You are on page 1of 15

Abuya Mudawali Al-Khalidi

Written by: Teungku on 7th September 2009

Syaikh Mudawali Al-Khalidi | read this item

Related post

Syeikh Hamzah al-Fansuri


Syeikh Syamsuddin as-Sumatrani
Syeikh Nuruddin Ar-Raniri
Tgk H Abdul Aziz Bin Shaleh (Abon Samalanga)
Buya HAMKA

Syaikh Mudawali Al-Khalidi


Setelah beberapa tahun belajar di Bustanul Huda, beliau mengungkapkan niatnya untuk
melanjutkan pendidikannya kepesantren di Aceh Besar kepada ayahnya, Syekh
H.Muhammad Salim. Ayah beliau sangat senang mendengarkan niat beliau. Apalagi
Syekh H.Muhammad Salim telah mengetahui bahwa putranya ini telah menamatkan
kitab-kitab agama yang dipelajari di Pesantren Bustanul Huda.
Sebagai bekal dalam perjalanan beliau dari Labuhan Haji, ayahanda beliau memberikan
sebuah kalung emas milik kakak kandung beliau, yaitu Ummi Kalsum. Beliau diantar
oleh ayahanda beliau dari desanya sampai ke kecamatan Manggeng. Setelah sampai ke
Manggeng, ayahanda beliau berkataBiarkan aku antarkan engkau sampai ke Blang
Pidie. Sesampainya di Blang Pidie, Syekh Muhammad Salim berkata kepada putranya,
Syekh Muda Walybiarkan aku antarkan engkau sampai ke Lama Inong. Pada kali yang
ketiga ini Syekh Muda Waly merasa keberatan, karena seolah olah beliau seperti tidak
rela melepaskan anaknya merantau jauh untuk menuntut ilmu. Syekh Muda Waly
berangkat ke Aceh Besar ditemani seorang temannya yang juga merupakan tamatan dari
pesantren Busranul Huda, namanya Teungku Salim, beliau merupakan seorang yang
cerdas dan mampu membaca kitab-kitab agama dengan cepat dan lancar
Sesampainya di Banda Aceh, beliau berniat memasuki Pesantren di Krueng Kale yang
dipimpin oleh Syekh H.Hasan Krueng Kale,ayahanda dari Syekh H.Marhaban, menteri
muda pertanian Indonesia pada masa Sukarno. Beliau sampai di Pesantren Krueng kale
pada pagi hari, pada saat syekh Hasan Krueng Kale sedang mengajar kitab-kitab agama.
Diantara kitab yang dibacakan adalah kitab Jauhar Maknun. Syekh Muda Waly mengikuti
pengajian tersebut. Sebelum Dhuhur selesailah pembacaan kitab tersebut, dengan kalimat
terakhir Wa huwa hasbi wa ni`mal wakil. Setelah selesai pengajian Syekh Muda Waly
merasa bahwa syarahan syarahan yang diberikan oleh Syekh Hasan Krueng Kale tidak
lebih dari pengetahuan yang beliau miliki dan apabila beliau membacakan kitab tersebut
maka beliau juga akan sanggup menjelaskan seperti syarahan yang dipaparkan oleh
Syekh Hasan Krueng Kale. Walaupun demikian beliau tetang menganggap Syekh Hasan
Krueng Kale sebagai guru beliau karena guru beliau Syekh Mahmud Blang Pidie adalah
seorang alumnus Pesantren Kuerng Kale. Syekh Muda Waly hanya satu hari di Pesantren
krueng Kale. Beliau bersama Tengku Salim mencari pesantren lain untuk menambah
ilmu. Akhirnya merekapun berpisah. Pada saat itu ada seorang ulama lain di Banda Aceh
yaitu Syekh Hasballah Indrapuri, beliau memiliki sebuah Dayah di Indrapuri. pesantren
ini lebih menonjol dalam ilmu Al-Qur an yang berkaitan dengan qiraat dan lainnya.
Syekh Muda Waly merasakan bahwa pengetahuan beliau tentang ilmu Al Quran masih
kurang. inilah yang mendorong beliau untuk memasuki Pesantren Indrapuri. Pesantren
Indrapuri tersebut dalam simtem belajar sudah mempergunakan bangku, satu hal yang
baru untuk kala itu. Pada saat mengikuti pelajaran, kebetulan ada seorang guru yang
membacakan kitab kuning, Syekh Muda Waly tunjuk tangan dan mengatakan bahwa ada
kesalahan pada bacaan dan syarahannya, maka beliau meluruskan bacaan yang benar
beserta syarahannya. Dari situlah Ustad dan murid-murid kelas itu mulai mengenal anak
muda yang baru datang kepesantren itu dan memiliki pengetahuan yang luas. Maka ustad
tersebut mengajak beliau kerumahnya dan memerintahkan kepada pengurus pesantren

