You are on page 1of 7

1.

REKONSTRUKSI BATAS
Jika dimungkinkan terjadi suatu perubahan atas
patok batas batas tanah, baik itu disengaja atau tidak
disengaja, yang sudah pernah diukur dan didaftarakan
pertama kali, maka pemilik tanah yang bersangkutan
memiliki hak untuk menempatkan patok batas tanah
tersebut kembali ke posisi semula yang sebenarnya.
Pengembalian patok batas/ rekonstruksi batas tanah
ini tentunya dilaksanakan oleh petugas yang
berwenang, dalam hal ini petugas ukur dari Badan
Pertanahan Nasional.
PENGERTIAN REKONSTRUKSI BATAS
Apa itu rekonstruksi batas? Rekonstruksi batas
bidang tanah adalah proses pengukuran ulang di
lapangan dalam rangka mengembalikan patok tanda
batas tanah atas bidang tanah yang sudah
bersertipikat atau pernah dilakukan pengukuran
sbelumya dengan berdasarkan kontradiktur delimitasi,
sehingga pengukuran ini harus mengacu pada data
pendaftaran tanah pertama kali atau data-data yang
sudah ada sebelumnya. Kegiatan ini bertujuan antara
lain :
1. Memasang dan menetapkan batas bidang tanah
sesuai dengan data pengukuran sesuai dengan
data pengukuran pendaftaran tanah pertama
kali.
2. Terpasangnya kembali patok tanda batas bidang
tanah yang hilang sesuai data pengukuran
pendaftaran tanah pertama kali.
3. Memperjelas patok tanda batas bidang tanah
yang di sengketakan atau dipermasalahkan.
4. Terciptanya kejelasan patok tanda batas bidang
tanah, sehingga jika dimungkinkan terjadi
peralihan hak atas tanah, maka calon
pemegang hak yang baru mendapatkan
[134]

kejelasan dan kebenaran informasi mengenai


posisi, luas, dan bentuk bidang tanah.
Dalam hal ini, fungsi sertipikat sebagai bukti
pendaftaran tanah pertama kali dan sebagai alat bukti
yang kuat dalam menjamin kepastian hak atas tanah
menjadi pegangan dalam proses rekonstruksi batas.
Dalam sertipikat tercantum letak, luas ,dan batas
bidang tanah yang apabila tanda batasnya hilang atau
berpindah maka perlu dilakukan rekonstruksi sehingga
menjadi keadaan seperti yang ada sebelumnya.
DOKUMEN DAN HASIL REKONSTRUKSI BATAS
Data-data yang diperlukan dalam kegiatan
pengembalian batas diantaranya :
1. Dari data ukur yang tercantum dalam Gambar
Ukur
2. Surat Ukur
3. Peta pendaftaran
4. Patok batas
5. Warkah
Produk
yang
dihasilkan
dari
kegiatan
rekonstruksi batas selain kesepakatan antara pemilik
tanah yang bersangkutan dengan pemilik tanah
berbatasan, juga dihasilkan antara lain :
1. Jika prioritasnya data ukur, maka hasilnya berita
acara, plot patok batas, tidak perlu diukur : GU
rekonstruksi
2. Jika prioritas surat ukur, maka hasilnya berita
acara, plot patok batas, tidak perlu diukur : GU
rekonstruksi
3. Jika prioritasnya
peta pendaftaran,maka
hasilnya berita acara, plot patok batas, tidak
perlu diukur : GU rekonstruksi
4. Jika prioritasnya patok batas, maka hasilnya
berita acara, plot patok batas, perlu diukur : GU
rekonstruksi

[135]

