You are on page 1of 22

MAKALAH

KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL
Diajukan sebagai pemenuhan tugas matakuliah Kepemimpinan Islam
Dosen Pengampu:
Dr. Ririn Tri Ratnasari, SE., M.Si.
Dr. Ari Prasetyo, SE., M.Si.
Prof. Dr. H. Muslich Anshori, SE., M.Si.
Dr. Gancar, CP

Oleh:
Laila Masruro Pimada
Irfan Jauhari
Rani Puspitaningrum

091514553007
091514553008
091514553016

MAGISTER SAINS EKONOMI ISLAM

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS AIRLANGGGA
SURABAYA
2015

KATA PENGANTAR
Segala puji hanya untuk Allah Azza Wa Jalla, yang telah memberikan
segala karunia, limpahan rahmat dan hidayah-Nya, serta kepada junjungan kita
Nabi Besar Muhammad saw. beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya,
yang akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas matakuliah kepemimpinan
Islam ini.
Dalam penyelesaian tugas pembuatan makalah mengenai kepemimpinan
transaksional ini tentunya penulis memerlukan bimbingan dan arahan dari dosendosen pengampu, sehingga penulis ingin mengucapkan rasa terimakasih kepada
Dr. Ririn Tri Ratnasari, SE., M.Si., Dr. Ari Prasetyo, SE., M.Si., Prof. Dr. H.
Muslich Anshori, SE., M.Si., Dr. Gancar, CP. selaku dosen pengampu matakuliah
kepemimpinan Islam ini. Tak lupa kepada teman-teman magister sains ekonomi
Islam Unair angkatan 2015 yang senantiasa mendukung satu sama lain.
Selanjutnya, tentu saja makalah ini masih memiliki beberapa kekurangan
sehingga penulis mengharapkan kritikan dan saran demi mendapatkan hasil
makalah yang lebih baik dan maksimal yang bisa bermanfaat bagi para
pembacanya.

Surabaya, 25 September 2015

Penulis

i

..................................2 C................Daftar Isi Kata Pengantar . Tujuan Pembahasan ............................ Ayat-ayat Al-Qur'an & Hadist Mengenai Kepemimpinan Transaksional .................................................................................................2 BAB II: PEMBAHASAN A.................................. Kelebihan dan Kekurangan Kepemimpinan Transaksional ......13 BAB III: PENUTUP Kesimpulan ....................................................... Karakteristik Kepemimpinan Transaksional .................................................................................................8 E..............................................................................6 D.................16 ii ...........................................1 B...... Mind Mapping Makalah Kepemimpinan Transaksional ........ Definisi Kepemimpinan Transaksional ............................... 8 F..................14 Daftar Pustaka ......................................................................15 Lampiran Pertanyaan .5 C.................................................................................... Latar Belakang .................................... ii BAB I: PENDAHULUAN A............................................. Karakteristik Pemimpin Transaksional .................................................. Rumusan Masalah ........................3 B......................... i Daftar Isi ..............................................................................................

Tata cara pengabdian manusia kepada Tuhannya (hablum minallah) melalui manusia yang lain (hablum minannas) tentunya melalui banyak hal termasuk proses kepemimpinan. Namun pada dasarnya setiap pemimpin yang baik memiliki tujuan dasar yang sama yakni mencapai maslahah bagi dirinya dan bagi apa-apa yang dipimpinnya. Sehingga baik secara individual maupun komunal manusia mempunyai potensi ganda yaitu menjadi pemimpin sekaligus rakyat. manejer-karyawan. khalifah-abdun/ hamba. 1 . kepemimpinan yang dipimpin oleh seorang manusia yang memiliki perbedaan antara satu sama lain tentulah menimbulkan perbedaan gaya kepemimpinan dan hal ini merupakan hal yang wajar. bukanlah hal yang aneh ketika muncul berbagai macam jenis dan tipe kepemimpinan yang selanjutnya dilakukan pengelompokan oleh para ahli terkait keanekaragaman cara memimpin seseorang agar lebih mudah dipelajari. Latar Belakang Manusia secara individual maupun komunal merupakan sosok yang diciptakan (makhluk) untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai hamba/ karyawan/ anggota bersama makhluk-makhluk Tuhan yang lainnya. Kepemimpinan yang merupakan salah satu elemen penting dalam suatu kehidupan sosial muncul karena adanya berbagai perbedaan dalam kehidupan manusia yang heterogen yang selanjutnya butuh untuk diselaraskan dan diarahkan agar perbedaan yang ada tidak menimbulkan konflik.BAB I PENDAHULUAN A. ketua-anggota. Selanjutnya. jenis kepemimpinan transaksional merupakan kepemimpinan yang pertama kali diungkapkan oleh Burn di tahun 1978 dalam konteks politik yang selanjutnya dikembangkan oleh Bass (1985) dan membawanya dalam konteks organisasional yang akan di bahas oleh penulis pada bab selanjutnya. Namun diantara seluruh makhluk yang ada di bumi ini manusia telah mendapatkan perintah untuk menjadi khalifah/pengelola/pemimpin. Oleh karena itu. Di antara jenis kepemimpinan yang ada.

