yang diharapkan jadi induk yang produktif, sebaiknya
dipilih dari domba muda betina yang memiliki pertumbuhan paling baik, kondisi tubuh baik,
aktif dan kuat. Tatalaksana pemeliharaan yang baik sangat mendukung seleksi calon pejantan
maupun calon induk yang baik.
Untuk domba jantan, sebenarnya mulai usia 8 bulan sudah dapat dijadikan domba
pemacek. Namun agar tidak terlalu muda domba pemacek sebaiknya mulai digunakan sesudah
mencapai usia 12 bulan. Sedangkan untuk domba betina mulai dikawinkan pada usia diatas 15
bulan. Dengan demikian ia akan melahirkan anak untuk pertamakalinya setelah usia 20 bulan.

7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K., 1978., Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta.


A A K., 1980., Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Cahyono.B., 1998., Beternak Domba dan Kambing., Kanisius., Yogyakarta
Sosroamidjojo. Samad., 1982., Ternak Potong dan Kerja., CV. Yasaguna., Jakarta
Sosroamidjojo. Samad & Suradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sugeng, B., 1991., beternak Domba., Penebar Swadaya., Jakarta
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.
Sumoprastowo, R.M. 1993. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Bharata – Jakarta

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 14
8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

Latihan :
Jawablah dengan singkat !
1). Umur domba yang sudah digolongkan kepada domba muda, yaitu ……… bulan.
2). Jelaskan kenapa domba muda jantan dan betina harus sudah dikandangkan terpisah !
3). Berapa persen hijauan dan konsentrat diberikan untuk domba-domba muda tersebut !
4). Jelaskan kenapa dalam pemberian hijauan pada pelaksanaan dilapangan harus diberikan dua
kali lipatnya !
5). Sebutkan calon penjantan ternak domba yang baik !

Penugasan / Langkah kerja :


- buatlah air susu buatan untuk cempe yang induknya mati !

9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 15
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 06/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Tatalaksana Pemeliharaan ternak domba
3. Satuan Pembelajaran : Pemeliharaan Domba Betina dan jantan Dewasa
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan akan terampil :
- Memelihara ternak domba dewasa betina (Ewe ; baca YU)
- Memelihara ternak domba dewasa jantan ( Ram)
5. Bahan dan Alat : Ternak Domba

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :

P emeliharaan domba betina dewasa (Ewe ; baca YU) dimulai dari usia 12 bulan dan
seterusnya. Domba betina dewasa sudah digolongkan induk yang sudah dapat
dikawinkan untuk pertama
pengembangbiakan.
kalinya dan selanjutnya dapat berguna untuk

Agar dapat dijadikan induk yang baik, domba betina dewasa harus sering dikeluarkan
untuk merumput sendiri. Dengan merumput sendiri selain akan lebih ekonomis, domba juga
dapat memilih makanan yang disukai daripada dipelihara didalam kandang terus menerus.
Perawatan calon induk domba juga perlu memperoleh prioritas khusus, termasuk
mencukupi pemberian makanan hijauan pakan dan makanan penguat. Kekurangan makanan,
pemeliharaan dan perawatan dapat mengakibatkan permasalahan, seperti :
- Domba sulit menjadi bunting bila dikawinkan
- Sering terjadi kesulitan dalam melahirkan anak yang pertama kalinya.
- Cempe yang dilahirkan kecil dan lemah

D omba jantan Dewasa (Ram) mulai usia 8 bulan sudah digolongkan dewasa kelamin.
Karena itu harus dikandangkan secara terpisah dari kandang kelompok betina, sebab
domba jantan usia 8 bulan sudah mulai tampak aktivitas berahinya.
Latihan domba jantan perlu dilakukan, agar domba menjadi lebih jinak dan mudah untuk
dikuasai serta dirawat. Cara melatih domba jantan hanya dengan cara dipegang-pegang setiap
hari, agar lebih mengenal dan terbiasa dengan yang memelihara. Setelah mengenal lebih akrab,
domba jantan bisa mulai dibiasakan dengan menggunakan tali leher. Apabila di pegang tali
lehernya sudah tidak berontak, domba tersebut dapat dilatih dengan menuntun ke luar kandang.
Dengan cara demikian domba jantan akan menjadi terbiasa jika di tuntun oleh orang lain selain
pemeliharanya.
Batas usia domba jantan sebagai pemacek untuk mengawini domba betina dewasa bisa
mulai pada usia 12 bulan dapat di pergunakan sebagai pemacek 2 kali setiap minggu dan pada
usia 15 bulan 3 kali seminggu. Pada umur diatas 20 bulan di pergunakan sebagai pemacek 4
kali seminggu, tetapi sesudah diistirahatkan 2 minggu untuk mengembalikan vitalitasnya.
Pemberian makanan yang berkualitas, termasuk makanan penguat, sangat penting untuk
mendukung vitalitas domba pemacek. Pemberian hijauan pakan tidak kurang dari 10 kg/ekor
atau 10-12 % dari BB yang disiapkan dua kali lipatnya dan untuk makanan penguat 0,50
kg/ekor per hari, atau 1-2 % dari BB.
Pemeliharaan dan perawatannya tidak berbeda dengan pemeliharaan domba betina
dewasa, seperti pemeliharaan badan, pemeliharaan kuku, gerak badan. Dengan pemeliharaan
dan perawatan secara teratur kondisi tubuh domba pemacek akan tetap sehat dan siap
dipergunakan sebagai domba pemacek yang baik serta efisien.

Hal-hal yang saudara perlu diperhatikan dalam pemeliharaan domba betina dan jantan
dewasa adalah sbb :

A. Pemeliharaan Badan.
Domba perlu mendapatkan perawatan badan secara berkala, sebab setiap saat tubuhnya
dapat menjadi kotor karena daki atau faeces kambing itu sendiri.

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 16
1). Daki
Kulit domba terdiri dari tiga lapisan. Lapisan paling atas adalah lapisan mati. Dari kulit
tersebut dikeluarkan keringat. Sesudah keringat diuapkan, maka bagian organis dan
anorganis pada kulit atau lapisan mati itu tercampur dengan debu yang membentuk daki.

2). Faeces
Setiap saat domba membuang kotoran dan berbaring dilantai kandang atau tempat
merumput. Maka sebagian tubuh akan terkena kotoran dan melekat pada kulit dan bulu,
apalagi bagi domba yang bulunya lebat.

Kotoran domba sendiri atau yang berasal dari keringat dan debu yang membentuk daki
akan sangat mengganggu kesehatan ternak domba, sebab hal tersebut dapat mengakibatkan
gangguan, seperti :
- Lubang keringat tertutup, sehingga keringat tidak dapat keluar. Peristiwa ini akan
mengakibatkan pengaturan nafas didalam tubuh dan peredaran darah terganggu.
- Mengandung berbagai bakteri dan parasit yang dapat menyebabkan perasaan gatal-
gatal dan tidak tenang.

Perawatan kulit :
- Secara berkala memandikan dan menyikat kulit dan bulu. Pada saat domba
dimandikan, sebaiknya sekaligus disikat kulit dan bulunya agar kotoran dapat hilang.
- Bulu-bulu yang menggumpal perlu dipotong untuk menghindari melekatnya
kotoran.

Tujuan utama pemeliharaan badan bagi domba dewasa adalah ;


- Untuk menjaga kesehatan domba, sebab kebersihan kulit dan bulu mengurangi
kemungkinan bakteri dan parasit menginfeksi. Demikian pula pengaturan temperature dan
peredaran darah tidak terganggu.

B. Pemeliharaan Kuku
Kuku domba yang tidak terpelihara akan sangat mengganggu karena dapat
mengakibatkan :
- Kedudukan tulang tracak menjadi salah yang akan mengakibatkan titik berat badan
domba jatuh pada tracak bagian belakang.
- Bentuk punggungnya seperti busur
- Mudah terjangkit penyakit kuku
- Domba jadi pincang.

