MEKANISME PERTAHANAN EGO TOKOH UTAMA NOVEL FRIDA KARYA BARBARA MUJICA

(KAJIAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD)

Oleh
MOCH. HENDY BAYU PRATAMA NIM 022144017

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS BAHASA DAN SENI JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 2006

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Sastra tidak lahir dari situasi kosong. Sastra diciptakan pengarang dengan merujuk pada kenyataan dan masyarakat (Pradopo, 2003:113). Di dalam suatu karya sastra menceritakan tentang masalah manusia, dan juga kemanusiaan. Lebih lanjut lagi, karya sastra, menurut Endraswara (2003:96), merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar (subconsious). Setelah jelas, baru dituangkan ke dalam bentuk secara sadar (conscious). Antara kesadaran dan ketidaksadaran, selalu mewarnai dalam proses imajinasi pengarang. Oleh karena itu, karya sastra tidak terlepas dari psikologi. Endraswara (2003:97) menyatakan bahwa psikologi dan sastra memiliki hubungan fungsional karena sama-sama untuk mempelajari keadaan kejiwaan orang lain, bedanya dalam psikologi gejala tersebut nyata, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif. Lebih lanjut lagi menurut Darma (2004:130), sastra langsung atau tidak, merupakan kepanjangan psikologi. Hal ini disebabkan masing-masing tokoh dalam sastra mempunyai kepentingan dan masalah. Adanya kepentingan dan adanya masalah inilah mereka saling berinteraksi, dari interaksi inilah pembaca (penikmat) dapat menyimak watak masing-masing tokoh. Apa yang dilakukan masing-masing tokoh, dipercakapan, dan dipikirkan, tidak lain adalah pencerminan jiwa masing-masing tokoh. Seperti yang dikemukakan oleh Wellek dan Austin (1990:90) dan Hardjana (1994:60) bahwa ada empat kajian sastra yang berhubungan dengan psikologi, yaitu (1) kajian mengenai psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi, (2) kajian tentang proses kreatif penciptaan sastra yang dilakukan pengarang, (3) kajian tentang ajaran dan hukum-hukum yang diterapkan pada karya sastra, dan (4) kajian tentang pengaruh atau dampak sastra pada pembaca. Lebih lanjut lagi, menurut Hardjana (1994:66) untuk membahas sastra dari sudut pandang psikologi, seorang peneliti dapat mengamati tingkah laku tokohtokoh tersebut sesuai dengan apa yang diketahuinya tentang jiwa manusia, maka

peneliti tersebut telah berhasil menggunakan teori-teori psikologi modern untuk menjelaskan dan menafsirkan sebuah karya sastra. Di Indonesia, kajian psikologi sastra perkembangannya lebih lambat daripada sosiologi sastra atau ilmu-ilmu lain. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain (1) psikologi sastra seolah-olah hanya berkaitan dengan manusia sebagai individu, kurang memberikan peranan terhadap subjek transindividual, sehingga analisis dianggap sempit, (2) dikaitkan dengan tradisi intelektual, teori-teori psikologi sangat terbatas, sehingga para sarjana sastra kurang memiliki pemahaman terhadap bidang psikologi sastra, (3) relevansi analisis psikologis kurang menarik minat khususnya di kalangan mahasiswa. Hal itu dapat dibuktikan dengan sedikitnya skripsi dan karya tulis yang memanfaatkan teori psikologi (Ratna, 2004:341). Sebagai ilmu yang mempelajari semua tingkah laku manusia, kaidah psikologi banyak diterapkan dalam karya sastra. Untuk itu, antara psikologi dan karya sastra memiliki hubungan yang erat. Menurut Ratna (2004:343) Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk memahami hubungan antara psikologi dengan sastra, yaitu (1) memahami unsur-unsur kejiwaan pengarang sebagai penulis, (2) memahami unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional dalam karya sastra, dan (3) memahami unsur-unsur kejiwaan pembaca. Teori psikologi yang digunakan di dalam penelitian ini adalah psikoanalisis Sigmund Freud. Hubungan antara sastra dengan psikoanalisis ini sangat erat. Milner (1992:31—33) menyatakan bahwa hubungan tersebut ada dua jenis, yaitu: (1) kesamaan antara hasrat-hasrat yang tersembunyi pada setiap manusia yang menyebabkan kahadiran karya sastra yang mampu menyentuh perasaan kita, karena karya sastra itu memberikan jalan keluar terhadap hasrat; (2) kesejajaran antara mimpi dan sastra, dalam hal ini ada hubungan antara elaborasi karya sastra dengan proses elaborasi mimpi, yang oleh Freud disebut “pekerjaan mimpi”. Baginya, mimpi seperti tulisan, yaitu sistem tanda yang menunjuk pada sesuatu yang berbeda dengan tanda-tanda itu sendiri. keadaan orang yang bermimpi adalah seperti penulis yang menyembunyikan pikiran-pikrannya.

Menurut Library Journal, novel Frida karya Barbara Mujica ini banyak memuat aspek historis dan psikologis. Semula, novel ini adalah sebuah film. Judul film tersebut sama dengan judul novel ini, yakni Frida. Film “Frida” tersebut, dibintangi oleh Salma Hayek dan mendapatkan penghargaan dalam Academy Award 2002 untuk kategori Best Score. Sosok Frida di dalam novel tersebut, ditampilkan oleh pengarang sebagai sosok yang sedemikian kompleks, eksentrik, dan dramatis. Menurut Indarti (2004:265), dunia wanita tidak saja menarik untuk diangkat dalam karya sastra, tetapi juga oleh ilmu-ilmu lain yang menggunakan wanita sebagai objeknya. Berdasarkan pernyataan di atas, peneliti menganalisis tokoh utama, yakni Frida, sebagai objek penelitian. Frida Kahlo, di dalam novel tersebut, adalah seorang wanita yang memiliki berbagai masalah kehidupan baik fisik maupun psikis, seperti pada usia tujuh tahun dia menderita polio yang membuat kaki kanannya pincang, dan pada usia dewasa dia mengalami kecelakaan, sehingga tulang belakang dan kaki kanannya harus diamputasi. Adapun derita psikis terbesar yang dialami oleh Frida KahIo ini ketika ia menikah dengan Diego Rivera. Suami sekaligus mentornya ini mempunyai kebiasaan buruk, yakni suka tidur dengan semua perempuan atau dengan kata lain, ia termasuk Satyromania. Satyromania ialah keinginan seks yang tidak kunjung puas, patologis, dan luar biasa besarnya pada seorang pria, biasanya disebut pula sebagai hyperseksualitas pria (Kartono, 1989:243). Frida mengalami kehancuran psikis pada puncaknya, ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dengan adiknya sendiri, yakni Cristina. Hal ini yang membuat hampir semua lukisan Frida mengambarkan derita fisik dan luka hatinya (Syafiq, 2004:12). Bertolak dari fenomena kontribusi kajian psikologi dalam sastra, maka peneliti mengkaji novel Frida karya Barbara Mujica, dengan menggunakan kajian psikoanalisis, terutama dinamika kepribadian Sigmund Freud. Alasan dipilihnya novel Frida karya Barbara Mujica sebagai bahan kajian, antara lain, (1) novel Frida karya Barbara Mujica sebelumnya pernah difilmkan dan mendapat penghargaan dalam Academy Award 2002 untuk kategori best score, (2) Kirkus, seorang pengamat bahasa dan sastra, mengatakan bahwa novel ini adalah buku

fiksi terbaik: kaya, menggetarkan, dan mampu menyelami suasana psikologis tokoh-tokohnya, lebih lanjut lagi Library Journal menyatakan bahwa novel tersebut disusun dengan sangat cerdas yang banyak memuat wawasan historis dan psikologis. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, maka peneliti menggunakan pendekatan psikologis untuk mengkaji novel tersebut, (3) sejauh sepengetahuan peneliti, belum ada penelitian yang memakai psikoanalisis untuk mengkaji novel Frida karya Barbara Mujica. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, pembahasan penelitian ini dibatasi pada mekanisme pertahanan ego. Adapun alasan peneliti mengkaji mekanisme pertahanan ego pada tokoh utama menjadi fokus penelitian, antara lain, (1) mekanisme pertahanan ego pada tokoh utama tersebut muncul secara dominan dalam novel Frida karya Barbara Mujica, (2) mekanisme pertahanan ego termasuk salah satu sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek psikoanalisis Sigmund Freud (Corey, 2003:13). Maka, secara rinci rumusan masalah terpilah menjadi sembilan, antara lain: (1) bagaimana mekanisme pertahanan ego represi tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica? (2) bagaimana mekanisme pertahanan ego sublimasi tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica? (3) bagaimana mekanisme pertahanan ego proyeksi tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica? (4) bagaimana mekanisme pertahanan ego displacement tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica? (5) bagaimana mekanisme pertahanan ego rasionalisasi tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica? (6) bagaimana mekanisme pertahanan ego reaksi formasi tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica? (7) bagaimana mekanisme pertahanan ego melakonkan tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica?

(8) bagaimana mekanisme pertahanan ego nomadisme tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica? (9) bagaimana mekanisme pertahanan ego simpatisme tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica? 1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) mendeskripsikan mekanisme pertahanan ego represi tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica. (2) mendeskripsikan mekanisme pertahanan ego sublimasi tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica. (3) mendeskripsikan mekanisme pertahanan ego proyeksi tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica. (4) mendeskripsikan mekanisme pertahanan ego displacement tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica. (5) mendeskripsikan mekanisme pertahanan ego rasionalisasi tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica. (6) mendeskripsikan mekanisme pertahanan ego reaksi formasi tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica. (7) mendeskripsikan mekanisme pertahanan ego melakonkan tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica. (8) mendeskripsikan mekanisme pertahanan ego nomadisme tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica. (9) mendeskripsikan mekanisme pertahanan ego simpatisme tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoretis Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan teori sastra, khususnya teori psikologi yang dikembangkan oleh

Sigmund Freud, yakni psikoanalisis. Dalam hal ini, sumbangan pada psikoanalisis dikhususkan pada konsep mekanisme pertahanan ego. 1.4.2 Manfaat Praktis Secara praktis, manfaat dalam penelitian ini, antara lain. (1) Bagi guru Bahasa dan Sastra Indonesia, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan tambahan mengenai kajian sastra, khususnya psikologi sastra. (2) Bagi peneliti sastra, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan bandingan. (3) Bagi mahasiswa pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai literatur penambah wawasan dalam bersastra.

BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Penelitian sebelumnya Menurut sepengetahuan peneliti, pada tingkat fakultas, pengkajian terhadap novel Frida karya Barbara Mujica ini belum ada. Namun, peneliti yang menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud ada tujuh orang. Berikut gambaran beberapa peneliti yang menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud untuk mengkaji sebuah novel atau kumpulan cerpen:
No 1 Peneliti Darwati (98210031) Judul Mekanisme Pertahanan Ego Tokoh dalam Kumpulan Cerpen Enam Mimpi karya Chiung Yao (Kajian 2 Andik Satriya P. (99210036) Psikoanalisis). Dinamika Kepribadian Tokoh Utama dalam Novel Melanie karya V. Lestari (Tinjauan Psikologis). 3 Rahmani R. N. (99210002) Kecemasan Tokoh Utama Firdaus dalam Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi (Kajian 4 Irene Dwi Mayasari (012144213) Psikoanasis) Tokoh Utama Mandar dalam Novel Cinta Seorang Psikopat 2005 Skripsi 2004 Skripsi 2003 Skripsi Mendeskripsikan naluri, penyaluran dan penggunaan energi psikis, kecemasan, dan mekanisme pertahanan ego tokoh utama dalam novel Melanie karya V. Lestari. Mendeskripsikan kecemasan riel, neurotik, dan moral pada tokoh Firdaus dalam Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El- Saadawi. Mendeskripsikan kepribadian psikopat dan dampak kepribadian psikopat pada tokoh Tahun 2002 Kategori Skripsi Inti Bahasan Mendeskripsikan represi, proyeksi, pembentukan reaksi, proses fiksasi dan regresi dalam kumpulan cerpen Enam Mimpi karya Chiung Yao.

karya V. Lestari (Kajian 5 Tutik Rahmawati. (00216413) Psikoanalisis) Novel Imipramine karya Nova Riyanti Yusuf (Kajian Psikoanalisis 6 Ellysa Rubiyanti (012144201) Sigmund Freud) Mimpi dan Dampak Mimpi bagi Tokoh Maya Amanita dalam Novel Cala Ibi 7 Anis Choirun Niswah (98210057) karya Nukila Amal Analisis Mimpi dan Realita Tokoh Aston dalam Novel Pol karya Putu Wijaya (Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud) 2003 Skripsi 2005 Skripsi 2005 Skripsi

utama Mandar dalam novel Cinta Seorang Psikopat karya V. Lestari. Mendeskripsikan id, ego dan super ego tokoh utama dalam novel Imipramine karya Nova Riyanti Yusuf. Mendeskripsikan pola mimpi dan dampak mimp tokoh Maya Amanita dalam novel Cala Ibi karya Nukila Amal Mendeskripsikan pola mimpi, pola realita dari mimpi dan hubungan kuat dan realita tokoh Aston dalam novel Pol karya Putu WIjaya

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Darwati. Penelitian ini berbentuk skripsi. Dalam penelitiannya, ia mengkaji kumpulan cerpen Enam Mimpi karya Chiung Yao, dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud, yakni mekanisme pertahanan ego. Dalam penelitian tersebut, Darwati (2002:91—94) menyimpulkan bahwa ego dalam tokoh yang ada pada kumpulan cerpen Enam Mimpi karya Chiung Yao tidak dapat menanggulangi kecemasan dengan cara-cara rasional. Sehingga dari hal tersebut akan kembali pada cara-cara yang realistik yang diistilahkan sebagaimana mekanisme pertahanan ego. Berangkat dari anggapan tersebut, peneliti menganalisis mekanisme pertahanan ego dalam perkembangan kehidupan yang tercermin oleh tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen Enam Mimpi karya Chiung Yao. Adapun mekanisme pertahanan ego yang digunakan adalah bentuk penekanan atau Represi, proyeksi, pembentukan reaksi, fiksasi dan regresi.

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Andik Satriya Penelitian ini berbentuk skripsi. Dalam penelitiannya, ia mengkaji novel Melanie karya V. Lestari, dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud, yakni dinamika kepribadian. Dalam penelitian tersebut, Satriya (2003:73—74) menyimpulkan bahwa di dalam novel Melanie karya V. Lestari mengandung unsur-unsur pskologi kepribadian yang diiktisarkan dalam rangka struktur, dinamika, dan perkembangan kepribadian. Dinamika kepribadian tokoh utama dalam novel Melanie karya V. Lestari, merupakan gerak atau kekuatan yang tercermin pada sikap atau tingkah laku tokoh utama yang membedakan dengan tokoh lain. Melalui dinamika kepribadian, memberikan ciri tersendiri bagi tokoh utama. Ciri ini melekat pada tokoh utama. Ciri ini melekat pada tokoh utama yang berupa sikap-sikap, sifat-sifat, dan nilai-nilai yang khas. Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Rahmani Penelitian ini berbentuk skripsi. Dalam penelitiannya, ia mengkaji novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi, dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud, yakni kecemasan. Dalam penelitian tersebut, Rahmani (2004:74—75) menyimpulkan bahwa bentuk kecemasan realitas Firdaus terlihat kebenciannya pada kemiskinan. Proses kecemasan neurosis muncul karena ia tidak mampu mereduksi keinginan-keinginan naluri-naluri yang ada pada dirinya, yakni ekonominya. Adapun kecemasan moral pada tokoh Firdaus diperlihatkan secara langsung. Rasa bersalah yang telah mengendap sekian lama diikuti dengan rasa benci yang makin memuncak dan tak tertahankan, yang akhirnya terjadi pembunuhan. Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Irene Dwi Mayasari. Penelitian ini berbentuk skripsi. Dalam penelitiannya, ia mengkaji novel Cinta Seorang Psikopat karya V. Lestari, dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud, yakni kepribadian seorang psikopat. Dalam penelitian tersebut, Mayasari (2005:49—51) menyimpulkan bahwa kepribadian psikopat tokoh utama Mandar dalam novel Cinta Seorang Psikopat karya V. Lestari dikarenakan adanya pengalaman masa lalu, dimana Mandar menganggap pengalaman tersebut merupakan peristiwa yang patut ditiru. Kepribadian psikopat Mandar dicerminkan

dengan adanya tingkah laku dan relasi sosial yang selalu asosial, tanpa perasaan, emosinya tidak matang, tidak bertanggung jawab, serta sering dicirikan dengan penyimpangan seksualitas. Dampak kepribadian psikopat tokoh utama Mandar berada pada kondisi dikucilkan masyarakat, karena Mandar dianggap manusia jahat dan tidak waras. Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Tutik Rahmawati. Penelitian ini berbentuk skripsi. Dalam penelitiannya, ia mengkaji novel Imipramine karya Nova Riyanti Yusuf dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud, yakni struktur kepribadian (id, ego, dan superego). Dalam penelitian tersebut, Rahmawati (2005:48—49) menyimpulkan novel Imipramine karya Nova Riyanti Yusuf ini menyuguhkan masalah yang sangat kompleks. Berbagai kemelut batin dalam tiap-tiap tokohnya, yang disuguhkan pengarang Nova Riyanti Yusuf pada novelnya, yaitu gejolak batin sampai pada titik sebuah konflik. Keenam, penelitian yang dilakukan oleh Ellysa Rubiyanti. Penelitian ini berbentuk skripsi. Dalam penelitiannya, ia mengkaji novel Cala Ibi karya Nukila Amal dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud, yakni analisis mimpi. Dalam penelitian tersebut, Rubiyanti (2005:52) menyimpulkan dalam analisisnya tentunya tidak bisa dilepaskan dari pola mimpi tokoh Maya Amanita sendiri, yang didalamnya berkaitan dengan hubungan antara alam sadar dengan mimpi tokoh Maya Amanita, keterkaitan simbol dan mimpi tokoh Maya Amanita, dan keterkaitan mimpi tokoh Maya Amanita dengan id, ego, dan superego. Namun, tentunya mimpi-mimpi yang dialami Maya Amanita tersebut berdampak bagi dirinya. Ketujuh, penelitian yang dilakukan oleh Anis Choirun Niswah. Penelitian ini berbentuk skripsi. Dalam penelitiannya, ia mengkaji novel Pol karya Putu Wijaya dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud, yakni analisis mimpi. Dalam penelitian tersebut, Niswah (2003:66—68) menyimpulkan bahwa antara mimpi dan realita tokoh Aston dalam novel Pol karya Putu Wijaya, mempuyai hubungan satu dengan yang lainnya. Dari hubungan mimpi dan realita tersebut, tercipta dampak psikis yang bukan hanya dialami oleh tokoh Aston dan dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat sekelilingnya. Dampak

psikis tersebut terlihat dari rangkaian perjalanan yang melatarbelakangi dan sedang dihadapi oleh tokoh Aston serta bagaimaan tokoh tersebut menyikapinya. Berdasarkan uraian-uraian singkat penelitian tentang kajian psikoanalisis, hal tersebut sangat berguna bagi penulis, karena dengan adanya penelitianpenelitian tersebut, peneliti dapat mengetahui lebih dalam seluk-beluk tentang teori psikoanalisis Sigmund Freud. 2.2 Tokoh Utama Dalam karya sastra, terdapat tokoh yang menjadi pusat cerita, tokoh inilah yang disebut tokoh utama. Nurgiyantoro (1995:177) menyatakan bahwa tokoh utama adalah tokoh yang paling banyak diceritakan sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian. Adapun Aminudin (1990:80) menyatakan bahwa tokoh utama adalah tokoh yang paling banyak diberi komentar, dan dibicarakan oleh pengarangnya. Adapun menurut Najid (2003:23), rumusan tokoh utama dapat ditinjau melalui tiga segmen, antara lain: (1) frekuensi muncul, tokoh utama umumnya sering atau bahkan selalu muncul dalam setiap episode, sedangkan tokoh bawahan, sedikit sekali kemunculannya; (2) komentar pengarang, tokoh utama adalah tokoh yang sering dikomentari dan dibicarakan oleh pengarang cerita, sedangkan tokoh tambahan dikomentari atau dibicarakan hanya sekadarnya saja; dan (3) judul cerita, tokoh utama biasanya dijadikan sebagai judul cerita. Berdasarkan paparan diatas, mengenai tokoh utama, maka yang digunakan sebagai acuan pada penelitian ini yaitu rumusan tokoh utama yang ditulis oleh Najid. Alasan digunakannya tulisan Najid mengenai tokoh utama, yakni: paparan mengenai tokoh utama yang diungkapkan oleh Najid lebih mengena, paparan yang diungkapkan Najid mengenai tokoh utama lebih lengkap dibanding dengan paparan mengenai tokoh utama yang diungkapkan oleh para praktisi sastra yang lain. 2.3 Teori Psikoanalisis Sigmund Freud