untuk mempersiapakan asrama temapat tinggal untuk beliau, kebetulan sekali pada saat
itu perbekalan yang dibawa Syekh Muda Waly sudah habis, maka dengan adanya
sambutan dari pengurus pesantren tersebut beliau tidak susah lagi memikirkan belanja.
Pimpinan Pesantren Indrapuri tersebut, Teungku Syekh Hasballah Indrapuri sepakat
untuk mengangkat Syekh Muda Waly sebagai salah satu guru senior di Pesantren
tersebut. Semenjak saat itu Syekh muda Waly mengajar di pesantren tersebut tanpa
mengenal waktu. Pagi, siang, sore dan malam semua waktunya dihabiskan untuk
mengajar. Tinggallah sisa waktu luang hanya antara jam dua malam sampai subuh. Waktu
waktu itupun tetap diminta oleh sebagian santri untuk mengajar. Selama tiga bulan beliau
mengajar di Dayah tersebut. Karena padatnya jadwal beliau dan beliau kelihatan kurus,
tetapi alhamdulillah walaupun demikian beliau tidak sakit.
Setelah sekian lamanya di Pesantren Indrapuri, datanglah tawaran dari salah seorang
pemimpin masyarakat yaitu Teuku Hasan Glumpang payung kepada Syekh Muda Waly
untuk belajar ke sebuah perguruan di Padang, Normal Islam School yang didirikan oleh
seorang ulama tamatan Al-Azhar Mesir Ustad Mahmud Yunus. Teuku Hasan tersebut
setelah memperhatikan pribadi syekh Muda Waly, timbullah niat dalam hatinya bahwa
pemuda ini perlu dikirim ke Al-Azhar, Mesir. Tetapi karena di Sumatra Barat sudah
terkenal ada seorang Ulama yang telah menamatkan pendidikannya di Al Azhar dan
Darul Ulum di Cairo Mesir yang bernama Ustad Mamud Yunus yang telah mendirikan
sebuah perguruan di Padang yang bernama Normal Islam School yang sudah terkenal
kala itu melebihi perguruan perguruan sebelumnya seperti Sumatra Thawalib. Oleh sebab
itu Teuku Hasan mengirimkan Syekh Muda Waly ke pesantren tersebut sebagai jenjang
atau pendahuluan sebelum melanjutkanke al Azhar.
Berangkatlah Syekh Muda Waly menuju Sumatra barat dengan kapal laut.Beliau sama
sekali tidak mengetahui tentang Sumatra Barat sedikit pun,dimana letak Normal Islam
School dan kemana beliau harus singgah.tiba tiba saja ada seorang penumpang yang telah
lama memperhatikan tingkah laku dan gerak gerik Syekh Muda Waly selama di kapal
bersedia membantu Syekh Muda Waly untuk bisa sampai ketempat yang beliau tuju.
Setelah sampai di Normal Islambeliau segera mendaftarkan diri di Sekolah tersebut.
Lebih kurang tiga bulan beliau di Normal Islam dan akhirnya beliau mengundurkan diri
dan keluar dengan hormat dari Lembaga pendidikan tersebut.Hal ini beliau lakukan
dengan beberapa alasan :
1. Cita-cita melanjutkan pendidikan kemana saja termasuk ke Normal Islam dengan
tujuan memperdalm ilmu agama, karena cita-cita beliau mudah-mudahan beliau menjadi
seorang ulama sperti ulama ulam besar lainnya.Tetapi rupanya ilmu agama yang
diajarkan di normal Islam amat sedikit.Sehingga seolah olah para pelajar disitu sudah
dicukupkan ilmu agamanya dengan ilmu yang didapati sebelum memasuki pesantren
tersebut.

2. Di normal Islam pelajaran umum lebih banyak diajarkan ketimbang pelajaran agama.
Disana diajarkan ilmu matematika,kimia,biologi,ekonomi,ilmu falak,sejarah
Indonesia,bahasa inggris.bahasa belanda,ilmu khat dan pelajaran olahraga.
3. Di normal Islam beliau harus menyesuaikan diri dengan peraturan peraturan di
lembaga tersebut, disitu para pelajar diwajibkan memakai celana, memakai dasi, ikut olah
raga disamping juga mengikuti pelajaran umum diatas. Menurut hemat Syekh Muda
Waly, kalau begini, lebih baik beliau pulang ke Aceh mengamalkan dan mengembangkan
ilmu yang telah beliau miliki daripada menghabiskan waktu dan usia di Sumatra Barat.
Setelah beliau keluar dari Normal Islam, beliau bertemu dengan salah seorang pelajar
yang juga berasal dari Aceh dan sudah lama di Padang yaitu Ismail Ya`qub, penerjemah
Ihya `ulumuddin .Bapak Ismail Ya`qub menyampaikan kepada Syekh Muda Waly supaya
jangan cepat cepat pulang ke Aceh, tetapi menetaplah dulu di Padang, barangkali ada
manfaatnya.
Pada suatu sore beliau mampir untuk berjamaah maghrib di sebuah surau yaitu di Surau
Kampung Jao.Setelah shalat maghrib kebiasaan disurau itu diadakan pengajian dan
seorang ustaz mengajar dengan membaca kitab berhadapan dengan para jamaah.rupanya
apa yang di baca oleh ustaz itu beserta syarahan yang di sampaikan menurut Syekh Muda
Waly tidak tepat, maka beliau membetulkan.sehingga ustaz itu dapat menerima,
sedangkan jamaah para hadirin bertanya-tanya tentang anak muda yang berani bertanya
dan membetulkan pendapat ustaz itu.
Akhirnya para jamaah beserta ustaz tersebut meminta beliau supaya datang kesurau itu
untuk menjadi imam shalat dan mengajarkan ilmu agama . Begitulah dari hari ke hari
beliau mulai dikenal dari satu surau ke surau yang lain , dan dari satu mesjid ke mesjid
yang lain. Apalagi beliau bukan orang padang, tetapi dari daerah Aceh dan nama Aceh
sangat harum dalam pandangan ummat islam Sumatra barat. Dan yang lebih
mengagumkan lagi ialah kemahiran beliau dalam ilmi fiqh, tasawwuf, nahu dan lain.
Barulah sejak itu beliau dipangil oleh masyarakat dengan Angku Mudo atau Angku Aceh.
Pada masa itu pula sedang hangat-hangatnya di Sumatra Barat tentang masalah- masalah
keagamaan yang sifatnya adalah sunat-sunat seperti masalah usalli, masalah hisab dalam
memulai puasa Ramadan,hari raya Id al fitr dan lain lain.Terjadilah perdebatan antara
kelompok kaum tua dengan kelompok kaum muda.
Syekh Muda Waly berasal dari Aceh dalam kelahiran,dan pendidikannyai,tentu saja
berpendirian dalam semua masalah masalah itu seperti pendirian para ulama Aceh sejak
zaman dahulu,karena semua ulama Aceh khususnya dalam bidang syariat dan fiqh islam
tidak ada bertentangan antara yang satu dengan yang lain.Apalagi ulama ulama Aceh
zaman dahulu seperti syeikh Nuruddin al-Raniri,Syeikh Abdul Rauf al-fansuri al-singkili
[Syiahkuala], Syeikh Hamzah Fansuri,Syekh Syamsuddin Sumatrani dan lain
lain.Semuanya bermazhab Syafi`I dan antara mereka tidak terjadi pertentangaan dalam
syari`at dan fiqh Islam kecuali hamya perbedaan pendapat dalam masalah tauhid yang
pelik dan sangat mendalam ,yaitu masalah Wahdah al-Wujud, juga masalah hukum Islam
yang berkaitan dengan politik,seperti masalah wanita menjadi raja.
Karena itulah maka semua masalah masalah kecil di atas sangat dikuasai oleh Syekh

