You are on page 1of 18

MAKALAH

RUMPUT LAUT,PENGOLAHAN & PEMANFAATANNYA

OLEH :
MUH. IRZAL AFANDI A.
093 2010 0044

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang dua pertiga wilayah


negaranya adalah laut dan lautan dengan 13.667 buah pulau besar
maupun kecil, serta mempunyai garis pantai terpanjang di dunia,
yaitu kurang lebih 80.791,42 km. Selain itu, kekayaan alam di
dalamnya pun luar biasa banyaknya, terutama dengan
keanekaragaman jenis hewan (fauna), tumbuh-tumbuhan (flora),
serta bahan tambang dan mineral. Apalagi tingkat pencemaran laut
indonesia relatif kecil, yaitu hanya sekitar 0,2 persen bila
dibandingkan dengan pencemaran laut yang terjadi diseluruh dunia.
Tetapi sangat disayangkan, potensi laut Indonesia yang sedemikian
baiknya kurang dimanfaatkan secara optimal serta tidak diimbangi
pula dengan usaha pengembangan lebih lanjut. Sampai sejauh ini,
sebagian besar petani ikan (nelayan) hanya melakukan kegiatan
pemungutan hasil laut saja tanpa adanya usaha-usaha

pengembangan. Namun demikian, ada juga sebagian kecil yang


sudah mulai dikembangkan, seperti pembudidayaan beberapa jenis
ikan, udang, dan rumput laut. Saat ini yang sedang banyak
dikembangkan di Indonesia adalah pembudidayaan rumput laut.
Bahkan di beberapa daerah sudah dilakukan secara besar-besaran.
Contohnya, di teluk Jakarta, bahkan di propinsi Sulawesi Selatan,
tepatnya di daerah pesisir Takala, Bulukumba, dan Maros, areal
budidaya rumput laut lebih kurang seluas 775 Ha dengan hasil
sekali panen lebih kurang 170 ton.
Rumput laut (sea weed) merupakan hasil perikanan yang bukan
berupa ikan, tetapi berupa tanaman. Usaha budidaya ini mengingat
potensi rumput laut sebagai salah satu komoditas ekspor nonmigas
ternyata mempunyai prospek ekonomi yang cukup cerah.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Apa itu Rumput Laut

Rumput laut termasuk beberapa jenis (species) dari alga atau


ganggang, dimana alga ini dikenal sebagai vegetasi perintis
(tanaman perintis). Alga mengandung klorofil, karotenoid, dan juga
kromatophora (butiran-butiran zat warna), seperti hijau, biru,
keemasan, dan lain sebagainya.
Alga atau phyton dalam bahasa latin mempunyai nama dan
istilah Indonesia yaitu ganggang. Ganggang ini berbeda sekali
dengan ganggang (Hydrilla spp). Orang sering keliru dalam
penamaan serta pengenalannya, jadi berhati-hatilah dalam
mengenali dan memberi nama rumput laut.
Di Indonesia sendiri, rumput laut mempunyai bermacammacam nama, sesuai dengan daerah tempat dia ditemukan. Di
pulau Jawa dikenal dengan nama kades, ganggang atau rambu
kasang. Di pulau Bali disebut bulung, di pulau Lombok namanya
lelusa. Sedang di kepulauan Maluku dikenal dengan nama arien.
2.2

Habitat Rumput Laut

Habitat atau tempat hidup alga adalah di air, baik itu air
tawar, payau, maupun laut, selain itu dapat pula di tanah yang
lembab. Umumnya dia hidup sebagai plankton (jasad renik), yang
terdiri dari:
1. Zooplankton, plankton yang dapat bergerak sendiri.