Untuk mengetahui karakteristik kepemimpinan transaksional 3. Apa kelebihan dan kekurangan dari gaya kepemimpinan transaksional? C. Untuk mengetahui karakter pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan transaksional 4. Apa definisi kepemimpinan transaksional? 2. Untuk mengetahui definisi kepemimpinan transaksional 2. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari gaya kepemimpinan transaksional. maka tujuan dari pembahasan dalam makalah ini ialah: 1.B. Tujuan Pembahasan Berdasarkan rumusan masalah di atas. Apa saja karakteristik dari kepemimpinan transaksional? 3. 2 . Rumusan Masalah Melalui latar belakang yang telah dibahas di atas maka berikut ini rumusan masalah yang perlu dijawab pada bab selanjutnya: 1. Apa saja karakter dari pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan transaksional? 4.

Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepakatan mengenai klasifikasi sasaran. dkk. Gagasan ini selanjutnya disempurnakan serta diperkenalkan ke dalam kontes organisasional oleh Bernard Bass. serta mengurangi biaya produksi. Bycio. Definisi Kepemimpinan Transaksional Gagasan awal mengenai gaya kepemimpinan transaksional ini dikembangkan oleh James Mac Gregor Burns yang menerapkannya dalam konteks politik. standar kerja. Jadi. sehingga Bass (1985) mendefinisikan kepemimpinan transaksional sebagai kepemimpinan yang melibatkan suatu proses pertukaran yang menyebabkan bawahan mendapat imbalan serta membantu bawahannya mengidentifikasikan apa yang harus dilakukan untuk memenuhi hasil yang diharapkan seperti kualitas pengeluaran yang lebih baik.BAB II PEMBAHASAN A. (1995) mengartikan kepemimpinan transaksional sebagai gaya kepemimpinan yang memfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antara pemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan pertukaran. penjualan atau pelayanan yang lebih dari karyawan. kepemimpinan transaksional menekankan proses hubungan pertukaran yang bernilai ekonomis untuk memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis sesuai dengan kontrak yang telah mereka setujui bersama. penugasan kerja. Bernard Bass berpendapat bahwa teori kepemimpinan transaksional berdiri berdasarkan pada gagasan bahwa hubungan pemimpin-pengikut didasarkan pada serangkaian pertukaran atau tawar-menawar implisit antara pemimpin dan pengikut. Burns (1978) mendefinisikan kepemimpinan transaksional sebagai bentuk hubungan yang mempertukarkan jabatan atau tugas tersebut. 3 . Ketiga definisi tersebut juga disetujui oleh Robbins (2007) dengan mendefinisikan gaya kepemimpinan traksaksional sebagai gaya kepemimpinan dimana pemimpin yang memimpin menggunakan pertukaran sosial sebagai transaksi. Sejalan dengan Burn dan Bass. dan penghargaan.

2006: 213). dalam identifikasi tersebut pemimpin harus mempertimbangkan kosep diri dan self esteem dari bawahan (Ivancevich.Adapun Yukl (2010: 291) menjelaskan bahwa kepemimpinan transaksional dapat melibatkan nilai-nilai. Kepemimpinan Transaksional Menurut Bass (1985) 4 . dan Matteson. Pemimpin transaksional membantu para pengikut mengidentifikasi apa yang harus dilakukan. Konopaske. dan timbal balik. tanggung jawab. Berikut ini peraga yang menggambarkan kepemimpinan transaksional yang dikutip melalui Bass (1985): L : Mengetahui apa yang harus dilakukan F untuk mencapai hasil yang diinginkan L : Mengetahui apa yang dibutuhkan F L : Mengklarifikasi peran F L : Mengklarifikasi bagaimana kebutuhan F akan dipenuhi sebagai ganti dari keterlibatan dlm peran yg dibutuhkan untuk mencapai hasil yang diinginkan F : Merasa yakin dalam memenuhi kebutuhan dari peran tersebut (kemungkinan kesuksesan subjektif) F : menyadari nilai dari hasil yang diinginkan (nilai pemenuhan kebutuhan bagi dirinya/F) F : mengembangkan motivasi untuk mencapai hasil yang diinginkan (usaha yang diharapkan) Keterangan: L = Leader F = Follower Gambar 1. tetapi nilai tersebut relevan dengan proses pertukaran seperti kejujuran.