Pemeliharaan kuku perlu memperoleh perhatian Saudara, terutama untuk domba yang
dipelihara dalam kandang terus menerus sepanjang hari. Hal ini berbeda dengan domba yang
biasa digembalakan atau sehari-hari merumput sendiri.
Bagi domba yang dipelihara dalam kandang terus menerus, kuku dengan lantai kandang
hanya sedikit sekali bergesek. Keadaan demikian akan menimbulkan kedudukan kuku atau
posisi kaki yang salah. Kuku domba akan tumbuh terus dan pada akhirnya menjadi panjang.
Perubahan kedudukan kuku yang salah mengakibatkan tergesernya bidang dasar tracak.
Dengan demikian titik berat badan jatuh pada kuku bagian belakang yang lunak. Keadaan
semacam ini akan mempengaruhi bentuk tubuh domba seperti : punggung melengkung seperti
busur. Disamping itu, kuku yang lunak mudah sakit sehingga domba menjadi pincang.
Untuk menjaga kedudukan kuku yang serasi, maka setiap 4 bulan sekali kuku tersebut
harus dipotong, terutama kuku kaki belakang. Kuku kaki depan umumnya lebih keras dari
pada kuku kaki belakang karena selalu basah terkena air kencing dan kotoran. Tetapi baik
kuku depan maupun kuku kaki belakang pertumbuhannya akan sama saja, maka keduanya
perlu Saudara melakukan pemotongan. Pemotongan harus dilakukan dengan alat khusus atau
pisau pemotong kuku (pisau rennet). Maksud pemotongan kuku ternak domba adalah untuk
mengembalikan pada bentuk kuku yang normal.

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 17
Kuku domba yang dipotong adalah bagian lapisan tanduk pada telapak kaki sampai
menjadi rata atau menjadi sedikit cekung. Dengan cara demikian berat badan domba terbagi
rata pada keempat kakinya.

7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K., 1978., Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta.


A A K., 1980., Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Cahyono.B., 1998., Beternak Domba dan Kambing., Kanisius., Yogyakarta
Sosroamidjojo. Samad., 1982., Ternak Potong dan Kerja., CV. Yasaguna., Jakarta
Sosroamidjojo. Samad & Suradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sugeng, B., 1991., beternak Domba., Penebar Swadaya., Jakarta
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.
Sumoprastowo, R.M. 1993. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Bharata – Jakarta

8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

1. Domba dicukur bulunya, dengan tujuan :


a. menghindari penyakit c. agar bulunya bersih
b. harga jual lebih tinggi d. menghindari parasit kulit
2. Alat untuk membuang/menghilangkan tanduk, salah satunya dengan alat :
a. ear tagg dan aplicatornya c. elastrator dan aplicatornya
b. tattoing dan aplicatornya d. tang burdizzo
3. Yang perlu dilakukan pertama-tama dalam pemotongan kuku ternak :
a. merobohkan ternak c. menyiapkan alat dan bahan
b. membersihkan alat-alat d. semua jawaban benar
4. Tujuan pemberian nomor telinga pada ternak dombing, adalah :
a. hiasan c. biar ternak terlihat gagah
b. identifikasi ternak d. supaya diketahui peternaknya
5. Tujuan pemotongan ekor pada domba betina adalah ….
a. memudahkan perkawinan alam c. supaya harga jual tinggi
b. agar berahinya cepat d. supaya cepat dewasa
6. Tujuan kastrasi pada ternak yang dipellihara dipadang pengembalaan adalah :
a. meningkatkan nafsu makan. c. agar tidak mengawini tenak betina
b. meningkatkan produktifitas ternak. d. agar tidak menghasilkan keturunan
7. Domba jantan dewasa dapat mengawini ……….ekor betina per 2 bulan.
a. 10-20 ekor c. 20-30 ekor
b. 5-10 ekor d. 25-35 ekor
8. Kelemahan dari alat/bahan ear-tagg pada ternak domba yaitu :
a. mudah dibuka kembali c. sulit dipasang pada domba garut
b. sulit pemasangannya d. nomornya mudah di hapus
9. Ditinjau dari segi perbibitan, kastrasi ternak jantan baik untuk
a. Peningkatan kualitas daging c. Menghindari keturunan yang jelek
b. Meningkatkan berat badan yang maksimal d. Jawaban a, b dan c benar
10. Domba betina sudah dapat dikawinkan untuk pertama kalinya, sebab domba tersebut sudah
dikatakan dewasa, yaitu pada umur :
a. 8 bulan c. 12 bulan
b. 10 bulan d. 15 bulan

9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 18
psk-utptk/kls.2/snakma/ram 19
psk-utptk/kls.2/snakma/ram 20
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 07/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Manajemen Reproduksi / Perkembang-biakan
3. Satuan Pembelajaran : Dewasa kelamin, dewasa tubuh dan Berahi (Bronst)
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan akan terampil :
• Menjelaskan masa Dewasa Kelamin
• Menunjukan ternak yang sudah dewasa kelamin
• Menjelaskan masa dewasa tubuh
• Menunjukan ternak yang sudah dewasa tubuh
• Menjelaskan tanda-tanda bronst/berahi
• Menunjukan ternak yang sedang bronst / berahi
5. Bahan dan Alat : Ternak Domba

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :

Dewasa Kelamin dan Dewasa Tubuh :

P erkembang-biakan adalah mengusahakan hewan agar memperoleh keturunan.


Dengan perkataan lain diartikan sebagai usaha manusia untuk mempertahakan
kelangsungan hidup dari ternak tersebut agar tidak punah. Perkembang-biakan dapat
disebut pula dengan Reproduksi (memperbanyak).
Pada ternak domba ataupun ternak lainnya, perkembang-biakan dilakukan dengan cara
Generatio Parentalis Generatif, yaitu perkembang-biakan dengan cara sexual, dimana masing
masing ternak jantan dan betina menghasilkan sel kelamin yaitu Spermatozoide (sel mani) dan
Oogenia (sel telur/ovum). Pada perkembang-biakan sexual tersebut terjadi karena adanya
peristiwa perkawinan dan pertunasan/pembuahan dan bisa terjadi bila ternak yang
bersangkutan sudah dewasa kelamin (baliq).
Dewasa Kelamin atau Balig adalah suatu keadaan dimana ternak yang bersangkutan
telah menghasilkan sel kelamin yang matang/masak, sehingga dikatakan ternak tersebut sudah
siap untuk dibuahi atau membuahi (pubertas). Pada ternak domba dewasa kelamin sangat
dipengaruhi oleh perbedaan bangsa, makanan, jenis kelamin dan iklim, pada umumnya ternak
domba betina mulai dewasa kelamin pada umur 7 – 8 bulan, sedangkan dewasa kelamin
jantan 6 bulan.
Meskipun domba sudah mencapai dewasa kelamin, namun alangkah baiknya domba
tersebut tidak dikawinkan dahulu sebab ternak domba belum mencapai Dewasa Tubuh.
Konsekuensi bila ternak domba betina dikawinkan pada saat belum dewasa tubuh, yaitu ;
1). Dalam melahirkan, anaknya kemungkinan akan cacat, sedangkan induknya mengalami
kesakitan dan mungkin saja akan menimbulkan kematian.
2). Prosentase kelahiran dan kebuntingan kecil
3). Anak yang dilahirkan lemah dan kecil-kecil
4). Angka mortalitas anak yang sudah lahir tinggi
5). Pertumbuhan induk terganggu.
Dewasa Tubuh adalah suatu keadaan dimana pertumbuhan dan pertambahan berat
badan yang sudah maksimal atau dapat diartikan sebagai ternak domba betina tersebut sudah
sanggup untuk bunting, melahirkan, menyusui dan mengasuh anaknya. Untuk domba betina
dewasa tubuh dapat dicapai pada umur 20 bulan, sedangkan untuk domba pejantan yang
potensial adalah setelah mencapai 12 bulan.

Berahi (Bronst) :
Berahi atau bronst adalah suatu bahagian dari kejadian-kejadian reproduksi, yakni
suatu hasrat dari mahluk hidup untuk berkawin yang terdapat pada jantan maupun betina.
Berahi pada ternak domba dimulai setelah mencapai dewasa kelamin (baliq). Timbulnya
berahi pada ternak domba betina dipengaruhi oleh kerja hormon-hormon reproduksi sehingga

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 21
timbulnya berahi itu mempunyai jarak waktu tertentu. Berahi pada ternak betina merupakan
suatu tanda bahwa ternak bersangkutan minta dikawin. Lainnya halnya dengan ternak jantan
yang tidak mempunyai batasan-batasan waktu, artinya ternak domba jantan kapan dan dimana
saja berahinya dapat timbul, sebab ternak jantan timbul berahi bukan karena kerja hormon-
hormon reproduksi, tetapi oleh adanya rangsangan yang dikeluarkan oleh betina yang sedang
bronst, disamping karena adanya penimbunan sperma yang belum dikeluarkan.
Rata-rata masa berahi ternak betina berlangsung selama 30-40 jam (1-2 hari) dan akan
timbul tiap berselang 15-21 hari atau rata-rata siklus estrus 17 hari. Tanda tanda bronst pada
ternak domba yaitu selalu gelisah, mencari domba lainnya, berdiam diri bila dinaiki temannya,
selalu ribut, ekor selalu dikibas-kibaskan, nafsu makan berkurang, berusaha melepaskan diri
dari kandang, sering kencing dan alat kelaminnya mengalami perubahan 3A / 3B serta bagi
domba yang sedang menyusui, produksi susunya menurun.