2. Phytoplankton, plankton yang tidak dapat bergerak sendiri,


sifatnya lebih mendekati sifat tanaman.
3. Benthos, yaitu ganggang atau alga yang hidup di dasar perairan,
sedangkan yang hidupnya terapung disebut Neuston
Sebagian jenis alga lagi hidupnya menempel pada tumbuhan
lain, hewan, karang yang mati, potongan karang, dan substrat
keras lainnya, baik yang alami maupun buatan (artificial) yang
biasa disebut periphyton.
2.3

Klasifikasi dari Rumput Laut

Alga atau ganggang dapat diklasifikasikan menjadi tujuh divisi,


berdasarkan pada pigmentasi yang ada di dalam tubuh alga, yaitu :
1.

Divisi Cyanphyta (alga biru)

Tepat hidup dari alga divisi ini umumnya di tempat lembab,


air tawar, dan dapat hidup mulai dari suhu 0 o-75o. Beberapa genus
(marganya) ada yang hidup bebas, epifit (hidup pada kulit
tumbuhan), epizoik (hidup pada kulit hewan), endofit (hidup dalam
jaringan tumbuhan), dan menempel pada dasar perairan, juga ada
yang bersimbiosis.
Susunan tubuhnya ada yang bersel satu (uniseluler),
membentuk koloni dan filamen. Alga biru dapat melakukan
fotosintesis yang menghasilkan tepung sianofise dan sianofisin
(sejenis protein). Hal ini dikarenakan tubuhnya mengandung klorofil
a dengan karotenoidnya beta ().
2.
Divisi Chlorophyta (Alga hijau)
Divisi Chlorophyta ini dibagi menjadi dua kelas, yaitu :
a. Chlorophyceae (alga hijau)
Tempat hidupnya kelompok alga hijau ini umumnya pada
tempat yang lembab, di air tawar, payau, maupun air laut, hidup

bebas dan menempel, namun ada juga yang hidup secara epifit,
endofit, epizoik, serta bersimbiosis.
Susunan tubuhnya ada yang bersel tunggal (uniseluler) maupun
bersel banyak (poliseluler), tetapi ada juga di antaranya yang
membentuk kolomi dan filamen.
Alga dari divisi ini dapat melakukan proses fotosintesis yang
menghasilkan amilum dan lemak. Hal ini dikarenakan tubuhnya
mengandung klorofil a dan b, karotenoidnya alfa () dan
beta (). Perkembangbiakannya secara sporik, namun ada juga
yang gametik.
b. Charophyceae (alga karang)
Tempat hidupnya, umumnya di dasar air tawar dan melekat.
Susunan tubuhnya bersel tunggal, tetapi ada juga yang bersel
banyak (poliseluler).
Alga karang ini memiliki persamaan dengan alga hijau.
Persamaanya terletak pada cadangan makanannya, yaitu
amilum dan lemak. Perkembangbiakannya, umumnya secara
vegetatip dan gametik.
3.

Divisi Euglenophyta

Lingkungan hidupnya di kolom-kolom air tawar yang banyak


bahan organik. Hidupnya sering dijumpai sebagai zooplankton
dan endozoik. Susunan tubuhnya bersel tunggal dan ada
sebagian yang hidupnya berkelompok. Pigmentasinya antara lain
klorofil a dan b, serta karotenoidnya beta ().
Perkembangbiakannya secara vegetatif saja, yaitu dengan
pembelahan longitudinal.
4.

Divisi Phyrophyta (alga api)

Divisi
ini
hanya
mempunyai
satu
kelas
saja,
yaitu Dinophyceae (alga yang gerakannya memutar) Tempat
hidup alga ini umumnya di air laut, tetapi ada juga beberapa
jenisnya yang hidup di air tawar. Tubuhnya umumnya bersel

tunggal. Pigmentasi yang dimiliki alga dari kelas Dinophyceae ini


antara lain, klorofil a dan c. Perkembangbiakannya dapat
terjadi secara vegetatif, sporik, maupun gametik.
5.

