You are on page 1of 20

SNI 7117.

17:2009

Emisi gas buang – Sumber tidak bergerak –
Bagian 17: Penentuan kadar partikulat secara
isokinetis

ICS 13.040.40

Badan Standardisasi Nasional

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Standar Nasional Indonesia

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

.................................................................. 12 Tabel A......... 1 3 Istilah dan definisi ............................................................................................................1 – Lembar data kalibrasi dry gas meter dengan wet test meter ....ii 1 Ruang lingkup..................................................................................................................................................................................... 8 Lampiran B (informatif) Lembar data contoh uji partikulat .........................i Prakata .......................................................................................... Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Daftar isi ...................................................................... 6 6 Pengendalian mutu.................1 – Rangkaian kalibrasi dry gas meter dengan wet test meter .........................................................................SNI 7117...................................................................................................................................................... 1 2 Acuan normatif..................................................17:2009 Daftar isi................................................................................................................................................................................................................ 2 5 Perhitungan .......................................................... 1 4 Cara uji ........................................... 11 Biliografi ........ 4 Gambar A................................................................................................................ 7 Lampiran A (informatif) Kalibrasi ......................................................................... 10 i “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.................. 9 Gambar 1 – Particulate Sampling Train...................

Kualitas Udara yang mewakili pihak produsen. ilmuwan dan instansi teknis dari Panitia Teknis 13-03. 40 CFR 60. ii “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. dengan hasil akhir disetujui menjadi SNI. 1996.SNI 7117. Kemudian SNI ini telah melalui tahap pemungutan suara pada tanggal 24 Juni 2009 sampai dengan 24 September 2009. Appendix A. Gas Analysis for The Determination of Dry Molecular Weight. SNI ini dengan judul Emisi gas buang – Sumber tidak bergerak – Bagian 17: Penentuan kadar partikulat secara isokinetis disusun melalui adopsi dengan metode terjemahan dari US-EPA Method 5. konsumen.17:2009 Dalam rangka menyeragamkan teknik penentuan dan pengambilan contoh uji gas buang dari sumber tidak bergerak maka disusun Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pengujian parameter-parameter kualitas udara. RSNI4 ini telah melalui uji coba di laboratorium pengujian dalam rangka validasi metode dan dikonsensuskan oleh Sub Panitia Teknis 13-03-S2. Kualitas Lingkungan dan Manajemen Lingkungan pada tanggal 21 Agustus 2007 di Serpong serta telah melalui jajak pendapat pada tanggal 23 Desember 2008 sampai dengan 23 Maret 2009. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Prakata .

2 kadar partikulat massa partikel padatan atau bukan padatan yang terkandung dalam 1 m3 gas buang kering.Sumber tidak bergerak – Bagian 15: Penentuan berat molekul kering. Emisi gas buang – Sumber tidak bergerak – Bagian 13: Penentuan lokasi dan titik-titik lintas untuk pengambilan contoh uji partikulat dan kecepatan linier. dikoreksi pada kondisi normal (25 oC. 3 Istilah dan definisi 3. SNI 7117. SNI 7117.5 pengambilan contoh uji secara isokinetik laju alir gas buang yang dihisap melalui nozzle harus sama (toleransi ± 10 %) dengan laju linier gas buang dalam cerobong 1 dari 12 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.17:2009 1 Ruang lingkup Standar ini digunakan untuk menentukan kadar partikulat dalam gas buang dari sumber tidak bergerak secara isokinetik. Emisi gas buang . SNI 7117.14:2009. notasi N menunjukkan satuan volume hisap kering gas buang. 760 mmHg).3 mg/Nm3 satuan ini dibaca sebagai miligram per normal meter kubik. dalam satuan mg/Nm3 3. dikoreksi pada kondisi normal (25 oC.4 partikulat partikel padatan atau bukan padatan yang terbawa dalam gas buang 3. Lingkup penentuan meliputi: a) Cara pengambilan contoh uji partikulat b) Cara penentuan kadar partikulat dalam gas buang 2 Acuan normatif SNI 7117.1 emisi (gas buang) zat. Emisi gas buang .16:2009.Emisi gas buang .Sumber tidak bergerak – Bagian 14: Penentuan kecepatan linier.Sumber tidak bergerak – Bagian 16: Penentuan kadar uap air secara gravimetri.15:2009 . energi. dan atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk atau dimasukkan ke udara ambien 3.13:2009.SNI 7117. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Emisi gas buang – Sumber tidak bergerak – Bagian 17: Penentuan kadar partikulat secara isokinetis . 760 mmHg) 3.