B. 6. Kejelasan aturan: pedoman dan aturan pelaksanaan tugas dan pekerjaan disusun jelas dan ditetapkan untuk ditaati oleh setiap pegawai. 5. kerja keras dan bonus. 2. artinya gaya kepemimpinan transaksional ini memiliki karakteristik perilaku memotivasi bawahan dengan cara memberi penghargaan yang sesuai (contingent reward) dan manajemen dengan pengecualian (management by exception). Weber dalam Pasolong (2008: 127-128) menerangkan beberapa karakteristik terkait kepemimpinan yang bersifat transaksional yaitu: 1. Orientasi pada jabatan dan kekuasaan: mengembangkan budaya kekuasaan. Anti perubahan: menolak setiap perubahan yang berasal dari luar sistem organisasi karena khawatir akan merusak tatanan kelembagaan yang telah ditetapkan. Karakteristik Kepemimpinan Transaksional Terdapat beberapa karakteristik yang dapat mengakibatkan suatu kepemimpinan dikatakan bersifat transaksional. 7. 3. loyalitas pada atasan. dll. Berdasarkan transaksi: kepemimpinan birokrasi transaksional bertindak atas dasar transaksi atau pertukaran antara jabatan dan kinerja. Fokus pada pekerjaan: mengarahkan pegawai untuk fokus pada penyelesaian tugas dan pekerjaan sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri. Orientasi pada pengawasan yang ketat: mengawasi dan memantau tugas dan pekerjaan secara ketat dalam rangka mencapai tujuan jangka pendek. gaji dan pekerjaan. hierarki hubungan antara atasan bawahan dan komunikasi bottom-up.Melalui berbagai macam penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan transaksional merupakan kepemimpinan yang melibatkan atau menekankan pada imbalan untuk memotivasi bawahan. 4. Kewenangan atasan mutlak: tidak ada pemberdayaan pegawai karena kewenangannya untuk mengambil keputusan mutlak pada pimpinan 5 .

Karakteristik Pemimpin Transaksional Adapun karakteristik seorang pemimpin dalam kepemimpinan transaksional di terangkan oleh Bass (1990) melalui empat hal yaitu: 1) contingent reward. Adapun penjelasan mengenai empat hal tersebut adalah sebagai berikut: 1. dan 4) Laissez-Faire. Bawahan akan menerima imbalan dari pemimpin sesuai dengan kemampuannya dalam mematuhi prosedur tugas dan keberhasilannya mencapai target-target yang telah ditentukan. 3) management by exception (passive). C. 9.8. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi dan meminimalkan tingkat kesalahan yang timbul selama proses kerja berlangsung. sehingga mereka tidak dapat mengembangkan kreativitas dan inovasi. Seorang pemimpin transaksional 6 . 2. Active management by exception (manajemen eksepsi aktif) Maksudnya dari manajemen eksepsi aktif ialah pemimpin selalu melakukan pengawasan secara langsung terhadap bawahannya. Diharmonisasi organisasi: hierarki kekuasaan. Dengan metode ini. Pemasungan kreativitas pegawai: pegawai diatur dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan. 10. komunikasi bottom-up dan tidak adanya kerjasama antara pegawai mengakibatkan tidak kondusifnya organisasi. Bass (1998) menjelaskan bahwa contingent reward cukup efektif untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dari pembangunan kinerja. Individualitas kerja: kerjasama antar pegawai tidak dianjurkan sehingga muncul persaingan tidak sehat dan saling mencurigai di antara mereka. pemimpin menugaskan atau mendapatkan kesepakatan tentang apa yang perlu dilakukan dan menjanjikan imbalan yang memuaskan dalam penyertaan pelaksanaan tugas. 2) management by exception (active). Contingent reward (Imbalan kontingen) Contingent reward dimaksudkan bahwa bawahan memperoleh pengarahan dari pemimpin mengenai prosedur pelaksanaan tugas dan target-target yang harus dicapai. formalitas hubungan.