Muda Waly dalil dalil hukum dan alasan alasannya ,al Quran dan hadist ,dan juga dari
kitab kitab kuning. Karena itulah ,maka terkenallah beliau di kota padang dan mulai
dikenal pula oleh seorang ulama besar di kota padang itu,yaitu syeikh Haji Khatib
Ali,ayahandanya Prof.Drs.H. Amura. Syeikh Khatib Ali ulama besar ahli al-sunnah wa aljamaah dipadang .Murid daripada Syeikh Ahmad Khatib di Mekkah Al- Mukarramah,
beliu mendapat ijazah ilmu agama dari Syeikh Ahmad Khatib dan mendapat pula ijazah
Tariqat Naqsyabandiyah dari pada Syeikh Ustman Fauzi Jabal Qubais Mekkah almukarramah.Yang menjadikan beliu terkenal di padang karena kegigihannya
mempertankan `aqidah ahli al-sunnah wa al-jama`ah dan mazhab syafi`i, di samping pula
beliu adalah menantu seorang ulama besar dalam ilmu syari`at dan tariqat,yaitu Syeikh
sa`ad Mungka, Syekh Khatib Ali sangat tertarik kepada Syekh muda Waly sehingga
beliau menjodohkan Syekh Muda Waly dengan seorang family beliau yaitu Hajjah
Rasimah,yang akhirnya melahirkan Syekh prof.Muhibbuddin Waly.Sejak itulah
kemasyhuran Syekh Muda Wali semakin meningkat dan terus ditarik oleh ulama-ulama
besar lainnya dalam kelompok para ulama kaum tua,tetapi beliau secara tidak langsung
juga mengambil hal-hal hal yang baik dari ulama-ulama lainnya, seperti orang tuanya
Buya Hamka, Haji rasul.
Kemudian Syekh Muda waly juga berkenalan dengan Syekh Muhammad Jamil Jaho.
Maka beliau mengikuti pengajian yang diberikan oleh Ulama besar Padang tersebut.
Hubungan beliau dengan Syekh Muda Waliy pada mulanya hanya sekadar guru dan
murid. Syekh Jamil Jaho adalah seorang Ulama Minangkabau, murid Syekh Ahmad
Khatib. Beliau diakui kealimannya oleh ulama lainnya terutama dalam ilmu bahasa arab.
Di Pesantren jaho itulah Syekh Muhammad Jamil Jaho mengumpulkan murid muridnya
yang pintar untuk mencoba pengetahuan Syekh Muda Waly pada lahiriyahnya mereka
seperti mengaji pada Syekh Muda Waly tapi pada hakikatnya adalah untuk menguji dan
mencoba Syekh Muda Waly dengan berbagai ilmu alat. Rupanya semua debatan tersebut
dapat dijawab oleh Syekh Muda Waly. Dari situlah, Syekh Muda Waly semakin terkenal
dikalangan para ulama Minangkabau. Akhirnya Syekh Muda Waly dinikahkan dengan
putri Syekh Muhammad Jamil Jaho yaitu dengan seorang putrinya yang juga alim, Hajjah
Rabi`ah yang akhirnya melahirkan Syekh H.Mawardi Waly. Akhirnya syekh Muda Waly
menempati rumah pemberian paman istri beliau yang pertama, Hajjah Rasimah. Rumah
itu terdiri dari dari dua tingkat. Pada bagian bawahnya di gunakan sebagai madrasah
tempat majlis ta`lim.
Apabila datang hari hari besar islam ummat Islam di Kota Padang beramai ramai datang
kerumah tersebut. Para Ulama Kota Padang khususnya sering berdatangan ke rumah
tersebut karena bila tak ada undangan Syekh Muda Waly sibuk mengajar dan berdiskusi
dengan para ulama lainnya Apalagi dalam rumah itu juga tinggal seorang ulama besar
lain, Syekh Hasan Basri, menantu dari Syekh Khatib `Ali Padang dan suami dari Hajjah
Aminah, ibunda dari istri beliau Hajjah Rasimah. Pada tahun 1939 Syekh Muda Waly
menunaikan ibadah haji ketanah suci bersama salah seorang istri beliau Hajjah rabi`ah.
Selama di Makkah beliau tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan .Selain
menunaikan ibadah haji, beliau juga memanfaatkan waktu untuk menimba ilmu
pengetahuan dari ulama ulama yang mengajar di Masjidil Haram antara lain Syekh Ali Al
Maliki, pengarang Hasyiah al Asybah wan nadhaair bahkan beliau mendapat ijazah
kitab kitab hadis dari Syekh Ali Al Maliki .