7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K., 1978., Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta.


A A K., 1980., Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Cahyono.B., 1998., Beternak Domba dan Kambing., Kanisius., Yogyakarta
Sosroamidjojo. Samad., 1982., Ternak Potong dan Kerja., CV. Yasaguna., Jakarta
Sosroamidjojo. Samad & Suradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sugeng, B., 1991., beternak Domba., Penebar Swadaya., Jakarta
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.
Sumoprastowo, R.M. 1993. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Bharata – Jakarta

8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

1. Jarak antara berahi ke berahi berikutnya pada dombing disebut :


a. lama berahi b. estrus c. siklus estrus d. masa berahi
2. Pubertas induk dicapai pada umur :
a. 1-2 bulan b. 5-7 bulan c. 2-4 bulan d. 7-9 bulan
3. Lama berahi pada dombing berlangsung selama …………
a. 1 – 3 hari c. 2 – 4 hari
b. 1 – 4 hari d. 1 – 2 hari

1. Jelaskan pengertian dari perkembang-biakan atau reproduksi pada ternak domba !


2. Pada ternak perkembang-biakan dilakukan secara .... yang artinya adalah ....
3. Dewasa kelamin atau balig mempunyai arti ....
4. Ciri-ciri atau tanda dari ternak sudah mencapai dewasa kelamin, diantaranya adalah !
5. Sedangkan pengertian dari Dewasa Tubuh adalah ....
6. Salah satu untuk mengetahui bahwa ternak tersebut sudah mencapai dewasa tubuh,
adalah dengan cara ....
7. Bronst atau berahi pada ternak mempunyai pengertian ....
8. Tanda-tanda ternak sudah bronst atau berahi yaitu ....
9. Ternak betina sudah dapat dikawinkan untuk yang pertama kalinya, apabila sudah
berumur (untuk betina umur ...., dan untuk jantan umur .... )
10. Bila ternak dikawinkan sebelum Dewasa tubuh, dihawatirkan akan menimbulkan
kerugian-kerugian, diantaranya ..........
11. Lamanya estrus/berahi pada domba berlangsung selama ...... jam atau rata-rata ..... jam
12. Ternak domba jantan tidak mengenal siklus estrus/berahi, karena ternak jantan
berahinya dipengaruhi oleh .... .

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 22
Penugasan / Pengamatan :
1. Lihat dan perhatian 30 ekor ternak betina (domba) yang ada dihadapanmu, selanjutnya
hitung dan pisahkanlah ternak yang sudah dan belum mencapai dewasa kelamin. !
2. Kemudian ternak yang sudah dewasa kelamin tersebut anda hitung dan pisahkan antara
yang sudah dan yang belum Dewasa Tubuh !
3. Diantara ternak yang sudah mencapai dewasa kelamin, pisahkan dan hitung oleh anda
yang ternak yang sedang mengalami bronst / berahi !

9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 23
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 08/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Manajemen Reproduksi / Perkembang-biakan
3. Satuan Pembelajaran : Mengawinkan ternak domba
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan akan terampil :
• Mendefinisikan perkawinan
• Melakukan Perkawinan
5. Bahan dan Alat : Ternak Domba

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :

P erkawinan pada ternak domba adalah suatu usaha untuk memasukan sperma
kedalam alat kelamin betina. Setiap perkawinan yang dilakukan bertujuan
menimbulkan kebuntingan. Untuk terjadi kebuntingan maka perkawinan itu harus
diikuti kejadian yang disebut dengan pertunasan atau pembuahan, yakni bersenyawanya sel
mani (Spermatozoide) dengan sel telur (Ovum) yang biasanya terjadi didalam ductus ovii / tuba
fallopii / saluran telur.

S ebelum mengawinkan ternak domba perlu diperhatikan data-data perkembang-biakan


ternak domba sebagai berikut :

a. Umur Balig/dewasa kelamin ; jantan 6 bulan, untuk betina umur 7-8 bulan.
b. Umur dewasa kelamin ; jantan 12 bulan, untuk betina umur 18-20 bulan.
c. Umur kawin pertama yang ideal ; jantan 12 bulan, untuk betina umur 15 bulan
d. Siklus berahi / estrus ; betina 17 hari
e. Lamanya bronst/berahi 30-40 jam (1-2 hari)
f. Saat terbaik untuk dikawinkan pada betina ialah hari kedua masa berahi atau tepatnya 18-20
jam dari mulai timbulnya berahi.
g. Perkawinan setelah melahirkan 2-3 bulan, bila terlihat tanda-tanda berahi.
h. Lamanya bunting 144-156 hari atau rata-rata 150 hari (5 bulan)
i. Menyapih anak 3 bulan.
j. Batas umur diternakan pada betina 5 tahun, jantan 6-8 tahun
k. Jumlah anak sekali melahirkan (Litter size) 1-2 ekor, kecuali pada beberapa kejadian lebih
dari dua ekor.
l. Anak domba = Cempe atau Lamb
m. Lambing = Melahirkan anak
n. Lambing interval = Selang waktu antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya atau
disebut pula dengan Interval kelahiran
o. Litter size = Sejumlah anak yang dilahirkan dari satu kebuntingan / kelahiran.
p. Ewe (baca ; YU) = Domba Dewasa Betina
q. R a m = Domba Dewasa Jantan

Sistem perkawinan yang dapat dilakukan pada ternak domba, yaitu :


1). Perkawinan alam, yaitu usaha memasukan sperma yang dilakukan oleh ternak jantan
sendiri dengan jalan melakukan persetubuhan (coitus).

Perkawinan alam dapat dilakukan dengan beberapa cara ;


a). Hand matting / perkawinan Individu, yaitu perkawinan alam dengan membawa
betina yang sedang berahi ke kandang pejantan untuk dikawinkan, atau sebaliknya
ternak jantan yang dibawa ke kandang betina. Pada pelaksaan perkawinan individu ini
bisa dilakukan dengan cara langsung dikawinkan pada saat itu, atau disatukan

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 24
dikandang kawin individual dan berkumpul selama 3 siklus berahi. Perkawinan
individual ini memerlukan pengaturan dan pengawasan lebih seksama.

b). Pasture Matting, yaitu perkawinan bebas yang terjadi di padang pengembalaan.
Perbandingan jantan dan betina 1 : 20.

c). Couple matting / perkawinan kelompok (flock matting), yaitu perkawinan alam
dimana seekor pejantan dengan beberapa ekor betina dibiarkan bersama-sama dalam
satu kandang koloni terus menerus. Supaya hasil perkawinan lebih menyakinkan,
pejantan harus dimasukan kedalam kandang betina selama 2 bulan atau minimalnya 3
kali siklus berahi ternak betina. Perbandingan antara jantan dan betina yaitu untuk
pejantan umur kurang dari 15 bulan bisa mengawini 10 ekor betina, pejantan umur
kurang dari 3 tahun dengan 35 ekor betina, dan pejantan umur lebih dari 3 tahun dapat
mengawini 50 ekor betina.
Untuk mengetahui domba-domba betina dalam kelompok tersebut telah dikawini oleh
pejantan atau belum, maka pejantan perlu diberi tanda dengan cara sbb :
1. Pejantan diberi pewarna menggunakan cat atau bahan lainnya.
Pewarna tersebut ditempel di dada sebelah bawah pejantan dengan menggunakan
kain atau busa dengan cara diselendangkan.
2. Contoh pewarna yang digunakan yaitu kuning, merah, biru atau hitam.
3. Pewarna diganti setiap 16 hari sekali dengan warna yang berbeda.
Dan selama 16 hari ini pewarnaan harus diperbaharui 2 hari sekali supaya pewarna
tidak habis.
4. Dengan cara ini, betina-betina yang telah dikawin akan terkena cat
pada bulu bagian kemudi.
5. Bila betina terkena kuning, berarti betina tersebut dikawin pejantan
paling awal sehingga akan bunting dan melahirkan paling dahulu.
6. Jika didapat ada betina yang terkena 2 macam warna, yaitu kuning dan
merah, membuktikan bahwa betina tadi sudah dikawin 2 kali, dan betina tersebut
akan bunting dan melahirkan pada tahap berikutnya.
7. Bagi betina yang terkena 3 macam warna, yakni kuning, merah dan
biru, berarti betina telah dikawin 3 kali sehingga betina akan bunting yang paling
akhir dari kelompoknya.
8. Bagi betina yang tidak terkena ketiga warna tadi, menandakan ternak
tersebut tidak menimbulkan berahi dan tidak dikawin, maka untuk selanjutnya
ternak betina tersebut diberi kesempatan satukali periode kembali selama dua bulan.
Dan bila masih tidak dikawin juga, betina tersebut dikeluarkan dari usaha ternak
(afkir).
9. Bila ternak betina terkena pewarna sampai 3 kali, namun prosentase
kelahiran sedikit, menandakan pejantannya tidak mampu menunasi dan perlu segera
di afkir. dan sebaliknya bila betina-betina tidak ada yang terkena pewarna itupun
pejantan harus segera diganti.
10. Pada akhir bulan kedua, betina-betina yang terkena pewarna
dipisahkan dan dikandangkan sesuai dengan pewarnaan tadi, dengan maksud
supaya dapat diketahui kapan akan melahirkan.