Ini bukan gaya kepemimpinan yang sebenarnya. b. 4. Pemimpin mengetahui apa yang diinginkan karyawan dan menjelaskan apa yang akan mereka dapatkan apabila kerjanya sesuai dengan harapan. 7 . Selanjutnya. c. Laissez Faire Merupakan bentuk kepemimpinan yang memungkinan kebebasan dalam memilih tujuan dan perilaku peserta organisasi. Bass (1990) juga mengemukakan bahwa hubungan pemimpin transaksional dengan karyawan dapat tercermin dari tiga hal berikut ini: a. Namun apabila proses kerja yang dilaksanakan masih berjalan sesuai standar dan prosedur serta belum mendapatkan laporan adanya kesalahan maka pemimpin transaksional tidak memberikan evaluasi apapun kepada bawahan. Pemimpin responsif terhadap kepentingan pribadi karyawan selama kepentingan tersebut sebanding dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan karyawan. Tindakan tersebut dimaksud agar bawahan mampu bekeja sesuai dengan standar dan prosedur kerja yang telah ditetapkan. 3.tidak segan mengoreksi dan mengevaluasi langsung kinerja bawahan meskipun proses kerja belum selesai. Pemimpin menukar usaha-usaha yang dilakukan oleh karyawan dengan imbalan. Passive management by exception (manajemen eksepsi pasif) Adapun manajemen eksepsi pasif ialah pemimpin hanya turun tangan ketika terdapat standar yang tidak terpenuhi atau pemimpin akan memberikan peringatan dan sanksi kepada bawahannya apabila terjadi kesalahan dalam proses yang dilakukan oleh bawahan yang bersangkutan. karena pemimpin cendrung menghindari tanggung jawab atas pengambilan keputusan dan karena itu dia sering menciptakan hubungan organisasi yang tidak efisien dan tidak menguntungkan.

Sedangkan kelemahan atau kekurangan dari tipe kepemimpinan transaksional ini adalah: 1. Pegawai bekerja tanpa kepercayaan secara emosional dan hanya berdasarkan kontrak saja.D. pembagian kerja dan tugas yang telah diarahkan. Tidak bisa digunakan sebagai landasan kepemimpinan yang bersifat long-term. 5. juga tidak tunduk pada keinginan kelompok manapun. 2. 3. Oleh karena itu. dia hanya harus bertindak untuk menerapkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Adanya individualitas yang tinggi sehingga dapat menyebabkan ketidak harmonisan dalam sebuah organisasi dengan tipe kepemimpinan ini. Selanjutnya. Lebih jauh lagi. seorang pemimpin Islam tidak bebas untuk bertindak sebagaimana yang ia inginkan. 4. 2002). Kelebihan dan Kekurangan Kepemimpinan Transaksional Dari pembahasan pada poin-poin di atas dapat disimpulkan bahwa tipe kepemimpinan transaksional memiliki kelebihan sekaligus kekurangan yang ada di dalamnya. manusia sebagai makhluk yang diciptakan sempurna karena akalnya telah memiliki tanggung jawab yang besar untuk 8 . Kedua pihak baik atasan maupun bawahan sama-sama mendapatkan apa yang dibutuhkan melalui kontrak perjanjian. Cocok untuk kepemimpinan yang bersifat short-term. adapun kelebihan tersebut ialah: 1. Kreativitas pegawai terbatasi. Chowdhury. Kepemimpinan bersifat tetap dan tidak menerima perubahan terlebih lagi yang berasal dari luar organisasi. E. Terdapat kejelasan mengenai standar kerja. Ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadist Mengenai Kepemimpinan Transaksional Dalam Islam kepemimpinan merupakan sunnatullah atau tradisi Allah dalam menjalankan ketetapan-Nya. kepemimpinan dalam Islam melibatkan proses penginspirasian dan pendekatan kepada para pengikut secara sukarela dalam upaya untuk memenuhi visi bersama yang jelas (Altalib 1993. 3. 2.