Selama di Makkah Syekh Muda Waly seangkatan dengan Syekh Yasin Al fadani, seorang
ulama besar
keturunan Padang yang memimpin Lembaga Pendidikan Darul Ulum di Makkah al
mukarramah .
Pada waktu Syekh Muda Waly berada di Madinah pada setiap saat shalat beliau selalu
menziarahi kuburan yang mulia Rasulullah Saw. Pada waktu itu siapa saja yang
menziarahi kuburan Nabi secara dekat, akan dipukul oleh polisi dengan tongkatnya,
tetapi pada saat Syekh Muda Waly sedang bermunujat dekat makam Rasullualah, beliau
didekati oleh polisi, ingin memukul beliau, maka Syekh Muda Waly langsung berbicara
dengan polisi tersebut dengan bahasa arab yang fasih sehingga polisi tersebut tertarik
dengan beliau dan membiarkan beliau duduk lama didekat maqam Nabi SAW. Di
Madinah Syekh Muda Waly berdiskusi dengan para ulama ulama dari negeri lain
terutama dari Mesir, beliau tertarik dengan dengan perkembangan ilmu pengetahuan di
negeri Mesir,sehingga beliau sudah bertekat menuju ke Mesir,tetapi beliau lupa bahwa
pada saat itu beliau membawa istri beliau Hajjah Rabi`ah, istri beliau keberatan
ditinggalkan untuk pulang ke Indonesia, akhirnya beliau urung berangkat ke Mesir.
Selama beliau di Makkah ataupun Madinah beliau tak sempat mengambil ijazah dalam
Tahariqat apapun.Hal ini kemungkinan besar karena dua hal :
1. Karena beliau berada di tanah suci lebih kurang hanya tiga bulan ,waktu yang sangat
singkat bagi beliau yang mempunyai cita-cita besar untuk menggali ilmu dari berbagai
ulama, sehingga habislah waktu beliau hanya untuk menemui dan berdiskusi dengan para
ulama lainnya.
2. pada umumnya para pelajar yang datang ke Tanah suci untuk mengamalkan thariqat,
mengambil ijazah, dan berkhalwat harus berada di tanah suci pada bulan Ramadan,
karena pada bulan Ramadan halaqah pengajian sepi bahkan libur, semua waktu dalam
bulan Ramadhan dutujukan untuk beribadah.Sedangkan Syekh Muda Waly berada di
Tanah suci bukan dalam bulan Ramadhan .
Kepulanngan Syekh Muda Waly dari tanah suci beliau mendapat sambutan dari murid
murid beliau serta dari ulama ulama Minangkabau lainnya seperti Syekh `Ali Khatib,
syekh Sulaiman Ar Rasuli, Buya syekh Jamil Jaho. Hal ini dikarenakan dengan
kembalinya Syekh Muda Waly, maka bertambah kokoh dan kuatlah benteng Ahlussunnah
wal jamaah di padang khususnya.
Dikalangan ulama ulama besar itu, Syekh Muda Waly merupakan yang termuda diantar
mereka, sehingga dalam perdebatan perdebatan ilmu keagamaan yang populer pada masa
itu, Syekh Muda Waly lebih didahulukan oleh ulama dari kelompok kaum tua untuk
menghadapi ulama dari kaum muda. Uniknya kedua belah pihak (Ulama kaum Tua dan
Ulama kaum Muda) menampilkan orang orang muda dari kedua belah pihak. Sehingga
antara ulama tua dari kedua belah pihak seolah olah tidak terjadi perbedaan pendapat.
Walaupun Syekh Muda Waly telah memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas, namun
ada hal yang belum memuaskan hati beliau yaitu ilmu yang beliau miliki belum mampu

menenangkan batin beliau, akhirnya beliau memutuskan untuk memasuki jalan tasauf
sebagaimana yang telah ditempuh oleh ulama ulama sebelumnya. Apabila Ar Raniri di
Aceh mengambil tariqat Rifa`iyah dan Syekh Abdur Rauf yang lebih dikenal oleh
masyarakat Aceh dengan sebutan Teungku Syiah Kuala mengambil tariqah Syatariyah
maka Syekh Muda Waly memilih Thariqat Naqsyabandiyah, sebuah tariqat yang popular
di Sumatra Barat kala itu . Beliau berguru kepada seorang Ulama besar Tariqah di
sumatra barat kala itu yaitu Syekh Abdul ghani Al Kamfary bertempat di Batu Bersurat,
kampar, bangkinang. Beliau bersuluk disana selama 40 hari lamanya. Menurut sebagian
kisah menyebutkan bahwa selama dalam khalwatnya dengan riyadah dan munajat berupa
mengamalkan zikir zikir sebagaimana atas petunjuk Syekh Abdul Ghany beliau sempat
mengalami lumpuh sehingga tidak bisa berjalan untuk mandi dan berwudhuk.
Setelah selesai berkhalwat beliau merasakan kelegaan batin yang luar biasa jauh melebihi
kebahagiannya ketika mendapat ilmu yang bersifat lahiriyah selama ini. Beliau mendapat
ijazah mursyid dari Syekh Abdul Ghani sebagai pertanda bahwa beliau sudah
diperbolehkan untuk mengembangkan thariqah Naqsyabandi yang beliau terima. Setelah
mendapat ijazah thariqah beliau kembali ke kota Padang dan mendirikan sebuah
Pesantren yang bernama Bustanul Muhaqqiqin di Lubuk Begalung Padang, Sebuah
pesantren yang terdiri dari beberapa surau dan asrama, banyak murid yang mengambil
ilmu di pesantren tersebut bahkan juga santri santri dari Aceh. Tetapi pada saat jepang
masuk kePadang, Syekh Muda Waly mengambil keputusan pulang ke Aceh karena di
Aceh beliau merasa lebih tenang dan nyaman dalam mengamalkan dan mengembangkan
ilmu yang telah beliau miliki. Sehingga akhirnya Pesantren yang beliau bangun di Padang
lumpuh.
PULANG KE ACEH
Setelah Syekh Muda Waly berjuang menuntut ilmu pengetahuan melalui pendidikan yang
secara lahiriahnya seperti tidak teratur, tetapi pada hakikatnya bagi Allah S.W.T.,
perjalanan pendidikan beliau selama ini membawa beliau naik ke tingkat martabat ulama
dan hamba Allah yang shalih. Maka dengan hasil perjalanan pandidikannya serta
pengalaman-pengalaman yang beliau dapati selama ini, rasanya bagi beliau sudah cukup
dijadikan pokok utama untuk mengembangkan agama Allah ini dengan pendidikan
pesantren di tempat beliau dilahirkan, di blang poroh Darussalam Labuhan Haji, Aceh
Selatan. Meskipun pada waktu itu kata Darusssalam itu belum ada, dan adanya nama ini
setelah beliau mendirikan pesantren di desa beliau sendiri.
Lebih kurang pada akhir tahun 1939, beliau kembali ke Aceh Selatan melalui parahu
layar dari Padang ke Aceh di kecamatan Labuhan haji. Beliau disambut dengan meriah
oleh ahli famili, para teman dan masyarakat labuhan Haji. Setelah beberapa hari beliau
berada di desanya, maka beliau bertekad membagun sebuah pasantren. Pembangunan
sebuah pesantren kali pertama tentu seadanya saja. Maka beliau hanya mendirikan sebuah
surau bertingkat dua. Pada tingkat dua di atas sebagai tempat tinggal beliau beserta
keluarga, sedangkan pada tingkat bawah dan yang masih tersisa di atas dipergunakan
sebagai tempat ibadah.