Teori psikologi yang paling banyak diacu dalam pendekatan psikologi atau yang paling dominan dalam analisis karya sastra adalah teori Psikoanalisis Sigmund Freud (Ratna, 2004:62 dan 344). Menurut Freud (2002:3), psikoanalisis ialah sebuah metode perawatan medis bagi orang-orang yang menderita gangguan syaraf. Psikoanalisis merupakan suatu jenis terapi yang bertujuan untuk mengobati seseorang yang mengalami penyimpangan mental dan syaraf. Lebih lanjut lagi, menurut Fudyartanta (2005:17) psikoanalisis merupakan psikologi ketidak-sadaran, perhatian-perhatiannya tertuju ke arah bidang-bidang motivasi, emosi, konflik, simpton-simpton neurotik, mimpi-mimpi, dan sifat-sifat karakter. Psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud ketika ia menangani neurosis dan masalah mental lainnya. Menurut Corey (2003:13), sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek psikoanalitik mencakup: (1) Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada peredaan penderitaan manusia. (2) Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar. (3) Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa. (4) Teori psikoanalitik menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan. (5) Pendekatan psikoanalitik telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi Dalam teori psikoanalisis yang dipakainya, kepribadian dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur dan sistem, yakni Id (Das Es), Ego (Das Ich), dan Superego (Das Uber Ich) (Koeswara, 1991:32; Poduska, 2000:78). Ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk totalitas dan tingkah laku manusia yang tak lain merupakan produk interaksi

ketiganya. Id adalah komponen biologis, ego adalah komponen psikologis, sedangkan superego merupakan komponen sosial (Corey, 2003:14). Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai ketiga sistem kepribadian menurut teori psikoanalisis Sigmund Freud. 2.3.1 Id Id adalah sistem kepribadian yang asli atau sistem kepribadian yang paling dasar, sistem yang di dalamnya terdapat naluri bawaan (Koeswara, 1991:32). Adapun menurut Palmquist (2005:105), id ialah bagian bawah sadar psikis yang berusaha memenuhi dorongan naluriah dasar. Lebih lanjut lagi menurut Corey (2003:14), id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, mendesak, dan bersifat tidak sadar. Id hanya timbul oleh kesenangan tanpa disadari oleh nilai, etika, dan akhlak. Dengan beroperasi pada prinsip kesenangan ini, id merupakan sumber semua energi psikis, yakni libido, dan pada dasarnya bersifat seksual. Id adalah aspek biologis dan merupakan sistem original dalam kepribadian dan dari aspek ini kedua aspek lain tumbuh. Id hanya memburu hawa nafsunya saja tanpa menilai hal tersebut baik atau buruk. Ia merupakan bagian ketidaksadaran yang primitif di dalam pikiran, yang terlahir bersama individu (Berry, 2001:75). Id bekerja sejalan dengan prinsip-prinsip kenikmatan, yang bisa dipahami sebagai dorongan untuk selalu memenuhi kebutuhan dengan serta merta. Fungsi satu-satunya id adalah untuk mengusahakan segera tersalurnya kumpulankumpulan energi atau ketegangan yang dicurahkan dalam jasadnya oleh rangsangan-rangsangan, baik dari dalam maupun dari luar. Ia bertugas menerjemahkan kebutuhan satu organisme menjadi daya-daya motivasional, yang dengan kata lain disebut dengan insting atau nafsu. Freud juga menyebutnya dengan kebutuhan. Penerjemahan dari kebutuhan menjadi keinginan ini disebut dengan proses primer (Boeree, 2005:38).

2.3.2 Ego Ego berbeda dengan Id. Ego ialah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan (Koeswara 1991:33—34). Adapun menurut Ahmadi (1992:152), ego tampak sebagai pikiran dan pertimbangan. Ego bertindak sebagai lawan dari Id. Ego timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan. Ego memiliki kontak dengan dunia eksternal dari kenyataan. Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur (Corey, 2003:14). Ego merupakan tempat berasalnya kesadaran, biarpun tak semua fungsinya bisa dibawa keluar dengan sadar (Berry, 2001:76). Ego merupakan aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Ego dapat membedakan sesuatu yang hanya ada di dalam dunia batin dan sesuatu yang ada di dunia luar. Peran utama ego adalah menjadi jembatan antara kebutuhan insting dengan keadaan lingkungan, demi kepentingan adanya organisme. Menurut Bertens (2002:71) tugas ego adalah untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan alam sekitar. Ego juga mengontrol apa yang mau masuk kesadaran dan apa yang akan dikerjakannya. Ego menghubungkan organisme dengan realitas dunia melalui alam sadar yang dia tempati, dan dia mencari objek-objek untuk memuaskan keinginan dan nafsu yang dimunculkan id untuk merepresentasikan apa yang dibutuhkan organisme. Proses penyelesaian ini disebut dengan proses sekunder (Boeree, 2005:39). 2.3.3 Superego Superego ialah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturanaturan yang sifatnya evaluatif (Koeswara, 1991:34—35). Ia bertindak sebagai pengarah atau hakim bagi egonya. Menurut Kartono (1996:129) superego adalah zat yang paling tinggi pada diri manusia, yang memberikan garis-garis pengarahan ethis dan norma-norma yang harus dianut. Superego lebih merupakan

kesempurnaan daripada kesenangan, karena itu dapat dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Adapun superego menurut Palmquist (2004:103), adalah bagian dari jiwa manusia yang dihasilkan dalam menanggapi pengaruh orangtua, guru, dan figurfigur otoritas lainnya pada masa anak-anak. Inilah gudang psiki bagi semua pandangan tentang yang benar dan yang salah. Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego merepresentasikan hal yang ideal, dan mendorongnya bukan kepada kesenangan, melainkan kepada kesempurnaan. Superego berkaitan dengan imbalan-imbalan dan hukuman-hukuman. Imbalan-imbalannya adalah perasaan-perasaan bangga dan mencintai diri, sedangkan hukuman-hukumannya adalah perasaan-perasaan berdosa dan rendah diri (Corey, 2003:15). Lebih lanjut lagi, Menurut Hall dan Gardner (1993:67—68) Fungsi utama dari superego antara lain (1) sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impulsimpuls naluri id agar impuls-impuls tersebut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat; (2) mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral ketimbang dengan kenyataan; dan (3) mendorong individu kepada kesempurnaan. Superego senantiasa memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang berbeda ke alam bawah sadar. Superego, bersama dengan id, berada di alam bawah sadar. Jadi superego cenderung untuk menentang, baik ego maupun id, dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal. Ketiga aspek tersebut meski memiliki karakteristik sendiri dalam prakteknya, namun ketiganya selalu berinteraksi secara dinamis. 2.4 Mekanisme Pertahanan Ego Mekanisme pertahahan ego termasuk dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud. Timbulnya mekanisme pertahanan ego tersebut, karena adanya kecemasankecemasan yang dirasakan individu. Maka, mekanisme pertahanan ego terkait dengan kecemasan individu. Adapun definisi kecemasan ialah perasaan terjepit

atau terancam, ketika terjadi konflik yang menguasai ego (Boeree, 2005:42). Kecemasan-kecemasan ini ditimbulkan oleh ketegangan yang datang dari luar. Sigmund Freud (dalam Koeswara, 1991:46) sendiri mengartikan mekanisme pertahanan ego sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorongan id maupun untuk menghadapi tekanan superego atas ego, dengan tujuan agar kecemasan bisa dikurangi atau diredakan. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego itu tidak selalu patologis, dan bisa memiliki nilai penyesuaian jika tidak menjadi suatu gaya hidup untuk menghindari kenyataan. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego yang digunakan oleh individu bergantung pada taraf perkembangan dan derajat kecemasan yang dialaminya (Corey, 2003:18). Lebih lanjut lagi, semua mekanisme pertahanan ego memiliki dua ciri umum, yakni (1) mereka menyangkal, memalsukan atau mendistorsikan kenyataan, dan (2) mereka bekerja secara tidak sadar sehingga orangnya tidak tahu apa yang terjadi (Hall & Gardner, 1993:86). Menurut Freud, sebenarnya ada bermacam bentuk mekanisme pertahanan ego yang umum dijumpai, tetapi peneliti hanya mengambil sembilan macam saja, yakni: (1) represi, (2) sublimasi, (3) proyeksi, (4) displacement, (5) rasionalisasi, (6) pembentukan reaksi atau reaksi formasi, (7) melakonkan, (8) nomadisme, dan (9) simpatisme. Alasan peneliti menggunakan sembilan macam bentuk mekanisme pertahanan ego tersebut, karena kesembilan mekanisme pertahanan ego itulah yang timbul pada tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica, Beberapa macam mekanisme pertahanan ego yang digunakan dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut. 2.4.1 Represi Represi merupakan mekanisme pertahanan yang paling umum dan merupakan dasar bagi banyak teori Freud (Berry, 2001:79; Hall & Gardner, 1993:87). Menurut Freud (2003:166), represi ialah sebentuk upaya pembuangan setiap bentuk impuls, ingatan, atau pengalaman yang menyakitkan atau memalukan dan menimbulkan kecemasan tingkat tinggi. Adapun menurut

Koeswara (1991:46), represi ialah mekanisme yang dilakukan oleh ego untuk meredakan kecemasan dengan jalan menekan dorongan-dorongan atau keinginankeinginan yang menjadi penyebab kecemasan tersebut kedalam alam tak sadar. Lebih lanjut lagi, menurut Poduska (2000:122), represi ialah suatu pertahanan dengan mana anda secara otomatis mengubur pikiran-pikiran atau keinginan yang tak dapat diterima dalam ketaksadaran anda. Kecemasankecemasan tersebut dikubur ke alam bawah sadar seseorang. Sedangkan menurut Corey (2003:19—20) represi merupakan isi kesadaran yang traumatis atau bisa membangkitkan kecemasan, mendorong kenyataan yang tidak bisa diterima kepada ketaksadaran, atau menjadi tidak menyadari hal-hal yang menyakitkan. Mekanisme pertahanan ego ini sangat berbahaya. Apabila otak bawah sadar mereka tidak mampu menampung lagi, maka kecemasan-kecemasan tersebut akan timbul ke permukaan dalam bentuk reaksi emosi yang berlebihan. 2.4.2 Sublimasi Menurut Freud (2003:166), sublimasi ialah suatu proses bawah sadar dimana libido ditunjukkan atau diubah arahnya ke dalam bentuk penyaluran yang lebih dapat diterima. Adapun menurut Koeswara (1991:46—47), sublimasi ialah mekanisme pertahanan ego yang ditujukan untuk mencegah dan atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitif Id yang menjadi penyebab kecemasan ke dalam bentuk (tingkah laku) yang bisa diterima oleh masyarakat. Lebih lanjut lagi, menurut Corey (2003:19) sublimasi ialah suatu mekanisme pertahanan ego yang menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara sosial lebih dapat diterima bagi dorongan-dorongannya. Sedangkan menurut Poduska (2000:120) sublimasi suatu mekanisme pertahanan ego yang melepaskan unek-unek perasaan, terutama yang bersifat seksual dalam suatu cara yang tidak bersifat seksual. Sublimasi selalu mengubah berbagai rangsangan yang tidak diterima, apakah itu dalam bentuk seks, kemarahan, ketakutan atau bentuk lainnya, ke dalam bentuk-bentuk yang bisa diterima secara sosial (Boeree,

2005:54). Mekanisme pertahanan ego seperti ini sangat bermanfaat, karena tidak ada pihak yang merasa dirugikan, baik individu itu sendiri ataupun orang lain. 2.4.3 Proyeksi Menurut Koeswara (1991:47), proyeksi ialah suatu mekanisme pertahanan ego yang mengalihkan dorongan, sikap, atau tingkah laku yang menimbulkan kecemasan kepada orang lain. Adapun menurut Berry (2001:80), proyeksi ialah suatu mekanisme yang menimpakan kesalahan dan dorongan tabu kepada orang lain. Lebih lanjut lagi, menurut Poduska (2000:121) proyeksi ialah suatu mekanisme pertahanan dengan mana anda mempertahankan diri dari pikiranpikiran dan keinginan-keinginan yang tak dapat diterima, dengan menyatakan hal tersebut kepada orang lain. Mekanisme pertahanan ego proyeksi ini selalu mengalamatkan sifat-sifat tertentu yang tidak bisa diterima oleh ego kepada orang lain (Corey, 2003:18). Mekanisme pertahanan ego ini meliputi kecenderungan untuk melihat hasrat anda yang tidak bisa diterima oleh orang lain. Proyeksi sering kali melayani tujuan rangkap. Ia mereduksikan kecemasan dengan cara menggantikan suatu bahaya besar dengan bahaya yang lebih ringan, dan memungkinkan orang yang melakukan proyeksi mengungkapkan impulsimpulsnya dengan berkedok mempertahankan diri dari musuh-musuhnya (Hall & Gardner, 1993:88). Mekanisme pertahanan ego ini merupakan kebalikan dari melawan diri sendiri (Boeree, 2005:49). Individu yang secara tidak sadar melakukan mekanisme pertahanan ego seperti ini, biasanya berbicara sebaliknya atau pengkambinghitaman kepada orang atau kelompok lain. 2.4.4 Displacement Menurut Koeswara (1991:47), displacement ialah pengungkapan dorongan yang menimbulkan kecemasan kepada objek atau individu yang kurang berbahaya atau kurang mengancam dibandingkan dengan objek atau individu yang semula. Adapun menurut Corey (2003:19) displacement adalah suatu mekanisme

pertahanan ego yang mengarahkan energi kepada objek atau orang lain apabila objek asal atau orang yang sesungguhnya, tidak bisa dijangkau. Lebih lanjut lagi, menurut Poduska (2000:119) displacement ialah mekanisme pertahanan ego dengan mana anda melepaskan gerak-gerik emosi yang asli, dan sumber pemindahan ini dianggap sebagai suatu target yang aman. Mekanisme pertahanan ego ini, melimpahkan kecemasan yang menimpa seseorang kepada orang lain yang lebih rendah kedudukannya. 2.4.5 Rasionalisasi Menurut Poduska (2000:116) rasionalisasi ialah suatu mekanisme pertahanan dengan mana anda berusaha untuk membenarkan tindakan-tindakan anda terhadap anda sendiri ataupun orang lain. Adapun menurut Koeswara (1991:47—48), rasionalisasi ialah menyelewengkan atau memutarbalikkan kenyataan yang mengancam ego, melalui dalih atau alasan tertentu yang seakanakan masuk akal, sehingga kenyataan tersebut tidak lagi mengancam ego individu yang bersangkutan. Lebih lanjut lagi, menurut Berry (2001:82), rasionalisasi ialah mencari pembenaran atau alasan bagi prilakunya, sehingga manjadi lebih bisa diterima oleh ego daripada alasan yang sebenarnya. Sedangkan menurut Boeree (2005:53) rasionalisasi ialah pendistorsian kognitif terhadap “kenyataan” dengan tujuan kenyataan tersebut tidak lagi memberi kesan menakutkan. Rasionalisasi selalu menciptakan alasan-alasan yang “baik” guna menghindarkan ego dari cedera, atau memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu menyakitkan (Corey, 2003:19). Seseorang yang melakukan mekanisme pertahanan ego seperti ini, akan membuat informasiinformasi palsu atau dibuat-buat sendiri. 2.4.6 Pembentukan Reaksi atau Reaksi Formasi Menurut Hall dan Gardner (1993:88) pembentukan reaksi atau reaksi formasi ialah suatu mekanisme pertahanan ego yang mengantikan suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan lawan atau kebalikannya

dalam kesadarannya. Adapun menurut Koeswara (1991:48) ialah mekanisme pertahanan ego yang mengendalikan dorongan-dorongan primitif agar tidak muncul sambil secara sadar mengungkapkan tingkah laku sebaliknya. Lebih lanjut lagi menurut Corey (2003:20) reaksi formasi ialah mekanisme pertahanan ego yang melakukan tindakan berlawanan dengan hasrat-hasrat tak sadar. Jika perasaan-perasaan yang awal dapat menimbulkan ancaman, maka seseorang menampilkan tingkah laku yang berlawanan guna menyangkal perasaan-perasaan yang bisa menimbulkan ancaman itu. Reaksi formasi ini melakukan kebalikan dari ketaksadaran, pikiran, dan keinginan-keinginan yang tidak dapat diterima (Poduska, 2000:121). Reaksi formasi ini melakukan perbuatan yang sebaliknya, apabila perbuatan yang pertama itu, bisa menimbulkan kecemasan yang mengancam dirinya. 2.4.7 Melakonkan Menurut Poduska (2000:122), melakonkan ialah suatu mekanisme pertahanan ego yang untuk meredakan atau menghilangkan kecemasan tersebut, dengan cara membiarkan ekspresinya keluar. Melakonkan merupakan kebalikan dari represi yang menekan dorongan-dorongan atau keinginan-keinginan yang menjadi penyebab kecemasan tersebut ke dalam alam tak sadar. Mekanisme pertahanan ego ini membiarkan ekspresinya mengalir apa adanya. Tidak ada bentuk penahanan atau penutupan atas kecemasan yang diterimanya. 2.4.8 Nomadisme Menurut Poduska (2000:116), nomadisme ialah suatu mekanisme pertahanan ego, yang untuk meredakan atau menghilangkan kecemasan tersebut, dengan cara berusaha lepas dari kenyataan. Dalam menggunakan mekanisme pertahanan ego seperti ini, dia berusaha mengurangi kecemasan dengan memindahkan diri sendiri (secara fisik) dari ancaman. Dia berusaha sesering mungkin atau tidak sama sekali berhadapan dengan individu atau objek yang akan menimbulkan kecemasan.

2.4.9 Simpatisme Menurut Poduska (2000:117), simpatisme ialah suatu mekanisme pertahanan ego, yang untuk meredakan atau menghilangkan kecemasan tersebut, dengan cara mencari sokongan emosi atau nasihat dari orang lain. Seseorang yang melakukan mekanisme pertahanan ego seperti ini akan mencari teman dekatnya untuk membicarakan masalah-masalah atau kecemasan yang telah diterimanya. Dia berusaha mendapatkan kata-kata yang bisa membangkitkan gairah untuk menghadapinya.