untuk menyampaikan dan mengingatkan kembali umatnya tentang tugas yang pernah dibebankan kepada manusia pada awal penciptaannya. dalam rencana Allah SWT. Nabi Muhammad saw. Sehingga menjadi wajar ketika Rasulullah saw bersabda sebagai berikut: ِ‫اّلل‬ َّ ‫اّللِ نْ ِ ِيَنَا ع َع ْ َعْب ِد‬ َّ ‫اّللِ نْ ُ َس ْلمَ َة َ َع ْ َساكِ ع َع ْ َعْب ِد‬ َّ ‫َحدَّثَنَا َعْب ُد‬ َِّ ‫ول‬ َّ ‫نْ ِ عُ َةَر أ‬ ‫اّللُ َعمَْي ِو َو َسمَّ َم قَ َال أَََل ُكمُّ ُك ْم َ عاع َوُكمُّ ُك ْم‬ َّ ‫صمَّى‬ َ ‫َن َ ُس‬ َ ‫اّلل‬ ِ ‫ول َع ْ َ ِعيَّتِ ِو فَ ْاْل َِسريُ اكَّ ِذي َعمَى اكن‬ ‫ول َعْن ُه ْم‬ ٌ ُ‫َّاس َ عاع َعمَْي ِه ْم َوُى َو َس ْلئ‬ ٌ ُ‫َس ْلئ‬ ِ ِ ‫اعي ٌ عمَى ن ي‬ ‫ت‬ ٌ ُ‫اكر ُج ُل َ عاع َعمَى أ َْى ِل نَْيتِ ِو َوُى َو َس ْلئ‬ َّ ‫َو‬ َْ َ َ َ ُ‫ول َعْن ُه ْم َواكْ َة ْرأَة‬ 9 . dan juga kaum-kaum sesudahnya yang sebagian menggantikan sebagian lainnya di kurun waktu dan generasi yang berbeda." Al Shabuni (1999: 48) menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah Allah kepada Nabi Muhammad saw.menjadi seorang khalifah di bumi Allah ini yang mana sejalan hal ini dengan firman Allah dalam Q. Khalifah itu adalah Nabi Adam as. Al Baqarah ayat 30 berikut ini:                                Terjemahan: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.S." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Khalifah itu. Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. dan umatnya disuruh untuk mengingat suatu peristiwa ketika Allah SWT berfirman kepada para Malaikat terkait rencananya menciptakan dan mengangkat seorang khalifah di muka bumi. dimaksudkan untuk menggantikan peran Allah SWT dalam melaksanakan hukum-hukum-Nya.

a berkata: saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda: “ketahuilah setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. yang dimaksud tanggung jawab di sini adalah lebih berarti upaya seorang pemimpin untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pihak yang dipimpinnya. Mengembangkan kebiasaan bekerjasama. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Melainkan lebih dari itu. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) dari hal-hal yang dipimpinnya. telah menjelaskan etika kepemimpinan dalam Islam yakni harus bertanggung jawab karenanya seorang pemimpin sudah seharusnya dapat bertangguung jawab sekurang-kurangnya terhadap dirinya sendiri. Selanjutnya. Menghargai orang lain 3. Mempelajari bentuk kepribadian yang lain untuk mendapatkan pengetahuan dalam sifat dan kebiasaan manusia 5. Mempelajari tindakan perwira yang suses dan menjadi ahli dalam hubungan antar manusia 4. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Selalu ramah dan gembira 2. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Namun. Bukhari Muslim) Melalui ayat dan hadis di atas jelaslah bahwa kepemimpinan dalam Islam telah dikehendaki oleh Allah dan Nabi Muhammad saw. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Memelihara sikap toleransi (tenggang rasa) 10 . tanggung jawab di sini bukan semata-mata bermakna melaksanakan tugas lalu setelah itu selesai dan tidak menyisakan dampak bagi yang dipimpin.‫ول‬ ٌ ُ‫نَ ْعمِ َها َوَوكَ ِدهِ َوِى َي َس ْلئُوكَ ٌ َعْن ُه ْم َواكْ َعْب ُد َ عاع َعمَى َس ِال َسيِّ ِدهِ َوُى َو َس ْلئ‬ )‫ول َع ْ َ ِعيَّتِ ِو( واه اكبخا ي و سلمم‬ ٌ ُ‫َعْنوُ فَ ُكمُّ ُك ْم َ عاع َوُكمُّ ُك ْم َس ْلئ‬ Terjemahan: Ibn umar r.” (HR. kayo (2006) menerangkan gaya yang harus dimilki seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya: 1. baik moral maupun spiritual 6.

Menunda penurunan gaji pada pegawai padahal mampu termasuk kezholiman. “Diharamkan menunda pemberian gaji padahal mampu menunaikannya tepat waktu. begitu juga bisa dimaksud jika telah ada kesepakatan pemberian gaji setiap bulan. Yang dimaksud memberikan gaji sebelum keringat si pekerja kering adalah ungkapan untuk menunjukkan diperintahkannya memberikan gaji setelah pekerjaan itu selesai ketika si pekerja meminta walau keringatnya tidak kering atau keringatnya telah kering.7.Dari „Abdullah bin „Umar. memberikan imbalan atas pekerjaan seseorang merupakan kewajiban yang haris disegerakan. Memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan 8. Bukhari no. ‫َجَرهُ اْلَ ِج َري أ َْعطُوا‬ َّ ‫َعَرقُوُ ََِي‬ ْ ‫ف أَ ْن قَ ْب َل أ‬ “Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering. Al Munawi berkata. shahih).” (HR. sebagaimana sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam: 11 . Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. 2400 dan Muslim no. Ibnu Majah. 1564) Bahkan orang seperti ini halal kehormatannya dan layak mendapatkan hukuman. agar kehadirannya tidak mengganggu orang lain dan dirinya sendiri Dalam Islam. Maksud hadits ini adalah bersegera menunaikan hak si pekerja setelah selesainya pekerjaan. Mengetahui bilamana harus terlihat secara resmi sebagai pemimpin dan bilaman sebagai masyarakat. Sebagaimana Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: ِ ‫ن َسطْ ُل‬ ِّ َ‫ظُْم ٌم اكْغ‬ “Menunda penunaian kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezholiman” (HR.