Lahan tempat mendirikan musholla yang diberi oleh famili beliau sangat terbatas,
sedangkan jamaah sudah mulai kelihatan berbondong-bondong datang ke surau beliau.
Ibu-ibu pada malam selasa dan harinya, sedangkan bapak-bapak pada malam rabu dan
harinya pula. Oleh karena itu, maka beliau ingin memperluas lahan untuk betul-betul
memulai sebuah pesantren yang dapat menampung santri-santri dengan tempat
tinggalnya sekalian, yang dalam istilah Aceh, disebut dengan rangkang-rangkang. Maka
beliau berusaha untuk membeli tanah sekitar surau yang ada. Beliau membeli tanah untuk
pembangunan pesantren sedikit demi sedikit, hingga mencapai ukuran 400250 m2. Di
atas tanah itulah beliau menampung santri-santri yang berdatangan sedikit demi sedikit,
dari Kecamatan Labuhan Haji, dari kecamatan-kecamatan di Aceh Selatan, bahkan juga
dari berbagai kabupaten di Daerah Istimewa Aceh. Berkembanglah pesantren itu,
sehingga pelajar-pelajar dari luar daerah pun pada berdatangan, khususnya dari berbagai
propinsi di Pulau Sumatra.
Pesantren itu beliau bagi-bagi atas berbagai nama, sebagai berikut:
1. Darul-Muttaqin, di bagian ini terletak lokasi madrasah, mulai dari tingkat rendah
sampai tingkat tinggi dan di sampingnya dibangun sebuah surau besar selaku tempat
ibadah. Khususnya dalam pengembangan tariqat Naqsyabanditah dan dijadikan tempat
khalwat atau suluk 40 hari selama ramadhan dengan 10 hari sebelumnya, 10 pada awal
zulhijjah, 10 hari pada bulan Rabiul awal
2. Darul `Arifin, dilokai ini bertempat tinggal guru guru ynag sebagian besar sudah
berumah tangga.Lokasinya agak berdekatan dengan pantai Laut Samudra Hindia
3. Darul Muta`allimin, ditempat ini bertempat tinggal para santri pilihan diantaranya anak
syekh Abdul ghani Al kampari,guru tasauf Syekh muda Waly .
4. Darus salikin, dilokasi ini banyak asrama asrama tempat tinggal para pelajar penuntut
ilmu yang juga digunakan sebagai tempat berkhalwat.
5. Darul zahidin, Lokasi yang paling ujung dari lokasi pesantren Darussalam ini, Kalau
bukan karena tempat lainnya sudah penuh,maka jarang seklai santri yang mau tinggal di
lokasi ini apalagi tempat ini pada mulanya merupakan tambak udang dan ikan .
6.Darul Ma`la, lakasi ini merupakan lokasi nomr satu karena tanhnya tinggi dan
udaranyapun bagus dan terletak dipinggir jalan.
Semua lokasi ini dinamakan oleh syekh Muda waly dengan nama demikian sebagai tafaul
kepada Allah semoga semua santri yang belajar disitu menjadai hamba hamba Allah yang
senatiasa menuntut ilmu (Al Muta`allimin), hamba hamba yang zahid, mengutamakan
akhirat dari pada dunia (Az-Zahidin), hamba hamba yang shalih mendapat tempat
terhormat baik disisi Allah maupun dalam pandangan masyarakat .
Tak lama kemudian beliau menikah dengan seorang wanita dari desa pauh, Labuhan Haji.
Kemudian beliau mendirikan sebuah pesantren lain di ibu kota kecamatan. Pesantren ini
merupakan sebuah pesantren khusus, pelajarnya juga tidak banyak. para pelajar di

pesantren ini secara langsung berhadapan dengan kaum orang orang yang berfaham
wahabi sehingga mendatangkan persaingan pengembangan ilmu pengetahuan agama
melalui perdebatan yang diadakan para pelajar membahas masalah masalah khilafiyah
dengan dalil dalilnya menurut pendirian ulama ahlussunnah waljamaah. Dipesantren
inilah diadakan pengajian yang dikuti oleh semua lapisan masyarakat bahkan juga dikuti
oleh kalangan Muhammadiyah dan golongan Salik Buta sehingga menjadikan majlis ini
majlis yang dipenuhi dengan pertanyaan dan debatan yang ditujukan kepada Syekh Muda
Waly. Namun semuanya dapat di jawab oleh Syekh Muda Waly dengan jawaban ilmiah
yang memuaskan.
PENDIDIKAN PESANTREN
Di pesantren yang beliau bangun itu Syekh Muda Waly mengajarkan kepada masyarakat
ilmu agama, khusus untuk kaum ibu pada hari malam selasa, senin, atau malam senin.
Pada malam senin kaum ibu ibu mendapat ceramah agama dari guru guru yang telah
ditetapkan oleh beliau. sedangkan pada selasa pagi sebelum zuhur, setelah pengajian
subuh, semua kaum ibu ibu yang bermalam di pesantren ikut membangaun pesantren
dengan menimbun sebagian lokasai pesantren yang belum rata dengan batu yang diambil
dari pantai. Satu yang aneh dan luar biasa, batu itu dihempaskan oleh gelombang air laut
kepantai dan batu batu itu berwarna putih bersih. Dan ini hanya terjadi di pantai yang
berada di dekat pesantren. Setelah shalat Dhuhur para ibu ibu tersebut mendapat ceramah
dari guru yang telah ditentukan oleh Syekh Muda Waly yang kemudian lanjutkan dengan
tawajuh dalam tariqat Naqsyabandiyah dan shalat ashar. Sedangkan waktu untuk kaum
laki laki adalah pada selasa malam mulai maghrib hingga larut malam.
Pada setiap bulan Ramadan Syekh Muda waly mengadakan khalwat untuk masyarakat
yang dimulai sejak sepuluh hari sebelum Ramadan sampai hari raya idul fitri. Ada yang
berkhalwat selama 40 hari ada juga yang 30 hari dan ada juga yang 20 hari. selain dalam
bulan Ramadan, khalwat juga diadakan dalam bulan Rabiul awal selama 10 hari,
demikian juga pada bulan Zulhijjah selama 10 hari semenjak tanggal satu sampai 10
Zulhijjah.
Sistem pendidikan pesantren yang diterapkan oleh syekh Muda Waly terbagi kepada dua:
1. sistem qadim, yakni sitem pendidikan yang telah berjalan bagi para ulama sebelumnya.
Sistem ini menekankan supaya kitab kitab yang dipelajari mesti khatam. Oleh Karena
guru hanya membaca, menerjemahkan dan menjelaskan sepintas lalu makna yang
terkandung di dalamnya. Menurut beliau sitem ini kita bagaikan naik bus pada malam
hari, yang kita lihat hanyalah jalan yang disorot oleh lampu bus saja.walaupun
perjalanannya panjang dan banyak yang kita lihat tetapi hanyalah sekedar jalan yang
diterangi oleh lampu bus saja,sedangakan dikiri kanannya kita tidak melihatnya.
2. sistem madrasah. Pada sitem ini para pelajar sudah mengunakan bangku dan papan
tulis. Pada sitem kedua ini tidak ditekankan pada khatam kitab, tetapi harus banyak
diskusi untuk pendalaman, sebagai contoh, apabila pelajaran fiqh yang dibaca adalah
kitab Tuhfah Al Muhtaj syarah Minhajul Thalibin, maka yang dibaca hanya sekitar 10
baris saja, dilanjutkan dengan pembahasan pada matannya, syarahnya serta hasyiah
hasyiahnya serta pendalaman berdasarkan dalil dalilnya baik dari Al Qur an, Al Hadis