2). Perkawinan buatan, yaitu usaha memasukan sperma dengan perantara alat-alat,
perkawinan ini disebut istilah populernya kawin suntik ( A.I = Artificial Inseminasion) atau
I.B. =Inseminasi Buatan ). Khusus untuk peternakan domba perkawinan buatan ini jarang
dilakukan, kalaupun dilakukan hanya untuk bahan penelitian.

Perkawinan pertama erat kaitannya dengan kedewasan tubuh. Domba dapat


dikawinkan bila ternak tersebut telah mencapai dewasa kelamin, dewasa tubuh dan sedang
berahi. Pada kedewasaan tubuh tersebut biasanya tercapai pada umur 15-20 bulan, domba
yang telah memasuki dewasa tubuh memiliki bagian-bagian tubuh yang harmonis dan
seimbang antara organ yang satu dengan yang lainnya.
Berdasarkan data-data diatas, maka sebaiknya perkawinan pertama bagi domba-domba
betina dewasa yaitu pada umur 15 bulan. Dengan demikian pada saat induk melahirkan telah

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 25
memasuki kedewasaan tubuh. Masa berahi ternak domba betina berlangsung selama 30-40
jam atau 1-2 hari dan domba akan mengovulasikan telur pada akhir masa berahi.
Kesuburan seekor domba betina dapat diukur dari keteraturan dan kemampuan beranak
dengan cepat. Sementara kesuburan pejantan dapat diukur dari sifat kejantanannya dalam
jumlah sperma yang dihasilkan. Pejantan yang normal akan memancarkan sperma sebanyak
0,5 cc yang berisikan kurang lebih 500 juta sel jantan pada setiap ejakulasi.

7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K., 1978., Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta.


A A K., 1980., Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Cahyono.B., 1998., Beternak Domba dan Kambing., Kanisius., Yogyakarta
Sosroamidjojo. Samad., 1982., Ternak Potong dan Kerja., CV. Yasaguna., Jakarta
Sosroamidjojo. Samad & Suradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sugeng, B., 1991., beternak Domba., Penebar Swadaya., Jakarta
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.
Sumoprastowo, R.M. 1993. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Bharata – Jakarta

8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

1. Rata-rata siklus estrus ternak domba, adalah ….


a. 21 hari b. 16 hari c. 10 hari d. 27 hari
2. Suatu upaya mempertahankan mutu genetis ternak suatu jenis ternak, ialah dengan cara
a. pemuliabiakan c. seleksi
b. peremajaan d. kandang individu
3. Keuntungan perkawinan alami pada ternak domba yaitu :
a. tidak memerlukan alat khusus c. prosentase kebuntingan tinggi
b. memerlukan pejantan yang unggul d. tidak memerlukan biaya yang mahal
4. Domba betina sebaiknya pertama kali dikawinkan pada umur antara ;
a. 5-7 bulan c. 10-11 bulan
b. 8-9 bulan d. 12-13 bulan
5. Induk domba bisa dikawinkan kembali ………. setelah melahirkan.
a. 1 bulan c. 3 bulan
b. 2 bulan d. 4 bulan
Domba betina untuk pertama kalinya dikawinkan pada saat dan umur ;
a. sudah dewasa kelamin, dewasa tubuh dan pada umur 8 bulan
b. sudah mencapai dewasa tubuh, berahi dan pada umur 18 bulan
c. sudah berahi dan pada umur 8 bulan serta dewasa kelamin
d. sudah dewasa kelamin, dewasa tubuh, sedang berahi dan pada umur 18 bulan
7. Lama berahi pada ternak domba betina berlangsung selama :
a. 1 – 4 hari b. 1 – 2 hari c. 3 – 9 hari d. 2 – 4 hari
8. Pubertas kambing dicapai pada umur ……. Bulan :
a. 1 – 2 b. 3 – 4 c. 2 – 4 d. 7 – 9
9. Rata-rata siklus estrus pada ternak domba adalah ……. Hari
a. 16 hari b. 41 hari c. 10 hari d. 27 hari
10. Rata-rata estrus ternak domba adalah …….. jam
a. 20 b. 16 c. 25 d. 27
11. Domba jantan dewasa dapat mengawini ……. Induk
a. 25 – 35 ekorb. 10 – 20 ekor c. 20 – 30 ekord. 5 – 10 ekor
12. Waktu yang baik untuk mengawinkan domba yaitu ………… jam setelah tanda tanda
berahi pertama.
a. 10 - 15 jam c. 12 - 18 jam
b. 11 - 16 jam d. 13 - 19 jam

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 26
1. Definisi perkawinan pada ternak adalah ?
2. Definisi perkawinan Alam pada ternak kecil adalah ?
3. Perkawinan ternak bisa dilakukan dengan 2 cara, sebutkan satu persatu !
4. Perkawinan alam ada 3 cara. Sebutkan satu persatu dan jelaskan masing-masingnya !
5. Ternak betina sudah dapat dikawinkan untuk yang pertama kalinya, apabila ...
6. Rata-rata siklus berahi pada ternak berlangsung selama ...
7. Kapan ternak betina sudah bisa mulai dikawinkan yang pertama kali ?
8. Kapan ternak jantan mulai dikawinkan yang pertama kalinya ?
9. Masa berahi ternak domba betina selama ......

Penugasan / Pengamatan :
1. Hapalkan data-data perkembang-biakan sebelum saudara mengawinkan ternak.
2. Lakukan perkawinan alam pada ternak dengan cara hand matting !
3. Lakukan perkawinan alam pada ternak dengan cara couple matting !
4. Lakukan perkawinan alam pada ternak dengan cara pasture matting !
5. Pahami dan kuasai tahapan-tahapan cara perkawinan couple mating !

9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 27
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 09/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Manajemen Reproduksi / Perkembang-biakan
3. Satuan Pembelajaran : Kebuntingan dan kelahiran
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan akan terampil :
- Perawatan induk bunting
- Menangani kelahiran dan memelihara Induk melahirkan
5. Bahan dan Alat : Ternak Domba

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :

Pemeliharaan Induk Bunting :

D omba betina yang sudah mengalami coitus/perkawinan akan mengalami masa bunting.
Lamanya bunting setiap ternak domba bervariasi antara 144-152 hari, dengan rata-rata
150 hari (5 bulan).

Tanda tanda kebuntingan dapat dilihat dari perubahan fisik dan tingkah laku domba,
misalnya ;
1). Tidak timbulnya bronst pada siklus berikutnya.
2). Performance lebih tenang dan apabila dinaiki oleh pejantan akan menghindar.
3). Nafsu makan bertambah dan adakalanya memakan yang bukan makanannya.
4). Sering menggosok-gosokan badannya ke dinding kandang atau ke pohon.
5). Pada pertengahan kebuntingan, perut sebelah kanan kelihatan membesar.
6). Ambing besar dan kelihatan menurun
7). Pertumbuhan anak didalam kandungan untul 100 hari yang pertama berlangsung lambat,
kemudian tumbuh cepat selama 6-8 minggu terakhir.