Divisi Chrysophyta (alga keemasan)

Divisi Chrysophyta atau alga keemasan ini dibagi menjadi


beberapa kelas, yaitu sebagai berikut :
a. Xanthophyceae
Alga ini memiliki warna dominan kekuningan. Tempat hidupnya
di air tawar, laut dan juga tanah yang agak lembab, dengan sifat
hidupnya ada yang melekat dan ada pula yang bebas. Susunan
tubuh dari alga ini adalah sel tunggal, dan ada juga yang
membentuk filamen dan tubular. Pigmentasinya antara lain,
klorofil a dan c. Perkembangbiakannya dapat terjadi secara
vegetatif, sporik, maupun gametik.

b. Chrysophyceae (alga keemasan)


Alga keemasan tempat hidupnya kebanyakan di laut, tetapi
ada juga yang hidup di air tawar. Susunan tubuhnya umumnya
bersel tunggal (uniseluler), dan ada juga yang membentuk
koloni-koloni.
Mengandung
klorofil
a
dan
c.
Perkembangbiakannya umumnya secara vegetatif dan sporik.
c. Bacillariophyceae (alga kersik, diatome)
Tempat hidup alga kersik atau diatome ini umumnya di air
laut, namun ada juga sebagian yang hidup di air tawar dan tanah
yang lembab. Susunan tubuhnya, umumnya bersel tunggal.
Pigmentasi yang dimiliki alga dari kelas ini antara lain, klorofil
a dan c. Perkembangbiakannya terjadi secara vegetatif dan
gametik

6.

Divisi Phaeophyta (alga perang)

Lingkungan hidupnya umumnya di laut dan hanya sebagian


kecil saja yang hidup di muara sungai yang berair payau. Susunan
tubuhnya, umumnya bersel banyak (multiseluler) dan tubuhnya
sudah dapat dibedakan antara helaian (lamina), tangkai (stipe), dan
pangkal yang bentuknya menyerupai akar (haptera).
Pigmentasi yang dimiliki alga perang, antara lain, klorofil a
dan c, sedangkan cadangan makanannya berupa Manitol
(senyawa
alkohol)
dan
Laminarin
(senyawa
karbohidrat).
Perkembangbiakannya terjadi secara vegetatif, sporik, dan gametik.
7.

Divisi Rhodophyta (alga merah)


Tempat hidupnya di air laut, mulai dari tepi pantai sampai laut
yang agak dalam. Untuk susunan tubuhnya, umumnya bersel
banyak (multiseluler), tetapi ada juga yang bersel tunggal (misalnya
Porphyridium) dan sering juga membentuk filamen (bengang).
Pigmentasi yang dimiliki alga merah antara lain, klorofil a
dan d. Cadangan makanannya berupa tepung florida.
Perkembangbiakannya terjadi secara vegetatif, yaitu dengan
fragmentasi, sporik dan gametik

2.4

Pengolahan rumput laut

1. Pemanenan
Rumput laut yang sudah siap panen yang dibudidayakan
denganmetode rumpon (tali), dipanen dengan cara menarik rumpon
ke pinggirpantai. Rumput laut dilepas dari ikatannya, dipetik
pucuknya untukditanam kembali, diikat lagi pada rumpon sebagai
tanaman baru. Umurpanen yang optimum adalah 40-45 hari, hal ini
sangat disarankankarena pada umur tanaman tersebut kandungan
karagenannya sangatoptimum.

Gambar 1.1. Pemanenan rumput laut


2. Pencucian dan Perendaman
Pemanenan sebaiknya dilakukan mulai siang hari. Hasil
panendicuci air laut untuk menghilangkan kotoran yang melekat
seperti lumpur, garam, dan lain lain, sehingga rumput laut menjadi
bersih.Selanjutnya rumput laut langsung direndam larutan alkali KOH
0,1%sampai terendam dan dibiarkan kontak dengan alkali
semalaman.Tujuan perendaman dengan menggunakan larutan alkali
adalah untukmendapatkan karagenan yang maksimal. Tahapan
selanjutnya pagiharinya rumput laut diangkat dan dicuci dengan air tawar
sampaibersih dan netral.Gambar 12. Pencucian dengan menggunakan air
laut

Gambar 1.2. Pencucian dengan menggunakan air laut


3. Pengeringan dan Sortasi

Rumput laut yang sudah netral dikeringkan dengan


penjemuran,dapat dilakukan disekitar pantai sampai mencapai
kekeringan tertentu(optimum) biasanya 20-30%. Alas pengering yang
sederhanan adalahdengan bahan plastik, agar cepat kering dan lebih
bersih, dapat puladengan pengeringan solar yang dipadu kompor.dan
untuk menjagamutu pengeringan harus dikeringkan diatas para para.