ataupun disiplin ilmu lainnya. ini memang memakan waktu yang lama, tetapi bila para
santri terbiasa dengan sistem ini maka akan menghasilkan pemahaman yang mendalam
dalam memahami kitab kuning. Rupanya kedua sitem ini sangat menarik sehingga
banyak santri yang berdatangan ke Darussalam yang berasal dari berbagai daerah.
Syekh Muda Waly mengamalkan ilmunya dengan luar biasa. Pukul 6.00 pagi beliau
mengajar semua santri mulai dari tingkat yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
Disini terbuka pintu bagi semua santri untuk menanyakan segala sesuatu tentang lafaz
yang beliau baca. Pukul 9.00 pagi setelah sarapan dan shalat dhuha belaiu menagjar pada
tingkat yang lebih tinggi, yang terdiri dari para dewan guru, kitab yang dibaca adalah
Tuhfah Al Muhtaj, jam`ul jawami` dan kitab besar lainnya sampai waktu ashar. Sesudah
asar beliau juga menyediakan waktu bagi siapa saja yang berminat mengambil ilmu dari
beliau. Syekh Muda Waly sangat disiplin dalam mengajar sehingga dalam kondisi
sakitpun beliau tetap mengajar. Pernah pada satu kali pada saat beliau sakit. para murid
beliau sepakat untuk tidak mendebat beliau, tetapi hanya mendengarkan penjelasan dari
beliau, rupanya hal ini membuat beliau marah, kenapa para murid beliau tidak mendebat
beliau, Pertanyaan dan debatan dari murid murid beliau rupanya menjadi obat yang
sangat mujarab bagi beliau.Tetapi beberapa saat setelah mengajar beliau kembali jatuh
sakit.
Ketekunan dan kedisiplinan beliau dalam mendidik muridnya telah membuahkan hasil
yang luar biasa,sehingga dari beliau lahirlah puluhan ulama ulama yang menjadi benteng
Ahlussunnah di Aceh dan sekitarnya, hampir seluruh pesantren di Aceh sekarang ini
mempunyai pertalian keilmuan dengan beliau dan dari murid murid beliau, lahir pulalah
ulama ulama terpandang dalam masyarakat.
Dengan adanya perjuangan beliau perkembangan faham wahabi dan ide pembaruan
terhadap ajaran islam yang telah menjalar ke sebagian tokoh tokoh di Aceh dapat ditekan,
beliau sangat istiqamah dengan faham Ahlussunnah dan mazhab syafii Diantara murid
murid beliau adalah:
1. Al Marhum Tgk. H.Abdullah Hanafiah Tanoh Mirah,pimpinan Dayah darul Ulum,
Tanoh Mirah, Bireun
2. Al Marhum Tgk.Abdul Aziz bin Shaleh,pimpinan pesantren MUDI MESRA(Ma`hadal
Ulum Diniyah Islamiyah)Samalanga,Bireun.
3. Al Marhum Tgk. Muhammad Amin Arbiy.Tanjongan,Samalanga,Bireun.
4. Tgk. H.Muhammad Amin Blang Bladeh(Abu Tumin)pimpinan pesabtren Al Madinatut
Diniyah Babussalam,Blang Bladeh Bireun.
5. Teungku H.Daud Zamzamy.Aceh Besar.
6. Al Marhum Tgk..Syekh Syihabuddin Syah(Abu Keumala)pimpinan pesantren
Safinatussalamah , Medan.

7. Teungku Adnan Mahmud pendiri pesantren Ashabul Yamin Bakongan Aceh Selatan .
8. Al Marhum.Tgk Syekh Marhaban Krueng Kalee(putra Syekh Hasan Krueng kale)
mantan menteri muda era Sukarno.
9. Al MarhumTgk.Muhammad Isa Peudada
10. Al MarhumTgk.ja`far Shiddiq Kuta Cane
11. Al MarhumTgk. Abu Bakar sabil,Meulaboh Aceh Barat
12. Al MarhumTgk.Usman fauzi.Cot Iri,Aceh Besar.
13. Syekh.prof.Muhibbuddin waly (putra beliau sendiri yang paling tua)
14. Al Marhum Syekh Jailani
15. Al Marhum Syekh Labai sati , Padang Panjang
16. Al Marhum Tgk.. Qamaruddin ,Teunom.Aceh Barat
17. Tgk.Syekh Jamaluddin Teupin Punti,Lhok sukon,Aceh utara
18. Tgk.Syekh Ahmad Blang Nibong Aceh Utara
19. Tgk.Syekh Abbas Parembeu,Aceh Barat
20. Tgk.Syekh Muhahammad Daud,Gayo
21. Tgk.Syekh Ahmad,Lam Lawi,Aceh Pidie
22 Tgk.Muhammad Daud Zamzami,Aceh Basar.
23. Tuanku Idrus, Batu Basurek,Bangkinang
24. Al Marhum Tgk.Syekh Amin Umar,Panton labu
25 Syekh Nawawi Harahap,Tapanuli
26. Al Marhum Tgk Syekh Usman Basyah,Langsa
27. Tgk.Syekh Karimuddin,Alue Bilie,Aceh Utara
28. Tgk.Syekh Basyah Kamal Lhoung,Aceh Barat
29. Dan lain lain