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Data dan Sumber Data Sumber data penelitian ini adalah novel Frida karya Barbara Mujica. Semula, novel ini dua tahun lalu difilmkan dengan judul sama yakni “Frida” dan mendapatkan penghargaan dalam Academy Award 2002 untuk kategori Best Score. Novel ini berukuran 17 x 11 Cm, terdiri atas 774 + xxviii halaman dan merupakan cetakan pertama penerbit Bentang. Pada sampul depan novel ini menampilkan sosok Salma Hayek yang ketika itu berperan sebagai Frida. Pada bagian kiri atas novel tersebut tertulis nama pengarang, Barbara Mujica. Dibawahnya terdapat nama judul novel tersebut, yakni Frida. Pada bagian bawah sebelah kiri terdapat tanggapan seseorang atas novel ini, yakni Kirkus. Pada penelitian ini data yang digunakan berupa (1) kalimat, dan (2) penggalan alinea yang terdapat dalam novel Frida karya Barbara Mujica. 3.2 Pendekatan Penelitian Penelitian tentang mekanisme pertahanan ego pada tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif ialah penelitian yang bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, atau gejala yang terjadi atau yang nyata (Jabrohim, 2001:23). Penelitian ini mendeskripsikan tingkah laku tokoh utama yang terdapat di dalam novel Frida karya Barbara Mujica, di saat dia merasakan kecemasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekstrinsik yang menggunakan Propotional Knowledge. Menurut Satoto (1986:131), pendekatan ekstrinsik ini lebih menitikberatkan pada konteksnya daripada teksnya. Konteks sastra ini terdapat di luar teks sastranya. Dalam pendekatan ekstrinsik, Rene Wellek (dalam Satoto, 1986:131—132) menghubungkan sastra dengan hal-hal di luar sastra, seperti (1) sastra dan biografi, (2) sastra dan psikologi, (3) sastra dan sosial (masyarakat), (4) sastra dan idea-idea, (5) sastra dan cabang-cabang seni yang lain. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, maka pendekatan penelitian ini

merupakan pendekatan ekstrinsik yang menghubungkan sastra dan psikologi, terutama psikoanalisis Sigmund Freud. Adapun Propotional Knowledge, ialah teori formal yang didasarkan dari teori yang dipakai para ahli dan merupakan penelitian yang datang dari intuisi (Djojosuroto, 2001:138). Propotional Knowledge membutuhkan suatu teori yang digunakan sebagai acuan untuk melakukan sebuah penelitian. Teori-teori yang digunakan untuk melakukan penelitian ini berasal dari para ahli di bidangnya. Adapun teori yang dipakai di dalam penelitian ini adalah teori psikoanalisis Sigmund Freud, terutama mekanisme pertahanan ego. 3.3 Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode klasifikasi, deskriptif, dan analisis. Analisis data yang ditinjau dari segi klasifikasi yakni datadata yang telah diklasifikasikan tersebut, lalu dideskripsikan apa adanya tanpa adanya penilaian, kemudian dilakukan penganalisisan. Analisis data merupakan tahap inti dari penelitian penelitian kualitatif ini. Metode klasifikasi, deskriptif, dan analisis dalam penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan mekanisme pertahanan ego tokoh utama yang terdapat di dalam novel Frida karya Barbara Mujica. 3.4 Prosedur Penelitian Data Pada tahap prosedur penelitian data ini, peneliti melakukan beberapa tahap, yaitu: (1) membaca dan memahami novel Frida karya Barbara Mujica. (2) mengidentifikasikan peristiwa atau perilaku tokoh utama yang berhubungan dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud, terutama mekanisme pertahanan ego. (3) mengklasifikasikan hasil identifikasi sesuai dengan arah penelitian dan menganalisisnya. (4) mendeskripsikan hasil analisis berdasarkan rumusan masalah. (5) menyimpulkan hasil penelitian.

BAB IV MEKANISME PERTAHANAN EGO TOKOH UTAMA NOVEL FRIDA KARYA BARBARA MUJICA
Dalam bab keempat ini, peneliti menganalisis mekanisme pertahanan ego yang terdapat dalam novel Frida karya Barbara Mujica. Mekanisme pertahanan ego dalam penelitian ini difokuskan pada sembilan macam, yakni (1) represi, (2) sublimasi, (3) proyeksi, (4) displacement, (5) rasionalisasi, (6) reaksi formasi, (7) melakonkan, (8) nomadisme, (9) simpatisme. 4.1 Mekanisme Pertahanan Ego Represi Pada novel Frida karya Barbara Mujica, Frida sebagai sosok tokoh utama, secara tidak sadar melakukan mekanisme pertahanan ego represi. Pertama, hal ini dibuktikan ketika dirinya mengalami keputusasaan dalam melukis. Frida tidak menemukan paduan warna yang cocok untuk lukisannya. Suatu hari ia tidak dapat menemukan paduan warna yang tepat untuk potret dirinya (Mujica, 2004:360). Tatkala dirinya tidak menemukan paduan warna yang tepat, Frida menjadi marah. Frida lalu menyalahkan dirinya sendiri dan mulai menggambar sesuatu di kanvasnya, Frida melukis atau menggambar tanda X hitam di seluruh kanvas miliknya. “Sial! Sial! Sial! Aku tidak dapat melakukan apa-apa dengan baik!” tiba-tiba ia mengambil kuas dan mulai menggambar X hitam di seluruh kanvas (Mujica, 2004:361). Upaya untuk meredakan kecemasan Frida melalui represi ini bukan tanpa resiko. Dorongan-dorongan pada Frida yang direpres atau ditekan tersebut tetap aktif di dalam alam tak sadar. Terbukti pada saat itu kecemasan yang direpres atau disimpan ke dalam alam tak sadarnya, pada waktu kecil kembali muncul. Tiba-tiba selintas bayangan masuk di kepalaku. Kelas Miss Caballero. Saat ketika guru itu berusaha mempermalukan Frida di depan murid-murid lain. Dan Frida yang meronta melepaskan diri dan menutupi dirinya dengan cat (Mujica, 2004:262—363).

Mekanisme pertahanan ego represi ini memerlukan energi psikis yang besar untuk menjaganya agar tidak muncul ke alam sadar. Pengurasan energi psikis oleh mekanisme represi ini bisa membawa akibat berupa tidak efektifnya ego dalam memelihara dan menuntun tingkah laku individu. Adapun dampak dari mekanisme pertahanan ego represi yang telah dilakukan oleh Frida itu di antaranya dengan menggambar tanda X hitam di kanvasnya. Frida juga mulai menulis-nulis secara kasar dan mencampurkan semua warna yang ada di dekatnya sampai kanvasnya berubah menjadi hitam kecokelat-coklatan. Frida terus melukis X lalu ia mengambil kuas dan mulai menulisnulis dengan kasar, mencampurkan semua warna sampai mereka semua menjadi hitam-kecokelatan (Mujica, 2004:261). Selain itu, Frida juga melakukan beberapa hal yang aneh, seperti memoles seluruh badan dan benda yang terdapat di ruangannya, dengan campuran warna tersebut. Hal itu semakin memperkuat mekanisme pertahanan ego yang telah dilakukannya. Ia menekankan tangannya ke kanvas basah, kemudian mengoleskan warna campuran menjijikkan itu ke seluruh matanya, rambutnya, mulutnya, dahinya (Mujica, 2004:261—262). Lalu ia menancapkan tangannya pada cat diatas palet, cat merah, dan mulai memulaskan pipinya, di korsetnya, di kertas-kertasnya, di bantalnya, semuanya (Mujica, 2004:362). Frida melakukan semua prilaku di atas, karena dirinya sudah tidak dapat berbuat apa-apa dengan baik, termasuk melukis. Karena itu, Frida mengira karena tidak dapat berbuat apa-apa dengan baik, tidak ada seorang yang akan memperhatikannya. Menurut adiknya, Cristina, Frida lebih baik dibenci daripada tidak diperhatikan. Ditambahkan lagi, Frida ingin menjadi pusat perhatian. Ia adalah seorang perempuan dengan keinginan kuat, perempuan yang ingin menjadi pusat perhatian (Mujica, 2004:434). Frida tidak ingin orang lain tidak mengakui keberadaannya. Hal tersebut merupakan salah satu kecemasan terbesar Frida. Jadi, dirinya tidak ingin mengalaminya. Hal itu yang menjadi salah satu penyebab Frida melakukan perbuatan-perbuatan yang aneh tersebut. kecemasan-kecemasan yang dialami

Frida, pada waktu dirinya masih kecil, tidak tertampung lagi di dalam alam ketidaksadarnya. Karena itu, kecemasan-kecemasan tersebut keluar ke alam sadarnya dalam bentuk emosi atau prilaku-prilaku yang berlebihan, seperti menggambar tanda X hitam, memoles badan dan seluruh benda-benda di dekatnya dengan cat. Kedua, mekanisme pertahanan ego represi ditampakkan juga oleh Frida, setelah dirinya menerima berita duka, yakni papanya yang sangat disayanginya meninggal dunia. Frida merasa sangat terpukul atas kejadian tersebut, karena selama ini Frida selalu dimanja oleh papanya. Frida merasa sangat kehilangan sosok yang didambakannya. Berita kematian tersebut, menambah kecemasan yang sudah dialami Frida. Sebelumnya Frida sudah kehilangan teman baiknya yakni Leon Trotsky. Hal ini membuat kecemasan Frida semakin besar. Aku tidak mau bersikap kasar. Ia anak kesayangan, dan kematian ayah menakutkannya. Dan jangan lupa, kami baru saja melewati cobaan yang berat, kehilangan karena terbunuhnya Leon (Mujica, 2004:688). Setelah diterpa berbagai masalah seperti itu, prilaku Frida semakin tidak wajar. Frida tidak dapat mengontrol dirinya lagi. Alam bawah sadar Frida tidak dapat menampung lagi kecemasan-kecemasannya, karena baru saja dirinya kehilangan salah satu kawan baiknya Leon Trotsky. Kadang tingkah laku Frida normal seperti tidak terjadi apa-apa, tetapi di lain waktu prilaku Frida melewati batas kewajaran. Ia menjadi tak terduga sejak papa meninggal. Satu menit ia akan penuh kegembiraan dan tertawa. “Hey, manita, ayo belanja, membeli cincin untuk tiap jari atau barang loakan yang masih bagus dan cantik.” Tapi kemudian ia akan mulai minum lagi dan tidak satu orang pun yang bisa menghentikannya (Mujica, 2004:686). Tidak hanya itu saja hal aneh yang dilakukan Frida. Frida juga merusak seluruh boneka kesayangannya. Seluruh boneka yang sejak kecil di koleksinya. Frida mematahkan bonekanya menjadi beberapa bagian.

Seluruh koleksinya pecah dan hancur berkeping-keping (Mujica, 2004:685). Patung bayi bercat dengan senyum sempurna dan matanya yang tak bergerak, semuanya berkeping-keping (Mujica, 2004:685). Prilaku yang secara tidak sengaja dilakukan oleh Frida itu adalah mekanisme pertahanan ego represi. Represi dipandang Freud sebagai mekanisme pertahanan ego yang paling utama karena represi merupakan basis bagi mekanisme-mekanisme pertahanan ego yang lainnya, serta paling berkaitan langsung dengan peredaan kecemasan. Namun, apabila kecemasan-kecemasan itu berlebihan dengan taraf tegangan yang ditimbulkan relatif tinggi dan tidak dapat ditampung lagi, maka kecemasan-kecemasan tersebut akan keluar dalam bentuk prilaku yang tidak wajar. Prilaku-prilaku Frida yang tidak wajar tersebut adalah suatu bentuk sekumpulan kecemasan-kecemasan yang mengendap ke dalam otak bawah sadar Frida. Mekanisme pertahanan ego tersebut sangat berbahaya, karena apabila otak bawah sadar mereka tidak mampu menampung lagi, maka kecemasan-kecemasan tersebut akan timbul ke permukaan dalam bentuk reaksi emosi yang berlebihan. Reaksi yang berlebihan itu timbul karena jebolnya pertahanan atau ketidakmampuan pengendalian terhadap pikiran yang ditekan itu, sehingga melepaskan emosi-emosi yang tertekan dan tidak diekspresikan itu. Reaksi emosi yang berlebihan itu ditunjukkan oleh Frida dengan menghancurkan bonekabonekanya. Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Frida, dalam novel Frida karya Barbara Mujica, melakukan mekanisme pertahanan ego represi tersebut dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak normal atau tidak wajar. Frida melakukan mekanisme pertahanan ego represi itu sebanyak dua kali. Hal tersebut bisa dilihat ketika dirinya menggambar tanda X hitam di seluruh kanvas miliknya atau ketika dirinya merusak seluruh boneka kesayangannya. Frida melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu, karena alam bawah sadarnya tidak bisa menahan kecemasan-kecemasan yang dialaminya.

Perbuatan-perbuatan seperti itu sebagai wujud luapan emosi dari kecemasankecemasannya yang dulu pernah diterimanya. Pada waktu Frida melakukan mekanisme pertahanan ego represi yang pertama. Dirinya mengalami keputusasaan dalam melukis. Ketika itu Frida tidak menemukan paduan warna yang serasi untuk lukisannya. Karena tidak bisa menemukan paduan warna yang serasi, Frida mengira tidak dapat melakukan apaapa dengan baik. Dan karena tidak bisa melakukan apa-apa dengan baik, Frida takut tidak akan ada seeorang yang memperhatikan lagi. Frida merasa bahagia apabila dikelilingi oleh banyak orang. Frida harus menjadi pusat perhatian. Frida lebih baik dibenci apabila tidak diperhatikan. Hal itulah yang menjadi penyebab Frida melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak wajar, seperti menggambar tanda X hitam di seluruh kanvas miliknya atau menulis secara kasar di kanvas dengan mencampurkan semua warna yang ada di dekatnya. Pada saat Frida melakukan mekanisme pertahanan ego represi yang kedua, dirinya merasa kehilangan sosok yang sangat didambakannya yakni papanya. Ditambah lagi, sebelumnya Frida sudah kehilangan salah satu teman baiknya, yakni Leon Trotsky. Kedua hal itulah yang menjadi penyebab Frida melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak wajar, seperti minum-minuman keras dan merusak seluruh boneka kesayangannya. 4.2 Mekanisme Pertahanan Ego Sublimasi Pada novel Frida karya Barbara Mujica, Frida sebagai sosok utama, secara tidak sadar melakukan mekanisme pertahanan ego sublimasi. Pertama, hal itu dibuktikan ketika Frida mempermainkan Elias Galdos, seorang guru bahasa Latinnya. Saat itu, Frida bersama cachuchas, geng yang dibentuk bersama temannya ketika dirinya masuk sekolah, menjatuhkan sebuah botol dari jendela lantai tiga tepat di depan Elias Galdos. Aku ingat saat mereka menjatuhkan botol dari jendela di lantai tiga tepat di depan Elias Galdos, guru bahasa latin. Botol itu jatuh ke tanah seperti bom, meledak sekitar tiga kaki di depannya (Mujica, 2004:172).

Tetapi, perbuatan tersebut tidak mengakibatkan fatal. Pecahan kaca tersebut tidak mengenai kepala atau mata dari Elias Galdos. Jika tidak, mungkin mata Elias Galdos akan buta karena perbuatan mereka. Jika hal tersebut terjadi, maka Frida bersama gengnya bisa dikeluarkan dari sekolah. Hanya berkat kebesaran Tuhanlah, kepala Galdos tidak terkena pecahan kaca tersebut. ia bisa buta karenanya (Mujica, 2004:172). Setelah kejadian tersebut, Frida pergi ke sebuah gereja. Secara tidak sengaja, Frida mendengarkan sebuah ceramah yang membicarakan tentang pembusukan tubuh. Setelah mendengar ceramah tersebut, Frida merasa ketakutan dan menyesal karena telah mempermainkan guru bahasa latinnya, Elias Galdos. Hal tersebut membuat Frida merasa cemas. Sebagai upaya untuk menghilangkan atau meredakan kecemasannya, Frida pergi ke gereja dan menyalakan sebuah lilin untuk Bunda Maria. Di sana, Frida mengakui dosanya kepada Elias Galdos, guru bahasa Latinnya. Sebagai bukti kesedihannya yang mendalam, ia pergi ke katedral dan menyalakan lilin untuk Bunda Maria. Ia mulai menjelaskan kepada Bunda Maria, betapa ia sangat menyesal, betapa ia merasa seperti kotoran di selokan (Mujica, 2004:174). Kecemasan Frida yang dialihkan dengan cara pergi ke sebuah gereja untuk mengakui dosanya, membuktikan bahwa ego tokoh utama mampu meredakan kecemasan akibat perbuatannya yang telah dilakukan dahulu, sehingga lebih bermanfaat bagi perkembangan kepribadiannya dan orang lain. Perbuatan yang telah dilakukan oleh Frida ini tidak merugikan orang lain maupun dirinya sendiri, melainkan memberikan dampak positif kepada dirinya karena lebih mendekatkan Frida kepada Tuhan. Dulu, Frida adalah seorang perempuan yang tidak mengenal Tuhan, tetapi semenjak kejadian tersebut, Frida semakin sering pergi ke gereja. Kedua, mekanisme pertahanan ego sublimasi ditunjukan oleh Frida, setelah ketika dirinya mengalami kecelakaan bus. Sepanjang perjalanan hidupnya, dirinya mengalami dua kecemasan yang paling serius, yakni pertama, hubungannya dengan Diego Rivera, kemudian yang kedua kecelakaan bus. Akibat dari kecelakaan tersebut, pinggul Frida retak di tiga bagian, dan tulang belakangnya patah. Kecelakaan ini membuat Frida tidak dapat bergerak atau

berjalan kemana-mana. Hal itu membuat Frida mengalami kecemasan. Kecemasan ini membuat dirinya, secara tidak sengaja, melakukan mekanisme pertahanan ego sublimasi. Mekanisme pertahanan ego sublimasi ditunjukkan Frida dengan cara melukis. “Tapi aku harus memerhatikannya sekarang, karena sekarang aku merasa ingin melukis” (Mujica, 2004:357). Perbuatan Frida ini juga didukung oleh ibunya, Matilde Calderon. Menurut ibunya, Frida menjadi lebih tenang dan tidak bertingkah yang aneh-aneh pada waktu melukis. Menurut mami melukis akan menjadi model pengalihan yang baik baginya. Dan sesungguhnya, aku rasa setiap orang berbahagia dengan Frida yang patuh dan diam seperti itu (Mujica, 2004:359). Ibunya Frida sangat mendukung perbuatan Frida tersebut. Bahkan, karena Frida tidak dapat duduk dengan lama, ibunya Frida meminta bantuan kepada tukang kayu, untuk membuat sebuah penyangga khusus agar Frida dapat melukis sambil berbaring. Rasa sakit di punggung dan kakinya membuat Frida tidak mampu duduk lama. Lalu mami menyewa tukang kayu untuk membuat kayu penyangga khusus yang dipasangkan ke tempat tidur. Dengan begitu, Frida dapat melukis lagi sambil berbaring (Mujica, 2004:358—359). Sublimasi sering dinyatakan melalui pelepasan perasaan-perasaan yang membuat individu merasa cemas dengan cara-cara yang dianggap bisa diterima umum atau sosial, seperti dalam seni. Hal itu ditunjukkan oleh Frida dengan melukis. Melalui melukis, Frida bsa menjadi lebih tenang. Melalui melukis juga, Frida dapat meredakan kecemasan yang telah saja dialaminya. Tidak heran lukisannya menggambarkan kecemasan-kecemasan yang di alami Frida pada waktu itu. Sejalan dengan pendapat di atas, menurut Syafiq (2004:12), hampir semua lukisannya menggambarkan luka hati dan derita fisiknya. Ketiga, mekanisme pertahanan ego sublimasi ditampakkan oleh Frida, ketika dirinya sudah menikah dengan Diego Rivera. Setelah menikah dengan