5. Jika prioritasnya warkah, maka hasilnya berita


acara, plot patok batas, perlu diukur : GU
rekonstruksi
PELAKSANAAN REKONSTRUKSI BATAS
Pelaksanaan kegiatan rekonstruksi batas dapat
dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Rekonstruksi secara tidak langsung,
Rekonstruksi secara tidak langsung adalah
rekonstruksi
yang
dilaksanakan
dengan
menggunakan data turunan yang didapat
dengan perhitungan-perhitungan dari data yang
tercantum di dokumen acuan.
Rekonstruksi ini biasanya dilakukan apabia
kondisi lapang tidak lagi sama dengan pada saat
pengukuran di awal ataupun alat yang
digunakan
tidak
sesuai
dengan
yang
dipergunakan sebelumnya, sehingga data yang
ada di dokumen lama perlu diolah untuk
memperoleh data ukuran yang diperlukan.
2. Rekonstruksi secara langsung,
Rekonstruksi langsung merupakan rekonstruksi
yang dilaksanakan dengan menggunakan data
asli yang tercantum dalam Gambar Ukur (DI 107
atau DI 107A) dan/atau arsip Surat Ukur,
dan/atau Peta Pendaftaran (digital) yang dibuat
dalam proses pendaftaran tanah sebelumnya,
dan/atau citra resolusi tinggi yang dapat
didigitasi untuk memperoleh data angka
ukurnya.
3. Rekonstruksi secara kombinasi (langsung dan
tidak langsung)
Jenis ini merupakan cara merekonstruksi batas
dengan mengambil kelebihan-kelebihan dari
rekonstruksi
secara
langsung
dan
tidak
[136]

langsung. Data-data yang diambil dari dari dua


jenis ini disatukan, sehingga didapatkan cara
merekonstruksi yang bagus dengan hasil yang
akurasi.
Berdasarkan metode pengukurannya, ada dua
jenis rekonstruksi yang dilakukan, yaitu:
1. Rekonstruksi secara terrestris
Rekonstruksi batas secara terrestris dilakukan
dengan menggunakan meteran/EDM, Theodolite/Total
Station. Metode ini biasanya dilakukan pada bidang
tanah yang sudah bersertipikat, yang patok tanda
batas bidang tanahnya hilang atau bergeser. Data
yang digunakan tetap mengacu pada data yang
tercantum dalam Gambar Ukur (DI 107 atau DI 107A),
atau arsip SU, atau Peta Pendaftaran yang diikatkan
pada titik tetap di lapangan.
Tahapan rekonstruksi secara terrestris adalah
sebagai berikut:
a. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
b. Sedapat mungkin data rekonstruksi batas
diambil dari data lama yang ada dengan
prioritas (1) Gambar Ukur; (2) Arsip Surat Ukur;
(3) Peta Pendaftaran.
c. Mencari titik ikat di lapangan yang digunakan
sebagai acuan pengukuran sebelumnya. Titik
ikat yang dimaksud dapat berupa : beberapa
patok tanda batas bidang itu sendiri yang masih
ada, patok tanda batas bidang tanah yang
bersebelahan, titik-titik tetap (misalnya: tiang
listrik, tiang telepon), dan Titik Dasar Teknik
yang ada di lapangan.
d. Menentukan jenis cara rekonstruksi batas yang
akan digunakan (metode langsung atau tidak
langsung atau metode gabungan).

[137]

e. Setelah persiapan selesai, dilanjutkan dengan


Setting-out
dimensi-dimensi
ukuran
data
rencana ke lapangan, dan dilanjutkan dengan
pemasangan patok batas pada titik hasil
rekonstruksi.
f. Dalam
pengadministrasian
hasil
kegiatan
rekonstruksi
batas,
dibuatkan
dokumendokumen seperti yang telah dijelaskan diatas.
g. Untuk sertipikat lama, pada aplikasi KKP akan
diminta untuk membuatkan NIB baru, dengan
Nomor SU/GS dan Nomor hak yang lama.
Namun
untuk
sertipikat
baru,
tetap
menggunakan NIB, Nomor hak, dan Nomor SU
yang ada.
2. Rekonstruksi secara ekstra-terrestris
Metode ini merupakan alternatif terakhir yang
dilaksanakan karena kondisi di lapangan telah
mengalami banyak perubahan, sehingga warga
masyarakat tidak bisa lagi mengenali batas-batas
bidang tanahnya misalnya karna bencana alam dan
tidak ada lagi dokumen-dokumen lama sebagai acuan,
serta lokasinya yang terletak jauh dari titik-titik tetap.
Untuk itulah kemudian dilakukan optimalisasi
dalam penggunaan citra satelit. Dalam pemanfaatan
citra satelit, diperlukan citra dengan resolusi spasial
yang tinggi, seperti IKONOS atau Quickbird yaitu
sebesar 0.82 m dan 0.61 m.
Tahapan rekonstruksi batas secara ekstraterrestris adalah sebagai berikut :
a. Lakukan rektifikasi terhadap citra yang ada
dengan minimal menggunakan empat sampai
enam titik koordinat yang tersebat merata,
sehingga diperoleh hasil yang akurat dan sesuai

[138]

b.
c.

d.

e.

dengan referensi sistem koordinat yang


dipergunakan.
Lakukan ground check untuk mencari titik-titik
tetap maupun obyek penting di lapangan
sebagai acuan pengikatan.
Dengan menggunakan Software AutoCAD MAP,
lakukan digitasi terhadap batas-batas bidang
tanah yang nampak pada citra yang telah
direktifikasi, untuk memperoleh koordinat sesuai
referensi yang digunakan.
Selanjutnya alat yang diperlukan di sini adalah
rover cors yang telah terhubung dengan Base di
Kantor Pertanahan terdekat dan jaringan
provider GSM yang memadai.
Masukkan data-data koordinat hasil digitasi ke
dalam rover cors. Dengan melakukan perintah
stake out yang ada pada rover cors, selanjutnya
dapat dilakukan pekerjaan rekonstruksi batas
atas bidang tanah yang dimaksud.

PERMASALAHAN
Pekerjaan rekonstruksi batas sering diidentikkan
dengan
suatu
permaslahan.
Fakta
dilapangan
mengatakan bahwa ketika ada suatu permohonan
rekonstruksi batas sudah dapat dipastikan akan ada
sengketa di dalamnya jika tidak diatasi dengan benar.
Kelalaian pemilik tanah yang bersangkutan
dalam menjaga patok batas bidang tanahnya
merupakan awal dari terjadinya hal tersebut. Setelah
pekerjaan pengukuran dan penetapan batas bidang
tanah pada pendaftaran tanah prtama kali selesai
dilakukan oleh BPN, pemiliklah yang bertanggung
jawab atas patok batas tersebut. Jika sudah terjadi hal
demikian, pemilik tidak dapat secara pribadi
memasang dan menentukan patok batas yang pernah
hilang.

[139]

Selanjutnya, dibutuhkan peran pemerintah


dalam hal ini BPN untuk mengembalikan patok batas
bidang tanah sesuai dengan data yang telah ada. Pada
tahapan
ini,
BPN
juga
dihadapkan
pada
permasalahannya tersendiri. Pengadministrasian arsiparsip pertanahan yang kurang bagus mengakibatakan
data pertanahan yang tidak lengkap. Ketika akan
dibutuhkan
data
dalam
pelaksanaan
kegiatan
rekonstruksi batas banyak GU yang tidak dapat
diketemukan. Adapun dalam penggambaran di dalam
GU tidak diikat pada ttik-titik tetap di sekitar bidang
tanah yang diukur. Selain itu, hasil ukur dilapangan
tidak dipetakan dalam peta pendaftaran. Akibatnya
dalam menentukan posisi dan lokasi bidang tanah
yang akan direkonstruksi menjadi terhambat.
Untuk itulah perlu dikuatkan kembali tertib
adminsitrasi pertanahan. Penataan kembali kembali
warkah-warkah dan dokumen-dokumen pertanahan
harus segera dilakukan, karena arsip-arsip di BPN
dapat dikatakan sebagai arsip hidup. Dalam era
digital saat ini, penulis memandang perlunya
digitalisasi arsip-arsip pertanahan,baik itu melalui
digitasi peta mupun scanning. Mengingat arsip-arsip
hardcopy yang dapat mengalami kerusakan ditelan
usia, jika pada saatnya nanti dibutuhkan, maka kantor
pertanahan masih dapat memanggil arsip-arsip
tersebut secara digital.

[140]