Selain meninggalkan murid,beliau juga meninggalkan beberapa tulisan diantaranya :


1.Al fatwa,Sebuah kitab dalam bahasa indonesia dengan tulisan arab,berisi kumpulan
fatwa beliau mengenai berbagai macam permasalahan agama
2.Tanwirul anwar,berisi masalah masalah aqidah
3,Risalah adab zikir ismuz Zat
4.Permata Intan,sebuah risalah singkat berbentuk soal jawab mengenai masalah i`tidaq
5.Intan Permata,risalah singkat berisi masalah tauhid
Dalam risalah yang terakhir (Intan Permata) beliau memberi keputusan tentang
perdebatan Syekh Ahmad Khatib dengan Syekh Sa`ad Mungka, beliau menyebutkan:
Ketahuilah hai segala ummat Ahlussunnah waljamah, bahwasanya karangan yang mulia
Syekh Ahmad al Khatib yang bernama Izhar Zighlil-Kazibin,tentang membantah
Rabithah dan Thariqat naqsyabandiyah itu adalah silap dan salah paham dari Syekh yang
mulia itu, karena beliau itu telah ditolak oleh yang mulia Syekh Sa`ad Mungka
Payakumbuh (Sumatra Tengah) dengan kitabnya Irghamu Unufil Muta`annitin,
Kemudian kitab ini dijawab pula oleh yang mulia Syekh Ahmad al khatib dengan
kitabnya as Saiful Battar, Kitab ini pun ditolak oleh yang mulia Syekh As`ad Mungka
dengan kitabnya yang bernama Tanbihul `Awam. Pada akhirnya patahlah kalam Tuan
Syekh Ahmad al-Khatib .karena itu maka hamba yang faqir ini, Syekh Muhammad waly
al Khalidy sebabnya mengambil Thariqat Naqsyabandiyah adalah setelah muthala`ah
pada karangan karangan Syekh Ahmad Khathib dan karangan karangan Syekh Sa`ad
Mungka dimana antara karangan kedua-dua orang ulama itu sifatnya soal jawab dan
debat-berdebat.perlu diketahui bahwa Tuan Syekh Ahmad Khatib itu murid Sayyid syekh
Bakrie bin sayyid Muhammad Syatha, Sedangkan Tuan Syekh As`ad Mungkar murid
Mufti Az Zawawy, gurunya Syekh Usman Betawi yang masyhur itu. Maka muncullah
kebenaran ditangan Tuan Syekh Sa`ad Mungka apalagi saya telah melihat pula kitab as
Saiful Maslul karangan ulama Madinah selaku menolak kitab Izhar Zighlil Kazibin. Oleh
sebab itu bagi murid muridku yang melihat karangan syekh Ahmad Khatib itu janganlah
terkejut, karena karangan beliau itu ibarat harimau yang telah dipancung kepalanya.
Syekh Muda Waly bukan hanya berperan dalam menyebarkan ilmu agama saja, tapi
beliau memiliki andil yang besar dalam mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan
Republik Indonesia. Dalam mempertahankan proklamasi 17 agustus 1945 para ulama
Aceh tampil kedepan dengan mengeluarkan fatwa jihad fi sabilillah dan mendirikan
barisan barisan perjuangan.Pada tanggal 18 Zulqa`dah 1364 Tengku Syekh Hasan Krueng
Kalee mengeluarkan fatwa dengan menyatakan bahwa perjuangan mempertahankan
Republik Indonesia dan berperang menetang musuh musuh Allah adalah suatu kewajiban
dan apabila mati dalam peperangan itu akan mendapat pahala syahid. Disamping itu juga
diterangkan pula hendaklah ummat islam mengorbankan jiwa dan harta untuk menolong
agama Allah dan menolong negara yang sah. fatwa itu disebarkan luaskan keseluruh
Aceh melalui pemuda pemuda Aceh yang tergabung dalam Barisan Pemuda Indonesia
yang kemudian menjadi Pemuda republic Indonesia.

Berdasarkan itu Syekh Muda Waly di Labuhan Haji memperkuat fatwa tersebut melalui
pengajian pengajian dan ceramah ceramah umum, bahkan beliau menjabat sebagai
pimpinan tertinggi dalam barisan Hizbullah, meskipun dalam pelaksanaannya banyak
diserahkan kepada keponakannya yang juga merupakan seorang ulama muda yang
kemudian menjadi menantu beliau. Di samping itu PERTI yang dipimpin oleh Nya`
Diwan telah membawa satu barisan perjuanagan dari Sumatra barat yang disebut Lasymi
(Laskar Muslimin Indonesia). Antara kedua laskar ini saling mengisi demi
memperjuangkan Ahlussunnah dan mempertahankan kedaulatan Negara dari tangan
penjajah..
Peristiwa berdarah di Aceh
Dalam mempertahankan keutuhan negara Indonesia beliau juga memiliki peran ynag
sangat penting, Pada tanggal 13 Muharram 1373 /21 september 1953 meletuslah
peristiwa berdarah di Aceh yaitu peristiwa DI/TII yang dipimpin oleh Tgk.Muhammad
Daud Bereueh, mantan gubernur militer Aceh Langkat dan Tanah Karo dan mantan
gubernur Aceh dan merupakan salah seorang pemimpin utama PUSA (Persatuan Ulama
Seluruh Aceh). Beliau memang tidak bergabung dalam PUSA karena sebagian besar
ulama ynag bergabung dalam PUSA telah terpengaruh dengan ide pembaruan dalam
Islam dari Minangkabau.
Dalam hal ini para ulama besar di Aceh yang terdiri dari Kaum Tua antara lain Syekh
Muda waly, Syekh Hasan Krueng Kalee, Teungku Abdul Salam Meuraksa,Teungku Saleh
Mesigit Raya dan ulama lainnya tidak mendukung gerakan ini, karena mereka
mengetahui bahwa latar belakang kejadian ini bukanlah hal hal yang dikaitkan dengan
agama tetapi hanyalah hal hal yang dikaitkan dengan dunia semata, oleh karena itu para
ulama terszebut mengeluarkan fatwa mengutuk pemberontakan tersebut atas nama para
ulama ulama tersebut, tetapi karena semua ulama tersebut berada dalam PERTI maka
penonjolannya lebih terlihat atas nama PERTI.Teungku Syekh Muda Waly pada tanggal
18 November 1959 dalam suatu rapat umum di Labuhan Haji mengharamkan
pemberontakan tersebut, dan beliau menyatakan siap memberi bantuan menurut
kesanggupan beliau, para ulama ulama tersebut sangat menyayangkan kenapa faktor
faktor pemberontakan tersebut tidak di musyawarahkan terlebih dahulu dengan para
ulama- ulama besar di Aceh, sehingga segala permasalahan dapat diselesaikan tanpa
harus melalui peristiwa berdarah, karena jasa beliau itu, beliau pernah diundang oleh
Presiden Sukarno ke istana Bogor pada tahun 1957 untuk menghadiri Konferensi Ulama
Indonesia untuk memutuskan kedudukan Presiden Sukarno menurut Islam, dalam
konferensi tersebut beliau para ulama dari seluruh Indonesia sepakat menyatakan bahwa
presiden Sukarno itu presiden yang sah dengan prediket Wali al amri al Dharury bi al
syaukah.
Setelah berjuang demi tegaknya agama ini, akhirnya Syekh Muda Waly kembali
kehadapan Allah pada tanggal 11 syawal 1381/20 maret 1961 tepat pukul 15.30 WIB hari
selasa. Jenazah beliau di shalatkan oleh ulama dan murid murid beliau serta masyarakat
yang terjangkau kehadirannya ke Dayah Labuhan Haji, karena pada zaman itu kendaraan
umum masih sangat minim di Aceh selatan. Beliau dimakamkan dalam komplek Dayah