Diego Rivera, Frida berhenti melukis. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk melihat suaminya, Diego Rivera bekerja. Setelah menikah, Frida berhenti melukis untuk beberapa saat. Ia menghabiskan waktunya untuk melihat suaminya bekerja, memilih model-modelnya (Mujica, 2004:425). Sikap tersebut tidak berlangsung lama. Rasa bosan dan jenuh mulai menyerang Frida kembali. Frida tidak melakukan suatu pekerjaan pun selama di Cuernavaca, selain menunggui suaminya, Diego Rivera, melukis dan menemaninya untuk menghadiri acara-acara sosial. Hal tersebut membuat dirinya merasa cemas dan melakukan mekanisme pertahanan ego sublimasi. Mekanisme pertahanan ego ini dilakukan untuk mencegah atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitif id yang menjadi penyebab kecemasan ke dalam tingkah laku yang bisa diterima dan bahkan dihargai oleh masyarakat. Adapun perbuatan Frida yang bertujuan untuk mencegah atau meredakan kecemasannya ini adalah dengan melukis. Tapi kemudian, Frida agak bosan di Cuernavaca. Tidak ada hal yang yang dilakukannya kecuali menunggui Diego dan menghadiri acara-acara sosial. Sehingga ia mulai melukis lagi sedikit untuk mengabiskan waktu (Mujica, 2004:425—426). Frida melakukan mekanisme pertahanan ego ini, karena dirinya merasa sangat bosan atau jenuh dengan segala rutinitas yang dijalaninya. Frida merasa tidak suka dengan segala keteraturan yang telah mengikat dirinya. Rasa bosan atau jenuh, merupakan hal yang paling dibenci dari sosok Frida, karena dirinya sangat ketakutan apabila dirinya merasa kesepian. Frida harus berada di dalam keramaian, dan harus menjadi pusat perhatian. Hal tersebut bisa menjadi kecemasan bagi dirinya, karena bisa menghambat segala kreativitasnya. Karena itu, dengan melukis, Frida bisa mengeluarkan sedikit-demi sedikit kreativitasnya, dari dalam alam ketidaksadarnya, di atas kanvas. Keempat, mekanisme pertahanan ego sublimasi dilakukan oleh Frida, ketika dirinya sedang hamil. Pada waktu itu Frida sedang berada di kota Detroit bersama suaminya. Kehamilan Frida ini ternyata tidak membuat suaminya, Diego

Rivera, merasa senang, malah sebaliknya. Diego marah kepada Frida. Kemarahan suaminya ini ditampakkan dengan menyiksa Frida secara psikis. Diego bekerja sepanjang hari dan tidak memerhatikan aku sama sekali. Dia masih marah karena aku mengandung lagi. Dan ia menghukumku dengan tak pernah pulang. dia tak hanya tidur dengan setiap model cantik dan murid di institut. Dia memamerkan perselingkuhannya, membuatku menjadi bahan tertawaan di Detroit (Mujica, 2004:475). Tidak hanya itu saja yang dialami Frida. Ketika Frida membicarakan tentang kehamilannya, Diego malah tambah marah. Kecemasan yang dialami Frida makin besar karena keadaan ini. Berikut kutipan yang membuktikan kemarahan Diego. Setiap aku membahasnya, Diego mengamuk dan mulai membanting barang-barang. Kemarin, penyangga tongkat lampu dari kuningan hampir saja mengenai kepalaku (Mujica, 2004:475). Frida yang sedang mengalami kecemasan seperti itu, berusaha meredakan kecemasannya dengan cara melukis. Dengan melukis, Frida berharap bisa sejenak melupakan masalah yang sedang dialaminya. “Aku melukis agar aku bisa melupakannya” (Mujica, 2004:475). Mekanisme pertahanan ego yang secara tidak sadar telah dilakukan Frida tersebut adalah mekanisme pertahanan ego sublimasi. Sublimasi sering dinyatakan melalui pelepasan perasaan-perasaan yang mengancam ego individu dengan cara-cara yang dianggap bisa diterima oleh masyarakat. Adapun pelepasan perasaan-perasaan yang dilakukan oleh Frida itu dialihkan dengan melukis. Dengan melukis, membuktikan bahwa ego Frida mampu meredakan kecemasannya sehingga lebih bermanfaat bagi perkembangan kepribadiannya dan orang lain. Melalui melukis, Frida dapat menghibur dirinya sendiri dari masalahmasalah yang sedang dihadapinya. Melalui melukis pulalah, Frida dapat meredakan kecemasan yang sedang dialaminya, karena mengubah kecemasannya menjadi sesuatu yang bisa diterima oleh masyarakat. Maka, tidak jarang tematema dalam lukisan-lukisan Frida adalah mengambarkan perasaan hatinya pada saat itu.

Kelima, mekanisme pertahanan ego sublimasi ditampakkan juga oleh Frida setelah dirinya bercerai dengan Diego Rivera. Pada saat itu, Frida mengalami kecemasan yang amat besar, yakni Frida tidak bisa meninggalkan Diego bersama wanita-wanita lain. Frida masih mencintai Diego. Di luar perceraian itu, Frida masih terpaku pada Diego. Ia selalu meresahkannya. Sepanjang hari, ia mengatakan sesuatu seperti apakah Diego memerhatikan dietnya (Mujica, 2004:654). Seluruh kecemasan-kecemasan tersebut mengendap ke dalam alam ketidaksadarannya. Frida tidak bisa mengeluarkannya, karena bisa menimbulkan kecemasan yang lebih besar. Frida yang memiliki ego yang tinggi, tidak ingin dirinya dipandang sebagai sosok yang begitu mencintai Diego, tetapi Frida ingin dilihat sebagai individu yang dicintai Diego. Jadi, Frida berusaha menutupi segala kegundahan hatinya itu dengan bersikap seperti biasanya. Padahal dirinya mengalami kecemasan. Dari luar, ia tampak begitu bersemangat dan cerewet seperti biasanya. Tetapi tidak di dalam (Mujica, 2004: 655). Ketika Frida keluar ke jalan, ia berkelakuan seperti seorang bintang film, seorang bintang film biasa, seperti Rita Haywprth. Ia akan melambai pada penggemarnya, iHola, cuate! iHola, mi amor!, Genit dan mengedip, menjilat bibirnya seperti sedang menjilati mangga yang ranum ketika ia melihat lelaki muda yang ganteng, atau perempuan, tetapi kemudian ia pulang ke rumah dan membanting botol, dan sebelum kau tahu, ia ambruk seperti cucian yang terkena muntahan noda anggur (Mujica, 2004:656). Karena itu, untuk meredakan kecemasan yang dialami oleh Frida, dirinya kembali melukis. Frida selalu melukis, ketika dirinya dilanda kecemasan, karena hanya pada saat itulah, dirinya bisa tampil baik. Hal itu terbukti pada kutipan berikut. Satu-satunya saat ia tampak baik-baik saja adalah saat melukis (Mujica, 2004:656). Mekanisme pertahanan ego yang telah dilakukan Frida termasuk dalam mekanisme pertahanan ego sublimasi. Mekanisme pertahanan ego seperti ini mengalihkan kecemasan ke dalam bentuk yang bisa diterima oleh masyarakat.

Dan itu dilakukan oleh Frida dengan melukis. Dengan melukis, Frida dapat mengeluarkan emosi-emosi yang mengancam egonya ke dalam kanvasnya. Hal yang telah dilakukan Frida tersebut, mencegah dirinya menimbun kecemasankecemasan tersebut ke dalam otak ketidaksadarannya. Jika Frida menimbunnya, maka akan berakibat fatal, dan bisa merusak reputasinya di mata masyarakat. Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Frida, dalam novel Frida karya Barbara Mujica, melakukan mekanisme pertahanan ego sublimasi tersebut dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang lebih diterima oleh masyarakat. Mekanisme pertahanan ego seperti ini tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain, melainkan memberi dampak positif kepada dirinya sendiri. Frida melakukan mekanisme pertahanan ego sublimasi itu sebanyak lima kali. Hal tersebut bisa dilihat ketika Frida pergi ke Gereja untuk mengakui dosanya dan ketika Frida melukis. Frida melakukan perbuatanperbuatan seperti itu sebagai upaya untuk meredakan kecemasan yang sedang dihadapinya. Pada waktu Frida melakukan mekanisme pertahanan ego sublimasi yang pertama, dirinya merasa berdosa atas perbuatan yang dilakukan dahulu. Ketika itu, Frida melemparkan botol dari jendela lantai tiga sekolahnya tepat di depan Elias Galdos, guru bahasa latinnya. Frida merasa menyesal atas perbuatannya itu. Kemudian, Frida pergi ke gereja untuk mengaku dosanya. Pada mekanisme pertahanan ego sublimasi yang kedua, Frida meredakan kecemasannya dengan cara melukis. Ketika itu dirinya mengalami kecelakaan yang cukup parah, sehingga dirinya tidak bisa kemana-mana. Karena tidak bisa kemana-mana menyebabkan dirinya mengalami kebosanan. Hal ini yang membuat Frida merasa cemas, karena dirinya sangat takut akan kebosanan. Maka dari itu Frida melukis dengan tujuan untuk supaya dirinya tidak bosan sekaligus meredakan kecemasannya. Pada mekanisme pertahanan ego sublimasi yang ketiga, Frida juga meredakan kecemasannya dengan melukis. Ketika itu, Frida sangat kesepian karena ditinggal sendiri oleh suaminya yang bekerja. Karena Frida sangat senang jika berada di dalam keramaian, Frida merasa cemas pada waktu itu. Untuk

menghilangkan kecemasannya, Frida mengalihkan kecemasannya dengan melukis. Frida berharap dengan melukis Frida tidak merasa lagi kesepian. Pada mekanisme pertahanan ego sublimasi yang keempat, Frida kembali meeduksikan kecemasannya dengan cara melukis. Ketika itu, Frida merasa kecewa kepada suaminya. Frida kecewa, karena kehamilannya yang dirinya pikir bisa membuat suaminya bahagia, malah membuatnya marah. Hal itulah yang membuat dirinya merasa cemas. Frida sangat menginginkan bisa melihat suaminya, yakni Diego Rivera, bahagia dengan kehadiran bayi yang dikandung Frida. tetapi, hal ini tidak terwujud dengan baik. Di tengah-tengah kecemasan yang sedang dirasakan Frida pada waktu itu, dirinya lalu menuangkannya di atas kanvas miliknya. Tujuan Frida melakukan hal tersebut karena ingin melupakan sejenak kecemasan yang sedang dialaminya. Pada mekanisme pertahanan ego sublimasi yang kelima, Frida juga melakukan perbuatan yang lebih diterima oleh masyarakat, sama seperti yang dilakukan sebelumnya, yakni melukis. Pada waktu itu, Frida merasa gelisah, karena dirinya merasa cemburu kepada suaminya. Suaminya lebih memilih wanita-wanita lain daripada Frida. Karena merasa dikalahkan oleh wanita-wanita pilihan suaminya tersebut, membuat Frida cemas. Karena itu, untuk menghilangkan kecemasannya, Frida kembali melukis. Semua kecemasan-kecemasan yang dirasakan Frida pada saat itu, dialihkan dengan cara melukis, karena dengan cara itulah kecemasankecemasannya bisa direduksi. Dengan melukis, Frida dapat mengeluarkan sedikit demi sedikit emosinya yang kemudian dituangkan di atas kanvas. Dengan melukis pulalah, Frida bisa melupakan kecemasan yang sedang dialaminya. Maka, tidak heran jika hampir semua lukisannya menggambarkan luka hati dan derita fisiknya pada waktu itu. 4.3 Mekanisme Pertahanan Ego Proyeksi Pada novel Frida karya Barbara Mujica, Frida sebagai sosok utama, secara tidak sadar melakukan mekanisme pertahanan ego proyeksi. Hal tersebut ditampakkan ketika dirinya sedang berbicara dengan adiknya, Cristina. Saat itu,

Frida dinasihati oleh Cristina bahwa dirinya dengan gengnya, bisa dikeluarkan dari sekolahnya, karena sering berbuat onar di sekolahnya, Preparatoria. “Kau dan cachuchasmu dapat dikeluarkan dari Preparatoria.” (Mujica, 2004:263). . Tidak hanya itu saja, Cristina juga mengetahui kalau selama di sekolah Preparatoria, Frida hanya bermain-main saja dengan kelompoknya dan juga sering tidak masuk kelas. Padahal uang yang harus dikeluarkan ayahnya untuk membiayai Frida sekolah Preparatoria, tidak sedikit dan didapatnya dengan susah payah. Jika hal tersebut diketahui oleh ayahnya, dirinya akan dimarahi habishabiskan, bahkan, lebih parah lagi, kemungkinan dirinya akan dibunuh. “Papa akan membunuhmu kalau tahu betapa banyak kelas yang tidak kau ikuti.” Aku sedang berpikir untuk memberitahu papa. Kami mempunyai persoalan keuangan, dan Frida hanya bermainmain saja di sekolah. (Mujica, 2004:264). Setelah dinasihati oleh adiknya, seperti itu, membuat Frida merasakan kecemasan. Frida, secara tidak sadar, melakukan mekanisme pertahanan ego proyeksi. Proyeksi seringkali melayani tujuan rangkap. Ia mereduksikan kecemasan dengan cara menggantikan suatu bahaya besar dengan bahaya yang lebih ringan, dan memungkinkan individu yang melakukan proyeksi mengungkapkan impuls-impulsnya dengan berkedok mempertahankan diri dari musuh-musuhnya. Frida mereduksikan kecemasannya mengalihkan kecemasan yang menimpa dirinya kepada orang lain, yakni guru-guru di sekolahnya. Frida mengatakan bahwa guru-guru yang ada di sekolah Preparatoria tidak pintar, dan suasana di sana sangat membosankan. “Mengapa harus pergi ke kelas yang diajar oleh guru-guru yang bodoh dan membosankan?” bentaknya (Mujica, 2001:264). Pengubahan ini mudah dilakukan oleh Frida karena sumber asli baik kecemasan neurotik maupun kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hukuman dari luar. Adapun hukuman dari luar yang membuat Frida menjadi takut adalah dikeluarkan dari sekolah Preparatoria dan dimarahi oleh orang tuanya. Frida berbuat mekanisme pertahanan ego tersebut hanyalah untuk menutupi

kecemasan yang sedang melanda dirinya. Karena itu, Frida mencari-cari alasan yang masuk akal, yakni mengkambinghitamkan gurunya. . Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Frida, dalam novel Frida karya Barbara Mujica, melakukan mekanisme pertahanan ego proyeksi tersebut dengan cara melimpahkan kecemasannya atau kesalahannya kepada orang lain. Frida melakukan mekanisme pertahanan ego proyeksi itu sebanyak satu kali. Hal tersebut bisa dilihat ketika dirinya mengkambinghitamkan guru-guru di tempat Frida sekolah. Alasan Frida melakukan mekanisme pertahanan ego tersebut karena dirinya mengalami kecemasan. Adapun kecemasan yang dialami Frida adalah akan dikeluarkan dari sekolah Preparatoria, dan dimarahi oleh orang tuanya. Frida sangat takut mengenai hal tersebut, sehingga dirinya melakukan mekanisme pertahanan ego proyeksi seperti itu. Menurut adiknya, Cristina, Frida berani melakukan apa saja untuk menyembunyikan kekurangannya. Adapun kekurangan Frida adalah jarang masuk kelas, sehingga para guru sepakat ingin mengeluarkannya dari sekolah. Menurut Frida, daripada kekurangannya diketahui oleh orang tuanya kemudian menimbulkan kecemasan bagi dirinya, lebih baik Frida melimpahkan kecemasan tersebut kepada guru-guru yang mengajarnya. Jadi, Frida mengkambinghitamkan gurunya atau berbicara sebalinya, yakni guru-guru di sekolah tersebut bodoh dan membosankan. 4.4 Mekanisme Pertahanan Ego Dispacement Pada novel Frida karya Barbara Mujica, Frida sebagai sosok utama, secara tidak sadar melakukan mekanisme pertahanan ego displacement. Hal ini dilakukan oleh Frida pada saat dirinya bercerai dengan suaminya, Diego Rivera. Frida diceraikan Diego, karena dulu Frida pernah pernah melarikan diri ke Amerika untuk berselingkuh dengan Nick. Aku tahu bahwa kau akan mengatakan bahwa kesalahan Frida adalah karena ia telah mengkhianati Diego dengan memilih Nick (Mujica, 2004:644).

Tidak hanya itu saja alasan Diego untuk menceraikan Frida. selama Frida berada di New York, Diego mempunyai kekasih baru lagi, yakni Paulette. Diego memilih Paulette daripada Frida. Dan itu telah diakui juga oleh adik Frida, Cristina. berikut kutipannya. Paulette itu terlalu cantik, seksi dan berambut pirang. Aku pikir Frida merasa dirinya tidak sanggup untuk bersaing. Ia tidak dapat lagi merebut cinta Diego -untuk Nick dia bisa- dan ini bisa membunuh dirinya. (Mujica, 2004:645). Setelah perceraiannya dengan Diego sudah diputuskan, Frida langsung memotong rambutnya. Frida melakukan prilaku seperti itu, karena dulu Diego suka dengan rambutnya. Frida ingin menghilangkan atau menghancurkan semua barang-barang yang disukai Diego, termasuk rambutnya sendiri. Ia memotong rambutnya. Ia selalu melakukan itu ketika ia memiliki masalah serius dengan Diego (Mujica, 2004:645). Kau mungkin akan berkata bahwa itu adalah sejenis pukulan bagi Diego karena dia sangat suka dengan rambutnya (Mujica, 2004:645). Tindakan Frida seperti pada kutipan di atas menunjukkan bahwa egonya melampiaskan kecemasannya dengan cara yang kurang berbahaya bagi dirinya, yaitu dengan memotong rambutnya. Mekanisme pertahanan ego yang telah dilakukan Frida termasuk dalam mekanisme pertahanan ego displacement. Mekanisme pertahanan ego seperti ini selalu melimpahkan kecemasan yang menimpa dirinya kepada objek yang lebih rendah kedudukannya. Dan yang yang menjadi objeknya adalah rambutnya sendiri. Begitu Frida mengalami kecemasan, yakni bercerai dengan Diego, Frida langsung memotong rambutnya menjadi pendek. Cara seperti itu adalah ungkapan ekspresi perasaan sakitnya kepada Diego. Frida mengalami tekanan kecemasan yang berlebih-lebihan sehingga ego mengambil cara seperti pada kutipan di atas untuk menghilangkan atau mereduksikan tegangan. Cara yang diambil ego Frida merupakan perbuatan yang kurang berbahaya atau kurang mengancam dibandingkan dengan objek atau individu semula.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Frida, dalam novel Frida karya Barbara Mujica, melakukan mekanisme pertahanan ego displacement tersebut dengan mengungkapkan dorongan yang menimbulkan kecemasan kepada objek atau individu yang kurang berbahaya atau kurang mengancam dibandingkan dengan objek atau individu semula. Frida melakukan mekanisme pertahanan ego displacement itu sebanyak satu kali. Hal tersebut bisa dilihat ketika Frida memotong rambutnya sendiri. Frida melakukan perbuatan seperti itu, karena dirinya mengalami kecemasan. Kecemasan yang dialami Frida pada waktu itu adalah bercerai dengan Diego Rivera. Frida sangat terpukul dengan peristiwa itu. Menurut Syafiq (2004:12), Frida mengalami dua kecelakaan terbesar yang membuatnya depresi, yakni kecelakaan bus dan hubungannya dengan suaminya, Diego Rivera. Namun, Frida tidak ingin berlarut-larut dalam kecemasannya. Frida ingin menyingkirkan atau membuang semua benda-benda yang selama ini menjadi benda kesukaan suaminya tersebut, termasuk rambut Frida sendiri. Frida tidak ingin melihat ada suatu benda yang berhubungan dengan Diego Rivera. Karena jika Frida melihatnya, Frida takut kenangan-kenangan bersama Diego Rivera akan muncul kembali, dan akan membuat kecemasan yang dirasakan Frida semakin besar. 4.5 Mekanisme Pertahanan Ego Rasionalisasi Pada novel Frida karya Barbara Mujica, Frida sebagai sosok utama, secara tidak sadar melakukan mekanisme pertahanan ego rasionalisasi. Pertama, ketika Frida terkena suatu penyakit. Menurut analisis dokter yang memeriksanya, Frida positif terkena polio. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan tidak bisa disembuhkan dengan cepat. “Anak perempuan anda menderita polio yang melumpuhkan,” lanjut dokter (Mujica, 2004:74). Penyakit polio yang dialami Frida, membuat dirinya harus beristirahat di tempat tidur selama sembilan bulan. Hal ini yang membuat Frida merasa cemas. Frida merasa cemas bukan hanya disebabkan oleh rasa sakit pada kakinya, tetapi