6 sampling line sampling line merupakan saluran tempat pengambilan contoh uji yang dimulai dari ujung nozzle sampai dengan filter . pompa vakum. barometer.17:2009 4 Cara uji 4. botol sampel. 4. pinset. ice bath.2.1 g.2 a) b) c) d) e) f) Peralatan Bahan Filter dengan bahan micro fiberglass atau quartz. tabung pitot tipe-s. desikator.1 Prinsip Pengambilan contoh uji partikulat dilakukan secara isokinetik di mana titik-titik lintas. pressure gauge. kecepatan linier. rentensi partikel < 2. 4. oven. timbangan dengan ketelitian 0.1 mg. sistem pemanas filter. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 3. komposisi gas buang.SNI 7117.2 Peralatan dan bahan 4. dan stop watch. gelas piala. cawan petri atau amplop filter. batang probe. kandungan air gas buang dalam cerobong harus ditentukan terlebih dahulu sehingga kecepatan linier gas buang yang dihisap melalui nozzle sama dengan kecepatan linier gas buang di dalam cerobong. timbangan analitik dengan ketelitian 0. sikat pembersih batang probe dan nozzle.5 μm Silika gel pekering Air suling Es batu High vacuum grease Aseton 2 dari 12 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. filter holder.2.1 a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) l) m) n) o) p) q) r) s) t) u) v) w) x) nozzle l terbuat stainlessteel atau kuarsa. botol penjerap (impinger). Partikulat yang terkumpul pada filter dan dalam sampling line ditentukan secara gravimetri. termokopel. jangka sorong. dry gas meter. manometer inklinasi.

atau perhitungan stokiometrik pembakaran. kemudian masukkan ke dalam desikator selama ± 2 jam. Tentukan berat molekul gas buang sesuai dengan SNI 7117.3. Tentukan kecepatan linier gas buang sesuai dengan SNI 7117. 4.3. CATATAN Penentuan kadar uap air dapat juga dilakukan dengan menggunakan midget impinger. 4. Dn ( estimation ) = K 5Qm Pm Ts M s TmC p (1 − Bws ) Ps Δpavg (1) g) Pilihlah panjang batang probe yang sesuai dengan jarak terjauh titik lintas dan beri tanda sesuai dengan titik lintas. d) timbang masing-masing botol penjerap dan catat berat awalnya. b) biarkan botol penjerap ke tiga kosong. kemudian timbang dan catat berat awalnya.1 Persiapan sebelum pengujian a) Lakukan pengecekan filter secara visual untuk memastikan tidak ada cacat. b) Lakukan pemanasan filter pada temperatur sekitar 105 °C selama 2 – 3 jam. sesuai dengan hasil kalibrasi (lihat lampiran A). c) masukkan 200 – 300 g silika gel ke dalam botol penjerap ke empat.2 a) b) c) d) Penentuan variabel awal Tentukan lokasi dan titik lintasnya sesuai dengan SNI 7117. dan pastikan bahwa posisi filter tepat di tengah.3 Persiapan rangkaian penjerap a) masukkan masing-masing 100 mL air suling ke dalam botol penjerap 1 dan 2.16:2009. 3 dari 12 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. e) pasangkan filter yang telah ditimbang pada filter holder. e) Tentukan faktor kalibrasi orifice (ΔH@).17:2009 Pengambilan contoh uji 4.SNI 7117. g) rangkai peralatan seperti pada gambar 1. f) Tentukan ukuran nozzle berdasarkan kisaran kecepatan linier gas buang. Tentukan kadar air gas buang sesuai dengan SNI 7117. temperatur bola basah dan kering. Selanjutnya timbang dengan timbangan analitik dan catat berat awalnya. h) Tentukan lamanya waktu pengambilan contoh uji dengan mempertimbangkan kondisi gas buang secara visual.14:2009.13:2009.3 . f) rangkaikan nozzle dengan probe liner.15:2009.3. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 4.