Perawatan dan pemeliharaan pada ternak yang mulai bunting muda (1-2 bulan) belum
membutuhkan pemeliharaan khusus/istimewa, kecuali penyesuaian kebutuhan makanan.
Selanjutnya pada bulan-bulan berikutnya ternak bunting perlu penanganan yang lebih, seperti :
1). Dua bulan menjelang beranak, domba dianjurkan dipisahkan dari kelompoknya dalam
kandang tersendiri. Dengan demikian akan terhindar dari kemungkinan adanya
penandukan / benturan dari domba lainnya.
2). Exercise perlu dilepas di lapangan pengembalaan untuk merumput sendiri. Dengan cara
demikian domba dapat berolahraga dan sanggup menjamin kesehatan tubuh, serta
memperlancar foetus pada saat melahirkan.
3). Beri makanan yang cukup dan tambahan makanan penguat yang baik kualitasnya. Hal ini
ini berguna untuk membantu pembentukan ambing, terutama pada domba yang baru
pertama kali beranak. Selain itu membantu pembentukan colostrum yang sangat esensial
bagi anak domba yang baru dilahirkan.

Penanganan Kelahiran dan Perawatan Induk setelah Melahirkan :

Tiap-tiap kebuntingan berakhir dengan partus (kelahiran). Tanda-tanda sudah dekat


melahirkan, yaitu :
1). Induk terlihat gelisah
2). Perutnya menurun
3). Vulva membengkak, konsistensinya lunak, selaput lendirnya merah, daroi padanya keluar
lendir yang sifatnya lengket.
4). Ambing mengeras dan membengkak
5). Nafsu makan berkurang
6). Mencakar-cakar seolah-olah berusaha membuat sarang
psk-utptk/kls.2/snakma/ram 28
7). Induk banyak berbaring, leher dilipat, posisi kepala berada diatas bahu, pandangannya
mengarah ke atas.
8). Bila berdiri kaki selalu direnggangkan, pangkal ekor diangkat tinggi.
9). Bila induk dilepas, ia akan memisahkan diri dari kelompoknya.

Hal-hal yang perlu dipersiapkan dan dilakukan bila Induk melahirkan, yaitu :
1). Lantai kandang diberi alas jerami kering yang bersih.
2). Pada saat domba akan lahir biasanya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit dan jarang
mengalami kesulitan dalam melahirkan sehingga tidak memerlukan pertolongan. Akan
tetapi bila terjadi kesukaran dalam melahirkan yang biasanya disebabkan oleh letak yang
tidak normal, misalnya kepala tertunduk atau kakinya terlipat dan sebagainya, maka
pertolongan dengan cara mengembalikan posisi anak ke posisi yang normal.
3). Apabila anak domba setelah dilahirkan sulit untuk bernafas, maka langkah selanjutnya
adalah membantu dengan cara meniup mulutnya atau memijat dan menekan-nekan sisi
dada dan mengangkat tubuh bagian belakang.
4). Sebelum anak domba menyusu pada induknya, sebaiknya bagian belakang pelvis dan
ambing induk dibersihkan dengan air hangat yang dicampur dengan desinfektan.
5). Setelah induk melahirkan, bersihkan ambing, bagian ekor, dan kaki belakang dari adanya
kotoran lender/cairan peranakan, dengan air hangat yang dicampur desinfektan.
6). Awasi placenta yang mau jatuh/keluar setelah terjadi kelahiran. Jangan sampai tergantung
terlalu panjang supaya tidak terinjak, yang bisa mengakibatkan prolapsus uteri (Uterus
tersembul keluar). Plasenta biasanya akan keluar setelah 24 jam (sehari) setelah
melahirkan. Bila menggantung agak panjang potong dan setelah keluar semua segera
ambil dan kubur.
7). Setelah melahirkan, induk banyak mengeluarkan cairan, karena itu berilah air minum yang
cukup. Untuk mengembalikan tenaga induknya, air minum dicampur dengan gula.
8). Biarkan induk beristirahat yang cukup sambil diberi hijauan dan leguminose yang segar.
9). Jika anak yang dilahirkan kembar maka induk akan berbaring lagi. Berbaringnya induk
setelah selesai membersihkan lender merupakan suatu tanda bahwa naka yang dilahirkan
lebih dari seekor.

Kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam proses kelahiran anak domba, umumnya


disebabkan oleh beberapa factor, misalnya :
1). Posisi anak domba tidak normal
2). Induk memiliki pinggul yang sempit
3). Ukuran tubuh anak terlalu besar
4). Anak yang dikandung mati sebelum lahir
5). Kondisi induk tidak sehat.

7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K., 1978., Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta.


A A K., 1980., Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Cahyono.B., 1998., Beternak Domba dan Kambing., Kanisius., Yogyakarta
Sosroamidjojo. Samad., 1982., Ternak Potong dan Kerja., CV. Yasaguna., Jakarta
Sosroamidjojo. Samad & Suradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sugeng, B., 1991., beternak Domba., Penebar Swadaya., Jakarta
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.
Sumoprastowo, R.M. 1993. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Bharata – Jakarta

8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

Latihan :
1. Lama bunting ternak domba sekitar ..... hari s/d .... hari, atau rata-rata .... hari.

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 29
2. Tanda-tanda dapat dilihat dari perubahan fisik dan tingkah laku domba, misalnya .....
3. Perawatan dan pemeliharaan pada ternak yang mulai bunting muda (1-2
bulan) belum membutuhkan pemeliharaan khusus/istimewa, kecuali penyesuaian kebutuhan
makanan. Selanjutnya pada bulan-bulan berikutnya ternak bunting perlu penanganan yang
lebih, seperti .....
4. Tiap-tiap kebuntingan berakhir dengan partus (kelahiran). Tanda-tanda
sudah dekat melahirkan, yaitu …..
5. Hal-hal yang perlu dipersiapkan dan dilakukan bila Induk melahirkan, yaitu
…..
6. Kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam proses kelahiran anak domba,
umumnya disebabkan oleh beberapa factor, misalnya …..

9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 30
psk-utptk/kls.2/snakma/ram 31
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 10/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Pemilihan bibit / Seleksi
3. Satuan Pembelajaran : Seleksi Bibit Ternak Domba
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan akan terampil :
- Mendefinisikan Pengertian Seleksi
- Mengetahui ciri-ciri bibit domba yang baik
- Memilih / menyeleksi bibit ternak domba
5. Bahan dan Alat : Ternak Domba

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :

S ecara umum pemilihan bibit atau seleksi adalah suatu usaha manusia untuk
memilih ternak yang baik, sesuai dengan maksud dan tujuan peternakan. Di
Indonesia seleksi pada umumnya diarahkan pada tiga tujuan, yakni domba potong,
domba bibit dan domba adu. Pada usaha peternakan domba, seleksi bertujuan untuk
memperoleh bangsa-bangsa domba yang memiliki sifat-sifat baik, seperti persentase
kelahiran dan kesuburan yang tinggi, memiliki kecepatan tumbuh dan persentase karkas
yang baik. Dengan demikian keberhasilan usaha ternak domba tak bisa dipisahkan dengan
pemilihan induk ataupun pejantan yang memiliki sifat-sifat baik seperti tersebut diatas, sebab
dengan seleksi terhadap bibit diharapkan akan bisa menjamin karakter ekonomi tertentu.

Seleksi ada empat cara, yaitu :


a. Seleksi berdasarkan bentuk Eksterieur, yaitu seleksi berdasarkan hasil pengamatan dari
dekat yang dilihat dari depan, samping dan dari belakang.
b. Seleksi berdasarkan Silsilah, yaitu memilih ternak domba berdasarkan informasi daripada
induknya atau nenek moyangnya. Hal ini bisa dilihat dari kartu catatan rekording induk.
c. Seleksi berdasarkan Kontes, yaitu memilih ternak pada waktu kontes atau pameran, yang
dipilih adalah juara atau pemenangnya.
d. Seleksi berdasarkan Prestasi atau Produksi, yaitu memilih ternak berdasarkan pada
penilaian sifat produksinya.

Kriteria yang penting dan biasa dilakukan peternak sebagai pedoman seleksi yaitu
dengan melihat kesuburan dan persentase kelahiran, temperamen / produksi susu, rekording
dan kesehatan.