juga perubahan badannya yang semakin kurus, termasuk kaki kanannya berubah menjadi tidak normal. Frida tampak kurus dan pendiam. Kaki kanannya yang lemah bergantung di tubuhnya seperti ular mati (Mujica, 2004:79). Selain itu, Frida takut apabila musuhnya, Estela, tahu mengenai hal ini, dirinya akan diejek. Hal ini akan dijadikan senjata utamanya untuk mengejek Frida. Frida akan malu apabila dia dipermalukan oleh Estela, didepan temanteman sekolahnya. Di sisi lain, setiap kali aku berceloteh tentang sekolah, ia akan menjadi gusar. Ia tidak ingin mendengar mengenai olok-olok kejam Estela (Mujica, 2004:84). Frida yang mengalami kecemasan seperti ini, membuat dirinya secara tidak sadar, melakukan mekanisme pertahanan ego rasionalisasi. Seseorang yang melakukan mekanisme pertahanan ego seperti ini, akan membuat informasiinformas palsu yang dibuatnya sendiri. Frida berimajinasi bahwa putri khayalannya, putri Zoraida, mempunyai kaki yang sama dengan dirinya. Frida sering menceritakan putri Zoraida kepada adiknya, Cristina, supaya bisa mengalihkan atau meredakan kecemasan yang menimpa dirinya. Berikut kutipan yang menunjukkan bahwa Frida menceritakan putri Zoraida kepada Cristina. “Kau tahu,” katanya kepadaku, “Princess Zoraida mempunyai kaki yang kisut juga.” “Bagaimana kau tahu?” tanyaku “Aku melihatnya. Ia muncul dari kabut dan datang menemuiku semalam.” Ia memejamkan mata, dan tampak sedang membayangkan sesuatu (Mujica, 2004:82—83). Kutipan di atas menunjukkan bahwa adanya upaya Frida untuk memutarbalikan kenyataan. Dalam hal ini kenyataan yang mengancam ego Frida melalui dalih atau alasan seperti yang tertulis pada kutipan, sehingga seakan-akan masuk akal. Prilaku Frida itulah yang disebut dengan mekanisme pertahanan ego rasionalisasi. Frida melakukan mekanisme pertahanan ego tersebut supaya perubahan bentuk fisik kaki kanannya, tidak menimbulkan kecemasan bagi dirinya. Frida takut, jika Estela tahu hal itu, dirinya akan kembali diejek. Karena

itu, Frida membuat pernyataan-pernyataan palsu, supaya bisa melupakan ejekanejekan yang akan dilakukan oleh Estela. Kedua, mekanisme pertahanan ego rasionalisasi ditampakkan juga oleh Frida, ketika dirinya mengalami kecelakaan bus. Ia mengalami cedera berat ketika bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Bus tersebut menabrak sebuah kereta api yang melintas di depannya. Kereta api bergerak pelan tapi mantap, seolah pengemudi trem menantang pengemudi bus untuk terus maju. Pengemudi bus untuk terus maju. Pengemudi bus memaksa maju. Dan terjadilah. Trem itu melindas bus, menabraknya tepat di bagian tengah dan mendorongnya sampai membentur tembok (Mujica, 2004:328— 319). Kecelakaan bus tersebut, membuat pinggul Frida retak di tiga bagian, dan tulang belakangnya patah di beberapa tempat. hal ini juga membuat Frida merasa cemas karena harus terbaring di tepat tidur, sampai pinggul dan tulang belakangnya sembuh. Kecelakaan ini salah satu deritanya yang terbesar dalam hidupnya. Sejalan dengan pernyataan di atas, menurut Syafiq (2004:12) Frida mengalami kecelakaan terbesar dalam hidupnya yang membuatnya depresi, yakni pertama hubungannya dengan suaminya, Diego, dan yang kedua kecelakaan bus tersebut. Kecemasan ini membuat Frida, secara tidak sadar, melakukan mekanisme pertahanan ego rasionalisasi. Frida kembali membuat pernyataan-pernyataan palsu. Frida berbicara kepada Maty, kakaknya yang menjaganya, bahwa dirinya melihat kematian. Tidak hanya itu saja, Frida juga melihat kematian tersebut mengelilingi dirinya dan berbicara kepadanya. “Aku tidak hanya merasakannya,” katanya. “Aku melihatnya. Kematian berdansa di sekeliling ruangan. Kadang ia menaiki sepeda memutari tempat tidurku. Kadang ia mengambil gitar dan memainkan nada-nada ceria. Nada yang memikat, yang membuatmu ingin pergi ke arahnya dan memeluknya.” (Mujica. 2004:335). Dalih-dalih bohong yang dikatakan oleh Frida ini untuk menghilangkan kecemasan yang telah menimpa dirinya, yakni kecemasan akan kematian. Ketika Frida masih kecil, dianggapnya kematian adalah sesuatu yang menakutkan.

Anggapan ini tersimpan di dalam alam ketidaksadarnya, dan membentuk suatu pobia terhadap kematian. Upaya Frida tersebut pada dasarnya bersumber pada sesuatu yang menyebabkan kecemasan. Impuls-impuls kecemasan ini masih tetap aktif dalam alam ketaksadarannya. Dapat dikatakan juga, Frida telah memperlihatkan pengambilan langkah-langkah yang ekstrem. Dalam hal ini tujuan rasionalisasi Frida berhasil memuaskan impuls asli yang dibelanya itu. Ketiga, mekanisme pertahanan ego rasionalisasi ditunjukkan juga oleh Frida, ketika dirinya sedang mencari-cari Alex di kafe-kafe dan toko-toko tempat biasanya Alex berkunjung. Dalam pencariannya tersebut, secara tidak sengaja, Frida bertemu dengan Agustina Reyna Ia berjalan ke sekeliling Prepa. Ia mengintip di kafe-kafe dan tokotoko tempat Alex biasa berkunjung. Ia tidak menemukan Alex. Tetapi Agustina Reyna sedang membeli buku di Liberia La Mancha, dan kurasa tidak mungkin Frida berpura-pura tidak melihatnya (Mujica, 2004:349). Agustina Reyna adalah saingan Frida karena dia adalah bekas pacar dari Alex. Dia juga penyebab kecemasan yang dialami Frida. Frida merasa cemburu terhadap Agustina Reyna. Frida juga tidak ingin tujuannya ke kota Prepa diketahui oleh Agustina Reyna. Karena itu, ketika Agustina Reyna bertanya kepada Frida, Frida berbohong. “Apakah kau mencari Alex?” “Tidak....,” Frida tergagap. “Aku...., aku hanya ingin melhat siapa yang sedang ada disana.” (Mujica, 2004:351). Frida mengatakan kepada Agustina Reyna, tujuannya ke Prepa adalah hanya untuk melihat-lihat, bukan untuk mencari Alex. Perbuatan yang telah dilakukan Frida ini disebut dengan mekanisme pertahanan ego rasionalisasi. Sesungguhnya Frida adalah seorang wanita yang memiliki harga diri yang tinggi, jadi berkata begitu supaya tujuan kedatangannya ke Prepa tidak diketahui oleh Agustina Reyna. Frida tidak ingin Agustina Reyna, mengetahui bahwa sebenarnya dirinyalah yang mengejar-ngejar Alex.

Dengan mengungkapkan kepada Agustina Reyna bahwa Frida datang ke Prepa untuk berjalan-jalan bukan untuk mencari-cari Alex, maka hal tersebut merupakan mekanisme pertahanan ego yang digunakan untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorongan id maupun untuk menghadapi tekanan superego atas ego. Kemunculan terbuka yang dicegah oleh Frida berupa dorongan-dorongan untuk berkelahi dengan Agustina Reyna. Frida ingin berbuat seperti itu karena dirinya merasa dikalahkan Agustina Reyna dalam memperebutkan seorang pria yang bernama Alex. Keempat, mekanisme pertahanan ego rasionalisasi dilakukan juga oleh Frida, pada saat Frida mengalami kesakitan pada kakinya. Frida tidak tahan pada rasa sakit tersebut, sehingga dirinya melontarkan pernyataan-pernyataan bohong kepada adiknya yang menjaganya. Berikut kutipan yang menunjukkan bahwa Frida membuat informasi palsu kepada Cristina. Kakinya begitu menyiksanya. “Kaki setan!” begitu katanya. “Setan itu menyiksaku lagi, katanya. “kau tahu, ia memberiku kaki ini untuk menghukumku. Ia menyelinap ke tempat tidurku suatu malam dan menancapkannya di kaki yang kurus (Mujica, 2004:582). Frida berbuat seperti itu, karena dirinya merasa cemas. Frida cemas keadaannya sekarang bisa merusak impiannya. Impian Frida sejak dulu adalah Frida selalu ingin jadi pusat perhatian dan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kekurangannya (Wardani, 2004:xviii). Frida ingin dirinya adalah mahluk yang paling sempurna. Frida tidak ingin ada yang tahu penyebab kecacatan pada kakinya tersebut. Karena itu, Frida melakukan mekanisme pertahanan ego seperti itu. Dirinya tidak ingin penyebab kecacatan pada kakinya itu berasal dari kecelakaan bus dahulu. Frida ingin semua orang tahu bahwa hanya setan yang mampu berbuat seperti itu. Frida berkata seperti itu, supaya bisa mendongkrak popularitasnya di mata masyarakat. Perbuatan yang secara tidak sengaja dilakukan Frida di atas menunjukkan bahwa adanya upaya dirinya untuk memutarbalikan kenyataan. Dalam hal ini kenyataan yang mengancam ego Frida melalui dalih atau alasan-alasan seperti pada kutipan di atas sehingga seakan-akan masuk akal.

Upaya Frida yang membuat informasi-informasi palsu tersebut pada dasarnya bersumber pada sesuatu yang menyebabkan kecemasan. Impuls-impuls kecemasan ini masih tetap aktif dalam alam ketidaksadarannya. Dapat dikatakan juga, Frida telah memperlihatkan pengambilan langkah-langkah yang tidak wajar. Dalam hal ini, tujuan mekanisme pertahanan ego rasionalisasi yang dilakukan Frida berhasil memuaskan impuls asli yang dibelanya itu. Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Frida, dalam novel Frida karya Barbara Mujica, melakukan mekanisme pertahanan ego rasionalisasi tersebut dengan memutarbalikan kenyataan yang mengancam ego, melalui dalih atau alasan-alasan tertentu yang seakan-akan masuk akal, sehingga kenyataan tersebut tidak lagi mengancam ego individu yang bersangkutan. Frida melakukan mekanisme pertahanan ego rasionalisasi itu sebanyak empat kali. Adapun mekanisme pertahanan ego rasionalisasi yang dilakukan Frida adalah berkata bohong atau berkhayal tentang sebuah wujud seseorang yang tidak nyata. Hal tersebut dapat dilihat ketika pada mekanisme pertahanan ego rasionalisasi yang pertama, Frida berimajinasi bahwa putri Zoraida mempunyai kaki yang sama dengan dirinya. padahal putri Zoraida itu adalah tokoh khayalannya saja. Tetapi, Frida berkata seakan-akan tokoh impiannya tersebut ada. Sebenarnya Frida berkata bohong seperti itu, karena takut diejek oleh Estela, dan akan menimbulkan kecemasan bagi dirinya. Frida membuat pernyataanpernyataan bohong atau palsu seperti itu, supaya dirinya sejenak tidak mengingat Estela lagi. Pada waktu Frida melakukan mekanisme pertahanan ego rasionalisasi yang kedua, ketika itu dirinya mengalami kecelakaan bus. Kecelakaan ini merupakan salah satu derita terbesar dalam hidupnya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Syafiq (2004:12), yakni Frida mengalami dua kecelakaan terbesar yang membuatnya depresi, yakni pertama hubungannya dengan suaminya, Diego Rivera, dan yang kedua adalah kecelakaan bus. Mengalami kecelakaan seperti itu, dan secara otomatis menimbulkan kecemasan bagi dirinya, membuat Frida melontarkan peryataan-pernyataan bohong, yakni berkata bahwa dirinya bisa

melihat kematian. Frida melihat kematian itu sedang berada di dekatnya dan siap untuk menjemputnya. Frida berkata demikian, karena Frida mengalami pobia terhadap kematian. Sejak kecil, Frida sanghat takut akan kematian. Tujuan Frida melakukan perbuatan seperti itu adalah untuk meredakan kecemasannya. Pada mekanisme pertahanan ego rasionalisasi yang ketiga, Frida ingin kedatangannya ke kota Prepa untuk mencari Alex tidak diketahui oleh Agustina Reyna. Frida tidak ingin kelihatan sebagai sosok perempuan yang mengejarngejar pria. Frida ingin terlihat sebagai sosok perempuan yang dikejar-kejar pria, karena Frida memiliki harga diri yang sangat tinggi. Karena itu, jika alasan Frida datang ke kota itu diketahui oleh Agustina Reyna, maka akan menimbulkan kecemasan bagi dirinya. Ketika Frida ditanyai alasannya oleh Agustina Reyna, Frida menjawab bahwa tujuannya ke kota Prepa itu adalah untuk melihat-lihat saja. Pada mekanisme pertahanan ego rasionalisasi yang keempat, Frida kembali membuat pernyataan-pernyataan palsu. Ketika itu, Frida mengalami kesakitan pada kakinya. Frida menuduh bahwa ada setan yang menancapkan kaki kurus itu kepada dirinya. Frida berbuat seperti itu, karena dirinya ingin menjadi mahkluk yang sempurna. Frida juga akan berbuat apa saja untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya. maka, tidak heran jika Frida berbuat seperti itu. 4.6 Mekanisme Pertahanan Ego Reaksi Formasi Pada novel Frida karya Barbara Mujica, Frida sebagai sosok utama, secara tidak sadar melakukan mekanisme pertahanan ego reaksi formasi. Hal ini bisa dilihat ketika dirinya didatangi oleh murid-muridnya. Murid-murid Frida tersebut membawa beberapa hadiah. Diantaranya lukisan yang bertemakan ibu atau kelahiran. Salah seorang murid Frida tingkat satu memutuskan untuk memberi hadiah hari ibu kepadanya. Mereka mengumpulkan semua koleksi lukisan mereka (Mujica, 2004:724).

Mereka semua memberi hadiah kepada Frida, karena ingin merayakan hari ibu bersama Frida. didatangi murid-muridnya secara mendadak tersebut, membuat Frida menjadi kaget. Para muridnya juga ingin membuat pesta kecil-kecilan bersama Frida, tetapi Frida tidak ingin merayakannya. Frida pun menolaknya secara halus. Frida beralasan bahwa sekarang dirinya sedang tidak enak badan. Pada kenyataannya, ia sangat berterima kasih kepada mereka dan berkata bahwa sekarang ia sedang sakit, dan mereka diharapkan datang di lain waktu (Mujica, 2004:726). “Maafkan aku sayang,” bisiknya. “Maafkan aku, tetapi aku tidak bisa sekarang” (Mujica, 2004:726). Prilaku sopan Frida hanya bertahan setelah murid-muridnya pergi. Setelah muridnya pergi, Frida lalu marah-marah dengan menggunakan kata-kata kasar. Hal itu sangat bertentangan dengan prilaku sebelumnya. “Idiot!” teriaknya segera setelah mereka pergi.”Anak-anak bodoh itu! Apa yang mereka pikirkan dengan menganggap aku sebagai ibu mereka? (Mujica, 2004:726). Tidak hanya itu saja yang dilakukan Frida. dirinya juga merusak semua hadiah-hadiah yang diberikan muridnya kepada dirinya. Frida menghancurkannya hingga menjadi hancur berantakan. Ia mengambil pisau dan menancapkannya pada gambar ibu dan anak milik Fanny. Ia merobek setiap gambar, dan merusak buket bunga (Mujica, 2004:727). Ia mengambil kelopak bunga yang halus, dan merenggut daundaunnya, dan ia mengoyak tangkainya yang rapuh. Dengan gila ia mengoyak bunga itu dengan giginya, mengunyah sampai ke akarakarnya, kemudian meludahkannya (Mujica, 2004:727). Perilaku yang dilakukan Frida inilah yang disebut dengan mekanisme pertahanan ego reaksi formasi. Mekanisme pertahanan ego ini melakukan perbuatan yang sebaliknya, apabila perbuatan yang pertama itu bisa menimbulkan kecemasan bagi dirinya. Frida menggantikan impuls atau perasaan yang menimbulan kecemasan dengan cara menolak ajakan murid-muridnya secara halus. Impuls atau perasaan yang asli masih tetap ada, tetapi ditutupi dengan pembentukan tingkah laku sebaliknya.

Frida sebenarnya sangat menyukai anak-anak, apalagi kepada muridmuridnya, tetapi ketika Frida melihat mereka datang dengan membawa hadiah, dirinya sangat marah. Alasan Frida marah, karena dirinya tidak ingin dikasihani oleh orang lain, apalagi oleh muridnya sendiri. hal ini bisa merendahkan martabatnya di mata masyarakat. Tetapi Frida tidak bisa mengeluarkan ekspresinya secara langsung kepada murid-muridnya, melainkan bersikap sebaliknya. Hal ini karena Frida takut perbuatan itu bisa merusak hubungan dirinya dengan mereka. Jika hal itu sampai terjadi, maka popularitas di mata masyarakat yang selama ini Frida bangun, akan hancur berantakan. Frida tidak ingin hal itu terjadi, karena dirinya selalu ingin menjadi pusat perhatian. Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Frida, dalam novel Frida karya Barbara Mujica, melakukan mekanisme pertahanan ego reaksi formasi tersebut dengan melakukan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasratnya yang tidak sadar. Frida melakukan mekanisme pertahanan ego reaksi formasi itu sebanyak satu kali. Adapun mekanisme pertahanan ego reaksi formasi yang dilakukan Frida adalah berpurapura bersikap sayang kepada murid-muridnya. Padahal pada saat itu Frida sangat marah. Frida marah karena merasa telah dikasihani oleh murid-muridnya yang datang kepadanya dengan membawa sejumlah hadiah di hari Ibu. Padahal, Frida sangat benci dengan hal tersebut. Adapun alasan Frida bersikap berpura-pura seperti itu, karena jika Frida meluapkan atau mengeluarkan emosinya secara langsung kepada murid-muridnya, dirinya takut masyarakat akan memandang jelek. Jika hal tersebut terjadi, maka keinginan Frida yang ingin menjadi pusat perhatian, tidak akan tercapai. 4.7 Mekanisme Pertahanan Ego Melakonkan Pada novel Frida karya Barbara Mujica, Frida sebagai sosok utama, secara tidak sadar melakukan mekanisme pertahanan ego melakonkan. Pertama, Hal ini bisa dilihat ketika Frida diejek oleh Estela, teman waktu sekolah SD, beserta teman-temannya. Frida diejek karena dianggap Estela, dirinya adalah orang

yahudi. Berikut kutipan yang menunjukkan pada waktu Frida diejek oleh Estela beserta teman-temannya melalui nyanyian. Frida, Frida Fue servida dipersembahkan Al diablo Por comida! Frida, Frida Escupida De su boca Por judia Frida, Frida Telah Bagi setan Untuk makan malam Frida, Frida Tapi bahkan setan pun Tak menginginkannya Setan meludahinya Karena Frida seorang yahudi! (Mujica, 2004:8)