Labuhan Haji yang beliau pimpin. Selanjutnya kepemimpinan Pesantren tersebut


dilanjutkan oleh putra putra beliau secara bergantian antara lain Syekh Muhibbuddin
Waly, Syekh Jamaluddin Waly, Syekh Mawardi Waly, Syekh Nasir Waly, Syekh Ruslan
Waly dan putra putra beliau lainnya. Hal ini karena hampir semua putra beliau menjadi
ulama ulama terkemuka. Beliau bukan hanya berhasil dalam mendidik murid muridnya
tetapi juga berhasil mendidik putra putranya menjadi ulama ulama yang gigih
mempertahankan faham Ahlussunnah wal jamaah. Keberhasilan beliau dapat terlihat
dengan jelas, dimana sekarang ini hampir semua pesantren tradisional di Aceh
mempunyai silsilah keilmuan dengan beliau. Coba kita lihat beberapa pesantren diAceh
saat ini antara lain :
1. Pesantren LPI .MUDI MESRA, Samalanga dipimpin oleh Teungku H.Hasanoel
Basry(Abu Mudi)murid dari Syekh Abdul Aziz (murid Syekh Muda Waly,pimpinan
MUDI MESRA sebelumnya)
2. Pesantren Al Madinatud Diniyah Babusslam Blang Bladeh,Bireun dipimpin oleh
Syekh H.Muhammad Amin Blang Bladeh (murid Syekh Muda Waly)
3. Pesantren Malikussaleh Panton Labu Aceh utara,dipimpin oleh Syekh .H.Ibrahim
Bardan (murid Syekh Abdul Aziz,Samalanga)
4. Pesantren Darul Huda Lhueng Angen,Lhok Nibong,Aceh Utara,dipimpin oleh Syekh
Abu Daud(murid Syekh Abdul Aziz,Samalanga)
5. Pesantren Darul Munawwarah ,Kuta Krueng,Bandar Dua.Pidie jaya.dipimpin oleh
TGK.H Usman Kuta Krueng (murid Syekh Abdul Aziz,Samalanga)
6. Pesantren Darul ulum,Tanoh Mirah .Bireun.dipimpin oleh TGK.Muhammad Wali,putra
Syekh Abdullah Hanafiah,(murid Syekh Muda waly dan pimpinan pesantren tersebut
sebelumnya)
7. Pesantren Raudhatul Ma`arif Cot Trueng Aceh Utara, dipimpin oleh
TGK.H.Muhammad Amin (murid Syekh Abdul Aziz,Samalanga)
8. Pesantren Darul Huda, Paloh gadeng Aceh utara.dipimpin oleh Syekh Mustafa Ahmad
(Abu Mustafa Puteh,murid Syekh Muhammad Amin Blang Bladeh)
9.Pesantren Ashhabul Yamin,Bakongan,Aceh Selatan,dipimpin oleh Syekh Marhaban
Adnan(murid Syekh Abdul Aziz,Samalanga,putra Syekh Adnan Mahmud Bakongan )
10. Pesantren Ruhul fata,Seulimum,Aceh Besar,dipimpin oleh TGK.H.Mukhtar Luthfy
(murid Syekh Abdul Aziz,Samalanga)
11. Pesantren Serambi Makkah,Meulaboh,Aceh Barat.dipimpin oleh Syekh Muhammad
Nasir L.c(murid Syekh Abdul Aziz,Samalanga putra Abuya Syekh Muda waly)

12. Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI )Lamno,Aceh Jaya.dipimpin oleh


Tgk.H.Asnawi Ramli,sebelumnya dipimpin oleh Tgk.Syekh Ibrahim Lamno (murid
Syekh Abdul `Aziz Samalanga)
12. Yayasan Dayah Ulee Titi,Ulee Titi,Aceh Besar,dipimpin oleh Tgk.Syekh
`Athaillah(murid Syekh Ibrahim Lamno)
Kesemua Pesantren tersebut dan beberapa pesantren lainnya mempunyai pertalian
keilmuan dengan Syekh Muda Waly.
Demikianlah manaqib singkat Syekh Muda Waly yang lebih populer dalam masyarakat
Aceh dengan sebutan Abuya Muda Waly, seorang ulama yang sangat berperan dalam
mempertahankan Faham Ahlussunnah dan mazhab Syafii di bumi Aceh. Seorang Ulama
besar yang bisa dikatakan sebagai Mujaddid untuk Aceh dan sekitarnya .
Semoga Allah menempatkan beliau disisinya yang tinggi.dan semoga Allah melahirkan
Syekh Muda Waly lainnya untuk Aceh ini khususnya dan untuk ummat islam lainnya.
Ditulis oleh: Mursyidi `Ar Ali
Santri LPI MUDI MESRA Samalanga