Kesuburan dan Persentase Kelahiran


Induk yang subur adalah induk yang memiliki banyak anak, setiap kelahiran (Litter
size) mampu beranak 2 ekor atau Prolifik (beranak lebih dari satu ekor). Hal ini membuktikan
bahwa setiap kali bronst induk yang bersangkutan mampu mengovulasi sel telur yang sudah
matang lebih dari satu sel telur yang siap dibuahi.
Kesuburan domba biasanya dinyatakan dengan dalam persentase anak yang dilahirkan.
Suatu contoh persetase kelahiran yang baik ialah apabila Litter size bisa mencapai 150 persen.
Hal ini berarti bahwa setiap kelompok induk yang terdiri dari 10 ekor, setiap kelahiran mampu
beranak 15 ekor.
Tentu saja disini ada beberapa induk yang bisa melahirkan dua ekor anak, tetapi yang
lainnya hanya satu ekor anak. Dan kiranya perlu diketahui bahwa masalah kesuburan ini bisa
dipengaruhi berbagai faktor seperti bangsa, perawatan, makanan dan iklim.

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 32
Produksi susu dan Temperamen ;
Untuk memberikan jaminan hidup dan pertumbuhan anak domba yang baik sampai bisa
disapih, maka diharapkan induk yang bersangkutan harus mampu mensuplai air susu yang
cukup.
Untuk menentukan bahwa seekor induk memiliki kemampuan memproduksi susu
dengan baik adalah apabila produksi susu itu minimal berlangsung 10-12 minggu (3 bulan).
Begitu pula dengan sifat temperamen, induk yang mempunyai temperamen yang baik
akan merawat anaknya dengan rajin dan selalu siap untuk menyusui anaknya. Dengan
demikian induk yang baik bukan saja induk yang melahirkan dan mampu beranak secara
prolifik dalam satu kelahiran, namun temperamenpun sangat menentukan bagi pertumbuhan
anak domba.
Simpulannya bahwa antara produksi susu, prolifik, pandai mengasuh anaknya dan
mempunyai temperamen yang baik harus seimbang dimiliki oleh induk, sebab bila satu
diantaranya tidak dimiliki oleh induk domba, maka pertumbuhan anak yang dilahirkan akan
terhambat.

Ciri-ciri bibit domba yang baik ;


Ciri-ciri bibit yang baik secara umum ternak harus sehat, usia masih muda dan tidak
pernah terkena penyakit berbahaya/menular. Sedangkan secara khusus bibit yang baik,
mempunyai karakteristik sbb :

1. Calon induk :
tidak memiliki kecacatan fisik
bentuk perut normal
punggung lurus / rata
kaki lurus dan rata
telinga kecil hingga sedang
berbulu halus dan bersih mengkilap
alat kelaminnya berukuran normal
ambing normal dan puting simetris
mempunyai sifat keibuan yang baik
bentuk tubuh simetris
garis perut bagian bawah rata
ekor tumbuh normal
usia tidak lebih dari 1 tahun
keturunan dari induk yang melahirkan anak 2 ekor atau lebih
berat tubuh sekitar 20 – 45 kg

2. Calon pejantan / pemacek :

tidak memiliki kecacatan fisik


bentuk tubuh baik dan normal, penampilan gagah dan lincah
punggung lurus / rata
garis perut bagian bawah rata
memiliki tanduk yang serasi
kaki kokoh dan otot-otot kuat dan lurus
telinga kecil hingga sedang
berbulu halus dan bersih
memiliki scrotum yang besar dan simetris
mempunyai libido sexual yang tinggi
usia tidak lebih dari 1 tahun
keturunan dari induk yang melahirkan anak 2 ekor atau lebih.
berat tubuh sekitar 20 – 25 kg

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 33
Selain ciri dan kriteria tersebut diatas, maka bila memilih ternak pilihlah ternak domba
yang mempunyai sifat-sifat unggul, misalnya ;
1). Tingkat kesuburannya tinggi, yakni dalam 2 tahun mampu melahirkan sampai 3 kali dan
mempunyai kemungkinan untuk beranak kembar atau lebih
2). Kecepatan pertumbuhannya baik, yakni dalam waktu pendek dapat menghasilkan
persentase karkas atau daging yang tinggi baik kualitas maupun kuantitasnya.
3). Memiliki kemapuan beraklimatisasi yang tinggi, sehingga tidak mudah terserang
penyakit.
4). Mempunyai angka mortalitas yang rendah, terutama kematian cempe/lamb dan
kematian pada induk saat melahirkan.

7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K., 1978., Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta.


A A K., 1980., Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Cahyono.B., 1998., Beternak Domba dan Kambing., Kanisius., Yogyakarta
Sosroamidjojo. Samad., 1982., Ternak Potong dan Kerja., CV. Yasaguna., Jakarta
Sosroamidjojo. Samad & Suradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sugeng, B., 1991., beternak Domba., Penebar Swadaya., Jakarta
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.
Sumoprastowo, R.M. 1993. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Bharata – Jakarta

8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

1. Upaya untuk memperoleh bangsa-bangsa ternak domba yang mempunyai sifat-sifat


baik adalah dengan cara melihat eksteriernya, atau disebut :
a. seleksi berdasarkan kontes c. seleksi berdasarkan prestasi
b. seleksi berdasarkan silsilah d. seleksi berdasarkan type
2. Upaya untuk memperoleh bangsa-bangsa ternak yang mempunyai sifat-sifat baik adalah
dengan cara melihat nenek moyangnya atau disebut juga selksi berdasarkan :
a. Silsilah b. prestasi c. type d. rekording
3. Suatu usaha untuk memilih ternak yang baik bisa disebut :
a. Pemuliabiakan b. Seleksi c. Peremajaan d. Perkembangbiakan
4. Salah satu ciri-ciri domba pejantan calon bibit adalah, kecuali :
a. buah zakar normal c. dada lebar dan dalam
b. kaki lurus dan kuat d. ambing normal simetris
5. Salah satu ciri-ciri domba betina calon bibit adalah, kecuali :
b. Tidak terlalu gemuk c. dada dalam dabn lebar
c. Punggung lurus d. ambing normal simetris

Jawablah dengan singkat :


2. Definisi seleksi pada ternak adalah ?
2. Ciri ciri ternak pejantan yang baik, salah satunya adalah :
3. Dalam seleksi ada empat cara yang bisa dilakukan, sebutkan dan jelaskansalah satunya
adalah :
4. bila litter size mencapai 130 % dari jumlah induk 15 ekor, maka jumlah total setiap
kelahirtan adalah :
5. sebutkan ciri-ciri ternak calon induk yang baik !
6. produksi susu yang baik pada ternak domba yang sedang menyusui yaitu dapat menyusui
anaknya minimal ..... minggu.
7. jelaskan bahwa antara produksi susu, prolifik, dan temperamen induk harus seimbang !
8. selain ciri dan kriteria seleksi, carilah ternak domba yang unggul, diantaranya adalah :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 34
Pengamatan dan penugasan ;

a. Pilihlah ternak domba yang ada disekitar kampus SPP-SNAKMA Cikole, minimal 2
ekor untuk jenis kelamin jantan dan 3 ekor untuk betina dengan syarat umur ternak
tidak lebih dari 1,5 tahun. .
b. Catat dalam buku tugas, Bangsa dan Tipe ternak, tanggal lahir, tipe kelahiran, jenis
kelamin, nama induk dan pejantan (bapaknya), beserta ciri-ciri spesifik dari ternak
tersebut.
c. Cermati dan perhatikan kondisi, bentuk tubuh dan tingkah laku ternak.
d. Nilailah oleh saudara, apakah ternak tersebut baik atau jelek untuk dijadikan bibit, baik
untuk calon induk maupun untuk pejantan.
e. Kemukakan alasan-alasan saudara terhadap penilaian tersebut.

9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 35
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 11/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Perkandangan
3. Satuan Pembelajaran : Membuat kandang ternak domba
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan akan :
- Memahami syarat-syarat kandang
- Memahami model/tipe kandang ternak domba
- Terampil membuat kandang ternak domba
5. Bahan dan Alat : Bahan bangunan, peralatan & pertukangan

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :


K

andang adalah tempat tinggal ternak, yang berfungsi untuk melindungi ternak dari matahari,
hujan, angin, dan binatang buas, selain itu kandang berfungsi untuk menghemat tenaga, waktu
dan dapat mengontrol ternaknya dari berbagai penyakit. Kandang harus menarik dan rapi,
sehingga kandang tersebut menyenangkan sebagai tempat tinggal ternak domba. Perlu diingat
bahwa kandang merupakan salah satu sarana utama yang ikut menentukan keberhasilan
beternak domba.
Syarat teknis kandang ternak domba yang harus diperhatikan dalam pembuatan
kandang yaitu Biologi ternak, bangunan kandang harus disesuaikan dengan biologis ternak,
tehnik kontruksi, bangunan kandang harus sehat, mudah dibersihkan, sirkulasi udara baik,
ternak terhindar dari pengaruh cuaca yang buruk dan kuat, ekonomis, biaya pembuatan
kandang semurah mungkin tapi memenuhi persyaratan seperti dimaksud diatas, dan
lingkungan kandang harus jauh dari penduduk, menghindari dari pohon yang besar dan
ketersedian air cukup.
Pada hakikatnya tipe kandang ternak domba umumnya dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu
kandang panggung dan kandang lemprak (lantai tanah yang diberi alas atau beeding dari
jerami atau hijauan). Tipe-tipe kandang dapat diuraikan lagi menjadi beberapa model seperti;
b. Model kandang individual
c. Model kandang koloni
d. Model kandang kawin
e. Model kandang bunting, melahirkan dan menyusui.
f. Model kandang ganda (tail to tail)
g. Model kandang ganda (head to head).

Bagian-bagian kandang disesuaikan dengan tujuan dan fungsi dalam pengelolaan


ternak domba, biasanya terdiri dari bagian kandang induk/utama, ini merupakan kandang
domba kereman atau digemukan, ukuran kandang per ekornya 1 x 1 m. Bagian kandang induk
dan anaknya diperuntukan untuk menyusui dengan ukuran kandang 2 x 1 m, biasanya
digunakan selama 3 bulan sampai anaknya disapih. Bagian kandang pejantan ukuran 2x1,5 m,
meskipun pada kenyataannya peternak menggunakan kandang yang ukurannya lebih sempit
lagi mengingat karakter dari pejantan yang sering merusak kandang. Untuk kandang tipe
panggung jarak dari tanah ke lantai 50 cm, lantai kandang diusahakan berlubang / celah
dengan jarak tiap celah 1,5 – 2 cm, sehingga feces dan urine mudah jatuh ke tempat
penampungan. Ukuran-ukuran kandang lainnya, bisa mengambil patokan sbb ;

- Tempat pakan :
Dasar 25 cm
Tinggi 50 cm
Lebar 50 cm
Tinggi dari lantai 20 cm

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 36
- Peralatan kandang lainnya :
Kemiringan tangga 45 derajat
Tinggi kandang dari lantai 50 cm
Celah lantai 1,5 – 2 cm
Dalam lubang tanah untuk kotoran 50 cm.
Tata letak kandang diusahakan supaya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitar
khususnya kebun rumput. Tanah disekitarnya harus dapat meresap air, mudah dibuat saluran
air sehingga dimusim penghujan tidak menggenang dilingkungan perkandangan. Arah
kandang menghadap ke timur sehingga sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang.

Contoh kandang ternak domba :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 37
psk-utptk/kls.2/snakma/ram 38
7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K., 1978., Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta.


A A K., 1980., Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Sosroamidjojo. Samad., 1982., Ternak Potong dan Kerja., CV. Yasaguna., Jakarta
Sosroamidjojo. Samad & Suradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.
Sumoprastowo, R.M. 1993. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Bharata – Jakarta

8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

Latihan :
1. Yang termasuk dalam teknis kandang, yaitu :
a. kontruksi kandang harus kuat c. menarik dan rapi
b. mampu untuk memenuhi kebutuhan d. tempat makan/palung
2. Pada usaha ternak domba, pembuatan kandang termasuk pada biaya :
a. variable b. lain-lain c. tetap d. tak terduga
3. Syarat-syarat teknis kandang domba harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut, kecuali :
a. biologis ternak c. Ekonomis
b. manajemen kandang d. teknis kontruksi
4. Model kandang domba untuk pejantan dewasa, biasanya menggunakan kandang ;
a. koloni c. lemprak
b. individu d. kawin
5. Untuk kandang domba bunting dan melahirkan, biasanya disatukan dengan istilah kandang :
a. kawin c. karantina
b. panggung d. menyusui
6. Melindungi ternak domba dari matahari, predator, angin dsb adalah sebagian dari :
a. Tehnis kandang c. Bagian-bagian kandang
b. Fungsi kandang d. Perlengkapan kandang

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan jelas !


1. Jelaskan dengan singkat pengertian dari kandang ?
2. Sebutkan fungsi-fungsi dari kandang ternak domba ?
3. Sebutkan syarat-syarat dalam pembuatan kandang Domba ?
4. Sebutkan 3 model dan tipe kandang domba !
5. Tulikan patokan-patokan tentang ukuran-ukuran kandang terna domba, baik untuk kandang
tipe individu maupun untuk kandang tipe lainnya !

Penugasan :

- Buatlah kandang ternak domba dari bahan yang telah disediakan (Perkelompok), untuk
kandang :
1. Kandang Individual panggung
2. kandang koloni panggung
3. kandang lemprak
dengan menggunakan ukuran yang telah dipelajari !

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 39
9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 40
PAKET SATUAN KETERAMPILAN
PSK. 12/PS.03/PD.UTPTK/SM.03/2008

1. Program Diklat : Usaha Teknologi Produksi Ternak Kecil


2. Kegiatan Pembelajaran : Pemuliabiakan
3. Satuan Pembelajaran : Perkawinan dan menentukan umur ternak domba
4. Tujuan Pemb. Khusus : Setelah mengikuti pelajaran, diharapkan siswa SNAKMA
kelas II (dua), semester ganjil dapat dan akan terampil :
- mendefinisikan pemulia-biakan.
- memperbaiki keturunan ternak domba
- mengawinkan ternak dengan tujuan pemulia-biakan.
- menentukan/memperkirakan umur domba
5. Bahan dan Alat : Ternak Domba

6. Uraian Pokok-pokok Materi Pembelajaran :

P emulia-biakan adalah suatu usaha manusia untuk mengusahakan ternaknya agar


memperoleh keturunan yang lebih baik daripada kedua orangtuanya/nenek moyangnya.
Sehingga pengertian antara pemulia-biakan dengan perkembang-biakan dapat
dibedakan mengenai tujuan peternakannya, tetapi maksud pemulia-biakan dengan
perkembang-biakan sama yaitu untuk mempertahankan suatu kelangsungan hidup dari
sekelompok jenis ternak agar tidak punah/musnah.
Ada beberapa sistem beternak/tekhnik menternak yang bisa dilakukan untuk
memperbaiki keturunan. System yang diambil disesuaikan dengan tujuan daripada usaha
peternakan. Tehnik tersebut yang dikenal antaranya adalah :
1). Pure-breeding, peternakan murni, ialah sistem menternak dengan mengawinkan ternak
jantan dan betina yang sama bangsanya.
2). In-breeding, yaitu sistem menternak dengan cara mengawinkan ternak jantan dan betina
yang masih ada hubungan family/keluarga. Perkawinan ini merugikan karena pada
generasi kebawahnya akan terjadi/timbulnya homozigote dari gen-gen yang resesif. Resiko
bila terjadi gen-gen resesif dari perkawinan in-breeding yaitu ; pertumbuhan dan kesehatan
anak kurang baik, anak yang dilahirkan bisa mengalami kecacatan dan terkadang anak
yang dilahirkan sangat lemah atau mati.
3). Out-crossing, adalah sistem menternak yang dilakukan dengan cara mengawinkan seekor
pejantan dari satu kelompok dengan betina yang berasal dari kelompok lainnya. Tetapi
semuanya masih dalam satu bangsa.
4). Cross-breeding, yaitu perkawinan silang dari dua bangsa ternak yang berdarah murni.
Maksud dari perkawinan ini adalah untuk mendapatkan ras/bangsa ternak domba yang
baru.
5). Up-grading, yaitu suatu cara mengawinkan ternak untuk memperbaiki mutu genetik
dengan menggunakan domba pejantan dari bangsa ternak yang dikenal mutunya, dan
umumnya didatangkan dari luar negeri. Selanjutnya ternak tersebut dikawinkan dengan
betina-betina lokal. Keturunan-keturunannya yang betina dikawinkan kembali dengan
pejantan yang sebangsa dengan ayahnya, sedangkan keturunan keturunan yang jantan
dijadikan ternak potong. Setelah mencapai keturunan (Fillial) ke 5-6, generasi bentuk
ternak lokal yang di up-grading tersebut akan menyerupai bangsa ternak yang
dipergunakan sebagai pejantan.

Contoh :
Seorang peternak memperoleh hasil silang antara domba kacang/lokal dengan domba dorset,
perbandingan darah pada hasil silang tersebut adalah 1,562 % darah lokal/kacang dan 98,437 %
darah dorset.
Tentukanlah generasi dari hasil silang kedua jenis domba tersebut !
Jawab ;
Grading-up ;
Betina lokal (BL) X Pejantan Unggul (PU), hasil keturunannya yaitu ;

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 41
F1 = Betina persilangan (BP), dengan prosentase darah : 50 % darah L, 50 % darah U
F2 = BP X PU (sebangsa Bapaknya), menghasilkan darah 25 % L, 75 % U
F3 = BP X PU, menghasilkan darah 12,5 % L, 87,5 % U
F4 = BP X PU, menghasilkan darah 6,25 % L, 93,73 % U
F5 = BP X PU, menghasilkan darah 3,125 % L, 96, 875 % U
F6 = BP X PU, menghasilkan darah 1,562 % L, 98,437 % U

Catatan :
Pada F5 atau F6, hasil anak akan menyerupai bapaknya yaitu bangsa domba yang unggul.
Bila keturunannya jantan, maka pejantan tersebut dijadikan ternak potong / penggemukan.

Memperkirakan umur domba dengan susunan gigi ;

Ada beberapa cara untuk menentukan umur seekor ternak. Yaitu dengan melihat kartu
catatan kelahiran, dengan melihat pertumbuhan tanduk, dan dengan melihat keadaan dan
pertumbuhan gigi-geliginya. Yang paling tepat adalah dengan cara melihat catatan
kelahirannya. Apabila suatu perusahaan peternakan atau peternak tidak mempunyai catatan
kelahiran, yang paling mudah dan mendekati kebenarannya adalah dengan melihat gigi-
geliginya dibandingkan dengan melihat pertumbuhan tanduk yang sulit dan hasilnya kurang
dipercaya. Keadaan dan pertumbuhan gigi-geligi pada domba dapat menaksir umur seekor
ternak domba, karena pergantian dan pergeseran dari gigi ternak domba terjadi pada umur-
umur tertentu.
Gigi dibedakan atas gigi sulung atau gigi susu, yaitu gigi pada anak-anak sejak lahir
sampai gigi itu berganti dengan gigi tetap. Selanjutnya gigi tetap adalah pengganti gigi
sulung. Jumlah gigi pada ternak domba dewasa berjumlah 32 buah, sedangkan jumlah gigi
sulung berjumlah 4, pasang atau 8 buah, yang semuanya berada dirahang bawah, sedangkan
gigi rahang atas kosong.
Seluruh gigi pada ternak domba dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu ;
1). Gigi seri ( dentis incisivi ; kode I ).
2). Gigi taring ( dentis canini ; kode C ).
3). Gigi geraham berganti ( dentis praemolaris ; kode P ).
4). Gigi geraham tetap (dentis molaris ; kode M ).

Susunan dan jumlah gigi domba yaitu

M3P3C0I0 I0C0P3M3 = jumlah gigi rahang atas 12


M3P3C0I4 I4C0P3 M3 = jumlah gigi rahang bawah 20
= jumlah seluruh gigi domba 32 buah

Gigi tetap ini tidak akan mengalami pergantian disepanjang hidupnya, tetapi gigi tetap
ini semakin lama akan aus. Karena pertumbuhan dan pergantian gigi domba ini waktunya
teratur sehingga hal ini dapat digunakan untuk memperkirakan umur yang mendekati suatu
kebenaran. Perlu diperhatikan bahwa untuk menentukan umur ternak berdasarkan gigi-geligi
yang dilihat hanya ke-aus-an dari gigi serinya saja (Dentis canini).
Gigi seri ternak domba berjumlah 4 pasang atau 8 buah, sehingga untuk mempermudah
maka gigi seri ini dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu ;
1. gigi seri dalam ( kode ; I1 ) = jumlah gigi 2 buah
2. gigi seri tengah dalam ( kode ; I2 ) = jumlah gigi 2 buah
3. gigi seri tengah luar ( kode ; I3 ) = jumlah gigi 2 buah
4. gigi seri luar ( kode ; I4 ) = jumlah gigi 2 buah

Sebagai gambaran bila ternak domba berumur kurang lebih dari 1 tahun, maka akan
akan terlihat gigi seri sulungnya (I1) telah berganti dengan gigi tetap, sehingga gigi tersebut
akan lebih besar dibandingkan dengan I2, I3 dan I4. Hal yang sama juga jika melihat gigi seri
sulungnya yang I1 dan I2 telah berganti, maka gigi tersebut akan lebih besar dibandingkan
dengan I3 dan I4. sehingga diperkirakan domba tersebut berumur 2 tahun, bila gigi sulung

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 42
tersebut semuanya telah berganti dengan gigi tetap maka diperkirakan domba tersebut berumur
4 tahun. Selanjutnya bila semua gigi seri tetap sudah tergesek maka diperkirakan umur
ternak tersebut berumur 5 tahun, dan bila tepi dalam semua gigi seri tetap tergesek hampir
dekat dengan gusi bagian dalam, maka diperkirakan domba tersebut berumur 7-8 tahun
(sudah tua).

Gambar Gigi ternak Domba berdasarkan Usia/umur.

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 43
7. Pustaka yang perlu dibaca :

A A K., 1978., Kawan Beternak I, Kanisius, Yogyakarta.


A A K., 1980., Kawan Beternak II, Kanisius, Yogyakarta.
Agus Murtidjo. B, 1993., Memelihara Domba., Kanisius, Yogyakarta.
Cahyono.B., 1998., Beternak Domba dan Kambing., Kanisius., Yogyakarta
Sosroamidjojo. Samad., 1982., Ternak Potong dan Kerja., CV. Yasaguna., Jakarta
Sosroamidjojo. Samad & Suradji, 1984, Peternakan Umum., CV Yasaguna, Jakarta.
Sugeng, B., 1991., beternak Domba., Penebar Swadaya., Jakarta
Sudarmono. A.S & Bambang Sugeng, Y, 2008, Beternak Domba, Seri Agribisnis, Edisi
Revisi, Penebar Swadaya, Bogor.
Sumoprastowo, R.M. 1993. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Bharata – Jakarta

8. Langkah Kerja / Penugasan / Latihan / Pengamatan :

1. Sistem beternak dengan cara mengawinkan ternak antara dua bangsa yang berbeda
a. pure bredding b. cross bredding c. close bredding d. rekording
2. Sistem beternak dengan cara mengawinkan antara ternak yang satu family disebut :
a. pure breeding b. close breeding c. up-grading d. cross breeding
3. Untuk mengetahui umur ternak domba bila tidak ada catatan recording, yaitu dengan ;
a. melihat gigi serinya c. melihat tinggi dan berat badannya.
b. melihat tanggal lahir d. menanyakan langsung ke pemiliknya.
4. Sistem perkawinan domba yang masih dalam satu keluarga disebut ;
a. in breeding b. up-grading c. pure breeding d. cross breeding
5. Definisi Pemuliabiakan adalah .....
6. Pengertian antara pemulia-biakan dengan perkembang-biakan dapat dibedakan mengenai
tujuan peternakannya, tetapi maksud pemulia-biakan dengan perkembang-biakan sama
yaitu untuk .....
7. Pure-breeding adalah .....
8. In-breeding adalah .....
9. Out-crossing, adalah .....
10. Cross-breeding, yaitu .....
11. Up-grading, yaitu ....., contohnya sbb .....
12. untuk menentukan umur ternak dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu .....
13. Memperkirakan umur domba dengan melihat susunan gigi yaitu dengan cara melihat .....
14. Gigi dibedakan atas gigi ..... atau gigi ....., yaitu gigi pada anak-anak sejak lahir sampai
gigi itu berganti dengan gigi tetap.
15. Selanjutnya gigi tetap adalah .....
16. Jumlah gigi pada ternak domba dewasa berjumlah ..... buah, sedangkan jumlah gigi
sulung berjumlah ..... pasang atau ..... buah, yang semuanya berada dirahang .....,
sedangkan gigi rahang atas .....
17. Jumlah gigi ternak domba yang berada dirahang atas adalah ..... buah
18. Jumlah gigi ternak domba yang berada dirahang bawah adalah .... buah.

9. Hasil Kerja / Hasil Penugasan / Hasil Latihan / Hasil Pengamatan :

psk-utptk/kls.2/snakma/ram 44
psk-utptk/kls.2/snakma/ram 45
psk-utptk/kls.2/snakma/ram 46