Pada saat Frida diejek seperti itu, dia mengalami kecemasan. Frida kemudian melakukan mekanisme pertahanan ego melakonkan. Mekanisme pertahanan ego ini mengekspresikan emosi-emosi yang sudah lama tertekan dengan membiarkan ekspresinya keluar. Adapun ekspresi yang dilakukan Frida tersebut, berupa lontaran kata-kata pedas, sebagai jawaban atau pembalasan atas nyanyian atau ejekan yang dilakukan Estela beserta teman-temannya. “Lagu yang bodoh!” pekiknya. “Pasti lagu itu dibuat oleh seorang idiot!” (Mujica, 2004:9). Frida selalu membalas perkataan-perkataan yang ditujukan kepada dirinya dengan kata-kata pedas. Bahkan Estela juga mengejek ayahnya Frida, Guillermo Kahlo, bahwa beliau adalah salah satu orang asing, yang dibawa masuk oleh Porfirio Diaz. Ditambahkan lagi, Estela mengatakan bahwa orang asing tersebut akan dibunuh, termasuk dirinya. Mendengar perkataan seperti itu, Frida lalu berkata bahwa ibu dari Estela adalah seorang perempuan hina yang bodoh. “Ibumu adalah pelacur bangsat yang bodoh!” (Mujica. 2004:13) “Ibumu Bangsat! Ibumu begitu kotor sehingga ada laba-laba keluar dari vaginanya!” (Mujica. 2004:14). Frida berbuat mekanisme pertahanan ego seperti ini, supaya kecemasan yang melnda dirinya bisa reda atau hilang dengan cara menanggapi ejekan-ejekan yang ditujukan kepada dirinya. Frida ditampilkan oleh Barbara Mujica sebagai

seseorang yang ekspresif, eksplosif dan blak-blakan (Wardani, 2004:xii). Jadi, dirinya selalu membalas ejekan yang dilontarkan Estela dan Teman-temannya. Hal ini membuat teman-teman Frida, apalagi Estela tersontak kaget, karena kata-kata yang diucapkan Frida hanya pantas diucapkan oleh orang-orang rendahan. Bahkan kaum petani pun tidak boleh melakukannya, karena kaum petani adalah orang yang masih bermatabat. Namun Frida mematahkan semua aturan tersebut. Kedua, mekanisme pertahanan ego melakonkan ditampakkan juga oleh Frida, ketika Miss Caballero menerangkan pelajaran saint. Frida ngompol di celananya. Peristiwa tersebut diketahui oleh musuh Frida, yakni Estela. Hal ini memancing Estela untuk melawan Frida. Estela mengejek Frida, dan mengatakan bahwa Frida sedang mengompol. Tidak hanya Estela saja yang mengejeknya, tetapi seluruh teman-temannya ikut mengejeknya. Begitu Estela mengetahui ada genangan air di bawah kursi Frida, ia mulai menyanyi: Frida ngompol! Frida ngompol! Dengan segera seluruh kelas ikut menyanyi: Frida ngompol! (Mujica, 2004:20— 21). Setelah Frida diejek oleh teman-teman sekelasnya, Miss Caballero mencoba menyeretnya di depan kelas. Miss Caballero ingin mempermalukan Frida di depan teman-temannya. Miss Caballero berbuat seperti itu, karena dirinya selalu dibuat kesal oleh Frida. Frida berbuat seperti itu adalah sebagai bentuk perlawanan kepada Miss Caballero, yang ingin mempermalukan dirinya. Namun, Frida melawannya. Frida berteriak-teriak, lalu menjatuhkan ember yang penuh dengan air, kemudian menjatuhkan papan tulis dan buku-buku gambar ke lantai. Miss Caballero berusaha menahannya dengan menarik pita bajunya, tapi Frida meronta-ronta. Ia menyikut ember yang telah disiapkan untuk membersikannya (Mujica, 2004:21). Tidak hanya itu saja, yang dilakukan oleh Frida. Dirinya juga menumpahkan botol cat berwarna merah ke mana-mana. Perbuatan yang telah dilakukan oleh Frida ini, membuat suasana kelas semakin kacau. Botol cat merah pecah, menyemprotkan cairan serupa darah ke mana-mana (Mujica, 2004:21).

Perilaku yang dilakukan Frida inilah yang dinamakan dengan mekanisme pertahanan ego melakonkan. Frida berbuat perbuatan seperti itu, karena dirinya tidak ingin dipermalukan oleh Miss Caballero dan Estela. Bertolak dari pendapat Wardani (2004:xii), bahwa Frida adalah sosok wanita yang ekspresif, eksplosif, dan blak-blakan, dirinya lalu melawan Miss Caballero, dengan perbuatanperbuatan diatas. Frida tidak ingin menahan emosinya ke dalam alam ketidaksadarannya. Frida membiarkan emosi-emosinya keluar apa adanya, tanpa ada bentuk penahanan atau penutupan atas kecemasan yang diterimanya. Frida tidak menghiraukan kata-kata yang diucapkan oleh Miss Caballero. “Hentikan!” jerit Miss Caballero. Tapi Frida telah terlanjur menggosokkan cat ke bajunya, tangannya, wajahnya, bahkan dari kelopak matanya menetes cairan lengket kental berwarna merah (Mujica, 2004:22). Ketiga, mekanisme pertahanan ego melakonkan ditunjukkan oleh Frida, ketika dirinya kembali diolok-olok oleh Estela. Frida diejek oleh Estela beserta teman-temannya, ketika sedang bermain di taman, bersama adiknya. Berikut katakata ejekan yang dilakukan oleh Estela dengan sebuah nyanyian. Frida Kahlo Pata de palo! Un pie bueno El Otro Malo Ayo lihatlah Si Frida yang pincang! Satu kaki bagus Dan satu lagi kakinya dari kayu (Mujica, 2004:95).

Mendengar nyanyian seperti itu, membuat Frida marah. Frida, secara tidak sadar, lalu melakukan mekanisme pertahanan ego melakonkan. Frida membalas nyanyian yang ditujukan kepada dirinya dengan perkataan-perkataan kotor. “Sundal!” teriaknya. “Aku jijik pada nyanyian bodohmu itu!” (Mujica, 2004:95). “Pergi!” Teriaknya. “Dasar kau yang keluar dari pantat ibumu, bukan dari lubang diantara kaki-kakinya (Mujica, 2004:95). Tidak hanya itu saja yang dilakukan oleh Frida. Dirinya juga melawan Estela, beserta teman-temannya, secara fisik. Frida berkelahi dengan salah dua

dari teman Estela, yakni Maria Del Carmen dan Ines. Dengan tanpa rasa takut, Frida langsung memukul kedua teman dari Estela tersebut, hingga mereka jatuh di atas kubangan lumpur. Frida membalikkan tubuhnya dan berlari kencang, menghantam Maria Del Carmen dan Ines, yang langsung jatuh ke atas lumpur (Mujica, 2004:96). Frida bisa berkata kasar, seperti sundal, karena dirinya meniru perkataan ayahnya, Guillermo Kahlo, ketika sedang memarahi ibunya, Matilde Calderon. Menurut Freud (dalam Corey, 2003:13), Perkembangan pada masa dini kanakkanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa. Pada masa itu, Frida suka meniru-niru perbuatan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, baik dari tingkah laku maupun perkataannya. Jadi tingkah laku yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, terekam dan tersimpan di dalam alam ketidaksadarnya. Inilah yang membentuk kepribadian Frida, ketika dirinya sudah menjadi dewasa, yakni suka berbicara kasar. Tidak lama setelah kejadian itu, ibunya meninggal dan ayahnya lantas menikah lagi dengan seorang perempuan yang selalu dikatakannya papa sebagai “anjing sundal” (Mujica, 2004:116). Begini katanya kepada mama setiap kali mama lepas kontrol. “Jangan bertingkah laku seperti itu. Kau mengingatkanku pada anjing sundal itu.” (Mujica, 2004:116). Keempat, mekanisme pertahanan ego melakonkan dilakukan oleh Frida, ketika dirinya mendapat berita bahwa ibunya telah meninggal. Mendengar berita duka seperti itu, Frida sangat sedih sekali, karena di mata Frida, ibunyalah yang berperan penting dalam kehidupannya. Walaupun Frida sering dimarahi oleh ibunya, tetapi Frida sangat sayang kepada dirinya. Frida banyak mengadopsi prilaku-prilaku ibunya yang berani dan lantang. Sesungguhnya, mami dan Frida mempunyai lebih banyak persamaan dari yang mereka akui (Mujica, 2004:123—124). Jadi secara tidak sengaja, Frida sangat mengidolakan ibunya. Sampaisampai pada waktu pemakaman ibunya. Frida tidak bisa menahan kecemasankecemasannya. Berikut kutipannya.

Saat pemakaman, Frida mengamuk (Mujica, 2004:485). Frida tidak terjun ke makam mami, tapi ia menjerit dan terdengar seperti Maria Magdalena (Mujica, 2004:485). Tidak hanya itu saja yang dilakukan Frida. Pada saat Cristina meminta Frida supaya lebih tenang dan sabar menghadapi kenyataan seperti itu, Frida malah memarahi Cristina. “Kau pelacur berhati dingin,” ejeknya. “Kau tak tahu apa yang ku rasakan!” dia mulai menjerit, “Mamii! Mamii! Aku mencintaimu! Bawa aku bersamamu!” (Mujica. 2004:485). Prilaku yang dilakukan Frida inilah yang dinamakan dengan mekanisme pertahanan ego melakonkan. Frida tidak ingin kecemasannya mengendap ke dalam alam ketidaksadarannya dan berlarut-larut membelenggu dirinya. Frida membiarkan emosi-emosi itu keluar dengan sendirinya, tanpa disaring oleh superegonya. Karena itulah, pada waktu pemakaman ibunya, Frida berteriakteriak tidak karuan. Frida sangat ketakutan apabila ditinggalkan. Apalagi yang ditinggal oleh seseorang yang sangat disayanginya. Ia sangat ketakutan akan ditinggalkan (Mujica, 2004:759). Kelima, mekanisme pertahanan ego melakonkan ditampakkan juga oleh Frida, pada saat dirinya mengetahui bahwa adiknya, Cristina, telah berselingkuh dengan suaminya. Frida sangat marah, karena dirinya tidak rela, Diego melakukan hubungan gelap dengan Cristina. Frida sangat marah ketika melihat aku dan Diego kembali bersama (Mujica, 2004:531). Ketika Frida mengetahui hubungan gelap tersebut, dirinya langsung menghujat Cristina. Frida merasa adiknya adalah musuh dalam selimut. Frida juga meledek adiknya seperti ular kecil. Berikut kutipannya. “Kau menyakitiku Cristina! Bagaimana kau bisa lakukan ini padaku! Kau ular kecil!” (Mujica, 2004:531). Frida merasa telah dibohongi oleh adiknya sendiri selama bertahun-tahun. Adiknya yang telah dipercaya oleh Frida untuk membicarakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya, tega berbuat tindakan amoral dengan suaminya. Hal ini

yang membuat Frida merasa cemas. Di satu sisi, Frida sangat sayang kepada adiknya, tetapi di sisi lain Frida sangat membenci adiknya. Inilah yang membuat gejolak batin yang amat besar dalam diri Frida. Berikut kata-kata Cristina yang menjelaskan hubungan dirinya dengan Frida. Aku adalah orang kepercayaan Frida. Aku sahabatnya. Tidak hanya saat itu, dalam sepanjang hidup kami, kapan pun ia mempunyai persoalan, kepadakulah ia akan berpaling. Aku adalah sahabat Frida, selalu dan selamanya (Mujica, 2004:170). Frida membiarkan emosinya ini keluar apa adanya, tetapi masih dalam tahap kewajaran, dibandingkan seperti dirinya mekanisme pertahanan ego melakonkan kepada Estela ataupun Miss Caballero. Hal ini karena, Frida masih sayang kepada adiknya. Keenam, mekanisme pertahanan ego melakonkan ditunjukkan juga oleh Frida, pada saat dirinya bersama adiknya dan Graciela didatangi oleh para polisi. Mereka bertiga dituduh para polisi tersebut membunuh Leon Trotsky. Berikut kutipannya. “iPuta comunista!” gertak polisi lain, yang ini kurus dengan rambut keriting. “Komunis sundal! Kau ditangkap dengan tuduhan pembunuhan!” (Mujica, 2004:675). Dituduh seperti itu, Frida tidak terima. Apalagi salah satu dari polisi tersebut telah menyikut dan memukul Graciela. Frida lalu menantang para polisi tersebut. Frida membela diri bahwa dirinya beserta adiknya dan Graciela tidak bersalah dengan kata-kata sedikit kasar dan meledek. “Pembunuhan!” Frida tertawa keras, “Kau kira siapa yang kami bunuh tolol? Kami! Tiga perempuan yang menghabiskan waktu dengan enchiladas dan chiles rellenos. Lihat baik-baik nak! Apakah kau melihat pembunuh?” (Mujica, 2004:675). Frida melakukan perbuatan seperti itu, sebab dirinya tidak ingin popularitasnya hancur karena insiden tersebut. Hal inilah yang membuat Frida merasa cemas. Untuk meredakan kecemasan yang menimpa dirinya, Frida secara tidak sengaja melakukan mekanisme pertahanan ego melakonkan. Mekanisme pertahanan ego ini mengekspresikan emosi-emosi yang sudah lama tertekan dengan membiarkan ekspresinya keluar. Adapun ekspresi yang dilakukan Frida

tersebut, berupa ejekan-ejekan yang ditujukan kepada para polisi tersebut. Hal ini sejalan dengan pernyataan Wardani (2004:xii) bahwa Frida adalah seseorang yang ekspresif, eksplosif dan blak-blakan. Frida bisa memaki para polisi tersebut, karena sewaktu masih kecil, dirinya banyak bergaul dengan orang-orang liar yang berada di pusat kota. Frida banyak belajar dari mereka, baik dari tingkah lakunya maupun gaya bicaranya. Karena itu, Frida telah terbiasa dengan kata-kata kotor seperti itu. Hal ini terbukti melalui kutipan berikut. Ia senang bergaul dengan para tukang koran yang berada di alunalun. ia meniru gaya bahasa mereka dan bahkan kadang menirukan gaya jalan mereka yang angkuh. Ia mempelajari aneka kata-kata makian dari mereka, seolah-olah mulutnya belum cukup kotor (Mujica, 2004:152). Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Frida, dalam novel Frida karya Barbara Mujica, melakukan mekanisme pertahanan ego melakonkan tersebut dengan membiarkan ekspresi-ekspresi yang menimbulkan kecemasan ini keluar. Frida melakukan mekanisme pertahanan ego melakonkan itu sebanyak enam kali. Adapun mekanisme pertahanan ego melakonkan yang dilakukan Frida adalah berkata kotor dan perbuatan melawan seseorang yang telah menimbulkan kecemasan bagi dirinya. Hal tersebut dapat dilihat ketika pada mekanisme pertahanan ego melakonkan yang pertama, Frida membalas ejekan yang dilontarkan Estela kepada dirinya. pada waktu itu, Frida diejek Estela sebagai orang yahudi. Tidak hanya itu saja yang dilakukan Estela. Estela juga mengejek ayah Frida, Guillermo Kahlo, bahwa beliau adalah orang asing. Diejek seperti itu, Frida tidak tinggal diam. Frida langsung membalas ejekan Estela dengan umpatan-umpatan kotor. Frida bisa berbuat demikian, karena pada waktu Frida masih kecil, dirinya suka meniru-niru perbuatan yang dilakukan orang tuanya, baik dari tingkah laku maupun perkataannya, yang juga berbuat atau berbicara kasar. Hal ini sejalan dengan pendapat Freud (dalam Corey, 2003:13), bahwa perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa

dewasa. Karena itu, tidak heran jika kepribadian Frida sama dengan kepribadian orang tuanya, yakni suka berbicara kasar. Pada mekanisme pertahanan ego melakonan yang kedua, Frida berbuat tindakan melawan kepada gurunya, Miss Caballero, yang ingin mempermalukan dirinya. ketika itu, Frida mengompol di kelas. Merasa dipermalukan seperti itu, Frida langsung melawan Miss Caballero dengan perbuatan yang tidak pantas. Adapun perbuatan yang dilakukan Frida adalah berteriak-teriak di dalam kelas, menjatuhkan ember yang penuh dengan air, menjatuhkan papan tulis dan buku gambar ke lantai, dan menumpahkan botol cat berwarna merah ke mana-mana. Frida berbuat demikian karena, dirinya tidak ingin menahan emosinya ke dalam alam ketidaksadarnya. Frida juga berbuat seperti itu, karena dirinya tidak ingin dikalahkan oleh Miss Caballero. Hal ini sesuai dengan pendapat Wardani (2004:xii), bahwa Frida adalah sosok wanita yang ekspresif, eksplosif, dan blakblakan. Pada mekanisme pertahanan ego melakonkan yang ketiga, Frida melawan Estela beserta teman-temannya yang kembali mengejeknya. Ketika itu, Frida diejek Estela beserta teman-temannya dengan sebuah nyanyian yang artinya mengejek kaki Frida yang pincang karena polio. Ketika diejek seperti itu, Frida langsung membalas nyanyian tersebut dengan umpatan-umpatan kotor. Tidak hanya itu saja yang dilakukan Frida. Frida juga melawan Estela dan temantemannya secara fisik. Frida memukul kedua teman dari Estela tersebut, hingga mereka jatuh diatas kubangan lumpur. Frida berbuat seperti itu karena tidak ingin harga dirinya direndahkan oleh Estela, karena Frida sebenarnya memiliki harga diri yang sangat tinggi. Pada mekanisme pertahanan ego melakonkan yang keempat, Frida berteriak-teriak tidak karuan pada waktu pemakaman ibunya. Frida berbuat seperti itu, karena dirinya merasa terpukul atas peristiwa duka tersebut. Frida sangat sayang kepada ibunya, karena beliaulah yang sangat berperan penting dalam kehidupannya. Kepribadian Frida yang blak-blakkan, banyak diwarisi dari ibunya. Dilanda peristiwa yang membuat dirinya merasa cemas tersebut, Frida membiarkan emosi-emosi yang ada di dalam dirinya itu keluar, tanpa disaring

oleh superegonya. Frida tidak ingin kecemasannya itu mengendap di dalam alam tak sadarnya. Pada mekanisme pertahanan ego melakonkan yang kelima, Frida meluapkan emosinya kepada adiknya, Cristina, karena telah merebut suaminya. Frida langsung menghujat adiknya dengan kata-kata kasar, seperti ular kecil. Frida menganggap adiknya tersebut tidak lebih dari musuh dalam selimut. Karena setiap Frida mempunyai masalah dengan suaminya, Diego Rivera, Frida selalu membicarakannya kapada adiknya. Frida merasa telah dibohongi oleh adiknya sendiri. Pada mekanisme pertahanan ego melakonkan yang keenam, Frida meluapkan emosinya secara langsung kepada para polisi yang ingn menahannya. Ketika itu, Frida bersama adiknya dan Graciela dituduh membunuh seseorang yang bernama Leon Trotsky. Merasa difitnah seperti itu, Frida tidak terima. Frida lalu menantang para polisi tersebut dengan kata-kata kasar dan sedikit meledek. Frida bisa dengan tenang memaki para polisi tersebut, karena pada waktu Frida masih kecil, Frida banyak meniru tingkah laku sampai gaya bicara orang-orang liar di pusat kota. 4.8 Mekanisme Pertahanan Ego Nomadisme Pada novel Frida karya Barbara Mujica, Frida sebagai sosok utama, secara tidak sadar melakukan mekanisme pertahanan ego nomadisme. Hal ini dibuktikan ketika Frida melakukan dengan Diego Rivera. Pada waktu acara pernikahan tersebut, Diego Rivera bersikap tidak sopan atau berbuat onar. Dia menembaki seluruh benda-benda yang ada di ruangan pernikahannya. Tidak hanya itu saja, Diego juga menembak jari kelingking seorang wartawan yang berusaha menghindari tembakannya. Diego Rivera juga menghancurkan keramik cina milik Hanestrosa dan bercumbu dengan wanita-wanita lain. Hal ini dapat wajar terjadi, karena waktu itu, Diego Rivera sedang mabuk. Ia meninggalkan rumah Henestrosa penuh dengan lubang peluru dan bahkan tidak menawarkan uang perbaikan. Huco Leffert, wartawan entah dari mana, berusaha untuk menyingkirkan dari

tembakannya, dan Diego menembak jari kelingkingnya! (Mujica, 2004:399). Ia justru menembaki benda-benda dengan pistolnya, dan meraih perempuan-perempuan lain, berjalan ke dinding, dan menghancurkan keramik cina milik Henestrosa (Mujica, 2004:400). Melihat calon suaminya berbuat tidak pantas, Frida mencoba untuk menasehatinya, tetapi, dirinya malah dibentaknya. Padahal saat itu Frida ingin mencoba menyelamatkan popularitas Diego, termasuk dirinya. Frida tidak ingin citra suaminya menjadi buruk. Diego marah. “Siapa anak yang berumur 21 tahun yang mengatakan apa yang harus dilakukan ini?” (Mujica, 2004:400). Ditambahkan lagi, Diego Rivera malah mengusir Frida. Diego Rivera merasa tidak pantas dinasehati oleh Frida, karena umur dari Frida jauh lebih muda dibandingkan dirinya. Diego Rivera merasa harga dirinya turun apabila dinasehati oleh seseorang yang berumur lebih muda dari dirinya. Diego mengaum seperti singa terluka. “Pergi jauh-jauh dariku! Pergi jauh-jauh dari sini! (Mujica, 2004:400). Mendapat perlakukan dari Diego Rivera tersebut, Frida melakukan mekanisme pertahanan ego nomadisme. Dalam menggunakan mekanisme pertahanan ego tersebut, Frida berusaha mengurangi kecemasan dengan memindahkan dirinya sendiri secara fisik dari ancaman, yakni pergi meninggalkan Diego Rivera, ke tempat tinggalnya dulu di Avenda Londres. Saat itu tengah malam. Tetapi ia kembali ke Avenda Londres dan tidur di tempat tidur yang ditidurinya sejak kanak-kanak (Mujica, 2004:400). Perbuatan Frida melakukan mekanisme pertahanan ego nomadisme, semakin kuat. Hal itu dibuktikan ketika dirinya dijemput oleh adiknya, Cristina. Frida berkata bahwa dia tidak akan kembali kepada Diego Rivera. Frida ingin hidup bersama adiknya, cristina, dan bersedia merawat anak-anaknya, Isolda.