Karena Sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya (5). pada tiap-tiap tangkai:tumbuh seratus biji. Abu Daud no. Ibnu Majah no. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam Keadaan bermacam-macam. 2427.ِ ‫ل‬ َُّ ‫ضوُ ُُِي ُّل اكْ َو ِاج ِد‬ َ ‫َوعُ ُقونَتَوُ ع ْر‬ “Orang yang menunda kewajiban. supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka (6).                                             Terjemahan: “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat) (1). 4689. halal kehormatan dan pantas mendapatkan hukuman” (HR. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya (2). Pada hari itu bumi menceritakan beritanya (4). Dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?" (3). Allah Ta‟ala berfirman.S. An Nasa-i no. Maksud halal kehormatannya. Al Zalzalah: 1-8]                            Terjemahan:”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang 12 . Pantas mendapatkan hukuman adalah ia bisa saja ditahan karena kejahatannya tersebut. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun. 3628. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun. boleh saja kita katakan pada orang lain bahwa majikan ini biasa menunda kewajiban menunaikan gaji dan zholim. [Q. niscaya Dia akan melihat (balasan)nya (7). hasan). niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula (8).

Berikut ini mind mapping terkait pembahasan yang telah dilakukan: 13 . Mind Mapping Makalah Kepemimpinan Transaksional Dalam poin ini akan digambarkan alur pembahasan mengenai kepemimpinan transaksional. F.Dia kehendaki.” (QS. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Al Baqarah 261) Berdasarkan ayat-ayat dan hadist-hadist di atas dijelaskan bahwa seorang pemimpin yang mempekerjakan orang lain haruslah orang yang bertanggung jawab dan segera memberikan hak-hak bawahannya ketika kewajiban telah di tunaikan.

2) terpenuhinya kebutuhan sesuai kontrak. Adapun kekurangannya ialah: 1) kurangnya kepercayaan antara atasan dan bawahan. d) anti perubahan. c) orientasi pada pengawasan yang ketat. Kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan yang melibatkan atau menekankan pada imbalan untuk memotivasi bawahan. 4) tidak cocok digunakan dalam kepemimpinan long-term. 3. 14 . artinya gaya kepemimpinan transaksional ini memiliki karakteristik perilaku memotivasi bawahan dengan cara memberi penghargaan yang sesuai (contingent reward) dan manajemen dengan pengecualian (management by exception). g) kewenangan atasan mutlak. 3) cocok untuk kepemimpinan short term. 4. dan 4) Laissez-Faire. 5) dapat menyebabkan disharmonisasi organisasi. 3) management by exception (passive). 2) kreativitas pegawai terbatas.BAB III PENUTUP Kesimpulan Berikut ini kesimpulan yang dapat diambil melalui pembahasan yang telah dibahas pada bab sebelumnya: 1. 2. h) pemasungan kreativitas pegawai. i) individualitas kerja. Terdapat 10 karakteristik kepemimpinan transaksional yakni: a) berdasarkan transaksi. b) kejelasan aturan. Kelebihan kepemimpinan transaksional: 1) pembagian tugas dan kerja diatur dengan jelas. Adapun karakteritis pemimpin transaksional ialah 1) contingent reward. e) orientasi pada jabatan dan kekuasaan. 2) management by exception (active). f) fokus pada pekerjaan. 3) kepemimpinan monoton (tetap). dan j) diharmonisasi organisasi.

Leadership. 80 (4). Perilaku Dan Manajemen Organisasi. L. Terjemahan. 1999... Jilid 1. P. &Sanghi. Judge. Indeks 15 .Z.S. 2006. Leadership strategies and global unity for the 21st century: An Islamic perspective. 1990. Altalib. Kepemimpinan Islam & Dakwah. Leadership and Performance Beyond Expectations. R. Jakarta: CV. 1995. Mohamed Z. S. Jakarta: Dar Al Kutub Al Islamiyyah. 2014. 2010. Kepemimpinan Birokrasi.: Pearson: Prentice Hall. M. Jakarta: PT. Edisi 7 Jilid 2. Organizational Behavior. 1993. N. 2002. Alih bahasa: Dharma Yuwono.B. Further Assessment of Bass‟s (1985) Conceptualization of Transactional and Transformational Leadership. Gary. January: 19-33. Harbani.A. Shafwa al Tafasir: Tafsir lil Qur'an al Karim. New York: Free Pass. Burns. 1985. Ivancevich. 2008. Jakarta: Erlangga. & Amini. A.A. Bycio.D. 468-478 Chowdhury. Bass. T. Pasolong.). S. M. Kayo. New York: Harper & Row. Hackett. 18.J. N. 1978.. Kepemimpinan dalam Organisasi. Amzah. Journal of Applied Psychology. The West and Islam Perspective of Leadership. J. 18. B. Salleh. 2007.. M. 2006. Edisi Lima. 42-56. J. Al-Shabuni. P.Daftar Pustaka Al-Sarhi. Bandung: Alfabeta. Konopaske. Matteson. (12th ed. Leadership & Unity in Islam . 23. R.K.M.A. Training guide for Islamic workers : International Islamic Federation of Student Organizations. Robbins. & Allen. From Transactional to Transformational Leadership: Learning to Share the Vision.. International Affrais dan Global Strategy. H. A. Organizational Dynamics. N.P. Yukl.

(owner: Bill Gates) dan Starbucks Cofee Tea and Spice Company (owner: Howard Schultz). perusahaan berskala multinasional dimana tidak semua pegawai berbicara dengan bahasa yang sama. dimana setiap orang dalam suatu organisasi harus tahu dengan pasti apa yang dibutuhkan dan bagaimana tugas dapat terselesaikan dalam kondisi yang menekan. Tanggapan: (Riana) Dalam makalah disebutkan bahwa model kepemimpinan transaksional berlaku untuk jangka pendek (short-term). yang menjadi permasalahan bukanlah pada rentang waktu kepemimpinan transaksional tersebut mampu bertahan. maka akan sangat mudah bagi para pegawai untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. sementara kita tahu dari contoh institusi maupun perusahaan yang disebutkan diatas merupakan institusi atau perusahaan yang bertahan dalam jangka waktu yang lama Jawaban: Mengacu pada penyebutan jangka pendek (short-term).LAMPIRAN PERTANYAAN DAN JAWABAN 1. Contoh pengimplementasian kepemimpinan transaksional! (Riana Afliha091514553002) Jawaban: Kepemimpinan transaksional baik digunakan pada perusahaanperusahaan besar. yang keduanya memiliki latar belakang dibidang kemiliteran. Model kepemimpinan ini juga banyak digunakan pada institusi-institusi kemiliteran dan kepolisian dan juga sangat mudah digunakan pada saat situasi krisis. Contoh perusahaan yang mengadopsi model kepemimpinan ini antara lain: Microsoft Corp. Sedangkan contoh pemimin dengan model kepemimpinan transaksional antara lain Eugene McCarthy (mantan senator Amerika Serikat) dan Politisi Perancis Charles deGaulle. melainkan lebih menitikberatkan bahwa model kepemimpinan transaksional ini lebih sesuai diimplementasikan pada pencapaian tujuan jangka pendek dalam suatu organisasi (short-term goals) 16 . Ketiak struktur dan syaratsyarat kerja telah dipelajari.

Apakah disharmonisasi ini terjadi antara atasan-bawahan atau antar sesama bawahan? (Reza Fetrian091514553006) 17 . komunikasi bottom-up dan tidak adanya kerjasama antara pegawai mengakibatkan tidak kondusifnya organisasi. Sementara itu. seorang pemimpin harus tahu secara menyeluruh karakteristik maupun permasalahan daerah yang dipimpinnya. 3. Sebagaimana suatu pemimpin dipilih untuk memimpin suatu wilayah karena kapabilitas atau kemampuannya maka kelompok kami pun berpendapat bahwa beliau pun memahami dengan pasti seperti apa wilayah yang dipimpinnya. mengklarifikasi peran dan bagaimana kebutuhan pengikut akan dipenuhi sebagai ganti dari keterlibatan dalam perannya. Penjelasan mengenai skema kepemimpinan transaksional menurut Bass. formalitas hubungan. akan tetapi hal ini tidak menjadikan beliau tidak tahu menahu mengenai karakteristik maupun permasalahan kota tersebut.2. 4. Sementara kita dapat meliha contoh dari gubernur DKI Jakarta Ahok. Kemudian langkah selanjutnya sebagai pemimpin. Pada poin B karakteristik kepemimpinan transaksional disebutkan adanya disharmonisasi organisasi: hierarki kekuasaan. 1985 (M Ivansyah-091514553001) Jawaban: Dalam diagram peraga yang digambarkan Bass mengenai kepemimpinan transaksional dapat dilihat dengan jelas pemimpin atau atasan mengetahui apa yang harus dilakukan pengikut atau bawahan untuk mencapai suatu tujuan organisasi dengan melakukan analisa kebutuhan pengikut. bagaimana menurut tanggapan kelompok anda! (Ahmad Munir-091514553014) Jawaban: Kelompok kami setuju dengan pernyataan anda bahwa beliau memang bukanlah berasal dari wilayah DKI Jakarta. Disebutkan dalam sebuah konsep kepemimpinan. beliau bukanlah berasal dari wilayah DKI Jakarta. pengikut atau bawahan haruslah merasa yakin akan memenuhi harapan dari pemimpin akan perannya dan mengembangkan motivasi dalam pencapaian suatu tujuan organisasi.