4 dari 12 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. b) nyalakan pemanas filter dan probe pada temperatur 120 °C ± 14 °C. dengan posisi masukan berhadapan dengan aliran gas (lihat gambar 1).17:2009 1 2 3 4 Gambar 1 . Maksimum kebocoran tidak diperbolehkan lebih dari 4 persen dari laju alir pengambilan contoh uji atau 0. dan segera matikan pompa vakum untuk mencegah terjadi aliran balik yang mengakibatkan air masuk ke filter atau volume air di masing-masing botol penjerap berubah.00057 m3/menit. maka buka secara perlahan sumbat.SNI 7117. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Probe liner . c) lakukan uji kebocoran dengan menyumbat nozzle dan kemudian nyalakan pompa vakum sampai tekanan 15 mmHg.3. Kemudian nyalakan pompa dengan kecepatan hisap sesuai kecepatan isokinetiknya. 4.5 Pelaksanaan pengambilan contoh uji a) posisikan rangkaian contoh uji partikulat pada lubang pengambil contoh uji.Particulate Sampling Train 4. c) tempatkan ujung nozzle di titik lintas pertama. Perhatikan dry gas meter.3.4 Uji kebocoran Uji kebocoran dilakukan di tempat pengujian a) rangkai peralatan seperti gambar 1. b) nyalakan pemanas filter dan probe sampai pada temperatur pengoperasian kemudian biarkan temperaturnya stabil. catat nilai dry gas meter dalam waktu tertentu. e) uji kebocoran disarankan sebelum pengambilan contoh uji dan diwajibkan uji kebocoran setelah pengambilan contoh uji. d) apabila uji kebocoran selesai. jika ada kebocoran.

tutup lubang pengambilan contoh uji (flange). dan beri label sebagai penampung 1.1 g. f) setelah pengambilan contoh uji di titik lintas pertama selesai. 5 dari 12 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” CATATAN 1 Selama pengambilan contoh uji.3. CATATAN Beri tanda ketinggian cairan dalam botol penampung untuk mengetahui terjadinya pengurangan volum selama transportasi. Adapun langkahnya adalah sebagai berikut: a) Matikan pompa vakum.SNI 7117. d) pertahankan laju persentasi isokinetik pada 100 % ± 10 % dengan mengatur beda tekanan pada katup laju pompa hisap (dH) sesuai rasio K terhadap beda tekanan tabung pitot (dp). g) Berat total partikulat pada filter harus digabungkan. 4. CATATAN Jika pressure drop pada filter menjadi sangat tinggi (tekanan vakum tinggi) akibat banyaknya partikulat atau kadar air. b) Catat posisi titik lintas terakhir dan nilai dry gas meter akhir. c) Lakukan uji kebocoran sebelum membuka filter holder. K= M T P ΔH = K 6 Dn4 ΔH @C p2 (1 − Bws ) 2 d m s Δp M sTs Pm (2) e) catat semua data dalam tabel seperti contoh lampiran B. f) Tempatkan pada posisi titik lintas terakhir dan nyalakan pompa vakum untuk melanjutkan pengambilan contoh uji. e) timbang masing-masing botol penjerap dengan timbangan dengan ketelitian 0. filter perlu diganti pada pertengahan pengambilan contoh uji. filter. pindahkan nozzle ke titik lintas ke dua hingga titik lintas terakhir dan lakukan seperti langkah d) dan e). pemanas filter dan probe. h) lakukan perhitungan isokinetik. . dan botol penjerap pada tempat yang bersih agar tidak terjadi kontaminasi pada contoh uji. filter fitting. nozzle.17:2009 CATATAN 2 Selama pengambilan contoh uji. g) setelah pengambilan contoh uji selesai. d) Bersihkan partikulat pada probe liner. yang mengakibatkan pengaturan isokinetik menjadi sulit. Apabila nilainya tidak masuk ke dalam batas isokinetis (100 % ± 10 %) maka ulangi pengambilan contoh uji.6 Perolehan kembali (Recovery) contoh uji a) pindahkan probe. e) Nyalakan pemanas filter dan probe. c) ambil filter dari filter holder secara hati-hati dengan menggunakan pinset dan masukkan ke dalam cawan petri. dan filter holder dengan menggunakan sikat dan aseton. kemudian catat berat akhir. pertahankan temperatur udara pada keluaran botol penjerap ke-4 di bawah 20 °C. d) Ganti filter dan pasang kembali ke filter holder. pindahkan probe dan nozzle dari lubang pengambilan contoh uji. matikan pompa hisap. kemudian masukkan hasil pembersihan tersebut ke dalam botol contoh uji dan beri label sebagai penampung 2. dan pertahankan juga temperatur filter pada 120°C ± 14°C selama pengambilan contoh uji. b) masukkan 200 mL aseton ke dalam botol contoh uji sebagai blanko lapangan.

Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Analisis . Uapkan aseton dari gelas piala hingga kering. b) Penampung 2 : Pindahkan isi penampung ke dalam gelas piala 250 mL. kemudian dinginkan dalam desikator. f) Hitung konsentrasi partikulat dengan menggunakan rumus berikut : cs = mn (6) Vm ( std ) g) Hitung perhitungan isokinetis.6 ⎥ ⎟⎟ ⎢ Vm ( std ) = Vm ⋅ Y ⎜⎜ ⎥ (3) Pstd ⎝ Tm ⎠ ⎢ ⎥ ⎦ ⎣ c) Hitung volum uap air dengan menggunakan rumus berikut : Vw ( std ) = Vlc ⋅ ρ w ⋅ R ⋅ Tstd M w ⋅ Pstd (4) d) Hitung kadar uap air dengan menggunakan rumus berikut : B ws = V w ( std ) (5) V m ( std ) + V w ( std ) e) Hitung berat total partikulat. dengan menggunakan data mentah dapat dilihat pada rumus berikut : I= 100Ts [K 3 ⋅Vlc + (Vm ⋅ Y / Tm )( Pbar + ΔH / 13. kemudian masukkan ke dalam desikator selama ± 24 jam. dan timbang berat partikulatnya. dengan cara menjumlahkan partikulat yang terdapat pada penampung 1 dan 2. Uapkan aseton dari gelas piala hingga kering.6)] 60θvs Ps An 6 dari 12 (7) “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. 5 Perhitungan a) Hitung temperatur rata-rata dry gas meter dan rata-rata pressure drop pada orifice. Koreksi volum dry gas meter yang terukur ke kondisi standar (25 °C. kemudian dikurangi dengan partikulat yang terdapat pada blanko aseton. Timbang berat filter tersebut dengan menggunakan timbangan analitik.SNI 7117. c) Blanko lapangan : Pindahkan isi penampung ke dalam gelas piala 250 mL.17:2009 a) Penampung 1 : Keringkan filter di dalam oven pada temperatur 105 °C selama 2 jam – 3 jam. kemudian masukkan ke dalam desikator selama ± 24 jam. 760 mmHg) dengan menggunakan rumus sebagai berikut : ΔH ⎤ ⎡ ⎛ Tstd ⎞ ⎢ Pbar + 13 . b) Hitung volum dry gas meter. Lihat pada lembar data di lampiran B. dan timbang berat partikulatnya.

17:2009 I= 100 Ts ⋅ Vm ( std ) ⋅ Pstd (8) 60 Tstd ⋅ v s ⋅ θ ⋅ An ⋅ Ps (1 − Bws ) Batas nilai isokinetis yang dapat diterima adalah 90 ≤ I ≤ 110 %. dikoreksi ke kondisi standar. adalah jumlah total partikulat yang dikumpulkan. adalah berat akhir total botol penjerap. Pstd R adalah konstanta gas ideal. Bws adalah konsentrasi partikulat didalam gas cerobong.03Y. Vi adalah total volume cairan dalam penjerap dan silika gel . m3. Vwe(std) adalah volume uap air yang terkondensasi. Tm adalah temperatur gas buang. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Atau dengan menggunakan data intermediet dapat dilakukan perhitungan dengan rumus berikut : . ρw θ adalah waktu sampling total. mL. Vwsg(std) adalah volume uap air yang terkumpul di silika gel. b) Kalibrasi tabung pitot tipe S. Keterangan: adalah luas penampang nozzle. Vlc adalah berat akhir tabung silika gel. basis kering.06236 (mm Hg)(m3/g-mol)(K) adalah temperatur pada dry gas meter. adalah tekanan absolut pada cerobong. m3. Pm mm Hg (in Hg). koreksi ke kondisi cs standar. K . Nilai Y yang dapat diperbolehkan adalah 0. Ps adalah tekanan absolut standar. g. dikoreksi ke kondisi standar.9982 g/mL.6071 K5 adalah nilai ketetapan untuk metrik 0. c) Kalibrasi termokopel untuk temperatur gas. g. m/detik. Wi adalah kecepatan gas cerobong. 18 lb/lb-mol. m2 An adalah kadar uap air (volume) dalam aliran gas. g. m3. Tstd adalah volume gas kering yang terukur pada meter gas. 298 oK. m3. Vf adalah berat awal total botol penjerap.0000804 K6 6 Pengendalian mutu a) Ukur diameter nozzle dengan jangka sorong terkalibrasi. K. d) Kalibrasi dry gas meter dengan wet gas meter untuk mendapatkan nilai Y. g. Mw adalah tekanan absolut. mn adalah berat molekul air. Wf adalah berat awal tabung silika gel. 760 mm Hg. mg. 0. adalah densitas air. vs Y adalah faktor kalibrasi meter gas. mg/m3 I adalah persen isokinetik pengambilan contoh uji. 7 dari 12 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. m3. adalah volume gas kering yang terukur pada meter gas yang dikoreksi ke kondisi Vm(std) standar. 0. 18 g/g-mol. Ts adalah temperatur standar. mm Hg.SNI 7117. sama dengan tekanan barometer pada dry gas meter.003454 K3 adalah nilai ketetapan untuk metrik 0.97Y < Yc < 1. Vm Δ Vm adalah pertambahan volume gas kering pada meter gas pada setiap titik pengambilan. adalah nilai ketetapan untuk metrik 0. menit.

Bila nozzle tergores. WGM sebaiknya memiliki kapasitas 30 liter/putaran. catat volum gas yang mengalir melalui WGM. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Lampiran A . Gunakan nilai rata-rata Y. Persiapkan lembar pencatatan dan stopwatch. temperatur masuk dan keluar DGM.1 mm (0. Tabung Pitot tipe S harus dikalibrasi berdasarkan standar penentuan kecepatan linier gas buang untuk mendapatkan nilai Cp. dan temperatur WGM. Catat tekanan barometrik.004 inci). Kalibrasi bisa dimulai. Buat tiga pengukuran terpisah pada sisi diameter yang berbeda dan dapatkan rata-rata pengukuran. Nyalakan sistem selama beberapa menit agar permukaan dalam WGM menjadi basah.025 mm. Pbar 8 dari 12 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.3 Dry Gas Meter (DGM) Secara berkala. Perhitungan Δ H@ ΔH@ = 0. A. Perbedaan antara nilai tertinggi dan terendah tidak boleh melebihi 0. A. dan ΔH@. dry gas meter (DGM) harus dikalibrasi sebagai berikut: Hubungkan udara masuk DGM ke dalam udara keluar wet gas meter (WGM) yang memiliki akurasi 1 persen. pada masing-masing variasi besaran orifice.1 Nozzle Nozzle harus dikalibrasi atau diverifikasi sebelum digunakan di lapangan. dan hitung Y. Catat semua data pada lembar data seperti Tabel A1. Tentukan 5 variasi besaran orifice.SNI 7117. penyok karena terbentur. pada besaran orifice yang terendah.0319 ΔH Tm Θ 2 Pbar Y 2 Vm2 (9) Keterangan: adalah perbedaan tekanan orifice (in H2O) ΔH@ ΔH adalah perbedaan tekanan rata-rata di dalam orifice meter adalah temperatur absolut rata-rata gas meter (R) Tm adalah tekanan barometer (in Hg). untuk mengukur diameter dalam nozzle dengan ketelitian 0. faktor kalibrasi orifice.menggunakan jangka sorong.17:2009 (informatif) Kalibrasi A. atau korosi. Toleransi yang diperbolehkan untuk masing-masing nilai Y dan ΔH@ dapat dilihat pada Tabel A1. dan juga catat volum DGM.2 Tabung Pitot. faktor kalibrasi DGM. maka perlu diperbaiki atau diganti nozzle baru.

17:2009 .Tabel A.1 – Lembar data kalibrasi dry gas meter dengan wet test meter 9 dari 12 Cipta Badan Standardisasi Nasional. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” SNI 7117.

1 – Rangkaian kalibrasi dry gas meter dengan wet test meter .SNI 7117. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Gambar A.17:2009 10 dari 12 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

17:2009 Lampiran B (informatif) Lembar data contoh uji partikulat Plant Tanggal Lokasi Sampling Run # Operator Temperatur ambien (oC) Tekanan statik (mm H2O) Titik Lintas # Waktu (min) : : : : : : : Pembacaan DGM (liter) Tekanan Barometrik. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” SNI 7117. (mm Hg) Nozzle diameter (mm) Assumed moisture (%) Delta H@ Cp faktor Filter # Tekanan dinamik (mm H2O) Tekanan orifice (dH) (mm H2O) Temp cerobong.DGM Outlet Inlet (oC) (oC) : : : : : : : Tekanan Vakum in Hg Temp Box (oC) Temperatur Impinger Prob e . (oC) Port # 1 1 2 3 4 5 Rata-rata (R1) Port # 2 1 2 3 4 5 Rata-rata (R2) Rata-rata 11 dari 12 Temp.Cipta Badan Standardisasi Nasional.

17:2009 KEP-205/BAPEDAL/07/1996 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak. 1996. 12 dari 12 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Appendix A. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Biliografi . Determination of Particulate Emissions from Stationary Sources. BAPEDAL US-EPA Method 5. 40 CFR 60.SNI 7117.

Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” .“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” .“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” .“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

go.“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Senayan Jakarta 10270 Telp: 021. Gatot Subroto.574 7043. Jend. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” BADAN STANDARDISASI NASIONAL . 3-4 Jl. e-mail : bsn@bsn. Faks: 021.5747045.BSN Gedung Manggala Wanabakti Blok IV Lt.id .