“Aku tidak akan pernah kembali padanya!” tangisnya. “Tidak akan! Aku akan hidup denganmu dan membantumu merawat Isolda!” (Mujica, 2004:400). Frida bersikap seperti itu supaya menghindari atau tidak bertemu dengan kecemasan yang sedang dihadapinya. Kecemasan yang sedang dihadapi Frida adalah rasa malu kepada tamu-tamu undangannya, akibat ulah dari calon suaminya, Diego Rivera. Apalagi hari itu adalah hari pernikahannya. Kecemasan yang dialami Frida tidak hanya itu saja. Dirinya juga merasa dilecehkan dan merasa tidak dianggap sebagai calon istri dari Diego Rivera. Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Frida, dalam novel Frida karya Barbara Mujica, melakukan mekanisme pertahanan ego nomadisme tersebut dengan memindahkan dirinya sendiri dari ancaman yang menimbulkan kecemasan. Frida melakukan mekanisme pertahanan ego nomadisme itu sebanyak satu kali. Hal tersebut bisa dilihat ketika Frida pergi meninggalkan acara pernikahannya. Ketika itu Frida marah kepada suaminya, karena suaminya tersebut telah berbuat onar di perta pernikahannya. Ditambah lagi, ketika Frida mencoba untuk menasehati suaminya, Frida malah kena marah. Hal itu yang membuat ego Frida merasa cemas, karena Frida meras sudah tidak dihiraukan lagi keberadaannya sebagai calon istri Dego Rivera. Untuk mengurangi kecemasannya, Frida pergi meninggalkan Diego Rivera ke tempat tinggalnya dulu di Avenda Londres. Frida berbuat demikian karena dirinya tidak ingin berjumpa lagi dengan Diego Rivera. 4.9 Mekanisme Pertahanan Ego Simpatisme Pada novel Frida karya Barbara Mujica, Frida sebagai sosok utama, secara tidak sadar menggunakan mekanisme pertahanan ego simpatisme. Pertama, hal ini dibuktikan ketika Frida mengalami kecelakaan bus. Frida mengalami kebosanan karena harus tidur selama beberapa hari di rumah sakit dan kematian yang terusmenerus mendatanginya. Setelah mengalami beberapa kecemasan seperti itu, Frida, hampir setiap hari, menulis surat kepada Alex dengan harapan Alex datang untuk menemui dirinya.

Frida menulis surat kepada Alex hampir setiap hari-surat-surat panjang, penuh permohonan, tempat ia menuliskan secara detail segala penyakitnya dan memintanya untuk berkunjung dan menulis surat (Mujica, 2004:346). Frida pada saat itu benar-benar ingin bertemu dengan Alex. Frida ingin membicarakan masalah-masalah atau kecemasan yang dihadapinya kepada Alex, karena Alex adalah pacar Frida pada waktu itu. Frida berusaha mendapatkan nasihat dari Alex, supaya bisa meredakan kecemasan yang dihadapinya. “Oh, kekasihku Alex, aku menghabiskan sepanjang malam dengan muntah-muntah! Datanglah kemari” atau yang lain, “Oh yang tersayang, Alex yang kucintai, perutku serasa terbakar sampai aku kesulitan kentut! Aku searat ingin berjumpa denganmu!” (Mujica. 2004:346). Prilaku yang telah dilakukan Frida inilah disebut dengan mekanisme pertahanan ego simpatisme. Seseorang yang melakukan mekanisme pertahanan ego seperti ini, akan mencari teman dekatnya untuk membicarakan kecemasan yang telah diterimanya. Hal ini juga dilakukan oleh Frida. Dirinya ingin sekali dapat bertemu dengan Alex dan berbicara mengenai masalah-masalahnya. Frida ingin mendapatkan kata-kata yang bisa mendorongnya supaya dirinya bisa bertahan menghadapi kecemasan-kecemasannya. Kedua, mekanisme pertahanan ego simpatisme ditampakkan juga oleh Frida, ketika dirinya sedang hamil. Frida tidak merasa bahagia, tetapi mengalami gelisah, karena ada berita buruk yang diterimanya. Menurut analisis dokter yang telah memeriksa kandungannya, bayi di dalam perutnya tersebut, dalam posisi salah. Ditambahkan lagi, bayi yang lahir dalam posisi ini, akan tumbuh secara tidak normal. Tetapi kemudian sesuatu yang buruk terjadi. Dokter memberitahu Frida bahwa bayinya sungsang, dalam posisi salah. Kepala di atas, kaki di bawah. Sangat mungkin bahwa bayi itu akan tumbuh dengan tidak normal (Mujica, 2004: 428). Menurut dokter yang memeriksanya, hal itu bisa berakibat fatal. Kemungkinan terburuk, Frida tidak dapat melahirkan. Jika bayi ini terus

dipaksakan keluar, maka akan terjadi komplikasi, dan akan membahayakan nyawanya sendiri. Mungkin bayi itu akan tertahan disana dan Frida tidak mampu melahirkannya, jika dipaksakan, sangat mungkin akan terjadi komplikasi (Mujica, 2004:428). Setelah mendengarkan penjelasan dari dokter tersebut, Frida merasa cemas. Kecemasan ini membuat Frida melakukan mekanisme pertahanan ego simpatisme. Frida berusaha mencari sokongan emosi atau nasehat dari orang lain, yakni adiknya sendiri, Cristina. Hati kami semua hancur. Frida menangis dan menangis. Begitu juga aku. Sungguh. “Apa yang harus aku lakukan, Cristi?” ia terus bertanya kepadaku (Mujica, 2004:428). Frida melakukan perbuatan tersebut untuk meredakan kecemasan yang dialaminya. Kecemasan yang dialami Frida adalah dirinya akan kehilangan bayi yang dikandungnya. Frida sangat takut akan hal tersebut karena Frida sangat ingin menjadi seorang ibu. Apalagi Frida pernah berkata bahwa dirinya ingin mempunyai anak dari Diego Rivera. Maka dari itu, Frida merasa sangat kecewa mendengar penjelasan dari dokter tersebut. Di dalam rasa kekecewaan tersebut, Frida mencari adiknya, Cristina untuk membicarakan tentang masalah-masalah yang telah diterimanya. Frida berusaha mendapatkan nasihat-nasihat dari Cristina karena dirinya sering mengobrol tentang kehidupannya kepada Cristina sejak dirinya masih kecil. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan kecemasan yang telah diterimanya. Ketiga, mekanisme pertahanan ego simpatisme ditunjukkan juga oleh Frida, ketika dirinya sedang berada di kota Detroit. Di kota tersebut, Frida merasa sangat kesepian, karena suaminya sibuk menyelesaikan lukisan-lukisan dindingnya. Apalagi kondisi kaki Frida yang cacat sangat mengganggunya. Dan ditambah lagi, pada saat itu Frida sedang mengandung bayi. Namun, jika kau berpikir bahwa Frida merasakan memiliki saat yang menyenangkan di Detroit, kau salah. Kakinya sangat menyiksanya, dan hal yang lebih buruk adalah dia hamil saat musim semi (Mujica, 2004:468—469).

Di negara asal Frida, Meksiko, seorang perempuan yang sedang hamil sangat bergantung kepada ibunya atau saudara-saudara perempuannya. Karena itu, ketika Frida mengetahui bahwa dirinya hamil, dia sangat ketakutan dan mengalami kecemasan. Kecemasan yang dialami Frida adalah dirinya merasa kesepian dan takut jika tidak ada yang akan merawatnya pada waktu dirinya sedang hamil nanti. Karena itu, upaya Frida untuk meredakan kecemasannya dengan cara menulis surat kepada adiknya, Cristina. Di dalam surat ini, Frida menceritakan kecemasan yang sedang dialaminya. Hal itu terbukti melalui kutipan berikut. Aku mengharapkan seorang bayi. Harusnya aku senang, namun, oh, Cristi-ku sayang. Aku begitu menderita (Mujica, 2004:469). Aku ingin pulang, tapi tak ada kesempatan, karena Diego akan menyelesaikan lukisan-lukisan dindingnya sebelum September. Bayinya akan lahir bulan Desember. Masalahnya adalah, aku ingin pulang sekarang. Tak seorang pun mengerti bagaimana mengurusku, dan Diego tidak menunjukkan ketertarikannya akan kondisiku (Mujica, 2004:470). Mekanisme pertahanan ego yang dilakukan Frida adalah mekanisme pertahanan ego simpatisme. Frida berharap dengan menulis surat seperti itu, dirinya bisa berbagi kecemasan-kecemasan yang sedang dialaminya kepada adiknya. Dengan menceritakan masalah-masalah yang sedang dialaminya, Frida berharap kecemasan itu akan musnah. Pada saat itu, Frida butuh rasa kasih sayang dari adiknya, Cristina, karena dirinya takut apabila kesepian. Frida mendapat kekuatan lebih apabila dirinya berada di dalam keramaian. Karena itu Frida berusaha mendapatkan nasehat dari adiknya ingin supaya dirinya tidak merasa kesepian. Keempat, mekanisme pertahanan ego simpatisme dilakukan juga oleh Frida, ketika dirinya kembali dilanda kesepian. Frida merasa kurang bahagia jika hanya mengirimkan surat kepada adiknya, Cristina. Frida butuh seseorang di dekatnya untuk memberinya nasehat. Dan orang yang dipilih Frida untuk membicarakan kecemasan-kecemasannya adalah asisten Diego Rivera, yakni,

Lucienne Bloch. Berikut ucapan Frida mengenai kecemasan yang dirasakan pada waktu itu. “Diego tak ingin punya anak, Lucienne, aku harus mampu menghadapinya, dia tak ingin punya anak dan ia tak mengizinkan aku untuk hamil lagi (Mucica, 2004:477). Sayang, kau pasti tak membayangkan, melukis sepanjang hari, setiap hari, dengan kedua kakiku dan masih mengalami pendarahan (Mujica, 2004:478). Frida senang berlarut-larut dengan ceritanya. Dirinya senang membuatnya sangat dramatis untuk menarik hati dan perhatian orang-orang. Itulah yang sekarang dilakukan kepada Lucienne Bloch. Frida banyak membicarakan tentang masalah-masalah psikis yang sedang dirinya hadapi. Terutama tentang suaminya, Diego. Frida bercerita tentang alasan Diego marah kepada dirinya itu bukan karena dirinya hamil, melainkan karena Diego sedang menjalani proses diet. Dia diet, itulah sebabnya dia begitu jengkel sepanjang waktu. Dia melemparkan benda-benda kepadaku, penghapus cat, rokok, asbak, senapan, tapi itu bukan dia, itu adalah dietnya. Dia tak sadar apa yang dia lakukan (Mujica, 2004:479). Berdasarkan penjelasan di atas, Frida ingin mendapatkan perhatian oleh seeorang karena dirinya sedang hamil. Budaya di negara Amerika sangat berbeda dengan negara Meksiko, tempat berasal Frida. Di Meksiko, perempuan yang sedang hamil biasanya dirawat oleh ibunya ataupun saudara-saudara perempuannya. Tetapi, di kota Detroit, dirinya ingin dirawat oleh teman barunya, Lucienne Bloch. Walaupun hanya sekadar mengobrol saja. Tujuan Frida melakukan mekanisme pertahanan ego seperti itu adalah untuk menghindarkan dirinya dari kesepian. Frida sangat suka dikelilingi oleh setiap orang, baik itu suka maupun duka. Karena itu, Frida berusaha mendapat simpati dari teman barunya, Lucienne Bloch. Apalagi Frida dapat dengan mudah mengikat hati seseorang. Kelima, mekanisme pertahanan ego simpatisme ditampakkan juga oleh Frida ketika kesehatannya semakin memburuk. Menurut dokter yang telah merawatnya, penyebabnya adalah paru-parunya mengalami masalah. Hal ini

berhubungan juga dengan tulang belakang Frida yang patah akibat kecelakaan yang dialami Frida dulu. Setelah Diego pergi, kesehatan Frida memburuk. Bernapas saja menjadi sebuah tugas baginya. Dokter berpikir, tulang belakangnya yang terlilit telah merusak paru-parunya (Mujica, 2004:669—670). Ketika berada dalam kondisi gelisah seperti itu, Frida secara tidak sengaja melakukan mekanisme pertahanan ego simpatisme. Seseorang yang melakukan mekanisme pertahanan ego seperti ini akan mencari teman dekatnya untuk membicarakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya. Frida pun memilih suaminya, Diego, untuk membicarakan kecemasannya. Karena itu, Frida mengirimkan surat kepada Diego perihal masalah kesehatan yang sedang dialaminya. Frida butuh rasa kasih sayang dari Diego, dan berusaha untuk mendapatkan kata-kata yang bisa membangkitkan gairah untuk menghadapinya. Berikut kutipannya. Musim panas tengah berlangsung. Siang terasa panjang dan nyaman, tetapi Frida berada dalam penderitaan abadinya. Ia menulis surat panjang, penuh dengan kata-kata manja, pada Diego, dan gambaran detail tentang alat yang menyakitkan yang ditemukan dokter khusus untuknya (Mujica, 2004:670). Frida ingin dirinya diperhatikan oleh Diego. Walaupun pada saat itu Frida telah diceraikan Diego, tetapi dirinya masih mencintai Diego. Tujuan Frida menulis surat kepada Diego itu sebenarnya dirinya membutuhkan nasehat atau sokongan emosi dari Diego. Walaupun jawaban surat dari Diego bukan memberikan perhatian penuh pada kesehatan Frida, tetapi hal itu bisa sedikit menghibur Frida dari kecemasan yang sedang dialaminya. Diego telah menjawabnya. Tetapi bukannya memberi perhatian penuh keharuan, suratnya malah berceloteh tentang bagaimana proyek muralnya berjalan baik (Mujica, 2004:670—671). Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Frida, dalam novel Frida karya Barbara Mujica, melakukan mekanisme pertahanan ego simpatisme tersebut dengan berusaha mencari nasihat atau sokongan emosi dari orang lain. Frida melakukan mekanisme pertahanan ego

simpatisme itu sebanyak lima kali. Hal tersebut bisa dilihat ketika Frida membutuhkan nasihat atau sokongan emosi dari Alex, Cristina, Lucienne Bloch, dan Diego Rivera. Pada mekanisme pertahanan ego simpatisme yang pertama Frida berusaha mencari nasihat dari Alex. Ketika itu, Frida mengalami kecelakaan bus. Beberapa tulangnya patah, sehingga Frida harus tidur di ranjangnya selama beberapa hari dan tidak bisa kemana-mana. Karena harus diam di ranjangnya selama beberapa hari, membuat Frida mengalami kebosanan. Hal itulah, yang membuat Frida mencari teman dekatnya, yakni Alex, untuk membicarakan kecemasannya. Hampir tiap hari, Frida menulis surat untuk Alex, dengan harapan Alex akan datang untuk menemuinya. Pada mekanisme pertahanan ego simpatisme yang kedua, Frida berusaha mencari nasihat dari adiknya, Cristina. Ketika itu, Frida mengalami keguguran. Frida sangat sedih sekali mendengar berita tersebut, karena Frida sangat ingin menjadi seorang ibu. Hal inilah yang menjadi penyebab kecemasan bagi dirinya. untuk mengurangi kecemasan yang ada di dalam diri Frida, dirinya lalu mencari sokongan emosi dari adiknya Cristina. Frida berusaha mendapatkan nasihat dari adiknya tersebut, karena Frida sering membicarakan tentang seputar kehidupannya kepada Cristina sejak Frida masih kecil. Pada mekanisme pertahanan ego simpatisme yang ketiga, Frida kembali berusaha mencari nasihat dari adiknya. Ketika itu Frida sedang berada di kota Detroit, Amerika, bersama suaminya. Di kota tersebut, Frida merasa sangat kesepian. Apalagi lagi, kakinya yang cacat sangat mengganggunya. Ditambah lagi, ketika itu Frida hamil kembali. hal inilah yang membuat Frida bertambah cemas, karena Frida takut jika tidak ada yang merawatnya di kota tersebut. Frida sangat takut apabila hidup sendirian atau kesepian. Karena itu, untuk meredakan kecemasannya, Frida menulis surat kepada Cristina. Di dalam surat ini, Frida banyak menceritakan tentang kecemasan-kecemasan yang sedang dialaminya pada waktu itu. Pada mekanisme pertahanan ego simpatisme yang keempat, Frida membicarakan kecemasan-kecemasannya kepada asisten Diego Rivera, yakni