reward dan punishmentnya. Disharmonisasi antara pimpinan dan bawahan dikarenakan kurangnya kedekatan emosional sebagai implikasi dari bentuk kepemimpinan yang mengedepankan transaksi sebagai pertukaan (reward and punishment) sebgai ganti dari sebuah kerja keras atau kesalahan. waktu penyelesaikan tugas.Jawaban: Disharmonisasi dimungkinkan terjadi antara pimpinan dan bawahan maupun antar bawahan. Dikarenakan hal ini hanya berlaku secara jangka pendek saja maka kedekatan hubungan manajer dan pekerja borongan tidak tercapai dengan baik. Sebagai contoh kasusnya: Perusahaan yang merekrut pekerja borongan (musiman) pada suatu kesempatan ketika memenangkan sebuah tender. Terlebih jika masing-masing individu pegawai mempunyai motivasi dan kebutuhan yang berbeda-beda. Mengenai tidak adanya kerjasama bukanlah dalam arti keseluruhan struktural dalam suatu 18 . maka perusahaan tersebut membuthkan banyak pegawai dengan cepat dan manajer selaku pimpinan memberi tahu kesepakatan kerja yang meliputi deskripsi kerja. misi dan tujuan tidak mungkin bisa tercapai (kaitannya dengan poin-komunikasi bottom up halaman 6 poin 10) Jawaban: Yang dimaksud dengan disharmonisasi dikarenakan komunikasi bottom up (bawahan kepada atasa) adalah dalam karakteristik kepemimpinan transaksional cenderung kurang adanya bahkan meniadakan komunikasi karena sudah terklasifikasinya tugas dan tanggung jawab masing-masing pegawai sementara atasan hanya melakukan monitoring maupun tindakan koreksi jika segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya (MBE-active dan MBE-passive) kondisi ini mengakibatkan keterikatan emosional kurang. Sedangkan disharmonisasi antar bawahan lebih diakibatkan karena implikasi reward and punishment sehingga persaingan sangat mungkin terjadi. Tanggapan: (Reza dan Ivan) Menyanggah bahwa jika terjadi disharmonisasi dalam suatu organisasi maka pencapaian visi.

Reward atas kerja dan pencapaian tujuan yang dilakukan pegawai umumnya dalam bentuk uang. finansial. gaji. 19 . kreatifitas dan inovasi pegawai yang mana prinsip Laissez Faire ini tidak berlaku pada pegawai yang dipimpin dalam model kepemimpinan transaksional ini. dan sebagainya.organisasi (seperti yang disampaikan oleh penanya) akan tetapi lebih kepada tidak adanya kerjasama antara pegawai atau pekerja yang memiliki job description yang berbeda atau diluar lini kepemimpinan manajer pekerja borongan tersebut. bonus dan bendabenda materiil lainnya. Tanggapan: (Fauzie) Apakah reward yang diberikan hanya berbentuk uang atau gaji? Jawaban: Sejauh dari literatur yang kelompok kami kaji sebagai referensi dari makalah. 5. iya benar. Sehingga hal tersebut membatasi ide-ide. Laissez Faire pada kegiatan ekonomi diartikan sebagai bebas sebebasbebasnya dalam pengambilan keputusan ekonomi. bagaimana penerapan konsep tersebut dalam kepemimpinan transaksional? (Fauzie Senoaji091514553004) Jawaban: Konsep Laissez Faire mengacu pada karakteristik pemimpinnya dimana ia bebas menentukan tujuan dan perilaku peserta organisasi. Ketika semua persyaratan kerja yang sudah disepakati dimuka telah disampaikan maka tidak ada alasan pekerja borongan tersebut meminta bantuan atau kerjasama dari staff kantor bagian marketing.