Gambar 1.3 : Penjemuran rumput laut Gambar & Sortasi rumput laut

4. Pengemasan dan Penyimpanan


Setelah
rumput
laut
kering
dilakukan
pengemasan
dengankarung net atau plastik. Untuk lebih efisien tempat rumput
laut keringdapat dipress (cetak) menjadi bentuk kotak-kotak padat
per Kg atau 5kg sehingga pengemasan selanjutnya menjadi lebih
efisien dalamkotak-kotak kayu.dan dijaga agar sirkulasi udara baik.
Hal inidisebabkan apabila sirkulasi udara dalam ruangan dan kemasan
tidakbaik, maka akan terjadi proses fermentasi , rumput laut
menjadi apekdan timbul kapang/jamur. Yang akibatnya akan menurunkan
muturumput laut

Gambar 1.4 : Penyimpanan Rumput Laut.

2.5

Manfaat Rumput Laut

Rumput laut telah lama digunakan sebagai makanan maupun


obat-obatan di negeri Jepang, Cina, Eropa maupun Amerika.
Diantaranya sebagai nori, kombu, puding atau dalam bentuk
hidangan lainnya seperti sop, saus dan dalam bentuk mentah
sebagai sayuran. Adapun pemanfaatan rumput laut sebagai
makanan karena mempunyai gizi yang cukup tinggi yang sebagian
besar terletak pada karbohidrat di samping lemak dan protein yang
terdapat di dalamnya.
Di samping digunakan sebagai makanan, rumput laut juga
dapat digunakan sebagai penghasil alginat, agar-agar, carrageenan,
fulceran, pupuk, makanan ternak dan Yodium. Beberapa hasil
olahan rumput laut yang bernilai ekonomis yaitu :
1. Agar-agar
Agar merupakan hidrokoloid rumput laut yang memiliki kekuat
an gel yang sangat kuat. Senyawa ini dihasilkan dari proses ekstraksi
rumput laut kelas Rhodophyceae terutama genus Gracilaria, Gelidium.

Agarmerupakan senyawa polisakarida dengan rantai panjang yang disusun


dari dua pasangan molekul agarose dan agaropektin. Fungsi utama agarose
adalah untuk mencegah terjadinya dehidrasi dari makanan yang
ditambahkan.
2. Karagenan
Karagenan

adalah

senyawa

hidrokoloid,

merupakan

senyawapolisakarida rantai panjang yang diekstrak dari rumput laut


jenis karagenofit seperti Eucheuma sp, Hypnea sp. Karagenan dibedakan
menjadi 3 macam yaitu iota karagenan, kappa karagenan dan lambda
karagenan.

Ketiganyaberbeda

gel. Kappa karagena menghasilkan

dalam sifat

gel yang kuat,

sedangkan

iota

karagenan membentuk gel yang halus dan mudahdibentuk


Setelah mempelajari materi ini, Pelaku utama dan pelaku
usahamengetahui

pemanfaatan

rumput

laut

untuk

industri

pangan,industryfarmasi, kosmetik dan bioteknologi, industry non


pangan dandeversifikasi oloahan produk rumput laut
4. Alginat
Alginat merupakan
hidrokoloid yang diekstrak dari alga coklat atau

Phaeophyceae.

Rumput laut penghasil alginat diantaranya adalah genus Sargassum dan


Turbinaria. Alginat menjadi penting karena penggunaannya yang
luas dalam industri karena sifatnya sebagai pembentuk gel, bahan
pengemulsi dll. Di dalam bidang kosmetik dan farmasi, alginate
dimanfaatkan dalam bentuk asam alginat, garam sodium alginat
dankalsium alginat.
a). Asam alginat

Sifat asam alginat tidak larut dalam air, akan tetapi akan
mengembang , sehingga dapat berfungsi sebagai disintegrating agent dan
berguna dalam pembuatan tablet. Selain itu asam alginat juga
banyakdigunakan untuk bahan pelangsing tubuh dan atau makanan
diet, atau jugasebagai bahan pengikat seperti pada produk pasta gigi dan
shaving cream.
b). Sodium alginat
Sodium alginat banyak digunakan dalam industry obat-obatan cair
karena bisa meningkatkan viskositas atau kekentalan. Aplikasi di
dalamindustry farmasi misalnya pada pengisi obat penicillin dan obat obat
sulfa.
c). Kalsium alginat
Kalsium alginat merupakan bahan untuk peng emulsi yang
dapatdigunakan dalam pembuatan kapsul. Selain sifatnya sebagai peng
emulsikalsium alginat juga bersifat sebagai pengental. Aplikasi dalam
industrikosmetik adlah pada shampoo cair atau bahan untuk pencuci
rambut.
PEMANFAATAN RUMPUT LAUT DALAM INDUSTRI.
1. Industri Pangan
Jelly merupakan makanan paling sederhana yang dibuat dari agar.
Atau karagenan. Jelly biasanya diproduksi dicampur dengan bahan
makanan lain seperti buah, ekstrak kacang-kacangan, Tujuan
penambahan agar, karagenan ataupun alginat diantaranya adalah untuk
mendapatkan tekstur tertentu, untuk makanan diet, stabilizer,
pengental dan lain sebagainya.
Pada industri makanan kaleng, seperti daging dan ikan dalam kaleng,
memerlukan bahan pengental, pembentuk gel serta pensuspensi

dengan memanfaatkan agar dan karagenan .Hal ini dilakukan agar produk
dalam kaleng memiliki kemampuan melting temperature dan gel
strength

lebih tinggi Kemampuan

Alginat dan karagenen

dalam membentuk busa dan kejernihan menyebabkan hidrokoloid


tersebut dimanfaatkan dalam proses pembuatan bir.

2. Industri Farmasi, Kosmetik dan Bio teknologi


a). Industri Farmasi
Faktor

yang mempengaruhi

rumput

laut dalam

industry

farmasi antaralain sifat kimia fisika dari senyara metabolit primer


dan sekunder yang dihasilkan. Senyawa metabolit primer yang dimaksud
adalah agar, karagenan ( iota, kappa dan lambda) serta alginat. Senyawa
senyawa ini berfungsi sebagai suspending aget, thickener, emulsifier,
stabilizer, filmformer, coating agent , gelling agent, dan lain sebagainya.
b) Industri Kosmetik
Pada industry kosmetik, penggunaan agar, karagenan dan alginate
biasanya

digunakan

untuk

produk sabun

krim, sabun

cair,shampoo,lotions,pasta gigi pewarna bibir dan produk produk


perawatan kulit seperti handbody lotion dan pencuci mulut serta
hair lotions.
c) Bioteknologi
Sebagian besar agar digunakan dalam bidang makanan. Penggunaan
dalam bidang bio teknologi
sebagai

medium

kurang lebih hanya 9%

untuk

menumbuhkan

yaitu

digunakan

mikroba,seperti

bakteri, jamur, yeast, mikro alga. Penggunaan lain sebagai medium


dalam industri perbanyakan bibit secara kultur jaringan.
d) Industri Non Pangan.

Penggunaan agar, karagenan

dan alginat di dalam industry

nonpangan diantaranya adalah industri makanan ternak. Keramik,


cat, tekstil,kertas dan pembuatan film fotografis.
1. Makanan ternak
Pet food atau makanan ternak biasanya berupa makanan dalam
kaleng atau pellet. Fungsi agar,karagenan atau alginat untuk
menstabilkandan mempertahankan komposisi dari makanan ternak.
Khusus untuk pellet fungsi utamanya untuk melapisi pellet , sehingga
udara yang ada di dalampellet akan tertahan dan pellet tidak mudah
tenggelam,

juga

untukmengikat

air

dari

dalam

pellet

selama

penyimpanan dan pengangkutan.


2. Keramik
Karagenan

mempunyai

kemampuan

sebagai

gelling

point

padatemperatur dan tekanan yang tinggi. Oleh karena itu ,


karagenandicampurkan ke dalam pelapis keramik pada pembuatan
busi otomotif. Dengan menggunakan karagenan, mampu mendukung
honeycomb keramik.
3. Cat
Fungsi karagenan dan alginat dalam industri cat adalah sebagai
penstabil

dan

perekat

pada

permukaan

dinding

pada

saat

mengering, bersifat sebagai pengemulsi pada resin cat supaya


minyak dan air tercampur dengan sempurna.
4. Tekstil
Karagenan, agar dan alginat didunakan dalam industry tekstil,
yang fungsinya untuk merekatkan benang saat di tenun. Juga
dalampencampuran warna pada saat mewarnia benang dengan maksud
agar warna benang rata, tidak pecah dan lembut.
5. Kertas

Alginat mempunyai kemampuan membentuk film yang lembut, ti


dak terputus dan dapat menjadi perekat yang baik. Pembentukan
film

tersebut

memperkuat

serat

selulosa

dan

ketegangan

permukaan kertas yang baik dalam mengatur ketebalan tinta.


6. Pembuatan Film Fotografis
Agar banyak digunakan untuk pelapisan film untuk foto. Hal ini
disebabkan sifat agar lebih baik dari pada gelatin karena memiliki
gel strength atau kekuatan gel yang lebih kuat. Dengan demikian dalam
kondisi panas seperti daerah tropis yang suhunya relatif tinggi film
tidak mudah ,meleleh.

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan

1.

Rumput Laut adalah sejenis alga yang memiliki zat warna


yang juga disebut klorofil dengan berbagai macam warna.

2.

Habitat hidup rumput adalah di air, yaitu air tawar, laut,


payau dan ada beberapa yang hidup di tanah yang lembab.

3.

Rumput laut dapat diklasifikasikan kedalam tujuh divisi,


berdasarkan pada pigmentasi yang ada di dalam tubuh rumput
laut itu sendiri, yaitu Cyanophyta (alga biru), Chlorophyta (alga

hijau), Euglenophyta, Pyrophyta (alga api), Chrysophyta (alga


keemasan), Phaeophyta (alga perang), Rhodophyta (alga merah).
Rumput Laut dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, bahan
dasar pembuat kosmetik, agar-agar, alginat dan juga dapat
dibudidayakan

DAFTAR PUSTAKA
Narbuko,Cholid., dan Achmadi, Abu. 2008. Metodologi Penelitian.Jakarta:
PT. Bumi Aksara.
http://www.google.co.id/images
http://chaplain-zee.blog.friendster.com/2008/11/prosespengepakan-dan-transportasi-bibit-rumput-laut-eucheuma-cottoniidi-lombok-tengah-nusa-tenggara-barat/)
:http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Formalin-dalam-Makanan
http://pipit.wordpress.com/2005/12/30/ciri-ciri-makanan-yangmengandung-formalin/)
http://id.wikipedia.org/Singkong
http://resepmasakanindonesia.idcc.info/kandungan-gizisingkong.htm
http://www.iptek.net.id/ind/warintek

http://rumputlaut.web44.net/article/kandungan-dan-manfaatrumput-laut/
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=56226)
http://www.kamusilmiah.com/teknologi/teknologi-pembuatan-mieskala-industri-rumah-tangga/)