Lucienne Bloch. Frida banyak bercerita tentang masalah-masalah psikis yang sedang dirinya hadapi, seperti tentang perbuatan suaminya yang tidak wajar kepada dirinya. ketika itu Frida merasa kesepian di kota Detroit, Amerika. Frida sangat benci dengan kesepian, dan sebisa mungkin untuk menghidarinya. Hal ini yang membuat Frida semakin merasa cemas. Karena itu, untuk menghilangkan kecemasannya, Frida banyak berbicara dengan Lucienne Bloch. Tujuan frida berbuat seperti itu, karena untuk menghindarkan dirinya dari kesepian, sekaligus meredakan kecemasannya. Pada mekanisme pertahanan ego simpatisme yang kelima, Frida berusaha mencari nasihat dari suaminya, yakni Diego Rivera. Ketika itu, Frida mengalami masalah dengan kesehatannya. Ketika berada di dalam kondisi cemas seperti itu, Frida butuh sokongan emosi dari Diego Rivera. Karena itu, Frida menulis surat kepada Diego Rivera perihal masalah kesehatan yang sedang dialaminya. Frida berharap dengan cara tersebut, dirinya bisa mendapatkan kata-kata yang bisa membangkitkan gairahnya untuk menjalani hidupnya yang saat itu dalam berada kondisi cemas.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan Setelah membaca, memahami, dan menganalisis aspek psikologi kepribadian tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica, maka, peneliti dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut. (1) Represi atau penekanan sebagai mekanisme pertahanan ego tampak nyata pada Frida dalam novel Frida karya Barbara Mujica. Pertama, ketika Frida menggambar tanda X hitam di seluruh lukisannya, memoles seluruh badannya dan seluruh benda-benda yang ada di sekitarnya, dengan campuran warna yang telah dibuatnya. Kedua, pada saat menerima berita duka, yakni papanya yang sangat disayanginya meninggal dunia. Frida merasa sangat terpukul atas kejadian tersebut, karena selama ini Frida selalu dimanja oleh papanya. (2) Sublimasi sebagai mekanisme pertahanan ego tampak nyata pada Frida dalam novel Frida karya Barbara Mujica. Pertama, ketika Frida pergi ke gereja untuk meminta maaf atas perbuatannya kepada Elias Galdos. Kedua, pada saat Frida melukis karena tidak bisa kemana-mana akibat kecelakaan. Ketiga, ketika Frida melukis untuk mengusir rasa bosan akibat terus-menerus menunggui suaminya bekerja. Keempat, pada saat Frida sedang hamil. Pada waktu itu Frida sedang berada di kota Detroit bersama suaminya. Dan kelima, ketika Frida kembali melukis setelah dirinya bercerai dengan Diego Rivera. (3) Proyeksi sebagai mekanisme pertahanan ego tampak nyata pada Frida dalam novel Frida karya Barbara Mujica, ketika Frida menuduh gurunya yang tidak pintar dan gaya mengajarnya membosankan. Frida berbuat begitu karena tidak ingin dikeluarkan dari sekolahnya. (4) Displacement sebagai mekanisme pertahanan ego tampak nyata pada Frida dalam novel Frida karya Barbara Mujica, ketika Frida memotong rambutnya setelah dirinya bercerai dengan suaminya, Diego Rivera. (5) Rasionalisasi sebagai mekanisme pertahanan ego tampak nyata pada Frida dalam novel Frida karya Barbara Mujica. Pertama, ketika Frida terkena penyakit polio, dirinya berimajinasi bahwa putri khayalannya, putri Zoraida, mempunyai

kaki yang sama dengan dirinya. Kedua, berbicara mengenai kematian yang datang kepadanya. Ketiga berbicara bohong ketika ditanyai Agustina Reyna. Dan keempat, pada saat Frida mengalami kesakitan pada kakinya. Frida tidak tahan pada rasa sakit tersebut, sehingga dirinya melontarkan pernyataan-pernyataan bohong kepada adiknya yang menjaganya. (6) Reaksi formasi sebagai mekanisme pertahanan ego tampak nyata pada Frida dalam novel Frida karya Barbara Mujica, ketika Frida didatangi oleh muridmuridnya. Para muridnya tersebut ingin membuat pesta kecil-kecilan bersama Frida, tetapi Frida tidak ingin merayakannya karena merasa dihina. Jadi, Frida menolaknya secara halus. (7) Melakonkan sebagai mekanisme pertahanan ego tampak nyata pada Frida dalam novel Frida karya Barbara Mujica. Pertama, ketika Frida berbicara kasar sewaktu diejek oleh Estela. Kedua, pada saat Frida berbuat onar sewaktu Miss Caballero ingin mempermalukannya. Ketiga, ketika Frida berkelahi dengan teman dari Estela. Keempat, pada saat Frida mendapat berita bahwa ibunya telah meninggal. Kelima, ketika Frida mengetahui bahwa adiknya, Cristina, telah berselingkuh dengan suaminya. Dan keenam, pada saat Frida bersama adiknya dan Graciela didatangi oleh para polisi. Mereka bertiga dituduh para polisi tersebut membunuh Leon Trotsky. (8) Nomadisme sebagai mekanisme pertahanan ego tampak nyata pada Frida dalam novel Frida karya Barbara Mujica, ketika Frida pergi dari acara pernikahannya karena malu atas perbuatan suaminya, Diego Rivera. Ketika itu Diego Rivera mabuk berat dan menembak seluruh benda pada saat pernikahannya. (9) Simpatisme sebagai mekanisme pertahanan ego tampak nyata pada Frida dalam novel Frida karya Barbara Mujica. Pertama, ketika Frida ingin mendapatkan nasihat dari kekasihnya, ketika dirinya kecelakaan. Kedua, pada saat Frida mengetahui bahwa bayi yang dikandungnya itu dalam posisi salah, dirinya berusaha mencari nasehat dari adiknya, Cristina. Ketiga, ketika Frida merasa kesepian di kota Detroit. Frida lalu menulis surat kepada adiknya, Cristina. Di dalam surat ini, Frida menceritakan kecemasan yang sedang dialaminya.

Keempat, pada saat Frida membicarakan kecemasan-kecemasannya kepada asisten Diego, Bloch Lucienne. Kelima, ketika kesehatannya semakin memburuk. Frida mengirimkan surat kepada Diego perihal masalah kesehatan yang sedang dialaminya. 5.2 Saran Berkaitan dengan hal itu, saran yang disampaikan dalam penelitian ini ditujukan kepada para sastrawan, para peneliti, dan pecinta sastra serta para pendidik khususnya guru bahasa dan sastra indonesia. Adapun saran-sarannya adalah sebagai berikut. (1) Bagi sastrawan, mempelajari psikologi secara mendalam sangat penting. Hal ini berguna untuk menajamkan pengamatan terhadap gejala-gejala psikologi yang terjadi di kehidupan masyarakat. Hal ini berguna bagi penulisan karya sastra. (2) Bagi peneliti dan pemerhati sastra, perlu juga memperluas wawasan psikologi. Hal ini bermanfaat untuk menajamkan analisis agar diperoleh hasil yang lebih baik. (3) Bagi pendidik, hasil penelitian yang dijadikan masukan bagi pengajaran apresiasi sastra, terutama mengenai cara menganalisis suatu karya sastra, khususnya aspek-aspek psikologisnya. (4) Bagi orang yang mambaca sastra. Dengan mambaca karya sastra diharapkan dapat memperkaya makna kehidupannya dan makna kejiwaannya. (5) Bagi perpus Unesa. Diharapkan untuk melengkapi buku-buku atau literatur. Peneliti sadar bahwa penulisan ini adalah langkah awal dalam kegiatan analisis terhadap unsur-unsur psikologis, terutama Psikoanalisis Sigmund Freud, tokoh utama novel Frida karya Barbara Mujica. Karena itu, diharapkan peneliti selanjutnya bisa mengkaji novel ini dari cabang ilmu dari psikoanalisis atau biasa disebut neo-Freudian. Adapun tokoh-tokohnya adalah Carl Gustav Jung, Alfred

Adler, Erik H. Erikson, Harry Stack Sullivan, Erich Fromm, Karen Horney, dan Otto Rank. Atau jika tidak, diharapkan peneliti selanjutnya mengkaji dari cabang ilmu dari psikologi yang lainnya, seperti behaviorisme B. F. Skinner, atau humanistik Abraham Maslow. Dengan demikian, kajian psikologi di indonesia, khususnya di Unesa bisa semakin berkembang dan meluas.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan M. Umar. 1992. Psikologi Umum. Surabaya: PT Bina Ilmu. Aminudin. 1990. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Algesindo.

Berry, Ruth. 2001. Seri Siapa Dia? FREUD, (penerjemah: Frans Kowa). Jakarta: Erlangga. Bertens, K. 2002. Etika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Boeree, C. George. 2005. Personality Theories, (penerjemah: Inyiak R). Yogyakarta: Prisma. Corey, Gerald. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (penerjemah: E. Koeswara). Bandung: PT Refika Aditama. Darma, Budi. 2004. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pusat bahasa. Darwati. 2002. “Mekanisme Pertahanan Ego Tokoh dalam Kumpulan Cerpen Enam Mimpi karya Chiung Yao (Kajian Psikoanalisis)”. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSA, Universitas Negeri Surabaya. Djojosuroto, Kinati dan M. L. A. Sunaryati 2001. Penelitian Bahasa dan Sastra. Jakarta: Cendekia Endraswara, Suwandi. 2003. Metodologi Penelititan Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Widyatama. Freud, Sigmund. 2002. Psikoanalisis, (penerjemah: Ira Puspitarini). Yogyakarta: Ikon. 2003. Teori Seks, (penerjemah: Apri Danarto). Yogyakarta: Jendela. Fudyartanta, RBS. 2005. Psikologi Kepribadian Neo Freudianisme. Yogyakarta: Zenith Publisher. Hall, Calvin S., dan Gardner Lindzey. 1993. Teori-teori Psikodinamik (Klinis), (penerjemah: A. Supratiknya). Yogyakarta: Kanisius. Hardjana, Andre. 1994. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia. Indarti, Titik.

2004. “Sikap Perempuan Bali terhadap Tradisi, Adat, Agam, dan Dominasi Laki-laki dalam novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini” dalam Prasasti Vol 54, Bulan Agustus 2004. Surabaya: Unesa Press Jabrohim, Dkk. 2000. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Kartono, Kartini. 1989. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: Mandar Maju. 1996. Psikologi Umum. Bandung: Mandar Maju. Koeswara, E. 1991. Teori Teori Kepribadian. Bandung: PT Eresco. Mayasari, Irene Dwi. 2005. “Tokoh Utama Mandar dalam Novel Cinta Seorang Psikopat karya V. Lestari (Kajian Psikoanalisis)”. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSI, Universitas Negeri Surabaya. Milner, Max. 1992. Freud dan Interpretasi Sastra, (penerjemah: Sri Widaningsih dan Laksmi). Jakarta: Intermasa. Mujica, Barbara. 2004. Frida, (penerjemah: Nuraini Juliastuti). Bandung: Bentang Nadjid, Moh. 2003. Apresiasi Prosa Fiksi. Surabaya: Unesa Press. Niswah, Anis Choirun. 2003. “Analisis Mimpi dan Realita Tokoh Aston dalam Novel Pol karya Putu Wijaya (Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud)”. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSA, Universitas Negeri Surabaya. Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press. Palmquist, Stephen. 2005. Fondasi Psikologi Perkembangan, menyelami mimpi, mencapai kematangan diri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pradopo, Rachmat Djoko. 2003. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Poduska, Benard. 2000. Empat Teori Kepribadian. Jakarta: Restu Agung. Rahmani. 2004. “Kecemasan Tokoh Firdaus dalam Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi (Kajian Psikoanalisis)”. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSA, Universitas Negeri Surabaya. Rahmawati, Tutik. 2005. “Novel Imipramine karya Nova Riyanti Yusuf (Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud)”. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSA, Universitas Negeri Surabaya. Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rubiyanti, Ellysa. 2005. “Mimpi dan Dampak Mimpi bagi Tokoh Maya Amanita dalam Novel Cala Ibi karya Nukila Amal. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSA, Universitas Negeri Surabaya. Satoto, Soediro. 1986. Metode Penelitan Sastra. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Satriya, Andik. 2003. “Dinamika Kepribadian Tokoh Utama dalam Novel Melanie karya V. Lestari (Tinjauan Psikologis)”. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSA, Universitas Negeri Surabaya. Syafiq, Muhammad. 2004. “Menggapai Pesona Frida Kahlo”. Artikel di harian Jawa Pos, Tanggal 28 November 2004. Wardani, Farah. 2004. “Membaca Frida: Sang Wanita dan Wanita Lain di Belakangnya”. dalam Barbara Mujica. 2004. Frida. Yogyakarta: Bentang. Wellek, Rene & Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan, (Penerjemah: Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia.

KORPUS DATA MEKANISME PERTAHANAN EGO TOKOH UTAMA NOVEL FRIDA KARYA BARBARA MUJICA

MEKANISME PERTAHANAN EGO

DATA (KUTIPAN) • “Sial! Sial! Sial! Aku tidak dapat melakukan

HALAMAN

REPRESI

apa-apa dengan baik!” tiba-tiba ia mengambil kuas dan mulai menggambar X hitam di seluruh kanvas. • Tiba-tiba selintas bayangan masuk di

361

kepalaku. Kelas Miss Caballero. Saat ketika guru itu berusaha mempermalukan Frida di depan murid-murid lain. Dan Frida yang meronta melepaskan diri dan menutupi dirinya dengan cat. • Frida terus melukis X lalu ia mengambil kuas dan mulai menulis-nulis dengan kasar, 261 mencampurkan semua warna sampai mereka semua menjadi hitam-kecokelatan. • Ia menekankan tangannya ke kanvas basah, kemudian menjijikkan mengoleskan itu ke warna seluruh campuran matanya, 261—262 362—363

rambutnya, mulutnya, dahinya. • Lalu ia menancapkan tangannya pada cat diatas palet, cat merah, dan mulai memulaskan pipinya, di korsetnya, di kertas-kertasnya, di bantalnya, semuanya. 362

• Ia menjadi tak terduga sejak papa meninggal.
Satu menit ia akan penuh kegembiraan dan tertawa. “Hey, manita, ayo belanja, membeli cincin untuk tiap jari atau barang loakan yang masih bagus dan cantik.” Tapi kemudian ia akan mulai minum lagi dan tidak satu orang pun yang bisa menghentikannya. 686

685 • Seluruh koleksinya pecah dan hancur berkeping-keping. • Patung bayi bercat dengan senyum sempurna dan matanya yang tak bergerak, semuanya berkeping-keping. • Sebagai bukti kesedihannya yang mendalam, SUBLIMASI ia pergi ke katedral dan menyalakan lilin untuk Bunda Maria. Ia mulai menjelaskan kepada Bunda Maria, betapa ia sangat menyesal, betapa ia merasa seperti kotoran di selokan. • “Tapi aku harus memerhatikannya sekarang, karena sekarang aku merasa ingin melukis.” • Menurut mami melukis akan menjadi model pengalihan yang aku baik rasa baginya. setiap Dan orang 359 sesungguhnya, seperti itu. • Tapi kemudian, Frida ada agak hal bosan yang di yang 425—426 357 174 685

berbahagia dengan Frida yang patuh dan diam

Cuernavaca.

Tidak

dilakukannya kecuali menunggui Diego dan menghadiri acara-acara sosial. Sehingga ia mulai melukis lagi sedikit untuk mengabiskan waktu. • “Aku melukis agar aku bisa melupakannya.” • Satu-satunya saat ia tampak baik-baik saja adalah saat melukis. • “Mengapa harus pergi ke kelas yang diajar PROYEKSI oleh guru-guru yang bodoh dan

475

656

264

membosankan?” bentaknya. • Ia memotong rambutnya. Ia selalu melakukan DISPLACEMENT itu ketika ia memiliki masalah serius dengan Diego. • RASIONALISASI juga.” “Bagaimana kau tahu?” tanyaku “Aku melihatnya. Ia muncul dari kabut dan datang menemuiku semalam.” Ia memejamkan mata, dan tampak sedang membayangkan sesuatu. • “Aku merasakannya,” katanya. “Aku melihatnya. Kematian berdansa di sekeliling ruangan. Kadang ia menaiki sepeda memutari tempat tidurku. Kadang ia mengambil gitar dan memainkan nada-nada ceria. Nada yang memikat, yang membuatmu ingin pergi ke arahnya dan memeluknya.” 351 • “Apakah kau mencari 335 tidak hanya “Kau tahu,” katanya kepadaku, “Princess Zoraida mempunyai kaki yang kisut 82—83 645

Alex?”“Tidak....,” Frida tergagap. “Aku...., aku hanya ingin melhat siapa yang sedang ada disana.” 582 • Kakinya begitu menyiksanya. “Kaki setan!” begitu katanya. “Setan itu menyiksaku lagi, katanya. “kau tahu, ia memberiku kaki ini untuk menghukumku. Ia menyelinap ke tempat tidurku suatu malam dan menancapkannya di kaki yang kurus. • REAKSI FORMASI “Idiot!” teriaknya segera setelah mereka pergi.”Anak-anak bodoh itu! Apa yang 726

mereka pikirkan dengan menganggap aku sebagai ibu mereka? • Ia mengambil pisau dan 727 menancapkannya pada gambar ibu dan anak milik Fanny. Ia merobek setiap gambar, dan merusak buket bunga. • Ia mengambil kelopak bunga yang halus, dan merenggut daun-daunnya, dan ia mengoyak tangkainya yang rapuh. Dengan gila ia mengoyak bunga itu dengan giginya, mengunyah sampai ke akar-akarnya, kemudian meludahkannya. • MELAKONKAN • yang bodoh!” • vaginanya!” • Miss Caballero berusaha 21 “Ibumu Bangsat! Ibumu begitu kotor sehingga ada laba-laba keluar dari 14 “Lagu yang bodoh!” pekiknya. “Pasti lagu itu dibuat oleh seorang idiot!” “Ibumu adalah pelacur bangsat 13 9 727

menahannya dengan menarik pita bajunya, tapi Frida meronta-ronta. Ia menyikut ember yang telah disiapkan untuk membersikannya. • Caballero. “Hentikan!” Tapi Frida jerit telah Miss terlanjur 22

menggosokkan cat ke bajunya, tangannya, wajahnya, bahkan dari kelopak matanya menetes cairan lengket kental berwarna merah. 95 • “Sundal!” teriaknya. “Aku jijik pada nyanyian bodohmu itu!”.

“Pergi!” Teriaknya. “Dasar kau yang keluar dari pantat ibumu, bukan dari lubang diantara kaki-kakinya.

95

Frida membalikkan tubuhnya dan berlari kencang, menghantam Maria Del Carmen dan Ines, yang langsung jatuh ke atas lumpur.

96

485 • “Kau pelacur berhati dingin,” ejeknya. “Kau tak tahu apa yang kau rasakan!” dia mulai menjerit, “Mamii! Mamii! Aku mencintaimu! Bawa aku bersamamu!” 531 • ular kecil!” 675 • “Pembunuhan!” Frida tertawa keras, “Kau kira siapa yang kami bunuh tolol? Kami! Tiga perempuan yang menghabiskan waktu dengan enchiladas dan chiles rellenos. Lihat baik-baik nak! Apakah kau melihat pembunuh?” • “Aku tidak akan pernah kembali padanya!” NOMADISME tangisnya. “Tidak akan! Aku akan hidup denganmu dan membantumu merawat Isolda!” • Frida menulis surat kepada Alex hampir setiap SIMPATISME hari-surat-surat panjang, penuh permohonan, tempat ia menuliskan secara detail segala penyakitnya dan memintanya untuk berkunjung dan menulis surat. • Hati kami semua hancur. Frida menangis dan 346 400 “Kau menyakitiku Cristina!

Bagaimana kau bisa lakukan ini padaku! Kau

menangis. Begitu juga aku. Sungguh. “Apa yang harus aku lakukan, Cristi?” ia terus bertanya kepadaku. • Aku mengharapkan seorang bayi. Harusnya aku senang, namun, oh, Cristi-ku sayang. Aku begitu menderita. • Aku ingin pulang, tapi tak ada kesempatan, karena Diego akan menyelesaikan lukisanlukisan Bayinya sekarang. dindingnya akan Tak lahir adalah, sebelum bulan aku pun September. Desember. pulang mengerti

428

469

470

Masalahnya

ingin

seorang

bagaimana mengurusku, dan Diego tidak menunjukkan ketertarikannya akan kondisiku. • “Diego tak ingin punya anak, Lucienne, aku harus mampu menghadapinya, dia tak ingin punya anak dan ia tak mengizinkan aku untuk hamil lagi. • Sayang, kau pasti tak membayangkan, melukis sepanjang hari, setiap hari, dengan kedua kakiku dan masih mengalami pendarahan. • Musim panas tengah berlangsung. Siang terasa panjang dan nyaman, tetapi Frida berada dalam penderitaan abadinya. Ia menulis surat panjang, penuh dengan kata-kata manja, pada Diego, dan gambaran detail tentang alat yang menyakitkan yang ditemukan dokter khusus untuknya. 670 478 477

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful